Docstoc

Makalah BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)

Document Sample
Makalah BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) Powered By Docstoc
					                                    BAB I

                              PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
       Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami
   gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini
   disebabkan masih tingginya angka kematian perinatal neonatal karena masih
   banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah (Mochtar,
   1998). Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby
   dengan low birth weight baby ( bayi dengan berat lahir rendah = BBLR ),
   karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gr
   pada waktu lahir bukan bayi premature. Menurut data angka kaejadian BBLR
   di Rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1986 adalah 24 %.
   Angka kematian perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70 %
   dan 73 % dari seluruh kematian di sebabkan oleh BBLR ( Prawirohardjo,
   2005). Melihat dari kejadian terdahulu BBLR sudah seharusnya menjadi
   perhatian yang mutlak terhadap para ibu yang mengalamai kehamilan yang
   beresiko karena dilihat dari frekuensi BBLR di Negara maju berkisar antara
   3,6 – 10,8 %, di Negara berkembang berkisar antara 10 – 43 %. Dapat di
   dibandingkan dengan rasio antara Negara maju dan Negara berkembang
   adalah 1 : 4 ( Mochtar, 1998 ). Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir
   rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama.
   Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan,
   baik fisik maupun mental. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan
   makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh
   seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi
   pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat
   kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan
   bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.




                                       1
B. Rumusan Masalah
   1.   Apa pengertian dari BBLR?
   2.   Bagaimana klasifikasi dari BBLR?
   3.   Bagaimana etiologi dari BBLR?
   4.   Bagaimana patofisiologi dari BBLR?
   5.   Bagaimana pathway dari BBLR?
   6.   Bagaimana manifestasi klinik dari BBLR?
   7.   Bagaimana komplikasi dari BBLR?
   8.   Bagaimana pemeriksa penunjang dari BBLR?
   9.   Bagaimana penataksanaan dari BBLR?
   10. Bagaimana pencegahan dari BBLR?


C. Tujuan
   1.   Untuk mengetahui pengertian dari BBLR
   2.   Untuk mengetahui klasifikasi dari BBLR
   3.   Untuk mengetahui etiologi dari BBLR
   4.   Untuk mengetahui patofisiologi dari BBLR
   5.   Untuk mengetahui pathway dari BBLR
   6.   Untuk mengetahui manifestasi klinik dari BBLR
   7.   Untuk mengetahui komplikasi dari BBLR
   8.   Untuk mengetahui pemeriksa penunjang dari BBLR
   9.   Untuk mengetahui penataksanaan dari BBLR
   10. Untuk mengetahui pencegahan dari BBLR




                                     2
                                      BAB II

                                 PEMBAHASAN

A. Pengertian
        Bayi berat lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat
   lahir kurang dari 2500 gram ( WHO, 1961 ). Berat badan pada kehamilan
   khusus apapun sangat berfariasi dan harus digambarkan pada grafik presentil.
   Bayi yang berat badannya diatas presentil 90 dinamakan besar untuk umur
   kehamilan dan yang di bawa presentil 10 dinamakan ringan untuk umur
   kehamilan. Berdasarkan itu bahwa 10 % semua bayi ringan untuk umur
   kehamilan. Bayi yang berat badannya kurang dari 2500 gr pada saat lahir di
   namakan berat badan lahir rendah
        Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat badan
   lahir rendah di bedakan:
        1.    Bayi berat lahir rendah , berat lahir 1500 – 2500 gram
        2.    Bayi berat lahir sangat rendah, berat lahir kurang dari 1500 gram
        3.    Bayi berat lahir eksterem, Berat lahir kurang dari 1000 gram


B. Klasifikasi
   Bayi berat lahir rendah (BBLR) dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
   1.   Prematuritas murni, yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37
        minggu dan berat badan sesuai berat badan untuk usia kehamilan.
        Karakteristik yang dapat ditemukan pada prematur murni adalah :
        a. Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm,
             lingkar kepala kurang dari 33 cm lingkar dada kurang dari 30 cm
        b. Gerakan kurang aktif otot masih hipotonis
        c. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
        d. Kepala lebih besar dari badan rambut tipis dan halus
        e. Tulang tulang tengkorak lunak, fontanela besar dan sutura besar
        f. Telinga sedikit tulang rawannya dan berbentuk sederhana
        g. Jaringan payudara tidak ada dan puting susu kecil
        h. Pernapasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnu



                                         3
    i. Kulit tipis dan transparan, lanugo (bulu halus) banyak terutama pada
       dahi dan pelipis dahi dan lengan
    j. Lemak subkutan kurang
    k. Genetalia belum sempurna , pada wanita labia minora belum tertutup
       oleh labia mayora
    l. Reflek menghisap dan menelan serta reflek batuk masih lemah
          Bayi prematur mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan
    tubuh masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan
    antibodi belum sempurna . Oleh karena itu tindakan prefentif sudah
    dilakukan sejak antenatal sehingga tidak terjadi persalinan dengan
    prematuritas (BBLR).
2. Dismaturitas, yaitu bayi dengan berat badan kurang, dari berat badan yang
  seharusnya untuk usia kehamilan, ini menunjukkan bayi mengalami
  retardasi pertumbuhan intrauterine.
  Menurut Renfield (1975) IUGR dibedakan menjadi dua yaitu
  a. Proportionate IUGR
          Janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan
     pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan bulan
     sebelum bayi lahir sehingga berat,panjang dada lingkaran kepala dalam
     proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah
     masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya
     Wasted oleh karena retardasi pada janin terjadi sebelum terbentuknya
     adipose tissue
  b. Disporpotionate IUGR
          Terjadi karena distres subakut gangguan terjadi beberapa minggu
     sampai beberapa hari sampai janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan
     lingkar kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa
     gestasi. Bayi tampak Wasted dengan tanda tanda sedikitnya jaringan
     lemak di bawah kulit , kulit kering keriput dan mudah diangkat bayi
     kelihatan kurus dan lebih panjang. Karakteristik yang dapat ditemukan
     pada dismaturitas adalah :
          1) Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,



                                   4
              2) Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
              3) Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif
                  dan kuat
              4) Tali pusat berwarna kuning kehijauan


C. Etiologi
       Bayi berat lahir rendah mungkin prematur ( kurang bulan ) mungkin juga
   cukup bulan ( dismatur ).
       1. Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari
          37 minggu dan mempunyai berat badan yang sesuai dengan masa
          kehamillan atau disebut juga neonatus preterm / BBLR / SMK.
          Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Persalinan Prematur
          atau BBLR adalah:
          a. Faktor Ibu
              1) Riwayat kelahiran prematur sebelumnya
              2) Gizi saat hamil kurang
              3) Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
              4) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
              5) Penyakit menahun ibu           : hipertensi, jantung, gangguan
                  pembuluh darah (perokok)
              6) Perdarahan antepartum, kelainan uterus, Hidramnion
              7) Faktor pekerja terlalu berat
              8) Primigravida
              9) Ibu muda (<20 tahun)
          b. Faktor kehamilan
              Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum,
              komplikasi hamil seprti preeklamsia, eklamsi, ketuban pecah dini.
          c. Faktor janin
              Cacat bawaan, infeksi dalam rahim dan kehamilan ganda., anomali
              kongenital
          d. Faktor kebiasaan : Pekerjaan yang melelahkan, merokok
          e. Faktor yang masih belum diketahui.



                                       5
        2. Dismatur (IUGR) adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari
           berat   badan    seharusnya   untuk       masa   kehamilan    dikarenakan
           mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan.
           Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR pada Dismatur:
           a. Faktor ibu : Hipertensi dan penyakit ginjal kronik, perokok,
             pendrita penyakit diabetes militus yang berat, toksemia, hipoksia
             ibu, (tinggal didaerah pegunungan , hemoglobinopati, penyakit
             paru kronik) gizi buruk, Drug abbuse, peminum alcohol.
           b. Faktor   utery dan    plasenta     :     Kelainan    pembuluh   darah,
             (hemangioma) insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bicornis,
             infak plasenta, tranfusi dari kembar yang satu kekembar yang lain,
             sebagian plasenta lepas.
           c. Faktor janin : Gemelli, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi
             dalam kandungan,       (toxoplasmosis, rubella, sitomegalo virus,
             herpez, sifillis).
           d. Penyebab lain :Keadaan sosial ekonomi               yang rendah, tidak
             diketahui.
D. Patofisiologi
    1. Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang
      belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas.
      Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat
      badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak
      mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan
      pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh
      penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan
      keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi
      berkurang.
    2. Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak
      mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat
      normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal,
      tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil
      maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat



                                         6
  daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan
  kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR,
  vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu
  menderita anemia.
3. Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di
  bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan
  yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya
  mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin
  yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya
  mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai
  di bawah 11 gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat
  menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel
  tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin
  didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang
  dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan
  kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang
  menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun
  mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan
  prematur juga lebih besar.




