Docstoc

Analisis-limbah-pada-instalasi-pengolahan-air-limbah-di-rumah-sakit-Islam-Siti-Hajar-Mataram

Document Sample
Analisis-limbah-pada-instalasi-pengolahan-air-limbah-di-rumah-sakit-Islam-Siti-Hajar-Mataram Powered By Docstoc
					                                         BAB II
                                 LANDASAN TEORI


2.1. Air Limbah
2.1.1. Pengertian Air Limbah
       Pengertian air limbah menurut Tchobanoglous dan Eliassen (Soeparman.
Suparmin, 12) adalah gabungan cairan dan sampah yang terbawa dari tempat tinggal,
kantor, bangunan perdaganan, industri serta air tanah, air permukaan, dan air hujan yang
mungkin ada. Air limbah pada umumnya mengandung air, bahan padat, dan
mikroorganisme. Keberadaan mikroorganisme dalam kandungan air limbah dapat
membantu terjadinya proses pengolahan sendiri air limbah (self purification)
       Batasan yang banyak dikemukakan mengenai air limbah umumnya meliputi
komposisi serta sumber darimana air limbah tersebut berasal. Misalnya air limbah
rumah tangga, air limbah industri, air limbah rumah sakit dan lain-lain. Setiap jenis air
limbah memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga dalam upaya pengolahannya,
setiap jenis air limbah memerlukan perlakuan yang berbeda.
       Sesuai dengan sumber asalnya, maka air limbah mempunyai komposisi yang
sangat bervariasi dari setiap tempat dan setiap saat. Akan tetapi, secara garis besar zat-
zat yang terdapat didalam air limbah dapat dikelompokkan sebagai berikut:



                        Air Limbah


     Air                                          Bahan padat
  (99,9)%)                                          (0,1%)



                                  Organik                             Anorganik


Gambar 2.1. Skema pengelompokkan bahan yang terkandung di dalam air limbah




                                            5
                                                                                     6

2.2. Sifat-sifat Air Limbah
2.2.1. Sifat Fisik
     1. Kandungan Zat Padat (Total Suspended Solid)
         Umumnya air limbah mengandung bahan terendap yang cukup tinggi apabila
         diukur dari padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Air dikatakan keruh jika
         air tersebut mengandung bagitu banyak partikel bahan yang tersuspensi
         sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan kotor. Bahan-
         bahan yang menyebabkan kekeruhan ini antara lain yaitu : tanah liat, lumpur,
         bahan-bahan organik dan partikel-partikel kecil yang tersuspensi lainnya.
         Kekeruhan biasanya disebabkan karena butiran halus yang melayang.
     2. Bau
         Air limbah yang mengalami proses degradasi akan menghasilkan bau. Hal ini
         disebabkan karena adanya zat organik terurai secara tak sempurna dalam air
         limbah. Selain itu juga bau timbul karena adanya aktifitas mikroorganisme
         yang menguraikan zat organik atau reaksi kimia yang terjadi dan
         menghasilkan gas tertentu. Bau biasanya timbul pada limbah yang sudah lama,
         tetapi juga ada yang muncul pada limbah baru. Hal ini dikarenakan sumber
         pencemar yang berbeda. Senyawa-senyawa yang menghasilkan bau antara lain
         : NH3 dan Hidrogen Sulfida (H2S).
     3. Warna
         Zat terlarut dalam air limbah dapat menimbulkan warna air limbah.
         Berdasarkan sifat-sifat penyebabnya, warna dalam air dibagi menjadi 2 jenis,
         yaitu warna sejati dan warna semu. Warna sejati disebabkan oleh koloida-
         koloida organik atau zat-zat terlarut. Sedang warna semu disebabkan oleh
         suspensi partikel-partikel penyebab kekeruhan. Warna juga merupakan ciri
         kualitatif untuk mengkaji kondisi umum air limbah. Jika coklat, umur air
         kurang dari 6 jam. Warna abu-abu muda sampai abu-abu setengah tua
         tandanya air sedang mengalami pembusukan oleh bakteri. Jika abu-abu tua
         hingga hitam berarti sudah busuk akibat bakteri. Air yang berwarna dalam
         batas tertentu akan mengurangi segi estetika dan tidak dapat diterima oleh
         masyarakat.
     4. Temperatur
         Proses kegiatan sumber limbah padat menyebabkan air buangan menjadi
         hangat, sehingga air limbah umumnya memiliki suhu yang lebih tinggi
                                                                                       7

         dibanding dengan suhu air bersih. Suhu dari air limbah sangat berpengaruh
         terhadap kecepatan reaksi kimia dan tata kehidupan dalam air. Proses
         pembusukan terjadi pada suhu tinggi serta tingkat oksidasi yang juga lebih
         besar. Pengukuran suhu penting karena pada umumnya instalasi pengolah air
         limbah meliputi proses biologis yang bergantung suhu.


2.2.2. Sifat Kimia
       Berdasarkan bahan yang terkandung didalamnya, sifat kimia air limbah
digolongkan :
     1. Senyawa Organik
         Air Limbah pada umumnya mengandung senyawa organik 40% total padatan
         yang tersusun dari unsur-unsur seperti : H, O, N, P dan S yang bentuknya
         berupa senyawa protein, karbohidrat, lemak, minyak, detergen dan pestisida.
     2. Senyawa Anorganik
         Keberadaan komponen-komponen anorganik dalam air limbah perlu mendapat
         perhatian dalam menempatkan kualitas air limbah sebagai bahan buangan,
         karena keberadaan bahan-bahan organik ini tidak menutup kemungkinan
         terkandung racun yang menambah beban dan potensi bahaya air limbah. Air
         yang mengandung bahan kimia yang berbahaya dapat merugikan         kehidupan
         manusia, hewan dan binatang. Bahan organik terlarut dapat menghasilkan
         oksigen dalam air serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada
         air. Selain itu akan lebih berbahaya apabila bahan terlarut merupakan bahan
         yang beracun. Bahan kimia yang penting dan berada dalam air pada umumnya
         dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Sugiharto, 23):
       a. Senyawa Organik
         Kira-kira 75% suspended soil dan 40% filterable solid dalam air buangan
         merupakan senyawa-senyawa organik. Senyawa organik tersebut berasal dari
         kombinasi karbon, hidrogen, dan oksigen serta nitrogen dalam berbagai
         senyawa. Urea sebagai kandungan bahan terbanyak, di dalam urin merupakan
         bagian lain yang penting dalam bahan organik, sebab bahan ini diuraikan
         secara cepat dan jarang didapati urea yang tidak terurai berada di dalam air
         limbah. Semakin lama jumlah dan jenis bahan organik semakin banyak, hal
         ini akan mempersulit dalam pengelolaan air limbah sebab beberapa zat tidak
         dapat diuraikan oleh mikroorganisme (Sugiharto, 25)
                                                                                        8

                 Tabel 2.1. Kandungan Senyawa Organik Dalam Air Buangan
                         Senyawa Organik                    Persentase
                               Protein                      40% - 60%
                            Karbohidrat                     25%- 50%
                        Lemak dan Minyak                      10%
                   Sumber: Sugiharto, 1987


          b. Senyawa Anorganik
              Beberapa komponen anorganik dari air limbah dan air alami adalah sangat
              penting untuk peningkatan dan pengawasan kualitas air minum. Jumlah
              kandungan bahan anorganik meningkat sejalan dan dipengaruhi oleh formasi
              geologi dari asal air limbah berasal. Secara umum bahan anorganik yang ada
              dalam air terbagi dalam tiga macam yaitu: bahan butiran, bahan garam-garam
              mineral dan bahan metal. Selain itu akan lebih berbahaya apabila bahan kimia
              tersebut merupakan bahan yang beracun. Bahan kimia yang penting yang ada
              di dalam air pada umumnya meliputi bahan organik, kandungan gas klorida,
              sulfur, deterjen, logam berat dan nitrogen.


