CONTOH PKP BAB 1 by GilangBiantara

VIEWS: 25 PAGES: 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Romantika dunia pendidikan di Indonesia ternyata masih berputar naik turun. Hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan-perubahan di beberapa bagian. Dari mulai kebijakan pemerintah, anggaran nasional sampai pada perubahan kurikulum terus berputar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan secara global di seluruh dunia. Pilihan untuk merubah paradigma pendidikan terjadi pada bidang kurikulum, yang saat ini sudah berjalan 7 tahun, pendidikan kita sedang gencar-gencarnya memperkenalkan sebuah penemuan program pendidikan yang lebih mengacu pada tuntutan siswa dalam bentuk kompetensi, atau lebih terkenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Bidang studi IPA merupakan pilihan penulis dalam program Penelitian Tindakan Kelas.

More Info
									                                    BAB 1
                              PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
          Mutu pendidikan bukanlah suatu yang statis, melainkan yang bisa
   berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang
   berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud
   pengembangan kualitas sumber daya manusia, sedangkan pembelajaran yang
   berhasil   ditunjukan oleh kemampuan guru dalam menyampaikan materi
   pembelajaran dan berdampak pada pembelajaran siswa terhadap konsep yang
   disampaikan.
          Tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar dan melatih
   para siswanya, agar mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik, guru
   harus menguasai berbagai kemampuan, salah satu kemampuan yang harus
   dikuasai adalah mengembangkan diri secara profesional. Ini berarti, guru
   tidak hanya dituntut menguasai materi ajar atau mamu menyajikannya secara
   tepat, tetapi dituntut juga mamu melihat/menilai kinerjanya sendiri.
   Kemampuan ini berkaitan dengan penelitian yang dalam konteks ini ruang
   lingkupnya berada seputar kelas, yaitu penelitian tindakan kelas sendiri.
          Gurusebagai pendidik berupaya memotivasi, mempengaruhi dan
   memberikan arahan yang sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik sesuai
   dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat. Guru sebagai ujung
   tombak dalam pendidikan, berkewajiban menciptakan situasi pembelajaran
   yang dapat mendorong siswa berani untuk melakukan interaksi tatkala proses
   belajar berlangsung. Oleh karena itu guru harus mampu menggunakan
   seluruh perangkat pembelajaran baik berupa pendekatan, metode, media
   pembelajaran dan hal lain yang relevan dengan penciptaan sistem belajar
   yang kondusif.
          Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD / MI, IPA
   diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia
   melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan
   IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap
lingkungan. Pada jenjang SD / MI diharapkan ada penekanan pembelajaran ,
lingkungan teknologi dan masyarakat yang diharapkan pada pengalaman
belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep
IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
       Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan dengan inkuiri ilmiah
(scientifiq inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan
bersikap ilmiah dan mengkomunikasikannya sebagai aspek penting
kecakapan hidup, oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada
pembelajaran pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan
pengembangan, Ketermpilan, proses dan sikap ilmiah.
       Berdasarkan hasil pengalaman peneliti dalam pelajaran IPA di SD
Negeri Pamulihan 01 Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut pembelajaran
IPA masih menekankan pada konsep-konsep yang terdapat dalam buku, dan
juga belum memanfaatkan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran secara
maksimal. Menstimulasi siswa pada masalah – masalah kontekstual jarang
sekali dilakukan oleh guru. Hal ini membuat pembelajaran kurang efektif,
karena siswa kurang merespon terhadap pelajaran yang disampaikan. Maka,
pengajaran semacam ini cenderung menyebabkan kebosanan pada siswa.
       Problem Based Introduction (PBI) merupakan salah satu modal
pembelajaran yang diperlukan cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran
IPA    diatas.   Menurut   Arends   (2007),   PBI   sangat   berguna   untuk
mengembangkan kemampuan berfikir siswa yang lebih tinggi dalam situasi
yang                   pada masalah belajar yang bersifat kontekstual, modal
pembelajaran ini cocok untuk materi pelajaran yang terkait erat dengan
masalah nyata, meningkatkan keterampilan proses untuk memecahkan
masalah, mempelajari peran orang dewasa melalui pengalaman dalam situasi
yang nyata serta melatih siswa untuk berdiri sendiri sebagai pelajar yang
otomen.
       Untuk memecahkan masalah tersebut, observer melakukan kegiatan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul :
       “Meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengunakan model
Problem Based Introduction (PBI) pada magnet di kelas V Semester II SDN
   Pamulihan 01 Kecamatn Cisurupan Tahun Ajaran 2011- 2012, diharapkan
   dapat meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa.”


