Pendidikan AGama by nazhirans

VIEWS: 44 PAGES: 167

									                                        KATA PENGANTAR
                                        ‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬
       Ada pendapat dari sebagian pengamat, bahwa mutu pendidikan di Indonesia tidak
meningkat, bahkan cenderung menurun. Salah satu indikatornya adalah semakin banyaknya
lulusan institusi pendidikan yang tidak dapat memiliki kesiapan dalam memasuki dunia kerja
sesuai dengan ilmu dan bidang yang ditekuninya. Indikator lain yang lebih penting adalah
menurunnya sikap dan perilaku moral para lulusan yang semakin hari cenderung semakin jauh
dari tatanan nilai-nilai moral yang dikehendaki.
       Untuk mengantisipasi persoalan semacam itu, pendidikan perlu direkonstruksi ulang
agar dapat menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas dan siap menghadapi “dunia” masa
depan yang penuh dengan problema dan tantangan serta dapat menghasilkan lulusan yang
memiliki sikap dan perilaku moral yang mulia. Pendidikan harus mampu mengemban misi
pembentukan kultur akhlak mulia (character building) sehingga para peserta didik dan para
lulusan dapat berpartisipasi dalam mengisi pembangunan di masa-masa mendatang tanpa
meninggalkan nilai-nilai moral atau akhlak mulia.
       Salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan seperti di atas, para peserta didik harus
dibekali dengan pendidikan khusus yang membawa misi pokok dalam pembinaan akhlak mulia.
Pendidikan seperti ini dapat memberi arah kepada para peserta didik setelah menerima
berbagai ilmu maupun pengetahuan dalam bidang (jurusan) masing-masing, sehingga peserta
didik dapat mengamalkan ilmu di tengah-tengah masyarakat dengan tetap berpatokan pada
nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang universal. Karena itulah, eksistensi pendidikan yang
bernuansa akhlak mulia seperti Pendidikan Agama, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI),
menjadi sangat penting tidak hanya untuk membekali para peserta didik dalam hal
pengamalan nilai-nilai agama yang dianut, tetapi yang terpenting adalah mengantarkan
peserta didik agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur (berakhlak mulia).
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah maupun perguruan tinggi membawa
misi pokok untuk terwujudnya manusia (peserta didik serta lulusan) yang memiliki akhlak
mulia serta mampu mengamalkan ilmu dan keterampilan yang digelutinya dalam bentuk sikap
dan perilaku tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak mulia tersebut.
       Dalam rangka itu semua, penelitian tentang pembentukan kultur akhlak mulia di sekolah
(termasuk dalam hal ini perguruan tinggi) penting dilakukan untuk melihat sejauhmana tingkat
kebermaknaan misi yang diemban oleh kurikulum yang menjadi penyangganya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengungkap permasalahan pokok tentang bagaimana pembelajaran PAI di
Perguruan Tinggi dapat berperan dalam pembentukan kultur akhlak mulia di kalangan
mahasiswa dan problematika apa yang muncul dalam rangka pembentukan kultur akhlak mulia
tersebut serta bagaimana alternatif pemecahannya. Untuk membahas permasalahan tersebut,
perlu dikaji satu konsep tentang pendidikan Islam.
       Islam merupakan suatu agama yang ajaran-ajarannya bersumber dari wahyu Allah yang
diturunkan kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul-Nya. Dalam buku
Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (1985), Harun Nasution menguraikan dengan panjang
lebar berbagai segi dan ilmu yang menjadi cakupan Islam yang bersumber al-Quran dan
Sunnah (Hadis). Dari kedua sumber pokok ini para pemikir Islam berhasil mengambil berbagai
ajaran atau konsep dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Konsep yang terpenting dalam
Islam adalah tauhid, yaitu ajaran yang menjadi dasar dari segala dasar dalam Islam, yakni

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        1
pengakuan tentang adanya satu Tuhan, yaitu Allah (Nasution, 1985: 30). Konsep-konsep lain
yang terkandung dalam Islam adalah konsep hukum, konsep moral (akhlak), konsep politik,
konsep sejarah, konsep filsafat, dan lain sebagainya.
       Islam berbicara panjang lebar tentang pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, M. Athiyah
al-Abrasyi mengatakan bahwa inti pendidikan Islam adalah budi pekerti (akhlak). Jadi,
pendidikan budi pekerti (akhlak) adalah jiwa pendidikan dalam Islam. Mencapai akhlak yang
karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Di samping membutuhkan
kekuatan dalam hal jasmani, akal, dan ilmu, peserta didik juga membutuhkan pendidikan budi
pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa, dan kepribadian (al-Abrasyi, 1987: 1). Sejalan dengan
konsep ini maka semua mata pelajaran atau mata kuliah yang diajarkan kepada peserta didik
haruslah mengandung muatan pelajaran akhlak dan setiap guru atau dosen haruslah
memerhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya.
       Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ilmu, akan tetapi yang dimaksud
adalah ilmu yang amaliyah. Artinya, seorang yang memperoleh suatu ilmu akan dianggap
berarti apabila ia mau mengamalkan ilmunya. Terkait dengan hal ini, al-Ghazali (dalam al-
Abrasyi, 1987: 46) mengatakan, “Manusia seluruhnya akan hancur, kecuali orang-orang yang
berilmu. Semua orang yang berilmu akan hancur, kecuali orang-orang yang beramal. Semua
orang yang beramal pun akan hancur, kecuali orang-orang yang ikhlas dan jujur”. Al-Ghazali
memandang pendidikan sebagai teknik atau skill, bahkan sebagai sebuah ilmu yang bertujuan
untuk memberi manusia pengetahuan dan watak (disposition) yang dibutuhkan untuk
mengikuti petunjuk Tuhan sehingga dapat beribadah kepada Tuhan dan mencapai
keselamatan dan kebahagiaan hidup (Alavi, 2007: 312).
       Sementara itu, Isma’il Raji al-Faruqi (1988: 16) menegaskan bahwa esensi peradaban
Islam adalah Islam itu sendiri, dan esensi Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tindakan
yang menegaskan Allah sebagai Yang Esa, Pencipta Yang Mutlak dan Transenden, dan
Penguasa segala yang ada. Bagi kaum Muslimin, tidak dapat diragukan lagi, bahwa Islam,
kebudayaan Islam, dan peradaban Islam memiliki esensi pengetahuan, yaitu tauhid (Q.S. al-
Dzariyat [51]: 56; al-Nahl [16]: 36; al-Isra’ [17]: 23; al-Nisa’ [4]: 36; dan al-An’am [6]: 151).
Dengan demikian, ada tiga komponen penting yang harus diperhatikan di dalam mengelola
pendidikan, yaitu ilmu itu sendiri, kemudian pengamalan ilmu tersebut, dan tauhid yang
menjadi dasar utamanya. Kalau ketiga komponen ini tidak dipahami dan tidak diberikan secara
integral, maka akan sulit tercapai tujuan pendidikan sebagaimana yang disebutkan di atas,
yakni akhlak mulia.
       Tujuan akhir dari proses pendidikan Islam adalah terwujudnya akhlak mulia. Kata akhlak
berasal dari bahasa Arab al-akhlaq yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang
berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat (Ya’qub, 1988: 11). Sinonim dari kata
akhlak ini adalah etika dan moral. Secara terminologis, Ibnu Maskawaih mendefinisikan akhlak
sebagai keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak
menghajatkan pikiran (Djatnika, 1996: 27). Sedang menurut al-Ghazali akhlak adalah suatu
sifat yang tetap pada jiwa yang memungkinkan seseorang melakukan perbuatan-perbuatan
dengan mudah dan seketika (Alavi, 2007: 313).
       Akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Islam yang memiliki
kedudukan yang sangat penting, di samping dua kerangka dasar lainnya, yakni aqidah dan
syariah. Akhlak (baca: akhlak mulia) merupakan buah yang dihasilkan dari proses penerapan

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                            2
aqidah dan syariah. Ibarat bangunan, akhlak merupakan kesempurnaan dari bangunan
tersebut setelah fondasi dan bangunannya kokoh. Jadi, tidak mungkin akhlak ini akan terwujud
pada diri seseorang jika tidak memiliki aqidah dan syariah yang memadai.
       Nabi Muhammad Saw. bersabda dalam salah satu hadis yang berbunyi: “Sesungguhnya
aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Ahmad). Hadis ini
mengisyaratkan bahwa kehadiran Nabi Saw. di muka bumi ini membawa misi pokok untuk
menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.
       Dalam al-Quran ditemukan banyak sekali pokok keutamaan akhlak yang dapat
digunakan untuk membedakan perilaku seorang Muslim, seperti perintah berbuat kebajikan
(QS. al-Maidah [5]: 2), menepati janji (QS. al-Maidah [5]: 1), sabar (QS. al-Baqarah [2]: 45), jujur
(QS. al-Baqarah [2]: 177), takut kepada Allah Swt. (QS. al-Baqarah [2]: 189), bersedekah di jalan
Allah, berbuat adil, dan pemaaf (QS. al-Baqarah [2]: 177; QS. al-Mu’minun [23]: 1–11; QS. al-
Nur [24]: 37; QS. al-Furqan [25]: 35–37; QS. al-Fath [48]: 39; dan QS. Ali ‘Imran [3]: 134). Ayat-
ayat ini merupakan ketetapan dan ketentuan yang mewajibkan pada setiap orang Islam untuk
melaksanakan nilai akhlak mulia dalam berbagai aktivitas kehidupannya. Keharusan
menjunjung tinggi akhlak mulia lebih dipertegas lagi oleh Nabi Saw. melalui hadis-hadisnya.
       Sumber untuk menentukan akhlak dalam Islam, apakah termasuk akhlak mulia atau
akhlak tercela adalah al-Quran dan Sunnah (Hadis). Baik dan buruk dalam akhlak, menurut
Islam, ukurannya adalah baik dan buruk menurut kedua sumber itu, bukan baik dan buruk
menurut ukuran manusia. Namun demikian, Islam tidak menafikan adanya standar lain selain
al-Quran dan Sunnah untuk menentukan baik dan buruk akhlak manusia. Standar tersebut
adalah akal dan nurani manusia serta pandangan umum masyarakat (adat/tradisi). Manusia
dengan hati nuraninya dapat juga menentukan ukuran baik dan buruk, sebab Allah
memberikan potensi dasar kepada manusia berupa tauhid (QS. al-A’raf [7]: 172 dan QS. al-Rum
[30]: 30). Hati nuraninya selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti
ajaran-ajaran Allah Swt. dan Rasul-Nya, karena kebenaran itu tidak akan dicapai kecuali
dengan Allah Swt. sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun demikian, harus diakui bahwa
fitrah manusia tidak selalu dapat berfungsi dengan baik. Pendidikan dan pengalaman manusia
dapat mempengaruhi eksistensi fitrah manusia itu (Ilyas, 2004: 4). Akal pikiran manusia dan
tradisi juga sama kedudukannya seperti hati nurani.
       Secara umum akhlak Islam dibagi menjadi dua, yaitu akhlak mulia (al-akhlaq al-
mahmudah/al-karimah) dan akhlak tercela (al-akhlaq al-madzmumah/al-qabihah). Dilihat dari
ruang lingkupnya akhlak Islam dibagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak terhadap Khaliq (Allah
Swt.) dan akhlak terhadap makhluq (selain Allah Swt.). Akhlak terhadap makhluk masih dirinci
lagi menjadi beberapa macam, seperti akhlak terhadap sesama manusia, akhlak terhadap
makhluk hidup selain manusia (seperti tumbuhan dan binatang), serta akhlak terhadap benda
mati.
       Lalu bagaimana proses pembentukan kultur akhlak mulia ini bisa terjadi. Kata kultur
terambil dari kata berbahasa Inggris, culture, yang berarti kesopanan, kebudayaan, atau
pemeliharaan (Echols dan Shadily, 1995: 159). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur
juga diartikan sama, yakni kebudayaan, pemeliharaan, atau pembudidayaan (Tim Redaksi KBBI,
2001: 611). Kata kultur sekarang mulai banyak dipakai untuk menyebut budaya atau kebiasaan
yang terjadi, sehingga dikenal istilah kultur sekolah, kultur kantor, kultur masyarakat, dan lain
sebagainya.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                               3
       Kultur sekolah merupakan tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan
spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. Tradisi itu mewarnai kualitas kehidupan sebuah
sekolah. Oleh karena itu, nilai-nilai yang ditunjukkan dari yang paling sederhana, misalnya cara
mengatur parkir kendaraan guru, siswa, dan tamu, memasang hiasan di dinding-dinding
ruangan, sampai persoalan-persoalan menentukan seperti kebersihan kamar kecil, cara guru
dalam pembelajaran di ruang-ruang kelas, cara kepala sekolah memimpin pertemuan bersama
staf, merupakan bagian integral dari sebuah kultur sekolah (Depdiknas RI, 2004: 11). Dengan
demikian kultur merupakan kebiasaan atau tradisi yang sarat dengan nilai-nilai tertentu yang
tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek kehidupan.
Pembentukan kultur akhlak mulia berarti upaya untuk menumbuh-kembangkan tradisi atau
kebiasaan di suatu tempat yang diisi oleh nilai-nilai akhlak mulia.
       Pasal 3 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menegaskan, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan
demikian, Pendidikan Agama merupakan bagian dari Pendidikan Nasional dan tujuan serta
fungsi Pendidikan Agama adalah membantu terbinanya tujuan dan fungsi Pendidikan Nasional.
Pada PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pasal 2
ayat (1) juga ditegaskan bahwa Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu
menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama.
       Melihat demikian pentingnya Pendidikan Agama di sekolah dan perguruan tinggi
sebagaimana dirumuskan dalam Undang-undang di atas, maka Pendidikan Agama, khususnya
Pendidikan Agama Islam, memainkan peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam ikut
serta mewujudkan tujuan pendidikan nasional, terutama untuk mempersiapkan peserta didik
dalam memahami ajaran-ajaran agama serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
       Untuk mewujudkan tujuan di atas, bukanlah hal yang mudah. Banyak persyaratan yang
harus dipenuhi untuk membantu mewujudkan tujuan Pendidikan Agama di sekolah, di
antaranya adalah yang terkait dengan status mata pelajaran Pendidikan Agama itu sendiri di
sekolah, materi dan kurikulumnya, guru atau dosennya, peserta didiknya, metodologinya,
sarana-prasarananya, dan lain sebagainya.
       Perkuliahan Pendidikan Agama Islam (PAI) idealnya ditempuh dengan empat cara yang
kesemuanya menjadi satu kesatuan, yaitu perkuliahan pokok PAI di kelas, kuliah umum PAI,
tutorial PAI, dan pesantren PAI. Perkuliahan pokok merupakan kegiatan pokok yang dilakukan
oleh para dosen PAI yang berhadapan langsung dengan para mahasiswa di kelas. Kuliah umum
PAI atau sering disebut Studium Generale PAI juga merupakan bagian penting dari perkuliahan
PAI. Kuliah umum ini dikemas dalam bentuk seminar umum secara panel. Adapun tutorial PAI
adalah rangkaian aktivitas perkuliahan PAI yang dikelola oleh para tutor PAI (mahasiswa
senior) yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah PAI.
Program tutorial PAI dilaksanakan selama satu semester, baik semester gasal maupun genap,
bersama-sama dengan pelaksanaan kuliah pokok PAI. Program tutorial PAI dimaksudkan untuk
membantu para mahasiswa dalam penguasaan materi PAI, terutama terkait dengan konsep-

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           4
konsep dasar PAI dan ibadah praktis. Rangkaian akhir dari perkuliahan PAI adalah pesantren,
yakni berupa kegiatan perkuliahan PAI yang dikemas seperti halnya pengajaran di pesantren.
       Empat aktivitas itulah yang menjadi satu kesatuan dalam perkuliahan PAI. Dengan
empat macam kegiatan itu diharapkan perkuliahan PAI tidak hanya sekedar memberi
mahasiswa pemahaman tentang PAI (pencapaian kompetensi kognitif), akan tetapi yang lebih
penting lagi adalah mahasiswa bisa memiliki kompetensi sikap dan perilaku yang dibentuk oleh
pemahaman ajaran agamanya, yakni memiliki budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia
(pencapaian kompetensi afektif dan psikomotorik).
       Tujuan akhir dari pembelajaran PAI yang hakiki sebenarnya bukan hanya para
mahasiswa dapat menyelesaikan kuliah PAI dengan baik dan memperoleh nilai maksimal
(misalnya A), tetapi yang sangat diharapkan bahwa pembelajaran PAI mampu mengantarkan
mahasiswa memiliki pengetahuan yang cukup tentang PAI dan dapat mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Pengamalan ini bisa dalam hal pengamalan ketentuan hukum dalam
Islam (syariah) dan juga pengamalan dalam hal sikap dan perilaku atau akhlak.
       Untuk mengkaji pembentukan kultur akhlak mulia melalui mata kuliah PAI, bisa
dicermati permasalahan penting di bawah ini:
1. Peran Mata Kuliah PAI
      Sebenarnya semua materi dalam PAI bermuatan akhlak, karena memang tujuan
pembelajaran PAI bermuara pada terbentuknya akhlak mulia mahasiswa. Peneliti sendiri –
sebagai dosen PAI – selalu menyelipkan pesan-pesan moral di setiap perkuliahan PAI dalam
semua materi yang dikaji. Peneliti juga meminta semua mahasiswa untuk mencari satu artikel
tentang Islam dari sumber mana pun lalu mahasiswa diminta untuk melakukan analisis
sehingga terlihat pesan moral dari setiap artikel yang diambil dan sejauhmana mahasiswa
sudah menerapkannya. Tugas ini sebenarnya untuk memotivasi mahasiswa agar tumbuh
kesadaran dalam dirinya terkait dengan pesan-pesan moral yang ditangkap dari artikel yang
dianalisis.
2. Strategi Pembelajaran PAI dan Pembentukan Kultur Akhlak Mulia
       Pembelajaran mata kuliah PAI menggunakan strategi atau metode yang bervariasi,
tergantung dosennya masing-masing. Namun demikian, ada beberapa kesepakatan yang
dilakukan di antara dosen PAI untuk pembelajaran PAI di kelas, di antaranya terkait dengan
strategi atau metode.
       Metode yang digunakan di antaranya adalah ceramah dan diskusi (tanya jawab), diskusi
kelompok dan diskusi kelas, penugasan, dan penelaahan. Metode ini berbeda-beda frekuensi
penggunaannya oleh masing-masing dosen PAI.
       Strategi atau cara yang dilakukan oleh dosen PAI dalam rangka pembentukan kultur
akhlak mulia di kalangan mahasiswa juga berbeda-beda, dan hal ini dapat diidentifikasi sebagai
berikut:
    a. memulai dan mengakhiri dengan salam dan doa;
    b. memerhatikan keaktifan mahasiswa dalam mengikuti kuliah, sehingga presensi
       mahasiswa menjadi bukti otentik untuk melihat hal ini;
    c. memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh para mahasiswa, terutama mahasiswa
       puteri (mahasiswi) dan jika mahasiswa belum mengenakan pakaian yang menutup aurat
       selalu diarahkan untuk memulai mengenakannya;


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         5
   d. mengamati sikap dan perilaku mahasiswa di kelas ketika mengikuti kuliah atau
      berdiskusi termasuk dalam hal posisi duduk;
   e. menanamkan pentingnya berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari;
   f. mengajak mahasiswa memberikan penilaian antar teman (peer evaluation) terkait
      dengan sikap dan perilakunya di kampus atau di luar kampus;
   g. mengajak mahasiswa untuk selalu sportif (jujur dan disiplin), sabar, dan memiliki daya
      juang (dinamis);
   h. di setiap kuliah mahasiswa diajak melakukan refleksi; dan
   i. untuk memotivasi mahasiswa dibutuhkan juga keteladanan dari dosen PAI sendiri.
      Itulah beberapa metode dan strategi yang digunakan oleh dosen PAI dalam
pembelajaran PAI di kelas untuk pembentukan kultur akhlak mulia di kalangan mahasiswa. Di
samping itu, para tutor PAI juga melakukan upaya pembentukan akhlak mulia dalam
kesempatan tutorial PAI dengan mahasiswa, meskipun metode dan strateginya berbeda.
Dalam tutorial mahasiswa lebih intensif mengkaji hal-hal praktis dalam pengamalan agama,
mulai dari pemahaman dasar tentang al-Quran dan ibadah-ibadah mahdlah yang praktis,
hingga penyadaran-penyadaran akan pentingnya berakhlak mulia. Melalui berbagai cara itulah
para mahasiswa diarahkan untuk menjadi mahasiswa yang baik (muhsin), yakni yang bersikap
dan berperilaku mulia (ber-akhlak karimah).
3. Penilaian Mata Kuliah PAI
       Dalam penilaian Mata Kuliah PAI, dosen tidak hanya memberikan nilai terpancang pada
satu aspek penilaian saja, misalnya ujian semester (baik mid maupun akhir semester) saja.
Dalam memberikan penilaian, dosen PAI melakukan penilaian yang berkesinambungan.
Penilaian dilakukan mulai awal proses perkuliahan hingga akhir perkuliahan. Penilaian tidak
hanya didasarkan pada satu aspek ranah saja, tetapi semua aspek ranah yang meliputi ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik.
       Penilaian berkesinambungan bisa dilakukan mulai dari kuliah pertama hingga kuliah
terakhir dengan memerhatikan sikap dan perilaku mahasiswa di dalam ruang kuliah baik ketika
memerhatikan penjelasan dosen, ketika bertanya, menyampaikan pendapat dalam diskusi,
maupun keseriusan dan kedisiplinan dalam mengikuti perkuliahan. Sambil memberi kuliah,
dosen dapat melakukan penilaian dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait.
Cara bertutur kata maupun cara berpakaian dan penampilan mahasiswa sewaktu kuliah juga
dapat dijadikan dasar untuk memberikan penilaian. Hal lain yang juga diperhatikan dalam
penilaian PAI adalah presensi mahasiswa yang menunjukkan tingkat keaktifannya dan juga
keaktifan dalam mengikuti tutorial yang hasilnya dilaporkan oleh para tutor PAI. Semua aspek
inilah yang menjadi perhatian dosen PAI dalam memberikan penilaian tentang akhlak
mahasiswa. Hasil penilaian akhlak seperti ini menjadi bagian penting yang bersama-sama
dengan aspek penilaian lainnya, yakni hasil pembuatan makalah, presentasi, dan ujian
semester, menjadi satu kesatuan nilai dalam penilaian PAI secara utuh (komprehensif).
       Dengan demikian aspek moral menjadi bagian dari aspek penilaian yang sangat penting
dalam pembelajaran PAI. Aspek-aspek moral seperti itu seharusnya juga menjadi bagian yang
tidak boleh diabaikan para dosen mata kuliah lain dalam memberikan penilaian. Namun, tidak
semua dosen menyadari dan memerhatikan hal tersebut, sehingga pada umumnya para dosen
dalam memberikan penilaian lebih terpancang pada aspek atau ranah kognitifnya saja.
4. Problematika Pembelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       6
       Adapun faktor penghambat dan masih menjadi problem dalam pembentukan kultur
akhlak mulia, terutama melalui pembelajaran PAI adalah:
   a. Kemampuan dasar para mahasiswa yang mengikuti kuliah PAI sangat beragam.
Heteroginitas kemampuan dasar para mahasiswa seperti ini cukup memberikan kendala dalam
proses pembelajaran PAI sekaligus dalam pembentukan akhlak mulia. Poblem seperti ini harus
diantisipasi dengan memberikan motivasi yang lebih terhadap mahasiswa yang masih kurang
pemahamannya tentang Islam, misalnya memberikan tugas pengayaan kepada mahasiswa
atau memaksimalkan fungsi tutorial PAI untuk membantunya agar tidak terlalu jauh perbedaan
pemahamannya dengan yang lain.
   b. Kurangnya perhatian para mahasiswa terhadap masalah akhlak. Mahasiswa lebih
termotivasi untuk memenuhi kriteria dalam rangka pencapaian nilai baik daripada untuk
pembentukan akhlaknya. Karena itu, tidak sedikit di antara mahasiswa yang kuliah PAI
mengenakan busana muslimah (bagi mahasiswi) tetapi setelah itu mengenakan busana lain
(melepas jilbab) ketika tidak lagi kuliah PAI. Bahkan di antara mahasiswa, belum melakukan
pengamalan agama yang cukup, misalnya masih ada yang belum aktif melakukan shalat wajib
lima waktu atau kewajiban Islam yang lain. Kebiasaan di lingkungan keluarga dan masyarakat
ikut berpengaruh besar dalam membentuk kebiasaan atau akhlak mahasiswa. Karena itulah
dosen PAI memiliki tugas yang cukup berat dalam mengawal pembentukan akhlak mulia di
kalangan mahasiswa. Di setiap kuliah, dosen PAI harus selalu menyentuh dan memotivasi
mahasiswa dengan masalah akhlak.
   c. Materi pembelajaran PAI lebih banyak menekankan aspek kognitif. Jika diperhatikan
materi ajar PAI di perguruan tinggi, khususnya, terlihat jelas sebagian besarnya adalah materi-
materi untuk penguasaan aspek kognitif. Sangat sedikit materi PAI yang bermuatan aspek
selain kognitif. Ini bukan berarti materi PAI itu tidak benar dan harus diganti semua. Lalu
bagaimana seharusnya? Menyadari akan hal tersebut, dosen PAI harus benar-benar bisa
mengemas perkuliahan PAI menjadi lebih bermakna dari sekedar memahami materi.
Perkuliahan harus selalu diarahkan pada pembentukan akhlak mulia melalui materi yang dikaji.
Hal yang terpenting bukan materinya apa, tetapi bagaimana materi itu bisa dijadikan dasar
untuk memberikan penyadaran terhadap mahasiswa sehingga mampu membentuk akhlaknya.
   d. Kontrol terhadap mahasiswa di luar perkuliahan cukup sulit. Ini problem tersendiri
dalam rangka pembentukan kultur akhlak mulia bagi mahasiswa. Kondisi yang cukup
mempengaruhi pola sikap dan perilaku mahasiswa adalah lingkungan keluarga dan
masyarakatnya. Kampus hanya memiliki waktu yang sangat sedikit tentang hal tersebut.
Karena itu, kontrol dari keluarga dan masyarkat sangat dibutuhkan dalam rangka membangun
sinergi untuk pembentukan kultur akhlak mulia bagi mahasiswa. PAI dalam hal ini memberikan
kontribusi yang cukup besar kepada mahasiswa untuk membantu melakukan proses
penyadaran tersebut. Dosen PAI dituntut untuk bisa memfasilitasi penyadaran mahasiswa
melalaui perkuliahan yang kondusif melalui cara-cara atau strategi seperti yang sudah dikaji di
atas. Mahasiswa diajak untuk menambah pemahaman tentang Islam dan terus dimotivasi
untuk membiasakan diri dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam sehingga mahasiswa berakhlak
mulia.
       Di akhir tulisan ini perlu dipertimbangkan pendapat seorang tokoh pendidikan nilai
dalam memprogramkan pembentukan akhlak mulia di kalangan para peserta didik. Dalam
salah satu bukunya, 100 Ways to Enhance Values and Morality in Schools and Youth Settings

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          7
(1995), Howard Kirschenbaum menguraikan 100 cara untuk bisa meningkatkan nilai dan
moralitas di sekolah yang bisa dikelompokkan ke dalam lima metode, yaitu: 1) inculcating
values and morality (penanaman nilai-nilai dan moralitas); 2) modeling values and morality
(pemodelan nilai-nilai dan moralitas); 3) facilitating values and morality (memfasilitasi nilai-
nilai dan moralitas); 4) skills for value development and moral literacy (ketrampilan untuk
pengembangan nilai dan literasi moral; dan 5) developing a values education program
(mengembangkan program pendidikan nilai). Dari pendapat Kirschenbaum ini maka para
dosen PAI termasuk para dosen yang lain bersama-sama dengan lembaga perlu meningkatkan
kualitas perkuliahan. Upaya yang perlu dilakukan misalnya: 1) memperjelas pembentukan
kultur akhlak mulia dengan program-program nyata; 2) membangun sarana dan prasarana
yang dapat memfasilitasi para mahasiswa untuk berakhlak mulia, misalnya dengan menata
ulang waktu perkuliahan agar tidak mengganggu melaksanakan ibadah dan membuat
peraturan universitas yang lebih tegas; dan 3) Para dosen, karyawan, dan semua pimpinan
perguruan tinggi harus menjadi model atau teladan dalam pembentukan akhlak mulia ini di
kampus.
        Sementara itu, Darmiyati Zuchdi menekankan pada empat hal dalam rangka penanaman
nilai yang bermuara pada terbentuknya akhlak mulia, yaitu inkulkasi nilai, keteladanan nilai,
fasilitasi, dan pengembangan keterampilan akademik dan sosial (Zuchdi, 2008: 46-50).
Darmiyati menambahkan, untuk ketercapaian program pendidikan nilai atau pembentukan
kultur akhlak mulia perlu diikuti oleh adanya evaluasi nilai. Evaluasi harus dilakukan secara
akurat dengan pengamatan yang relatif lama dan secara terus-menerut (Zuchdi, 2008: 55).
Dengan memadukan berbagai metode dan strategi seperti tersebut dalam pembelajaran PAI,
berbagai kelemahan yang ada akan bisa diantisipasi sehingga ke depan kualitas pembelajaran
PAI dan juga pembelajaran mata kuliah lainnya bisa meningkat dan kultur akhak mulia akan
terwujud di kalangan para mahasiswa.



                                                                         Bandung Januari 2012

                                                                           Mahmud Thohier
                                                                    Pengampu Mata kuliah PAI




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           8
                                             SILABUS
                                   Matakuliah : Agama
                                       Bobot : 3 sks
                                Program Studi : Teknik Mesin
                                     Fakultas : Teknologi Industri

        Diskripsi Singkat         Matakuliah Agama memberikan pengetahuan tentang:
                                  a)Tuhan YME dan Ketuhanan yang meliputi keimanan
                                  dan ketaqwaan dan filsafat Ketuhanan b) Manusia yang
                                  meliputi. hakekat , martabat, dan tanggung jawab
                                  manusia. c) Moral yang meliputi implementasi iman dan
                                  taqwa dalam kehidupan bersama sehari-hari d) Iptek
                                  yang meliputi Iman, ilmu, dan amal, kewajiban menuntut
                                  dan mengamalkan ilmu, tanggung jawab terhadap alam
                                  dan lingkungan e) Kerukunan antar umat beragama yang
                                  meliputi Agama merupakan rahmat bagi setiap orang dan
                                  hakekat kebersamaan dalam pluralitas beragama f)
                                  Masyarakat yang meliputi Peran umat beragama dalam
                                  mewujudkan masyarakat madani dan tanggung jawab
                                  umat beragama dalam mewujudkan HAM g) Budaya yang
                                  meliputi tanggung jawab umat beragama dalam
                                  mewujudkan cara berpikir kritis, bekerja keras dan
                                  bersikap fair h) Politik yang meliputi kontribusi agama
                                  dalam kehidupan berpolitik i) Hukum yang meliputi
                                  kesadaran untuk taat hukum Tuhan dan penegakan
                                  hukum yang adil.

        Tujuan Instruksional      Setelah mengikuti matakuliah ini diharapkan mahasiswa
        Umum:                     dapat memahami dasar filosofis ajaran agama Islam,
                                  seperti ajaran-ajaran : pokok-pokok agama, pokok-pokok
                                  akidah, ibadah, norma-norma akhlak dalam Islam,
                                  konsep Al Dienul, Al Kholik, Al Wahyu, Al rasul, serta
                                  macam-macam unsur yang memantapkan manusia
                                  dalam beragama, akhlak dan Islam, serta kedudukan
                                  akhlak dan hidup manusia serta kepribadian manusia.
        Tujuan Pembelajaran       Tujuan Pembelajaran (Learning Obyektives)
        (Learning Obyektives)     Mahasiswa memahami, meyakini, mengamalkan ajaran
                                  Islam dan mengaktualisasikan dalam kehidupan.
        Kompetensi                Mahasiswa memiliki iman, taqwa, akhlak yang mulia,
        (Competency)              penalaran yang baik, berpikir kritis, berwawasan luas,
                                  menjadikan nilai-nilai Islam untuk mengenali berbagai
                                  masalah aktual dan mampu memecahkan, dan mampu
                                  berkomunikasi dengan baik, bersikap mandiri dan toleran
                                  dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis antar
                                  umat manusia.

         No     Pokok Bahasan                        Sub Pokok Bahasan
         1    Konsep              1.1 Filsafat ketuhanan
              Ketuhanan Dalam     1.2 Keimanan dan ketaqwaan
              Islam               1.3 Implementasi iman dan taqwa dalam kehidupan.

