SISTEM PEREKONOMIAN NEGARA BERKEMBANG by billyandreas22

VIEWS: 0 PAGES: 4

									SISTEM PEREKONOMIAN NEGARA BERKEMBANG
Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menganalisasi sistem politik ekonomi di
Negara-negara berkembang. Selain teori moderenisasi yang telah dijelaskan, kali ini akan
dijelaskan beberapa teori yang merupakan kritik terhadap teori moderenisasi. Teori
tersebutantara lain teori dependensi dan sistem ekonomi kapitalis dunia. Dengan memahami
kedua teori ini, diharapkan mahasiswa mampu menganalisa dan memahami mengapa Negara-
negara berkembang termasuk Indonesia sulit melakukan perubahan menjadi masyarakat
modern seperti yang dicita-citakan.

1. Politik Ekonomi Ketergantungan

Dos Santos (dalam Suwarsono dan So, 1986 : 98-101), merumuskan bahwa hubungan dua
Negara atau lebih mengandung bentuk ketergantungan jika beberapa Negara ( yang dominan)
dapat berkembang dan memiliki otonomi dalam pembangunannya, sementara Negara lainnya
(yang tergantung) dapat melakukan hal serupa hanya sekedar merupakan refleksi
perkembangan Negara dominan. Yang tidak sederajat, karena pembangunan di Negara
dominan terjadi atas biaya dalam hubungan perdagangan internasional, hubungan utang-
piutang dan ekspor modal dalam hubungan perdagangan modal, surplus ekonomi yang
dihasilkan dinegara tergantung mengalir dan berpindah ke Negara dominan. Bagi Negara
tergantung, pemindahan surplus ekonomi ini menyebabkan tidak dapat berkembang pasar
dalam negri, menghambat kemampuan teknik dan memperlemah keandalan budayanya.
Pernyataan di atas adalah kesimpulan dari hasil penelitian Dos Santos tentang fakta
perkembangan politik dan ekonomi di Negara-negara berkembang sangat tergantung kepada
Negara-negara dominan yang memiliki kekuasaan dan capital besar. Artinya program
pembangunan yang disponsori oleh Negara-negara maju pada kenyataannya banyak
menguntungkan Negara maju dan membuat Negara-negara berkembang ketergantungan dan
mengalami krisis ekonomi.

Selain itu Dos Santos berdasarkan tinjauan sejarah menjelaskan tiga bentuk ketergantungan.
Pertama, ketergantungan colonial dan industrial. Jenis ketergantungan ini terjadi pada masa
kolonialisme dan imperialism. Negara-negara dominan melakukan monopoli pemilikan tanah,
pertambangan, tenaga kerja, (perbabuab dan perbudakan), dan ekspor emas, perak, barang-
barang hasil bumi dari Negara yang dijajah. Kemudian setelah abad ke-19 muncul
ketergantungan industry keuangan muncul. Untuk mendapatkan uang, ekonomi Negara
berkembang menjadi terpusat pada ekspor bahan mentah dan produk pertanian untuk
keperluan konsumsi dan pasar Negara-negara Eropa. Selanjutnya oriantasi ekspor ditambah
dengan produk-produk bahan jadi, dan ekspor tenaga kerja di saat kegiatan ekspor melemah.
Selanjutnya setelah usai perang dunia ke II, Negara ketiga memasuki masa ketergantungan
pada teknologi industry,akibat mulai berkembang industry-industri di Negara-negara
berkembang. Menurut Dos Santos, pembangunan yang bergantung pada ekspor bahan mentah,
keuntungannya sebagian besar dinikmati kembali Negara-negara dominan karena surplus
ekonomi yang didapat digunakan untuk membeli mesin-mesin industry.
Kedua, Negara-negara berkembang pembangunan menjadi tergantung pada neraca
pembayaran internasional. Ketergantungan ini mengakibatkan Negara-negara berkembang
selalu deficit untuk memenuhi anggaran pembangunannya karena utang yang besar. Deficit
salah satunya disebabkan oleh monopoli keatas pasar internasional yang mengakibatkan
rendahnya harga pasar produk-produk bahan mentah dan tingginya harga produk industry.
Selain itu munculnya bahan-bahan sintesis pengganti bahan mentah, Negara-negara
berkembang yang tergantung pada ekspor bahan mentah menjadi tidak bisa mengelak dari
deficit anggaran.
Deficit yang terjadi di Negara berkembang, terjadi pula karena Negara-negara maju membawa
keuntungan besar yang diperoleh dari Negara berkembang. Misalnya, biaya transportasi,
perbayaran royalty, biayabantuan teknis ke Negara asalnya, merupakan keuntungan besar yang
didapat Negara-negara maju. Jika dikalkulasikan modal yang dikeluarkan Negara berkembang
jauh lebih banyak dibandingkan jumlah modal asing yang ditanamkan. Kondisi ini di gambarkan
sebagai berikut, pada tahun 1956-1967, setiap dollar yang masuk, dua dollar tujuh puluh sen
yang keluar.
Ketiga ketergantungan Negara-negara berkembang kepada teknologi yang dimiliki oleh Negara-
negara maju. Perusahaan transional tidak begitu mudah menjual mesin, teknologi, dan proses
pembuatan bahan mentah menjadi barang jadi, mereka menurut pembayaran royalty dan
menjadikan mesin serta teknologi sebagai bagian dari penanaman modal di Negara-negara
berkembang. Di lain pihak, Negara dunia ketiga kekurangan devisa untuk membeli mesin dan
teknologi dari Negara maju. Akibatnya pihak Negara berkembang member kemudahan kepada
masuknya investasi asing untuk memperoleh keperluan teknologi yang dibutuhkan. Dalam
situasi keuntungan lebih banyak mengalir ke Negara-negara maju. Kondisi ketergantungan
teknologi member dampak-dampak negative terhadap Negara berkembang.
Dampak tersebut dapat kita pahami sebagai berikut :

