TEORI-TEORI SOSIAL by elipldoc

VIEWS: 35 PAGES: 29

									           TEORI-TEORI SOSIAL




Drs. Ir. H. Hadiyanto, M.Ak
Pengertian
• Sekumpulan konsep, definisi dan proposisi yang saling
  kait mengkait yang menghadirkan suatu tinjauan secara
  sistimatis atas fenomena yang ada dengan
  menunjukkan secara spesifik hubungan-hubungan
  diantara variabel yang terkait dalam fenomena, dengan
  tujuan memberi eksplanasi dan prediksi atas fenomena
  tersebut (Kerlinger);
• Suatu kumpulan statemen yang mempunyai kaitan
  logis, merupakan cermin dari kenyataan yang ada
  tentang sifat-sifat atau ciri-ciri suatu kelas, benda
  atauperistiwa (Gibbs).
Kriteria Teori
• Mengandung konsep, definisi, dan
  proposisi;
• Ada hubungan logis diantara konsep,
  definisi, dan proposisi;
• Hubungan-hubungan tersebut
  menunjukkan atau merupakan cermin
  fenomena sosial;
• Dapat digunakan untuk eksplanasi dan
  prediksi.
Fungsi Teori
• Sistimatisasi pengetahuan;
• Eksplanasi, prediksi dan kontrol sosial;
• Mengembangkan hipotesa.
• Sistimatisasi pengetahuan atau typologies
  adalah kategorisasi dan klasifikasi yang
  dilakukan atas dasar artikulasi, logika yang
  runtut dan tepat, pertimbangan situasi dan
  kondisi, serta pola berpikir responden.
• Eksplanasi berhubungan dengan
  mendeskripsikan suatu peristiwa yang telah
  terjadi agar menjadi lebih jelas.
• Bentuk eksplanasi: keharusan, terpunuhinya
  faktor cukup, fungsional, genetik, niat, disposisi,
  analsisis, penelitian empiris dan berdasarkan
  teori formal.
• Predikasi berhubungan dengan peristiwa
  yang akan terjadi.
• Prediksi adalah suatu statement tentang
  apa yang terjadi diwaktu mendatang
  berdasarkan suatu teori atau data.
• Prediksi tidak selalu tepat, karena variabel
  yang mempengaruhi suatu peristiwa
  sangat banyak dan tidak semuanya bisa
  dikendalikan.
• Kontrol sosial berhubungan dengan usaha
  untuk menguasai atau mempengaruhi
  peristiwa yang akan terjadi.
• Suatu teori berkaitan dengan fenomena
  sosial, dengan demikian manusia bisa
  bertindak untuk mempengaruhi atau
  memanipulasi variabel yang lain ke arah
  yang diinginkan.
        Pengelompokan Teori
Klasik
Modern
Posmodern (Ritzer, 2006)

