CONTOH PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA - SUNU TRIWILUJENG

Document Sample
CONTOH PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA - SUNU TRIWILUJENG Powered By Docstoc
					      PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN
                DENGAN TEKNIK SCRAMBLE
        PADA SISWA KELAS VII-A SMPN 6 JOMBANG
              TAHUN PELAJARAN 2012/ 2013




                     DISUSUN OLEH
                SUNU TRIWILUJENG, S.Pd.
                  SMP NEGERI 6 JOMBANG


                     NO. PESERTA:
                   120504 156 10673




PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) GELOMBANG IV
     RAYON 114 – UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
                      TAHUN 2012
                           LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
                 PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


               PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN
                                     DENGAN TEKNIK SCRAMBLE
                    PADA SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 6 JOMBANG
                                     TAHUN PELAJARAN 2012/ 2013


Nama Pengaju Proposal                               : SUNU TRIWILUJENG, S.Pd.
Jabatan                                             : Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia
Tempat Tugas                                        : SMP NEGERI 6 JOMBANG
Jumlah Rencana Kegiatan                             : 2 Siklus
Pelaksanaan                                         : - Siklus I
                                                         Kamis, 09 Agustus 2012
                                                        - Siklus II
                                                         Selasa, 09 Oktober 2012
Tempat                                              : - Kelas VII-A
                                                         SMP NEGERI 6 JOMBANG
                                                         Desa Dapurkejambon – Jombang


Masalah yang menjadi fokus perbaikan
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII:
 Masih rendahnya motivasi belajar siswa dalam pembelajaran bahasa
     Indonesia khususnya memahami isi bacaan.
 Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan.

Menyetujui                                                         Surabaya,   Juni 2012
Supervisor,                                                        Pengaju,




.....................................................              SUNU TRIWILUJENG, S.Pd.
NIP.                                                               NIP. 19760524 200801 2 005

           Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   2
                                     KATA PENGANTAR


         Syukur alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan
Rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan prosposal ini sebagai salah satu
tugas dari kegiatan PLPG Gelombang IV Bidang studi Bahasa Indonesia dengan lancar
sesuai dengan yang direncanakan.


         Dasar utama dari penyusunan proposal ini adalah menemukan dan
memecahkan permasalahan pembelajaran di kelas yang dituangkan dalam bentuk
perencanaan perbaikan pembelajaran berdasarkan kaidah-kaidah penelitian yang disebut
dengan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) sedangkan tujuannya adalah untuk
memperbaiki pembelajaran siswa serta meningkatkan profesional guru dalam
pembelajaran di kelas sebagaimana tujuan dari PLPG bagi guru-guru.


         Pada kesempatan ini, tidak lupa penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar besarnya kepada semua pihak yang membantu kelancaran penelitian penulis
laksanakan ini. Ucapan terima kasih khusus penulis sampaikan kepada yang terhormat
bapak/ ibu dosen pembimbing di kelas B jurusan Bahasa Indonesia PLPG gelombang IV
Unesa tahun 2012.


         Dalam pembuatan proposal ini penulis menyadari bahwa penyusunan proposal
ini banyak kekurangannya, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, untuk itu
penulis mengharapkan kritik yang membangun dan saran demi kesempurnaan dari
laporan ini. Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.




                                                             Surabaya, Juni 2012
                                                             Penulis,




                                                             SUNU TRIWILUJENG, S.Pd.


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   3
                                                BAB I

                                        PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

       Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi, saling berbagi

pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual.

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting yakni sebagai

bahasa negara dan bahasa nasional. Mengingat fungsi yang diemban oleh bahasa

Indonesia sangat banyak, maka kita perlu mengadakan pembinaan dan pengembangan

terhadap bahasa Indonesia. Tanpa adanya pembinaan dan pengembanagan tersebut

bahasa Indonesia tidak akan dapat berkembang, sehingga dikhawatirkan bahasa Indonesia

tidak dapat mengemban fungsi-fungsinya. Salah satu cara dalam melaksanakan

pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia itu adalah melalui mata pelajaran

Bahasa Indonesia di sekolah.

       Pembinaan dan pengembangan kemampuan dan keterampilan berbahasa yang

diupayakan di sekolah berorientasi pada empat jenis keterampilan berbahasa, yaitu

keterampilan   menyimak,         keterampilan        berbicara,     keterampilan        membaca,     dan

keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berhubungan erat satu

dengan yang lain. Perkembangan tingkat penguasaan keterampilan berbahasa siswa

dalam masing-masing keterampilan berbahasa akan mempengaruhi penguasaan

keterampilan berbahasa yang lain. Dengan kata lain, pengajaran keterampilan berbahasa

tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Pengajaran keterampilan berbahasa

mendorong siswa sepenuhnya pada pelatihan dan praktik pemakaian bahasa sebagai alat

komunikasai sehingga ia kelak mahir berkomunikasi secara nyata di masyarakat.


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   4
       Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era informasi

dan komunikasi sekarang ini, membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting

dalam konteks kehidupan umat manusia. Membaca juga merupakan sebuah jembatan

bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan di

dunia persekolahan maupun di dunia pekerjaan. Membaca bukanlah suatu proses

"efakator", melainkan ketrampilan dan kemampuan yang interaktif dan terpadu. Faktor-

faktor yang secara tunjang menunjang terjalin dalam proses membaca itu ternyata

mempunyai sifat yang menguntungkan. Hampir semua jenis keterampilan membaca

dapat diperbaiki dengan jalan latihan ( Budi Nuryanto.1997:11.24). Pembelajaran

membaca di kelas dengan pemberian tugas terasa suatu pekerjaan yang membosankan

dan menjenuhkan. Saat ini siwa lebih suka menonton televisi,santai,dan tidur daripada

mengerjakan tugas itu, akibatnya kemampuan siswa tidak seperti yang diharapkan

kurikulum..

       Dari pengamatan di kelas ketika diberi pelajaran bahasa Indonesia khususnya

membaca terlihat 50 % siswa tidak tertarik, acuh tak acuh, beberapa siswa selalu

bercakap-cakap dengan teman sebangkunya, sebagian besar siswa gaduh, dan bacaan

baru selesai dalam waktu yang cukup lama. Diajukan pertanyaan, semua diam, sibuk

membaca kembali teks, jawaban siswa tidak mencapai sasaran.


       Keterampilan membaca untuk memahami bentuk-bentuk tertulis merupakan hal

yang mendasar dan sangat diperlukan siswa dalam kegiatan belajarnya. Kemampuan ini

tidak hanya untuk mempelajari mata pelajaran yang bersifat eksak, mata pelajaran

noneksak pun sangat memerlukannya. Mata pelajaran noneksak pada umumnya disajikan

secara ekspositoris dan panjang-panjang. Bila siswa tidak mampu memahaminya secara

baik, maka materi yang disajikan terasa berat dan efek lebih jauh muncul perasaan bosan

untuk mempelajari materi-materi pelajaran.



              Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   5
       Lemahnya tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa merupakan kendala

untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, apalagi bila metode pembelajaran yang

diterapkan guru kurang tepat, hal ini akan membuat nilai hasil belajar siswa semakin

terpuruk berada jauh di bawah batas ketuntasan.

       Kenyataan praktis di lapangan ini sangat menarik perhatian penulis, dan sebagai

guru bidang studi Bahasa Indonesia tergerak hatinya untuk mengadakan penelitian

dengan mengujicobakan teknik scramble untuk meningkatkan kemampuan membaca

pemahaman siswa di SMP Negeri 6 Jombang. Teknik scramble adalah teknik permainan

yang berupa aktivitas menyusun kembali atau pengurutan suatu struktur bahasa yang

sebelumnya telah dikacaubalaukan. Beberapa macam teknik scramble yang kita kenal

yaitu : (a) scramble kata, (b) scramble kalimat, (c) scramble paragraph dan (d) scramble

wacana ( Suparno 1998:76).

