Docstoc

Pre Eklamsi Berat _Nastiti_

Document Sample
Pre Eklamsi Berat _Nastiti_ Powered By Docstoc
					                         LAPORAN PENDAHULUAN


A. Konsep Dasar
   1. Pengertian
            Pre eklampsia merupakan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin
      dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias, hypertensi proteinuria dan odema
      ibu tersebut tidak menunjukkan hipertensi sebelumnya. (Mochtar Rustam,
      1998 : 1999).
            Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang terjadi
      setelah kehamilan 20 minggu yang ditandai dengan tekanan darah + 160/110
      mmHg, nedema, proteinuria 715 gram atau 24 jam atau secara kualitatif 4 +
      oliguria, jumlah produksi urine  1500 cc atau 24 jam disertai benarkah kadar
      kreatin, gangguan unsur nyeri epigastrium hipererfleksia edema paru-paru dan
      sianosis (UPK Kebidanan, 1994 : 43)
            Sectio caesarea adalah suatu cara pembedahan untuk melahirkan janin
      dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Hanifa Wiknjasastro,
      1997).


   2. Patofisiologi

                 Bumil               Bersalin                Nifas



                               -     Hypertensi
                               -     Proteinuria
                               -     Edema



                                   Pre eklamsia




                      Berat                             Ringan



               - Potensial gawat                   - Kurang
                 janin                               pengetahuan
               - Gangguan Pola                     - Gangguan rasa
                 makan                               nyaman
3. Penatalaksanaa
    Pre Eklampsi Berat
      Upaya pengobatan ditujukan untuk mencegah kejang, memulihkan organ
      vital pada keadaan normal dan melahirkan bayi dengan trauma sekecil-
      kecilnya pada ibu dan bayi. Segera rawat pasien dirumah sakit dan
      tempatkan dalam kamar solasi dengan posisi tidur miring untuk
      meningkatkan filtrasi glumerolus. Berikan MgSO4 dalam infus dekstrosa
      5% dengan kecepatan 15-20 tetes/menit. Dosis awal MgSO4 2 gr
      intravena dalam waktu 10 menit selanjutnya 2 gr/jam dalam infus sampai
      tekanan darah stabil (140-50/90-100 mmHg).
      Terapi anti hypertensi jika tekanan darah secara tiba-tiba meningkat diatas
      170 hingga 180 mmHg sistolik atau 110-120mmHg diastolik. Kelahiran
      jika janin sudah aterm ada bukti gawat intra interna atau preeklamsia atau
      bertambah buruk, kelahiran dianjurkan untuk kesehatan ibu dan janin, jika
      persentasi janin memungkinkan apabila didapatkan mal presentasi janin
      gawat atau induksi gagal maka dianjurkan tindakan pembedahan yang
      disebut sectio caesare (Taber, Bensian MD, 1994 : 241).
      Tujuan utama penanganan pre eklampsia berat adalah mencegah atau
      menghindari kelanjutan menjadi eklamsia, melahirkan janin hidup,
      trauma pada ibu dan janin seminimal mungkin.
      (Mochtar Rustam, 1998 : 202)
    Sectio caesare
      1. Di ruang perawatan pasien dengan  6 jam puasa. Pasien darurat yang
         tidak dapat puasa, harus dipasang pipa lambung (ukuran 18-20) dan
         dihisap sampai benar-benar kosong setelah kosong berikan antasida
         (mangnesium trisilikat 20 ml) lalu pipa lambung di cabut, kalau
         memungkinkan ada jeda waktu 30 menit antara antasida diberikan dan
         anestesida dimulai.
      2. Premedikasi yang harus diberikan adalah atropin. Bagi orang dewasa
         untuk bedah elektif diberikan 0,5 mg 4 menit (im) sebelum anestesi
         untuk bedah darurat diberikan 0,25 mg (im) dan 0,25 mg (iv) 5 menit
         sebelum anastesia dimulai.
      3. Di periksa ulang apakah sudah lengkap pemeriksaan yang diperlukan
         seperti darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah (untuk SC
         elektif), untuk SC emergensy cukup pemeriksaan HB, HT, golongan
         darah.
       4. Baju pasien diganti dengan baju khusus untuk dipakai keruang tunggu
           operasi.
       5. Pasang infus RL atau larutan NaCl 0,9 %.
       6. Sebelum masuk ke kamar operasi diganti dengan baju / tutup badan
           untuk di kamar operasi.
       7. Baringkan pasien pada posisi tidur (pasang tensimeter atau stetoskop
           pre cordial).
       8. Dipasang folley kateter (lihat pedoman pemasangan folley kateter).