                                 7
E. Pathway




             8
F. Manifestasi Klinik
   1.   Berat badan < 2500 gram
   2.   Panjang badan < 45 cm
   3.   Lingkar dada < 35 cm,lingkar kepala < dari 33 cm
   4.   Masa gestasi < 37 minggu
   5.   Frekuensi   pernafasan     bervariasi   terutama   pada      hari   –   hari
        pertama,walaupun demikian bila frekuensi nafas terus meningkat atau
        selalu diatas 60x/menit harus Waspada terhadap kemunkinan terjadinya
        penyakit membrane hialin ( syndrome gangguan pernafasan idiopatik )
        atau gangguan pernafasan karena sebab lain.
   6.   Kepala relative lebih besar daripada badan.
   7.   Kulit tipis transparan,lanugo banyak,lemak subkutan kurang          .
   8.   Oksifikasi tengkorak sedikit,ubun – ubun dan sutura lebar.
   9.   Genetalia im matur,desensus testikulorum biasanya belum sempurna.dan
        labia minora belum tertutup sempurnaoleh labia mayora.
   10. Rambut biasanya tipis,halus dan teranyam,sehingga sulit terlihat satu
        persatu.
   11. Tulang rawan dan daun telinga belum cukup sehingga elastisitas daun
        telinga masih kurang
   12. Jaringan mamae belum sempurna,demikian pula putting susu belum
        terbentuk dengan baik
   13. Tangis lemah
   14. Pernafasan belum teratur dan sering terdapat serangan apnue
   15. Otot masih hipotonik,sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai
        dalam abduksi,sendi lutut dan sendi kaki fleksi dan kepala menghadap
        kesatu jurusan.
   16. Tonic neck reflks biasanya lemah,refleks moro (+),refleks mengisap dan
        menelan belum sempurna demikian pula refleks batuk.
   17. Bila lapar biasanya menangis,gelisah,aktifitas bertambah;bila dalam
        waktu 3 hari tanda kelaparan tidak terdapat kemungkinan besar bayi
        menderita infeksi atau perdarahan intracranial.




                                        9
   18. Seringkali terdapat edema pada anggota gerak ,yang menjadi lebih nyata
        sesudah 24 – 48 jam.
   19. Kulit tampak mengkilat dan licin,terdapat piting edema dapat berubah
        sesuai perubahan posisi, edema biasanya berhubungan dengan DM dan
        toksemia gravidarum


G. Komplikasi
   Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara
   lain :
        1.   Hipotermia
        2.   Hipoglikemia
        3.   Gangguan cairan dan elektrolit
        4.   Hiperbilirubinemia
        5.   Sindroma gawat nafas
        6.   Paten duktus arteriosus
        7.   Infeksi
        8.   Perdarahan intraventrikuler
        9.   Apnea of Prematurity
        10. Anemia


H. Pemeriksaan Penunjang
   Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
   1. Pemeriksaan skor ballard
   2. Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
   3. Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa
      kadar elektrolit dan analisa gas darah.
   4. Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur
      kehamilan        kurang   bulan   dimulai   pada   umur   8   jam   atau
      didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.
   5. USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan.




                                        10
I.   Penatalaksanaan
     Perawatan pada bayi berat lahir rendah (BBLR) :
     1. Mempertahankan suhu tubuh dengan ketat. BBLR mudah mengalami
          hipotermi, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.
     2. Mencegah infeksi dengan ketat. BBLR sangat rentan dengan infeksi,
          perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan
          sebelum memegang bayi.
     3. Pengawasan nutrisi/ASI. Refleks menelan BBLR belum sempurna, oleh
          sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat.
     4. Penimbangan ketat. Perubahan berat badan mencerminkan kondisi
          gizi/nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab
          itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.
     5. Kain yang basah secepatnya diganti dengan kain yang kering dan bersih,
          pertahankan suhu tetap hangat.
     6. Kepala bayi ditutup topi, beri oksigen bila perlu.
     7. Tali pusat dalam keadaan bersih.
     8. Beri minum dengan sonde/tetes dengan pemberian ASI.
     9. Bila tidak mungkin infuse dekstrose 10% + bicabornas natricus 1,5% = 4 :
          1, hari 1 = 60 cc/kg/hari (kolaborasi dengan dokter) dan berikan antibiotik.


           Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan
     lahir dan keadaan bayi adalah sebagai berikut :
     1.    Berat lahir 1750 – 2500 gram
           a. Bayi Sehat
              1) Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi
                   kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi
                   menyusu lebih sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu.
              2) Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai
                   efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap,
                   tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif
                   cara pemberian minum.




                                           11
     b. Bayi Sakit
          Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan
       IV, berikan minum seperti pada bayi sehat.
       Apabila bayi memerlukan cairan intravena:
       1) Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
       2) Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 atau segera setelah
            bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi
            menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu.
       3) Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh;
            gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa
            lambung.
       4) Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
       5) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali).
            Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi
            masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum.
            Biarkan bayi menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi
            menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa
            terbatuk atau tersedak.
2.   Berat lahir 1500-1749 gram
     a. Bayi Sehat
       1) Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang
            dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakan cangkir/sendok
            atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk atau
            tersedak), berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan
            dengan pemberian menggunakan cangkir/ sendok apabila bayi
            dapat menelan tanpa batuk atau tersedak (ini dapat berlangsung
            setela 1-2 hari namun ada kalanya memakan waktu lebih dari 1
            minggu)
       2) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (misal setiap 3 jam). Apabila
            bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih
            tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.




                                      12
       3) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
            cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
     b. Bayi Sakit
       1) Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
       2) Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi
            jumlah cairan IV secara perlahan.
       3) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila
            bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih
            tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
       4) Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok
            apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa
            batuk atau tersedak
       5) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
            cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
3.   Berat lahir 1250-1499 gram
     a. Bayi Sehat
        1) Beri ASI peras melalui pipa lambung
        2) Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila
            bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi
            masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
        3) Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.
        4) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
            cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
     b. Bayi Sakit
        1) Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama.
        2) Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi
            jumlah cairan intravena secara perlahan.
        3) Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi
            telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih
            tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
        4) Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/ sendok.




                                   13
               5) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
                   cangkir/ sendok, coba untuk menyusui langsung.
     4.    Berat lahir tidak tergantung kondisi)
           1) Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
           2) Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi
               pemberian cairan intravena secara perlahan.
           3) Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi
               telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
               lapar, beri tambahan ASI setiap kali minumLanjutkan pemberian
               minum menggunakan cangkir/ sendok.
           4) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan cangkir/
               sendok, coba untuk menyusui langsung.


J.   Pencegahan
          Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah
     langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :
     1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali
          selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu
          hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah
          melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada
          institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
     2. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin
          dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri
          selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin
          yang dikandung dengan baik.
     3. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur
          reproduksi sehat (20-34 tahun)
     4. Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam
          meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka
          dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan
          status gizi ibu selama hamil.




                                           14
                                    BAB III

                             TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
   1. Data Subyektif
     Data subyektif adalah persepsi dan sensasi klien tentang masalah
     kesehatan. Data subyektif terdiri dari:
     a.   Biodata atau identitas pasien :
          1) Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin
          2) Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau
             kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat.
     b.   Riwayat kesehatan
          1) Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat
             antenatal pada kasus BBLR yaitu:
            a) Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi
                buruk, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan
                penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru.
            b) Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran
                multiple, kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm.
            c) Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa
                tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas
                kesehatan.
            d) Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan
                (kehamilan postdate atau preterm).
          2) Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang
             sangat erat dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu
             dikaji :
            a) Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun
                plasenta previa.
            b) Kala II : Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena
                pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan sistem
                pusat pernafasan.



