NYERI (asto SETIA BUDI UNIVERSITY)

Document Sample
NYERI (asto SETIA BUDI UNIVERSITY) Powered By Docstoc
					   TUGAS SWAMEDIKASI




      ” NYERI”




       Disusun Oleh :

    AMBUNGU MAUSING
       AMRAN NUR
       ANDI SULFIKA
   ANTONIUS M. ATA HENA
   APOLAROSA TJANDRA




PROGRAM PROFESI APOTEKER
    FAKULTAS FARMASI
 UNIVERSITAS SETIA BUDI
           2013
                                         NYERI
       Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori
subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan
jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Bila
nyeri tidak ditangani secara benar maka dapat menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut,
contohnya nyeri setelah operasi, nyeri setelah sembuh dari penyakit herpes, bila tidak
ditangani secara benar maka akan menjadi nyeri kronis yang merupakan permasalahan besar
dan sulit ditangani karena terjadi perubahan ekspresi dari saraf- saraf. Nyeri seperti inilah
yang diklasifikasikan sebagai nyeri kronis yang ditandai dengan adanya persepsi nyeri tanpa
kerusakan jaringan.
        Berdasarkan mekanismenya, nyeri dibagi menjadi nyeri akut, nyeri kronik dan nyeri
kanker. Nyeri akut adalah nyeri dengan tanda inflamasi, biasanya berlangsung beberapa hari
sampai proses penyembuhan. Tanda- tanda utama inflamasi adalah: rubor (kemerahan
jaringan), kalor (kehangatan jaringan), tumor (pembengkakan jaringan), dolor (nyeri
jaringan), fungsio laesa (kehilangan fungsi jaringan). Nyeri kronik adalah nyeri tanpa tanda
inflamasi, waktu berlangsungnya lama atau merupakan ikutan dari proses akut, dimana nyeri
masih berlangsung meskipun kerusakan jaringan sudah sembuh. Nyeri kanker merupakan
kombinasi dari nyeri akut dan nyeri kronis dimana ada suatu proses inflamasi kemudian nyeri
berlangsung terus-menerus sesuai dengan perkembangan kankernya,bilamana kanker tidak
ditangani.


Fisiologi nyeri
       Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri.
Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang
berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak.         Reseptor nyeri
disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien
dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor
dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik
dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah,
nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nosireceptor kutaneus berasal dari
kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan
didefinisikan.
       Berdasarkan kualitasnya nyeri dibagi menjadi: nyeri ringan, nyeri sedang dan nyeri
berat. Pada nyeri ringan biasanya pasien secara obyektif dapat berkomunikasi dengan baik.
Pada nyeri sedang secara obyektif pasien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi
nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik. Pada nyeri berat
secara obyektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap
tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat
diatasi dengan alih posisi napas panjang.


Mekanisme nyeri
       Nyeri timbul setelah menjalani proses transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi.
Transduksi adalah rangsang nyeri diubah menjadi depolarisasi membran reseptor yang
kemudian menjadi impuls saraf. Transmisi, saraf sensoris perifir yang melanjutkan rangsang
ke terminal di medula spinalis disebut sebagai neuron aferen primer, jaringan saraf yang naik
dari medula spinalis ke batang otak dan talamus disebut neuron penerima kedua, neuron yang
menghubungkan dari talamus ke kortek serebri disebut neuron penerima ketiga. Modulasi
nyeri dapat timbul di nosiseptor perifer, medula spinalis atau supraspinal. Modulasi ini dapat
menghambat atau memberi fasilitasi. Persepsi, nyeri sangat dipengaruhi oleh faktor subyektif,
walaupun mekanismenya belum jelas.


