faktor-faktor mempengaruhi perilaku lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia by zuperbayu

VIEWS: 76 PAGES: 12

									                                        BAB I

                                 PENDAHULUAN




A. Latar Belakang

        Seiring dengan meningkatnya kualitas pelayanan sosial dan kesehatan populasi

   lanjut usia (Lansia) meningkat signifikan di berbagai negara. Di seluruh Asia,

   diperkirakan bahwa jumlah lansia akan meningkat 31,4% dari 207 juta di tahun 2000

   menjadi 857 juta di tahun 2050 (WHO, 2001). Meningkatnya jumlah lansia di Asia

   tersebut melatarbelakangi pelaksanaan Jakarta Forum on Social Protection Citizen in

   Indonesia and ASEAN Country. Penanganan lansia di ASEAN harus disiapkan sejak

   sekarang agar tidak menjadi beban dimasa mendatang.

        Negara Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk terpadat ke 4 di

   dunia. Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa pada tahun 2000, 7,5%

   atau 15 juta jiwa adalah penduduk lansia. Berdasarkan proyeksi Biro Pusat Statistik

   (BPS), pada tahun 2005-2010 jumlah penduduk lanjut usia akan sama dengan jumlah

   balita, yaitu 8,5% dari jumlah penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Menurut Supas (2005)

   secara umum, tingkat kesehatan masyarakat Indonesia terkait erat dengan meningkatnya

   usia harapan hidup (UHH). Pada tahun 2004, UHH penduduk Indonesia adalah 66,2

   tahun, kemudian meningkat menjadi 69,4 tahun pada tahun 2006. Diperkirakan pada

   tahun 2020 jumlah lansia akan mencapai 29 juta orang atau 11% dari total populasi

   (Subagio,2008).

        Meningkatnya usia harapan hidup (UHH) dapat memberikan suatu gambaran

   kesehatan yang merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang

   sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu kesehatan perlu
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah telah

mencanangkan visi Indonesia sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa

depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu

menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil, merata, serta memiliki derajat

kesehatan yang setinggi tingginya (Astuti, 2005). Dalam visi indonesia sehat ini

mencakup seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali para lansia. Tidak berbeda dengan

visi diatas, pada dasarnya teori geriatri/gerontologi juga mempunyai tujuan yang sama

dalam membantu lansia menuju proses menua dalam mewujudkan healthy aging. Menua

adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk

memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak

dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menurut

Nugroho (2000) proses menua adalah proses terus menerus (berlanjut) secara ilmiah,

dimulai sejak lahir dan umumnya dialami oleh semua mahluk hidup. Proses menua yang

terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui empat tahap yaitu, kelemahan

(impairment),   keterbatasan   fungsional   (functional   limitations),   ketidakmampuan

(disability) dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses

kemunduran.



     Bentuk pelayanan keperawatan terhadap lansia menggunakan metode pendekatan

secara Bio-Psiko-Sosio-Spiritual. Dari pendekatan biologis / pendekatan fisik dilakukan

dengan cara memperhatikan kesehatan secara objektif, kebutuhan lansia, perubahan fisik

pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, serta

penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresifnya. Kemunduran fisik akibat proses

penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau infeksi dari luar.

Tindakan dilakukan tidak harus selalu menunggu adanya keluhan dari lansia, karena tidak
jarang lansia menghindari kontak yang terlalu sering dengan tenaga kesehatan. Hal itu

dapat diantisipasi dengan pengamatan yang cermat terhadap kondisi lansia. Pendekatan

fisik ini lebih ditekankan untuk pemenuhan dasar lansia. Pada pendekatan psikis, perawat

memiliki peran penting untuk mengadakan pendekatan edukatif dan juga berperan

sebagai pemberi semangat, dapat juga sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai

sahabat yang akrab karena lansia sangat membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari

lingkungan. Sedangkan pada pendekatan sosial perawat bisa mengajak lansia berdiskusi,

tukar pikiran dan bercerita yang merupakan upaya untuk melakukan pendekatan sosial.

