Docstoc

Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU NO. 40 Tahun 2007

Document Sample
Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU NO. 40 Tahun 2007 Powered By Docstoc
					             ASPEK HUKUM PENDIRIAN PERSEROAN
           TERBATAS MENURUT UU NO. 40 TAHUN 2007
                                                       SKPRISI


                                    Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi
                          Syarat – Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
                             Pada Fakultas Hukum di Universitas Sumatera Utara



                                                       OLEH :


                               RIVAI HALOMOAN SIMANJUNTAK
                                       NIM : 040200214
                               DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI




                                FAKULTAS HUKUM
                           UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
                                     MEDAN
                                       2008




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                               KATA PENGANTAR

                   Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala

          kasih dan penyertaan – Nya sehingga dimampukan untuk menyelesaikan skripsi

          ini tepat pada waktunya. Semua oleh karena kasih – Nya sehingga selama proses

          penulisan skripsi ini diijinkan – Nya berjalan sebagaimana adanya, yang ditujukan

          untuk memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa dalam meraih gelar Sarjana

          Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

                   Adapun judul yang bahas dalam skripsi ini adalah Aspek Hukum

          Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007. Cara dan tahapan

          pembahasan yang dilakukan selama proses perampungan skripsi ini, mulai dari

          pemahaman dan pencarian bahan pustaka mengenai yuridis normatif tentang

          Prosedur Pendirian PT.

                   Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini nasih sangat jauh dari

          sempurna, oleh karena itu diharapkan saran dan kritikan yang membangun

          sehingga penulisan kedepan dapat lebih baik lagi.

                   Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar –

          besarnya kepada :

          1. Tuhan        Yesus      Kristus     yang      selalu    menyertaiku,        menolongku         dan

               memberikanku kekuatan dalam hidupku.

          2. Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Chairuddin Lubis, Sp.A

          3. Dekan Fakultas Hukum USU, Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH. MH

          4. Ketua Departemen Hukum Ekonomi, Prof. Dr. Bismar Nasution, SH. MH,

               yang juga dosen pembimbing I saya, yang telah bersedia memberikan




                                                             i
Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
               waktunya menjadi dosen pembimbing skripsi ini, sehingga skripsi ini boleh

               selesai tepat pada waktunya.

          5. Dr. Sunarmi, SH. MH ( pembimbing II ) yang sudah menyediakan waktu dan

               membagikan pengetahuannya berkenaan dengan judul skripsi yang dibahas,

               dan cara penulisan skripsi, yang selalu sabar membimbing dengan

               memberikan masukan sehingga penulisan skripsi ini juga boleh selesai tepat

               pada waktunya dan diijinkan untuk mengikuti ujian skripsi.

          6. Kedua orang tuaku tercinta yang terus memberikan semangat dan doa

               sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini. Buat mama terimakasih atas

               doanya dan kesabaran dalam mendidik. Dan untuk bapak, skripsi ini menjadi

               bukti kepada bapak bahwa saya dapat menyelesaikan studi hukum ini yang

               tidak bapak dukung ketika pertama kali lulus di Fakultas Hukum USU.

          7. Buat abang dan kakakku yang terkasih, B’Ricardo & K’Ribka, B’Nelson &

               K’Gina, Benny, K’Rista yang telah memberikan semangat dan doanya dalam

               menyelesaikan skripsi ini.

          8. Buat adikku, Artha, Basaria, Delima, Sahat, Sartika, dan Dame, tetap rajin

               belajar ya dek biar bisa seperti abang bahkan lebih lagi. Jangan lupa selalu

               menuruti nasehat orangtua dan membantu orangtua karena orangtua itu adalah

               Tuhan yang kelihatan.

          9. Buat kekasihku, Lidya Wati Situmorang, makasih ya sayang atas dorongan

               semangat, motivasi dan doanya sehingga aku dapat menyelesaikan skripsi ini.

               Walaupun agak cerewet tapi tanpa itu semua aku tidak termotivasi untuk

               mengerjakannya.




                                                            ii
Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
          10. Buat teman – teman di Hukum Ekonomi, Lukyta, Happy, Andre,

               Panataran, Melva, Dhini, Vera, dan masih banyak lagi yang tidak bisa

               disebutkan satu persatu. Makasih ya atas semuanya.

          11. Seluruh pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini




                                                                                Hormat Penulis,



                                                                           Rivai Halomoan Simanjuntak




                                                            iii
Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                          DAFTAR ISI



          KATA PENGANTAR................................................................................... i

          DAFTAR ISI.................................................................................................. iv

          ABSTRAKSI

          BAB I PENDAHULUAN

                    A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1

                    B. Perumusan Masalah..................................................................... 9

                    C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan.................................................... 10

                    D. Keaslian Penulisan........................................................................ 11

                    E. Tinjauan Kepustakaan................................................................... 12

                    F. Metode Penulisan.......................................................................... 15

                    G. Sistematika Penulisan.................................................................... 15



          BAB II PENDIRIAN PT MENURUT UU NO. 1 TAHUN 1995 DAN
                 UU NO. 40 TAHUN 2007

                    A. Pengertian PT................................................................................ 16

                    B. Prosedur Pendirian PT Menurut UU No. 1 Tahun 1995............... 30

                         1. Akta Pendirian......................................................................... 30

                         2. Pengesahan.............................................................................. 39

                         3. Pendaftaran............................................................................. 43

                         4. Pengumuman........................................................................... 44




                                                                  iv
Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                   C. Prosedur Pendirian PT Menurut UU No. 40 Tahun 2007............ 44

                        1. Akta Pendirian........................................................................ 44

                        2. Pengesahan............................................................................. 47

                        3. Pendaftaran............................................................................. 57

                        4. Pengumuman........................................................................... 59



          BAB III PERUBAHAN – PERUBAHAN DALAM PENDIRIAN PT
                  SETELAH KELUARNYA UU NO. 40 TAHUN 2007

                      A. Pendirian Perseroan.................................................................... 60

                      B. Tata Cara Pendirian Perseroan................................................... 62

                      C. Anggaran Dasar Dan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan.... 64

                      D. Daftar Perseroan Dan Pengumuman.......................................... 66



          BAB IV AKIBAT HUKUM PENDIRIAN PT SETELAH UU NO. 40
                 TAHUN 2007

                      A. Pendiri PT................................................................................... 67

                      B. Pemegang Saham....................................................................... 70



          BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

                      A. Kesimpulan................................................................................ 89

                      B. Saran.......................................................................................... 90



          DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 92




                                                                   v
Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            91




                                                    ABSTRAKSI

                                      *) Prof. Dr. Bismar Nasution, SH. MH
                                     **) Dr. Sunarmi, SH, MH
                                    ***) Rivai Halomoan Simanjuntak


                 Perseroan Terbatas merupakan badan hukum yang dipergunakan oleh para
         pelaku usaha untuk melakukan kegiatan usaha dengan tujuan mencari keuntungan
         atau laba. Mendirikan PT mempunyai keuntungan dan kerugian. Salah satu
         keuntungan mendirikan PT adalah tanggung jawab yang terbatas artinya pemegang
         saham hanya bertanggung jawab sebatas saham atau modal yang dimilikinya.
         Sedangkan salah satu kerugian mendirikan PT adalah kerumitan perizinan dan
         organisasi. Untuk mendirikan sebuah PT membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
         Mendirikan PT juga membutuhkan akta Notaris dan izin khusus untuk usaha
         tertentu. Dengan besarnya perusahaan tersebut maka biaya pengorganisasian akan
         keluar sangat banyak.Yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana
         pendirian PT berdasarkan UU No. 1 Tahun 1995 dan UU No. 40 Tahun 2007 serta
         perubahan – perubahannya dan bagaimana akibat hukum pendirian PT bagi pendiri
         PT dan bagi para pemegang saham.
                 Dalam penulisan dipergunakan metode yuridis normatif yaitu penelitian
         hukum kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti bahan
         pustaka atau data sekunder melalui sumber – sumber atau bahan tertulis berupa
         buku – buku, majalah, Koran, makalah, dengan cara membaca, menafsirkan serta
         menerjemahkan dari berbagai sumber yang berhubungan dengan pendirian PT.
                 Perbuatan hukum yang dilakukan oleh pendiri PT untuk kepentingan
         Perseroan yang belum didirikan, mengikat Perseroan setelah Perseroan menjadi
         badan hukum dengan persyaratan apabila, PT menyatakan menerima,
         mengambilalih dan mengukuhkan semua perbuatan hukum yang dilakukan atas
         nama PT ( Pasal 11 UU No. 1 Tahun 1995 ). Sedangkan di dalam UU No. 40
         Tahun 2007 diatur dalam Pasal 13 ayat (1), yang menyatakan bahwa perbuatan
         hukum yang dilakukan calon pendiri untuk kepentingan Perseroan yang belum
         didirikan, mengikat Perseroan setelah Perseroan menjadi badan hukum apabila
         RUPS pertama Perseroan secara tegas menyatakan menerima atau mengambil alih
         semua hak dan kewajiban yang timbul dari perbuatan hukum yang dilakukan oleh
         calon pendiri atau kuasanya. Apabila perbuatan hukum tersebut tidak diterima,
         tidak diambilalih atau tidak dikukuhkan oleh PT, maka perbuatan hukum tersebut
         menjadi tanggung jawab pribadi masing – masing pendiri atas segala akibat yang
         timbul. Akibat hukum dari pendirian PT bagi pemegang saham adalah timbulnya
         hak dan kewajiban dari para pemegang saham. Hak yang dimiliki pemegang saham
         adalah hak memesan efek, mengajukan gugatan ke Pengadilan, saham dibeli
         dengan harga yang wajar, meminta ke Pengadilan Negeri untuk menyelenggarakan
         RUPS, dan hak menghadiri RUPS. Sedangkan kewajiban pemegang saham adalah
         kewajiban mengalihkan sahamnya apabila pemegang saham kurang dari dua orang.

           *) Dosen Pembimbing I
          **) Dosen Pembimbing II
         ***) Mahasiswa



Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            92




                                              DAFTAR PUSTAKA


         Ali, Chidir, Badan Hukum, Bandung : Alumni, 1991

         Black, Henry Campbell, Black Law Dictionary- Abridged Seventh Edition, St.Paul
                Minn : West Publishing Co, 2000

         Budiarto, Agus, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan
                Terbatas, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002

         Chatamarrasjid, Menyingkap Tabir Perseroan ( Piercing The Corporate Veil )
               kapita selekta hukum perusahaan, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000

         Fuady, Munir, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, Bandung : Citra Aditya Bakti,
                1991

         ____________, Hukum Perusahaan Dalam Paradigma Hukum Bisnis, Bandung :
               PT. Citra Aditya Bakti, 1999

         ____________, Doktrin – Doktrin Modern Dalam Corporate Law Eksistensinya
               Dalam Hukum Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,2002

         Gautama, Sudargo, Ikhtisar Hukum Perseroan Berbagai Negara Yang Penting
              Bagi Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1991

         _____________, Komentar Atas UU Perseroan Terbatas Tahun 1995 No. 1
               Perbandingan Dengan Peraturan Yang Lama, Bandung : PT. Citra Aditya
               Bakti, 1995

         Ikhwansyah, Isis, Prinsip – Prinsip Universal bagi Kontrak melalui E – Commerce
               dan Sistem Hukum Pembuktian Perdata dalam Tekonologi Informasi,
               Bandung : Elips, 2002

         Irwadi, Hukum Perusahaan Suatu Telaah Yuridis Normatif, Jakarta : Mitra Karya,
                2003

         Kansil, C. S. T, Christine. S. T. Kansil, Pokok – Pokok Hukum Perseroan Terbatas
                1995, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1997

         _____________, Hukum Perusahaan Indonesia aspek Hukum dalam ekonomi
               bagian I, Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 2005

         _____________, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, Bandung: Citra Aditya
               Vakti, 1991

         _____________, Hukum Perusahaan Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,
               1995



Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            93




         Mansur, Dikdik. M. Arief, Elisatris Gultom, Cyber Law Aspek Hukum Tekonologi
               Informasi, Bandung : PT. Refika Aditama, 2005

         Muhammad, Abdulkadir, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, Bandung : PT.
              Citra Aditya Bakti, 1991

         _____________, Hukum Perusahaan Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,
               1995

         Pakpahan, Normin. S, Perseroan Terbatas Sebagai Instrument Kegiatan Ekonomi,
               Jurnal Hukum Bisnis Vol. 2 1997

         Prasetya, Rudi, Upaya Mencegah Penyalahgunaan Badan Hukum, Serangkaian
                Pembahasan Pembaharuan Hukum di Indonesia, Bandung : PT. Citra
                Aditya Bakti, 1993

         _____________, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas disertai dengan Ulasan
               menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1995 cetakan kedua, Bandung :
               PT. Citra Aditya Bakti, 1996

         Remmelink, Jan, Hukum Pidana, Komentar atas Pasal – Pasal Terpenting dari
              Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam
              Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Indonesia, Jakarta : PT. Gramedia
              Pustaka Utama, 2003

         Saliman, Abdul. R, Hermansyah, Ahmad Jalis, Hukum Bisnis untuk Perusahaan,
               Jakarta : Fajar Interpratama Offset, 2005

         Sembiring, Sentosa, Hukum Perusahaan tentang Perseroan Terbatas, Bandung :
             CV. Nuansa Aulia, 2006

         Simpson, Sally S, Strategy, Structure and Corporate Crime, 4 Advances in
               Criminological Theory, 1993

         Singgih, Kejahatan Korporasi Yang mengerikan, Tangerang : Pusat Studi Hukum
                Bisnis Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, 2005

         Sitompul Asri, Hukum Internet Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di
               Cyberspace, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2001

         Soemitro, Rachmat, Hukum Perseroan Indonesia, Yayasan Dan Wakaf, Bandung :
               Eresco, 1993

         Usman, Racmadi, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Bandung :
               Alumni, 2004




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            94




         Widjaja, I. G. Rai, Hukum Perusahaan Terbatas Khusus Pemahaman Atas Undang
                – Undang No. 1 Tahun 1995, Jakarta : Kesaint Blanc, 2002

         Wasis, Pengantar Ekonomi Perusahaan, Bandung : Alumni, 1997

         Yani, Ahmad, Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Perseroan Terbatas, Jakarta:
                PT. Raja Grafindo Persada, 1999

         _______________, Seri Hukum Bisnis Perseroan Terbatas, Jakarta: PT. Raja
         Grafindo Persada, 2000


         Peraturan

         UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana

         UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

         UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE

         Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor: M-
                01-HT.01-10 tahun 2007 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan
                Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar,
                Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan
                Data Perseroan


         Internet

         Elisabeth, Flora, Keabsahan Tanda Tangan Elektronik (Digital Signature) Menurut
                Kitab Undang – Undang Hukum Perdata Indonesia (KUH Perdata), <http:
                // www. Digilib.ui.edu.pdf > diakses tanggal 21 Mei 2008

         Nasution, Bismar (1), Makalah Kewajiban Melaksanakan RUPS Dan Saat
                Pembagian    Deviden    Menurut     UU      No.     1    Tahun    1995,
                <http://www.Bismarnasty.wordpress.pdf >, diakses tanggal 21 Mei 2008

         Nasution, Bismar (2), Makalah kejahatan korporasi dan pertanggungjawabannya,
                < http : // www. Bismarnasty.wordpress.pdf >, diakses tanggal 23 Mei 2008

         Nurhayati, Irna, Ulasan Tentang Status Badan Hukum Perseroan Terbatas
               Menurut UU No. 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas,< http : //
               www.google.com >, status badan hukum PT, diakses tanggal 23 Mei 2008

         Purnamasari, Irma Devita, Pendirian Perseroan Terbatas, < http : //
              www.google.com >, prosedur pendirian PT, diakses tanggal 10 Maret 2008




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            95




         Rahardjo, Budi, Cyberlaw : Teritori dalam cyberspace, realitas dan virtualitas,
               <http : // www. Budi.insan.co.id >, diakses tanggal 23 Mei 2008

         Singara, Julius Indra Dwipayono, Pengakuan Tanda Tangan Elektronik Dalam
                Hukum Pembuktian Indonesia, < http : // www. Legalitas.ord > diakses
                tanggal 23 Mei 2008

         Sumarsono, Raharjo Ignasius, Informasi Elektronik Pada Electronic – Commerce
               Dalam Hukum Pembuktian Perdata, < http : // www. Lib.unair.ac.id >,
               diakses tanggal 23 Mei 2008

         Wirawan, Mendirikan Perseroan Terbatas, < http : // www. Google.com >
               prosedur pendirian PT, diakses tanggal 23 Mei 2008


         Makalah

         Sosialisasi Undang – Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007 tentang
              Perseroan Terbatas, pada tanggal 22 Agustus 2007 di Jakarta




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                                1




                                                     BAB I
                                                 PENDAHULUAN


          A. Latar Belakang

                   Dalam membangun suatu bisnis, para pengusaha membutuhkan suatu

          tempat untuk dapat bertindak melakukan perbuatan hukum dan bertransaksi.

          Pemilihan jenis badan usaha ataupun badan hukum yang akan dijadikan sebagai

          sarana usaha tergantung pada keperluan para pendirinya. Perseroan Terbatas

          merupakan salah satu badan usaha yang relatif dominan di dalam kegiatan

          perekonomian Indonesia karena memiliki sifat, ciri khas dan keistimewaan yang

          tidak dimiliki oleh bentuk badan usaha lainnya, yaitu : 1

               1. Merupakan bentuk persekutuan yang berbadan hukum

               2. Merupakan kumpulan modal / saham

               3. Memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan para perseronya

               4. Pemegang saham memiliki tanggung jawab yang terbatas

               5. Adanya pemisahan fungsi antara pemegang saham dan pengurus atau

                   direksi

               6. Memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas

               7. Kekuasaan tertinggi berada pada RUPS




                   1
                    Irma Devita Purnamasari, Pendirian Perseroan Terbatas, <http                            :   //
          www.google.com,>prosedur pendirian PT, yang diakses pada tanggal 10 Maret 2008, hal 1




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            2




                   Perseroan Terbatas dominan dipergunakan oleh para pelaku usaha untuk

          mengembangkan bisnisnya disebabkan karena Perseroan Terbatas memiliki

          beberapa keuntungan yang membuatnya begitu menarik. Adapun keuntungan

          utama dari mendirikan Perseroan Terbatas ini adalah : 2


               a. Kewajiban terbatas.

                   Tidak seperti partnership, pemegang saham sebuah perusahaan tidak

                   memiliki kewajiban untuk obligasi dan hutang perusahaan. Akibatnya

                   kehilangan potensial yang "terbatas" tidak dapat melebihi dari jumlah yang

                   mereka bayarkan terhadap saham. Tidak hanya ini mengijinkan

                   perusahaan untuk melaksanakan dalam usaha yang beresiko, tetapi

                   kewajiban terbatas juga membentuk dasar untuk perdagangan di saham

                   perusahaan.


               b. Masa hidup abadi

                   Aset dan struktur perusahaan dapat melewati masa hidup dari pemegang

                   sahamnya, pejabat atau direktur. Ini menyebabkan stabilitas modal, yang

                   dapat menjadi investasi dalam proyek yang lebih besar dan dalam jangka

                   waktu yang lebih panjang daripada aset perusahaan tetap dapat menjadi

                   subyek disolusi dan penyebaran. Kelebihan ini juga sangat penting dalam

                   periode pertengahan, ketika tanah disumbangkan kepada Gereja (sebuah

                   perusahaan) yang tidak akan mengumpulkan biaya feudal yang seorang

                   tuan tanah dapat mengklaim ketika pemilik tanah meninggal.


                   2
                       Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            3




               c. Efisiensi manajemen

                      Manajemen dan spesialisasi memungkinkan pengelolaan modal yang

                      efisien sehingga memungkinkan untuk melakukan ekspansi. Dan dengan

                      menempatkan orang yang tepat, efisiensi maksimum dari modal yang ada.

                      Dan juga adanya pemisahan antara pengelola dan pemilik perusahaan,

                      sehingga terlihat tugas pokok dan fungsi masing-masing.