Sumber nyeri
Nyeri berdasarkan asalnya ada 2 yaitu nyeri somatik dan nyeri viseral. Nyeri somatik berasal
dari lapisan dinding tubug dan nyeri viseral berasal dari organ-organ internal
yang berada dalam rongga thorak, abdomen dan kranium.Nyeri dapat berasal dari fisik atau
psikologik dan dapat terjadi secara “concomitants”. Nyeri memiliki suatu ambang /
“treshold” dan ambang ini dicapai secara berbeda. Ambang dicapai oleh karena adanya
hambatan transmisi impuls nyeri dari spinal cord ke otak. Mekanisme ini terjadi pada sel-sel
substansia gelatinosa pada kornu dorsalis di spinal cord


Klasifikasi nyeri dapat dibagi menurut :
a. Dua rasa nyeri utama yaitu :
nyeri cepat: bila diberikan stimulus nyeri maka rasa nyeri cepat timbul dalam waktu kira-
kira 0,1 detik. Rasa nyeri cepat juga digambarkan dengan banyak nama pengganti seperti :
rasa nyeri tajam, rasa nyeri tertusuk, rasa nyeri akut, dan rasa nyeri elektrik
nyeri lambat: timbul setelah 1 detik atau lebih dan kemudian secara perlahan bertambah
selama beberapa detik dan kadang kala bahkan beberapa menit. Rasa nyeri lambat juga
mempunyai banyak nama tambahan seperti rasa nyeri terbakar lambat, nyeri pegal, nyeri
berdenyut, nyeri mual dan nyeri kronik.


b. Waktu nyeri
Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi tiba-tiba, intensitasnya bervariasi dari sedang sampai
dengan berat dan berakhir dalam periode singkat sampai dengan kurang dari 6 bulan.
Nyeri kronis adalah : nyeri yang intermitten atau persisiten dan berakhir lebih dari 6 bulan
misalnya nyeri pada penyakit kanker.

Klasifikasi Nyeri
       Reseptor nyeri somatik meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh
darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek,
nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.
       Reseptor nyeri viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati,
usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif
terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.


Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)
       Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat
menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba
menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap
paling relevan.
       Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri
dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori
ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls
dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan
dasar teori menghilangkan nyeri.
       Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari
otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan
substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat
mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan
neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A,
maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat
saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan
menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A
dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi
nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi
di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti
endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator
ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. tehnik
distraksi, konseling dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin.


Respon fisiologis terhadap nyeri :
1) Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)
a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
b) Peningkatan heart rate
c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
d) Peningkatan nilai gula darah
e) Diaphoresis
f) Peningkatan kekuatan otot
g) Dilatasi pupil
h) Penurunan motilitas G


2) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)
a) Muka pucat
b) Otot mengeras
c) Penurunan HR dan BP
d) Nafas cepat dan irreguler
e) Nausea dan vomitus
f) Kelelahan dan keletihan


3)Respon tingkah laku terhadap nyeri1
1) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
2) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
3) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
4) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak
sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri).
Fase pengalaman nyeri terbagi 3 yaitu:
1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
       Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa
mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri
dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting,
terutama dalam memberikan informasi pada klien.
2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
       Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka
tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan
berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi
terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang
toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil.
Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan,
sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah
nyeri, sebelum nyeri datang.
3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
       Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih
membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien
mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka
respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan
dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan
kemungkinan nyeri berulang.


