Docstoc

makalah plasenta previa

Document Sample
makalah plasenta previa Powered By Docstoc
					                                    Solusio Placenta

A. Definisi

   Solusio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang berimplantasi
   normal pada kehamilan di atas 22 minggu dan sebelum anak lahir

B. Nama lain solusio placenta

    1. Abruptio placentae

    2. Ablatio placentae

    3. Accidental haemorrhage

    4. Premature separation of the normally implanted placenta

C. Etiologi

   Penyebab utama dari solusio plasenta masih belum diketahui pasti. Meskipun demikian ada
   beberapa factor yang diduga mempengaruhi nya, antara lain :

   1. penyakit hipertensi menahun
   2. pre-eklampsia
   3. tali pusat yang pendek
   4. trauma
   5. tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior
   6. uterus yang sangat mengecil ( hidramnion pada waktu ketuban pecah, kehamilan ganda
       pada waktu anak pertama lahir )

   Di samping hal-hal di atas, ada juga pengaruh dari :

   1. umur lanjut
   2. multiparitas
   3. ketuban pecah sebelum waktunya
   4. defisiensi asam folat
   5. merokok, alcohol, kokain
   6. mioma uteri

D. Klasifikasi

   Secara klinis solusio plasenta dibagi dalam :

   1. solusio placenta ringan
   2. solusio placenta sedang
   3. solusio placenta berat

   Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tanda-tanda klinisnya, sesuai derajat terlepasnya placenta.
   Pada solusio placenta, darah dari tempat pelepasan mencari jalan keluar antara selaput janin
   dan dinding rahim dan akhirnya keluar dari serviks dan terjadilah solusio placenta dengan
   perdarahan keluar / tampak. Kadang-kadang darah tidak keluar tapi berkumpul di belakang
   placenta membentuk hematom retroplasenta. Perdarahan ini disebut perdarahan ke dalam/
   tersembunyi. Kadang- kadang darah masuk ke dalam ruang amnion sehingga perdarahan
   tetap tersembunyi.

E. Frekuensi

   Solusio plasenta terjadi kira-kira 1 di antara 50 persalinan. Di Rumah Sakit Dr Cipto
   Mangunkusumo antara tahun 1968-1971 solusio placenta terjadi kira-kira 2,1 % dari seluruh
   persalinan , yang terdiri dari : 14% solusio placenta sedang, 86 % solusio placenta berat.

F. Patologi

   Solusio placenta dimulai dengan perdarahan dalam desidua basalis, kemudian terjadi
   hematom dalam desidua yang mengangkat lapisan-lapisan di atasnya. Hematom ini makin
   lama makin besar sehingga placenta terdesak dan akhirnya terlepas. Jika perdarahan sedikit,
   hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan placenta, belum mengganggu
   peredaran darah antara uterus dan placenta, sehingga tanda dan gejalanya pun tidak jelas.
   Setelah placenta lahir baru didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan
   bekuan darah lama yang berwarna kehitaman.

   Perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang teregang oleh kehamilan
   itu tak mampu untuk berkontraksi lebih untuk menghentikan perdarahan. Akibatnya
   hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh
   placenta akan terlepas. Sebagian akan menyelundup di bawah selaput ketuban keluar dari
   vagina atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban, atau mengadakan
   ekstravasasi di antara serabut otot uterus. Bila ekstravasasi berlangsung hebat, maka seluruh
   permukaan uterus akan berbercak ungu atau biru, disebut uterus couvelaire. Uterus seperti ini
   sangat tegang dan nyeri.

   Akibat kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter, banyak romboplastin
   akan masuk ke dalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskuler
   dimana-mana, menyebabkan sebagian besar persediaan fibrinogen habis.