2.2.3. Sifat Biologis
          Keberadaan mikroorganisme dalam air limbah dapat membantu proses
pengolahan sendiri (self purification). Namun bila mikroorganisme dalam air limbah
tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, justru akan menimbulkan gangguan bagi
lingkungan. Berdasarkan kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan gangguan
terhadap lingkungan, maka mikroorganisme dikelompokkan menjadi 2 (dua) golongan
yaitu :
      1. Mikroorganisme pathogen, seperti : bakteri coli, virus hepatitis, salmonella
              dan lain-lainnya.
      2. Mikroorganisme non pathogen, seperti : protista dan algae.


          Berdasarkan beberapa karakteristik air buangan tersebut, maka pengolahan air
limbah dibagi atas :
          •    Pengolahan air buangan secara fisik
          •    Pengolahan air buangan secara kimiawi
          •    Pengolahan air buangan secara biologis
                                                                                       9

Untuk suatu jenis air buangan tertentu ketiga metode pengolahan tersebut dapat
diaplikasikan secara terpisah atau secara kombinasi.
       Baik   tidaknya    kualitas   air   secara   biologis   ditentukan   oleh   jumlah
mkroorganisme patogen dan nonpatogen. Mikroorganisme patogen bisa berwujud
bakteri, virus atau spora pembawa bibit penyakit. Sebaliknya yang nonpatogen,
meskipun relatif tidak berbahaya bagi kesehatan, kehadirannya akan menimbulkan rasa
dan bau yang tidak enak. Pemeriksaan biologis di dalam air bertujuan untuk mengetahui
apakah ada mikroorganisme patogen berada di dalam air.
       Kelompok mikroorganisme terpenting dalam air buangan ada tiga macam, yaitu
kelompok protista, tumbuh-tumbuhan, dan kelompok hewan. Kelompok protista terdiri
dari protozoa, sedangkan kelompok tumbuh-tumbuhan terdiri dari paku-pakuan dan
lumut. Bakteri berperan penting dalam air buangan, terutama pada proses biologis.
Sedangkan protozoa dalam air buangan berfungsi untuk mengontrol semua bakteri
sehingga terjadi keseimbangan. Alga sebagai penghasil oksigen pada proses fotositesis
juga dapat mengurangi nitrogen yang terdapat dalam air. Namun alga juga dapat
menimbulkan gangguan pada permukaai air karena kondisinya yang menguntungkan
(sampai kedalaman 1 meter di bawah permukaan air) sehingga dapat tumbuh dengan
cepat dan menutupi permukaan air, sehingga sinar matahari tidak mampu menembus
permukaan air.
                                                                                  10

  Tabel 2.2. Sifat-sifat Fisik, Kimia, Biologis Air Limbah Serta Sumber asalnya
 Sifat-sifat Air Limbah                        Sumber Air Limbah
- Sifat fisik :
Warna                       Air buangan rumah tangga dan industri serta bangkai
                            benda organis.
Bau                         Pembusukan air limbah dan limbah industri.
Endapan                     Penyediaan air minum, air limbah rumah tangga dan
                            industri, erosi tanah, aliran air rembesan.
Temperatur                  Air limbah rumah tangga dan industri.
- Sifat kimia
a. Organik
Karbohidrat                 Air limbah rumah tangga, perdagangan serta limbah
                            industri.
Minyak, lemak               Air limbah rumah tangga, perdagangan serta limbah
                            industri.
Pestisida                   Air limbah pertanian.
Fenol                       Air limbah industri.
Protein                     Air limbah rumah tangga, perdagangan.
Deterjen                    Air limbah rumah tangga, industri.
Lain-lain                   Bahan bangkai organik alamiah
b. Anorganik
Kesadahan                   Air limbah dan air minum rumah tangga serta rembesan air
                            tanah.
Klorida                     Air limbah dan air minum rumah tangga, rembesan air
                            tanah dan pelunak air.
Logam berat                 Air limbah industri.
Nitrogen                    Air limbah rumah tangga dan pertanian.
pH                          Air limbah industri.
Fosfor                      Air limbah rumah tangga dan industri serta limpahan air
                            hujan.
Belerang                    Air limbah dan air minum rumah tangga, limbah industri.
                                                                                      11

 Sifat-sifat Air Limbah                         Sumber Air Limbah
c. Gas-gas
Hidrogen sulfida              Pembusukan limbah rumah tangga
Metan                         Pembusukan limbah rumah tangga
Oksigen                       Penyediaan air minum rumah tangga serta perembesan air
                              permukaan
- Sifat biologis
Binatang                      Saluran terbuka dan bangunan pengolah
Tumbuh-tumbuhan               Saluran terbuka dan bangunan pelimpah
Protista                      Air limbah rumah tangga dan bangunan pengolah
Virus                         Air limbah rumah tangga
Sumber: Sugiharto, 1987:20.


2.3. Air Limbah Rumah Sakit
        Air limbah rumah sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari proses
seluruh kegiatan rumah sakit yang meliputi ( Keputusan Mentri Kesehatan Republik
Indonesia, 2004) :
    -   Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius,
        limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitoksis, limbah
        kimiawi dan limbah radioaktif.
    -   Limbah padat non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan
        rumah sakit diluar kegiatan medis. Limbah jenis ini dapat berasal dari dapur,
        perkantoran, taman dan ruang cuci (laundry)
    -   Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari rumah
        sakit. Tinja tersebut memiliki kemungkinan mengandung mikroorganisme,
        bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan
    -   Limbah gas adalah semua limbah yang dalam bentuk gas yang berasal dari
        kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti : incinerator, dapur, dan generator.
    -   Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang
        tidak secara rutin ada di lingkungan. Organisme tersebut terdiri dalam jumlah
        yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia.
    -   Limbah sitoksis merupakan limbah dari bahan – bahan yang telah
        terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitoksis untuk kemoterapi
                                                                                     12

         kanker. Bahan-bahan tersebut memiliki kemampuan untuk menghambat
         pertumbuhan sel hidup.
         Air limbah rumah sakit baik yang berasal dari kegiatan medis maupun kegiatan
domestik umumnya mengandung senyawa polutan organik yang cukup tinggi dan dapat
diolah dengan menggunakan proses biologi. Sedangkan air limbah yang berasal dari
kegiatan laboratorium mengandung lebih banyak logam berat


2.3.1. Sumber-sumber Air Limbah Rumah Sakit
         Sumber air limbah rumah sakit diantaranya adalah dari kamar pasien, ruang
operasi, kamar bersalin, ruang gawat darurat, ruang hemodialisis, dan toilet memiliki
kisaran yang sama dengan komposisi limbah kota yang ditunjukkan pada kandungan
BOD, COD, nitrogen, dan fosfor.


2.3.1.1. Air Limbah dari Ruang Rawat Inap
         Pada ruang rawat inap, limbah dihasilkan dari wastafel, kamar mandi dan toilet.
Sumber dan kuantitas limbah cair disini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara
lain :
    a. Jumlah tempat tidur
    b. Pemakaian per bulan dari tempat tidur
    c. Jenis kegiatan yang ada
    d. Jumlah karyawan
    e. dan lain-lain
tetapi diantara kelima faktor tersebut, yang paling mempengaruhi adalah jumlah pasien
yang rawat inap disini. Semakin bertambah jumlah pasien, maka limbah yang dihasilkan
semakin besar pula.


