Docstoc

Analisis faktor yang mempengaruhi kekambuhan _relaps_ pada pengguna NAPZA yang mendapatkan layanan pasca konselin di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar

Document Sample
Analisis faktor yang mempengaruhi kekambuhan _relaps_ pada pengguna NAPZA yang mendapatkan layanan pasca konselin di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar Powered By Docstoc
					                                 SKRIPSI



ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN (RELAPS) PADA
     PENGGUNA NAPZA YANG MENDAPATKAN LAYANAN P ASCA
      KONSELIN DI PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR




Diajukan Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Keperawatan pada Program Studi Ilmu
           Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
                                 Makassar




                                  OLEH :
                                KARTIA.S

                               NIM C121 08

                PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
                  FAKULTAS KEDOKTERAN
                    UNIVERSITAS HASANUDDIN
                          MAKASSAR
                              2010
                       HALAMAN PERSETUJUAN


ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN (RELAPS) PADA
PENGGUNA NAPZA YANG MENDAPATKAN LAYANAN PASCA KONSELING
            DI PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR


    Skripsi ini diterima dan disetujui untuk dipertahankan didepan penguji



                                Tim Pembimbing



           Pembimbing I                                 Pembimbing II




  Dra.Werna Nontji,SKp.M.Kes                         Mulhaeriah, S.Kep, Ns




                                Mengetahui :
                   Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
                Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
                                  Makassar




            Dr. dr. H. ILHAM JAYA PATELLONGI, M.Kes
                      NIP : 19580128 198903 1 002




                                                                             ii
                            HALAMAN PENGESAHAN

                                      SKRIPSI

  ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN (RELAPS) PADA
   PENGGUNA NAPZA YANG MENDAPATKAN LAYANAN PASCA KONSELING
              DI PUSKESMAS KASSI KASI KOTA MAKASSAR


                           Yang disusun dan diajukan oleh :

                                     KARTIA. S

                                    C 121 08 530

                   Telah dipertahankan di depan panitia ujian skripsi
                         Pada hari : Senin, 25 Januari 2010
                       Dan telah dinyatakan memenuhi syarat

                                     Tim Penguji

  1. Elly L.Sjattar S.Kp,M.Kes                     (.................................................)

  2. Takdir Tahir S.Kep, Ns, M.Kes                 (.................................................)

  3. Dra.Werna Nontji S.Kp,M.Kes                   (.................................................)

  4. Mulhaeriah, S.Kep, Ns                         (.................................................)

                                     Mengetahui
               An. Dekan                                          Mengetahui,
   Pembantu Dekan Bidang Akademik             Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
          Fakultas Kedokteran                               Fakultas Kedokteran
         Universitas Hasanuddin                          Universitas Hasanuddin




Prof. Dr. dr. Suryani As’ad, M.Sc.,Sp.GK     Dr. dr. H.Ilhamjaya Patellongi,M.Kes
      Nip : 19600504 198601 2 002                  NIP : 19580128 198903 1 002


                                                                                                         iii
                            KATA PENGANTAR


      Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih karunia serta

berkat kesehatan dan pengetahuan yang dianugerahkan kepada peneliti sehingga

penelitian dengan judul “ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KEKAMBUHAN           (RELAPS)      PADA         PENGGUNA     NAPZA      YANG

MENDAPATKAN LAYANAN PASCA KONSELING DI PUSKESMAS

KASSI KASSI KOTA MAKASSAR” dapat diselesaikan

     Penelitian terdapat beberapa kendala yang dihadapi diantaranya        tidak

adanya pendekatan dan pengenalan secara mendalam kepada masing–masing

responden menyebabkan jalanya wawancara dibeberapa responden terlihat kaku

tapi kendala tersebut tidak menjadi masalah bagi penelitian begitu pula peneliti

menyadari bahwa pada analisis dan pembaharuan hasil penelitian masih terdapat

kekurangan, oleh sebab itu dengan penuh kerendahan hati penulis menerima

berbagai saran dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan hasil

penelitian.

     Penghargaan dan rasa hormat serta terima kasih peneliti menyampaikan,

atas segala bantuan dan bimbinganya selama penyusunan dan penyelesaian

skripsi. Pada kesempatan ini peneliti menyampaikan terima kasih kepada yang

Terhormat:

   1. Bapak DR.dr. Ilhamjaya Patellongi.MS, selaku Ketua Program Studi Ilmu

       Keperawatan beserta seluruh jajaranya.

   2. Ibu Werna Nontji.S.Kep,M.Kes, selaku pembimbing I dan                 Ibu

       Mulhaeriah,S.kep,Ns, selaku pembimbung II yang telah memberikan




                                                                              v
   bimbingan dan arahan dan motivasi sehingga skripsi ini selesai tepat

   pada waktunya.

3. Ibu Elly L Sjattar.SKp,M.Kes dan Takdir Tahir,S.Kep,Ns,M.Kes selaku

   penguji yang telah banyak memberikan arahan untuk kesempurnaan

   skripsi ini

4. Kepala Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar beserta seluruh staf

   khususnya petugas rumahan metadon

5. Rekan–rekan seangkatan 2008 yang telah sama–sama melalui proses

   pendidikan di PSIK Fakultas Universitas Hasanuddin Makassar.

  Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat kepada semua pihak



                                             Makassar,    Januari 2010



                                                          Peneliti




                                                                         vi
                                          ABSTRAK


KARTIA.S “ANALISIS              FAKTOR         YANG       MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN
(RELAPS)         PADA        PENGGUNA NAPZA YANG MENDAPATKAN LAYANAN
KONSELING DI PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR (Dibimbing Oleh
WERNA NONTJI dan MULHAERIAH) dan (i-ix + 76 halaman + 1 tabel + 4 lampiran)”.
      Akibat penyalahgunaan NAPZA menimbulkan masalah yang sangat luas dan kompleks yang
salah satu diantaranya yaitu kekambuhan (relaps). Kekambuhan (relaps) pada penyalahgunaan
NAPZA disebabkan karena adiksi sebagai suatu penyakit yang bersifat kronis atau akut. Berbagai
macam cara pengobatan telah ditemukan oleh para ahli dibidang kesehatan untuk menangani
masalah tersebut untuk mencapai kesembuhan yang optimal dan menangani kekambuhan. Maka
dari itu untuk mewujudkan hal tersebut, di perlukan penelitian untuk mengetahui faktor- faktor
yang mempengaruhi penyalahgunaan NAPZA.
       Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor- faktor yang mempengaruhi kekambuhan
(relaps) pada pengguna NAPZA di Puskesmas Kassi Kassi Makassar.
       Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan
naturalistic, dimana peneliti berusaha aktif interaksi dengan subjek atau responden dalam kondisi
apa adanya tanpa direkayasa, agar data yang diperoleh merupakan fenomena yang asli atau nature
dengan jumlah responden 5 orang.
      Kesimpulan adalah faktor- faktor yang mempengaruhi kekambuhan pada penyalahgunaan
NAPZA yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu orang atau teman. Dan pengaruh/bujukan temen
merupakan awal seseorang menggunakan NAPZA dan selanjutnya dari teman itu pula suplai
diperoleh untuk pemakaian berikutnya dan dari teman itu jugalah kekambuhan terjadi.
      Saran Penelitian adalah bagi para peneliti berikutnya, lebih memahami kondisi responden
lebih mendalam, banyak hal yang dapat dikembangkan untuk diteliti kembali dalam hal
menganalisa faktor-faktor kekambuhan secara mendalam dan spesifik. Dapat menggambarkan
faktor-faktor tersebut mempengaruhi kehidupan responden atau proses kerjanya faktor tersebut
dalam diri responden.

Kata kunci : faktor – faktor kekambuhan, pengguna NAPZA, Pasca konseling
Daftar Pustaka: 22(1994-2008)




                                                                                              iv
                          DAFTAR ISI
                                                         Halaman
HALAMAN JUDUL ………………………………………………..                             i
HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………...                         ii
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………                            iii
ABSTRAK …………………………………………………………...                             iv
KATA PENGANTAR ………………………………………………                             v
DAFTAR ISI ………………………………………………………...                           vii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………..                           ix
BAB 1 PENDAHULUANA

      A. Latar Belakang ………………………………………..                     1

      B. Rumusan Masalah ……………………………………..                      7

      C. Penelitian ………………………………………………..                       7

      D. Manfaat Penelitian ……………………………………..                  8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

      A. Landasan Teori

        1. NAPZA(Narkotika,PsikotropikadanZatAdktif)…………     10

           a. Jenis- Jenis NAPZA ……………………………......           11

           b. Teori Penyalahgunaan NAPZA …………………….            14

           c. Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan NAPZA ….   15

           d. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA …………      18

           e. Tanda da Gejala Penyalahgunaan NAPZA ………….     19

           f. Tingkat Pemakaian NAPZA …………… ………….            21

           g. Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA ………………         23

           h. Dampak Penyalahgunaan NAPZA …………………            24

        2. Kekambuhan (Relaps) ……………………………………                 24

           a. Definisi Kekambuhan ……………………………….               24



                                                              vii
       b. Tanda- Tanda Kekambuhan …………………………                25

       c. Faktor- Faktor Penyebab Kekambuhan ……………..        26

BAB III KERANGKA KONSEP

       Kerangka Konsep …………………………………...                     30

BAB IV METODE PENELITIAN …………………………..                       31

       A. Jenis Penelitian …………………………………                    31

       B. Lokasi Penelitian ……………………………….                   31

       C. Populasi dan Sampel…………………………….                   31

       D. Defenisi Operasional ……………………………                  32

       E. Tehnik Pengumpulan Data ……………………..                33

       F. Instrumen Penelitian …………………………....               34

       G. Pengolahan dan Analisa Data ………………….              34

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

       A. Analisa Data……………………………….........                 36

       B. Karakteristik Responden ………………….........          37

       C. Pelaksanaan wawancara Masing-Masing Responden……   44

        D. Hasil Penelitian ………………………………...                 49

       E. Pembahsann ……………………………………..                       58

       F. Hambatan Penelitian …………………………….                  68

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

      A. Kesimpulan ………………………………………                         70

      B. Saran ……………………………………………...                         71

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN



                                                            viii
ix
                           DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran:   1. Inform Consent

Lampiran:   2. Pedoman Wawancara Dalam Bentuk Semi Structured

Lampiran:   3. Surat Izin Penelitian dari Pemerintah Kota Makassar Kantor

               Kesatuan Bangsa

Lampiran:   4. Surat Izin Penelitian dari Puskesmas Kassi- Kassi Kota Makassar




                                                                             ix
                                   BAB I

                              PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

      Indonesia merupakan bagian dari Negara yang baru berkembang tidak

   terlepas dari moderenisasi dan pengembangan ilmu pengetahuan serta

   teknologi secara global yang memiliki masyarakat yang majemuk dimana

   masing-masing memiliki adat dan budaya serta agama yang berbeda-beda.

   Perubahan dan perkembangan tersebut tidak hanya berdampak positif tetapi

   tenyata membawa dampak negatif. Dampak negatif yang timbul misalnya

   maraknya pergaulan seks bebas diluar nikah yang berbanding tebalik dengan

   adat ketimuran, kejahatan dunia maya, penyalahgunaan NAPZA, dan lain

   sebagainya. NAPZA tidak asing lagi ditelinga masyarakat, tidak hanya

   masyarakat kota tetapi juga NAPZA telah merambah masyarakat dipedalaman

   sekalipun. Tidak dapat dipungkiri lagi NAPZA telah dikenal oleh masyarakat

   luas sebagai barang haram yang harus dimusnahkan. Indonesia tidak terlepas

   dari kasus penyalahgunaan NAPZA, bahkan masalah tersebut sudah mencapai

   tahap yang sangat memprihatinkan. Adiksi atau kecanduan merupakan suatu

   masalah yang harus dicari solusinya secara bersama-sama dari tingkat

   pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi terkait lainnya, masyarakat,

   keluarga hingga masing-masing individu (Hawari,2006).

       Penemuan obat-obatan tergolong jenis narkotika telah ditemukan sejak

   ±5000 tahun yang lalu didaerah Mediterania timur yang disebut dengan tablet

   sumeria (Mandari, 1996). Permasalahan NAPZA sudah menjadi permasalahan

   dunia, sejak tahun 1961 PBB sepakat untuk memerangi NAPZA dengan
dikeluarkannya “The Single Convention on Narcotic Drugs”. Di Indonesia,

terungkapnya kasus penyalahgunaan NAPZA relatif baru dan tercatat secara

resmi baik dari pihak POLRI maupun DEPKES yaitu pada tahun 1969 namun

perkembangannya sangat cepat. Hal ini terlihat pada data di Dinas Kesehatan

pada dekade tujuh puluhan (yaitu pada tahun 1970 sampai tahun 1979) dan

pada tahun delapan puluhan (tahun 1980 sampai 1989) terjadi pelipatan atau

peningkatan kasus penyalahguna dan ketergantungan NAPZA yang cukup

tinggi yaitu dari 7000 orang meningkat menjadi 85.000 orang, atau berlipat

duabelas kali lipat selama kurun waktu dua puluh tahun (Maramis,2005).

Pemerintah menyebutkan angka resmi penyalahgunaan NAPZA 0,065% dari

jumlah penduduk 200 juta jiwa atau sama dengan 130.000 orang (BAKOLAK

INPRES 6/71, 1995). Penelitian yang dilakukan oleh Hawari, dkk (1998)

menyebutkan bahwa angka sebenarnya adalah 10 kali lipat dari angka resmi

(dark number = 10) atau dengan kata lain bila ditemukan satu orang

penyalahguna NAPZA artinya ada 10 orang lainnya yang tidak terdata resmi.

Fenomena tersebut bagaikan gunung es (ice berg) artinya yang tampak

dipermukaan lebih kecil dibandingkan yang tidak tampak (dibawah permukaan

laut) (Hawari, 2006).

     Seseorang yang mengalami ketergantungan NAPZA tidak semata-mata

langsung mengalami kecanduan tetapi mengalami proses yang disebut

psikodinamika ketergantungan NAPZA yang terdiri dari faktor-faktor antara

lain faktor predisposisi, faktor kontribusi dan faktor pencetus. Faktor

predisposisi dalam hal ini yaitu gangguan kejiwaan seperti gangguan

kepribadian (antisosial), kecemasan dan depresi, kemudian didukung oleh



                                                                         2
faktor kontribusi dalam hal ini seperti kondisi keluarga (keutuhan keluarga,

kesibukan orang tua, hubungan interpersonal) dan diperkuat oleh faktor

pencetus seperti pangaruh teman, kelompok sebaya, dan keberadaan NAPZA

itu sendiri. Jika ketiga faktor ini telah terdapat pada diri seseorang sangat besar

kemungkinan penyalahgunaan NAPZA terjadi (Hawari, 2006).

      Penyalahgunaan        dan   ketergantungan      NAPZA        tidak    hanya

mengakibatkan masalah pada kondisi fisik pemakai tetapi juga menimbulkan

masalah yang cukup luas dan kompleks. Masalah-masalah fisik yang

ditimbulkan diantaranya hepatitis, endokarditis, pleuritis, HIV/AIDS, beberapa

penyakit yang berhubungan dengan hemodinamika hingga gangguan kejiwaan

seperti depresi, kecemasan, gangguan kepribadian dan resiko bunuh diri.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Hawari, dkk (2000) menunjukkan bahwa

penyalahguna jenis opiat (heroin) ditemukan angka kematian (mortality rate)

sebesar 17,16%. Mereka yang mengalami komplikasi paru sebesar 53,73%,

liver 55,11% dan hepatitis C 56,63%, sedangkan yang terinfeksi HIV 33,33%.

Efek dari penyalahgunaan NAPZA ini juga melahirkan masalah sosial,

keamanan dan ketertiban dimasyarakat seperti tindakan kriminal, prostitusi,

disharmoni keluarga, penurunan produktifitas manusia, peningkatan jumlah

pengangguran, peningkatan jumlah putus sekolah dan masih banyak lagi kasus

yang ditimbulkan (Hawari,2000).

      Terapi    perawatan     penyalahguna     NAPZA       harus    menggunakan

pendekatan holistik (holistic approach) yaitu tidak hanya mengobati fisik

(jasmani) tetapi juga kejiwaan, sosial dan keimanan (bio,psiko,sosio dan

spiritual). Sebagaimana diketahui bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan



                                                                                 3
bagian dari bidang psikiatri, hal ini dikarenakan penyalahgunaan NAPZA

dapat menimbulkan gangguan mental dan perilaku. Kejadian ini disebabkan

oleh karena NAPZA dapat mengganggu system neurotransmitter dalam

susunan saraf pusat (otak). Selain itu, penyalahgunaan NAPZA juga

menimbulkan komplikasi medik didalam tubuh pemakai tersebut. Rehabilitasi

pada penyalahgunaan NAPZA lebih ditekankan pada pemulihan fungsi

sosialnya untuk mempersiapkan penyalahguna NAPZA kembali ke lingkungan

sosialnya agar dapat beradaptasi dengan baik dan mampu mempertahankan

kondisi tubuh yang bersih dari NARKOBA dan tetap hidup sehat (clean and

sober) (Hawari, 2006)

     Perawatan penyalahgunaan NAPZA tentu saja tidak berhenti sampai

disitu, satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah kekambuhan bagi para

mantan pecandu yang sering disebut dengan istilah relaps. Seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya, pada penyalahguna NAPZA telah terjadi gangguan

mental dan perilaku, dimana pusat pengendalian diri mengalami gangguan

sehingga mudah tergoda terjerumus untuk kesekian kalinya. Dari kondisi

penyalahguna tersebut yang didukung oleh faktor pencetus seperti masih

banyaknya NAPZA yang beredar bebas dan lingkungan sosial yang tidak

sehat, sangat menentukan terjadinya kekambuhan NAPZA disamping dari

kemauan dari masing-masing individu (Lidya,2005).