Selain itu perawat juga bisa memberi kesempatan untuk berkumpul bersama sesama

lansia yang berarti menciptakan sosialisasi mereka. Lansia juga harus diberi kesempatan

mengadakan komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar seperti mendengar berita dan

rekreasi. Sedangkan pada pendekatan spiritual bertujuan untuk memberikan ketenangan

dan kepuasan batin dalam berhubungan dengan Tuhan. Pada pendekatan spiritual ini

setiap lansia akan menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi peristiwa

kematian dan perawat bisa memberikan dukungan pada lansia dalam menghadapi

kematian.

     Untuk memenuhi pelayanan secara holistik dibutuhkan dukungan dari keluarga dan

masyarakat. Di Indonesia kebanyakan para lansia tinggal bersama keluarganya (anak).

Keluarga menghendaki lansia tinggal bersama agar dapat dirawat oleh keluarga, hal ini

memberi manfaat bagi kedua belah pihak sehingga lansia dapat merasakan kedamaian

berada di tengah-tengah keluarga. Sedangkan keluarga dapat memetik manfaat kepuasan

batin dalam memberikan pengabdian, balas budi dan membahagiakan orang tua. Cara ini

sesuai dengan agama, maupun budaya yang mengikat mereka. Permasalahan bagi lansia

adalah permasalahan kesehatan, oleh karena itu peran keluarga sangat diperlukan sebagai

bentuk dukungan bagi lansia terutama dalam memeriksakan kesehatan secara rutin ke
Posyandu Lansia. Sedangkan dukungan dari masyarakat terhadap lansia adalah agar

lansia tetap menjadi bagian dari masyarakat. Dimana masyarakat harus memperlakukan

lansia dengan wajar dan memberikan ruang gerak dalam kehidupan bersama dalam

bermasyarakat serta diberi kesempatan untuk mensosialisasikan ilmu dan pengalamannya.

     Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini,

pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang.

Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu Lansia, pelayanan kesehatan

lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah

Rumah Sakit. Tingginya peran keluarga dan masyarakat dalam perawatan lansia serta

adanya pergeseran pelayanan kesehatan di rumah sakit ke pelayanan di komunitas,

memberi tantangan tersendiri kepada perawat dalam rangka memberikan pelayanan yang

komprehensif kepada lansia. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan telah

merumuskan berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang dapat menunjang derajat

kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia. Program pokok kesehatan menanamkan pola

hidup sehat dengan lebih memprioritaskan upaya pencegahan penyakit (preventif : pada

upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan terhadap

kesehatan lansia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan kesehatan secara

berkala ke posyandu lansia, puskesmas maupun kunjungan rumah) dan peningkatan

kesehatan (promotif : pada upaya promotif ini dilakukan untuk meningkatkan kesehatan

lansia diantaranya dengan memberikan penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi lansia,

kesegaran jasmani lansia dan pemeliharan kesehatan perorangan maupun lingkungan

lansia), tanpa mengabaikan upaya pengobatan (kuratif : pada upaya kuratif dilakukan

untuk merawat dan mengobati lansia yang menderita penyakit atau masalah kesehatan

melalui kegiatan perawatan lansia dirumah, maupun perawatan lansia sebagai tindak

lanjut perawatan dari puskesmas dan rumah sakit) dan rehabilitatif       (pada upaya
rehabilitatif dilakukan upaya pemulihan kesehatan bagi lansia yang dirawat dirumah salah

satu diantaranya dengan latihan fisik bagi lansia oleh kader-kader yang terlatih dengan

melibatkan peran serta keluarga untuk membantu lansia). Namun dalam penelitian ini

lebih menekankan pada pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.

