Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

POTENSI DAN PELUANG INVESTASI IKAN KERAPU

VIEWS: 5,870 PAGES: 24

ship design

More Info
									BAB VI POTENSI DAN PELUANG INVESTASI IKAN KERAPU DI KABUPATEN SUPIORI

A. POTENSI PERIKANAN DI KABUPATEN SUPIORI Kabupaten Supiori adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Sorendiweri. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 528 km2 dan berpenduduk sebanyak 12.369 jiwa (2000). Supiori merupakan pemekaran dari Kabupaten Biak Numfor berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2003, tanggal 18 Desember 2003 dan terdiri dari 3 distrik/kecamatan. Wilayah Supiori meliputi seluruh Pulau Supiori dan terdiri dari Kecamatan Supiori Utara, Selatan, dan Timur. Kecamatan yang terakhir ini dibentuk sebelum pemekaran. Wilayahnya merupakan gabungan empat desa dari Supiori Utara (Wafor, Sauyas, Sorendiweri, Waryesi), empat desa dari Supiori Selatan (Wombonda, Yaweman, Marsam, Duber), ditambah dua desa dari Kecamatan Warsa (Doubo, Syundori). Sekitar 95 persen dari luas lahan yang dimiliki Kabupaten Supiori di Provinsi Papua, merupakan kawasan hutan lindung. Penetapan kawasan itu sebagai hutan lindung dilakukan menyusul bencana tsunami (gelombang pasang) pada tahun 1996 yang menyebabkan abrasi pantai sampai ratusan meter ke darat. Kabupaten itu terdiri dari pulau-pulau dan dikelilingi laut yang merupakan bagian dari Samudra Pasifik. Supiori paling cepat dijangkau melalui Biak lewat Bandara Frans Kaisiepo, atau dari Pelabuhan Laut Biak. Dari situ perjalanan bisa diteruskan lewat darat maupun laut. Kalau ingin ke Supiori Utara lebih gampang lewat darat. Sekitar 60 persen wilayah kecamatan ini terhubung lewat darat. Sedangkan ke Supiori Selatan lebih pas menggunakan kapal. Sekitar 10 persen wilayah ini yang bisa dijangkau lewat darat, sisanya lebih cepat dijangkau melalui laut. Karena itulah pemerintah kabupaten
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 1

bekerja sama dengan kabupaten induk, Biak Numfor, memprioritas pengadaan kapal untuk transportasi laut. Komoditas andalan Supiori kelapa dan ikan. Ikan di kepulauan ini sejak dulu dikenal luas, seperti tuna, cakalang, tenggiri, baronang. Ikan napoleon yang dilindungi menjadi incaran nelayan-nelayan lain. Ikan ini banyak terdapat di laut wilayah Supiori. Beberapa kali kapal nelayan dari luar Supiori menangkap ikan napoleon secara ilegal tertangkap oleh armada TNI-Angkatan Laut yang berpatroli. Namun, tetap saja pencurian ikan mahal tersebut berlangsung. Di samping itu, terdapat budidaya rumput laut dan teripang. Pengelolaan sektor perikanan dan kelautan di Kabupaten Supiori dihadapkan pada tiga persoalan utama yaitu : Pertama, kesepakatan multirateral dan regional yang mengarah ke persaingan yang sangat ketat, Kedua, perkembangan tuntutan produk perikanan yang lebih kompleks karena terkait issu lingkungan, sosial-biologis prasyarat kearah ini adalah produk perikanan yang terhindar dari penggunaan zat kimia. Ketiga, Perkembangan teknologi yang membawa system produksi yang semakin terkontrol / terstandardisasi dalam hal keseragaman kualitas, ketepatan waktu dan penanganan resiko prasyarat ke arah ini adalah tersedianya infrastruktur pendukung. Mengingat perikanan laut merupakan komoditi yang mempunyai arti penting di KAPET Biak. Sekitar 98% produksi perikanan di kawasan ini berasal dari perikanan laut, dan diusahakan pada hampir seluruh wilayah kabupaten. Jenis ikan laut yang banyak diusahakan adalah kakap, kembung, tenggiri, tongkol. Kabupaten Biak Numfor yang merupakan pusat Kabupaten Supiori sebelum pemekaran memiliki potensi perikanan yang cukup besar dengan perairan laut seluas 1.086 Km2 dan potensi sumberdaya ikan sebesar 670.000 ton per tahun. Tingkat pemanfaatan potensi perikanan laut selama tahun 2003 baru mencapai 563,83 ton atau 0.08% atau terdapat 99,92% potensi sumberdaya yang ada yang belum dikelola
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

2

dan dimanfaatkan. Berikut ditampilkan produksi perikanan tangkap Kabupaten Biak Numfor (Data produksi perikanan tangkap Kabupaten Supiori masih menggabung pada Kabupaten Biak Numfor) Tabel 6.1. Produksi perikanan tangkap Kabupaten Biak Numfor dalam tahun 2003 Uraian 2001 Produksi (Ton) Pertumbuhan 123,7 Tahun 2002 129,08 4,63 % 2003 563,83 336,81 %

