al-qur'an
Document Sample


STUDI HADIST Muhammad Husin, M.Sy.
AMTSAL AL-QUR’AN
NAMA : ASNELI
NIM : 11281202687
PRODI : STUDI HADITS
JURUSAN : ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS : ILMU PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2012
KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatan-Nya
kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Berikut ini, penulis persembahkan sebuah makalah “Ulumul Qur’an”. Penulis
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis
sendiri. Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam
makalah ini, penulis mohon maaf, karena penulis sendiri dalam tahap belajar. Dengan
demikian, tak lupa penulis ucapkan terimakasih, kepada para pembaca. Semoga Allah
memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaat.
Pekanbaru, 14 November 2012
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Tujuan ............................................................................................. 1
C. Rumusan masalah.......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 2
A. Pengertian Amtsal Al-Qur’an ........................................................... 2
B. Macam-macam amsal Al Qur'an ..................................................... 5
C. Sighat-sighat Amtsal Al-Qur’an........................................................ 7
D. Faedah Amtsal Al Qur’an ............................................................... 8
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 11
A. Kesimpulan...................................................................................... 11
B. Saran ............................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 12
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an.
Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami,
mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan
itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/
tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan.
Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Sudah digambarkan dengan perumpamaan saja
masih susah apalagi tidak. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan
sedikit tentang ilmu amtsal Al-Qur’an.
B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang amtsal Qur’an ini adalah menjelaskan
hal-hal yang berkaitan dengan ilmu amtsal sehingga para pembaca yang awalnya belum
pernah mengetahuinya menjadi tahu. Setelah memahami ilmu amtsalQur’an diharapkan
para pembaca mampu memahami, mangambil pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat
ayat-ayat Al-Qur’an.
C. Rumusan masalah
Dalam makalah ini kami hanya membahas beberapa ruang lingkup saja, yaitu:
1. Definisi Amtsal Al-Qur’an
2. Macam-macam Amtsal Al-Qur’an
3. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
4. Faedah Amtsal Al-Qur’an
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Amtsal Al-Qur’an
Pengertian Amsal Al Qur’an Secara etiminologi kata amsal merupakan bentuk
jamak dari kata matsal dan mitsal yang berarti perumpamaan, sesuatu yang menyerupai
atau menyamai dan bandingan.
Secara terminologi matsal adalah ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan
sudah populer untuk menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan
sesuatu yang karenanya perkataan diucapkan.
Dalam bentuk jamak dari mufrod mitslu. Kata mitsludalam segi arti maupun bentuk
lafazhnya itu sama dengan lafazh syibhuyaitu matsalu, mitslu dan matsiil yang sama
dengan lafazh syabahu, syibhu dan syabiih. Kata mitslu secara etimologi mempunyai 3
arti, yaitu:
1. Kata mitslu yang artinya sama dengan kata syibhu yaitu penyerupaan.
2. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa lafazh mitslu adalah keadaan atau cerita yang
menakjubkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang arab yaitu:
Arti ini banyak digunakan dalam penerapan lafazh mitslu pada al-Qur’an. Sebagaimana
dalam surat Muhammad ayat 15:
2
Artinya: “(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang
yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah
rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya,
sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan
sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya
segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan
orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih
sehingga memotong-motong ususnya.”
3. Ada juga sebagian ulama’ yang mengatakan bahwa mitslu adalah:
Yaitu keadaan, sifat atau cerita yang asing dan aneh.
Sedangkan pengertian amtsal secara terminologi ada beberapa definisi yang dikemukakan
oleh para ulama, yaitu:
1. Pengertian mitslu menurut ulama’ ahli ilmu adab adalah:
.
Artinya: “Mitslu dalam ilmu adab adalah ucapan yang disebutkan untuk menggambarkan
ungkapan lain yang dimaksudkan untuk menyamakan atau menyerupakan
keadaan sesuatu yang diceritakan dengan keadaan sesuatu yang dituju.”
Maksudnya adalah menyerupakan perkara yang disebutkan dengan asal
ceritanya. Maka amtsal menurut definisi ini harus ada asal ceritanya. Contohnya pada
ucapan orang arab (banyak panahan dengan tanpa ada orang
yang memanah). Maksudnya adalah banyak musibah yang terjadi karena salah langkah.