4. Manifestasi Klinis
         Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga
   gejala yaitu penambahan berat badan yang berlebihan, oedema, hipertensi,
   dan proteinuria. Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi
   kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema terlihat sebagai peningkatan
   berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Tekanan darah 
   140/90 mmHg atau yang diukur setelah pasien istirahat selama 30 menit.
   Tekanan diatolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut
   dicurigai sebagai akibat preeklamsia. Proteinuria bila terdapat protein
   sebanyak 0,3 g/L dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif
   menunjukkan + 1 atau 2, kadar protein  1 gr/L dalam urin yang dikeluarkan
   dengan jarak waktu 6 jam. (Arief Mansjoer, 1999)


5. Pemeriksaan Penunjang
   -   Urin : Protein, reduksi, bilirubin, sedimen urin.
   -   Darah : Trombosit, ureum, kreatinin, SGOT, LDH, dan bilirubin.
   -   USG.


6. Komplikasi
       Tergantung derajat preeklamsia atau eklamsianya. Yang termasuk
   komplikasi antara lain atania uteri (Uterus Couvelaire), syndrom HELLP
   (Hemolysis, elevated liver enzime, locx platelet count), ablasi retina, KID
   (Koagulasi Intravaskular Diseminafa), gagal ginjal, perdarahan otak, edema
   paru, decompensasi cordis, hingga syok dan kematian. Komplikasin pada
   janin berhubungan dengan akut atau kronisnya insufiensi uteroplasenta,
   misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas.
                           ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
        Merupakan tahap awal dari landasaran proses keperawatan di perlukan
   pengkajian cermat untuk mengenal pasien agar dapat memberi arah kepada
   tindakan keperawatan, keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada
   kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian (Lismindar, 1990 :1). Tahap
   pengkajian terdiri dari 2 kegiatan yaitu pengumpulan data, pengelompokan data
   (Lismindar, 1990 : 1)
   a. Pengumpulan data
      1. Identitas
          Nama, umur, suku bangsa, pendidikan, alamat, agama dan golongan
          darah.
      2. Riwayat penyakit sekarang
          Segala pernyataan data secara teori yang menjadi pendorong klien pergi
          ke Rumah Sakit yang dikeluhkan sakit kepala terutama daerah frontalis,
          rasa nyeri epigrastrik, terdapat mual sampai muntah, gangguan pernafasan
          sampai sianosis, terjadi gangguan kesadaran.
      3. Riwayat penyakit dahulu
          Segala penyakit yang pernah dialami klien misalnya penyakit menular,
          hypertensi, jantung, DM, pre eklamsi atau eklamsi, persalinan kembar.
      4. Riwayat penyakit keluarga
          Riwayat penyakit keturunan / menular yang diberita keluarga misalnya :
          hipertensi, DM, jantung, pre eklampsia, epilepsi, serta keturunan kembar.
      5. Riwayat kebidanan
          -   Menarche
              Umur, waktu haid, siklus, lama haid, serta keluhan.
          -   Riwayat perkawinan
              Kawin umur berapa, berapa lama usia perkawinan.
          -   Riwayat kehamilan
              HPHT dan tanggal perkiraan persalinan.
      6. Riwayat penyakit dahulu
          Meliputi : kehamilan dan persalinan keberapa, jenis dan penolong
          persalinan, keterangan persalinan, keluarga berencana yang dipakai bila
          memakainya.
7. Pola-pola fungsi kesehatan
   1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
       Pasien dengan pre eklampsia berat harus memeriksakan kehamilannya
       secara teratur dan rutin, apabila kehamilannya sudah tua harus dirawat
       di rumah sakit dan sebagian besar klien belum mengerti penyakitnya
       oleh karena itu perlu penjelasan dan nasehat dari petugas kesehatan.
   2. Pola nutrisi dan metabolisme
       Pasien dengan pre eklamsia berat yang habis mengalami Post SC
       puasa 1 x 24 jam.
   3. Pola aktivitas dan latihan
       Pasien dengan perawatan post SC mengalami bedrest dan aktivitasnya
       tergantung karena adanya oedema pada anggota geraknya (kaki)
       selain itu juga karena pemberian cairan parenteral (infus).
   4. Pola eliminasi
       Pasien dengan post SC tidak mengalami perubahan pada eliminasi
       alvi, sebaliknya pada eliminasi urin kadang-kadang produksi urin
       berkurang. Produksi urin diukur tiap 3 jam.
   5. Pola istirahat tidur
       Pasien dengan pre eklampsia berat tidur dan istirahat sangat di
       perlukan, hal ini mencegah terjadinya his maka tidurnya akan
       terganggu karena adanya nyeri.
   6. Pola sensori dan kognitif
       Pasien dengan post operasi SC indikasi pre eklampsia berat salah
       satunya mengalami gangguan yaitu pengelihatan menurun. Hal ini
       disebabkan karena tekana darah meningkat (> 160/110 mmHg) reflek
       patela adakah nyeri. Sedangkan kognitif biasanya klien menanyakan
       tentang perawatan luka setelah operasi.
   7. Pola persepsi diri
       Pasien dengan post operasi sectio cesarea persepsi klien terhadap
       dirinya sebelum dan sesudah hamil sampai dengan masuk rumah
       sakit.
   8. Pola penanggulangan stres
       Pasien dengan post operasi sectio cesarea akan mengalami kecemasan
       terhadap janin dan bayinya, juga proses persalinannya. Cara
       penanggulangannya biasanya dengan mengungkapkan pada orang
       terdekatnya atau perawat atau dengan cara menangis atau dengan cara
       lain tergantung individu.
   9. Pola tata nilai dan kepercayaan
       Umumnya klien dengan perawatan post op SC akan selalu beribadah /
       berdoa demi keselamatan diri dan janinnya sehingga perlu bantuan
       moral dari orang yang berada di sekitarnya.
8. Pemeriksan fisik
   10. Keadaan umum
       Meliputi keadaran, tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu tubuh, tinggi
       badan dan berat badan.
   11. Kepala dan leher
       Biasanya didapatkan oedema pada muka dan palbebra, gangguan
       visus ada tidaknya cloasma gravidarum serta ikterus, stomatitis dan
       karies pada gigi dan ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroit.
   12. Dada
       Ada tidaknya pengembangan dan pergerakan dada, ada tidaknya
       penonjolan puting susu, hyper pigmentasi areola dan papila mamae,
       pembengkakan payudara.
   13. Abdomen
       Pada klien post op SC terdapat luka jahitan yang panjangnya  18 cm
   14. Genetalia
       Kebersihan ada tidaknya lendir darah (blood show) yang keluar dari
       vagina, varises, oedema, pendataran dan penebalan servix, ketuban
       serta ada tidaknya cicatrix pada perineum.
   15. Anus
       Ada tidaknya haemoroid.
   16. Punggung
       Ada tidaknya kifosis, lordosis.
   17. Integuman
   18. Muskuloskeletal
       Meliputi pergerakan ekstremitas atas bawah, reflek pada patela, ada
       tidaknya atrophy otot, hemiplegi biasanya di temukan oedema pada
       tungkai.
9. Analisa data
       Data yang dikumpulkan, dikelompokkan, diidentifikasi sehingga
   memunculkan masalah diagnosa keperawatan berdasarkan keperawatan
   urutan prioritas masalah, penemu teori Abraham Maslow yaitu kebutuhan
   fisik, rasa aman cinta dan di cintai, harga diri dan perwujudan diri.
2. Diagnosa Keperawatan
   Suatu pernyataan yang jelas tentang masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi
   dengan tindakan keperawatan, diagnosa keperawatan di tetapkan berdasarkan
   analisa dan interpolasi data yang di peroleh melalui pengkajian data (Lismindar,
   1999 : 12)
   Diagnosa keperawatan yang muncul pada post op sectio cesarea dari pre
   eklampsia berat adalah sebagai berikut :
   1. Potensial terjadinya kejang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.
   2. Nyeri berhubungan dengan luka post operasi.
   3. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
   4. Gangguan pola makan berhubungan dengan program diet rendah garam.
   5. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
   6. Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan nyeri pada insisi pembedahan.


