Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

makalah supervisi pendidikan

Document Sample
makalah supervisi pendidikan Powered By Docstoc
					                      MAKALAH

           SUPERVISI PENDIDIKAN
           Mata Kuliah Manajemen Pendidikan
      Dosen Pengampu: Drs. Imam Suyanto, M.Pd




                     Disusun Oleh:
                    KELOMPOK IV
      1.   Tri Novianti            X7211125/31
      2.   Tri Wahyuni             X7211126/32
      3.   Triana Widyaningsih     X7211127/33
      4.   Tyas Anggoro Putri      X7211128/34
      5.   Ulfi yulismina          X7211129/35
      6.   Umi Lestari             X7211130/36


               KELAS VII.C TRANSFER


PROGRAM S-1 TRANSFER PGSD KAMPUS VI KEBUMEN
  FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
           UNIVERSITAS SEBELAS MARET
                     SURAKARTA
                            2012
                             KATA PENGANTAR


       Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memberika
rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
dengan judul “Makalah Manajemen Pendidikan Supervisi Pendidikan”.
          Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata
kuliah penulisan Manajemen Pendidikan.
          Tersusunnya makalah ini, tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1.   Drs. Imam Suyanto, M. Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Manajemen
     Pendidikan yang telah memberikan bimbingan dan saran selama penulisan
     makalah ini;
2.   Rekan-rekan mahasiswa S-1 Transfer PGSD Kebumen khususnya kelas VII
     C yang telah membantu dalam pemberian informasi, tanggapan, dan saran
     dalam penyelesaian makalah ini yang dilakukan melalui diskusi kelas;
3.   Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah
     memberikan bantuan.
          Makalah ini bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan tentang
supervise pendidikan bagi lembaga pendidikan atau instansi pendidikan pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya.
          Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penulis mohon saran dan kritik yang bersifat membangun terutama dari
para ahlinya guna penyempurnaan berikutnya.




                                                     Kebumen, Desember 2012




                                                             Tim Penyusun
                                         DAFTAR ISI

                                                                                    Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………                                                             i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………..                                                          ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………                                                           iii
BAB I   PENDAHULUAN
        A. Latar Belakang………………………………………………...                                                  1
        B. Rumusan Masalah ………………………………………….....                                                2
        C. Tujuan ………………………………………………………...                                                      2
BAB II  PEMBAHASAN
        A. Pengertian Supervisi Pendidikan …………………………….                                         3
        B. Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan ………………………..                                     5
                                                                                                6
        C. Tujuan Supervisi Pendidikan ....................................................................
                                                                                                7
        D. Teknik-Teknik Supervis Pendidikan ..........................................................
        E. Langkah-langkah Supervisi Pengajaran……………………..                                     10
        F. Perilaku- Perilaku Etik yang Harus Dimiliki Supervisor
            Pendidikan …………………………………………………... 12
        G. Implementasi Supervisi Pendidikan di Lapangan …………... 17
BAB III PENUTUP
        A. Kesimpulan …. ………………………………………………. 19
        B. Saran …………………………………………………………. 20
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………...
                                        BAB I
                               PENDAHULUAN
                            A. Latar Belakang Masalah


     Menelusuri krisis pendidikan nasionalyang kurang bermutu, sukar kita
menetapkan salah satu penyebabnya yang pasti, karena akan seperti mengurai
benang yang kusut. Sehingga pastinya penelusuran akan sampai pada jantung
kegiatan di sekolah sebagai penyelenggaraan belajar mengajar yang ditangani
guru yang harus diperhatikan, karena di sinilah dapur kegiatan belajar berada.
     Usaha apapun yang telah dilakukan pemerintah mengawasi jalannya
pendidikan untuk mendongkrak mutu bila tidak ditindak lanjuti dengan
pembinaan gurunya, tidak akan berdampak nyata pada kegiatan layanan belajar di
kelas. Kegiatan pembinaan guru merupakan bagian yang tidak mungkin
dipisahkan dalam setiap usaha peningkatan mutu pembelajaran.
     Kajian yang dilakukan oleh Depdiknas, Bapennas, dan Bank Dunia (1999)
menemukan bahwa guru merupakan kunci penting dalam keberhasilan mutu
pendidikan. Guru merupakan titik sentral dalam usaha mereformasi pendidikan.
Apapun namanya, apakah itu pembaharuan kurikulum, pengembangan metode-
metode mengajar, peningkatan pelayanan belajar, penyediaan buku teks, hanya
akan berarti apabila melibatkan guru.
     Masalah mutu pembelajaran menyangkut masalah yang sangat esensi yaitu
masalah kualitas mengajar yang dilakukan oleh guru harus mendapatkan
pengawasan dan pembinaan yang terus menerus dan berkelanjutan. Masalah ini
berhubungan erat dengan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala
sekolah selaku pimpinan kepada guru-gurunya.
     Dalam rangka otonomi sekolah, kepala sekolah mempunyai kewenangan
yang besar dalam membuat kebijakan tingkat sekolah, melaksanakan dan
mengawasinya, supaya sekolah yang dipimpinya semakin memiliki kemampuan
untuk mengembangkan potensi diri dan lingkungan.          Kepala sekolah sebagai
penanggung jawab pendidikan tingkat sekolah, kini memiliki wewenang dan
keleluasaan dalam: mengembangkan program, mengelola dan mengawasinya,

                                         1
memiliki keleluasaan dalam mengatur segenap sumber daya yang dimilikinya,
yang dapat digalinya supaya terjadi peningkatan mutu dan produktivitas yang
signifikan dalam memberi layanan belajar bermutu melalui guru-guru profesional
yang kooperatif. Aktivitas pengarahan dan bimbingan yang dilakukan oleh atasan
dalam hal ini kepala sekolah kepada guru-guru serta personalia sekolah lainnya
yang langsung menangani belajar para siswa untuk memperbaiki situasi belajar
mengajar inilah yang dimaksud dengan supervise.
     Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menyusun makalah yang
berjudul Supervisi Pendidikan.