     Kekambuhan (relaps) pada penyalahguna NAPZA disebabkan karena

adiksi sebagai suatu penyakit yang bersifat kronis atau akut. Studi kepustakaan

menunjukkan bahwa angka kekambuhan cukup tinggi yaitu 43,9% (Hawari,

2006). Dari mereka yang kambuh ada tiga faktor utama sebagai penyebabnya



                                                                             4
yaitu faktor teman 58,36%, faktor sugesti 23,21% dan faktor frustasi dan stress

18,43% (Hawari,2006).

     Sebagian besar para penyalahguna NAPZA mencari pengobatan melalui

keagamaan seperti pondok pesantren dan kepanti-panti rehabilitasi yang

menggunakan obat-obatan medis ataupun secara konvensional (tanpa obat-

obatan). Di Indonesia terdapat ratusan panti rehabilitasi untuk penyalahgunaan

NAPZA, hal ini juga menunjukkan seberapa besarnya masalah ini menarik

perhatian seluruh lapisan masyarakat yang harus segera diatasi dengan serius.

Banyaknya tempat rehabilitasi dengan berbagai metode pemulihan juga

memberikan gambaran betapa sulitnya menemukan jalan keluar untuk masalah

Adiksi tersebut. Dari sekian banyaknya tempat rehabilitasi tidak satupun

tempat yang menjamin pecandu dapat sembuh disamping dari masing-masing

pecandu itu sendiri juga dikarenakan masalah adiksi termasuk masalah rumit

(Lidya.2005).

     Daerah kota makassar tidak terlepas dari masalah penyalahgunaan

NAPZA, dimana seperti yang kita ketahui makassar kota pelajar, kota budaya,

kota pariwisata tentu saja tidak terlepas dari komponen penduduk yang

heterogen dari berbagai penjuru Indonesia bahkan dunia dengan latar belakang

budaya yang berbeda menyebabkan makassar sangat rentan dengan

permasalahan penyalahgunaan NAPZA. Dalam rangka menekan laju

perkembangan penyalahgunaan NAPZA dan membantu merehabilitasi korban

NAPZA, maka Pemerintah sulsel sejak tahun 2007 atas prakarsa gubernur

untuk mendirikan program perumahan terapi metadon di Puskesmas Kassi

Kassi bagi Penyalahgunaan NAPZA yang telah beroperasi sejak tahun 2007.



                                                                             5
merupakan tempat penelitian yang dipilih oleh peneliti untuk melakukan

penelitian dimana jumlah pasien saat ini 30 orang. Data ini diperoleh

berdasarkan hasil study pendahuluan pada tanggal 16 Juni 2009.

     Berkaitan dengan kejadian relaps mempunyai hubungan erat dengan

dunia NAPZA, berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh Dadang

hawari, terdapat angka      kekambuhan pasien NAPZA adalah faktor

pertemanan (peer groop), disebutkan dari 293 pasien kambuh yang diteliti,

171 diantaranya kambuh karena pengaruh dan bujukan teman, kondisi ini

terjadi akibat pasien kembali bergaul dengan teman–temanya sesama

pemakai NAPZA atau bandarnya. Teman merupakan 80 % penyebab awal

seseorang menggunakan NAPZA, selanjutnya dari teman itu pula suplai

NAPZA diperoleh, faktor ketiga adalah faktor stres, tercatat 54 pasien

kembali kambuh akibat mengalami stres atau frustasi, Tanpa perlu

memperpanjang bahasa ini, pada kenyataan banyak pengguna NAPZA justru

sering menemui jalan buntu ketika mereka pulih dan siap terjun ke dalam

masyarakat, terjadilah penolakan terhadap mereka. Bentuk frustasi seperti

itu dapat mengakibatkan terjadinya relaps (kembali menjadi pengguna) di

sisi lain masyarakat pun sering dikecewakan; Ketika pintu kesempatan

dibuka, pengguna sering labil dan kembali ke kubangan lama mereka. Itu

menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap mantan pengguna

NAPZA.

     Adapun sistem yang di gunakan oleh Puskesmas Kassi Kassi adalah

dengan memberikan program perumahan terapi metadon dengan disertai

(therapeutic community) yaitu suatu program layanan konseling bagi para



                                                                            6
   pecandu narkoba, program ini memfokuskan untuk membangun suatu

   pribadi yang dapat kembali hidup ditengah–tengah masyarakat dengan

   mental, emosi dan jiwa yang positif agar dapat bersosialisasi dengan

   dukungan dari diri sendiri dengan lingkungan yang positif dan teman senasib

   dan sepenanggungan. Semua usaha dan program yang dilaksanakan pada

   akhirnya dapat mengantarkan seseorang mantan pecandu untuk terbebas

   dari lingkungan NAPZA, mampu hidup sehat dan terbebas dari NAPZA

   (clean and sober) serta kualitas hidup yang positif.

B. Rumusan Masalah

       Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka peneliti

   merumuskan       masalah yaitu: “Faktor teman, sugesti, stres          yang

   menyebabkan       kekambuhan (relaps) pada pengguna NAPZA              yang

   mendapatkan layanan Pasca konseling di Puskesmas Kassi                Kassi

   Makassar.”

C. Tujuan Penelitian

   1. Tujuan Umum

       Teranalisanya faktor – faktor yang mempengaruhi kekambuhan (relaps

       pada Pengguna NAPZA yang mendapatkan layanan Pasca konseling di

       Puskesmas Kassi Kassi Makassar.

   2. Tujuan Khusus

      a. Diketahuinya awal penyalahgunaan NAPZA pada pasien

      b. Diketahuinya faktor yang paling berpengaruh terhadap kekambuhan

         (relaps) Pada pengguna NAPZA yang                mendapatkan   layanan

         Pasca konseling di Puskesmas Kassi – Kassi Makassar



                                                                                  7
D. Manfaat Penelitian

   1. Manfaat Teoritis

       Memberi sumbangan teori perawatan pada penyalahgunaan NAPZA

       tentang faktor- faktor yang mempengaruhi kekambuhan (relaps) pada

       pengguna NAPZA yang mendapatkan layanan Pasca konseling di

       Puskesmas Kassi Kassi Makassar.

  2. Manfaat Praktis

     a. Bagi Petugas Konselor

         Memberi gambaran tentang faktor–faktor yang mempengaruhi

         tingkat kekambuhan pada pengguna NAPZA sehingga dapat

         dijadikan bahan   pertimbangan dalam menentukan kebijakan dan

         pengobatan .

     b. Bagi keluarga penyalahguna NAPZA dan masyarakat

        Memberikan gambaran kepada keluarga yang memiliki keluarga

         penyalahguna NAPZA tentang faktor–faktor yang berpengaruh

         terhadap kekambuhan pada pengguna NAPZA, sehingga diharapkan

         keluarga dapat membantu dalam mengurangi keberadaan faktor

         resiko tersebut sehingga kejadian kekambuhan dan penyalahguna

         NAPZA dapat di tekan.

     c. Bagi Penyalahguna NAPZA

        Dapat membantu para pecandu atau penyalahguna NAPZA dalam

        proses penyembuhan dan memberikan gambaran tentang faktor-faktor

       yang mempengaruhi kekambuhan sehingga dapat dihindari secara dini

       oleh para penyalahguna NAPZA.



                                                                           8
d. Bagi peneliti

   Merupakan pengalaman langsung dalam melakukan penelitian dan akan

   menjadi   motifator untuk memperdalam pengetahuan dan keinginan

   untuk melakukan   penelitian berikutnya untuk menjadi lebih baik.

   Disamping itu juga merupakan pengalaman berharga untuk dapat

   mengerti dan memahami tentang NAPZA lebih mendalam




                                                                       9
                                   BAB II

                          TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif)

   1. Definisi NAPZA

            NAPZA adalah suatu zat yang dapat mempengaruhi fungsi tubuh

       manusia yaitu apabila dimasukkan kedalam tubuh manusia dan sesuai

       dengan petunjuk dokter. Penyalahgunaan “abuse” ialah pemakaian obat

       oleh seseorang yang dipilihnya sendiri bukan untuk tujuan kedokteran

       (Maramis,W.F,2005).      Ketergantungan     obat   (drugs    dependence)

       merupakan keadaan dimana seseorang selalu membutuhkan obat tertentu

       agar dapat berfungsi secara wajar baik fisik maupun psikologis.

       (Hawari,2000). mengungkapkan hal senada mengenai penyalahgunaan

       NAPZA yaitu pemakaian obat-obatan untuk sendiri tanpa indikasi

       medik, tanpa petunjuk atau resep dokter, baik secara teratur atau berkala

       sekurang-kurangnya selama satu bulan. Pada penyalahgunaan ini

       cenderung terjadi toleransi tubuh yaitu kecenderungan menambah dosis

       obat untuk mendapat khasiat yang sama setelah pemakaian berulang.

       Disamping itu menyebabkan sindroma putus obat (withdrawal) apabila

       pemakaian dihentikan (Hawari, 2000).

            Istilah NAPZA merupakan akronim dari Narkoba, Psikotropika dan

       Zat Adiktif lainnya yang merupakan jenis obat-obatan yang dapat

       mempengaruhi gangguan kesehatan dan kejiwaan. Sedangkan pengartian

       NAPZA secara umum adalah zat-zat kimiawi yang apabila dimasukkan
     kedalam tubuh baik secara oral (diminum, dihisap, dihirup dan disedot)

     maupun disuntik, dapat mempengaruhi pikiran, suasana hati, perasaan

     dan perilaku seseorang. Hal ini dapat menimbulkan gangguan keadaan

     sosial yang ditandai dengan indikasi negatif, waktu pemakaian yang

     panjang dan pemakaian yang berlebihan (S.M. Lumbantobing,2007).

          Menurut UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika menyebutkan

     bahwa Narkotika adalah suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman

     maupun bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang

     menyebabkan penurunan dan perubahan kesadaran, mengurangi dan

     menghilangkan rasa nyeri serta dapat menimbulkan ketergantungan

     secara fisik maupun psikologik. Psikotropika adalah setiap bahan baik

     alami ataupun buatan bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif

     mempunyai      pengaruh    selektif pada susunan saraf   pusat   yang

     menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku (UU RI

     No. 22 Tahun 1997). Sedangkan pengertian Zat Adiktif yaitu bahan lain

     yang bukan Narkotika atau Psikotropika yang merupakan inhalasi yang

     penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan, misalnya lem,

     aceton, eter, premix, thiner dan lain-lain.

2.   Jenis-jenis NAPZA

     a. Narkotika

            Menurut UU No. 22 Tahun 1997 tentang narkotika, narkotika

        dikelompokkan kedalam tiga golongan :



                                                                        11
  1) Narkotika golongan I

       Adalah narkotika yang dapat digunakan untuk tujuan pengembangan

       ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai

       potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : heroin,

       kokain, ganja.

   2) Narkotika golongan II

       Yaitu narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan, digunakan dalam

       terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai

       potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : morfin,

       petidin, turunan garam dalam golongan tertentu.

  3) Narkotika golongan III

       Merupakan narkotika yang berkhasiat dalam pengobatan yang banyak

       digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu

       pengetahuan      serta   mempunyai   potensi   ringan   menyebabkan

       ketergantungan. Misalkan : kodein, garam-garam narkotika dalam

       golongan tertentu.

b. Psikotropika

       Menurut UU No. 5 Tahun 1997 tentang psikotropika yang dapat

  dikelompokkan kedalam empat golongan :

  1) Psikotropika golongan I

         Psikotropika yang hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan

    dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi yang amat



                                                                        12
     kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Yang termasuk golongan

     ini yaitu : MDMA, ekstasi, LSD, ST

2) Psikotropika golongan II

        Merupakan psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan

    dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan

    serta mempunyai potensi kuat menimbulkan ketergantungan. Contoh :

    amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakualon, metilfenidat (Ritalin).

3) Psikotropika golongan III

        Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak

    digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta

    mempunyai potensi sedang menyebabkan ketergantungan. Contoh :

    fenobarbital dan flunitrasepam.

4) Psikotropika golongan IV

        Adalah psikotropika yang mempunyai khasiat pengobatan dan sangat

    luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan

    serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

    Contoh:diazepam,          klobazam,      bromazepam,         klonazepam,

    khlordiazepoxiase, nitrazepam (BK, DUM, MG).

5) Zat Adiktif

        Zat adiktif merupakan “penghantar” untuk memasuki dunia

    penyalahgunaan Narkoba. Pada mulanya seseorang “nyicip” zat adiktif

    ini sebelum menjadi pecandu aktif. Zat adiktif yang akrab ditelinga

    masyarakat ialah nikotin dalam rokok dan etanol dalam minuman

                                                                            13
      beralkohol dan pelarut lain yang mudah menguap seperti aseton, thiner

      dan lain-lain. Dalam KEPRES tahun 1997, minuman yang mengandung

      etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung

      karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa

      destilasi, maupun yang diproses dengan mencampur konsentrat dengan

      etanol atau dengan cara pengenceran minuman mengandung etanol.

            Minuman alkohol dibagi menjadi 3 golongan sesuai dengan kadar

      alkoholnya yaitu :

       a.    Golongan A

             Adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 1% - 5%

             Contoh : bir, greend sand

       b.    Golongan B

             Adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 5% - 20%

             Contoh : anggur kolesom

       c.    Golongan C

             Adalah minuman beralkohol dengan kadar etanol 20% - 55%

             Contoh : arak, wisky, vodka

3. Teori Penyalahgunaan NAPZA

  a. Teori klasik, menyatakan bahwa penyalahgunaan zat secara equivalen dan

      maturbasi,   suatu   pertahanan      terhadap   impuls   homoseksual/suatu

      manifestasi dari regresi oral.




                                                                             14
    b.     Teori psikodinamika, bahwa penggunaan zat merupakan pencerminan

           dari fungsi ego yang terganggu atau berhubungan dengan depresi atau

           gangguan kepribadian.

    c.     Teori sosial, menyatakan bahwa penggunaan zat berhubungan dengan

           pola hidup, keluarga, masyarakat dan peran faktor lain.

    d.     Teori perilaku, menjelaskan bahwa penyalahgunaan zat terjadi karena

           adanya perilaku mencari zat (substance seeking behavior) yang muncul

           sehubungan       dengan   pengalaman      seseorang    menggunakan      zat

           menemukan efek yang menyenangkan.

        e. Teori      genetik,   menyatakan    bahwa    peran    genetik   ada   pada

           penyalahgunaan alkohol dan belum jelas pada penyalahgunaan yang

           lainnya.

4. Mekanisme Terjadinya Penyalahgunaan NAPZA

         Mekanisme        penyalahgunaan      dan   ketergantungan   NAPZA       dapat

  diterangkan dengan 3 pendekatan diantaranya pendekatan organobiologik,

  psikodinamik dan psikososial yang masing-masing tidak berdiri sendiri

  melainkan saling berkaitan satu sama lainnya (Hawari, 2006).

   a.     Organobiologik

             Dari susunan organobiologik (susunan saraf pusat/otak) mekanisme

          terjadinya adiksi (ketagihan) hingga depedensi (ketergantungan) dikenal

          dua istilah yaitu Gangguan Mental Organik akibat NAPZA atau Sindrom

          Otak Organik akibat NAPZA, suatu kegaduhan, gelisah dan kekacauan

          dalam fungsi kognitif (alam pikiran),afektif (alam perasaan/emosi) dan

                                                                                   15
      psikomotor (perilaku), yang disebabkan oleh efek langsung NAPZA

      terhadap    susunan    saraf    pusat   (otak).     Menurut     Wikler   (1973)

      mengemukakan conditioning theory. Menurut teori ini seseorang menjadi

      ketergantungan NAPZA apabila ia terus-menerus diberi NAPZA

      tersebut. Hal ini sesuai dengan teori adaptasi seluler (neuro-adaptation),

      tubuh akan beradaptasi dengan menambah reseptor dan sel-sel saraf

      bekerja keras. Jika NAPZA dihentikan, sel yang bekerja keras tadi akan

      mengalami kehausan, yang diluar nampak sebagai gejala putus NAPZA.

      Gejala putus NAPZA ini memaksa seseorang untuk mengulangi

      pemakaian NAPZA tersebut, demikianlah seterusnya (Hawari, 2006).

      (Jowana, 1989) menyatakan NAPZA berinteraksi dengan cara yang khas

      pada sistem biologik otak yang disebut reseptor. Interaksi NAPZA

      dengan reseptor bukan merupakan ikatan kovalen kimiawi, melainkan

      suatu interaksi yang lebih lemah yang dapat untuk kembali lagi

      (reversible).   Interaksi      NAPZA    dan       reseptor    dapat   mengubah

      permeabilitas membran sel sehingga dapat menghambat atau memacu sel

      tersebut (Hawari, 2006).

b.    Psikodinamik

         Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hawari (1990) menyatakan

     bahwa seseorang akan terlibat ketergantungan NAPZA, apabila terdapat

     interaksi antara faktor predisposisi, kontribusi dan pencetus.