          2   Hakekat Manusia     2.1 Konsepsi manusia menurut Islam
              Menurut Islam       2.2 Eksistensi dan martabat manusia
                                  2.3 Tanggung jawab manusia sebagai hamba dan

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         9
                                     khalifah Allah swt.
          3   Hukum, Ham,        3.1 Konsep hukum
              Demokrasi Dalam    3.2 Hak azasi manusia dan demokrasi
              Islam              3.3 Sumber hukum Islam
                                 3.4 Fungsi hukum Islam
                                 3.5 Konstribusi umat Islam dalam perumusan dan
                                     penegakan hukum
          4   Etika, Moral Dan   4.1 Konsep etika, moral dan akhlak
              Akhlak             4.2 Karakteristik etika Islam atau akhlak
                                 4.3 Aktualisasi akhlak dalam kehidupan bermasyarakat
          5   Iptek Dan Seni     5.1 Konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
              Dalam Islam        5.2 Integrasi iman, ilmu dan amal
                                 5.3 Keutamaan orang yang beriman dan berilmu
                                 5.4 Tanggung jawab ilmuwan terhadap alam dan
                                     lingkungannya
          6   Kerukunan Antar    6.1 Islam rahmatan lil alamin
              Umat Beragama      6.2 Ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah
                                 6.3 Kebersamaan umat beragama dalam kehidupan
                                       sosial.
          7   Masyarakat         7.1 Konsep masyarakat madani
              Madani Dan         7.2 Peranan umat Islam dalam mewujudkan masyarakat
              Kesejahteraan          madani,
              Umat               7.3 Sistem ekonomi Islam,
                                 7.4 Kesejahteraan umat, dan managemen zakat dan
                                     wakaf.
          8   Sejarah            8.1 Konsep Sejarah
              Kebudayaan &       8.2 Konsep Kebudayaan
              Peradaban Islam    8.3 Konsep Peradaban
                                 8.4 Pengertian Sej. Kebud & Peradab Islam
          9   S.d.a.             9.1 Sejarah intelektual Islam (Muslim)
                                 9.2 Masjid sebagai pusat kebud & Peradaban
                                 9.3 Nilai-nilai Islam dalam budaya Indonesia
         10   Sistem Politik     10.1 Pengertian politik dalam Islam
              Islam              10.2 Prinsip dasar politik Islam
                                 10.3 Nasionalisme dalam Islam
                                 10.4 Konstribusi umat Islam dalam perpolitikan nasional.
         11   Munakahat          11.1 Pengertian munakahat
              Dalam Islam        11.2 Syarat dan rukun nikah
                                 11.3 Kewajiban suami isteri
                                 11.4 Hikmah munakahat.
         12   Masyarakat         1. Konsep masyarakat menurut Sosiologi
              Madani             2. Konsep masyarakat madani
         13   HAM dan            1. Hak Asasi Manusia menurut Barat
              Demokrasi          2. Hak Asasi Manusia menurut Islam
                                 3. Perbedaan Konsep demokrasi antara Barat dan Islam
         14   Ekonomi dan        1. Sistem Ekonomi konvensional/barat
              Politik            2. Sistem Ekonomi Islam
                                 3. Sistem politik Barat dan islam
         15   Agama dan          Peran agama dalam mewujudkan persatuan dan
              Persatuan bangsa   kesatuan bangsa

Daftar Pustaka
1. Departemen Agama RI, Terjemah Al Qur-an
2. Departemen Agama RI , Panduan Pendidikan Agama Islam di PTU
3. E. Saefudin Anshari, Kuliah al Islam
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         10
4. Hamzah Ya’ kub, Etika Islam
5. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya
5. Muslim Nurdin, Moral dan kognisi Islam
6. M. Imarah, Islam dan Pluralitas
7. M.Rosyidi, Filsafat Islam
8. Nurcholis Majid, Cita-cita Politik Islam
9. Yusuf Qardawi, Karakteristik Islam
10. Polak, J.B.A/F., Sosiologi Suatu Pengantar
11. Soerjono Sekanto, Sosiologi Suatu Pengantar
12. Suwarsono & Alvin T. SO., Perubahan Sosial dan Pembangunan




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                              11
                                            BAGIAN I
                                      FILSAFAT KETUHANAN
A. Pengantar
       Kepercayaan adanya Tuhan adalah dasar utama dalam paham keagamaan. Ketika
seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, maka timbullah tanda tanya dalam hatinya
tentang berbagai hal. Dalam hatinya yang dalam memancar kecenderungan untuk tahu
berbagai rahasia yang merupakan bentuk misteri yang terselubung. Dalam membicarakan
persoalan kepercayaan kepada Tuhan ada perbedaan antara Tuhan dengan ide tentang Tuhan.
Ada tiga hal utama, yaitu ; pertama, manusia bisa mempergunakan simbol dalam segala
bidang, dan simbol akan berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan kecerdasan
dan pengetahuan manusia. Manusia sudah menyembah Tuhan sebelum munculnya doktrin
dan problem-problem filsafat mengenai Tuhan. Kedua, manusia menemukan kelompok-
kelompok lain yang mempunyai ide tentang Tuhan yang berlainan dengan keyakinan yang ia
miliki, timbullah pertanyaan, yang manakah ide yang benar tentang Tuhan. Dengan
perkembangan pengetahuan, konsep-konsep lama tidak cukup dan memadai lagi untuk
mempertahankan ide yang sama atau mengubahnya atau bahkan meninggalkannya. Ketiga,
tidak ada pandangan individual tentang Tuhan yang dianggap final dan memadai. Pengetahuan
berkembang dan tidak sempurna. Manusia merasa sukar untuk menjelaskan keyakinannya
yang mendalam dengan cara yang memuaskan.
       Fitrah manusia yang kemudian selalu bergejolak memikirkan, mencari dan merindukan
Tuhan, mulai dari bentuk yang dangkal dan bersahaja berupa perasaan, serta ke tingkat yang
lebih tinggi yaitu dengan penggunaan akal. Fitrah ini merupakan disposisi (kemampuan dasar
yang mengandung kemungkinan untuk berkembang). Mengenai arah perkembangannya
sangat tergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sebagaimana telah
dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW. : "setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya, maka
pengaruh pendidikan orang tuanyalah (orang dewasa), anak itu menjadi yahudi, nasrani, atau
majusi". Hadist ini mengisyaratkan, bahwa faktor lingkungan, dalam hal ini orang tua sebagai
orang terdekat dimana ia berada dalam suatu lingkungan, sangat berperan sekali dalam
mempengaruhi fitrah keagamaan anak. Dari teori fitrah itu sendiri yang dirumuskan dalam al-
Qur'an (al-Rum : 30) menyatakan bahwa manusia terlahir dengan ide bawaan yang disebut
fitrah dengan tiga daya utama, yaitu akal (quwwat al-'aql), berfungsi untuk mengenal,
mengesakan, dan mencintai Tuhan; syahwat (quwwat al-syahwat) berfungsi untuk
menginduksi segala yang menyenangkan; dan ghadab (quwwatu al-ghadlab), berfungsi untuk
mempertahankan diri.
B. Apa atau Siapa Tuhan
      Manusia adalah homo relegiuosis yang artinya adalah bahwa manusia itu pasti
beragama, baik agama yang besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, maupun agama bagi
masyarakat sederhana seperti masyarakat pedalaman, bagi mereka ada sesuatu yang
disakralkan. manusia tidak akan lepas dari agama. Manusia sebagai makhluk yang satu-satunya
dianugrahi akal oleh Tuhan juga mempunyai satu kelebihan yang sama sekali tidak dipunyai
oleh makhluk yang lain, yaitu terbesitnya hati seseorang akan adanya sesuatu yang maha
Agung. Seorang sarjana History of Religions, Joachim Wach (1898-1955), penulis The
Comparative Study of Religions, menegaskan bahwa manusia itu dilahirkan dengan
pembawaan beragama. Ia mengutip sarjana yang menyatakan bahwa dalam setiap diri
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      12
manusia terdapat "a permanent possibility of religion" atau bahwa perasaan keagaman yang
merupakan "a consant and universal feature" dalam kehidupan mentalitas manusia. Selain itu
manusia juga dikenal dengan sebutan homo devinan artinya manusia itu pasti bertuhan.
Spictitus (60-140 M) berpendapat bahwa Tekad mempercayai Tuhan itu kekal dan terus
menerus seperti bernafas. Tapi sebaliknya pendapat dari S. Bereen; Tidak ada yang berani
(nekad) mengingkari Tuhan selain daripada manusia. Lalu apakah Tuhan tersebut? Aristoteles
mengatakan Tuhan adalah neosis atau noeseoos, yaitu akal yang tertinggi. Dalam filsafat
Neoplatonisme, Tuhan berarti keesaan mutlak. Decrates memaknakan Tuhan sebagai puncak
dari rasionalisme. Hegel mengartikan Tuhan dengan roh mutlak yang insaf akan diri sendiri.
        Edgar S. Brightman, mencoba mendevinisikan Tuhan dengan sesuatu yang tertinggi yang
mengalami alam semesta, yang menguasai proses alam semesta, untuk mencapai tujuan yang
mengandung nilai paling tinggi. Dijelaskan, Tuhan sebagai Yang-Mengalami, yakni suatu
kumpulan kesadaran yang dirasakan sebagai suatu keseluruhan. Yang-Mempunyai "identitas
diri" dan meliputi "isi, bentuk dan kegiatan". Brightman berusaha menunjukkan hipotesanya
tentang adanya Tuhan, karena adanya kebenaran serta akal dan sistem (yang tidak dapat
dijelaskan atas dasar naturalisme). Dalam arti tertentu kebenaran adalah Tuhan, karena
masing-masing merupakan sistem atau kesatuan.
        Tuhan adalah sesuatu yang diagungkan, yang dilebihkan dari yang lain, tempat manusia
mengadu dalam segala persoalan hidupnya. Dari batasan ini seolah-olah tidak ada satu pun
manusia yang tidak ber-tuhan, hanya masalahnya siapakah yang dijadikan Tuhan oleh
manusia. Umat Islam mutlak yang superada dan yang dipertuhan itu adalah Allah Subhahahu
Wa Ta'ala, yang dijelaskan dalam al-Qur'an surat at-Taghabun : 14 ; bahwa panggilan untuk
yang superada itu adalah Allah; sebab Allah sendiri memperkenalkan dirinya dengan sebutan
Allah. Harun Nasution dalam filsafat al-Kindi, bahwa Tuhan itu unik, tidak mengandung arti
juz'i (particular) dan pula tidak mengandung arti kulli (universal). Ia semata-mata satu hanya
Ia-lah yang satu, selain-Nya mengandung arti banyak.
        Secara filsafat, prestasi dalam pencarian Tuhan biasanya berujung pada penemuan
eksistensi Tuhan saja, dan tidak sampai pada substansi tentang Tuhan. Dalam istilah filsafat
eksistensi Tuhan itu dikenal sebagai absolut, distinct dan unik. Absolut itu artinya
keberadaanya mutlak bukannya relatif. Hal ini dapat dipahami, bahwa pernyataan semua
kebenaran itu relatif itu tidak benar. Kalau semua itu relatif, bagaimana kita bisa mengetahui
bahwa sesuatu itu relatif. Padahal yang relatif itu menjadi satu-satunya eksistensi realitas.
Ibarat warna yang ada di seluruh jagat ini hanya putih, bagaimana kita bisa tahu putih padahal
tidak ada pembanding selain putih. Dengan demikian tidak bisa disangkal adanya kebenaran
itu relatif, dan secara konsisten tidak bisa disangkal pula adanya kebenaran mutlak itu. Dengan
kemutlakannya, ia tidak akan ada yang menyamai atau diperbandingkan dengan yang lain
(distinct). Kalau tuhan dapat diperbandingkan tentu tidak mutlak lagi atau menjadi relatif.
Karena tidak dapat diperbandingkan maka tuhan bersifat unik, dan hanya ada dia satu-
satunya. Kalau ada yang lain, berarti dia tidak lagi distinct dan tidak lagi mutlak.
        Dalam gagasan Nietzsche istilah Tuhan juga merujuk pada segala sesuatu yang dianggap
mutlak kebenarannya. Sedang Nietzsche berpendapat tiada "Kebenaran Mutlak"; yang ada
hanyalah "Kesalahan yang tak-terbantahkan". Karenanya, dia berkata, "Tuhan telah mati".
"Kesalahan yang tak-terbantahkan" dengan "Kebenaran yang-tak terbantahkan" tidaklah
memiliki perbedaan yang signifikan. Sekiranya pemikiran Nietszhe ini dimanfaatkan untuk

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         13
melanjutkan proses pencairan Tuhan, maka Tuhan itu suatu eksistensi yang tak terbantahkan.
Dengan demikian eksistensi absolut, mutlak dan tak terbantahkan itu sama saja. Jadi,
persoalan umat manusia dalam proses pencairan Tuhan tiada lain proses penentuan peletakan
dirinya kepada (segala) sesuatu yang diterimanya sebagai 'tak terbantahkan', atau mutlak, atau
absolut. Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim mendefiniskan Tuhan sebagai segala sesuatu
yang dianggap penting dan dipentingkan sehingga dirinya rela didominirnya.
        Kemudian, menjauhkan Tuhan dari arti banyak, Al Farabi sebagai Plotinus, berpendapat
bahwa alam ini memancar dari Tuhan dengan melalui akal-akal yang jumlahnya sepuluh.
Antara alam materi dan Tuhan terdapat pengantara. Tuhan berfikir tentang diri-Nya dan dari
pemikiran ini memancarlah Akal Pertama. Akal Pertama berfikir tentang Tuhan dan dari
pemikiran ini timbullah Akal Pertama. Akal ini berfikir tentang Tuhan dan timbullah Akal Ketiga
dan demikian seterusnya sehingga terwujud Akal Kesepuluh.
        Akal Pertama selanjutnya berfikir tentang dirinya dan dari pemikiran kedua ini timbullah
langit pertama. Akal-akal lainnya juga berfikir tentang dirinya masing-masing dan dari
pemikiran-pemikiran itu timbullah bintang-bintang, Saturnus, Jupiter, Mars, Matahari, Venus,
Mercury, Bulan dan Bumi serta semua yang ada dalamnya. Dengan demikian Tuhan Yang Maha
Esa tidak mempunyai hubungan langsung, malahan jauh dari alam materi yang mengandung
arti banyak ini. Demikian penjelasan Al Farabi bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang
Maha Esa.
        Begitupun menurut Al-Razi seorang rasionalis yang hanya percaya pada akal dan tidak
percaya pada wahyu. Menurut keyakinannya akal manusia cukup kuat untuk mengetahui
adanya Tuhan, apa yang baik dan apa yang buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia
ini.
        Tuhan sebagaimana juga yang diperkenalkan dalam ajaran-ajaran lain sesuai dengan
petunjuk dari tuhan itu sendiri ataupun berdasarkan persepsi atau gambaran tentang kondisi
sifat-sifat sesuatu yang dipertuhankan yang dapat dihayati oleh pemimpin-pemimpin
agamanya. Seperti sebutan Sang Hyang Adhi Budha yang diperkenalkan oleh Sidharta
Gautama, Sang Hyang Widi diperkenalkan oleh agama Hindu, Trinitas bagi pengikut agama
Kristen, atau orang-orang Yunani Kuno menganggap Tuhan itu adalah Aktus Purus. Perbedaan
Tuhan dengan dewa hanya sekedar perbedaan terjemah bahasa, meski masing-masing punya
latar belakang perkembangan makna terkait dengan apresiasi masing-masing atas konsepsi
Ketuhanannya. Namun secara universal keduanya menunjuk pada eksistensi yang sama, yaitu
soal 'Yang Tak Terbantahkan'.
        Karena dalam agama teistik manapun, konsep Tuhan merupakan inti dari keimanan,
ajaran, dan praktik. Konsep Tuhan menetapkan apa yang diakui oleh penganutnya sebagai
halal atau sebaliknya. Ia membentuk sikap para penganutnya terhadap orang lain sebagai
"golongan tak beriman" (unbelievers). Ia mengilhami daya persepsi yang merumuskan
bagaimana mereka mengkonsepsikan peranan mereka dalam mengatur kehidupan. Sebagai
pembuktian bahwa adanya Tuhan menurut jalan fikiran atau filsafat ketuhanan dan
kemahaesaan-Nya tentang kemestian adanya Tuhan menurut Juhaya S. Praja diperkenalkan
sebagai dalil klasik dengan argumen-argumen sebagai berikut;
      1. Argumen Ontologis
      Ontologi adalah teori tentang hakikat wujud, tentang hakikat yang ada. Argumen
ontologis tentang hakikat wujud ini semata-mata berdasarkan atas argumen-argumen logika

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          14
yang logis dan rasional. Argumen ini diperkenalkan pertama kali oleh Plato (428-348 SM),
bahwa tiap-tiap yang ada di alam nyata mesti ada ideanya. Yang dimaksud dengan idea adalah
definisi atau konsep universal dari setiap sesuatu. Yang ingin membuktikan dari ideanya, Plato
ini, bahwa alam bersumber pada suatu kekuatan gaib yang bernama the Absolute, atau yang
maha mutlak baik atau Tuhan.
       ST Agustine (354-430 M), bahwa manusia mengetahui dari pengalamannya dalam hidup
bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun akal manusia terkadang merasa ragu-ragu
bahwa yang diketahuinya itu adalah kebenaran. Maksudnya adalah akal manusia mengetahui
bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran mutlak dan kekal, kebenaran ini yang disebut
Tuhan. ST. Anselmus (1033-1109), bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu yang
kebesarannya tak dapat melebihi dan diatasi oleh segala yang ada. Zat yang serupa ini mesti
mempunyai wujud dalam hakekat. Sesuatu yang maha besar, maha sempurna itu mesti
mempunyai wujud, maka Tuhan mempunyai wujud, oleh karena itu Tuhan ada. Rene
Descarrtes memasuki kemestian adanya Tuhan melalui ilmu pasti. Bahwa wujud itu
terkandung dalam zat Maha Sempurna dan Maha Besar, yang tidak boleh tidak mesti ada
dalam zat terbesar dan tersempurna yang dibayangkan itu. Itulah Tuhan.
       Ibn Sina salah seorang filosof muslim juga mengembangkan argumen ontologi. Yang
menurutnya ada tiga macam sesuatu yang ada, yaitu :
      1. Penting dalam dirinya sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadiannya, selain
         dirinya sendiri (Tuhan).
      2. Yang berkehendak kepada yang lain, yaitu makhluk kepada yang menjadikannya.
      3. Makhluk mungkin, yaitu bisa ada dan bisa tidak ada, dan dia sendiri tidak butuh
         kepada kejadiannya.
       Inti dari argumen ini adalah bahwa manusia ini memiliki konsep tentang sesuatu yang
sempurna. Dan bila ia berfikir tentang sesuatu yang sempurna, niscaya terpikirkan olehnya
tentang adanya sesuatu yang lain yang lebih sempurna itu mengantarkan pada adanya "Dzat
Yang Maha Sempurna" yang tiada kesempurnaan lain selain Dia.
       Argumen ini juga mendapat tantangan, bahwa wujud yang ada di dunia yang alam nyata
ini belum tentu sama dengan bayangan aslinya. Sebab alam aslinya itu alam ghaib di atas
jangkauan indera manusia. Immanuel Kant pun ikut mengkritik argumen ontologi ini dengan
alasan wujud kepada konsep tentang sesuatu tidak membawa hal yang baru bagi konsep itu.
Dengan kata lain konsep tentang kursi bayangan dan konsep kursi yang mempunyai wujud
tidak ada perbedaannya. Oleh karenanya argumen ini tidak meyakinkan atheis atau agnostic
untuk percaya pada adanya Tuhan.
      2. Argumen Kosmologis
Argumen kosmologi untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Aristoteles, murid Plato.
Cosmological argument atau dalil tentang penciptaan adalah merupakan pembuktian paling
tua dan sederhana tentang pembuktian adanya Tuhan. Bahwa tiap benda yang dapat
ditangkap panca indera mempunyai materi dan bentuk (matter and form). Bentuk merupakan
hakikat atau konsep universal atau definisi sesuatu, maka ia adalah kekal dan tidak berubah-
ubah. Akan tetapi dalam panca indera terdapat perubahan.
      Al-Kindi berpendapat bahwa alam ini diciptakan dan yang menciptakannya adalah Allah.
Segala yang terjadi dalam alam ini mempunyai hubungan sebab dan musabab/ Sebab


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         15
mempunyai efek pada musabab. Rentetan sebab musabab ini berakhir kepada sebab pertama
yaitu Allah pencipta alam.
       Sedang Al-Farabi berargumen bahwa alam ini bersifat mumkin wujudnya dan oleh
karena itu berhajat pada suatu zat yang bersifat wajib wujudnya untuk merubah kemungkinan
wujudnya kepada yang hakiki, yaitu sebagai sebab bagi terciptanya wujud yang mungkin itu.
Tuhan itu ada dalam arti wajib al-wujud atau necessary being, Tuhan itu mesti ada, berarti
bahwa wujud Tuhan itu tak berhajat pada bukti, sebagaimana bundaran tak berhajat pada
bukti. Ini adalah suatu hal yang jelas dengan sendirinya, tak memerlukan bukti.
       Inti dari argumen ini adalah bahwa segala sesuatu yang ada pasti ada yang menciptakan,
sebab seluruh perwujudan yang ada di alam ini, selamanya bergantung pada adanya
perwujudan yang lain. Tidak mungkin ada di alam ini sesuatu yang wujud tanpa adanya yang
memunculkan. Keteraturan alam ini pasti ada yang mengatur dan pasti ada yang menjadikan
sebabnya. Sebab utama disebut dengan prima causa atau asbabul asbab. Sedangkan rangkaian
peristiwa atau gerakan itu, akan mengantarkan pula kepada adanya penggerak utama atau
prima causa tersebut.
Kalau rangkaian sebab akibat atau gerakan itu terus diperturutkan niscaya terjadi "daur"
(lingkaran gerak yang tak berujung atau berawal) atau tastaltsul (rangkaian gerak yang tidak
berawal atau berakhir). Menurut akal yang sehat bahwa teori daur atau tastaltsul ini tidak
mungkin. Bila tidak bisa diterima akal, maka harus dikatakan bahwa prima causa (penyebab
utama) itu merupakan penggerak yang tidak digerakkan atau penyebab yang tidak diawali oleh
penyebab lain. Prima causa atau penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain itu tiada lain
adalah Allah.
       Walau dalil ini dikritik juga oleh Immanuel Kant, kalau wujud alam ini tidak wajib, apa
sebabnya Dzat yang wajibul wujud ini menciptakan alam. Iqbal mengkritik, mestikah wajibul
wujud itu suatu zat yang disebut Tuhan? Tidakkah bisa kosmos ini bersifat wajibul wujud itu?
Keadaan argumen kosmologis bersifat kurang kuat didasarkan atas hakekat bahwa Aristoteles
tak pernah bertanya : Adakah Tuhan? Logikanya mengenai bentuk dan materi membawa ia
kepada bentuk yang tak mempunyai materi, sebagai akhir rentetan dari gerak dan penggerak
yang timbul dari hubungan bentuk dan materi. Bentuk ini bukanlah Tuhan Pencipta Alam,
tetapi penggerak pertama dari segala gerak.
       3. Argumen Teleologis
Bahwa argumen ini merupakan penerapan dari argumen kosmologis dalam bentuknya yang
lain. Segala perwujudan ini tersusun dalam sistim yang teratur, dan setiap benda yang di alam
semesta ini memiliki tujuan-tujuan (theo;tujuan, teologis;ada tujuannya) tertentu. Ala mini
keseluruhannya berevolusi dan beredar kepada suatu tujuan tertentu. Keteraturan alam tidak
bisa tidak harus ada yang mengatur. Sumber keteraturan itu adalah Allah.
       Dalam teologi, segala sesuatu dipandang sebagai organisme yang tersusun dari bagian-
bagian yang mempunyai hubungan erat dan bekerja sama untuk kepentingan organisme
tersebut. Dunia dalam pandangan teologis tersusun dari bagian-bagian yang erat hubungannya
satu sama lainnya dan bekerjasama untuk tujuan tertentu. Tujuan ini ialah kebaikan dunia
dalam keseluruhannya. Lontaran kritik dalam argumen ini bahwa alam tidak mempunyai
tujuan, alasannya :
       a. Permukaan bumi ada yang tandus, subur, apa perlunya.
       b. Dalam diri manusia ada usus buntu, yang tidak ada perlunya bahkan berbahaya.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        16
      c. Anak-anak banyak yang meninggal pada usia relative muda, apa perlunya.
      d. Bangsa-bangsa yang musnah dari permukaan bumi ini itupun apa perlunya.
      e. Apa perlunya kejahatan dan pengrusakan yang ada di ala mini, padahal jelas ada
         larangan yang datang dari Allah untuk berbuat jahat dan merusak bumi.
       4. Argumen Moral
       Immanuel Kant mempelopori argumen Moral menyatakan bahwa perbuatan baik jadi
baik tidak karena akibat-akibat baik yang akan ditimbulkan dari perbuatan itu dan tidak pula
agama mengajarkan bahwa perbuatan itu baik. Perbuatan baik itu karena manusia tahu dari
perasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa ia diperintahkan untuk berbuat baik. Perasaan
manusia berkewajiban untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan untuk menjauhi
perbuatan buruk, tidak diperoleh dari pengalaman dunia, tetapi dibawa dari lahir. Manusia
lahir dengan perasaan itu. Kalau manusia merasa bahwa dalam dirinya ada perintah mutlak
untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk, dan kalau perintah itu diperoleh
bukan dari pengalaman tetapi telah terdapat dalam diri manusia, maka perintah itu mesti
berasal dari suatu dzat yang tahu baik dan buruk. Dzat inilah yang disebut Tuhan. Walaupun
argument ini mendapat kritik pula, yang berpangkal dari pengakuan yang ada perasaan moral
yang tertanam dalam jiwa manusia yang berasal dari luar diri manusia, tidak dapat diterima,
karena norma-norma moral tersebut bisa tidak objektif.
       5. Argumen Epistemologis
       Ibn Taimiyah menyodorkan argumen epistemologis yang bertujuan untuk membuktikan
adanya Tuhan secara meyakinkan melalui teori-teori pengetahuan atau ilmu. Ilmu itu
mempunyai dua sifat, ta'bi, yang dapat diterjemahkan obyektif; dan matbu' yang dapat
diterjemahkan subyektif. Suatu ilmu yang keberadaan obyeknya tidak bergantung kepada ada
dan tidak adanya pengetahuan si subyek (manusia) tentang obyek tersebut. Sedangkan yang
bersifat subyektif ialah pengetahuan manusia sebagai subyek tentang obyek ilmu itu. Atau
suatu ilmu itu dinyatakan ada kalau si subyek atau manusia mengetahui keberadaannya.
Kemudian dalam Islam, (yang penulis menitik beratkan tentang Tuhan dalam agama Islam),
manusia dengan Tuhannya digambarkan oleh Imaduddin, bahwa semua dari kita yakin bahwa
matahari itu adalah sumber energi, hanya sejauh mana manusia tadi memanfaatkan panas dari
matahari tersebut. Ada yang sangat maksimal dan ada yang hanya untuk keperluan pribadinya
saja. Seperti petani yang hanya untuk keperluan tanah garapannya saja, nelayan yang sebatas
untuk menangkap ikan saja, berbeda dengan teknokrat yang memanfaatkan panas matahari
tersebut untuk segala macam kehidupan manusia. Hal ini tidak jauh dengan pandangan
sebagian manusia yang memandang Tuhan untuk hanya sebagian keperluannya saja, di waktu
susah saja atau di waktu senang saja, berbeda dengan ulama yang memandang tuhan itu
adalah tempat mengadu di waktu senang dan susah.
C. Mengenal Tuhan
      "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah bertuhan". Artinya, ia menjadi seorang
alim yang sangat mengenal Tuhannya yang fana dari dirinya dan dalam penyaksian keindahan
dan keluhuran Yang Mahaawal, sebagaimana dikatakan Aristoteles; "Barangsiapa tidak mampu
mengenal dirinya, maka ia tidak akan mampu mengenal Penciptanya". Mengenal diri, baik
esensi maupun sifatnya merupakan awal menuju pengenalan tentang Tuhan. Mengenal diri
adalah pegangan yang kuat dan sandaran yang kukuh dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      17
Manusia, dengan pengetahuannya tentang hal-hal universal (kulliyyah), tidak mampu
mengenali jenis-jenis dan macam-macamnya, terutama kaitannya dengan hal-hal yang bersifat
relatif, dan tak mampu memperolehnya. Untuk mengenal Tuhannya Islam menurut Haidar
Bagir di dalam pengantarnya tarjemah Allah, the concept of God in Islam karya Yasin T. Al-
Jibouri, Mengenal Tuhan itu maka harus mengenal ciptaan-Nya. Pencipta dikenal dengan
ciptaannya. Karena Tuhan Maha Pencipta, maka untuk mengenal Tuhan, maka harus mengenal
ciptaan-Nya. Ulama besar dan pilosof muslim kontemporer Abdulkarim Al-khatib dalam
bukunya Qadiyat al-Uluihiyah bain al Falsafah wad Din, mengilustrasikan Tuhan sebagai berikut
:
        Yang melihat/mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihat-Nya melalui wujud yang
terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak
langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang
bersih. Mampukah Anda dengan membaca kumpulan syair seorang penyair, atau mendengar
gubahan seorang composer,…dengan melihat lukisan pelukis atau pahatan pemahat, -
mampukah Anda melihat hasil karya seni mereka, mengenal mereka tanpa melihat mereka
langsung? Memang Anda bisa mengenal selayang pandang tentang mereka, bahkan boleh jadi
melalui imajinasi, Anda dapat membayangkannya sesuai kemampuan Anda membaca karya
seni, namun Anda sendiri pada akhirnya akan sadar bahwa gambaran yang dilukiskan oleh
imajinasi Anda menyangkut para seniman itu, adalah bersifat pribadi dan merupakan ekspresi
dari perasaan Anda sendiri. Demikian juga yang dialami orang lain yang berhubungan dengan
para seniman itu, masing-masing memiliki pandangan pribadi yang berbeda dengan yang lain.
Kalau pun ada yang sama, maka persamaan itu dalam bentuk gambaran umum menyangkut
kekaguman dalam berbagai tingkat. Kalau demikian itu adanya dalam memandang seniman
melalui karya-karya mereka, maka bagaimana dengan Tuhan, sedang Anda adalah setetes dari
ciptaan-Nya?
        Ketika Abu Bakar ditanya oleh Rasulullah "Bagaimana Engkau mengenal Tuhanmu?"
Beliau menjawab "Aku mengenal Tuhan melalui Tuhanku. Seandainya Dia tak ada, Aku tak
mengenal-Nya". Selanjutnya ketika beliau ditanya, "Bagaimana Anda mengenal-Nya?" Beliau
menjawab, "Al 'ajizu 'anil Idraaki Idraaku (Ketidakmampuan mengenal-Nya adalah
pengenalan)". Tuhan yang diperkenalkan oleh al-Qur'an tentu saja diperkenalkan-Nya dengan
cara mengenal ciptaan-Nya dimaksudkan agar manusia dapat mengenal dan berinteraksi
dengan-Nya, dapat kagum, takut, cinta serta memenuhi panggilan-Nya. Hanya saja Allah tidak
diperkenalkan sebagai sesuatu yang bersifat materi, karena jika demikian pastilah ia berbentuk
pasti terbatas dan membutuhkan tempat, dan ini menjadikan Dia bukan Tuhan karena Tuhan
tidak membutuhkan sesuatu dan tidak pula terbatas. Tuhan tidak juga diperkenalkan sebagai
sesuatu yang bersifat idea atau immaterial, yang tidak dapat diberi sifat atau digambarkan
dalam kenyataan, atau dalam keadaan yang dapat dijangkau akal manusia.
        Karena itu al-Qur'an menempuh cara pertengahan dalam mengenalkan Tuhan. Dia,
menurut al-Qur'an, antara lain; Maha Mendengar, Maha Melihat, Hidup, Berkehendak,
Menghidupkan dan mematikan, dan Arrahman (Allah) bersemayam diatas Arasy "Tangan Allah
di atas tangan mereka (manusia), bahkan Nabi saw menjelaskan bahwa Dia bergembira, berlari
dan sebagainya yang kesemuanya mengantarkan manusia kepada pengenalan yang dapat
terjangkau oleh akal, atau oleh potensi-potensi manusia. Tatkala Ali bin Abi Thalib pernah
ditanya oleh sahabatnya Zi'lib AlYam'ani, "Amirul Mukminin, Apakah Engkau pernah melihat