                                       15
     3) Riwayat post natal
        Yang perlu dikaji antara lain :
        (a) Agar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua
            AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10)
            asfiksia ringan.
        (b) Berat badan lahir : Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm
            2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36
            cm).
        (c) Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus
            anetrecial aesofagal.
c.   Pola nutrisi
     Yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi
     gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga
     perlu diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi
     bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga
     untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi
     disamping untuk pemberian obat intravena.
     Kebutuhan parenteral:
     1) Bayi BBLR < 1500 gram menggunakan D5%
     2) Bayi BBLR > 1500 gram menggunakan D10%
     3) Kebutuhan nutrisi enteral
     4) BB < 1250 gram = 24 kali per 24 jam
     5) BB 1250-< 2000 gram = 12 kali per 24 jam
     6) BB > 2000 gram = 8 kali per 24 jam
     7) Kebutuhan minum pada neonatus :
     8) Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari
     9) Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari
     10) Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari
     11) Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari
     12) Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 – 200 cc/kg BB/hari
d.   Pola eliminasi
     Yang perlu dikaji pada neonatus adalah:



                                    16
       BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi
       BAK : frekwensi, jumlah
  e.   Latar belakang sosial budaya
       Kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR kebiasaan ibu
       merokok,    ketergantungan     obat-obatan   tertentu   terutama   jenis
       psikotropika. Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol,
       kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu.
   f. Hubungan psikologis
       Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung
       dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali
       dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat
       mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya
       dengan BBLR karena memerlukan perawatan yang intensif.
2. Data Obyektif
  Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan
  pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku.
   a. Keadaan umum
       Pada neonatus dengan BBLR, keadaannya lemah dan hanya merintih.
       Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan
       menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya
       terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai
       dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat
       menunjukkan kondisi neonatus yang baik.
   b. Tanda-tanda Vital
       Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan
       asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya
       hipothermi bila suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila
       suhu tubuh < 37 C.                                                    –
                                         -140 kali per menit respirasi normal
       antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia berat
       pernafasan belum teratur. Pemeriksaan fisik adalah melakukan
       pemeriksaan fisik pasien untuk menentukan kesehatan pasien.



                                    17
c. Kulit
   Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada
   bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
d. Kepala
   Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom,
   ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya
   peningkatan tekanan intrakranial.
e. Mata
   Warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding
   conjunctiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi
   terhadap cahaya.
f. Hidung
   Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
g. Mulut
   Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
h. Telinga
   Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan
i. Leher
   Perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek
j. Thorax
   Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara
   wheezing dan ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per
   menit.
k. Abdomen
   Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah arcus
   costaae     pada garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit
   berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia
   diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran
   bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
l. Umbilikus
   Tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda –
   tanda infeksi pada tali pusat.



                                18
      m. Genitalia
          Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak
          muara uretra pada neonatus laki – laki, neonatus perempuan lihat labia
          mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang
          perdarahan.
      n. Anus
          Perhatiakan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta
          warna dari faeses.
      o. Ekstremitas
          Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah
          tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan
          serta jumlahnya.
      p. Refleks
          Pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking
          lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan
          susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang.
   3. Data Penunjang
          Data penunjang pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam
     menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat
     memberikan obat yang tepat pula. Pemeriksaan yang diperlukan adalah :
     a. Darah: GDA > 20 mg/dl, Hb dan Bilirubin: > 10 mg/dl
     b. test kematangan paru,
     c. CRP


B. Diagnosa Keperawatan
   1. Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan produksi surfactan yang
      belum optimal.
   2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek
      menghisap lemah.
   3. Resiko terjadinya hipoglikemia b/d meningkatnya metabolisme tubuh
      neonatus.
   4. Resiko terjadinya hipotermia b/d lapisan lemak kulit yang tipis.



                                      19
     5. Resiko terjadinya infeksi b/d tali pusat yang belum kering, imunitasyang
        belum sempurna, ketuban meconial.
     6. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan
        dengan rawat terpisah.


C. Intervensi
No     Diagnosa Perawatan         Tujuan dan Kriteria               Intervensi
1.     Gangguan        pertukaran Setelah dilakukan tindakan        1.   Letakkan              bayi
       gas       b/d    produksi keperawatan,         diharapkan         terlentang        dengan
       surfactan yang belum kebutuhan O2 bayi terpenuhi                  alas     yang         data,
       optimal                    dengan kriteria hasil:                 kepala     lurus,      dan
                                     1. Pernafasan         normal        leher               sedikit
                                         40-60 kali permenit.            tengadah/ekstensi
                                     2. Pernafasan teratur.              dengan        meletakkan
                                     3. Tidak cyanosis.                  bantal atau selimut
                                     4. Wajah dan seluruh                diatas     bahu       bayi
                                         tubuh         berwarna          sehingga              bahu
                                         kemerahan          (pink        terangkat 2-3 cm
                                         variable).                 2.   Bersihkan             jalan
                                     5. Gas darah normal                 nafas, mulut, hidung
                                         PH = 7,35 – 7,45                bila perlu.
                                         PCO2 = 35 mm Hg            3.   Observasi            gejala
                                         PO2 = 50 – 90                   kardinal dan tanda-
                                         mmHg                            tanda cyanosis tiap 4
                                                                         jam
                                                                    4.   Kolaborasi        dengan
                                                                         team medis dalam
                                                                         pemberian       O2     dan
                                                                         pemeriksaan          kadar
                                                                         gas darah arteri