       Berdasar prinsip dari sejenis permainan kemudian konsepnya dipinjam untuk

kepentingan pengajaran membaca. Sasaran utamanya sama, yakni mengajak anak untuk

berlatih menyusun sesuatu agar sesuatu itu menjadi bermakna. Dalam pengajaran

membaca, anak diajak untuk berlatih menyusun suatu organisasi tulisan yang secara

sengaja dikacaukan, menjadi suatu organisasi tulisan yang utuh dan bermakna, melalui

teknik ini di samping anak diajak untuk berlatih memprediksi jalan pikiran penulisan

aslinya, juga mengajak anak untuk berkreasi dengan susunan baru yang mungkin lebih

baik dari susunan semula.

       Dengan dasar pemikiran di atas,alternatif poses belajar dengan teknik scramble

dalam pangajaran membaca adalah "bermain sambil belajar" bukan "belajar sambil

bermain". Kegiatan bermain bukan hanya digemari oleh anak-anak yang masih duduk di

sekolah dasar, anak-anak yang berangkat dewasapun menyukainya, bahkan program

televisi menayangkan acara permainan menjadi popular. Kegiatan ini selain ada unsur


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   6
rekreasi juga ada unsur belajar dan berpikir. Oleh karena itu, teknik pengajaran ini akan

memungkinkan siswa untuk belajar secara santai dan tidak membuatnya stress atau

tertekan. Mereka akan melakukannya dengan senang hati karena mengira sedang

bermain-main.

        Hal ini sejalan dengan pendapat Subiyantoro (2000:2) yang mengatakan bahwa

cara yang ditempuh untuk mengajak anak mengakrabi buku adalah sebagai berikut :

   (a) Ciptakan lingkungan yang menyenangkan.

   (b) Perkenalkan buku-buku baru

   (c) Pilih waktu yang tepat

   (d) Beri kesempatan untuk meresspon isi buku

   (e) Berikan bimbingan dalam memahami bacaan

   (f) Berikan kesempatan untuk mendiskusikan hasil membaca

   (g) Gunakan cara dan waktu yang bervariasi



B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah.

        Membaca sebagai suatu proses psikologis, ada beberapa faktor internal yang

berkaitan erat dengan proses membaca, diantaranya intelegensia,usia, mental,bahasa,

kepribadian, sikap, kemampuan persepsi dan tingkat kemampuan membaca anak. Faktor

eksternal yang sering dikaitkan dengan keterampilan membaca adalah faktor sosial

ekonomi. Kenyataan menyebutkan siswa-siswi kelas VII-A berasal dari golongan

ekonomi menengah ke atas mempunyai kemampuan membaca pemahaman yang rendah.

Fasilitas audio visual di rumah menyebabkan siswa kurang berminat membaca.

        Membaca merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dapat dipelajari dengan

berbagai cara sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh kegiatan membaca tersebut.

Secara umum tujuan membaca mencakup empat tujuan berbahasa berikut. Pertama,

tujuan penalaran, menyangkut kesanggupan berpikir dan pengungkapan nilai serta sikap
            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012 7
sosial budaya pendeknya identitas dan kepribadian seseorang. Kedua tujuan instrumental,

menyangkut penggunaan bahasa yang dipelajari itu untuk tujuan-tujuan material konkret,

umpamanya supaya tahu memakai alat, memperbaiki kerusakan mesin. Ketiga, tujuan

integrative, menyangkut seseorang menjadi suatu anggota masyarakat yang menggunakan

( atau dialek ) itu sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Keempat, tujuan kebudayaan

terdapat pada orang yang secara ilmiah ingin mengetahui dan memperdalam

pengetahuannya tentang kebudayaan atau masyarakat (Budinuryanta,dkk.1998:11.2.).

       Untuk memenuhi tujuan tersebut peranan pendidikan sangat menentukan, maka

harus disusun teknik pengajaran yang mampu meningkatkan keterampilan membaca.

Teknik pengajaran menyangkut cara mengajarkan sebuah mata pelajaran dalam proses

belajar mengajar. Istilah teknik berasal dari bahasa Inggris technique yang antara lain

berarti keterampilan dalam suatu cabang seni atau kiat dalam melakukan kegiatan

tertentu. Pengertian ini ada kaitannya dengan pengertian teknik dalam pengajaran bahasa,

yang mengacu pada implementasi perencanaan pengajaran di kelas. Teknik mengajar

dapat berupa berbagai macam cara atau kegiatan untuk menyajikan pelajaran di depan

kelas. Teknik pembelajaran bergantung pada guru, pada kiatnya secara individu serta

bergantung pula pada kondisi serta situasi kelas. Problema-problema tertentu mungkin

dapat ditangani dengan baik dengan teknik yang berbeda.

       Peneliti melihat berbagai minat dan tujuan mereka itu bervariasi, maka perlu

dicari teknik pembelajaran yang lebih efektif digunakan untuk kondisi tertentu. Teknik

yang lebih tepat untuk mencapai tujuan ini memerlukan pengkajian berbagai metodologi

dan strategi pembelajaran. Setelah peneliti menguraikan berbagai permasalahan yang

sebenarnya termasuk dalam lingkup tema permasalahan, peneliti mencoba memusatkan

perhatian pada teknik scramble untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas

VII-A SMP Negeri 6 Jombang pada tahun pelajaran 2012/ 2013.




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   8
C. Rumusan Masalah

       Membaca pemahaman bukanlah satu-satunya penyebab nilai siswa rendah,

banyak faktor lain yang ikut menentukan. Kompleksnya permasalahan dan terbatasnya

berbagai hal maka difokuskan pada salah satu faktor penyebab yang berhbungan dengan

tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa.

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut

   1. Adakah peningkatan ketrampilan membaca pemahaman siswa kelas VII-A SMP

       Negeri 6 Jombang tahun pelajaran 2012/ 2013, setelah mengikuti pembelajaran

       membaca pemahaman dengan teknik scramble?

   2. Adakah perubahan perilaku siswa dalam proses belajar mengajar membaca

       pemahaman dengan teknik scramble?



D. Tujuan Penelitian

       Sesuai   dengan       permasalahan        di    atas,    penelitian      ini    bertujuan     untuk

menggambarkan secara konkret penggunaan teknik scramble untuk meningkatkan

keterampilan membaca pemahaman siswa kelas VII-A SMP Negeri 6 Jombang tahun

pelajaran 2012/ 2013. Tujuan lain adalah memberikan gambaran mengenai perubahan

perilaku siswa selama mengikuti proses belajar-mengajar dengan teknik scramble.



E. Manfaat Penelitian.

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis dan teoritis.



1. Manfaat Praktis

       Hasil penelitian ini besar manfaatnya bagi guru dan siswa. Guru dapat

meningkatkan prestasi mengajar dan menghilangkan kejenuhan dalam mendampingi dan


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012    9
membimbing siswa dalam upaya penguasaan bahan ajar. Siswa mendapatkan masukan

baru mengenai cara memahami suatu bahan ajar dengan teknik yang efektif.

       Disamping manfaat di atas, penggunaan teknik scramble ternyata mampu

mengubah perilaku siswa. Dengan cara ini, sikap positif siswa dalam proses belajar-

mengajar dapat semakin ditumbuhkembangkan, sedangkan sikap negatif, acuh tak acuh,

atau bahkan sikap malas dan masa bodoh terhadap pelajaran dapat ditekan sekecil

mngkin dengan harapan akan terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran keterampilan

berbahasa Indonesia di sekolah dapat direalisasikan.



2. Manfaat Teoritis

       Hasil penelitian ini,dapat dipakai sebagai dasar dan acuan bagi peneliti lain di

tempat dan pelajaran yang berbeda, agar dapat mengembangkan model-model/teknik

baru atas dasar penelitian ini, sampai ditemukannya teknik yang paling efektif dalam

pengajaran membaca pemahaman.