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        18
Tuhanmu? Apakah aku menyembah apa yang tidak kulihat?" jawab beliau, "Bagaimana Engkau
melihat-Nya?", "Dia tidak dapat diihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal
dengan hakekat keimanan". Yang dimaksud akal disana adalah bukan- sebagaimana
pemahaman kita tentang makna akal yang merupakan daya nalar, tetapi akal dalam
pengertian "gabungan antara daya kalbu dan daya nalar yang menghasilkan "ikatan" yang
menghalangi manusia melakukan hal-hal negatif". Yang menunjukkan bahwa jangkauan itu
bukan jangkauan nalar secara langsung, tetapi jangkauan nalar dan kalbu berdasar keimanan
tentang sesuatu yang tidak dapat terjangkau. Mengenal Allah merupakan pilar utama dalam
ajaran Islam. Tanpa pengetahuan tersebut, setiap perbuatan dalam Islam tidak punya nilai
hakiki sama sekali: ia tidak punya esensi atau nilai. Mengenal-Nya secara krusial bersyarat : jika
kita tidak mengenal jalan yang benar, kita tidak akan pernah bisa mencapai tujuan kita. Karena
tanpa mengenal Allah dengan tepat, bagaimana kita bisa beribadah dengan tepat pula?
        Dalam sebuah hadits, "Allah menciptakan Adam dalam bentuk (gambar)-Nya". Karena
Allah adalah nama yang meliputi segala, Tuhan pun menciptakan manusia dalam bentuk nama-
nama-Nya. Apa yang menjadikan seorang manusia memiliki karakteristik tersendiri dan
terbuka bagi berbagai kemungkinan. Namun, setiap manusia merupakan pantulan Tuhan yang
"unik", karena dia senantiasa berada dalam penciptaan. Dan, sebagian dari mereka merupakan
locus pengejawantahan yang memiliki keutamaan tersendiri dibanding dengan yang lain.
Sebab, mereka mampu mengejawantahkan realitas-realitas ketuhanan ke dalam aktualisasi
yang lebih nyata. Namun dalam mengejawantahkan tersebut, masing-masing memiliki
tingkatan yang berbeda. Dalam masing-masing sifat, manusia dibedakan dalam hal tingkatan,
sebagian memiliki sifat kesempurnaan dan intensitas yang lebih besar dari yang lain. Al-Qur'an
menyatakan
                                                                                ‫َوفَ ْو َق لُك ِذي ع ٍْْل عَ ِلي‬
                                                                                ‫ِّ ِ م‬
      " dan di atas orang-orang yang berpengetahuan adalah Yang Maha Mengetahui"
Q.S.12:76.
       Hakikat Tuhan itu sendiri menyatakan pada manusia supaya mereka mengejawantahkan
Bentuk Tuhan. Dengan kata lain, manusia perlu mengikuti petunjuk Syari'at, yang menyatakan
padanya suatu ukuran yang sesuai dengan timbangan", yakni mengejawantahkan sifat-sifat ke
dalam suatu keseimbangan yang sempurna dengan didasarkan pada norma-norma yang telah
ditetapkan dalam al-Qur'an dan telah diaktualisasikan oleh manusia yang paling sempurna,
Nabi Muhammad saw. Untuk mengaktualisasikan kepenuhan potensialitasnya, merefleksikan
nama-nama Tuhan dalam suatu keseimbangan yang sempurna dan selaras, manusia harus
mengamalkan Syari'at.
       Bentuk Tuhan yang dengannya manusia diciptakan, menjadikan manusia dibedakan dari
seluruh makhluk lainnya, dan memberkatinya dengan ciri-ciri serta keutamaan-keutamaan
khusus. Bentuk Tuhan, kata Ibn Araby, lebih tepat jika diterjemahkan "bentuk dari nama
Tuhan", karena ia adalah (nama yang menunjuk pada) Esensi, nama yang meliputi segala
nama, yang langsung berhubungan dengan penciptaan manusia. Manusia yang mampu
mencapai kesempurnaan hanyalah dia yang memiliki ilmu Tuhan yang sempurna serta mampu
memadukan pernyataan akan keesaan Tuhan dengan "kesetaraan-"Nya. Para pendukung
Kalam atau teologi dogmatis (Mu'tazilah dan Asy'ariyah) biasanya menggunakan istilah "sifat"
sebagai pengganti "nama", namun keduanya menunjukkan pada makna yang sama. Nama-
nama ini meringkaskan apa yang dapat dipahami tentang Tuhan. Bahkan para filosof

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                        19
Peripatetik yang cenderung "menjauhkan diri" dari ajaran al-Qur'an dalam pembahasan
filosofisnya, seringkali berbicara tentang Tuhan melalui term-term Qur'ani. Nama-nama Tuhan
tidak menunjukkan secara utuh pada nama-nama itu sendiri, tapi nama-nama dari nama-nama
(Asma'ul Husna) yang telah diwahyukan oleh Tuhan kepada hamba-hamba-Nya melalui al-
Qur'an dan berbagai bentuk pe-wahyu-an yang lain.
       Lebih lanjut Quraisy Shihab menjelaskan, bahwa kalau sifat-sifat baik dan terpuji yang
disandang manusia/makhluk, seperti hidup, kuasa, pengetahuan, pendengaran, penglihatan,
dan sebagainya, maka pastilah Yang Maha Kuasa pun memiliki sifat-sifat baik dan terpuji dalam
kapasitas dan substansi yang lebih sempurna, karena jika tidak demikian, apa arti kebutuhan
manusia kepada-Nya? Suatu hal yang pasti pula juga bahwa Dia tidak mungkin menyandang
sifat kekurangan, karena manusia tidak dapat membayangkan Tuhan yang didambakan
memenuhi kebutuhannya itu, lemah atau memiliki kekurangan. Dia pasti sempurna dan tidak
terbatas kecuali ada yang membatasinya, dengan memaksanya berhenti pada batas yang
ditetapkan. Karena itu Tuhan tidak terbatas, bahkan Dialah yang memberi batas bagi segala
sesuatu. Dari al-Qur'an terdapat empat ayat yang menggunakan redaksi Asma'ul Husna yaitu :
♦ Q.S. Al-A'raf ayat 180

                                                                                                                                                    ْ ‫هِ َْْ َ ل‬
                                               ‫َو ِّلِل اْلْسا لء الْحس ََن فَا ْدعلو له ِبِ َا َوذ لروا اَّلين يللْحدون ِِف أَْسائِه س ليج َز ْون َما ََكنلوا ي َ ْع َمللون‬
                                               َ                         َ ْ َ ِ َ ْ َ ‫َ هِ َ ِ ل‬
     "Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
     asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
     dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa
     yang telah mereka kerjakan".
♦ Q.S. Al-Isra ayat 110

                                                                                            ْ ‫ََْْ ل‬
      ‫لقلِ ا ْدعوا اّلِل أ َِو ا ْدعوا الرْحن أَ اًّي َما ت َدْ عوا فَ لََل اْلْسا لء الْحس ََن َو ََل ََْته َْر بِص ََل ِتك َو ََل َلُا ِفْ ِبِ َا َوابََِْ ِ ب َ ْْ ذ ِِ سِِلَل‬
       ‫َ َ َ َ ا‬                           ْ               َ َ                                                        ‫ل‬                   َ َْ ‫ل ه‬              َ‫ل ه‬
     "Katakanlah : serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan namayang nama saja kamu
     seru, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu
     mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah
     jalan tengah di antara kedua itu:.
♦ Q.S. Thaha ayat 110

                                                                                                          ‫ي َ ْعْل َما ب َ ْْ أَيْدهي ْم َو َما خلْ َفهل ْم َو ََل ِلُييطون ِبه علْ اما‬
                                                                                                                ِ ِ َ ‫ل‬                         َ           ِ ِ َ ‫َل‬
   "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al
   asmaul husna (nama-nama yang terbaik)".
♦ Q.S. Al-Hashr ayat 24

                          ‫ه َ ِ َْ ِ َ ِل َ ِ ل‬                                    ‫َ ه ل ل ِ َ ِّ ْ َ ْ َ ل ْ َ ل‬
                          ‫هلو اّلِل الْخَا ِلق الْ َبارئل الْ لمصو لر لََل اْلْسا لء الْحس ََن ي لس ِّبح لََل َما ِِف الس َماوات َواْل ْرض َوهلو الْ َعزيز الْحكي‬
     "Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang
     Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit
     dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
      Kata al-asma’ adalah bentuk jamak dari kata al-Ism yang diterjemahkan dengan "nama".
Ia berakar dari kata aasumu yang berarti ketinggian, atau assimah yang berarti tanda. Memang
nama merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus harus dijungjung tinggi. Allah memiliki apa
yang dinamakan-Nya sendiri dengan Al-Asma' dan bahwa Al-Asma' itu bersifat Husna. Kata
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                                                                                               20
Alhusna adalah bentuk muannats/feminism dari kata Ahsan yang berarti terbaik. Penyifatan
nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlative ini, menunjukkan bahwa nama-
nama tersebut bukan saja baik, tetapi juga yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik
lainnya, apakah yang baik selain-Nya itu wajar disandang-Nya atau tidak. Husna menunjukkan
bahwa nama-nama-Nya adalah nama-nama yang amat sempurna, tidak sedikitpun tercemar
oleh kekurangan. Walaupun nama/sifat yang disandang-Nya itu terambil dari bahasa manusia,
namun kata yang digunakan saat disandang manusia, pasti selalu mengandung makna
kebutuhan serta kekurangan tersebut dan ada pula yang dapat dipisahkan.
       Yang sangat popular bahwa jumlah Al-Asma' Alhusna adalah sembilan puluh sembilan.
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama-seratus kurang satu- siapa yang
'ashhaha' (mengetahui/menghitung /memeliharanya) maka dia masuk ke surga. Allah ganjil
(Esa) senang pada yang ganjil" (H.R. Bukhari, Muslim, At-Tirmizy, Ibn Majah, Ahmad, dan lain-
lain).
       Sebagian nama-nama tersebut dapat dijumpai dalam al-Qur'an maupun hadits Nabi saw.
Masing-masing nama menyatakan sifat Tuhan, Yang Maha Wujud. Pengaruh (atsar) atau
"kekuatan" (hukum) dari masing-masing nama tersebut dapat "dirasakan" dalam setiap
eksistensi jika kita diberi "ilham" dan "kearifan" untuk melakukan hal itu. Nama Allah sendiri
menunjuk pada Esensi, sifat-sifat serta perbuatan-perbuatn Tuhan. Esensi adalah Tuhan di
dalam Dirinya Sendiri tanpa menunjuk pada yang selain-Nya. Dalam konteks ini, Tuhan tak
terpahami kecuali oleh Dirinya Sendiri. Dia sebagaimana seringkali dinyatakan oleh Ibnu Araby,
"Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari alam semesta" Q.S. 3:97, dan hal ini
termasuk di dalamnya segala pengetahuan yang ada di dunia. Tuhan sebagai Esensi
dikontraskan dengan Tuhan sebagai Dia yang senantiasa berhubungan dengan kosmos, yang
terejawantahkan melalui nama-nama-Nya, seperti Yang Maha Pencipta, Yang Maha
Menjadikan, Yang Maha Adil, Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha
Pengampun, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Membalas, Yang Maha Mema'afkan, Yang Maha
Bersabar, dan yang lainnya. Karena Esensi Tuhan sepenuhnya terlepas dari dunia. Kosmos
adalah Bukan Dia. Tetapi, sekalipun Tuhan sepenuhnya bebas dalam berhubungan dengan
dunia, melalui sifat-sifat-Nya, seperti kreatifitas dan kemurahan, kosmos mengejawantahkan
eksistensi-Nya. Manusia dalam mencari Tuhan dengan bekal kemampuan penggunaan akalnya
dapat mencapai tingkat eksistensinya. Kemungkinan sejauh ini, kemutlakan Tuhan
menyebabkan manusia yang relatif itu tidak dapat menjangkau substansi Tuhan. Dengan
demikian informasi tentang substansi Tuhan itu apa, tentunya berasal dari Sang Mutlak atau
Tuhan itu sendiri.
       Di dunia ini banyak agama yang mengklaim sebagai pembawa pesan Tuhan. Bahkan ada
agama yang dibuat manusia (yang relatif) termasuk pembuatan substansi Tuhan itu tentu.
Karena banyaknya nama dan ajaran agama yang bervariasi tidak mungkin semuanya benar.
Kalau substansi si mutlak ini bervariasi, maka hal itu bertentangan dengan eksistensinya yang
unik. Untuk menemukan informasi tentang substansi yang mutlak, yang unik dan yang distinct
itu dapat menggunakan uji autentistas sumber informasinya. Terutama terkait dengan
informasi Tuhan dalam memperkenalkan dirinya kepada manusia apakah mencerminkan
eksistensinya itu. Jika kita menguji segala sesuatu yang ada di alam semesta, Tuhan
sepenuhnya terlepas dari segala sesuatu tersebut dan keagungan-Nya tanpa batas. Dia-
meminjam term teologis- tak dapat "disetarakan" (tanzih) dengan setiap dan segala sesuatu.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        21
Namun, pada saat yang bersamaan, setiap sesuatu mengejawantahkan satu atau lebih dari
sifat-sifat Tuhan, dan dalam hal ini, sesuatu tersebut dikatakan "memiliki keserupaan"
(tasybih) –dalam beberapa hal- dengan Tuhan. Jadi, diantara sifat-sifat Allah, pertama, adalah
sifat-sifat hakiki sempurna (haqiqiyyah kamaliyyah) seperti kemurahan (al-jud), kekuasaan (al-
qudrah), dan pengetahuan (al-'ilm), yang bukan tambahan bagi Zat-Nya, melainkan Zat itu
sendiri dalam arti Zat-Nya dari segi hakikatnya sebagai asal dari sifat-sifat itu dari-Nya dan
substansi makna yang dikandungnya; kedua, sifat negasi murni (salbiyyah mahdhah) seperti
kekudusan (quddusiyyah), ketunggalan (fardiyyah), keazalian (azaliyyah) dan sebagainya.
Ketiga, sifat-sifat penisbatan murni (idhaffiyyah mahdhah), seperti pencipta pertama (al-
mubdi'iyyah), pencipta dari ketiadaan (al-mubdi'iyyah), pencipta (alkhaliqiyyah), dan
sebagainya yang merupakan tambahan bagi Zat-Nya, yang mengikutinya dan mengikuti apa
yang dengan sifat-sifat itu dinisbahkan pada Zat-Nya dan dengan wahdaniyyah-Nya tidak
membutuhkan tambahan sifat-sifat ini. Sebab ketinggian dan kemuliaan Yang Wajib Ada itu
bukanlah karena sifat-sifat idhafiyyah ini, melainkan karena keberadaan-Nya di dalam Zat-Nya
yang darinya muncul sifat-sifat ini. Sifat hakiki-Nya tidak banyak, tidak terbilang, dan tidak ada
perbedaan di dalamnya kecuali aspek penamaan.
D. Timbangan
       Sebagai penutup saya kutip perkataannya Al Ghazali dalam bukunya Al-Maqasidul Asna,
yang membahas tentang Asma' Alhusna, bahwa "Ketuhanan" adalah sesuatu yang hanya
dimiliki Allah, tidak dapat tergambar dalam bentuk benak, bahwa ada yang mengenalnya
kecuali Allah atau yang sama dengan-Nya, dan karena tidak ada yang sama dengan-Nya, maka
tidak ada yang mengenalnya kecuali Allah. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali Allah Yang
Maha Tinggi sendiri, karena itu Dia tidak menganugerahkan kepada hamba-Nya yang termulia
(Muhammad saw) kecuali nama yang diselubungi dengan firman-Nya "Sabbihisma Rabbika al
A'la", Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Demi Allah tidak ada yang mengetahui
Allah -di dunia dan di akhirat- kecuali Allah. Karena itu- tulis Al-Ghazali; "Jika Anda bertanya
apakah puncak pengetahuan orang-orang arif tentang Allah?" Saya menjawab –kata Al-
Ghazali-, "Puncak pengetahuan orang-orang arif adalah ketidakmampuan mengenal-Nya".
Sesuai dengan yang diisyaratkan Nabi Muhammad saw ; Saya -Ya Allah- tidak menjangkau
pujian untuk-Mu dan mencakup sifat-sifat ketuhanan-Mu. Hanya Engkau sendiri yang mampu
untuk itu" - H.R. Ahmad.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                            22
                                     BAGIAN II
              TEORI-TEORI YANG BERKEMBANG TENTANG RELIGI ATAU AGAMA
A. Pendahuluan
       Perhatian manusia terhadap sikap dan perilaku keagamaan sudah berabad-abad
lamanya, yaitu sejak orang-orang Barat berkelana dan mencengkramkan pengaruh
kolonialisme dan imperialismenya di dunia Timur.
       Sejak lama, ketika Antropologi belum ada dan hanya merupakan suatu himpunan tulisan
mengenai adat-istiadat yang aneh-aneh dari suku bangsa di luar Eropa, religi telah menjadi
suatu pokok penting dalam buku-buku para pengarang tulisan-tulisan etnografi mengenai
suku-suku bangsa itu. Mereka tertarik dikarenakan apa yang mereka ketahui merupakan hal-
hal yang baru dan aneh-aneh, jika mereka bandingkan dengan sikap perilaku dan upacara-
upacara keagamaan (Kristen) yang mereka anut. Kemudian, waktu bahan etnografi tersebut
digunakan secara luas oleh dunia ilmiah, perhatian terhadap bahan mengenai upacara
keagamaan itu sangat besar.
       Tanggapan aneh tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah sikap perilaku keagamaan
masyarakat sederhana itu adalah bentuk-bentukkeagamaan dan kepercayaan yang merupakan
cikal bakal dari bentuk-bentuk keagamaan yang ada kemudian dan sudah jauh lebih maju,
seperti halnya dengan Agama Hindu-Buddha, Agama Kristen-Katholik, dan Agama Islam ?
Tanggapan ke arah asal mula dari unsur-unsur universal tentang agama, seperti mengapa
manusia percaya kepada adanya kekuasaan ghaib, mengapa pula manusia bersikap dan
berperilaku dengan berbagai cara dan upacara yang bermacam-macam dlam berhubungan
dengan kekuasaan ghaib. Perhatian yang demikian itu akhirnya memasuki dunia ilmiah, dalam
usaha para sarjana untuk mencari tahu tentang asal mula agama.
       Para sarjana yang tertarik mengolah lebih lanjut tentang keagamaan primitif itu lalu
berpendapat bahwa agama atau religi dan kepercayaan kuno itu adalah sisa-sisa dari bentuk
agama purba yang dianut oleh seluruh umat manusia ketika budayanya masih sederhana.
Gambaran tentang keagamaan purba dari masyarakat sederhana ini bukan saja terdapat di
dunia Timur tetapi juga di Eropa ketika masyarakatnya masih sederhana.
       Dari bahan-bahan etnografi keagamaan yang dapat dikumpulkan dan dipelajari oleh
para ahli, maka di antara para sarjana ada yang berusaha menyusun teori tentang asal mula
agama. Di antara mereka yang menyusun teori tentang tersebut terdiri dari berbagai ahli, yaitu
para ahli filsafat, para ahli sejarah, sarjana-sarjana filogi yang ahli meneliti naskah-naskah kuno
dengan bahasan-bahasan kuno dan sebagainya.
B. Pengertian Istilah Agama dan Religi
      Dikalangan para ahli antropologi budaya, istilah agama dan religi dibedakan. Namun di
Indonesia, pada umumnya penggunaan istilah agama sama artinya dengan istilah religie atau
godsdienst (Belanda) atau religion (Inggris).
      Istilah agama berasal dari bahasa Sanskerta yang pengertiannya menunjukkan adanya
kepercayaan manusia berdasarkan wahyu Tuhan. Dalam arti linguistik kata agama berasal dari
suku kata A-GAM-A, kata ‘A’ berarti ‘tidak’, kata ‘GAM’ berarti ‘pergi atau ‘berjalan’,
sedangkan kata akhiran ‘A’ merupakan kata sifat yang menguatkan yang kekal. Jadi istilah
‘Agam’ atau ‘Agama’ berarti ‘tidak pergi’ atau ‘tidak berjalan’ alias ‘tetap’ (kekal, eternal),


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                             23
sehingga pada umumnya kata A-GAM atau AGAMA mengandung arti pedoman hidup yang
kekal.
       Menurut kitab ‘Sunarigama’ istilah agama berasal dari ‘A-GA-MA’. Kata ‘A’ berarti
‘Awang-awang’ (kosong atau hampa), kata ‘GA’ artinya ‘Genah’ (Bali : tempat), kata ‘MA’
artinya ‘Matahari’ (terang, bersinar). Dalam hal ini Agama berarti ‘Ambek’ (Ajaran) yang
menguraikan tentang tata cara yang misteri, karena Tuhan itu rahasia. Sedangkan menurut
rontal ‘Samdarigama’ ada dua istilah yaitu ‘Ugama’ dan ‘Igama’. Kata Ugama, adalah akronim
bahasa Sanskerta ‘U-GA-MA’, kata ‘U’ adalah ‘Uddaha’ yang artinya ‘Tirtha’ (air suci), kata ‘GA’
adalah ‘GNI’ (api), kata ‘MA’ artinya ‘Maruta’ (angin atau udara). Dalam hal ini agama berarti
‘Ulah’, yaitu ajatan tentang upacara atau tata cara yang harus diperhatikan dan dilaksanakan
dengan peralatan atau sarana seperti ‘air’, ‘api’ (pedupaan) dengan kemenyan (wangi-
wangian), mantra, kidung,gamelan (medis udara), agar bersih dari segala dosa sehingga
dengan demikian memudahkan untuk mencapai ‘mokhsa’, tempat tertinggi dalam Agama
Hindu di mana manusia bebas dari sengsara (kesengsaraan duniawi) karena karma perbuatan
yang baik dan buruknya (Hilman, 1993:16)
       Sedangkan kata “Religi” berasal dari bahasa asing ‘Religie’ atau ‘godsdiest’ (Belanda)
atau ‘religion’ (Inggris). Menurut Sidi Gazalba secara etimologi religi mungkin sekali berasal
dari istilah ‘relegere’ atau ‘religare’ dalam bahasa Latin. ‘Relegere’ maksudnya ialah berhati-
hati dan pengertian dasar (grondbegrip), yaitu dengan berpegang pada aturan-aturan dasar,
yang menurut anggapan orang Romawi bahwa religi berarti keharusan orang berhati-hati
terhadap yang kudus (suci) yang dianggap tabu atau muharam. Adapun ‘religare’ berarti
mengikat, yaitu yang mengikat manusia dengan sesuatu kekuatan tenaga ghaib (Sidi Gazalba,
1982:18).
       Menurut Kusnaka (1983:48), istilah ‘religare’ sesungguhnya berarti “ikatan” atau
“pengikat diri”, sedangkan agama memiliki pengertian “peraturan atau ajaran”. Oleh karena
itu, perkataan religi lebih bersifat “personal” daripada “agama”. Dalam pengertian, bahwa
personal diri adalah langsung mengenai dan menunjuk pribadi manusia. Di samping itu,
pengertian religi juga lebih bersifat dinamis, artinya lebih menonjolkan eksistensi manusia. Jadi
religi memiliki kemungkinan lebih terbuka untuk dikupas atau ditelaah lebih lanjut.
       Pada umumnya dapat dikatakan bahwa istilah ‘religi’ mengandung arti kecenderungan
batin (rohani) manusia untuk berhubungan dengan kekuatan dalam alam semesta, dalam
mencari nilai dan makna dari sesuatu yang berbeda sama sekali dari apa yang dikenal dan
dialami manusia. Kekuatan itu dianggap suci dan dikagumi karena luar biasa. Manusia percaya
bahwa yang kudus itu ada dan di luar kemampuan dan kekuasaannya. Oleh karenanya manusia
berusaha menghormati-Nya, meminta perlindungan-Nya dan menjaga keseimbangan dengan
berbagai cara dan upacara.
       Sekalipun di kalangan para ahli Antropologi Budaya ada yang membedakan antara
pengertian ‘agama’ dan ‘religi’, namun mereka sepakat bahwa kedua istilah tersenut
mengandung arti adanya hubungan antara manusia dengan kekuasaan yang ghaib. Apakah itu
disebut agama karena mengandung aturan-aturan dan ajaran-ajaran tentang cara hidup
manusia yang baik, ataupun ia disebut religi, karena sifatnya yang hanya mengikat pribadi
manusia, hanya bersifat personal (Kusnaka, 1983:49). Keduanya menyangkut adanya buah
pikiran sikap dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan kekuasaan yang tidak nyata
(ghaib).

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           24
C. Metode Pendekatan
        Pendekatan Antropologi atau Antropologi Agama dalam mempelajari masalah yang
berhubungan dengan religi atau agama bukanlah mempelajari religi atau agama sebagai sistem
teologis atau kebenaran yang ideologis berdasarkan keyakinan dan kepercayaan menurut
ajaran agama-agama, melainkan studi antropologi terhadap masalah tersebut diliaht dari
berbagai gejala tanggapan manusia terhadap kepercayaan yang dianutnya (system of belief)
dan gejala pengalaman bathinnya dalam menganut kepercayaan atau agama tersebut secara
empiris.
        Antropologi Agama tidak menyelidiki religi atau agama tentang kebenaran yang terdapat
dalam agama itu, melainkan penyelidikannya ditujukan kepada pengaruh agama/religi itu pada
manusia dan masysarakat. Antropologi melihat religi atau agama merupakan bagian dari
kebudayaan manusia.
        Atau dengan kata lain ‘….bahwa studi tentang religi yang hendak diuraikan oleh
antropologi adalah mencoba merumuskan pengertian dan konsep religi atau agama, melalui
penyelidikan yang empiris. Obyek yang diselidiki oleh antropologi terutama adalah tingkah laku
dan tata kelakuan manusia…” (Harsoyo, 1988:221).
          Adapun yang menyebabkan perhatian Antropologi terhadap penyelidikan tentang
religi yang sangat besar itu sebagaimana diungkapkan oleh Koentjoroningrat ([A], 1990:375),
bahwa (1) Upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan
unsur kebudayaan yang tampak paling akhir; (2) Bahan etnografi mengenai upacara
keagamaan diperoleh untuk menyusun teori-teori tentang asal-usul religi.
        Jika demikian, dengan cara ilmiah (metode) yang bagaimana Antropologi dapat
mempelajari nya lebih lanjut ? Dalam hal ini ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
studi antropologi agama, yaitu dengan mempelajarinya dari sudut sejarah, atau dari sudut
ajarannya yang bersifat normatif, atau dengan cara deskriptif, dan atau dengan cara yang
bersifat empiris. Keempat cara tersebut dapat saling bertautan dan saling mengisi satu sama
lainnya.
        Melalui pendekatan yang bersifat sejarah yang dimaksud ialah menelusuri pikiran dan
perilaku manusia tentang agamanya yang berlatar belakang sejarah, yaitu sejarah
perkembangan budaya agama sejak masyarakat manusia masih sederhana budayanya sampai
budaya agamanya sudah maju. Misalnya, bagaimana latar belakang sejarah timbulnya konsepsi
manusia tentang alam ghaib, kepercayaan terhadap alam roh, dewa, sampai pada ketuhanan ?
Siapakah yang mula-mula mengajarkan ajaran-ajaran ketuhanan, bagaimana timbul dan
terjadinya ajaran agama itu ? Bagaimana Latar belakang sejarah sebab terjadinya agama itu,
dan bagaimana terjadinya dan tertuangnya ajaran agama itu ke dalam kitab-kitab suci ?
Bagaimana cara-cara dan upacara-upacara keagamaan itu dilaksanakan, dan selanjutnya
bagaimana sikap tindak dan perilaku para penganut agama itu masing-masing dalam
perkembangan sejarahnya ? Mengapa timbul perbedaan paham dan penafsiran terhadap
ajaran-ajaran agama sehingga dari berbagai agama lahir aliran paham (mazhab) yang berbeda-
beda ? Begitu pula tentang waktu, tempat dan latar belakang sejarah terjadinya bangunan
(rumah) ibadah, dan tempat-tempat suci, tempat-tempat pemujaan, yang bentuk dan
coraknya beragam, mulai dari yang sederhana hingga bentuknya yang modern ? Dan lain
sebagainya.



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        25
       Melalui cara pendekatan normatif dimaksudkan mempelajari norma-norma, kaidah-
kaidah, patokan-patokan, atau sastra-sastra suci agama, maupun yang merupakan perilaku
adat kebiasaan yang tradisional yang tetap berlaku, baik dalam hubungan manusia dengan
alam ghaib maupun dalam hubungan antara sesama manusia yang bersumber dan
berdasarkan ajaran agama masing-masing.
         Jadi pendekatan pikiran dan perilaku manusia yang bersifat normatif, artinya
berpangkal tolak pada norma-norma agama yang eksplisit berlaku, yang ideologis berlaku.
Dengan penggunaan metode ini akan ditemukan pikiran dan perilaku manusia dalam
melaksanakan hubungannya dengan yang ghaib, ataupun juga hubungan antara sesama
manusia sesuai dengan kaidah-kaidah agama tersebut, ataukah merupakan perluasan dan
perbedaan tafsiran dari golongan umat penganut agama bersangkutan.
         Melalui cara pendekatan deskriptif dalam studi agama, ialah berusaha mencatat,
melukiskan, menguraikan, melaporkan tentang buah pikiran sikap tindak dan perilaku manusia
yang menyangkut agama dalam kenyataan yang implisit. Dalam penggunaan metode ini
tentang kaidah-kaidah ajaran-ajaran agama yang eksplisit tercantum dalam kitab-kitab suci
dan kitab-kitab ajaran agama yang ada dikesampingkan.
         Jadi, titik perhatian bukan ditujukan terhadap ketentuan aturan keagamaan yang
ideologis, yang dikehendaki dan harus berlaku, namun titik perhatian terutama
ditujukanterhadap fakta-fakta dan berbagai peristiwa yang nampak sesungguhnya berlaku di
dalm kehidupan masyarakat. Hal tersebut tidak berarti bahwa norma-norma agama yang
tercantum dalam kitab-kitab suci agama bersangkutan disingkirkan sama sekali. Namun ia
digunakan kemudian sebagai bahan analisis sehingga dapat diketahui sebab akibatnya.
         Melalui pendekatan empiris, Antropologi atau Antropologi Agama mempelajari
pikiran, sikap dan perilaku agama manusia yang diketemukan dari pengalama dan kenyataan di
lapangan. Artinya yang berlaku sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dengan
menitikberatkan perhatian terhadap kasus-kasus kejadian tertentu/studi kasus (Hilman,
1993:12-14).
D. Teori-Teori Tentang Asal Mula Inti Religi atau Agama
       Masalah asal mula dan inti dari suatu unsur universal seperti religi atau agama, tegasnya
masalah yang menyangkut :
(a) mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan ghaib yang dianggapnya lebih
    tinggi daripadanya
(b) mengapa manusia itu melakukan berbagai hal dengan cara-cara yang beraneka ragam
    untuk berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan tertentu tadi.
    Telah menjadi obyek perhatian para ahli pikir sejak lama, mengenai soal tersebut, ada
berbagai pendirian dan teori yang berbeda-beda. Adapun teori-teori yang terpenting tentang
asal-usul dan inti religi atau agama, sedikitnya ada 6 (enam) teori, yaitu :
       1. Teori Tentang Faham Jiwa
         Menurut ini, bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena manusia
sadar akan adanya “faham jiwa”. Teori ini dikemukakan oleh E.B. Tylor yang dituangkan dalam
bukunya “Primitive Cultures” (1873).
         Menurut Tylor, kesadaran manusia akan faham itu, disebabkan karena dua hal.
Pertama, perbedaan yang tampak kepada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang
mati. Suatu makhluk pada suatu saat bergerak-gerak, artinya hidup; tetapi tak lama kemudian