     Bentuk pelayanan kesehatan di masyarakat adalah Posyandu Lansia. Posyandu

adalah fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang didirikan di desa-desa kecil yang

tidak terjangkau oleh rumah sakit atau klinik. Tujuan program Posyandu Lansia adalah

memberdayakan kelompok lansia sehingga mereka mampu untuk menolong dirinya

sendiri dalam mengatasi masalah kesehatannya serta dapat menyumbangkan tenaga dan

kemampuannya untuk kepentingan keluarga dan masyarakat. Menurut Ismuningrum

(2007) kegiatan-kegiatan dalam Posyandu Lansia akan dikembangkan lebih bersifat

mempertahankan derajat kesehatan, meningkatkan daya ingat, meningkatkan rasa percaya

diri dan kebugaran lansia. Menurut Azwar, (2007) saat ini setiap Puskesmas memiliki

Posyandu Lansia yang bertugas memberikan pelayanan berupa pemeriksaan, pengobatan,

melakukan olah raga sehat agar tetap mempertahankan derajat kesehatannya. Selain itu

juga untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia dibutuhkan sarana dan

prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka), meja

dan kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukuran

tinggi badan, stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer dan

Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia.

     Keperawatan sebagai bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan nasional turut

serta ambil bagian dalam mengantisipasi peningkatan jumlah populasi lansia dengan

menitik beratkan pada penanganan di bidang kesehatan dan keperawatan. Dalam hal ini

penting kiranya diketahui informasi mengenai tingkat kesehatan dan tingkat

ketergantungan lansia di masyarakat. Menurut Suyase (2007) spesialiasasi keperawatan
ini terkait dengan mengkaji status kesehatan dan fungsional lansia, merencanakan dan

melaksanakan perawatan dan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan-

kebutuhan yang diidentifikasi serta mengevaluasi keberhasilan perawatan. Menurut

Suyase (2007) tujuan utama perawatan lansia di masyarakat adalah memanfaatkan potensi

dan daya dukung yang ada baik di individu, di keluarga, maupun di masyarakat untuk

meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup lansia.

     Pada saat menua biasanya akan timbul masalah kesehatan, sosial dan beban

perekonomian baik pada lansia maupun pemerintah, karena bila lansia yang sakit cukup

banyak maka dibutuhkan dana yang tidak sedikit baik untuk terapi maupun

rehabilitasinya. Oleh karena itu dengan didirikannya Posyandu Lansia oleh pemerintah

diharapkan dapat memberikan suatu keuntungan bagi lansia dimana pelayanan kesehatan

ini bersifat rutin, murah, cepat dan mudah, sedangkan pelayanan bagi para lansia yang

tergolong miskin diupayakan untuk dapat diberikan secara gratis melalui prosedur yang

berlaku. Selain itu bila para lansia mengikuti kegiatan Posyandu Lansia akan memberikan

manfaat secara psikologis dimana lansia akan merasa terhibur dengan berkumpul bersama

teman-teman sebayanya sehingga dapat berbagi cerita tentang nostalgia masa lalu dan

lansia juga merasa dipedulikan keberadaannya.

     Berdasarkan penelitian terkait yang dilakukan Suwarsono (2003) tentang “Perilaku

Lansia Dalam Kepesertaan Posyandu Lansia Didusun Klowok Lor Desa Kempoko

Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung“. Bahwa perilaku manusia dalam

pelaksanaan posyandu lansia didusun Klowok Lor belum berjalan sesuai "Sistim lima

meja", kegiatan Posyandu Lansia lebih banyak sebagai "Pos Pengobatan" karena

keterbatasan sarana dan prasarana terutama fasilitas untuk laboratorium sederhana, dan

belum adanya petugas laboratorium serta belum terampilnya kader yang ada. Mengenai

kehadiran, keaktifan, keikutsertaan dan motifasi lansia untuk datang ke Posyandu sudah
dapat dikatakan baik hal ini diketahui setiap ada pelaksanaan Posyandu banyak lansia

yang hadir yaitu rata-rata 66%. Namun masih ada beberapa lansia, yaitu 5-15 orang