                                 B. Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan supervisi pendidikan?
2. Apa saja prinsip-prinsip supervisi pendidikan?
3. Apa saja tujuan supervisi pendidikan?
4. Apa saja teknik-teknik supervisi pendidikan?
5. Bagaimana langkah-langkah supervisi pendidikan?
6. Apa saja perilaku- perilaku etik yang harus dimiliki supervisor pendidikan?
7. Bagaimana implementasi supervisi pendidikan di lapangan?


                                  C.       Tujuan
1. Mengetahui pengertian supervisi pendidikan
2. Mengetahui prinsip-prinsip supervisi pendidikan
3. Mengetahui tujuan supervisi pendidikan
4. Mengetahui teknik-teknik supervisi pendidikan
5. Mengetahui langkah-langkah supervisi pendidikan
6. Mengetahui perilaku- perilaku etik yang harus dimiliki supervisor pendidikan
7. Mengetahui implementasi supervisi pendidikan di lapangan
                                       BAB II
                                  PEMBAHASAN
                          A. Pengertian Supervisi Pendidikan


      Pengertian supervisi pendidikan pada umumnya mengacu kepada usaha
perbaikan situasi belajar mengajar. Berikut ini terdapat beberapa pendapat para
ahli tentang supervisi pendidikan, yaitu:
1. Neagley (1980: 20) dikutip oleh Made Pidarta, mengemukakan bahwa setiap
   layanan     kepada     guru-guru   yang      bertujuan    menghasilkan   perbaikan
   instruksional, belajar dan kurikulum dikatakan supervisi. Supervisi disini
   diartikan sebagai bantuan dan bimbingan kepada guru-guru dalam bidang
   instruksional, belajar dan kurikulum, dalam usahanya mencapai tujuan sekolah.
2. Kimbal wiles (1956: 8) berpendapat bahwa “supervision is an assistence in the
   development of a better teching-learning situation”, yaitu suatu bantuan dalam
   pengembangan peningkatan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
3. N. A. Ametembun (1981: 5) merumuskan bahwa supervisi pendidikan adalah
   pembinaan ke arah perbaika situasi pendidikan. Pendidikan yang dimaksud
   berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada
   umumnya, dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.
4. Oteng Sutisna (1982: 223) menjelaskan bahwa pandangan baru tentang
   supervisi   terdapat    ide-ide pokok, seperti:          menggalakan pertumbuhan
   profesional guru, mengembangkan masalah-masalah belajar mengajar dengan
   efektif. Pendekatan-pendekatan baru tentang supervisi ini menekankan pada
   peranan supervisi selaku bantuan, pelayanan atau pembinaan kepada guru dan
   personil pendidikan lain dengan maksud untuk memperbaiki kemampuan guru
   dan kualitas pendidikan.
5. Sergiovanni (1971: 10) yang dikutip Made Pirdata mengemukakan pernyataan
   yang berhubungan dengan supervisi sebagai berikut: (1) supervisi lebih
   berperan sebagai proses daripada peranan, (2) supervisi adalah suatu proses
   yang digunakan oleh personalia sekolah yang bertanggung jawab terhadap



                                            3
   aspek-aspek tujuan sekolah yang bergantung secara langsung kepada para
   personalia yang lain, untuk menolong mereka menyelesaikan tujuan sekolah.
6. Badan Kajian Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (1982: 1)
   mendefinisikan supervisi pendidikan sebagai; “segala usaha yang memberikan
   kesempatan kepada guru untuk berkembang secara profesional, sehingga
   mereka lebih mampu lagi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu
   memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar.
      Dari beberapa pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
hakekatnya supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan profesional
bagi guru-guru. Bimbingan profesional yang dimaksud adalah segala usaha yang
memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk berkembang secara profesional,
sehingga mereka lebih maju lagi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu
memperbaiki dan meningkatkan proses belajar murid.
      Menurut Alfonso (1981), Neagle dan Evans (1980), serta Mark Stroops
(1978) yang dikutip oleh Djama’an Satori, melukiskan hubungan supervisi, proses
belajar mengajar dan hasil belajar dapat dilihat dari model berikut:


                                         Perilaku
                                   Supervisi/Pembinaan
                                       Profesional




          Perilaku                                                     Perilaku
          Mengajar                                                     Belajar

      Gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: karena suatu pengajaran
sangat tergantung pada kemampuan mengajar guru, maka kegiatan supervisi
                                  Hasil Belajar
menaruh perhatian utama pada peningkatan kemampuan profesional yang pada
gilirannya akan meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Dalam analisis
terakhir, kualitas supervisi akan direvleksikan pada peningkatan hasil belajar
murid.
                      B. Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan

     Berikut ini adalah prinsip-prinsip supervisi pendidikan
     1    Ilmiah (Scientific) berarti:
          A       Sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, berencana, dan
                  berkelanjutan
          B       Objektif, artinya data yang didapat berdasarkan hasil observasi
                  nyata.   Kegiatan-kegiatan   perbaikan   atau   pengembangan
                  berdasarkan hasil kajian kebutuhan-kebutuhan guru atau
                  kekurangan-kekurangan guru, bukan tafsiran pribadi.
          c       Menggunakan alat (instrumen) yang dapat memberikan
                  informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian
                  terhadap proses belajar mengajar
     2    Demokratis, artinya menjunjung tinggi azas musyawarah, memiliki
          jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang
          lain
     3    Kooperatif, maksudnya bekerjasama seluruh staf dalam kegiatan
          pengumpulan data dan perbaikan serta pengembangan proses belajar
          mengajar hendaknya dilakukan dengan cara kerjasama seluruh staf
          sekolah
     4    Konstruktif dan kreatif. Membina inisiatif guru dan mendorong guru
          untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan
          bebas     mengembangkan        potensi-potensinya.   Supervisor   perlu
          menyesuaika diri dengan prinsip-prinsip tersebut di atas.




                           C. Tujuan Supervisi Pendidikan

     Supervisi yang baik akan menghasilkan pola kinerja yang baik, jika
supervise dilakukan dengan cara dan metode yang benar pula, tentu ini menuntut
pengetahuan yang benar pula bagi para supervisi dalam melaksanakan tugasnya.
1. Tujuan Umum Supervisi pendidikan
  a. Berdasarkan Tujuan Umum Pendidikan
     Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia “dewasa” yang
     sanggup berdiri sendiri.
  b Berdasarkan Tujuan Pendidikan Nasional
     Yaitu membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia-manusia
     pembangunan yang dewasa dan pancasilais.
  c Berdasarkan Tujuan Supervisi sendiri
     Agar tercapai perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya
     dan peningkatan mutu mengajar pada khususnya.
2. Tujuan Khusus Supervisi Pendidikan
  Meliputi :
  a. Membantu guru-guru untuk lebih memahami tujuan yang sebenarnya dari
     pendidikan dan perencanaan sekolah dalam usaha mencapai tujuannya.
  b. Membantu guru-guru untuk dapat lebih menyadari dan memahami
     kebutuhan-kebutuhan dan kesulitan-kesulitan murid dan menolong mereka
     untuk mengatasinya.
  c. Memperbesar     kesanggupan   guru-guru    untuk   memperlengkapi    dan
     mempersiapkan murid-muridnya menjadi anggota masyrakat yang efektif.
  d. Membantu guru-guru mengadakan diagnose secara kritis aktivitas-
     aktivitasnya, serta kesulitan- kesulitan mengajar dan belajar murid-
     muridnya, dan menolong mereka merencanakan perbaikan.
  e. Membantu guru-guru untuk dapat menilai aktivitas-aktivasnya dalam rangka
     tujuan perkembangan anak didiknya.
  f. Memperbesar kesadaran guru-guru terhadap tata kerja yang demokratis dan
     guru dapat mempelajari bersama catatan-catatan tentang kemajuan murid
     guna menilai keefektivan program yang disusun.
  g. Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara
     maksimal dalam bidang profesi (keahlianya).
  h. embantu guru-guru untuk dapat lebih memamfaatkan pengalaman-
     pengalamannya sendiri.
   i. Membantu untuk lebih mempopulerkan sekolah kepada masyarkat agar
      bertambah simpati dan kesedian masyarakat untuk menyokong sekolah.
   j. Memperkenalkan guru-guru atau karyawan baru kepada situasi sekolah
      profesinya.
   k. Melindungi guru-guru dan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan yang tak
      wajar dan kritik-kritik yang tak sehat dari masyarkat.
   l. Mengembangkan “profesionalisme esprit e corps” guru-guru.


                         D. Teknik-Teknik Supervisi Pendidikan
      Berbagai teknik dapat digunakan supervisor dalam membantu guru
meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara kelompok (group techniques),
maupun secara perorangan (iindividual techniques), ataupun dengan cara langsung
atau bertatap muka, dan cara tak langsung atau melalui media komunikasi (visual,
audial, audio visual).
      Beberapa teknik supervisi yang dapat digunakan supervisor pendidikan
antara lain:
1. Kunjungan kelas secara berencana untuk dapat memperoleh gambaran tentang
   kegiatan belajar mengajar di kelas.
2. Pertemuan pribadi antara supervisor dengan guru untuk membicarakan
   masalah-masalah khusus yang dihadapi guru.
3. Rapat antar supervisor dengan para guru di sekolah, biasanya untuk
   membicarakan masalah-masalah umum yang menyangkut perbaikan dan atau
   peningkatan mutu pendidikan.
4. Kunjungan antar kelas atau antar sekolah merupakan suatu kegiatan untuk
   saling menukarkan pengalaman sesama guru atau kepala sekolah tentang
   usaha-usaha perbaikan dalam proses belajar mengajar.
5. Pertemuan-pertemuan di kelompok kerja penilik, kelompok kerja kepala
   sekolah, serta pertemuan kelompok kerja guru, pusat kegiatan guru dan
   sebagainya. Pertemuan-pertemuan tersebut dapat dilakukan oleh masing-
   masing kelompok kerja atau gabungan yang dimaksudkan untuk menemukan
     masalah, mencari alternatif penyelesaian, serta menerapkan alternatif masalah
     yang tepat.