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          26
makhluk tadi tak bergerak lagi, artinya mati. Demikian manusia lambat laun mulai sadar,
bahwa gerak dalam alam itu, atau hidup itu, disebabkan oleh suatu hal yang ada di samping
tubuh jasmani, dan kekuatan itulah yang disebut “jiwa”.
         Kedua, peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat-tempat
lain daripada tempat tidurnya. Demikian manusia membedakan antara tubuh jasmaninya yang
ada di tempat tidur, dan suatu bagian lain dari dirinya, yang pergi ke tempat lain. Bagian lain
itu disebut “jiwa”
         Sifat abstrak dari jiwa tadi menimbulkan keyakinan di antara manusia bahwa jiwa
dapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmani. Pada waktu hidup, jiwa masih tersangkut
kepada tubuh jasmani, dan hanya meninggalkan tubuh waktu manusia tidur dan waktu
manusia jatuh pingsan. Karena pada suatu saat serupa itu kekuatan hidup pergi melayang,
maka tubuh berada di dalam keadaan yang lemah. Tetapi kata Tylor (dalam Koentjoroningrat,
[B], 190:230) :
        “…..walaupun melayang, hubungan jiwa dengan jasmani pada saat-saat seperti tidur
atau pingsan, tetap ada. Hanya pada waktu seorang makhluk manusia mati jiwa melayang
terlepas, dan terputuslah hubungan dengan tubuh jasmani untuk selama-lamnya. Hal itu nyata
terang terlihat, kalau tubuh jasmani sudah hancur berubah jadi debu di dalam tanah atau
hilang berganti abu di dalam api upacara pembakaran mayat; jiwa yang telah merdeka lepas
dari jasmaninya itu dapat berbuat semau-maunya….”.
       Alam semesta penuh dengan jiwa-jiwa merdeka itu, yang oleh Tylor tidak disebut soul
atau jiwa lagi, tetapi disebut spirit atau makhluk halus. Demikian pikiran manusia telah
mentransformasikan kesadarannya akan adanya jiwa menjadi kepercayaaan kepada makhluk-
makhluk halus.
     Selanjutnya menurut Tylor, bahwa pada tingkat tertua di dalam evolusi religinya manusia
percaya bahwa makhluk-makhluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggal
manusia. Makhluk-makhluk halus tadi, yang tinggal dekat sekeliling tempat tinggal manusia,
yang bertubuh halus sehingga tidak dapat tertangkap pancaindera manusia, yang mampu
berbuat hal-hal yang tak dapat diperbuat manusia, mendapat suatu tempat yang amat penting
di dalam kehidupan manusia, sehingga obyek daripada penghormatan dan penyembahannya,
dengan berbagai upacara berupa do’a, sajian, atau korban. Religi serupa itulah yang disebut
animisme.
     Pada tingkat kedua di dalam evolusi religi manusia percaya bahwa gerak alam hidup itu
juga disebabkan oleh adanya jiwa yang ada di belakang peristiwa dan gejala alam itu. Sungai-
sungai yang mengalir dan terjun dari gunung ke laut, gunung yang meletus, gempa bumi yang
merusak, angin taufan yang menderu lalu, jalannya matahari di angkasa, tumbuhnya
tetumbuhan dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh jiwa alam. Kemudian jiwa alam itu
dipersonifikasikan, dianggap oleh manusia seperti makhluk-makhluk dengan suatu pribadi,
dengan kemauan dan pikiran. Makhluk-makhluk halus yang ada di belakang gerak alam serupa
itu disebut dewa-dewa alam.
     Pada tingkat ketiga di dalam evolusi religi, bersama-sama dengan timbulnya susunan
kenegaraan di dalam masyarakat manusia, timbul pula kepercayaan bahwa alam dewa-dewa
itu juga hidup di dalam suatu susunan kenegaraan, serupa dengan di dalam dunia makhluk
manusia. Demikian ada pula suatu susunan serupa itu lambat laun akan menimbulkan suatu
kesadaran bahwa semua dewa itu pada hakikatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         27
satu dewa tertinggi itu. Akibat dari kepercayaan itu adalah berkembangnya kepercayaan
kepada satu Tuhan Yang Maha Esa, dan timbulnya agama-agama monotheisme.
       2. Teori Batas Akal
    Menurut teori batas akal ini, bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena
manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya. Artinya
akal itu terbatas.
Tokoh teori ini adalah J.G. Frazer, yang diuraikan dalam bukunya The Golden Bough (1890).
Menurut Frazer bahwa :
a) Manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya, tetapi
    akal dan sistem pengetahuannya itu ada batas. Makin maju kebudayaan manusia, makin
    luas batas akal itu; tetapi dalam banyak kebudayaan batas akal manusia amat sempit. Soal-
    soal hidup yang tak dapat dipecahkan dengan magic, ialah ilmu gaib.
b) Magic adalah perbuatan manusia (termasuk abstrksi-abstraksi dari perbuatan) untuk
    mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada dialam alam serta seluruh
    kompleks anggapan yang ada di belakangnya.
c) Pada mulanya manusia hanya mempergunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal
    hidupnya yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya. Religi waktu itu,
    belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun terbukti bahwa banyak dari
    perbuatan magic-nya itu tidak ada hasilnya, maka mulailah ia percaya bahwa alam itu
    didiami oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa daripadanya. Setelah itu mulailah
    manusia mencari hubungan dengan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam itu.
    Demikian timbul religi.
       Selanjutnya menurut Frazer, memang ada suatu perbedaan yang besar antara magic
dan religion. Magic adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu
maksud dengan menguasai dan mempergunakan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di
dalam alam. Sebaliknya, religion adalah segala sistem perbuatan manusia untuk mencapai
suatu maksud dengan menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan makhluk-makhluk
halus seperti ruh, dewa dan sebagainya yang menempati alam.
        3. Teori Masa Krisis Hidup Manusia
          Teori masa krisis dalam hidup manusia yaitu, bahwa kelakuan manusia yang bersifat
religi itu terjadi dengan maksud untuk menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka waktu
hidup manusia. Tokohnya adalah M. Crawley, yang ditulis dalam bukunya Tree of Life (1905),
dan diuraikan secara luas oleh A. Van Gennep dalam bukunya Rittes of Passage (1909).
        Menurut teori ini, dalam jangka waktu hidupnya manusia mengalami banyak krisis yang
menjadi objek perhatiannya, dan yang sering sangat menakutinya. Betapa bahagianya hidup
orang, ia selalu harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana-bencana sakit
dan maut, tak dapat dikuasainya dengan segala kepandaian, kekuasaan, atau kekayaan harta
benda yang mungkin dimilikinya.
        Dalam jangka waktu hidup manusia ada berbagai masa dimana kemungkinan adanya
rasa sakit dan maut itu besar sekali, yaitu misalnya pada masa kanak-kanak, masa peralihan
dari usia pemuda ke usia dewasa, masa hamil, masa kelahiran dan akhirnya maut. Dalam hal
menghadapi masa krisis serupa itu manusia butuh melakukan perbuatan untuk memperteguh
imannya dan mengontrol dirinya. Perbuatan-perbuatan serupa itu, yang berupa upacara-



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          28
upacara pada masa-masa krisis tadi itulah yang merupakan pangkal dari segi religi dan bentuk-
bentuk religi yang tertua.
       4. Teori Kekuatan Luar Biasa
         Teori kekuatan luar biasa yaitu, bahwa manusia yang bersifat religi terjadi karena
kejadian-kejadian yang luar biasa dalam hidupnya dan dalam alam sekelilingnya.
       Tokoh teori ini adalah sarjana antropologi bangsa Inggris yaitu R.R. Marret yang ditulis
dalam bukunya Treshold of Religion (1909). Dalam uraiannya, Marret berawal dari kecamannya
terhadap anggapan-anggapan Tylor mengenai timbulnya kesadaran manusia tentang jiwa.
Menurut Marret, kesadaran tersebut adalah hal yang bersifat terlampau kompleks bagi pikiran
makhluk manusia yang baru pada tingkat-tingkat permulaan dari kehidupannya di muka bumi
ini. Sebagai kelanjutan dari kecamannya terhadap teori animisme Tylor, maka Marret
mengajukan sebuah anggapan baru.
       Menurut Marret, terjadinya religi disebabkan oleh rasa takut manusia, cemas atau
kagum, di luar kekuatan dan kekuasaan dirinya terhadap kekuatan-kekuatan lain yang lebih.
Kekuatan itu disebut Marret “supranatural”. Gejala-gejala, hal-hal dan peristiwa-peristiwa
yang luar biasa itu dianggap sebagai akibat dari suatu kekuatan supranatural, atau kekuatan
luar biasa atau kekuatan sakti.
       Kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal dan
peristiwa-peristiwa yang luar biasa tadi, dianggap Marret suatu kepercayaan yang ada pada
makhluk manusia sebelum ia percaya kepada makhluk halus dan ruh, atau dengan kata lain
sebelum ada kepercayaan animisme. Sebabitu bentuk religi yang diungkapkan Marret sering
disebut “praeanimisme”.
       5. Teori Sentimen Kemasyarakatan
       Teori sentimen kemasyarakatan yaitu, bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi
terjadi karena suatu getaran atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat
dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakat.
       Tokoh teori ini adalah Emille Durkheim, dalam bukunya “Les Formes Elementaires de la
vie religious” (1912). Durkheim pun dalam mengemukakan teorinya berpangkal pada suatu
celaan terhadap teori Tylor, seperti halnya Marret.
       Durkheim beranggapan bahwa alam pikiran manusia pada masa permulaan
perkembangan kebudayaan itu belum dapat menyadari suatu faham abstrak “jiwa”, sebagai
suatu substansi yang berbeda dari jasmani. Kemudian juga Durkheim berpendirian bahwa
manusia pada masa itu belum dapat menyadari faham abstrak yang lain seperti percobaan dari
jiwa menjadi ruh apabila jiwa itu telah terlepas dari jasmani yang mati.
       Selanjutnya Durkheim mengemukakan teorinya tentang dasar-dasar religi yang berbeda
dengan teori-teori yang pernah dikembangkan oleh sarjana-sarjana sebelumnya. Teori itu
berpusat kepada beberapa pengertian dasar, sebagai berikut :
a. Bahwa aktivitas religi pada manusia disebabkan getaran jiwa yang menumbuhkan emosi
    keagamaan, karena pengaruh rasa sentimen kemasyarakayan.
b. Sentimen kemasyarakatan yang dimaksudkan Durkheim adalah suatu keterikatan terhadap
    rasa cinta, rasa bakti dan lain sebagainya dalam kompleks perasaan kemasyarakatan
    terhadap masyarakatnya sendiri.
c. Sentimen kemasyarakatan itu menimbulkan sentimen kedamaian yang merupakan pangkal
    segala tingkah laku keagamaan manusia. Guna mengorbankan sentimen kemasyarakatan
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         29
     dengan cara menginduksi suatu kontraksi masyarakat, artinya dengan mengumpulkan
     seluruh masyarakat dalam pertemuan raksasa.
d. Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen kemasyarakatan membutuhkan suatu
     obyek tujuan. Sifat apakah yang menyebabkan sesuatu hal itu menjadi obyek dari emosi
     keagamaan bukan terutama sifat luar biasanya, bukan pula sifat anehnya, bukan sifat
     megahnya, bukan sifat ajaibnya, melainkan tekanan anggapan umum dalam masyarakat.
     Obyek itu karena salah satu peristiwa kebetulan di dalam sejarah dari kehidupan sesuatu
     masyarakat di dalam waktu yang lampau menarik perhatian banyak orang di dalam
     masyarakat. Obyek yang menjadi tujuan emosi keagamaan itu juga mempunyai obyek yang
     bersifat keramat, bersifat sacre, berlawanan dengan obyek lain yang tidak mendapat nilai
     keagamaan (ritual value) itu, ialah obyek yang tak keramat, yang profane.
e. Obyek keramat sebenarnya tidak lain suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa
     asli benua Australia misalnya, obyek keramat pusat tujuan dari sentimen-sentimen
     kemasyarakatan sering berupa sejenis binatang.
        Pengertian pertama di atas, ialah emosi keagamaan dan sentimen kemasyarakatan,
yang menurut Durkheim, adalah pengertian-pengertian dasar yang merupakan inti atau esensi
dari setiap religi. Sedangkan ketiga pengertian lainnya ialah kontraksi masyarakat, kesadaran
akan obyek keramat berlawanan dengan obyek tak keramat, dan totem sebagai lambang
masyarakat bermaksud memelihara kehidupan dari inti. Kontraksi masyarakat, obyek keramat
dan totem akan menjelmakan (a) upacara, (b) kepercayaan, (c) mitologi. Ketiga unsur tersebut
terakhir ini menentukan bentuk lahir dari sesuatu religi di dalam sesuatu masyarakat tertentu.
        Susunan tiap masyarakat dari beribu-ribu suku bangsa di muka bumi yang berbeda-beda
ini telah menentukan adanya beribu-rinu bentuk religi yang perbedaan-perbedaannya tampak
lahir pada upacara-upacara, kepercayaan dan mitologinya.
       6. Teori Firman Tuhan
         Teori firman tuhan yaitu, bahwa kelakuan manusia yang bersifat religi terjadi karena
manusia mendapat suatu firman dari Tuhan.
       Tokoh teori ini antropolog bangsa Austri W. Schmidt, melanjutkan pemikiran dari tokoh
sebelumnya seorang ahli kesusastraan bangsa Inggris yaitu A. Lang.
       Sebagai seorang ahli kesusastraan, Lang telah banyak membaca tentang kesusastraan
rakyat dari banyak suku bangsa lain di dunia. Di dalam dongeng-dongeng itu Lang sring
mendapatkan seorang tokoh dewa yang oleh suku-suku bangsa bersangkutan dianggap dewa
tertinggi, pencipta seluruh alam semesta serta seluruh isinya, dan penjaga ketertiban
kesusilaan. Kepercayaan kepada seorang tokoh dewa serupa itu, menurut Lang, terutama
tampak pada suku-suku bangsa yang amat rendah tingkat kebudayaannya dan yang hidup dari
berburu dan meramu. Misalnya suku-suku bangsa berburu di daerah Gurun Kalahari di Afrika
Selatan, yang biasanya disebut orang Bushman, suku-suku bangsa penduduk asli benua
Australia, suku-suku bangsa Negrito di daerah hutan rimba di Kamerun, Kongo dan
AfrikaTengah, penduduk kepulauan Andaman, penduduk Pegunungan Tengah di Irian Timur
dan juga beberapa suku bangsa penduduk asli Benua Amerika Utara.
       Berbagai hal membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak timbul sebagai akibat pengaruh
Agama Nasrani atau Islam, kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus, dewa-dewa alam,
ruh, hantu dan sebagainya. Lang berkesimpulan bahwa kepercayaan kepada dewa tertinggi


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        30
adalah suatu kepercayaan yang sudaah teramat tua, dan mungkin merupakan bentuk religi
manusia yang tertua.
       Pendirian Lang tersebut, tak lam kemudian diolah lebih lanjut oleh W. Schmidt. Menurut
Schmidt (dalam Koentjoroningrat, [B], 1990:236-237), bahwa agama itu berasal dari titah
Tuhan terhadap makhluk manusia pada masa permulaan ia muncul di muka bumi. Karena
itulah, adanya tanda-tanda dari suatu kepercayaan kepada dewa pencipta , justru pada
bangsa-bangsa yang paling rendah tingkat kebudayaannya (artinya yang paling tua menurut
Schmidt), memperkuat anggapannya mengenai adanya Titah Tuhan Asli, atau Uroffenbarung
itu. Demikianlah kepercayaan yang asli dan bersih kepada Tuhan, atau kepercayaan
Urmonotheisme tadi itu malahan ada pada bangsa-bangsa yang tua yang hidup dalam
zamanketika tingkat kebudayaan manusia masin rendah. Dalam zaman kemudian, ketika
makin maju kebudayaan manusia, maka makin kaburlah kepercayaan asli terhadap Tuhan;
makin banyak kebutuhan manusia, makin terdesaklah kepercayaan asli itu oleh pemujaan
makhluk-makhluk halus, roh, dewa dan sebagainya.
       Pendapat Schmidt tersebut kemudian dianut oleh sarjana yang sebagian besar bekerja
senagai penyiar agamaNasrani dari organisasi Societas Verbi Divini. Di samping menjalankan
tugas sebagai penyiar agama Nasrani mereka melakukan penelitian-penelitian antropologi
budaya berdasarkan atas anggapan-anggapan pokok dari guru mereka. Mereka mencari di
dalam kebudayaan-kebudayaan di daerah mereka masing-masing akan adanya tanda-tanda
suatu kepercayaan kepada dewa tertinggi.
E. Timbangan
        Enam buah pikiran di antara bermacam-macam teori tentang asal mula dari inti religi
atau agama yang satu dengan yang lainnya sering amat bertentangan dan berbeda-beda,
seperti telah dikemukakan di atas.
        Semua teori itu diajukan oleh sarjana-sarjana yang bukan sembarang, dan berdasarkan
dokumen serta bahan bukti yang luar biasa besarnya. Namun, mengapa tidak ada suatu
persesuaian paham tentang asal mula dan dasar-dasar religi atau agama itu ? Hal itu
dimungkinkan karena mereka itu terlampau memperhatikan hanya satu aspek saja dari paham
religi. Padahal unsur kebudayaan yang disebut religi adalah amat kompleks dan berkembang
atas berbagai tempat di dunia.
        Bagaimanakah untuk pertama kali timbul aktivitet keagamaan itu dalam masyarakat
manusia, hanya bisa menjadi obyek dari berbagai macam spekulasi saja, tetapi mungkin tak
pernah akan dapat diketahui dengan sebenarnya. Sungguhpun demikian, menurut
Koentjoroningrat (1990:238-239) kalau ditinjau sebanyak mungkin bentuk religi dari sebanyak
mungkin suku bangsa di dunia, secara antropologis akan tampak adanya unsur-unsur pokok
dari religi pada umumnya, yaitu :
1. Emosi keagamaan/getaran jiwa yang menyebabkan manusia menjalankan kelakuan
     keagamaan (Religious Emotion)
2. Sistem kepercayaanatas bangsa-bangsa manusia tentang bentuk dunia, alam ghaib, hidup,
     mati dan sebagainya (System of Belief)
3. Sistem upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib
     berdasarkan atas sistem kepercayaan tersebut pada ponit 2 di atas (Religious Ceremonies)




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       31
4. Kelompok keagamaan atas kesatuan-kesatuan sosial yang mengkonsep sistem (tersebut
   dalam sub 2) dengan mengaktifkan religi beserta sistem upacara-upacara keagamaannya
   (tersebut dalam sub 3).




DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ariyono Suyono
        1985, kamus antropologi, Jakarta : Akademika Pressindo.
Departemen Agama
        1981, Perbandingan Agama, Jakarta : Proyek Binperta Ditbinpertais.
Doyle Paul Johnson
        1986, sociologi Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives, Alih Bahasa
        Robert M.Z. Lawang, Jakarta : PT. Gramedia
E.E. Evans Pritchard
        1984, Teori-Teori Tentang Agama Primitif, Yogyakarta : Bagian Penerbitan PLP2M
Harsojo
        1988, Pengantar Antropologi, Bandung : PT. Bina Cipta
Hilman Hadikusuma
        1993, Antropologi Agama, Bandung : Citra Aditya Bakti
Joachim Wach
        1984, The Comparative Study of Religions, Alih Bahasa Djamannuru, Jakarta: CV.
        Rajawali
J. Van Baal
        1987, Sejarah dan pertumbuhan Teori Antropologi, Alih Bahasa J. Piry, Jakarta : PT.
        Gramedia
Koentjoroningrat
        1990, [A] Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : PT. Rineka Cipta
        1990, [B] Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta : PT. Dian Rakyat
Kusnaka Adimihardja
        1983, Kerangka Studi Antropologi Sosial, Bandung : PT. Tarsito
Mircea Eliade & Joseph M. Kitagawa (Editor)
        1975, The History of Religions (essay in Methodology), Chicago ; The University of
        Chicago Press
Mujahid Abdul Manaf
        1994, Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Mukti Ali
        1970, Asal Usul Agama, Yogyakarta : Yayasan Nida
        1975, Ilmu Perbandingan Agama (Sebuah Pembahasan Tentang Methodos dan
        Sistima), Yogyakarta : Yayasan Nida
Romdon MA
        1996, Metodologi Ilmu Perbandingan Agama (Suatu Pengenalan Awal), Jakarta : PT.
        RajaGrafindo Persada

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      32
Roland Robertson (Editor)
         1984, Sociology of Religions, Alih Bahasa Paul Rosyadi & Dh Gulo, Jakarta : PT. Aksara
         Persada
Sidi Gazalba
         1976, Masyarakat Islam (Pengantar Sosiologi dan Sosiografi), Jakarta : PT. Bulan
         Bintang
T.O. Ihromi (Editor)
         1986, Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta : PT. Gramedia




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         33
                                       BAGIAN III
                             KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM
A. Pembuktian Wujud Allah
       Untuk membuktikan adanya Allah, al-Qur’an mengisyaratkan suatu metode yaitu
menyelidiki tentang kejadian manusia dan alam semesta. Langit dan bumi serta isinya
merupakan bukti yang nyata tentang adanya Allah swt. Untuk membuktikan wujud Allah, Ibnu
Rusyd menggunakan dua cara:
    1. “dalil Inayah” (the proof of providence), yaitu mengarahkan manusia untuk mengamati
alam semesta sebagai ciptaan Allah yang mempunyai tujuan/manfaat bagi manusia. (QS.
Luqman/31:20, QS. an-Naba’/78:6-16, QS. Ali Imran/3:190-191).
    2. “dalil Ikhtira”, yaitu mengarahkan manusia untuk mengamati makhluk yang beraneka
ragam yang penuh keserasian atau keharmonisan khususnya alam hayat. (QS. al-
Ghasyiyah/88:17-22, QS. al-Hajj/22:73).
Bukti lain tentang adanya Allah berdasarkan teori kefilsafatan antara lain :
    1. Dalil cosmological, yang sering dikemukakan berhubungan dengan ide tentang sebab
(causality). Plato dalam bukunya “Timeaus” mengatakan bahwa tiap-tiap benda yang terjadi
mesti ada yang menjadikan. Dalam dunia kita tiap-tiap kejadian mesti didahului oleh sebab-
sebab dalam benda-benda yang terbatas (finite) rangkaian sebab adalah terus menerus, akan
tetapi dalam logika rangkaian yang terus menerus itu mustahil.
    2. Dalil moral, argumen ini sering dihubungkan dengan nama Immanuel Kant. Menurut
Kant, manusia mempunyai perasaan moral yang tertanam dalam hati sanubarinya. Orang
merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjauhi perbuatan yang buruk dan
melaksanakan perbuatan yang baik. Manusia melakukan hal itu hanya semata-mata karena
perintah yang timbul dari dalam lubuk hati nuraninya. Perintah ini bersifat universal dan
absolut. Dorongan seperti ini tidak diperoleh dari pengalaman, akan tetapi manusia lahir
dengan perasaan itu.
B. Tuhan Yang Maha Esa
       Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (tauhid) merupakan titik pusat keimanan, karena
itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada Allah swt.
Pekerjaan seorang muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah, akan
mempunyai nilai ibadah di sisinya. Sebaliknya pekerjaan yang tidak diniatkan karena Allah
tidak mempunyai nilai apa-apa (QS. al-Bayyinah/98:5). Hadits Rasulullah saw. bersabda:
“Bahwasanya segala perbuatan tergantung pada niatnya dan bahwasanya tiap-tiap orang
adalah apa yang ia niatkan …… (HR. Bukhari dan Muslim).
       Islam mengajarkan bahwa iman kepada Allah swt. harus bersih dan nurani, menutup
setiap celah yang memungkinkan masuknya syirik. (QS. al-Ikhlas, 112: 1-4 dan QS. an-Nisa’, 4:
48).
Tauhid adalah mengitikadkan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tauhid
mencakup tujuh macam sikap, yaitu :
     1. Tauhid Dzat. Tauhid Dzat artinya mengitikadkan bahwa Dzat Allah itu Esa, tidak
berbilang. Zat Allah itu hanya dimiliki oleh Allah saja, yang selain-Nya tidak ada yang memiliki-
Nya. Rasulullah menasehatkan: “Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan pikirkan dzat Allah,
karena kamu tidak akan sanggup mengira-ngirakan hakekat yang sebenarnya.” (HR. Abu Naim
dan Ibnu Umar).
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           34
    2. Tauhid Sifat. Tauhid sifat adalah mengitikadkan bahwa tidak ada yang sesuatupun yang
menyamai sifat Allah, dan hanya Allah saja yang memiliki sifat kesempurnaan (QS. asy-
Syura/42:11).
    3. Tauhid Wujud. Tauhid wujud adalah mengitikadkan bahwa hanya Allah yang wajib ada.
Adanya Allah tidak membutuhkan kepada yang mengadakan (QS. al-Hadid/57:3).
    4. Tauhid Af’al. Tauhid Af’al adalah mengitikadkan bahwa Allah sendiri yang menciptakan
dan memelihara alam semesta (QS. al-Furqan/25:2 dan QS. al-Muzammil/73:20).
    5. Tauhid Ibadah. Tauhid ibadah adalah mengitikadkan bahwa hanya Allah saja yang
berhak dipuji dan dipuji. (QS. al-Fatihah/1:5 dan QS. al-Mu’minun/23:32).
    6. Tauhid Qashdi. Tauhid Qashdi adalah mengitikadkan bahwa hanya kepada Allah-lah
segala amal ditujukan, segala amal dilakukan secara langsung tanpa perantara serta ditujukan
hanya untuk memperoleh keridhaan-Nya semata (QS. al-An’am/6:162).
    7. Tauhid Tasyri’. Tauhid Tasyri’ adalah mengitikadkan bahwa hanya Allah-lah pembuat
peraturan (hukum) yang paling sempurna bagi makhluk-Nya. Allah adalah sumber segala
hukum. (QS. an-Nisa/4:59 dan QS. al-Maidah/5:44 dan 47).
C. Iman Dan Taqwa
     1. Pengertian Iman dan Taqwa
        Kata iman adalah bahasa Arab, berasal dari kata amana artinya aman. Maksudnya
orang yang beriman selalu memiliki perasaan aman karena yakin selalu dilindungi oleh Allah.
Dalam kaitan inilah iman terkait dengan aqidah. Aqidah itu berasal dari bahasa Arab, “aqad”
artinya ikatan. Maksudnya ikatan hati dengan Allah. Definisi iman ialah keyakinan penuh
dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah dan diwujudkan oleh amal perbuatan.
       Taqwa berarti hati-hati, mawas diri dan waspada. Menurut H.A. Salim dalam “Dienul
Islam” yang dikarang oleh Drs. H. Nasruddin Razak, disebutkan bahwa taqwa lebih tepat disalin
kata “ingat” dengan makna; awas, hati-hati, yaitu menjaga diri, memelihara keselamatan diri,
yang dapat diusahakan dengan melakukan yang baik dan benar, mematangkan yang jahat dan
salah seperti yang dikehendaki oleh taqwa. Jadi pengertian taqwa secara umum ialah sikap
mental orang-orang mukmin dari kepatuhannya dalam melaksanakan perintah-perintah Allah
swt. serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya atas dasar kecintaan semata.
     2. Tanda-Tanda Orang Beriman
    a. Senantiasa hatinya bergetar apabila membaca, mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an.
    b. Mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang diberikan oleh Allah swt.
         (QS. al-Anfal/8:2-3).
    c. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. al-Anfal/8:24).
    d. Beramal dan berdakwah dengan penuh kesabaran. (QS. al-‘Ashr/103:3).
     3. Tanda-Tanda Orang Bertaqwa
    a. Dalam al-Qur’an disebutkan pada surat ali-Imran/3:131,133 dan 135.
    b. Memelihara diri dari hal-hal yang menjerumuskan ke neraka.
    c. Selalu menuju kepada maghfirah (ampunan Allah swt.).
    d. Apabila berbuat keji, segera mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya.
    e. Segala perilakunya merasa disaksikan oleh Allah swt. (QS. al-A’raf/7:96).
D. Peranan Iman Dan Taqwa Dalam Kehidupan Modern


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       35
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa
pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.
      1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda.
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak
memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya.
Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang
kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-
benda keramat, mengikis kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya.
Pegangan orang yang beriman adalah surat al-Fatihah ayat 1-7.
      2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara manusia
yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang
beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman
mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah dalam QS. an-Nisa/4:78.
      3. Iman menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak
orang yang melepaskan pendiriannya, arena kepentingan penghidupannya. Kadang-kadang
manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan dan bermuka dua,
menjilat dan memperbudak diri untuk kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal
ini ialah firman Allah dalam QS. Hud/11:6.
      4. Iman memberikan ketenteraman jiwa.
Acapkali manusia dilanda resah dan dukacita, serta digoncang oleh keraguan dan
kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram
(mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan dalam firman Allah surat ar-
Ra’d/13:28.
      5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu menekankan kepada
kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS.
an-Nahl/16:97.
      6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih,
kecuali keridhaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah
diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada
firman Allah dalam QS. al-An’am/6:162.
      7. Iman memberi keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing dan
mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah
orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-
Baqarah/2:5.
      8. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia
mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan perbuatan manusia mukmin,
baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan, minum, berdiri, melihat, dan berpikir,
maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     36
pembuatan darah, tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam
tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah
hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi oleh kelenjar
hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise
ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot
dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk
gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.
       Jika karena terpengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi perubahan
fisiologis tubuh (keseimbangan terganggu), seperti takut, marah, putus asa, dan lemah, maka
keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman. Oleh karena itu, orang-orang yang dikontrol
oleh iman tidak akan mudah terkena penyakit modern, seperti darah tinggi, diabetes dan
kanker.
Sebaliknya, jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan asas moral dan
akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat
Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan diikuti oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu
akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan lainnya. Selanjutnya akan
menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas.
Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran
proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa
sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.
       Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya
sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi kekuatan yang
mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari
orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk masyarakat yang aman, tenteram, damai dan
sejahtera.
Kasus :
       Kadang-kadang kepercayaan seseorang seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan.
Namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba. Misalnya, dalam keadaan
gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong dan
berani mengatakan: “tidak ada Tuhan.” Namun dalam keadaan kritis, ketika sedang diancam
bahaya maut atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai topan, orang dengan
khusyu’ berdo’a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
      1. Kasus di atas memungkinkan bahwa pada prinsipnya setiap manusia mengakui adanya
Tuhan. Bagaimana pendapat saudara trerhadap pernyataan tersebut ?
      2. Diskusikan kasus di atas dengan teman anda, dalam hubungan dengan ayat yang
menjelaskan bahwa roh manusia sudah meyakini adanya Tuhan, sebelum manusia dilahirkan
di muka bumi ini.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        37
                                      BAGIAN IV
                             KONSEP MANUSIA MENURUT ISLAM
A. Hakikat Manusia
       Konsep manusia dalam al-Qur’an dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang
saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas. Allah memakai
konsep basyar dalam al-Qur’an sebanyak 37 kali, salah satunya al-Kahfi: 110, yaitu : Innama
anaa basayarun mitslukum (Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu).
Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya dari tanah
liat atau lempung kering (al-Hijr: 33; ar-Rum: 20), serta manusia makan dan minum (al-
Mu’minuun: 33). Basyar adalah makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti
hewan.
       Kata insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali, di antaranya (al-Alaq: 5), yaitu :
Allamal insaana maa lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya).
Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk
yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-Ahzab: 72). Insan adalah makhluk yang
menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
       Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti (az-Zummar: 27), yaitu : Walaqad dlarabna
linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia
dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua
manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.
       Dengan demikian, al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis,
dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain.
Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan Ilahi atau ruh Allah, memiliki
kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menantang takdir Allah.
Menurut pandangan Murtadha Mutahhari, manusia adalah makhluk serba dimensi yang dapat
disimpulkan menjadi empat dimensi, yaitu:
     1. Manusia adalah makhluk yang berdimensi biologis reproduksi. Yang dimaksud dengan
dimensi biologis-reproduksi adalah manusia makhluk yang memiliki kebutuhan-kebutuhan
biologis seperti sandang, papan dan pangan serta seks dan memiliki kemampuan bereproduksi
(berkembang biak). Dalan konteks makna inilah manusia dinamai dengan al-basyar (QS. al-
Mu’minun/23:33 dan QS. Maryam/19:20).
     2. Manusia adalah makhluk bendimensi intelektual peradaban. Yaitu manusia
membutuhkan ilmu pengetahuan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui. Oleh karena
itu manusia sejak lahir telah diberikan padanya potensi-potensi ilmiah, berupa pendengaran,
penglihatan dan akal budi (QS. as-Sajadah/32:9).
     3. Manusia adalah makhluk bendimensi sosial-masyarakat. Artinya manusia memiliki
kecenderungan yang kuat untuk hidup dalam komunitas sosial-masyarakat. Bahkan dapat
dikatakan bahwa manusia tidak akan dapat hidup tanpa sosial masyarakatnya. Oleh karena itu
manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya dalam memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya. Sebagai contoh seorang manusia tidak akan dapat memenuhi kebutuhan dan
kemampuan reproduksinya tanpa bantuan seorang manusia lainnya. Dalam konteks ini,
seorang manusia laki-laki membutuhkan seorang manusia perempuan sebagai pasangannya
dalam rangka pemenuhan kebutuhan reproduksinya. Pada kedua dimensi tersebut manusia
dinamai dengan al-insan (QS. al-Hujurat/49:13).