Makro
Mikro (Collins dalam Sunarto, 2000)
Meso

Fakta Sosial
Definisi Sosial
Pertukaran Sosial (Ritzer, 2002)
                                       8
Teori Sosiologi Klasik
Auguste Comte: Sosiologi Positivis
1. Tiga Tahap Perkembangan
   Masyarakat
2. Masyarakat berkembang secara
   evolusioner dari tahap teologis
   (percaya terhadap kekuatan dewa),
   melalui tahap metafisik (percaya pada
   kekuatan abstrak), hingga tahap
   positivistik (percaya terhadap ilmu
   sains).
Emile Durkheim: Sosiologi Struktural
• Kesadaran kolektif sebagai kekuatan
  moral yang mengikat individu pada suatu
  masyarakat.
• Penggunaan pendekatan kolektivis
  (solidaritas) terhadap pemahaman
  masyarakat bisa dikatakan primitif atau
  modern.
• Solidaritas itu berbentuk nilai-nilai, adat-
  istiadat, dan kepercayaan yang dianut
  bersama dalam ikatan kolektif.
• Masyarakat primitif/sederhana dipersatukan oleh
  ikatan moral yang kuat, memiliki hubungan yang
  jalin-menjalin sehingga dikatakan memiliki
  Solidaritas Mekanik.
• Sedangkan pada masyarakat yang
  kompleks/modern, kekuatan kesadaran kolektif
  itu telah menurun karena terikat oleh pembagian
  kerja yang ruwet dan saling menggantung atau
  disebut memiliki Solidaritas Organik.
• Derajat keterikatan manusia pada kelompoknya
  (integrasi sosial) sebagai faktor kunci untuk
  melakukan tindakan.
Karl Marx: Sosiologi Marxis
• Pendekatan materialisme historis
• Penggerak sejarah manusia adalah konflik
  kelas. Kekayaan dan kekuasaan itu tidak
  terdistribusi secara merata dalam masyarakat.
  Oleh karena itu kaum penguasa yang memiliki
  alat produksi (kaum borjuis/kapitalis) senantiasa
  terlibat konflik dengan kaum buruh yang
  dieksploitasi (kaum proletar).
• Sejarah segala masyarakat yang ada hingga
  sekarang pada hakikatnya adalah sejarah
  konflik kelas.
• Sosiologi Marxis tentang kapitalisme
  menyatakan bahwa produksi komoditas mau tak
  mau membawa sistem sosial yang secara
  keseluruhan merefleksikan pengejaran
  keuntungan.
• Nilai-nilai produksi merasuk ke semua bidang
  kehidupan. Segala sesuatu kegiatan manusia
  berorientasi pada keuntungan. Tingkat
  keuntungannya menentukan berapa banyak staf
  dan tingkat layanan yang diberikan.
• Infrastruktur ekonomi menentukan suprastruktur
  (kebudayaan, politik, hukum, dan ideologi).
Herbert Spencer: Sosiologi Evolusioner
• Masyarakat berevolusi dari bentuk yang lebih
  rendah (barbar) ke bentuk yang lebih tinggi
  (beradab).
• Institusi sosial sebagaimana tumbuhan dan
  binatang, mampu beradaptasi terhadap
  lingkungan sosialnya.
• Anggota masyarakat yang mampu dan cerdas
  dapat bertahan. Dengan kata lain “Yang layak
  akan bertahan hidup, sedangkan yang tak layak
  akhirnya punah”. Konsep ini diistilahkan survival
  of the fittest.
Max Weber: Sosiologi Weber
• Ekonomi merupakan kekuatan pokok
   perubahan sosial.
• Kebangkitan pandangan religius tertentu--
   dalam hal ini Protestanisme-- yang membawa
   masyarakat pada perkembangan kapitalisme.
   Kaum Protestan dengan tradisi Kalvinis
   menyimpulkan bahwa kesuksesan finansial
   merupakan tanda utama bahwa Tuhan berada
   di pihak mereka. Untuk mendapatkan tanda
   ini, mereka menjalani kehidupan yang hemat,
   menabung, dan menginvestasikan surplusnya
   agar mendapat modal lebih banyak lagi.
• Perilaku individu dapat mempengaruhi
  masyarakat secara luas, dikenal dengan
  sebutan Tindakan Sosial. Tindakan sosial dapat
  dipahami dengan memahami niat, ide, nilai, dan
  kepercayaan sebagai motivasi sosial.
  Pendekatan ini disebut verstehen (pemahaman).
• Rasionalisasi. Peradaban Barat adalah
  semangat Barat yang rasional dalam sikap
  hidup. Rasional menjelma menjadi operasional
  (berpikir sistemik langkah demi langkah).
  Rasionalisasi adalah proses yang menjadikan
  setiap bagian kecil masyarakat terorganisir,
  profesional, dan birokratif.
George Simmel: Filsafat Uang
• Pesimisme Budaya; modernisasi telah
  menciptakan manusia tanpa kualitas
  karena manusia terjebak dalam
  rasionalitasnya sendiri. Sebagai contoh,
  begitu teknologi industri sudah mulai
  canggih, maka keterampilan dan
  kemampuan tenaga kerja secara
  individual makin kurang penting.
• gejala monetisasi di berbagai faktor kehidupan
  telah membelenggu masyarakat terutama dalam
  hal pembekuan kreativitas orang, bahkan
  mampu mengubah kesadaran.
• Uang secara ideal memang alat pembayaraan,
  tetapi karena kekuatannya, uang menjadi
  sarana pembebasan manusia atas manusia.
• Uang sudah tidak dipahami sebagai fungsi alat,
  tetapi sebagai tujuan. Kekuatan kuantitatifnya
  telah mampu mengukur berbagai jarak sosial
  yang membentang antar individu, seperti cinta,
  tanggung jawab, dan bahkan mampu
  membebaskan atas kewajiban dan hukuman
  sosial.
• Barang siapa memiliki uang dialah yang memiliki
  kekuatan.
Ferdinand Tonnies: Klasifikasi Sosial
