PLURALISME AGAMA DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (PERSPEKTIF AL QUR’AN) by riza.on

VIEWS: 0 PAGES: 79

									PLURALISME AGAMA DAN IMPLEMENTASINYA
        DALAM PENDIDIKAN ISLAM
        (PERSPEKTIF AL QUR’AN)




                          SKRIPSI

               Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah
       Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
      Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
                 Gelar Sarjana Pendidikan Islam


                            Oleh:

                    ASNI RIKHANIYAH
                         97473684


                        Pembimbing:
                Drs. Maragustam Siregar, MA


           KEPENDIDIKAN ISLAM
            FAKULTAS TARBIYAH
         UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
              SUNAN KALIJAGA
                YOGAKARTA
                   2004
Drs. Maragustam Siregar, M.A.
Dosen Fakultas Tarbiyah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


NOTA DINAS


                                              Kepada Yth:
                                              Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah
                                              UIN Sunan Kalijaga
                                              Yogyakarta


Assalamu’alaikum Wr.Wb
       Setelah membaca, meneliti, mengoreksi dan mengadakan perubahan
seperlunya, maka kami selaku pembimbing berpendapat, skripsi Saudari :

Nama                 : Asni Rikhaniyah
Fakultas /Jurusan    : Tarbiyah /KI
NIM                  : 97473684
Judul skripsi        : Pluralisme Agama dan Implementasinya dalam Pendidikan
                      Islam (Perspektif Al Qur’an)

sudah dapat diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Kependidikan Islam.
       Selanjutnya dapatlah kiranya untuk segera dimunaqosyahkan, akhirnya
sebelum dan sesudahnya kami haturkan terima kasih. Semoga skripsi ini
bermanfaat. Amiin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
                                                     Yogyakarta, 19 Mei 2004
                                                            Pembimbing




                                                 Drs. Maragustam Siregar. MA.
                                                 NIP. 150232846


                                         ii
Drs. Ahmad Arifi, M.Ag.
Dosen Fakultas Tarbiyah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


NOTA DINAS KONSULTAN


                                              Kepada Yth:
                                              Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah
                                              UIN Sunan Kalijaga
                                              Yogyakarta


Assalamu’alaikum Wr.Wb
       Setelah membaca, meneliti, mengoreksi dan mengadakan perubahan
seperlunya, maka kami selaku pembimbing berpendapat, skripsi Saudari :

Nama                : Asni Rikhaniyah
Fakultas /Jurusan   : Tarbiyah /KI
NIM                 : 97473684
Judul skripsi       : Pluralisme Agama dan Implementasinya dalam Pendidikan
                      Islam (Perspektif Al Qur’an)

sudah dapat diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Kependidikan Islam.
       Akhirnya sebelum dan sesudahnya kami haturkan terima kasih. Semoga
skripsi ini bermanfaat. Amiin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
                                                     Yogyakarta, 1 Agustus 2004
                                                            Konsultan




                                                     Drs. Ahmad Arifi. M.Ag.
                                                     NIP.: 150253888




                                        iii
                       PERSEMBAHAN




Buat Almamater Tercinta Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga
                      dan Ayah Bunda




                             iv
                MOTTO




     Kalau kita berusaha dan berdo’a
Allah akan memberikan jalan dan kemudahan




                    v
                            KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr. Wb

       Alhamdulillah, atas berkat rahmat serta karunia-Nya penulisan skripsi ini

dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa penulisan ini dapat terlaksana atas

bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menghaturkan terimakasih

yang setulus-tulusnya kepada:

   1. Bapak Prof. Dr. H. Amin Abdullah, selaku Rektor IAIN Sunan Kalijaga

       Yogyakarta.

   2. Bapak Drs. Rahmat Suyud, selaku dekan Fakultas Tarbiyah

   3. Bapak Drs. Jamroh Latief, selaku ketua jurusan Kependidikan Islam

   4. Bapak Drs. Misbahul Munir, selaku sekretaris jurusan Kependidikan Islam

   5. Bapak Drs. Maragustam Siregar, MA., selaku pembimbing atas

       bimbingan, saran dan konsultasinya.

   6. Bapak Drs. Nizar Ali M.Ag., selaku Pembimbing Akademik

   7. Seluruh karyawan-karyawati di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.

   8. Teman-teman, sahabat, sahabati yang telah membantu

   9. Special thanks to my loving family Ayah – Bunda (yang sangat) saudara-

       saudara semua.

   10. Untuk semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu tanpa

       mengurangi rasa sayang dan hormat.




                                       vi
       Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan oleh

karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya

penulis mohon maaf kepada semua pihak atas segala kesalahan yang telah penulis

perbuat, semoga amal baik kalian mendapat balasan dari Allah SWT, dan mudah-

mudahan karya sederhana ini bermanfaat adanya, Amien.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

                                                   Yogyakarta, 29 April 2004

                                                              Penulis



                                                         Asni Rikhaniyah




                                     vii
                                                 DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ..................................................................................                  i

NOTA DINAS .............................................................................................         ii

HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................                        iii

PERSEMBAHAN ........................................................................................            iv

MOTTO ......................................................................................................     v

KATA PENGANTAR ................................................................................                 vi

DAFTAR ISI ...............................................................................................     viii

BAB I        PENDAHULUAN ........................................................................                1

             A. Penegasan Istilah Judul ...........................................................              1

             B. Latar Belakang Masalah ..........................................................                3

             C. Rumusan Masalah ...................................................................              6

             D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...............................................                    6

             E. Telaah Pustaka ........................................................................          7

             F. Kerangka Teori ........................................................................          8

             G. Metode Penelitian ....................................................................         16

             H. Sistematika Pembahasan ..........................................................              20

BAB II TINJAUAN                      HISTORIS               OBYEKTIF                PLURALISME

             AGAMA .......................................................................................     22

             A. Pengertian Pluralisme Agama ................................................                   22

             B. Sejarah Perkembangan Hubungan antar Agama .....................                                25

             C. Fenomena Pluralisme Keagamaan Dewasa Ini .......................                               34




                                                         viii
BAB III PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF

           AL QUR’AN .................................................................................            46

           A. Pluralisme Menurut Al-Qur’an ...............................................                        46

           B. Sikap Al-Qur’an terhadap Pluralisme Agama ........................                                  51

           C. Jihad         dan       Relevansinya             dengan         Konsep           Pluralisme

                Keagamaan ..............................................................................          60

BAB IV URGENSI IMPLEMENTASI PERSPEKTIF AL-QUR’AN

           TENTANG                    PLURALISME                         AGAMA                   DALAM

           PENDIDIKAN ISLAM ...............................................................                       66

           A. Hakikat Pendidikan Islam .......................................................                    66

           B. Pendidikan Islam Menuju Prospek Masa Depan Pluralitas

                Agama ......................................................................................      80

           C. Penanaman Kesadaran Pluralisme Agama dalam Pendidikan

                Islam .........................................................................................   82

           D. Peran Pemimpin Agama bagi Terciptanya Kesadaran

                Pluralisme Agama ...................................................................              85

BAB V. KESIMPULAN ............................................................................                    86

           A. Kesimpulan .............................................................................            89

           B. Saran ........................................................................................      89

           C. Penutup ....................................................................................        90

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN



                                                      BAB I

                                                          ix
                                   PENDAHULUAN



                           A. Penegasan Istilah Judul
          Untuk menghindari kesalahpahaman ataupun kekeliruan dalam
   memahami maka perlu ditegaskan istilah judul tersebut. Adapun istilah yang
   perlu penulis tegaskan :
   1. Pluralisme Agama

              Pluralisme adalah banyak macam/berbagai macam1. Agama yaitu
      menuntun hidup umat manusia. Seperti halnya di Indonesia terdiri atas
      banyak macam agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.
      Umat pemeluknya hidup dalam kebersamaan bernaung di bumi pertiwi.
   2. Implementasi

              Berarti penerapan2. Jadi di dalam Al-Qur’an sudah terdapat
      konsep-konsep tentang pluralisme tinggal penerapannya dengan atau
      dalam pendidikan Islam. Bagaimanakah penerapannya dalam pendidikan
      Islam tentang konsep-konsep pluralisme dalam Al-Qur’an tersebut.
3. Pendidikan Islam
              Dari berbagai uraian yakni Drs. Ahmad D. Marimba, Abdur
      Rahman Nahlawi, Drs. Burhan Shomad, Mustofa Al-Ghulayani, Syeh
      Muhammad A. Naqaib Al Atos, Prof. Dr. Hasan L., Hasil Seminar
      Pendidikan Islam Se Indonesia 7-11 Mei 1960 di Cipayung Bogor.
      Pendidikan Islam adalah bimbingan yang dilakukan oleh orang dewasa
      kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian
      muslim3.
   4. Perspektif Al-Qur’an

              Pandangan       Al    Qur’an     tentang     pluralisme     agama      dan
      implementasikannya dalam pendidikan Islam adalah kalam Allah yang

      1
        Trisno Yuwono-Pius Abdullah, Kamus Lengkap Indonesia Praktis (Surabaya, Arkola)
      2
        Ibid.
      3
       Hj. Nur Uhbiyati Ilmu Pendidikan Islam, hal. 9, Pustaka Setia.


                                          x
       tiada tandingannya (mu’jizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
       penutup para Nabi dan Rosul dengan perantaraan Malaikat Jibril AS
       ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara
       mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya merupakan suatu
       ibadah, dimulai dengan Surat Al-Fatihah dan ditutup dengan Surat An-
       Nas4.
               Allah menurunkan Al-Qur’an adalah untuk menjadi undang-
       undang bagi umat manusia dan petunjuk serta sebagai tanda atas
       kebenaran Rosul dan penjelasan atas kenabian dan kerosulannya, juga
       sebagai alasan (hijjah) yang kuat dihari kemudian dimana akan dinyatakan
       bahwa Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan dari Dzat Yang Maha
       Bijaksana lagi terpuji. Nyatalah bahwa Al-Qur’an adalah Mu’jizat abadi
       yang menundukkan semua generasi dan bangsa sepanjang masa.




B. Latar Belakang Masalah

           Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada akhir-akhir ini di berbagai

   daerah di Indonesia, seperti kasus Situbondo (1998), dan yang sampai saat ini

   masih terus berjegolak seperti kasus Ambon, pada dasarnya merupakan akibat

   dari konflik anatar agama yang berbeda. Masing-masing pihak mengklaim

   bahwa dirinyalah yang palin benar, sedangkan pihak lain salah. Perpsepsi

   bahwa perbedaan adalah suatu yang buruk, suatu hal yang menakutkan, sudah

   begitu rupa mendarah daging dalam jiwa umat-umat beragama.




       4
         Muh. Aly Ash Shabuny Alih Bahasa Drs. H. Moh Chudhori Umar, Drs. Moh Mastna
H.S, Pengantar Study Al-Qur’an (At-Tibyan) hal. 18


                                         xi
          Akibat dari perseteruan tersebut adalah kesengsaraan semua pihak,

yang bertikai maupun yang tidak mengetahui apa-apa. Pada dasarnya akibat

dari konflik adalah kerugian yang menyeluruh diberbagai pihak. Rakyat kecil

lagi-lagi menjadi korban dan harus menanggung akibat-akibat yang

ditimbulkan oleh konflik tersebut.

          Akibat dari adanya perseteruan ataupun kerusuhan di suatu daerah

pada akhirnya merambat ke daerah yang lain, yang masih satu wilayah

maupun diluar wilayah yang berbeda. Memanasnya kondisi disuatu daerah,

seperti adanya konflik antar agama dapat memancing daerah lain dikarenakan

adanya ikatan emosional yang begitu kuat, ikatan sebagai saudara seiman. Hal

serupa pernah terjadi di daerah Mataram, Lombok (Februari 2000) saat umat

Islam melakukan tablig akbar untuk mensikapi kondisi umat Islam di Ambon

yang berakhir dengan kerusuhan berupa pengrusakan tempat-tempat ibadah

dan sarana pendidikan umat Kristiani. Terlepas dari provokator dan lain

sebagainya yang biasa menjadi kambing hitam dalam setiap”chaos”, yang

jelas umat beragama belum mempunyai kontrol emosi yang memadai

sehingga begitu mudah terpancing untuk melakukan berbagai macam tindakan

anarki.

          Sentimen keagamaan dan fanatisme membuat paling tidak banyak

memberi andil atas terciptanya setiap adegan kerusuhan dan terjadinya

konflik. Menurut C. Syamsul Hari, bahwa konflik yang mengatasnamakan

agama pada umumnya disebabkan oleh penyimpangan arah proses sosial yang




                                     xii
berkolerasi logis dengan bentuk-bentuk menyimpang interaksi sosial antar

umat beragama.

       Dari fenomena-fenomena tersebut setidaknya dapat dijadikan fonis

awal bahwa sampai saat ini, kesadaran pluralitas dalam beragama belum

menyentuh sisi kesadaran paing dalam pada diri para pemeluk agama. Artinya,

slogan-slogan bahwa agama mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, tidak

menyukai tindakan kejahatan dalam bentuk apapun hanyalah omong kosong.

       Di sinilah paling tidak, perlu diperhatikan kembali tentang peran

pendidikan Islam bagi umat Islam itu sendiri. Islam sebagai “rohmatan lil

‘alamin” sudah dapatkah itu diwujudkan, karena posisi umat Islam sebagai

mayoritas di satu sisi sangatlah tidak menguntungkan. Dan ironisnya ternyata

umat Islam dapat dikatakan hampir banyak ikut serta dalam setiap aksi

kerusuhan. Mengapa bisa terjadi demikian ? tentunya ada yang salah, “there is

something wrong”. Atau bisa jadi pendidikan Islam belum mampu mendidik

umatnya menjadi kaum pluralis ? ini perlu dikaji kembali sebagai upaya

perbaikan mutu pendidikan Islam itu sendiri.

       Kebanggaan sebagai umat yang terbaik “khoira ummah” jangan

hendakanya melenakan umat Islam dari berbuat kebajikan yang nyata. Lagi

pula kebanggaan semacam itu hanyalah akan menjadi beban berat yang mesti

dipikul dan akan menjadi bahan tertawaan bila tidak dapat merealisasikan

dalam setiap aktifitas hidupnya sehari-hari sesuai predikat yang disandang.

       Dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an M. Quraish Shihab

menyatakan : “Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan



                                   xiii
juta kaum muslim seluruh dunia, merupakan “way of life” yang menjamin

kebahagian hidup pemeluknya di dunia dan akherat kelak. Ia mempunyai satu

sendi utama yang esensial ; berfungsi memberi prtunjuk ke jalan yang sebaik-

baiknya”. Petunjuk ke jalan yang baik (sirathal mustaqim) itu terangkum

dalam Al-Qur’an sebagai kitab pedoman umat Islam. Umat Islam dituntut

untuk mempelajari ajarannya untuk kemudia diamalkan dalam kehidupan

sehari-hari5.

          Menanggapi “image-image” yang miring tentang Islam sebagai agama

kaum teroris, yang gemar berbuat onar dan kerusuhan, hendaklah merujuk

kembali ke Al-Qur’an untuk mendapatkan ketenangan yang lebih otentik.

Tentang konsep penghargaan terhadap agama lain di satu sisi misalnya dan

konsep berijtihad memerangi kaum beragama lain di sisi yang lain, harus

benar-benar di dudukkan sesuai porsinya masing-masing. Ini sangat penting,

bukan hanya bagi orang lain di luar Islam, namun bagi orang Islam sendiri

agar pemahaman terhadap “ruh” Al-Qur’an benar-benar dapat dibanggakan.

Pendidikan Islam dalam hal ini belum dapat merealisasikannya dalam

kehidupan nyata. Kalau boleh dikatakan ini merupakan salah atu bentuk

kegagalan pendidikan Islam.