                      Selain keuntungan utama dari pendirian PT di atas, PT juga memiliki

          beberapa keuntungan lain yang membuat pelaku usaha lebih suka mendirikan PT

          yaitu : 3


          a. Memungkinkan pengumpulan modal besar

          b. Memiliki status sebagai badan hukum

          c. Tanggung jawab terbatas

          d. Pengalihan kepemilikan lebih mudah

          e. Jangka waktu tidak terbatas

          f. Manajemen yang lebih kuat

          g. Kelangsungan hidup perusahaan lebih terjamin

          h. Biasanya untuk Penanaman Modal Asing ( PMA ) ada fasilitas bebas pajak (

               tax holiday )




                      3
                      Abdul R. Saliman, Hermansyah dan Ahmad Jalis, Hukum Bisnis untuk Perusahaan,
          (Jakarta : Fajar Interpratama Offset, 2005 ), hal 104




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            4




                   Selain memiliki keuntungan utama dari mendirikan Perseroan Terbatas,

          mendirikan Perseroan Terbatas juga memiliki kelemahan yaitu : 4


          1. Kerumitan perizinan dan organisasi. Untuk mendirikan sebuah PT tidaklah

               mudah. Selain biayanya yang tidak sedikit, PT juga membutuhkan akta notaris

               dan izin khusus untuk usaha tertentu. Lalu dengan besarnya perusahaan

               tersebut, biaya pengorganisasian akan keluar sangat besar. Belum lagi

               kerumitan dan kendala yang terjadi dalam tingkat personel. Hubungan antar

               perorangan juga lebih formal dan berkesan kaku.

          2. Pengenaan pajak ganda

          3. Ketentuan perundangan yang lebih ketat

          4. Rahasia perusahaan relatif kurang terjamin

          5. Biasanya untuk PMA, sedikit rentan terhadap situasi dan kondisi sosial,

               politik, dan keamanan suatu negara.


                   Perseroan dalam pengertian umum adalah perusahaan atau orgarnisasi

          usaha. 5 Perseroan Terbatas (PT), dulu disebut juga Naamloze Vennootschaap

          (NV), adalah suatu persekutuan untuk menjalankan usaha yang memiliki modal

          terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya memiliki bagian sebanyak saham yang

          dimilikinya.




                   4
                  Ibid
                   5
                  I. G. Rai Widjaya, Hukum Perusahaan Terbatas Khusus Pemahaman Atas Undang –
          Undang No. 1 Tahun 1995, ( Jakarta : Kesaint Blanc, 2002 ), hal. 1




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            5




                   Modal PT terdiri dari saham-saham yang dapat diperjualbelikan, sehingga

          perubahan kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu membubarkan

          perusahaan. Perseroan terbatas merupakan badan usaha dan besarnya modal

          perseroan tercantum dalam anggaran dasar. Kekayaan perusahaan terpisah dari

          kekayaan pribadi pemilik perusahaan sehingga memiliki harta kekayaan sendiri.

          Perseroan Terbatas membatasi tanggung jawab pemilik modal, yaitu sebesar

          jumlah saham yang dimiliki sehingga bentuk usaha seperti ini banyak diminati,

          terutama bagi perusahaan dengan jumlah modal yang besar. Demikian pula

          adanya kemudahan untuk menarik dana dari masyarakat dengan jalan penjualan

          saham juga merupakan satu dorongan untuk mendirikan Perseroan Terbatas.

          Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu saham yang menjadi bukti pemilikan

          perusahaan.

                   Apabila utang perusahaan melebihi kekayaan perusahaan, maka kelebihan

          utang tersebut tidak menjadi tanggung jawab para pemegang saham. 6 Apabila

          perusahaan mendapat keuntungan maka keuntungan tersebut dibagikan sesuai

          dengan ketentuan yang ditetapkan. Pemilik saham akan memperoleh bagian

          keuntungan yang disebut dividen yang besarnya tergantung pada besar – kecilnya

          keuntungan yang diperoleh perseroan terbatas. 7

                   Selain berasal dari saham, modal PT dapat pula berasal dari obligasi.

          Keuntungan yang diperoleh para pemilik obligasi adalah mereka mendapatkan

          bunga tetap tanpa menghiraukan untung atau ruginya perseroan terbatas tersebut.



                   6
                  Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 3 ayat ( 1 )
                   7
                  Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan tentang Perseroan Terbatas, ( Bandung : CV.
          Nuansa Aulia, 2006 ), hal. 54




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            6




                   Menurut Sri Rejeki Hartono :

                   “ Bentuk badan usaha Perseroan Terbatas sangat diminati oleh masyarakat

                   karena pada umumnya Perseroan Terbatas mempunyai kemampuan untuk

                   mengembangkan diri, mampu mengadakan kapitalisasi modal dan sebagai

                   wahana yang potensial untuk memperoleh keuntungan baik bagi

                   instansinya sendiri maupun bagi para pendukungnya (pemegang saham)”. 8



                   Sebagai suatu          wadah untuk melakukan kegiatan usaha, Perseroan

          Terbatas didukung oleh perangkat organisasi serta tenaga manusia yang

          mengendalikannya. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja hukum yang pasti agar

          unit usaha ini dapat bekerja dengan produktif dan efisien. Landasan hukum

          diperlukan agar kerancuan hukum dapat diatasi, dan terdapat arahan hukum yang
                                                                                            9
          jelas bagi Perseroan Terbatas dalam melaksanakan kegiatannya.                         Tanpa adanya

          landasan hukum yang jelas maka akan membuat pihak – pihak yang ingin

          menanamkan modalnya dengan cara mendirikan perseroan terbatas tidak berani

          untuk melakukannya sebab apabila dikemudian hari terjadi suatu peristiwa hukum

          maka pemilik modal atau pendiri perseroan terbatas tersebut tidak dapat

          menyelamatkan modalnya sendiri atau setidaknya dia dapat membela dirinya.

                   Sebenarnya Indonesia telah memiliki suatu peraturan perundang –

          undangan yang mengatur tentang perusahaan secara umum yang terdapat di dalam

          Kitab Undang – Undang Hukum Dagang yang terdapat di dalam Pasal 36 sampai


                   8
                      Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas,
          (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002 ), hal. 13
                    9
                      Normin S. Pakpahan, Perseroan Terbatas Sebagai Instrument Kegiatan Ekonomi, Jurnal
          Hukum Bisnis Vol. 2, hal 73




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            7




          dengan Pasal 56. Namun peraturan tentang Perseroan Terbatas sebagaimana diatur

          dalam Kitab Undang – Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel,

          Staatsblad 1847: 23), sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi dan

          dunia usaha yang semakin pesat baik secara nasional maupun internasional maka

          lahirlah Undang – Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang

          menjadi lex specialis dari hukum perusahaan. 10

                   Setelah UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas ini dilaksanakan

          dan menjadi landasan hukum bagi setiap orang yang ingin mendirikan perusahaan

          selama 12 tahun, maka pada tahun 2007 pemerintah bersama – sama dengan

          Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan UU No. 40 Tahun 2007 tentang

          Perseroan Terbatas. Jadi dengan lahirnya UU ini maka peraturan sebelum UU No.

          40 Tahun 2007 ini lahir dinyatakan tidak berlaku lagi dan Perseroan Terbatas

          yang telah berdiri sebelum UU ini lahir harus menyesuaikan perusahaannya

          dengan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Yang menjadi

          pertimbangan lahirnya UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ini

          yaitu : 11

          1. Bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi

               ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,

               berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan

               kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional, perlu didorong oleh kelembagaan

               perekonomian yang kokoh dalam rangka mewujudkan kesejahteraan

               masyarakat.

                   10
                        Lihat Considerans UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas huruf a
                   11
                        Lihat Considerans UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            8




          2. Bahwa dalam rangka lebih meningkatkan pembangunan perekonomian

               nasional dan sekaligus memberikan landasan yang kokoh bagi dunia usaha

               dalam menghadapi perkembangan perekonomian dunia dan kemajuan ilmu

               pengetahuan dan teknologi di era globalisasi pada masa mendatang, perlu

               didukung oleh suatu undang – undang yang mengatur tentang perseroan

               terbatas yang dapat menjamin terselenggaranya iklim dunia usaha yang

               kondusif.

          3. Bahwa Perseroan Terbatas sebagai salah satu pilar pembangunan nasional

               perlu diberikan landasan hukum untuk lebih memacu pembangunan nasional

               yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

          4. Bahwa Undang – Undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas

               dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dan

               kebutuhan masyarakat sehingga perlu diganti dengan undang – undang yang

               baru.

                   Dengan dasar pertimbangan tersebutlah maka dikeluarkannya UU No. 40

          Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas agar menjadi payung hukum bagi setiap

          orang yang mau menanamkan modalnya atau melakukan usaha dengan cara

          mendirikan Perseroan Terbatas.

                   Di dalam UU No. 40 Tahun 2007 terdapat beberapa perubahan –

          perubahan tentang prosedur pendirian PT yang tidak diatur dalam UU No. 1

          Tahun 1995. Dalam prosedur pendirian PT dalam UU No. 40 Tahun 2007 diatur

          mengenai tanda tangan digital. Tanda tangan digital ini dipergunakan dalam

          pemberian pengesahan PT oleh Menteri Hukum dan HAM. Pemberian




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            9




          pengesahan ini dilakukan melalui sisminbakum ( diatur di dalam Pasal 9 – Pasal

          10 UU No. 40 Tahun 2007 ) yang tidak ada diatur sebelumnya di dalam UU No.

          1 Tahun 1995.

                   Dalam hal pendaftaran PT dan pengumumannya, sebelumnya di dalam UU

          No. 1 Tahun 1995 proses tersebut dilakukan oleh Direksi (diatur dalam Pasal 21),

          tetapi pada UU No. 40 Tahun 2007 proses pendaftaran PT dan pengumumannya

          dilakukan oleh Menteri Hukum dan HAM ( diatur dalam Pasal 29 – 30 ).

          Perubahan lainnya yang tidak terdapat sebelumnya di dalam UU No. 1 Tahun

          1995 ini yaitu dalam RUPS. Pemegang saham yang tidak dapat hadir dalam RUPS

          dapat menggunakan media elektronik yang memungkinkan para pemegang saham

          saling melihat dan mendengar secara langsung satu sama yang lainnya serta

          berpartisipasi dalam rapat.



          B. Perumusan Masalah

                   UUPT menentukan dan mengatur tentang prosedur dari pendirian PT yang

          baru. Hal ini perlu diketahui oleh para pihak yang ingin memperluas usahanya dan

          memperoleh keuntungan dengan mendirikan PT yang merupakan badan hukum

          yang diakui di Indonesia agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

                   Namun terdapat hal – hal yang berbeda mengenai prosedur pendirian PT

          yang diatur di dalam UU No. 1 Tahun 1995 dengan UU No. 40 Tahun 2007 yang

          perlu diketahui oleh semua pihak agar tidak bertentangan dengan peraturan

          perundang – undangan.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            10




                   Dengan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan beberapa

          permasalahan sebagai berikut :

               1. Bagaimana pendirian PT berdasarkan UU No. 1 Tahun 1995 dan UU No.

                   40 Tahun 2007 serta perubahan – perubahannya.

               2. Bagaimana akibat hukum pendirian PT bagi pendiri PT dan pemegang

                   saham.



          C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

          1. Tujuan Penulisan

                   Adapun yang menjadi tujuan pembahasan dapat diuraikan sebagai berikut :

               a. Untuk mengetahui bagaimana                 prosedur pendirian Perseroan Terbatas,

                   baik berdasarkan UU No. 1 Tahun 1995 maupun berdasarkan UU No. 40

                   Tahun 2007 serta perubahan – perubahannya

               b. Untuk mengetahui akibat hukum dari pendirian Perseroan Terbatas setelah

                   keluarnya UU No. 40 Tahun 2007 terhadap pendiri dan pemegang saham.



          2. Manfaat Penulisan

                   Manfaat penulisan yang dapat diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah

          sebagai berikut :

                 a. Secara Teoritis

                      Secara teoritis, pembahasan terhadap masalah – masalah yang telah

                      dirumuskan akan memberikan kontribusi pemikiran serta menimbulkan




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            11




                      pemahaman tentang prosedur pendirian Perseroan Terbatas yang ada

                      dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

                 b. Secara Praktis

                      Secara praktis, pembahasan terhadap masalah ini diharapkan dapat

                      menjadi masukan bagi pembaca, khususnya bagi para pelaku bisnis yang

                      memiliki keinginan untuk memperluas bisnisnya dengan mendirikan

                      sebuah Perseroan Terbatas agar dapat mengetahui dengan jelas prosedur

                      dari pendirian Perseroan Terbatas yang terdapat dalam UU No. 40 Tahun

                      2007. Dan juga sebagai bahan untuk kajian bagi para akademisi dalam

                      menambah wawasan pengetahuan terutama dalam bidang pendirian

                      Perseroan Terbatas.



          D. Keaslian Penulisan

                   “Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun

          2007“ yang diangkat menjadi judul skripsi ini belum pernah ditulis di Fakultas

          Hukum Universitas Sumatera Utara, dan kalaupun ada substansi pembahasannya

          berbeda. Penulisan skripsi ini disusun melalui referensi buku – buku, media cetak,

          dan elektronik serta bantuan dari berbagai pihak. Dengan demikian keaslian

          skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            12




          E. Tinjauan Kepustakaan

                   Dari kata Perseroan Terbatas dapat diartikan bahwa, kata Perseroan

          berasal dari kata “ Sero “, yang mempunyai arti “ Saham “. Sedangkan kata

          Terbatas menunjukkan adanya tanggung jawab yang terbatas. Dengan demikian

          Perseroan Terbatas dapat dijelaskan sebagai bentuk usaha yang modalnya terdiri

          dari saham – saham yang masing–masing pemegangnya atau anggotanya

          bertanggungjawab terbatas sampai pada nilai saham / modal yang dimilikinya.

                   Menurut Undang – Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

          Terbatas dalam Pasal 1 angka ( 1 ) dinyatakan bahwa : 12

                   “ Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut dengan Perseroan, adalah

          badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan

          perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya

          terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang –

          Undang ini serta peraturan pelaksanaannya“.

                   Selain defenisi yang disebutkan di dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang

          Perseroan Terbatas terdapat juga defenisi lain tentang Perseroan Terbatas yakni

          menurut Wasis, yang menyebutkan bahwa Perseroan Terbatas adalah perusahaan

          yang modalnya dibagi – bagi atas saham – saham dengan harga nominal yang

          sama besarnya dan yang para pemiliknya bertanggung jawab secara terbatas

          sampai sejumlah modal yang disetorkan atau sejumlah saham yang dimiliki. 13




                   12
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang Pasal 1 angka 1
                   13
                        Wasis, Pengantar Ekonomi Perusahaan, ( Bandung : Alumni, 1997 ), hal. 22




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            13




          Menurut Abdulkadir Muhammad : 14

          Perseroan Terbatas adalah perusahaan akumulasi modal yang dibagi atas saham –

          saham dan tanggung jawab sekutu pemegang saham terbatas pada jumlah saham

          yang dimilikinya. PT adalah perusahaan persekutuan badan hukum.

                   Sedangkan pengertian badan hukum tersebut menurut beberapa ahli adalah

          sebagai berikut : 15


               a. E. Utrecht

                   Badan hukum ialah badan yang menurut hukum berkuasa ( berwenang )

                   menjadi pendukung hak


               b. R.Subekti

                   “ Badan Hukum adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat

                   memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta

                   memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau menggugat di depan

                   hakim”.


               c. Meyers.

                   “ Badan Hukum adalah meliputi sesuatu yang menjadi pendukung hak dan

                   kewajiban”




                   14
                     Abdulkadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, ( Bandung : PT.
          Citra Aditya Bakti, 1991 ), hal. 68
                  15
                     Chidir Ali, Badan Hukum, ( Bandung : Alumni, 1991 ), hal. 18




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            14




               d. Wirjono Prodjodikoro.

                   “ Badan Hukum adalah badan yang di samping manusia perseorangan juga

                   dapat dianggap bertindak dalam hukum dan yang mempunyai hak-hak,

                   kewajiban-kewajiban, dan perhubungan hukum terhadap orang lain atau

                   badan lain”.


                   Dari batasan yang diberikan tersebut di atas ada lima hal pokok yang dapat

          dikemukakan disini : 16

               1. Perseroan Terbatas merupakan suatu badan hukum;

               2. Didirikan berdasarkan perjanjian;

               3. Menjalankan usaha tertentu;

               4. Memiliki modal yang terbagi dalam saham – saham;

               5. Memenuhi persyaratan Undang – Undang.

                   Dalam Perseroan ada dikenal pendiri dan pemegang saham. Di dalam

          Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendiri adalah orang yang mendirikan suatu

          lembaga atau badan hukum. Sedangkan pemegang saham ialah orang yang

          memiliki saham. Kepemilikan atas saham ini memberikan hak – hak kepada

          pemegangnya yaitu : 17

          1. Hak memesan efek

          2. Hak mengajukan gugatan ke pengadilan

          3. Hak saham dibeli dengan harga yang wajar

          4. Hak meminta ke Pengadilan Negeri untuk menyelenggarakan RUPS


                   16
                     Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Perseroan Terbatas, ( Jakarta :
          PT. Raja Grafindo Persada, 2000 ), hal. 7
                  17
                     Sentosa Sembiring, Op. Cit, hal 61




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            15




          5. Hak untuk menghadiri RUPS

                   Selain memiliki hak, pemegang saham juga memiliki kewajiban. Adapun

          kewajiban dari pemegang saham adalah kewajiban untuk mengalihkan sahamnya

          apabila pemegang saham kurang dari 2 ( dua ) orang.



          F. Metode Penulisan

                   Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuan dapat lebih terarah dan

          dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan Metode Penelitian Hukum

          Normatif. Dengan pengumpulan data secara studi pustaka ( Library Research ).

                   Penelitian kepustakaan ( Library Research ), yaitu penelitian yang

          dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Adapun

          data sekunder yang digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari

          buku – buku perpustakaan, artikel – artikel, bahan seminar, dokumen – dokumen

          pemerintah, termasuk peraturan perundang – undangan, juga sumber – sumber

          atau bahan tertulis yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan skripsi ini dengan

          cara membaca, menafsirkan, mambandingkan serta menerjemahkan dari berbagai

          sumber yang berhubungan dengan Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas

          Menurut UU No. 40 Tahun 2007.



          G. Sistematika Penulisan

                   Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya harus

          diuraikan secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka

          diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            16




          bab yang saling berangkaian satu sama lain. Adapun sistematika penulisan skripsi

          ini adalah :

          BAB I              Berisikan pendahuluan yang merupakan pengantar yang di

                             dalamnya terurai mengenai latar belakang penulisan skripsi,

                             perumusan masalah, kemudian dilanjutkan dengan tujuan dan

                             manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan,

                             metode penulisan, yang kemudian diakhiri oleh sistematika

                             penulisan.

          BAB II             Merupakan suatu bab yang membahas tentang pendirian PT

                             menurut UU No. 1 Tahun 1995 dan UU No. 40 Tahun 2007

                             dimana di dalamnya diuraikan mengenai pengertian PT, prosedur

                             pendirian PT menurut UU No. 1 Tahun 1995 dan prosedur

                             pendirian PT menurut UU No. 40 Tahun 2007 dimulai dengan

                             pembuatan       akta     pendirian,     pengesahan,        pengumuman          dan

                             pendaftaran.

          BAB III            Merupakan suatu bab yang membahas tentang Perubahan –

                             perubahan dalam pendirian Perseroan Terbatas setelah keluarnya

                             UU No. 40 Tahun 2007 dimana di dalamnya diuraikan tentang

                             pendirian perseroan, tata cara pendirian perseroan, anggaran dasar

                             dan perubahan anggaran dasar perseroan serta daftar perseroan dan

                             pengumuman.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            17




          BAB IV             Merupakan suatu bab yang membahas tentang Akibat hukum

                             pendirian PT setelah UU No,. 40 Tahun 2007 dimana di dalamnya

                             diuraikan tentang akibat hukum bagi pendiri PT dan akibat hukum

                             bagi pemegang saham.

