Seni lukis

Document Sample
Seni lukis Powered By Docstoc
					Seni lukis
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
   Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
       Ada usul agar artikel atau bagian dari halaman Lukisan digabungkan ke halaman
       atau bagian ini. (diskusikan)
Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang
sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.
Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek
tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja,
seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai
media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa
memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.
Daftar isi
[sembunyikan]
    1 Sejarah umum seni lukis
           o 1.1 Zaman prasejarah
           o 1.2 Seni lukis zaman klasik
           o 1.3 Seni lukis zaman pertengahan
           o 1.4 Seni lukis zaman Renaissance
           o 1.5 Art nouveau
    2 Sejarah seni lukis di Indonesia
    3 Aliran seni lukis
           o 3.1 Surrealisme
           o 3.2 Kubisme
           o 3.3 Romantisme
           o 3.4 Plural painting
           o 3.5 Seni lukis daun
           o 3.6 Aliran lain
    4 Abstraksi
    5 Pelukis terkenal Indonesia
    6 Lihat pula

[sunting] Sejarah umum seni lukis
[sunting] Zaman prasejarah
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan
prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang
manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan
bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya
dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya.
Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah
dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan
dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni
di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini
memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat
daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai,
kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut
juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan
objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek
yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat
dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor
banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan
ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang
menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena
itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari
pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah
yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari
makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk
dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik
untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa
keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi
semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada
saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
[sunting] Seni lukis zaman klasik
Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:
     Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
     Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),
Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang
ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya
kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam
banyak hal.
[sunting] Seni lukis zaman pertengahan
Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis
mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir
yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis
pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.
Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga
sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus".
Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama
yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan
abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda).
[sunting] Seni lukis zaman Renaissance
Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan
budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah
semenanjung Italia sekarang. Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota
Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya
menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa. Seni rupa
menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini
tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan
yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke
seluruh Eropa hingga Eropa Timur.
Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:
    Tomassi
    Donatello
    Leonardo da Vinci
    Michaelangelo
    Raphael
[sunting] Art nouveau
Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal.
Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai
dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah
digantikan kehalusan buatan mesin. Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-
bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, akan biaya
pembuatannya menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya
diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-
garis tumbuhan di alam.
[sunting] Sejarah seni lukis di Indonesia
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di
Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme
membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa
mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh
kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang
pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.
Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman
renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.
Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema
romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan
keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab
dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme
yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin
sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih
sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi
komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya
seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai.
Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan
seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih
terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah
diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau
seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”,
dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni
sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai
mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya
menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat,
tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.
[sunting] Aliran seni lukis
[sunting] Surrealisme
Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di
dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan
kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi
tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.
[sunting] Kubisme
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam
bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal
dari aliran ini adalah Pablo Picasso.
[sunting] Romantisme
Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan
aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap
objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang
lukisan.
Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan
ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial.
Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.
[sunting] Plural painting
Adalah sebuah proses beraktivitas seni melalui semacam meditasi atau pengembaraan
intuisi untuk menangkap dan menterjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke
dalam bahasa visual. Bahasa visual yang digunakan berpijak pada konsep PLURAL
PAINTING. Artinya, untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif bisa mencapai
ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi mempergunakan idiom-idiom
yang bersifat: multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style.
[sunting] Seni lukis daun
Adalah aliran seni lukis kontemporer, dimana lukisan tersebut menggunakan daun
tumbuh-tumbuhan, yang diberi warna atau tanpa pewarna. Seni lukis ini memanfaatkan
sampah daun tumbuh-tumbuhan, dimana daun memiliki warna khas dan tidak busuk
jika ditangani dengan benar. senidaun.wordpress.com
[sunting] Aliran lain
    Ekspresionisme
    [[dadaisme]
    Fauvisme
    Neo-Impresionisme
    Realisme
    Naturalisme
    De Stijl
ĐÁĐÁíŚ
[sunting] Abstraksi
Adalah usaha untuk mengesampingkan unsur bentuk dari lukisan. Teknik abstraksi
yang berkembang pesat seiring merebaknya seni kontemporer saat ini berarti tindakan
menghindari peniruan objek secara mentah. Unsur yang dianggap mampu memberikan
sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi
porsinya. Abstraksi disebut juga sebagai salah satu aliran yang terdapat di dalam seni
lukis.