2.3.1.2. Air Limbah dari Dapur (Kitchen)
         Air limbah dari dapur (Kitchen) banyak mengandung lemak dan minyak dalam
mentega. Lemak adalah satu diantara senyawa organik yang stabil dan tidak mudah
didekomposisi oleh bakteri. Lemak dan minyak merupakan bahan yang memiliki
kekentalan tinggi dan menghambat perpindahan oksigen ke air limbah. Bahan-bahan
yang dapat menghambat transfer oksigen ke air limbah ini harus dihilangkan dengan
cara pengolahan pendahuluan (Pre-Treatment).
                                                                                   13

2.3.1.3. Air Limbah dari Ruang Cuci (Laundry)
       Air limbah dari ruang cuci (Laundry) memiliki karakteristik pH > 9. kisaran pH
optimum untuk proses pengolahan biologis adalah 6,5 – 8,5. pH limbah dari laundry
harus dinetralkan menjadi 6,5 – 9 dengan air limbah lain dalam tangki buffer. Air
limbah laundry mengandung ABS dan minyak. Jumlah material-material ini tergantung
pada jenis kekotoran dan konsentrasinya. ABS dan beberapa minyak dihilangkan pada
sistem pre-treatment untuk air limbah. Bubuk pembersih ABS mempunyai konsentrasi
fosfor tinggi. Sebagian besar fosfor dalam air limbah dihasilkan dari penggunaan bubuk
ABS untuk pembersihan di dapur, laboratorium, dan laundry. Dari berbagai sumber
penyebab limbah cair, kegiatan di laundry merupakan kegiatan penghasil limbah cair
paling besar, dimana sekitar 50-60% volume limbah cair berasal dari kegiatan ini,
kegiatan dapur 20%, toilet 20% serta kegiatan lain-lain 10%.


2.3.1.4. Air Limbah dari Ruang Isotop (Radiologi dan Laboratorium)
       Limbah dari ruang pemrosesan ruang X terdiri dari campuran limbah fixing
agent dan limbah larutan berkembang (developing solution). Limbah fixing agent
mengandung perak (Ag) dalam konsentrasi tinggi. Limbah larutan berkembang
mengandung berbagai macam senyawa kimia. Perak dan senyawa kimia merupakan
senyawa racun bagi bakteri. Limbah dari ruang pemrosesan sinar X dipisahkan dan
dibuang keluar dari rumah sakit. Air limbah dari ruang radio isotop-isotop sangat
berbahaya untuk manusia dan binatang. Jika rumah sakit memiliki ruang radio isotop.
Limbahnya harus dipisahkan dan dibuang keluar dari rumah sakit. Bangunan
pengolahan limbah ini tidak termasuk pengolahan limbah dari ruang radio isotop.
       Logam berat dan senyawa kimia dihasilkan terutama dari ruang tes patologi dan
klinik serta laboratorium lain. Bila logam berat dan senyawa kimia dibuang ke sistem
air limbah pada konsentrasi yang sangat tinggi. Sistem pengolahan biologis dapat
dipengaruhi bahan-bahan tersebut.     Asam kuat atau dan basa kuat mungkin juga
dibuang dari laboratorium. Seperti yang dibandingkan dengan total air limbah, jika
volume beban yang tinggi dihasilkan, maka material-material ini tidak boleh langsung
dibuang ke saluran air limbah, namun harus dibuang secara terpisah.
                                                                               14


          RAWAT                      TOILET DAN                    LIMBAH
          JALAN                        KAMAR                      DOMESTIK
                                       MANDI


                                       RUANG                      TOILET DAN
                                     PERAWATAN                      LIMBAH
       RAWAT INAP                                                  DOMESTIK


                                       KAMAR                    LIMBAH ORGANIK
                                     OPERASI DAN
                                        UGD


                                       LABORA                     SISA RAWAT
                                       TORIUM
       PENUNJANG                                                  ASAM BASA
         MEDIS                                                     ORGANIK
                                     RADIOLOGI
                                                                 BAHAN KIMIA




                                      LAUNDRY                     DETERJEN
                                                                 DESINFEKTAN
       PENUNJANG
       NON MEDIS

                                       DAPUR                     MINYAK DAN
                                                                   LEMAK


                    Gambar 2.2. Skema Kegiatan di Rumah Sakit


2.3.2. Baku Mutu Limbah Rumah Sakit
       Air buangan dari rumah sakit ini sebelum masuk ke saluran pembuangan akhir,
terlebih dahulu melalui proses pengolahan. Berdasarkan Keputusan Pemerintah
Republik Indonesia dengan KEK-02/MENKLH/I/1988 Tgl 19 Januari 1988. Adapun
pembagian golongannya terbagi menjadi sebagai berikut :
   -   Golongan A : Air yang digunakan sebagai air minum tanpa melalui proses
       pengolahan terlebih dahulu.
   -   Golongan B : Air yang digunakan sebagai air baku untuk diolah sebagai air
       minum dan keperluan rumah tangga.
                                                                               15

-     Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan
      peternakan.
-     Golongan D : Air yang dapat dipergunakan untuk keperluan pertanian dan dapat
      dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, listrik tenaga air.


      Tabel 2.3. Baku mutu limbah cair bagi kegiatan Rumah Sakit berdasarkan
      Kepmen LH No.Kep-58/MENLH/12/1995 bagi Kegiatan Rumah Sakit
                    Parameter                        Kadar Maksimum
     FISIKA
     Suhu                                                   30o C
     KIMIA
     pH                                                     6–9
     BOD5                                                 30 mg / L
     COD                                                  80 mg / L
     TSS                                                  30 mg / L
     NH3 Bebas                                            0,1 mg / L
     PO4                                                   2 mg / L
     MIKROBIOLOGIK
     MPN-Kuman Gol Koli /
     100 ml                                                 10.000
     RADIOAKTIF
     32
       P                                                7 x 102 Bq / L
     35
       S                                                2 x 103 Bq / L
     45
       Ca                                               3 x 102 Bq / L
     51
       Cr                                               7 x 104 Bq / L
     67
       Ga                                               1 x 103 Bq / L
     85
       Sr                                               4 x 103 Bq / L
     99
       Mo                                               7 x 103 Bq / L
     113
          Sn                                            3 x 103 Bq / L
     125
          I                                             1 x 104 Bq / L
     131
          I                                             7 x 104 Bq / L
     192
          Ir                                            1 x 104 Bq / L
     201
          TI                                            1 x 105 Bq / L
    Sumber : Soeparman & Soeparmin, 2002 : 153
                                                                                16

       Selain itu ada juga Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 986 / MENKES / PER /
XI / 1992 tanggal 14 November 1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit dan Keputusan Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman No. HK.00.06.44 tanggal 18 Februari 1993 tentang
Persyaratan dan Petunjuk Teknis Tata Cara Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit
mempersyaratkan fasilitas pembuangan limbah sebagai berikut :
   1. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup, kedap
       air, dan limbah harus mengalir dengan lancar.
   2. Rumah Sakit harus memiliki unit pengolahan limbah sendiri atau bersama-sama
       secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan
       teknis, apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah
       perkotaan.
   3. Kualitas air limbah rumah sakit yang akan dibuang ke lingkungan harus
       memenuhi persyaratan baku mutu sesuai peraturan perundang-undangan yang
       berlaku.
       Untuk melindungi lingkungan dari kegiatan rumah sakit di Indonesia, buangan
air limbah dari rumah sakit diatur oleh Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. Dalam
keputusan ini, manajemen rumah sakit harus memeriksakan standar kualitas air
limbahnya pada laboratorium yang kompeten minimal sebulan sekali dan melaporkan
hasilnya kepada pemerintah setidaknya tiga bulan sekali.
                                                                                                  17

             Tabel 2.4. Standar Buangan Air Limbah menurut Keputusan Menteri
             Lingkungan Hidup No. KEP-58/MENLH/12/1995
                    Parameter                    Satuan                     Standar
            Fisik
                                                   o
            - Suhu                                  C                         < 30
            Kimiawi
            - pH                                                              6–9
            - BOD                                 mg/l                        < 30
            - COD                                 mg/l                        < 80
            - TSS                                 mg/l                        < 30
            - NH3 bebas                           mg/l                        < 0,1
            - PO4                                 mg/l                         <2
            Mikrobiologi
            - Total Koliform                  MPN/100 ml                    < 10.000
           Sumber : Anonim, 2004 : 25


        Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI dan Keputusan Dirjen PPM dan
PLP Depkes RI tersebut, jumlah toilet dan kamar mandi yang harus disediakan untuk
unit rawat inap disesuaikan dengan jumlah tempat tidur rumah sakit dapat dilihat pada
tabel berikut :


    Tabel 2.5. Jumlah Toilet dan Kamar Mandi Berdasarkan Jumlah Tempat Tidur
     No.        Jumlah Tempat Tidur                 Jumlah Toilet          Jumlah Kamar Mandi
      1.                   1 – 15                         1                            1
      2.                  16 – 30                         2                            2
      3.                  31 – 50                         3                            3
      4.                  51 – 75                         4                            4
      5.            Setiap penambahan 25 tempat tidur harus ditambah 1 toilet dan 1 kamar mandi
     Sumber: Soeparman & Soeparmin, 2002 : 157


        Sedangkan jumlah toilet dan kamar mandi bagi karyawan rumah sakit
berdasarkan jumlah karyawan adalah sebagai berikut :
                                                                                         18

Tabel 2.6. Jumlah Toilet dan Kamar Mandi yang harus disediakan berdasarkan jumlah
karyawan
     No.       Jumlah Karyawan               Jumlah Toilet         Jumlah Kamar Mandi
      1.             1 – 20                        1                          1
      2.             20 – 40                       2                          2
      3.             41 – 70                       3                          3
      4.            71 – 100                       4                          4
      5.       Setiap penambahan 40 karyawan harus ditambah 1 toilet dan 1 kamar mandi
     Sumber: Soeparman & Soeparmin, 2002 : 157


       Fasilitas toilet dan kamar mandi rumah sakit harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
   1. Toilet dan kamar mandi harus selalu terpelihara dan dalam keadaan bersih.
   2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang, dan
       mudah dibersihkan.
   3. Pada setiap unit ruangan harus tersedia toilet (jamban, peturasan, dan tempat
       cuci tangan) tersendiri, khususnya untuk unit rawat inap, dan kamar karyawan
       harus tersedia kamar mandi.
   4. Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan
       bau (water seal).
   5. Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan dapur, kamar
       operasi, dan ruang khusus lainnya.
   6. Lubang ventilasi harus berhubungan langsung dengan udara luar.
   7. Toilet dan kamar mandi pria dan wanita harus terpisah.
   8. Toilet dan kamar mandi unit rawat inap dan karyawan harus terpisah.
   9. Toilet dan kamar mandi karyawan harus terpisah dari toilet dan kamar mandi
       pengunjung.
   10. Toilet pengunjung harus terletak di tempat yang mudah dijangkau dan ada
       penunjuk arah.
   11. Toilet dan kamar mandi harus dilengkapi dengan slogan atau peringatan untuk
       untuk memelihara kebersihan.
   12. Tidak terdapat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat
       perindukan nyamuk.
   13. Tersedia toilet untuk pengunjung dengan perbandingan 1 toilet untuk 1 – 40
       pengunjung wanita, 1 toilet untuk 1 – 60 pengunjung pria.
                                                                                     19

2.3.3. Dampak Limbah Cair Rumah Sakit
          Dampak negatif yang dapat ditimbulkan akibat limbah cair rumah sakit
bervariasi. Hal ini tergantung dari karakteristik limbah cair yang dihasilkan oleh jenis
kegiatan dalam rumah sakit. Namun secara umum dampak tersebut dapat
dikelompokkan menjadi :
   1. Gangguan terhadap kesehatan
   2. Gangguan terhadap kehidupan biotik
   3. Gangguan terhadap estetika
   4. Gangguan terhadap kerusakan benda (korosif)


2.4. Unit-unit Pengolahan Air Limbah
          Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi BOD, COD,
partikel terlarut, membunuh mikroorganisme yang bersifat pathogen serta menetralkan
atau meminimalkan zat kimia yang bersifat racun. Selain itu, diperlukan juga tambahan
pengolahan untuk menghilangkan bahan nutrisi, komponen beracun, serta bahan yang
tidak dapat didegradasikan agar konsentrasi yang ada menjadi rendah. Untuk itu
diperlukan pengolahan secara bertahap agar bahan tersebut di atas dapat dikurangi.
          Secara garis besar tahap-tahap pengolahan limbah cair Rumah Sakit dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
          -   Pengolahan Tahap I (Pengolahan secara fisik)
          -   Pengolahan Tahap II (Pengolahan secara bilogis)
          -   Pengolahan Tahap III (Desinfeksi)


2.5. Pengolahan Limbah Menurut Tingkatannya
          Tingkatan pengolahan limbah tergantung dari jenis dan kondisi limbah. Adapun
secara umum pengolahan menurut tingkatannya dibagi menjadi empat bagian utama
yaitu: (Suparman dan Suparmin, 106)
   A. Pengolahan Pendahuluan
          Pengolahan pendahuluan digunakan untuk memisahkan padatan kasar,
mengurangi ukuran padatan, memisahkan minyak atau lemak, dan proses menyetarakan
fluktuasi aliran bak penampung. Unit yang terdapat dalam pengolahan pendahuluan
adalah:
   a. Saringan (bar screen/bar racks)
   b. Pencacah (comminutor)
                                                                                   20

   c. Bak penangkap pasir (grit chamber)
   d. Penangkap lemak dan minyak (skimmer and grease trap)
   e. Bak penyetaraan (equalization basin)


   B. Pengolahan Tahap Pertama
       Pengolahan tahap pertama bertujuan untuk mengurangi kandungan padatan
tersuspensi melalui proses pengendapan (sedimentation). Pada proses pengendapan,
partikel padat dibiarkan mengendap ke dasar tangki. Bahan kimia biasanya ditambahkan
untuk menetralisasi dan meningkatkan kemampuan pengurangan padatan tersuspensi.
Dalam unit ini pengurangan BOD dapat mencapai 35% sedangkan padatan tersuspensi
berkurang sampai 60%. Pengurangan BOD dan padatan pada tahap awal ini selanjutnya
akan membantu mengurangi beban pengolahan tahap kedua.


   C. Pengolahan Tahap Kedua
       Pengolahan kedua umumnya mencakup proses biologis untuk mengurangi
bahan-bahan organik melalui mikroorganisme yang ada di dalamnya, dimana air
buangan kontak dengan media yang ditumbuhi lapisan bakteri. Proses aerobik terjadi
karena adanya diffuser yang mngalirkan udara dari bawah bak.            Pada unit ini
diperkirakan terjadi pengurangan kandungan BOD dalam rentang 35-95% bergantung
pada kapasitas unit pengolahannya. Reaktor pengolah lumpur aktif dan saringan
penjernihan biasanya dipergunakan dalam tahap ini. Pada proses penggunaan lumpur
aktif (actived sludge), air limbah yang telah lama ditambahkan pada tangki aerasi
dengan tujuan untuk memperbanyak jumlah bakteri secara cepat agar proses biologis
dalam menguraiakan bahan organik berjalan lebih cepat.


   D. Pengolahan Tahap Ketiga atau Pengolahan lanjutan
       Beberapa standar efluen membutuhkan pengolahan tahap ketiga ataupun
pengolahan lanjutan untuk menghilangkan kontaminan tertentu ataupun menyiapkan
limbah cair tersebut untuk pemanfaatan kembali. Pengolahan tahap ini lebih difungsikan
sebagai upaya peningkatan kualitas limbah cair dari pengolahan tahap kedua agar dapat
dibuang ke badan air penerima dan penggunaan kembali efluen tersebut.
Pengolahan tahap ketiga, disamping masih dibutuhkan untuk menurunkan kandungan
BOD, juga dimaksudkan untuk menghilangkan senyawa fosfor dengan bahan kima
sebagai koagulan, menghilangkan sisa bahan organik dan senyawa penyebab warna
                                                                                        21

melalui proses absorbsi menggunakan karbon aktif, menghilangkan padatan terlarut
melalui proses pertukaran ion, osmosis balik maupun elektrodialis.