          BAB V              Merupakan kesimpulan dari bab – bab yang telah dibahas

                             sebelumnya dan saran – saran yang mungkin berguna bagi pihak –

                             pihak yang ingin mendirikan PT dan juga bagi orang – orang yang

                             membacanya.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            18




                                         BAB II
                         PENDIRIAN PT MENURUT UU NO. 1 TAHUN 1995
                                 DAN UU NO. 40 TAHUN 2007


          A. Pengertian PT

                   Kata “ perseroan “ menunjuk kepada modalnya yang terdiri atas sero

          (saham). Sedangkan kata “ terbatas “ menunjuk kepada tanggung jawab pemegang

          saham yang tidak melebihi nilai nominal saham yang diambil bagian dan
                          18
          dimilikinya.         Jadi perseroan terbatas adalah salah satu bentuk organisasi usaha

          atau badan usaha yang ada dan dikenal dalam sistem hukum dagang Indonesia

          dimana pemegang saham bertanggung jawab sebatas nilai nominal saham yang

          diambil dan dimilikinya.

                   Terhadap Perseroan Terbatas ini dalam beberapa bahasa disebut sebagai

          berikut: 19 Dalam bahasa Inggris disebut dengan limited ( Ltd ) Company, atau

          Limited Liability Company, ataupun Limited Corporation. Dalam bahasa Belanda

          disebut dengan Naam Looze Vennotschap atau disingkat NV. Dalam bahasa

          Jerman disebut dengan Gesellschaft mit Bescchanrker Haftung. Dalam bahasa

          Spanyol disebut dengan Sociedad De Responsabilidad Limitada.

                   Menurut Abdulkadir Muhammad, Perseroan Terbatas adalah perusahaan

          akumulasi modal yang dibagi atas saham – saham dan tanggung jawab sekutu

          pemegang saham terbatas pada jumlah saham yang dimilikinya. Perseroan

          Terbatas adalah perusahaan badan hukum. 20



                   18
                      Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal. 68
                   19
                      Munir Fuady, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, ( Bandung : Citra Aditya Bakti,
          1991 ), hal 1
                   20
                      Abdulkadir Muhammad, Loc. Cit, hal 68




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            19




                   Bentuk Perseroan Terbatas atau PT merupakan bentuk yang lazim dan

          banyak dipakai dalam dunia usaha di Indonesia karena PT merupakan asosiasi

          modal dan badan hukum yang mandiri. 21

                   Menurut Undang – Undang Perseroan Terbatas dalam Pasal 1 angka 1

          dinyatakan bahwa : 22

                   “ Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut dengan Perseroan, adalah

          badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan

          perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya

          terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang –

          Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

                   Dari batasan yang diberikan tersebut di atas ada lima unsur Perseroan

          Terbatas yaitu sebagai berikut : 23

               1. Perseroan Terbatas merupakan suatu badan hukum;

               2. Didirikan berdasarkan perjanjian;

               3. Menjalankan usaha tertentu;

               4. Memiliki modal yang terbagi dalam saham – saham;

               5. Memenuhi persyaratan Undang – Undang.



          1. Perseroan Terbatas Merupakan suatu Badan Hukum

                   Perseroan Terbatas merupakan badan hukum, yang berarti Perseroan

          Terbatas adalah subjek hukum dimana Perseroan Terbatas sebagai suatu badan

          yang dapat dibebani hak dan kewajiban seperti halnya manusia pada umumnya.
                   21
                      I. G. Rai Widjaja, Op. Cit, hal 1
                   22
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 Pasal 1 angka 1
                   23
                      Ahmad Yani & Gunawan, Op. Cit, hal 7




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            20




          Undang-Undang yang telah memberikan perseroan sebagai badan hukum atau

          “persona standi in judicio” telah membuat keberadaan perseroan sebagai subyek

          hukum mandiri yang berarti hukum memberikan padanya hak dan kewajiban

          sebagaimana yang dimiliki manusia. Artinya, perseroan itu dapat mempunyai

          harta kekayaan sendiri, hak-hak dan melakukan perbuatan serta kewajiban seperti

          orang-orang pribadi. 24 Oleh karena itu sebagai badan hukum, Perseroan Terbatas

          mempunyai kekayaan sendiri yang terpisah dari kekayaan pengurusnya. Dengan

          adanya kedudukan mandiri dari perseroan itu, bila terjadi pergantian Pemegang

          Saham, Direksi dan Komisaris, maka tidak membuat perseroan berubah dari

          kieberadaannya sebagai “persona standi in judicio.” 25 Dalam melakukan kegiatan

          yang dilihat bukan perbuatan pengurusnya tetapi yang harus diperhatikan adalah

          perseroannya, karena yang bertanggung jawab adalah perseroan. 26


                   Mengenai definisinya, badan hukum atau legal entity atau legal person

          dalam Black’s Law Dictionary dinyatakan sebagai a body, other than a natural

          person, that can function legally, sue or be sued, and make decisions through

          agents. 27 Sementara dalam kamus hukum versi Bahasa Indonesia, badan hukum

          diartikan dengan organisasi, perkumpulan atau paguyuban lainnya di mana




                   24
                      Bismar Nasution ( 1 ), Makalah Kewajiban Melaksanakan RUPS Dan Saat Pembagian
          Deviden Menurut UU No. 1 Tahun 1995, < http : // www. Bismarnasty.wordpress. pdf >, yang
          diakses pada tanggal 21 Mei 2008, hal 2
                   25
                      Ibid
                   26
                       Ahmad Yani & Gunawan, Loc. Cit, hal 7
                   27
                      Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary-Abridged Seventh Edition, ( St. Paul
          Minn : West Publishing Co, 2000 ), hal. 726




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            21




          pendiriannya dengan akta otentik dan oleh hukum diperlakukan sebagai persona

          atau sebagai orang. 28


                   Sedangkan badan hukum itu oleh beberapa para ahli hukum sebagaimana

          yang telah dikemukakan oleh Chidir Ali antara lain memberikan batasan sebagai

          berikut : 29


               a. E. Utrecht

                   Badan hukum ialah badan yang menurut hukum berkuasa ( berwenang )

                   menjadi pendukung hak


               b. R.Subekti

                   “ Badan Hukum adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat

                   memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta

                   memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau menggugat di depan

                   hakim”.


               c. Meyers.

                   “ Badan Hukum adalah meliputi sesuatu yang menjadi pendukung hak dan

                   kewajiban”




                   28
                    Irna Nurhayati, Ulasan Tentang Status Badan HukumPerseroan Terbatas Menurut UU
          No. 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas,< http : // www,google.com >, status badan
          hukum PT, yang diakses pada tanggal, 23 Mei 2008, hal 1
                 29
                    Chidir Ali, Op. Cit, hal. 18




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            22




               d. Wirjono Prodjodikoro

                   “ Badan Hukum adalah badan yang di samping manusia perseorangan juga

                   dapat dianggap bertindak dalam hukum dan yang mempunyai hak-hak,

                   kewajiban-kewajiban, dan perhubungan hukum terhadap orang lain atau

                   badan lain”.


                   Badan hukum mempunyai karakteristik yaitu :30

               a. Memiliki kekayaan yang terpisah

                   Badan hukum merupakan pendukung hak dan kewajiban sama seperti

                   manusia pribadi. Sebagai pendukung hak dan kewajiban, dia dapat

                   mengadakan hubungan bisnis dengan pihak lain. Untuk itu dia memiliki

                   kekayaan sendiri, yang terpisah dari kekayaan pengurus atau pendirinya,

                   segala kewajiban hukumnya dipenuhi dari kekayaan yang dimilikinya itu.

                   Apabila kekayaannya tidak mencukupi untuk menutupi kewajibannya,

                   itupun tidak dapat dipenuhi dari kekayaan pengurus atau pendirinya guna

                   menghindarkannya dari kebangkrutan atau likuidasi. Kendatipun mendapat

                   pinjaman dana dari pengurus atau pendirinya atau jika BUMN mendapat

                   suntikan dana dari Negara, pinjaman atau suntikan dana itu tetap dihitung

                   sebagai hutang badan hukum itu. Dalam anggaran dasar biasanya

                   ditentukan jumlah kekayaan badan hukum. Dalam hubungan bisnis dengan

                   pihak ketiga, badan hukum itu bertindak sendiri untuk kepentingannya

                   sendiri yang diwakili oleh pengurusnya sebagaimana diatur dalam


                   30
                     Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, ( Bandung : PT. Citra Aditya
          Bakti, 1995 ), hal. 63




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            23




                   anggaran dasar. Apabila mendapat keuntungan maka keuntungan itu

                   menjadi kekayaan milik badan hukum itu. Sebaliknya, apabila menderita

                   kerugian, maka kerugian itu ditanggung sendiri oleh badan hukum dari

                   kekayaan yang dimilikinya.


               b. Mendapat pengesahan dari Menteri

                   Badan hukum harus mendapat pengesahan secara resmi dari Menteri. Bagi

                   badan hukum PT, anggaran dasarnya disahkan oleh Menteri Kehakiman

                   (Pasal 7 ayat ( 6 ) UU No. 1 Tahun 1995 yang saat ini diatur di dalam

                   Pasal 9 – 10 UU No. 40 Tahun 2007). Bagi badan hukum koperasi

                   anggaran dasarnya disahkan oleh Menteri Koperasi ( Pasal 10 ayat ( 2 )

                   UU No. 25 Tahun 1992 ). Bagi badan hukum Perum anggaran dasarnya

                   disahkan oleh Menteri Keuangan ( UU No. 19 Tahun 1960 ), dan bagi

                   badan hukum Perusahaan Perseroan ( Persero ) anggaran dasarnya juga

                   disahkan oleh Menteri Keuangan ( PP No. 12 Tahun 1969 ) yang mewakili

                   negara sebagai pemilik modal.


                   Pengesahan oleh Menteri merupakan pembenaran bahwa anggaran dasar

                   badan hukum yang bersangkutan tidak dilarang UU, tidak bertentangan

                   dengan ketertiban umum dan kesusilaan. Di samping itu pengesahan juga

                   menentukan bahwa sejak tanggal pengesahan itu diberikan, maka sejak itu

                   pula badan usaha yang bersangkutan memperoleh status badan hukum dan

                   dengan demikian memiliki harta kekayaan sendiri yang terpisah dari harta

                   kekayaan pribadi pengurus atau pendirinya.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            24




               c. Direksi sebagai wakil dari badan hukum dalam menjalankan perusahaan

                   Badan hukum merupakan subjek hukum buatan manusia berdasarkan

                   hukum yang berlaku. Agar dapat berbuat hukum diurus oleh pengurus

                   yang ditetapkan dalam anggaran dasarnya, sebagai yang berwenang

                   mewakili badan hukum. Artinya perbuatan pengurus adalah perbuatan

                   badan hukum. Perbuatan pengurus tersebut selalu mengatasnamakan

                   badan hukum, bukan atas nama pribadi pengurus. Segala kewajiban yang

                   timbul dari perbuatan pengurus adalah kewajiban badan hukum yang

                   dibebankan pada harta kekayaan badan hukum. Sebaliknya pula, segala

                   hak yang diperoleh dari perbuatan pengurus adalah hak badan hukum yang

                   menjadi kekayaan badan hukum. Perusahaan badan hukum merupakan

                   subjek hukum yang diurus atau dikelola oleh pengurus yang disebut

                   direksi. Direksi ini dapat terdiri dari 1 orang atau beberapa orang. Jika

                   terdiri dari beberapa orang satu diantaranya bertindak sebagai Direktur

                   Utama perusahaan badan hukum yang membawahi direktur – direktur.

                   Struktur tugas dan wewenang serta tanggung jawab Direksi selaku

                   pengelola yang mewakili perusahaan badan hukum diatur dalam anggaran

                   dasar.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            25




                   Sedangkan menurut Soenawar Soekowati karakteristik dari badan hukum

          adalah: 31


               a. Terkumpulnya jadi satu hak – hak subjektif untuk suatu tujuan tertentu

                   dengan cara yang demikian, sehingga kekayaan yang bertujuan itu dapat

                   dijadikan objek tuntutan hutang – hutang tertentu.

               b. Harus ada kepentingan yang diakui dan dilindungi oleh hukum, dan

                   kepentingan yang dilindungi itu harus bukan kepentingan satu orang atau

                   beberapa orang saja.

               c. Meskipun kepentingan itu tidak terletak pada orang – orang tertentu,

                   namun kepentingan itu harus stabil, artinya tak terikat pada suatu waktu

                   yang pendek saja, tetapi untuk jangka waktu yang panjang.

               d. Harus dapat ditujukan suatu harta kekayaan yang tersendiri, yang tidak

                   saja untuk objek tuntutan tetapi juga yang dapat dianggap oleh hukum

                   sebagai upaya pemeliharaan kepentingan – kepentingan tersebut yang

                   terpisah dari kepentingan anggota – anggotanya.


                   Sebagai badan hukum atau artificial person, Perseroan Terbatas mampu

          bertindak melakukan perbuatan hukum melalui “ wakilnya “. Untuk itu ada yang

          disebut dengan “ agent “ , yaitu orang yang mewakili perseroan serta bertindak

          untuk dan atas nama perseroan. Perseroan Terbatas mempunyai hak dan

          kewajiban dalam hubungan hukum sama seperti manusia biasa atau natural




                   31
                        Chidir Ali, Op. Cit, hal 97




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            26




          person atau naturlijke person, dapat menggugat ataupun digugat, dapat membuat

          keputusan dan mempunyai kekayaan seperti layaknya manusia. 32

                   Sebagai badan hukum, Perseroan Terbatas memenuhi persyaratan sebagai

          berikut : 33

            a. Organisasi yang teratur

                 Organisasi yang teratur ini dapat dilihat dari adanya organ perusahaan yang

                 terdiri atas Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ), Direksi, dan

                 Komisaris ( Pasal 1 ayat ( 2 ) Undang – Undang Perseroan Terbatas ).

                 Keteraturan organisasi perusahaan dapat diketahui melalui ketentuan

                 Undang – Undang Perseroan Terbatas, Anggaran Dasar Perseroan,

                 Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham, Keputusan Dewan Komisaris,

                 Keputusan Direksi dan Peraturan – peraturan perusahaan lainnya yang

                 dikeluarkan dari waktu ke waktu.

            b. Harta kekayaan yang dipisahkan

                 Perseroan Terbatas mempunyai harta kekayaan sendiri yang dipisahkan dari

                 harta kekayaan pribadi perseroannya, berupa modal yang berasal dari

                 pemasukan harta kekayaan lainnya baik berupa benda berwujud atau tidak

                 berwujud yang merupakan milik perseroan. Pasal 31 ayat ( 1 ) dan

                 dihubungkan dengan Pasal 34 ayat (1) UUPT menegaskan bahwa harta

                 kekayaan perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham yang dapat

                 dilakukan dalam bentuk uang dan atau dalam bentuk lainnya.



                   32
                      Racmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, ( Bandung :
          Alumni, 2004 ), hal 50
                  33
                     Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            27




            c. Mempunyai tujuan tertentu

                 Sebagai badan hukum yang melakukan kegiatan usaha, Perseroan Terbatas

                 mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Karena itu, kegiatan usaha yang

                 dijalankan Perseroan Terbatas dilakukan dalam rangka mewujudkan maksud

                 dan tujuan pendirian Perseroan Terbatas. Dalam Pasal 15 ayat ( 1 ) huruf b

                 UUPT dinyatakan bahwa maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan

                 yang sesuai dengan peraturan perudang – undangan yang berlaku ditetapkan

                 dalam anggaran dasar. Berhubung Perseroan Terbatas menjalankan

                 perusahaan, kegiatan Perseroan Terbatas diharapkan dapat mendatangkan

                 keuntungan atau laba.

            d. Melakukan hubungan hukum sendiri

                 Sebagai badan hukum, perseroan melakukan sendiri hubungan hukum

                 dengan pihak ketiga yang diwakili oleh pengurus yang disebut Direksi dan

                 Komisaris. Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan

                 untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di

                 dalam maupun di luar pengadilan. Dalam melaksanakan kegiatannya

                 tersebut, Direksi berada dalam pengawasan Dewan Komisaris, yang dalam

                 hal – hal tertentu membantu Direksi dalam menjalankan tugasnya tersebut.



          2. Perseroan Terbatas didirikan Berdasarkan Perjanjian

                   Kemudian        disebutkan       pula     bahwa      Perseroan      Terbatas      didirikan

          berdasarkan perjanjian, hal ini menunjukkan sebagai suatu perkumpulan dari

          orang – orang yang bersepakat mendirikan sebuah badan usaha yang berbentuk




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            28




          Perseroan Terbatas. Ketentuan Pasal 7 ayat ( 1 ) UUPT menyatakan bahwa

          perseroan didirikan oleh dua ( 2 ) orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat

          dalam bahasa Indonesia. Rumusan ini pada dasarnya mempertegas kembali makna

          perjanjian sebagai mana diatur dalam ketentuan umum mengenai perjanjian yang

          ada dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. Sebagai perjanjian “ khusus “

          yang bernama, perjanjian pembentukan Perseroan Terbatas ini juga tunduk

          sepenuhnya pada syarat – syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam

          Pasal 1320 Kitab Undang – Undang Hukum Perdata, disamping ketentuan khusus

          yang diatur dalam UUPT tersebut. Perjanjian pendirian Perseroan terbatas yang

          dilakukan oleh para pendiri tersebut dituangkan dalam suatu akta notaris yang

          disebut dengan akta pendirian. Akta pendirian ini pada dasarnya mengatur

          berbagai macam hak – hak dan kewajiban para pihak pendiri perseroan dalam

          mengelola dan menjalankan Perseroan Terbatas tersebut. Hak – hak dan

          kewajiban tersebut merupakan isi perjanjian selanjutnya disebut dengan anggaran

          dasar perseroan sebagaimana ditegaskan kembali di dalam Pasal 8 ayat ( 1 )

          UUPT. 34



          3. Menjalankan Usaha Tertentu

                   Perseroan Terbatas sebagai suatu badan usaha harus menjalankan kegiatan

          usaha. Melakukan kegiatan usaha artinya menjalankan perusahaan. Kegiatan

          usaha yang dilakukan oleh Perseroan Terbatas adalah dalam bidang perekonomian

          dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba. Kegiatan usaha yang


                   34
                        Ahmad Yani & Gunawan, Op. Cit, hal. 11




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            29




          dilakukan oleh Perseroan Terbatas haruslah kegiatan usaha yang halal, artinya

          kegiatan Perseroan Terbatas harus sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian

          Perseroan Terbatas serta tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang –

          undangan, ketertiban umum, dan atau kesusilaan. Perseroan tidak dapat didirikan

          dan dijalankan jika tidak memiliki tujuan dan kegiatan usaha yang jelas. 35



          4. Memiliki Modal yang terbagi dalam Saham – saham

                   Sebagai suatu badan hukum yang independen, dengan hak – hak dan

          kewajiban – kewajiban mandiri, lepas dari hak – hak dan kewajiban – kewajiban

          para pemegang sahamnya maupun para pengurusnya, perseroan jelas harus

          memiliki harta kekayaan tersendiri dalam menjalankan kegiatan usahanya serta

          untuk melaksanakan hak – hak dan kewajiban – kewajibannya. Untuk itu pada

          saat perseroan didirikan, bahkan sebelum permohonan pengesahan akta pendirian

          perseroan ke Menteri Hukum dan HAM, para pendiri telah harus menyetorkan

          sekurang – kurangnya 50 % dari seluruh modal yang ditempatkan atau

          dikeluarkan perseroan yang diambil bagian oleh para pendiri. 36



          5. Memenuhi Persyaratan Undang - Undang

                   Setiap perseroan harus memenuhi persyaratan UUPT dan peraturan

          pelaksanaannya mulai dari pendiriannya, beroperasinya, dan berakhirnya. Hal ini

          menunjukkan bahwa UUPT menganut sistem tertutup ( closed system ). 37



                   35
                      Ibid
                   36
                      Ibid
                   37
                      Ibid, hal. 9 – 13