[sunting] Pelukis terkenal Indonesia
       Affandi
       Agus Djaya
       Barli Sasmitawinata
       Basuki Abdullah
       Djoko Pekik
       Dullah
       Ferry Gabriel
       Hendra Gunawan
       Herry Dim
       Jeihan
       Kartika Affandi
       Lee Man Fong
       Mario Blanco
       Otto Djaya
       Popo Iskandar
       Raden Saleh
       S. Sudjojono
       Srihadi
       Sri Warso Wahono
       Trubus
       Atim Pekok
       E. Darpo.S
[sunting] Lihat pula
     Estetika
     Melukis
     Lukisan
     Kontemporer
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_lukis"
Kategori: Seni lukis | Seni rupa
Kategori tersembunyi: Artikel yang layak digabungkan
Peralatan pribadi
     Masuk log / buat   akun
Ruang nama
     Halaman
     Pembicaraan
Varian
Tampilan
     Baca
     Sunting
     Versi terdahulu
Tindakan
     ↑
Cari
 Istimew a:Pencari
Navigasi
    Halaman Utama
    Perubahan terbaru
    Peristiwa terkini
    Halaman sembarang
Komunitas
    Warung Kopi
    Portal komunitas
    Bantuan
Wikipedia
    Tentang Wikipedia
    Pancapilar
    Kebijakan
    Menyumbang
Cetak/ekspor
    Buat buku
    Unduh sebagai PDF
    Versi cetak
Kotak peralatan
    Pranala balik
    Perubahan terkait
    Halaman istimewa
    Pranala permanen
    Kutip halaman ini
Bahasa lain
    Basa Jawa
    Halaman ini terakhir diubah pada 14:40, 6 Desember 2010.
    Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative
                                                                  Commons;
       ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih
       jelasnya.
      Kebijakan privasi
      Tentang Wikipedia
      Penyangkalan

   

   

Lukisan adalah karya seni yang proses pembuatannya dilakukan dengan meletakkan
pewarna "pigmen" cair dalam pelarut (atau medium) dan agen pengikat (lem) kepada
permukaan (penyangga) seperti kertas, kanvas, atau dinding. Ini dilakukan oleh
seorang pelukis; definisi ini digunakan terutamanya jika ia merupakan pencipta suatu
karya lukisan. Manusia telah melukis selama 6 kali lebih lama berbanding penggunaan
tulisan. Sebagai contoh lukisan-lukisan yang berada di gua-gua tempat tinggal manusia
prasejarah.
Perkataan lukisan digunakan sebagai bererti lukisan gambar seterusnya dalam artikel
ini.
Lebih khusus lagi, artikel ini tentang lukisan pada permukaan untuk alasan seni.

Seni kontemporer
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kontemporer)
   Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak
modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah
sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi seni
kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan
berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara
tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak
lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.
Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu).
Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara tematik
merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Atau pendapat yang mengatakan
bahwa “seni rupa kontemporer adalah seni yang melawan tradisi modernisme Barat”.
Ini sebagai pengembangan dari wacana pascamodern (postmodern art) dan
pascakolonialisme yang berusaha membangkitkan wacana pemunculan indegenous art
(seni pribumi). Atau khasanah seni lokal yang menjadi tempat tinggal (negara) para
seniman.
Secara awam seni kontemporer bisa diartikan sebagai berikut:
    1. Tiadanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas
        antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, anarki, omong kosong,
        hingga aksi politik.
    2. Punya gairah dan nafsu "moralistik" yang berkaitan dengan matra sosial dan
        politik sebagai tesis.
    3. Seni yang cenderung diminati media massa untuk dijadikan komoditas
        pewacanaan, sebagai aktualitas berita yang fashionable.
Daftar isi
[sembunyikan]
    1 Seni kontemporer dan seni posmodern
    2 Perkembangan seni kontemporer Indonesia
    3 Pranala luar
    4 Referensi

[sunting] Seni kontemporer dan seni posmodern
Kaitan seni kontemporer dan (seni) postmodern, menurut pandangan Yasraf Amir
Piliang, pemerhati seni, pengertian seni kontemporer adalah seni yang dibuat masa
kini, jadi berkaitan dengan waktu. Sedangkan seni postmodern adalah seni yang
mengumpulkan idiom-idiom baru. Lebih jelasnya dikatakan bahwa tidak semua seni
masa kini (kontemporer) itu bisa dikategorikan sebagai seni posmodern, seni
posmodern sendiri di satu sisi memberi pengertian, memungut masa lalu tetapi di sisi
lain juga melompat kedepan (bersifat futuris).