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           38
     4. manusia adalah makhluk bendimensi religius-spritual. Maksudnya manusia merupakan
makhluk yang membutuhkan akan agama dan kepatuhan terhadap agama. Dalam konteks
inilah manusia dinamai dengan al-ins (QS. al-A’raf/7:172). (Murtadha Mutahhari, 1984, 125-
135).
B. Martabat Manusia
       Manusia sebagai makhluk memiliki keunggulan dan keistimewaan dari makhluk lain.
Keunggulan tersebut karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang terbaik dan sempurna
(ahsani taqwiem QS. at-Tiin: 4), dengan bentuk tubuh yang elastis dan dinamis, serta diberi
akal, kewajiban, dan tanggung jawab.
       Manusia terdiri dari dua unsur pokok, yaitu gumpalan tanah dan hembusan ruh. Ia
adalah kesatuan dari kedua unsur tersebut yang tidak dapat dipisahkan. Bila terpisah, maka ia
bukan lagi manusia, sebagaimana halnya air, yang merupakan perpaduan antara oksigen dan
hidrogen. Dalam kadar-kadar tertentu bila salah satu di antaranya terpisah, maka ia bukan air
lagi.
Manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersumber dari gumpalan tanah,
harus menurut cara-cara manusia, bukan seperti hewan. Demikian pula dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan rohaniah bukan seperti malaikat. Sebab kalau demikian, ia akan menjadi
binatang atau malaikat, yang keduanya akan membawa ia jatuh dari hakikat kemanusiaannya.
Manusia kecuali diberi potensi positif ada juga potensi negatif berupa kelemahan-kelemahan
sebagai manusia. Kelemahan pertama, potensi untuk terjerumus dalam godaan hawa nafsu
dan setan. Kedua, dinyatakan secara tegasoleh al-Qur’an bahwa banyak masalah yang tidak
dapat dijangkau oleh pikiran manusia, khususnya menyangkut diri, masa depan, serta banyak
hal menyangkut hakikat manusia.
       Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Allah, sebagai khalifah-Nya
di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi-duniawi, yang dalam dirinya
ditanamkan sifat mengakui Allah, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya
maupun alam semesta; serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit, dan bumi.
Manusia dipusakai dengan kecenderungan ke arah kebaikan maupun kejahatan. Kemajuan
manusia dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan, yang kemudian bergerak kea rah
kekuatan, tetapi hal itu tidak akan menghapuskan kegelisahan, kecuali manusia dekat dengan
Allah dan mengingat-Nya. Kapasitas manusia tidak terbatas, baik dalam kemampuanbelajar
maupun dalam menerapkan ilmu. Manusia memiliki suatu keluhuran dan martabat naluriah.
Motivasi atau pendorong manusia, dalam banyak hal, tidak bersifat kebendaan. Manusia dapat
secara leluasa memanfaatkan rahmat dan karunia yang dilimpahkan kepada dirinya, namun
pada saat yang sama, manusia harus menunaikan kewajiban kepada Allah.
C. Tanggung Jawab Manusia
       Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat Allah, yang harus
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi
adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah, di muka bumi untuk
mengelola dan memelihara alam.
       Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi
khalifah, berarti manusia memperoleh mandat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka
bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya
mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       39
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah. Agar manusia dapat menjalankan
kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam
segala ciptaan-Nya. Melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum yang
terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep-konsepserta melakukan
rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.
       Kekuasaan manusia sebagai khalifah Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-
ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang
tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-
Kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang
mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya.
Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di
hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam surat Fathir ayat 39.
       Di samping peran manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang memiliki
kebebasan, ia juga sebagai hamba Allah (‘abdullah). Sebagai hamba Allah harus ta’at dan patuh
kepada perintah Allah. Makna yang esensial dari kata ‘abd (hamba) adalah ketaatan,
ketundukan, dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak
diberikan kepada Allah yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan pada
kebenaran dan keadilan. Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah
dan ‘abd merupakan keterpaduan tugas dan tanggung-jawab yang melahirkan dinamika hidup
yang sarat dengan kreativitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran
(Toto Suryana, dkk, 1996: 18 – 21).
       Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan sangat
tergantung pada kualitas komunikasinya dengan Allah melalui ibadah dan kualitas interaksi
sosialnya dengan sesama manusia melalui muamalah. Manusia memiliki derajat yang paling
mulia dari makhluk lainnya, sebab ada lima pokok keutamaan hidup manusia, sebagai berikut :
     1. Diturunkannya Agama (Ad-dien). Agama menjadi hidayah bagi manusia tentang adanya
dua kehidupan, yaitu duniawi dan ukhrawi. Agama menuntun menusia beriman, beramal
shaleh dan hidup taqwa. Agama menetapkan nilai dan norma universal agar menusia hidup
sejahtera, bahagia dan selamat di dunia dan di akhirat, menjadi al-muflihuun (QS. al-
Baqarah/2:1-5).
     2. Memiliki Akal. Akal adalah anugerah Allah swt. yang amat bernilai, faktor pokok dalam
aktualisasi ajaran agama. Akal berfungsi agar hidup beragama lebih berkualitas. Dengan
potensi akal, manusia mengembangkan fungsinya sebagai khalifah di bumi, karena potensi
akal, manusia berkemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni (IPTEKS)
kontemporer yang amat spektakuler. Karena IPTEKS itulah dewasa ini terjadi revolusi;
tranportasi, komunikasi dan informasi. Secara faktual kita menikmati ketiga bidang tersebut.
Sebab itu al-Qur’an mengeritik dan mencela orang yang tidak menggunakan akal dan
pancainderanya, ia diancam dengan neraka sa’ir (QS. al-Mulk/67:10).
     3. Jiwanya. Ruh itu adalah milik Tuhan, dianugerahkan kepada manusia, tetapi tetap
menjadi milik-Nya, suatu saat Tuhan akan mengambilnya kembali. Ruh (jiwa) memiliki potensi
yang unik dan amat luar biasa. Tetapi juga sangat rahasia dimana hanya Allah yang
mengetahuinya. Pada ruh inilah yang merupakan substansi kehidupan manusia. Kewajiban
manusia adalah memeliharanya dan menghormatinya, baik jiwanya sendiri maupun jiwa orang
lain. Syariat Islam melindungi kehormatan dan keberadaan jiwa itu. Bagi orang yang

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       40
melakukan pelanggaran diberlakukan sanksi berat. Allah swt. berfirman dalam QS. as-
Sajadah/32:9, QS. al-Isra’/17:31-33, QS. an-Nisa’/4:29 dan Q.S al-Baqarah/2:178-179.
     4. Hartanya. Tentang harta benda pada manusia, Islam mengajarkan dan mengaturnya
dengan prinsip-prinsip:
     Islam mengakui adanya hak milik baik individual maupun kooperatif.
     Allah swt. memerintahkan agar manusia mencari karunia dan rezki Allah dari bagian-
       bagian alam ini secara halal dan baik (thayyib).
     Pemanfaatan harta, tidak boleh menyengsarakan orang lain, dan juga tidak boleh
       digunakan secara mubazir dan berlebih-lebihan (israaf).
     Menghormati dan melindungi harta benda orang lain. Maka orang yang mengambil dan
       merampas milik orang lain secara batil, seperti: mencuri, korupsi, merampok, merampas
       itu wajib dipotong.
     Islam mengatur tentang perlindungan hak milik, pemanfaatan dan distribusinya. Harta
       benda harus berfungsi sosial, maka secara hukum ada distribusi yang bernilai
       wajib/fardhu dan ada yang bersifat sunnat. Seperti: zakat (mal dan fitrah), sadaqah,
       infaq, nafkah, wakaf dan hadiah. Bagi non-muslim, jizyah (pajak). Allah swt.
       menjelaskannya dalam QS. an-Nisa’/4:32 dan QS. al-Baqarah/2:188. (Dienul Islam, Cet.
       20, hal. 252-258)
     5. Keturunannya. Keturunan adalah prinsip Islam yang melekat pada bangunan keluarga.
Islam menetapkan pedoman pemeliharaan keluarga yang disebut “Al-Muhaafadzah ‘alal-
Usrah.” Substansi keluarga adalah batu sendi kehidupan masyarakat, kuat dan lemahnya
masyarakat atau ummat, terletak pada batu sendi primer ini. Dari keluargalah lahir keturunan.
Untuk itu, Islam memberikan tuntunan tentang :
     Cara memilih jodoh.
     Cara nikah dan tujuan nikah.
     Hubungan suami-istri, tentang kewajiban-kewajiban dan hak-hak masing-masing.
     Sistem pemeliharaan anak dan jaminannya.
     Sistem waris dari harta benda
     Larangan perbuatan zina dan sanksinya.
Allah swt. berfirman dalam QS. at-Tahrim/66:6, QS. an-Nisa/4:3-4 dan 9, QS. ar-Rum/30:21dan
QS. an-Nur/24:2-3.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       41
                                         BAGIAN V
                                       AGAMA ISLAM
A. Makna Agama Islam
       Berbicara masalah agama tidak terlepas dari masalah kehidupan manusia itu sendiri,
olehnya itu agama menjadi suatu kebutuhan hidup yan memiliki fungsi-fungsi seperti yang
dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut
     1. Mahmud Syaltut menyebutkan, bahwa fungsi agama adalah sebagai wahana untuk :
      Mensucikan jiwa dan membersihkan hati.
      Membentuk sikap patuh dan taat serta menimbulkan sikap dan perasaan
        mengagungkan Tuhan.
      Memberi pedoman kepada manusia dalam menciptakan kebaikan hidup di dunia
        secara mantap dengan cara memperat hubungan dengan Tuhan sebagai pencipta.
        (Mahmud Syaltut, Min taujihat al-Islam, hal. 22-23)
    2. Musthafa al-Zuhayli mengemukakan, bahwa fungsi agama yaitu:
      Sebagai pemenuhan kebutuhan rohani
      Sebagai motivasi dalam mencapai kemajuan
      Sebagai pedoman hidup
      Sebagai sarana pendidikan rohani
      Sebagai pembentukan keseimbangan jasmani dan rohani, duniawi dan ukhrawi
      Sebagai pembentukan kemantapan dan ketenangan jiwa (Al-Zuhayli, dalam al-
        tadaahmun al-Islam, Th.XXXIV, 1980, hal. 50)
    3. Al-Maraghi berpendapat, bahwa agama bertujuan untuk:
     Mensucikan jiwa dan membebaskan akal dari kepercayaan sinkritisme terhadap
         kekuatan ghaib yang dimiliki makhluk dalam menguasai alam agar makhluk atau
         selainnya tunduk dan patuh kepadanya.
     Memperbaiki sikap bathin (qalb) atas dasar tujuan yang baik, agar dalam melakukan
         semua perbuatan dilandasi dengan niat yang ikhlas untuk Allah dan untuk manusia.
         (Al-Maraghi, jld I, h. 118)
       Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat, dan patuh.
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran
untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kehidupan ummat manusia
pada khususnya, dan semua makhluk Allah pada umumnya. Kondisi itu akan terwujud apabila
manusia sebagai penerima amanah Allah dapat menjalankan aturan tersebut secara benar dan
“kaafah.”
       Agama Islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama, Nabi pertama,
yaitu Nabi Adam. Agama Islam itu kemudian Allah turunkan secara berkesinambungan kepada
para Nabi dan Rasul-rasul berikutnya. Akhir dari proses penurunan agama Islam itu baru terjadi
pada masa kerasulan Muhammad Saw pada awal abad ke-VII Masehi. Islam sebagai nama dari
agama yang Allah turunkan belum dinyatakan secara eksplisit pada masa kerasulan sebelum
Muhammad Saw, tetapi makna dan substansi ajarannya secara implicit memiliki persamaan
yang dapat dipahami dari pernyataan sikap para Rasul sebagaimana Allah firmankan dalam QS.
al-Baqarah: 132, yang artinya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-
anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        42
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama
Islam.” Ajaran agama Islam memiliki karakteristik sebagai berikut :
      1. Sesuai dengan fitrah hidup manusia, artinya (1) ajaran agama Islam mengandung
petunjuk yang sesuai dengan sifat dasar manusia, baik dari aspek keyakinan, perasaan,
maupun pemikiran, (2) sesuai dengan kebutuhan hidup manusia, (3) memberikan manfaat
tanpa menimbulkan komplikasi, dan (4) menempatkan manusia dalam posisi yang benar (QS.
ar-Rum/30:30).
      2. Ajarannya sempurna, artinya materi ajaran Islam berisis petunjuk-petunjuk pada
seluruh kehidupan manusia. Petunjuk itu adakalanya disebut secara eksplisit, dan adakalanya
disebut secara implisit. Untuk memahami petunjuk yang bersifat implisit dilakukan dengan
ijtihad (QS. al-Maidah/5:3).
      3. Kebenarannya mutlak. Kebenaran itu dapat dipahami karena ajaran Islam berasal dari
Allah Yang Maha Benar, dan dapat pula dipahami melalui bukti-bukti materiil, serta bukti
riilnya. Karena itu Allah mengingatkan agar manusia tidak meragukan kebenarannya (QS. al-
Baqarah/2:147).
      4. Mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Sekalipun menurut
ajaran Islam manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah, tetapi nilai ibadah
manusia terdapat pada seluruh aspek kehidupan, dan manusia harus memperhatikan berbagai
aspek-aspek kepentingan dalam hidupnya tersebut sebagaimana Allah sebutkan dalam QS. al-
Qashash/28:77.
      5. Fleksibel dan ringan, artinya ajaran Islam memperhatikan dan menghargai kondisi
masing-masing individu dalam menjalankan aturannya, dan tidak memaksakan orang Islam
untuk melakukan suatu perbuatan di luar batas kemampuannya. Hal itu ditegaskan oleh Allah
dalam QS. al-Baqarah/2:286.
      6. Berlaku secara universal, artinya ajaran Islam berlaku untuk seluruh ummat manusia di
dunia sampai akhir masa (QS. al-Ahzab/33:40).
      7. Sesuai dengan akal pikiran dan memotivasi manusia untuk menggunakan akal
pikirannya (QS. al-Mujadilah/58:11).
      8. Inti ajarannya “Tauhid” dan seluruh ajarannya mencerminkan ketauhidan Allah
tersebut (QS. al-An’am/6:162).
      9. Menciptakan rahmat, kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya, seperti ketenangan
hidup bagi orang yang meyakini dan menaatinya (QS. al-Fath/48:4). Kerahmatan yang
diwujudkan oleh Islam itu juga dinyatakan oleh Allah ketika menjelaskan missii kerasulan
Muhammad SAW (QS. al-Anbiya’/21:107).
       Fungsi Islam sebagai rahmat Allah tidak bergantung pada penerimaan atau penilaian
manusia. Substansi rahmat terletak pada fungsi ajaran tersebut, fungsi tersebut baru dirasakan
baik oleh manusia sendiri maupun oleh makhluk-makluk yang lain apabila manusia sebagai
pengemban amanah Allah telah menaati ajaran tersebut. Fungsi Islam sebagai rahmat Allah
bagi semua alam dijelaskan oleh Allah dalam QS. al-Anbiya’/21:107. Bentuk-bentuk
kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu adalah :
     1. Islam menunjuki manusia jalan hidup yang benar. Ajaran Islam sebagiannya bersifat
supra rasional atau ta’abbudi dan sebagian ajaran Islam yang lain bersifat rasional atau
ta’aqquli.



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        43
    2. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang
diberikan oleh Allah secara bertanggung jawab (QS. Yunus/10:99 dan QS. al-Baqarah/2:256).
    3. Islam menghargai dan menghormati semua manusia sebagai hamba Allah, baik mereka
muslim maupun non-muslim.
    4. Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan proporsional.
    5. Islam menghormati kondisi spesifik individu manusia dan memberikan perlakuan yang
spesifik pula.
B. Kerangka Dasar Agama Islam
       Kerangka dasar ajaran Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw. bersifat
multidimensional, universal, abadi dan fithri. Dikatakan multi dimensional karena ajarannya
mencakup dimensi-dimensi yang menyangkut hubungan manusia dengan khaliqnya (hablu
minallah) dan hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesamanya, maupun dengan
makhluk lainnya (hablu minannas) (QS. ali-Imran/3:112). Ajaran Islam ditujukan bagi
kepentingan pemeliharaan tatanan kehidupan manusia dan alam semesta secara menyeluruh
(universal), yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dinilai sebagai ajaran yang abadi, karena
dalam agama Islam terancang konsep ajaran yang mencakup penataan kehidupan di dunia
yang sejahtera dan kehidupan di akhirat (selepas kehidupan dunia) yang bahagia. Konsep
ajarannya dikatakan fithri, karena sesuai dengan fithrah manusia yang terancang secara serasi
bagi kepentingan pemeliharaan, peningkatan dan pengembangan kebutuhan fithrah manusia,
baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Pada sisi inilah keutamaan dan
kelebihan risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini ditunjang oleh kerangka
dasar atau pokok-pokok ajaran Islam, yaitu:
     1. Aspek keyakinan yang disebut dengan aqidah, yaitu aspek credial atau keimanan
terhadap Allah dan semua yang difirmankan-Nya dan disabdakan oleh rasul-Nya untuk
diyakini. Aqidah Islam ini telah dirumuskan dalam bentuk rukun iman. Penafsiran terhadap
aqidah melahirkan literatur keislaman yang dikenal dengan istilah ilmu kalam atau teologi
Islam dengan berbagai macam aliran pemikiran.
     2. Aspek norma atau hukum yang disebut syari’ah, yaitu aturan-aturan Allah yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta. Penafsiran
terhadap syariah Islam melahirkan literature keislaman yang disebut dengan fikhi Islam dengan
berbagai macam mazhab.
     3. Aspek perilaku yang disebut dengan akhlaq atau ihsan, yaitu sikap-sikap atau perilaku
baik yang nampak maupun tidak nampak dari pelaksanaan aqidah dan syari’ah. Penafsiran
terhadap akhlak melahirkan literature keislaman yang disebut dengan imu tasawauf dengan
berbagai macam aliran (tarekat).
       Ketiga aspek tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan dipisahkan satu dengan lainnya
tetapi menyatu membentuk kepribadian yang utuh pada diri setiap manusia muslim. Aqidah
digambarkan sebagai akar yang menunjang kokoh dan tegaknya batang di atas muka bumi,
syari’ah diumpamakan sebagai batang yang berdiri kokoh diatas akar yang menancap ke bumi,
sedangkan akhlaq dimisalkan dengan buah yang dihasilkan dari proses yang berlangsung pada
akar dan batang. Keutuhan dan kesatuan ketiga aspek inilah yang diperintahkan oleh Allah
kepada ummat Islam, ketika mereka mengikrarkan dirinya untuk memeluk agama Islam (QS.
al-Baqarah/2:208).


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          44
      Aqidah (keimanan) yang benar, akan melahirkan sikap kepatuhan pada ajaran dan
norma-norma yang telah digariskan dalam hukum (syari’ah), dan pelaksanaan norma dan
hukum tersebut yang didasari oleh aqidah yang benar, akan melahirkan perilaku zhahiriyah
dan bathiniyah yang sesuai dengan kaedah dan norma moralitas (akhlak).




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                  45
                                      BAGIAN VI
                          HUKUM ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA
A. Pengertian Hukum Islam, Ruang Lingkup, Dan Tujuannya
      1. Pengertian Hukum Islam
       Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang kini
terdapat dalam al-Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya melalui
sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadits. Dalam masyarakat
Indonesia berkembang berbagai macam istilah, dimana istilah satu dengan lainnya mempunyai
persamaan dan perbedaan. Istilah-istilah yang dimaksud adalah syari’at Islam, fikih Islam dan
hukum Islam. Di dalam kepustakaan hukum Islam berbahasa Inggris, syari’at Islam
diterjemahkan dengan Islamic Law, sedang fikih Islam diterjemahkan dengan Islamic
Jusrisprudence. Di dalam bahasa Indonesia, untuk syari’at Islam sering dipergunakan istilah
hukum syari’at atau hukum syara’, sedang untuk fikih Islam dipergunakan istilah hukum fikih
atau kadang-kadang hukum Islam. Dalam praktek sering kali kedua istilah itu dirangkum dalam
kata hukum Islam, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud. Hal ini dapat dipahami karena
keduanya sangat erat hubungannya, dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
       Syari’at merupakan landasan fikih, dan fikih merupakan pemahaman orang yang
memenuhi syarat tentang syari’at. Oleh karena itu, seseorang yang akan memahami hukum
Islam dengan baik dan benar harus dapat membedakan antara syari’at Islam dengan fikih
Islam. Pada pokoknya perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut :
     a. Syari’at terdapat di dalam al-Qur’an dan kitab-kitab hadits. Kalau kita berbicara
tentang syari’ah yang dimaksud adalah wahyu Allah dan sunnah Nabi Muhammad sebagai
rasul-Nya. Fikih terdapat dalam kitab-kitab fikih. Kalau kita berbicara tentang fikih, yang
dimaksud adalah pemahaman manusia yang memenuhi syarat tentang syari’at dan hasil
pemahaman itu.
     b. Syari’at bersifat fundamental, mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dari fikih,
berlaku abadi dan menunjukkan kesatuan dalam Islam. Sedangkan fikih bersifat instrumental,
ruang lingkupnya terbatas pada hukum yang mengatur perbuatan manusia, yang biasanya
disebut sebagai perbuatan hukum.
     c. Syari’at adalah ketetapan Allah dan ketentuan rasul-Nya, karena itu berlaku abadi;
fikih adalah karya manusia yang tidak berlaku abadi, dapat berubah dari masa ke masa.
     d. Syari’at hanya satu, sedang fikih mungkin lebih dari satu, seperti misalnya terlihat pada
aliran-aliran hukum yang disebut dengan istilah mazahib atau mazhab-mazhab.
     e. Syariat menunjukkan kesatuan dalam Islam, sedangkan fikih menunjukkan
keragamannya (H.M. Rasjidi, 1958:403; Asaf A.A. Fyzee, 1955:17).
       Hukum Islam baik dalam pengertian syariat maupun fikih dibagi ke dalam dua bagian
besar, yaitu ibadah dan muamalah. Ibadah adalah tata cara dan upacara yang wajib dilakukan
seorang muslim dalam berhubungan dengan Allah. Ketentuannya telah diatur dengan pasti
oleh Allah dan dijelaskan oleh rasul-Nya. Dengan demikian tidak mungkin ada proses yang
membawa perombakan dan perubahan secara asasi mengenai hukum, susunan dan tata cara
ibadah itu sendiri. Yang mungkin berubah hanyalah pengertian yang luas adalah ketetapan
Allah yang langsung berhubungan dengan kehidupan sosial manusia walaupun ketetapan
tersebut terbatas pada yang pokok-pokok saja. Oleh karena itu sifatnya terbuka untuk


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           46
dikembangkan melalui ijtihad manusia yang memenuhi syarat untuk melakukan usaha itu.
(Mohammad Daud Ali/1999:49).
     2. Ruang Lingkup Hukum Islam
       Hukum Islam tidak membedakan hukum perdata dengan hukum publik seperti halnya
hukum barat. Hal ini disebabkan karena menurut hukum Islam pada hukum perdata terdapat
segi-segi publik dan pada hukum publik ada segi-segi perdatanya. Dalam hukum Islam yang
dibutuhkan hanya bagian-bagiannya saja. Menurut H. M. Rasyidi bagian hukum Islam adalah :
     a. Munaakahat
     b. al-ahkam as-sulthaniyah (khilafah),
     c. wiratsah
     d. siayah
     e. muamalat dalam arti khusus
     f. mukhassamat
     g. jinayat atau ukubat (H. M. Rasyidi/1980:25-26)
       Apabila bagian-bagian hukum Islam tersebut disusun menurut sistematika hukum Barat
yang membedakan antara hukum publik dan hukum perdata, maka yang termasuk dalam
hukum perdata Islam adalah:
     a. Munaakahat, yakni hukum yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan
perkawinan, perceraian serat akibat-akibatnya.
     b. Wiratsah, mengatur segala masalah yang berhubungan dengan pewaris, ahli waris,
harta peninggalan serta pembagian warisan. Hukum kewarisan ini juga disebut fara’id.
     c. Muamalat dalam arti khusus, yakni hukum yang mengatur masalah kebendaan dan
hak-hak atas benda, tata hubungan manusia dalam soal jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-
meminjam, perserikatan dan sebagainya.
Adapun yang termasuk dalam hukum publik Islam adalah :
     a. Jinayat, memuat aturan-aturan mengenai perbuatan-perbuatan yang diancam dengan
hukuman baik dalam jarimah hudud (perbuatan pidana yang telah ditentukan bentuk dan
batas hukumannya dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad) maupun jarimah ta’sir
(perbuatan pidana yang bentuk dan batas hukumannya ditentukan oleh penguasa sebagai
pelajaran bagi pelakunya).
     b. al-ahkam as-sulthaniyah, yakni hukum yang mengatur soal-soal yang berhubungan
dengan kepala negara, pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun daerah, tentara, pajak
dan sebagainya.
     c. Siyasah, yakni hukum yang mengatur urusan perang dan damai, tata hubungan dengan
pemeluk agama dan negara lain.
     d. Mukhassamat, mengatur peradilan, kehakiman dan hukum acara. (Mohammad Daud
Ali/1999:51-52)
       Dari hal-hal yang sudah dikemukakan jelas bahwa hukum Islam itu luas, bahkan luasnya
hukum Islam tersebut masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan aspek-aspek yang
berkembang dalam masyarakat yang belum dirumuskan oleh para fukaha (para yuris Islam) di
masa lampau seperti hukum bedah mayat, hukum bayi tabung, keluarga berencana, hukum
bunga bank, euthanasia dan lain sebagainya serta berbagai aspek kehidupan lainnya dapat
merupakan hukum Islam apabila sudah dirumuskan oleh para ahli hukum Islam melalui sumber
hukum Islam yang ketiga yaitu ar-ra’yu dengan menggunakan ijtihad.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     47
       Sebagai hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, hukum Islam telah
menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Penelitian
yang dilakuakn secara nasional oleh Universitas Indonesia dan BPHN (1977/1978)
menunjukkan dengan jelas kecenderungan ummat Islam Indonesia untuk kembali ke identitas
dirinya sebagai muslimin dengan mentaati dan melaksanakan hukum Islam.
       Kecenderungan ini oleh Pendidikan Agama Islam yang melaksanakan hukum Islam yang
setelah tahun enam puluhan diwajibkan di sekolah-sekolah di bawah naungan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional), maraknya
kehidupan beragama Islam di Indonesia setelah tahun 1966 terutama dan perkembangan
global kebangkitan ummat Islam di seluruh dunia. Selain dari itu perkembangan hukum Islam
di Indonesia ditunjang pula oleh sikap pemerintah terhadap hukum agama (hukum Islam) yang
dipergunakan sebagai sarana atau alat untuk memperlancar pelaksanaan kebijaksanaan
pemerintah, misalnya dalam program Keluarga Berencana dan program-program lainnya.
Setelah Indonesia merdeka, muncul pemikir hukum Islam terkemuka di Indonesia seperti
Hazairan dan Hasbi As-Shiddiqie, mereka berbicara tentang pengembangan dan pembaharuan
hukum Islam bidang muamalah di Indonesia. Hasbi misalnya menghendaki fikih Islam dengan
pembentukan fikih Indonesia (1962). Syarifuddin Prawiranegara (1967) mengemukakan idenya
pengembangan sistem ekonomi Islam yang diatur menurut hukum Islam. Gagasan ini
kemudian melahirkan bank Islam dalam bentuk Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 1992
yang beroperasi menurut prinsip-prinsip hukum Islam dalam pinjam-meminjam, jual beli,
sewa-menyewa dan sebagainya dengan mengindahkan hukum dan peraturan perbankan yang
berlaku di Indonesia.
       Kontribusi ummat Islam dalam perumusan dan penegakan hukum pada akhir-akhir ini
semakin nampak jelas dengan diundangkannya beberapa peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan hukum Islam, misalnya
     a. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan;
     b. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik;
     c. UU Republik Indonesia No. 7 Tahun 1989 tentang peradilan agama;
     d. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang kompilasi hukum Islam;
     e. UU Republik Indonesia No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat; dan
     f. UU Republik Indonesia Tahun 1999 tentang penyelenggaraan zakat.
     3. Tujuan Hukum Islam
       Adapun tujuan hukum Islam secara umum adalah untuk mencegah kerusakan pada
manusia dan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka serta mengarahkan kepada kebenaran
untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di akhirat kelak, dengan jalan
mengambil segala yang bermanfaat dan mencegah atau menolak yang mudharat, yaitu yang
tidak berguna bagi hidup dan kehidupan manusia. Abu Ishaq Al-Shatibi merumuskan lima
tujuan hukum Islam yang kemudian disepakati oleh para ahli hukum Islam, yaitu :
     a. Memelihara agama. Agama adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap manusia
supaya martabatnya dapat terangkat lebih tinggi dari martabat makhluk lain dan memenuhi
hajat jiwanya. Beragama merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi, karena
agamalah yang dapat menyentu hati nurani manusia. Agama Islam harus terpeliahara dari
ancaman orang-orang yang akan merusak akidah, syari’ah dan akhlak atau
mencampuradukkan ajaran agama Islam dengan paham atau aliran yang batil. Agama Islam

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                   48
memberi perlindungan kepada pemeluk agama lain untuk menjalankan agama sesuai dengan
keyakinannya. Agama Islam tidak memaksakan pemeluk agama lain meninggalkan agamanya
untuk memeluk agama Islam (QS. al-Baqarah/2:256).
     b. Memelihara jiwa. Menurut hukum Islam jiwa harus dilindungi. Untuk itu hukum Islam
wajib memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan hidupnya. Hukum Islam
melarang pembunuhan sebagai upaya menghilangkan jiwa manusia dan melindungi berbagai
sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk mempertahankan kemaslahatan hidupnya.
     c. Memelihara akal. Menurut hukum Islam seseorang wajib memelihara akalnya, karena
akal mempunyai peranan sangat penting dalam hidup dan kehidupan manusia. Dengan
akalnya manusia dapat memahami wahyu Allah baik yang terdapat dalam kitab suci maupun
wahyu Allah yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah. Dengan akalnya manusia dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seseorang tidak akan mampu menjalankan
hukum Islam dengan baik dan benar tanpa mempergunakan akal yang sehat. Oleh karena itu,
pemeliharaan akal merupakan salah satu tujuan hukum Islam. Untuk itu hukum Islam
melarang orang meminum-minuman yang memabukkan yang disebut dengan istilah khamar
dan memberi hukuman pada perbuatan orang yang merusak akal (QS. al-Maidah/5:90).
     d. Memelihara keturunan. Dalam hukum Islam, memelihara keturunan adalah hal yang
sangat penting. Maka dalam hukum Islam, untuk meneruskan keturunan harus melalui
perkawinan yang sah menurut ketentuan- ketentuan yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah.
Hukum kekeluargaan dan hukum kewarisan Islam yang ada dalam al-Qur’an merupakan
hukum yang erat kaitannya dengan pemurnian keturunan dan pemeliharaan keturunan. Dalam
al-Qur’an hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah perkawinan dan kewarisan
disebutkan secara tegas dan rinci seperti larangan-larangan perkawinan. Hal ini dijelaskan
dalam QS. an-Nisa’/4:23.
     e. Memelihara harta. Menurut hukum Islam harta merupakan pemberian Allah kepada
manusia untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya, untuk itu manusia sebagai khalifah
Allah di bumi (makhluk yang diberi amanah oleh Allah untuk mengelola alam ini sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki) dilindungi haknya untuk memperoleh harta dengan cara-cara yang
halal artinya sah menurut hukum dan benar menurut ukuran moral. Pada prinsipnya hukum
Islam tidak mengakui hak milik seseorang atas sesuatu benda secara mutlak, karena pemilikan
atas suatu benda hanya ada pada Allah, namun karena diperlukan adanya kepastian hukum
dalam masyarakat, untuk menjamin kedamaian dalam kehidupan bersama, maka hak milik
seseorang atas suatu benda diakui dengan pengertian bahwa hak milik itu harus diperoleh
secara halal dan berfungsi sosial. (Anwar Haryono/1968:140). Jika diperhatikan dengan
sungguh-sungguh hukum Islam ditetapkan oleh Allah adalah untuk memenuhi keperluan hidup
manusia itu sendiri, baik keperluan hidup yang bersifat primer, sekunder maupun tersier
(Juhaya S. Praja/1988:196). Oleh karena itu, apabila seorang muslim mengikuti ketentuan-
ketentuan yang ditetapkan Allah, maka ia akan selamat baik dalam hidupnya di dunia maupun
di akhirat kelak.
B. Hak Asasi Manusia Menurut Islam
      Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati dianugerahi hak dasar
yang disebut hak asasi, tanpa perbedaan antara satu dengan lainnya. Dengan hak asasi
tersebut, manusia dapat mengembangkan diri pribadi, peranan, dan sumbangannya bagi


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     49
kesejahteraan hidup manusia. Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan suatu hak dasar yang
melekat pada diri tiap manusia.
       Ada perbedaan prinsip antara hak-hak asasi manusia dilihat dari sudut pandangan Islam
dan Barat. Hak asasi manusia menurut pandangan Islam bersifat teosentris, artinya segala
sesuatu berpusat kepada Tuhan. Dengan demikian Tuhan sangat dipentingkan. Sebaliknya,
hak-hak asasi manusia menurut pandangan Barat semata-mata bersifat antroposentris, artinya
segala sesuatu berpusat kepada manusia. Dengan demikian manusia sangat sipentingkan.
Dalam hubungan ini, A.K Brohi menyatakan: “Berbeda dengan pendekatan Barat, strategi Islam
sangat mementingkan penghargaan kepada hak-hak asasi dan kemerdekaan dasar manusia
sebagai sebuah aspek kualitas dari kesadaran keagamaan yang terpatri di dalam hati, pikiran
dan jiwa penganut-penganutnya. Perspektif Islam sungguh-sungguh bersifat teosentris (Altaf
Gauhar, 1983:198)
       Pemikiran Barat menempatkan manusia pada posisi bahwa manusialah yang menjadi
tolak ukur segala sesuatu, maka di dalam Islam melalui firman-Nya, Allahlah yang menjadi
tolak ukur segala sesuatu, sedangkan manusia adalah ciptaan Allah untuk mengabdi kepada-
Nya. Di sinilah letak perbedaan yang fundamental antara hak-hak asasi manusia menurut pola
pemikran Barat dengan hak-hak asasi menurut pola ajaran Islam. Makna teosentris bagi orang
Islam adalah manusia pertama-tama harus meyakini ajaran pokok Islam yang dirumuskan
dalam dua kalimat syahadat yakni pengakuan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan-Nya. Barulah setelah itu manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, menurut
isi keyakinannya itu. (Mohammad Daud Ali, 1995: 304).
       Dari uraian tersebut di atas, sepintas lalu nampak bahwa seakan-akan dalam Islam
manusia tidak mempunyai hak-hak asasi. Dalam konsep Islam seseorang hanya mempunyai
kewajiban-kewajiban atau tugas-tugas kepada Allah karena ia harus mematuhi hukum-Nya.
Namun secara paradoks, di dalam tugas-tugas inilah terletak semua hak dan kemerdekaannya.
Menurut ajaran Islam, manusia mengakui hak-hak dari manusia lain, karena hal ini merupakan
kewajiban yang dibebankan oleh hukum agama untuk mematuhi Allah (Altaf Gauhar,
1982:204). Oleh karena itu, hak asasi manusia adalah hak-hak itu dilandasi kewajiban azasi
manusia untuk mengabdi kepada Allah sebagai penciptanya.
       Kewajiban yang diperintahkan kepada kepada manusia dapat dibagi dalam dua kategori,
yaitu huquuqullah dan huquuqul ‘Ibad. Huquuqullah (hak-hak Allah) adalah kewajiban-
kewajiban manusia terhadap Allah swt. yang diwujudkan dalam berbagai ritual ibadah,
sedangkan huquuqul ‘ibad (hak-hak manusia) adalah merupakan kewajiban-kewajiban
manusia terhadap sesamanya dan terhadap makhluk Allah lainnya. Hak-hak Allah tidak berarti
bahwa hak-hak yang diminta oleh Allah karena bermanfaat bagi Allah, tetapi hak-hak Allah
adalah bersesuaian dengan hak-hak makhluk-Nya (Syaukat Husain, 1996:54).
C. Sumber Hukum Islam
      Menurut al-Qur’an surat an-Nisa’/4:59, setiap muslim wajib menaati kemauan atau
kehendak Allah, rasul dan ulil amri (penguasa). Kehendak Allah yang berupa ketetapan
tersebut kini tertulis dalam al-Qur’an, kehendak Rasulullah terhimpun dalam kitab-kitab hadits,
kehendak penguasa termaktub dalam kitab-kitab fikih. Yang dimaksud penguasa dalam hal ini
adalah orang-orang yang memenuhi syarat untuk berijtihad karena kekuasaan berupa ilmu
pengetahuan untuk mengalirkan ajaran hukum Islam dari dua sumber utamanya yaitu al-
Qur’an dan kitab-kitab hadits. Yang ditetapkan Allah dalam al-Qur’an tersebut kemudian