Kesamaannya adalah terjadinya sesuatu dengan tanpa ada kesengajaan.
3
2. Pengertian mitslu menurut ulama’ ahli ilmu bayan adalah:1
Yaitu majas/kiasan yang majemuk yang mana keterkaitan antara yang disamakan dengan
asalnya adalah penyerupaan. Maka bentuk amtsalmenurut definisi ini adalah
bentuk isti’aarah tamtsiiliyyah, yakni kiasan yang menyerupakan. Seperti:
◊
Artinya : Tiadalah harta dan keluarga melainkan bagaikan titipan; pada suatu hari titipan itu
pasti akan dikembalikan.
Dalam syair di atas, tampak jelas penyair menyerupakan harta dan keluarga
dengan benda titipan yang dititipkan oleh seseorang kepada kita, yang sama-sama bisa
diambil sewaktu-waktu oleh orang yang menitipkannya.
3. Sebagian ulama’ ada juga yang menyatakan pengertian mitsluadalah:
Yaitu mengungkapkan suatu makna yang abstrak dalam bentuk sesuatu yang
konkret yang elok dan indah. Contohnya seperti ungkapan (ilmu itu seperti
cahaya). Dalam hal ini adalah menyamakan ilmu yang bersifat abstrak dengan cahaya
yang konkret, yang bisa diindera oleh penglihatan. Amtsal menurut definisi ini tidak
disyaratkan adanya asal cerita juga tidak harus adanya majaz murakkab.
1 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 249.
4
Melihat dari pengertian-pengertian mitslu di atas, maka amtsal al-
Qur’ansetidaknya berupa penyamaaan keadaan suatu hal dengan keadaan hal yang lain.
Penyerupaan tersebut baik dengan cara isti’arah (menyamakan tanpa menggunakan adat
tasybih), tasybih sharih (menyamakan yang jelas dengan adanya adat tasybih), ayat-ayat
yang menunjukkan makna yang indah dan singkat, atau ayat-ayat yang digunakan untuk
menyamakan dengan hal lain. Karena itulah, kesimpulan akhir dalam
mendefinisikan amtsal al-Qur’an adalah:
Yaitu menampakkan pengertian yang abstrak dalam bentuk yang indah dan singkat yang
mengena dalam jiwa baik dalam bentuk tasybih maupun majaz mursal (ungkapan
bebas). Definisi inilah yang relevan dengan yang terdapat dalam al-Qur’an, karena
mencakup semua macam amtsal al-Qur’an.
B. Macam-macam amsal Al Qur'an
Amsal dalam Al Qur'an ada tiga macam, yaitu:
a). Amsal Musharrahah
Yaitu amsal yang jelas, yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan
atau kata yang menunjukan penyerupaan.
Contoh:
Surat Al Baqarah 17-20
5
17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api
itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. 18. Mereka tuli, bisu dan buta,
maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), 19. atau seperti (orang-orang
yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka
menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut
akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir, 20. Hampir-hampir kilat itu
menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di
bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah
menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah 17-20)
Contoh diatas juga memperlihatkan dua perumpamaan bagi orang munafik.
Pertama, seperti orang yang menyalakan api karena didalam api terdapat unsur cahaya.
Kedua, sepeti orang yang ditimpa hujan dari langit, karena didalamnya terkandung unsur
kehidupan.
b). Amsal Kaminah
Yaitu amsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukan
perumpamaan, tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mempesona, sebagaiman
yang terkandung didalam ungkapan-ungkapan singkat.2
Contoh.
2 Djalal, Ulumul Qur’an, 316..
6
Artinya: Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia
menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu." Musa menjawab:
"Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang
tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu". (QS. AL Baqarah: 68)
c). Amsal Mursalah
Yaitu kalimat-kalimat Al Qur'an yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan
redaksi penyerupaan tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan.
Contoh:
Artinya: Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata:
"Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari
padanya." Berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang
menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang benar." (QS Yusuf: 51).
C. Sighat-sighat Amtsal Al-Qur’an
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Amtsal memiliki empat unsur, yaitu:
1. Wajhu Syabah: segi perumpamaan
2. Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk tasybih
3. Musyabbah: yang diperumpamakan
7
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan perumpamaan
5. Mengandung penjelasan atas makna yang samar atau abstrak sehingga menjadi
jelas, konkret, dan berkesan.
