Docstoc

lp hipertensi

Document Sample
lp hipertensi Powered By Docstoc
					             LAPORAN PENDAHULUAN

    HIPERTENSI DENGAN DIAGNOSA NYERI AKUT




                    Disusun oleh :

                    Nur Indah Sari

                     A11000587




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
           PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
                        2012
                       LEMBAR PENGESAHAN

             HIPERTENSI DENGAN DIAGNOSA NYERI AKUT




Telah disahkan

Hari         :

Tanggal      :




       Ci Lahan                            Mahasiswa
                                              BAB I
                                        PEMBAHASAN



A. Pengertian hipertensi
              Hipertensi adalah Suatu kondisi medis kronik dimana tekanan darah
       meningkat diatas tekanan darah normal yang telah disepakati yakni batas sistolik
       adalah 140 – 150 mmHg dan batas diastol 90 – 95 mmHg.

              Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau
       lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
              Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG
       dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
              Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
       sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih.
       (Barbara Hearrison 1997)


B. Klasifikasi hipertensi
       1. Normal
       2. Pre hipertensi
       3. Hipertensi stage 1
       4. Hipertensi stage 2
C. Macam – macam hipertensi ( primer dan sekunder )
       1. Hipertensi primer adalah peningkatan peristensi tekanan arteri karena
           ketidakteraturan mekanisme kontrol tubuh yang normal.
       2. Hipertensi sekunder adalah berkaitan dengan berbagai penyakit seperti kelainan
           ginjal, sistem saraf pusat, penyakit endokrin dan vaskuler, penggunaan obat
           kontrasepsi oral.
D. Faktor penyebab hipertensi
              Faktor penyebab hipertensi ada 2 yaitu primer dan sekunder :
       1. Primer : faktor belum diketahui (terdapat lebih 90 % dari hipertensi ). Hipertensi
           primer kemungkinan disebabkan oleh beberapa perubahan pada jantung dan
           pembuluh darah kemungkinan bersama – sama menyebabkan meningkatnya
           tekanan darah.
       2. Sekunder, beberapa penyebab penyakit hipertensi :
              a. Penyakit ginjal :
                    a) tumor ginjal
                    b) Trauma pada ginjal
              b. Kelainan hormonal :
                    a) Sindroma cushing
              c. Obat – obatan :
                    a) Pil KB
                    b) Kokain
                    c) Penyalahgunaan alkohol
                    d) Kayu manis ( dalam jumlah sangat besar )
              d. Penyebab lainya :
                    a) Keracunan timbal akut
E. Tanda dan gejala
       1. Sakit kepala
       2. Perdarahan dari hidung
       3. Wajah kemerahan dan kelelahan
       4. Mual muntah
       5. Sesak nafas
       6. Gelisah
F. Komplikasi pada pasien hipertensi :
       1. Sistem saraf
                      Gangguan pada sistem saraf terjadi pada sistem retina ( mata bagian
           dalam ) dan sistem saraf pusat ( otak ). Didalam retina terdapat pembuluh –
           pembuluh darah tipis yang akan menjadi lebar saat terjadi hipertensi.
       2. Sistem ginjal
                      Hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan dari
           pembuluh darah pada organ ginjal, sehingga fungsi ginjal sebagai pembuang zat –
           zat racun bagi tubuh tidak berfungsi dengan baik.
G. Penanganan atau pengobatan pada pasien hipertensi
       1. Penanganan hipertensi primer :
              a. Perubahan gaya hidup
              b. Tanpa obat – obatan
       2. Penanganan hipertensi sekunder :
              a. Disesuaikan dengan penyakit yang mendasarinya.
H. Terapi komplementer pada pasien hipertensi

             Terapi komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan
      sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai Pengobatan
      Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang Konvensional.

             Terapi Komplementer, pada dasarnya bertujuan untuk memperbaiki fungsi
      dari sistem-sistem tubuh, terutama “Sistem Kekebalan dan Pertahanan Tubuh”, agar
      tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita
      sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan
      kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan nutrisi yang baik
      dan lengkap serta perawatan yang tepat.