* Sebelum pemekaran Kabupaten Supiori

Peningkatan jumlah produksi penangkapan ikan yang cukup signifikan selama tahun 2003 disebabkan oleh bertambahnya sarana penangkapan dan pembuatan rumpon tradisional maupun rumpon rudal yang dipasang di perairan Biak Numfor. Beberapa jenis komoditi perikanan laut yang bernilai ekonomi tinggi telah dihasilkan di Kabupaten ini diantaranya: Jenis Ikan Pelagis: - Tuna, Cakalang, dan Tongkol - Kembung, tenggiri, mlayang, dll Jenis Kerang-kerangan, Kepiting, Ikan Hias, dan Binatang Lunak Lainnya: - Tiram, Remis, Kerang Darah, dll - Cumi-cumi, Sotong dan Gurita - Kepiting Bakau dan Rajungan - Berbagai jenis Teripang

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

3

Jenis ikan dasar (Demersal): - Kakap merah, Kakap Hitam, Kerapu, Napoleon, Kakatua - Kurisi merah, baronang, Kuwe, Hiu, dll

Jenis Udang Barong (lobster): - Lobster Mutiara - Lobster Hijau Peka - Lobster Hijau Bambu - Lobster Merah Batik - Udang Batu

Jenis Rumput Laut: - Euchema Cottoni, Euchema Edula, Euchema Spinosum - Gracillaria Confervoides, Gracillaria Lichenoides - Gelidium Rigida - Hypnea Charoides

Komoditi perikanan laut tersebut diatas selain dikonsumsi, juga dipasarkan baik di wilayah kabupaten Biak Numfor, daerah lain bahkan beberapa diantaranya telah diekspor ke beberapa negara diantaranya Hongkong, Jerman, Thailand, Malaysia dan Singapura. Tabel 6.2. Banyaknya Hasil Laut Yang Diekspor Tahun 2002 Jenis Tuna Beku Ikan Laut Beku Ikan Hias Jumlah Kgs Kgs Kgs Kgs Satuan Volume 347,451 821,630 18,491 1.187,57 Nilai ($) 2,624,829.12 8,319,449.12 12,129.69 10,956,407.93

* Sebelum pemekaran Kabupaten Supiori Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Biak Numfor KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 4

Tabel 6.3. Volume Ekspor Hasil Laut Menurut Negara Tujuan, Tahun 2002 Negara Tujuan Ikan Tuna Hongkong Jerman Thailand Singapura Malaysia Jumlah 347,451.00 347,451.00 Jenis Hasil Laut (Kg) Ikan Laut Beku 821,630.00 821,630.00 Ikan Hias 320.00 8,419.00 9,752.00 18,491.00

* Sebelum pemekaran Kabupaten Supiori Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Biak Numfor

Penduduk Kabupaten Biak Numfor yang berprofesi sebagai nelayan dari tahun ke tahun semakin meningkat, ini mengindikasikan bahwa populasi ikan laut di perairan bebas semakin terancam menurun. Untuk mengantispasi hal tersebut, KAPET Biak memainkan peran sebagai lokomotif investasi melalui peningkatan daya saing produk perikanan khususnya di Kabupaten ini. Peningkatan daya saing komoditas perikanan khususnya ikan kerapu dilakukan dalam bentuk diversifikasi melalui pengembangan kegiatan marinculture ikan-ikan karang seperti Kerapu dalam karamba jaring apung (Kajapung) di wilayah perairan pesisir. Untuk mendukung hal ini diperlukan penanganan dua sisi secara simultan, pertama digalakkannya konservasi terumbu karang sebagai habitat utama bagi berkembangnya ikan kerapu. Kedua, pelarangan penggunaan metode penangkapan secara destruktif yang menggunakan bahan peledak serta perburuan ikan yang menggunakan sianida. Penanganan simultan ini diharapkan untuk memenuhi tuntutan akan ketersedian produksi, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan. Pendekatan seperti akan memacu pertumbuhan ekonomi yang regional dan dapat
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

5

meningkatkan proses interaksi ekonomi antar wilayah pesisir serta meningkatnya kesadaran lingkungan terhadap ekosistem perairan. Perkembangan luas lahan budidaya perikanan selama kurun waktu 1998 – 2002 terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 1998 luas areal budidaya perikanan sebesar 6,65 hektar dan tahun 2002 seluas 12,59 hektar atau mengalami peningkatan sebesar 89,32 %. Peluang pengembangan perikanan budidaya di Kabupaten Biak Numfor sangat berprospek ditinjau dari dua factor, yaitu ketersediaan lahan dan potensi pengembangan usaha budidaya laut, dan tersedianya pasar yang menampung hasil-hasil perikanan budidaya baik pasar local, nasional maupun ekspor. Laju pertumbuhan usaha perikanan budidaya di Kabupaten Biak Numfor masih sangat rendah. Pada tahun 2002, jumlah petani ikan sekitar 2126 orang, yang mengalami peningkatan sekitar 3% per tahun. Tabel 6.4. Jumlah Rumah Tangga Nelayan Tahun 1998-2002
Kecamatan/Distrik Numfor Barat Numfor Timur Yendidori Samofa Biak Kota Padaido Biak Timur Biak Utara Biak Barat Warsa Supiori Utara Supiori Selatan Jumlah 2002 1998 89 36 58 0 251 158 116 61 57 49 151 313 1339 1999 101 50 75 0 326 192 213 115 98 183 195 420 1968 2000 103 52 77 0 328 194 215 117 100 185 197 422 1990 2001 112 86 93 0 335 203 220 125 108 192 204 428 2106 2002 113 87 94 0 338 205 222 126 109 194 206 432 2126

* Sebelum pemekaran Kabupaten Supiori Sumber : Dinas Perikanan Kabupaten Biak Numfor KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 6