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   10
                                                BAB II


               LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN



A. Tinjauan Teoritis Masalah Membaca di Sekolah Dasar

1. Hakekat Membaca

       Para pakar hingga saat ini masih memberikan batasan yang berbeda tentang

hakikat membaca. Anderson dalam Tarigan (1985 :7) mengatakan bahwa membaca

adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and

deconding process). Bagi anak-anak SD/ MI yang masih duduk dibangku awal

pengertiam membaca seperti itu tepat sebab ketika dia membaca hanya terbatas

mengemukakan atau membunyikan rangkaian lambang-lambang bahasa tulis yang

dilihatnya, dari huruf menjadi kata kemudian menjadi frase kalimat, dan seterusnya.

Mengerti atau tidak mengerti makna dari seluruh rangkaian lambang-lambang bahasa

tulis tidak menjadi persoalan. Pengertian tersebut menyatakan seakan-akan membaca

suatu hal yang pasif.

       Seiring dengan meningkatnya kemampuan membaca, pengertian Anderson bagi

anak-anak tingkatan tersebut tidak dapat dipertahankan lagi, sebab pada level ini mereka

dituntut untuk memahami maksud atau arti dari lambang yang dibacanya. Oleh karena

itu, Finnichiaro dan Bonomo dalam Tarigan (1985 :8) mencoba mendefinisikan membaca

adalah suatu proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam

bahasa tertulis (bringing meaning to and getting meaning from printed or written

material).

       Kegiatan membaca pada level siswa SMP kelas awal (VII/ VIII) bukanlah

kegiatan membaca yang dikatakan oleh Finnochiaro dan Bonomo, karena membaca

bukan hanya memahami yang tersurat saja tetapi juga yang tersirat, sebagaimana yang

             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   11
dikatakan oleh Goodman dalam Harras dan Sulistianigsih (1997 :1.7) bahwa ketika

seseorang membaca bukan hanya sekedar menuntut kemampuan mengambil dam

memetik makna dari materi yang tercetak melainkan juga menuntut kemampuan

menyusun konteks yang tersedia guna membentuk makna.

       Dengan demikian membaca bukan hanya sekedar memahami lambang-lambang

bahasa tulis saja, melainkan berusaha memahami, menerima, menolak, membandingkan,

dan meyakini pendapat pengarang.



3.   Tujuan Membaca

       Membaca merupakan aktifitas aktif, memberi tanggapan terhadap arti apa yang

dibaca,maka tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi,

mencakup isi, memahami makna membaca. Makna erat sekali dengan tujuan dalam

membaca berikut ini:

       a) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang

          telah dilakukan sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau

          untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh sang tokoh. Membaca

          semacam ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau

          fakta-fakta (reading for details or facts).

       b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan

          menarik,masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau

          dialami sang tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh sang

          tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama

          (reading for main ideas).

       c) Membaca untuk menemukan, mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian

          cerita, apa yang terjadi pada mula-mula pertama, kedua, ketiga, seterusnya.


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   12
         Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan

         kejadian, kejadian buat dramtisasi.ini disebut membaca untuk mengetahui

         urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization).

      d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan

         seperti mereka itu,apa yang hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kepada

         para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas yang dimiliki para tokoh

         yang membuat mereka berhasil atau gagal. ini disebut membaca untuk

         menyimpulkan, membaca inferensi (reading for reference).

      e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yamg tidak biasa, tidak

         wajar mengenai seorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita

         itu benar-benar atau tidak benar. ini disebut membaca untuk mengelompokkan

         membaca untuk mengklasifikasikan (reading for classify).

      f) Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil hidup dengan

         ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang dibuat oleh

         sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu.ini

         disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading for evaluate).

      g) Membaca utuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah

         bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal bagaimana dua

         cerita mempunyai persamaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca. ini

         disebut membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan (reading to

         compare or contrast) (Tarigan 1985 :9-10).



      Budi Nuryanto,dkk. (1997 :11.2) merumuskan bahwa tujuan membaca dilingkupi

oleh empat tujuan berbahasa secara umum, Pertama tujuan penalaran, menyangkut

kesanggupan berpikir dan pengungkapan nilai serta sikap social budaya, pendeknya


           Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   13
identitas dan kepribadian seseorang. Kedua tujuan instrumental, menyangkut penggunaan

bahasa yang dipelajari itu untuk tujuan-tujuan material dan konkret, umpamanya supaya

tahu memakai alat-alat, memperbaiki kerusakan mesin, mempelajari satu ilmu,

melakukan korespondensi komersial, dan sebagainya. Ketiga, tujuan integrative,

menyangkut keinginan seseorang menjadi anggota suatu masyarakat yang menggunakan

bahasa (atau dialek) itu sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dengan cara menguasai

bahasa itu seperti penutur asli, atau paling sedikit membuat orangnya tidak akan dianggap

"asing" lagi oleh penutur-penutur bahasa atau dialek tersebut. Keempat, tujuan

kebudayaan terdapat pada orang yang secara ilmiah ingin mengetahui atau memperdalam

pengetahuannya tentang suatu kebudayaan atau masyarakat. Ini didasarkan atas asumsi

bahwa bahasa adalah suatu inventaris dari unsur-unsur suatu kebudayaan atau masyarakat

biasa.



3. Jenis Membaca

         Dalam kajian membaca dikenal banyak jenis membaca. Dasar pijakan dalam

melakukan pembagian atau penggolongan jenis jenis membaca bermacam-macam.

Ditinjau dari terdengar tidaknya suara sipembaca pada waktu membaca menjadi dua

jenis, yakni membaca dalam hati ( silent reading ), serta membaca nyaring atau membaca

bersuara (oral readingor aloud reading). Dilihat sudut cakupan bahan bacaan yang

dibacanya,membaca dapat digolongkan ke dalam membaca ekstensif (extensive reading)

dan membaca intensif ( inyensive reading). Dilihat dari tingkatan kedalaman atau

levelnya membaca dapat digolongkan kedalam tiga jenis, yakni membaca literal (literary

reading), membaca kritis (critical reading), dan membaca kreatif (creative reading)

(Harras 1997:2.1)




             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   14
       Tarigan (1985:12-13) berpendapat bahwa kegiatan membaca dibedakan kedalam

jenis membaca bersuara atau membaca nyaring (oral reading atau reading aloud) dan

membaca dalam hati (silent reading ). Penjenisan ini berdasar atas perbedaan tujuan yang

hendak dicapai. Jenis pertama tepat untuk mencapai penguasaan hal-hal yang bersifat

mekanis seperti pengenalan bentuk huruf dan unsur-unsur linguistik. Jenis kedua sesuai

untuk tujuan yang bersifat pemahaman.


       Selanjutnya kegiatan membaca dalam hati dibedakan lagi menjadi kegiatan

membaca ekstensif, yang meliputi kegiatan survey (survey reading), membaca sekilas

(skimming), dan membaca dangkal (superficial reading), dan kegiatan membaca intensif,

meliputi kegiatan membaca telaah isi serta membaca telaah bahasa. Kegiatan membaca

yang bersifat telaah isi dibedakan menjadi kegiatan membaca teliti, membaca

pemahaman, membaca kritis dan membaca ide-ide, sedangkan kegiatan membaca yang

bersifat telaah bahasa meliputi kegiatan membaca bahasa dan membaca sastra.



Secara skematis hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

   a) Membaca nyaring

   b) Membaca survey Membaca sekilas Membaca dangkal

   c) Membaca ekstensif

   d) Membaca telaah isi

   e) Membaca dalam hati

   f) Membaca intensif

   g) Membaca telaah bahasa




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   15
Tarigan ( 1985 : 13 )

   a) Membaca teliti

   b) Membaca pemahaman

   c) Membaca kritis Membaca ide-ide

   d) Membaca bahasa

   e) Membaca sastra



   Berdasarkan atas pembagian Harras dan Tarigan tersebut dapat diambil kesimpulan

bahwa membaca pemahaman terdapat dalam lingkup membaca telaah isi yang tujuan

utamanya adalah penguasaan terhadap butir-butir informasi tersaji dalam sebuah

informasi tertulis berupa teks bacaan.