B. Rumusan Masalah
          Masalah yang dijadikan pokok penelitian harus dirumuskan secara
   jelas dan operasional, sehingga tampak ruang lingkup serta batas-batasnya
   (Ali 1985; 39). Masalah adalah segala bentuk pertanyaan yang harus
   dicarikan jawabannya atau segala sesuatu yeng perlu ditanggulangi.
   Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan
   masalah nya sebagai berikut:
   1. Bagaimana meningkatkan aktivitas siswa-siswa dalam menanggapi hasil
      belajar siswa dalam konsep magnet pada pelajaran IPA dengan
      menggunakan model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) di
      kelas V SDN Pamulihan 01 Kecamatan Cisurupan?
   2. Bagaimanakah mengkaitkan hasil belajar siswa dalam konsep perpindahan
      panas pada pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran
      Problem Based Introduction (PBI) di kelas V SDN Pamulihan 01
      Kecamatan Cisurupan?
   3. Apakah penggambaran model pembelajaran Problem Based Learning
      dapat meningkatkan aktivitas proses belajar siswa dalam konsep
      perpindahan panas pelajaran IPA di kelas V SDN Pamulihan 01 Kecamaan
      Cisurupan?


C. Tujuan Penelitian
          Segala kegiatan yang dilakukan secara sadar pasti mempunyai tujuan
   yang ingin dicapai. Langkah kita akan menjadi terarah dengan adanya tujuan
   itu. Maka, penelitian yang penulis lakukanpun mempunyai bebrapa tujuan
   yang ingin dicapai. Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
   1. Untuk mengetahui sejauh mana peningkatan aktivitas siswa dalam
      mencapai hasil belajar pada konsep membuat magnet pada pelajaran IPA
      dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Introduction
      (PBI) di kelas V SDN Pamulihan 01 Kecamatan Cisurupan.
   2. Untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar siswa dalam
      konsep perpindahan panas pada pelajaran IPA dengan menggunakan
      model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) di kelas V SDN
      Pamulihan 01 Kecamatan Cisurupan.
   3. Untuk mengetahui sejauhmana peningkatan proses hasil belajar siswa
      dalam   konsep    perpindahan   panas   pada   pelajaran   IPA   dengan
      menggunakan model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) di
      kelas V SDN Pamulihan 01 Kecamatan Cisurupan.


D. Manfaat Penelitian
          Secara garis besar, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat
   memberikan sumbangan pikiran bagi dunia pendidikan khususnya mata
   pelajaran IPA. Dalam skala yang lebih khusus penelitian ini diharapkan dapat
   memberikan manfaat bagi peneliti sendiri, siswa-siswa dan guru setempat.
   Adapun untuk jelasnya sebagai berikut:
   1. Bagi peneliti
              Menambah wawasan dan pengalaman untuk mencapai tujuan
      pembelajaran yang optimal dan efisien diperlukan suatu strategi proses
      belajar mengajar yang tepat.
   2. Bagi Siswa
              Dengan menggunakan model pembelajaran problem based
      learning (PBL) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang
      lebih baik, siswa lebih termotifasi untuk lebih kritis dalam menyikapi
      suatu permasalahan.
   3. Bagi Sekolah
              Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan
      disekolah, implementasi penyelenggaraan PAKEM.
                                    BAB II
                              KAJIAN PUSTAKA