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            30




          B. Prosedur Pendirian PT Menurut UU No. 1 Tahun 1995

          1. Akta Pendirian

                   Perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta notaris yang

          dibuat dalam bahasa Indonesia. Yang dimaksud dengan orang disini adalah orang

          perseorangan atau badan hukum. Di Jepang, dalam UU perseroannya disebutkan,

          untuk mendirikan Perseroan Terbatas yang dikenal dengan sebutan Kabushiki

          Kaisha, setidak – tidaknya 7 ( tujuh ) orang pendiri harus menandatangani Akta

          Pendirian, yang harus disahkan oleh Notaris. Sedang di Amerika Serikat, sesuai

          dengan system pemerintahannya yang bersifat Federal, maka ketentuan Hukum

          Perseroannya pun berbeda antara satu negara bagian                       dengan negara bagian

          lainnya. Misalnya di negara bagian Columbia ( District of Columbia ), PT dikenal

          dengan istilah Joint Stock Corporation. Menurut UU yang berlaku di distrik ini,

          untuk mendirikan PT setidak – tidaknya harus ada 3 orang yang telah berusia 18

          tahun. 38 Sedangkan di dalam Pasal 2.64 BW baru Belanda dijelaskan, badan

          hukum ( Rechtpersoon ) ialah suatu badan hukum yang dapat mempunyai harta

          kekayaan, hak serta kewajiban seperti orang pribadi. 39

                   Dalam Undang – Undang tentang Perseroan ini berlaku prinsip bahwa

          pada dasarnya sebagai badan hukum, perseroan dibentuk berdasarkan perjanjian,

          dan karena itu mempunyai lebih dari satu orang pemegang saham. Setiap pendiri

          perseroan wajib mengambil bagian saham pada saat perseroan didirikan. Apabila

          setelah perseroan disahkan ( oleh Menteri Hukum dan HAM RI ) kemudian


                   38
                      Sudargo Gautama, Ikhtisar Hukum Perseroan Berbagai Negara Yang Penting Bagi
          Indonesia, ( Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1991 ), hal. 1
                   39
                      Rachmat Soemitro, Hukum Perseroan Terbatas, Yayasan Dan Wakaf, ( Bandung :
          Eresco, 1993 ), hal. 10




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            31




          jumlah pemegang saham menjadi kurang dari dua orang ( perseorangan / badan

          hukum ), maka dalam waktu enam bulan terhitung sejak keadaan tersebut

          pemegang saham yang bersangkutan wajib mengalihkan sebagian sahamnya

          kepada orang lain (yang tidak merupakan kesatuan harta). 40

                    Sebagaimana telah diketahui di atas bahwa Perseroan Terbatas didirikan

          berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu, untuk dapat mendirikan Perseroan

          Terbatas paling sedikit harus ada dua orang, bila kurang dari jumlah tersebut

          adalah tidak mungkin sebab satu orang bukan merupakan perjanjian. Jadi harus

          ada orang lain yang diajak mengadakan perjanjian, sehingga ada kata sepakat

          untuk mendirikan Perseroan Terbatas. Dalam hal ini sangat terbuka kemungkinan

          jumlah orang yang mendirikan Perseroan Terbatas tidak dibatasi maksimalnya.

          Salah satu yang penting seperti yang telah disebutkan tadi terdapat kata sepakat,

          karena itu sebagai syarat sahnya suatu perjanjian. 41

                    Perjanjian pendirian Perseroan Terbatas dalam Pasal 7 ayat ( 1 ) UU No. 1

          Tahun 1995 ditetapkan, bahwa perjanjian itu dilakukan dengan Akta Notaris

          dalam Bahasa Indonesia. Jika diperhatikan ketentuan tersebut bukanlah suatu

          kewajiban hukum, sebab perjanjian yang dilakukan di bawah tangan tetap sah

          asalkan memenuhi syarat – syarat yang ditetapkan dalam Pasal 1320 KUH Perdata

          yaitu :

            a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

            b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan

            c. Suatu hal tertentu

                    40
                         I. G. Rai Widjaja, Op. Cit, hal. 14
                    41
                         Ibid.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            32




            d. Suatu sebab yang halal

                   Dalam hukum pembuktian akta otentik dipandang sebagai suatu alat bukti

          yang mengikat dan sempurna, artinya bahwa apa yang tertulis di dalam akta

          tersebut harus dapat dipercaya kebenarannya dan tidak memerlukan tambahan alat

          bukti lain.

                   Pendirian Perseroan Terbatas diawali dengan pembuatan perjanjian tertulis

          oleh para pihak, yang kemudian dituangkan dalam akta otentik yang dibuat di

          hadapan seorang notaris. Akta otentik tersebut merupakan akta pendirian

          Perseroan Terbatas, yang berisikan anggaran dasar merupakan keterangan lainnya

          diperlukan dalam rangka pendirian Perseroan Terbatas. Tanpa adanya akta

          pendirian maka suatu PT tidak akan mendapat pengesahan oleh Menteri

          Kehakiman dan HAM. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 9 ayat (1) UU No. 1 Tahun

          1995 yaitu untuk memperoleh pengesahan harus dilampirkan akta pendirian

          perseroan. Dalam akta pendirian juga harus memuat Anggaran Dasar.

                   Sejak ditandatanganinya akta pendirian perseroan telah berdiri dan

          hubungan antara para pendiri adalah hubungan kontraktual karena pereseroan

          belum memperoleh status badan hukum. 42 Para pendiri PT yang melakukan

          perbuatan hukum sebelum pengesahan diperoleh akan menjadi “ personal liable “

          apabila oleh perseroan terbatas tidak diambil oper kewajiban sesuai dengan

          ketentuan dalam Pasal 11 UU No. 1 Tahun 1995. 43




                   42
                     C.S.T. Kansil & Christine S. T. Kansil, Pokok – Pokok Hukum Perseroan Terbatas
          Tahun 1995, ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1997 ), hal 35
                  43
                     Sudargo Gautama, Komentar Atas UU Perseroan Terbatas Tahun 1991 No. 1
          Perbandingan Dengan Peraturan Lama, ( Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 1995 ), hal. 14




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            33




                   Oleh karena hubungan para pendiri masih bersifat kontraktual, maka bagi

          pihak ketiga di luar perseroan apabila ingin mengadakan perbuatan hukum dengan

          perseroan yang belum disahkan menjadi badan hukum, perlu memperhatikan hal –

          hal yang tercantum pada Pasal 11 UU No. 1 Tahun 1995 yang menyatakan bahwa

          perbuatan hukum oleh para pendiri untuk kepentingan perseroan yang dilakukan

          sebelum perseroan disahkan, mengikat perseroan setelah menjadi badan hukum,

          dengan syarat – syarat yaitu :

               1. Perseroan secara tegas menerima semua perjanjian

               2. Perseroan secara tegas menyatakan mengambil alih semua hak dan

                   tanggung jawab yang timbul dari perjanjian yang dibuat pendiri atau orang

                   lain yang ditugaskan pendiri.

               3. Atau perseroan mengukuhkan secara tertulis atas semua perbuatan hukum

                   yang dilakukan atas nama perseroan.

                   Apabila ketiga hal di atas oleh perseroan tidak diterima maka segala

          perbuatan hukum meskipun atas nama perseroan, sebelum pengesahan menjadi

          badan hukum menjadi tanggung jawab secara pribadi dari masing – masing

          pendiri yang melakukannya. Oleh karena itu perbuatan hukum tersebut perlu

          disetujui semua pendiri / pemegang saham dan direksi perseroan dengan

          menandatangani semua dokumen perbuatan hukum yang telah disepakati supaya

          dikemudian hari tidak menimbulkan permasalahan.

                   Kewenangan perseroan untuk mengukuhkan perbuatan hukum di atas ada

          pada Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ), tetapi mengingat bahwa RUPS

          belum bisa diselenggarakan segera setelah perseroan disahkan maka pengukuhan




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            34




          dilakukan oleh seluruh pendiri atau pemegang saham dan direksi perseroan.

          Selama belum dikukuhkan, baik karena perseroan tidak jadi didirikan atau

          disahkan atau pun perseroan tidak melakukan pengukuhan, maka perseroan tidak

          terikat.

                     Adapun perbuatan hukum yang harus dicantumkan oleh pendiri dalam akta

          pendirian yaitu : 44

               1. Perbuatan hukum yang berkaitan dengan susunan dan penyertaan modal

                     serta susunan saham perseroan, yang dilakukan oleh pendiri sebelum

                     perseroan didirikan, harus dicantumkan dalam akta pendirian. Perbuatan

                     hukum yang dimaksud antara lain mengenai penyetoran saham dalam

                     bentuk atau cara lain dari uang tunai.

               2. Naskah asli atau salinan resmi akta otentik mengenai perbuatan hukum

                     sebagaimana dimaksud dalam ayat ( a ) dilekatkan pada akta pendirian.

                     Yang dimaksud dengan “ dilekatkan “ adalah semua dokumen yang

                     memuat perbuatan hukum yang terkait dengan pendirian perseroan yang

                     bersangkutan harus ditempatkan sebagai satu kesatuan dengan akta

                     pendirian. Penyatuan dilakukan dengan cara melekatkan atau menjahitkan

                     dokumen tersebut sebagai satu kesatuan dengan akta pendirian.

               3. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) dan ayat ( 2 )

                     tidak dipenuhi, maka perbuatan hukum tersebut tidak menimbulkan hak

                     dan kewajiban bagi perseroan. Dalam hal perbuatan hukum sebagaimana

                     dimaksud dalam ayat a tidak dicantumkan dalam akta pendirian dan atau

                     44
                    C.S.T. Kansil & Christine S. T. Kansil, Hukum Perusahaan Indonesia aspek hukum
          dalam ekonomi bagian 1, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 2005 ), hal 120




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            35




                   tidak dilampirkan sesuai ketentuan ayat ( 2 ), maka perbuatan hukum

                   tersebut hanya mengikat perseroan apabila dikukuhkan menurut ketentuan

                   Pasal 11 ( Pasal 10 ) UU No. 1 Tahun 1995.

                   Perbuatan hukum yang dilakukan para pendiri untuk kepentingan

          perseroan sebelum perseroan disahkan, mengikat perseroan setelah perseroan

          menjadi badan hukum apabila : 45

               a. Perseroan secara tegas menyatakan menerima semua perjanjian yang

                   dibuat oleh pendiri atau orang lain ditugaskan pendiri dengan pihak ketiga.

               b. Perseroan secara tegas menyatakan mengambil alih semua hak dan

                   kewajiban yang timbul dari perjanjian yang dibuat oleh pendiri atau orang

                   lain yang ditugaskan pendiri, walaupun perjanjian tidak dilakukan atas

                   nama perseroan; atau

               c. Perseroan mengukuhkan secara tertulis semua perbuatan hukum yang

                   dilakukan atas nama perseroan. Ketentuan ini mengatur tata cara yang

                   harus ditempuh untuk mengalihkan kepada perseroan hak dan atau

                   tanggung jawab yang timbul dari perbuatan hukum pendiri yang dibuat

                   setelah perseroan didirikan tetapi belum disahkan menjadi badan hukum,

                   melalui penerimaan secara tegas, pengambilalihan hak serta tanggung

                   jawab dan pengukuhan perbuatan hukum dimaksud.

               d. Dalam hal perbuatan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di atas

                   tidak diterima, tidak diambil alih, atau tidak dikukuhkan oleh perseroan,

                   maka masing – masing pendiri yang melakukan perbuatan hukum tersebut


                   45
                        Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            36




                   bertanggung jawab secara pribadi atas segala akibat yang timbul.

                   Kewenangan            perseroan      untuk      mengukuhkan          perbuatan       hukum

                   sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) di atas ada pada RUPS. Tetapi

                   mengingat bahwa RUPS biasanya belum dapat diselenggarakan segera

                   setelah perseroan disahkan maka pengukuhan dilakukan oleh seluruh

                   pendiri, pemegang saham dan direksi. Selama belum dikukuhkan, baik

                   karena perseroan tidak jadi didirikan atau disahkan ataupun karena

                   perseroan tidak melakukan pengukuhan, maka perseroan tidak terikat

                   (Pasal 11 UU No. 1 Tahun 1995).

                   Akta pendirian perseroan ini mempunyai fungsi intern dan ekstern. Fungsi

          intern, yaitu sebagai aturan main para pemegang saham dan organ perseroan.

          Sedang fungsi ekstern terhadap pihak ketiga sebagai identitas dan pengaturan

          tanggung jawab perbuatan hukum yang dilakukan oleh orang yang berhak atas

          nama Perseroan Terbatas. 46

          Dalam Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1995 dinyatakan bahwa : 47

               1. Akta pendirian memuat Anggaran Dasar dan keterangan lain sekurang –

                   kurangnya :

                          a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan dan tempat

                              tinggal, dan kewarganegaraan pendiri

                          b. Susunan, nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan,

                              tempat tinggal, dan kewarganegaraan anggota Direksi dan

                              Komisaris yang pertama sekali diangkat; dan

                   46
                        C.S.T. Kansil & Christine S. T. Kansil, Op. Cit, hal 34
                   47
                        Lihat UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT, Pasal 8




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            37




                        c. Nama pemegang saham dan nilai nominal atau nilai yang

                             diperjanjikan dari saham yang telah ditempatkan dan disetor pada

                             saat pendirian.

               2. Akta pendirian tidak boleh memuat

                        a. Ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas saham, dan

                        b. Ketentuan tentang pemberian keuntungan pribadi kepada pendiri

                             atau pihak lain.

                   Berdasarkan ketentuan Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1995 ini, di dalam akta

          pendirian Perseroan Terbatas harus secara jelas menyebutkan identitas persero,

          identitas anggota Direksi dan Komisaris yang pertama sekali diangkat, dan

          keterangan mengenai nama persero yang telah mengambil bagian saham, rincian

          jumlah saham, nilai nominal saham, atau nilai yang diperjanjikan dari saham yang

          telah ditempatkan dan disetor pada saat pendirian Perseroan Terbatas yang

          bersangkutan.

                   Akta pendirian juga harus memuat identitas pendiri dan organ Perseroan

          Terbatas, sehingga dari sini dapat diketahui kewarganegaraan pendiri dan organ

          Perseroan Terbatas, apakah Warga Negara Indonesia, atau warga negara asing. Di

          samping itu, juga harus memperhatikan unsur alih teknologi dan pengetahuan jika

          mempekerjakan warga negara asing. Memang, pada dasarnya badan hukum

          Indonesia yang berbentuk Perseroan Terbatas didirikan oleh Warga Negara

          Indonesia, tetapi kepada warga negara asing diberi kesempatan untuk mendirikan

          badan hukum Indonesia yang berbentuk perseroan sepanjang Undang – Undang




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            38




          yang mengatur bidang usaha Perseroan Terbatas tersebut diatur dengan Undang –

          Undang tersendiri. 48

                   Anggaran dasar juga merupakan bagian dari akta pendirian Perseroan

          Terbatas. Sebagai bagian dari akta pendirian, anggaran dasar memuat aturan main

          dalam perseroan yang menentukan setiap hak dan kewajiban dari pihak – pihak

          dalam anggaran dasar, baik perseroan itu sendiri, pemegang saham ataupun

          pengurus. Anggaran dasar Perseroan Terbatas baru berlaku bagi pihak ketiga

          setelah akta pendirian perseroan disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi

          Manusia.

                   Adapun yang wajib dimuat dalam anggaran dasar perseroan sebagaimana

          ditentukan dalam Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1995 meliputi : 49

               1. Nama dan tempat perseroan

               2. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan yang sesuai dengan

                   peratuan perundang – undangan yang berlaku

               3. Jangka waktu berdirinya perseroan

               4. Besarnya jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan, dan modal yang

                   disetor;

               5. Jumlah saham, jumlah klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham

                   untuk tiap klasifikasi, hak – hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai

                   nominal setiap saham;

               6. Susunan, jumlah, dan nama anggota Direksi dan Komisaris;

               7. Penempatan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS;

                   48
                        Racmadi Usman, Op. Cit, hal 59–61
                   49
                        Ibid, hal 68 – 69




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            39




               8. Tata cara pemilihan, pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian

                   sementara anggota Direksi dan Komisaris;

               9. Tata cara penggunaan dan pembagian deviden; dan

               10. Ketentuan – ketentuan lain menurut UU No. 1 Tahun 1995.



          2. Pengesahan

                   Undang – Undang Perseroan Terbatas mewajibkan pengesahan akta

          pendirian suatu Perseroan Terbatas oleh Menteri sebelum Perseroan Terbatas

          tersebut dapat memiliki status badan hukum, sebagai suatu subjek mandiri dalam

          hukum, yang memiliki hak – hak, kewajiban – kewajiban dan harta kekayaan

          tersendiri. Saat pengesahan tersebut merupakan satu – satunya saat mulai

          berlakunya sifat kemandirian tersebut. Untuk memperoleh suatu pengesahan, para

          pendiri oleh kuasanya mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri dengan

          melampirkan akta pendirian perseroan.

          Dalam Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1995 dinyatakan bahwa : 50

               1. Akta pendirian memuat Anggaran Dasar dan keterangan lain sekurang –

                   kurangnya :

                          a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan dan tempat

                              tinggal, dan kewarganegaraan pendiri

                          b. Susunan, nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan,

                              tempat tinggal, dan kewarganegaraan anggota Direksi dan

                              Komisaris yang pertama sekali diangkat; dan


                   50
                        Lihat UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT, Pasal 8




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            40




                           c. Nama pemegang saham dan nilai nominal atau nilai yang

                               diperjanjikan dari saham yang telah ditempatkan dan disetor pada

                               saat pendirian.

                 2. Akta pendirian tidak boleh memuat

                           a. Ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas saham, dan

                           b. Ketentuan tentang pemberian keuntungan pribadi kepada pendiri

                               atau pihak lain.

                    Adapun yang wajib dimuat dalam anggaran dasar perseroan sebagaimana

          ditentukan dalam Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1995 meliputi : 51

            1.      Nama dan tempat perseroan

            2.      Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan yang sesuai dengan

                    peratuan perundang – undangan yang berlaku

            3.      Jangka waktu berdirinya perseroan

            4.      Besarnya jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan, dan modal yang

                    disetor;

            5.      Jumlah saham, jumlah klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham

                    untuk tiap klasifikasi, hak – hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai

                    nominal setiap saham;

            6.      Susunan, jumlah, dan nama anggota Direksi dan Komisaris;

            7.      Penempatan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS;

            8.      Tata cara pemilihan, pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian

                    sementara anggota Direksi dan Komisaris;


                    51
                         Racmadi Usman, Op. Cit, hal 68 – 69




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            41




            9.     Tata cara penggunaan dan pembagian deviden; dan

            10.    Ketentuan – ketentuan lain menurut UU No. 1 Tahun 1995.

                   Pengesahan akta pendirian perseroan diberikan dalam waktu paling lama

          60 hari setelah permohonan diterima. Dalam hal permohonan ditolak, penolakan

          tersebut akan diberitahukan kepada pemohon secara tertulis disertai dengan

          alasannya.

                   Dalam KUH Dagang tidak ada ketentuan jangka waktu, sehingga tidak

          mustahil jika dalam kenyataannya akta pendirian yang dimohonkan itu baru

          disahkan setelah lebih dari jangka waktu 60 hari. Undang – Undang No. 1 Tahun

          1995 memberikan batas jangka waktu dan ini membuktikan bahwa pemerintah

          akan sungguh – sungguh memberikan pelayanan yang wajar. Menurut pemerintah

          ketentuan yang demikian bermaksud menyederhanakan tata cara pendirian

          Perseroan Terbatas. Dan dengan catatan apabila dalam jangka waktu yang

          ditentukan tidak dilakukan pengesahan ataupun penolakan, pemerintah telah

          melakukan pelanggaran dan dapat digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara

          (PTUN). Pasal 7 ayat (6) UU No. 1 Tahun 1995 ditegaskan Perseroan Terbatas

          memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian disahkan oleh Menteri.