[sunting] Perkembangan seni kontemporer Indonesia
Dalam seni rupa Indonesia, istilah kontemporer muncul awal 70-an, ketika Gregorius
Sidharta menggunakan istilah kontemporer untuk menamai pameran seni patung pada
waktu itu. Suwarno Wisetrotomo, seorang pengamat seni rupa, berpendapat bahwa
seni rupa kontemporer pada konsep dasar adalah upaya pembebasan dari kontrak-
kontrak penilaian yang sudah baku atau mungkin dianggap usang.
Konsep modernisasi telah merambah semua bidang seni ke arah kontemporer ini.
Paling menyolok terlihat di bidang tari dan seni lukis. Seni tari tradisional mulai tersisih
dari acara-acara televisi dan hanya ada di acara yang bersifat upacara atau seremonial
saja.
Seperti diungkapkan Humas Pasar Tari Kontemporer di Pusat Latihan Tari (PLT)
Sanggar Laksamana Pekanbaru yang tidak hanya diminati para koreografer tari dalam
negeri tetapi juga koreografer tari asing yang berasal dari luar negeri. Sebanyak 18
koreografer tari baik dari dalam maupun luar negeri menyatakan siap unjuk kebolehan
dalam pasar tari kontemporer tersebut. "Para koreografer sudah tiba di Pekanbaru,
mereka menyatakan siap unjuk kebolehan dalam pasar tari itu," ujar Humas Pasar Tari
Kontemporer, Yoserizal Zen di Pekanbaru[1].
Lukisan kontemporer semakin melejit seiring dengan meningkatnya konsep hunian
minimalis, terutama di kota-kota besar. Seperti diungkapkan oleh seniman lukis
kontemporer Saptoadi Nugroho dari galeri Tujuh Bintang Art Space Yogyakarta,
"Lukisan kontemporer semakin diminati seiring dengan merebaknya konsep perumahan
minimalis terutama di kota-kota besar. Akan sulit diterima bila kita memasang lukisan
pemandangan, misalnya sedangkan interior ruangannya berkonsep modern." [2]
Hal yang senada diungkap oleh kolektor lukisan kontemporer, "Saya mengoleksi lukisan
karena mencintai karya seni. Kalaupun nilainya naik, itu bonus," kata Oei Hong Djien,
kolektor dan kurator lukisan ternama dari Magelang. Begitu juga Biantoro Santoso,
kolektor lukisan sekaligus pemilik Nadi Gallery. "Saya membeli karena saya suka.
Walaupun harganya tidak naik, tidak masalah," timpalnya.
Oei dan Biantoro tak pernah menjual koleksinya. Oei memilih untuk memajang lebih
dari 1.000 bingkai lukisannya di museum pribadinya. Karya-karya besar dari Affandi,
Basuki Abdullah, Lee Man Fong, Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Widayat
terpampang di sana bersama karya-karya pelukis muda.
Pendapat lain dari Yustiono, staf pengajar FSRD ITB, melihat bahwa seni rupa
kontemporer di Indonesia tidak lepas dari pecahnya isu posmodernisme (akhir 1993
dan awal 1994), yang menyulut perdebatan dan perbincangan luas baik di seminar-
seminar maupun di media massa pada waktu itu.
[sunting] Pranala luar
   1. Website Pemda Riau
   2. Tujuh Bintang Art Space
[sunting] Referensi
   1. ^
      http://www.riau.go.id/index.php?module=articles&func=display&ptid=1&aid=4525
   2. ^ http://blog.tujuhbintang.com/2008/07/lukisan-kontemporer-prospek-
      investasi.html
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_kontemporer"
Kategori: Seni
http://id.wikipedia.org/wiki/Melukis

Macam - Macam Aliran Seni Lukis dan Pengertian nya
Naturalisme Yaitu suatu bentuk karya seni lukis (seni rupa) dimana seniman berusaha
melukiskan segala sesuatu sesuai dengan nature atau alam nyatan, artinya disesuaikan
dengan tangkapan mata kita. Supaya lukisan yang dibuat benar – benar mirip atau
persis dengan nyata, maka susunan, perbandingan, perspektif, tekstur, pewarnaan
serta gelap terang dikerjakan seteliti mungkin, setepat –setepanya. di dalam seni rupa
adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam. Hal ini
merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi
atas kemapanan romantisme.
Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss Baker, yang lukisan
pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan ini. Salahs atu bagian
penting dari gerakan naturalis adalah pandangan Darwinisme mengenai hidup dan
kerusakan yang telah ditimbulkan manusia terhadap alam.
Daftar Pelukis Naturalisme :

       William Bliss Baker




Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya
sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau
interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa
unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk
sekalipun. Pembahasan realisme dalam seni rupa bisa pula mengacu kepada gerakan
kebudayaan yang bermula di Perancis pada pertengahan abad 19. Namun karya
dengan ide realisme sebenarnya sudah ada pada 2400 SM yang ditemukan di kota
Lothal, yang sekarang lebih dikenal dengan nama India.
Realisme sebagai gerakan kebudayaan
Realisme menjadi terkenal sebagai gerakan kebudayaan di Perancis sebagai reaksi
terhadap paham Romantisme yang telah mapan di pertengahan abad 19. Gerakan ini
biasanya berhubungan erat dengan perjuangan sosial, reformasi politik, dan demokrasi.
Realisme kemudian mendominasi dunia seni rupa dan sastra di Perancis, Inggris, dan
Amerika Serikat di sekitar tahun 1840 hingga 1880. Penganut sastra realisme dari
Perancis meliputi nama Honoré de Balzac dan Stendhal. Sementara seniman realis
yang terkenal adalah Gustave Courbet dan Jean François Millet.
Realisme dalam seni rupa
Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter,
suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan Verisimilitude (sangat hidup).
Perupa realis cenderung mengabaikan drama-drama teatrikal, subjek-subjek yang
tampil dalam ruang yang terlalu luas, dan bentuk-bentuk klasik lainnya yang telah lebih
dahulu populer saat itu.
Dalam pengertian lebih luas, usaha realisme akan selalu terjadi setiap kali perupa
berusaha mengamati dan meniru bentuk-bentuk di alam secara akurat. Sebagai contoh,
pelukis foto di zaman renaisans, Giotto bisa dikategorikan sebagai perupa dengan
karya realis, karena karyanya telah dengan lebih baik meniru penampilan fisik dan
volume benda lebih baik daripada yang telah diusahakan sejak zaman Gothic.
Kejujuran dalam menampilkan setiap detail objek terlihat pula dari karya-karya
RembrandtBarbizon School memusatkan pengamatan lebih dekat kepada alam, yag
kemudian membuka jalan bagi berkembangnya impresionisme. Di Inggris, kelompok
Pre-Raphaelite Brotherhood menolak idealisme pengikut Raphael yang kemudian
membawa kepada pendekatan yang lebih intens terhadap realisme. yang dikenal
sebagai salah satu perupa realis terbaik. Kemudian pada abad 19, sebuah kelompok di
Perancis yang dikenal dengan nama
Teknik Trompe l'oeil, adalah teknik seni rupa yang secara ekstrim memperlihatkan
usaha perupa untuk menghadirkan konsep realisme.
Daftar pelukis realisme terkenal
       Karl Briullov
       Ford Madox Brown
       Jean Baptiste Siméon Chardin
       Camille Corot
       Gustave Courbet
       Honoré Daumier
       Edgar Degas
       Thomas Eakins
       Nikolai Ge
       Aleksander Gierymski
       William Harnett
       Louis Le Nain
       Édouard Manet
       Jean-François Millet
       Ilya Yefimovich Repin
Pengertian Ekspresionisme yaitu aliran seni lukis yang mengutamakan kebebasan
dalam bentuk dan warna untuk mencurahkan emosi atau perasaan.
Ekspressionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi
kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya
lukisan, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih menuju
kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.
Pelukis Matthias Grünewald dan El Greco bisa disebut ekspresionis.