3. Perencanaan
   Membuat rencana keperawatan dan menentukan pendekatan digunakan untuk
   memecahkan masalah klien. Ada 3 tahap dalam fase perencanaan yaitu
   menentukan tujuan dan merencanakan tindakan keperawatan (Lismindar, 1990 :
   21)
   1. Potensial terjadinya kejang hubungan dengan peningkatan tekanan darah.
         Tujuan : kejang tidak terjadi
         Kriteria hasil :
         -   TD normal kembali (> 140/90 mmHg)
         -   Tidak terjadi kejang pada pasien
         -   Oedem berkurang
         -   Keluhan rasa pusing berkurang
         Rencana Tindakan:
         1. Kaji tanda-tanda kejang.
         2. Berikan O2 2-3 lt/menit (nasal).
         3. Atur tidur berbaring kekiri dan terlentang setiap 2 jam di kamar yang
             terang.
         4. Berikan pengobatan sesuai dengan program dokter.
         5. Pantau resiko pemberian obat.
         6. Jelaskan efek samping pemberian obat.
         7. Observasi gejala cardinal.
   Rasional
   1. Sebelum pemberian obat (Mg SO4) tanda-tanda kejang harus positif dan
       untuk mengetahui gejala dini timbulnya kejang.
   2. Pemberian O2 2-3 lt/menit untuk memenuhi kebutuhan O2 dalam tubuh.
   3. Tirah baring miring dan terlentang untuk mengurangi tekanan vena
       inferior yang dapat meningkatkan aliran darah ke ginjal dan
       meningkatkan aliran darah ke rahim sehingga menurunkan vasospasmus,
       memperbaiki keadaan atau kondisi janin.
   4. Pemberian obat untuk mencegah terjadinya kejang atau perdarahan otak.
   5. Komplikasi dari pemberian obat (Mg SO4) adalah indikasi yang biasanya
       ditandai dengan respirasi kurang dari 20x/mnt/hr 1cc/kg BB/jam.
   6. Efek samping dari pemberian obat Mg SO4 diantaranya rasa panas seluruh
       tubuh, pusing, mual dan sesak sehingga dapat mencemaskan klien.
   7. Observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui gejala dini sehingga dapat
       melakukan tindakan selanjutnya.
2. Nyeri berhubungan dengan luka post operasi.
   Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan
              selama 1 x 24 jam
   Kriteria hasil :
   1. Klien mengatakan nyeri berkurang.
   2. Ekspresi wajah tidak menyeringai.
   3. Skala nyeri normal.
   4. Tanda-tanda vital dalam batas normal.
   Rencana Tindakan :
   1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga dengan komunikasi
       terapeutik.
   2. Kaji lokasi, intensitas dan penyebaran nyeri.
   3. Ajarkan pada klien teknik relaksasi dan distraksi.
   4. Beri penjelasan pada klien tentang penyebab dari nyeri.
   5. Berikan kompres hangat pada daerah nyeri.
   6. Observasi tanda-tanda vital
   7. Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian analgetik.
   Rasional :
   1. Dengan melakukan pendekatan terapeutik pada klien dan keluarga
       diharapkan klien dan keluarga dapat kooperatif dalam setiap melakukan
       keperawatan.
   2. Untuk mengetahui sejauh mana rasa nyeri yang dirasakan klien.
      3. Dapat mengurangi nyeri akibat efek samping peningkatan ambang nyeri.
      4. Dengan memberikan penjelasan diharapkan klien tidak merasa cemas dan
          dapat melakukan sesuatu untuk mengurangi nyeri.
      5. Kompres hangat untuk mengurangi ketegangan otot.
      6. Monitoring keadaan utama klien
      7. Kolaborasi dengan pemberian obat-obatan analgetik untuk mengurangi
          nyeri.