Dari tabel diatas terlihat bahwa kecamatan/ distrik Supiori Selatan dan Supiori Utara yang kemudian dimekarkan dari kabupaten Biak Numfor menjadi Kabupaten Supiori adalah daerah yang memiliki jumlah rumah tangga nelayan yang paling tinggi. Hal ini memperlihatkan bahwa didaerah ini yang memiliki potensi perikanan laut yang paling baik dan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Sudah jelas daerah ini memiliki potensi ikan bagi masa depan masyarakat Supiori. Data sementara produksi perikanan di Supiori setelah dipisahkan dari Kabupaten Biak Numfor sekitar 4.000 ton. Jenis-jenis ikan di daerah ini antara lain ekor kuning, tuna, cakalang, udang, teripang, dan lain-lain. Kabupaten Supiori, sebagai wilayah kepulauan memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Salah satu jenis komoditi laut yang mempunyai pasar menjanjikan salah satunya ikan kerapu. Ikan kerapu sangat potensial untuk komoditi ekspor karena memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Akan tetapi penangkapan langsung di laut secara besar-besaran akan menurunkan populasi kerapu. Namun untuk ikan-ikan kerapu, meskipun jumlah yang ditangkap di alam hasilnya sangat terbatas, tetapi karena harga jual ikan kerapu (ukuran tertentu) sangat tinggi, maka hasil produksi yang sedikit itu tetap menguntungkan. Sedangkan ikan-ikan kerapu yang ukurannya kecil (belum memenuhi syarat) dapat dibudidayakan di karamba, yang beberapa bulan kemudian dapat dijual dalam keadaan hidup dengan harga mahal. Ditinjau dari sisi pemasaran, peluang pengembangan usaha agribisnis perikanan masih sangat terbuka, oleh karena laju pertumbuhan produksi perikanan dunia yang masih didominasi oleh perikanan laut dan telah menunjukkan trend yang baik, terutama dengan semakin meningkatnya konsumsi dunia sejalan dengan bertambahnya penduduk dunia serta peningkatan pendapatan.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Sementara itu
XII 7

produksi perikanan dari negara-negara maju mengalami penurunan, sehingga kian membuka peluang bagi kelompok negara-negara berkembang terutama Indonesia untuk meningkatkan produksi. Pertimbangan lain adalah, bahwa usaha karamba jaring apung ini dapat dikembangkan hampir di sebagian besar wilayah pantai di daerah ini, asalkan memenuhi persyaratan teknis seperti keadaan gelombang dan angin yang tidak terlalu keras, bebas polusi, serta aspek teknis lainnya. Dan yang terakhir, usaha budidaya ikan kerapu relatif lebih mudah dari pada budidaya udang tambak, sehingga dari segi kemampuan dan keterampilan SDM pada umumnya tidak menjadi masalah. Untuk menunjang kelangsungan investasi ikan kerapu, maka perlu dilakukan sistem budidaya secara terpadu. Hampir semua lokasi di Kabupaten Supiori memiliki potensi untuk pengembangan ikan kerapu tersebut. Akan tetapi sebagai awal pengembangan budidaya kerapu, BP KAPET Biak merekomendasikan lokasi Teluk Ordori Kabupaten Supiori, dikarenakan kecocokan lokasi, bibit yang telah ada, serta yang terpenting adalah kesiapan masyarakat sendiri untuk menyambut investasi.

B. ASPEK PRODUKSI IKAN KERAPU 1. Jenis-jenis Kerapu Dalam perdagangan internasional ikan kerapu dikenal dengan nama Grouper/ trout sebagai ikan konsumsi yang dipasarkan dalam keadaan hidup atau fresh. Ikan ini umumnya tersebar di daerah tropis dan sub tropis di perairan terumbu karang, atau juga dikenal sebagai salah satu ikan dasar yang bernilai komersial. Ikan kerapu termasuk dalam family Serranidae, dan jumlahnya sekitar 46 spesies yang hidup di berbagai habitat. Dari jumlah tersebut terdapat 7 genus ikan kerapu yang ada saat ini, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola. Dari 7 genus tersebut
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 8

umumnya hanya genus Chromileptes, Plectropomus, dan Epinephelus yang termasuk komersial terutama untuk pasaran internasional, seperti ikan kerapu bebek/Polkadot Grouper atau ikan kerapu napoleon (Cheilinus undulatus); kemudian ikan kerapu sunuk/ Coral trout (termasuk genus Plectropomus); serta ikan kerapi lumpur/ Estuary Grouper dan ikan kerapu macan/Carpet cod (termasuk genus Epninephelus). Dari beberapa jenis ikan kerapu komersial tersebut, ikan kerapu sunuk atau kerapu merah (Plectrocopomus leopardus) dan ikan kerapu lumpur jenis Epinephelus suillus yang banyak dibudidayakan oleh karena jenis ikan ini ternyata pertumbuhannya lebih cepat daripada jenis ikan kerapu lainnya, dan benihnya selain diperoleh dari alam (penangkapan) juga sudah dapat diadakan dengan cara pemijahan dalam bak, sedangkan ikan kerapu lainnya sulit dipijahkan dengan berhasil, sehingga pengadaan benihnya harus diambil dari alam. 2. Teknik Pembesaran Selama ini produksi ikan kerapu diperoleh oleh para nelayan dengan cara penangkapan, baik dengan kail (hand line) atau dengan alat tradisional lainnya, seperti bubu, sero, atau rawai dasar. Pada umumnya hasil tangkapan nelayan ini langsung dikonsumsi atau dijual segar dalam jumlah yang kecil karena penangkapan dengan sistem ini memang sangat terbatas. Namun akhir-akhir ini (sesuai permintaan dan trend pasar yang menghendaki ikan kerapu hidup) para nelayan telah mencoba membudidayakan dengan pembesaran secara tradisional, dimana benihnya berasal dari tangkapan di laut. Namun secara tradisional ini produksinya sangat terbatas oleh karena pengadaan benih ikan sangat tergantung pada musim gelombang dan jumlah pengadaannya juga sangat sedikit. Oleh sebab itu muncul ide pembesaran ikan