•   Masyarakat itu bersifat gemeinschaft
    (komunitas/paguyuban) atau gesselschaft (asosiasi/
    patembayan).
•   Masyarakat gemeinschaft adalah masyarakat yang
    mempunyai hubungan sosial tertutup, pribadi, dan
    dihargai oleh para anggotanya, yang didasari atas
    hubungan kekeluargaan dan kepatuhan sosial.
    Komunitas seperti ini merupakan tipikal masyarakat
    pra-industri atau masyarakat pedesaan.
•   Masyarakat gesselschaft, hubungan kekeluargaan
    telah memudar, hubungan sosial cenderung
    impersonal dengan pembagian kerja yang rumit.
    Bentuk seperti ini terdapat pada masyarakat industri
    atau masyarakat perkotaan.
Teori Sosilogi Modern
• 3 paradigma dalam sosiologi, yaitu: fakta sosial,
  definisi sosial dan perilaku sosial.
• Pusat kajian fakta sosial meliputi struktur sosial
  dan pranata sosial.
• Setiap masyarakat terdiri atas kelompok-
  kelompok yang memiliki norma. Norma dan pola
  nilai disebut pranata sosial.
• Jaringan hubungan sosial dimana interaksi
  sosial berproses dan menjadi terorganisir serta
  melalui mana posisi-posisi sosial dari individu
  dapat dibedakan disebut dengan struktur sosial.
     Teori yang tergabung dalam paradigma
                     fakta sosial:
1.    Teori fungsional Struktural
2.    Teori Konflik
3.    Teori Sistem
4.    Teori Sosiologi Makro
Teori Fungsional Struktural
• Masyarakat sebagai suatu sistem memiliki
  struktur yang terdiri dari banyak lembaga,
  masing-masing lembaga memiliki fungsi sendiri-
  sendiri.
• Struktur dan fungsi memiliki kompleksitas yang
  berbeda-beda ada pada setiap masyarakat.
• Semua lembaga yang ada dalam masyarakat
  akan senantiasa saling berinteraksi dan satu
  sama lain akan melaksanakan penyesuaian
  sehingga di masyarakat senantiasa berada
  dalam keseimbangan.
Perubahan yang terjadi pada masyarakat
   didasarkan pada asumsi:
1. Masyarakat dianalisis sebagai satu
   kesatuan yang utuh, yang terdiri dari
   berbagai bagian yang saling berinteraksi;
2. Hubungan yang ada bisa bersifat satu
   arah atau timbal balik;
3. Sistem sosial yang ada bersifat dinamis,
   dimana penyesuaian yang ada tidak
   perlu banyak merubah sistem.
4. Integrasi yang sempurna dalam masyarakat
   tidak pernah ada; OKI senantiasa timbul
   ketegangan dan penyimpangan dalam
   masyarakat, yang nantinya dinetralisir lewat
   proses pelembagaan;
5. Perubahan akan berjalan secara gradual dan
   perlahan-lahan sebagai suatu proses adaptasi
   dan penyesuaian;
6. Perubahan adalah merupakan hasil
   penyesuaian dari luar, tumbuh oleh adanya
   differensiasi dan inovasi;
7. Sistem diintegrasikan lewat pemilikan nilai-nilai
   yang sama.
Teori Konflik
• Bahwa masyarakat berada dalam konflik yang
  terus menerus diantara kelompok dan kelas;
• Bahwa masyarakat merupakan arena dimana
  kelompok yang satu dengan yang lain saling
  memperebutkan power dan kontrol.
• Berbagai macam aktivitas dan lembaga yang
  ada dalam masyarakat pada dasarnya
  merupakan upaya untuk memperebutkan power
  dalam masyarakat.
Asumsi dalam teori konflik:
1. Bahwa manusia sebagai makluk hidup memiliki
   sejumlah kepentingan yang paling dar dan
   mereka berusaha untuk mendapatkan
   kepentingan tersebut.
2. Kekuasaan mendapatkan penekanan sebagai
   pusat hubungan sosial, sumber konflik dan
   pada hakekatnya kekuasaan bersifat
   memaksa;
3. Ideologi dan nilai dipandang sebagai suatu
   senjata untuk mengejar kepentingan, bukan
   merupakan sarana untuk mencapai integrasi
   dan mengembangkan identitas suatu bangsa.
Teori Sistem
• Agar kelangsungan hidup suatu masyarakat
  terjamin, maka tatanan sosial yang ada harus
  tetap berlaku dari generasi ke generasi;
• Setiap masyarakat perlu melaksanakan
  sosialisasi sistem sosial yang dimiliki;
• Tujuan dari proses sosialisasi adalah
  mengintegrasikan sistem personal dan sistem
  kultural dalam sistem sosial masyarakat yang
  dilaksanakan melalui mekanisme sosialisasi dan
  kontrol sosial.
• TEORI SOSIOLOGI KLASIK
  Teori sosiologi yang muncul era kelahiran
  sosiologi saat berlangsungnya Revolusi
  Prancis/Revolusi Industri.

• TEORI SOSIOLOGI MODERN
  Teori-teori ini merupakan pengembangan
  dari aliran-aliran Sosiologi Klasik.


                                           28
       TEORI POSTMODERN
• Teori sosial postmodern lahir dari para pemikir aliran
  postmodernisme. Postmodernisme merupakan kritik atas
  masyarakat modern dan kegagalan memenuhi janji-
  janjinya.
• Postmodernisme cenderung menggembar-gemborkan
  fenomena besar pramodern, seperti: emosi, perasaan,
  intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman pribadi,
  kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi,
  magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman
  mistik



                                                      29

								
To top