2.5.1. Pengolahan Limbah Menurut Karakteristiknya
       Menurut sifat limbah, maka proses pengolahannya dapat digolongkan menjadi 3
proses, yaitu proses fisika, kimia dan biologis. Proses ini tidak berjalan sendiri-sendiri,
namun terkadang harus dilaksanakan secara kombinasi.


2.5.1.1. Metode Pengolahan Secara Fisik
       Metode pengolahan secara fisik sebagai berikut :
       1. Penyaringan
          Tujuan utama dari penyaringan adalah memisahkan padatan tidak terlarut dan
       bahan kasar lain dengan ukuran yang cukup besar. Ukuran saringan juga
       bervarisai, yaitu saringan kasar (ø 50 mm), saringan sedang (ø 12mm-40mm),
       dan saringan halus (ø 1,6 mm-3 mm). Bahan saringan umumnya adalah kawat
       baja yang dianyam atau jeruji besi. Penyaringan akan membuang sekitar 20 %
       bahan padat terapung yang ada dalam air limbah.
       2. Pengecilan Ukuran
          Padatan kasar dihaluskan agar menjadi kecil dengan menggunakan alat
       pencacah. karena ukuran bahan padat diperkecil, maka mereka akan lolos
       melalui saringan menuju pengolahan selanjutnya.
       3. Pembuangan Serpih
          Kolam serpih yang direncanakan secara khusus digunanakn untuk membuang
       partikel-partikel   anorganik (berat jenis kira-kira 1.6-2.65), misalnya pasir,
       kerikil, kulit telur, tulang dan lain-lain. Tujuan kolam ini lebih utama untuk
       mencegah kerusakan pompa dan untuk mencegah penumpukan bahan tersebut di
       dalam kolam Lumpur aktif.
       4. Pengendapan
          Fungsi utama dari kolam pengendapan adalah untuk membuang bahan terlarut
       dari air limbah yang masuk.
       Bagian terpenting dalam perencanaan unit pengendapan adalah mengetahui
kecepatan pengendapan dari partikel-partikel yang akan dipindahkan. Kecepatan
pengendapan ditentukan oleh ukuran, densitas larutan, viskositas cairan dan temperatur.
                                                                                    22

       - Floculet Settling
       Proses pengendapan ini pada dasarnya sama dengan discrete settling, namun
       perhitungan secara matematis sulit dilakukan. Hal ini terutama mengingat
       sulitnya menetapkan diameter partikel yang ukurannya bervariasi karena selama
       partikel bergerak akan menarik partikel lain unutk bergabung sehingga
       kecepatan pengendapannya berbeda-beda. Kebanyakan partikel tersuspensi yang
       berasal dari limbah industri umumnya mengandung sifat ini.
       - Zone Settling
       Zone settling merupakan proses pengendapan secara kimia karena pada tahap ini
       digunakan zat kimia yang bersifat koagulan. Proses ini adalah proses
       pengendapan partikel dimana gerakan partikel saat mengendap terjadi sacara
       serentak dan bersamaan. Bahan koagulan yang umum dipakai adalah Alum
       [Al2(SO4)3.18H2O].


2.5.1.2. Metode Pengolahan Secara Kimia
       Proses pengolahan secara kimia adalah menggunakan bahan kimia untuk
mengurangi konsentrasi zat pencemar dalam limbah. Proses utama dilakukan dalam
metode ini adalah pengendapan kimiawi dan klorinasi.
   1. Pengendapan Kimiawi
       Dapat digunakan untuk meningkatkan pembuangan bahan tersuspensi atau jika
       pengendapan secara fisik tidak berfungsi secara optimal. Bahan koagulan yang
       sering dipakai adalah Alum atau dikenal dengan tawas dan lime (kapur) CaO.
       Pengendapan kimiawi akan berhasil dengan baik jika perbandingan antara
       koagulan dengan air tepat. Manfaat tahap ini adalah sebagai usaha untuk
       meningkatkan kapasitas dari bak pengendap biasa yang kelebihan beban namun
       kerugiannya adalah menambah biaya operasional.
   2. Klorinasi
       Klorinasi digunakan untuk mengurangi bakteri yang bersifat pathogen.
       Mekanismenya yaitu dengan merusak enzim utama yang ada dalam sel bakteri
       sehingga dinding selnya menjadi rusak atau bahkan hancur. Akibatnya bakteri
       akan mati. Klorinasi dapat digunakan sebagai langkah akhir dalam pengolahan
       air limbah.
                                                                                     23

2.5.1.3. Metode Pengolahan Secara Biologis
       Untuk mengolah air limbah yang mengandung senyawa organik umumnya
menggunakan teknologi pengolahan air limbah secara biologis atau gabungan anatara
proses bilogis dengan proses kimia dan fisika. Tujuannya mengurangi zat organik
melalui biokimia oksidasi dengan cara memanfaatkan mikroorganisme. Pengolahan
limbah dengan cara ini terdiri dari 3 kondisi, yaitu:
   1. Proses secara aerob yang merupakan pengolahan limbah pada kondisi tersedia
       oksigen bagi bakteri untuk menguraikan limbah. Proses biologis aerob biasanya
       digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang tidak terlalu
       besar. Pengolahan air limbah secara bilogis aerob secara garis besar dapat dibagi
       menjadi tiga, yaitu:
           a. Proses biologis dengan biakan tersuspensi (suspended culture)
               Adalah sistem dengan menggunakan aktifitas mikroorganisme untuk
               menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air dan mikroorganisme
               yang digunakan dibiakkan secara tersuspensi di dalam suatu reaktor.
               Contoh proses pengolahan dengan sistem ini adalah proses lumpur aktif.
           b. Proses biologis dengan biakan melekat (attached culture)
               Adalah proses pengolahan limbah dimana mikroorganisme yang
               digunakan dibiakkan pada suatu media sehingga mikroorganisme
               tersebut melekat pada permukaan media. Beberapa contoh teknologi
               pengolahan air limbah dengan cara ini antara lain: trickling filter atau
               biofilter, rotating biological contactor (RBC).
           c. Proses bilogis dengan kolam atau lagoon
               Proses pengolahan air limbah dengan kolam atau lagoon adalah dengan
               menampung air limbah pada suatu kolam yang luas dengan waktu
               tinggal yang cukup lama sehingga dengan aktifitas mikroorganisme yang
               tumbuh secara alami, senyawa polutan yang ada dalam air akan terurai.
   2. Proses secara anaerob, yaitu pengolahan pada kondisi tanpa adanya oksigen
       sehingga bakteri anaerob menguraikan zat organik menjadi gas metan dan gas
       CO2.
   3. Proses fakultatif, yaitu pengolahan limbah dimana bakteri yang ada mempunyai
       kemampuan adaptasi tinggi, dimana bakteri tersebut mampu bertahan pada
       kondisi aerob maupun anaerob.
                                                                                  24

Tabel 2.7. Karakteristik Operasional Proses Pengolahan Air Limbah Dengan Proses
Biologis
   JENIS PROSES            EFISIENSI               KETERANGAN
                       PENGHILANGAN
                            BOD (%)
1. PROSES BIOMASA
TERSUSPENSI
- LUMPUR AKTIF         85 - 95
STANDAR


- STEP AERATION        85 - 95            Digunakan untuk beban pengolahan
                                          yang besar
- MODIFIED             60 - 75            Untuk pengolahan dengan kualitas
AERATION                                  air olahan sedang


- CONTACT              80 - 90            Digunakan untuk pengolahan paket.
STABILIZATION                             Untuk mereduksi ekses Lumpur


- HIGH RATE            75 – 90            Untuk pengolahan paket, bak aerasi
AERATION                                  dan bak pengendap akhir merupakan
                                          satu paket. Memerlukan area yang
                                          kecil.
- PURE OXYGEN          85 – 95            Untuk pengolahan air limbah yang
PROCESS                                   sulit diuraikan secara biologis. Luas
                                          area yang dibutuhkan kecil.