       Secara singkat, gambaran tentang berbagai cara pelaksanaan pembinaan dan
pelayanan profesional (supervisi) kepada guru adalah sebagai berikut:
Tabel Pelaksanaan Pembinaan dan Pelayanan Profesional kepada guru

      Jenis
                        Teknik                                           Hambatan/
No Pelayanan/                           Tujuan        Keuntungan
                       Pelayanan                                         Kelemahan
   Pembinaan
 1      2                  3              4                  5                6
 1 Kunjungan         Observasi       Mengetahui      Mengetahui         Guru merasa
   Kelas             PBM di kelas    cara    guru    kelebihan yang     canggung dan
                     oleh penilik/   melaksanaka     dapat              kurang bebas.
                     pengawas/       n PBM           dikembangkan,
                     kepala                          mengetahui
                     sekolah                         kelemahan
                                                     untuk
                                                     perbaikan,
                                                     dapat
                                                     memberikan
                                                     koreksi/
                                                     perbaikan
                                                     sesuai
                                                     kebutuhan.
 2     Pertemuan     Penilik/     Bantuan            Berdialog          Agak      sulit
       Pribadi       kepala       khusus             langsung, lebih    menemukan
                     sekolah                         terarah            waktu untuk
                     bertatap                                           mengadalkan
                     muka dengan                                        pertemuan.
                     seorang guru

 3     Rapat Staf    Kepala      Bantuan           Bantuan              Agak       sulit
                     sekolah/    umum              diberkan pada        menemukan
                     penilik                       seluruh guru         waktu yang pas
                     berhadapan                    dalam satu kali      dan      cukup
                     dengan para                   pertemuan            menyita waktu.
                     guru                          pertukaran
                                                   pikiran secara
                                                   umum.
 4     Kunjungan     Guru      dari Mengetahui     Mengetahui           Mengganggu
       antar kelas   salah     satu cara guru lain cara guru lain       KBM      kelas
                     kelas          dalam KBM dalam KBM                 lain dan kelas
                mengunjungi dan                  dan               sendiri
                kelas   lain pengelolaan         pengelolaan       ditinggalkan.
                dalam   satu kelas.              kelas. Hal ini
                sekolah                          yang       baik
                                                 dapat dijadikan
                                                 contoh
                                                 sedangkan hal-
                                                 hal        yang
                                                 kurang     baik
                                                 dapat
                                                 didiskusikan.
5   Kunjungan   Oleh             Mengetahui      Dapat             Dianggap
    Sekolah     penilik/penga    keadaan         memberikan        kurang
                was      tanpa   sebenarnya      bimbingan         demokratis
                pemberitahu-                     aktual
                an
                Dengan           Guru        Kepala                Tidak
                pemberitahu-     mengetahui  sekolah/guru          mencerminkan
                an               maksud dan  dapat                 keadaan
                                 tujuan      menunjukkan           sehari-hari
                                 kunjungan   hasil usahanya.
                Atas             Guru ingin  Dapat                 Perlu
                undangan         diketahui   melayani              menyediakan
                                             kebutuhan
                                 keberhasilan-                     waktu    yang
                                 nya         khusus                tepat.
                                             setempat
6   Kunjungan   Guru     dari Mengetahui     Mengetahui            Mungkin
    antar       sekolah lain KBM,            bagaimana             mengganggu
    sekolah     dikunjungi    pengelolaan    guru sekolah          sekolah    lain
                oleh    suatu sekolah, serta lain                  sementara
                sekolah       pengelolaan    melaksnakan           sekolah sendiri
                              kelas sekolah KBM          dan       ditinggalkan.
                              lain           mengelola
                                             sekolah/kelas.
                                             Hal-hal yang
                                             baik      dapay
                                             dicontoh,
                                             sedangkan hal-
                                             hal        yang
                                             kurang     baik
                                             didiskusikan