          Pengesahan adalah merupakan syarat mutlak.

                   Namun, bukan saja pada waktu pendirian saja dimohonkan pengesahan

          dari Menteri Kehakiman dan HAM, tetapi untuk setiap perubahan dari anggaran

          dasar harus pula dimintakan pengesahan Menteri Kehakiman dan HAM. 52 Sebab

          jika tidak demikian, maka lembaga pengesahan Menteri Kehakiman dan HAM


                   52
                        Lihat Kitab Undang – Undang Hukum Dagang, Pasal 36 ayat ( 4 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            42




          sebagai lembaga pengontrol tidak akan mempunyai kekuatan efektif. Karena itu

          untuk setiap perubahan anggaran dasar, maka ketentuan perubahan tersebut

          barulah berlaku efektif manakala perubahan tersebut sudah memperoleh

          pengesahan dari Menteri Kehakiman dan HAM.

                   Dalam anggaran dasar ada 2 ( dua ) ketentuan yang dicantumkan dalam

          anggaran dasar, yang sebenarnya bukan bagian dari anggaran dasar. Adapun 2

          (dua) ketentuan tersebut adalah : 53

               a. Tentang susunan pemegang saham yang biasanya dicantumkan / tercantum

                   dalam anggaran pada awal pendirian PT

               b. Tentang susunan pengurus yang biasanya dicantumkan dalam anggaran

                   dasar PT pada waktu asal pendirian PT.

                   Manakala terjadi perubahan mengenai kedua hal tersebut, tidaklah perlu

          dimohonkan pengesahan Menteri Kehakiman dan HAM, melainkan cukup

          diperkuat dengan Akta Berita Acara RUPS. 54 Tidak semua perubahan anggaran

          dasar memerlukan pengesahan Menteri Kehakiman dan HAM, melainkan menurut

          Pasal 15 ( 2 ) yang diperlukan pengesahan Menteri Kehakiman dan HAM dalam

          hal :

               a. Nama perseroan

               b. Maksud dan tujuan perseroan

               c. Kegiatan usaha perseroan




                   53
                       Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas disertai dengan Ulasan
          menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1995 cetakan kedua, ( Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,
          1996 ), hal 153
                   54
                      Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            43




               d. Jangka waktu berdirinya perseroan, apabila Anggaran Dasar menetapkan

                   jangka waktu tertentu.

               e. Besarnya modal dasar

               f. Pengurusan modal ditempatkan dan disetor

               g. Status perseroan tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya.

                   Sedangkan permohonan persetujuan atas perubahan Anggaran Dasar

          ditolak apabila : 55

               a. Bertentangan dengan ketentuan mengenai tata cara perubahan Anggaran

                   Dasar

               b. Isi perubahan bertentangan dengan peraturan perundang – undangan,

                   ketertiban umum, dan atau kesusilaan, atau

               c. Ada sanggahan dari kreditor atas keputusan RUPS mengenai pengurangan

                   modal.



          3. Pendaftaran

                   Menurut ketentuan Pasal 21 Undang – Undang No. 1 Tahun 1995,

          kewajiban untuk melakukan pendaftaran tersebut dibebankan kepada Direksi

          Perseroan. Akta pendirian dan surat pengesahan dari Menteri Kehakiman wajib

          didaftarkan dalam Daftar Perusahaan dalam waktu paling lambat 30 ( tiga puluh )

          hari setelah pengesahan. Adapun yang wajib didaftarkan adalah :




                   55
                        Ibid, hal 154.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            44




               1. Akta pendirian beserta surat pengesahan oleh Menteri Hukum dan HAM;

               2. Akta perubahan anggaran dasar beserta surat persetujuan Menteri atas

                   perubahan – perubahan yang disyaratkan persetujuannya;

               3. Akta perubahan anggaran dasar beserta laporan yang disampaikan kepada

                   Menteri atas perubahan – perubahan yang disyaratkan pelaporannya

                   kepada Menteri. 56



          4.Pengumuman

                   Perseroan yang telah didaftar sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 21

          UU No. 1 Tahun 1995 diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik

          Indonesia. Permohonan pengumuman perseroan dilakukan direksi dalam waktu

          paling lambat 30 ( tiga puluh ) hari terhitung sejak pendaftaran. Tata cara

          pengajuan permohonan pengumuman dilakukan sesuai dengan peraturan

          perundang – undangan yang berlaku.



          C. Prosedur Pendirian PT Menurut UU No. 40 Tahun 2007

          1. Akta Pendirian

                   Di dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prosedur

          pendirian PT juga tidak banyak berubah dengan prosedur pendirian PT yang

          ditentukan oleh UU No. 1 Tahun 1995. Prosedur pendirian PT di dalam UU No.

          40 Tahun 2007 tentang PT diatur di dalam Pasal 7 sampai dengan Pasal 14

          (delapan pasal).

                   56
                     Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Perseroan Terbatas, ( Jakarta :
          Raja Grafindo Persada, 1999 ), hal. 31




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            45




                   Menurut Pasal 7 ayat ( 1 ) UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, dikatakan

          bahwa “ Perseroan didirikan minimal oleh 2 ( dua ) orang atau lebih dengan akta

          notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia “. 57 Pada prinsipnya, sebagai badan

          hukum, maka pendirian Perseroan memang harus dilakukan dengan perjanjian

          dengan lebih dari 1 ( satu ) orang pendiri atau pemegang saham yakni dengan

          bantuan Notaris di daerah hukum tempat dimana para pendiri berada. Menurut

          Undang – Undang ini, yang dimaksud dengan “ orang “ adalah orang

          perseorangan, baik Warga Negara Indonesia maupun yang asing atau badan

          hukum Indonesia atau asing. 58

                   Pada saat Perseroan didirkan, setiap pendiri Perseroan wajib mengambil

          saham. 59 Alasan mengambil bagian saham pada “ Perseroan Baru “ adalah para

          pemegang saham dari Perseroan yang meleburkan diri sedangkan pendiri dari “

          Perseroan Baru “ yang didirkan dalam rangka peleburan adalah badan hukum

          Perseroan yang meleburkan diri. 60 Apabila Perseroan memperoleh status badan

          hukum pemegang sahamnya menjadi kurang dari 2 ( dua ), dalam jangka waktu

          paling lama 6 ( enam ) bulan terhitung sejak keadaan tersebut, pemegang saham

          yang bersangkutan wajib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang lain atau

          Perseroan mengeluarkan saham baru kepada orang lain. 61 Setelah jangka waktu 6

          ( enam ) bulan dilampaui, pemegang saham tetap kurang dari 2 ( dua ) orang,

          maka keadaan ini akan berpengaruh pada pertanggung jawaban, yakni pemegang


                   57
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 1 )
                   58
                      Disampaikan dalam perkuliahan Hukum Dagang I oleh Mulhadi
                   59
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 2 )
                   60
                      Dikutip dari Sosialisasi Undang – Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007
          tentang Perseroan Terbatas, pada tanggal 22 Agustus 2007 di Puri Agung, Jakarta.
                   61
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 5 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            46




          saham bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian

          Perseroan, dan atas permohonan pihak yang berkepentingan, Pengadilan Negeri
                                                             62
          dapat membubarkan Perseroan tersebut.                   Akan tetapi, menurut Pasal 7 ayat ( 7 )

          UU No. 40 Tahun 2007, ketentuan pemegang saham minimal 2 ( dua ) orang atau

          lebih tidak berlaku bagi :

               a. Perseroan yang sahamnya dimiliki oleh negara;

               b. Perseroan yang mengelola bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan,

                   lembaga penyimpanan dan penyelesaian, dan lembaga lain sebagaimana

                   diatur dalam Undang – Undang tentang Pasar Modal.

                   Berbeda dengan UUPT Tahun 2007 sebagaimana diatur dalam ketentuan

          Pasal 7 ayat ( 7 ) di atas, maka UUPT Tahun 1995 ( Pasal 7 ayat ( 5 ) ) mengatur

          bahwa ketentuan yang mewajibkan perseroan didirikan oleh 2 ( dua ) orang atau

          lebih atau minimal memiliki 2 ( dua ) orang pemegang saham tidak berlaku bagi

          Perseroan yang merupakan Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ).

                   Ketentuan Pasal 7 ayat ( 7 ) UUPT Tahun 2007 tentu saja mengandung

          makna berbeda dengan ketentuan Pasal 7 ayat ( 5 ) UUPT Tahun 1995. Hal ini

          berarti bahwa tidak semua BUMN yang dikecualikan untuk memiliki pemegang

          saham kurang dari 2 ( dua ) orang tetapi hanya BUMN yang berstatus Persero

          (Perusahaan Persero) yang keseluruhan sahamnya dimiliki oleh negara. Menurut

          UUPT Tahun 2007 ini, pengecualian itu diperluas, tidak hanya bagi BUMN

          berstatus Persero tetapi juga termasuk dalam hal ini Perseroan Terbatas yang

          khusus bergerak di bidang bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga


                   62
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 6 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            47




          penyimpanan dan penyelesaian, dan lembaga lain sebagaimana diatur dalam

          Undang – Undang tentang Pasar Modal.

                   Akta pendirian PT memuat anggaran dasar dan keterangan “lain“ berkaitan

          dengan pendirian Perseroan. Bila para pendiri tidak memiliki waktu luang dalam

          pembuatan akta pendirian, para pendiri dapat diwakili oleh orang lain berdasarkan

          surat kuasa. Adapun keterangan “ lain “ memuat sekurang – kurangnya : 63

                   a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, dan

                          kewarganegaraan pendiri perseorangan, atau nama, tempat kedudukan

                          dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal Keputusan Menteri

                          mengenai pengesahan badan hukum dari pendiri Perseroan.

                   b. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal,

                          kewarganegaraan anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang pertama

                          kali diangkat;

                   c. Nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian

                          jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan

                          disetor.



          2. Pengesahan

                   Agar Perseroan diakui secara resmi sebagai badan hukum, akta pendirian

          dalam bentuk akta notaris tersebut harus diajukan oleh para pendiri secara

          bersama – sama melalui sebuah permohonan untuk memperoleh Keputusan

          Menteri ( Menteri Hukum dan HAM ) mengenai pengesahan badan hukum


                   63
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 8 ayat ( 2 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            48




          Perseroan. Pengajuan permohonan pengesahan dilakukan dengan melampirkan

          akta pendirian yang di dalamnya terdapat anggaran dasar dari perusahan.

          Anggaran dasar memuat sekurang – kurangnya : 64

               a. Nama dan tempat kedudukan Perseroan

               b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan

               c. Jangka waktu berdirinya Perseroan

               d. Besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor

               e. Jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk

                   tiap klasifikasi, hak – hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai

                   nominal setiap saham

               f. Nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan Komisaris

               g. Penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS

               h. Tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota Direksi dan

                   Dewan Komisaris

               i. Tata cara penggunaan laba dan pembagian deviden

                   Anggaran dasar tidak boleh memuat : 65

               a. Ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas saham, dan

               b. Ketentuan tentang pemberian manfaat pribadi kepada pribadi atau pihak

                   lain




                   64
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 15 ayat ( 1 )
                   65
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 15 ayat ( 3 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            49




                   Pengajuan permohonan itu dilakukan melalui jasa teknologi informasi

          sistem administrasi badan hukum secara elektronik kepada Menteri dengan

          mengisi format isian ( Akta Notaris Model I ) yang memuat sekurang –

          kurangnya: 66

               a. Nama dan tempat kedudukan Perseroan

               b. Jangka waktu berdirinya Perseroan

               c. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan

               d. Jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor

               e. Alamat lengkap Perseroan

                   Permohonan pengesahan Perseroan tidak boleh memakai nama yang : 67

               a. Telah dipakai secara sah oleh Perseroan lain atau sama pada pokoknya

                   dengan nama Perseroan lain

               b. Bertentangan dengan ketertiban umum dan / atau kesusilaan

               c. Sama atau mirip dengan nama lembaga negara, lembaga pemerintah, atau

                   lembaga internasional, kecuali mendapat izin dari yang bersangkutan

               d. Tidak sesuai dengan maksud dan tujuan, serta kegiatan usaha, atau

                   menunjukkan maksud dan tujuan Perseroan saja tanpa nama diri

               e. Terdiri atas angka atau rangkaian angka, huruf atau rangkaian huruf yang

                   tidak membentuk kata; atau

               f. Mempunyai arti sebagai Perseroan, badan hukum, atau persekutuan

                   perdata.




                   66
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 9 ayat ( 1 )
                   67
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 16 ayat ( 1 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            50




                   Pengajuan permohonan pengesahan badan hukum Perseroan dilakukan

          oleh Notaris sebagai kuasa dari pendiri. Notaris mengajukan permohonan kepada

          Menteri atau Pejabat yang ditunjuk. 68 Permohonan diajukan oleh Notaris melalui
                            69
          Sisminbakum            dengan cara mengisi Format Isian Akta Notaris ( FIAN ) model I

          setelah pemakaian nama disetujui Menteri atau Pejabat yang ditunjuk dan

          dilengkapi keterangan mengenai dokumen pendukung. 70 . Di dalam Pasal 4

          PERMEN KEHAKIMAN & HAM No. M – 01 – HT. 01 – 10 Tahun 2007 tentang

          Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan

          Perubahan Anggaran Dasar, Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran

          Dasar dan Perubahan Data Perseroan dikatakan bahwa Menteri atau Pejabat yang

          ditunjuk dapat menyatakan tidak berkeberatan atau menolak permohonan yang

          diajukan dan dilakukan langsung melalui Sisminbakum.

                   Jika FIAN dan keterangan mengenai dokumen pendukung telah sesuai

          dengan ketentuan peraturan perundang – undangan, Menteri atau Pejabat yang

          ditunjuk langsung menyatakan tidak berkeberatan atas permohonan yang

          bersangkutan. Dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung

          sejak tanggal pernyataan tidak berkeberatan, Notaris yang bersangkutan wajib

          menyampaikan secara fisik surat permohonan yang dilampiri dokumen


                   68
                      Lihat peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor:
          M-01-HT.01-10 tahun 2007 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum
          dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar, Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran
          Dasar dan Perubahan Data Perseroan, Pasal 2
                   69
                      Sisminbakum atau Sistem Administrasi Badan Hukum adalah jenis pelayanan yang
          diberikan kepada masyarakat dalam proses pengesahan badan hukum Perseroan dan proses
          pemberian persetujuan perubahan anggaran dasar, penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran
          dasar dan perubahan data Perseroan serta pemberian informasi lainnya secara elektronik, yang
          diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum.
                   70
                      Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor: M-01-
          HT.01-10 tahun 2007, Loc. Cit, Pasal 3 ayat ( 1 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            51




          pendukung dan dibuktikan dengan tanda terima. Dokumen pendukung yang

          dimaksud adalah : 71

               a. Salinan akta pendirian Perusahaan dan salinan akta perubahan pendirian

                   Perseroan, jika ada;

               b. Salinan akta peleburan dalam hal pendirian perseroan dilakukan dalam

                   rangka peleburan;

               c. Bukti pembayaran biaya untuk:

                   1) Persetujuan pemakaian nama;

                   2) Pengesahan badan hukum Perseroan; dan

                   3) Pengumuman dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia

               d. Bukti setor modal Perseroan berupa:

                   1) Slip setoran atau keterangan bank atas nama Perseroan atau rekening

                          bersama atas nama para pendiri atau pernyataan telah menyetor modal

                          Perseroan yang ditandatangani oleh semua anggota Direksi bersama-

                          sama semua pendiri serta semua anggota Dewan Komisaris Perseroan,

                          jika setoran modal dalam bentuk uang;

                   2) Keterangan penilaian dari ahli yang tidak terafiliasi atau bukti

                          pembelian barang jika setoran modal dalam bentuk lain selain uang

                          yang disertai pengumuman dalam surat kabar jika setoran dalam

                          bentuk benda tidak bergerak;

                   3) Peraturan Pemerintah dan/atau surat keputusan Menteri Keuangan bagi

                          Perseroan Persero; atau


                   71
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            52




                   4) Neraca dari Perseroan atau neraca dari badan usaha bukan badan

                        hukum yang dimasukkan sebagai setoran modal.

               e. Surat keterangan alamat lengkap Perseroan dari Pengelola Gedung atau

                   surat pernyataan tentang alamat lengkap Perseroan yang ditandatangani

                   oleh semua anggota Direksi bersama-sama semua pendiri serta semua

                   anggota Dewan Komisaris Perseroan; dan

               f. Dokumen pendukung lain dari instansi terkait sesuai dengan peraturan

                   perundang-undangan.

                   Jika semua persyaratan telah dipenuhi secara lengkap, paling lambat 7

          (tujuh) hari, Menteri atau Pejabat yang ditunjuk menerbitkan keputusan tentang

          pengesahan badan hukum Perseroan. Pengesahan badan hukum Perseroan

          ditandatangani secara elektronik. Bentuk tanda tangan ternyata mempunyai variasi

          yang cukup banyak, tidak baku harus berupa tanda tangan dengan tinta, sehingga

          tanda tangan elektronik (termasuk di dalamnya tanda tangan digital) sah sebagai

          tanda tangan sepanjang proses cryptography dilaksanakan dengan benar. 72

                   Apabila di kemudian hari terjadi suatu tindak kejahatan yang dilakukan

          oleh sebuah PT, maka seluruh dokumen yang dimiliki oleh PT dapat dijadikan

          sebagai alat bukti yang sah termasuk juga tanda tangan elektronik yang digunakan

          dalam pengesahan PT tersebut. Black’s Law Dictionary menyebutkan kejahatan

          korporasi atau corporate crime adalah any criminal offense committed by and

          hence chargeable to a corporation because of activities of its officers or



                   72
                    Raharjo Ignasius Sumarsono, Informasi Elektronik Pada Electronic - Commerce
          Dalam Hukum Pembuktian Perdata, < http : // www. Lib.unair.ac.id >, yang diakses pada tanggal
          23 Mei 2008, hal 1




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            53




          employees (e.g., price fixing, toxic waste dumping), often referred to as “white

          collar crime. 73

                   Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh

          karena itu dapat dibebankan padasuatu korporasi karena aktivitas-aktivitas

          pegawai atau karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah), sering

          juga disebut sebagai “kejahatan kerah putih”.

                   Sally. A. Simpson yang mengutip pendapat John Braithwaite menyatakan

          kejahatan korporasi adalah : 74

          "conduct of a corporation, or employees acting on behalf of a corporation, which

          is proscribed and punishable by law".

                   Aparat penegak hukum, seperti kepolisian juga pada umumnya lebih

          sering menindak aksi-aksi kejahatan konvensional yang secara nyata dan faktual

          terdapat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Ada beberapa beberapa faktor

          yang mempengaruhi hal ini. 75

               1. Kejahatan-kejahatan yang dilaporkan oleh masyarakat hanyalah kejahatan-

                   kejahatan konvensional. Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas

                   aparat kepolisian sebagian besar didasarkan atas laporan anggota

                   masyarakat, sehingga kejahatan yang ditangani oleh kepolisian juga turut

                   bersifat konvensional.




                   73
                        Henry Campbell Black, Op. Cit, hal. 339.
                   74
                         Sally S. Simpson, Strategy, Structure and Corporate Crime, ( 4 Advances in
          Criminological Theory, 1993 ), hal 171
                     75
                        Bismar Nasution ( 2 ), Makalah kejahatan korporasi dan pertanggung jawabannya,
          <http : // www. Bismarnasty.wordpress.pdf >, yang diakses pada tanggal 23 Mei 2008, hal 2




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            54




               2. Pandangan masyarakat cenderung melihat kejahatan korporasi atau

                   kejahatan kerah putih bukan sebagai hal-hal yang sangat berbahaya,dan

                   juga turut dipengaruhi.

               3. Pandangan serta landasan hukum menyangkut siapa yang diakui sebagai

                   subjek hukum pidana dalam hukum pidana Indonesia.