             Jenis-jenis terapi yang dilaksanakan


           1. Nutrisi (Nutrisional Teraphy)


           2. Terapi herbal (Herbal Teraphy)


           3. terapi spititual berdo’a


           4. Terapi Psiko somatik


             Menurut WHO (World Health Organization), Pengobatan komplementer
      adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang
      bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan
      komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang
      dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan
      diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina misalnya,
      jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.
             Di Indonesia ada 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang telah
      ditetapkan oleh Departemen Kesehatan untuk        dapat diintegrasikan ke dalam
      pelayanan konvensional, yaitu sebagai berikut :
 1. Akupunktur      medik      yang   dilakukan   oleh   dokter   umum   berdasarkan
     kompetensinya. Metode yang berasal dari Cina ini diperkirakan sangat
     bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga
     sebagai analgesi (pereda nyeri). Cara kerjanya adalah dengan mengaktivasi
     berbagai molekul signal yang berperan sebagai komunikasi antar sel. Salah satu
     pelepasan molekul tersebut adalah pelepasan endorphin yang banyak berperan
     pada sistem tubuh.
 2. Terapi hiperbarik, yaitu suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke
     dalam sebuah ruangan yang memiliki tekanan udara 2 – 3 kali lebih besar
     daripada tekanan udara atmosfer normal (1 atmosfer), lalu diberi pernapasan
     oksigen murni (100%). Selama terapi, pasien boleh membaca, minum, atau
     makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat tingginya tekanan udara.
 3. Terapi herbal medik, yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam, baik
     berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun berupa
     fitofarmaka. Herbal terstandar yaitu herbal yang telah melalui uji preklinik pada
     cell line atau hewan coba, baik terhadap keamanan maupun efektivitasnya.
     Terapi dengan menggunakan herbal ini akan diatur lebih lanjut oleh Departemen
     Kesehatan Republik Indonesia. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi,
     yaitu sebagai berikut :
 -   sumber daya manusia harus tenaga dokter dan atau dokter gigi yang sudah
     memiliki kompetensi.
 -   Bahan yang digunakan harus yang sudah terstandar dan dalam bentuk sediaan
     farmasi.
 -   Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan penelitian harus telah mendapat
     izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan akan dilakukan
     pemantauan terus – menerus.


      Dari 3 jenis teknik pengobatan komplementer yang ada, daya efektivitasnya
untuk mengatasi berbagai jenis gangguan penyakit tidak bisa dibandingkan satu
dengan lainnya karena masing – masing mempunyai teknik serta fungsinya sendiri –
sendiri. Terapi hiperbarik misalnya, umumnya digunakan untuk pasien – pasien
dengan gangren supaya tidak perlu dilakukan pengamputasian bagian tubuh. Terapi
herbal, berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara, terapi
akupunktur berfungsi memperbaiki keadaan umum, meningkatkan sistem imun tubuh,
mengatasi konstipasi atau diare, meningkatkan nafsu makan serta menghilangkan atau
mengurangi efek samping yang timbul akibat dari pengobatan kanker itu sendiri,
seperti mual dan muntah, fatigue (kelelahan) dan neuropati.
  I. Pathway hipertensi

          umur                                      Jenis kelamin                    Gaya hidup          obesitas




Elastisitas   , arteriosklerosis




                                                       Hip

                                                   ertensisi
                                         Kerusakan vaskuler pembuluh
                                                    darah

                                             Perubahan struktur



                                           Penyumbatan pembuluh
                                                  darah

                                                vasokonstriksi


                                              Gangguan sirkulasi




                    otak                        ginjal                      Pembuluh darah                  Retina



       Resistensi           Suplai O2     Vasokonstriksi              sistemik                 koroner     Spasme
       pembuluh             otak          pembuluh                                                         arteriole
       darah otak           menurun       darah ginjal
                                                                    vasokonstriksi             Iskemi
                                                                                                           diplopia
                                           Blood flow                                          miocard
Nyeri         Gangguan          sinkop     munurun
kepala        pola tidur                                              Afterload
                                                                                            Nyeri dada    Resti injuri
                                                                      meningkat
                                          Respon RAA
                           Gangguan
                             perfusi                           Penurunan             Fatique
                            jaringan        Rangsang          curah jantung
                                            aldosteron
                                                                                        Intoleransi
                                                                                          aktifitas
                                            Retensi Na


                                              Edem

                                                a
J.   Diet bagi penderita hipertensi



                 Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg,
     selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya
     hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan
     darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga
     ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih,
     tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula
     penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes
     mellitus.
                 Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
        1.   Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.
        2.   Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.
        3.   Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan
             dalam daftar diet.
                 Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat
     dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan.
     Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan
     konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari atau dapat menggunakan
     garam lain diluar natrium.
                 Mengatur menu makanan :
                 Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk
     menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah
     serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark
     jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:
        1.   Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa,
             gajih).

        2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker,
             keripik dan makanan kering yang asin).

        3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-
             buahan dalam kaleng, soft drink).
   4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang,
      udang kering, telur asin, selai kacang).
   5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein
      hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur,
      kulit ayam).
   6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta
      bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
   7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.