                               C. Rumusan Masalah

                                                                Berdasarkan          latar

                                                        belakang      masalah     seperti

                                                        telah dijelaskan di atas, maka


    5
        M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, Cet. XI, (Bandung : Mizan, 1995) hal.33.


                                          xiv
                                                     dalam penelitian ini dapat

                                                     dirumskan masalah sebagai

                                                     berikut :

   1. Bagaimana        sebenarnya    pandangan/perspektif        Al-Qur’an   tentang

       pluralisme agama ?

   2. Bagaimana urgensi implementasi tentang pandangan/perspektif Al-Qur’an

       tentang pluralisme agama dalam pendidikan Islam ?



                                                     D. Tujuan dan Manfaat

Penelitian

   1. Tujuan Penelitian

                Berdasarkan rumusan di atas, penelitian ini mempunyai tujuan

       sebagai berikut :

       a. Mengungkap kemudian mendiskripsikan secara jelas perspektif Al-

             Qur’an tentang pluralisme agama.

       b. Mengungkap urgensi implementasi perspektif Al-Qur’an tentang

             pluralisme agama dalam pendidikan Islam.

   2. Manfaat Penelitian

                Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

       a. Secara akademik, penelitian ini dapat menambah dan memperkaya

             khasanah pemikiran Islam khususnya yang berkaitan dengan masalah

             pluralisme agama.

       b. Secara praktis, penelitian ini turut memberikan sumbangan pemikiran

             yang ilmiah dan obyektif tentang urgensi implementasi konsep Al-

             Qur’an tentang pluralisme agama dalam pendidikan Islam.

                                        xv
E. Telaah Pustaka

            Telah ada beberapa skripsi yang membahas masalah pluralisme. Ada

    yang secara langsung menjadikannya topik kajian utama (judul) dan ada yang

    memasukkannya dalam sub-sub bagian tersebut.

            Dalam skripsi pluralisme agama dalam tafsir Al-Qur’an modern

    (kajian Tafsir Al-Manar dan Fi Zilalil Qur’an) yang membahas tentang

    pluralisme agama dan respon terhadap pluralisme tersebut, peta paradigma

    tafsir Al-Qur’an modern serta pandangan tafsir Al-Manar and Fizilalil Qur’an

    yang menitiberatkaan pada sikap kehidupan beragama para pemeluk agama

    yang beragam di Indonesia.6

            Dalam skripsi dengan berjudul Pluralisme dan Dialog Agama yang

    membahas tentang pluralisme menjadi faktor penting bagi dialog agama, serta

    pandangan Nurcholis Madjid mengenai pluralisme dan dialog antar agama.7

            Dalam skripsi Pandangan Fazlur Rahman terhadap Pluralisme Agama

    yakni membahas tentang pandangan Fazlur Rahman tentang kebenaran agama

    Islam serta hubungannya dengan agama-agama lain. Juga posisi Fazlur

    Rahman di dalam paradigma dialog agama eksklisif, inklusif, pluralis.8

            Dalam skripsi dengan judul Konflik Antar Umat Beragama Dalam

    Pluralitas Agama di Indonesia yang membahas tentang pluralisme di




        6
           Ridho, Mujtahidul, Pluralisme Agama dalam Tafsir Al-Qur’an Modern (Kajian Tafsir
Al-Manar dan Fi Zilalil Qur’an, Yogyakarta, hal. 13.
         7
           Kurniawan, Pluralisme dan Dialog Antar Agama (Studi Atas Pemikiran Nurkholis
Madjid), hal. 8.
         8
           Syarifudin, Pandangan Fazlur Rahman Terhadap Pluralisme Agama, hal. 9.


                                           xvi
   Indonesia dengan sebab terjadinya konflik antar umat beragama di Indonesia

   khususnya Islam dengan Kristen.9

               Dan dalam skripsi dengan judul Tasamuh Islam di Tengah Pluralitas

   Agama di Indonesia, membahas tentang tasamuh, keluasan dan batasannya.

   Konsep Islam tentang tasamuh antar umat beragama dan juga sejauh mana

   Tasamuh Islam di manifestasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa

   dan bernegara di Indonesia.10

               Dari berbagai skripsi tersebut belum ada yang membahas secara

   spesifik tentang pluralisme agama dari sudut pandang Al Qur’an yang

   kemudian menjadi suatu hal yang menarik bagi penulis untuk menulisnya

   yang dihubungkan dengan pendidikan Islam.



F. Kerangka Teori

               Ada sebuah fenomena menarik di tengah pluralnya masyarakat.

   Hubungan antar umat beragama saling menghargai dan rukun. Namun

   kerukunan tersebut menjadi hancur berantakan karena adanya “clash” antar

   umat beragama yang terjadi di daerah tersebut. Mengakibatkan adanya

   kerukunan semu tanpa dilandasi kesadaran hidup bermasyarakat secara plural.

               Merupakan suatu yang sangat urgen untuk dapat mengetahui dan

   memahami pluralis (terutama pluralisme agama sebagai salah satu upaya

   menuju terciptanya masyarakat madani). Dari sudut pandang agama, Al

   Qur’an yang masih diyakini masih tetap terjaga keotentikannya untuk

        9
            Suharlan, Konflik Antar Umat Beragama Dalam Pluralitas Agama di Indonesia, hal. 9,
2001.
        10
             Husnul Wafa, Tasamuh Islam Di Tengah Pluralitas Agama di Indonesia, 1998, hal. 7.


                                              xvii
kemudian diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat melalui kajian

keagamaan, terutama sekali melalui pendidikan Islam.

          Sikap Al Qur’an terhadap pluralitas agama begitu jelas dan merupakan

sunnatullah. Pluralisme agama merupakan kenyataan historis yang tidak dapat

disangkal oleh siapapun. Pluralitas agama dalam Islam itu diterima sebagai

kenyataan sejarah yang sesungguhnya diwarnai oleh adanya pluralitas

kehidupan manusia itu sendiri, baik pluralitas dalam berpikir, berperasaan,

bertempat tinggal maupun dalam bertindak.

          Agama hanya dijadikan pembatas dalam sisi kemanusiaan. Sebagai

dampaknya timbul sikap-sikap ekslusifisme para penganut agama, sikap saling

mencurigai, intoleransi yang berakhir dengan ketegangan sosial, pengrusakan,

pemusnahan jiwa, dan sebagainya.

          Al-Qur’an     dalam    memberikan       pendidikan   kesadaran   terhadap

pluralisme agama terhadap umat manusia diantaranya tampak dari sikap-

sikapnya sebagai berikut :

1. Mengakui eksistensi agama lain

                          ‫ولوشاءاهلل جلعلكم امة واحدة ولكن يضل من يشاء ويهدى‬
                               ) ٩ ٣ :‫من يشاء ولتسئلن عماكنتم تعملون (النحل‬
   Artinya:
   “Dan kalau menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja),
   tetapi Allah menyesatkan siapa yang di kehendaki-Nya dan memberi
   petujuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu
   akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. An-Nahl 16 :
   93)11
          Adapun tafsir An-Nahl ayat 93 menurut Tafsir UII : Allah SWT
   mengemukakan kekuasaan-Nya bahwa sekiranya Dia berkehendak


   11
        Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag, Al-Nahl (16): 93


                                        xviii
   tentulah Dia kuasa mempersatukan manusia ke dalam satu agama sesuai
   dengan tabiat manusia itu.
              Dan diadakannya kemampuan ikhtiar dan pertimbangan terhadap
   apa yang dikerjakan. Dengan demikian lalu manusia itu hidup seperti
   halnya semut/lebah atau hidup seperti malaikat yang diciptakan bagaikan
   robot yang penuh ketaatan kepada sedikitpun tidak akan menyimpang dari
   ketentuan yang benar, atau kesasar ke jalan kesesatan. Akan tetapi Allah
   tidak berkehendak demikian itu dalam menciptakan manusia. Allah
   menciptakan         manusia     dengan       menganugerahkan       kepada      mereka
   kemampuan berikhtiar dan berusaha dengan penuh pertimbangan. Daya
   pertimbangan itu sejak azali diberikan kepada manusia. Pahala dan siksa
   berkaitan erat dengan pilihan dan pertimbangan itu masing-masing mereka
   diminta pertanggung jawaban terhadap segala perbuatan yang dihasilkan
   oleh pertimbangan dan pilihan mereka itu.12
              Muhammad         Quraisy     Shihab     dalam      Wawasan       al-Qur’an
   menyatakan bahwa Allah memberikan kepada manusia untuk memilih
   jalan yang dianggapnya baik, mengemukakan pendapatnya secara jelas
   dan bertanggungjawab. Di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa kebebasan
   berpendapat, termasuk kebebasan memilih agama adalah hak yang
   dianugerahkan Tuhan kepada setiap insan13.
2. Memberinya hak untuk hidup berdampingan saling menghormati pemeluk

   agama lain

   ‫وال تسبوا اللذين يدعون من دون اهلل فيسبوا اهلل بغري علم كذلك زينا لكل امة‬
            )٨٠١ :‫علمهم مث اىل رهبم مرجعكم فينبئهم مباكانوا يعلمون (االنعام‬
                               Artinya:
                                                “Dan janganlah kamu
   memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena
   mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa
   pengetahuan. Demikianlah kami jadikan tiap umat menganggap baik

   12
        Tafsir UII Jilid V, hal. 455
   13
        M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Cet III (Bandung: Mizan, 1996) hal. 380.


                                          xix
         pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka,
         lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka
         kerjakan”.(Q.S. Al-An’am 6:108)14

                    Adapun tafsir Jalalain S. Al An’am ayat 108 : Dan janganlah kamu
         memaki-maki sembahan ‫ وال تسبوا الذين يدعون‬sembahan yang mereka puja

         (yaitu berhala-berhala, ‫ مندون هللا‬selain Allah) yaitu berhala yang mereka

         sembah, ‫( فيسبوا هللا عدوا‬karena mereka akan memaki Allah dengan
         melampaui batas) penuh dengan perasaan permusuhan dan kelaliman
                                                                    ‫( بغير علم‬tanda-tanda
         pengetahuan) karena mereka tidak mengerti tentang Allah ‫كذلك‬
         (Demikianlah) sebagaimana yang telah kami jadikan sebagai perhiasan
         pada diri mereka yaitu amal perbuatan mereka ‫( زينا لكل امة علمهم‬Kami
         jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka) berupa pekerjaan
         yang baik dan pekerjaan yang buruk yang biasa mereka lakukan.                ‫ثم الى‬
         ‫(ربهم مرجعكم‬kemudian kepada Tuhanlah mereka kembali) diakhirat kelak
         ‫( فينئهم بماكانوا يعلمون‬lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang
         dahulu mereka lakukan) kemudian Dia memberikan balasannya kepada
         mereka.15
                    Dalam tafsir Al Maraghi S. Al-An’am menyatakan :
                    Allah melarang kaum mukminin mencela Tuhan-tuhan kaum
         musyrikin sebab kalau mereka dicemooh mungkin mereka akan marah,
         lalu memaki-maki Allah dengan perkataan yang tidak layak bagi-Nya.16
                    Dalam Surat Al-Kafirun :

                                                        )٦ :‫لكم دينكم ويل دين (الكافرون‬
         Artinya:

         “Bagimu agamamu dan bagiku agamamu”(Q.S. Al-Kaafiruun 109 : 6)17


         14
              Q.S. Al-An’am, [6] : 108
         15
              Tafsir Jalalain S. Al An’am : 108, Imam Jalaludin Al Mahally, Imam Jalaluddi As
Suyuti
         16
              Tafsir Al Maraghi, S. Al-An’am ayat 108


                                                xx
         Tafsir S. Al Kafirun ayat 6 dalam tafsir Jalalain : ‫( لكم دينكم‬Untuk

kalian agama kalian) yaitu agama kemusyrikan ‫( ولي دين‬Dan untukkulah
Agamaku) yaitu agama Islam. Ayat ini diturunkan sebelum Nabi SAW
diperintahkan untuk memerangi mereka ya’idhafah yang terdapat pada
lafadz itu tidak disebutkan oleh ahli qiroat Sab’ah baik dalam keadaan
waqof maupun washol. Akan tetapi Imam Ya’qub menyebutkan dalam
kedua kondisi tersebut.18


         Tafsir Al Maraghi S. Al Kaafiruun ayat 6
         Kalian mempunyai balasan atas amal kalian dan akupun menerima
balasan mereka amalanku. Pengertian ayat ini sama dengan :

                                                           ‫لنااعمالنا ولكم اعمالكم‬
                                                           Artinya : Bagi kami
amal kami dan bagi kamu amal kamu
         Amal kamu yang Tuhan kami limpahkanlah sholawatmu kepada
Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi balasan amal hanya dilakukan
olehmu. Semoga sholawatmu dilimpahkan kepada keluarga dan para
sahabat semuanya.19
         Dalam tasfir UII S. Al Kaafiruun ayat 6 :
         Allah mengancam orang-orang kafir dengan firman-Nya. Bagi
kamu balasan atas amal perbuatanmu dan bagiku balasan amal
perbuatanku.20
         Umat Islam oleh Al-Qur’an diharap dapat mengatur langkah
hidupnya dengan mengikuti jalan-jalan Tuhan dan hendaknya dapat
menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Pada dasarnya pilihan
manusia atas jalan hidup yang akan ditempuhnya adalah hak asasi yang
harus dihormati. Tetapi bukan hal itu berarti meniadakan kepedulian umat


17
   Q. S. Al-Kaafiruun, [ 109] : 6
18
   Tafsir Al Maraghi, S. Al Kaafiruun ayat 6
19
   Tafsir Al Maraghi, S. Al Kaafiruun ayat 6
20
   Tafsir UII, S. Al Kaafiruun ayat 6 Jilid II, hal. 828


                                         xxi
   Islam kepada umat beragama lain, apalagi dalam hal-hal yang bersifat
   kemanusiaan.




3. Menghindari kekerasan dan memelihara tempat-tempat beribadah umat

   beragama lain.

   ‫ولوال دفع اهلل الناس بعضهم ببعض هلدمت صومع وبيع وصلوات ومساجديدكرفيهااسم‬
    ‫اهلل كثرياولينصرن اهلل من ينصره اهلل لقوي عزيز‬
    ) ٤ : ‫(احلج‬

   Artinya :

   “… Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan)sebagian manusia
   dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara
   Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-
   masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah”. (Q.S. Al-Hajj [22] :
   40)21

              Keadaan orang yang diizinkan berperang itu orang musyrik.
   Mereka telah melakukan tindakan yang tidak berperikemanusiaan terhadap
   kaum muslimin, mereka disiksa, dianiaya, disakiti dan sebagainya bahkan
   karena suatu kesalahan atau kejahatan yang telah mereka perbuat tetapi
   semata-mata karena mereka telah berkeyakinan bahwa tidak ada Tuhan
   yang berhak disembah selain Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka tidak
   mempercayai lagi kepercayaan nenek moyang mereka. Mereka berserah
   diri kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan mereka telah menjadi orang
   muslim. Juga dialami para Rasul dan umat terdahulu.22
              Dalam tafsir Al Maraghi Al Hajj :
              Ahmad Mustofa Al Marghi menyebutkan Allah menampilkan dua
   golongan yang berselisih, menentukan objek perselisihannya dan



   21
        Q. S. Al-Hajj [22] : 40
   22
        Tafsir UII, S.Al Hajj ; 40 Jilid VI, hal. 429-430


                                             xxii
   menjelaskan kesudahan masing-masing dari dua golongan tersebut, berupa
   kehinaan dan kemuliaan, adzab dan kenikmatan.23
            Ayat tersebut diatas oleh sebagian ulama, seperti Al-Qurthubi
   (W. 671 H), dijadikan sebagai argumentasi keharusan umat Islam
   memelihara tempat-tempat ibadah non muslim. Al-Qur’an tidak akan
   pernah mentolelir perusakan-perusakan rumah ibadah umat beragama lain,
   karena tindakan yang demikian dampaknya akan menimpa umat itu sendiri
   dengan adanya balasan dari pihak lain. Ujung-ujunnya akan menjadi
   sarana balas dendam yang tidak berkesudahan24.
4. Tidak memaksakan kehendak kepada penganut agama lain.