(34%) sebagai pengguna posyandu yang belum secara teratur aktif datang ke posyandu,

dimana hal ini disebabkan karena sering lupa jadwal bila ada pelaksanaan Posyandu

setiap bulannya dan adanya kesibukan bekerja diladang atau disawah. Lansia sebagai

pengguna Posyandu merasa sangat membutuhkan keberadaan Posyandu karena pelayanan

di Posyandu dirasa sangat murah dan menolong bagi golongan ekonomi menengah ke

bawah, hal ini juga mendapat dukungan dari keluarga, kader kesehatan, dan tokoh

masyarakat setempat. Tentunya semua ini bisa terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh

Putri (2008) tentang “ Aplikasi Teori Snehandu b. Karr (perilaku) Terhadap Keaktifan

Kunjungan Lansia ke Posyandu Lansia Studi di 5 Posyandu Lansia Puskesmas Jagir Kota

Surabaya”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat, dukungan sosial serta kondisi dan

situasi dianggap sebagai faktor penentu perilaku keaktifan kunjungan lansia ke posyandu

lansia. Wawancara dilaksanakan pada 80 responden dan didapatkan hasil kesimpulan

yang dapat ditarik adalah niat, dukungan kader kesehatan serta kondisi dan situasi

berhubungan dengan keaktifan kunjungan lansia ke posyandu lansia. Sedangkan

dukungan dari tokoh masyarakat, kelompok sebaya dan keluarga tidak berhubungan

dengan keaktifan kunjungan lansia ke Posyandu Lansia. Disarankan kepada masyarakat

terutama keluarga yang memiliki lansia hendaknya memberikan perhatian dan dukungan

terhadap aktivitas lansia di luar rumah khususnya kegiatan Posyandu Lansia.

     Posyandu lansia di RW 05 Kelurahan Pangkalan Jati Baru Depok ini berdiri pada

awal Januari tahun 2008 dengan jumlah lansia yang terdata sebanyak 327 orang. Sejak

pertama berdiri jumlah kunjungan lansia ke Posyandu Lansia cenderung mengalami

penurunan. Data ini dapat dilihat dari 6 bulan pertama Posyandu Lansia ini berdiri dimana

pada bulan Januari 2008 jumlah kunjungan sebanyak 53 orang, bulan Februari 2008
sebanyak 54 orang, bulan Maret 2008 sebanyak 47 orang, bulan April 2008 sebanyak 47

orang, bulan Mei 2008 sebanyak 35 orang dan pada bulan juni 2008 sedikit meningkat

sebanyak 46 orang. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti di RW 05

Pangkalan Jati Baru Depok didapatkan data bahwa dari 10 orang lansia yang

diwawancarai 8 orang lansia (2,15%) diantaranya tidak pernah melakukan kunjungan ke

Posyandu Lansia sejak pertama kali Posyandu Lansia ini didirikan. Adapun alasan yang

mereka utarakan diantaranya adalah saat jadwal dilaksanakannya Posyandu Lansia

sebagian para lansia ada yang harus menjaga cucunya sehingga tidak bisa berkunjung ke

Posyandu lansia, jarak tempat tinggal dengan Posyandu lansia terlalu jauh, kurangnya

informasi mengenai Posyandu Lansia, tidak adanya dukungan dari anggota keluarga

lansia dan adanya rasa malas lansia untuk berkunjung ke Posyandu Lansia. Seharusnya

Posyandu Lansia dengan berbagai programnya yang mulia tersebut dapat banyak

memberikan manfaat bagi para lansia di wilayahnya. Namun data menunjukkan bahwa

pemanfaatan Posyandu Lansia sangat rendah, hanya sekitar 22,6% saja (Depkes RI).