- OXIDATION DITCH      75 – 95            Konstruksinya       mudah,     tetapi
                                          memerlukan area yang luas


2.PROSES
BIOMASA MELEKAT
- TRICKLING FILTER     80 -90             Sering timbul lalat dan bau. Proses
                                          opersainya mudah


-ROTATING              80 - 95            Konsumsi energi rendah, produksi
BIOLOGICAL                                lumpur kecil. Tidak memerlukan
                                                                                      25

CONTACTOR                                          proses aerasi.
                            80 – 95
-CONTACT                                           Memungkinkan untuk penghilangan
AERATION PROCESS                                   nitrigen dan phospor.
                            65 – 80
-BIOFILTER                                         Memungkinkan waktu tinggal yang
ANAEROBIC                                          lama, lumpur yang terjadi kecil.


                            60 - 80
3. LAGOON                                          Memerlukan waktu tinggal yang
                                                   lama dan area yang dibutuhkan
                                                   sangat luas.
Sumber: Direktorat Jendral PPM & PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2003


2.6. Parameter-parameter Kualitas Air Yang Dikaji
2.6.1. BOD (Biological Oxygen Demand)
        BOD adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau milligram per liter (mg/L) yang
diperlukan untuk menguraikan benda organik oleh bakteri, sehingga limbah tersebut
menjadi jernih kembali (Sugiharto, 198:6). Apabila dalam air banyak mengandung
bahan-bahan organik, akan mengakibatkan semakin banyaknya oksigen yang diperlukan
oleh bakteri untuk menguraikan bahan-bahan organik tersebut, sehingga kandungan
oksigen dalam air akan semakin menurun. Pemeriksaan kadar BOD pada limbah Rumah
Sakit sangat penting, karena nilai BOD merupakan parameter pencemar air limbah yang
dapat menunjukkan derajat pengotoran air limbah dan BOD juga merupakan petunjuk
dari pengaruh yang diperkirakan terjadi pada badan air penerima berkaitan dengan
pengurangan kandungan oksigennya. Secara umum, derajat pengolahan yang dicapai
oleh bangunan dipilih sedemikian rupa sehingga BOD effluent tidak akan menurunkan
derajat kandungan oksigen sampai tingkat tertentu pada badan air penerima agar badan
air dapat tetap berfungsi sebagaimana peruntukannya.
        Bila terdapat oksigen dalam jumlah cukup, maka pembusukan biologis secara
aerobik dari limbah organik akan terus berlangsung sampai semua bahan organik yang
ada habis. Bila hanya oksidasi pada karbon organik dalam air limbah saja yang
diperhitungkan, maka BOD tertinggi adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
menguraikan air limbah.
                                                                                         26

          Dalam suatu kajian perancangan instalasi pengolahan air limbah parameter BOD
memiliki peran penting antara lain :
1.        Untuk menentukan pendekatan kuantitas oksigen yang diperlukan secara biologi
          untuk menstabilkan materi organik yang ada
2.        Menentukan kapasitas fasilitas pengolahan air limbah
3.        Menentukan effisiensi beberapa proses pengolahan dan
4.        Menentukan debit air limbah yang diperlukan.


2.6.2. COD (Chemical Oxygen Demand)
          COD adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau millimeter per liter (mg/L)
yang dibutuhkan dalam kondisi khusus untuk menguraikan benda organik secara
kimiawi (Sugiharto, 1987:6). Pemeriksaan kadar COD penting, karena angka COD
merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat
dioksidasi melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen di
dalam air. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan yang kuat dalam kondisi asam. Besarnya
perbandingan COD dan BOD tergantung ada atau tidaknya zat racun yang mengganggu
kerja bakteri.
          Meskipun diharapkan bahwa nilai BOD tertinggi akan mendekati COD, namun
hal itu jarang terjadi dalam praktek. Sebab terjadinya perbedaan tersebut antara lain:
     1. Banyak zat-zat organik yang dapat dioksidasi secara kimiawi tapi tidak dapat
        secara biologis.
     2. Zat-zat anorganik yang dioksidasi dengan dichromat menaikkan kandungan zat
        organik yang nampak.
     3. Zat-zat organik tertentu yang mungkin merupakan racun bagi mikroorganisme.
     4. Nilai COD yang tinggi mungkin terjadi karena adanya zat-zat pengganggu.


2.6.3. Amonia (NH3)
          Amonia dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. Sumber amonia di
perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik
yang terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal dari dekomposisi bahan organik yang
terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan
dan biota akuatik yang telah mati) oleh mikroba dan jamur.
          Tinja dari biota akuatik yang merupakan limbah aktivitas metabolisme juga
banyak mengeluarkan amonia. Sumber amonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen
                                                                                      27

yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri, dan domestik. Amonia
yang terdapat dalam mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah. Di perairan alami,
pada suhu dan tekanan normal amonia berada dalam bentuk gas dan membentuk
kesetimbangan dengan gas ammonium.


2.6.4. Total Suspended Solid (Padatan Tersuspensi)
       Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak
terlarut dan tidak mengendap langsung. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel
yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada sedimen. Air buangan Rumah Sakit
mengandung jumlah padatan tersuspensi dalam jumlah yang sangat bervariasi. Limbah
cair Rumah Sakit mengandung padatan tersuspensi maupun larutan yang akan
mengalami perubahan fisik, kima dan hayati serta akan menghasilkan zat beracun atau
menciptakan media untuk tumbuhan kuman. Jika air limbah ini dibiarkan akan menjadi
coklat kehitaman serta berbau busuk. Padatan tersupensi dalam air akan mengurangi
cahaya yang masuk kedalam air sehingga mempengaruhi regenerasi oksigen secara
fermentasi.


2.6.5. Deterjen
       Dalam deterjen terkandung komponen utamanya, yaitu surfaktan, baik bersifat
kationik, anionik maupun non-ionik. Dengan makin luasnya pemakaian surfaktan
sebagai bahan utama pembersih maka risiko bagi kesehatan dan lingkungan pun makin
rentan. Deterjen sangat berbahaya bagi lingkungan karena dari beberapa kajian
menyebutkan bahwa detergen memiliki kemampuan untuk melarutkan bahan dan
bersifat karsinogen, misalnya 3,4 Benzonpyrene, selain gangguan terhadap masalah
kesehatan, kandungan detergen dalam air minum akan menimbulkan bau dan rasa tidak
enak. Deterjen kationik memiliki sifat racun jika tertelan dalam tubuh, bila dibanding
deterjen jenis lain (anionik ataupun non-ionik).
       Ada dua ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana produk kimia aman
di lingkungan yaitu daya racun (toksisitas) dan daya urai (biodegradable). ABS dalam
lingkungan mempunyai tingkat biodegradable sangat rendah, sehingga deterjen ini
dikategorikan sebagai ‘non-biodegradable’.
                                                                                   28

2.7. Evaluasi Efisiensi Pengurangan Parameter Limbah
2.7.1. Efisiensi Pengurangan BOD5
      Perhitungan efisiensi pengurangan BOD5 pada IPAL ini adalah sebagai berikut :

                   BODinlet − BODoutlet
   ηBOD5       =                        . 100%                        (2 – 1)
                       BODinlet

   Dimana      BODinlet = Kadar BOD di inlet

               BODOutlet = Kadar BOD di outlet



2.7.2. Efisiensi Pengurangan COD

      Perhitungan efisiensi pengurangan COD pada IPAL ini adalah sebagai berikut

             CODinlet − CODoutlet
   ηCOD =                         . 100%                              (2 – 2)
                 CODinlet