                E. Langkah-Langkah Supervisi Pendidikan
        Supervisi dilakukan secara cermat sehingga hubungan antara supervisor
dengan klien bersifat sejajar dan terbuka. Untuk dapat memperoleh hasil yang
maksimal. Maka dilalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pertemuan pendahuluan
          Kegiatan yang dilkukan antara lain : (1) Menciptakan suasana
  kekeluargaan antara guru dengan supervisor (establish rapport) agar
  komunikasi selama kegiatan dapat berjalan dengan efektif dan (2) Membuat
  kesepakatan (contract) antara guru dengan supervisor tentang aspek proses
  belajar mengajar yang akan dikembangkan dan ditingkatkan (misalnya
  keterampilan bertanya, cara memotivasi siswa).
          Secara singkat, pertemuan pendahuluan ini akan disepakati mengenai :
  (1)      Sasaran atau keterampilan mengajar yang akan diamati secara cermat
  oleh supervisor, (2) Strategi observasi yang akan dilaksanakan, (3)      Panduan
  atau instrumen observasi yang akan digunakan, dan (4)          Criteria atau tolok
  ukur yang akan digunakan dalam pengisisan observasi
2. Perencanaan oleh guru dan supervisor
  Kegiatan yang dilakukan antara lain :
  a. Persiapan mengajar tertulis yang sudah dibuat terlebih dahulu untuk
        dibicarakan kekurangan-kekurangan yang mungkin masih perlu dibenahi,
        serta membicarakan bagian dari persiapan tertulis tersebut yang akan
        mendapat perhatian khusus.
  b. Persiapan media atau alat-alat pelajaran yang akan digunakan sekaligus
        strategi penggunaannya.
  c. Cara-cara mencatat atau perekaman data yang akan digunakan oleh
        supervisor serta arah pengambilan data. Hgal ini perlu dibicarakan agar guru
        tidak merasa terganggu pada waktu sedang beraksi.
3. Pelaksanaan latihan mengajar dan observasi
          Pada waktu ini guru melaksanakan mengajar sedangkan suoervisor
  melakukan pengamatan secara cermat dengan menggunakan observasi. Dalam
  melakukan observasi, kegiatan yang dilakukan antara lain :
  a. Pengamatan dilakukan secara terus menerus selama guru mengajar, tetapi
     hanya menekankan dan mencatat bagian yang menjadi sasaran saja,
     sedangkan bagian yang lain dicatat kesan umumnya saja.
  b. Pengamatan intensif dilakukan setiap selang beberapa menit dan dalam
     jangka waktu tertentu. Beberapa alternative yang biasa dilkukan adalah :
     1) Periode 5 menit, yaitu mengamati 5 menit, berhenti 5 menit, mengamati
        lagi 5 meit, berhenti lagi 5 menit, dan seterusnya.
     2) Periode 10-5, yaitu mengamati 10 menit, berhenti 5 menit, mengamati
        lagi 10 menit, dan seterusnya.
     3) Mengamati terus menerus tetapi pencatatan dilakukan setiap 2 menit atau
        4 menit.
4. Mengadakan analisis data
  Hal-hal yang perlu didiskusikan antara lain :
  a. Kesenjangan antara apa yang telah direncanakan dengan pelaksanaannya
  b. Hasil rekaman baik ynag dituliskan dalam instrumen observasi maupun
     dalam kaset (apabila rekaman dilakukan dengan foto atau film tentu saja
     belum bias diikutkan untuk didiskusikan saat ini).
  c. Cara atau strategi yang digunakan dalam penyampaian umpan balik.
     Apabila disepakati bahwa umpan balik disampaikan secara tertulis agar
     terdokumentasikan dengan baik maka setelah selesai diskusi analisis data
     rekaman, supervisor menuliskan kesimpulan akhir untuk umpan balik
     kepada guru.
5. Diskusi memberikan umpan balik
        Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan umpan balik yang dilakukan
  oleh supervisor kepada guru yang sedang berlatih mengajar meningkatkan
  keterampilannya. Pemberian umpan balik haruis dilakukan dengan segera dan
  objektif mengenai sasaran yang telah dibicarakan dalam pertemuan
  pendahuluan. Sehubungan dengan pemberian umpan balik, terdapat rambu-
  rambu sebagai berikut :
  a. Sesudah latihan selesai, (calon) guru diminta untuk mengungkapkan
     persepsi/ kesannya mengenai kegiatan mengajar yang ia lakukan.
   b. Supervisor bersama-sama dengan guru menganalisis kegiatan tersebut
      langkah demi langkah dilengkapi dengan data hasil pengamatan supervisor.
      Hal penting dalam langkah ini adalah melatih guru agar dapat melakukan
      penilaian terhadap diri sendiri.
   c. Dalam mengidentifikasi hal-hal yang sudah baik dan kekurangan dalam
      latihan, supervisor tidak boleh menunjuk dengan tegas dan keras secara
      langsung tetapi melalui pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali dan
      mengorek     kelemahan       sendiri   sehingga   akhirnya   guru   menyadari
      kelemahannya.
   d. Hal yang perlu diingat bahwa dalam langkah ini supervisor harus sekali-kali
      memberikan pujian, ulasan positif, penguatan, penghargaan terhadap guru
      agar ada perasaan puas dean bangga, sehingga tumbuh kemauan keras untuk
      memperbaiki diri.
   e. Pada akhir diskusi, supervisor bersma-sama guru menarik kesimpulan dari
      latihan yang baru saja dilakukan yaitu hal-hal yang sudah berhasil dan yang
      masih harus diperbaiki pada lain kesempatan.