   Akibatnya, terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah pada
   uterus maupun alat-alat tubuh lainnya. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan
   pembekuan intravaskuler. Oliguria dan proteinuria akan terjadi akibat nekrosis tubuli ginjal
   mendadak yang masih dapat sembuh kembali, atau akibat nekrosis korteks ginjal mendadak
   yang biasanya berakibat fatal. Nasib janin tergantung dari luasnya placenta yang lepas.
   Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas, anoksia akan mengakibatkan kematian
   janin. Apabila sebagian kecil yang lepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali atau
   mengakibatakan gawat janin.

   Waktu adalah hal yang sangat menentukan dalam beratnya gangguan pembekuan darah,
   kelainan ginjal dan nasib janin. Makin lama sejak terjadinya solusio placenta sampai
   persalinan selesai, makin hebat komplikasinya.




G. Gejala klinis

    1. Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his.
        2. Anemi dan syok, beratnya anemi dan syok sering tidak sesuai dengan banyaknya darah
            yang keluar.

        3. Uterus keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi uterus bertambah dengan darah
            yang berkumpul di belakang placenta sehingga uterus teregang (uterus en bois).

       4. Palpasi sukar karena rahim keras.

       5. Fundus uteri makin lama makin naik.

       6. Bunyi jantung biasanya tidak ada.

       7. Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi uterus bertambah)

        8. Sering ada proteinuri karena disertai preeclampsia




    H. Diagnosis

        Diagnosis solusio plasenta didasarkan adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri,
        uterus yang tegang dan nyeri. Setelah plasenta lahir, ditemukan adanya impresi (cekungan)
        pada permukaan maternal plasenta akibat tekanan dari hematom retroplasenta.




    I. Gambaran klinik

 Solusio plasenta ringan

    Ruptura sinus marginalis sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu ataupun janinnya.
    Apabila terjadi perdarahan pervaginam, warnanya akan kehitaman dan jumlahnya sedikit sekali.
    Perut mungkin terasa agak sakit atau terus menerus agak tegang. Uterus yang agak tegang ini
    harus diawasi terus menerus apakah akan menjadi lebih tegang karena perdarahan terus menerus.
    Bagian bagian janin masih mudah teraba.
 Solusio plasenta sedang

    Plasenta telah lepas lebih dari seperempatnya tapi belum sampai duapertiga luas permukaannya.
    Tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan, atau mendadak
    dengan gejala sakit perut terus menerus, yang disusul dengan perdarahan pervaginam. Walaupun
    perdarahan pervaginam tampak sedikit, mungkin perdarahan telah mencapai 1000ml. Dinding
    uterus teraba tegang terus menerus dan nyeri tekan sehingga bagian-bagian janin sukar diraba.
    Bila janin masih hidup, bunyi jantungnya sukar didengar dengan stetoskop biasa, harus dengan
    stetoskop ultrasonic. Tanda-tanda persalinan biasanya telah ada dan akan selesai dalam waktu 2
    jam. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah terjadi, walaupun biasanya
    terjadi pada solusio plasenta berat.

 Solusio plasenta berat.

    Plasenta telah lepas lebih dari duapertiga permukaannya. Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu
    telah jatuh dalam syok dan janin telah meninggal. Uterus sangat tegang seperti papan, sangat
    nyeri, perdarahan pervaginam tidak sesuai dengan keadaan syok ibu, malahan mungkin ,
    perdarahan pervaginam belum sempat terjadi. Besar kemungkinan telah terjadi kelainan
    pembekuan darah dan kelainan ginjal.

    J. Komplikasi

        Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan lamanya
        solusio plasenta berlangsung. Komplikasinya antara lain :

    1. Perdarahan

    Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah,
    kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan
    ketuban dan pemberian infus dengan oksitosin. Bila persalinan telah selesai, penderita belum
    bebas dari bahaya perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk
    menghentikan perdarahan pada kala 3, dan kelainan pembekuan darah. Kontraksi uterus yang
    tidak kuat itu disebabkan oleh ekstravasasi darah diantara otot-otot miometrium, seperti yang
terjadi pada uterus couvelaire. Apabila perdarahan postpartum itu tidak dapat diatasi dengan
kompresi bimanual uterus, pemberian uterotonika, maupun pengobatan kelainan pembekuan
darah, maka tindakan terakhir adalah histerektomia atau pengikatan arteri hipogastrika.