4 . Membaca Pemahaman

       Membaca pemahaman menurut Tarigan ( 1986:56 ) merupakan sejenis membaca

yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan ( literary

standards ), resensi kritis ( critical review ), drama tulis ( primed drama ), serta pola-pola

fiksi ( pattenrs of fiction ). Proses penguasaan dan ketrampilan membaca pemahaman

dipengaruhi beberapa faktor. Yap (1978) dalam Harras dan Sulistiyaningsih

(1997/1998:1.18 ) melaporkan bahwa kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan

oleh kuantitas membacanya. Hasil penelitiannya menyebutkan perbandingan sebagai

berikut : 65 % ditentukan oleh banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca, 25 %

oleh fakor IQ, dan 10 % oleh faktor-faktor lingkungan social,emosional, lingkungan fisik

dan sejenisnya.

       Sedangkan Ebel (1972:35) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi

rendahnya kemampuan pemahaman bacaan yang dapat dicapai oleh siswa dan


             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   16
perkembangan minat bacanya tergantung pada faktor-faktor berikut Siswa yang

bersangkutan, 2) keluarganya, (3) Kebudayaannya, dan (4) Situasi sekolah.

Alexander    (1983:143)        berpendapat        bahwa       faktor-faktor       yang     mempengaruhi

perkembangan pemahaman bacaan meliputi: program pengajaran membaca, kepribadian

siswa, motivasi, kebiasaan dan lingkungan social ekonomi mereka.

       Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa situasi sekitar pembaca berpengaruh

terhadap kegiatan membaca pemahaman seseorang. Suatu kegiatan reseptif menelaah isi

teks bacaan memerlukan situasi lingkungan yang tenang. Keadaan yang tenang akan

membuat pembaca lebih mudah mengenali setiap lambang bunyi, memberi makna dan

dapat menanggapi isi bacaan dengan cepat.

       Hal   lain yang perlu diperhatikan dalam membaca pemahaman adalah bahan

bacaan. Bahan bacaan yang memiliki tingkat kesukaran tinggi akan menjadi kendala bagi

pembaca dalam memahami bahan bacaan. Sebaliknya siswa akan dapat memahami secara

baik bahan bacaan yang tergolong mudah. Oleh sebab itu bahan bacaan yang akan

disajikan hendaklah dipilih yang memiliki tingkat keterbacaan tinggi, bentuk kalimatnya

efektif, tidak ada unsur asing yang tidak perlu, dan memiliki pola penalaran yang runtut.

       Aspek lain yang juga berpengaruh dalam membaca pemahaman adalah kondisi

umum jasmani dan tonus ( tegangan otot ) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ

tubuh dan sendi-sendinya. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi bila disertai pusing-

pusing kepala dapat menurunkan kualitas ranah cipta ( kognitif ) sehingga materi yang

dibaca kurang atau tidak berbekas. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat

kesehatan indra penglihat juga sangat mempengaruhi kemampuan menyerap informasi

dan pengetahuan.

       Aspek lain yang tidak dapat diabaikan adalah aspek keluasan wawasan, tingkat

kecerdasan, sikap, bakat, minat, dan motivasi. Aspek-aspek ini dapat memberikan


             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   17
kontribusi yang baik terhadap tingkat ketrampilan membaca pemahaman. Karlin ( 1964 )

dalam Nurhadi dan Rockhan ( 1990:225 ) mengatakan bahwa pembelajaran bahasa dalam

memahami wacana melewati beberapa aspek.

Aspek-aspek yang dimaksud adalah:

    (1) pemahaman kata,

    (2) konsep,

    (3) kalimat,

    (4) struktur paragraph, dan

    (5) sikap dan tujuan.

       Pemahaman kata dapat dilatihkan dengan melihat konteksnya,dan mencakupi (1)

struktur kata, (2) sinonim dan antonim, (3) bahasa figurative, dan (4) penggunaan kamus.

       Konsep adalah hubungan pengertian atau makna dengan pengalaman. Kalimat

yaitu kemampuan menghubungkan makna kata yang satu dengan yang lain. Struktur

meliputi kalimat, dan ide pokok.

       Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan di atas dapat disimpulkan bahwa

membaca pemahaman mempunyai tingkatan yang bervariasi dari tidak mengerti sampai

mengerti secara lengkap. Ketrampilan membaca pemahaman dipengaruhi oleh inputnya.

Seperangkat data, keterangan, dan bahan-bahan bahasa yang didapatkannya adalah input

yang dapat digunakan untuk melewati beberapa aspek membaca. Faktor internal dan

eksternal lain juga mempengaruhinya.




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   18
B. Tinjauan Teoritis Masalah Belajar


1.   Pengertian belajar

       Thorndike dalam Simanjutak (1987:64) mengatakan bahwa belajar merupakan

suatu proses menghubung-hubungkan di dalam sistim saraf dan tidak ada hubungannya

sama sekali dengan "insight".              Menurut psikologi Medan Gestat, pembelajaran

merupakan suatu proses memperoleh perubahan-perubahan pada "insight' atau

pemahaman-dalaman-kilat atau pola pikir segera, yaitu pengamatan hubungan-hubungan

(Rajah dalam Simanjutak 1987:87).

       Chomsky dalam Simanjuntak (1987:102) berpendapat bahwa (a) proses-proses

pemerolehan bahasa semua anak-anak boleh dikatakan sama, (b) proses pemerolehan

bahasa ini tidak ada kaitannya dengan kecerdasan anak yang IQ-nya rendah juga

memperoleh bahasa pada masa dan cara hampir sama, (c) proses pemerolehan bahasa ini

tidak pula dipengaruhi oleh motivasi atau emosi anak-anak, (d) tata bahasa yang

dihasilkan oleh semua anak-anak boleh dikatakan sama.

       Syah (1985:91) menyatakan bahwa secara umum belajar dapat dipahami sebagai

tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil

pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Buton

(1994) dalam Usman (1989:2) mengartikan bahwa belajar merupakan tingkah laku pada

diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan

lingkungannya.

       Dari pengertian di atas dapat diungkapkan bahwa seseorang yang telah

mengalami suatu proses belajar,akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek

pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya. Perubahan tingkah laku yang timbul akibat

proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah dan jenuh tidak dapat dianggap sebagai

proses belajar

             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   19
2.   Fase - fase dalam proses belajar

       Belajar merupakan aktifitas yang berproses, maka di dalamnya terjadi perubahan-

perubahan yang bertahap melalui fase-fase. Fase-fase antara satu dan lainnya bertalian

secara berurutan dan fungsional.

       Burlow (1985) dalam Syah (1985:112) proses pembelajaran siswa menempuh tiga

episode atau fase:

     (1) Fase Informasi (tahap penerimaan informasi)

     (2) Fase Transformasi (tahap pengubahan materi) dan

     (3) Fase Evaluasi (tahap penilaian materi)



Kemudian menurut Witting (1981) dalam bukunya Psycology of learning, setiap proses

belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan.

     (1) Acquasition (tahap perolehan / penerimaan infrmasi)

     (2) Storage (tahap penyimpanan informasi)

     (3) Retrieval (tahap mendapatkan informasi kembali)




C. Pengajaran Membaca Pemahaman dalam Kurikulum 2004


1.   Standar Kompetensi

       Pembelajaran membaca pemahaman bertujan agar siswa mampu mnyerap

gagasan,pendapat,pengalaman,pesan,dan perasaan yang ditulis. Sebagaimana disebutkan

dalam kurikulum 2004,standard kompetensi membaca yang harus dicapai siswa adalah

mampu membaca dan memahami ragam teks non sastra dengan berbagai cara membaca

melalui membaca, memindai,membaca sekilas, membaca intensif dan membacakan teks

untuk oranglain serta membaca cerita rakyat dan pantun ( Depdiknas,2003)


             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   20
       Dari uraian di atas menunjukkan kegiatan membaca pemahaman mendapatkan

porsi yang cukup banyak, sehingga siswa diharapkan memiliki ketrampilan yang cukup

baik. Keterampilan ini dapat dimanfaatkan untuk memahami berbagai bentuk teks

termasuk bahan ajar mata pelajaran lain.