          F. Perilaku Etik yang Perlu Dimiliki Supervisor Pendidikan
      Salah satu pendukung keberhasilan dalam melaksanakan supervisi adalah
perilaku supervisor sendiri. Faktor manusia di belakang tugas mempunyai
pengaruh besar dalam keberhasilan misi supervisi. Supervisi yang berhasil adalah
mereka yang dapat melaksanakan tugasnya berkenaan dengan orang yang
disupervisi. Ia memilki sifat-sifat yang sesuai dengan profesi supervisor dan ia
dapat menjaga etik pekerjaannya. Sifat utama yang harus dimiliki supervisor
terdiri dari:
1. Sifat yang berhubungan dengan kepribadian:
   a. memperhatikan perbuatan nyata dalam segala hal,
   b. bertindak sesuai dengan waktu dan tempatnya dalam segala hal,
   c. keterbukaan, tidak menyembunyikan sesuatu yang dirahasiakan,
   d. tidak kehabisan inisiatif,
   e. tekun dan ulet dalam mengerjakan pekerjaan,
  f. mempunyai daya tahan psikis yang tinggi dan tidak cepat putus asa.
2. Sifat yang berhubungan dengan profesi:
  Sifat-sifat ini dikemukakan oleh Edgar H. Shein (1972) sebagai berikut:
  a. Seorang professional harus bekerja full time di bidang profesinya dan
     sebagai sumber penghidupan. Secara implisit mengandung pengertian
     bahwa seorang profesional tidak boleh bekerja lebih banyak diluar dan
     menomorduakan tugas utamanya
  b. Seorang profesional memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja dalam
     bidangnya yang merupakan dasar bagi pilihan jabatan tersebut, sehingga
     jabatan tersebut akan dikerjakan dengan sepenuh hati.
  c. Memiliki suatu pengetahuan khusus dan keterampilan yang diperolehnya
     dari pendidikan yang cukup lama.
  d. Membuat keputusan-keputusan dan tindakannya demi kepentingan klien,
     bukan harus bekerja tanpa pamrih.
  e. Pelayanan atas dasar kebutuhan yang objektif dari klien, tidak boleh ada
     motif-motif lain yang tersembunyi di dalamya. Keduanya (klien dan
     petugas) harus jujur, professional, dan terbuka serta harus menciptakan
     hubungan akrab demi kemajuan klien.
  f. Seorang profesional harus berorientasi pada pelayanan terhadap klien, yang
     dia pentingkan adalah bagaimana ia dapat melayani guru dengan sebaik-
     baiknya demi kemajuan guru-guru itu. Ia adalah seorang yang mengabdi
     pada tugasnya.
  g. Seorang professional mempunyai otonomi dalam bertindak mengenai apa
     yang baik bagi klien. Ia adalah seorang yang lebih tahu tentang apa yang
     baik bagi klien dari pada klien itu sendiri.
  h. Menjadi anggota organisasi profesi yang diseleksi melalui ukuran-ukuran
     tertentu, seperti standar pendidikan atau ukuran-ukuran lain yang sejenis,
     memiliki keahlian yang sama dan dalam wilayah tertentu.
  i. Memiliki pengetahuan yang spesifik.
  j. Seseorang profesional tidak boleh mengiklankan untuk mendapatkan
     pasaran luas, klienya-lah yang diharapkan untuk berinisiatif mencarinya.
3. Sifat-sifat supervisor yang dikehendaki “survisee”. Menurut pendapat dan
  harapan supervisi pada umumnya, supervisor hendaknya:
  a. mempunyai perhatian terhadap segala kegiatan di sekolah,
  b. bersikap simpatik dan mempunyai perhatian terhadap murid,
  c. mempunyai sikap terbuka, yang tidak apriori dan menolak pendapat orang
       lain,
  d. mempunyai daya humor dan tidak cepat tersinggung,
  e. percaya pada diri sendiri sehingga dapat menimbulkan kepercayaan dan
       ketenangan pada supervisee,
  f. tidak terlalu mencari-cari masalah-masalah kecil,
  g. tidak mengajak dan menimbulkan rasa ingin tahu,
  h. kritis, tetapi bersifat membangun dan dapat memberikan saran-saran,
  i. luas pengetahuannya tentang masalah-masalah pendidikan dan masalah
       administratif organisatoris,
  j. dapat mengemukakan ide-ide baru,
  k. sehat fisik dan terpelihara, serta berpakaian rapih.
4. Supervisor yang demokratis, semua pihak berharap:
        Supervisor yang demokratis diharapkan selalu berusaha secara kontinu
  menjalin pertalian kesatuan yang optimal diantara guru-guru. Supervisor yang
  kritis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


                     Ciri-ciri supervisor otokratis dan demokratis
   No      Supervisor yang otokratis               Supervisor demokratis
   .
   1       Beranggapan      bahwa       ia    dapat Menyadari bahwa kemampuan
           melihat dan menemukan semua sekian puluh anggota stafnya
           segi-segi masalah yang dihadapinya merupakan potensi yang dapat
                                                   melebihi kemampuannya sendiri
   2       Tidak    tau    atau       tidak   mau Dapat        dan         berusaha
           memanfaatkan pengalaman orang memanfaatkan pengalaman orang
           lain                                    lain
   3    Tidak dapat atau tidak bersedia Tahu bagaimana mendelegasikan
        melepaskan       kekuasaan       dari tugas dan tanggung jawabnya
        tangannya
   4    Biasanya     sangat   tertarik   pada Dapat melepaskan diri dari tugas-
        pekerjaan-pekerjaan         rutinnya, tugas    rutin,   sehingga   dapat
        sehingga sukar melihat masalah- mengembangkan kepemimpinan
        masalah yang lebih besar               yang kreatif
   5    Berprasangka terhadap ide-ide baru     Dapat    lekas   mengakui     dan
                                               menghargai ide orang lain
   6    Mempunyai sifat sebagai orang Memelihara sikap yang ramah
        yang tahu                              sebagai penolong dan penasehat
   7    Tidak mau mengakui bahwa ia Salalu berusaha menerapkan cara-
        memiliki sifat-sifat yang otokratis    cara yang demokratis
   8    Kurang      memberi      kesempatan Selalu berusaha melaksanakan
        kepada orang lain untuk maju tugas                memimpin         adalah
        sebagai pemimpin                       menimbulkan        kepemimpinan
                                               yang dipimpin