A. Kajian Teori
   1. Model Pembelajaran
              Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang
      melukiskan       prosedur   yang   sistematis   dalam   mengorganisasikan
      pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar (Gunter et, 1990: 67
      Joyce dan Well, 1980). Model pembelajaran menurut             Joyce dalam
      Trianto (2007: 5) adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
      digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas
      atau pembelajaran teritorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
      pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer,
      kurikulum dll.
              Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada
      strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Model pembelajaran
      mempunyai 4 ciri khusus:
       a. Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pendidik
       b. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
       c. Langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran
         dapat dilaksanakan secara optimal
       d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat
         dicapai
              Salah satu pembelajaran yang ditawarkan untuk meningkatkan
      mutu pembelajaran IPA Sekolah Dasar adalah model pembelajaran yang
      didasarkan pada pandangan konstruktivime karena dianggap paling sesuai
      dengan karakteristik pembelajaran IPA. Dalam proses pembelajaran IPA
      seyogyanya disediakan serangkaian pengalaman berupa kegiatan nyata
      yang rasional atau dapat dimengerti siswa dan memungkinkan terjadi
      interaksi sosial. Dengan kata lain saat proses belajar berlangsun dalam
      kegiatan nyata.
              Model pembelajaran IPA dipilih sesuai dengan sifat IPA sebagai
     pengetahuan      deklaratif   maupun   pengetahuan    prosedural.    Model
     pembelajaran yang dikembangkan hendaknya memberikan kesempatan
     untuk terjadi interaksi aktif antara individu dengan data dan pros berfikir
     bermuatan.
2.    Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)
              Model    pembelajaran    Problem    Based     Instruction   (PBI)
     memusatkan permasalahan pada kehidupan yang bermakna bagi siswa,
     peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi
     penyelidikan dan dialog.
              Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan masalah Problem
     Based Instruction.
     a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang
       dibutuhkan, memotifasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan
       masalah yang dipilih
     b. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan belajar
       yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan tugas, jadwal,
       dll)
     c. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
       eksperimen untuk mendpatkan penjelasan dan memecahkan masalah,
       pengumpulan data, hipotesis dan pemecahan masalah.
     d. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang
       sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagai tugas dengan
       teman
     e. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
       penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
3. Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar
              Holman mengemukakan bahwa pengajaran IPA (sains) cenderung
     menyiapkan segelintir siswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang
     yang lebih tinggi (Universitas). Sementara sebagian siswa akan menjadi
     konsumen dari sains (IPA) dan teknologi dari sebagian produser. Dari
     kenyataan ini menuntut agar pendidik sains memberikan pengethuan IPA
      (sains) yang dibutuhan oleh siswa kebanyakan dan hendaknya berguna
      dalam kehidupan sehari-hari.
              Pengertian sains (IPA) mencakup 2 unsur hakikat yaitu sebagai
      produk dan sebagai proses (Robinson, 1968; Amin, 1987), hakikat IPA
      sebagai produk mengandung arti bahwa IPA merupakan kumpulan
      pengetahuan (Body of knowledge) yang mencakup fakta teori, konsep yang
      berkenaan fenomena alam.
              IPA sebagai proses Carin (1992), 1). Merupakan hal yang tidak
      terpisahkan dari metode penyelidikan, bagaimana cara mengumpulkan
      fakta dan menghubungkan fakta-fakta untuk membuat suatu penafsiran
      atau kesimpulan, 2). IPA merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat
      yang dapat digunakan bukan saja untuk mempelajari berbagai macam
      ilmu, tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
              Pendidian IPA diharapkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga
      dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih
      mendalam tentang alam sekitar. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan
      Pendidikan (KTSP) SD, IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
      untuk memenuhi kehidupan manusia meleui pemecahan masalah-masalah
      yang dapat di identifikasikan. Pada jenjang SD diharapkan ada penekanan
      pelajar saling temas (sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat) yang
      diarahkan pada pengalam belajar untuk merancang dan membuat suatu
      karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi belajar ilmiah secara
      bijaksana.