                                                                                  16
  1). Faktor predisposisi

         Seseorang yang mengalami gangguan kepribadian (antisosial)

    ditandai dengan perasaan tidak puas dengan dampak perilakunya

    terhadap orang lain dan tidak mampu berfungsi secara wajar di rumah,

    sekolah atau ditempat kerja dan pergaulan sosialnya. Untuk mengatasi

    ketidakmampuan berfungsi secara wajar dan untuk menghilangkan

    kecemasan, maka orang cenderung menggunakan NAPZA. Menurut

    penelitian Hawari (1990) menyebutkan bahwa seseorang dengan

    gangguan kepribadian (antisosial) mempunyai resiko relatif (estimated

    relative risk) 19,9%, kecemasan mempunyai resiko relatif 13,8% dan

    depresi mempunyai resiko relatif 18,8% untuk terlibat penyalahgunaan/

    ketergantungan NAPZA.

2). Faktor kontribusi

      Faktor kontribusi adalah kondisi keluarga yang tidak baik atau

    disfungsi keluarga seperti :

     a. Keluarga tidak utuh, misalnya salah seorang dari orang tua

        meninggal dunia, bercerai atau berpisah.

     b. Kesibukan orang tua, orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan

        menyebabkan kurang komunikasi dan perhatian antar anggota

        keluarga.

     c. Hubungan interpersonal yang tidak baik, yaitu hubungan antara anak

        dengan orang tua dan anggota keluarga lain yang sering cekcok,

        sering bertengkar dan acuh tak acuh.

                                                                       17
    3). Faktor pencetus

            Penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1990) menyebutkan bahwa

        pengaruh teman kelompok sebaya mempunyai andil 81,3% bagi

        seseorang terlibat penyalahgunaan NAPZA. Sedangkan ketersediaan dan

        mudahnya NAPZA diperoleh (easy availability) mempunyai andil 88%

        bagi seseorang terlibat penyalahgunaan NAPZA

c. Psikososial

         Dari sudut pandang psikososial perilaku menyimpang ini terjadi akibat

     negatif dari interaksi tiga kutub yang tidak kondusif (tidak mendukung

     kearah positif), yaitu kutub keluarga, kutub sekolah/kampus dan kutub

     masyarakat.

       1. Kutub keluarga; misalnya hubungan yang tidak harmonis antara ayah

          dan ibu, gangguan fisik dan mental, sikap orang tua yang acuh, orang

          tua yang kasar (otoriter) dan lain-lain.

       2. Kutub sekolah; misalnya sarana dan prasarana yang tidak memadai,

          jumlah dan tenaga pendidik yang kurang, pendidikan agama dan budi

          pekerti kurang memadai, lokasi yang tidak sesuai dengan suasana

          belajar dan mengajar.

       3. Kutub masyarakat; misalnya tempat hiburan yang buka hingga larut

          malam, semakin banyak pengangguran, anak putus sekolah dan anak

          jalanan, kesenjangan sosial dan adanya tempat transaksi NAPZA.




                                                                           18
5. Faktor Penyebab Penyalahgunaan NAPZA

         Penyebab penyalahgunaan NAPZA menurut Hawari (2000) adalah

    interaksi antara faktor predisposisi, faktor kontribusi dan faktor pencetus.

    Faktor kontribusi yaitu kondisi keluarga yang tidak baik (disfungsi

    keluarga) seperti keluarga yang tidak utuh, kesibukan orang tua dan

    hubungan interpersonal dalam keluarga yang tidak harmonis. Faktor

    pencetus yaitu pengaruh teman sebaya serta tersedia dan mudahnya

    memperoleh barang yang dimaksud (easy availability).

    Sedangkan faktor predisposisi terbagi dalam tiga kelompok yaitu :

     a. Faktor biologik, kecenderungan keluarga, terutama penyalahgunaan

         alkohol dan perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan

         respon fisiologik yang tidak nyaman.

     b. Faktor psikologik, kepribadian ketergantungan oral, harga diri rendah,

         sering berhubungan dengan penganiayaan pada masa kanak-kanak,

         perilaku maladaptif yang dipelajari secara berlebihan, mencari

         kesenangan dan menghindari rasa sakit, sifat keluarga termasuk tidak

         stabil, tidak ada contoh yang positif, rasa kurang percaya tidak mampu

         memperlakukan anak sebagai individu serta orang tua yang adiksi.

    c.   Faktor sosiokultural, meliputi ketersedian dan penerimaan sosial

         terhadap pengguna obat, ambivalen sosial tentang penggunaan dan

         penyalahgunaan zat, seperti tembakau, alkohol dan maryuana, sikap,

         nilai, norma dan sosial kultural kebangsaan, etnis dan agama,



                                                                             19
          kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil dan keterbatasan

          kesempatan.

6.   Tanda dan Gejala Penyalahgunaan NAPZA

         Mereka yang mengkonsumsi NAPZA akan mengalami gangguan mental

      dan perilaku sebagai akibat terganggunya neurotransmitter pada sel-sel

      susunan saraf pusat diotak. Gangguan pada sistem neurotransmitter tersebut

      mengakibatkan terganggunya fungsi kognitif (alam pikiran), afektif (alam

      perasaan/mood/emosi) dan psikomotor (perilaku). Gejala intoksikasi

      NAPZA berbeda-beda tergantung dari jenis zat yang dikonsumsi. Secara

      medis pemeriksaan terhadap penyalahgunaan NAPZA dilakukan dengan

      serangkaian tes medik, baik tes darah, tes urin maupun tes lainnya juga

      dilakukan. Adapun gejala yang ditemukan adalah sebagai berikut:

      a. Ganja

              Gejala psikologis yang tampak seperti gembira yang tidak wajar

          dan tanpa sebab (euphoria), halusinasi dan delusi, apatis, merasakan

          waktu berjalan dengan lambat. Sedangkan gejala fisik yang dirasakan

          yaitu : mata merah, palpitasi (jantung berdebar-debar), nafsu makan

          bertambah, mulut terasa kering. Sedangkan perilaku maladaptif yang

          muncul antara lain kecurigaan, serangan panik dan murung,

          terganggunya daya nilai dan derealisasi (merasa lingkungan berubah).

      b. Opiat (morphin, heroin “putauw”)

              Mereka yang mengkonsumsi NAPZA jenis opiat baik dengan cara

          menghirup asap setelah bubuk opiat dibakar atau disuntikkan setelah

                                                                             20
       bubuk opiat dilarutkan kedalam air akan mengalami hal-hal sebagai

       berikut :

       1. Pupil mata mengecil atau sebaliknya melebar. Pada mata seseorang

          reaksi pupilnya terbalik, pada mata normal jika diberikan rangsang

          cahaya maka pupil akan mengecil tetapi pada mata pecandu adalah

          kebalikannya.

       2. Euphoria atau sebaliknya disphoria

       3. Apatis, yang bersangkutan bersikap acuh tak acuh, masa bodoh,

          tidak peduli terhadap sekitar, malas, kehilangan dorongan kehendak

          atau inisiatif.

       4. Mengantuk dan tidur

       5. Pembicaraan cadel (slurred speech), disebabkan gerakan lidah

          terganggu

       6. Gangguan pemusatan perhatian dan konsentrasi, daya ingat menurun

          dan tingkah laku maladaptif.

c.   Kokain

     Mereka yang mengkonsumsi NAPZA jenis kokain dengan cara menghirup

     (bubuk kokain disedot/dihirup melalui hidung) mempunyai gejala seperti

     agitasi psikomotor, rasa gembira, rasa harga diri meningkat (grandiosity),

     banyak bicara, kewaspadaan meningkat, tekanan darah naik, jantung

     berdebar-debar, mual, muntah dan perilaku maladaptif. Sedangkan gejala

     putus kokain akan timbul gejala yaitu depresi, rasa lelah, lesu, kehilangan

     semangat, gangguan tidur dan gangguan mimpi bertambah.

                                                                             21
 d.    Stimulan (shabu-shabu, ekstasi dan kokain)

       Secara fisik gejalanya yaitu denyut nadi meningkat dan tekanan darah

       tidak teratur, kelainan jantung, banyak keluar keringat sehingga

       kekurangan cairan hingga pingsan, badan panas, timbul kejang, nafsu

       makan berkurang dan mual. Gejala psikologis yang tampak yaitu gelisah,

       mudah tersinggung, cemas, panik, paranoid (perasaan curiga berlebihan),

       euphoria, kewaspadaan dan energi bertambah.

7. Tingkat Pemakaian NAPZA

           Hadiman,1996, mengklasifikasikan tingkat pemakaian NAPZA menjadi

      tahap-tahap sebagai berikut :

      a.    user (mencoba-coba)

           Tingkat pengetahuan dengan tujuan mencoba dan memenuhi rasa ingin

           tahu atau karena sebab lain (pengaruh teman), biasanya pemakaian

           hanya sekali atau beberapa kali dan kemudian bisa berhenti.

      b.   Social user (untuk bersenang-senang)

           Adalah penggunaan zat dengan tujuan bersenang-senang misalnya pada

           saat rekreasi, pesta atau sedang santai. Pada tahap ini pemakai sudah

           merasakan manfaat tertentu dari pemakaian zat tersebut namun belum

           mengalami ketergantungan.

      c. Situational user (saat-saat tertentu)

           Adalah penggunaan NAPZA dengan tujuan untuk menghilangkan

           perasaan tertentu (bersifat menekan) atau melarikan diri dari situasi

           tertentu dan keinginan memakai mulai tampak.

                                                                                   22
   d. Abuse user (penyalahgunaan)

      Pemakaian     pada    tahap   ini   sudah   teratur,   pemakai   menikmati

      kebiasaannya, menderita bila tidak memakai obat kerena mengalami

      gejala putus zat dan sudah terlibat dalam ketergantungan.

   e. Compulsive user (ketergantungan)

      Adalah pemakaian zat yang telah menimbulkan toleransi dan gejala putus

      zat apabila pemakaian dihentikan atau dikurangi. Dalam tahap ini pemakai

      mulai tidak terkontrol, walaupun individu tidak ingin tahu tidak dapat

      menikmatinya lagi dan terpaksa untuk memakai. Akibat ia memakai

      NAPZA untuk jangka panjang, walaupun ia telah merasakan dampak

      negatif dari pemakaian zat tersebut.

8. Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA

     Perilaku manusia menurut Sarwono (1993) merupakan hasil dari segala

 macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang

 terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku pencegahan

 merupakan bagian dari perilaku sehat, perubahan perilaku akan terjadi secara

 kualitatif dan kuantitatif (Mantra,1994). Perubahan kuantitatif adalah

 perubahan frekuensi perilaku yang sedang berjalan, sedangkan perubahan

 kualitatif adalah menyangkut kejadian perilaku baru atau menghilangkan

 perilaku yang sudah ada.

     Menurut Hawari (2006) pola pencegahan ketergantungan dapat dilihat dari

 dua aspek yaitu supply reduction dan demand reduction; dengan pendekatan

 security approach dan welfare approach. Supply reduction adalah upaya untuk

                                                                              23
 mengurangi sebanyak mungkin pengadaan dan peredaran NAPZA dengan

 pendekatan security approach yaitu dengan pendekatan keamanan. Sedangkan

 demand reduction yaitu upaya untuk sebanyak mungkin mengurangi

 permintaan atau kebutuhan terhadap NAPZA oleh penyalahguna. Upaya

 demand reduction dilakukan oleh pihak kedokteran dan kesehatan dengan

 pendekatan welfare approach yaitu pendekatan kesejahteraan, misalnya

 pemberian penyuluhan kepada masyarakat, terapi dan rehabilitasi kepada

 penyalahguna.

    Upaya pencegahan dapat dilakukan apabila diketahui pola penyebaran dan

 penularannya, terbagi dalam tiga bagian yaitu :

  a. Prevensi primer, adalah pencegahan orang yang sehat agar tidak terlibat

     penyalahgunaan atau ketergantungan NAPZA

  b. Prevensi sekunder,adalah terapi atau pengobatan terhadap mereka yang

     terlibat penyalahgunaan NAPZA

  c. Prevensi    tersier,   adalah   rehabilitasi   bagi   penyalahguna   atau

     ketergantungan NAPZA setelah memperoleh terapi.

9. Dampak Penyalahgunaan NAPZA

     Pemakaian NAPZA baik yang baru maupun dalam jangka waktu yang

  lama akan merasakan akibat secara fisik, mental, emosional dan sosial. Hal

  tersebut bisa dirasakan sendiri maupun oleh lingkungan sekitarnya. Dampak

  pada fisik mental dan emosional telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya.

  Sedangkan dampak sosial penyalahgunaan NAPZA adalah perubahan perilaku

  konsentrasi menurun, motivasi belajar kurang, melakukan perbuatan kriminal

                                                                           24
  seperti mencuri, merampok dan sebagainya. Hal ini dapat dijadikan pedoman

  untuk deteksi bagi orang tua, guru dan lingkungan.

B. Tinjauan tentang Kekambuhan

   1. Definisi kekambuhan

        Berbagai definisi tentang kekambuhan telah dipublikasikan, meliputi

      munculnya kembali gejala setelah periode remisi, pemondokan ulang,

      penahanan dengan undang-undang kesehatan mental, kunjungan ke cut

      day care centre, perubahan atau peningkatan dosis antipsikotik,

      peningkatan   kebutuhan     perawatan    dan     peningkatan   kebutuhan

      pertolongan, munculnya kembali atau meningkatnya gejala psikotik. Pada

      penelitian klinis hal tersebut biasanya didefinisikan sebagai penurunan

      sebesar 40% score positif dan negative symptoms scale/PANNS (Burn et

      al, 2000 cit. Taylor et al, 2005; cit. Almond et al, 2004). Kekambuhan

      adalah terulangnya lagi gejala–gejala yang cukup mempengaruhi aktifitas

      sehari-hari (Stuart & Sunden, 1998). Menurut hawari, kekambuhan

      NAPZA adalah mereka yang dirawat ulang dirumah sakit yang

      menggunakan metode Prof. Dadang Hawari.

  2. Tanda-tanda Kekambuhan

         Pada kasus penyalahgunaan NAPZA selalu ada bahaya bahwa proses

      rehabilitasi mulai gagal, dan semua aspek rehabilitasi perlu diterapkan

      bersama dan secara teratur dalam satu kelompok ketika kekambuhan

      menghampiri    mereka     (Aart,1994).   Menurut    Aart   (1994)   yang



                                                                            25
menyebutkan    tanda-tanda    kekambuhan      pada    penyalahgunaan   dan

ketergantungan NAPZA yaitu antara lain :

a. Penyangkalan kembali; pecandu dan keluarga tidak mengakui bahaya

    dari kecanduan.

b. Tingkah laku menghindari dan defensive; pasien menyadari atau

    terlalu yakin bahwa ia tidak akan pernah mengalami kecanduan lagi.

c. Lahirnya krisis; rencana pasien kurang berhasil dan kurang mampu

    rencana yang kuat dan pasti.

 d. Kekurangan mobilitas; penderita tidak percaya bahwa masalahnya

    dapat diatasi, dia sering melamun.

 e. Kebingungan dan reaksi keterlaluan pecandu; kehilangan, bingung,

    cepat marah dan mudah tersinggung terhadap teman.

 f. Depresi pasien tidak mengambil tindakan, kurang tidur dengan baik,

    jadwal harian kacau dan mengalami depresi yang mendalam.

 g. Kehilangan control dalam tingkah laku; tidak ingin ikut kelompok

    saling mendukung, sikap “cuek”, menolak pertolongan orang lain dan

    merasa tidak puas.

 h. Kehilangan control sangat tampak; kasihan terhadap diri sendiri,

    berhayal dengan pemakaian zat secara sosial, menutupi dan

    berbohong serta hilang rasa percaya diri total.

 i. Pengurangan alternatif, pasien benci dengan orang lain tanpa alasan

    jelas, meninggalkan serta mengabaikan semua tindakan rehabilitasi,



                                                                        26
        merasa kesepian, frustasi dan marah. Tanda ini merupakan tanda awal

        memulai kekambuhan.

3. Faktor-faktor penyebab Kekambuhan.

       Menurut Lidya, at all (2005) mengemukakan beberapa penyebab relaps

  antara lain :

   a. Gagal memahami dan menerima bahwa adiksi adalah suatu penyakit

        akibatnya ia tidak merasakan memerlukan program pemulihan

  b. Menyangkal telah kehilangan kendali akibatnya ia dapat memakai

        NAPZA asalkan hati-hati.

  c.    Ketidakjujuran,    ia   menyangkal     kenyataan,     menyembunyikan

        persaannya, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan NAPZA.

  d. Keluarga yang tidak berfungsi normal.

  e.    Kurangnya program yang bersifat rohani; akibatnya pecandu tidak

        mempercayai sumber kekuatan baginya, kecuali dirinya sendiri.

  f.    Stres bagi banyak orang, NAPZA merupkan cara utama mengatasi

        stres. Stres menyebabkan kembalinya rasa rindu terhadap NAPZA.

  g. Mengisolasi diri; menarik diri dari hubungan dengan program

        pemulihan, acuh terhadap diri.

  h. Adiksi silang (cross addiction); orang yang telah kecanduan terhadap

        salah satu jenis NAPZA tidak dapat menggunakan jenis lain, obat

        batuk, obat flu, obat alergi yang dibeli diwarung tanpa resiko relaps.

  i.    Musim libur; dapat membangkitkan kenangan masa lalu sehingga

        menyebabkan rasa tidak nyaman.