2. Hasil belajar.

    Hasil belajar yang harus dicapai siswa kelas VII adalah :

   a. Menjelaskan informasi tersurat/ dasar yang di dapat dari suatu wacana dari hasil

       membaca memindai.

          Menjawab pertanyaan

          Menyampaikan/ menginformasikan isi wacana secara sederhana

    b. Membaca memindai dan menemukan konfirmasi secara cepat dari kamus atau

       ensiklopedi

        Mengidentifikasi kata sulit dalam bacaan

        Membaca kamus sesuai dengan langkah-langkah yang tepat ntuk mencari arti

           kata

        Membuat kalimat dengan kata-kata sulit

    c. Membaca sekilas teks agak panjang dan menjelaskan garis besar isinya.

          Membaca beragam teks dengan intonasi yang sesuai dengan isi teks sehingga

           dapat dipahami orang lain.

          Menjelaskan isi teks dengan runtut

    d. Menyusun cerita dengan kalimat acak

       o   Menyusun kalimat-kalimat acak menjadi cerita yang runtut.

       o   Membacakan cerita yang telah disusun dengan intonasi dan lafal yang tepat.




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   21
    e. Memahami teks dan menyusun ringkasannya.

       o   Menemukan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam teks

       o   Menyusun ringkasan.

       o   Menjelaskan isi teks dengan kalimat runtut.

    f. Membacakan pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat dan

       menyimpulkan isinya.

       o   Membacakan teks pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat.

       o   Menyimpulkan isi pengumuman

    g. Menjelaskan latar wacana, tokoh dan penokohannya.

        Menyebutkan tempat-tempat kejadian

        Menyebutkan tokoh-tokoh

        Menjelaskan hubungan tokoh-tokoh dengan tempat kejadian

    h. Membacakan pantun secara berpasangan dengan lafal dan intonasi yang sesuai.

        Membacakan bait-bait pantun dengan intonasi yang sesuai.

        Membacakan pantun secara berpasangan dan berkesinambungan.




D. Teknik Scramble

1. Pengertian Teknik Scramble.

       Istilah "Scramble" berasal dari bahasa Inggris yang dapat diterjemahkan dalam

bahasa Indonesia "perebutan, pertarungan, perjuangan . Teknik "scramble" biasanya

dipakai oleh anak-anak sebagai permainan yang pada dasarnya merupakan latihan

pengembangan dan peningkatan wawasan pemilikan kosakata-kosakata dan huruf huruf

yang tersedia.

       Teknik permainan ini pada prinsipnya menghendaki siswa supaya melakukan

penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya dengan sengaja telah

             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   22
dikacaukan susunannya. Berdasarkan sifat jawabannya, scramble terdiri atas bermacam

macam bentuk.

  a. Scramble kata, yakni sebuah permainan yang menyusun kata-kata dari huruf-huruf

     yang telah dikacaukan letak huruf-hurufnya sehingga membentuk suatu kata

     tertentu yag bermakna. Misalnya dari huruf-huruf :

     lewerkala-------> kelelawar

     opmketru -------> komputer

  b. Scramble Kalimat, yakni sebuah permainan menyusun kalimat dari kata-kata acak.

     Bentukan kalimat dimaksud hendaknya logis, bermakna, tepat dan benar.

  c. Scramble Wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan

     kalimat atau paragraf acak. Hasil susunan wacana dalam permainan scramble

     hendaknya logis dan bermakna (Budinuryanto, dkk.1997:11)



2. Pembelajaran Membaca Pemahaman dengan Teknik Scramble

       Scramble adalah salah satu permainan bahasa pada hakikatnya permainan bahasa

merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara

menggembirakan(Suparno           1998:60)       Dengan       bermain       siswa     akan     memperoleh

kegembiraan atau kesenangan,selain itu keterampilan tertentu akan diperolehnya dengan

tidak sengaja. Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan dan tantangan yang harus

dihadapi dan dipecahkan. Secara tidak langsung permainan juga dapat memupuk berbagai

sifat yang positif misalnya : solidaritas, sportivitas, kreativitas, dan rasa percaya diri.

Selain kelebihan di atas ada kelemahan dalam permainan,yaitu tidak baik untuk evaluasi

hasil belajar siswa sebab mengandung unsur spekulasi yang besar. Siswa yang menang

belum tentu siswa yang pandai.




             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   23
Secara rinci kelebihan dan kekurangan permainan bahasa adalah sebagai berikut :

Kelebihan


a. Permainan bahasa merupakan media pengajaran bahasa yang cocok untuk

  penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikulum 2004).Aktivitas yang

  dilakukan siswa dalam permainan bahasa ini bukan saja aktivitas fisik, tetapi

  juga aktivitas mental.

b. Permainan bahasa dapat dipakai untuk membangkitkan kembali kegairahan

  belajar siswa yang sudah mulai lesu.

c. Sifat kompetitif yang ada dalam permainan dapat mendorong siswa berlomba-

  lomba maju.

d. Selain untuk menimbulkan kegembiraan dan melatih ketrampilan tertentu ,

  permainan bahasa juga dapat memupuk rasa solidaritas (terutama untuk

  permainan beregu).

e. Materi yang dikomunikasikan lewat permainan bahasa biasanya mengesan

  sehingga sukar dilupakan.



Kekurangan

a. Pada umumnya jumlah siswa dalam satu kelas terlalu besar. Hal tersebut akan

  menimbulkan kesulitan untuk melibatkan seluruh siswa dalam permainan.

  Siswa yang tidak terlibat itu justru mengganggu permainan yang sedang

  berlangsung.

b. Tidak semua materi pelajaran dapat dikomunikasikan lewat media permainan.

c. Permainan bahasa biasanya menimbulkan suara gaduh. Hal tersebut jelas akan

  mengganggu kelas yang berdekatan.



     Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   24
       d. Banyak yang memperlakukan permainan bahasa sebagai kegiatan untuk

          mengisi waktu kosong saja.

       e. Permainan bahasa banyak mengandung unsur spekulasi. Siswa yang menang

          dalam suatu permainan belum dapat dijadikan ukuran bahwa siswa tersebut

          lebih pandai daripada siswa lain.(Suparno 1988:64-65)



   Berdasarkan kelebihan dan kekurangan dalam permainan bahasa di atas, teknik

scramble dapat dimanfaatkan untuk kepentingan membaca pemahaman. Dalam

pengajaran membaca pemahaman anak diajak untuk berlatih menyusun suatu organisasi

tulisan yang secara sengaja sebelumnya dikacaukan,anak diminta menata ulang susunan

tulisan yang kacau menjadi suatu organisasi tulisan yang utuh dan bermakna.

   Teknik scramble ini dapat melatih anak memprediksi jalan pikiran tulisan aslinya dan

melatih anak berkreasi dengan susunan baru yang mungkin lebih baik. Secara umum

rambu-rambu pembelajaran dengan teknik scramble ini terbagi ke dalam tiga kegiatan,

yakni (1) persiapan, (2) kegiatan inti, (3) dan kegiatan tindak lanjut



1) Persiapan

   Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam persiapan ini yakni :

   a. Menyiapkan teks bacaan,kemudian keluarkan paragraf ke dalam kartu paragraf.

       Idealnya guru menyiapkan kartu-kartu paragraf sebanyak kelompok siswa yang

       ada. Bila hal ini tidak memungkinkan, guru cukup menyiapkan kartu-kartu satu

       set, selanjutnya setiap kelompok siswa membuat kartu-kartu paragraf sejenis

       sendiri.

   b. Setiap kartu hanya mengandung satu paragraf.




               Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   25
   c. Kartu-kartu paragraf diberi nomor urut yang susunan pengurutannya sengaja

       dikacaukan.

   d. Membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 3 sampai 4 orang

       siswa dalam satu kelompok.

   e. Mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang

       lain tidak saling mengganggu,dan tidak saling terganggu. Bila memungkinkan

       kegiatan ini dilakukan di luar kelas. Hal ini akan memberi dampak yang lebih

       baik karena anak-anak akan berada dalam suasana bermain yang sebenarnya.

   f. Merencanakan langkah-langkah kegiatan serta menentukan jatah waktu yang

       dibutuhkan untuk setiap fase kegiatan yang akan dilalui dalam kegiatan inti



2. Kegiatan Inti

  Beberapa kegiatan yang harus dilalui anak dalam kegiatan inti.

   a. Setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu paragraf yang telah dibagikan

       guru ( atau diproduksi sendiri oleh kelompok tersebut ) untuk didiskusikan dalam

       kelompoknya masing-masing.

   b. Setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk

       mencari susunan kartu-kartu paragraf yang dianggap baik dan logis oleh

       kelompok yang bersangkutan. Alasan-alasan pemilihan susunan kartu-kartu

       paragraf harus dibicarakan dalam kelompok kecil.

   c. Guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan

       pertanggung jawaban setiap kelompok kecil atas hasil kerja masing-masing

       kelompok yang telah disepakati dalam kelompok.

   d. Setelah seluruh kelompok tampil, dilanjutkan perbincangan tentang pendapat dan

       komentar perseorangan dipimpin guru.


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   26
  e. Setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan barsama tentang

      susunan teks yang dianggap paling logis, kemudian guru menunjukkan teks

      aslinya.

  f. satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara bergantian.

      selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar siswa membandingkan,

      mengkaji, menilai dan memutuskan susunan teks mana yang paling baik dan

      logis.

  g. Pada akhir kegiatan inti, satu dua orang siswa diminta untuk menceritakan

      kembali isi teks dengan kata-kata sendiri.




3. Tindak Lanjut

  Kegiatan tindak lanjut tergantung hasil belajar siswa. contoh kegiatan tindak lanjut

  yang dapat dilakukan antara lain :

  a. Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dangan bahan yang berbeda.

  b. Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli, jika terdapat susunan yang tidak

      memperlihatkan kelogisan

  c. Kegiatan      mengubah         materi      bacaan (memparafrase, atau menyederhanakan

      bacaan ).

  d. Mencari makna kosakata baru di dalam kamus dan mengaplikasikan dalam

      pemakaian kalimat.

  e. Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan dalam

      teks wacana latihan.




           Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   27
        Satu hal yang penting dalam teknik ini,siswa tidak sekedar berlatih memahami

dan menemukan susunan teks yang baik dan logis, melainkan juga dilatih untuk berpikir

kritis-analitis. Hal-hal yang berkenaan dengan aspek kebahasaan, kebenaran, ketepatan

struktur kalimat, tanda baca, diksi dapat menjadi perhatian dan perbincangan siswa.




D. Kerangka Berpikir

       Keterampilan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi siapa saja yang

ingin meraih kemajuan dan kesuksesan, tetapi untuk memperoleh keterampilan ini

bukanlah perkara yang mudah. Kegiatan membaca dan pembelajaran membaca adalah

pekerjaan membosankan dan menjenuhkan. Hal ini mengakibatkan keterampilan

membacanya rendah. Rendahnya tingkat keterampilan membaca pemahaman siswa

merupakan kendala untuk mendapatkan nilai yang memuaskan.

       Permainan merupakan obat yang dapat menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.

Salah satu permainan yang dapat dimanfaatkan unuk kepentingan pengajaran membaca

adalah scramble. Scramble adalah permainan yang menghendaki siswa unuk melakukan

penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya dengan sengaja

dikacaukan susunannya.

       Alternatif lain mengajak siswa bermain sambil belajar bukan belajar sambil

bermain,selain ada unsur rekreasi ada unsur belajar dan berpikir. Teknik pengajaran ini

memungkinkan siswa belajar secara santai dan melakukannya dengan senang hati

sehingga ada perubahan perilaku siswa dalam proses belajar mengajar dan keterampilan

siswapun meningkat.




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   28
E. Hipotesis Tindakan


      Keterampilan membaca pemahaman siswa kelas VII-A SMPN 6 Jombang

meningkat setelah digunakan teknik scramble dalam kegiatan belajar-mengajar yang

ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku dari negatif ke positif pada waktu

proses dan setelah pembelajaran membaca pemahaman dengan teknik scramble.




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   29
                                               BAB III

                                   METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

       Penelitian ini akan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri

atas dua siklus. Siklus I akan dilaksanakan 9 September 2012 dan siklus II dilaksanakan 9

Nopember 2012, dengan desain berikut ini :


                                          PERENCANAAN
                                         PERENCANAAN



                REFLEKSI DAN                                         PELAKSANAAN
               REFLEKSI DAN                                         PELAKSANAAN
                   REVISI                                              TINDAKAN
                  REVISI                                              TINDAKAN



                                            PENGAMATAN
                                           PENGAMATAN




                                              SIKLUS I


                                                                              OBSERVASI/
          PERENCANAAN                PELAKSANAAN TINDAKAN
                                                                             PENGAMATAN




                                           REFLEKSI DAN
                                              REVISI



                                               SIKLUS II
         PERENCANAAN

                                                                              OBSERVASI/
                                     PELAKSANAAN TINDAKAN                    PENGAMATAN




             SIMPULAN                        BERHASIL                           REFLEKSI



                                                      RENCANA SIKLUS PTK KELAS VII-A
                                                           SMPN 6 JOMBANG

            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   30
B. Variabel Penelitian.


       Variabel penelitian ini ada dua,yaitu (1) kemampuan membaca pemahaman dan

(2) penggunaan teknik scramble.



C. Subjek Penelitian

       Subjek penelitian ini adalah kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII-A

SMPN 6 Jombang pada tahun pelajaran 2012/ 2013. Penelitian dilakukan di kelas VII-A

(32 siswa) yang terdiri 14 laki-laki, dan 18 perempuan. Penunjukan subjek penelitian ini

berdasarkan pada :

 a. Peneliti mengajar di kelasVII sehingga dapat mengetahui kondisi kelas atau siswa.

     Keadaan ini akan dapat membantu peneliti dalam memperoleh data yang

     diperlukan.

 b. Kelas VII-A merupakan kelas yang memiliki kemampuan yang rendah dalam

     memahami suatu bahan ajar.

 c. Terdapat butir-butir pembelajaran kemampuan membaca pemahaman dalam

     kurikulum



D. PROSES PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1. Siklus I

a. Perencanaan.

       Renungan terhadap pangalaman mengajar dan mencari kelemahan-kelemahan

yang dilakukan selama ini, diperoleh gagasan umum yang berupa kendala-kendala dalam

pelaksanaan pembelajaran antara lain :

(1) Keterampilan membaca pemahaman sangat rendah.

(2) Tanggapan siswa terhadap pembelajaran membaca sangat negatif

              Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   31
(3) Prestasi pelajaran yang lain sangat menurun

       Dari ketiga hal tersebut muncul kepedulian pentingnya meningkatkan

keterampilan membaca pemahaman. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan

adalah mempertimbangkan dan memilih cara untuk memecahkan masalah. Pertimbangan

dalam pemilihan selanjutnya dituangkan dalam perencanaan sebagai berikut :

       (1) Membuat rencana Pembelajaran.

           Pada siklus I direncanakan ada satu pertemuan, sehingga perlu disusun satu

           rencana pembelajaran. Teks bacaan pada rencana pembelajaran I adalah " Si

           Janda dan Ketela Pohon" . Rencana Pembelajaran disertai dengan soal soal

           pilihan ganda sebagai instrumen tes.

       (2). Menentukan dan menyusun alat-alat instrumen penelitian.

           Selain soal-soal yang terdapat dalam Rencana Pembelajaran sebagai

           instrumen tes, disusun pula instrumen nontes yang berupa pedoman

           observasi, wawancara dan jurnal. Observasi dan Jurnal ditujukan kepada

           semua responden sedangkan wawancara hanya 6 orang saja, yaitu siswa-

           siswa yang serius dan tidak serius dalam kegiatan pembelajaran yang

           mendapatkan nilai tinggi serta yang mendapatkan nilai rendah.




b. Tindakan Penelitian


       Tindakan penelitian adalah pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun

sebelumnya. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

  (1) Penyampaian informasi pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran

  (2) Menyelenggarakan pembelajaran dengan teknik scramble yang meliputi

       (a) persiapan, (b) kegiatan inti, (c) tindak lanjut.