   Dimana      CODinlet = Kadar COD di inlet

               CODOutlet = Kadar COD di outlet



2.7.3. Efisiensi Pengurangan NH3

      Perhitungan efisiensi pengurangan NH3 pada IPAL ini adalah sebagai berikut
             NH 3 inlet − NH 3 outlet
   ηNH 3 =                            . 100%                          (2 – 3)
                    NH 3 inlet

   Dimana      NH 3inlet = Kadar NH 3 di inlet

               NH 3Outlet = Kadar NH 3 di outlet
                                                                                    29

2.7.4. Efisiensi Pengurangan TSS

   Perhitungan efisiensi pengurangan TSS pada IPAL ini adalah sebagai berikut
     ηTSS        TSS inlet − TSS outlet
            =                           . 100%                          (2 – 4)
                       TSS inlet

     Dimana TSS inlet      = Kadar TSS inlet di inlet

                 TSS Outlet = Kadar TSS Outlet di outlet



2.7.5. Efisiensi Pengurangan Deterjen

       Perhitungan efisiensi pengurangan ABS pada IPAL ini adalah sebagai berikut
     ηABS         ABS inlet − ABS outlet
             =                           . 100%                         (2 – 5)
                        ABS inlet

     Dimana ABS inlet = Kadar ABS inlet di inlet

                 ABS Outlet = Kadar ABS Outlet di outlet



2.8. Analisis Debit Operasional
         Dalam kajian ini debit operasional yang masuk ke dalam instalasi berasal dari
air buangan hasil aktivitas rumah sakit. Analisis karakteristik data debit dibutuhkan
untuk keperluan perancangan dari instalasi pengolah air limbah.
         Data debit air limbah bervariasi baik secara jam-jaman, harian, maupun
musiman tergantung pada keadaan dari sistem pengumpulan (Metcalf&Eddy, 2003).
Pada Tabel 2.6 dapat dilihat beberapa istilah umum yang sering dipakai untuk
menyatakan variasi debit dari air limbah.
                                                                                               30

        Tabel 2.8. Terminology yang dipakai dalam menyatakan variasi debit air
        limbah
                           Istilah                                     Uraian
         Debit rata-rata musim kering               Rata-rata debit harian yang muncul selama
                                                    musim kering (tidak dipengaruhi infiltrasi).
         Debit rata-rata musim basah                Rata-rata debit harian yang muncul selama
                                                    musim basah (dipengaruhi infiltrasi)
         Debit harian rata-rata                     Rata-rata debit yang muncul selama jangka
                                                    waktu 24 jam.
         Instanteous peak                           Debit tertinggi yang tercatat oleh alat
                                                    pengukur debit selama periode tertentu (debit
                                                    aktual yang muncul).
         Debit maksimum jam-jaman                   Debit maksimum yang muncul dalam selang
                                                    waktu 1 jam
         Debit maksimum harian                      Debit maksimum yang muncul dalam selang
                                                    waktu 1 hari.
         Debit maksimum bulanan                     Debit maksimum yang muncul dalam selang
                                                    waktu 1 bulan
         Debit minimum jam-jaman                    Debit minimum yang muncul dalam selang
                                                    waktu 1 jam
         Debit minimum harian                       Debit minimum yang muncul dalam selang
                                                    waktu 1 hari.
         Debit minimum bulanan                      Debit minimum yang muncul dalam selang
                                                    waktu 1 bulan.
        Sumber : Crites dan Tchobangolous (1998)


2.9. Prediksi Debit Air Limbah Pada Tahun 2013
        Debit limbah yang dihasilkan oleh rumah sakit sangat dipengaruhi oleh jumlah
kapasitas total yang dapat ditampung oleh rumah sakit tersebut. Semakin besar
kapasitas rumah sakit maka semakin banyak jumlah debit limbah yang dihasilkan.
Prediksi debit air limbah pada tahun 2013 dibutuhkan untuk menentukan dimensi
bangunan IPAL. Perhitungan prediksi debit dapat dilakukan dengan menggunakan
persamaan :
         Q air limbah 2013 = 70% x Q total air bersih 2013                                 (2 –6)


Sedangkan untuk menentukan kebutuhan air bersih tahun 2013 digunakan perkiraan
kebutuhan air bersih rumah sakit seperti yang tercantum dalam Tabel 2.9. (Takeo
Marimura, 2007:48)


        Tabel 2.9. Pemakaian Rata-rata Air Bersih
            Jenis Gedung        Pemakaian Air Rata-rata sehari (liter/hari)
         Rumah Sakit                   Pasien Rawat Inap          350 – 500
                                       Karyawan                   120
        (Soufyan dan Morimura, 1984:48).
                                                                                  31

2.10. Prediksi Beban Limbah Pada Tahun 2013
            Beban pencemaran merupakan salah satu parameter paling penting yang
sangat mempengaruhi baku mutu kualitas air. Beban pencemaran adalah jumlah suatu
parameter pencemaran yang terkandung dalam sejumlah air atau limbah. Untuk aliran
air limbah dinyatakan dalam satuan miligram per liter atau dalam gram per meter kubik
(Metcalf&Eddy, 2003).
            Beban pencemaran dapat ditentukan dengan mengukur kadar parameter
pencemaran dan volume atau debit aliran air atau limbah yang bersangkutan. Nilai
beban pencemaran tersebut dihitung dengan rumus :
            L = Qo x Co (2.30)                                               (2 – 7)
            Untuk mengubah data limbah industri menjadi data beban digunakan rumus
sebagai berikut:
            L = 86.4 x Q                                                     (2 – 8)
            Dimana :
            L    = beban pencemaran (kg/hari)
            Q    = Jumlah penduduk x debit limbah per orang (m3/detik)
            C    = konsentrasi parameter pencemaran (mg/ltr)
Angka 86.4 dari persamaan berasal dari konversi satuan yaitu :
            L    = m3 / detik x mg/tlr
                 = 103 ltr / (8.64 x 104 ) -1 hari x 10-6 kg/ltr
                 = 86.4 kg/hari


2.11. Bagian-bagian Instalasi Pengolahan Air Limbah RSI Siti Hajar Mataram
        Unit pengolahan air limbah pada umumnya terdiri atas kombinasi pengolahan
fisika, kimia, dan biologi. Seluruh proses tersebut bertujuan untuk menghilangkan
kandungan padatan tersuspensi, koloid dan bahan-bahan organik maupun anorganik
terlarut.
                                                              RUMAH SAKIT ISLAM                       KETERANGAN :
                                                                                                      A1   =   Bak Pemisah (dapur)
                                                                 SITI HAJAR                           A2   =   Bak Pemisah (cuci)
                                                                  MATARAM                             B1   =   Media Lekat
                                                                                                      B2   =   Bak Pengendap 1
                                                                                                      C    = Bak Adsorpsi
                                                                    SKEMA INSTALASI
                                                                                                      D    = Bak Pengendap 2
                                                                      PENGOLAHAN                      E    = Desinfeksi
                                                                       AIR LIMBAH
    P= 5 m
    L= 5 m
    T= 1,5 m
               P= 4 m
               L= 4 m
               T= 0,5 m

                                                    P=1,5 m
                                                    L=1 m
                                                    T=0,5 m      B2
                                                                       P=1m
                                                                       L = 0,70 m
                                                                       T = 0,65 m



                                                        C

                                                                                    A2     P=1,5 m
E               D                                                                          L=1 m
                                                                                           T=0,68 m



                                                          P=1 m                                                    P=1,5 m
                                                          L=1 m                                                    L=1 m
                                                          T=0,66m                                                  T=0,75 m


                                                                    B1                                    A1
                                                                                                                                     32




                            Gambar 4.4. Skema IPAL RSI Siti Hajar Mataram
                          Sumber : Instalasi Kesehatan Lingkungan RSI Siti Hajar Mataram
                                                                                     33

       Instalasi pengolahan air limbah RSI Siti Hajar Mataram dirancang atas beberapa
bangunan. Bangunan – bangunan itu diantaranya yaitu :
2.11.1. Bak Pemisah
       Bak pemisah berfungsi untuk memisahkan jenis air limbah antara air limbah
       yang berasal dari tempat cuci (laundry), dan dapur (kitchen). Bak pemisah juga
       berfungsi untuk menampung limbah sementara sebelum dilakukan pengolahan
       lebih lanjut. Berfungsi juga untuk menjaga kestabilan aliran limbah pada saat
       pengaliran limbah kedalam proses pengolahan. Tetapi biasanya sebelum masuk
       ke bak pengumpul dilakukan pengolahan pendahuluan (Pre Treatment).
       Pengolahan pendahuluan (Pre Treatment) dilakukan untuk menghilangkan sisa
       makanan, minyak, lemak dan busa dengan menggunakan saringan, sehingga
       tidak masuk ke instalasi pengolahan selanjutnya.