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         50
dirumuskan dengan jelas dalam percakapan antara Nabi Muhammad dengan salah seorang
sahabatnya yang akan ditugaskan untuk menjadi gubernur di Yaman. Sebelum Mu’az bin Jabal
berangkat ke Yaman, Nabi Muhammad memuji dengan menanyakan sumber hukum yang akan
dia pergunakan untuk menyelesaikan masalah atau sengketa yang dia hadapi di daerah yang
baru itu. Pertanyaan itu dijawab oleh Mu’az bahwa dia akan menggunakan al-Qur’an.
       Jawaban itu kemudian disusul oleh nabi Muhammad dengan pertanyaan berikutnya:
“Jika tidak terdapat petunjuk khusus (mengenai suatu masalah) dalam al-Qur’an bagaimana?”
Mu’az menjawab: Saya akan mencarinya dalam sunnah nabi Muhammad.” Kemudian nabi
bertanya: “Kalau engkau tidak menemukan petunjuk pemecahannya dalam sunnah nabi
Muhammad, bagaimana?” Kemudian Mu’az menjawab: “Jika demikian, saya akan berusaha
sendiri mencari sumber pemecahannya dengan mempergunakan akal saya dan akan mengikuti
pendapat saya itu.” Nabi sangat senang atas jawaban Mu’az itu dan berkata: “Aku bersyukur
kepada Allah yang telah menuntun utusan rasul-Nya.” (H.M. Rasyidi/1980:456)
       Dari hadits yang dikemukakan, para ulama menyimpulkan bahwa hukum Islam ada tiga,
yaitu al-Qur’an, as-Sunnah dan akal pikiran orang yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Akal
pikiran ini dalam keputusan hukum Islam diistilahkan dengan al-ra’yu yakni pendapat
seseorang yang memenuhi syarat untuk menentukan nilai dan norma pengukur tingkah laku
manusia dalam segala kehidupan. Ketiga sumber itu merupakan rangkaian kesatuan dengan
urutan seperti yang sudah disebutkan. al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan sumber utama
ajaran Islam, sedangkan al-ra’yu merupakan sumber ketiga atau sumber pengembangan.
     1. Al-Qur’an
       Sumber ajaran Islam adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad
saw. Wahyu Allah itu diturunkan dalam bahasa Arab dan secara autentik terhimpun dalam
mushaf al-Qur’an. Kata al-Qur’an menurut bahasa berarti bacaan atau yang dibaca. Dalam ini
terkandung makna bahwa wahyu Allah yang diturunkan secara lisan ini membuka
kemungkinan untuk ditulis dan dikumpulkan sehingga menjadi kitab yang dapat dibaca
manusia. Al-Qur’an adalah kitab suci yang demikian masyhur telah dikemukakan berbagai
Ulama Tafsir, diantaranya :
     a. Dr. Dawud Al-Aththar (1979), menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad secara lafadz (lisan) maka serta gaya bahasa (usulan)-nya
yang termaktub dalam mushaf yang dinukil darinya secara mutawatir.
     b. Tim penerjemah/penafsir al-Qur’an : “Kalam Allah swt. yang merupakan mu’jizat yang
diturunkan (diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. dan yang ditulis di mushaf dan
diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.” (Al-Qur’an dan
terjemahnya; hal.15, th. 1971)
Al-Qur’an sebagai sumber aqidah, norma dan nilai, mengandung pokok-pokok ajaran sebagai
berikut:

     a. Pokok-pokok keyakinan atau iman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-
rasul dan hari kiamat. Dari pokok-pokok yang terkandung dalam al-Qur’an ini lahirlah ilmu
tauhid Theology Islam).
     b. Pokok-pokok peraturan hukum, yaitu garis-garis besar aturan tentang hubungan
dengan Allah, antara manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam yang
melahirkan syari’at, hukum dan ilmu fikhi.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       51
     c. Pokok-pokok dan aturan tingkah laku atau nilai-nilai dalam etika tingkah laku.
     d. Petunjuk dasar tentang tanda-tanda alam yang menunjukkan eksistensi dan kebesaran
Tuhan sebagai pencipta. Petunjuk dasar ini merupakan isyarat-isyarat ilmiah yang melahirkan
ilmu pengetahuan.
     e. Kisah-kisah para nabi dan ummat terdahulu.
     f. Informasi tentang alam ghaib seperti adanya jin, kiamat, surga dan neraka.

        Secara umum al-Qur’an membawa dua fungsi utama yaitu sebagai mukjizat dan
pedoman dasar ajaran Islam. Mukjizat menurut bahasa berarti melemahkan, sedangkan
menurut kamus bahasa Indonesia mukjizat artinya kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar
dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Al-Qur’an sebagai mukjizat menjadi bukti kebenaran
Muhammad selaku utusan Allah yang membawa misi universal, risalah akhir dan syari’ah yang
sempurna bagi manusia. Untuk itu Allah menurunkan dengan bahasa kandungan makna,
hukum dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya unsur-unsur mukjizat menjadi dalil
atau argumentasi yang mampu melemahkan segala argumen dan mematahkan segala dalil
yang dibuat manusia untuk mengingkari kebenaran Rasulullah saw. Dalam kaitan ini Allah
berfirman dalam QS. al-Baqarah/2:23 yang artinya : “ Dan jika kamu tetap dalam keraguan
tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat
saja yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu
orang-orang yang benar.”
        Tantangan tersebut berlaku sejak diturunkannya dahulu, sekarang hingga masa yang
akan datang. Allah sendiri memberikan garansi bahwa siapapun bahkan sekiranya manusia dan
jin berserikat membuat al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan mampu membuatnya.(QS. al-
Isra’/17:78).
        Kemukjizatan al-Qur’an meliputi beberapa aspek :
      a. Bahasa al-Qur’an. Keistimewaan bahasa al-Qur’an terletak pada gaya
pengungkapannya antara lain kelembutan dalam jalinan huruf dan kata dengan lainnya.
Susunan huruf-huruf kata-kata al-Qur’an terajut secara teratur sehingga menjelma menjadi
ayat-ayat yang indah untuk dibaca dan diucapkan. Keindahan bahasa al-Qur’an ini
menjadikannya mukjizat sehingga apabila ada kata-kata manusia yang disisipkan kedalamnya,
maka akan rusaklah keindahannya. Karena itu upaya-upaya untuk memalsukan ayat-ayat al-
Qur’an tidak pernah berhasil. Keistimewaan lainnya dari bahasa adalah adanya keserasian
bahasa al-Qur’an dengan akal dan perasaan manusia. Al-Qur’an menggabungkan kebenaran
dan keindahan sehingga menyentuh akal dan hati manusia sekaligus. (QS. Fush Shilat/41:39).
Selain itu pengubahan kata yang dinamis menjadi bukti lain dari keistimewaan bahasa al-
Qur’an. Misalnya gaya al-Qur’an dalam menyajikan perintah dan larangan. Firman Allah: (QS.
an-Nisa/4:58, QS. al-Baqarah/2:183, QS. ali-Imran/3:97, QS. al-A’raaf/7:33, QS. al-
Mumtahanah/60:89).
      b. Sejarah. Kedudukan pesan, proses, dan ketabahan para Rasul Allah mulai dari Adam
hingga Isa serta kondisi ummat yang dihadapi mereka, yang tidak dapat ditemukan ilmu
sejarah, dikisahkan oleh al-Qur’an. Selain kisah para Rasul Allah, al-Qur’an juga menceritakan
kisah-kisah beberapa kaum dan perorangan yang menonjol pada masanya guna menjadi
pelajaran bagi kaum sesudahnya. Sejarah kuno tentang peradaban manusia itu tidak mungkin
datang kecuali dari Tuhan semesta alam. Itulah sejarah tua yang membuktikan kebenaran al-
Qur’an sebagai wahyu Allah.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        52
     c. Isyarat tentang ilmu pengetahuan. Al-Qur’an bercerita mengenai hukum-hukum dalam
ala mini (sunnatullah) diterangkan berbagai persoalan biologi, farmasi, astronomi dan
geografis. Misalnya tentang kejadian alam, QS. al-Anbiya’/21:30. Fungsi matahari sebagai
pelita dan bulan cahaya, QS. an-Nur/71:15-16. Bintang yang menembus, QS. ath-Thariq/86:1-3.
Fungsi gunung sebagai pasak bagi keseimbangan bumi, QS. an-Naba’/78:6-7. Fungsi sperma
dalam kaitan kemungkinan jenis kelamin, QS. an-Najm/53:45-46. Segala sesuatu di alam ini
merupakan refleksi dan manifestasi dari adanya Allah dengan segala sifat kesempurnannya.
Karena itu, manusia tidak akan habis-habisnya mengagumi dan mengambil pelajaran dan
ibarat yang bermanfaat daripadanya (QS. al-Mulk:3-4 dan QS. ar-Rum:22). Isyarat demi isyarat
yang ditunjukkan al-Qur’an mengenai sains telah terbukti shahih, mendapat konfirmasi peneliti
ilmu pengetahuan modern.
     d. Konsistensi ajaran selama proses penurunan yang panjang al-Qur’an diturunkan secara
bertahap selama kurun waktu 23 tahun. Rentang waktu itu bukanlah waktu yang pendek. Ini
menjadi bukti tersendiri akan kebenaran Muhammad selaku Rasulullah. Sekiranya al-Qur’an
merupakan pokok pikiran Nabi, maka norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung di dalam
al-Qur’an pastilah saling bertentangan. Demikianlah konsistensi doktrin al-Qur’an selama
proses penurunannya menjadi dalil yang meneguhkan keberadaan Muhammad selaku
Rasulullah dan kebenaran risalah yang dibawahnya. Dalam kaitan ini Allah berfirman dalam QS.
an-Nisa’/4:82.
     e. Nabi Muhammad saw. yang Ummi. Muhammad saw. adalah seorang dari umumnya
masyarakat di kala itu yang ummi, yaitu tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi beliau
dikenal oleh masyarakat luas, lantaran pribadinya yang mulia sehingga menjadi daya tarik yang
amat luar biasa. Beliau amat populer karena kejujurannya, dan pada posisi lain juga populer
dari segi keummiannya. Amat menakjubkan karena kemukjizatan beliau menjadi personifikasi
al-Qur’an (QS. al-Ankabut/29:48).
     2. As-Sunnah
       Sunnah adalah sumber Islam yang kedua, dipakai sebagai dalil hukum. Apabila suatu
hukum ditetapkan berdasarkan sunnah, maksudnya adalah dasar ketetapan hukum tersebut
ialah keterangan dari Nabi Muhammad saw., berupa ucapan (sunnah qaulyah), perbuatan
(sunnah fi’liyah), dan keizinannya (sunnah taqririyah). Sunnah sebagai sumber Islam dan dalil
hukum sesudah al-Qur’an, ditetapkan sendiri oleh al-Qur’an (QS. an-Nisa’/4:59, QS. al-
Hasyr/59:7). Nabi Muhammad sebagai rasul diberi tugas untuk membacakan dan mengajarkan
wahyu kepada manusia serta memberi contoh penerapannya. Posisi as-Sunnah dalam Syariat
Islam, dilihat dari hierarki sumber hukum Islam, as-Sunnah menempati urutan kedua setelah
al-Qur’an. Dilihat dari segi periwayatannya, al-Qur’an bersifat qath’il wurud, sementara As-
Sunnah bersifat zhanni al-wurud. Sunnah terbagi dua, yaitu Sunnah Tasyri’ dan Ghairu Tasyri’.
Semua informasi yang menyangkut Rasulullah itu, baik ucapan, perbuatan maupun
ketetapannya dikelompokkan ke dalam beberapa bagian :
     a. Bersifat al-hajah al-basyariyah (kebutuhan yang bersifat kemanusiaan) seperti makan
dan minum.
     b. Mencerminkan tradisi pribadi dan masyarakat, seperti urusan pertanian dan
pengobatan.
     c. Pengaturan urusan tertentu seperti bertempur dan berperang.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       53
     Tiga persoalan di atas bukan tasyri’ (ghairu tasyri’) dan tidak juga menjadi sumber tasyri’.
Karena itu, perilaku nabi dan kebijakan beliau dalam hal-hal di atas tidak termasuk kategori
sunnah yang mempunyai fungsi hukum dan tidak mengikat kaum muslimin secara umum.
     d. Bersifat Tasyri’, membentuk hukum. Ketentuan yang bersifat tasyri’ meliputi tiga hal,
yaitu :
             1) Merupakan pengejawantahan dari misi kerasulan, seperti penjabaran al-
Qur’an yang, meliputi lafadz mujmah (yang perlu perincian), pengkhususan pada lafadz’am
(umum), pengikat lafadz mutlak (yang bermakna lepas), dan penjelasan aspek ibadah yang
meliputi perkara-perkara yang halal dan haram, aqidah dan akhlak. Jenis ini merupakan tasyri’
yang universal.
             2) Aturan yang berkaitan dengan Imamah (kepemimpinan) dan tadbir
(pengurusan) yang bersifat umum untuk kepentingan jamaah, seperti pengutusan pasukan
perang, penetapan arah penggunaan distribusi harta dan baitul-mal, dan ganimah (rampasan
perang), serta pembuatan akad perdamaian. Ini termasuk tasyri’ yang bersifat khusus.
             3) Keputusan-keputusan rasul dalam kedudukan beliau sebagai hakim atas kasus
yang terjadi pada saat itu. Jenis inipun termasuk tasyri’ yang tidak umum.
Kedudukan as-Sunnah terhadap al-Qur’an pada garis besarnya terbagi tiga :
     a. As-Sunnah sebagai penguat al-Qur’an, yaitu sunnah berfungsi sebagai penganut pesan-
pesan atau peraturan yang tersirat dalam ayat-ayat al-Qur’an, misalnya al-Qur’an
menyebutkan suatu kewajiban dan larangan, lalu rasul dalam Sunnahnya menguatkan
kewajiban dan larangan tersebut. Dalam menguatkan pesan-pesan al-Qur’an, as-Sunnah
berperan antara lain :
             1) Menegaskan kedudukan hukum, seperti penyebutan hukum wajib.
             2) Menerangkan posisi kewajiban atau larangan dalam syari’at.
             3) Menjalaskan sanksi hukum bagi pelanggarnya.
     b. As-Sunnah sebagai penjelasan al-Qur’an, yaitu as-Sunnah memberikan penjelasan
terhadap maksud ayat al-Qur’an antara lain :
             1) Menjelaskan makna-makna yang rumit dari ayat-ayat al-Qur’an, misalnya
firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2:238, as-Sunnah menjelaskan bahwa yang dimaksud shalat
wusta adalah shalat Ashar.
             2) Mengikat makna-makna yang bersifat lepas (taqyid al-mutlaqa) dari ayat-ayat
al-Qur’an, misalnya : QS. al-Maidah/5:38. Pengertian tahan (yad) bersifat lepas (mutlak). Untuk
itu as-Sunnah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tangan itu adalah pergelangan
tangan.
             3) Mengkhususkan ketetapan-ketetapan al-Qur’an secara umum (takhsish al’am),
misalnya : QS. al-Baqarah /2:275. Jual beli dalam ayat di atas bersifat umum kemudian As-
Sunnah mengkhususkan : Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Rasulullah saw melarang jual beli
dengan lempar batu dan jual beli yang tidak tentu.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
             4) Menjelaskan ruang lingkup masalah yang terkandung dalam nas-nas al-Qur’an.
QS. ali-Imran/3:97. Ayat tersebut tidak menjelaskan berapa kali kewajiban haji dikerjakan.
“Kewajiban haji itu hanya sekali. Barang siapa yang menambah maka tambahan itu termasuk
satu kewajiban.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dari Ibnu Abbas)




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           54
            5) Menjelaskan mekanisme dari hukum-hukum yang ditetapkan al-Qur’an.
Misalnya tentang tata cara shalat, haji dan puasa yang dijelaskan rasul tentang
pelakasanaanya.
    c. As-Sunnah sebagai pembuat hukum, yaitu sunnah menetapkan hukum-hukum yang
belum ditetapkan oleh al-Qur’an menyebutkan beberapa macam makanan yang haram. (QS.
al-Maidah/5:3). Kemudian as-Sunnah datang dengan ketetapan yang baru, menambah jumlah
barang yang dilarang dimakan sebagai berikut : Dari Ibnu Abbas, ia berkata : ”Rasulullah
melarang (memakan) setiap binatang buas yang bertaring dan burung yang berkaki
menyambar.” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas).

      3. Ijtihad
        Ijtihad adalah aktivitas penelitian ilmiah karena itu bersifat relative. Realitas ijtihad ini
menjadikannya sumber nilai yang bersifat dinamis. Pintu ijtihad selalu terbuka, termasuk
membuka kembali fiqh-fiqh prosuk Ijtihad lama. Yusuf Qardawi menyatakan bahwa terdapat
dua agenda besar ijtihad yang dituntut oleh peradaban modern ini, yakni ijtihad di bidang
hubungan keuangan dan ekonomi, serta bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran. Ijma’
ulama (consensus), mengatakan bahwa ijtihad tidak boleh memasuki dimensi ibadah mahdhah
seperti shalat.
        Dasar Ijtihad adalah al-Qur’an, dimana manusia diperintahkan menggunakan akal,
pikiran dan pancaindera. Sebagian ulama menunjuk pada QS. al-Maidah/5:48 : “Untuk tiap
orang dari kaum, Kami telah ciptakan suatu syari’at dan satu jalan terbuka.” Jalan terbuka
(minhajan) dipahami sebagai jalan terbuka bagi intelektual muslim.
Metode ijtihad yang dinilai valid antara lain :
      a. Qiyas (reasoning by analogi), yaitu menerapkan hukum perbuatan lain yang memiliki
kesamaan. Misalnya al-Qur’an melarang jual beli ketika Jum’at (QS. al-Jumu’ah/62:9) dan
hukum perbuatan selain dagang juga terlarang, karena sama-sama mengganggu shalat Jum’at.
      b. Masalihul Mursalah, yaitu menetapkan hukum berdasarkan tinjauan kegunaan sesuai
dengan tujuan syari’at. Perbedaannya dengan istihsan adalah jika istihsan menggunakan
konsiderasi hukum-hukum universal dari al-Qur’an dan as-Sunnah atau menggunakan dalil-
dalil umum dari kedua sumber tersebut, sedangkan masalihul mursalan menitik beratkan
kepada pemanfaatan perbuatan dan kaitannya dengan tujuan universal syari’at Islam.
D. Fungsi Hukum Islam Dalam Kehidupan Bermasyarakat
      Fungsi hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya cukup
banyak, namun dalam pembahasan ini hanya akan dikemukakan fungsi utamanya saja, yaitu:
     1. fungsi ibadah. Fungsi paling utama hukum Islam adalah untuk beribadah kepada Allah
SWT;
     2. fungsi amar ma’ruf nahi munkar,
     3. fungsi zawajir;
     4. fungsi tanzim wa islah al-ummah.
      Fungsi hukum Islam selanjutnya adalah sebagai sarana untuk mengatur sebaik mungkin
dan memperlancar proses interaksi sosial, sehingga terwujudlah masyarakat yang harmonis,
aman, dan sejahtera (Ibrahim Hosen, 1996:90).
E. Kontribusi Ummat Islam Dalam Perumusan Dan Penegakan Hukum


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                               55
      Kontribusi ummat Islam dalam perumusan dan penegakan hukum pada akhir-akhir ini
semakin nampak jelas dengan diundangkannya beberapa peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan hukum Islam, misalnya :
     1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan;
     2. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang perwakafan tanah milik;
     3. Undang Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1989 tentang peradilan agama;
     4. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang kompilasi hukum Islam;
     5. Undang Undang Republik Indonesia No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat;
dan
     6. UU Republik Indonesia Tahun 1999 tentang penyelenggaraan zakat.
      Namun upaya yang harus dilakukan untuk menegakkan hukum Islam dalam praktik
bermasyarakat dan bernegara memang harus melalui proses, yaitu proses cultural dan
dakwah. Apabila hukum Islam sudah bermasyarakat, maka sebagai konsekuensinya hukum
harus ditegakkan. Di dalam negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kebebasan
mengeluarkan pendapat ini diperlukan untuk mengembangkan pemikiran hukum Islam yang
betul-betul teruji, baik dari segi pemahaman maupun dalam segi pengembangannya. Dalam
ajaran islam ditetapkan bahwa ummat Islam mempunyai kewajiban untuk menaati hukum
yang ditetapkan Allah. Masalahnya kemudian, bagaimanakah sesuatu yang wajib menurut
hukum Islam menjadi wajib pula menurut peraturan perundang-undangan. Hal ini jelas
diperlukan proses dan waktu untuk merealisasikannya.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                56
                                         BAGIAN VII
                                 ETIKA, MORAL DAN AKHLAK
A. Pengertian Etika Moral Dan Akhlak
     1. Akhlak
       Kata akhlak berasal dari bahasa Arab bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti.
Perkataan budi berasal dari bahasa Sansekerta budh yang berarti kesadaran. Kata pekerti
berasal dari bahasa Indonesia yang berarti kelakuan.
     a. Menurut Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Ihya-u ‘Ulumuddin” Juz III hal. 52. Khuluq
(perangai) ialah suatu sifat yang tetap pada jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-
perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pertimbangan pikiran.
     b. Menurut Ahmad Amin dalam bukunya Al-Akhlaq: Khuluq ialah membiasakan
kehendak.
      2. Moral dan Etika
        Kata moral berasal dari bahasa latin mos, jamaknya adalah mores yang berarti
kebiasaan. Kata etika berasal dari bahasa Yunani etos berarti kebiasaan, perasaan batin atau
kecenderungan hati di mana seseorang melakukan perbuatan (Filsafat Moral, 1989:9). Jadi
moral hanya dikaitkan pada kelakuan lahir manusia, sedang etika tidak hanya pada kelakuan
lahir akan tetapi lebih mendalam sampai kepada motivasi-motivasi kelakuan lahir.
        Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, maka yang dijadikan standar baik
dan buruk adalah akal manusia. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk yang
diterima oleh utusan atau masyarakat, maka yang dijadikan standar baik dan buruk adalah
adat istiadat. Dengan demikian etika adalah penyelidikan filsafat tentang bidang yang
mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tentang yang baik dan buruk. Bidang itulah yang
disebut moral (Etika Umum, 1985:13).
Pengertian etika dan moral menurut istilah.
      a. Menurut Austan Fagothey dalam bukunya “Right and Reason, Ethics in Theory and
Practice.” Ethics is the practical normative science of the rightness and wrongness of human
conduct as known by natural reason. Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang praktis
mengenai kelakuan benar dan tidak benar manusia yang dimengerti oleh akal murni.
      b. Menurut Ensiklopedi Umum: Morality is right living virtue, conformity to generally
accepted standard of conduct. Moral adalah kehidupan yang benar dan baik, pengesahan dan
penerimaan secara umum tentang ukuran dasar tingkah laku.
        Dari ketiga istilah di atas (akhlak, moral dan etika) memiliki persamaan yaitu
membicarakan persoalan baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Perbedaannya antara lain:
      1. Sumber akhlak adalah Al-Qur’an dan sunnah rasul, sedangkan moral dan etika adalah
adat istiadat dan filsafat.
      2. Akhlak bersifat absolut, sedangkan moral dan etika bersifat relatif.
B. Karakteristik Akhlak
    1. Akhlak adalah salah satu kerangka dasar Islam yang termuat dalam kitab suci Al-
Qur’an.
    2. Akhlak bersifat universal dan absolut. Bahwa nilai-nilai baik dan buruk daripada suatu
perbuatan yang termuat dalam Al-Qur’an dan sunnah berlaku bagi seluruh manusia. Kapan
dan dimanapun serta kebenarannya bersifat absolut.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          57
     3. Akhlak menuntut bagi pelakunya untuk senantiasa ikhlas melaksanakan hak-hak yang
harus diberikan kepada yang berhak. Melakukan kewajiban terhadap sesama manusia yang
menjadi hak manusia lainnya, melakukan kewajiban terhadap alam dan lingkungannya.
     4. Dalam ilmu etika “Kebaikan Tertinggi” yang istilah latinnya disebut “Summum Bonum”
(Al-Khair Kully) merupakan tujuan akhir dari semua manusia. Kebaikan tertinggi itu adalah
semuanya ingin baik dan bahagia (QS. Al-Baqarah/2:148). Kebaikan yang berhubungan dengan
tujuan ini dapat dibedakan dengan kebaikan sebagai tujuan akhir (Summum Bonum) dan
kebaikan sebagai cara atau sarana untuk sampai kepada tujuan akhir tersebut.
       Di dalam akhlak, antara baik sebagai tujuan sementara harus sejalan dengan baik
sebagai tujuan akhir. Artinya cara satu garis mencapai tujuan-tujuan itu berada dalam satu
garis lurus yaitu berdasarkan satu norma. Di samping baik juga harus benar.
C. Hubungan Tasawuf Dengan Akhlak
       Tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara menyucikan hati
(tashfiat al-qalbi). Hati yang suci bukan hanya biasa dekat dengan Tuhan melainkan dapat juga
melihat Tuhan (al-ma’rifah). Dalam tasawuf disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Suci tidak
dapat didekati kecuali oleh hati yang suci. Menurut Zun Nun al-Misri, ada tiga macam
pengetahuan tentang Tuhan, yaitu :
     1. Pengetahuan awam : Tuhan satu dengan perantara ucapan syahadat.
     2. Pengetahuan ulama : Tuhan satu menurut logika akal.
     3. Pengetahuan kaum sufi : Tuhan satu dengan perantara hati sanubari.
       Pengetahuan yang disebut pertama dan kedua menurut Harun Nasution, belum
merupakan pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Keduanya masih disebut ilmu. Pengetahuan
dalam arti ketigalah yang merupakan pengetahuan hakiki tentang Tuhan (ma’rifah). Telah
dijelaskan bahwa akhlak adalah gambaran hati (al-qalb) yang daripadanya timbul perbuatan-
perbuatan. Jika hatinya bersih dan suci maka yang akan keluar adalah perbuatan-perbuatan
yang baik (akhlak al-mahmudah) dan sebaliknya jika hatinya kotor dengan dosa-dosa dan sifat-
sifat yang buruk maka yang akan muncul dalam perilakunya adalah akhlak yang buruk (akhlak
al-mazmumah).
       Kalau ilmu akhlak menjelaskan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk juga
bagaimana mengubah akhlak buruk agar menjadi baik secara zahiriah yakni dengan cara-cara
yang nampak seperti keilmuan, keteladanan, pembiasaan, dan lain-lain maka ilmu tasawuf
menerangkan bagaimana cara mensucikan hati (tashfiat al-qalb), agar setelah hatinya suci
yang muncul dari perilakunya adalah akhlak al-karimah. Perbaikan akhlak menurut ilmu
tasawuf, harus berawal dari penyucian hati. Persoalan yang mengemuka kemudian adalah
bagaimana cara mensucikan hati dalam tasawuf? Metode tasfiat al-qalb, dalam pendapat para
sufi adalah dengan menjauhi larangan Tuhan (ijtinab al-manhiyyah), melaksanakan kewajiban-
kewajiban Tuhan (adaa al-wajibat), melakukan hal-hal yang disunatkan (al-naafilaat), dan al-
riyadhah. Riyadhah artinya latihan spiritual sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw.,
sebab yang mengotori hati manusia adalah kemaksiatan-kemaksiatan yang diperbuat akibat
lengah dari bujukan nafsu dan godaan syaitan. Kata para sufi, keadaan hati itu ada tiga macam.
Pertama, hati yang mati yaitu hatinya orang kafir. Kedua, hati yang hidup yaitu hatinya orang
yang beriman. Ketiga, hati yang kadang-kadang hidup dan kadang-kadang mati, itulah hatinya
orang fasik dan munafik. Yang harus diperjuangkan adalah bagaimana agar hati kita istiqamah
dalam kehidupan ini.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        58
D. Aktualisasi Akhlak Dalam Kehidupan
      Kedudukan akhlak dalam agama Islam adalah identik dengan pelaksanaan agama Islam
itu sendiri dalam segala bidang kehidupan. Maka pelaksanaan akhlak yang mulia adalah
melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi segala larangan-larangan dalam agama, baik
yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan makhluknya, dirinya
sendiri, orang lain dan lingkungannya dengan sebaik-baiknya, seakan-akan melihat Allah dan
apabila tidak bisa melihat Allah maka harus yakin bahwa Allah selalu melihatnya sehingga
perbuatan itu benar-benar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Akhlak yang perlu
diaktualisasikan dalam kehidupan adalah sebagai berikut:
    1. Akhlak kepada Allah swt. meliputi:
        a. Mentauhidkan Allah swt. (QS. Al-Ikhlas/112:1-4)
        b. Beribadah kepada Allah swt. (QS. Adz-Dzaariyat/51:56)
        c. Berdzikir kepada Allah swt. (QS. Ar- Ra’d/13:28)
        d. Tawakkal kepada Allah swt. (QS. Hud/111:123)
    2. Akhlak terhadap manusia:
        a. Akhlak terhadap diri sendiri, meliputi:
            Sabar (QS. Al-Baqarah/2:153)
            Syukur (QS. An-Nahl/16:14)
            Tawaddu (QS. Luqman/31:18
            Iffah, yaitu mensucikan diri dari perbuatan terlarang (QS. Al-Isra/17:26)
            Amanah (QS. An-Nisa/14:58)
            Yajaah (QS. Al-Anfaal/18:15-16)
            Qanaah (QS. Al-Isra/17:26)
        b. Akhlak terhadap kedua orang tua (QS. Al-Isra/17:23-24)
        c. Akhlak terhadap keluarga, yaitu mengembangkan kasih sayang, keadilan dan
           perhatian. (QS. An-Nahl/16:90 dan QS. At-Tahrim/66:6)
        d. Akhlak terhadap tetangga (QS. An-Nisa/4:36)
    3. Akhlak terhadap lingkungan
      Berakhlak terhadap lingkungan hidup adalah di mana manusia menjalin dan
mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya. Allah menyediakan
kekayaan alam yang melimpah hendaknya disikapi dengan cara mengambil dan memberi dari
dan kepada alam serta tidak dibenarkan segala bentuk perbuatan yang merusak alam. Maka
alam yang terkelola dengan baik dapat memberi manfaat yang berlipat ganda, sebaliknya alam
yang dibiarkan merana dan diambil manfaatnya saja justru mendatangkan malapetaka bagi
manusia. (QS. Al-Qashash/28:77, QS. ar-Rum/30:41, dan QS. Hud/11:61)




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    59
                                   BAGIAN VIII
                 ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN SENI DALAM ISLAM
A. Pengertian Imu Pengetahuan Teknologi dan Seni Dalam Islam dan Sumbernya
      1. Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Seni
Pengetahuan yang dimiliki manusia ada dua jenis, yaitu:
      a. Dari luar manusia, ialah wahyu, yang hanya diyakini bagi mereka yang beriman kepada
          Allah swt. Ilmu dari wahyu diterima dengan yakin, sifatnya mutlak.
      b. Dari dalam diri manusia, dibagi dalam tiga kategori: pengetahuan
          (knowledge/kenneis), ilmu pengetahuan (watenschap/science) dan filsafat. Ilmu dari
          manusia diterima dengan kritis, sifatnya nisbi.
        Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber Islam yang isi keterangannya mutlak (absolut)
dan wajib diyakini (QS. Al-Baqarah/2:1-5 dan QS. An-Najm/53:3-4).
Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan oleh para filosuf, ilmuwan
dan budayawan seolah-olah mereka mempunyai definisi masing-masing sesuai dengan apa
yang mereka senangi.
        Sains diindonesiakan menjadi ilmu pengetahuan sedangkan dalam sudut pandang
filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya. Pengetahuan adalah segala
sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi dan firasat sedangkan,
ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan
diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat
diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis kata ilmu berarti kejelasan, oleh karena itu segala
yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan.
        Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini
digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan sehingga
memperoleh kejelasan. Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu
bidang kajian. Sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis,
sedangkan orang yang banyak tahu tetapi tidak mendalam disebut generalis. Karena
keterbatasan kemampuan manusia, maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai
beberapa ilmu secara mendalam.
        Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya,
teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu
pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan
netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk
merusak dan potensi kekuasaan. Di sinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan
teknologi.
        Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi
manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan
dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta.
Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan
manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri.
        Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni
merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          60
dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan
kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian.
       Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga muncul sifat-
sifat keindahan dalam pandangan manusia secara umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang
lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan
akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang
kematangan jiwanya terus bertambah. Dalam pemikiran sekuler perennial knowledge yang
bersumber dari wahyu Allah tidak diakui sebagai ilmu, bahkan mereka mempertentangkan
antara wahyu dengan akal, agama dipertentangkan dengan ilmu. Sedangkan dalam ajaran
Islam wahyu dan akal, agama dan ilmu harus sejalan tidak boleh dipertentangkan. Memang
demikian adanya karena hakikat agama adalah membimbing dan mengarahkan akal.
    2. Sumber Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni
      Dalam pemikiran Islam, ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak
boleh dipertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya
berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam
ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) tingkat kebenarannya bersifat mutlak, karena
bersumber dari Allah. Ada pula ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat
kebenarannya bersifat nisbi, karena bersumber dari akal pikiran manusia .
B. Integrasi Iman, Ilmu Dan Amal
        Menurut Islam, ilmu pada hakekatnya tidak bersifat dikotomik seperti :
ilmu agama-ilmu umum, ulama-intelektual, madrasah-sekolah, santri-pelajar dan sebagainya.
Menurut Al-Qur’an, dua ayat Allah dihadapkan kepada manusia:
     1. Ayat al-kauniyah (alam semesta dan manusia: individu, komunal dan temporalnya)
     2. Ayat al-qauliyah (Al-Qur’an dan sunnah rasul)
        Interpretasi manusia terhadap fenomena kauniyah melahirkan ilmu pengetahuan:
biologi, fisika, kimia, sosiologi, antropologi, komunikasi, ilmu politik, sejarah dan lain-lain.
Interpretasi manusia terhadap fenomena qauliyah melahirkan pemahaman agama (actual).
Kebenaran hakiki dan sumber ilmu ialah pada Allah swt. Ilmu harus difungsikan sesuai dengan
petunjuk Allah swt. (QS. Fushshilat/41:53 dan QS. Ali-Imran/3:164).
        Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni terdapat
hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi dalam suatu sistem yang disebut
Dienul Islam. Didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah, syari’ah dan akhlak,
dengan kata lain iman, ilmu dan amal shaleh/ikhsan, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-
Qur’an S.Ibrahim/14:24-25
        Ayat di atas menganalogikan bangunan Dienul Islam bagaikan sebatang pohon yang
baik, iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam.
Ilmu diidentikkan dengan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan/cabang-cabang ilmu
pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni.
        Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut
tidak dibangun di atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Sama halnya pengembangan ipteks
yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan
menghasilkan kemaslahatan bagi ummat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan
menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri. Ilmu-ilmu yang dikembangkan atas dasar


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          61
keimanan dan ketakwaan kepada Allah s.w.t, akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi
kehidupan ummat manusia termasuk bagi lingkungannya (QS. Al-Mujadalah/58:11).
C. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam Dan Lingkungan
       Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan
sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi dari abdun adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan
kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab
terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
       Dalam konteks 'abdun, manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. Posisi ini
memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya.
Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta akan menghilangkan
rasa syukur atas anugerah yang diberikan sang pencipta berupa potensi yang sempurna yang
tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu potensi akal. Dengan hilangnya rasa syukur
mengakibatkan ia menghambakan diri kepada hawa nafsunya. Keikhlasan manusia
menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah penghambaan manusia kepada sesama
manusia termasuk pada dirinya.
       Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada
ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik (QS. Asy-Syams/91:8). Dengan kedua
kecenderungan tersebut, Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia
untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang
selalu didorong oleh nafsu amarah.
       Fungsi yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Manusia diberikan
kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya
dengan sebesar-besar kemanfaatan untuk kehidupan ummat manusia dengan tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, karena alam diciptakan untuk kehidupan
manusia sendiri. Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang memadai. Tanpa menguasai Ilmu Pengetahuan Teknologi dan
Seni, fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan manusia akan
tetap terbelakang. Allah menciptakan alam, karena Allah menciptakan manusia. Seandainya
Allah tidak menciptakan manusia, maka Allah tidak perlu menciptakan alam. Oleh karena itu,
manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan
keseimbangannya untuk kepentingan ummat manusia. Kalau terjadi kerusakan alam dan
lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri. Mereka tidak menjaga
amanat Allah sebagai khalifah (QS. Ar-Rum/30:41).