               4. Tujuan dari pemidanaan kejahatan korporasi adalah lebih kepada agar

                   adanya perbaikan dan ganti rugi, berbeda dengan pemidanaan kejahatan

                   lain yang konvensional yang bertujuan untuk menangkap dan menghukum.

               5. Pengetahuan aparat penegak hukum menyangkut kejahatan korporasi

                   masih dinilai sangat minim, sehingga terkadang terkesan enggan untuk

                   menindaklanjutinya secara hukum.

               6. Kejahatan korporasi sering melibatkan tokoh-tokoh masyarakatdengan

                   status sosial yang tinggi. Hal ini dinilai dapat mempengaruhi proses

                   penegakan hukum.

                   Berdasarkan KUHP, pembuat Undang – Undang                           akan merujuk pada

          pengurus atau komisaris korporasi jika mereka berhadapan dengan situasi seperti

          itu. 76 Sehingga, jika KUHP Indonesia saat ini tidak bisa dijadikan sebagai

          landasan untuk pertanggungjawaban pidana oleh korporasi, namun hanya

          dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus korporasi.




                   76
                    Jan Remmelink, HUKUM PIDANA, Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab
          Undang-Undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kita Undang-Undang Hukum
          Pidana Indonesia, ( Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003 ), hal. 98.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            55




                   Sistem hukum pembuktian sampai saat ini masih menggunakan ketentuan

          hukum yang lama, yang belum mampu menjangkau pembuktian atas kejahatan –

          kejahatan yang berlaku di cyberspace. 77 Cyberspace adalah dunia maya dimana

          tidak ada lagi batas ruang dan waktu. 78 Hal ini perlu diatur sebab penggunaan

          internet untuk keperluan bisnis dan perdagangan mulai dikenal beberapa tahun

          belakangan ini dan dengan cepat meluas, terutama di negara – negara maju.

          Dengan perdagangan lewat internet ini berkembang pula bisnis virtual, seperti

          virtual store dan virtual company di mana pelaku bisnis menjalankan bisnis dan

          perdagangan melalui media internet 79 dan tidak lagi mengandalkan bisnis

          perusahaan yang konvensional yang nyata. 80 Beberapa hal yang mungkin masuk

          antara lain adalah hal-hal yang terkait dengan kejahatan di dunia maya

          (cybercrime), penyalahgunaan penggunaan komputer, hacking, membocorkan

          password, electronic banking, pemanfaatan internet untuk pemerintahan (e-

          government) dan kesehatan, masalah HaKI, penyalahgunaan nama domain, dan

          masalah privasi. 81 Kejahatan dunia maya atau cyber crime yang sampai dengan

          saat ini pengaturannya masih mengundang tanda tanya. Akibatnya, banyak

          bermunculan tindakan-tindakan atau kasus-kasus illegal namun tidak dapat




                   77
                       Drs. Dikdik M. Arief Mansur & Elisatris Gultom, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi
          Informasi, ( Bandung : PT. Refika Aditama, 2005 ), hal 107
                    78
                        Budi Rahardjo, Cyberlaw : Teritori dalam cyberspace, realitas dan virtualitas,
          <http://Budi.insan.co.id >, yang diakses pada tanggal 23 Mei 2008, hal 1
                    79
                       Internet adalah sarana bisnis perusahaan dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan
          bisnis perusahaan. Setiap penyalahgunaan sarana internet ini akan membawa akibat tindakan
          disiplin bagi para pelakunya.
                    80
                       Asri Sitompul, Hukum Internet Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di Cyberspace,
          (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2001 ), hal xiii
                    81
                       Budi Rahardjo, Loc. Cit, hal 2




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            56




          dikategorikan sebagai crime. 82 Sebab alat bukti yang sah yang diakui oleh sistem

          hukum Indonesia adalah: keterangan saksi – saksi, keterangan ahli, surat,

          petunjuk, keterangan terdakwa. 83 Namun demikian keberadaan Undang – Undang

          No. 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan telah mulai menjangkau ke arah

          pembuktian data elektronik. 84

                   Digital Signature merupakan alat untuk mengidentifikasi suatu pesan yang

          dikirimkan. Dengan kata lain pembubuhan digital signature di samping bertujuan

          untuk memastikan pesan bahwa pesan tersebut bukan dikirimkan oleh orang lain,

          tetapi memang dikirimkan oleh pengirim yang dimaksud, juga untuk memastikan

          keutuhan dari dokumen selama proses transmisi tidak berubah. 85

          Jadi digital signature ini dibutuhkan untuk 86

               a. Mengidentifikasi si pengirim ;

               b. Memastikan bahwa isi dari pesan tersebut tidak berubah selama dalam

                   proses transmisi ;

               c. Menyakinkan bahwa si pengirim untuk kemudian tidak dapat menyangkal

                   pesan yang dikirimkan




                   82
                       Singgih, Kejahatan Korporasi yang Mengerikan, ( Tangerang : Pusat Studi Hukum
          Bisnis Fakultas Hukum Universitas PelitaHarapan, 2005 ), hal. 9
                   83
                      Lihat UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, Pasal 184 ayat ( 1 )
                   84
                      Isis Ikhwansyah, Prinsip – prinsip Universal bagi Kontrak melalui E – Commerce dan
          Sistem Hukum Pembuktian Perdata dalam Teknologi Informasi, ( Bandung : Elips, 2002 ), hal 33
                   85
                      Flora Elisabeth, Keabsahan Tanda Tangan Elektronik ( Digital Signature ) Menurut
          Kitab Undang – Undang Hukum Perdata Indonesia ( KUH Perdata ),
          <http://www.digilib.ui.edu.pdf >, yang diakses pada tanggal 23 Mei 2008, hal 1
                   86
                      Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            57




                   Dengan disahkannya UU Informasi dan Transaksi Elektronik ( UU No. 11

          Tahun 2008 ) maka Informasi Elektronik dan / atau Dokumen Elektronik dan /

          atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah. 87 Untuk mendapatkan

          kekuatan hukum dan akibat hukum yang sama dengan tanda tangan manuskrip,

          sebuah tanda tangan elektronik harus mampu memberikan jaminan integritas dari

          akta elektronik dan mampu mengidentifikasi si Penandatangan dari akta

          elektronik ini. 88 Jadi tanda tangan elektronik tersebut dapat dijadikan sebagai alat

          bukti yang sah juga apabila terjadi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh PT.



          3. Pendaftaran

                   Di dalam UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT yang melakukan pendaftaran

          setelah diperoleh pengesahan dibebankan kepada Direksi Perseroan maka di

          dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT ini maka yang menyelenggarakan daftar

          perseroan setelah diperoleh pengesahan adalah Menteri yang memberikan

          pengesahan badan hukum dan memasukkan data perseroan secara langsung. 89

                   Daftar perseroan memuat data tentang Perseroan yang meliputi : 90

               a. Nama dan tempat kedudukan, maksud dan tujuan serta kegiatan usaha,

                   jangka waktu pendirian, dan permodalan

               b. Alamat lengkap Perseroan




                   87
                    Lihat UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE Pasal 5 ayat ( 1 )
                   88
                    Julius Indra Dwipayono Singara, Pengakuan Tanda Tangan ElektronikDalam Hukum
          Pembuktian Indonesia,< http : // www.legalitas.ord > , yang diakses pada tanggal 23 Mei 2008,
          hal 3
                 89
                    Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT Pasal 29 ayat ( 1 )
                 90
                    Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT Pasal 29 ayat ( 2 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            58




               c. Nomor dan tanggal akta pendirian dan Keputusan Menteri mengenai

                   pengesahan badan hukum Perseroan

               d. Nomor dan tanggal akta perubahan anggaran dasar dan persetujuan

                   Menteri

               e. Nomor dan tanggal akta perubahan anggaran dasar dan tanggal

                   penerimaan pemberitahuan oleh Menteri

               f. Nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta pendirian dan

                   akta perubahan anggaran dasar

               g. Nama lengkap dan alamat pemegang saham, anggota Direksi dan anggota

                   Dewan Komisaris Perseroan

               h. Nomor dan tanggal akta pembubaran atau nomor dan tanggal penetapan

                   pengadilan tentang pembubaran Perseroan yang telah diberitahukan

                   kepada Menteri

               i. Berakhirnya status badan hukum Perseroan

               j. Neraca dan laporan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan bagi

                   Perseroan yang wajib diaudit.

                   Data Perseroan dimasukkan dalam daftar perseroan pada tanggal yang

          bersamaan dengan tanggal : 91

               a. Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan,

                   persetujuan atas perubahan anggaran dasar yang memerlukan persetujuan

               b. Penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar yang tidak

                   memerlukan persetujuan, atau


                   91
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 29 ayat ( 3 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            59




               c. Penerimaan pemberitahuan perubahan data Perseroan yang bukan

                   merupakan perubahan anggaran dasar.

                   Daftar Perseroan yang diselenggarakan oleh Menteri ini sesuai dengan

          ketentuan peraturan perundang – undangan di bidang pasar modal dan terbuka

          untuk umum.



          4. Pengumuman

                   Pengumuman pendirian PT ini juga dilakukan oleh Menteri yang

          mengesahkan PT di dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia: 92

               a. Akta pendirian Perseroan beserta Keputusan Menteri

               b. Akta perubahan anggaran dasar Perseroan berserta Keputusan Menteri

               c. Akta perubahan anggaran dasar yang telah diterima pemberitahuannya

                   oleh Menteri.

                   Pengumuman ini dilakukan dalam waktu paling lambat 14 ( empat belas )

          hari terhitung sejak tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri atau sejak

          diterimanya pemberitahuan. Tujuan dari pendaftaran dan pengumuman ini adalah

          untuk memenuhi asas publisitas, yang bertujuan agar masyarakat luas mengetahui

          seluruh informasi yang berkaitan dengan perseroan tersebut. 93




                   92
                     Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 30 ayat ( 1 )
                   93
                     Wirawan, Mendirikan Perseroan Terbatas, < http : // www.google.com, > prosedur
          pendirian PT, yang diakses pada tanggal 23 Mei 2008, hal 1




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            60




                                    BAB III
               PERUBAHAN – PERUBAHAN DALAM PENDIRIAN PERSEROAN
                 TERBATAS SETELAH KELUARNYA UU NO. 40 TAHUN 2007




          A. Pendirian Perseroan

                   Perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta Notaris yang

          dibuat dalam Bahasa Indonesia. Yang dimaksud dengan orang disini adalah orang

          perseorangan atau badan hukum.

                   Dalam Undang – Undang tentang perseroan ini berlaku prinsip bahwa

          pada dasarnya sebagai badan hukum, perseroan dibentuk berdasarkan perjanjian,

          dan karena itu mempunyai lebih dari satu orang pemegang saham. Setiap pendiri

          perseroan wajib mengambil saham pada saat perseroan didirikan. Apabila setelah

          perseroan disahkan ( oleh Menteri Hukum dan HAM RI ) kemudian jumlah

          pemegang saham menjadi kurang dari dua orang ( perseorangan / badan hukum ),

          maka dalam waktu 6 ( enam ) bulan terhitung sejak keadaan tersebut pemegang

          saham yang bersangkutan wajib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang

          lain ( yang tidak merupakan kesatuan harta ). 94

                   Sebagimana telah diketahui di atas bahwa Perseroan Terbatas didirikan

          berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu, untuk dapat mendirikan Perseroan

          Terbatas paling sedikit harus ada dua orang, bila kurang dari jumlah tersebut

          adalah tidak mungkin sebab satu orang bukan merupakan perjanjian. Jadi harus

          ada orang lain yang diajak mengadakan perjanjian, sehingga ada kata sepakat


                   94
                        I. G. Rai Widjaja, Op. Cit, hal 14




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            61




          untuk mendirikan Perseroan Terbatas. Dalam hal ini sangat terbuka kemungkinan

          jumlah orang yang mendirikan Perseroan Terbatas tidak dibatasi maksimalnya.

          Salah satu yang penting seperti yang telah disebutkan tadi terdapat kata sepakat,

          karena itu syarat sahnya suatu perjanjian. 95

                   Namun perubahan yang ada setelah disahkannya UU No. 40 Tahun 2007

          tentang PT yang tidak terdapat di dalam UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT yaitu :

               a. Bahwa di dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, setiap pendiri

                   Perseroan yang wajib mengambil bagian saham pada saat Perseroan

                   didirikan tidak berlaku dalam rangka peleburan. 96 Alasan yang mengambil

                   bagian saham pada “Perseroan baru“ adalah para pemegang saham dari

                   Perseroan yang meleburkan diri sedangkan pendiri dari “ Perseroan baru “

                   yang didirikan dalam rangka Peleburan adalah badan hukum Perseroan

                   yang meleburkan diri. 97

               b. Bahwa di dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Perseroan

                   memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya Keputusan

                   Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseoan bukan “ setelah

                   Akta Pendirian disahkan oleh Menteri “ ( Pasal 7 ayat ( 6 ) UU PT No. 1

                   Tahun 1995 ). 98

               c. Bahwa di dalam UU No. 1 Tahun 1995 Perseroan didirikan oleh 2 ( dua )

                   orang atau lebih tidak berlaku bagi perseroan yang merupakan BUMN

                   tetapi di dalam UU No. 40 Tahun 2007, Pengecualian tersebut tidak

                   95
                      Ibid, hal 14
                   96
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 3 )
                   97
                       Dikutip dari Sosialisasi Undang – Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007
          tentang Perseroan Terbatas, pada tanggal 22 Agustus 2007 di Puri Agung, Jakarta.
                   98
                      Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                             62




                   berlaku bagi Persero yang seluruh sahamnya dimiliki negara atau

                   Perseroan yang mengelola bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan,

                   lembaga penyimpanan dan penyelesaian dan lembaga lain yang diatur

                   dalam UU tentang Pasar Modal

               d. Dalam hal pengajuan permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri

                   mengenai pengesahan badan hukum, paling lambat 60 ( enam puluh ) hari

                   terhitung sejak tanggal akta pendirian ditandatangani dilengkapi

                   keterangan mengenai dokumen pendukung. Menteri langsung menyatakan

                   tidak berkeberatan atau memberitahukan penolakan secara elektronik. 99

                   Dan apabila semua persyaratan telah terpenuhi maka Menteri menerbitkan

                   keputusan         tentang     pengesahan        badan      hukum       Perseroan         yang

                   ditandatangani secara elektronik. 100 Hal ini tidak diatur di dalam UU No. 1

                   Tahun 1995 tentang PT dikarenakan pada saat itu teknologi informatika

                   belum menjadi sesuatu yang begitu penting bagi masyarakat.



          B. Tata Cara Pendirian Perseroan

                   Pendirian Perseroan Terbatas diawali dengan pembuatan perjanjian tertulis

          antara para pihak, yang kemudian dituangkan dalam akta otentik yang dibuat di

          hadapan Notaris yang dibuat dalam Bahasa Indonesia. Akta otentik tersebut

          merupakan akta pendirian Perseroan Terbatas, yang berisikan anggaran dasar

          merupakan keterangan yang diperlukan dalam rangka pendirian Perseroan

          Terbatas. Perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya

                   99
                        Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 10 ayat ( 4 )
                   100
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 10 ayat ( 6 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            63




          Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan.101 Kemudian

          untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum

          Perseroan, pendiri bersama – sama mengajukan permohonan melalui jasa

          teknologi informasi sistem adminitrasi badan hukum secara elektronik kepada
                                                          102
          Menteri dengan mengisi format isian.                  Pengisian format isian didahului dengan

          pengajuan nama Perseroan.

                   Permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri harus diajukan kepada

          Menteri paling lambat 60 ( enam puluh ) hari terhitung sejak tanggal akta

          pendirian       ditandatangani,        dilengkapi        keterangan       mengenai         dokumen

          pendukung. 103 Apabila semua persyaratan telah dipenuhi secara lengkap, paling

          lambat 14 (empat belas) hari, Menteri menerbitkan keputusan tentang pengesahan

          badan hukum Perseroan yang ditandatangani secara elektronik. 104 Setelah

          mengesahkan badan hukum Perseroan, Menteri menyelenggarakan daftar

          perseroan yang memuat data tentang Perseroan. Data Perseroan dimasukkan

          dalam daftar perseroan pada tanggal yang bersamaan dengan tanggal Keputusan

          Menteri tentang pengesahan badan hukum Perseroan, persetujuan atas perubahan

          anggaran dasar yang memerlukan persetujuan, penerimaan pemberitahuan

          perubahan anggaran dasar yang tidak memerlukan persetujuan atau penerimaan

          pemberitahuan data Perseroan yang bukan merupakan perubahan anggaran

          dasar. 105 Daftar perseroan tersebut terbuka untuk umum.



                   101
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 4 )
                   102
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 9 ayat ( 1 )
                   103
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 10 ayat ( 1 )
                   104
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 10 ayat ( 6 )
                   105
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 29 ayat ( 3 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            64




                   Setelah Menteri menyelenggarakan Daftar Perseroan kemudian Menteri

          mengumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia yaitu : akta

          pendirian Perseroan berserta Keputusan Menteri, akta perubahan Anggaran Dasar

          Perseroan berserta Keputusan Menteri dan akta perubahan anggaran dasar yang

          telah diterima pemberitahuannya oleh Menteri. 106 Pengumuman dilakukan oleh

          Menteri dalam waktu paling lambat 14 ( empat belas ) hari terhitung sejak tanggal

          diterbitkannya Keputusan Menteri. 107



          C. Anggaran Dasar dan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan

                   Muatan anggaran dasar dan perubahan anggaran dasar yang diatur di

          dalam UU No. 40 Tahun 2007 sama dengan Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1995

          kecuali : 108

               a. Pasal 12 ayat ( 1 ) huruf f telah diubah menjadi nama jabatan dan jumlah

                   anggota Direksi dan Dewan Komisaris pada Pasal 15 ayat ( 1 ).

               b. Ketentuan pada Pasal 12 ayat ( 1 ) huruf j, dihapus dijadikan Pasal 15 ayat

                   ( 2 ) dan berbunyi sebagai berikut : “ anggaran dasar dapat juga memuat

                   ketentuan lain yang tidak bertentangan dengan UU ini “

                   Nama Perseroan yang “ tidak boleh dipakai “, sama dengan UU No. 1

          Tahun 1995 ditambah dengan ketentuan yang dimuat dalam Peraturan Pemerintah

          No. 26 tahun 1998 hanya ada sedikit perubahan mengenai kata “ mirip “ diubah “



                   106
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 30 ayat ( 1 )
                   107
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 30 ayat ( 2 )
                   108
                       Dikutip dari Sosialisasi Undang – Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007
          tentang Perseroan Terbatas, pada tanggal 22 Agustus 2007 di Puri Agung, Jakarta.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            65




          sama pada pokoknya“. 109 Dan juga dalam UU No. 40 Tahun 2007 ini tempat

          kedudukan Perseroan lebih diperjelas yaitu di daerah Kota atau Kabupaten dan

          tempat kedudukan tersebut sekaligus merupakan kantor pusat Perseroan(pasal 17).

                   Alamat lengkap Perseroan tidak diwajibkan di dalam anggaran dasar

          hanya diwajibkan dalam format isian yang diajukan ke Menteri Hukum dan HAM

          serta surat menyurat, pengumuman, barang cetakan dan akta dimana Perseroan

          menjadi pihak sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat ( 3 ) UU No. 40 Tahun

          2007.

                   Perubahan anggaran dasar ada yang memerlukan persetujuan Menteri dan

          ada yang cukup diberitahukan kepada Menteri. 110 Yang memerlukan persetujuan

          Menteri sama dengan yang diatur di dalam Pasal 15 ayat ( 2 ) UU No. 1 Tahun

          1995. Perubahan anggaran dasar harus dimuat atau dinyatakan dalam akta Notaris

          dalam Bahasa Indonesia. 111 Perubahan anggaran dasar yang tidak dimuat dalam

          akta berita acara rapat yang dibuat notaris harus dinyatakan dalam akta notaris

          paling lambat 30 ( tiga puluh ) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS.

          Apabila batas waktu 30 ( tiga puluh ) hari tersebut lewat maka tidak boleh

          dinyatakan dalam akta Notaris.