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

9

secara lebih modern yaitu teknologi budidaya dengan kajapung (keramba jaring apung) yang benihnya berasal dari hasil pemijahan. Metode kajapung adalah teknik akuakultur yang paling produktif dan dan merupakan metode intensif dengan konstruksi yang tersusun dari karambakaramba jaring yang dipasang pada rakit terapung di perairan pantai. Sedangkan benihnya berasal dari ikan kerapu induk yang dipijahkan secara modern. Keuntungan dengan metode ini antara lain, penebaran bersifat massal sehingga hasil produksi menjadi relatif besar; jumlah air selalu memadai; pemangsa (predator) mudah dikendalikan; benih ikan bisa seragam; dan mudah dipanen. 3. Syarat Lokasi Agar usaha budidaya ikan kerapu dengan kajapung dapat berjalan dengan baik, maka lokasi areal pembesaran ikan dimana kajapung ditempatkan harus dilakukan penelitian, sehingga lokasi tersebut benar-benar layak. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi tersebut antara lain : Gangguan Alam Lokasi harus terhindar dari badai dan gelombang besar atau gelombang terus menerus. Sebab gangguan alam ini akan mengakibatkan konstruksi kajapung akan mudah rusak, dan menyebabkan ikan menjadistres yang akhirnya produksi menjadi turun.Untuk mengatasi hal ini, dapat dipilih lokasi perairan yang terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil ini berguna untuk menghambat gelombang dan badai (lihat Gambar Contoh Lokasi Kajapung). Gangguan Pencemaran Lokasi harus bebas dari bahan pencemaran yang mengganggu kehidupan ikan. Pencemaran tersebut dapat berupa limbah industri, limbah pertanian, dan limbah rumah tangga
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 10

-

Gangguan Predator Predator yang harus dihindari adalah hewan laut buas seperti ikan buntal (ikan bola) dan ikan besar yang ganas yang dapat merusak kajapung. Burung-burung laut pemangsa ikan juga harus diwaspadai.

-

Gangguan Lalu Lintas Kapal Lokasi kajapung bukan merupakan jalur transportasi kapal umum, kapal barang, atau kapal tanker.

-

Kondisi Hidrografi Perairan di mana kajapung ditempatkan harus pula memenuhi persyaratan sifat fisika dan kimia, yaitu : a) Kadar garam antara 33 - 35 ppt b) Suhu berkisar pada 27 - 32 o C c) pH air klaut antara 7,6 - 8,7 d) Kandungan oksigen terlarut dalam air lauitar 0,2 - 05 m/detik

4. Pembuatan Rakit Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat rakit yaitu kayu balok atau bambu berbagai ukuran, pelampung dari styrofoam atau drum plastik, bisa juga jrigen ukuran besar; jangkar atau bahan pemberat lainnya; dan tali temali. Bahnbahan tambahan lain digunakan untuk rumah jaga, terdiri dari kayu balok, papan, dan seng/asbes. Bahan-bahan tersebut selanjutnya dibangun menjadi 1 unit rakit dengan ukuran yang sesuai dengan rencana anggaran setiap plasma. Tetapi setiap 1 unit rakit plasma sudah termasuk rumah jaga. Pembuatan Karamba Karamba yang telah siap digunakan belum tersedia di pasaran. Bahan yang tersedia biasanya masih dalam bentuk jaring polietilen dalam bentuk gulungan dengan ukuran tertentu. Untuk jaring kajapung biasanya digunakan jaring No. 380 D/9 dan 380 D/13 berukuran mata jaring (mesh size) 1 inci dan 2 inci,
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 11

disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan atau ikan yang ditampung. Kajapung terdiri dari 4 petak yang memiliki fungsi berbeda. Petak ke-1 dan ke-2 untuk bibit ikan yang baru didapat dengan ukuran di bawah 0,5 Kg; petak ke-3 untuk ikan hasil pembudidayaan yang telah cukup besar (di atas 0,5 Kg) atau ikan hasil tangkapan dengan ukuran 0,6 - 0,7 Kg); dan petak ke-4 khusus untuk menampung ikan hasil penangkapan dengan ukuran di atas 0,8 Kg yang akan dijual. 5. Penyediaan Benih Dan Penampungan Pada awal perkembangan usaha budidaya ikan kerapu dengan kajapung, benih ikan karapu yang akan dibudidayakan berasal dari alam hal ini terjadi karena pada saat itu teknologi penyediaan benih secara modern dengan teknologi rekayasa belum berhasil dikembangkan, sehingga para nelayan yang "harus" memenuhi trend pasar, mencari alternatif dengan cara memperoleh benih dari alam. Sejak beberapa tahun terakhir berkat kontribusi pakar perikanan dalam negeri, rekayasa pengadaan benih ikan kerapu secara modern berhasil dikembangkan, namun dari beberapa jenis ikan kerapu komersial, yaitu ikan kerapu lumpur, ikan kerapu sunu dan ikan kerapu napoleon. Berdasarkan hasil uji coba dan penerapan secara komersial, jenis ikan kerapu lumpur (Epinephelus suillus) menunjukkan hasil yang sangat positif untuk dikembangkan. Jenis ikan kerapu yang akan dikembangkan dengan kajapung adalah ikan-ikan hasil tangkapan dari alam dengan cara campuran, yaitu 30% hasil tangkapan berupa ikan kerapu ukuran kecil (dengan beragam jenis) yang akan dibudidayakan, dan 70% adalah ikan kerapu ukuran 0,8 ke atas yang siap dijual untuk ditampung sementara, sambil menunggu dikapalkan. Penyediaan bibit untuk budidaya dan penyediaan ikan kerapu yang akan ditampung, dilakukan dengan cara penangkapan secara tradisional, yaitu
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