                          )٢٢ ٩ : ‫الاكراه فىالدين قد تبني الرشد من الغي (البقرة‬
   Artinya :

   “Tidak ada paksaan untuk memasuki (masuk) agama (Islam) :
   sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat”.
   (Q.S. Al-Baqarah [2] : 229)25

5. Mengakui tentang banyaknya jalan yang dapat ditempuh manusia dan

   pemerintah berlomba-lomba dalam kebajikan.

                             )٨٤١: ‫ولكل وجهة هو موهلا فاستبقوا اخلريات (البقرة‬
   Artinya :

   “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri)yan ia menghadap
   kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebajikan”.
   (Q.S. Al-Baqarah [2] : 148)26

            Demikian terlihat bahwa besarnya penghargaan dan perhatian Al-
   Qur’an terhadap adanya pluralisme agama. Adapun yang melatarbelakangi
   semua itu adalah adanya semangat untuk menegakkan perdamaian dan
   kerukunan hidup umat manusia.


   23
     Tafsir Al Maraghi, S. Al Hajj : 40 Juz 17
   24
      M. Quraish Shihab, Op. Cit., hal. 380.
   25
      Q.S. Al-Baqarah [2] : 229
   26
      Q.S. Al-Baqarah [2] : 148


                                         xxiii
   ‫يهدى به اهلل من اتبع‬
   ‫رضوانه سبل السالم وخيرجهم من الظلماة اىل النور باذنه ويهديهم اىل صراط‬
                                                   )٨ ٦ : ‫مستقيم (املائداه‬
   Artinya :

   “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
   keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah
   mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang
   terang benderang dengan seizing-Nya, and menunjuki mereka ke jalan
   yang lurus”. (Q.S. Al-Maai’dah [5]: 16)27



                              G. Metode Penelitian
1. Metode Pengumpulan Data

              Metode penelitan ini merupakan penelitian pustaka (library

   research)yang difokuskan pada penelusuran dan penelaahan literature

   serta bahan pustaka lainnya. Ada dua sumber penelitian skripsi ini :

   a. Sumber Data Primer

                  Sumber data primer maksudnya adalah berupa buku-buku yang

          secara khusus membahas tentang pluralisme agama dan pendidikan

          Islam. Sebagai Sumber data utama (primer) yang akan dikaji dalam

          penelitian ini adalah al-Qur’an serta tafsir klasik maupun kontemporer

          berhubung yang akan dibahas adalah mengenai konsep al-Qur’an

          tentang pluralis agama.

                  Kajian yang di pakai adalah model penafsiran tematik (tafsir

          mawdhu’i), yang oleh Abdul Hay Al-Famawy (1997) dalam Al-



   27
        Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag, Al-Maai’dah (5) : 16


                                        xxiv
   Bidayag fi Al-Tafsir Al-Mawdhu’i dikemukakan langkah-langkahnya,

   antara lain:

   1). Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik)

   2). Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.

   3). Menyusun urut-urutan ayat terpilih sesuai dengan perincian

       masalah dan atau masa turunnya, sehingga terpisah antara periode

       Makky dan Madani

   4). Mempelajari/memahami korelasi (munasabat) masing-masing ayat

       dengan surah-surah dimana ayat tersebut tercantum (setiap ayat

       berkaitan dengan tema sentral pada suatu surah)

   5). Melengkapi bahan-bahan dengan hadits-hadits yang berkaitan

       dengan masalah yang dibahas

   6). Menyusun out line pembahasan dalam kerangka yang sempurna

       sesuai dengan hasil studi masa lalu, sehingga tidak diikutkan hal-

       hal yang tidak berkaitan dengan pokok masalah

   7). Memperlajari semua ayat yang terpilih secara keseluruhan dan atau

       mengkompromikan antara yang umum dan khusus, yang mutlak

       dan yang relatif, dan lain-lain sehingga kesemuanya bertemu dalam

       muara tanpa perbedaan atau pemaksaan dalam penafsiran

   8). Menyusun kesimpulan penelitian yang dianggap sebagai jawaban

       Al Qur’an terhadap masalah-masalah yang dibahas

b. Sumber Data Sekunder




                              xxv
              Data sekunder adalah referensi atau buku-buku yang dapat

       mendukung permasalahan pokok yang dibahas. Buku-buku tersebut

       antara lain: (1) Masyarakat Religius, Nurchois Madjid,    (2) Islam

       Agama Kemanusiaan, Nurcholis Madjid, (3) Studi Agama, M. Amin

       Abdullah, (4) Humanisme dalam Islam, Marcel A. Boisard,          (5)

       Pengalaman dan Motivasi Beragama, Nico Syukur Dister Ofm, (6)

       Semua Manusia Bersaudara, Mahatma Ghandhi, (7) Akar Kekerasan,

       Eric Form, (8) The Tao of Islam, Sachiko Murata, (9) Membongkar

       Mitos Masyarakat Madani, Editor: Widodo Usman dkk, (10) Agama

       dan Masyarakat, Elizabeth K. Nottingham, (11) Pengantar Psikologi

       Agama, Robert H. Tuless, (12) Islam Arab dan Yahudi Zionisme,

       Muhammad Alghazali, (13) Islam Kemarin dan Hari Esok, M Arkoun

       dan Louis Gardet, (14) Pencarian Manusia dan Allah, Internasional

       dan Bible Students Association Brocklyn, (15) Filsafat Islam Tentang

       Kebudayaan, Musa Asy’ari, (16) Realitas Sosial, K.J. Veeger, (17)

       Sejarah Daulat Khulafaurrasyidin, Joesoef Sou’yb, (18) Islam

       Esoteris, Anand Krishna, (19) Al-Milal wa Al-Nihlal, Muhammad

       Abdul Karim As-Syahrastani, (20) Farju Al-Islam, Ahmad Amin.




2. Tipe Penelitian




                                 xxvi
                Penelitian ini termasuk tipe penelitian analisis kritis yaitu

        penelitian yang mengkaji gagasan primer mengenai “suatu ruang lingkup

        permasalahan yang dipercaya oleh gagasan sekunder yang relevan.

    3. Tehnik Pengumpulan Data

                Karena penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, maka

        tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menelusuri dan

        merecover buku-buku atau tulisan lain yang menjadi rujukan utama serta

        buku-buku dan tulisan lain yang mendukung pendalaman dan ketajaman

        analisis.

    4. Tehnik dan Model Analisis

                Sebagai peneliti kualitatif, pada tahap analisis setidak-tidaknya ada

        tiga tahap yang dilalui dalam penelitian ini, yaitu: reduksi data (data

        reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan

        (conclusion drawing)28.

                Tiga komponen tersebut berproses secara siklus. Model yang

        demikian terkenal dengan sebutan model analisis interaktif (Interaktive

        Model of Analysis).

                Juga menggunakan metode induktif dan deduktif. Metode induktif

        yaitu berpola pikir kesimpulan dari khusus ke umum. Sedang metode

        deduktif yaitu berpola pikir dari umum ke khusus.



                Sedangkan ayat yang dipergunakan adalah :

        28
            Imam Syafi’ie, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an, (Yogygakarta: UII: Press,
2000), hal. 21.


                                           xxvii
      1. S. An Nahl ayat 93 tentang mengakui eksistensi agama lain

      2. S. Al-An’am ayat 108 tentang memberinya hak untuk hidup

           berdampingan sambil menghormati pemeluk agama lain

      3. S. Al Hajj ayat 4, tentang menghindari kekerasan dan memelihara

           tempat-tempat beribadah umat beragama lain

      4. S. Al Baqarah ayat 229, tentang tidak memaksakan kehendak kepada

           penganut agama lain

      5. S. Al Baqarah ayat 148, tentang mengakui banyaknya jalan yang dapat

           ditempuh manusia dan pemerintah berlomba-lomba dalam kebajikan

      6. S. Huud ayat 18-19, tentang Islam mengakui umat manusia diatas

           dunia ini tidak mungkin semuanya bersepakat dalam segala hal,

           termasuk hal-hal yang menyangkut keyakinan agama.



H. Sistematika Pembahasan
                                                           Untuk          lebih
                                                  mudahnya dalam pembahasan
                                                  skripsi ini maka diperlukan
                                                  adanya             penyusunan
                                                  sistematika        pembahasan
                                                  sebagai berikut:
   Bab I    Pendahuluan
            Dalam pendahuluan dikemukakan tentang latar belakang masalah,

            rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, landasan

            teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.




                                    xxviii
Bab II Tinjauan Historis Obyektif Pluralisme Agama
        Dalam bab ini akan dibahas tentang pengertian pluralisme agama,

        sejarah perkembangan hubungan antar agama, fenomena pluralisme

        agama dewasa ini.

Bab III Pluralisme Agama Dalam Perspektif Al Qur’an
        Dalam bab ini akan dibahas tentang pandangan Al-Qur’an tentang

        pluralisme agama, sikap al-Qur’an terhadap pluralisme agama, dan

        konsep jihad dan relevansinya dengan pluralisme agama.

Bab IV Urgensi Implementasi Perspektif Al-Qur’an Tentang Pluralisme
        Agama Dalam Pendidikan Islam
        Dalam babini akan dibahas tentang hakikat pendidikan Islam, upaya

        penanaman kesadaran pluralisme agama dalam pendidikan Islam,

        pendidikan menuju prospek masa depan pluralisme agama dan peran

        pemimpin agama bagi terciptanya kesadaran pluralisme agama.

               Bab V    Kesimpulan, Saran dan Penutup
        Skripsi ini diakhiri dengan kesimpulan, saran, penutup. Kemudian

        dilanjutkan dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.




                                 xxix
                           DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, M Amin, Studi Agama: Normatifitas atau Historisitas, Yogyakarta:
           Pustaka Pelajar, 1996.

Asy’arie, Musa, Filsafat Islam tentang Kebudayaan, Cet I, Yogyakarta LESFI,
            1999.

Andito, Atas Nama Agama, Cet.I, Bandung: Pustaka Hidayah, 1998.

Krisna, Anand, Islam Esoteris: Kemuliaan dan Keindahannya, Jakarta:
           Gramedia, 2000.

Syihab, M. Quraisy, Membumikan Al-Qur’an, Cet. XI, Bandung: Mizan, 1995.

                    , Wawasan Al-Qur’an, Cet. III, Bandung: Mizan, 1996.

Syafi’ie, Imam, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an, Yoyakarta: UII
             Press, 2000.




                                   xxx
                       KONSEP AL-QUR’AN

            TENTANG PLURALISME AGAMA DAN

    IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM




                              Proposal Skripsi
                               Disusun oleh :

                                   Nama  : Asni Rikhaniyah
                                     NIM     : 97473684
                      Jurusan : Kependidikan Islam

                      Semester : 14 (Empat Belas)



                    FAKULTAS TARBIYAH BAB II

      TINJAUAN HISTORIS OBYEKTIF PLURALISME AGAMA



Pengertian Pluralisme Agama

         Pada saat ini sebagaimana dikatakan oleh Alwi Shihab dalam Islam

   Inklusif, bahwa umat beragama dihadapkan kepada serangkaian tantangan


                                    xxxi
   baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya.

   Pleuralisme agama, konflik intern atau antar agama adalah fenomena nyata.29

            Pluralisme agama adalah hal ini, harus benar-benar dapat dimaknai

   sesuai dengan akar kata serta makna sebenarnya. Hal itu merupakan upaya

   penyatuan persepsi untuk menyamakan pokok bahasan sehingga tidak akan

   terjadi “misinterpretation” maupun “misunderstanding”.

            Pertama, bertolak dari akar kata yang pertama yaitu pluralisme. Kata

   pluralisme berasal dari bahasa Inggris yang berakar dari kata “plural” yang

   berarti banyak atau majemuk. Atau meminjam definisi Martin H. Manser

   dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary: “Plural (form of a word) used of

   referring to more than one”.30 Kata “plural” mempunyai akar kata sifat yaitu

   “Plurality” yang menurut The Advanced Learner’s Dictionary of Current

   English (second edition 1963, Oxford University Press, London) berarti “state

   of being plural”. Sedangkan makna dari pluralism itu sendiri masih menurut

   Kamus The Advanced berarti: “The holding of more than one office, especially

   in the church, at one time”. Sedangkan dalam Kamus Ilmiah Populer,

   pluralisme berarti: “Teori yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari

   banyak substansi”.

            Akar kata yang kedua adalah agama, yang berasal dari kata “ugama”

   dalam bahasa Sansekerta yang berarti aturan-aturan. Dalam al-Qur’an, agama

   biasa dilambangkan dengan kata “diin”. M. Quraish Shihab, dalam

   Membumikan Al-qur’an mengatakan bahwa, agama adalah satu kata yang

   sangat mudah diucapkan dan mudah untuk memberikan penjelasan

   maksudnya (khususnya bagi orang awam), tetapi sangat sulit memberikan

       29
         Alwi Shihab, Islam Inklusif, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 39
       30
         Marsen, Martin H, Oxford Leaner’s Pokcet Dictionary, (Oxford University, 1999),
Second Edition


                                         xxxii
       batasan (definisi) yang tepat lebih-lebih bagi para pakar. Mengapa? Hal itu,

       masih menurut Quraish Shihab adalah disebabkan antara lain karena dalam

       menjelaskan    sesuatu    secara    ilmiah    (dalam     arti   mendefinisikannya),

       mengharuskan adanya rumusan yang mampu menghimpun semua unsur yang

       didefinisikan dan sekaligus mengeluarkan segala yang tidak termasuk

       unsurnya. Adapun kemudahan yang dialami orang awam disebabkan oleh cara

       mereka dalam merasakan agama dan perasaan itulah yang mereka lukiskan.31

               Lebih lanjut, dalam Wawasan Al-Qur’an, M. Quraish Shihab

       berpendapat bahwa tidak mudah mendefinisikan agama, apalagi di dunia ini

       kita menemukan kenyataan bahwa agama amat beragam. Pandangan

       seseorang terhadap agama, ditentukan oleh pemahamannya terhadap ajaran

       agama itu sendiri.32 Dalam Membumikan Al-Qur’an dijelaskan pengertian

       agama, sebagai hubungan antara makhluk dan khaliqnya yang mewujud dalam

       sikap batinnya serta tampak dalam ibadah yang dilakukannya dan tercermin

       dalam sikap kesehariannya.33

               Menurut seorang Guru Besar di Al-Azhar, Syaikh Muhammad

       Abdullah Badran dalam Al-Madkhal ila Al-Adyan seperti dikutip dari

       Membumikan Al-Qur’an bahwa yang dikatakan agama itu merupakan

       hubungan antara dua pihak dimana yang pertama mempunyai kedudukan lebih

       tinggi dari pada yang kedua.34 Artinya agama adalah sarana penghambaan

       seorang hamba (‘abid) yang oleh al-Qur’an dinyatakan bahwa memang tugas

       manusia ialah beribadah, sedangkan Tuhan mempunyai otoritas untuk

       membalas ibadah yang telah dilakukan oleh hamba-Nya tersebut.

          31
           Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. XI, 1995) hal.
209.
          32
            Shihab, M. Quraish, Wawasan Al Qur’an, (Bandung, Mizan), hal. 375
          33
            Ibid., hal. 210.
          34
            Ibid., hal. 209.