Berdasarkan penelitian terkait diatas ada suatu perbedaan mengenai perilaku lansia untuk

melakukan kunjungan ke Posyandu Lansia yang berada di Kota Depok, menurut

penelitian Roslianti (2009) hasil yang didapat adalah lansia yang aktif ke Posyandu

Lansia hanya 4 % dari keseluruhan lansia. Sedangkan kota depok merupakan salah satu

kota yang menjalankan program Posyandu Lansia. Jumlah lansia yang ada di Kota Depok

tahun 2005 adalah 130.190 jiwa dari 1.374.522 jiwa seluruh penduduk Kota Depok atau

sebesar 9,94 % dari seluruh jumlah penduduk Kota Depok. Menurut Dinas Kesehatan

Kota Depok (2005), jumlah Posyandu Lansia yang ada di Kota Depok sebanyak 189

Posyandu Lansia yang tersebar di 6 kecamatan dan salah satunya berada di kecamatan

Pangkalan Jati Baru. Rendahnya pemanfaatan ini disebabkan banyak faktor salah satunya

adalah perilaku.
     Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan

dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.

Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas

manusia, baik yang diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

Semua ini tidak lepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku manusia,

dimana faktor-faktor tersebut menurut Green ditentukan oleh 3 faktor utama yaitu : faktor

predisposisi (predisposing factor), faktor pemungkin (Enabling) dan faktor penguat

(reinforcing factor). Sedangkan Menurut penelitian Rogers (di dalam Notoatmodjo, 2003)

mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang

tersebut terjadi proses berurutan yakni : kesadaran (awareness), tertarik (interest),

evaluasi (evaluation), mencoba (trial) dan menerima (Adoption). Sedangkan proses akhir

dari perilaku seseorang dapat dibagi menjadi dua jenis perilaku, menurut Notoatmodjo

(2003) dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus, maka perilaku dapat dibedakan

menjadi perilaku tertutup (convert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior).

Dalam hal kunjungan ke Posyandu Lansia maka dapat digambarkan sebagai berikut,

apabila bentuk perilaku lansia yang ditunjukan terbuka maka akan terjadi kunjungan

lansia ke Posyandu Lansia dan apabila perilaku lansia tertutup maka tidak terjadi

kunjungan lansia ke Posyandu Lansia. Adapun dampak yang bisa terjadi pada lansia yang

tidak mau memanfaatkan Posyandu Lansia ini diantaranya kesehatan lansia tidak

terpantau dengan baik, menurunnya jumlah kunjungan lansia ke Posyandu Lansia dan

angka kesakitan pada lansia menjadi meningkat.

     Di sini peneliti dapat menyimpulkan bahwa kurangnya minat kunjungan para lansia

ke Posyandu Lansia di Kota Depok khususnya di Pangkalan Jati Baru ini salah satunya

adalah perilaku lansia itu sendiri.Terkait dengan uraian latar belakang tersebut penulis

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ”Fakto-faktor yang berhubungan dengan
  perilaku lansia dalam melakukan kunjungan posyandu lansia di Rw 05 Pangkalan Jati

  Baru Depok”.



B. Perumusan Masalah

       Negara Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk terpadat ke 4 di

  dunia. Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa pada tahun 2000, 7,5%

  atau 15 juta jiwa adalah penduduk lansia. Berdasarkan proyeksi Biro Pusat Statistik

  (BPS), pada tahun 2005-2010 jumlah penduduk lanjut usia akan sama dengan jumlah

  balita, yaitu 8,5% dari jumlah penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Menurut Supas (2005)

  secara umum, tingkat kesehatan masyarakat Indonesia terkait erat dengan meningkatnya

  usia harapan hidup (UHH). Pada tahun 2004, UHH penduduk Indonesia adalah 66,2

  tahun, kemudian meningkat menjadi 69,4 tahun pada tahun 2006. Diperkirakan pada

  tahun 2020 jumlah lansia akan mencapai 29 juta atau 11% dari total populasi.

       Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti di RW 05 Pangkalan Jati

  Baru Depok didapatkan data bahwa dari 10 orang lansia yang diwawancarai 8 orang

  lansia (2,15%) diantaranya tidak pernah melakukan kunjungan ke posyandu lansia sejak

  pertama kali Posyandu Lansia ini didirikan. Posyandu Lansia dengan berbagai

  programnya yang mulia tersebut sudah seharusnya banyak memberikan manfaat bagi para

  orang tua di wilayahnya. Namun data menunjukkan bahwa pemanfaatan Posyandu Lansia

  sangat rendah, hanya sekitar 22,6% saja (Depkes RI) sedangkan menurut penelitian

  Roslianti (2009) di kota Depok hasil yang didapat adalah lansia yang aktif ke posyandu

  lansia hanya 4 % dari keseluruhan lansia yang ada, rendahnya pemanfaatan ini

  disebabkan banyak faktor salah satunya adalah perilaku.

        Apabila bentuk perilaku lansia yang ditunjukan terbuka maka akan terjadi

  kunjungan lansia ke Posyandu Lansia dan apabila perilaku lansia tertutup maka tidak

  terjadi kunjungan lansia ke Posyandu Lansia (Notoatmodjo, 2003). Adapun dampak yang
   bisa terjadi pada lansia yang tidak mau memanfaatkan Posyandu Lansia ini diantaranya

   kesehatan lansia tidak terpantau dengan baik, menurunnya jumlah kunjungan lansia ke

   Posyandu Lansia dan angka kesakitan pada lansia menjadi meningkat.

        Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka rumusan permasalahan ini

   adalah ”Apakah ada hubungan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku lansia

   dalam melakukan kunjungan ke Posyandu Lansia di Rw 05 Pangkalan Jati Baru Depok ?”



C. Tujuan Penulisan

   1. Tujuan Umum

            Untuk mengetahui faktor - faktor yang berhubungan dengan perilaku lansia

      dalam melakukan kunjungan ke Posyandu Lansia di RW 05 Pangkalan Jati Baru

      Depok.




   2. Tujuan Khusus

      Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk :

      a. Memperoleh informasi tentang karakteristik lansia yang ada di RW 05 Pangkalan

          Jati Baru Depok.

      b. Memperoleh informasi tentang faktor – faktor apa saja yang berhubungan dengan

          perilaku lansia untuk melakukan kunjungan ke Posyandu Lansia di RW 05

          Pangkalan Jati Baru Depok.

      c. Memperoleh informasi mengenai dampak apa yang akan terjadi bila lansia tidak

          memanfaatkan Posyandu Lansia di RW 05 Pangkalan Jati Baru Depok.



D. Manfaat penelitian.

   1. Peneliti.
      Dengan melakukan penelitian ini peneliti akan mendapatkan sejumlah data atau

      informasi yang menjadi awal penelitian terkait untuk diadakannya penelitian lanjutan

      yang lebih mendalam tetang faktor - faktor yang berhubungan dengan perilaku lansia

      dalam melakukan kunjungan Posyandu Lansia di RW 05 Pangkalan Jati Baru Depok.

   2. Pelayanan keperawatan

      Memberikan masukan bagi dunia keperawatan gerontik dan komunitas dalam

      memberikan fasilitas pelayanan kesehatan pada lansia yang tepat guna sehingga minat

      lansia ke Posyandu Lansia meningkat.




   3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

      Menjadikan tambahan wawasan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan

      gerontik dan ilmu keperawatan komunitas dengan klien lansia.

   4. Masyarakat

      Memberikan masukan aplikatif bagi masyarakat khususnya pada lansia untuk bisa

      mengoptimalkan secara maksimal fasilitas yang telah disediakan untuk meningkatkan

      kesehatannya melalui Posyandu Lansia.



E. Ruang Lingkup Penelitian

        Peneliti membatasi ruang lingkup penelitian ini hanya dalam konteks faktor - faktor

   yang berhubungan dengan perilaku lansia dalam melakukan kunjungan ke Posyandu

   Lansia di RW 05 Pangkalan Jati Baru Depok, dimana populasi yang diambil adalah

   semua lansia yang ada di tempat tersebut.

								
To top