                   Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar disampaikan kepada

          Menteri paling lambat 30 ( tiga puluh ) hari terhitung sejak tanggal akta notaris

          yang memuat perubahan anggaran dasar. Apabila melewati batas maka tidak dapat

          diajukan atau disampaikan kepada Menteri. Khusus perubahan anggaran dasar

          mengenai perpanjangan jangka waktu berdirinya Perseroan yang ditetapkan dalam
                   109
                       Ibid
                   110
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 21
                   111
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 21 ayat ( 4 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            66




          anggaran dasar, permohonan persetujuannya harus diajukan kepada Menteri

          paling lambat 60 ( enam puluh ) hari sebelum jangka waktu berdirinya Perseroan

          berakhir dan Menteri memberikan persetujuannya paling lambat pada tanggal

          terakhir berdirinya Perseroan. 112 Berlakunya perubahan anggaran dasar secara

          efektif bagi Perseroan yaitu : pada tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri

          mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar dan tanggal diterbitkannya surat

          penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar dari Menteri. 113



          D. Daftar Perseroan dan Pengumuman

                   Di dalam UU No. 1 Tahun 1995, daftar Perseroan diselenggarakan oleh

          Direksi sedangkan di dalam UU No. 40 Tahun 2007, daftar Perseroan

          diselenggarakan oleh Menteri. Menteri yang memberikan pengesahan badan

          hukum dan persetujuan perubahan anggaran dasar serta menerima pemberitahuan

          perubahan anggaran dasar menyelenggarakan daftar perseroan dan memasukkan

          data perseroan secara langsung.

                   Demikian pula dengan pengumuman dalam Tambahan Berita Negara RI

          akan dilakukan oleh Menteri dalam jangka waktu paling lambat 14 ( empat belas )

          hari terhitung sejak tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai

          pengesahan status badan hukum Perseroan atau persetujuan perubahan anggaran

          dasar atau diterimanya pemberitahuan perubahan anggaran dasar Perseroan oleh

          Menteri. 114


                   112
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 22
                   113
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 23
                   114
                       Dikutip dari Sosialisasi Undang – Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2007
          tentang Perseroan Terbatas, pada tanggal 22 Agustus 2007 di Puri Agung, Jakarta.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            67




                                  BAB IV
            AKIBAT HUKUM PENDIRIAN PT SETELAH UU NO. 40 TAHUN 2007


          A. Pendiri PT

                   Seperti telah ditegaskan sebelumnya bahwa Perseroan Terbatas terbentuk

          karena adanya perjanjian dari 2 ( dua ) orang atau lebih. 115 Para pihak yang telah

          sepakat untuk mendirikan suatu badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas ini

          disebut sebagai pendiri. Pada awalnya para pendiri dapat melakukan persiapan –

          persiapan yang diperlukan untuk pendirian perseroan tersebut, baik mengenai

          susunan, penyertaan modal serta susunan saham perseroan. Pada masa persiapan

          ini para pendiri sudah mulai melakukan perbuatan hukum yang nantinya akan

          mempunyai akibat pada perseroan yang didirikannya itu dan juga akan membawa

          akibat tersendiri bagi pihak yang bersangkutan mengingat sudah adanya hak dan

          kewajiban yang timbul akibat dari perbuatan hukum yang telah dilakukan tadi.

                   Pada fase ini, penyetoran saham yang dilakukan oleh pendiri dalam bentuk

          lain yang tidak berupa uang tunai, misalnya gedung beserta tanahnya, demikian

          pula pembelian barang – barang yang dilakukan oleh pendiri, misalnya pabrik

          beserta perlengkapannya, semata – mata dilakukan dengan tujuan untuk

          memberikan modal ( harta kekayaan ) pada perseroan dan memisahkannya dari

          harta kekayaan pribadi masing – masing para pendirinya. Penyetoran saham

          seperti itu yang berupa gedung, pabrik dan perlengkapannya akan menimbulkan

          suatu hak yang oleh doktrin di Nederland dinamakan hak milik ekonomi




                   115
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 1 ayat ( 1 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            68




          (economic eigendom ) dari para pendiri PT tersebut. 116 Modal tersebut merupakan

          suatu kesatuan dan ditempatkan sebagai kekayaan PT yang dipisahkan dari harta

          kekayaan masing – masing pendiri.

                   Pemilikan bersama yang terjadi dalam masa persiapan pendirian PT

          merupakan kepemilikan bersama yang bebas karena pada masa persiapan ini apa

          yang dilakukan oleh pendiri semata – mata merupakan perjanjian pendahuluan

          dan PT – nya sendiri belum terbentuk, dimana pada azasnya setiap hak yang

          dimiliki seseorang dapat dialihkan kepada orang lain. Dalam keadaan ini tujuan

          para pihak adalah untuk bersama – sama memiliki. Oleh karena itu pendiri dalam

          masa persiapan pendirian PT ini belum mempunyai kedudukan apapun dan

          bertanggung jawab secara pribadi atas perbuatan hukum yang dilakukannya. Ada

          suatu kewajiban bahwa naskah asli atau akta otentik mengenai perbuatan hukum

          dari para pendiri itu dilekatkan menjadi satu pada akta pendiriannya.117 Kelalaian

          melakukan keharusan itu akan berakibat perseroan tidak terikat pada hak dan

          kewajiban yang timbul akibat perbuatan hukum yang dilakukan para pendiri serta

          tidak mengikat perseroan. 118 Apabila tidak tuntasnya formalitas pendirian

          perusahaan maka dapat diterapkan teori Piercing Corporate Veil. 119 Dalam hal ini

          tidak bertujuan secara langsung untuk melindungi pihak tertentu, seperti pihak




                   116
                       Agus Budiarto, Op. Cit, hal 94.
                   117
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 12 ayat ( 2 )
                   118
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 12 ayat ( 4 )
                   119
                       Chatamarrasjid, Menyingkap Tabir Perseroan (Piercing the Corporate Veil) Kapita
          Selekta Hukum Perusahaan, ( Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2000 ), hal 5




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            69




          minoritas atau pihak ketiga, tetapi semata – mata untuk menegakkan hukum agar

          formalitas tersebut dipenuhi. 120

                   Di dalam keadaan PT sudah didirikan dengan akta pendirian yang dibuat

          oleh Notaris namun belum mendapat pengesahan sebagai badan hukum,

          kepemilikan bersama tersebut bersifat mengikat, dimana keadaan pemilikan

          bersama tersebut adalah sebagai akibat dari pendirian PT – nya. Dengan demikian,

          para pendiri tidaklah bebas untuk mengadakan pemisahan dan pembagian. Setiap

          pendiri wajib mengambil bagian saham pada saat Perseroan didirikan. 121

                   Perbuatan hukum yang dilakukan calon pendiri untuk kepentingan

          Perseroan yang belum didirikan, mengikat Perseroan setelah Perseroan menjadi

          badan hukum dengan persyaratan : 122

               a. PT secara tegas menyatakan menerima semua perjanjian yang telah dibuat

                   oleh pendiri atau

               b. PT mengambil alih semua hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian

                   yang dibuat pendiri walaupun tidak dilakukan atas nama PT.

               c. Mengukuhkan secara tertulis semua perbuatan hukum yang dilakukan atas

                   nama PT.

                   Apabila perbuatan hukum tersebut tidak diterima, tidak diambil alih atau

          tidak dikukuhkan oleh PT, sehingga masing – masing pendiri yang melakukan

          perbuatan hukum tersebut bertanggung jawab secara pribadi atas segala akibat

          yang timbul. Perbuatan hukum atas nama Perseroan yang belum memperoleh


                   120
                     Munir Fuady, Doktrin – Doktrin Modern Dalam Corporate Law Eksistensinya Dalam
          Hukum Indonesia, ( Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2002 ), hal 11
                 121
                     Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 1 )
                 122
                     Irna Nurhayati, Op. Cit, hal 1




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            70




          status badan hukum, hanya boleh dilakukan oleh semua anggota Direksi bersama

          – sama semua pendiri serta semua anggota Dewan Komisaris Perseroan dan

          mereka semua bertanggung jawab secara tanggung renteng atas perbuatan hukum

          tersebut. 123 Dalam hal perbuatan hukum dilakukan oleh pendiri atas nama

          Perseroan yang belum memperoleh status badan hukum, perbuatan hukum

          tersebut menjadi tanggung jawab pendiri yang bersangkutan dan tidak mengikat

          Perseroan. 124 Perbuatan hukum tersebut menjadi tanggung jawab Perseroan

          setelah Perseroan menjadi badan hukum. 125 Akan tetapi, perbuatan hukum

          tersebut hanya mengikat dan menjadi tanggung jawab Perseroan setelah perbuatan

          hukum tersebut disetujui oleh semua pemegang saham dalam RUPS yang dihadiri

          oleh semua pemegang saham Perseroan. 126



          B. Pemegang Saham

                   Suatu Perseroan Terbatas dapat hanya memiliki satu jenis saham atau

          beberapa jenis saham sekaligus. Pembagian saham kepada berbagai jenis tersebut

          disebut dengan klasifikasi saham. 127 Menurut penjelasan atas Pasal 53 ayat ( 1 )

          UUPT klasifikasi saham adalah pengelompokan saham berdasarkan karakteristik

          yang sama. Akan tetapi sugguhpun ada banyak jenis saham, salah satu jenis

          tersebut harus merupakan “ saham biasa “. Yang dimaksud dengan “saham biasa“




                   123
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 14 ayat ( 1 )
                   124
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 14 ayat ( 2 )
                  125
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 14 ayat ( 3 )
                  126
                      Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 14 ayat ( 4 )
                  127
                      Munir Fuady, Hukum Perusahaan Dalam Paradigma Hukum Bisnis, ( Bandung : PT.
          Citra Aditya Bakti, 1999 ), hal 27




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            71




          adalah suatu saham yang memberikan kepada pemiliknya hal – hal sebagai

          berikut: 128

               1. Hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham

               2. Hak menerima pembagian dividen

               3. Hak menerima sisa kekayaan dalam proses likuidasi

                   Dalam ilmu hukum perseroan, ada beberapa jenis saham sebagai

          berikut: 129

               a. Saham atas nama

               b. Saham atas tunjuk

               c. Saham biasa

               d. Saham preferens

               e. Saham preferens kumulatif

               f. Saham preferens kumulatif profit sharing

               g. Saham preferens non kumulatif

               h. Saham prioritas

               i. Saham pendiri

               j. Saham bonus

               k. Saham konversi

               l. Saham disetujui

               m. Saham tidak disetujui

               n. Saham yang dinilai

               o. Saham yang dibayar penuh

                   128
                         Ibid
                   129
                         Ibid, hal 28




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            72




               p. Saham dinaikkan

               q. Saham donasi

               r. Saham tebusan

               s. Saham treasury

               t. Saham terjamin

                   Saham – saham tersebut di atas dimiliki oleh pemegang saham. Di

          samping Komisaris dan Direktur, pemegang saham juga merupakan organ

          perusahaan. Dengan demikian, pada prinsipnya, yang merupakan organ

          perusahaan adalah bukan pemegang sahamnya, tetapi Rapat Umum Pemegang

          Saham tersebut. Sebab dalam banyak hal ( walaupun tidak selamanya ), pemegang

          saham hanya dapat bertindak lewat mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham.

          Hanya dalam beberapa hal saja pemegang saham dapat bertindak tidak lewat

          mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham. Sehingga, dalam hal ini, pihak

          pemegang saham ( bukan Rapat Umum Pemegang Saham ) juga telah cenderung

          menjadi organ perusahaan yang keempat, di samping direktur, komisaris dan

          Rapat Umum Pemegang Saham. 130 Mengingat keberadaan organ RUPS sangat

          penting dalam PT, segala keputusan yang hendak diambil pun harus mengacu

          kepada aturan dalam PT. Aturan yang dimaksud selain ketentuan peraturan

          perundang – undangan dalam PT, anggaran dasar PT juga merupakan ketentuan

          lain yang berkaitan dengan bidang usaha PT yang bersangkutan. 131




                   130
                         Munir Fuady, Op. Cit, hal 43.
                   131
                         Sentosa Sembiring, Op. Cit, hal 34




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            73




          Secara rinci tugas dan wewenang yang dimiliki oleh RUPS adalah : 132

          a. RUPS mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau

               Dewan Komisaris, dalam batas yang ditentukan dalam Undang – Undang dan

               / atau anggaran dasar

          b. Dalam forum RUPS, pemegang saham berhak memperoleh keterangan yang

               berkaitan dengan Perseroan dari Direksi dan / atau Dewan Komisaris,

               sepanjang berhubungan dengan mata acara rapat dan tidak bertentangan

               dengan kepentungan Perseroan

                   Di dalam UU No. 40 Tahun 2007 RUPS dapat dilakukan melalui media

          telekonferensi, video konferensi, atau sarana media elektronik lainnya yang

          memungkinkan semua peserta RUPS saling melihat dan mendengar secara

          langsung serta berpartisipasi dalam rapat. 133 Jadi pemegang saham bisa tidak

          hadir di tempat diselenggarakannya RUPS apabila ia menggunakan media

          elektronik yang memungkinkan saling melihat dan mendengan secara langsung

          satu sama yang lain.


                   Setelah Perseroan disahkan sebagai badan hukum, setiap pendiri Perseroan

          wajib mengambil bagian saham pada saat Perseroan didirikan. Setelah Perseroan

          memperoleh status badan hukum dan pemegang saham menjadi kurang dari 2

          (dua) orang, dalam jangka waktu paling lama 6 ( enam ) bulan terhitung sejak

          keadaan tersebut pemegang saham yang bersangkutan wajib mengalihkan

          sebagian sahamnya kepada orang lain atau Perseroan mengeluarkan saham baru



                   132
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 75
                   133
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 77 ayat ( 1 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            74




          kepada orang lain. 134 Dalam jangka waktu telah dilampaui, pemegang saham

          bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian Perseroan,

          dan atas permohonan pihak yang berkepentingan, Pengadilan Negeri dapat

          membubarkan Perseroan tersebut. Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung

          jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak

          bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki. 135

          Pemegang saham akan diberi bukti pemilikan saham yang dimilikinya. 136

                   Pemegang saham dan kreditor lainnya yang mempunyai tagihan terhadap

          Perseroan tidak dapat menggunakan hak tagihnya sebagai kompensasi kewajiban

          penyetoran atas harga saham yang telah diambilnya, kecuali disetujui oleh RUPS.

          Hak tagih terhadap Perseroan yang dapat dikompensasi dengan setoran saham

          adalah hak tagih atas tagihan terhadap Perseroan yang timbul karena : 137

               a. Perseroan telah menerima uang atau penyerahan benda berwujud atau

                   benda tidak berwujud yang dapat dinilai dengan uang

               b. Pihak yang menjadi penanggung atau penjamin utang Perseroan telah

                   membayar lunas utang Perseroan sebesar yang ditanggung atau dijamin

               c. Perseroan menjadi penanggung atau penjamin utang dari pihak ketiga dan

                   Perseroan telah menerima manfaat berupa uang atau barang yang dapat

                   dinilai dengan uang yang langsung atau tidak langsung secara nyata telah

                   diterima Perseroan.




                   134
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 7 ayat ( 5 )
                   135
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 3 ayat ( 1 )
                   136
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 51
                   137
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 35 ayat ( 2 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                              75




                   Saham yang dimiliki oleh pemegang saham memberikan hak kepada

          pemegang saham. Adapun hak – hak yang dimiliki oleh para pemegang saham

          antara lain : 138

               1. Hak Memesan efek

                   Dalam UUPT dikemukakan bila PT menerbitkan saham yang baru,

                   terlebih dahulu ditawarkan kepada pemegang saham lama ( Lihat Pasal 43

                   UUPT ). Dalam rangka memenuhi kewajiban pasal tersebut, maka pihak

                   manajemen          perusahaan      menawarkan         ke    pemegang       saham         lama.

                   Sedangkan pihak pemegang saham lama melakukan pemesanan saham

                   yang akan diterbitkan.

               2. Hak Mengajukan Gugatan ke Pengadilan

                   Bila pemegang saham melihat tindakan yang dilakukan oleh Rapat Umum

                   Pemegang Saham, Komisaris, Direksi dapat membahayakan kelangsungan

                   PT, maka pemegang saham dapat mengajukan gugatan ke pengadilan

                   bahwa tindakan yang dilakukan oleh organ PT tersebut dapat merugikan

                   pemegang saham. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 61 UUPT yang

                   mengemukakan, setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan

                   terhadap perseroan ke Pengadilan Negeri, apabila dirugikan karena

                   tindakan perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan yang wajar

                   sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi atau Komisaris.




                   138
                         Sentosa Sembiring, Op. Cit, hal 61




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            76




               3. Hak Saham dibeli dengan harga yang wajar

                   Ada kemungkinan perseroan akan membeli kembali saham yang telah

                   dikeluarkan. Bila terjadi hal semacam ini, dalam Undang – Undang PT

                   dijelaskan para pemegang saham berhak mendapatkan harga yang wajar

                   terhadap saham yang dipegangnya. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 62 ayat

                   ( 1 ), yang mengemukakan bahwa setiap pemegang saham berhak meminta

                   kepada Perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila

                   yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yang merugikan

                   pemegang saham atau Perseroan, berupa :

                   a. Perubahan anggaran dasar

                   b. Pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai

                        nilai lebih dari 50 % ( lima puluh persen ) kekayaan bersih Perseroan

                   c. Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan atau Pemisahan

               4. Hak Meminta ke Pengadilan Negeri Menyelenggarakan RUPS

                   Pada dasarnya penyelenggaraan RUPS dilakukan sekali dalam setahun.

                   Namun hal tertentu, para pemegang saham dapat meminta diadakan

                   RUPS. Hal ini dijabarkan dalam Pasal 79 UUPT yakni sebagai berikut :

                   a. Direksi menyelenggarakan RUPS tahunan dan RUPS lainnya dengan

                        didahului pemanggilan RUPS

                   b. Penyelenggaraan RUPS dapat dilakukan atas permintaan 1 ( satu )

                        orang atau lebih pemegang saham yang bersama – sama mewakili 1/10

                        ( satu persepuluh ) atau lebih dari jumlah seluruh saham dengan hak




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                              77




                        suara, kecuali anggaran dasar menentukan suatu jumlah yang kecil

                        atau Dewan Komisaris.

                   c. Permintaan sebagaimana yang dimaksud pada ayat ( 2 ) diajukan

                        kepada Direksi dengan Surat Tercatat disertai alasannya

                   d. RUPS yang diselenggarakan Direksi berdasarkan panggilan RUPS

                        membicarakan masalah yang berkaitan dengan alasan sebagaimana

                        dimaksud pada ayat ( 3 ) dan mata acara lainnya yang dipandang perlu

                        oleh Direksi

                   e. RUPS yang diselenggarakan Dewan Komisaris berdasarkan panggilan

                        RUPS sebagaimana pada ayat ( 6 ) huruf b dan ayat ( 2 ) hanya

                        membicarakan masalah yang berkaitan dengan alasan sebagaimana

                        dimaksud pada yata ( 3 )

                   Jika RUPS belum diselenggarakan sebagaimana layaknya, maka

                   pemegang saham berhak meminta kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk

                   menyelenggarakan RUPS. Hal ini dijabarkan dalam Pasal 80 UUPT

                   sebagai berikut :

                   a. Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat

                        kedudukan perseroan dapat memberikan izin kepada pemohon untuk :

                        1) Melakukan sendiri pemanggilan RUPS tahunan, atas permohonan

                             pemegang        saham      apabila      Direksi     atau     Komisaris         tidak

                             menyelenggarakan RUPS tahunan pada waktu yang telah

                             ditentukan,




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            78




                        2) Melakukan sendiri RUPS lainnya, atas permohonan pemegang

                             saham sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 80 ayat ( 1 ),

                             apabila Direksi atau Komisaris setelah lewat waktu 15 (lima belas)

                             hari terhitung sejak tanggal permintaan penyelenggaraan RUPS

                             diterima

                        3) Ketua Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 3 )

                             dapat menetapkan bentuk, isi, dan jangka waktu pemanggilan

                             RUPS serta menunjuk ketua rapat tanpa terikat pada ketentuan

                             undang – undang ini atau Anggaran Dasar

                        4) Dalam hal RUPS diselenggarakan Ketua Pengadilan Negeri dapat

                             memerintahkan Direksi dan atau Komisaris untuk hadir.