                                            xxxiii
             Dalam An Introduction to The Psychology of Religion, Robert

    Thouless (1971) mendefinisikan agama sebagai suatu sikap terhadap dunia,

    sikap mana menunjuk kepada suatu lingkungan yang lebih luas dari pada

    lingkungan dunia ini yang bersifat ruang dan waktu, lingkungan yang lebih

    luas itu adalah dunia rohani.35 Jika Thouless menekankan agama sebagai

    sikap, maka William James berpendapat lebih luas dari itu. Seperti yang

    dikutip dari The Varieties of Religious Experience (1937) oleh Elizabeth K.

    Nottingham dalam Agama dan Masyarakat, James menyatakan bahwa yang

    dimaksud dengan agama adalah: Perasaan-perasaan, tindakan-tindakan, dan

    pengalaman individu dalam kesendirian mereka … [dan] dalam hubungan

    dengan apa saja yang mereka anggap Tuhan.36

             Sementara itu seorang ulama Mesir pengarang kitab Al-Fatawa,

    Syaikh Mahmud Syaltut mendefinisikan agama sebagai ketetapan-ketetapan

    ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup

    manusia. Sedangkan seorang ahli bahasa di Oxford University, Martin H.

    Manser mendefinisikan agama (religion) sebagai: “Belief in and worship of

    God or gods, particular system of faith and worship based on such belief”.37

             Dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat diambil

    pengertian yang mendasar tentang pluralisme agama sebagai bentuk

    kemajemukan, keragaman dalam beragama, dan itu merupakan sebuah realita

    yang harus diterima. Seseorang baru dapat dikatakan menyandang sifat

    tersebut apabila ia dapat berinteraksi positif dalam lingkungan kemajemukan

    tersebut. Dengan kata lain, pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap
        35
            Thouless, Robert H., Pengantar Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet.
II, 1985), hal. 17.
         36
            Nottingham, Elizabeth K., Agama dan Masyarakat: Suatu Pemngantar Sosiologi
Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. VI, 1996), hal. 2.
         37
            Martin H. Manser, Oxford Learner’s Pocket Dictionary, (Oxford University, Second
Edition, 1991) hal. 349


                                             xxxiv
  pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain,

  tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna

  tercapainya kerukunan, dalam klebhinekaan.38



Sejarah Perkembangan Hubungan Antar Agama

          Beda pendapat merupakan ketentuan alam (order of nature) atau

  dalam bahasa al-Qur’an, “sunatullah”. Perbedaan pandangan, keyakinan, dan

  agama, merupakan fenomena alamiah. Barang siapa mengingkari adanya

  perbedaan berarti mengingkari sunatullah, ketentuan-ketentuan yang telah

  Allah tetapkan.

          Perbedaan yang ada, di satu sisi akan menjadi suatu hal yang

  menguntungkan bagi manusia. Dengan adanya perbedaan seseorang dapat

  merasakan berfariasinya hidup ini. Kekurangan yang dimiliki seseorang ada

  pada kelebihan yang dimiliki orang lain demikian pula sebaliknya. Tanpa

  adanya perbedaan tidak akan mungkin ada kemajuan. Namun di sisi lain tidak

  dapat dipungkiri bahwa perbedaan tersebut kadang meruncing sampai ke titik

  perseteruan. Untuk mempertahankan posisi masing-masing, tidak jarang

  agama atau interpretasi teks-teks keagamaan dijadikan sarana legitimasi.

          Agama sebagai pedoman keselamatan hidup dipahami secara sempit

  sehingga tidak heran ada asumsi tentang bolehnya berbuat kekerasan dan

  permusuhan dengan umat dari agama lain karena itu merupakan perbuatan

  suci. Di sinilah paling tidak akan tampak betapa perluanya mengetahui



     38
       Shihab, Alwi, Islam Inklusif, hal. 41


                                           xxxv
   perbedaan sekaligus persamaan yang ada pada agama lain untuk kemudian

   menjadikannya sebagai pengetahuan yang sangat berguna.

   1. Asal Mula Agama

               Dalam Watch Tower Bible And Tract Society of Pennsylvana

       disinggung bahwa:

               “Sejarah agama itu pada hakikatnya sudah setua sejarah itu sendiri.
               Demikianlah yang dikatakan oleh para arkeolog dan antropolog
               kepada kita. Bahkan dalam peradaban yang paling “primitif”, yaitu
               yang tidak berkembang, ditemukan bukti peribadatan dalam bentuk
               tertentu. Sebenarnya The New Encyclopedia Britannica
               mengatakan bahwa, “sejauh yang telah ditemukan para sarjana,
               tidak pernah ada orang, dimanapun, kapanpun, yang sama sekali
               tidak religius.”39

               Pertanyaan-pertanyaan timbul dalam pikiran. Dari mana semua

       agama muncul? Karena ada perbedaan maupun persamaan yang mencolok,

       apakah agama-agama ini mulai secara terpisah, atau berkembang dari satu

       sumber. Atau dapat juga bertanya: Mengapa agama ada? dan bagaimana ia

       bisa muncul? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini benar-benar penting

       bagi semua orang yang berminat mengetahui kebenaran mengenai agama.

               Untuk apa ada agama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut

       rasanya tidak terlalu sulit, kalau agama dipahami sebagai pedoman hidup

       bagi manusia. Artinya, manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi

       dengan sesamanya memang membutuhkan aturan yang dapat mengatur

       hidup mereka. Aturan itu kesepakatan             yang harus ditaati seluruh

       komponen masyarakat tidak ada kecuali, dan harus dipatuhi semua pihak.



       39
          Watch Tower and Tract Society of New York, Pencarian Manusia Akan Allah, (New
York: International Bible Students Association, 1991), hal. 19.


                                        xxxvi
       Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian, karena ada

       sekian banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhinya sendiri.

              M. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an menganalogkan

       hidup manusia sebagai lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan

       selamat sekaligus cepat sampai tujuan. Namun karena kepentingan mereka

       berlain-lainan, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan,

       pasti akan terjadi benturan dan tabrakan.40

              Dengan demikian manusia membutuhkan peraturan demi lancarnya

       lalu lintas kehidupannya. Manusia membutuhkan rambu-rambu lalu lintas

       yangakan memberinya petunjuk seperti kapan harus berhenti (lampu

       merah), kapan hati-hati (lampu kuning), dan lampu hijau (silakan jalan),

       dan sebaginya. Siapa yang mengatur lalu lintas kehidupan itu?

       Manusiakah? Paling tidak dalam pengaturan di atas, manusia mempunyai

       dua kelemaham: pertama keterbatasan pengetahuannya dan kedua sifat

       egoisme (ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri). Kalau demikian

       yang seharusnya mengatur lalu lintas kehidupan adalah Dia yang paling

       mengetahui sekaligus yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun.

       Yang dimaksud adalah Allah, Tuhan Yang Maha Tahu.

              Allah, yang menetapkan peraturan-peraturan tersebut, baik secara

       umum, berupa nilai-nilai, maupun secara rinci khususnya bila perincian

       petunjuk itu tidak dapat dijangkau oleh penalaran manusia. Peraturan-

       peraturan itulah yang kemudian dinamakan agama.

       40
        Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. XI, 1995) hal.
211.


                                      xxxvii
         Mengapa harus beragama? William James seperti dikutip M.

Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1996) menyatakan:

“Selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap, selama itu

pula ia beragama” (berhubungan dengan Tuhan). Itulah sebabnya mengapa

perasaan takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk

beragama. Jadi dorongan yang ada dalam diri manusia itu tidak lain karena

adanya perasaan membutuhkan suatu hal di luar dirinya yang dipercayai

dan diyakini sebagai sesuatu yang Maha.41

         Jika menyangkut asal-usul agama, nama-nama seperti Muhammad,

Yesus, Budha, dan Kong Hu Chu timbul dalam pikiran orang-orang dari

berbagai agama. Dalam hampir setiap agama, didapati seorang tokoh

utama yang diakui sebagai pendiri “iman yang benar”. Beberapa

diantaranya pembaharu yang menentang penyembahan berhala. Yang

lainnya filsuf moral. Yang lain lagi pahlawan-pahlawan rakyat yang tidak

mementingkan diri sendiri. Banyak dari mereka yang meninggalkan karya

tulis maupun ucapan-ucapan yang menjadi dasar suatu agama. Bahkan

dalam buku Pencarian Manusia Akan Allah dinyatakan bahwa lambat lain

apa yang mereka katakan dan lakukan dikembangkan, dibumbui, dan

diberi kesan mistik. Beberapa dari para pemimpin ini bahkan dipuja.

         Walaupun pribadi-pribadi ini dianggap pendiri agama-agama

besar, perlu diperhatikan bahwa mereka bukanlah pencipta dari agama.

Lebih lanjut dinyatakan dalam Pencarian Manusia Akan Allah bahwa

dalam kebanyakan kasus, ajaran mereka berkembang dari gagasan-
41
 Ibid.


                             xxxviii
       gagasan agama yang sudah ada, meskipun kebanyakan pendiri mengaku

       mendapat “ilham ilahi” sebagai sumber mereka. Atau mereka mengganti

       dan mengubah sistem agama yang sudah ada yang dalam satu atau lain

       cara tidak memuaskan lagi. 42

               Agama, sebagai pedoman hidup manusia untuk mencapai

       keselamatan dan kediaman, menurut al-Qur’an sudah ada sejak manusia

       pertama Adam as. Walaupun sistem ataupun ajaran agama yang ada masih

       sangat sederhana. Karena pada dasarnya risalah agama selalu mengalami

       perkembangan sampai risalah terakhir, Islam. Dikatakan dalam al-Qur’an,

       surat al-Maidah ayat 5:

       ‫اليوم اكملت لكم دينكم وامتمت عليكم نعمىت ورضيت لكم‬
       )5 :‫االسالم دينا (املائدة‬
       Artinya:

“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan
                       kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam jadi agama
                       bagimu”. 43

               Agama sudah ada sejak Nabi Adam adalah berdasarkan ayat al-

       Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 37:


                             )73 :‫فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه (البقرة‬
       Artinya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah
                menerima taubatnya”. 44


       42
           Watch Tower and Tract Society of New York, Pencarian Manusia Akan Allah, (New
York: International Bible Students Association, 1990) hal. 20
         43
            Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag, Al Maidah (5), hal. 158.
         44
            Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, Al Baqarah (2) : 37, hal. 15.


                                        xxxix
                  Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang diterima

       oleh Adam sebagai ahli tafsir mengartikan dengan kata-kata bertaubat

       Artinya bahwa Adam telah menerima pedoman hidup berupa kalimat

       taubat, jadi agama sudah ada saat itu karena adanya hubungan dari Khaliq

       dengan makhluk-Nya. Ayat di atas diperkuat oleh ayat berikutnya:


       ‫قلنا اهبطوا منها مجيعا فإما يأتينكم مىن هدى فمن تبع هداي‬
       )73 :‫فمن تبع هداي فال خوف عليهم وال هم حيزنون (البقرة‬
Artinya:
       “Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika
       datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti
       petunjuk-Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula)
       mereka bersedih hati”. 45

                  Apa yang diperlihatkan oleh begitu banyak ragam pengabdian
       agama? Yaitu bahwa selama ribuan tahun manusia mempunyai kebutuhan
       dan kerinduan akan hal-hal rohani. Manusia hidup dengan pencobaan dan
       kesulitannya, keraguan dan pertanyaan-pertanyaannya, termasuk teka-teki
       mengenai kematian. Perasaan religius diungkapkan dalam banyak cara
       sewaktu orang berpaling kepada Allah atau Tuhan-Tuhan mereka,
       memohonkan berkat dan penghiburan.


   2. Persinggungan Antar Agama

                  Interaksi antar agama berbeda telah terjadi sejak beberapa abad

       yang telah lalu. Dan selama berabad-abad sejarah interaksi antar umat

       beragama lebih banyak diwarnai oleh kecurigaan dan permusuhan dengan

       dalil demi mencapai ridha Tuhan dan demi menyebarkan kabar gembira

       yang bersumber dari Yang Maha Kuasa.

       45
            Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, Al-Baqarah, (2) : 38, hal. 15


                                               xl
           Kalau ditelusuri, sebenarnya agama-agama yang ada saat ini adalah

berasal dari induk yang sama yaitu agama tauhid. Hal tersebut berdasarkan

kenyataan historis, bahwa Ibrahim (Abraham) menurut keimanan Yahudi,

Nasrani, dan Islam diakui sebagai bapak agama. Ketiga agama samawi

tersebut akarnya adalah dari Nabi Ibrahim as.

           Kesamaan tersebut dapat dilihat dari sebagian cara ibadah mereka

yang menurut tuntunan aslinya mengenal istilah sujud bagi yang

dipujanya. Islam, Kristen, Budha, Yahudi, Nasrani mengenal itu sebagai

rangkaian ibadah mereka. Dalam Pencarian Manusia Akan Allah

dinyatakan bahwa, dari luar, banyak agama yang dewasa ini tampaknya

sangat berbeda satu sama lain. Namun jika, jika kita menanggalkan hal-hal

yang hanya merupakan bumbu-bumbu dan yang ditambahkan dikemudian

hari, atau jika kita menyingkirkan perbedaan-perbedaan akibat pengaruh

iklim, bahasa keadaan tertentu dari negeri asalnya, dan faktor-faktor lain,

sungguh menakjubkan betapa serupanya kebanyakan dari agama-agama

tersebut.46 Memang banyak persamaan diantara agama tersebut disamping

perbedaan yang sangat menonjol, terutama masalah keimanan yang

akhirnya mengalami perkembangan sesuai pengalaman batinnya masing-

masing.

           Adanya persamaan-persamaan tersebut ternyata tidak cukup

membuat mereka untuk tidak bersitegang antara yang satu dengan yang

lainnya. Dapat dilihat tentang bagaimana sikap permusuhan orang Yahudi


46
     Watch Tower and Tract Society of New York, Op. Cit., hal. 32


                                        xli
terhadap Nasrani yang begitu banyak menelan korban. Yesus (Isa al-

Masih) dikejar-kejar dan akan dibunuh karena sebagai utusan Tuhan dia

ternyata bukan berasal dari Yahudi (kebencian serupa juga terjadi pada diri

nabi Muhammad Saw).

        Dalam surat al-Baqarah ayat 87 diceritakan tentang kebencian

mereka terhadap para utusan Allah dari kalangan Nasrani, yaitu:


‫ولقد آتينا موسى الكتاب وقفينا من بعده بالرسل وآتينا عيسى‬
‫ابن مرمي البينات وأيدناه بروح القدس افكلما جاءكم رسول مبا‬
:‫ال هتوى انفسكم استكربمت ففريقا كذبتم وفريقا تقتلون (البقرة‬
)33
Artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada
Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan
rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat)
kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-
Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu
(pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh;
maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa
orang (yang lain) kamu bunuh?” 47

        Petentangan antara Yahudi dan Nasrani tergambar dalam al-Qur’an

surat al-Baqarah ayat 113:


‫وقالت اليهود ليست النصرى على شيء وقالت النصرى ليست اليهود‬
‫على شيء وهم يتلون الكتاب كذلك قال اللذين ال يعلمون مثل قوهلم‬
    )117 :‫فاهلل حيكم بينهم يوم القيامة فيما كانوا فيه خيتلفون (البقرة‬
Artinya:


47
 Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, Al Baqarah (2) : 87, hal. 24


                                    xlii
“Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak
mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-
orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,”padahal mereka
(sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak
mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan
mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang
mereka perselisihkan.” 48

           Di dalam surat ar-Ruum ayat 2-5 diceritakan hubungan emosional

antara umat Islam Makkah dengan Umat Nasrani Romawi pernah terjadi,

saat tentara Romawi dikalahkan oleh tentara Persia (Majusi), umat Islam

merasa sedih dan terpukul. Namun tatkala tentara Romawi dapat

memenangkan peperangan, umat Islam Makkah merasa senang. Mengapa

demikian? Hal itu karena adanya ikatan emosional sebagai sesama

penganut agama Tauhid.