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      62
                                      BAGIAN IX
                         ISLAM DAN PLURALITAS (KEMAJEMUKAN)
A. Pluralitas (Kemajemukan) Dalam Ajaran Islam
     1. Pengertian
       Kata pluralitas secara generik mengandung makna kejamakan atau kemajemukan.
Pluralitas merupakan salah satu tema diskursus intelektual yang sangat intens
diperbincangkan. Sebagian pandangan menunjukkan; bahwa pluralitas dipahami sebagai faktor
yang dapat menimbulkan konflik-konflik sosial, baik dilatarbelakangi oleh pemahaman dan
kepentingan keagamaan serta supermasi budaya kelompok masyarakat tertentu. Pandangan
inilah yang kemudian secara ekstrim menolak pluralitas-pluralisme dan menitikberatkan pada
keseragaman mutlak. Pandangan yang demikian dapat dilihat pada totaliterisme Barat yang
diwakili oleh Uni Soviet. Pandangan lainnya adalah, pandangan yang menerima secara mutlak
gagasan pluralitas-pluralisme. Pandangan ini menganggap pluralitas sebagai suatu bentuk
kebebasan individu yang tidak ada keseragaman sedikitpun. Hal ini dapat dilihat dalam
pandangan liberalisme Barat. Lalu bagaimana dengan pandangan Islam tentang pluralitas-
pluralisme, apakah Islam sejalan dengan pandangan yang pertama, ataukah yang kedua, dan
ataukah ia berbeda dengan keduanya dan memiliki pandangan tersendiri?
       Diskursus lain yang juga memperoleh perhatian serius oleh para pemikir kekinian,
sebagai perkembangan lebih lanjut dari kajian pluralitas-pluralisme- adalah pengkajian tentang
multikultural-multikulturalisme. Kajian multikultural ini tampaknya menarik, disebabkan oleh
munculnya pemikiran kritis sosial yang mencoba mempertanyakan kembali nilai kemanusiaan
dalam setiap praktek hidup keberagamaan. Pertanyaan kritis ini muncul sebagai kritik terhadap
fenomena keberagamaan di tengah perubahan sosial ekonomi dan politik, yang kemudian
lebih banyak tidak menguntungkan kelompok masyarakat kecil. Ini salah satu bentuk kritik
Nietzschian yang kemudian memunculkan tesis kematian Tuhan dan kemudian mendorong
munculnya gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin.
       Pengkajian terhadap multikultural-multikulturalisme juga lahir dari fakta tentang
perbedaan masyarakat yang bersumber dari tradisi, bahasa, pandangan hidup, keberagamaan,
etnis, budaya, latar belakang kehidupan. Fenomena yang demikian memunculkan kesadaran
dan tata nilai yang berbeda dan sering kali menjadi pemicu munculnya konflik-konflik sosial
yang tajam, baik konflik sosial internal teritoril kesatuan negara bangsa dan internasional.
Konflik sosial-politik yang tajam dan sering kali dibarengi dengan kekerasan ini, diakibatkan
oleh sikap arogansi manusia yang cenderung memandang diri lebih baik, lebih benar, lebih
berkuasa dan lebih berhak berkembang untuk menguasai bumi dibanding pihak lain. Tegasnya,
gejala sosial-politik menjadi dasar pentingnya pengkajian multikultural, untuk kemudian
dikembangkan dan dijadikan sebagai jalan untuk menjawab dan memberikan solusi dari
konflik-konflik sosial-politik baik dalam skala nasional maupun internasional.
     2. Implikasi Tauhid Terhadap Pluralitas Agama
       Alquran berbicara tentang fenomena pluralitas agama-agama dan multikultural. Alquran
adalah kitab samawi yang diturunkan terakhir dan diwahyukan kepada penutup para Nabi dan
rasul yaitu Muhammad saw. Turunnya Alquran berfungsi sebagai mushaddiq (pembenaran)
bagi kitab-kitab terdahulu. Dengan demikian, kedatangan Alquran bukan sebagai pembatal
kitab-kitab sebelumnya tetapi lebih sebagai pembenaran tentang inti ajaran Tuhan yang

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        63
diturunkan kepada para rasul dan nabi sebelumnya. Di sisi lain, Alquran juga berfungsi sebagai
muhaimin (penguji) dan furqan (pengoreksi) atas penyimpangan yang terjadi dari penganut
kitab-kitab tersebut. Dari sini dapat ditegaskan bahwa esensi dan subtansi ajaran Alquran sama
dengan ajaran kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya, seperti
Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil dan suhuf-suhuf.
       Esensi ajarannya adalah tauhid. Para nabi dan rasul Allah yang diutus kepada ummat
manusia, semuanya membawa ajaran tauhid, termasuk inti ajaran yang dibawa oleh Nabi
Muhammad saw. seperti termuat di dalam Alquran. Itulah sebabnya Nabi Muhammad
diperintahkan untuk beriman kepada kitab yang telah diturunkan oleh Allah sebelum Alquran,
seperti ditegaskan dalam QS. Asyuura (42): 15: “…Katakanlah (Muhammad): Aku beriman
kepada semua kitab yang telah diturunkan oleh Allah….”
       Di awal kehidupan Nabi Muhammad saw. hingga akhir kehidupannya benar-benar
menyakini bahwa kitab-kitab suci yang terdahulu adalah berasal dari Allah dan yang
menyampaikannya adalah para Nabi dan Rasul Allah. Dengan demikian, tidak heran jika
Muhammad sebagai nabi terakhir mengakui kenabian dan kerasulan Ibrahim as., Musa as., Isa
as., Nuh as., dan para nabi lainnya. Penyikapan yang demikian semakin kuat pada diri Nabi
Muhammad setelah tampak bahwa para pengikut kitab-kitab suci terdahulu ada yang beriman
kepada Alquran dan kepada kenabiannya, seperti Waraqa bin Naufal yang telah mengetahui
akan datangnya seorang nabi yang ciri-cirinya seperti yang ia baca dalam Kitab Injil.
       Fenomena Waraqa ini merupakan salah satu bukti bahwa kedatangan Muhammad
sebagai Nabi dan Rasul yang membawa kitab Alquran sudah menjadi harapan dan keinginan
sebagian orang yang telah memiliki kitab sebelumnya. Hal ini ditegaskan di dalam QS. Asy-
Syu’ara (26): 192-197: “Sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam. Dia dibawa turun oeh Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hati Muhammad agar menjadi salah
seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. Dan
sesungguhnya Alquran itu benar-benar tersebut dalam kitab-kitab yang dahulu. Dan apakah
tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?”
       Jika ayat di atas dihubungkan dengan kandungan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya
dalam surah yang sama, maka dapat dijelaskan bahwa ketika Alquran disampaikan kepada
masyarakat Makkah -sebagai kelompok manusia yang pertama bersentuhan dengan Alquran-,
maka sebagian mereka menyakini kebenaran Alquran dan kebanyakan mereka menjadi
kelompok kontra Alquran. Bahkan sikap kontra mereka sangat cepat datangnya. Fenomena
yang demikian itu tidak saja dialami oleh Muhammad saw ketika Alquran disampaikannya,
tetapi setiap nabi dan rasul yang diutus Allah menyampaikan risalahnya maka manusia yang
menjadi obyek risalah tersebut akan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok yang
menerima risalah dan kelompok kontra risalah. Keterangan ini dapat dilihat dalam QS. 26: 69-
191.
       Kandungan ayat-ayat pada surah 26 tersebut berisi kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh as.,
Nabi Hud as., Nabi Shaleh as., Nabi Nabi Luth as., dan Nabi Syuaib as. dengan kaum mereka
masing-masing. Sebagian kaum para nabi tersebut menjadi kelompok pengikut risalah rasul
mereka masing-masing dan kebanyakan kaum tersebut menjadi kelompok kontra risalah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap ummat yang disampaikan padanya risalah
Tuhan melalui nabi dan rasul yang diutus kepada mereka, maka ummat tersebut akan terpecah



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        64
menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok pengikut risalah dan kelompok kontra risalah.
Dalam konteks ini QS.al-Baqarah (2): 213: menjelaskan bahwa:
       “Pada awalnya manusia adalah ummat yang satu. Lalu Allah mengutus para Nabi-Nya
kepada mereka sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan lewat kitab yang
berisi kebenaran. Dengan kitab itu pulalah diputuskan perkara-perkara yang mereka
perselisihkan. Namun ummat tersebut berselisih tentang kitab yang diturunkan kepada
mereka, hanya karena keingkaran di antara mereka. Allah memberi petunjuk kepada mereka
yang beriman kepada kebenaran kitab yang diturunkan kepada mereka, berupa jalan lurus
dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara mereka.”
       Di sisi lain, dapat pula dikatakan bahwa keingkaran mereka terhadap kitab yang
diturunkan kepada mereka disebabkan karena kecintaan mereka terhadap dunia. Hal ini
dipahami dari perpautan ayat 213 dengan ayat 212 dalam surah yang sama. Di mana ayat 212
menegaskan bahwa kehidupan dunia bagi kelompok sungguh sangat indah dan mereka
memandang hina orang-orang beriman … Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa para nabi
dan rasul yang diutus berhadap-hadapan dengan pluralitas sosial-budaya dan sosial politik dan
tentunya pluralitas agama. Jadi ketika para nabi dan rasul diutus kepada suatu ummat, ummat
tersebut tidaklah hampa budaya tetapi padanya hidup dan berkembang pluralitas sosial-
budaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian dari kelompok ummat tersebut ada yang
tetap berusaha berpegang pada ajaran para nabi dan rasulnya dan sebagian lainnya melenceng
dari ajaran nabi dan rasulnya. Kelompok pertama inilah yang kemudian senantiasa berharap
agar Allah mengutus kembali seorang nabi dan rasul untuk memurnikan ajaran para nabi dan
rasul sebelumnya. Ketika Allah pun mengutus nabi dan atau rasul yang baru (dan memang
sebelum pengutusannya sering kali telah diinformasikan dalam kitab sebelumnya), maka
kelompok inilah yang kemudian beriman dan menyakini rasul tersebut dan kitabnya. Sedang
kelompok kedua yakni kelompok kontra risalah, yaitu ketika Allah mengutus nabi dan rasul
baru pada mereka, mereka pun bersikap kontra terhadap rasul dan kitab yang baru tersebut.
B. Konsep Ukhuwah Dalam Islam
     1. Ukhuwah Islamiyah
       Kata ukhuwah berarti persaudaraan, maksudnya perasaan simpati dan empati antara
dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama,
baik suka maupun duka, baik senang maupun sedih. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap
timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan dan sikap untuk saling
membagi kesenangan kepada pihak lain bila salah satu pihak menemukan kesenangan.
Ukhuwah atau persaudaraan berlaku sesama ummat Islam, yang disebut ukhuwah Islamiyah
dan berlaku pula pada semua ummat manusia secara universal tanpa membedakan agama,
suku dan aspek-aspek kekhususan lainnya, yang disebut ukhuwah Insaniyah. Persaudaraan
sesama muslim, berarti saling menghargai relativitas masing-masing sebagai sifat dasar
kemanusiaan, seperti perbedaan pemikiran, sehingga tidak menjadi penghalang untuk saling
membantu atau menolong karena di antara mereka terikat oleh satu keyakinan dan jalan
hidup, yaitu Islam. Agama Islam memberikan petunjuk yang jelas untuk menjaga agar
persaudaraan sesama muslim itu dapat terjalin dengan kokoh sebagaimana disebutkan dalam
QS. Al-Hujurat/49:10-12.
    2. Ukhuwah Insaniyah

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       65
       Konsep persaudaraan sesama manusia, ukhuwah insaniyah dilandasi oleh ajaran bahwa
semua ummat manusia adalah makhluk Allah. Sekalipun Allah memberikan petunjuk
kebenaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan kebebasan kepada setiap
manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan rasionya. Karena itu sejak awal penciptaan,
Allah tidak menetapkan manusia sebagai satu ummat, padahal Allah bisa bila mau. Itulah fitrah
manusia (QS. Al-Maidah/5:48). Prinsip kebebasan itu menghalangi pemaksaan suatu agama
oleh otoritas manusia manapun, bahkan rasul pun dilarang melakukannya, sebagaimana
firman Allah dalam QS. Yunus/10:99 dan QS. Al-Baqarah/2:256. Perbedaan agama yang terjadi
di antara ummat manusia merupakan konsekuensi dari kebebasan yang diberikan oleh Allah,
maka perbedaan agama itu tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk saling berinteraksi
sosial dan saling membantu, sepanjang masih dalam kawasan kemanusiaan.
C. Kebersamaan Ummat Beragama Dalam Kehidupan Sosial
     1. Pandangan Agama Islam Terhadap Ummat Non-Islam
       Dari segi akidah, setiap orang yang tidak mau menerima Islam sebagai agamanya disebut
kafir atau nonmuslim. Kata kafir berarti orang yang menolak, yang tidak mau menerima atau
menaati aturan Allah yang diwujudkan kepada manusia melalui ajaran Islam. Sikap kufur,
penolakan terhadap perintah Allah pertama kali ditunjukkan oleh iblis ketika diperintahkan
untuk sujud kepada Adam a.s. (QS. Al-Baqarah/2:34).
       Ketika Rasulullah saw. mulai menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat Arab,
sebahagian dari mereka ada yang mau menerima dan sebahagiannya menolak. Orang yang
menolak ajaran Rasulullah tersebut disebut kafir. Mereka terdiri orang-orang musyrik yang
menyembah berhala yang disebut orang Watsani, orang-orang ahli kitab baik Yahudi maupun
Nasrani. Diantara orang-orang kafir tersebut ada yang mengganggu, menyakiti dan memusuhi
orang Islam dan ada pula hidup rukun bersama orang Islam. Orang kafir yang mengganggu
disebut kafir harbi dan orang kafir yang hidup rukun disebut kafir dzimmi, mereka inilah yang
mengadakan perjanjian atau menjadi tanggungan orang Islam untuk menjaga keselamatan
atau keamanannya. Dalam konteks negara Islam, mereka wajib membayar jizyah (QS.At-
Taubah/9:29).
     2. Tanggung Jawab Sosial Ummat Islam
       Ummat Islam adala ummat yang terbaik yang diciptakan Allah dalam kehidupan dunia
ini (QS. Ali Imran/3:110). Kebaikan ummat Islam bukan sekedar simbolik, karena telah
mengikrarkan keyakinan Allah swt. sebagai Tuhannya dan Muhammad saw sebagai Rasulullah,
tetapi karena identifikasi sebagai muslim memberikan konsekuensi untuk menunjukkan
komitmennya dalam beribadah kepada Allah. Dalam Al-Qur’an kedua komitmen itu disebut
“hablun minallah wa hablun minannaas “. Bentuk tanggung jawab sosial ummat Islam meliputi
berbagai aspek kehidupan, diantaranya adalah:
     a. Menjalin silaturahmi dengan tetangga.
     b. Memberikan infak sebagian dari harta yang dimiliki, baik yang wajib maupun yang
         sunnah dalam bentuk sedekah (QS. Ibrahim/14:7).
     c. Menjenguk bila ada anggota masyarakat yang sakit dan ta’ziah bila ada anggota
         masyarakat yang meninggal dengan mengantarkan jenazahnya sampai di kubur.
     d. Memberi bantuan menurut kemampuan bila ada anggota masyarakat yang
         memerlukan bantuan.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       66
    e. Penyusunan sistem sosial yang efektif dan efisien untuk membangun masyarakat, baik
       mental spiritual maupun fisik material.
     3. Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
      Amar ma’ruf dan nahi munkar artinya memerintahkan orang lain untuk berbuat baik
dan mencegah perbuatan jahat. Sikap amar ma’ruf dan nahi munkar akan efektif apabila orang
yang melakukannya juga memberi contoh. Karena itu diperlukan kesiapan secara sistematik
dan melibatkan kelompok orang dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan secara
terorganisasi (QS. Ali-Imran/3:104). Di samping sistem dan sarana pendukung, amar ma’ruf
dan nahi munkar juga memerlukan kebijakan dalam bertindak. Karena itu Rasulullah
memberikan tiga tingkatan, yaitu: menggunakan tangan atau kekuasaan apabila mampu,
menggunakan lisan dan dalam hati apabila langkah pertama dan kedua tidak memungkinkan.
Bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar yang tersistem diantaranya adalah mendirikan masjid,
menyelenggarakan pengajian, mendirikan lembaga pendidikan Islam, mendirikan pesantren
dan lain-lain. Sebagai agama yang universal dan komprehensif, Islam mengandung ajaran yang
integral dalam berbagai aspek kehidupan ummat manusia. Islam tidak hanya mengajarkan
tentang akidah dan ibadah semata, tetapi Islam juga mengandung ajaran di bidang ipteks dan
bidang-bidang kehidupan lainnya.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    67
                                   BAGIAN X
                   MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMMAT
A. Konsep Masyarakat Madani
       Masyarakat madani secara harfiah berarti masyarakat kota yang sudah tersentuh oleh
peradaban maju atau disebut juga civil society (masyarakat sipil). Pada zaman Yunani terdapat
negara-negara kota seperti Athena dan Sparta disebut Sivitas Dei, suatu kota Ilahi dengan
peradaban yang tinggi. Masyarakat beradab lawan dari pada masyarakat komunitas yang
masih liar.
       Adapun masyarakat madani berasal dari bahasa Arab zaman Rasulullah saw. yang
artinya juga sama dengan masyarakat kota yang sudah disentuh oleh peradaban baru (maju),
lawan dari masyarakat madani adalah masyarakat atau komunitas yang masih mengembara
yang disebut badawah atau pengembara (badui). Ada yang menyamakan makna masyarakat
madani sama saja dengan Civil Society, tentu saja ada persamaannya, tetapi juga ada
perbedaan, keduanya sama jika dilihat dari sudut makna sivis, manusia beradab yang
menjunjung tinggi azas persamaan setiap warga walaupun warga itu memiliki perbedaan
dalam agama kepercayaan, bahasa dan kebudayaannya. Masyarakat madani zaman rasul
dengan Sivil Society dalam zaman modern keduanya berbeda antara lain dari segi pandangan
dunianya, seperti diperlihatkan sejarah perkembangannya dari Sivitas Dei (kota Ilahi) ke Sivil
Society.
       Dunia barat mengalami kegagalan dalam menghadapi pemecahan ketegangan antara
pusat keagamaan (gereja) yang sarat dengan perbuatan magis religius, upacara-upacara ritual,
takhyul dan lain-lainnya dengan kaisar yang penuh dengan martabat duniawi (kekuasaan)
kekuatan dan benda-benda kehidupan sekuler, keduanya dengan Herarchi yang sentralistik
(gereja dan kerajaan) dengan arus reformasi di sekitarnya berakhir pada jalan buntu (Teori Dua
Pandang) pimpinan gereja dengan masalah kerohaniannya dan kaisar dengan urusan
kekuasaan dunianya, kebuntuan ini melahirkan Sivil Society yang membebaskan diri dari
kekuatan pengaruh gereja dan tidak merasa tertekan oleh kekuasaan kaisar (Monarki Obsulut).
Mereka sebagai warga masyarakat sipil membangun solidaritas umum yang disepakati
bersama dalam kehidupan bersama sebagai warga Civis. Jalan buntu itulah melahirkan Sivil
Society. Di negeri barat sesudah Revolusi Prancis tahun 1784 yang bertumpu dan bertindak
pada sekularisasi (seculerisme) yaitu penduniaan segala masalah kehidupan dan cita-cita
kenasyarakatan dan bersandar pada etika Hedonisme yaitu kewajiban yang bersendi pada
benda keduniaan semata-mata. Jadi secara jelas menunjukkan bahwa Civil Society di negara
barat itu berinduk pada sekularisme dan sekulerisasi segala nilai-nilai kehidupan dalam
masyarakat.
       Sementara masyarakat Islam memiliki konsep (doktrin) yang konkrit untuk menciptakan
kondisi masyarakat Islami. Islam bukan sekedar agama yang memiliki konsep ajaran spiritualis
(individual) semata, letaknya kemajemukan agama Islam karena menyandang ajaran pada
semua aspek kehidupan manusia baik vertikal maupun horizontal.
B. Karakteristik Masyarakat Madani
       Secara umum masyarakat yang beradab berciri; kemanusiaan, saling menghargai sesama
manusia, sebagai makhluk Ilahi dalam kehidupan bersama dalam masyarakat yang warga
(civitasnya) pluralistik, memiliki berbagai perbedaan, akan tetapi mengembangkan kehidupan


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        68
individu yang demokratis, pemimpin yang mengayomi warga, masyarakat merasa dilindungi
oleh sesama warga karena penghargaan hak-hak dan kewajiban masing-masing.
       Masyarakat ideal menurut Islam adalah masyarakat yang taat pada aturan Ilahi yang
hidup dengan damai dan tenteram yang tercukupi kebutuhan hidupnya. Dalam Al-Qur’an
kondisi masyarakat seperti itu digambarkan dengan “baldatun Tayyibatun Warabbun Gafur.”
Negara yang baik, yang berada dalam lindungan ampunan-Nya. Realisasi dari masyarakat ideal
tersebut pada masa Nabi Muhammad saw. dicontohkan pada masa kehidupan rasul di kota
Madinah, dimana masyarakatnya memberikan kepercayaan dan mewujudkan ketaatan pada
kepemimpinan Rasulullah saw. Hidup dalam kebersamaan dan Al-Qur’an sebagai landasan
hidupnya.
       Masyarakat madani dalam pandangan Islam adalah masyarakat yang beradab,
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang maju dalam penguasaan iptek. Karena itu
dalam sejarah filsafat, sejak filsafat Yunani sampai masa filsafat Islam dikenal istilah Madinah
atau polis yang berarti kota yaitu masyarakat yang berperadaban. Masyarakat madani yang
menjadi sentral idealisme yang diharapkan oleh masyarakat seperti yang tercantum dalam QS.
Saba’/34:15. Masyarakat yang sejahtera, bahagia itulah yang oleh Allah dijadikan negara ideal
bagi ummat Islam dimana pun dan yang hidup di abad mana pun, mempunyai cita-cita untuk
hidup dalam negara yang baik dan sejahtera, bertaqwa kepada Allah swt.
       Piagam Madinah sebagai rujukan pembinaan masyarakat madani, yang merupakan
perjanjian antara Rasul beserta ummat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama
Yahudi dan kaum aus dan khazraj yang beragama watsani. Perjanjian Madinah ini berisi
kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk saling tolong-menolong, menciptakan kedamaian
dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan rasul sebagai
pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusannya dan memberi kebebasan bagi
penduduk untuk memeluk agama sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
       Masyarakat Madani sebagai masyarakat yang paling ideal memiliki identitas khusus
yaitu; berTuhan, damai, tolong menolong, toleran, keseimbangan antara hak dan kewajiban
sosial, berpandangan tinggi dan berakhlak mulia.
C. Peranan Ummat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
       Dalam kontek masyarakat Indonesia, di mana ummat Islam adalah mayoritas, peranan
ummat Islam untuk mewujudkan masyarakat madani sangat besar. Kondisi masyarakat
Indonesia sangat bergantung pada kontribusi yang diberikan oleh ummat Islam. Peranan
ummat Islam itu dapat direalisasikan melalui jalur hukum, sosial-politik, ekonomi, dan yang
lain. Sistem hukum, social-politik, ekonomi dan yang lain di Indonesia, memberikan ruang
kepada ummat Islam untuk menyalurkan aspirasinya secara konstruktif bagi kepentingan
bangsa secara keseluruhan. Permasalahan pokok yang masih menjadi kendala saat ini adalah
kemampuan dan konsistensi ummat Islam Indonesia terhadap karakter dasarnya, untuk
mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui jalur-
jalur yang ada. Sekalipun ummat Islam secara kuantitatif mayoritas, tetapi secara kualitatif
masih rendah, sehingga perlu pemberdayaan secara sistematis. Sikap amar ma’ruf dan nahi
munkar juga masih sangat lemah. Hal itu dapat dilihat dari fenomena-fenomena sosial yang
bertentangan dengan ajaran Islam, seperti angka kriminalitas yang tinggi, korupsi yang terjadi
di semua sektor, dan kurangnya rasa aman. Jika ummat Islam Indonesia benar-benar


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          69
mencerminkan sikap hidup yang Islami, psti bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat
dan sejahtera.
D. Etos Kerja Islami
       Etos kerja adalah totalitas kepribadian diri dan cara mengekspresika, memandang,
meyakini, dan memberikan makna tentang sesuatu pekerjaan yang mendorong dirinya untuk
bertindak dan meraih amal yang optimal (Toto Tasmara: 20). Etos kerja juga berarti percaya,
tekun, dan senang pada pekerjaan yang sedang dihadapi dengan tidak memandang apakah
pekerjaan itu sebagai buruh kasar atau memimpin suatu perusahaan besar (M. Yunan
Nasution: 147). Etos kerja mencerminkan nilai kerohanian yang membentuk kepribadian dan
terekpresikan melalui sikap dan perilaku produktif. Bagi ummat Islam, sifat etos kerjanya
adalah etos kerja Islami, yang dilandasi oleh ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah.
       Al-Qur’an menjelaskan bahwa ummat Islam adalah ummat yang terbaik, karena
melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar serta beriman kepada Allah (QS. Ali-Imran: 110).
Nilai kebaikan ummat Islam tersebut dapat terealisasi apabila keimanannya menghasilkan
amal yang shalih. Oleh karena itu, Allah akan menilai, siapa yang paling baik amalnya (QS. Hud:
7; QS. Mulk: 2). Islam memotivasi ummatnya untuk berkompetisi dalam kebaikan, memiliki
etos kerja yang baik, yang menentukan nilai hidup di dunia dan konsekuensi di akhirat (QS. al-
Baqarah: 148). Hubungan etos kerja dengan masalah eskatologi, balasan di akhirat
memberikan kestabilan (istiqamah) pada setiap pribadi akan kepastian hasil kebaikan dari amal
baik yang dilakukan, yang tidak bergantung pada kerelativan manusia. Menurut Toto Tasmara,
etos kerja muslim memiliki cirri-ciri (1) mengahrgai waktu; (2) memiliki moralitas yang ikhlas;
(3) memiliki kejujuran; (4) memiliki komitmen; (5) istiqamah, kuat pendirian; (6) disiplin; (7)
konsekuen dan berani menghadapi tantangan; (8) memiliki sikap percaya diri; (9) kreatif; (10)
bertanggung jawab; (11) bahagia karena melayani; (12) memiliki harga diri; (13) memiliki jiwa
kepemimpinan; (14) berorientasi ke masa depan; (15) hidup hemat dan efisien; (16) meiliki
jiwa wiraswasta; (17) memiliki instink berkompetisi; (18) mandiri; (19) berkemauan belajar dan
mencari ilmu; (20) memiliki semangat perantauan; (21) memperhatikan kesehatan dan gizi;
(22) tangguh dan pantang menyerah; (23) berorientasi pada produktivitas; (24) memperkaya
jaringan silaturahmi; dan (25) memiliki semangat perubahan (Toto Tasmara; 73).
E. Filantropi Islam: Zakat dan Wakaf
     1. Zakat
      Zakat merupakan dasar prinsipiil untuk menegakkan struktur social Islam. Zakat
bukanlah derma atau sedekah biasa, ia adalah sedekah wajib. Dengan terlaksananya lembaga
zakat dengan baik dan benar, diharapkan kesulitan dan penderitaan fakir miskin dapat
berkurang. Di samping tu, dengan pengelolaan zakat yang professional, berbagai
permasalahan yang terjadi dalam masyarakat yang ada hubungannya dengan mustahiq juga
dapat dipecahkan.
      Zakat ada dua macam, yaitu zakat mal dan zakat fitrah. Zakat mal adalah bagian dari
harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib diberikan kepada orang-orang
tertentu setelah mencapai jumlah minimal tertentu dan setelah dimiliki selama jangka waktu
tertentu pula. Sedangkan zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan pada akhir puasa
Ramadhan. Hukum zakat fitrah wajib atas setiap orang Islam, kecil atau dewasa, laki-laki atau
perempuan, budak atau merdeka (Yusuf al-Qardhawi; 162).