2. Kelainan pembekuan darah.

Kelainan pembekuan darah biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemi. Page (1951) dan
Schneider (1955) menerangkan dengan masuknya tromboplastin ke dalam peredaran darah ibu
akibat terjadinya pembekuan darah retroplasenta, sehingga terjadi pembekuan darah
intravascular dimana-mana, yang akan menghabiskan faktor-faktor pembekuan darah lainnya,
terutama fibrinogen. Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bulan ialah
450mg% , berkisar antara 300-700mg% dalam 100cc. Di bawah 150mg per 100cc disebut
hipofibrinogenemi. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah dari 100mg% per 100cc, akan terjadi
gangguan pembekuan darah.

       Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan
       pemeriksaan secara laboratorium.

        Penentuan kuantitatif kadar fibrinogen


        Pengamatan pembekuan darah untuk menentukan :

           o Waktu pembekuan darah

           o Besarnya dan kemantapan bekuan darah

           o Adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah

           o Adanya fibrinolisin dalam peredaran darah


        Hitung trombosit


        Penentuan waktu protrombin

        Penentuan waktu tromboplastin
       Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama. Oleh karena itu
       untuk keadaan akut baik dilakukan clot observation test,dengan cara:

               Kira-kira 5ml darah ibu dimasukkan ke dalam tabung reaksi berukuran 15 ml,
               kemudian digoyang perlahan-lahan setiap semenit sekali. Apabila dalam 6 menit
               tidak terjadi bekuan, ataupun terjadi bekuan tapi bentuknya tidak padat dan
               mencair 1 jam kemudian, hal itu menunjukkan adanya kelainan pembekuan darah.

       Besar bekuannya abnormal bila hanya menempati kurang dari 35-45% dari volume darah
       semula, dan kemantapannya abnormal apabila bekuannya tidak tahan kocokan beberapa
       kali setelah setengah jam.

       Waktu pembekuan seperti diperiksa pengamatan pembekuan darah itu menunjukkan kira-
       kira kadar fibrinogen darahnya. Apabila waktu pembekuannya kurang dari 6 menit, kadar
       fibrinogen darahnya kira-kira lebih dari 150mg%. Apabila waktu pembekuannya lebih
       dari 6 menit dan bekuannya kurang baik, kadar fibrinogen darahnya kira-kira 100-
       150mg%. Apabila tidak terbentuk bekuan dalam waktu 30 menit, kadar fibrinogen
       darahnya mungkin lebih rendah dari 100mg%.



Terjadinya hipofibrinogenemi :

Biasanya koagulopati terjadi dalam 2 fase yaitu :

               Fase 1: Pada pembuluh darah terminal (arteriol, kapiler, venol) terjadi
               pembekuan       darah,     disebut    disseminated     intravascular      clotting.
               Akibatnya peredaran darah kapiler terganggu. Jadi, pada fase 1 turunnya

               kadar fibrinogen disebabkan pemakaian zat tersebut maka fase 1 disebut

               juga koagulopati konsumtif.

Diduga bahwa hematom retroplasenta mengeluarkan tromboplastin yang
                 menyebabkan pembekuan intravascular tersebut. Akibat gangguan

                 mikrosirkulasi, terjadi kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting

                 karena hipoksia. Kerusakan ginjal menyebabkan oliguri / anuri dan akibat

                 gangguan mikrosirkulasi ialah syok.

Fase 2: Fase ini sebetulnya fase regulasi reparative ialah usaha badan untuk membuka kembali
peredaran darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolisis. Fibrinolisis
yang berlebihan,akan menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis.