2.11.2. Media Lekat
       Pada proses pengolahan yang kedua adalah media lekat. Media yang dipakai
       adalah dengan mengembangkan mikroorganisme pada unit pengumpul air
       limbah. Mikroorganisme berfungsi untuk mengubah koloidal dan bahan-bahan
       organik karbon terlarut menjadi berbagai bentuk gas dan jaringan sel yang
       ringan (Perdana Ginting, 2007:148). Dengan demikian maka peranan
       mikroorganisme    sangat   berperan   penting      dalam   pengolahan   biologis.
       Mikroorganisme akan memanfaatkan air limbah sebagai makanannya, sehingga
       kadar air limbah akan berkurang.
                                                                                       34



                                     Lapisan
                                 Mikroorganisme Lapisan
                    Media           (Biofilm)     Air      Udara
                    Biofilter    Zona
                                Anaerob    Zona
                                           Aerob



                                                                     O2
                                                          BOD, N, P dan Nutrien Lain
                                                          NH4-N
                                          H2 S
                M EDIUM




                                                          H2O

                                                           CO2

                                                           N2
                                                          NO2, NO3
                                                          Senyawa hasil metabolisme
                                                                 yang lain


      Gambar 2.4. Mekanisme Proses Metabolisme Di Dalam Sistem Media Lekat
                                 Sumber: Nusa Idaman Said, 2005:14


      Mekanisme proses di dalam sistem Bak Media Lekat pada gambar 4.1. diatas
      menunjukan suatu sistem Mikroorganisme yang terdiri dari medium penyangga,
      lapisan Mikroorganisme yang melekat pada medium, lapisan air limbah dan
      lapisan udara yang terletak di luar. Senyawa polutan yang ada di dalam air
      limbah misalnya senyawa BOD, COD, NH3, dan lainnya akan terdifusi ke dalam
      lapisan mikroorganisme yang melekat pada permukaan medium. Pada saat
      bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut di dalam air limbah
      senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di
      dalam lapisan biofilm (Nusa Idaman Said, 2005:13).


2.11.3. Bak Adsorpsi
      Pengolahan ketiga yaitu dengan menggunakan proses adsorpsi yaitu dengan
      menggunakan media karbon aktif. Untuk pengolahan air limbah rumah sakit
                                                                                     35

      sangat baik untuk pemisahan organik terlarut, adsorpsi terjadi karena adanya
      tegangan permukaan dari karbon makin besar area yang disediakan, semakin
       besar molekul yang diadsorpsi. Karbon aktif juga dapat menghilangkan bau
      pada air limbah.

                                                                       Pasir Ayak


                                                                   Arang Tempurung kelapa


                                                                       Batu Jagung


                                                                       Batu koral




                         Gambar 2.5. Lapisan Bak Adsorpsi
                          Sumber: Site Plan IPAL RSUD Praya


      Pengolahan    air    limbah    dengan    menggunakan    karbon    aktif   biasanya
      dipergunakan sebagai proses kelanjutan dari pengolahan secara biologis. Karbon
      pada kejadian ini dipergunakan untuk mengurangi kadar dari benda organik
      terlarut. Di samping inti dari pengontakan karbon dengan air limbah, maka
      benda partikel juga bisa ikut dihilangkan. Proses ini biasanya dipergunakan
      untuk melengkapi proses secara biologis (Sugiharto, 1987:124).


2.11.4. Bak Pengendap
      Fungsi dari bak pengendap yaitu sebagai tempat tempat menghilangkan zat
      padat yang tercampur atau lumpur melalui pengendapan pada dasar bak atau
      pengapungan sebelum dilanjutkan ke proses selanjutnya. Pengendapan yang
      dihasilkan terjadi karena adanya kondisi yang sangat tenang sehingga partikel
      terkecil dapat mengendap di dasar bak.
                                                                                  36



                    Lebar (w)

                                                                    Pipa Keluar
                                                  N

       Pipa                     H
               Daerah                                   Daerah
   Masuk (Q) pemasukan                 Daerah         pengeluaran
                                    pengendapan



                                        L


              Gambar 2.6. Bak Pengendap Ideal Persegi Panjang
                          Sumber: Sugiharto, 1987:103.


Pengendapan di sini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil endapan yang
optimal melalui pengaturan besar kecilnya bak. Dengan demikian, air limbah
yang ada akan meninggalkan bak tersebut setelah berhasil mengendapkan
partikel kandungannya, dengan demikian bak tidak terlalu besar ataupun kecil
(Sugiharto, 1987:103). Bak Pengendapan di bagi menjadi 3 bagian, yaitu :
  I.   Daerah Pemasukan
       Pada daerah ini diharapkan air lirnbah dapat disebarkan secara merata
       sehingga pada setiap titik konsentrasi campuran dan besarnya partikel
       adalah sama.
 II.   Daerah Pengendapan
       Pada daerah ini diharapkan partikel mengendap dengan kecepatan
       yang sama. Aliran yang ada di daerah ini dibuat secara horisontal
       bergerak dengan kecepatan aliran yang sama dan konstan pada setiap
       titik, sehingga memungkinkan partikel bergerak secara horisontal ke
       arah bawah sebagai akibat adanya gaya gravitasi.
III.   Daerah Pengeluaran
       Air yang telah dijernihkan dikumpulkan secara serempak melalui
       saluran yang ada di atas.
                                                                                  37

       IV.    Daerah Lumpur
              Endapan dikumpulkan pada daerah pengendapan di dasar tangki
              pengendapan dan diharapkan seluruh partikel mencapai daerah lumpur
              secara terus menerus. Agar semua endapan dapat mengendap pada
              areal pengendapan. maka kecepatan aliran air limbah harus
              diselesaikan dengan kecepatan endapan sesuai dengan kedalaman dari
              bak pengendap tersebut. Dengan demikian kecepatan endapan dan
              kecepatan aliran partikel minimal harus sama dalam mencapai dasar
              bak dan mencapai daerah pengeluaran.


2.11.5. Bak Desinfeksi
       Bak desinfeksi digunakan untuk mensterilkan effluent sebelum dilepaskan
       keluar ke saluran pembuang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika
       memilih bahan desinfeksi, diantaranya :
       1.     Daya racun zat kimia tersebut
       2.     Waktu kontak yang diperlukan
       3.     Efektivitasnya
       4.     Rendahnya dosis
       5.     Tidak toksik terhadap manusia dan hewan
       6.     Tahan terhadap air
       7.     Biaya terjangkau
       Oleh karena itu, maka untuk bahan desinfeksi air limbah di IPAL RSI Siti Hajar
       Mataram menggunakan larutan kaporit yang teruji aman digunakan. Pengaliran
       larutan ini dilakukan dengan cara otomatis dengan menggunakan dosing pump
       sebagai pompa yang digunakan pada proses pembubuhan kaporit.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:3/15/2013
language:Unknown
pages:33