          Daftar bahan pangan :
   1. Serelia, dan umbi-umbian serta hasil olahannya: beras, jagung, sorgum, cantle,
       jail, sagu, ubi, singkong, kentang, talas, mie, roti, bihun, oat.
   2. Sayuran: Sayur daun: kangkung, bayam, pucuk labu, sawi, katuk, daun singkong,
       daun pepaya, daun kacang, daun mengkudu, dan sebagainya. Sayur buah: kacang
       panjang, labu, mentimun, kecipir, tomat, nangka muda, dan sebagainya. Sayur
       akar: wortel, lobak, bit, dan sebagainya.
   3. Buah: jambu biji, pepaya, jeruk, nanas, alpukat, belimbing, salak, mengkudu,
       semangka, melon, sawo, mangga.
   4. Kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu) serta polong-polongan.
   5. Unggas, ikan, putih telur.
   6. Daging merah, kuning telur.
   2. Minyak, santan, lemak (gajih), jeroan, margarine, susu dan produknya.
   3. Gula, garam.


K. Pemeriksaan penunjang


          Pemeriksaan Laboratorium
   1. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas)
       dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
   2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
   3. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh
       pengeluaran kadar ketokolamin.
   4. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
   5. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
      6. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P
          adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
      7. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan
          ginjal.
      8. Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran
         jantung.
L. Diagnosa Keperawatan
     1. Nyeri akut b.d agen cidera biologi
         a. Batasan Karakteristik
                Laporan secara verbal dan non verbal
                Fakta dari obsevasi
                Posisi antalgik ( menghindari nyeri )
                Gerakan melindungi
                Tingkah laku berhati – hati
                Muka menahan nyeri
                Gangguan tidur ( mata sayu, tampak capek, sulit bergerak )
                Terfokus pada diri sendiri
                Fokus menyempit ( penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berfikir,
                    penurunan interaksi dengan orang lain dan lingkungan. )
                Tingkah laku distraksi ( jalan – jalan, menemui orang lain, dan atau
                    aktivitas berulang ulang )
                Respon autonom ( berkeringat, perubahab TD, perubahab nafas, nadi dan
                    dilatasi pupil )
                Perubahan otonom dalam tonus otot ( dalam rentang dari lemah ke kaku
                    )
                Tingkah laku expresif ( gelisah, merintih, menangis, waspada, iritable,
                    nafas panjang, berkeluh kesah )
                Perubahab dalam nafsu makan dan minum.
         b. Faktor Yang Berhubungan
                Agen injuri ( biologi, kimia, fisik, psikologi )
         c. Intervensi
                        Tujuan : mengatakan nyeri hilang, menunjukan tindakan santai,
             mampu berpartisipasi beraktifitas dengan tepat.
                        Intervensi
          Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, pemberat,
             gips dan traksi.
          Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
          Evaluasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan karakteristik.
          Beri obat sebelum perawatan aktifitas.
          Dorong penggunaan teknik menejemen stres.
          Identifikasi aktifitas terapetik dengan tepat untuk usia pasien,
             kemampuan fisik dan penampilan pribadi
2. Gangguan pola tidur
    a. Batasan karakteristik
          Ketidakpuasan tidur
          Keluhan verbal tentang kesulitan tidur
          Keluhan verbal tentang persaan tidak dapat beristirahat dengan baik
          Insomnia
          Total waktu tidur kurang dari ideal
          Bangun 3x atau lebihdi malam hari
  b. Faktor yang berhubungan
              a) Psikologi
                   Perubahan tidur yang berhubungan dengan proses penuaan
                   Ansietas
                   Suhu tubuh
              b) Lingkungan
                   Suhu kelembaban yang berubah – ubah
                   Stimulasi yang berlebihan
                   Kegaduhan
                   Pengobatan
              c) Fisiologis
                   Demam
                   Refluk gastroenteritis
                   Mual
                   Posisi tubuh
                   Nafas pendek
                   Urgensi perkemihan
c. Intervensi
       Tentukan efek samping pengobatan pada pola tidur pasien
       Pantau pola tidur pasien
       Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat selama sakit
       Ajarkan pasien dan orang lain tentang faktor – faktor yanmg dapat
          berpengaruh pada gangguan pola tidur
       Hindari suara keras berikan lingkungan yang tenang damai dan
          meminimalkan gangguan
       Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor – faktor yang mungkin
          menyebabkab kurang tidur
       Anjurkan untuk tidur siang jika diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
          pola tidur
                                   DAFTAR PUSTAKA




Doengoes Marylin, E. 2000, Rencana ASUHAN KEPERAWATAN Pedoman Untuk
Perencaan dan Pendokumetasian Alih Bahasa I Made Kariasa, dkk. Edisi 3 : EGC, Jakarta.


Engram, Bankono, 1999. Rencana ASUHAN KEPERAWATAN Edisi 8, EGC : Jakarta


Smeltzer S.C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2, EGC : Jakarta.


Sulalit, E, DKK. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. PKUI : Jakarta.


Wijaya Kusuma H. Pembuluh Darah. Dkk. 2004. Ramuan Tradisonal Untuk Pengobatan
Darah Tinggi. Swadaya : Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:9
posted:4/2/2013
language:Unknown
pages:14