   3. Oliguria

       Pada tahap oliguria, keadaan umum penderita biasanya masih baik. Oleh karena itu,
       oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran urin yang harus
       secara rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang, dan solusio plasenta berat, apalagi
       yang disertai perdarahan tersembunyi, pre eklampsia, atau hipertensi menahun.

       Terjadinya oliguria belum dapat diterangkan dengan jelas. Mungkin berhubungan dengan
       hipovolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak.
       Adapula yang menerangkan bahwa tekanan intrauterin yang tinggi menimbulkan reflex
       penyempitan pembuluh darah ginjal. Kelainan pembekuan darah berperan pula dalam
       terjadinya kelainan fungsi ginjal ini.

   4. Gawat janin

       Jarang kasus solusio plasenta datang dengan janin yang masih hidup. Kalaupun masih
       hidup,biasanya keadaannya sudah sedemikian gawat, kecuali pada kasus solusio plasenta
       ringan.
K. Penanganan solusio plasenta

    Solusio plasenta ringan

      Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu, perdarahannya kemudian berhenti,
      perutnya tidak menjadi sakit, uterusnya tidak menjadi tegang maka penderita dapat
      dirawat secara konservatif di rumah sakit dengan observasi ketat.

    Solusio plasenta sedang dan berat

      Apabila perdarahannya berlangsung terus, dan gejala solusio plasenta bertambah jelas,
      atau dalam pemantauan USG daerah solusio plasenta bertambah luas, maka pengakhiran
      kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. Apabila janin hidup, dilakukan sectio caesaria.
      Sectio caesaria dilakukan bila serviks panjang dan tertutup, setelah pemecahan ketuban
      dan pemberian oksitosin dalam 2 jam belum juga ada his. Apabila janin mati, ketuban
      segera dipecahkan untuk mengurangi regangan dinding uterus disusul dengan pemberian
      infuse oksitosin 5 iu dalam 500cc glukosa 5% untuk mempercepat persalinan.

      Pengobatan :

      - Umum :

          a. Transfusi darah.

              Transfusi darah harus segera diberikan tidak peduli bagaimana keadaan umum
              penderita waktu itu. Karena jika diagnosis solusio placenta dapat ditegakkan itu
              berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000ml.

          b. Pemberian O2

          c. Pemberian antibiotik.

          d. Pada syok yang berat diberi kortikosteroid dalam dosis tinggi.

      - Khusus :
           a. Terhadap hipofibrinogenemi : substitusi dengan human fibrinogen 10

gr atau darah segar dan menghentikan fibrinolisis dengan trasylol

(proteinase inhibitor) 200.000 iu diberikan IV, selanjutnya jika perlu

100.000 iu / jam dalam infus. Pemberian 1 gram fibrinogen akan

meningkatkan kadar fibrinogen darah 40 mg%.

               Jadi apabila kadar fibrinogen sangat rendah atau tidak ada sama sekali, diperlukan
               sekurangnya 4 gram fibrinogen untuk menaikkan di atas kadar kritis fibrinogen
               darah 150mg%.

               Biasanya diperlukan 4-6 gram fibrinogen yang dilarutkan dalam glucosa 10%,
               diberikan IV perlahan-lahan selama 15-30 menit. Apabila tidak ada fibrinogen,
               transfusikan darah segar yang mengandung kira-kira 2 gram fibrinogen per
               1000ml.Sehingga dengan transfusi darah lebih dari 2000ml, kekurangan
               fibrinogen dalam darah dapat diatasi.

           b. Untuk merangsang diuresis : manitol, diuresis yang baik lebih dari

       30-40cc/jam.

           c. Pimpinan persalinan pada solusio plasenta bertujuan untuk mempercepat persalinan
               sedapat-dapatnya kelahiran terjadi dalam 6 jam. Apabila persalinan tidak selesai
               atau diharapkan tidak akan selesai dalam waktu 6 jam setelah pemecahan selaput
               ketuban dan infus oksitosin , satu-satunya cara adalah dengan melakukan sectio
               caesaria.

           d. Histerektomi dilakukan bila ada atonia uteri yang berat yang tidak dapat

           diatasi dengan usaha-usaha yang lazim.