5. Supervisi kelompok
       Supervisi kelompok muncul sebagai reaksi terhadap kelemahan-
  kelemahan supervisi individual. Kelemahan supervisi individual ini terutama
  terletak pada kekurang sempurnaan dalammenyelesaikan suatu masalah yang
  dihadapi oleh guru. Masalah-masalah tersebut hany diselesaikan berdasarkan
  pandangan supervisor dan guru bersangkutan. Padahal supervisor dan guru itu
  pada umumnya ahli pada bidang tertentu saja. Sementara itu masalah yang
  dihadapi sangat mungkin berkaitan dengan banyak bidang, yang tidak bisa
  diamati semuanya oleh supervisor dan guru tersebut. Kelemahan yang lain
  adalah berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan. Penyelesaian masalh
  individual sudah jelas memakan biaya banyak daripada penyelesaian masalah
  kelompok, sebab supervisi individual diadakan jauh lebih sering dari pada bila
  memakai supervisi kelompok pada sekolah yang sama dengan permasalahn
  yang sama.
        Mengajar secara berkelompok (team teacing) merupakan langkah awal
  dalam supervisi kelompok. Dalam pengajaran seperti ini, beberapa orang guru
  akan megajarkan suatu bidang studi bersama. Masing-masing guru
  memberikan satu aspek tertentu dari bidang studi itu kepada para murid.
  Sehingga bidang studi itu dengan seluruh aspeknya bisa diterima dengan relatif
  sempurna oleh murid-murid, Sebab masing-masing aspek diberikan oleh guru
  yang ahli dalam aspek itu (Made Pidarta, 1992: 245).
6. Supervisi Klinis
        Acheson & Gall menyatakan bahwa supervisi klinis adalah proses
  membina guru untuk memperkecil jurang antara perilaku mengajar nyata
  dengan perilaku mengajar seharusnya atau ideal(Tim Dosen, 1989:112).
  Sementara itu Lucio (1979: 20) membatasi maksud supervisi klinis hanya
  untuk menolong guru-guru agar mengerti inovasi dan mengubah performa
  mereka agar cocok dengan inovasi itu.
        Sama halnya dengan mendiagnosis orang sakit, maka gurupun dapat
  mendiagnosis dalam proses belajar mengajar, untuk menemukan aspek-aspek
  mana yang membuat guru itu tidak dapat mengajar dengan baik. Kemudian
  aspek itu satu persatu diperhatikan secara intensif. Jadi supervisi klinis itu
  merupakan satu model supervisi untuk menyelesaikan masalah tertentu yang
  sudah diketahui sebelumnya.
               G. Implementasi Supervisi Pendidikan di Lapangan


     Impementasi dilapangan banyak terjadi keragaman dalam memahami dan
melaksanakan supervisi. Hal ini terjadi karena diakibatkan oleh perbedaan latar
belakang pendidikandan tingkat jabatan, perbedaan dalam orientasi profesional
mereka, perbedaan dalam tujuan dan keterampilan menganalisis, perbedaan dalam
kesanggupan jasmani dan vitalitas hidup, perbedaan dalam kualifikasi
kemampuan      untuk   memimpin   dan     berdiri   untuk   dipimpin,   perbedaan
dalamkondisi psikologis. Perbedaan dalam pengalaman belajar mengajar, serta
perbedaan dalam kesanggupan dan sikap profesional.
      Perbedaan   tersebut    seyogyanya     tidak   menjadi   penghambat   dalam
pencapaian tujuan supervisi provesional. Sikap supervisor yang melaksanakan
kehendak, menakut-nakuti guru, yang melumpuhkan kreeativitas anggota staf
perlu diubah. Sikap korektif yang mencari-cari kesalahan harus diganti dengan
sikap kreatif dimana setiap orang mau dan mampu menumbuhkan dan
mengembangkan       kreatifitasnya   untuk     perbaikan   pengajaran.   Penilaian
pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah merupakan salah satu
cara untuk mengetahui kelemahan pelaksanaan pembinaan maupun faktor yang
memberinya harapan dalam kemudahan pelaksanaan supervisi.
      Sikap guru dalam menghadapi supervisor tidak perlu canggung dan was-
was, hal ini dapat mengakibatkan performa guru menurun. Guru harus
memperlihatkan kemampuannya dalam meningkatkan kegiatan belajar mengajar
yang lebih baik. Setelah mendapat bimbingan, guru memiliki ‘sense of
commitmen’ yang smakin besar ketika mengajar, kepuasan kerjanya semakin
tinggi terlihat dari kesanggupan mengelola kelas pada waktu mengajar.
      Implementasi dilapangan banyak ditemukan masalah-masalah yang masih
menghambat terlaksananya supervisi diantaranya:
1.   Sistem kerja sentralisasi yang masih melekat. Guru perlu pembiasaan budaya
     kerja baru sesuai semangat otonomi pendidikan dan otonomi daerah yang
     menurut kreatifitas dan kerja keras. Kebiasaan lama dalam bekerja harus
     sudah ditinggalkan.
2.   Persaingan mutu sekolah semakin terasa berat. Pembinaan pembelajaran
     harus dilakukan semakin serius dan sungguh-sungguh.
3.   Masih adanya mental anak emas untuk guru yang dinilai dan baik.
4.   Tuntutan akuntabilitas penyelenggaraan sekolah dari masyarakat yang
     semakin   tinggi,     menyebabkan   kesibukan     dalam   menangani    urusan
     administrasi, trutama menghadapi pemeriksaan pembukuan, LSM dan pers.
5.    Transparansi menajemen sekolah yang sering terjadi benturan kebijakan
      dengan komite sekolah, menybabkan kesulitan bergerak untuk kelancaran
      tugas-tugas rutin.
6.    Transparansi pengelolaan keuangan sekolah yang pembukuan dan bukti-
      buktinya menyita banyak waktu.