                                                                                 27
j.   Gejala putus zat yang berlanjut; withdrawal biasanya berlangsung

     selama 4-5 hari dimungkinkan sesudah itu akan timbul gejala-gejala

     ringan yang bisa menyebabkan relaps.

k. Rasa percaya diri yang berlebihan; pada awal pemulihan, segala

     sesuatu tampak terkendali membuat pecandu yakin semua akan baik-

     baik saja. Ia akan    mengabaikan kelemahannya dan melupakan

     ketergantungannya menjadikan ia yakin bahwa ia dapat memakai

     kembali sebagai pemakaian sosial tanpa masalah seperti dahulu.

l.   Kembali pada teman pecandu dan kebiasaan lama; pecandu yang

     sedang pulih berpikir bahwa ia dapat pergi keteman-teman

     pecandunya dan ketempat-tampat yang sering menggunakan NAPZA,

     tanpa adanya godaan untuk memakai lagi. Dan ia yakin ia dapat

     memakainya kembali dengan aman.

m. Merasa bersalah tentang masa lalu; mengenali masa lalu tanpa kehati-

     hatian yang pernah menyakitkan orang lain, dapat menuntun kepada

     relaps.

     Sedangkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Hawari

     (1990) menyebutkan tiga faktor utama pada kejadian relaps yaitu:

     1. Faktor teman; resident bergaul kembali dengan teman-teman

        sesama pemakaian NAPZA atau bandarnya.

     2. Faktor sugesti (craving/desire); pasien tidak mampu lagi menahan

        keinginan (sugesti) untuk memakai lagi.



                                                                        28
           3. Faktor stress; pasien mengalami stress dan frustasi (suntuk)

               sehingga “melarikan diri” lagi ke NAPZA

                                Kerangka Teori

                                      ETIOLOGI



Faktor Predisposisi
                                      Faktor kontribusi         Faktor pencetus
    1. Biologik

    2. Psikologik
                                      Penyalahgunaan
    3.
                                         NAPZA
    4.



                                      Ketergantungan
                                         NAPZA




ZZZZZZBiologik                      Terapi & rehabilitasi

    1.   Psikologik

 2. sosiokultural
            Faktor teman

                                                              Faktor sugesti


             Faktor stres




                                         Relaps


                       Relaps (+)                           Relaps (-)



                                                                                  29
30
                                     BAB III

                                 KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep


  Faktor-faktor
  penyebab
  kekambuhan
  1. Teman

 2. sugesti                                        Kekambuhan pada
                                                     penyalahguna
  3. stres
                                                       NAPZA

  4. Ketidakjujuran
  5. musim libur
  6. Gejala putus zat
    berlanjut




       Keterangan:

                : yang diteliti

                : tidak diteliti

                :yang diteliti
                                    BAB IV

                          METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

       Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan

  pendekatan naturalistik, dimana peneliti berusaha aktif melakukan interaksi

  dengan subjek atau responden dengan kondisi apa adanya tanpa direkayasa,

  agar data yang di peroleh merupakan fenomena yang asli atau nature,

  (Sugiyono,2006).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

   1. Lokasi Penelitian

      Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kassi Kassi Makassar

   2. Waktu Penelitian

      Penelitian di laksanakan pada tanggal 17 november sampai dengan 17

      desember 2009

C. Populasi dan Sampel

   1. Populasi

       Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti atau

       Keseluruhan individu pada ruang lingkup yang akan diteliti. Dalam

       Penelitian ini populasinya yaitu semua pasien atau pengguna NAPZA

       yang mendapatkan layanan pasca konseling di Puskesmas Kassi Kassi

       Makassar yang berjumlah 30 orang.

   2. Sampel

       Sampel adalah sebagian dari anggota populasi yang diambil dengan

       menggunakan metode tertentu sehingga diharapkan mewakili populasi
      dalam suatu penelitian (Sugiyuno,2001). Penentuan sampel dalam

      penelitian ini menggunakan metode non-probabilitas sampling dengan

      tehnik snowball sampling yaitu peneliti memilih sampel secara berantai.

      jika pengumpulan data dari responden ke-1 sudah selesai, peneliti meminta

      agar responden tersebut untuk menunjuk seseorang yang tepat yang

      dijadikan responden dan begitu seterusnya sampai semua data yang

      dibutuhkan terkumpul dan diperoleh sampel sebanyak 5 orang. Adapun

      kriteria inklusif pada penelitian ini yaitu :

       a. Tercatat sebagai salah satu pengguna NAPZA yang tidak melanjutkan

          Layanan konseling di puskesmas kassi – kassi

       b. Mampu berkomunikasi dengan baik

       c. Bersedia untuk menjadi responden dengan mengisi inform consent.

       Kriteri eksklusif dalam penelitian ini yaitu :

       a. Tidak tercatat sebagai salah satu pengguna layanan konseling

       b. Tidak berkomunikasi dengan baik

       c. Tidak bersedia sebagai responden

D. Defenisi Operasional

   1. Kekambuhan (relaps) NAPZA dalam penelitian ini adalah responden

      menggunakan kembali NAPZA yang terputus yang di sebabkan oleh

      berbagai faktor dari teman,sugesti dan stress.

   2. Faktor Teman adalah orang-orang yang dekat dengan responden yang

      dapat mempengaruhi sehingga dia kembali menggunakan NAPZA.

   3. Faktor   Sugesti adalah dimana responden tidak mampu lagi menahan

      keinginan untuk memakai lagi.



                                                                            32
  4. Faktor Stres adalah suatu sikap yang timbul karena adanya rintangan

      ketika berusaha untuk memenuhi suatu kebutuhan yang diharapakan dan

      merasa tidak mampu untuk menyelesaikanya yang menyebabkan

      responden tersebut melarikan diri lagi ke NAPZA dengan tujuan untuk

      melepaskan diri dari masalah yang di hadapinya.

E. Tehnik Pengumpulan Data

      Untuk memperoleh data yang relavan terhadap masalah yang diteliti maka

   perlu teknik dan alat pengumpulan data yang tepat.

   1. Metode interview

           Peneliti akan mengadakan tatap muka langsung kepada responden

       dan menggali data melalui wawancara atau interview dengan panduan

       pertanyaan yang sudah di siapkan mengenai faktor- faktor yang

       mempengaruhi kekambuhan pada penyalahguna NAPZA. Pada penelitian

       ini menggunakan pedoman wawancara dalam bentuk semi structured

       dimana interview (pewawancara atau peneliti) mengajukan beberapa

       pertanyaan inti yang sudah disiapkan dan terstruktur kemudian satu

       persatu dikembangkan sesuai kemampuan interview namum masih dalam

       konteks penelitian.   Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa

       meliputi semua variabel dengan keterangan yang lengkap dan mendalam

       (Arikunto,2006).

   2. Pengumpulan data sekunder berdasarkan catatan status perawatan di

       puskesmas Kassi–Kassi Makassar.




                                                                         33
F. Instrumen Penelitian

       Adapun instrument dalam penelitian ini menggunakan bantuan audio-

   recorder untuk merekam hasil interview dan lembar pertanyaan pada tehnik

   interviw.

G. Pengolahan dan Analisa Data

        Analisa data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data

   kedalam pola, kategori dan satuan dasar uraian tugas dasar sehingga dapat

   ditemukan tema dan hipotesis kerja seperti disarankan data (Moleong,2006)

   Analisis data kualitatif (Seiddel, 1998), prosesnya berjalan sebagai berikut:

   1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dan hal itu diberi kode

       agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri

   2. Mengumpulkan        memilah-milah      ,mengklsifikasikan,    mensintsiskan,

       membuat iktisar dan membuat indeksnya

   3. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna,

       mencari dan menemukan pola hubungan-hubungan dan                   membuat

       temuan–temuan umum.

           Berdasarkan metode tersebut diatas, maka langkah–langkah yang

      ditempuh peneliti untuk menganalisis isi penelitian ini adalah:

   1. Mengumpulkan data berupa catatan lapangan, rekaman kaset dari hasil

      interview dan memasukkan data kedalam transkrip.

   2. Mempelajari semua transkrip dan melihat kekurangan untuk dilengkapi

      kembali dilapangan dengan wawancara yang lebih mendalam

   3. Mempelajari data, mencari kata kunci dan gagasan yang ada dalam data

      untuk kemudian diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri



                                                                                   34
4. Membaca dan mempelajari secara menyeluruh data yang sudah terkumpul

   untuk persiapan penyusunan uraian dasar dalam penyajian data

5. Penyajian data yang diperoleh akan dituangkan dalam bentuk kuotasi

   (kutipan responden dalam bentuk aslinya) yang dapat disajikan sebagian

   dari kalimat

6. Membuat kesimpulan dari hasil penelitian dari hasil analisa data sesuai

   dengan tujuan penelitian.




                                                                       35
                                   BAB V

              HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisa Data

        Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar yang

   di laksanakan pada tanggal 17 November sampai dengan tanggal 17

   Desember 2009. Dengan subyek penelitian adalah kekambuhan (relaps)

   pada pengguna NAPZA yang telah mendapatkan layanan pasca konseling di

   Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar hasil observasi dari data sekunder

   dari buku register terdapat 30 pengguna NAPZA dan penentuan sampel

   dalam penelitian ini menggunakan metode non probabilitas sampling

   dengan tehnik snowbal sampling          yaitu peneliti memilih sampel secara

   berantai. Jika pengumpulan data dari responden ke-1 sudah selesai, Peneliti

   meminta agar responden tersebut untuk menunjuk seseorang yang tepat

   yang di jadikan responden sampai semua data yang di butuhkan terkumpul

   dan di peroleh sampel sebanyak 5 orang yang merupakan pengguna NAPZA

   dengan karaterikstik sebagai berikut.
                                       Tabel.1

        Karekteristik responden sesuai dengan Umur, Asal, Pendidikan, Jenis Kelamin

                karakteristik                    N                %
         Umur
                     25 - 30 Thn                 3                60
                      > 30 Thn                   2                40
         Asal
                      Surabaya                   1                20
                      Makassar                   3                60
                      Manado                     1                20
         Pendidikan
                         SD                      0
                        SMP                      0
                       SMA                       2                40
                         S1                      3                60
         Jenis Kelamin
                      Laki-laki                  5               100
                      Perempuan                  0
         Pekerjaan
                    PNS                          1                20
                    Swasta                       3                80
        Sumber data : Primer 2009

B. Karakteristik Responden

   1.    Responden 1

            Responden yang pertama kali diwawancara bernama B merupakan

        anak ketiga dari empat bersaudara yang berasal dari Surabaya, saat ini

        responden berusia 28 tahun. Responden mempunyai perawakan tinggi

        badan 165cm, warna kulit sawo matang, saat wawancara responden

        menggunakan pakaian lengkap dengan bawahan celana hitam panjang,

        kemeja berwarna coklat.

            Responden duduk disebuah kursi tepat di depan peneliti dan terdapat

        meja sebagai penyekat antara responden dan peneliti, keadaan tersebut

        terasa begitu kaku dan formal namun tempat itu adalah satu-satunya


                                                                                      37
tempat yang tersedia yang dirasa nyaman. Setelah berkenalan dan

menjelaskan maksud serta tujuan diadakan wawancara, responden

menandatangani inform consent yang telah disediakan peneliti sebagai

bukti kesanggupan. Peneliti mengadakan kontrak waktu wawancara

namun diserahkan sepenuhnya oleh responden kepada peneliti.

Responden     tidak      merasa   terganggu    dengan     wawancara    yang

dilaksanakan karena telah mendapat izin dari pihak petugas puskesmas

dan walaupaun menggunakan alat perekam suara. Mengenai privasi,

responden tidak pernah memikirkan, responden lebih bersikap”cuek”

terhadap hal tersebut.

    Selama berkomunikasi, responden menggunakan bahasa Indonesia,

Dalam    menjawab        setiap   pertanyaan    dari    peneliti   responden

menggunakan bahasa Indonesia yang kaku, pengucapan satu kalimat

tidak lancar, responden selalu mengawali jawabanya dengan “ee….apa

ya….”. Responden akan merespon apabila ada pertanyaan dari peneliti

dan menjawab seperlu atau sebatas luas pertanyaan tersebut. Responden

berusaha menjaga kontak mata dengan peneliti tetapi sesekali melempar

pandangan ke luar. Bila ada pertanyaan yang dirasa aneh untuk

ditanyakan dan privasi, responden menjawab dengan nada pelan dan

senyum namun tidak menutup diri. Selama wawancara responden terlihat

sedikit kaku dan tidak leluasa dalam mengelurkan pendapatnya sebab

bagi responden berbicara dengan orang yang baru dikenal sering

membuat responden merasa kurang percaya diri. Kondisi tersebut

memang sering dialami oleh para pecandu NAPZA ketika berhadapan



                                                                         38
   dengan orang yang baru dikenal, dengan sendiri rasa percaya diri akan

   hilang, Situasi semacam itu tidak berlangsung lama, setelah 30 menit

   berlangsung, responden meminta izin untuk menyalakan rokok dan

   peneliti berusaha membuat responden merasa nyaman dengan diselingi

   gurauan ringan.

       Wawancara dirasa cukup setelah dua jam, berikutnya peneliti

   mengakhiri wawancara dan meminta kesediaan responden untuk

   diwawancara berikutnya jika hasil dari wawancara pada saat itu dirasa

   kurang. Setelah wawancara tersebut, pada pertemuan kedua dan

   berikutnya responden tampak lebih santai berkomunikasi dengan peneliti

   baik hanya menyapa ataupun terlibat pembicaraan secara langsung.

2. Responden 2

      Wawancara pada responden kedua atas nama H dilaksanakan

   berselang satu hari setelah wawancara pada responden pertama,

   Responden kali ini berusia 27 tahun berasal dari Manado, Responden

   menggunakan pakaian lengkap seperti pada responden pertama, secara

   fisik responden mempunyai perawakan tinggi badan 160 cm. pada awal

   wawancara dirasa sedikit kaku karena responen tidak terbiasa berbicara

   tanpa ditemani dengan sebatang rokok. Responden pun meminta izin

   kepada peneliti untuk menyalakan rokok agar wawancaranya lebih

   santai. Bagi responden semua itu sudah kewajiban bagi responden untuk

   saling membantu dan membagi pengalaman yang sekaligus terapi bagi

   dirinya untuk dapat percaya dan berterus terang kepada orang lain. Tidak

   tampak sedikit pun keragu-raguan dalam diri responden dalam menjawab



                                                                        39
pertanyaan   dari   peneliti.   Setiap   berbicara   responden    selalu

menggerakkan tanganya mengepal dan meremas–remas tanganya dan

jika dirasa ingin sedikit santai sesakali responden menyandarkan

pungggungnya kesandaran tempat duduk. Responden selalu berusaha

menjaga kontak mata dengan peneliti.

    Dalam wawancara responden menggunakan bahasa Indonesia,

responden kebanyakan menggunakan kata “e….e….e….,ya…..” dan

gimana ya….” Yang membuat peneliti menekankan ulang beberapa

pertanyaan agar mendapat jawaban yang jelas. Responden cepat

memahami alur pertanyaan dari peneliti, cara respoenden menjelaskan

tentang dunia NAPZA terlihat responden memahami kondisinya namun

terkendala oleh pembendaharaan kata responden yang tidak jelas.

    Tidak ada sedikit pun raut kesedihan pada diri responden hanya

beberapa penyesalan yang responden ungkapkan dari penyalahgunaan

NAPZA. Sesekali disela-sela pembicaraan responden tertawa lepas dan

sesekali responden hanya tersenyum. Ditanya mengenai rencana hidup

dan masa depan tanpa berfikir lama reponden menjawab berkeinginan

mempuyai keluarga dengan nada semangat. Dua jam berlalu peneliti

mengakhiri wawancara untuk saat itu dan meminta kesediaan responden

untuk diminta keterangan jika hasil dari pembicaraan saat itu dirasa

kurang dan responden menyetujui dan tidak mempermasalahkan hal

tersebut.




                                                                     40
3. Responden 3

       Responden ketiga, responden merasa tidak keberatan untuk diminta

   informasi melalui wawancara, diawali dengan perkenalan, penjelasan

   maksud dan tujuan     dan penandatangan inform consent. Responden

   ketiga bernama N dengan usia 33 tahun, berasal dari Makassar yang

   bekerja sebagai PNS dan mampu berkomunikasi dengan baik dan

   kooperatif dengan orang lain sehingga tidak menjadi kendala bagi

   peneliti dalam menggali keterangan dari responden, tanpa merasa rendah

   diri, postur tubuh responden tinggi badan 170cm, dengan menggunakan

   kemeja hitam dan celana biru tua. Responden mengambil posisi duduk

   didepan peneliti di sebuah kursi yang telah disediakan sebelumnya,

   selama wawancara responden lebih sering mencakupkan kedua tanganya

   dan diletakkan di atas meja yang menjadi penyekat antara peneliti dan

   responden.

       Selama pembicaraan responden kebanyakan melihat keluar ruangan.