Daftar Pelukis Ekspresionisme dari abad 20 yang tergolong adalah:
                Heinrich Campendonk, Emil Nolde, Rolf Nesch, Franz Marc, Ernst
       Barlach, Wilhelm Lehmbruck, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff, Ernst Ludwig
       Kirchner, Max Beckmann, August Macke, Elfriede Lohse-Wächtler, Ludwig
       Meidner, Paula Modersohn-Becker, Gabriele Münter, dan Max Pechstein.
                Egon Schiele dan Oskar Kokoschka
                Wassily Kandinsky dan Alexei Jawlensky
                      Charles Eyck, Willem Hofhuizen, Jaap Min, Jan Sluyters, Jan
        Wiegers dan Hendrik Werkman
                Constant Permeke, Gust De Smet, Frits Van den Berghe, James Ensor,
        Floris Jespers, dan Albert Droesbeke.
                  Gen Paul dan Chaim Soutine
                    Edvard Munch
                Carl Eugen Keel
             nesia: Affandi
kubisme adalah sebuah gerakan modern seni rupa pada awal abad ke-20 yang
dipelopori oleh Picasso dan Braque. Prinsip-prinsip dasar yang umum pada kubisme
yaitu menggambarkan bentuk objek dengan cara memotong, distorsi, overlap,
penyederhanaan, transparansi, deformasi, menyusun dan aneka tampak. Gerakan ini
dimulai pada media lukisan dan patung melalui pendekatannya masing-masing
pada kubisme, bentuk –bentuk karyanya menggunakan bentuk –bentuk geometri
(segitiga, segiempat, kerucut, kubus, lingkaran dan sebagainya) seniman kubisme
sering menggunakan teknik kolase, misalnya menempelkan potongan kertas surat
kabar, gambar –gambar poster dan lain- lain.
Kubisme sebagai pencetus gaya nonimitative muncul setelah Picasso dan Braque
menggali sekaligus terpengaruh bentuk kesenian primitif, seperti patung suku bangsa
Liberia, ukiran timbul (basrelief) bangsa Mesir, dan topeng-topeng suku Afrika. Juga
pengaruh lukisan Paul Cezanne, terutama karya still life dan pemandangan, yang
mengenalkan bentuk geometri baru dengan mematahkan perspektif zaman Renaisans.
Ini membekas pada keduanya sehingga meneteskan aliran baru.
Istilah "Kubis" itu sendiri, tercetus berkat pengamatan beberapa kritikus. Louis
Vauxelles (kritikus Prancis) setelah melihat sebuah karya Braque di Salon des
Independants, berkomenmtar bahwa karya Braque sebagai reduces everything to little
cubes (menempatkan segala sesuatunya pada bentuk kubus-kubus kecil. Gil Blas
menyebutkan lukisan Braque sebagai bizzarries cubiques (kubus ajaib). Sementara itu,
Henri Matisse menyebutnya sebagai susunan petits cubes (kubus kecil). Maka untuk
selanjutnya dipakai istilah Kubisme untuk memberi ciri dari aliran seperti karya-karya
tersebut.
Perkembangan awal
Dalam tahap perkembangan awal, Kubisme mengalami fase Analitis yang dilanjutkan
pada fase Sintetis. Pada 1908-1909 Kubisme segera mengarah lebih kompleks dalam
corak yang kemudian lebih sistematis berkisar antara tahun 1910-1912. Fase awal ini
sering diberi istilah Kubisme Analitis karena objek lukisan harus dianalisis. Semua
elemen lukisan harus dipecah-pecah terdiri atas faset-fasetnya atau dalam bentuk
kubus.
Objek lukisan kadang-kadang setengah tampak digambar dari depan persis, sedangkan
setengahnya lagi dilihat dari belakang atau samping. Wajah manusia atau kepala
binatang yang diekspos sedemikian rupa, sepintas terlihat dari samping dengan mata
yang seharusnya tampak dari depan.
Pada fase Kubisme Analitis ini, para perupa sebenarnya telah membuat pernyataan
dimensi keempat dalam lukisan, yaitu ruang dan waktu karena pola perspektif lama
telah ditinggalkan.
Bila pada pereiode analitis Braque maupun Picasso masih terbelenggu dalam
kreativitas yang terbatas, berbeda pada fase Kubisme Sintetis. Kaum Kubis tidak lagi
terpaku pada tiga warna pokok dalam goresan-goresannya. Tema karya-karya mereka
pun lebih variatif. Dengan keberanian meninggalkan sudut pandang yang menjadi ciri
khasnya untuk beranjak ke tingkat inovatif berikutnya.