12

dengan cara memancing di ground fish ikan kerapu, yaitu di kawasan terumbu karang. Cara penangkapan dengan pembiusan s merusak lingkungan, khususnya kawasan terumbu karang. Namun untuk armada penangkapannya yaitu kapal-kapal penangkapan dirancang semi modern, misalnya kapal kayu bermesin. Sedangkan penangkapannya dilakukan secara berombongan oleh setiap anggota plasma yang dipersiapkan dengan beberapa kapal berikut nelayan/ABK-nya. Setiap plasma dalam model yang akan dikembangkan ini dirancang memiliki 4 kapal penangkapan ikan, dimana setiap kapal terdiri dari 2 ABK, sehingga pada akhirnya produksi penangkapan dapat maksimal. Kapal-kapal plasma ini, dirancang pula dengan palka yang berisi air laut dengan sistem sirkulasi sederhana, yaitu palka yang dilapisi fibre glass yang terdapat lubang (inlet – outlet) untuk sirkulasi air laut saat pengangkutan ikan. Dengan adanya lubang-lubang tersebut, maka air dalam laut selalu mengalami pergantian secara otomatis sekaligus terjadinya oksigen yang cukup yang diperlukan oleh ikan-ikan kerapu selama perjalanan kembali menuju lokasi kajapung. 6. Pemeliharaan/Pembesaran Setelah benih siap dipelihara, benih-benih tersebut ditebar di kajapung yang telah disediakan. Kajapung yang ditempatkan di lokasi pembesaran sebagaimana telah dikemukakan di mu, telah memenuhi persayaratan lokasi dan persyaratan teknis. Namun dalam penebaran juga harus diperhatikan salah satu syarat yang tidak kalah pentingnya, yaitu kepadatan awal penebaran. Kepadatan awal untuk budidaya ikan kerapu ini adalah sebanyak 50 - 60 ekor/m3, dengan ukuran ikan sekitar 20 - 50 g/ekor. Sedangkan selama pemeliharaan, masalah daya dukung perairan (carrying capacity) perlu tetap

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

13

dijaga, yaitu pada batas 41,7 kg/m3, sehibgga karamba tidak mengalami kelebihan beban. a. Pakan Dan Cara Pemberian Pakan Pakan merupakan salah satu aspek yang memerlukan perhatian cukup besar sehingga harus direncanakan dengan matang yaitu menekan anggaran pengeluaran serendah mungkin, tetapi hasilnya tetap optimal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemelihan jenis pakan yang tepat namun tetap mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan, dan harga yang murah. Tujuan untuk mendapatkan hasil yang baik dengan pengeluaran yang relatif rendah adalah dengan memberikan pakan dari jenis ikan-ikan yang tak laku di pasaran (non-ekonomis), yaitu ikan-ikan yang digolongkan sebagai ikan rucah seperti ikan tembang, rebon, selar dan sejenisnya yang banyak tersebar di perairan Nusantara. Pemilihan pakan ikan kerapu yang berasal dari kan rucah ini, selain harganya murah dan mudah diperoleh, juga karena pakan buatan khusus ikan kerapu memang belum ada di pasaran. Pakan dari jenis ikan rucah ini tetap harus dijaga kualitasnya, setidaknya kondisinya tetap dipertahankan dalam keadaan segar, misalnya disimpan dalam freezer. Pakan yang tidak segar atau terlalu lama disimpan, akan menyebabkan turunnya kualitas nutrisi (asam lemak esensial yang sangat dibutuhkan oleh ikan kerapu), yang hilang karena proses oksidasi. Pemberian pakan yang ideal tergantung pada ukuran ikan kerapu yang dipelihara. Ikan yang berukuran 20 - 50 g, dapat diberikan pakan sebesar 15% per hari dari bobot biomassa. Selanjutnya persentase diturunkan seiring dengan pertumbuhan ikan. Setelah mencapai ukuran 100 g pakan diberikan sebanyak 10% per hari, dan kemudian dikurangi setiap 1 (satu)