1. Di tingkat Internasional terjadi ketimpangan pembangunan. Secara nyata dapat dilihat
ditingkat regional dan nasional. Hal ini terlihat pada perbedaan struktur produksi antara ekspor
produksi hasil pertanian ( Negara berkembang ) dan ekspor teknologi (Negara maju ).

2. Penggunaan teknologi padat modal dan pelimpahan, serta murahnya tenaga kerja
mengakibatkan terjadinya perbedaan tajam dari berbagai tingkat upah domestic. Meminjam
istilah Marxis , kondisinya sudah mengarah kepada eksploitasi tenaga kerja.

3. Perkembangan pasar domestic mengalami hambatan. Pertumbuhan pasar dibatasi oleh
rendahnya daya beli masyarakat, sebagai akibatkecilnya lowongan pekerjaan industry padat
modal. Pertumbuhan pasar barang industry terhambat karena laba usaha yang dihasilkan
banyak mengalir ke luar negri.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keterbelakangan ekonomi Negara
berkembang disebabkan oleh pengawasan ketat dan monopoli modal asing, pembiayaan
pembangunan dengan modal asing, serta penggunaan teknologi, yang di kuasai oleh Negara-
negara maju. Negara-negara berkembang menjadi sulit tercapai posisi yang menguntungkan.
Penganut teori dependensi menganjurkan agar Negara-negara berkembang menganut model
pembangunan “berdiri di kaki sendiri”, dengan membangun sistem kerjasama dengan Negara
maju yang saling menguntungkan tidak di atas dominasi Negara central. Menurut kajian Sritua
Arief dan Adi Sasono ( dalam Suwarsono dan So, 1986:122-125), di Indonesia sejak pada jaman
orde baru ketergantungan dan keterbelakangan sudah berwujud.

2. Politik Sistem Ekonomi Kapitalis Dunia

Teori sistem mencoba menganalisa perkembangan ekonomi di luar dari kajian moderenisasi
dan teori indepedensi. Teori sistem ekonomi kapitalis dunia berpendapat bahwa perkembangan
ekonomi dunia berkembang pasang dan surut, melalui fase-fase tertentu. Fase-fase ini dilihat
dari dinamika sejarah sistem ekonomi kapitalis dunia yang terlihat seperti siklus. Yang menjadi
wilayah kajian teori sistem meliputi seluruh Negara-negara di dunia yang di katagorikan
menjadi Negara pinggiran, semi pinggiran dan sentral. Inti kajiannya menjelaskan bagaimana
terbentuknya sistem ekonomi kapitalisme dunia, termasuk kajian dalam suatu Negara. Untuk
memudahkan pemahaman teori ini, berikut hasil kajian para penganut teori sistem ekonomi
kapitalisme dunia terhadap Negara Cina.

