; LAPORAN PENDAHULUAN ISK
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

LAPORAN PENDAHULUAN ISK

VIEWS: 11 PAGES: 8

  • pg 1
									              LAPORAN PENDAHULUAN

INFEKSI SALURAN KEMIH DENGAN DIAGNOSA NYERI AKUT

             PADA SISTEM PERKEMIHAN




                     Disusun oleh :

                     Nur Indah Sari

                      A11000587




 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG
            PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
                         2012
                       LEMBAR PENGESAHAN

             HIPERTENSI DENGAN DIAGNOSA NYERI AKUT




Telah disahkan

Hari         :

Tanggal      :




       Ci Lahan                            Mahasiswa
                                                  BAB I
                                             PEMBAHASAN




A. Pengertian infeksi saluran kemih
                Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah
       suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy,
       2001).
                Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada
       saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)


B. Klasifikasi infeksi saluran kemih
                Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain:
       1. Kandung kemih (sistitis)
       2. Ureter (Ureteritis)
       3.   uretra (uretritis)
       4.   prostat (prostatitis)
       5.   ginjal (pielonefritis
       6. Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:
                1) ISK uncomplicated (simple)
                2) ISK complicated
                                 ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:
                      a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko
                          uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung
                          kencing menetap dan prostatitis.
                      b. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
                      c. Gangguan daya tahan tubuh
                      d. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus
                          spp yang memproduksi urease.
C. Faktor penyebab infeksi saluran kemih
                Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
       1. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
       2. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
       3. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.
       4. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
              1) Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan
                   kandung kemih yang kurang efektif
              2) Mobilitas menurun
              3) Nutrisi yang sering kurang baik
              4) Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
              5) Adanya hambatan pada aliran urin
              6) Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
D. Tanda dan gejala
             Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis):
       1. Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
       2. Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
       3. Hematuria
       4. Nyeri punggung dapat terjadi
             Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) :
       1. Demam
       2. Menggigil
       3. Nyeri panggul dan pinggang
       4. Nyeri ketika berkemih
       5. Malaise
       6. Pusing
       7. Mual dan muntah
E. Pemeriksaan penunjang
       1. Urinalisa
       2. Bakteriologis
       3. Kultur (biakan) urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
       4. Hitung koloni
       5. Sinar X ginjal
F. Penatalaksanaan
             Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agen antibacterial
   yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal
   terhaap flora fekal dan vagina.
             Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas:
       1. Terapi antibiotika dosis tunggal
      2. Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
      3. Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
      4. Terapi dosis rendah untuk supresi
             Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya:
      1. Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
      2. Interansi obat
      3. Efek samping obat
      4. Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal
      5. Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal:
             1) Efek nefrotosik obat
             2) Efek toksisitas obat

             Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi
      keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut:

      1. Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/
      2. Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malh
          membahnayakan/
      3. Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan?
      4. Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan?
G. Diagnosa Keperawatan
      1. Nyeri akut b.d agen cidera biologi (infeksi saluran perkemihan )
             1) Batasan Karakteristik
                   a. Laporan secara verbal dan non verbal
                   b. Fakta dari obsevasi
                   c. Posisi antalgik ( menghindari nyeri )
                   d. Gerakan melindungi
                   e. Tingkah laku berhati – hati
                   f. Muka menahan nyeri
                   g. Gangguan tidur ( mata sayu, tampak capek, sulit bergerak )
                   h. Terfokus pada diri sendiri
                   i. Fokus menyempit ( penurunan persepsi waktu, kerusakan proses
                      berfikir, penurunan interaksi dengan orang lain dan lingkungan. )
                   j. Tingkah laku distraksi ( jalan – jalan, menemui orang lain, dan atau
                      aktivitas berulang ulang )
     k. Respon autonom ( berkeringat, perubahab TD, perubahab nafas,
         nadi dan dilatasi pupil )
     l. Perubahan otonom dalam tonus otot ( dalam rentang dari lemah ke
         kaku )
     m. Tingkah laku expresif ( gelisah, merintih, menangis, waspada,
         iritable, nafas panjang, berkeluh kesah )
     n. Perubahab dalam nafsu makan dan minum.
1) Faktor Yang Berhubungan
                Agen injuri ( biologi, kimia, fisik, psikologi )
2) Intervensi
                Tujuan : mengatakan nyeri hilang, menunjukan tindakan santai,
      mampu berpartisipasi beraktifitas dengan tepat.
                Intervensi
     a. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, baud an pola
         berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil
         urinalisis ulang
     b. Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri.
     c. Berikan tindakan nyaman, seprti pijatan punggung, lingkungan
         istirahat;
     d. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus
     e. Berikan perawatan perineal Jika dipasang kateter indwelling,
         berikan perawatan kateter 2 nkali per hari.
     f. Berikan tindakan nyaman, seprti pijatan punggung, lingkungan
         istirahat;
     g. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus
     h. Berikan perawatan perineal jika dipaang kateter indwelling, berikan
         perawatan kateter 2 nkali per hari.
     i. Berikan antibiotic. Buat berbagai variasi sediaan minum, termasuk
         air segar . Pemberian air sampai 2400 ml/hari
     j. Kolaborasi:
             a) Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning,
                  jingga gelap, berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah,
                  sring berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin
                         kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau
                         bertambah sakit
2. Kurang pengetahuan b.d kurang sumber informasi
        1) Batasan karakteristik
             a. Memverbalisasikan adanya masalah
             b. Ketidakakuratan mengikuti intruksi
             c. Perilaku tidak sesuai
        2) Faktor yang berhubungan

             a. Keterbatasan kognitif
             b. Interpretasi terhadap informasi yang salah
             c. Kurangnya keingintahuan untuk mencari informasi
             d. Tidak mengetahui sumber – sumber informasi
        3) Intervensi
             a. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
                 penyakit yang spesifik
             b. Jelaskan patfisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini anatomi
                 dan fisiologi dengan cara yag tepat
             c. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
                 dengan cara yang tepat
             d. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara yang
                 tepat
             e. Sediakan informasi atau penkes
             f. Sediakan pilihan terapi atau penanganan
                                   DAFTAR PUSTAKA




Doengoes Marylin, E. 2000, Rencana ASUHAN KEPERAWATAN Pedoman Untuk
Perencaan dan Pendokumetasian Alih Bahasa I Made Kariasa, dkk. Edisi 3 : EGC, Jakarta.


Engram, Bankono, 1999. Rencana ASUHAN KEPERAWATAN Edisi 8, EGC : Jakarta


Smeltzer S.C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2, EGC : Jakarta.


Sulalit, E, DKK. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. PKUI : Jakarta.


Wijaya Kusuma H. Pembuluh Darah. Dkk. 2004. Ramuan Tradisonal Untuk Pengobatan
Darah Tinggi. Swadaya : Jakarta.

								
To top