B. Kerangka Berfikir
           Penelitian ini dilatar belakangi oleh temuan yang dirasakan oleh
   peneliti dan kolabolator dilpangan. Kemampuan siswa kelas V SDN
   Pamulihan 01 dalam meningkatkan hasil belajar dalam konsep membuat
   magnet dalam pelajaran IPA, hasilnya kurang memuaskan karena dalam
   pembelajaran menggunakan metode dan model konvensional cenderung
   bersifat monoton, didominasi oleh guru, kurang menggali potensi siswa,
   sehingga siswa cenderung pasif dan akibatnya nilai yang dicpainya rendah.
   Oleh karena itu, guru harus berupaya meningkatkan minat dan semangat anak
   agar mendapatkan nilai yang maksimal serta dapat menciptakan pembelajaran
   yang aktif, kreati, efektif serta menyenangkan (PAKEM).
           Dengan pembelajaran model PBI, siswa akan dilibatkan aktif baik
   dalam aspek interaktif, emosional maupun sosial. Adapun kerangka berfikir
   tersebut diatas dapat dilihat dalam peta konsep dibawah ini.
           Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir Penelitian


                   Pendekatan dan atau media konvensional


                      Proses dan hasil kurang memuaskan
                         Dalam rangka mencapai ujuan
                                        d

     Kajian pustaka                                          Kajian pustaka


                               Perlakuan tindakan


        Proses dan Hasil Memuaskan dalam Rangka Mencapai Tujuan


C. Hipotesis Tindakan
          Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap permasalahan
   penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris (pendapat Nazir,
   1985:182).
          Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini berupa Hipotesis
   Tindakan. Dengan menggunakan model Problem Based Instruction (PBI)
   maka aktivitas belajar siswa dan kemampuan anak dalam menguasai materi
   terjadi peningkatan.
   Fakta yang akan diteliti:
   1. Aktivitas belajar siswa kelas V SDN Pamulihan 01 kecamatan Cisurupan
      akan dapat ditingkatkan melalui pembelajaran model PBI.
   2. Kemampuan dan hasil belajar siswa kelas V SDN Pamulihan 01
      kecamatan Cisurupan dalam konsep magnet dapat ditingkatkan melalui
      pembelajaran model PBI.
                                    BAB III


A. Metode dan Teknik Penelitian
           Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode deskriptif.
    Metode ersebut diguanakan karena penelitian yang penulis lakukan berusaha
    untuk mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian atau penomena yang
    terjadi pada anak sekarang sebagaimana adanya. Data yang berupa gejala
    tersebut dianaisis secara cermat, kemudian dilakukan interpretasi tentang arti
    data-data itu.
           Teknik penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah
    analisi kualitatif. Data yang bersifat kualitatif, diproses, ditafsirkan dan
    disimpulkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif.


B. Setting Penelitian
    1. Tempat penelitian
               Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di sekolah tempat
       peneliti mengajar, yaitu di kelas V SDN Pamulihan 01 Cisurupan Garut
       pada semester 2 tahun ajaran 2011-2012. Dipilihnya sekolah ini agar
       peneliti lebih mudah mengkondisikan anak didiknya, karena sudah
       mengenal karakteristik anak didiknya.
    2. Waktu penelitian
               Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, mulai dari perencanaan,
       pelaksanaan dan penyusunan laporan. Penelitian dilaksanakan dari bulan
       februari sampai bulan april 2012.


C. Subjek Dan Objek Penelitian
           Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Pamulihan 01
    Cisurupan Garut, yang berjumlah 40 orang, terdiri dari 21 siswa perempuan
    dan 19 siswa laki-laki.
           Objek penelitian ini adalah keaktifan siswa dalam bereksperimen,
    kehati-hatian siswa dalam menggunakan alat percobaan, keaktifan dalam
   melakukan diskusi kelompok dan interaksi siswa dengan siswa atau siswa
   dengan guru dalam pelajaran konsep magnet pada pelajaran IPA.


D. Metode / Teknik Pengumpulan Data
            Metode pengumpulan data yang digunakan ada beberapa macam,
   yaitu:
   1. Metode Observasi
              Peneliti mengadakan observasi secara langsung pada aktivitas
      proses belajar siswa dalam pembelajaran magnet pada pelajaran IPA
      melalui model PBI dikelas V SDN Pamulihan 01 Cisurupan Garut tahun
      pelajaran 2011-2012.
   2. Metode / Teknik Tes
              Pengumpulan data dilakukan dengan     menggunakan teknik tes,
      yaitu dengan tes formatif (setelah pelajaran selesai) untuk mengetahui
      tingkat keberhasilan siswa terhadap kompetensi yang diterapkan, tes yang
      dilaksanakan ialah tes secara tertulis.