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

14

bulan pemeliharaan, hingga akhirnya diberikan sebanyak 5% per hari saat ikan kerapu telah mencapai ukur> Hama yang dapat mengganggu produksi ikan kerapu terutama burungburung pemangsa ikan. Untuk mencegah jenis hama ini, dpat dilakukan dengan cara menutup permukaan kajapung dengan jaring, sehingga burung tidak dapat langsung masuk kajapung. Hama lain yang mengganggu adalah ikan buntal atau ikan besar. Pencegahannya, harus diadakan pengontrolan secara rutin, termasuk pada malam hari. b. Pengendalian Penyakit Sebagaimana pada umumnybudidaya komoditas perikanan,penyakit harus menjadi perhatian khusus, sebab penyakit yang melanda budidaya perikanan lebih akan rendah, menyebabkan dan kematian, kekerdilan, periode produksi. pemeliharaanlebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang hilangnya/menurunnya Penyebab-penyebab penyakit pada budidaya ikan kerapu, antara lain lkarena stres, organisme patogen, perubahan lingkungan, keracunan, dan kekurangan nutrisi. Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang budidaya ikan kerapu antara lain : • Stres Ikan yang baru ditebar, biasanya dapat mengalami stres, apabila dalam transportasi dari kolam pendederan ke kajapng tidak ditangani dengan baik hati-hati. Begitu pula saat diturunkan untuk ditebar ke kajapung dilaksanaknsecara sembarangan, akan menyebabkan ikan-ikan mengalami stres. Sehingga ikan menjadi shock, tidak mau makan, kanibalisme, dan meningkatnya kepekaan terhadap penyakit.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

15

Untuk mengurangi stres saat penebaran, selain dilakukan dengan hatihati, ikan-ikan perlu dilakukan aklimatisasi dengan cara mengubah sedikit demi sedikit kondisinya sehingga menyerupai kondisi lingkungan yang baru. Sebagi contoh, benih-benih yang baru saja mengalami transportasi dan dikemas dalam kantong plastik tidak boleh langsung ditebar, tetapi harus dilakukan penyesuaian suhu. Cara yang paling mudah, yaitu kantong plastik yang berisi benih ikan direndam dalam kajapung, hingga akhirnya suhu dalam kantong plastik akan sama dengan suhu pada kajapung. Setelah itu baru ditebar. • Organisme Cacing Cacing yang menyerang ikan kerapu budi daya umumnya dari jenis Diplectanum yang menyerang insang. Ikan yang terserang cacing ini akan terlihat pucat dan tampak berlendir. Untuk menanggulangi penyakit ini, antara lain dengan cara meredam ikan yang terserang dalam larutan foramlin dengan dosis 200 ppm selama 0,5 - 1 jam, dan diulang setelah 3 hari. Protozoa Jenis protozoa yang sering menyerang ikan kerapu yaitu Crytocaryon sp. Penyakitnya disebut crytocaryoniosis atau bintik putih (white spot). Organisme ini menyerang ikan pada bagian kulit dan insang, dengan tanda-tanda ikan yang terserang akan menjadi lesu, selera makan hilang, sisik terkelupas, dan mata buta, dsb. Untuk mengatasi penyakit ini, yaitu merendam ikan dalam air laut yang mengandung formalin 100 ppm + acrivlavin 10 ppm selama 1 jam.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

16

Nerocila Hewan parasit ini biasanya menyerang bagian insang yang mengakibatkan pernafasan ikan terganggu. Jenis parasit ini dapat ditanggulangi dengan cara mengangkat karamba, dan ikan-ikan dimasukkan dalam bak. Setelah itu karamba disemprot dengan larutan formalin 1%. Sedangkan ikanikan direndam dalam formalin 200 ppm beberapa menit sampai parasit ini rontok sendiri. Bakteri Golongan mikroorganisme yang sering menyebabkan penyakit pada ikan laut, yaitu bakteri perusak sirip (bacterial fin rot), bakteri vibrio, dan bakteri streptococus sp. Obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan bakteri ini adalah obat-obatan jenis antibiotik.

7. Panen Dan Penanganan Hasil Dengan teknik pemeliharaan seperti diuraikan di muka, benih ikan yang ditebar dengan ukuran awal 20 g membutuhkan waktu selama 7 bulan untuk mencapai ukuran 500 g. Sedangkan untuk ikan dengan ukuran awal 50 g memerlukan waktu hanya 5 bulan untuk mencapai berat 500g. Ikan kerapu dengan ukuran ini, telah dapat dipanen, dan di pasaran telah dapat diperdagangkan dengan harga yang cukup tinggi. Pelaksanaan pemanenan ikan kerapu budidaya dengan kajapung relatif lebih mudah dari pada pemanenan ikan kolam atau udang tambak yang harus dilakukan pembuangan air. Sedangkan di kajapung, cukup dengan cara mengangkat tepi pemberat sudut-sudut kajapung sehingga ikan mudah diambil.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

17

Namun demikian, mengingat ikan kerapu dipasarkan dalam keadaan hidup sehingga kesehatan ikan dan keadaan ikan setelah panen harus tetap dijaga, sehingga tidak ada ikan yang luka (harga ikan akan turun bila ada yang cacat atau luka saat pemanenan), maka perlu dilakukan persiapan-persiapan pemanenan. Langkah persiapan pemanenan meliputi penyediaan sarana dan alat panen, seperti serokan, bak air laut, aerasi, timbangan, dan kapal yang dilengkapi dengan palka penampung ikan. Alat dan sarana ini harus dalam keadaan bersih. Pada saat pelaksanaan pemanenan, pemberian pakan dihentikan. Langkah pertama pelaksananaan pemanenan dimulai dengan melepas tali pemebrat pada kajapung, kemudian jaring karamba diangkat secara perlahan agar ikan tidak berontak. Setelah terangkat, lihat Gambar 4, sedikit demi sedikit ikan diserok dengan serokan, dan dimasukkan ke dalam palka pada kapal pengangkut yang sebelumnya telah diisi air laut. Setelah tiba di lokasi Pabrik/Coldstorage perusahaan inti, ikan dalam palka dipindah ke pabrik dengan drum-drum atau ember yang berisi air laut. Untuk selanjutnya ditimbang dan diproses lebih lanjut.