       Usaha untuk kelancaran dan keberhasilan pemecahan permasalahan yang
ditempuh dalam kegiatan supervisi oleh kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1.    Penyamaan visi dan misi
2.    Penngelolaan supervisi yang baik
3.    Pelibatan guru secara individual dalam pelaksanaan supervisi
4.    Pelibatan organisasi guru, seperti PKG, KKG, dan KKKS untuk mengukur
      keberhasilan guru dalam pembelajaran dan sebagai tempat sharring.




                                         BAB III
                                         PENUTUP
                                    A. Kesimpulan


       Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Supervisi    pendidikan   pada   hakikatnya     adalah   merupakan   bimbingan
     profesional bagi guru-guru. Bimbingan profesional yang dimaksud adalah
     segala usaha yang memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk berkembang
     secara professional, sehingga mereka lebih maju dalam melaksanakan tugas
     pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses belajar murid-murid.
2. Supervisi pendidikan mempunyai beberapa prinsip. Prinsip supervisi
     pendidikan antara lain: ilmiah (sistematis, objektif, dan menggunakan
  instrument untuk memperoleh informasi), demokratis, kooperatif, kontruktif,
  dan kreatif.
3. Secara umum tujuan supervisi pendidikan adalah membina kepala sekolah dan
  guru-guru      agar   lebih    memahami      tujuan   pendidikan,   meningkatkan
  kesanggupan untuk mempersiapkan peserta didiknya menjadi anggota
  masyarakat yang lebih efektif, meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan
  guru untuk meningkatkan mutu layanan secara maksimal, dan mengembangkan
  rasa kesatuan dan persatuan antar guru-guru.
4. Beberapa teknik supervisi yang dapat digunakan supervisor pendidikan antara
  lain: kunjungan kelas secara berencana, pertemuan supervisor dengan guru,
  rapat antara supervisor dengan guru, kunjungan antar kelas atau antar sekolah,
  pertemuan-pertemuan di kelompok kerja penilik.
5. Langkah-langkah      supervisi     pendidikan     meliputi   pengumpulan   data,
  penyimpulan/penilaian,        diskusi   kelemahan,    memperhatikan   kelemahan,
  bimbingan dan pengembangan, dan penilaian kemajuan.
6. Supervisor pendidikan yang berhasil adalah mereka yang dapat melaksanakan
  tugasnya berkenaan dengan orang yang disupervisi. Ia memilki sifat-sifat yang
  sesuai dengan profesi supervisor dan ia dapat menjaga etik pekerjaannya.
7. Implementasi supervisi pendidikan di lapangan banyak terjadi keragaman
  dalam memahami supervisi, sehingga implementasi supervisi di lapangan
  banyak di temukan masalah-masalah yang masih menghambat terlaksananya
  supervisi.


                                          B. Saran
     Adapun beberapa saran yang dapat disampaikan adalah:
1. Seorang supervisor pendidikan yang mengadakan supervisi ke sekolah-
    sekolah hendaknya melakukan supervisi sesuai prosedur yang ada dan tidak
    seharunya mencari kesalahan atau kekurangan yang ada di sekolah dalam
    menjalankan fungsi supervisinya, tetapi berusaha untuk memberi masukan
    dan bimbingan serta pengarahan terhadap guru-guru agar tujuan pendidikan
    dapat diraih secara maksimal.
2. Setelah dilakukan supervisi hendaknya seorang guru menerapkan berbagai
   kebijakan dari supervisor, demi tercapainya tujuan pendikan nasional.
                                 DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, S. (2009). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta : Aditya Media.

Tim Penulis. (2011). Manajemen Pendidikan. Bandung; Tim Dosen Administrasi
      Pendidikan UPI.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:125
posted:4/5/2013
language:Malay
pages:25
Description: Latar Belakang, Rumusan Masalah ,Tujuan,Pengertian Supervisi Pendidikan,Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan ,Tujuan Supervisi Pendidikan ,Teknik-Teknik Supervis Pendidikan ,Langkah-langkah Supervisi Pengajaran ,Perilaku- Perilaku Etik yang Harus Dimiliki Supervisor Pendidikan, Implementasi Supervisi Pendidikan di Lapangan