E. Instrumen Pengumpulan Data
            Penulis menetapkan pedoman observasi dan portofolio sebagai
   instrumen dalam pengumpulan data-data penelitian ini. Pedoman observasi
   memuat garis-garis besar atau kata garis yang akan dicapai datanya dan
   digunakan untuk mengumpulkan data aktivitas siswa selama proses
   pembelajaran. Portofolio digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar
   siswa. Peneliti mengklasifikasikan data pada setiap pemunculan gejala atau
   variabel yang dimaksud, agar lebih mudah, cermat, lengkap dan sisteamtis.
   Adapun model kisi-kisi nya sebagai berikut:
               Tabel 3.1 Pedoman Penilaian Aktivitas Proses Belajar Siswa
                              Aspek yang dinilai
         Nama                                              Jumlah      Keterangan
   No               Keaktifan Ketertiban Kedisiplinan
         Siswa                                              nilai      (KKM=75)
                    (10 - 34)    (10 - 33)     (10 - 33)
    1
    2
    3
    4
   Jumlah
   Rata-Rata


                    Tabel 3.2 Pedoman Penelitian Hasil Belajar Siswa
        No            Nama Siswa             Nilai    Keterangan (KKM=75)
        1
        2
        dst
        Jumlah
        Rata-Rata


F. Metode Analisis Data dan Kriteria Penilaian
           Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis komparatif.
   Datadata dianalisis dengan cara membandingkannya dengan suatu standar
   atau kriteria yang diberlakukan, sehingga hasilnya nyata, cermat dan
   sistematis. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut ini: 1) seleksi dan
   inventarisasi data; 2) membaca setiap dokumen secara cermat; 3)
   menganalisis data dengan cara membandingkannya dengan kriteria penelitian
   yang telah ditetapkan; 4) mengklasifikasikan data; 5) memproses,
   mempresentasekan dan menafisrkan data; 6) mengumpulkan data.
           Adapun kriteria penafsiran data untuk mengukur keberhasilan dalam
   penelitian ini adalah sebagai berikut:
   1. Apabila akumulasi rata-rata nilai siswa dan presentase ketuntasannya sama
      dengan atau lebih dari 75 (75%), maka embelajaran dianggap sudah
      berhasil / tuntas.
   2. Apabila akumulasi rata-rata nilai siswa dan presentase ketuntasannya
      kurang dari 75 (75%), maka embelajaran dianggap belum berhasil / belum
      tuntas.
   3. Nilai rata-rata adalah jumlah nilai keseluruhan pada tiap aspek dibagi
      jumlah kelompok atau jumlah siswa.
   4. Presentase ketuntasan adalah jumlah kelompok atau jumlah siswa yang
      sudah tuntas dibagi jumlah kelompok atau jumlah siswa         seluruhnya
      dikalikan 100%.


G. Prosedur Penelitian
   1. Design Penelitian
                Dalam penelitian ini, peneliti mengembangkan pendekatan
      Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Classroom Action Research. PTK adalah
      sebuah penelitian ilmu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses serta
      hasil pembelajaran yang dilakukan.
                Prosedur PTK ini didesain dalam tiga siklus tindakan. Diawali
      dengan perencanaan (plan), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan
      (observasi) dan refleksi (reflection). Adapun alur siklusnya dapat
      digambar sebagai berikut.
                Bagan 3.1 Alur Siklus PTK Model Spiral Kemais dan Taggart