   Responden menggunakan bahasa Indonesia, dalam menjawab pertanyaan

   responden terlihat seperti menghafal jawaban. Mengenai pengalaman

   selama menggunakan NAPZA dan relaps yang pernah dialami responden

   menjawab dengan cepat tanpa menunggu pertanyaan dari peneliti di awal

   wawancara berlangsung. Responden menekankan jawaban yang sesuai

   dengan tujuan penelitian dengan mengulangi pernyataan mengenai

   faktor–faktor yang menyebabkan relaps, responden berpendapat hal itu

   dilakukan karena melihat dari tema wawancara saat itu yaitu tentang

   faktor-faktor relaps dan tidak akan menjawab selain dari konteks



                                                                      41
   tersebut. Sedangkan peneliti membutuhkan data–data lain selain relaps

   yang dialami seperti asal mula pemakaian, alasan menggunakan NAPZA

   serta hal-hal lain yang berkaitan dengan riwayat penyalahgunaan

   NAPZA. Dan pada        akhirnya responden bersedia menjawab semua

   pertanyaan dari peneliti baik yang berhubungan dengan relaps maupun

   hal lain yang masih berkaitan dengan NAPZA.

       Wawancara yang di lakukan dengan N lebih singkat hanya

   memakan waktu satu setengah jam semua data penelitian yang di

   butuhkan telah terkumpul. Tetapi peneliti tetap memita kesediaan

   responden apabila terdapat data yang diangap kurang lengkap untuk

   kemudiaan      diwawancara   kembali   dan    dari   pihak   responden

   menyanggupinya namun tetap melihat jadwal kerja yang ada untuk

   responden.

4. Responden 4.

       Responden keempat bernama G dengan usia 25 tahun, berasal dari

   Makassar, sebelum melakukan wawancara peneliti meminta waktu untuk

   mendekatkan diri dengan responden, responden yang mengenal peneliti

   sebelumnya terlihat rileks, Responden mempunyai perawakan tinggi

   badan 160 cm, kulit responden berwarna hitam, banyak bekas luka

   sayatan silet yang tebal pada kedua lengan bagian dalam responden

   sehingga menimbulkan garis–garis tebal dan tipis dan menonjol

   permukaan kulit.

      Selama wawancara responden berbicara degan nada yang pelan dan

   lemah dengan menggunakan bahasa Indonesia dan seringnya responden



                                                                      42
   menggunakan kata “tho….” . mengenai topik pebicaraan disesuaikan

   dengan situasi dan kondisi saat itu dalam arti tidak menuntuk responden

   untuk menjawab hal yang ditanyakan oleh peneliti namun memberi

   kesempatan kepada responden untuk menceritakan hal lain yang

   berkaitan dengan riwayat penyalahgunaan NAPZA, responden sempat

   meminta izin kepada peneliti untuk merokok agar wawancara lebih santai

   dan membuat responden relaks.

       Terlihat responden menceritakan pengalamanya keluar masuk panti

   rehabilitasi dengan tanpa beban sedikitpun. Responden lebih sering

   melihat keluar dari pada peneliti dan responden meminta harap

   memaklumi hal tersebut. Dua jam peneliti mengakhiri wawancara untuk

   saat itu dan meminta kesediaan responden untuk diminta keterangan jika

   hasil dari pembicaraan itu dirasa kurang dan responden menyetujuinya

   dan tidak mempermasalahkan hal tersebut.

5. Responden 5.

      Responden ke 5 bernama O, berusia 32 tahun berasal dari Makassar.

   Peneliti sempat mengalami kesulitan untuk mengatur jadwal wawancara

   dengan responden, responden lebih sering bersama pengguna lainya

   terlihat sedang berdiskusi. Akhirnya sesuai dengan kesepakatan

   responden setuju untuk diwawancara dan menyanggupi untuk melakukan

   wawancara pada saat itu, Setelah dipersilahkan duduk peneliti

   menanyakan ulang kesiapan responden untuk wawancara dengan sigap

   dan jelas responden menjawab bahwa responden bersedia untuk

   diwawancara pada saat itu. Responden yang mempunyai postur tubuh



                                                                       43
      dengan tinggi 170cm, warna kulit sawo matang. Seperti responden-

      responden sebelumnya responden kelima ini juga menggunakan bahasa

      Indonesia. Seorang pecandu memang tidak mampu lepas dari rokok dan

      tidak mampu memfokuskan konsentrasi bila tidak didampingi sebatang

      rokok. Seperti responden sebelumnya, responden kali ini pun meminta

      izin untuk menyalakan sebatang rokok, wawancara kali ini tidak

      berlangsung lama tidak lebih satu setengah jam, penelitipun mengakhiri

      wawancara melihat kondisi responden sudah ada temanya yang

      memanggil.

          Semua pengguna tidak luput untuk menjadi sumber data bagi data

      yang dirasa kurang lengkap dan juga sebagai bahan pertimbangan dari

      hasil wawancara, Tidak hanya pengguna tetapi seluruh komponen yang

      ada di puskesmas peneliti jadikan sebagai sumber data bila keteranganya

      dirasa mendukung data-data responden.

C. Pelaksanaan Wawancara Masing–Masing Responden

  1. Penyalahgunaan NAPZA

    a) Responden mengenal NAPZA pertama pada usia, jenis, dan tujuan

       menggunakan NAPZA

        “pada umur 17 tahun, jenis ganja, tujuan hanya untuk coba–cobaji.
         dikasih sama teman-teman”(R1)

        “pada umur 16 tahun, jenis ganja,tujuan hanya untuk bersenang-
         Senang, awalnya dikasih sama teman”(R2)

        “pada usia 16 tahun,jenis ganja, tujuan ikut sama anak–anak atau
         teman-teman”.(R3)

      “pada usia 14 tahun, jenis ganja,tujuan hanya ingin rasa tahu
       saja”(R4)



                                                                            44
    “pada usia 18 tahun, jenis putauw,tujuan coba- coba saja.”(R5)

 b) Sebelum responden terjerumus kedalam dunia NAPZA responden

    mengenal jenis, efek yang di timbulkan ataupun ketagihanya

     “pertama tidak tahu efeknya, lama-lama baru kecanduan.”(R3,5)

     “saya tidak tahu efek apa yang di timbulkan karena pada saat itu,Pada
      awal–awalnya itu saya belum tahu apa pun tentang narkoba termasuk
      ganja.”(R1, 2, 4)

 c) Tanggapan keluarga mengetahui kondisi responden

      “marah mace dan paceku.”(R1)
     “orang tuaku tidak ada yang tahu.”(R2)
    “marah sekali, sampai–sampai mace sampai stroke, dan paceku
      sampai sakit jantungan to, sampai masuk rumah sakit.”(R3)

    “dimasukkan di toksikasi dan konsul Dr. psikiater.”(R4)

     “Tidak menjawab pertanyaan responden, hanya diam dan geleng
      geleng Kepala dan dia minta izin untuk menyalakan rokok”(R5)

 d) Orang tua mengetahui kondisi responden, dan kelurga yang mempunyai

    riwayat yang sama

     “setelah 3 tahun, tidak ada keluarga yang pake begitu sayaji.”(R1, 5)
     “setelah 4 tahun, tidak ada keluarga yang pake sama dengan
      saya.”(R2)

    “setelah 2 tahun, kelurgaku yang pake saudaranya maceku.”(R3)

    “setelah 4 tahun, kakak saya pertama yang mengajarkan menggunakan
     Narkoba.”(R4)

e) Pengaruh terhadap study, pihak sekolah dan lingkungan sekolah

     “ sekolah tidak tahu, nanti kuliah, saya di DO.”(R1)
     “pihak sekolah tidak mengetahui apa yang saya lakukan tanggapanya
      biasa- biasa saja.”(R2)

    “terganggu sekali, sangat terganggu sekali sampai saya beberapa kali
     pindah sekolah gara- gara begitumi di dapat di kasih keluar dan
     hampir di kasih masuk di kantor polisi gara-gara begitu.”(R3)


                                                                         45
    “sangat merusak dan tidak ada jadi sama sekali karena yang
     diutamakan adalah narkoba dulu baru sekolah.”(R4)

    “saya tiga kali pindah kampus.”(5)

 f) Kondisi    lingkungan      pergaulan   dirumah    terhadap   pengaruh

    penyalahgunaan NAPZA

   “saya tidak bergaul yang bukan sama pemakai toh, kalau bukan pemakai
    saya tidak temani bergaul.”(R1)

  “tanggapan lingkungan dengan kondisi saya saat ini Alhamdulillah
    baik- baik saja.”(R2)

   “semua keluarga terimakah apa adanya, biar saya bagaimana semua
    malah terimakah dia bilang saya terimakoh apa adanya.”(R3)

   “terhadap tetangga di jauhi, mulai sudah hilang kepercayaan, teman-
     teman pada udah menjauh, yah hidup tinggal sendiri.”(R4)
    “kalau di lingkungan saya di kucilkan di sana.”(R5)

g) Uang yang di habiskan untuk memenuhi kebutuhan, dan cara

    memperoleh uang tersebut

    “banyak–banyak habis uangku untuk beli itu saja, dan macam-macam
     caranya saya bisa dapatkan dengan cara menjamret,
     mencuri.”(R 1 ,2 ,4),

    “uang yang di habiskan biasa Rp 200 ribu dengan cara mendapatkan
     kadang dengan cara bodoh- bodohi mace di bilang ada begitu saya
     mau pergi begini, saya mencuri di rumah.”(R 3, 5)

h). Efek samping dari pemakaian NAPZA yang di alami dan perilaku yang

   menyimpang berhubugan dengan penyalahgunaan NAPZA

    “efek samping yang saya rasakan, saya mengalami sakau terus perilaku
      yang menyimapang saya sering mencuri dan sering ini e….e…eh….
      berbohong.”(R 1. 2)

    “efek samping saya sakit sampai saya sekarang positif HIV dan sering
     melakukan seks bebas.”(R3)

    “efek samping badan terasa ngilu, dan tidak mau peduli lagi dengan
     keluarga, saya pernah jadi pengedar .”(R4)


                                                                         46
    “saya biasa melakukan seks bebas, biasa pakai kondom dan biasa juga
     tidak.”(R5)

2. Kekambuhan (Relaps)

  a) Dalam diri responden ada keinginan untuk sembuh dengan alasan

    “semua pecandu pasti semua mau berhenti.”(R1)

    “saya sangat ingin sembuh dengan alasan saya Cuma capek
     menghadapi kehidupan seperti ini.”(R2)

    “saya mau berhenti, itumi saya terapi metadon supaya saya bisa
     sembuh saya tidak mau make lagi narkoba.”(R3)

    “awalnya selama ditoksikasi selama 10 sampai 20 kali itu belum ada
     keinginan untuk sembuh, saya mengikuti di toksikasi hanya untuk
     menyenangkan hati orang tua saya saja.”(R4)

    “saya sudah capek dosa malahan karena tiap hari minta uang sama
     orang tua untuk kebutuhan kuliah beli ini beli peralatan
     kuliahlah.”(R5)

b) Responden mengalami relaps dan menjalani rehabilitasi sampai berkali-

   kali

    “saya beberapa kali relaps, pernah dulu di rehab di yakita, fankampus
     di Jakarta dua kali yaitu habis setelah keluar dari rehab ketemu teman
     lagi ya kembali lagi, memakai lagi.”(R1)

    “saya mengalami relaps, dan terus menjalani rehabilitasi eee 1 kali
      di…i….i…. adiyaksa PK2M.”(R2)

    “saya relaps, yah sekitar 3 kali dan saya juga di rehab tapi tidak
     sampai beberapa hari saya masuk rumah sakit hikmah.”(R3)

   “saya relaps itu setiap keluar rehabilitasi pasti relaps sudah pasti
    karena belum ada keinginan saya untuk berhenti, saya masuk rehab
    di BIN selama ya ± 8 kali di klinik waras 12 kali, dolugs 2 kali.”(R4)

  “saya pernah di rehab di BNN 2 kali, terus keluar lagi relaps lagi.”(R5)

c) Alasan responden memilih relaps dan tidak merasa takut untuk relaps

    “sugestilah lihat teman pakai lagi sehingga relaps kembali, takut iya
     karena kalau di rehab lagi, tidak mau bilang apa–apa.”(R1,5)


                                                                             47
 “alasan saya relaps karena faktor lingkungan dan teman–teman, Pada
  saat relaps tidak ada rasa takut apapun yang saya rasakan.”(R2)

 “yah, itu hari waktu ada teman pakai di rumah jadi pas itu teman lagi
  banyak barang jadi saya juga pakai ,saya kembali relaps dan saya
  tidak takut.”(R3)

 “saya relaps karena di dalam hati saya belum ada niat untuk berhenti,
  saya kadang relaps yah karena biasa pengaruh lingkungan, biasa juga
  trigger melihat tempat–tempat yang saya sering gunakan seperti di
 kama mandi, sering melihat pisau cukur itu toh, kadang ingin rasa
 kembali di situ ingin pakai lagi di situ.”(4)

d) Apa sebelumnya responden memahami tentang relaps dan faktor relaps

   yang di ketahui

 “yah, saya tahu relaps waktu rehabilitasi, saya tahu semua yah, itu
  sugesti, sugesti toh karena ketemu lagi teman–teman sama-sama yang
  masih pakai, lihat barang.”(R1,4)

  “saya paham tentang masalah relaps waktu menjalani rehab di adikyasa
   e…e….eh, terus faktor relaps yang saya ketahui hidup saya bisa
  hancur dan terus e….e….eh tidak karu- karuan.”(R2)

 “saya tidak tahu, apa yang saya ketahui saya tidak tahu kalau saya relaps
  lagi, apa penyebabnya saya tidak tahu.”(R3)

 “Responden hanya diam dan mengeleng-geleng”(R5)

e) Kedua orang tua responden tidak mengetahui bahwa responden relaps
   dan responden tidak jujur dengan kondisi relaps yang sekarang di
   alami

   “mace dan pace tidak tahu kalau saya relaps lagi, saya tidak tanya
    karena takut lagi karena pasti di kirim lagi ke rehab.”(R1)

   “orang tua saya tidak mau tahu bahwa saya relaps dan saya juga
    tidak pernah bilang–bilang kondisi saya karena saya tidak ingin
    mereka tahu kalau saya kembali pakai.”(R2,3)

   “yang jelas pertama awal–awalnya itu saya ngak ngaku tapi akhirnya
    saya akan pasti mengaku.”(R4)

   “Responden hanya diam tidak menjawab,dia minta izin untuk
    menyalakan rokok”(R5)



                                                                         48
   f) Yang dapat membantu responden agar tidak relaps dan yang harus di
      lakukan

       “yah, mungkin supaya ndak kembali pakai barangkali harus jauhi,
        bergaul teman–teman yang masih pakai karena kalau masih ketemu
        dengan teman–teman yang pakai pasti pakai kembali.”(R1,3)

       “yang dapat membantu saya untuk tidak relaps menghindari
        e…..e….eh teman–teman lama e……e…..eh terus berusaha untuk
        tidak memikirkan hal– hal yang negatif tentang apa yang saya alami
         dulu–dulinya.”(R2)

       “supaya tidak relaps lagi saya menggunakan terapi metadon, saya
        mencari kegiatan apa pun itu dengan cara membantu bapak di
         kantor pokoknya apa saja untuk menjauhi lingkungan itu.”(R4)

       “untuk sementara dari diri saya sendiri.”(R5)

D. Hasil Penelitian

    1. Awal penyalahgunaan NAPZA

           Membicarakan tentang dunia NAPZA haruslah secara general tidak

      dari satu sudut pandang, baik dari lingkungan, kondisi individu, keluarga

      dan keberadaan barang, peran pemerintah dan sebagainya sesuai dengan

      mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA yaitu berdasarkan faktor

      organobiologi,   psikokodinamika     dan   psikososial   (Hawari,2006).

      Penanaman tentang NAPZA seharusnya ditanamkan sejak dini kepada

      generasi muda.      Ketidaktahuan individu mengenai NAPZA baik

      mengenai dampak yang di timbulkan secara fisik, pengaruh bagi tubuh,

      cara kerja, dampak lingkungan dan hal penyerta lainya, sangat

      mempengaruhi individu untuk memilih menggunakan NAPZA seperti

      yang di kutip dalam hasil wawancara berikut ini

       “ Saya tidak tahu efeknya, awalnya untuk bersenang–senang, tidak

        tahu Efek timbulkan orang kecanduan.”(R1, 2, 3, 5)



                                                                            49
“ saya , saya belum tahu efek apa yang di timbulkan karena pada saat

 itu awal–awalnya ya itu saya belum tahu apa pun tentang narkoba

 termasuk ganja dan efek yang saya dapat pada saat itu menjadi eeeeeh

 daya fikir melambat dan daya tangkapnya kurang, terus keadaan

 berubah deh tidak lucu menjadi lucu dunia menjadi terbalik.”(R4)

    Dari    hasil   wawancara    diatas    dapat   disimpulkan    bahwa

penyalahgunaan NAPZA adalah faktor adanya dorongan keingintahuan

manusia, ingin coba, dan ingin meningkatkan kesenangan. Dan juga di

sebabkan karena kebanyakan dari mereka kurang mengetahui bahaya

dari narkoba tersebut serta tidak memperoleh informasi yang benar

tentang    bahaya   narkoba     sehingga    mereka    cenderung     terus

menggunakanya.

    Alasan memakai NAPZA dapat diambil kesimpulan bahwa mereka

mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap NAPZA. Hal ini menjadi

dorongan yang besar sampai memutuskan untuk memakai NAPZA.