           Asal-usul Agama Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah satu. Agama

Yahudi dan Kristen adalah dari Nabi Ibrahim as. dan Sarah yang

menurunkan garis keturunan Nabi Ishaq as. sampai pada Nabi Isa as.

Sedangkan Siti Hajar melahirkan garis keturunan Nabi Ismail as. sampai

pada Nabi Muhammad Saw. Sebagai pembawa ajaran dan tradisi agama

Islam.49

           Namun hubungan umat Islam dan Kristen menjadi rusak dengan

meletusnya perang salib. Perang yang menghabiskan kerugian materi yang

tidak sedikit. perang yang membuat dendam kuat mengakar dihati sanubari

generasi kedua agama besar tersebut. Meski sebenarnya banyak orang

tidak mengetahui siapa yang memulai peperangan itu, mengapa berperang,




48
     Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, Al Baqarah (2) : 113, hal. 30
49
     John L. Esposito, Bahaya Hijau!, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997, Cet. I) hal. 62


                                        xliii
      atau bagimana peperangan itu dimenangkan.50 Warisan perang salib ini

      tergantung pada tempat seseorang berpijak dalam sejarah. Kaum Kristen

      dan Muslim bersaing dalam visi dan kepentingan, serta masing-masing

      senantiasa ingat pada komitmennya terhadap agama dan kisah-kisah

      kepahlawanan para nabi terdahulu melawan kaum “kafir”.

                  Itu merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri bahwa

      ternyata hubungan antar agama lebih banyak diwarnai konflik. Konflik

      anta agama merupakan konflik yang sangat rumit dan sulit mengatasinya

      tanpa dilandasi kesadaran mencari titik temu kreatif bagi pencipta sebuah

      kedamaian yang hakiki.



Fenomena Pluralisme Keagamaan Dewasa Ini

             “Perang-perang agama cenderung lebih ganas. Jika orang
             memperebutkan suatu daerah untuk kepentingan ekonomi, mereka
             mencapai suatu titik di mana pertempuran dianggap merugikan
             dibanding biayanya dan kemudian berkompromi. Jika penyebabnya
             adalah agama, kompromi dan perdamaian dianggap suatu
             kejahatan.” (Roger Shinn, profesor etika sosial, Union Theological
             Semanary, New York)
             Jika mempertimbangkan fenomena pluralisme agama, maka akan

   didapati fakta-fakta yang menyedihkan. Di Bosnia, umat-umat Ortodoks,

   Katolik, dan Islam saling membunuh. Di Irlandia Utara, umat Katolik dan

   umat Protestan saling bermusuhan. Di Timur Tengah, ketiga cucu Nabi

   Ibrahim, umat Yahudi, Kristen, dan Islam saling menggunakan bahasa

   kekerasan dalam berkomunikasi dan berinteraksi di antara sesama mereka. Di

   Sudan, senjata adalah alat komunikasi antar umat beragama Islam dan Kristen.

   Di Kashmir, pengikut agama Hindu dan umat Muhammad saling bersitegang.


      50
           Ibid., hal. 62.


                                        xliv
    Di Sri Lanka, kaum Budha dan kelompok Hindu bercakar-cakaran. Di

    Armenia-Azerbaijan, umat Kristen dan Islam saling berlomba untuk berkuasa

    dengan cara destruktif. Atau yang tampak langsung dihadapan kita saat ini

    adalah peperangan yang terjadi antara orang-orang sebangsa, bersaudara

    namun beda agama; Kristen dan Islam di ambon, Maluku Utara, saling

    berperang yang hingga saat ini belum ada titik terang menuju perdamaian.

             Apakah manusia beragama untuk berkonflik? Pertanyaan ini selalu

    muncul setiap kali terjadi peretentangan, kekerasan, dan kerusuhan sosial yang

    melibatkan komunitas agama. Ada nuansa kegetiran dalam pertanyaan itu,

    karena seringnya agama tampil dalam wajah yang paradoks. Jonathan Swift

    (1667-1745) menyatakan bahwa:

             “Kita mempunyai cukup banyak agama untuk membuat kita

    membenci, tetapi tidak cukup untuk membuat kita saling mengasihi”51

             Agama sebagai tempat mencari ketenangan dan motivasi, sepertinya

    hanya menjadi semacam lembaga-lembaga militer tidak resmi yang setiap saat

    siap melakukan penekanan (pressure) pada yang lainnya. Wajah agama

    sebagai penganjur kedamaian menjadi semakin kabar oleh ketidakpahaman

    manusia untuk hidup secara damai, bersanding dengan saudara yang lain.

    Untuk itu Klause Meine52, salah seorang pentolan group musik terkenal asal

    Jerman-Scorpions, dalam salah satu syair lagunya mengatakan:




        51
            Watch Tower and Tract Society of New York, Pencarian Manusia Akan Allah, (New
York: Internasional) Bible Students Assosiation, 1991), hal. 14
         52
           Arifin, Syamsul, Merambah Jalan Baru dalam Beragama, (Yogyakarta: ITTIBA Pers
dan UMM, Cet. I, 2000)


                                          xlv
“Do you ever ask your self there is heaven in the sky. Why can’t we get it right. Cause we all
                     live under the some sun we all walk under the some moon. Then why,
                     why can’t we live as one” (Gold Albums)

                      Agama sebagai sarana pendekatan diri kepada Tuhan dan alam

               semesta, seringkali tampil dalam suatu komunitas yang menyeramkan dan

               menakutkan terhadap komunitas agama lain. Seperti yang terjadi di Ambon

               maupun Maluku Utara saat ini, setelah terjadinya serangkaian kekerasan dan

               peperangan, situasi psikologis dan sosiologis keagamaan masyarakat mulai

               diliputi perasaan saling curiga, tidak nyaman, dan tidak aman. Alhasil, situasi

               konflik kini paling tidak mulai menyelimuti pada sebagian besar pemeluk

               agama. Dan yang lebih menarik lagi seperti yang diungkapkan Syamsul Arifin

               dalam Merambah Jalan Baru Dalam Beragama, bahwa karena wilayah

               konflik itu berada dalam ranah agama, yang selalu dipandang sebagai

               “problem of ultimate concern”, suatu problem yang berhubungan dengan

               kepentingan mutlak, maka biasanya konflik akan melahirkan trauma yang

               cukup mendalam, dan karena itu akan membentuk jaringan konflik.

                      Berbicara tentang timbulnya pertentangan dan perseteruan antar agama

               yang berbeda, paling tidak bisa disebabkan oleh beberapa sebab yang begitu

               pelik, yang antara satu dan yang lainnya saling berkaitan. Sebab-sebab itu

               sebagian berasal dari umat itu sendiri (faktor intern), dan ada yang berasal dari

               luar lingkungannya (faktor ekstern)

               1. Eksklusifisme

                          Dalam sejarah, telah lama berkembang doktrin mengenai

                  eksklusivitas agama sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar,



                                                     xlvi
agama lain sesat dan menyesatkan. Pandangan semacam ini masih sangat

kental, bahkan sampai saat sekarang ini, seperti termuat dalam tidak hanya

dalam buku-buku polemis, tetapi juga buku ilmiah.

       Rumusan dari Ajith Fernando, teolog kontemporer, misalnya,

(Republika, 24 Juni 2000 dalam Opini) masih menarik untuk

diungkapkan. Katanya, “Other religions are false paths, that mislead their

followers” (Agama lain adalah jalan yang sesat, dan menyesatkan

pengikutnya). Ungkapan tersebut memang sangat keras dan langsung

tergambar segi keeksklusivitasnya. Dan ia menganggap bahwa kitab suci

membenarkan hal tersebut.

       Pandangan eksklusif seperti itu menurut Budhy Munawar Rachman

seorang staf pengajar Universitas Paramadina (2000), memang bisa

dilegitimasikan, atau tepatnya dicarikan legitimasinya lewat kitab suci.

Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan. Sebagai contoh dalam tradisi

katolik, sejak konsili Vatikan ii (1965), sudah jelaslah bahwa pandangan

menjadi sangat terbuka ke arah adanya kebenaran dan keselamatan dalam

agama-agama non-kristiani.

       Dalam Theological Investigations seperti dikutip Budhy Munawar

Rahman (2000) bahwa Karl Rahner, teolog besar yang menafsirkan

Konsili Vatikan II, merumuskan teologi inklusifisnya yang begitu terbuka,

dengan mengatakan, “Other religions are emplicit form of our own

religion” (Agama lain adalah bentuk-bentuk implisit dari agama kita).

Dalam pemikiran Islam, masalah ini juga terjadi secara ekspresif.



                               xlvii
             Walaupun dalam Islam sejak awal sudah ada konsep “ahl al-kitab” yang

             memberi kedudukan kurang lebih setara pada kelompok non-Muslim, dan

             ini dibenarkan oleh al-qur’an sendiri, tetapi selalu saja ada “interpretation

             away”, yaitu suatu cara penafsiran yang pada akhirnya menafsirkan

             sesuatu tidak sesuai lagi dengan bunyi tekstual Kitab Suci, sehingga ayat

             yang inklusif misalnya malah dibaca secara eksklusif.

                    Dari sinilah paling tidak bisa diberikan pemahaman kepada umat

             tentang perlunya memahami arti pluralisme agama yang didalamnya juga

             menyadari adanya pluralisme teolog. Secara teologis, umat manusia

             dijadikan Allah dalam satu kesatuan dan kemudian berbeda-beda.

                    Dalam kesadaran “millah Ibrahim” (Abrahamic religions)

             sesungguhnya cermin adanya kesatuan “ummatiyah” yang didasarkan

             kepatuhan kepada Allah. Namun dengan adanya sikap eksklusif, yang

             cenderung menutup diri dari kenyataan yang ada, jelas sangat merugikan

             dan merupakan salah satu penyebab adanya konflik yang terjadi.

             Pemimpin sufi seperti Jalaluddin Rumi, misalnya melukiskan pandangan

             pluralismenya dengan menggunakan gambaran sebagai berikut:

“Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak tahu
                   bahwa ada banyakjalan menuju ka’bah? … oleh karena itu apabila
                   yang anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka
                   ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang
                   anda pertimbangkan adalah tujuannya, maka semuanya terarah
                   hanya pada satu tujuan.”

                    Terdapat sebuah ayat dalam al-Qur’an yang menarik untuk dikaji,

             yaitu surat al-Baqarah ayat 62




                                              xlviii
      ‫ان الذين امنوا والذين هادوا والنصرى والصابئني من امن‬
      ‫باهلل واليوم اآلخر وعمل صاحلا فلهم أجرهم عند رهبم وال‬
       )26:‫خوف عليهم وال هم حيزنون (البقرة‬
      Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang nasrani,
                   dan orang-orang shabiin, siapa saja diantara mereka
                   beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh,
                   mereka akan menerima pahala dari Tuhan, tidak ada
                   kekhawatiran terhadap mereka, dan tiada pula mereka
                   bersedih hati” 53

              Alwi Shihab dalam Islam Inklusif54 menyatakan bahwa pada

      dasarnya ayat di atas berbicara tentang empat kelompok; alladzina

      aamanuu (menunjuk kepada umat Islam), alladziina haaduu (umat

      Yahudi), al-nashaaraa (umat Kristen), dan al-shaabi’iin. Para pakar tafsir

      menyadari kesulitan menafsirkan ayat ini, mengingat ayat-ayat lain

      menunjukkan hanya Islamlah yang dijanjikan keselamatannya oleh Allah.

      Al-Thabari, ahli tafsir kenamaan abad ke sepuluh yang banyak

      memberikan ispirasi buat ahli-ahli tafsir selanjutnya, berpendapat bahwa

      jaminan Allah tersebut bersyaratkan tiga hal: beriman (man aamana),

      percaya pada hari kemudian, dan perbuatan baik. Syarat beriman itu

      termasuk, beriman kepada Allah dan Muhammad Saw. Atau, dengan kata

      lain, yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah mereka yang telah memeluk




      53
       Al Qur’an dan terjemah, Depag, Al Baqarah (2) : 62, hal. 19
      54
       Alwi Shihab, Islam Iklusif, (Bandung: Mizan 1997), hal. 79


                                          xlix
   Islam. Pendapat Al-Thabari tersebut mendapat dukungan dari Fakhruddin

   Al-Razi, dan Al-Zamakhsyari.55

           Lain halnya dengan Muhammad Abduh, ia berpendapat bahwa

   syarat pertama, yakni beriman kepada Allah, tidak harus dibatasi dengan

   keimanan menurut cara Islam. Selanjutnya, Rasyid Ridha, murid Abduh,

   ikut memperkuat pendapat gurunya. Ia mengakui bahwa keimanan sejati

   kepada Allah dapat juga ditemukan di luar Islam yang dibawa Nabi

   Muhammad Saw. Al-Thabathabai lain pula penafsirannya. Baginya, Allah

   tidak memandang pada agama tertentu, tapi yang penting adalah substansi

   dan esensi yang terkandung dalam agama itu. Selama tiga syarat dalam

   ayat tersebut terpenuhi, janji Tuhan itu akan terlaksana.56



2. Sentimen Keagamaan, Fanatisme dan Fundamentalisme

           Sentimen keagamaan sebagai perasaan tidak menyukai hadirnya

   orang yang beragama lain disekitarnya atau bahkan dalam kehidupannya

   merupakan sikap kekanak-kanakan dan sangat tidak familer. Sikap seperti

   ini pada akhirnya akan selalu menimbulkan kebencian yang mudah sekali

   meledak     menjadi     konflik     tatkala       tercipta   kondisi   yang   tidak

   menyenangkannya. Hal serupa juga terjadi pada fanatisme, sebagai sebuah

   perasaan cinta yang berlebihan terhadap agamanya. Fanatisme dalam

   artian kecintaan yang berlebihan terhadap agamanya pada dasarnya tidak




   55
    Shihab, M. Quraish Wawasan ….., Op. Cit., hal.
   56
    Ibid.


                                        l
             dilarang,      hanyasannya       diharapkan   tidak   menyebabkan   seseorang

             meremehkan atau menyalahkan orang yang berlainan agama.

                        Umat beragama diharapkan dapat menempatkan arti fanatisme

             secara benar dalam kehidupannya. Fanatisme pada dasarnya adalah

             kekuatan iman yang ada di dalam jiwa, dan apabila ternyata mencuat

             kepermukaan dalam bentuk kekerasan sudah merupakan sikap sentimen

             keagamaan. Dan itu jelas sangat merugikan kerukunan hidup beragama

             yang selama ini dengan susah payah berusaha dijalin.

                        Pada dasarnya agama adalah penganjur kedamaian, maka dengan

             adanya fanatisme hendaknya tidak mengaburkan tujuan agama tersebut.

             Dalam Pencarian Manusia Akan Allah, ada dikutip sebuah pernyataan

             dari Charles Caleb Colton (1825), ia mengatakan:

“Manusia akan bergumul demi agama, menulis demi itu, bertempur demi itu, mati demi
                   itu; berbuat apa saja kecuali hidup demi itu. Apabila agama yang
                   sejati mencegah satu kejahatan, agama-agama palsu membuat dalih
                   untuk ribuan kejahatan”.57

                        Berbicara tentang sentimen keagamaan dan fanatisme pada

             dasarnya tidak akan terlepas dari rasa emosional umat beragama. Umat

             beragama tidak akan senang dan tidak akan membenarkan orang lain

             merendahkan martabat agama yang diyakini kebenarannya. Namun,

             pelampiasan emosi juga bukan merupakan solusi terbaik mengingat begitu

             banyak kepentingan yang dapat membawa umat menuju kesadaran hidup

             damai tanpa darah dan permusuhan.



             57
                  Pencarian Manusia Akan Allah, Op. Cit.


                                                     li
       Jelaslah bahwa perkembangan kehidupan agama sangat tergantung

pada daya tangkap intelektual dan penghayatan para pemeluknya.