          Perencanaan


                                                      Pelaksanaan
          Observasi


                                                       Refelksi


      1) Perencanaan
          Dalam tahap perencanaan, peneliti melakukan hal-hal berikut:
          a. Merumuskan rumusan masalah yang ingin diteliti brdasarkan hasil
                temuan dilapangan.
   b. Menyusun instrumen penelitian yang akan dilakukan, meliputi:
      menyusun RPP, menyiapkan alat dan media pembelajaran,
      menyiapkan alat penilaian (lembar pengamatan, lembar observasi,
      soal evaluasi) dan perangkat yang lain yang dilperlukan dalam
      penelitian.
   c. Menyusun jadwal pelaksanan penelitian.
   d. Meminta izin kepada kepala sekolah SDN Pamulihan 01 untuk
      mengadakan observasi.
   e. Menghubungi pihak-pihak yang akan terlibat dalam penelitian,
      seperti guru yang akan menjadi observer.
2) Tindakan
            Tindakan penelitian yang dilaksanakan berupa kegiatan
   pembelajaran dengan menggnakan model pembelajaran Problem
   Based Instruction (PBI) sesuia RPP yaitu dalam mata pelajaran IPA
   dengan materi pokok gaya magnet dikelas V SDN Pamulihan 01
   kecamatan Cisurupan. Tindakan penelitian dilaksanakan dalam 3
   siklus, yaitu siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Setelah melaksanakan
   tindakan pada siklus 1, diadakan refleksi bersama dengan observasi.
   Kkurangan-kekurangan di siklus 1 lalu diperbaiki di siklus 2, dan
   kekurangan di siklus 2 diinventarisir untuk diadakan perbaikan atau
   penyempurnaan di siklus 3.
3) Pengamatan (observasi)
            Kegiatan     pengamatan    dilaksanakan   selama   peneliti
   melakukan tindakan, yang dilaksanakan secara kolaboratif dibantu
   oleh rekan sejawat yang sudah senior dalam masa kerja atau
   pengalaman mengajarnya. Dalam tahap ini observer memantau setiap
   tindakan (kejadian yang terjadi dalam pembelajaran) baik yang
   dilakukan oleh guru atauapun yang terjadi pada siswa. Pengamat
   memantau apakah peneliti dalam melaksanakan tugas sudah selesai
   degan   perencanaan     atau   belum.   Observer   menuliskan   hasil
   pengamatannya dalam lembar observasi yang sudah dipersiapkan,
          sebagai bukti otentik dalam membahas kekurangan-kekurangan
          selama penelitian.
      4) Refleksi
                    Pada tahap ini peneliti mengadakan refleksi terhadap apa
          yang   sudah     dilaksanakan      dalam       penelitian,   pelaksanaannya
          dilaksanakan secara kolaboratif dengan observer langsung setelah
          proses belajar selesai. Kendala yang ditemukan pada setiap siklus 1
          ditemukan dan dibahas bersama, kemudian dicarai upaya untuk
          memperbaikinya pada siklus berikutnya, agar pembelajaran yang
          dilaksanakan menjadi lebih baik.


H. Biaya Penelitian
          Biaya penelitian terutama bersumber dari dana pribadi peneliti dan
   dibantu alakadarnya dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
   1. Jadwal Penelitian
                                 Tabel 3.3 Jadwal Penelitian
                                                          Waktu Pelaksanaan
                      Kegiatan
                                                Pebruari         Maret        April
       Merencanakan penelitian                       x
       Melaksanakan penelitian                       x             x
       Mengolah hasil penelitian                                   x           x
       Menulis dan menyelesaikan laporan                                       x
       PTK
                             DAFTAR PUSTAKA


Badan Standar Nasional Pendidikan (2006) Kurikulum 2006 jakarta BP Dharma
     Bakti
Syamsuri Yusuf LN.M.Pd dkk (1992) Psikologi Pendidikan
Rahman (2004), Model Pembelajaran Model Of Teaching, Bandung: FPBS UPI
Trianto (2007), Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontraktivistik,
     Jakarta: Prestasi Pustaka Publisme
Wardani I.G.A.K dkk (2006), Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Univerisitas
     Terbuka
Nano Sutarno, M.P.d,dkk (2007), Materi Dan Pembelajaran IPA SD, Universitas
     Terbuka
Nazir. Moh (1985,) metode penelitian, jakarta: Chaila Indonesia

								
To top