                                        20
2.   Resiko         terjadinya Setelah dilakukan tindakan      1.   Letakkan              bayi
     hipotermi b/d lapisan keperawatan,           diharapkan        terlentang           diatas
     lemak pada kulit yang tidak terjadi hipotermia                 pemancar             panas
     masih tipis                dengan kriteria hasil:              (infant warmer)
                                   1. Suhu tubuh 36,5 –             2.      Singkirkan kain
                                       37,5°C                       yang sudah dipakai
                                   2. Akral hangat                  untuk mengeringkan
                                   3. warna seluruh tubuh           tubuh, letakkan bayi
                                       kemerahan                    diatas
                                                               tubuh,       letakkan      bayi
                                                                    diatas handuk / kain
                                                                    yang       kering      dan
                                                                    hangat.
                                                               3    Observasi suhu bayi
                                                                    tiap 6 jam
                                                               4    Kolaborasi         dengan
                                                                    team      medis      untuk
                                                                    pemberian            Infus
                                                                    Glukosa 5% bila ASI
                                                                    tidak            mungkin
                                                                    diberikan
3.   Resiko          gangguan Setelah dilakukan tindakan       1.   Lakukan          observasi
     penemuan       kebutuhan keperawatan, diharapkan               BAB        dan       BAK
     nutrisi       sehubungan kebutuhan nutrisi terpenuhi           jumlah dan frekuensi
     dengan             reflek dengan kriteria hasil:               serta konsistensi.
     menghisap lemah.              1. Bayi dapat minum         2.   Monitor turgor dan
                                       pespeen / personde           mukosa mulut.
                                       dengan baik.            3.   Monitor intake dan
                                   2. Berat badan tidak             out put.
                                       turun lebih dari 10%.   4.   Beri       ASI      sesuai
                                   3. Retensi tidak ada.            kebutuhan.
                                                               5.   Lakukan             control



                                      21
                                                                   berat    badan     setiap
                                                                   hari.
                                                             6.    Lakukan          control
                                                                   berat    badan     setiap
                                                                   hari.
4.   Resiko                                        1.
               terjadinya Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan teknik aseptik
     infeksi              keperawatan,       diharapkan      dan       antiseptik     dalam
                          selama     perawatan       tidak   memberikan               asuhan
                          terjadi komplikasi (infeksi)       keperawatan
                          dengan kriteria hasil:         2. 2. Cuci tangan sebelum
                             1. tidak      ada      tanda-   dan sesudah melakukan
                                   tanda infeksi.            tindakan
                                                 3.
                             2. Tidak ada gangguan 3.              Pakai baju khusus/
                                   fungsi tubuh.             short waktu masuk ruang
                                                             isolasi (kamar bayi)
                                                         4. 4. Lakukan perawatan
                                                             tali pusat dengan triple
                                                             dye 2 kali sehari.
                                                         5. 5.       Jaga      kebersihan
                                                             (badan,       pakaian)     dan
                                                             lingkungan bayi.
                                                         6. 6. Observasi tanda-tanda
                                                             infeksi        dan       gejala
                                                             kardinal
                                                         7. 7.        Hindarkan         bayi
                                                             kontak dengan sakit.
                                                         8. 8.      Kolaborasi      dengan
                                                             team          medis       untuk
                                                             pemberian antibiotik.
                                                         9. 9. Siapkan pemeriksaan
                                                             laboratorat sesuai advis
                                                             dokter yaitu pemeriksaan