Apalagi tanpa disertai informasi yang berkaitan dengan NAPZA,

khususnya dampak dari pemakaian, rasa ingin tahu tersebut didukung

oleh pengaruh teman sebaya (peer group). Berkaitan dengan pengaruh

teman sebaya Odgen (2000) yang dikutip oleh Eny Purwandari (2007)

mengungkapkan bahwa teman sebaya merupakan faktor sosial yang

menjadikan seorang penyalahguna NAPZA mengalami kekambuhan

(relaps). Kelompok teman sebaya mempunyai potensi yang besar sebagai

lingkungan untuk berubah. Kelompok teman sebaya dapat menjadi media

awal bagi remaja dalam mengenal dan mencoba NAPZA. Terjadi dilema



                                                                       50
dalam diri remaja di satu sisi menyadari bahaya dan daya perusak

NAPZA tetapi di sisi lain membutuhkan penerimaan dan pengakuan

kelompok. Dukungan kelompok dan proses seleksi kelompok sangat

berarti terutama bagi remaja yang sangat tergantung secara emosional

pada kelompoknya sehingga semua aturan yang berlaku dalam kelompok

sangat di patuhi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Eny

Purwandari (2007) yang menunjukan bahwa remaja penyalahguna

NAPZA sebagian besar (70%) mendapatkan NAPZA pertama kali adalah

diberi oleh teman-temanya.

    Lingkungan sangat memegang peranan penting mempengaruhi

perilaku individu, cenderung individu lebih muda menerima lingkungan

yang buruk untuk ditiru dan diterapkan dalam kesehariannya (Lidya

dkk,2005).      Ketika lingkungan sebagian besar sebagai pecandu dan

individu selalu terpapar oleh kondisi semacam itu kemudian ditambah

oleh adanya ajakan dari individu lain dengan iming – iming atau tawaran

yang meyenangkan (Hawari,2006). Dengan pengetahuan yang minim

dari individu dan diimbangi dengan rasa ingin tahu membuat individu

tidak berfikir panjang untuk masuk kedunia NAPZA seperti yang di

alami oleh beberapa responden dalam wawancara berikut ini :

“ pertama kenal jenis ganja ikut – ikut sama teman.”(R3)

“ tujuanya itu e….e….e…..eh hanya sebenarnya pertama ingin rasa

 tahu saja Cuma Pergaulan dan mau tahu apa namaya narkoba, ganja

 itu.”(R2 ,4)

“ pertama coba – coba saja, pergaulan dan jenis putauw.”(R1,5)



                                                                    51
   Dari wawancara di atas , dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak

begitu saja mengalami ketergantungan melainkan bertahap, seseorang

bisa mulai menjadi pemakai dipengaruhi oleh faktor–faktor individu

maupun faktor lingkungan kedua faktor ini berhubungan sangat erat satu

sama lain, yang termasuk faktor induvidu selain untuk iseng dan coba-

coba,   antara   lain   adanya   harapan   untuk   dapat   memperoleh

“kenikmatan”dari efek obat yang ada, atau untuk dapat menghilangkan

rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dirasakan.

    Raharni, Herman (2005) menjelaskan bahwa faktor lingkungan

yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA yaitu

(1) komunikasi keluarga, (2) pergaulan dengan teman sebaya yang

mengunakan NAPZA, (3) penggunaan waktu luang. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini sebagian besar responden

berada dalam keluarga yang komunikasinya buruk (89,9%). Hasil

analisis menunjukkan ada hubungan bermakna antara komunikasi

keluarga dengan penyalahgunaan NAPZA (p<0,05). Nilai OR 5,15

artinya siswa yang komunikasi keluarganya buruk berpeluang 5,15 kali

lebih besar untuk menyalahgunakan NAPZA dibandingkan dengan siswa

yang komunikasi keluarganya baik. Dan pergaulan dengan teman sebaya

yang menggunakan NAPZA sebanyak 49.0% responden mempunyai

teman yang menggunakan NAPZA, sedangkan 58,8% responden tidak

pernah bergaul dengan penyalahguna NAPZA, 22% tiap hari bergaul

dengan pengguna NAPZA.ada hubungan bermakna antara pergaulan

teman sebaya dengan penyalahgunaan NAPZA (p<0,05). Nilai OR 5,55



                                                                    52
artinya siswa yang bergaul dengan teman sebaya pengguna NAPZA

berpeluang 5,55 kali menyalahgunakan NAPZA disbanding siswa yang

tidak pernah bergaul dengan teman sebaya pengguna NAPZA.

Sedangkan penggunaan waktu luang, responden yang menggunakan

waktu luang untuk les sebanyak 33,9%, 21,2% untuk kegiatan

ekstrakurikuler dan 20,5% digunakan untuk nongkrong. Hasil analisis

menunjukkan hubungan bermakna antara penggunaan waktu luang

dengan penyalahgunaan NAPZA (p<0,05). Nilai OR 26,62 artinya siswa

yang menggunakan waktu luang untuk kegiatan nagatif berpeluang 26,62

kali lebih besar untuk menyalahgunakan NAPZA dibanding siswa yang

menggunakan waktu luang untuk kegiatan positif. Kegiatan negatif

menambah resiko penyalahgunaan NAPZA.

    Pemakaian NAPZA         sangat merugikan diri sendiri, keluarga,

lingkungan, proses belajar mengajar, dan masa depan. NAPZA merusak

disiplin dan motifasi yang sangat penting bagi proses belajar mengajar.

Siswa yang manjadi penyalahgunaan NAPZA mempunyai presentasi

lebih besar untuk membolos sekolah dari pada siswa lainya

(Hawari,2006). Kerusuhan atau menciptakan suasana yang tidak aman

juga sering di sebabkan oleh mereka, sikap acuh tak acuh, putus sekolah,

perusakan barang–barang, fasilitas sekolah bahkan menjadi pengedar

untuk siswa lain yang membutuhkan. Seperti halnya seorang pecandu,

hal tersebut pun pernah dilakukan oleh responden yang diterangkan

dalam kutipan wawancara berikut ini :

“Saya di DO (Drop Out) waktu kuliah, uang kuliah habis beli itu”.



                                                                     53
 Pindah kuliah lagi baru pindah lagi.”( R1)

“di sekolah tidak mengetahui apa yang saya lakukan, pulang sekolah

 baru saya makenya tanggapanya biasa–biasa saja.”(R2)

“Sekolah itu terganggu sekali, sangat terganggu sekali sampai saya

 beberapa kali pindah sekolah gara–gara begitumi di dapat di kasih

 keluar dan sampai–sampai hampir di kasih masuk di kantor polisi

gara–gara begitu.”(R 3)

“ Sangat merusak dan merusak tidak ada jadi sama sekali karena yang di

 utamakan adalah narkoba baru sekolah jarang masuk sekolah toh.”(R4)

“sekolah beberapa kali pindah tiga kali karena begitu…. pakai, sering

 mbolos tidak naik kelas,ada juga teman–teman sekolahku pakai.”(R5).

     Dari wawancara di atas, dapat di simpulkan bahwa Tingginya

 Jumlah pengguna NAPZA usia sekolah harus diantisipasi segera dengan

 memasukkan pendidikan narkoba ke dalam kurikulum pendidikan

 Karena pelajar dan mahasiswa merupakan objek yang secara emosional

 masih labil, sehingga sangat rentan untuk menggunakan narkoba. Mulai

 dari rasa ingin tahu, mau coba-coba, ikut-ikutan teman, rasa solidaritas

 group yang kuat dan memilih lingkungan yang salah sampai dengan

 faktor keluarga yang kurang perhatian dan lain-lain. disamping dari

 objek sasarannya yang labil, sekolah dan kampus yang menjadi

 tempat yang rentan untuk peredaran NAPZA.

     Perilaku   menyimpang     lain   yang    juga   khas   terjadi   pada

 penyalahgunaan NAPZA adalah perilaku mencuri dan tindakan anarkis

 dalam memenuhi kebutuhan akan barang NAPZAnya.              tidak urung



                                                                        54
     menyebabkan mereka harus berurusan dengan pihak kepolisian seperti

     yang pernah di alami oleh beberapa responden yang di tuangkan dalam

     wawancara berikut ini :

    “banyak habis uangku beli itu saja , macam–macam caranya saya bisa

    dapat, misalnya jual barang apalah yang bisa menghasilkan, mencuri,

     Menjabret, macam–macam kejahatan.”(R1,2)

    “Kadang dengan cara bodoh–bodoh mace bilang ada begitu saya mau

     Pergi begini, pernah saya mencuri di rumah …. gara–gara narkoba saya

     mencuri di rumah, uang saya habiskan kadang 200 ribu sehari.”(R3,5)

    “Cara mengambil barang–barang milik orang tua, mencuri, menipu

     terhadap keluarga.”(R4)

        Berdasarkan wawancara diatas dapat di simpulkan bahwa pencurian,

    penipuan, perampasan merupakan tindak kriminalitas yang banyak

    dilakukan oleh penyalahguna NAPZA.

2. Kekambuhan (Relaps)

      Semua hal terjadi pastilah ada penyebab atau faktor yang menyebabkan

  hal tersebut terjadi, begitu juga dengan penyalahgunaan NAPZA yang sangat

  rentan dengan kekambuhan (Relaps) tentu saja ada faktor yang menyebabkan

  kekambuhan tersebut terjadi. Berhenti memakai NAPZA bukan masalah

  yang sulit, banyak orang berhenti menggunakan NAPZA untuk beberapa

  lama, akan tetapi hal yang paling sulit untuk dilakukan adalah mencegah

  agar tidak terjadi kekambuhan atau relaps (Lidya dkk,2005)

      Relaps sering dianggap sebagai suatu kegagalan, banyak orang tidak

  belajar bagaimana mengenal sikap dan perilaku adiktif mereka, menghindari



                                                                           55
situasi resiko tinggi, mengenal tanda relaps dan mengambil langkah yang di

perlukan jika hal tersebut terjadi. Persiapan suatu pemulihan haruslah di

awali dari dalam individu itu sendiri melalui penyerahan sepenuhnya proses

penyembuhan dan pasrah atas kehidupanya (Lidya dkk,2005). Namun yang

sering terjadi pada para pecandu mengenai relaps banyak pecandu yang

merasa tidak menyerahkan sepenuhnya pemulihanya seperti dalam

wawancara

“kan saya pernah di rehab di yakita, fankampus dua kali di Jakarta, bukan

 atas keinginan saya tiba–tiba dibawah kesitu.”(R1)

“saya paham tentang masalah relaps waktu menjalani rehab e…e….eh,

 terus faktor relaps yang saya ketahui hidup saya bisa hancur dan

 terus e….e….eh tidak karu- karuan.”(R2)

“awal–awalnya selama saya detoksikasi selama kurang lebih 10–20 kali

 Itu belum ada keinginan untuk sembuh saya mengikuti detoksikasi hanya

 untuk menyenangkan orang tua saya saja, setiap keluar rehab pasti

 relaps sudah pasti karena belum ada keinginan saya untuk berhenti.”

 (R 4, 3)

“saya pernah direhab di BNN dua kali, terus keluar lagi relaps lagi, orang

 tua saya kasih masuk saya”(R5)

   Dari hasil wawancara diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun

mereka telah menjalani rehabilitasi, perilaku maladaptif belum hilang, rasa

ingin memakai NAPZA lagi atau sugesti masih sering muncul sehingga

kekambuhan dapat terulang lagi.




                                                                         56
   Selain penyerahan sepenuhnya pemulihan dan pasrah atas kehidupanya

para     pecandu NAPZA seharusnya memahami mengenai relaps yaitu

munculnya kembali gejala–gejala awal dari kecanduan baik itu secara nyata

dengan memakai barang kembali, kembali kehabitat awal, kembali kebiasaan

lama sebagai seorang pecandu, mempunyai pola fikir seperti pecandu dan

segala yang berhubungan dengan kebiasaan seorang pecandu (Lidya

dkk,2005).

   Seperti halnya penyakit–penyakit pada umumnya kekambuhan pada

NAPZA memilki tanda – tanda, faktor penyebab yang harus dipahami oleh

seorang pecandu pada masa abstinenya untuk menjaga kepulihanya. Banyak

dari pecandu tidak memahami mengenai relaps, faktor penyebabnya, cuek,

terlalu yakin bahwa dirinya tidak mungkin relaps seperti yang dialami para

responden dalam wawancara berikut :

“saya tidak tau sebelumnya tapi , yah saya tau relaps waktu rehabilitasi

saya tau semua yah itu faktor sugesti, temu lagi teman- teman, lihat barang-

barang    itu.”(R1)

“saya paham tentang masalah relaps waktu menjalani rehab, berusaha

 untuk tidak memikirkan hal–hal yang negatif tentang apa yang saya alami

 dulu–dulunya, kan sudah sempat putus zat gitu…. Terus kena lagi itu, to…

dulunya sih itu … kalo pertamanya rehab tidak menghawatirkan untuk

relaps ya kira selesai berobat sudah…itu kan ada tiga to faktornya teman,

barang, sugesti ituji yang saya dapat.”(R2)

“saya tidak tahu, apa yang saya ketahui saya tidak tau kalau saya relaps

 lagi apa penyebabnya saya tidak tau.”(R3)



                                                                           57
   “saya relaps karena didalam hati saya belum niat untuk berhenti.”(R4)

  “saya paham dulu waktu ikut pertemuan antar jangki yang digagaskan oleh

    Pemerintah,yaitu faktor sugesti, teman.”(R5)

a. Faktor teman

        Awal seseorang mengenal NAPZA sebagian besar dari teman

   sepermainan, dikenalkan dengan NAPZA sedikit demi sedikit berawal dari

   barang gratis hingga akhirnya menggunakan berbagai macam cara untuk

   memperoleh barang tersebut.      Dari teman ini pulalah mereka menjadi

   mantan pecandu suplai NAPZA mereka memperloleh untuk pemakaian

   berikutnya. Peranan lingkungan sangat memegang peranan penting baik

   awal pemakaian maupun pemakaian berikutnya dalam konteks relaps seperti

   yang disampaikan responden dalam wawancara berikut ini :

  “ya teman–teman semua pemakai, saya tidak bergaul yang bukan sama

    pemakai toh, kalau bukan pemakai saya tidak temani bergaul.”(R1)

   “kebetulan di lingkungan rumah saya banyak terdapat pecandu,bandar

    narkoba teman–teman ya kebanyakan pemakai, ya jadi ya… sulit kalo di

    bilang pengaruh ya..ngaruh skali kita datang liat teman pake kan pengen

    lagi.”(R 2 ,3)

   “kakak saya yang pertama mengajarkan menggunakan narkoba.”(R4)

   “komunitas disana tempat saya pecandu putauw itu lumayan tapi sudah

    pada lewat meninggal.”(R5)

        Beberapa tanggapan dari teman pemakai yang lain juga sering dihadapi

   para mantan pecandu ketika kembali kelingkunganya semula mereka

  merupakan teman baik yang sering disebutFriendiship kemudian berubah



                                                                              58
menjadi friendheet. Beberapa dari mereka tidak diterima kembali

lingkunganya, merasa diremehkan,meragukan keputusan yang diambil untuk

terlepas NAPZA, tidak mendukung tindakan yang mereka ambil seperti yang

dialami beberapa responden berikut ini:

“ya……….kan mereka merasa gimana ya……..hilang satu anggota gitu

to………Kadang-kadang ada juga teman sirik to…..ya apalagi saya tiga kali

rehab, ya paling besok pake lagi atau dibilang ah sok-sok-an tidak make

gitu,……ya kadang –kadang diejek ya………..eh….hhhh yang namanya anak

muda tidak mau kalah sama yang lainya,trus pake lagi…… ya gitu

terus…..”(R4)

    Tak jarang dari teman-teman tersebut mendukung terhadap keputusan

yang diambil bahkan sebagian ada yang meminta informasi dari rekanya yang

sedang memperoleh pengobatan. Beberapa pendapat juga menyampaikan

bahwa banyak dari komunitas mereka ingin memperoleh kesembuhan namun

tidak mengetahui bagaimana cara untuk mewujudkanya seperti yang di

sampaikan oleh responden berikut ini

“e…… malah dari teman lain itu malah ada yang bertanya kalo gini itu kok

bisa sembuh dari…….. apa itu……..kiat-kiatnya apa? Ya mereka juga

 mensuport aku ya kamu sembuh dulu nanti kasih tau aku ya….(R4)

      Dari pernyataan pro dan kontra dari lingkungan tersebut tetap harus

 diwaspadai bagi mereka yang menjadi mantan pecandu NAPZA bila tidak

 menginginkan kekambuhan. Mereka yang mengkomsumsi NAPZA akan

 mengalami      gangguan   mental    dan   perilaku   yang   mengakibatkan

 terganggunya (neuro-tramsmiter) pada susunan saraf pusat (otak) yang



                                                                       59
menyebabkan gangguan pada proses fikir, perasaan dan perilaku. Sekecil

apapun hal yang ada di lingkungan bisa menjadi pemicu (trigger) bagi para

mantan pecandu yang kembali kelingkunganya seperti yang di jelaskan oleh

responden dalam wawancara berikut ini :

“ kembali keteman – teman kan tidak semua menerima kepulihan kita, ada

 yang nawarin lagi, yah itu hari waktu ada teman pakai di rumah jadi pas

 itu lagi banyak barang jadi saya juga pakai saya kembali lagi

 relaps”.(R3)

“jangan pernah remehkan pecandu deh… kalo belum pernah ngarasain

 Bagaimana enaknya pakai NAPZA, trus tantanganya di lingkungan

 ini”.(R4)

    Berdasarkan wawancara diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

seseorang yang memakai NAPZA, kemudian memutuskan untuk sembuh

dan meninggalkan NAPZA merupakan sebuah tahapan kehidupan, tahapan

kehidupan manusia selalu membawah perubahan salah satunya dipengaruhi

oleh prinsip-prinsip hidup atau nilai-nilai hidup. Kondisi ini merupakan

sebuah kesempatan yang kadang tidak bisa diulang. Apabila motifasi sudah

dimiliki, hal ini akan mudah dikelola dengan mengembalikan pada orientasi

nilai-nilai hidupnya, pengambilan keputusan penyalahguna NAPZA untuk

sembuh merupakan sejarah hidup yang sangat penting dengan segala resiko

yang akan ditanggung, baik dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungan

masyarakat disekitarnya, seperti cemoohan, ketidakpercayaan, cibiran,

menyangsikan atau meragukan, label negatif, dan lain- lainnya.