Persoalannya, seperti yang dinyatakan A. Malik Fadjar, (2000),

keberagaman seperti apakah yang dibutuhkan dalam menghadapi

masyarakat milenium baru ini? Pertanyaan ini agaknya memerlukan

perenungan secara mendalam mengingat kehidupan beragama saat ini

justru menghadapi persoalan pada tingkat penghayatan.

       Fenomena yang terjadi saat-saat ini, tentang timbulnya sentimen

keagamaan, fanatisme buta, dan fundamentalisme adalah persoalan pada

tingkat penghayatan tentang agama. Memang beberapa futurology seperti

John Naisbitt dan Patricia Aburdene, menangkap adanya kegairahan dalam

beragama yang mereka sebut dengan kebangkitan agama. Tapi jika

dicermati lebih mendalam lagi, apa yang disebut dengan kebangkitan itu

masih berada pada tataran penghayatan skriptual, simbolik, dan eksklusif

serta sarat dengan klaim-klaim kebenaran (truth claim). Meskipun

mengundang perdebatan, banyak dari kalangan pengamat sosial-

keagamaan    yang    menyebut     keberagaman    semacam     itu   dengan

fundamentalisme.

       Sebuah fundamentalisme, apapun bentuknya, menurut Malik Fajar

(2000) biasanya bermakna “pejoratif”, dan mengundang kekhawatiran dari

pihak lain, tak terkecuali dalam kehidupan agama. Setidaknya ada tiga ciri

utama dalam fundamentalisme agama ini. Pertama, dalam memahami

agama lebih mengutamakan teks. Segala bentuk penafsiran dihindari,



                                lii
   karena dikhawatirkan akan mereduksi absolusitas dan universalitas

   kebenaran      agama.    Dengan      pemahaman         seperti    ini     kalangan

   fundamentalisme agama dikatakan terpasang oleh teks.

             Kedua, agar pemahaman yang tekstual atau skriptual itu selalu

   diakui otoritasnya, fundamentalisme agama melembagakan kepemimpinan

   agama yang tunggal, monolitik dan otoritatif. Pemimpin ini diberi hak

   penuh dalam menentukan hitam putihnya agama.

             Ketiga, sebagai konsekuensi pertama dan kedua, klaim-klaim

   kebenaran menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Klaim-klaim ini

   biasanya menyimpan “prejudice” terhadap kelompok agama lain.

             Nuansa fundamentalisme belakangan ini sudah merasuki pada

   sebagian masyarakat. Hal ini dapat diamati dari sejumlah tindakan

   kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Menurut sinyalemen, tindakan

   kekerasan itu salah satunya dipicu oleh praktik manipulasi simbol-simbol

   agama yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang bertujuan meraih

   kepentingan     sesaat   (Syamsul        Arifin,   2000:   ix).   Jelas    bahwa,

   fundamentalisme agama merupakan contoh keberagaman parsial yang

   berpotensi menimbulkan persoalan-persoalan destruktif dalam kehidupan

   sosial.



3. Kondisi Politik, Sosial dan Ekonomi

             Bagaimanapun kondisi politik sebuah negara, situasi sosial dan

   ekonomi akan mempunyai andil dalam menciptakan konflik yang terjadi

   antar agama. Seperti dinyatakan John L. Esposito dalam Political Islam:


                                     liii
Beyond The Green Menace (diterjemahkan dengan judul Bahaya Hijau !)

bahwa perang salib dalam masa kerajaan Utsmaniyah menunjukkan

walaupun akar teologis Kristen dan Islam sama, namun akibat kepentingan

politik dan agama yang terus bersaing menghabiskan sejarah konfrontasi

dan peperangan.58

        Di Indonesia, elit politik secara manis dapat bermain di sela-sela

sentimen keagamaan dengan memanfaatkan para pemuka agama untuk

dapat mengajak umatnya mendukung partai tertentu. Dan ternyata

memang cukup manjur. Namun yang terjadi akhirnya adalah terjadinya

benturan antara dua kubu yang berbeda untuk membela salah satu partai

politik yang diyakini juga membela agamanya. Karena sesuai dengan

propaganda bahwa partai yang bersangkutan adalah partai yang

memperjuangkan hak-hak agama tertentu.

        Keadaan ekonomi dalam sebuah negara akan berkaitan                    erat

dengan keamanan negara. Bila ekonomi kuat, baik maka negara akan

relatif aman. Namun jika ternyata kondisi ekonominya menyedihkan,

maka di sana sini akan timbul situasi sosial yang penuh dengan gejolak.

Kejahatan dan tindakan kekerasan akan mudah timbul. Dan akan ada pula

orang-orang      yang     menggunakan          isu   agama   sebagai   isu   untuk

membenarkan tindakan perusakan, penjarahan dan perampasan hak orang

lain yang berlainan agama dengannya. Ini adalah kondisi riil saat ini di

manapun di belahan dunia ini.

        Dalam sebuah Seminar Nasional tentang Kemajemukan Suku,

Agama, Ras dan Antar Golongan dalam Kehidupan Berbangsa di Era

Modern yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Penelitian Sosial

58
 Esposito, L. John. Op. Cit., hal. 67.


                                         liv
       Universitas Islam Indonesia, 17 Juni 1997. Drs. Edy Suandi Hamid, M.Sc.,

       mengemukakan pendapat William Suhanda bahwa sentimen berbau sara

       yang sering muncul adalah berkaitan erat dengan adanya kesenjangan

       ekonomi yang sangat tinggi antara penduduk pribumi dan non pribumi

       (William Suhanda, 1996).

                  Begitulah fenomena pluralisme agama dewasa inim, yang jauh dari

       harapan tuntutan ajaran agama-agama yang dianutnya. Seperti dikatakan

       seorang sejarawan, Arnold Toynbee dalam Pencarian Manusia Akan

       Allah,59 menyatakan:

                  “Tujuan yang sebenarnya dari agama yang lebih luhur adalah
                  untuk menyebarkan nasihat-nasihat rohani dan kebenaran yang
                  menjadi dasarnya kepada sebanyak mungkin jiwa yang dapat
                  dicapainya, agar setiap jiwa tersebut mampu memenuhi tujuan
                  manusia yang sesungguhnya. Tujuan manusia yang sesungguhnya
                  adalah memuliakan Allah dan memiliki Dia selama-lamanya”.
                                       BAB III

       PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN



       Pandangan Al Qur’an tentang pluralisme agama. Konsep-konsep tersebut

adalah :

1. Mengakui eksistensi agama lain. (S. An-Nahl : 93)

2. Memberinya hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk

   agama lain. (S. Al-An’am : 198)

3. Menghindari kekerasan dan memelihara tempat-tempat beribadah umat

   beragama lain. (S. Al Hajj : 4)




       59
           Pencarian Manusia Akan Allah, Op. Cit., hal. 16.


                                               lv
4. Tidak memaksakan kehendak kepada penganut agama lain. (S. Al Baqarah :

   229)

5. Mengakui banyaknya jalan yang dapat ditempuh manusia dan perintah

   berlomba-lomba dalam kebajikan. (S. Al Baqarah : 148)

6. Islam mengakui umat manusia diatas dunia tidak mungkin semuanya sepakat

   dalam segala hal itu termasuk hal-hal yang menyangkut keyakinan agama. (S.

   Hud : 18-19)

   Ayat tersebut digunakan Nur Kholis Madjid dalam pluralisme dan dialog

   agama.



Pluralisme Menurut Al-Qur’an

            Al-Qur’an sebagai kitab suci (kitabun muthahharah) maupun sebagai

   pedoman hidup (hudan linnas) sangat menghargai adanya pluralitas. Pluralitas

   oleh al-Qur’an dipandang sebagai sebuah keharusan. Artinya bagaimanapun

   juga sesuai dengan “sunatullah”, pluralitas pasti ada dan dengan itulah

   manusia akan diuji oleh Tuhan untuk melihat sejauh mana kepatuhan mereka

   dan dapat berlomba-lomba dalam mewujudkan kebajikan.

            Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mengakui adanya

   pluralitas sebagai sesuatu yang alamiah bahkan dikehendaki oleh Tuhan itu

   sendiri, yaitu:

   1. Surat al-Ma’idah: 48:




                                      lvi
       ‫لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا ولوشاء اهلل جلعلكم امة‬
       ‫واحدة ولكن ليبلوكم ىف ما آتكم فاستبقوا اخلريات اىل اهلل‬
        .‫مرجعكم مجيعا فينبئكم مبا كنتم فيه ختتلفون‬
       Artinya:

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang.
                     Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya
                     satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu
                     terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-
                     lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah
                     kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu
                     apa yang telah kamu perselisihkan.” 60

               Keterangan al-Qur’an di atas jelas merupakan pengakuan terhadap

       adanya pluralitas dalam agama. Dalam Tafsir Al-Mu’minin, Abdul

       Wadud Yusuf mengomentari ayat tersebut bahwa memang kehendak

       Allah-lah manusia dijadikan menjadi umat yang bermacam-macam.

       Karena jika seandainya Dia kehendaki manusia akan dijadikan satu umat

       saja dengan diberikan-Nya satu risalah dan di bawah satu kenabian. Tetapi

       Allah menghendaki manusia menjadi umat yang banyak (umaman) dan

       Dia turunkan bagi setiap umat itu satu orang Rasul untuk menguji

       manusia, siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang ingkar.61 Hal

       senada juga dikemukakan oleh Syaikh Ahmad Al-Shawi Al-Maliki dalam

       Hasyiyah Al-‘Allamah Al-Shawi Juz 1 bahwa, Allah sengaja memecah

       manusia menjadi beberapa kelompok yang berbeda untuk menguji mereka




       60
        Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Maidah (3) : 48, hal. 168.
       61
        Yusuf, Abdul Wadud, Tafsir al-Mu’minin, (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 62


                                            lvii
       dengan adanya syari’at yang berbeda-beda (al-syara’I al-mukhtalifah)

       untuk mengetahui yang taat dan yang membangkang.62

               Dalam ayat tersebutjuga disebutkan, bahwa perbedaan tidak dapat

       diperdebatkan sekarang, yakni pada saat orang tidak sanggup keluar atau

       melepaskan diri dari apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Allah-lah

       nanti yang akan menentukan mana yang benar. Sikap yang seharusnya

       diambil adalah membiarkan masing-masing orang berbuat menurut apa

       yang diyakininya.

    2. Surat al-Nahl: 93:


        ‫ولو شاء اهلل جلعلكم امة واحدة ولكن يضل من يشاء ويهدى‬
        .‫من يشاء ولتسئلن عما كنتم تعملون‬
        Artinya:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja),
                   tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan
                   memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
                   sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah
                   kamu kerjakan.” 63

               Ayat ini mempunyai substansi yang sama dengan ayat 46 surah al-

       Ma’idah tersebut di atas, yaitu mengemukakan kesengajaan Allah

       menciptakan perbedaan. Bahwa Tuhan tidak menjadikan manusia sebagai

       umat yang satu. Satu dalam pengertian, satu agama (millarun wahidatun)

       sehingga tidak berselisih faham dan berpecah-pecah seperti diungkapkan




       62
          Al-Maliky,Syaikh Ahmad Al-Shawi, Hasyiah Al-‘Allamah Al-Shawy ‘Ala Tafsir Al-
Jalaluddin, (Surabaya: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, tt), hal. 287
        63
          Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. An Nahl (16) : 93, hal. 416


                                         lviii
        dalam tafsir Shafwatul Bayan Li Ma’anil Qur’an karya Syaikh Hasanain

        Muhammad Makluf (1994: 277)64

    3. Surat al-Baqarah: 148:


        ‫ولكل وجهة هو موهلا فاستبقوا اخلريات اين ما تكونوا يأت‬
        )143 :‫بكم اهلل مجيعا ان اهلل على كل شيء قدير. (البقرة‬
        Artinya:

“Dan tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
                     berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.
                     Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan
                     kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
                     maha kuasa atas segala sesuatu.” 65

                Al-Qur’an seperti tersebut dalam ayat di atas mengakui bahwa

        masyarakat terdiri dari berbagai macam komunitas yang memiliki orientasi

        kehidupan sendiri-sendiri. Manusia harus menerima kenyataan keragaman

        budaya dan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas

        dalam menjalankan ibadahnya. Dengan keragaman dan perbedaan itu

        ditekankan perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan. Mereka

        semua akan dikumpulkan oleh Allah pada hari akhir untuk memperoleh

        keputusan final. Dikatakan oleh Heru Nugroho sebagaimana pernah

        termuat dalam Harian Kompas edisi 17 Januari 1997 dan Atas Nama

        Agama bahwa rahasia kemajemukan hanya diketahui oleh Allah, dan

        tugas manusia adalah menerima, memahami dan menjalani.66

    4. Surat al-Hujaraat: 13:

        64
          Makhluf, Syaikh Hasanain Muhammad, Shafwatul Bayan Li Ma’anil Qur’an, (Cairo:
Darul Basya’ir, 1994) hal. 277
        65
          Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Baqarah (2) : 148, hal. 38
        66
          Nugroho, Heru, Atas Nama Agama, (Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. I, 1998) hal. 64.


                                            lix
 ‫ياايها الناس انا جعلناكم من ذكر وانثى وجعلناكم شعوبا وقبائل‬
              .‫لتعارفوا ان اكرمكم عند اهلل اتقاكم ان اهلل عليم خبري‬
                                                   )17 :‫(احلجرات‬
         Artinya:

 “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
                     seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-
                     bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
                     mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
                     kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa
                     diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi
                     maha mengenal. 67

Makna substansial surat al-Hujaraat ayat 13 adalah, bahwa umat manusia harus
         menerima kenyataan kemajemukan budaya. Surah ini menegaskan bahwa
         Allah menciptakan manusia dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan,
         menjadikan       mereka     berbangsa-bangsa         dan     bersuku-suku    (etnis),
         dengantujuan agar mereka saling mengenal dan menghargai. Dari
         kemajemukan itu yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang
         paling bertaqwa kepada-Nya. Kemajemukan dalam ayat ini menunjuk
         pada keanekaragaman budaya seperti; gender, ras, suku, dan bangsa dalam
         rangka mendatangkan kebaikan dan kediaman di muka bumi.


 Sikap Al-Qur’an Terhadap Pluralisme Agama

              Perbedaan     pendapat     dalam      segala    aspek     kehidupan    manusia

     merupakan satu fenomena yang telah lahir dan akan berkelanjutan sepanjang

     sejarah kemanusiaan. Dalam al-Qur’an sendiri banyak terdapat pengakuan

     tentang adanya perbedaan. Perbedaan agama, keyakinan, budaya, dan pola

     berfikir.



         67
          Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Hujurat (49) : 13, hal. 847.