Alasan :
               - Bagian placenta yang terlepas meluas

               - Perdarahan bertambah

               - Hipofibrinogenemi menjelma atau bertambah

L. Prognosis

   Prognosis ibu tergantung dari luasnya placenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya
   perdarahan, derajat kelainan pembekuan darah, ada tidaknya hipertensi menahun atau pre
   eklampsia, tersembunyi tidaknya perdarahannya dan jarak waktu antara terjadinya solusio
   placenta sampai pengosongan uterus.

   Prognosis janin pada solusio placenta berat hampir 100% mengalami kematian. Pada solusio
   placenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya placenta yang terlepas
   dari dinding uterus dan tuanya kehamilan. Perdarahan yang lebih dari 2000ml biasanya
   menyebabkan kematian janin.Pada kasus solusio placenta tertentu sectio caesaria dapat
   mengurangi angka kematian janin. Persediaan darah secukupnya akan sangat membantu
   memperbaiki prognosis ibu dan janinnya.
                                         Plasenta previa
Fungsi plasenta

          Sebagai alat yang memberi makanan pada janin.

          Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme.

          Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2.

          Sebagai alat pembentuk hormone.

          Sebagai alat penyalur perbagai antibody ke janin.

Definisi

          Definisi plesenta Previa adalah Plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah
           uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir”. (Wiknjosostro,
           2005)

Macam macam

          Plasenta Previa otalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta

          Plasenta Previa Parsialis, apabila sebahagian pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta

          Plasenta Previa Marginalis, apabila pinggir Plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan.

          Plasenta Letak Rendah, Plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus tetapi
           belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir

Etiologi

          1. Multiparitas dan umur lanjut ( >/ = 35 tahun).

          2. Defek vaskularisasi desidua yang kemungkinan terjadi akibat perubahan atrofik dan
           inflamatorotik.

          3. Cacat atau jaringan parut pada endometrium oleh bekas pembedahan (SC, Kuret, dll).

          4. Chorion leave persisten.

          5. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.

          6. Konsepsi dan nidasi terlambat.

7. Plasenta besar pada hamil ganda dan eritoblastosis atau hidrops fetalis
Gejala klinis

       Gejala utama plasenta previa adalah pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya
        berulang darah biasanya berwarna merah segar.

       b. Bagian terdepan janin tinggi (floating). sering dijumpai kelainan letak janin.

       c. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila
        dilakukan periksa dalam sebelumnya, sehingga pasien sempat dikirim ke rumah sakit. Tetapi
        perdarahan berikutnya (reccurent bleeding) biasanya lebih banyak.

       d. Janin biasanya masih baik.

Pemeriksaan

       Pemeriksaan in spekulo Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari
        ostium uteri eksternum atau dari kelainan cervix dan vagina. Apabila perdarahan berasal dari
        ostium uteri eksternum, adanya plasenta harus dicurigai.

       3. Penentuan letak plasenta tidak langsung

       Dapat dilakukan dengan radiografi, radio sotop dan ultrasonografi. Akan tetapi pada
        pemerikasaan radiografi clan radiosotop, ibu dan janin dihadapkan pada bahaya radiasi sehingga
        cara ini ditinggalkan. Sedangkan USG tidak menimbulkan bahaya radiasi dan rasa nyeri dan cara
        ini dianggap sangat tepat untuk menentukan letak plasenta.