                                                                       60
b. Faktor Sugesti

       Peranan sugesti (craving) ini diakui beberapa responden adalah hal vital

   penyebab seseorang jatuh lagi ke dunia NAPZA lagi dapat di picu oleh

   orang–orang, tempat, benda, perasaan dan situasi yang selama ini

   berhubungan dengan pengalaman pecandu dalam menggunakan NAPZA.

   Kondisi–kondisi semacam ini kerap dirasakan oleh responden dan masing–

   masing mempunyai faktor pemicu seperti yang diungkapkan dalam

   wawancara berikut ini :

   “sugestilah lagi lihat teman pakai lagi, lihat barang.”(R1)

   “biasa juga trigger melihat tempat–tempat yang saya sering gunakan

    seperti dikamar mandi sering melihat piasu cukur itu toh, jadi kadang ingin

    rasa kembali di situ ingin pakai lagi disitu.”(R4)

   “sugesti, waktu itu namanya saja sugesti rasa takut itu tidak ada.”(R5)

         Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Sugesti

    menyebabkan timbulnya konflik emosi hebat dalam diri seorang mantan

    pecandu karena disatu sisi ada bagian dirinya yang sangat ingin

    menggunakan narkoba, sementara ada bagian lain yang mencegah. Konflik

    tersebut sangat melelahkannya, karena dia harus berperang dengan dirinya

    sendiri bahkan bisa-bisa terbawa di dalam mimpi. Menyebabkan responden

    korban oleh konflik melawan sugesti narkoba. Sebagian besar mantan

    pecandu kalah melawan sugesti dan mereka relapse.

c. Faktor Stres

        Bagi banyak orang, NAPZA adalah cara utama mengatasi stres yang

   menyebabkan kembalinya rasa rindu. HALT (hungry, angry, lonely, tired)



                                                                             61
  atau lapar, marah, kesepian dan capek adalah faktor–faktor yang jika

  menumpuk, dapat menyebabkan kekambuhan. Banyak sekali masalah yang

  harus di hadapi pecandu, masalah tersebut bukan semata–mata bagaimana

  berhenti menggunakan NAPZA yang hanya merupakan langkah awal namun

  berikutnya bagaimana agar tetap bebas dan tidak kambuh atau relaps.

      Pemicu stres itu sendiri bisa berasal dari dalam tubuh manusia itu sendiri

  atau dari lingkungan, seseorang tidak mampu baradaptasi dengan lingkungan

  maka akan menimbulkan stres. Seperti awal penggunaan atau masa menjadi

  pecandu aktif, sebagian dari pecandu menggunakan NAPZA sebagai pelarian

  dari masalah seperti yang di sampaikan oleh beberapa responden dalam

  wawancara berikut :

  “setiap hari stres kalo tidak dikasih itu barang…”(R1)

  “waktu itu … ada masalah sedikit larinya keminum obat itu pakai.”(R3)

  “ya sering stres … apa- apa stres, tapi kalo sudah make itu kan fly, biar

   tidak stres pake kan jadi tenang.”(R4)

      hasil wawancara diatas dapat di simpulkan bahwa pada umumnya

  pengguna NAPZA hanya sebagai pelampiasan kekesalan, banyak diantara

  responden    mempunyai sikap menyukai beberapa jenis NAPZA karena

  mereka beranggapan bahwa dengan memakai NAPZA segala persoalan yang

  sedang mereka hadapi dapat terselesaikan.

E. PEMBAHASAN

  1. Awal Penyalahgunaan NAPZA

          Sangat ironis sekali setelah mengetahui awal para responden

     menggunakan NAPZA pada saat umur belasan tahun bahkan pada



                                                                              62
responden Ke 4, responden menggunakan NAPZA pada saat duduk di

bangku sekolah SMP kelas dua.

   Usia pertama kali memakai NAPZA menunjukkan bahwa usia remaja

merupakan usia rawan penyalahguna NAPZA, Sesuai dengan apa yang

di kemukakan oleh Hurlock (1996) yang dikutip oleh Eny Purwandari

(2007)   masa remaja merupakan masa:(1) periode transisi dari masa

kanak-kanak kemasa dewasa, (2) peroide yang penuh dengan berbagai

perubahan, (3) usia yang mengalami banyak masalah, (4) pencarian jati

diri, (5) pengembangan sikap realistik, dan (6) penuh harapan dan idealis.

    Berdasarkan teori yang ada penyalahgunaan NAPZA tidak terjadi

begitu saja namun terdapat mekanisme terjadinya salah satunya

psikodinamika NAPZA yang di dalamnya terdapat faktor predisposisi,

kontribusi dan pencetus (Hawari,2006). Faktor predisposisi yang ada

pada responden yaitu tidak mempunyai          responden berfungsi secara

wajar di lingkungan, pergaulan sosialya yang sebagian besar berusia di

atas usia responden pada saat itu.

    Kepribadian responden yang belum matang untuk menilai yang baik

dan yang buruk serta pantas dan tidak pantas bagi diri mereka,

menyebabkan mereka terlibat NAPZA (Depkes,2001). Namun dari sisi

keluarga, anggota keluarga lain bersifat acuh terhadap tumbuh kembang

anak, pergaulan serta kebiasaan anak tersebut disamping para responden

atau penyalahgunaan NAPZA cenderung bersifat manipulatif yang tinggi

membuat semua itu seakan wajar–wajar saja. Dari ke 5 responden dapat

menyembunyikan       kondisinya      selama   bertahun–tahun   sedangkan



                                                                       63
responden ke 2 dan ke 4 mampu menyembunyikan kondisinya selama 4

tahun. Sedangkan faktor pencetus adalah hal lain yang paling

menentukan yaitu adanya barang tersebut serta pengaruh kelompok

pengguna NAPZA yang aktif di lingkungan para responden. Iming –

iming yang mengiurkan di tambah pengetahuan responden yang kurang

tentang NAPZA serta pengaruh dari orang sekitar responden membuat

responden tidak berfikir panjang untuk memutuskan menggunakan

NAPZA. Para responden kebanyakan menikmati kondisi pemakaian dari

hanya sekadar ingin tahu, mencari kesenangan dibalik pemakaian,

sampai pada akhirnya mereka tidak bisa lepas dari lingkaran NAPZA

(Hadiman,1996).    Merasa NAPZA merupakan bagian dari kebutuhan

utama, NAPZA mulai mengatur kehidupan para responden dan

responden baru menyadarinya. Namun responden tidak mampu berbuat

apa–apa kecuali menuruti semua keinginan akan NAPZA dengan

menghalalkan berbagai macam cara. Membohongi orang tua, mencuri,

bahkan menjual barang milik orang tuapun dijalani responden. Semua

hal membuahkan akibat begitu juga penyalahgunaan NAPZA. Putus

sekolah merupakan hal yang paling sering terjadi, menurunya tingkat

kecerdasan responden dalam hal menerima pelajaran sangat mencolok,

menurunya kemampuan responden menilai perbuatan yang baik dan

salah tidak urung membuat mereka melakukan perbuatan tidak terpuji,

seperti berkelahi, melawan orang tua, mencuri, serta tindakan asusila

(berzina/seks bebas) diakui responden ke 2 dan ke 4 bahwa mereka

adalah pernah di penjara di sebabkan kerena masalah tersebut.



                                                                  64
   Berdasarkan hasil penelitian Besral, utomo, Zani (2004) bahwa

Penularan HIV dari pengguna NAPZA suntik kemasyarakat umum dapat

terjadi jika pengguna NAPZA suntik melakukan hubungan seksual tanpa

menggunakan kondom. Penggunaan kondom dalam berhubungan seks

sangat rendah, hampir semua hubungan seks dengan semua jenis

pasangan tersebut dilakukan tanpa menggunakan kondom, bahwa potensi

penyebaran HIV dari pengguna NAPZA suntik ke masyarakat umum

sangat besar. Dari 27,300 pengguna NAPZA suntik di DKI (tahun 2000)

akan 1.062-3.368 kasus baru HIV pertahun, atau aka ada 389–1.245

kasus baru HIV pertahun per 10.000 penguna NAPZA suntik, untuk

meminimalkan potensi penyebaran HIV dari pengguna NAPZA suntik

kemasyarakat umum perlu dilaksanakan beberapa strategi, antara lain:

penggunaan alat suntik yang steril, detoksifikasi dan mencari pengganti

suntikan, komunikasi informasi dan edukasi mengenai dampak buruk

NAPZA dan HIV AIDS, mengurangi peredaran NAPZA, kampanye

pemakaian kondom dengan cara meningkatkan akses pengguna NAPZA

terhadap kondom, dan peningkatan peran aktif masyarakat dalam

pemberantasan NAPZA serta menerima bekas pengguna NAPZA yang

telah sembuh tanpa diskriminasi.

    Setelah mengetahui kondisi masing–masing responden keluarga

menunjukkan sikap bermacam–macam, kebanyakan bersikap marah,

bahkan adu fisik dengan responden tetapi ada juga yang menyanyangi

responden. Reaksi marah dari keluarga responden tidak langsung

membuat responden jera, namun semakin menjadi–jadi. Merasa tidak



                                                                    65
terima ada tempat perlindungan, bimbingan, stres dan tidak ada jalan lain

yang di pilih untuk meredakan semua itu selain NAPZA sehingga

semakin bertambah parah.

    Hal yang perlu di tekankan keluarga adalah pengertian,lebih baik

keluarga tidak menuntuk hal yang berlebihan dari pecandu karena yang

mengetahui kondisi sulit menjadi pecandu adalah mereka sendiri, tetapi

keluarga yang harus bertindak ekstra bagi mereka sebagai tempat

berlindung dan berbagi penderitaan untuk berfikir mencari jalan keluar

atas kejadian yang ada. Mereka tidak mampu berfikir wajar untuk

masalah mereka, Seperti semua responden keinginan untuk mendapatkan

kondisi awal tanpa NAPZA selalu ada dalam pikiran mereka, namun

tidak ada cara sedikitpun yang mereka ketahui untuk mewujudkan

keinginan itu.

    Disinggung mengenai tanggapan masyarakat dan lingkungan

disekitar responden, tidak dipungkiri lagi cap sebagai penjahat sering

diterima responden dan keluarga. Menurut pada responden cibiran keras

sering kali mereka terima baik secara langsung atau tidak langsung.

Bahkan sebagian dari masyarakat melarang anggota keluarganya bergaul

dengan responden, alhasil responden hanya memiliki teman sesama

pemakai. Tetapi kondisi tersebut tidak langsung membuat responden

merasa stres, mereka lebih bersikap “cuek” dengan lingkungan. Tentu

saja masyarakat tidak hanya bersikap seperti itu saja, ada juga yang

bersikap biasa bahkan membantu responden mencari pengobatan. Sangat

di sayangkan sekali bila cara pandang masyarakat menilai para pecandu



                                                                      66
sebagai orang jahat, aib dan yang harus dijauhi masih tertanam di

masyarakat. Kita harus memahami bahwa para penyalahgunaan NAPZA

bukanlah orang jahat yang harus di jauhi dan dimusuhi melainkan korban

harus dirangkul dan dicarikan jalan keluar bersama.

    Semua lapisan masyarakat harus berfikir bahwa hikmah dari

kejadian ini memberi gambaran kepada kita semua bahwa adat,

pergaulan, perkembangan jaman, serta cara berfikir masyarakat telah

mengalami perubahan kearah yang menyimpang. Kondisi ini tidaklah

bijak kalau hanya menjadi beban bagi para penyalahgunaan NAPZA dan

keluarga masing–masing tetapi PR dan tugas berat semua lapisan

masyarakat untuk memulihkan kondisi seperti semula atau menjadi lebih

baik. “Bukan petuah dan nasehat yang aku butuhkan ,tetapi ajari aku

bagaimana menjalani hidup selanjutnya”. Itulah kurang lebih kata–kata

yang peneliti baca di sebuah ruangan reducsion pengguna NAPZA dan

dibenarkan oleh semua responden. Sangat banyak sekali nasehat yang

responden peroleh, semua orang memberikan nasehat baik, namun

berapa orang yang mengajari mereka untuk menjalani hidup selanjutnya

dan membantu mereka untuk hidup di masa yang akan datang.

    Semua itu responden peroleh direhabilitasi bagaimana cara

mempertahankan pemulihan, apa yang harus disiapkan setelah kembali

ke lingkungan, apa saja yang harus diperhatikan agar tidak mengalami

kekambuhan (relaps). Beberapa dari responden sudah mulai berfikir

kedepan, mulai mempersiapkan kehidupanya dan masa depanya, seperti

yang di utarakan responden ke 4 bahwa menggunakan terapi metadon



                                                                   67
      dan mencari kegiatan apapun itu dengan cara membantu orang tua di

      kantor pokoknya apa saja yang menjauhi lingkungan itu agar tidak relaps

      kembali.

          Dalam sebuah pemulihan haruslah berawal dari penyerahan diri

      sepenuhnya dan sikap pasrah dari NAPZA (Lidya,2005). Responden

      mengharapkan semua hal tentang pemulihannya haruslah sepengetahuan

      mereka. Mereka ingin diperansertakan dalam menentukan apapun dalam

      hidup mereka termasuk kesiapan untuk melaksanakan rehabilitasi. Bisa

      kita perhatikan pada responden ke 1 responden pernah mengalami hal

      yang tidak ingin dialami pada rehab pertama, responden di bawah ke

      rehabilitasi dengan basis agama tanpa perundingan dengan responden

      terlebih dahulu. Perasaan menyesal dan tidak terima diperlakukan tidak

      adil atas hidupnya pun muncul. Alhasil respoden tidak mampu menjalani

      program dengan baik, baik dikarenakan sistem pengobatan yang tidak

      responden sukai, maupun belum ada kemauan untuk lepas sehingga ada

      keinginan untuk pemakaian ulang (kambuh). Mereka berpendapat

      memiliki hak atas hidup mereka karena yang menjalankan dan

      merasakan kehidupan adalah mereka. Para responden menyadari

      perbuatan mereka tidak dapat dibenarkan dimata apapun, tetapi mereka

      menegaskan” jangan pernah meremehkan pecandu kalau kau tidak

      pernah merasakan hidup sebagai pecandu”.

2. Kekambuhan (relaps)

       Berhenti menggunakan NAPZA bukanlah suatu perkara yang sulit,

   tetapi tantangan terbesar bagi seorang pecandu adalah menjaga kondisi



                                                                          68
pemulihanya agar tidak kambuh (lidya,2005). Seperti yang dijelaskan pada

teori bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan penyakit kronis sekaligus

akut yang menyebabkan gangguan mental dan perilaku, dimana pusat

pengendalian diri mengalami ganggguan sehingga mudah terjerumus untuk

kesekian kalinya (Hawari,2006)

    Sebagian besar responden tidak memahami sebelumnya kalau

pemulihan mereka dapat menyebabkan kekambuhan yang kemungkinan

memperparah     kondisi    mereka.    Pengalaman      pada    responden    3

mengungkapkan pada saat awal mengalami kekambuhan, responden tidak

mengkwatirkan tentang hal itu sedikitpun. Lain halnya responden ke 1,

responden tidak mampu terlepas dari NAPZA sedikitpun, bahkan keluarga

dari responden bersikap co-addict (membantu) responden untuk memperoleh

barang tersebut karena merasa khawatir dengan kondisi responden.

Penyesalan muncul ketika semuanya terlanjur dan tidak sesuai dengan

pengharapan sebelumnya, namun ada keinginan dan pengharapan dibalik

semua kejadian untuk kembali berfungsi secara normal tanpa NAPZA.

Namun sayangnya tidak semudah “membalikkan telapak tangan” perlu

kesiapan dan pengorbanan seluruh jiwa raga bahkan itu pun ternyata tidak

cukup ketika cara berfikir belum pulih dan kepercayaan terhadap kebesaran

tuhan yang maha esa menjadi pegangan.           Hal tersebut dialami oleh

responden ke 2 ketika responden menjalankan pemulihanya untuk kesekian

kalinya namun tetap hasilnya nihil. Pikiran dan keinginan sangat besar sekali

untuk sembuh tetapi tubuh tidak dapat lagi mentoleransi jika tanpa dengan

NAPZA.