                                               lx
                               Al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan untuk rahmat bagi semesta

                    alam pada dasarnya sangat demokratis, sangat mengerti dan memperhatikan

                    keadaan suatu kaum. Al-Qur’an mengakui adanya kenyataan beragamnya

                    agama sebagai suatu bentuk perbedaan interpretasi terhadap teks-teks Tuhan

                    yang ada dalam kitab-kitab suci. Namun al-Qur’an tidak mengakui adanya

                    pluralisme agama sebagai bentuk keyakinan yang berbeda tentang ke-Esaan

                    Tuhan. Artinya bahwa al-Qur’an akan menolak mentah-mentah segala ajaran

                    yang mengandung unsur syirik di dalamnya. Untuk itu Allah menegaskan:


                     ‫ومن يبتغ غري االسالم دينا فلن يقبل منه وهو ىف اآلخرة من اخلاسرين‬
                                                                        )35 :‫(العمران‬
                     Artinya:

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima dan akhirat
                    dia termasuk kaum yang merugi”. 68

                                 Adapun tafsirnya adalah :
                               Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali
                     tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia diakhirat termasuk
                     orang-orang yang merugi.
                               Namun demikian al-Qur’an yang mengakui adanya pluralisme agama
                     sebagai sebuah fenomena, menganjurkan umat Islam untuk dapat menjaga
                     hubungan baik dengan umat beragama lain. Di antara sikap al-Qur’an tersebut
                     adalah tercermin sebagai berikut:
                     1. Ajakan berbuat damai




                        68
                             Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Ali ‘Imran (3) : 85, hal. 90


                                                                 lxi
       ‫ولوال دفع اهلل الناس بعضهم ببعض هلدمت صوامع وبيع وصلوات‬
       ‫ومساجد يذكر فيها اسم اهلل كثريا ولينصرن اهلل من ينصره إن اهلل‬
                                                )22 :‫لقوى عزيز. (احلج‬
       Artinya:

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan
                   sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara
                   nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang yahudi
                   dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak di sebut nama
                   Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang
                   menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar
                   maha kuat lagi maha perkasa” (Q.S. Al-Hajj 22: 40). 69

                    Tafsirnya adalah :
           Katakanlah hai wahai ahli kitab marilah kepada suatu kalimat
      (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan bahwa tidak ada
      perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah
      dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula
      sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain
      daripada Allah jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka
      saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri
      kepada Allah.
                  Al-Qur’an, seperti yang termaktub dalam ayat di atas jelas tidak
      menghendaki adanya perseteruan antar agama (clash). Dengan adanya
      agama sebagai pedoman hidup hendaknya menjadikan seseorang sebagai
      sosok yang gandrung dengan kedamaian dan cinta kasih. Bukan
      sebaliknya sebagai jiwa perusak, seperti fenomena umat beragama saat ini
      yang gemar melakukan perusakan tempat ibadah umat beragama lain.
                  Mahatma Gandhi dalam All Men Are Brothers: Life and
      Thoughts of Mahatma Gandhi As Told in His Own Words (1958) yang
      dialihbahasakan dalam Semua Manusia Bersaduara menyatakan:


      69
           Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al-Hajj (22) : 40, hlm. 518


                                              lxii
        “Jika kita percaya Tuhan, tidak hanya dengan kepandaian kita,
        tetapi dengan seluruh diri kita maka kita akan mencintai seluruh
        umat manusia tanpa membedakan ras atau kelas, bangsa atau pun
        agama, kita akan bekerja untuk kesatuan umat manusia. Semua
        kegiatan saya bersumber pada cinta kasih saya yang kekal kepada
        umat manusia. Saya tidak mengenal perbedaan antara kaum
        keluarga dan orang luar, orang sebangsa dengan orang asing,
        berkulit putih atau berwarna, orang hindu atau orang india
        beragama lain, orang muslim, parsi, Kristen, atau yahudi. Saya
        dapat mengatakan bahwa jiwa saja tidak mampu membuat
        perbedaan-perbedaan semacam itu. Melalui suatu proses panjang
        melakukan disiplin keagamaan, saya telah berhenti membenci
        siapapun juga selama lebih dari empat puluh tahun ini”. (terdapat
        dalam kata pengantar, hal: xv)70

        Sungguh merupakan jiwa yang sangat memukau dan dapat

dikatakan sebagai manusia yang “Qur’aniy” sebab pemahamannya

terhadap makna hidup beserta nilai-nilai kasih sayang dan perdamaian

yang ada di dalamnya begitu tinggi.

        Jika perbedaan jalan itu merupakan “sunatullah”, seharusnya

perbedaan itu tidak menghalangi orang dalam kelompok tertentu

menyampaikan “kebenaran” kepada kelompok lain. Terutama hal-hal

yang merupakan isu bersama. Dalam al-Qur’an surah Ali Imran ayat 64,

dilukiskan dengan indahnya tentang ajakan untuk menuju perdamaian

yang nyata dengan:


‫قل يا اهل الكتاب تعلوا اىل كلمة سواء بيننا وبينكم اال تعبد اال اهلل‬
‫وال تشرك به شيئا وال يتخذ بعضنا بعضا اربابا من دون اهلل فإن تولوا‬
                           )44 :‫فقولوا اشهدوا بانا مسلمون.(العمران‬
Artinya:



70
 Gandhi, Mahatma, Semua Manusia Bersaudara, (Jakarta: Gramedia, 1998) hal. 15


                                  lxiii
  “Katakanlah, ‘hai ahli kitab, Marilah kita mengambil prinsip dasar untuk
  kita: bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan
  Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian
  lain Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah.
  ‘saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri
  kepada Allah.” 71

2. Larangan adanya unsur paksaan

           Al-Qur’an tidak pernah membenarkan adanya paksaan dalam

   memeluk suatu agama karena itu berkaitan erat dengan hak-hak manusia

   yang perlu mendapatkan penghargaan setelah disampaikan pesan-pesan

   (message) al-Qur’an yang sesungguhnya. Ayat al-Qur’an, surah al-

   Baqarah ayat 256 menyebutkan:

   ‫ال اكراه ىف الدين قد تبني الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت‬
   .‫ويؤمن باهلل فقد استمسك بالعروة الوثقى النفصام هلا واهلل مسيع عليم‬
                                                      )254 :‫(البقرة‬

   Artinya:

  “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah
  jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa
  yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka
  sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang
  tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” 72

           Ketiadaan adanya paksaan dalam beragama ini menurut Syaikh

   Nawawi seperti terdapat dalam Tafsir Marah Labid jilid 1, karena pada

   dasarnya seseorang sudah diberi potensi untuk membedakan barang yang

   haq dan bathil, keimanan dan kekufuran, petunjuk dan kesesatan (melalui


  71
    Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Ali Imron (3) : 64, hal. 86
  72
    Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Baqarah (2) : 256, hal. 63.


                                       lxiv
banyaknyapetunjuk-petunjuk yang telah ada (al-dalaa’il) melalui ayat-

ayat Qouliyah maupun kauniyah).73

        Al-Qur’an         hanya       membenarkan           adanya       peringatan

(mengingatkan), dalam surat al-Ghasyiah dinyatakan:

‫فذكر امنا انت مذكر لست عليهم مبصيطر اال من توىل وكفر. فيعذبه‬
                                            .‫اهلل العذاب االكرب‬
Artinya:

“… maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang
yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas
mereka, tetapi orang yang berpaling dan kafir. Maka Allah akan
mengazabnya dengan yang besar”. 74

        Setelah peringatan-peringatan itu disampaikan dan ternyata tidak

mau juga merambah jalan yang menuju kebenaran, maka keyakinan dan

ritual-ritual yang mereka jalani menjadi urusan masing-masing dan tidak

boleh ada perasaan permusuhan karena tertolaknya ajakan (surat al-

Kaafirun). Keinginan untuk membawa orang lain mengikuti jalan

kebenaran adalah sah menurut al-Qur’an, namun keputusan untuk ikut

atau tidak diserahkan sepenuhnya kepada orang yang bersangkutan, bukan

orang yang menginginkan.

        Dalam sejarah secara nyata dipaparkan bagaimana pribadi seorang

yang menjadi suri tauladan bagi umatnya, Muhammad utusan Allah tidak

pernah melakukan pemaksaan. Karena disitulah letak ujian bagi

seseorang. Terdapat dalam surat al-Kahf:



73
 Tafsir Marah Labid, Jilid I, 82.
74
 Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Ghaasyiyah (88) : 21-23, hal. 1055


                                    lxv
   ‫فلعلك باخع نفسك على اثارهم ان مل يؤمنوا هبذا احلديث اسفا. انا‬
               .‫جعلنا ما على االرض زينة هلا لنبلوهم ايهم احسن عمال‬
                                                  )3-4 :‫(الكهف‬
   Artinya:

  “Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati
  sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak percaya kepada cerita
  al-Qur’an ini. Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di
  perhiasan baginya, agar kami menguji mereka, siapakah di antara mereka
  yang terbaik perbuatannya”. 75


3. Konsep Ukhuwah Islamiyyah

           Ukhuwah sering diartikan sebagai sebuah bentuk atau hubungan

   persaudaraan antara seseorang dengan orang lainnya. Yang paling besar

   gaungnya adalah tentang ukhuwah islamiyah. Ukhuwah yang biasa

   diartikan sebagai “persaudaraan”, menurut M. Quraish Shihab dalam

   Wawasan Al-Qur’an, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti

   “memperhatikan”. Maka asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan

   mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.76

           Dalam Wawasan Al-Qur’an konsep tentang “ukhuwah islamiyah”

   dibahas secara panjang lebar oleh M. Quraish Shihab. Menurutnya, istilah

   “ukhuwah islamiyah” ini perlu didudukkan maknanya, agar bahasan

   tentang “ukhuwah” tidak mengalami kerancuan. Untuk itu terlebih dahulu

   perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan katan

   “Islamiyah” dalam istilah di atas. Selama ini ada kesan bahwa istilah


  75
    Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Kahfi (18) : 6-7, hal. 443-444
  76
    Shihab, M. Quraish, Wawasan …. , hal. 486.


                                       lxvi
tersebut bermakna “persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim”, atau

dengan kata lain, “persaudaraan antar sesama muslim”, sehingga dengan

demikian, kata “Islamiyah” dijadikan pelaku ukhuwah itu.

       Pemahaman ini kurang tepat. Kata “islamiyah” yang dirangkaikan

dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai “adjektifa”, sehingga

“ukhuwah islamiyah” berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang

diajarkan oleh Islam”. (1996: 486-487). Paling tidak, ada dua alasan untuk

mendukung     pendapat    ini.     Pertama,   al-Qur’an    dan       al-Hadits

memperkenalkan     bermacam-macam        persaudaraan     seperti;    saudara

kandung (QS Al-Nisa [4]: 23), saudara dalam arti sebangsa (QS al-A’raf

[7]: 65), saudara semasyarakat, walaupum berselisih faham (QS Shaad

[38]: 23), persaudaraan seagama (QS Al-Hujurat [49s]: 10), dan saudara

yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS Thaha [20]: 29-30). Kedua, karena

alasan kebahasaan. Di dalam bahasa Arab, kata sifat selalu harus

disesuaikan dengan yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk

indefintif maupun feminin, kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat

jelas pada saat kita berkata Ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-

Islamiyah”.

       Berkaitan dengan ukhuwah islamiyah, Al-Qur’an memperkenalkan

paling tidak empat macam persaudaraan:

1. Ukhuwah di al-‘ubudiyyah, yaitu bahwa seluruh makhluk adalah

   bersaudara dalam arti memiliki kesamaan.




                                 lxvii
         ‫وما من دآبة ىف االرض وال طآئر يطري جبناحيه اال امم امثالكم ما‬
                            .‫فرطنا ىف الكتاب من شيء مث اىل رهبم حيشرون‬
         Artinya:

         “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-
         burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat
         (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun di dalam al-
         Kitab, kemudian kepada tuhanlah mereka dihimpunkan”. (QS 6: 38) 77

Persamaan ini, antara lain, dalam ciptaan dan ketundukan kepada Allah (Al-
         Baqarah [2]: 28).
     2. Ukhuwah fi al-insaniyah, dalam arti keseluruhan umat manusia adalah

         bersaudara, karena mereka bersumber dari ayah dan ibu yang satu.

         Ayat al-Hujurat 12 menjelaskan tentang hal ini.rasul saw. Juga

         menekankannya dalam sabda beliau: “Kuunuu ‘ibadallah ikhwanaa

         al-‘ibad kulluhumikhwat”.

     3. Ukhuwah fi al-wathaniyah wa al-nasab. Persaudaraan dalam

         keturunan dan kebangsaan seperti yang disyaratkan oleh ayat wa ila

         ‘ad akhahum hud, dan lain-lain.

     4. Ukhuwah fi din al-Islam. Persaudaraan antar sesama muslim, seperti

         bunyi surah al-Ahzab 5. demikian juga dalam sabda Rasulullah saw.:

         “Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah

         yang datang sesudah [wafat]-ku”.

             Lebih lanjut M. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an

     (1995: 359) menyatakan bahwa faktor penunjang lahirnya persaudaraan

     dalam arti luas ataupun sempit adalah persamaan. Semakin banyak


    77
      Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al An’am (6) : 38, hal. 192


                                        lxviii
          persamaan semakin kokoh pula persaudaraan. Persaudaraan dalam rasa

          dan cita merupakan faktor yang sangat dominan yang mendahului lahirnya

          persaudaraan hakiki dan yang pada akhirnya menjadikan seorang saudara

          merasakan derita saudaranya. Sebagai contoh adalah mengulurkan tangan

          bantuan kepada saudaranya sebelum diminta serta memperlakukannya

          bukan atas dasar take and give tetapi justru “Mengutamakan orang lain

          walau dirinya sendiri kekurangan”.(Q.S. 59: 9)78

                   Dari fenomena yang dipaparkan di atas paling tidak sudah begitu

          mencukupi sebagai bukti bahwa al-qur’an benar-benar menghargai adanya

          pluralitas, pluralisme agama khususnya, sesuai pembahasan kali ini. Itu

          menunjukkan betapa al-Qur’an berisi penuh ajaran-ajaran kasih dan

          sayang. Tidak seperti yang dituduhkan para orientalis sementara ini.



Jihad dan Relevansinya Dengan Konsep Pluralisme Keagamaan

              M.    Darwan    Raharjo     (1996)    dalam    Ensiklopedi     Al-Qur’an

      menyebutkan, jihad sebagai sebuah konsep penting dalam al-Qur’an berkaitan

      dengan hakikat sosial keberagaman Islam. Karena pemakaiannya dewasa ini

      biasa dikaitkan dengan peristiwa kerusuhan sosial, istilah jihad kini

      mengandung unsur “pejoratif”. Istilah itu sudah tereduksi, bahkan terdegradasi

      maknanya.

              Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam al-Qur’an mengandung

      begitu banyak ayat-ayat yang menganjurkan perang dan bersikap bermusuhan




         78
           Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. XI, 1995) hal.
359


                                           lxix
dengan kaum ataupun golongan lain. Misalnya, ayat 120 yang terdapat dalam

surah al-Baqarah:


‫ولن ترض عنك اليهود وال النصرى حىت تتبع ملتهم قل ان هدى اهلل هو‬
‫اهلدى ولئن اتبعت اهواءهم بعد الذى جآءك من العلم ما لك من اهلل من‬
                                      )27 :‫ويل وال نصري. (البقرة‬
Artinya:

“Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak
lagi menjadi pelindung dan penolongbagimu”. 79

        Kemudian ayat yang menyatakan bahwa kaum muslimin seharusnya

memerangi orang-orang yang tidak beriman dan ahli kitab:


‫قاتلوا الذين ال يؤمنون باهلل وال باليوم اآلخر وال حيرمون ما حرم اهلل‬
‫ورسوله وال يدينون احلق من الذين اوتوا الكتاب حىت يؤتوا اجلزية عن يد‬
                                                      .‫وهم صاغرون‬
Artinya:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula
kepada hari kemudian dan mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama
yang benar, yaitu orang-orang yang diberi kitab, jizyah dengan patuh sedang
mereka dalam keadaan tunduk”. (QS. At-Taubah [9]: 29) 80

        Ayat-ayat ini barangkali yang membentuk karakter yang keras kepada

pemeluk yang berbeda-beda disamping ayat “Asyiddaa ‘ala al-kuffaar”. (QS.

Al-Isra’). Al-Qur’an memang mengandung ayat-ayat yang secara sekilas

   79
    Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. Al Baqarah (2) : 120, hal. 32
   80
    Al Qur’an dan terjemahnya, Depag, S. At Taubah (9) : 29, hal. 282


                                        lxx
memberikan pemahaman yang bertentangan dan banyak orang yang

mengambil bagian-bagian yang sesuai dengan kepentingan atau cara pandang

mereka.