6. Amtsal memiliki kesejajaran antara situasi-situasi perumpamaan yang dimaksud
dan padannya.
7. Ada keseimbangan (Tawazun) antara perumpanaan dan keadaan yang
dianologikan.3
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,
pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia
kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Wajhu Syabah pada ayat di atas adalah “pertumbuhan yang berlipat-lipat”. Adaatu
tasybihnya adalahkata matsal.Mus yabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah.
Sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.
D. Faedah Amtsal Al Qur’an
Manna Khalil al-Qaththan menyebutkan 8 faedah amtsal. Dengan didukung ayat-
ayat yang terkait faedah tersebut, antara lain:
1. Menonjolkan sesuatu ma’qul (yang hanya dijangkau akal, abstrak) dalam bentuk
konkrit yang dapat dirasakan indra manusia, sehingga akal mudah menerimanya;
sebab pengertian-pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak kecuali jika
dituangkan dalam bentuk indrawi yang dekat dengan pemahaman. Misalnya Allah
3 Izzan,Ahmad,Drs.,2007,Ulumul Qur’an,hal 224,Tafakur,Bandung.
8
membuat masal bagi keadaan orang yang menafkahkan harta dengan riya’dimana
ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun dari perbuatannya itu.
2. Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak
seakan-akan sesuatu yang tampak. Firman Allah QS. Al-Baqarah (2): 275
artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. QS. Al-
Baqarah (2): 275
3. Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat,
seperti amtsal kaminahdan amtsal mursalah dalam ayat-ayat diatas.
4. Mendorong orang diberi matsal untuk berbuat sesuai dengan isi matsal, jika ia
merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Misalnya Allah membuat matsal bagi
keadaan orang yang menafkahkan harta di jalan Allah, di mana hal itu akan
memberikan kepadanya kebaikan yang banyak.
5. Menjauhkan (tanfir, kebalikan No. 4) jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci
jiwa. Misalnya firman Allah QS al-Hujurat (49): 12 tentang larangan bergunjing.
9
6. Untuk menguji orang yang diberi matsal. Seperti firman Allah QS. Al-Fath (48): 29
tentang para sahabat.
7. Untuk menggambarkan (dengan matsal itu) sesuatu yang mempunyai sifat yang
dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya matsal tentang keadaan orang
yang dikaruniai kitabullah tetapi ia tersesat jalan hingga tidak mengamalkannya.
Seperti pada Firman Allah QS. Al-A’raf (7): 175
8. Amtsal lebih berpengaruh kepada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasehat,
lebih kuat dalam memberi peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati. Allah
banyak menyebut amtsal di dalam al-Quran untuk peringatan dan pelajaran.
Seperti pada firman AllahQS. Al-Zumar (39): 27.4
4 Abdu al-Rahman Jalaluddin al-Suyuti, al-Itqan fi Ulum al-qur’an Juz II.
10
BAB III
PENUTUP
B. Kesimpulan
Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an.
Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami,
mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan
itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/
tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan.
Kita perlu ilmu untuk memahaminya.
Amtsal Qur’an penting untuk memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh
perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal, menghindarkan diri dari
perbuatan negatif. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan
nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam
Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil
ibrahnya. Amtsal juga memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar
para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai
universalnya.
B. Saran
Dengan kerendahan hati penulis, penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih
banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun
dari pembaca, penulis harapkan demi kesempurnaan makalah dimasa yang akan datang.
Dengan adanya penjelasan di atas di harapkan bagi semua yang membacanya
bias mengetahui apa yang di maksud dengan amtsal quran, tidak hanya
mendengarkannya saja tapi di fahami dengan seksama. Akhirnya dari kami, mudah-
mudahan bermanfaat bagi kita semua dan para pembaca. Amiiiin.
11
DAFTAR PUSTAKA
Abdu al-Rahman Jalaluddin al-Suyuti, al-Itqan fi Ulum al-qur’an Juz II. Abd. Rahman al-
Suhayli, al-Rawdh al-Unuf (Dar al-Kutub al-Haditsah, t.th).
Izzan,Ahmad,Drs.,2007,Ulumul Qur’an,hal 224,Tafakur,Bandung.
http://www.google.com.Tamsil dalam Al-Qur’an/
12