                                22
                                                                   DL, CRP.


5.   Resiko                                              1.
                     terjadinya Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan nutrisi secara
     hipoglikemia                keperawatan,       diharapkan     adekuat dan catat serta
     sehubungan        dengan tidak terjadi hipoglikemia           monitor setiap pemberian
     metabolisme           yang selama masa perawatan              nutrisi.
     meningkat                   dengan kriteria hasil:        2. 2.      beri      selimut     dan
                                    1. Akral hangat                bungkus           bayi      serta
                                    2. Tidak cyanosis              perhatikan                  suhu
                                    3. Tidak apnea                 lingkungan
                                    4. Suhu                    3.
                                                          normal 3.       Observasi           gejala
                                        (36,5°C -37,5°C)           kardinal         (suhu,     nadi,
                                    5. Distrostik normal           respirasi)
                                 (> 40 mg)                     4. 4. .     Kolaborasi dengan
                                                                   team          medis        untuk
                                                                   pemeriksaan laborat yaitu
                                                                   distrostik
6.   Gangguan        hubungan                             1.
                                 Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan para ibu /
     interpersonal      antara keperawatan, diharapkan             keluarga tentang keadaan
     bayi        dan        ibu terjadinya hubungan batin          bayinya sekarang.
     sehubungan        dengan antara bayi dan ibu.             2. 2. Bantu orang tua / ibu
     perawatan intensif.         dengan kriteria hasil:            mengungkapkan
                                    1. Ibu      dapat     segera   perasaannya.
                                        menggendong           3.
                                                            dan 3. Orientasi ibu pada
                                        meneteki bayi.             lingkungan rumah sakit.
                                                        4.
                                    2. Bayi segera pulang 5. Tunjukkan bayi pada
                                        dan        ibu     dapat   saat       ibu     berkunjung
                                        merawat          bayinya   (batasi          oleh       kaca
                                        sendiri.                   pembatas).
                                                               5. 6. Lakukan rawat gabung
                                                                   jika keadaan ibu dan bayi
                                                                   jika       keadaan          bayi



                                       23
         memungkinkan.




BAB IV



  24
                                     PENUTUP
A. Kesimpulan
   Setelah membahas mengenai uraian asuhan keperawatan pada neonatus
   dengan BBLR, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Dalam melakukan pengkajian pada neonatus dengan BBLR ditekankan
      pada ditekankan pada adanya perubahan suhu, nutrisi, interitas kulit, dan
      resiko infeksi
  2. Dalam perencanaan perlu dituliskan target waktu target waktu yang
      digunakan dalam pelaksanan intervensi disesuaikan dengan keadaan
      tempat praktek yakni di ruang neonatus sehingga kurang maksimal.
  3. Dalam melakukan pengkajian dan implementasi keperawatan, perawat
      harus benar-benar prosedural dan menciptakan lingkungan yang aman dan
      nyaman bagi neonatus mengingat bayi BBLR terjadi imaturitas organ.
  4. Dalam memberikan asuhan keperawatan pada adanya perubahan suhu,
      nutrisi, interitas kulit, dan resiko infeksi.

B. Saran
   Berdasarkan kesimpulan diatas kami memberanikan diri untuk memberikan
   saran sebagai berikut:
  1. Dalam memberikan pelayanan keperawatan tidak boleh membeda-bedakan
      status klien.
  2. Dalam melakukan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses
      keperawatan perlu adanya pendekatan dengan klien yaitu; menjalin
      hubungan saling percaya sehingga klien mau mengungkapkan apa yang
      dirasakan dan masalah keperawatan yang dihadapi dapat teratasi.




                              DAFTAR PUSTAKA


                                          25
Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.

Buku Acuan Nasional, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawijoyo, Jakarta. 2006

Mochtar, Rustam. 1998. Sinpsi Obstetri Jilid I. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo, Sarwono, DR. dr. SpOG 2005, ILMU KEBIDANAN. Jakarta
YBP-SP

Rudolph, Abraham M., dkk. 2007. Buku Ajar Pediatri Rudolph Volume 3.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Surasmi,Asrining.2003.Perawatan Bayi Risiko Tinggi.Jakarta:EGC

World Health Organization (WHO). Development of a strategy towards
promoting       optimal       fetal     growth.       Avaliable     from        :
http://www.who.int/nutrition/topics/feto_maternal/en.html. Last update : January
2013 [diakses pada tanggal 19 Januari 2013].




                                       26

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1
posted:3/26/2013
language:Malay
pages:26
Siti Ngaisah Siti Ngaisah Pub http://www.google.com
About am a nice girl