            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   32
(a). Persiapan

    Menyiapkan wacana berjudul "Si Janda dan Ketela Pohon". Kemudian

      dikeluarkan paragraf

    Paragraf yang terdapat dalam teks ke dalam kartu-kartu.

    Setiap kartu hanya mengandung satu paragraf

    Kartu diberi nomor urut yang pengurutannya dikacaukan.

    Membagi         siswa      dalam      kelompok-kelompok yang beranggotakan 3 sampai

      dengan 4 orang siswa.

    Mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dan yang lain tidak

      terganggu atau mengganggu.

    Memberikan apersepsi dan mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan

      kegiatan sesuai dengan langkah-langkah dan jatah waktu setiap fase kegiatan yang

      akan dilalui dalam kegiatan inti.

(b) Kegiatan Inti


    Langkah-langkah kerja yang harus ditempuh dalam kegiatan inti meliputi :

     Setiap kelompok siswa dengan perangkat kartu paragraf untuk didiskusikan dalam

      kelompoknya masing-masing

     Guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan

      pertanggungjawaban setiap kelompok kecil.

     Setelah seluruh kelompok tampil selanjutnya kegiatan diskusi dilanjutkan dengar

      pendapat dan komentar perorangan.Guru menggiring dan mengarahkan siswa

      melakukan uji banding dan pada akhirnya mereka dapat menentukan sikap /

      pilihan sendiri atas susunan wacana berterima/logis dan tidak berterima atas dasar

      nalarnya sendiri.

     Setelah mengahasilkan kesepakatan, satu atau dua siswa membaca teks asli.

            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   33
     Satu-dua orang siswa menceritakan kembali isi wacana menggunakan kata-kata

       sendiri.



(c) Tindak Lanjut

    Kegiatan tindak lanjut ditentukan oleh hasil dan proses belajar siswa. Tindak lanjut

    yang dilakukan antara lain :

     Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas yang serupa dengan bahan yang

       berbeda.

     Kegiatan        menyempurnakan teks asli, bila teks asli tidak memperlihatkan

       kelogisan.

     Kegiatan mengubah materi bacaan.

     Mencari makna kosakata baru dalam kamus dan mengaplikasikannya dalam

       kalimat.

     Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan.



c. Observasi

       Pengumpulan data nontes diperoleh melalui pengamatan langsung dalam proses

dan sesudah kegiatan pembelajaran. Hal-hal yang diamati adalah sikap siswa melalui

pengamatan langsung, wawancara dan jurnal siswa. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan

atas pedoman nontes.



d. Refleksi

       Setelah Pembelajaran berakhir diberikan tes kepada responden berupa 10 soal

pilihan ganda dengan waktu 15 menit. Setelah selesai langsung dikoreksi silang antar

responden. Jawaban benar dinilai 1 ( satu ),jawaban salah dinilai 0 ( nol ).


              Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   34
2. Siklus II

a. Perencanaan.

       Pada tahap perencanaan ini pada dasarnya hampir sama dengan perencanaan

siklus I. Beberapa hal yang mengalami perubahan yaitu materi bacaan diganti dengan

bacaan berupa cerita bergambar, pembelajaran difokuskan pada keaktifan siswa,guru

harus lebih banyak memancing siswa agar lebih aktif dari siklus I. Tempat pembelajaran

pada siklus II dilaksanakan di halaman sekolah.

b. Tindakan.

       Tindakan pada siklus II sesuai dengan perencanaan atau Rencana Pembelajaran

yang telah disusun pada tahap perencanaan.Tindakan yang dilakukan tidak jauh berbeda

dengan tindakan pada siklus I yaitu persiapan,kegiatan inti, dan tindak lanjut.Teks bacaan

yang diberikan kepada siswa berjudul "Kisah Bulu - Bulu Pinjaman."

b. Pengamatan

       Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sudahkah cara-cara yang ditempuh

dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa. Selain aspek tersebut

juga perlu diamati perubahan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran, yang berupa

jurnal siswa dan hasil wawancara yang dilakukan setelah pembelajaran selesai.

Pengamatan ini sesuai pedoman observasi, jurnal, dan wawancara seperti pada siklus I

c. Refleksi.

       Hasil proses tindakan siklus I digunakan sebagai dasar pijakan atau tolok ukur

pada proses tindakan siklus II. Proses tindakan pada siklus II diharapkan mencapai hasil

yang ingin dicapai, yaitu ada peningkatan hasil tes, dan perubahan tingkah laku siswa dari

negatif ke positif. Melihat potensi dan minat siswa terhadap teknik scramble ini, maka

penelitian dapat dilanjutkan ke putaran berikutnya. Karena waktu dan kesempatan yang




               Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   35
terbatas, dan rata-rata kelas sudah tergolong baik serta sudah ada perubahan tingkah laku

siswa dapat dideskripsikan, maka penelitian dapat dianggap berhasil.



E. Teknik Analisis Data

1.   Pengambilan dan Pengolahan Data.

 a. Bentuk

     Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes dan nontes.

     (1) . Tes

         Bentuk tes yang digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa dan tanggapan

         siswa terhadap bacaan adalah tes tertulis objektif ( objektif test ) yang terdiri atas

         satu bacaan yaitu cerpen dan disertai 10 soal pilihan ganda dengan empat opsion.

         Soal nomor 1 dan 2 pemahaman kata, nomor 3 dan 4 pemahaman konsep, 5 dan

         6 pemahaman kalimat, 7 dan 8 pemahaman struktur paragraf, 9 dan 10

         pemahaman sikap dan tujuan. Setiap soal yang dijawab benar memiliki skor 1

         dan yang salah mendapat skor 0.

     (2) Nontes.

         Instrumen nontes meliputi observasi,wawancara, dan jurnal siswa.

         (a) Observasi.

                 Observasi dapat digunakan untuk memperoleh data pada saat proses belajar-

                 mengajar berlangsung. Aspek yang diamati adalah :

                  Respon atau sikap siswa terhadap bacaan yang diberikan.

                  Respon atau sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang digunakan

                     guru.

                  Jumlah siswa yang dapat menjawab pertanyaan.

                  Jumlah siswa yang memberi tanggapan terhadap isi bacaan.

                 Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   36
        (b) . Jurnal Siswa.

             Jurnal kegiatan siswa diharapkan dapat dibuat siswa setiap akhir pertemuan

             kegiatan belajar-mengajar.Jurnal ini mengungkapkan aspek :

             (1) . Kesungguhan dalam membaca bacaan

             (2) . Kebenaran dalam menjawab pertanyaan.

             (3) . Keberanian menyampaikan pertanyaan.

             (4) . Keberanian memberikan tanggapan terhadap bacaan.

Guru merekap jurnal siswa, hasilnya akan digunakan guru unuk melakukan self reflection

( refleksi diri ) terhadap proses belajar mengajar yang dilakukannya.



 b. Uji Instrumen

          Uji Instrumen yang berbentuk tes dan nontes mencakup dua hal, yaitu validitas

    permukaan dan validitas isi. Untuk menguji tingkat validitas isi dengan

    mencocokkan butir-butir tes dengan kurikulum dan membandingkan dengan aspek-

    aspek yang disebutkan dalam tujuan pembelajaran, serta aspek membaca

    pemahaman.

          Validitas permukaan dengan cara mengkonsultasikan instrumen dengan teman

    seprofesi dan dosen pembimbing.menurut justifikasi mereka instrumen tersebut telah

    terbaca dan dapat digunakan untuk menilai atau alat pengambilan data. Instrumen

    nontes diuji validitas isi dan permukaan dengan cara mengkonsultasikan dengan

    teman seprofesi dan dosen pembimbing. Menurut mereka instrumen ini layak

    digunakan, kalimat-kalimat yang ada sudah jelas dan dapat digunakan sebagai alat

    pengambilan data.