Metoda pengobatan nyeri
           Sesuai dengan step ledder dari WHO maka untuk mengatasi nyeri ringan digunakan
obat anti inflamasi non steroid, untuk mengatasi nyeri sedang digunakan obat anti inflamasi
non steroid dikombinasi dengan golongan opioid lemah dan untuk mengatasi nyeri berat
digunakan obat anti inflamasi non steroid dikombinasi dengan golongan opioid kuat. Selain
pengobatan diatas kadang dibutuhkan juga pengobatan tambahan diantaranya obat sedatif bila
nyeri disertai stress, pengobatan akupunktur untuk mengatasi nyeri kronik, sampai blok
anestesi. Untuk masyarakat umun               bila mengalami nyeri disarankan untuk segera
berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan sesuai dengan masalah nyeri yang
dialami.
Contoh kasus 1
Seorang wanita berumur 20 tahun datang ke apotek USB Farma dengan keluhan nyeri
dibagian perut, berhubung wanita ini sedang mengalami menstruasi dan mengeluh rasa nyeri
di bagian perut. Bagaimana pengobatan??????
Identifikasi
Jenis Kelamin : Wanita (20th)
Riwayat penyakit dulu: -
Riwayat penyakit sekarang :
       a. Nyeri pada saat menstruasi
       b. Nyeri pada bagian perut
Pengobatan dan Swamedikasi
Pengobatan Farmakologi
Wanita dengan dismenorea diberikan feminax untuk menghilangkan rasa nyeri saat haid
sedang berlangsung dengan dosis 3 x sehari. Kombinasi paracetamol yang merupakan
analgetika dan extarx hiosiami yang merupakn spasmolitika dalam Feminax. Dimaksudkan
untuk mengurangi rasa nyeri, pening, dan mulas yang timbul pada waktu haid.
Pengobatan non farmakologi
   a. Suhu panas merupakan ramuan tua yang patut dicoba. Gunakan heating pad (bantal
       pemanas), kompres handuk atau botol berisi air panas di perut dan punggung bawah,
       serta minum minuman yang hangat. Mandi air hangat juga dapat membantu.
   b. Tidur dan istirahat yang cukup, serta olah raga teratur (termasuk banyak jalan).
       Beberapa wanita mencapai keringanan melalui olah raga, yang tidak hanya
       mengurangi stres tapi juga meningkatkan produksi endorfin otak, penawar sakit alami
       tubuh. Tidak ada pembatasan aktivitas selama haid.
   c. Pada kasus yang sangat jarang dan ekstrim, kadang diperlukan eksisi pada saraf
       uterus.
   d. Sebuah terapi alternatif, yaitu visualisasi konsentrasi pada warna sakit sampai
       mencapai penguasaan atasnya dapat membantu mengurangi nyeri haid.
   e. Sebagai tambahan, aroma terapi dan pemijatan juga dapat mengurangi rasa tidak
       nyaman. Pijatan yang ringan dan melingkar dengan menggunakan telunjuk pada perut
       bagian bawah akan membantu mengurangi nyeri haid. Mendengarkan musik,
       membaca buku atau menonton film juga dapat menolong.
Contoh Kasus 2
Seorang ibu berumur 40 tahun datang ke Apotek USB Farma dengan mengeluh nyeri pada
bagian gigi dan gusi. Dirasakan sangat nyeri dan sakit bila mengunyah makanan dan
meminum minuman yang dingin Bagaimana pengobatannya????
Identifikasi
Jenis Kelamin : Wanita (40th)
Riwayat penyakit dulu: -
Riwayat penyakit sekarang :
       a. Nyeri pada gigi
       b. Nyeri saat mengunyah dan minum
Pengobatan dan Swamedikasi
Pengobatan farmakologi
Nyeri pada gigi akibat rangsangan dari makanan dan minuman yang menyebabkan
peradangan pada pulpa (pusat syaraf gigi) diberikan PONSTAN (asam mefenamat 500mg)
dengan dosis 3 x sehari. Asam mefenamat dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik,
ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer,
termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada
persalinan.
Pengobatan non Farmakologi
- Hindari makanan kecil yang manis dan lengket. Bahan-bahan ini dapat merusak enamel
gigi jangan sampai ada sisa makanan di sela-sela gigi.
- Akhiri makan dengan buah sebagai pencuci mulut dan berkumurlah untuk membersihkan
sisa makanan.
- Sikat gigi sehabis makan atau paling tidak sehari 2 kali. Bersihkan sela-sela antar gigi
sekali sehari dengan dental floss. Periksa gigi secara teratur minimal 2 kali dalam setahun.
- Cegah timbulnya gigi berlubang dengan pasta gigi berflouride.
- Hindari merokok. Merokok menyebabkan suasana mulut menjadi asam yang
mempermudah pengerusakan gigi.


Contoh Kasus 3
Seorang pria datang ke Apotek USB Farma dengan keluhan nyeri pada bagian pinggang.
Rasa nyeri timbul setelah duduk terlalu lama kemudian berdiri dan terasa sangat nyeri pada
bagian pinggang. Bagaimana pengobatannya???
Identifikasi
Jenis Kelamin : Pria
Riwayat penyakit dulu: -
Riwayat penyakit sekarang :
       a. Nyeri pada pinggang
Pengobatan farmakologi
Nyeri pada pinggang akibat duduk terlalu lama dan otot terasa tertarik diberikan Neurosanbe
Plus dosis 3 x sehari.