Perkembangan karya kaum Kubis selanjutnya adalah dengan perhatian mereka
terhadap realitas. Dengan memasukkan guntingan-guntingan kata atau kalimat yang
diambil dari suratpaper colle. kabar kemudian direkatkan pada kanvas sehingga
membentuk satu komposisi geometris. Eksperimen tempelan seperti ini lazim disebut
teknik kolase atau
Daftar Pelukis Kubisme :
     Paul Cezane
     Pablo Picasso
     George Braque
     Metzinger
     Albert Glazez
     But Mochtar
     Moctar Apin
     Fajar Sidik
     Andre Derain
Fauvisme adalah suatu aliran dalam seni lukis yang berumur cukup pendek menjelang
dimulainya era seni rupa modern. Nama fauvisme berasal dari kata sindiran "fauve"
(binatang liar) oleh Louis Vauxcelles saat mengomentari pameran Salon d'Automne
dalam artikelnya untuk suplemen Gil Blas edisi 17 Oktober 1905, halaman 2.
Kepopuleran aliran ini dimulai dari Le Havre, Paris, hingga Bordeaux. Kematangan
konsepnya dicapai pada tahun 1906.
Fauvisme adalah aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang
hendak dilukis. Tidak seperti karya impresionisme, pelukis fauvis berpendapat bahwa
harmoni warna yang tidak terpaut dengan kenyataan di alam justru akan lebih
memperlihatkan hubungan pribadi seniman dengan alam tersebut.
Konsep dasar fauvisme bisa terlacak pertama kali pada 1888 dari komentar Paul
GauguinPaul Sérusier: kepada
       "How do you see these trees? They are yellow. So, put in yellow; this shadow,
       rather blue, paint it with pure ultramarine; these red leaves? Put in vermilion."
       "Bagaimana kau menginterpretasikan pepohonan itu? Kuning, karena itu
       tambahkan kuning. Lalu bayangannya terlihat agak biru, karena itu tambahkan
       ultramarine. Daun yang kemerahan? Tambahkan saja vermillion."
Segala hal yang berhubungan dengan pengamatan secara objektif dan realistis, seperti
yang terjadi dalam lukisan naturalis, digantikan oleh pemahaman secara emosional dan
imajinatif. Sebagai hasilnya warna dan konsep ruang akan terasa bernuansa puitis.
Warna-warna yang dipakai jelas tidak lagi disesuaikan dengan warna di lapangan,
tetapi mengikuti keinginan pribadi pelukis.
Penggunaan garis dalam fauvisme disederhanakan sehingga pemirsa lukisan bisa
mendeteksi keberadaan garis yang jelas dan kuat. Akibatnya bentuk benda mudah
dikenali tanpa harus mempertimbangkan banyak detail.
Pelukis fauvis menyerukan pemberontakan terhadap kemapanan seni lukis yang telah
lama terbantu oleh objektivitas ilmu pengetahuan seperti yang terjadi dalam aliran
impresionisme, meskipun ilmu-ilmu dari pelukis terdahulu yang mereka tentang tetap
dipakai sebagai dasar dalam melukis. Hal ini terutama terjadi pada masa awal
populernya aliran ini pada periode 1904 hingga 1907.
Pengaruh
Pengaruh awal dari aliran ini mungkin sekali didapat dari rintisan yang dimulai oleh
karya-karya Paul Cezanne, Gustave Moreau, Paul Gauguin, maupun Vincent van
Gogh. Meskipun pelukis tersebut tidak melibatkan diri kepada gerakan fauvisme dan
berbeda era dengan dimulainya aliran ini, namun karyanya menjadi acuan bagi pelukis
muda yang nantinya akan menjadi pelukis fauvis.
Meskipun hanya berumur pendek, aliran fauvisme menjadi tonggak konsep seni rupa
modern berikutnya.
Daftar Pelukis Fauvisme :
      Henri Matisse
      André Derain
      Georges Braque
      Albert Marquet
      Henri Manguin
      Charles Camoin
      Henri Evenepoel
      Jean Puy
      Maurice de Vlaminck
      Raoul Dufy
      Othon Friesz
      Georges Roua
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/05/macam-macam-aliran-seni-lukis-dan.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1
posted:3/14/2013
language:
pages:13