8. Pemeliharaan Ikan Besar Ikan-ikan kerapu hasil tangkapan yang besarnya antara 0,8 - 1,2 Kg, dimasukkan pada kolam tersendiri sesuai ukurannya. Sedangkan cara pemeliharaannya, ukuran kecil. mulai dari pemberian pakan dan pengendalian penyakit/hama, perlakuannya sama saja dengan pemeliharaan ikan kerapu

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

18

Hanya yang perlu diperhatikan adalah, masa adaptasi di kajapung mengingat ikan ini sudah besar di alam habitatnya. Untuk itu pengawasan secara ketat a menyebabkan kematian. 9. Pemanenan/Pengangkutan Ikan Pemeliharaan ikan-ikan yang telah memenuhi nilai komersial ini, biasanya tidak berlangsung lama, yaitu antara 1 minggu sampai 1 bulan lamanya. Apabila ikan-ikan tersebut telah siap dipasarkan oleh Inti, maka perlakuan pemindahan ikan-ikan tersebut ke kapal pengangkut, sama dengan perlakuan pada ikan kerapu budidaya.

C. PELUANG PENGEMBANGAN DAN PROSPEK BISNIS BUDIDAYA IKAN KERAPU

1.

Pengembangan Komoditas Ikan Kerapu Ikan laut masih relatif murah dibandingkan dengan sumber protein hewan, misalnya daging ayam, daging domba, dan daging sapi. Oleh karena itu, meskipun produksi ikan naik, masalah pemasaran ikan laut mungkin tidak akan timbul di pasar ikan dalam negeri maupun luar negeri. Peluang untuk memasarkan ikan khususnya ikan kerapu di Indonesia maupun di luar negeri sangat baik. Faktor elastisitas harga ikan relatif rendah, yaitu 1,06, berarti permintaan ikan dari para konsumen akan menurun sedikit, yaitu 0,6% bilamana harga jual ikan naik 1%. Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. Hanya sebagian kecil diolah menjadi "fillet" beku, ikan asin, ikan kering, ikan kaleng, ikan asap, ataupun tepung ikan. Kurangnya pengolahan ikan juga merupakan indikasi bahwa permintaan ikan dari masyarakat mantap dan cenderung naik.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

19

Ikan kerapu merupakan jenis jenis ikan laut yang diolah dan diekspor oleh para usaha besar yang bermitra dengan nelayan di perairan Indonesia Bagian Timur (IBT). Jenis ikan tersebut adalah ikan besar yang dieskpor segar atau secara beku ke luar negeri. Pabrik pengolahan ikan yang memproduksi macam-macam produk ikan olahan, seperti 'sashimi", "loins", dan "fillet" mendapat nilai tambah tinggi, karena produk-produk ikan olahan dijual dengan harga valas yang tinggi dengan jumlah yang cukup besar. Ikan kerapu saat ini masih ditangkap oleh para nelayan dari laut lepas. Sebagian besar dari hasil penangkapan jenis ikan tersebut diolah oleh para nelayan bersama keluarga, menjadi ikan kering maupun ikan asam maupun dijual dalam bentuk segar. Beberapa perusahaan ekspor di Indonesia mengekspor ikan olahan tersebut, akan tetapi hubungan kemitraan antara para nelayan dengan perusahaan ekspor masing kurang dikembangkan. Angka nilai ekspor ikan Biak Numfor yang mencapai 10,956,407.93 US$

memberikan suatu gambaran tentang nilai ekspor ikan dan hewan air olahan lainnya dari perusahaan besar yang telah berhasil mengembangkan proyek kemitraan dengan para nelayan. Potensi untuk meningkatkan nilai maupun kuantitas ikan tersebut ke pasar-pasar luar negeri masih cukup tinggi. Sektor penangkapan maupun pengelolaan ikan melalui pola kemitraan sangat potensial untuk dikembangkan seperti halnya pengembangan ikan kerapu dengan metode karamba Jaring Apung (KAJAPU). Penerimaan untuk semua pihak yang bemitra dalam proyek kemitraan tersebut dapat memperkecil dampak dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia khususnya di bagian timur Indonesia. Arah pengembangan perikanan laut khususnya ikan kerapu selain budidaya adalah diarahkan terutama bagi pengembangan produk olahan komoditi ikan seperti ikan kering, ikan asam maupun ikan olahan lainnya. Untuk selengkapnya cluster ikan dapat dilihat pada pada gambar berikut.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 20

Gambar 6.1. Pohon industri Komoditi Ikan Kerapu

2.

Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Analisa ini diharapkan akan dapat menjawab apakah para nelayan akan mendapatkan nilai tambah dari proyek ini dan mampu mengembalikan kredit yang diberikan oleh bank dalam jangka waktu yang wajar. Perhitungan ini didasarkan pada kelayakan usaha setiap nelayan yang akan mengembangkan (ekstensifikasi) penangkapan dan budidaya ikan kerapu seluas 1 unit kajapung berikut armada kapal penangkap ikan. Dengan demikian usaha ini meliputi keseluruhan proses yaitu kegiatan sejak awal, mulai dari kegiatan survei lokasi penempatan kajapung, survei lokasi perencanaan proyek termasuk desain teknis kajapung, pembuatan kajapung, sampai benih ikan yang dibudidayakan siap menghasilkan.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

21

Skim kredit yang digunakan adalah kredit dengan bunga pasar sebesar 30 % per tahun dengan masa tenggang selama 6 bulan. Selama masa tenggang bunganya adalah sebesar 28 %. Sedangkan waktu kredit adalah selama 42 bulan (termasuk masa tenggang). a. Kebutuhan Biaya Investasi Biaya investasi budidaya digunakan untuk investasi 1 unit kajapung (sebanyak 44 petak); armada kapal bermesin penangkap ikan sebanyak 44 unit (ukuran 2 GT); 55 set jaring; dan peralatan bantu lainnya. Perincian biaya investasi untuk 1 unit kajapung untuk budidaya ikan kerapu dapat dilihat pada Lampiran B.1 sampai B. 5. Biaya investasi ini digunakan untuk membuat rangkaian kajapung yang terdiri rangkaian rakit yang dibangun di atas pelampung (pelampung yang dimaksud adalah dari drum plastik), jaring apung, rumah jaga, tali temali dan jangkar penambat. Selanjutnya pengadaan kapal bermesin ukuran 2 GT (mesin tempel) lengkap dengan palka. Investasi non-kajapung lainnya digunakan untuk pembangunan prasarana, seperti jalan penghubung antar unit kajapung milik nelayan (jika diperlukan), Genset, lampu-lampu pengaman, lampu pada pos penjaga pantai, dsb. 2. Proyek Laba / Rugi Proyeksi laba/rugi memberikan gambaran tentang kegiatan usaha budidaya ikan kerapu dalam periode yang akan datang. Asumsi dasar yang digunakan untuk perhitungan laba atau rugi ini adalah menyangkut kualitas ikan kerapu yang dijual nelayan. Kualitas ikan kerapu yang dijual nelayan adalah ikan dengan ukuran 0,8 s/d 1,2 Kg karena ikan-ikan ukuran ini

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

22

harganya lebih tinggi, dengan jenis ikan sebagian besar ikan kerapu sunu, dan sebagian lagi ikan kerapu macan dan ikan kerapu lumpur. Sedangkan produksi tangkapan nelayan, diasumsikan sebesar 70 % ikan ukuran 0,8 s/d 1,2 Kg yang selanjutnya dipelihara selama sekitar 1 minggu s/d 1 bulan; dan sebesar 30 % dibudidayakan selama 5 bulan. Berdasarkan asumsi tersebut selanjutnya perhitungan diproyeksikan setiap semester, sejak hasil penangkapan yang dipelihara selama 1 (satu) bulan, dan kemudian kajapung mulai menghasilkan pada akhir bulan ke-6. Namun nelayan mulai memperoleh keuntungan yang memadai pada akhir semester ke-2 atau akhir bulan ke-12 proyek. Sejak akhir tahun pertama produksi, keuntungan nelayan plasma tersebut berkisar Rp. 300.000.000,- . Keuntungan tahun ke-2 dan seterusnya, besarannya konstan (lihat Lampiran B. 7). 3. Proyeksi Aliran Kas Dengan mengatur seluruh dana pembiayan dari bank dan adanya grace period selama 6 bulan , maka selama masa proyek tidak terjadi defisit. Nelayan dapat mengembalikan pokok serta bunga pinjaman dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu selama 4 tahun dan mendapatkan keuntungan yang wajar. 4. Kriteria Kelayakan Proyek Untuk menilai kelayakan proyek ini digunakan kriteria NPV, IRR, B/C, dan BEP, lihat Tabel 3 dan Lampiran B-03. Dari tabel tersebut terlihat bahwa IRR proyek adalah sebesar 53 %, jauh lebih tinggi dari bunga kredit komersial yang berkisar antara 22 % - 27 % dan B/C nya 1,21. Dengan demikian, usaha ini secara finansial sangat layak untuk dikembangkan.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI XII 23

ikan ukuran kecil 0,3 s/d 0,5 Kg

Tabel 6.5. Hasil Analisa Finansial Proyek No. 1. 2. 3. Kriteria Kelayakan Proyek NPV (df = 30 %) B/C IRR Nilai Rp. 1.341.696.068,1,65 111,74 %

4. Analisis Sensitivitas<> - Analisis Sensitivitas Harga Penjualan Turun 10 % - Analisis Sensitivitas Biaya Produksi Naik 10 % Meskipun harga ekspor cenderung naik, namun untuk mengantisipasi terjadinya penurunan harga di luar negeri, maka dalam analisis ini diperhitungkan mengalami penurunan sekitar 10 %. Dari hasil perhitungan ternyata, IRR proyek adalah sebesar 42,25 % masih di atas bunga pasar. Begitu pula B/C ratio-nya adalah 1,34 masih di atas 1,00 sehingga proyek ini secara finansial layak untuk dikembangkan. Tabel 10.2. Hasil Analisis sensitivitas No. 1. 2. 3. Kriteria Kelayakan Proyek NPV (df = 30 %) B/C IRR Nilai Rp. 757.459.666,1,49 35,69 %

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

XII

-

24


								
To top