           Menurut Machasin (1999) dalam Pergulatan Pesantren dan

Demokrasi, bahwa mereka akan mentakwilkan atau tidak mau membaca ayat-

ayat lain yang tidak sesuai menurut mereka. Tidak heran jika Islam oleh

sementara orang-orang barat dipandang sebagai kaum-kaum teroris yang keji.

Islam dengan konsep jihadnya dipandang sebagai umat yang menyukai

kekerasan. Jelasnya, bahwa masih banyak orang yang belum paham dengan

substansi jihad itu sendiri, bahkan orang-orang Islam sekalipun.81

           Jihad menurut tuntunan al-Qur’an adalah alternatif terakhir dan satu-

satunya jalan yang ditempuh, tidak ada jalan lainnya. Dasarnya adalah pesan

Rasulullah saw. Ketika kembali dari perang badar, perang besar antara kaum

muslimim melawan kaum kuffar yang berlipat-lipat jumlahnya, nabi

Muhammad saw. Bersabda:


.‫رجعنا من اجلهاد االصغر اىل اجلهاد االكرب اجلهاد االكرب هو اجلهاد النفس‬
Artinya

“Ketika telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar (jihad el-
akbar) yaitu jihad melawan hawa nafsu”. (Al-Hadits)

           Artinya, jihad dengan senjata itu bukan hal yang utama, melainkan

yang lebih utama adalah jihad melawan hawa nafsu sendiri sebagai sumber

kerusakan. Marcel A. Boisard dalam Humanisme Dalam Islam yang berjudul

asli L’humanisme De L’islam, menyatakan bahwasanya doktrin Islam telah

    81
         Machasin, Pergulatan Pesantren dan Demokrasi, 1999.


                                         lxxi
membentuk suatu hirarki tentang nilai-nilai. Jihad yang paling tinggi adalah

jihad yang dilakukan terhadap “hawa nafsunya” sebagaimana dikatakan oleh

hadits nabi. Usaha pribadi ini dianggap “perang suci yang terbesar”. Dengan

begitu maka perang suci dengan senjata menjadi nomor dua secara relatif, dan

hanya merupakan manifestasi yang paling konkret dari jihad.82

          Jihad dalam Islam adalah jalan satu-satunya yang bisa dilakukan

sebagai upaya membela diri. Sedangkan diantara sebab-sebab yang

membolehkan perang adalah untuk mempertahankan masyarakat, dan

melindungi orang yang dianiaya pada umumnya. Hal tersebut senada dengan

Boisard bahwa dalam bidang “perang suci” dengan senjata, kaum muslimim

berkewajiban untuk melakukannya dalam bentuk mempertahankan diri dari

serangan-serangan. Yang dilukiskan oleh doktrin yuridis Islam dalam enam

tipe: jihad terhadap musuh-musuh Tuhan, jihad untuk menjaga tapal batas

(ribat), jihad terhadap orang-orang murtad dan orang-orang yang memisahkan

diri (baghi), terhadap gerombolan-gerombolan yang mengacau keamanan dan

terhadap kaum menoteis yang menolak membayar “jizyah”.83

          Sikap al-Qur’an terhadap agresi sangat jelas. Kecenderungan alamiah

untuk melakukan kekerasan, kehausan untuk dominasi, keinginan untuk

membalas dendan, keuntungan material, kemauan untuk merampas hk orang

lain, adalah sebab-sebab jahat dan zalim. Dengan ringkas, agresi adalah

terlarang. Bagi literatur Islam, perang-perang yang dilakukan nabi

Muhammad saw. Menunjukkan sifat-sifat khusus perang Islam, yaitu adil

   82
        Boisard, Marcel A. Humanisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hal. 259
   83
        Ibid, hal. 259.


                                         lxxii
dalam motifnya, defensive dalam permulaannya, tinggi dalam cara

pelaksanaannya, damai dalam tujuan akhirnya, dan berperikemanusiaan dalam

memperlakukan mereka yang dikalahkan.

        Menurut Alwi Shihab, seperti yang terdapat dalam Islam Inklusif

bahwa tuduhan yang sering dilontarkan oleh sebagian kaum orientalis bahwa

Islam adalah “agama pedang”, yang menganjurkan aksi-aksi radikal pada

umumnya, mendasarkan argumentasinya dalam dua hal. Pertama adalah

dalam interaksinya dengan kekuatan eksternal (non-Islam), Islam telah

berhasil menyebarkan sayapnya dan menancapkan kakinya melalui ekspansi

militer jauh dari titik geografis kelahirannya. Bukti sejarah menunjukkan

ekspansi teritorial Islam yang tak terbendung pada masa formatifnya sampai

ke daratan eropa di barat dan benua india di timur.84

        Kedua, hubungan internal umat Islam yang berlangsung antara

kelompok oposisi dengan penguasa sejak pembunuhan khalifah utsman r.a.

sampai sekarang selalu diwarnai oleh kekerasan. Corak kekerasan ini bagi

sebagian orientalis adalah konsekuensi logis penekanan konsep jihad dalam

kehidupan politik Islam.

        Asumsi sebagian orientalis tentang kaitan Islam dengan radikalisme

adalah akibat persepsi keliru tentang arti dan fungsi jihad dalam Islam. Adalah

tidak benar asumsi yang menyatakan bahwa jihad identik dengan aksi

mengangkat senjata. Jihad dalam pengertian etimologis adalah usaha

sungguh-sungguh yang tidak mengenal lelah.


   84
     Shihab, Alwi, Op. Cit., hal. 283


                                        lxxiii
       Karena itu dapat dikatakan bahwa jihad dengan mengangkat senjata

adalah jihad dalam pengertian yang sempit. Dalam al-Qur’an dikenal dua

ketegori untuk jihad; pertama, jihad fi sabilillah, dimaksudkan sebagai usaha

sungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah, termasuk di dalamnya

pengorbanan harta dan nyawa (konfrontasi). Kedua, jihad fillah adalah usaha

untuk memperdalam aspek spiritual sehingga terjalin hubungan erat antara

seseorang dengan Allah. Usaha sungguh-sungguh ini diekspresikan melalui

penundukan tendensi negatif yang bersarang di jiwa tiap manusia, dan

penyucian jiwa sebagai titik orientasi seluruh kegiatan.

       Untuk memperjelas substansi jihad tidak diidentikkan dengan aksi

mengangkat senjata, al-Qur’an membedakan antara konsep qital (interaksi

bersenjata) dengan konsep jihad. Jihad jelasnya menunjuk kepada suatu

konsep yang komprehensif, di mana salah satu sisinya adalah berjuang di jalan

Allah melalui penggunaan senjata.

       Jihad dalam pengertian yang sempit (mengangkat senjata) inilah

agaknya yang banyak dipegangi oleh para orientalis dan sebagian umat Islam

sehingga tidak heran dapat menimbulkan antagonisme diantara mereka. Kasus

seperti yang terjadi di ambon tentang adanya laskar jihad banyak

menimbulkan pro dan kontra bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Gus Dur

sebagai kepala negara tidak menyetujui dikirimkannya laskar jihad dari jawa

karena urusan itu biar mereka sendiri yang menyelesaikan, lagi pula akan

memancing datangnya laskar salib dari daerah lain seperti NTT dan Papua.

Namun ustadz Ja’far memandang bahwa jihad ini wajib adanya bagi umat



                                    lxxiv
   Islam, dan jihad disini adalah jihad kemanusiaan, artinya tidak harus turun ke

   medan laga untuk bertahan.

           Dengan adanya jihad dalam pengertian yang sebenarnya tidak akan

   menghambat proses pembumian kesadaran pluralisme agama pada umat-umat

   beragama. Untuk itulah mengapa perlu dijelaskan tentang konsep jihad yang

   sebenarnya menurut cara pandang Islam yang berlandaskan kepada al-Qur’an

   dan al-Hadits.

                                    BAB V
                                KESIMPULAN




       Dari uraian tentang konsep al-Qur’an tentang pluralisme agama dan

urgensi implementasinya dalam pendidikan Islam dalam bab-bab terdahulu, dapat

diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut:

                                 Kesimpulan

Pluralisme sangatlah dihargai oleh Al Qur’an masyarakat terdiri dari berbagai
         macam komunitas yang beragam dan berbeda. Dengan keragaman dan
         perbedaan tersebut ditekankan perlunya masing-masing berlomba pada
         kebajikan.
Al Qur’an bersifat sangat demokratis terhadap pluralisme agama sebagai sebuah
         fenomena dan tidak menghendaki adanya perseteruan antar agam
         (clash). Konsep Al Qur’an tentang pluralisme agama yang sudah tertera
         dalam pendidikan Islam baik berupa kurikulum, metode pengajaran,
         penyampaian mata pelajaran sejak dari TK sampai Perguruan Tinggi
         untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.




                                      lxxv
                                   Saran

          Umat Islam hendaknya menjadi umat yang inklusif, membuka lebar-

   lebar wacana berfikir untuk memahami perbedaan dan substansi ajaran Islam

   secara benar tidak bersikap fanatisme buta. Pujian Tuhan kepada umat Islam

   sebagai “khoira ummah” hendaknya dapat dibuktikan dan bukan merupakan

   kebanggaan yang melenakan belaka.

          Tugas para pendidik muslim (termasuk kyai maupun ulama di

   dalamnya) untuk memberikan pemahaman yang baik tentang kandungan al-

   Qur’an yang menyangkut masalah pluralisme agama, jihad dan hubungannya

   dengan orang yang berlainan agama.

          Penanaman tentang humanisme Islam sangat penting disamping

   penanaman dasar-dasar ibadah dan keimanan.



                           DAFTAR PUSTAKA



Abdullah, M. Amin, Studi Agama: Normatif atau Historisitas ?, Yogyakarta:
        Pustaka Pelajar, 1996.

Al-Qur'an dan Terjemah. Depag, 1987

Al-Husniy, Fathu Al-Rahman, Surabaya: Maktabah Dahlan, tt.

An-Nawawy, Yahya lbn Syarif, Riyadhus Shalihin, Surabaya: A1-Hidayah. tt.

Al-Maliky, Syaikh Ahmad Al-Shawy, Hasyiah Al-'Allamah Al-Shawy 'Ala
        Tafsir AI-Jalalain, Surabaya: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyah, tt.

Al-Suyuti, Jalaluddin dan Jalaluddin A1-Mahalli, Tafsir Al-Qur'anul Adzim,
        Beirut: Dar Al- Fikr, tt.

________, Jalaluddin Abdul Rahman, Al-Jami’u Al-Shagir, Semarang: lhya’il
       Kutubil 'Arabiyah, tt.



                                   lxxvi
Amin, Ahmad, Fajr Al-Islam, Beirut: Dar Al-Fikr, cet. II, 1975.

A1-Syahrastani, Muhammad Abdul Karim, Al-Milal Wa Al-Nihal, Beirut: Dar
       A1-Fikr- tt.

Ali, Atabik dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Al-‘Ashriy Kamus Kontemporer
        Arab-Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1996.

Al-Gazzali, Muhammad, Islam Arab dan Yahudi Zionisme, Jakarta: Ghalia,
       Indonesia, 1970.

Arifin, Syamsul, Merambah Jalan Baru Dalam Beragama, Yogyakarta:
        ITTAQA Pers dan UMM, cet. I, 2000

Arkoun, Muhammad dan Louis Gardet, Islam Kemarin dan Hari Esok, Bandung:
        Pustaka, 1997.

Asy’arie, Musa, Filsajat Islam tentang Kebudayaan, Yogyakarta: LESFI, cet. 1,
        1999.

Azra. Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi Modernisasi Menuju Melinium
       Baru, Jakarta: Logos, cet. I, 1999.

Baalbaki, Rohi, Al-Mawrid Qomus Araby Injliz-Modern Arabic-English
        Dictionary, Beirut: Dar Al-Ilmi Lil Malayin, Tenth Edition 1997
Boisard, Marcel A, Humanisme dalam Islam, Jakarta: Bu1an Bintang, cet. 1,
        1980.

Editor : Anshari Thayib. dkk, HAM dan Pluralisme Agama, Jakarta : PSSK, cet.
         1, 1997

Editor : Andito, Atas Nama Agama, Bandung: Pustaka Hidayah, cet. I, 1998

Editor   : M. Nasir Tamara dan Elsa Peldi Taher, Agama dan Dialog Antar
         Peradaban, Jakarta: Paramadina, cet. I, 1996

Editor : Widodo Utsman dkk, Membongkar Mitos Masyarakat Madani,
        Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, 2000.

Editor : Musa Asy'arie dkk, Agama, Kebudavaan dan Pembangunan
        Menyongsong Era Industrialisasi, Yogyakarta: IAIN Sunan Kaiijaga
        Press, 1988.

Esposito I., John, Bahaya Hijau , Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, 1997.




                                      lxxvii
Fadjar, Abdullah, Peradaban dan Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, cet. I
         1991

Fromm, Erich, Akar Kekerasan: Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia,
       Yogyakarta: Pustaka Pelajar : cet. I, 2000.

Gandhi, Mahatma, Semua Manusia Bersaudara, Jakarta: Gramedia. 1998

Hidayat,     Komarudin, Memahami Bahasa Agama                 (Sebuah     Kajian
           Hermeeneutik),Jakarta: Paramadina, 1996

Imarah, Mushtafa Muhammad, Jawahir Al-Bukhari, Surabaya: Al-Hidayah,
        1371H.

Khatib, Ramayulis Tuangku, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, cet.I,
        1994.

Krishna, Anand, Islam Esoteris: Kemuliaan dan Keindahan, Jakarta: Gramedia,
        2000.

Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi
        Baru Islam Indonesia, Jakarta : Paramadina, cet. I, 1995

______, Masyarakat Religius, Jakarta: Paramadina, Jakarta, cet. I, 1997

Marsen, Martin H, Oxford Learner's Pocket Dictionary, Oxford University,
        Second Edition 1991
Makhluf, Hasanain Muhammad, Shofwatul Bayan Li Ma’anil Qur’an, Cairo:
        Darul Basya’ir, 1994

Mukoddimah, Jurnal Studi Islam dan lnformasi PTAIS No. 6. 1998.

Nawawi, Hadari, Pendidikan Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, cet. I, 1993

Nottingham, Elizabet K, Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi
        Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. VI, 1996.

Ofm,       Nico Syukur Dister, Pengalaman dan Motivasi Beragama, Yogyakarta:
           Kanisius, 1988

Pencarian Manusia Akan Allah, Watch Tower Bible And Tract Society of New
        York, INC. International Bible Students Association. Brooklyn. New
        York. U.S.A, 1990.

Rahardjo, M. Dawam, Ensiklopedi Al-Qur'an. Jakarta: Paramadina, cet. I, 1996.
Rahman, Fazlur, Tema Pokok Al-Qur'an, Bandung: Pustaka, cet. II, 1995

                                     lxxviii
Shihah, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan; cet. XI 1995.
______, Wawasan Al-Qur'an, Bandung : Mizan, Cet. III, 1996.
Sudja’ie. Ahmad, Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. Hasan Langgulung dalam
         Pemikiran Pendidikan lslam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999

Syafi'ie, Imam, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur'an, Yogyakarta: UII
          Pers, 1999

Tanja Victor. I, Plurafisme Agama Dan Problematika Sosial, Jakarta: CIDES
       1998.

Thouless. Robert H, Pengantar Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo
        Persada, cet. I, 1995

Tatsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam, Bandung: Rosda
         karya, 1992

Thaha. HM. Chahib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka
       Pelajar, 1996

Veeger, K.J., Realitas Sosial: Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu
        Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, Jakarta: Gramedia
        Pustaka Utama, 1993

Yusuf, Abdul Waduud, Tafsir A!-Mu'minim, Beirut: Dar aI-Fikr, tt.




                                     lxxix

								
To top