A. Fase Penarikan
Setelah revolusi Komunis 1949, Partai Komunis Cina (PKC) memutuskan hubungan diplomatic
dengan hamper semua Negara-negara barat. Politik isolasi ini tidak lama kemudian diikuti
dengan isolasi ekonomi. Untuk mendapatkan dukungan rakyat PKC melakukan reformasi tanah.
Tanah-tanah milik tuan tanah dirampas dan di bagikan kepada rakyat miskin. Tanah pertanian
dan sumber alam dijadikan milik bersama. Semua bekerja secara kolektid dalam satuan tim
produksi untuk kepentingan komunitasnya. Di perkotaan dilakukan nasionalisasi terhadap
perusahaan milik para pengusaha pribadi. Untuk mengurangi kekecewaan para pengusaha
tersebut diangkat menjadi manajer-manajer di perusahaan milik Negara. Kemudian penarikan
anggota partai, seleksi mahasiswa, dan manajer pabrik lebih diutamakan berdasarkan criteria
asal usul kelas sosialnya, di banding berdasarkan kemampuan teknis yang mereka miliki. Cina
benar-benar ingin keluar dari sistem ekonomi kapitalis dunia. Namun setelah runtuhnya
komunisme internasional, cina memulai fase kedua untuk kembali memasuki sistem ekonomi
kapitalis dunia.

B. Fase Integrasi Kembali
Sejak akhir tahun 1970 an, Negara-negara kapitalis sentral mulai menurunkan derajat intensitas
kebijaksanaan tidak bersahabatnya dengan RRC, karena nampaknya mereka menyadari bahwa
memusnahkan rezim sosialis dengan kebijaksanaan militer hanya sia-sia belaka. Kemudian
Negara-negara kapitalis memulai melihat keuntungan yang bisa di dapat dengan membuka
hubungan dengan cina. Negara kapitalis dapat memanfaatkan tenaga murah dan berlimpah,
bahan mentah, bahan tambang dan besarnya pasar RRC.
Sejak tahun 1970-an, RRC mulai menganut politik pintu terbuka untuk mendorong berdirinya
berbagai bentuk usaha di RRC yang sepenuhnya milik modal asing. Pada tahun 1980-an,
disamping secara formal masih tetap ada larangan impor, barang-barang konsumsi dari barat,
seperti televise, lemari pendingin, sepeda, membanjiri cina bersaing dengan produk dalam
negeri. Oleh karena itu usahawan Cina dituntut untuk memproduksi barang dengan mutu yang
lebih baik dan harga murah jika ingin tetap menguasai pasar dalam negeri.
Cina melakukan rekrukturisasi. Di pedesaan kebijakan kerja kolektif dihapuskan, kepemilikan
bersama atas tanah ditiadakan. Sistem kepemilikan dialihkan kepada individu dari sebuah
keluarga. Membangun kembali usaha-usaha kolektif maupun individual menggantikan peran
perusahaan Negara. Para birokrat pun tidak terlalu banyak ikut campur dalam kegiatan usaha.
Pendidikan setingkat universitas berkembang pesat dengan sistem seleksi nasional untuk
memilih calon terbaik. Kader-kader politik yang sudah lanjut usia dan tidak memiliki
pengetahuan yang cukup tentang kebijaksanaan reformasi diganti dengan kader-kader generasi
muda yang lebih terdidik. Kini kelompok social yang dulu hamper punah seperti para pemilik
modal asing, petani kaya, para pemilik modal domestic, kelas menengah, dan birokrat, telah
lahir kembali dan memperteguh posisi politik mereka kembali.
Selain itu para ahli penganut sistem ekonomi kapitalis dunia, menyebutkan pola-pola fase yang
sama terjadi pada pembangunan ekonomi di Hongkong. Ekonomi Hongkong bergerak dari fase
awal industrialisasi ketika masih memfokuskan pada ekspor pakaian murah, menuju fase baru
ketika Hongkong memberikan perhatian pada ekspor barang bermutu tinggi dan jasa. Terakhir
Hongkong berubah menjadi salah satu pusat industry keuangan dunia. Demikian para penganut
sistem ekonomi kapitalis dunia menjelaskan bagaimana perkembangan politik ekonomi dunia
secara siklus. Pola-pola semacam ini akan terus bergerak silih berganti sesuai dengan
perkembangan jaman. Sekarang para penganut teori ini memprediksi bahwa uang akan
bergerak ke Timur, seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi Cina.

Referensi :
http://tigasenyawa.blogspot.com/2011/02/sistem-politik-ekonomi-negara.html

Nama          : Billy Andreas
NPM           : 11111480
Kelas         : 2KA04

								
To top