                                                                          69
       Disinggung mengenai faktor penyebab kekambuhan hampir semua

mengarah kepada tiga faktor (teman,sugesti,stress) disamping faktor lain

seperti kesiapan diri dari individu itu sendiri. Setelah di telesuri ternyata

mereka telah mendapatkan pada waktu di rehab mengenai kekambuhan tetapi

mereka mempunyai penjelasan masing – masing atas faktor tersebut,

sehingga bagi peneliti hasil yang di peroleh tidak merupakan manipulasi

atau     bukan   data    yang    sebenarnya     terjadi.   Para   responden

berpendapat,”Semua itu tergantung orangnya masing–masing”, kalau masih

mempunyai keinginan atau rasa rindu akan barang tersebut, walaupun tidak

ada trigger (penyebab) lain kekambuhan mudah terjadi. Namun seberapapun

trigger berkembang ajakan teman dan kesempatan, tetapi kalau hati sudah

matang dan kerinduan untuk memakai (craving/sugesti) tidak berkembang

dengan mudah semuanya dapat dihalau. Tetapi faktor tesebut bukan lagi

menjadi faktor bagi responden ke 3 melihat kondisinya yang memprihatinkan

bahkan telah mengganggu kejiwaanya akibat penyakit HIV.                Tetapi

responden ke 4 berusaha berbesar hati menerima apapun yang akan terjadi

pada dirinya, menyadari sepenuhnya akan kondisinya.        Responden ke 3

mengalami relaps dengan tidak sengaja, pada saat itu responden lebih

bersikap over look ( cuek) dan merasa tidak dalam kondisi berbahaya.

       Menurut teori pada landasan teori, ketidak jujuran atau sikap

menyangkal dengan kondisinya berpengaruh terhadap            kekambuhanya

(Lidya dkk,2005). Dirumahan metadon Puskesmas Kassi Kassi para

responden dianjurkan untuk selalu menjaga honesty (kejujuran), mereka

berpendapat kekambuhan tidak hanya dengan pemakaian NAPZA kembali,



                                                                          70
namun ketidakjujuran telah termasuk kedalam kategori kambuh (relaps).

Hal lain seperti mengenang pada saat menggunakan NAPZA, merasa sudah

terbebas dari NAPZA secara sempurna, kasihan terhadap diri sendiri (self

pity) merupakan contoh sikap yang adiktif. Para responden mengatakan sulit

untuk menjelaskan kekambuhan secara teliti, tetapi mereka memahami

konsep kekambuhan untuk bekal mereka selanjutnya.

    Satu persatu para responden menyampaikan keinginanya untuk

menimalisir kemungkinan kekambuhan. Ada pengharapan yang besar bagi

mereka diluar sana untuk mampu menjadi bagian dari masyarakat secara

normal tanpa NAPZA. Namun pengharapan tersebut tidak begitu mudah

mereka peroleh, katakutan yang terbesar dalam diri mereka akan

kekambuhan    dan   kemampuan      beradaptasi   dengan   lingkungan   dan

penerimaan masyarakat disekitar mereka masih menjadi beban berat bagi

mereka.

    Sebagian dari responden merasa tidak siap untuk menghadapi dunia luar.

Mereka berpendapat belum cukup kekuatan, kemampuan dan strategi yang

mereka miliki. Tidak ada hal yang lebih penting dan kurang penting namun

semua yang berhubungan dengan kehidupan mereka baik fisik, mental

spiritual harus mereka kuatkan terlebih dahulu sebelum mereka memilih

untuk siap hidup dilingkungan bebas.

    Mengisolasi diri dari teman–teman pemakai, menghindari tempat–

tempat yang pernah di pakai sebagai tempat menggunakan NAPZA dan

menjauhi barang yang berhubungan dengan pemakaian NAPZA di percaya

responden sangat membantu. Berdasarkan pengalaman dari beberapa



                                                                       71
responden, teman sesama pemakai bersikap pro kontra dengan kondisi klien

(bersih dari NAPZA) dari para responden. Sebagian dari mereka

merendahkan keputusan yang diambil responden untuk klien, mereka

menyebut para responden tidak setia kawan, munafik, banci dan tidak gaul.

tidak sedikit dari mereka menghasut para responden untuk memakai kembali

dan sinilah salah satu ujian datang dan responden harus memilih antara

memakai kembali atau tetap mengatakan “tidak” terhadap NAPZA. Sebagai

seseorang yang pernah merasakan nikmatnya menggunakan NAPZA

sakitnya kecanduan dan proses pemulihan yang berat tidak menjadi

bayangan penghalang bagi mereka untuk menggunakan NAPZA. Menurut

responden 2 sangat sulit mengungkapkan seberapa nikmat menggunakan

NAPZA walaupun sakitnya seribu kali lipat kenikmatan sesaat tersebut.

responden menegaskan, jangan pernah menganggap remeh para pecandu

NAPZA karena tidak ada yang memahami kondisi kecanduan yang pernah

mereka alami selain para pecandu itu sendiri.

     Mereka berharap ada tindak lanjut dari pemerintah untuk lebih serius

menangani masalah NAPZA karena dapat menghancurkan potensi dan masa

depan   bangsa.   Dengan     memiliki   pengalaman   mereka   pada   awal

menggunakan NAPZA, penyuluhan secara dini dan gencar tentang NAPZA

merupakan langkah yang tepat disamping supply resuction       yaitu upaya

untuk mengurangi sebanyak mungkin pengadaan barang dengan cara security

approach atau pendekatan keamanan dan demand reduction upaya

mengurangi permintaan barang dengan pendekatan welfare approach yaitu

pendekatan kesejahteraan salah satunya rehabilitasi bagi penyalahguna



                                                                      72
  (hawari,2006).   Berbicara   mengenai   rehabilitasi,   berdasarkan   pada

  pengalaman dari beberapa responden, Sangat disayangkan sekali adanya

  rehabilitasi yang menggunakan tindakan kekerasan dan sistem militer dalam

  proses penyembuhan (pengalaman responden 4). Disinggung mengenai

  rehabilitasi yang ideal, para responden memiliki kriteria masing–masing

  yang pada intinya bertujuan untuk membantu para pengguna untuk

  mempersiapkan diri di lingkungan masyarakat dengan status yang berbeda

  dan kemungkinan kekambuhan yang lebih besar.

F. HAMBATAN PENELITIAN

  1. Jalannya Wawancara atau Penelitian

         Tidak adanya masa pendekatan dan pengenalan secara mendalam

     kepada masing–masing responden menyebabkan jalanya wawancara

     dibeberapa responden terlihat kaku. Kondisi ini peneliti imbangi dengan

     pembicaraan yang santai untuk membangun trust terlebih dahulu pada

     responden 1 dan 3. Semua responden telah mendapat pengetahuan secara

     mendalam mengenai NAPZA, sehingga hasil dari wawancara sebagian

     besar sama jawabanya antara responden yang satu dengan yang lainnya.

     untuk mensiasati hal itu dan memperoleh hasil yang sebenarnya pada

     saat kekambuhan yang terjadi, peneliti lebih menekankan antara ilmu

     yang diperoleh sekarang dengan kondisi sebelumnya apakah ada

     hubungan atau ada faktor lain yang responden temukan. Kondisi ini

     berpengaruh dengan situasi jalanya penelitian yang cepat mengalami

     kejenuhan bila hanya membahas satu topik (kekambuhan NAPZA), jadi

     peneliti imbangi dengan membahas diluar pembicaraan.



                                                                         73
2. Hasil Wawancara dan Data Penelitian

       Sesuai dengan jenis penelitian yang di pakai yaitu penelitian

   kualitatif dimana yang berperan penting dalam penelitian ini adalah

   peneliti sendiri sebagai instrument penelitian. Selaku peneliti pemula,

   banyak hambatan yang dialami peneliti selama penelitian, kesiapan

   peneliti untuk memahami jenis penelitian kualitatif terlebih dahulu

   sangatlah penting untuk kelancaran jalannya penelitian. Dalam hal ini

   peneliti masih di bayangi oleh model penelitian kuantitatif, semua data

   yang di peroleh peneliti dirasa masih kurang terbatas oleh kemampuan

   peneliti dalam melakukan wawancara mendalam. Peneliti hanya

   berpatokan pada data yang di peroleh selama wawancara dan beberapa

   keterangan dari konselor masing–masing.




                                                                       74
                                      BAB VI

                                   PENUTUP
A. Kesimpulan

       Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat peneliti

   simpulkan hasil dari penelitian yang bertema “Analisis Faktor yang

   Mempengaruhi     Kekambuhan        (relaps)   pada   Pengguna    NAPZA      yang

   Mendapatkan Layanan       Pasca Konseling di Puskesmas Kassi         Kassi Kota

   Makassar adalah sebagai berikut:

   1. Adapun alasan awal responden menggunakan NAPZA berawal dari coba-

     coba, rasa ingin tahu dan merasa tidak mau diremehkan.

   2. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan (relapse) pada

     resident NAPZA di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar terdapat tiga

     faktor utama yaitu :

       a. Faktor teman, kembalinya responden kekomunitas lama diakui semua

          responden sangat mempengaruhi mereka untuk relapse.

       b. Faktor sugesti atau craving diakui semua responden merupakan factor

          yang paling utama yang mempengaruhi responden untuk relapse.

       c. Faktor stress, faktor ini mempengaruhi namun tidak begitu mencolok

          karena sama dengan kondisi awal penggunaan NAPZA.

   3. Adapun faktor yang paling berpengaruh dari faktor-faktor tersebut yaitu faktor

     orang dalam hal ini individu pemakai itu sendiri yaitu sugesti dari dalam diri

     responden masing-masing.
B. Saran

  1. Bagi para peneliti berikutnya, lebih memahami kondisi responden lebih

     mendalam, banyak hal yang dapat dikembangkan untuk diteliti kembali dalam

     hal menganalisa faktor-faktor kekambuhan secara mendalam dan spesifik.

     dapat menggambarkan faktor-faktor tersebut mempengaruhi kehidupan

     responden atau proses kerjanya faktor tersebut dalam diri responden.

   2. Bagi dinas terkait dalam memberikan rehabilitasi, tidak hanya mengantarkan

      para mantan pecandu pada tahap kesembuhan tetapi mempersiapkan individu

      tersebut   untuk    dapat   survive,   membantu    dalam     mempersiapkan

      pemulihannya dilingkungan dan masa depan yang baik.

  3. Bagi masyarakat luas, dapat menerima keberadaan mereka dengan sebaik-

     baiknya, ikut berperan dalam memberikan perhatian, tetap memberikan hak

     dan kewajiban yang sewajarnya kepada para mantan pecandu dan memberi

     kesempatan kepada para mantan pecandu untuk bersosialisasi dengan

     lingkungan sosial.

  4. Bagi pemerintah dapat lebih jeli menilai kebutuhan para mantan pecandu,

     memperhatikan kebutuhan generasi muda akan pengetahuan tentang NAPZA

     dan memperlakukan para mantan pecandu layaknya manusia biasa yang

     menjadi korban atas NAPZA bukan sebagai penjahat yang tidak berhati

     nurani.




                                                                              76
                         DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S, 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan praktik
           ed.IV. RinekaCipta: Jakarta

Beek, Aart M.V. 1994. Menolong Penderita Alkoholisme dan Ketergantungan
          NAPZA, Pelkesi : Jakarta

BNN (2003). Bahan Pendidikan Pencegahan dan Kampanye Penyadaran akan
         penyalahgunaan Narkoba bagi Remaja. Jakarta:BNN

Besral, Utomo, Zani. 2004. Potensi Penyebaran HIV Dari Pengguna NAPZA Suntik
          ke Masyarakat Umum. Departemen Biostatistika dan Kependudukan,
          fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Indonesia.
         wwwJournal.UI.ac.id/upload/artikel/04,diakses pada tanggal 8 februari 2010

Depkes.2000. Informasi Penanggulangan Narkoba Secara Terpadu: Pedoman bagi
.       keluarga, Jakarta:Depkes

Depkes.2001. Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA di Kalangan Remaja: Jakarta
        Depkes

Hadiman. 1996. Menghindari Obat-obat Terlarang, BP Yayasan al. Wasyilah:
       Jakarta

Hawari, D. 2000. Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditif. Fakultas Kedokteran
        Umum Universitas Indonesi : Jakarta.

Hawari, D. 2006. Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA edisi ke:2. Fakultas
        Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta

Mandari. 1996. Wahai Kaum Muda Jangan Berpacu dengan Extasy,
        Penanggulangan Bahaya Narkotika & Psikotropika, Ed. Lux. Pramuka
        Suka Bhayangkara : Jakarta

Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press :
       Surabaya

Martono, Lidya dkk. 2005. 16 Modul Latihan Pemulihan Pecandu Narkoba Berbasis
        Masyarakat. Balai Pustaka: Jakarta

Moleong,L.J. 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. PT. Remaja
        Rosdakarya : Bandung.
Purwanta. 2007. Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Kekambuhan
          Skizofrenia RSUP DR. Sardjit. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran
          Universitas Gajah Mada.

Purwanti, Asih. 2004. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Depresi pada
          Remaja Penyalahguna NAPZA di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan.
          Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Purwanto, Chandra. 2002. Mengenal dan Mencegah Bahaya Narkotika, Bandung,PT.
          Pionir Jaya

Purwandari. 2007. Orientasi Nilai-Nilai Hidup: Proses Pengambilan Keputusan
        Berhenti Mengkomsumsi NAPZA. Fakultas Psikologi, Universitas
        Muhammadiyah Surakarta. www./ pmm.Ums.ac.id/ humaniora/vol 8
        no2, diakses pada tanggal 8 Februari 2010

Raharni, Herman. 2005. Faktro-Faktor yang Berhubungan dengan Penyalahgunaan
         NAPZA (Narkotika,Psikotropika, & Zat Adiktif) di Kalangan Siswa SMU.
         Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan
         Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.Jakarta.
         www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12.149, diakses pada tanggal 8 februari 2010

Sugiyono. 1999. Statistika untuk Penelitian. CV Alfabeta , Bandung.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian kualitatif. CV Alfabeta, Bandung

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. CV Alfabeta, Bandung

S.M.Lumbantobing. 2007. Serba-Serbi Narkotika, Fakultas Kedokteran Universitas
         Indonesia: Jakarta.
LAMPIRAN I



               SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI
                    RESPONDEN PADA PENELITIAN




 ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN
      (RELAPS) PADA PENGGUNA NAPZA YANG
       MENDAPATKAN LAYANAN PASCA KONSELING
    DI PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR




     Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk
berpartisipasi sebagai responden pada penelitian Tentang Analisis Faktor Yang
Mempengaruhi Kekambuhan (Relaps) Pada Pengguna Napza Yang
Mendapatkan Layanan Pasca Konseling Di Puskesmas Kassi Kassi Kota
Makassar. Yang dilakukan oleh Kartia.S. mahasiswa Ners B program Studi SI
Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin Makassar Angkatan 2008.
    Tanda tangan saya ini menunjukkan bahwa saya telah di beri informasi dan
memutuskan untuk berpartsipasi dalam penelitian ini.




                                                   Makassar,        2009




                                                  _____________________
LAMPIRAN 2


A . Penyalahgunaan NAPZA

   1. Pada usia berapa anda mengenal NAPZA, Pertama mengenal jenis apa dan tujuan anda

     menggunakan NAPZA tersebut apa?

  2. Sebelum anda terjerumus kedalam dunia NAPZA apakah anda mengenal NAPZA

     tersebut baik dari jenis, efek yang ditimbulkan ataupun ketagihannya?

  3. Bagaimana tanggapan keluarga anda setelah mengetahui kondisi anda, selang berapa

     lama orang tua mengetahui permasalahan anda, pernah mendapat reaksi keras dari orang

     tua, kalau ya bagaimana tanggapan anda tentang hal itu, keluarga ada yang mempunyai

     riwayat yang sama dengan anda?

  4. bagaimana pengaruh penyalahgunaan NAPZA anda dengan study anda, pihak sekolah

     mengetahui masalah anda, bagaimana tanggapannya dan bagaiman lingkungan sekolah

     anda?

  5. Bagaimana dengan kondisi lingkungan pergaulan anda di rumah, apakah berpengaruh

     dengan penyalahgunaan NAPZA anda?

  6. Berapa anda menghabiskan uang untuk memenuhi kebutuhan anda, bagaimana cara

     anda memperoleh uang tersebut?

  7. Efek samping dari pemakaian NAPZA yang pernah anda alami seperti apa, perilaku

     menyimpang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA apa yang pernah anda

     lakukan?

  8. Bagaimana tanggapan atau penerimaan lingkungan dengan kondisi anda saat ini?
B. Kekambuhan (relaps)

   1. Sebelumnya apakah ada keinginan untuk sembuh dalam diri anda?dengan alasan apa?

   2. Anda pernah mengalami relapse? Anda pernah menjalani rehabilitasi sebelum disini?

      kalau pernah dimana? Berapa kali? Mengapa sampai berkali-kali?

   3. Apa sebabnya anda memilih relaps? Atau atas alasan apa anda memilih relapse atau

      faktor relapse anda apa? Tidak ada rasa takut untuk relapse saat itu?

   4. Sebelumnya apakah anda memahami tentang relapse? Kalau paham factor relapse apa

      saja yang anda ketahui?

   5. Apakah orang tua mengetahui saat anda relapse?atau apakah anda jujur dengan kondisi

      relapse anda? Kalau tidak mengapa demikian?

   6. Menurut anda apakah kira-kira yang dapat membantu anda agar tidak relapse? Apa

      yang harus anda lakukan?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:0
posted:4/7/2013
language:Unknown
pages:93