             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   37
2. Teknik Pengambilan Data

         Pengambilan data dilakukan dengan teknik tes dan nontes. Teknik tes untuk

mengetahui     kemampuan          membaca        pemahaman          sebelum       dan     sesudah      proses

pembelajaran dengan teknik scramble, Teknik nontes untuk mengetahui sejauh mana

perubahan perilaku dan sikap dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dengan

teknik scramble.

a. Tes

         Data tes bersifat kuantitatif diperoleh melalui tiga kali tes yang dilakukan pada

awal siklus I, akhir siklus I dan tes pada akhir siklus II. Tes diberikan kepada seluruh

anggota kelas yang menjadi subjek penelitian.

b. Nontes

         Data nontes diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara dan jurnal.siswa

         (1). Hal-hal yang menjadi objek pengamatan meliputi :

             (a) . Sikap siswa

                   Kesungguhan mengikuti proses belajar mengajar

                   Keberanian siswa dalam bertanya.

                   Kualitas pertanyaan siswa.

                   Keberanian siswa menjawab pertanyaan guru.

                   Kualitas jawaban siswa.

             (b) . Pertanyaan siswa

                   Kesesuaian dengan materi yang dibicarakan.

                   Keterkaitan dengan materi yang diajarkan.

             (c) . Jawaban siswa

                   Sesuai dengan pertanyaan guru

                   Menyimpang dari pertanyaan guru.

              Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012    38
       (2) . Hal-hal yang berhubungan dengan wawancara

           (a) . Objek yang diwawancarai.

            Siswa yang sangat serius mengikuti pelajaran

            Siswa yang banyak bertanya

            Siswa yang acuh tak acuh dalam proses belajar mengajar.

           (b) . Pertanyaan dalam wawancara

            Mengapa dalam mengikuti pelajaran........?

            Bagaimana pendapatmu mengenai cara mengajar yang baru saja

              berlangsung ?

            Apakah dengan cara itu materi lebih mudah dipelajari ? Mengapa ?

            Apa usulmu tentang pelaksanaan pembelajaran yang akan datang ?

       (3) Hal-hal yang berhubungan dengan jurnal siswa .

            Kondisi kelas saat PBM berlangsung

            Gerak-gerik siswa dalam mengikuti PBM.

            Cara guru mengarahkan / menerangkan / menyampaikan materi pelajaran

            Cara guru bertanya dan pertanyaannya mudah dipahami atau tidak.




3. Teknik Pengolahan Data

       Data yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, selanjutnya dianalisis dengan cara

sebagai berikut:

       (a) Data Kuantitatif

           Data kuantitatif berupa hasil tes yang dilakukan tiga kali masing-masing tes

           dihitung jumlah dalam satu kelas .




            Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   39
         (b) Data Kualitatif

              Data nontes yang diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara, dan

              jurnal.Ketiga ini saling terkait. Hasil kegiatan observasi dan jurnal akan

              memberikan gambaran mengenai siswa yang masih mengalami kesulitan

              dalam memahami bacaan. Selanjutnya mereka menjadi sasaran wawancara.

              Dengan demikian akan ditemukan solusi terhadap kesulitan yang dialami

              siswa dan pada akhirnya siswa dapat meningkatkan keterampilan memahami

              suatu bahan bacaan.



4. Jadwal Penelitian
                                           AGUSTUS 2012    SEPTEMBER 2012    OKTOBER 2012        NOPEMBER 2012
    NO     NAMA AKTIFITAS/ KEGIATAN
                                           1   2   3   4   1    2   3   4   1    2   3   4   1     2     3   4    5
     1   Perencanaan
         1. Mengumpulkan instrumen
            evaluasi                                   v
         2. Menyusun instrumen tes
            dan non tes                                v
         3. Menyusun instrumen media                       v

     2   Tindakan/ Kegiatan                                     v

     3   Pengamatan/ observasi
         1. Pengamatan hasil instrumen
             tes dari siklus I                                  v   v
         2. Menganalisis data hasil si-
            klus I                                                      v   v

     4   Refleksi dari analisis data                                        v    v

     5   Revisi Perencanaan dan me-
         nyusun rencana siklus II                                                    v   v   v

     6   Tindakan/ Kegiatan Siklus II                                                              v
     7   Pengamatan/ Observasi
         1. Analisis data instrumen                                                                v
         2. Mengolah data penilaian
            tes dan non-tes                                                                        v
         3. Menganalisis tingkah positif
            siswa/ instrumen lembar
            pengamatan prilaku siswa
            saat KBM                                                                                     v
     8   Penyusunan laporan hasil PTK                                                                        v    v




                Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012           40
                                              BAB IV

                                 SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

   a. Teknik scramble diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan membaca

     pemahaman siswa.

   b. Diharapkan adanya perubahan tingkah laku atau sikap tampak dalam

     pembelajaran membaca pemahaman dngan teknik scramble .Data yang diperoleh

     akan diperoleh melalui observasi, wawancara dan jurnal sehingga dapat

     membuktikan bahwa sebagian besar siswa tertarik dengan teknik scramble.

     Situasi dan kondisi jenuh,lelah dan bosan dapat diatasi dengan permainan ini,

     sehingga suasana kondusif dapat tercipta. Dan diharapkan bisa membuktikan

     siswa merasakan waktu atau jam pelajaran cepat selesai meskipun kegiatan ini

     dilakukan pada jam yang terakhir.



B. Saran

              Berdasarkan simpulan di atas disarankan agar para guru tertarik

   menggunakan teknik scramble untuk meningkatkan keterampilan membaca

   pemahaman dan meningkatkan prestasi siwa, serta dapat mengubah perilaku negatif

   siswa terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Karena teknik ini mempunyai

   kelemaham yaitu waktu yang digunakan untuk mengkaji cukup lama, maka

   sebaiknya teknik ini digunakan sebagai selingan saat anak dalam keadaan bosan,

   jenuh dan tak bersemangat mengikuti pembelajaran.




           Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   41
                                       DAFTAR PUSTAKA


Arikunto Suharsimi.1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan PraktekJakarta: Rineka

Cipta.

BudinuryantaJ. dkk. 1997. Pengajaran keterampilan berbahasa, Jakarta: Depdikbud

Darisman, Muh. dkk 2004. Ayo Belajar Berbahasa Indonesia, Jakarta: Yudhistira

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata

Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah : Jakarta :

Depdiknas

Harras, Kholid,A.dan Lilis Sulistianingsih.1997. Membaca I. Jakarata: Depdikbud

Nurhadi dan Rukhan.1990. Dimensi-Dimensi dalam Belajar Bahasa kedua. Bandung:

Sinar Ilmu

Simanjuntak, Mangantar.1987.Pengantar Psikolinguistik Modern. Kuala Lumpur. Dewan

Bahasa dan Budaya

Syah, Muhibbin.1995. Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda

Karya

Soeparno.1980. Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta

Tarigan, H.G.1986. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:

Angkasa

Tim Penyusun.2001. Kemampuan Dasar Bahasa Indonesia. Klaten. Intan Pariwara

Usman, Moh. Uzer.1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya




             Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012   42
                                                                                                           Format 1:


                                   LEMBAR PENGAMATAN

                     PENILAIAN PROSES dan PENILAIAN AKHIR

                            KERJA KELOMPOK dan INDIVIDU

                                           ASPEK YANG DINILAI
                                                                                                       Ketun-
                                               Kerja
 NO                                keaktifan            1    2                3       NILAI            tasan
             NAMA SISWA                        sama
                                                       (30) (30)             (40)
                                   B S K B S K                                                         T      TT




              R ATA-RATA KELAS

Keterangan
B : Baik                  1 : Kerapian                          T : Tuntas

S : Sedang                2 : Kesesuain dg gambar               T : Tidak Tuntas

K: Kurang                 3 : Ejaan




              Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas VII – PLPG Rayon 114 Unesa Gelombang IV Tahun 2012          43

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:3
posted:4/1/2013
language:
pages:43