                        5) Penetapan Ketua Pengadilan Negeri mengenai pemberian izin

                             sebagaimana yang dimaksud dalam ayat ( 1 ) merupakan penetapan

                             instansi pertama dan terakhir.

               5. Hak Menghadiri RUPS

                   Salah satu hak yang cukup penting bagi pemegang saham adalah

                   menghadiri RUPS. Dalam Pasal 85 UUPT dijelaskan sebagai berikut :

                   a. Pemegang saham dengan hak suara yang sah, baik sendiri maupun

                        dengan kuasa tertulis berhak menghadiri RUPS dan menggunakan hak

                        suaranya

                   b. Dalam pemungutan suara, anggota Direksi, anggota Komisaris, dan

                        karyawan – karyawan Perseroan yang bersangkutan dilarang bertindak




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            79




                          sebagai kuasa dari pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam

                          ayat ( 1 ).

                   Dalam Anggaran Dasar dapat diatur ketentuan – ketentuan pembatasan

          pengalihan saham : 139

               a. Adanya keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada kelompok

                   pemegang saham tertentu atau pemegang saham lainnya, dan atau ;

               b. Keharusan mendapatkan persetujuan dari organ perusahaan;

               c. Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang

                   berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan.

                   Apabila Anggaran Dasar mengharuskan pemegang saham yang ingin

          mengalihkan sahamnya menawarkan terlebih dahulu sahamnya kepada kelompok

          pemegang saham tertentu atau kepada pemegang saham lain yang tidak dipilihnya

          sendiri, maka Perseroan wajib menjamin bahwa semua saham yang ditawarkan

          dibeli dengan harga yang wajar, ( penentuan ) harga wajar ini dapat ditentukan

          dengan harga pasar atau berdasarkan taksiran ahli penilai harga saham yang tidak

          terkait pada perseroan dan dibayar tunai dalam waktu 30 hari terhitung sejak

          penawaran dilakukan. Oleh karena itu sepanjang pemegang saham tidak

          melakukan perbuatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 3 ayat ( 2 ) huruf b, c

          dan d, maka sejak Akta Pendirian disahkan, tanggung jawab pemegang saham

          berubah menjadi terbatas sampai pada besarnya saham yang diambil oleh

          pemegang saham yang bersangkutan.




                   139
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 57 ayat ( 1 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            80




                   Persoalan adalah tentang status perbuatan para pendiri perseroan

          (pemegang saham) yang dilakukan untuk kepentingan perseroan sebelum

          perseroan mendapat status badan hukum.

                   Tindakan yang seharusnya dilakukan oleh para pendiri perseroan segera

          setelah perseroan memperoleh status badan hukum adalah segera melaksanakan

          RUPS untuk pertama kalinya. RUPS yang pertama ini selalu membicarakan

          mengenai peralihan tanggung jawab atas segala tindakan hukum yang dilakukan

          oleh pendiri. Artinya dalam RUPS inilah dibicarakan secara tegas tindakan –

          tindakan hukum yang dilakukan oleh pendiri sebelum perseroan berbadan hukum,

          akan diterima atau dinyatakan sebagai tindakan perseroan sehingga dengan

          demikian tanggung jawabnya beralih kepada perseroan tersebut.

                   Pelaksanaan RUPS yang demikian ini sesuai dengan ketentuan Pasal 13

          UU No. 40 Tahun 2007 yang menyatakan pada ayat ( 1 ) bahwa perbuatan hukum

          yang dilakukan oleh para pendiri untuk kepentingan perseroan sebelum disahkan,

          mengikat perseroan setelah perseroan menjadi badan hukum apabila :

               a. Perseroan secara tegas menyatakan menerima semua perjanjian yang

                   dibuat oleh pendiri atau orang lain yang ditugaskan pendiri atau orang lain

                   yang ditugaskan pendiri dengan pihak ketiga;

               b. Perseroan secara tegas menyatakan mengambil alih semua hak dan

                   kewajiban yang timbul dari perjanjian yang dibuat pendiri atau orang lain

                   yang ditugaskan pendiri, walaupun perjanjian tidak dilakukan atas nama

                   perseroan; atau




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            81




               c. Perseroan mengukuhkan secara tertulis semua perbuatan hukum yang

                   dilakukan atas nama perseroan;

                   Pada ayat ( 2 ) dijelaskan tentang konsekuensi hukum apabila tindakan

          sebelum perseroan berbadan hukum ternyata tidak diterima atau tidak diambil alih

          atau tidak dikukuhkan oleh perseroan. Penolakan perseroan akan mengakibatkan

          masing – masing pendiri yang melakukan perbuatan hukum tersebut bertanggung

          jawab secara pribadi atas segala akibat yang timbul.

                   Saham juga memberikan hak kepada pemiliknya untuk : 140

               a. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS

               b. Menerima pembayaran deviden dan sisa kekayaan hasil likuidasi

               c. Menjalankan hak lainnya berdasarkan Undang – Undang ini.

                   Selain mempunyai hak, pemegang saham juga memiliki kewajiban yang

          harus dijalankan oleh pemegang saham. Kewajiban tersebut yaitu : 141

               1. Kewajiban dalam pengalihan saham

                          Mengalihkan saham yang dimiliki oleh pemegang saham merupakan

                   hak dari pemegang saham yang bersangkutan. Hak ini tidak berarti dapat

                   dilakukan tanpa memperhatikan ketentuan perundang – undangan dan

                   Anggaran Dasar Perseroan.

                          Anggaran Dasar Perseroan dapat menetapkan kewajiban bagi

                   pemegang saham yang akan mengalihkan sahamnya terlebih dahulu harus

                   menawarkan saham yang akan dialihkan tersebut kepada kelompok



                   140
                       Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 52 ayat ( 1 )
                   141
                       Irwadi, Hukum Perusahaan Suatu Telaah Yuridis Normatif, ( Jakarta : Mitra Karya,
          2003 ), hal 48




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            82




                   pemegang saham tertentu atau pemegang saham lain untuk kepada

                   karyawan sebelum melakukan penawaran kepada pihak lain.

                          Pemegang saham wajib terlebih dahulu meminta persetujuan dari

                   organ perseroan apabila Anggaran Dasar menetapkan bahwa pengalihan

                   hak atas saham harus mendapatkan persetujuan dari organ perseroan.

                          Ketentuan lain yang harus diperhatikan oleh pemegang saham adalah

                   kewajiban pengalihan saham atas nama dengan mempergunakan akta

                   pemindahan hak. Akta dimaksud dapat berupa akta di bawah tangan

                   ataupun akta otentik.

               2. Kewajiban mengalihkan saham dalam hal pemegang saham kurang dari

                   dua orang

                          Pengertian perseroan terbatas dalam Pasal 1 ayat ( 1 ) UU No. 40

                   Tahun 2007 mengandung pengertian bahwa Perseroan Terbatas terbentuk

                   berdasarkan sebuah perjanjian. Dengan demikian berarti dibutuhkan lebih

                   dari satu orang dalam pembentukan sebuah perseroan terbatas. Atau

                   dengan kata lain pada saat perseroan didirikan harus terdapat paling sedikit

                   dua orang pemegang saham. Namun adakalanya bisa terjadi bahwa setelah

                   Perseroan disahkan ( memperoleh status badan hukum ) salah seorang atau

                   beberapa pemegang saham mengalihkan sahamnya kepada pemegang

                   saham lain, sehingga bisa terjadi keadaan dimana hanya satu orang saja

                   pemegang saham dalam perseroan.

                          Apabila terjadi keadaan yang demikian, maka pemegang saham

                   tunggal tersebut dalam jangka waktu bulan tertentu sejak keadaan tersebut,




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            83




                   wajib mengalihkan sahamnya kepada orang lain. Akibat hukum yang

                   diterima oleh pemegang saham tunggal tersebut apabila terlampaui jangka

                   waktu enam bulan tersebut adalah pemegang saham tunggal tersebut

                   bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan atau kerugian

                   perseroan. Tanggung jawab yang demikian tidak terbatas hanya pada

                   besaran saham yang dimiliki dalam perseroan, tapi juga meliputi harta

                   pribadi pemegang saham yang bersangkutan.

               3. Tanggung Jawab Terbatas

                             Ciri utama perseroan terbatas adalah bahwa PT merupakan subjek

                   hukum yang berstatus badan hukum. Status yang demikian membawa

                   konsekuensi berupa terbatasnya tanggung jawab para pemegang saham

                   (limited liability). Prinsip tanggung jawab terbatas pemegang saham dianut

                   dalam UU No. 1 Tahun 1995, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 3 ayat

                   ( 1 ) UU No. 1 Tahun 1995, yang berbunyi :

                             Pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi

                   atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggung

                   jawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah diambilnya.

                   a. Persoalan tanggung jawab terbatas pemegang saham ini, pada awalnya

                        memunculkan kontroversi. Sebagian ahli hukum dan para praktisi

                        bisnis berpendapat bahwa prinsip pertanggung jawaban terbatas para

                        pemegang saham hanya bertanggung jawab sebatas jumlah saham

                        yang telah diambilnya. Sebagian ahli hukum dan para praktisi bisnis

                        berpendapat bahwa prinsip pertanggung jawaban terbatas para




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            84




                         pemegang saham ini bersifat mutlak / absolute. Artinya dalam segala

                         keadaan pemegang saham hanya bertanggung jawab sebatas jumlah

                         saham yang telah diambilnya. Pendapat ini diajukan dengan

                         pertimbangan bahwa jika pertanggungjawaban terbatas tersebut bersfat

                         absolute, maka perseroan terbatas sebagai badan hukum belum atau

                         tidak terpenuhi;

                   b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak

                         langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan semata – mata

                         untuk kepentingan pribadi;

                   c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan

                         hukum yang dilakukan oleh perseroan; atau

                   d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun secara

                         tidak langsung melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan

                         menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan. Dengan

                         demikian terlihat bahwa dalam hal – hal tertentu, tidak tetutup

                         kemungkinan hapusnya tanggung jawab terbatas dari pemegang

                         saham.

                   Prinsip pembatasan penerapan tanggung jawab terbatas dari pemegang

          saham dikenal dengan prinsip piercing corporate veil. 142 Prinsip ini dalam Bahasa

          Indonesia selalu diartikan “ menyingkap tabir atau cadar perseroan “. Tabir atau

          cadar yang disingkap dimaksud adalah diterobosnya pertanggungjawaban terbatas




                   142
                    Rudhi Prasetya, Upaya Mencegah Penyalahgunaan Badan Hukum, Serangkaian
          Pembahasan Pembaharuan Hukum di Indonesia, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hal 81




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            85




          dari pemegang saham yang telah ditetapkan dalam Pasal 3 ayat ( 1 ) UU No. 40

          Tahun 2007 tersebut.

                   Dalam ketentuan tersebut diketahui bahwa untuk terjadinya piercing the

          corporate veil dipersyaratkan beberapa hal, sebagai berikut: 143

               a. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;

               b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak

                   langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan semata-mata untuk

                   kepentingan pribadi;

               c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan

                   hukum yang dilakukan oleh perseroan; atau

               d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak

                   langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang

                   mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi

                   utang perseroan.

                   Terhadap       para     pemegang        saham      minoritas,     UUPT        memberikan

          perlindungan kepada pemegang saham minoritas. Sebagaimana diketahui, dalam

          setiap pengambilan keputusan dalam PT berlaku asas pemungutan suara.144

          Dalam hal ini maka akan menjadi sangat lebih rendah kedudukan seorang

          pemegang saham yang persentasenya dari saham yang dimilikinya lebih kecil dari

          pemegang saham lainnya. Dalam hubungan inilah maka diperlukan adanya

          mekanisme yang melindungi kepentingan pemegang saham minoritas yang bisa

          tertindas itu. Terlebih manakala pada PT Terbuka yang ada di Indonesia, rata –
                   143
                    Irna Nurhayati, Op. Cit, hal 3
                   144
                    Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas Disertai dengan Ulasan
          Menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1995, ( Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 1991 ), hal 229




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            86




          rata atas saham yang listing dan dijual memasuki pasar modal keseluruhannya

          tidak lebih dari 30 % ( tiga puluh persen ) dari seluruh saham yang ditempatkan,

          70 % ( tujuh puluh persen ) dari saham yang ada masih tetap dikuasai dan

          dipegang oleh para pendiri atau yang dinamakan pula “ pemegang saham utama “.

          Padahal para pemegang saham minoritas sebesat 20 % ( dua puluh persen )

          tersebut tersebar luas di antara public. 145

                   Manakala terjadi merger, konsolidasi atau akuisisi, para pemegang saham

          minoritas tidak berkenan dengan adanya merger, konsolidasi atau akuisisi

          tersebut, maka merupakan hak dari pemegang saham minoritas untuk menjual

          sahamnya dengan harga yang wajar. Dalam Pasal 62 dinayatakan, setiap

          pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli dengan

          harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan

          yang merugikan pemegang saham atau Perseroan , berupa :

               a. Perubahan anggaran dasar

               b. Pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai nilai

                   lebih dari 50 % ( lima puluh persen ) kekayaan bersih Perseroan

               c. Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan.

                   Menurut Pasal 61 setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan

          terhadap perseroan ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan

          Perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagai akibat

          keputusan RUPS, Direksi, dan / atau Dewan Komisaris. Memang, merupakan




                   145
                         Ibid




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                             87




                                                                            146
          wewenang Direksi untuk menyelenggarakan RUPS                            , namun penyelenggaraan

          RUPS dapat juga dilakukan atas permintaan 1 ( satu ) pemegang saham atau lebih

          yang bersama – sama mewakili 1 / 10 ( sepersepuluh ) bagian dari jumlah seluruh

          saham dengan hak suara yang sah, atau suatu jumlah yang lebih kecil

          sebagaimana          yang    ditentukan      dalam     Anggaran         Dasar    perseroan        yang

          bersangkutan.

                   Permintaan penyelenggaraan rapat tersebut diajukan kepada Direksi atau

          Komisaris dengan surat tercatat disertai alasannya. 147 Ketua Pengadilan Negeri

          yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan perseroan dapat memberikan

          izin kepada pemohon untuk :

               a. Melakukan sendiri pemanggilan RUPS tahunan, atas permohonan

                   pemegang saham apabila Direksi atau Komisaris tidak menyelenggarakan

                   RUPS tahunan pada waktu yang telah ditentukan,

               b. Melakukan sendiri RUPS lainnya, atas permohonan pemegang saham

                   sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 80 ayat ( 1 ), apabila Direksi

                   atau Komisaris setelah lewat waktu 15 (lima belas) hari terhitung sejak

                   tanggal permintaan penyelenggaraan RUPS diterima

               c. Ketua Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 3 ) dapat

                   menetapkan bentuk, isi, dan jangka waktu pemanggilan RUPS serta

                   menunjuk ketua rapat tanpa terikat pada ketentuan undang – undang ini

                   atau Anggaran Dasar




                   146
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 79
                   147
                         Lihat UU No. 40 Tahun 2007 tentang PT, Pasal 79 ayat ( 3 )




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                             88




               d. Dalam hal RUPS diselenggarakan Ketua Pengadilan Negeri dapat

                   memerintahkan Direksi dan atau Komisaris untuk hadir.

               e. Penetapan         Ketua     Pengadilan        Negeri      mengenai       pemberian        izin

                   sebagaimana yang dimaksud dalam ayat ( 1 ) merupakan penetapan

                   instansi pertama dan terakhir.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            89




                                                BAB V
                                         KESIMPULAN DAN SARAN


          A. Kesimpulan

          Adapun kesimpulan dari skripsi ini adalah :

          1. Prosedur pendirian PT berdasarkan UU No. 1 Tahun 1995 berbeda dengan UU

               No. 40 Tahun 2007. Perbedaan prosedur pendiriannya terdapat di dalam

               pengesahan, pendaftaran dan pengumuman menjadi PT. Dalam UU No. 1

               Tahun 1995, permohonan pengesahan menjadi PT dilakukan oleh Direksi dan

               disahkan oleh Menteri dengan tanda tangan fisik. Sedangkan di dalam UU No.

               40 Tahun 2007 permohonan pengesahan dilakukan oleh Direksi melalui

               Sisminbakum dan disahkan oleh Menteri dengan menggunakan tanda tangan

               elektronik. Dalam hal pendaftaran dan pengumuman menjadi PT di dalam UU

               No. 1 Tahun 1995 dilakukan oleh Direksi sedangkan di dalam UU No. 40

               Tahun 2007 pendaftaran dan pengumuman menjadi PT dilakukan oleh

               Menteri Hukum dan HAM.

          2. Perbuatan hukum yang dilakukan oleh pendiri PT untuk kepentingan

               Perseroan yang belum didirikan, mengikat Perseroan setelah Perseroan

               menjadi badan hukum dengan persyaratan apabila, PT menyatakan menerima,

               mengambilalih dan mengukuhkan semua perbuatan hukum yang dilakukan

               atas nama PT ( Pasal 11 UU No. 1 Tahun 1995 ). Sedangkan di dalam UU No.

               40 Tahun 2007 diatur dalam Pasal 13 ayat (1), yang menyatakan bahwa

               perbuatan hukum yang dilakukan calon pendiri untuk kepentingan Perseroan

               yang belum didirikan, mengikat Perseroan setelah Perseroan menjadi badan




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            90




               hukum apabila RUPS pertama Perseroan secara tegas menyatakan menerima

               atau mengambil alih semua hak dan kewajiban yang timbul dari perbuatan

               hukum yang dilakukan oleh calon pendiri atau kuasanya. Apabila perbuatan

               hukum tersebut tidak diterima, tidak diambilalih atau tidak dikukuhkan oleh

               PT, maka perbuatan hukum tersebut menjadi tanggung jawab pribadi masing –

               masing pendiri atas segala akibat yang timbul. Akibat hukum dari pendirian

               PT bagi pemegang saham adalah timbulnya hak dan kewajiban dari para

               pemegang saham. Hak yang dimiliki pemegang saham adalah hak memesan

               efek, mengajukan gugatan ke Pengadilan, saham dibeli dengan harga yang

               wajar, meminta ke Pengadilan Negeri untuk menyelenggarakan RUPS, dan

               hak menghadiri RUPS. Sedangkan kewajiban pemegang saham adalah

               kewajiban mengalihkan sahamnya apabila pemegang saham kurang dari dua

               orang.



          B. Saran

          Adapun yang menjadi saran dalam penulisan skripsi ini adalah :

          1. Bahwa di dalam UU No. 40 Tahun 2007 ini pendirian suatu Perseroan

               memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu sebaiknya untuk

               mendirikan suatu Perseroan sebaiknya seluruhnya diselesaikan dalam waktu

               30 hari dimulai dari pendirian, pengesahan, pendaftaran perseroan dan terakhir

               pengesahan menjadi badan hukum. Hal ini dikarenakan agar Perseroan

               tersebut dapat segera beroperasi sehingga dapat menggerakkan roda

               perekonomian Indonesia yang saat ini sangat lambat berjalan.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009
                                                                                                            91




          2. Bahwa sebaiknya pengumuman mengenai pendirian Perseroan tidak perlu

               dilakukan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Sebaiknya

               pengumuman tersebut dilakukan melalui minimal 2 ( dua ) media cetak

               nasional, sehingga masyarakat menjadi tahu bahwa ada sebuah Perseroan yang

               baru didirikan. Sebab banyak masyarakat yang tidak mengetahui untuk

               melihat pengumuman di Berita Negara.




Rivai Halomoan Simanjuntak : Aspek Hukum Pendirian Perseroan Terbatas Menurut UU No. 40 Tahun 2007, 2008.
USU Repository © 2009

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Skripsi, Hukum
Stats:
views:2
posted:4/7/2013
language:
pages:102