NEUROSANBE® PLUS
Film-coated caplet
Tiap kaplet mengandung:
Metampiron                                       500 mg
Thiamin Mononitrat setara dengan Thiamin HCl 50       mg
Vitamin B6                                       100 mg
Vitamin B12                                      100 mcg


FARMAKOLOGI
NEUROSANBE® PLUS kaplet adalah kombinasi dari tiga macam vitamin neurotropik
dalam dosis besar dengan Metampiron.
Metampiron bekerja sebagai analgetika, diabsorpsi dari saluran pencernaan dan mempunyai
waktu paruh 1-4 jam.
Vitamin B1, B6 dan B12 dapat membantu memelihara fungsi sel-sel syaraf.


INDIKASI
NEUBOSANBE® PLUS kaplet diindikasikan untuk meringankan rasa nyeri yang
disebabkan oleh neuritis, neuralgia, terutama pada keadaan rasa nyeri yang berat.


KONTRA-INDIKASI
- Hipersensitivitas.
- Wanita hamil dan menyusui.
- Penderita dengan tekanan darah sistolik kurang dari 100 mm Hg.
EFEK SAMPING
- Reaksi hipersensitivitas : reaksi pada kulit seperti kemerahan.
- Agranulositosis.


PERHATIAN
      Tidak digunakan untuk mengobati nyeri otot pada gejala-gejala flu dan tidak untuk
       mengobati rematik, lumbago, sakit punggung, bursitis, sindroma bahu lengan.
      Walaupun jarang menimbulkan agranulositosis, sebaiknya tidak digunakan untuk
       jangka panjang dan terus menerus, karena dapat berakibat fatal.
      Hati-hati bila diberikan kepada penderita yang pernah mengalami gangguan
       pembentukan darah / kelainan darah, gangguan fungsi hati atau ginjal. Karena itu
       perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati dan hitung darah pada penggunaan yang
       lebih lama dari penggunaan untuk mengatasi nyeri akut.
      Pada pemakaian jangka panjang dapat menimbulkan neuropathy syndrome yang akan
       berangsur hilang bila pengobatan dihilangkan.

Pengobatan non farmakologi
1. Berdiri: satu kaki lebih tinggi, bertumpu pada bangku, dengan lutut sedikit ditekuk,
keadaan ini akan mengurangi tekanan pada pinggang.
2. Duduk: Duduk dengan lutut sejajar dengan panggul, memberikan dukungan pada
pinggang ( posisi lutut 90 derajat)
3. Meraih: bila meraih sesuatu yang menyebabkan tangan bergerak hingga bahu terangkat,
berdirilah pada kursi atau bangku.
4. Memindahkan barang yang berat: Posisikan anda pada arah menarik. Gunakan tangan
dan kaki saat awal. Bila mungkin, jangan lakukan sendirian.
5. Mengangkat : Berjongkok pada satu lutut dengan kaki yang lain mendatar pada lantai,
sedekat mungkin dengan benda yang akan diangkat. Angkat dengan kaki, upayakan benda
yang diangkat selalu dekat dengan tubuh.
6. Tidur: Tidur terlentang membebani punggung sebesar kira-kira 25 hingga 30 kg.
Meletakkan beberapa bantal di bawah lutut mengurangi separuhnya. Tidur miring dengan
bantal diantara lutut juga akan mengurangi beban.
7. Mengontrol berat badan: Berat badan yang berlebih menyebabkan tarikan pada jaringan
lunak pinggang, dan juga akan memperlambat proses penyembuhan.
8. Berhenti merokok: nikotin berakibat aliran darah pada bantalan antara tulang pinggang
berkurang.
                                DAFTAR PUSTAKA
1. Braam, Wiebe. 1978. 100 Pertanyaan Mengenai Haid, Jakarta. Sinar Harap.
2. Kingston, Beryl. 1991. Mengatasi Nyeri punggung, Jakarta. Arcan
3. Sylvia A. Price.2006. Patofisiologi. Volume 2, Edisi 6. Buku Kedokteran.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:15
posted:2/26/2013
language:
pages:12