4. Implementasi
   Pada tahap ini pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah
   disusun pada tahap perawatan yang telah di tentukan dengan tujuan untuk
   menenuhi secara optimal.


5. Evaluasi
   Evaluasi adalah langkah terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah
   kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus melibatkan klien, perawat dan
   anggota kesehatan lain. Tujuan evaluasi yaitu untuk menilai apakah tujuan dalam
   rencana tindakan keperawatan tercapai atau tidak ? atau timbul masalah baru serta
   untuk melaksanakan pengkajian ulang. (Lismindar, 1990).
                             DAFTAR PUSTAKA


1. Arif Mansjoer dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1, 2001, Media Aesculapius
         FKUI, Jakarta.
2. Sastra Winarta Sulaiman. Bagian Obstretri dan Ginekologi. Obstretri Fisiologi.
         1983. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.
3. Irene. MB Abak, dkk. Maternity Nursing, edisi 4
4. Winkjo Sastro, Hanafiah. Ilmu Kebidanan. 1992, Jakarta
5. Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan. Penerbit buku
         Kedokteran. 1998, EGC, Jakarta.
6. JNPKKR-POGI. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pelayanan
         Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2002, Jakarta.
7. Lismidar. Proses Keperawatan. 1999. Jakarta.
          LAPORAN PENDAHULUAN
  ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN
PRE EKLAMPSIA BERAT (PEB) DI RUANG BERSALIN
       RSAB MUHAMMADIYAH GRESIK




                          PERAW
                      EMI      AT
                    AD


                                   AN
             AK
            UNIVERS




                                         AYA
                                      RAB
                                   SU
                   ITA




                   SM           H
                     UHAMMADIYA




                         Oleh :
                SRI NASTITI UTAMI
                     Nim: 02.110.064




          AKADEMI KEPERAWATAN
  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
                         2005
                            LEMBAR PENGESAHAN


Telah diperiksa dan disetuji untuk disyahkan sebagai laporan Asuhan Keperawatan
Anak pada pasien dengan Febris Convulsi di Ruang Anak RS. Siti Khodijah
Sepanjang mulai tanggal 03-15 Januari 2005.




                                    Mengetahui,


         Kepala Ruangan Anak                      Pembimbing Ruangan Anak
      RS. Siti Khodijah Sepanjang                 RS. Siti Khodijah Sepanjang




             (Sirotianah)                              (Kholidatul. U)
             Nip : 9410085                             Nip :




                             Pembimbing Pendidikan
                             AKPER Unmuh Surabaya




                             (Fahrun NR, S.Kep.Ns)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:14
posted:3/30/2013
language:Unknown
pages:12