       4. Penentuan letak plasenta secara langsung

       Pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perdarahan banyak. Pemeriksaan
        harus dilakukan di meja operasi. Perabaan forniks. Mulai dari forniks posterior, apa ada teraba
        tahanan lunak (bantalan) antara bagian terdepan janin dan jari kita. Pemeriksaan melalui kanalis
        servikalis. Jari di masukkan hati-hati kedalam OUI untuk meraba adanya jaringan

Penanganan

                                  Penanganan Ekspektif

       Kriteria : - Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

       - Perdarahan sedikit

       - Belum ada tanda-tanda persalinan

       - Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih.

       Rencana Penanganan :

       1. Istirahat baring mutlak.
      2. Infus D 5% dan elektrolit

      3. Spasmolitik. tokolitik, plasentotrofik, roboransia.

      4. Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah.

      5. Pemeriksaan USG.

      6. Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung janin.

      7. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai
       kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif

      Penanganan aktif

      Kriteria

      • umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram.

      • Perdarahan banyak 500 cc atau lebih.

      • Ada tanda-tanda persalinan.

      • Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%.

      Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum, dilakukan pemeriksaan
       dalam kamar operasi, infusi transfusi darah terpasang.

      Indikasi Seksio Sesarea :

                 1. Plasenta previa totalis.

                 2. Plasenta previa pada primigravida.

                 3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang

                 4. Anak berharga dan fetal distres

                 5. Plasenta previa lateralis jika :

                 • Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.

                 • Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.

                 • Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

                 6. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.

Komplikasi
      1. Perdarahan dan syok.

      2. Infeksi.

      3. Laserasi serviks.

      4. Plasenta akreta.

      5. Prematuritas atau lahir mati.




       Perlindungan wanita hamil melalui HAM




Tujuan mempelajari tentang HAM tentang perlindungan bagi wanita

      Menguraikan HAM yang berhubungan dengan wanita

      Menjelaskan upaya pemerintah yang di butuhkan untuk memperomosikan tentang
       penyelamatan wanita dalam HAM

      Mendiskripsikan bagaimana seorang tenaga kesehatan mampu meningkatkan HAM untuk
       pendekatan penyelamatan ibu

Pendahuluan

      Akhir -akhir ini banyak HAM memperkenalkan di dalam institusi national , regional , dan
       internasional yang sudah menerapkan penyelamtan bagi seorang ibu, hal ini berdasarkan
       deklarasi HAM secara menyeluruh pada tahun 1948, walaupun deklarasi itu tidak sampai legal,
       tetapi keputusan itu banyak di terima oleh semua orang.

HAM yang berhubungan dengan penyelamatan ibu

       Ada beberapa kategori yang termasuk dalam HAM bagi penyelamatan wanita

       Kategori HAM bagi ibu hamil diantaranya ;
       Pemerintah memberikan fasilitas bagi wanita hamil, pemerintah memperhatikan factor sistem
        ekonomi , social,hukum, kesehatan, sebagai kebutuhan dasar bagi wanita.

       Hubungan dasar keluarga, kehidupan keluarga, dan pelayanan yang lain yang di butuhkan oleh
         keluarga demia kenyamanan seorang ibu.
       .Pemenuhan pemerintah dalam menyediakan akses yang memadahi dalam reproduksi yang
         berkualitas, keperawatan kesehatan reproduksi, termasuk mengutamakan system kebebasan



Menciptakan hubungan yang baik dan tidak melakukan sikap diskriminatif terhadap wanita

Untuk mempromosikan hal itu pemerintah menggunakan cara;

       Membentuk kembali hukum bagi wanita

       Melaksanakan hukum itu

       Mengaplikasikan ke dalam HAM

Pencapaian HAM bagi keselamtan wanita

    Bekerja untuk saling menghormati bersama

    peningkatan tentang pemahaman hukum

    Mengemukakan HAM bagi wanita

    Keberaniandari lembaga pemerintah, untuk menghormati, melindungi,memenuhi HAM dalam
     menyelamtakan wanita

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:16
posted:3/16/2013
language:Indonesian
pages:16