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         70
       Zakat adalah salah satu bentuk distribusi kekayaan di kalangan ummat Islam sendiri, dari
golongan ummat yang kaya kepada golongan ummat yang msikin, agar tidak terjadi jurang
pemisah antara golongan kaya dan golongan miskin, serta untuk menghindari penumpukan
kekayaan pada golongan kaya saja. Untuk melaksanakan lembaga zakat itu dengan baik dan
sesuai dengan fungsi dan tujuannya, tentu harus ada aturan-aturan yang harus dilakukan
dalam pengelolannya. Pengelolaan zakat yang berdasar pada prinsip-prinsip pengaturan yang
baik dan jelas, akan meningkatkan manfaatnya yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Sehubungan dengan pengelolaan zakat yang kurang optimal, pada tanggal 23 Setember 1999
Presiden RI, B.J. Habibie mengesahkan Undang-Undang Nomor 38 Thun 1999 tentang
Pengelolaan Zakat. Untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang zakat
tersebut, Menteri Agama RI menetapkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 581 Tahun
1999.
       Berhasilnya pengelolaan zakat tidak hanya tergantung pada banyaknya zakat yang
terkumpul, tetapi sangat tergantung pada dampak dari pengelolaan zakat tersebut dalam
masyarakat. Zakat baru dapat dikatakan berhasil dalam pengelolaannya, apabila zakat tersebut
benar-benar dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam masyarakat. Keadaan
yang demikian sangat tergantung dari manajemen yang diterapkan oleh ‘amil zakat dan
political will dari pemerintah.
     2. Wakaf
       Sebagai salah satu lembaga sosial Islam, wakaf erat kaitannya dengan sosial ekonomi
masyarakat. Walaupun wakaf merupakan lembaga Islam yang hukumnya sunnah, namun
lembaga ini dapat berkembang dengan baik beberapa Negara misalnya Mesir, Yordania, Saudi
Arabia dan Bangladesh. Hal ini barangkali karena lembaga wakaf ini dikelola dengan
manajemen yang baik, sehingga manfaatnya sangat dirasakan bagi pihak-pihak yang
memerlukannya.
       Di Indonesia sedikit sekali tanah wakaf yang dikelola secara produktif dalam bentuk
suatu usaha, yang hasilnya dapat dimanfaatkan bagi pihak-pihak yang memerlukan termasuk
fakir miskin. Pemanfaatan tersebut dilihat dari segi sosial khususnya untuk kepentingan
keagamaan memang efektif, tetapi dampaknya kurang berpengaruh positif dalam kehidupan
ekonomi masyarakat. Apabila peruntukan wakaf hanya terbatas pada hal-hal di atas tanpa
diimbangi dengan wakaf yang dapat dikelola secara produktif, naka wakaf sebagai salah satu
sarana untuk wewujudkan kesejahtraan sosial ekonomi masyarakat, tidak akan dapat
terealisasi secara optimal.
       Agar wakaf di Indonesia dapat memberdayakan ekonomi ummat, maka perlu dilakukan
paradigma baru dalam pengelolaan wakaf. Wakaf yang selama ini hanya dikelola secara
konsumtif dan tradisional, sudah saatnya kini wakaf dikelola secara produktif.
       Di beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Saudi Arabia, Turki, dan Bangladesh, wakaf
selain berupa sarana dan prasarana ibadah dan pendidikan, juga berupa tanah pertanian,
perkebunan, flat, uang saham, real estate dan lain-lain yang semuanya dikelola secara
produktif. Dengan demikian hasilnya benar-benar dapat dipergunakan untuk mewujudkan
kesejahteraan ummat.
       Wakaf uang dan wakaf produktif penting sekali untuk dikembangkan di Indonesia di saat
kondisi perekonomian yang kian memburuk. Wakaf tunai mempunyai peluang yang unik bagi
terciptanya investasi di bidang keagamaan, pendidikan, dan pelayanan sosial. Sebagaimana

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         71
sudah kita ketahui bersama bahwa lembaga wakaf sebagai salah satu pilar ekonomi Islam
sangat erat kaitannya dengan masalah sosial ekonomi nasyarakat. Cukup banyak negara yang
wakafnya sudah berkembang, menyelesaikan masalah sosial ekonomi mereka dengan wakaf.
Sayangnya pemahaman ummat Islam di Indonesia terhadap wakaf selama berabad-abad
sangat terbatas pada wakaf benda tidak bergerak khususnya wakaf berupa tanah. Bahkan
sebelum tanggal 27 Oktober 2004, benda wakaf yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan hanyalah tanah nilik, yaitu diatur dalam Peraturan pemerintah Nomor 28 Tahun
1977 tentang Perwakafan Tanah Milik. Wakaf benda bergerak khususnya uang baru
dibicarakan oleh ummat Islam di Indonesia sekitar akhir tahun 2001. Alhamdulillah pada
tanggal 1 Mei 2002, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah menetapkan fatwa tentang
wakaf uang, yang isinya adalah sebagai berikut
     a. Wakaf uang (Cash Wakaf/Waqf al-Nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang,
        kelompok orang, lembaga, atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
     b. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
     c. Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh).
     d. Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan
        secara syar’i.
     e. Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan,
        dan atau diwariskan.
       Dengan dikeluarkannya fatwa MUI tersebut, maka penerapan wakaf uang di Indonesia
sudah tidak bermasalah lag, apabila dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang
wakaf uang sudah diatur tersendiri. Yang menjadi masalah bagaimanakah penerapan wakaf
khususnya wakaf uang di Indonesia, karena wakaf uang ini penting sekali untuk dikembangkan
di Indonesia di saat kondisi perekonomian yang kian memburuk. Wakaf uang dapat
dipergunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang terjadi di
Indonesia.
       Begitu pentingnya wakaf untuk memberdayakan masyarakat, maka Undang-undang
wakaf yang mendukung pengelolaan wakaf secara produktif sangat diperlukan. Oleh karena
itu, sudah selayaknya ummat Islam menyambut baik lahirnya Undang-Undang Nomor 41
Tahun 2004 tentang Wakaf. Dalam Undang-undang wakaf tersebut sudah dimasukkan
rumusan konsepsi fikih wakaf baru di Indonesia yang antara lain meliputi benda yang
diwakafkan (mauquf bih); peruntukan wakaf (mauquf ‘alaih); sighat wakaf baik untuk benda
tidak bergerak maupun benda bergerak seperti uang dan saham; kewajiban dan hak nadzir
wakaf; dan lain-lain yang menunjang pengelolaan wakaf produktif. Benda wakaf (mauquf bih)
yang diatur dalam Undang-undang Tentang Wakaf itu tidak dibatasi benda tidak bergerak saja,
tetapi juga benda-benda bergerak lainnya yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam.
Dalam rangka pengelolaan dan pengembangan wakaf inilah perlunya pembinaan nadzir. Untuk
itu di dalam Undang-undang 41 Tahun 2004 tentang Wakaf diamantkan perlunya dibentuk
Badan Wakaf Indonesia. Salah satu tugas dan wewenang Badan Wakaf Indonesia adalah
melkukan pembinaan terhadap nadzir dalam mengelola dan mengembangkan harta benda
wakaf.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      72
                                    BAGIAN XI
                       KEBUDAYAAN DAN PERADABAN DALAM ISLAM
I. Kebudayaan Dalam Islam
    A. Pengertian Kebudayaan
       Secara garis besarnya definisi kebudayaan sebanyak itu dikelompokkan ke dalam enam
kelompok sesuai dengan tinjauan dan sudut pandang masing-masing pembuat definisi.
     1. Kelompok pertama, menggunakan pendekatan deskriptip dengan menekankan pada
sejumlah isi yang terkandung di dalamnya seperti definisi yang dipakai oleh Tylor bahwa
kebudayaan itu adalah keseluruhan yang amat kompleks meliputi ilmu pengetahuan,
kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang
diterima manusia sebagai anggota masyarakat.
     2. Kelompok kedua, menggunakan pendekatan histories dengan menekankan pada
warisan sosial dan tradisi kebudayaan seperti definisi yang dipakai oleh Pork dan Burgess yang
menyatakan bahwa kebudayaan suatu masyarakat adalah sejumlah totalitas dan organisasi
serta warisan sosial yang diterima sebagai sesuatu yang bermakna yang dipengaruhi oleh
watak dan sejarah hidup suatu bangsa.
     3. Kelompok ketiga, menggunakan pendekatan normatif seperti definisi yang dipakai oleh
Rolph Linton (Linton/1945:27) yang menegaskan bahwa kebudayaan suatu masyarakat adalah
suatu pandangan hidup dari sekumpulan ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka
pelajari, mereka miliki kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
     4. Kelompok keempat, menggunakan pendekatan psikologi yang diantaranya
menekankan pada aspek penyesuaian diri (adjustment) dan proses belajar seperti definisi yang
dipakai oleh Kluckhon yang menegaskan bahwa kebudayaan terdiri dari semua kelangsungan
proses suatu masyarakat.
     5. Kelompok kelima, menggunakan pendekatan struktural dengan menekankan pada
aspek pola dan organisasi kebudayaan seperti definisi yang dipakai oleh Turney yang
menyatakan bahwa kebudayaan adalah pekerjaan dan kesatuan aktivitas sadar manusia yang
berfungsi membentuk pola umum dan melangsungkan penemuan-penemuan baik yang
material maupun nonmaterial.
     6. Kelompok keenam, menggunakan pendekatan genetik yang memandang kebudayaan
sebagai suatu produk, alat-alat, benda-benda ataupun ide dan simbol. Termasuk dalam
kelompok ini adalah definisi yang dibuat oleh Bidney yang menyatakan bahwa kebudayaan
dapat dipahami sebagai proses dinamis dan produk dari pengolahan diri manusia dan
lingkungannya untuk pencapaian akhir individu dan masyarakat.
       Dari berbagai tujuan dan sudut pandang tentang definisi kebudayaan menunjukkan
bahwa kebudayaan itu merupakan sesuatu persoalan yang sangat luas. Namun esensinya
adalah bahwa kebudayaan itu melekat dalam diri manusia. Artinya bahwa manusialah sebagai
pencipta kebudayaan itu. Dari penjelasan di atas, kebudayaan dapat dilihat dari dua sisi yaitu
kebudayaan sebagai suatu proses dan kebudayaan sebagai suatu produk.
       Secara umum kebudayaan adalah istilah yang menunjukkan segala hasil karya manusia
yang berkaitan erat dengan pengungkapan bentuk. Kebudayaan merupakan wadah, di mana
hakikat manusia memperkembangkan diri. Antara hakikat manusia dengan pengembangan diri
(kebudayaan) tersebut terjalin hubungan, korelasi yang tidak dapat dipisahkan. Dalam
perkembangannya, kebudayaan sering dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tempat, waktu,

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        73
dan kondisi masyarakat, sehingga lahir suatu bentuk kebudayaan khusus, seperti kebudayaan
Islam, kebudayaan Timur, dan kebudayaan Barat. (Ensiklopedi Indonesia: 1705). Kebudayaan
lahir dari olah akal-budi, jiwa atau hati nurani manusia. Bentuk kebudayaan tersebut selalu
mencerminkan nilai-nilai kehidupan yang diyakini, yang dirasa, dan diharapkan memberikan
kebaikan dalam hidup. Oleh karena itu, kebudayaan yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan
tersebut juga disebut peradaban. Kebudayaan atau peradaban yang dipengaruhi oleh nilai-nilai
ajaran Islam disebut kebudayaan atau peradaban Islam.
       Dalam ajaran Islam, aktivitas kehidupan manusia dalam bentuk olah akal-budi nuraninya
harus dibimbing oleh wahyu. Akal budi nurani manusia memiliki keterbatasan dan dipengaruhi
oleh pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun masyarakat. Sekalipun aktivitas akal budi
nurani manusia dalam bentuk kebudayaan atau peradaban tersebut diyakini atau diharapkan
memberikan kebaikan bagi masyarakat yang melahirkan kebudayaan-peradaban tersebut,
dalam pandangan masyarakat lain belum tentu dinilai baik. Oleh karena itu, sejak awal
manusia dilahirkan, Allah Yang Maha Tahu akan keterbatasan manusia menurunkan wahyu
sebagai pembimbing arah olah akal budi nurani manusia tersebut, agar tidak berkembang dan
melahirkan kebudayaan-peradaban yang bertentangan dengan nilai-nilai universal
kemanusiaan yang dianggap menguntungkan sekelompok masyarakat tertentu tetapi
merugikan sekelompok masyarakat lainnya. Wahyu al-Qur’an sebagai wahyu terakhir yang
diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW menjadi petunjuk-pembimbing dan
menjaga nilai-nilai universalitas kemanusiaan tersebut sekalipun memberikan toleransi
perwujudan kebudayaan-peradaban khusus.
       Al-Qur’an memandang kebudayaan itu merupakan suatu proses dan meletakkan
kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia. Kebudayaan merupakan suatu totalitas
kegiatan manusia yang meliputi kegiatan akal, hati dan tubuh yang menyatu dalam suatu
perbuatan. Karena itu secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil olah akal budi,
cipta rasa, karsa dan karya manusia. Ia tidak mungkin terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan,
namun bisa lepas dari nilai-nilai ketuhanan.
       Kebudayaan Islam adalah hasil olah akal budi, cipta rasa, karsa dan karya manusia yang
berlandaskan nilai-nilai tauhid. Islam sangat menghargai akal manusia untuk berkiprah dan
berkembang. Hasil olah akal budi, rasa dan karsa yang telah terseleksi oleh nilai-nilai
kemanusiaan yang bersifat universal berkembang menjadi sebuah peradaban. Dalam
perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak
terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya
sendiri. Di sini agama berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal
budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau peradaban Islam.
       Kebudayaan itu akan terus bekembang, tidak akan pernah berhenti selama masih ada
kehidupan manusia. Segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas dan kreativitas manusia,
baik dalam kontek hubungan dengan sesamanya, maupun dengan alam lingkungannya akan
selalu terkait dengan kebudayaan orang lain. Di sini menunjukkan bahwa manusia sebagai
makhluk budaya dan makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup tanpa bantuan orang
lain.
       Allah SWT mengutus para rasul dari jenis manusia dan kaumnya sendiri karena yang
akan menjadi sasaran dakwahnya adalah ummat manusia. Oleh sebab itu misi utama kerasulan
Muhammad saw. adalah untuk memberikan bimbingan pada ummat manusia agar dalam

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       74
mengembangkan kebudayaannya tidak melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan sebagaimana
sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak.” Artinya
Muhammad saw. mempunyai tugas pokok untuk membimbing manusia agar mengembangkan
kebudayaannya sesuai dengan petunjuk Allah. Sebelum nabi diutus bangsa Arab sudah cukup
berbudaya tetapi budaya yang dikembangkannya terlepas dari nilai-nilai ketauhidan yang
bersifat universal. Landasan pengembangan kebudayaan mereka adalah hawa nafsu.
       Mengawali tugas kerasulannya, beliau meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam
kemudian berkembang menjadi peradaban Islam. Ketika dakwah Islam menyebar diluar jazirah
Arab, kemudian tersebar keseluruh dunia, maka terjadilah suatu proses panjang dan rumit
yaitu asimilasi budaya-budaya setempat dengan nilai-nilai Islam yang kemudian menghasilkan
kebudayaan Islam menjadi suatu peradaban yang diakui kebenarannya secara universal.
Menurut M. Natsir, ada enam sumber kekuatan ajaran Islam. Untuk mencapai suatu
kebudayaan bersifat lokal menjadi suatu peradaban manusia yang universal yaitu:
     1. Menghormati akal. Manusia muslim disuruh menggunakan akalnya untuk mengamati
dan memikirkan keadaan alam. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an menyatakan betapa pentingnya
pengembangan akal bagi kehidupan manusia. Dalam kaitan ini proses ijtihad menjadi penting
bagi peningkatan kesejahteraan hidup manusia.
     2. Kewajiban menuntut ilmu. Setiap muslim diwajibkan menuntut ilmu walaupun sampai
ke negeri Cina.
     3. Larangan taklid. Setiap orang dilarang mengikuti sesuatu perkara yang ia tidak
mempunyai pengetahuan tentang itu meskipun datang dari para leluhurnya.
     4. Mengambil inisiatif. Setiap muslim dikerahkan untuk mengambil inisiatif keduniaan
yang dapat memberikan kemaslahatan bagi masyarakat umum sekalipun bagi mereka yang
tidak seagama, serta mengadakan barang-barang kebutuhan yang tidak ada sebelumnya.
     5. Menggunakan hak-hak keduniaan. Kaum muslimin disuruh mencari ridha Allah atas
nikmat yang diterimanya di dunia ini dan menggunakan hak-hak itu sesuai dengan aturan
agama.
     6. Aktualisasi nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan nyata kaum muslimin, dianjurkan untuk
berhubungan dengan dunia luar, berinteraksi dengan bangsa-bangsa untuk saling bertukar
ilmu pengetahuan.
    B. Perkembangan Kebudayaan Islam
       Perkembangan pemikiran Islam mempunyai sejarah panjang dalam arti seluas-luasnya.
Tradisi pemikiran di kalangan ummat Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu
sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab sendiri, di mana Islam lahir dan pertama kali
berkembang di sana, kedatangannya lengkap dengan tradisi keilmuannya. Sebab masyarakat
Arab pra Islam belum mempunyai sistem pengembangan pemikiran secara sistematis.
       Pada masa awal perkembangan Islam, tentu saja sistem pendidikan dan pemikiran yang
sistematis belum terselenggara karena ajaran Islam tidak diturunkan sekaligus. Namun
demikian isyarat Al-Qur’an sudah cukup jelas meletakkan fondasi yang kokoh terhadap
perkembangan ilmu dan pemikiran, sebagaimana terlihat pada ayat yang pertama diturunkan
yaitu suatu perintah untuk membaca dengan nama Allah (QS. Al-Alaq/96:1). Dalam kaitan itu
dapat dipahami mengapa proses pendidikan Islam berlangsung di rumah yaitu Darul Arqam.
Ketika masyarakat Islam telah terbentuk, maka pendidikan Islam dapat diselenggarakan di


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        75
masjid. Poses pendidikan pada kedua tempat tersebut dilakukan dalam lingkaran besar yang
disebut Halaqah.
       Dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Harun Nasution dilihat dari segi
perkembangannya, sejarah intelektual Islam dapat dikelompokkan ke dalam tiga masa yaitu
masa klasik (650 sampai 1250 M), masa pertengahan (1250 sampai 1800 M) dan masa modern
(1800 sampai sekarang).
       Pada masa klasik lahir para ulama madzhab seperti Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam
Syafi’I dan Imam Malik. Sejalan dengan itu lahir pula para filosof muslim seperti Al-Kindi (801
M), seorang filosuf pertama muslim. Diantara pemikirannya, ia berpendapat bahwa kaum
muslim hendaknya menerima filsafat sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Selain Al-Kindi,
pada abad itu lahir pula para filosuf beasar seperti Al-Rasi (865 M), Al-Farabi (870 M). Mereka
dikenal sebagai pembangun agung sistem filsafat. Pada abad berikutnya lahir pula filosof agung
Ibnu Miskawaih (930 M). Pemikrannya yang terkenal tentang pendidikan akhlak. Kemudian
Ibnu Sina (1037 M), Ibnu Bajjah (1138 M), Ibnu Taufail (1147 M) dan Ibnu Rusyd (1126 M).
       Pada masa pertengahan yaitu tahun 1250-1800 M. Dalam catatan sejarah pemikiran
Islam masa ini merupakan fase kemunduran karena filsafat mulai dijauhkan dari ummat Islam
sehingga ada kecenderungan akal dipertentangkan dengan wahyu, iman dengan ilmu dan
dunia dengan akhirat. Pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.
       Sebagian pemikir Islam kontemporer sering melontarkan tuduhan kepada Al-Gazali yang
pertama menjauhkan filsafat dengan agama sebagaimana dalam tulisannya “Tahafutul
Falasifah” (kerancuan filsafat). Tulisan Al-Gazali dijawab oleh Ibnu Rusdi dengan tulisan
“Tahafutu Tahaful” (kerancuan di atas kerancuan). Ini merupakan awal kemunduran ilmu
pengetahuan dan filsafat di dunia Islam. Sejalan dengan perdebatan di kalangan para filosof
muslim juga terjadi perdebatan di antara para fuqoha (ahli fikih) dengan para ahli teologi (ahli
ilmu kalam). Pemikiran yang berkembang saat itu adalah pemikiran dikotomis antara agama
dengan ilmu dan urusan dunia dengan akhirat. Titik kulminasinya adalah ketika para ulama
sudah mendekat kepada para penguasa pemerintahan, sehingga fatwa-fatwa mereka tidak lagi
diikiuti oleh ummatnya.
   C. Nilai-Nilai Kebudayaan Islam
      Bentuk kebudayaan yang sangat penting dan perlu memperoleh perhatian besar dalam
kehidupan sosial, terutama dalam kehidupan masyarakat akademisi, masyarakat intelektual,
yang mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran intelektual muslim adalah :
      1. Berorientasi pada Pengabdian dan Kebenaran Ilahi
       Tujuan penciptaan manusia berdasarkan firman Allah dalam QS. Adz-Dzariyat: 56,
hanyalah untuk beribadah, mengabdi kepada Allah. Karena itu seluruh aktivitas manusia dalam
kehidupan ini harus berorientasi pada pengabdian kepada Allah. Untuk menciptakan nilai
pengabdian tersebut, manusia harus bertitik tolak pada kebenaran yang ditunjukkan oleh
Allah. Dalam QS. Al-Baqarah: 147, Allah berfirman: Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab
itu janagan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
    2. Berpikir Kritis dan Inovatif
      Berpikir kritis adalah berpikir secara obyektif dan analitis, sedangkan berpikir inovatif
adalah berpikir ke depan untuk menemukan pemikiran-pemikiran abaru. Berpikir kritis dan


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          76
inovatif inilah yang telah menghantarkan kemajuan intelektual Islam pada masa keemasannya,
golden age, dalam berbagai disiplin ilmu.
      3. Bekerja Keras
       Manusia adalah makhluk terbaik yang dianugerahi potensi besar dalam bentuk akal-
budi, dan seluruh aktivitas kehidupan manusia dinilai oleh Allah. Anugerah tersebut harus
difungsikan secara optimal. Karena itu dalam QS. Al-Qashash: 77, Allah memerintahkan
manusia berusaha meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, dan dalam QS. Yusif: 87, Allah
melarang berputus asa akan rahmat yang telah Allah anugerahkan, karena putus asa itu adalah
sifat orang kafir.
    4. Bersikap Terbuka
      Sikap terbuka berarti mau menerima masukan dan yang datang dari
orang lain, siapapun dia, dan apapun posisinya. Karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan
untuk memperhatikan substansi perkataan orang dan bukan siapa orang yang mengatakannya.
Kemajuan akan lebih mudah dicapai dengan sikap terbuka, serta memanfaatkan pemikiran,
dan kemajuan yang dicapai orang lain, sepanjang tetap sejalan dengan nilai-nilai kebenaran
yang ditetapkan Allah.
    5. Jujur
      Dalam kehidupan intelektual, kejujuran mutlak diperlukan, baik dalam bentuk
pengakuan terhadap kebenaran pemikiran orang lain, maupun dalam bentuk pengakuan akan
keberadaan diri pribadi. Kejujuran akan membimbing manusia dalam proses penemuan
kebenaran dan mengemukakan kebenaran secara obyektif. Kejujuran menghindarkan
timbulnya kesalahan-kesalahan yang merugikan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW
mengingatkan, kebohongan (sikap tidak jujur) merupakan pangkal terjadinya dosa.
    6. Adil
      Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil menunjukkan sikap yang
proporsional dalam mengambil keputusan dalam berbagai persoalan yang berkait dengan
banyak pihak yang berkepentingan. Sekalipun sikap adil pada umumnya berkaitan dengan
proses peradilan, tetapi adil diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu, dalam
QS. An-Nahl: 90, Allah memerintahkan berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, melarang berbuat keji, kemungkaran, dan permusuhan.
     7. Tanggung Jawab
      Tanggungjawab berarti kesediaan menanggung segala resiko atau konsekuensi dari
setiap perbuatan yang dilakukan. Setiap perbuatan memiliki konsekuensi baik atau buruk. Hal
itu bergantung pada substansi perbuatannya. Oleh karena itu, dalam QS. al-Baqarah: 286,
Allah mengingatkan, bahwa setiap manusia akan mendapat pahala sebagai balasan (dari
kebajikan) yang dilakukannya, dan mendapat siksa sebagai balasan (dari kejahatan) yang
dilakukannya.
      8. Ikhlas
       Ikhlas berarti murni, bersih dari segala unsur yang mengotori atau mencemari nilai niat
seseorang untuk berbuat sebagai wujud pengabdian dalam ketaatan kepada Allah. Oleh karena
itu, ikhlas dalam niat selalu dikaitkan dengan pengabdian kepada Allah, seperti firman Allah
dalam QS. al-Bayyinah: 5.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        77
D. Masjid Sebagai Pusat Kebudayaan Islam
       Masjid pada umumnya dipahami oleh masyarakat sebagai tempat ibadah khusus
(shalat), padahal masjid berfungsi lebih luas. Sejak awal berdirinya masjid di zaman nabi
berfungsi sebagai pusat peradaban. Nabi Muhammad saw. mensucikan jiwa kaum muslimin,
mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hikmah, bermusyawarah untuk menyelesaikan berbagai
persoalan kaum muslimin, membina sikap dasar kaum muslimin terhadap orang yang berbeda
agama dan ras, hingga upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan ummat. Sekolah-sekolah dan
universitas-universitas pun bermunculan justru dari masjid. Masjid Al-Azhar di Mesir
merupakan salah satu contoh, masjid ini mampu memberikan beasiswa bagi pelajar dan
mahasiswa, bahkan pengentasan kemiskinan merupakan program nyata masjid.
       Di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda, sulit menemukan masjid yang memiliki
program nyata di bidang pencerahan keberagamaan ummat Islam, apalagi menyediakan
beasiswa dan upaya pengentasan kemiskinan. Disekitar tahun 70-an muncul kelompok yang
sadar untuk mengembangkan fungsi masjid sebagaimana mestinya, terutama dikalangan kaum
intelektual muda, termasuk aktivis masjid. Dimulai dengan pesantren kilat pada awal tahun
1978, pengentasan buta huruf Al-Qur’an tahun 1990-an, gerakan ini berhasil mengentaskan
buta huruf Al-Qur’an sekitar 30% anak-anak TK sampai SLTP dan 40% siswa SLTA dan
mahasiswa.
       Fungsi dan peranan masjid dari waktu ke waktu terus meluas, seiring dengan laju
pertumbuhan ummat Islam baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dan peningkatan
jumlah intelektual muslim yang sadar dan peduli terhadap peningkatan kualitas ummat Islam.
Kondisi inilah yang mendorong terjadinya perluasan fungsi masjid. Konsepsi tentang masjid
sejak masa awal (zaman Rasulullah) didirikan hingga sekarang tidak akan pernah berubah.
Paradigma yang digunakan adalah Al-Qur’an, maka masjid yang didirikan berdasarkan
ketakwaan tidak akan pernah berubah dari tujuan dan misinya seperti dijelaskan Allah dalam
Q.S At-Taubah/9:108. Berdasarkan paradigma inilah kita akan berfikir tentang konsep tujuan
dan perlakuan terhadap masjid itu memiliki kesamaan. Melalui paradigma inilah kita akan
mampu mengontrol kesucian masjid dari pemikiran yang dikhotomis.
       Dalam syari’at Islam, masjid memiliki dua fungsi utama yaitu; pertama sebagai pusat
ibadah ritual dan kedua sebagai pusat ibadah sosial. Dari kedua fungsi tersebut titik sentralnya
bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai pusat pembinaan ummat Islam.
II Peradaban Dalam Islam
    A. Pengertian Peradaban
       Dalam bukunya Al-Madkhal ila Dirasah al-Madzahib al-Fiqhiyah, Prof. Dr. Ali Gomaa
Muhammad menyatakan, “Peradaban Islam tidaklah mati, namun hanya tertidur saja. Sesuatu
yang tidur pasti akan bangun kembali.” Pernyataan ini memberikan harapan besar kepada kita
akan kebangkitan peradaban Islam. Akan tetapi kebangkitan peradaban itu tentu saja
membutuhkan proses yang lama. Peradaban Islam seperti bagian dari sebuah roda yang selalu
berputar. Jika dalam sejarahnya bagian roda itu sempat berada di bawah, maka suatu saat
nanti ia akan kembali berada di atas.
       Pembicaraan tentang peradaban memang tidak akan ada habisnya, terkhusus
peradaban Islam. Topik peradaban secara umum selalu relevan untuk diperbincangkan di
sepanjang zaman. Ini tidak lain karena manusia selalu bersinggungan dengan peradaban.
Manusia adalah pelaku utama peradaban itu sendiri. Dan peradaban tanpa manusia tidak akan
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          78
pernah ada. Begitu juga dengan topik peradaban Islam yang dianologikan seperti bagian dari
roda yang berputar tadi, tidak akan pernah surut dari perbincangan manusia.
       Peradaban manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Perkembangan peradaban tersebut tidak saja terjadi dalam ranah fisiknya saja, namun juga
terjadi dalam ranah substansi. Sebagai contoh, pemahaman akan istilah peradaban saja sampai
mengalami fase-fase yang cukup signifikan. Terlebih lagi jika terjadi persinggungan antara
peradaban satu dengan yang lainnya.
       Seiring dengan perjalanan hidup manusia yang sudah begitu panjang di muka bumi ini,
maka berbagai macam peradaban pun telah terbentuk. Banyak peradaban yang telah
mewarnai kehidupan manusia. Setiap peradaban tentu saja memiliki konsep tersendiri yang
nantinya akan membedakan peradaban tersebut dengan peradaban lainnya. Sama halnya
dengan peradaban lain, peradaban Islam juga memiliki konsep yang menjadikannya tampil
berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya.
       Konsep peradaban ini sangat dibutuhkan dalam upaya membangkitkan kembali
peradaban Islam. Untuk itulah tulisan ini mencoba sedikit memaparkan konsep peradaban
Islam, atau pandangan Islam terhadap peradaban itu sendiri.
      B. Dilema Definisi Peradaban
        Definisi peradaban memang selalu menjadi problem. Latar belakang pengetahuan yang
berbeda, akan sangat mempengaruhi pendefinisian peradaban. Istilah peradaban biasanya
digunakan oleh sarjana-sarjana di bidang sejarah, antropologi, dan beberapa bidang keilmuan
sosial lainnya. Namun dalam disiplin ilmu yang berbeda-beda itu, ternyata definisi peradaban
juga lahir berbeda-beda, tidak satu definisi.
        Dalam bahasa Perancis, peradaban biasanya disebut dengan civilisation. Sedangkan
dalam bahasa Jerman, peradaban disebut kultur. Istilah cultur dalam bahasa Prancis
menunjukkan arti kebudayaan, sama halnya dengan bahasa Inggris yang menggunakan istilah
culture. Jadi bahasa Prancis membedakan istilah civilisation yang menunjukkan peradaban,
dengan cultur yang menunjukkan kebudayaan. Sedangkan dalam bahasa Melayu, peradaban
disebut dengan tamadun.
        Setidaknya “civilization” memiliki tiga tahapan perkembangan definisi. Makna aslinya
dikenalkan pertama kali dalam bahasa Prancis oleh beberapa penulis, seperi Voltaire, pada
abad ke-18 Masehi. Kemudian para penulis di abad ke-19 Masehi semakin memperluas istilah
“civilization” untuk mengartikan pertumbuhan melalui waktu pengetahuan dan keterampilan
yang mendorong manusia untuk mencapai perilaku yang beradab. Selanjutnya istilah
“civilization” dibawa ke dalam bahasa Inggris, dan mengalami generalisasi ide atau definisi
hingga lebih plural.
        Nasr Muhammad Arif, dalam bukunya Al-Hadharah, Ats-Tsaqofah, Al-Madaniyah telah
meneliti istilah “civilization” dari bahasa asalnya, yaitu bahasa Latin. Dalam bahasa Latin
terdapat istilah civites yang artinya kota; civis yang artinya orang yang tinggal di kota; dan
civilis yang artinya sipil. Dan istilah “civilization” baru diambil dari bahasa Latin tersebut pada
abad ke-18 Masehi.
        Sarjana Barat sendiri berbeda-beda dalam mendefinisikan istilah “civilization”. Sebagai
contoh dalam bukunya The Philosophy of Civilization, Albert Schweitzer menjelaskan bahwa
peradaban adalah kemajuan spiritual dan materi pada setiap individu maupun kelompok.
Schweitzer juga menjelaskan bahwa peradaban harus dapat menciptakan kondisi yang

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                             79
menguntungkan semua orang dalam hidupnya. Tujuan peradaban adalah kesempurnaan
spiritual dan moral individu.
       Berbeda dengan Schweitzer yang menekankan peradaban pada pencapaian moral dan
spiritual, Will Durant mengartikan peradaban sebagai sistem sosial yang membantu manusia
untuk meningkatkan produksi kebudayaannya. Menurut Durant, peradaban terdiri dari empat
unsur: sumber daya ekonomi, sistem politik, tradisi moral, serta ilmu dan kesenian.
       Edward Burnett Tylor mengartikan peradaban sebagai adalah suatu kesatuan kompleks
yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, adab, hukum adat, dan setiap kecakapan serta
kebiasaan seseorang sebagai anggota masyarakat. Namun, sebagian orang menganggap
definisi yang digariskan Tylor ini adalah untuk definisi kebudayaan. Dari definisi Tylor ini,
akhirnya terjadi kerancuan dalam perbedaan antara peradaban dengan kebudayaan.
Terkadang keduanya dimaknai sama.
       Sedangkan Samuel Huntington memandang peradaban sebagai entitas budaya.
Peradaban terdiri dari unsur-unsur yang kompleks, seperti bahasa, agama, sejarah, adat,
lembaga, atau indentifikasi diri secara subjektif. Dalam pandangan Huntington ini, jika
sekelompok manusia yang besar di suatu wilayah memiliki kesamaan seperti bahasa, agama
dan adat, maka bisa disebut sebagai peradaban. Contohnya adalah Amerika dan Eropa yang
sering disebut sebagai peradaban Barat.
       Banyak lagi pendapat sarjana-sarjana Barat lainnya yang memberikan definisi terhadap
peradaban. Definisi peradaban atau “civilization” dalam dunia pemikiran Barat mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Ada yang menjadikan makna “civilization” sebagai sinonim
dari kata “culture”, seperti Tylor tadi. Ada juga yang mempersempit definisi “civilization”
hanya sebagai kemajuan materi. Ada juga yang memperluas definisinya menjadi kemajuan
yang menyeluruh, melingkupi semua aspek kehidupan. Ada juga yang mempersempitnya lagi
menjadi kemajuan individu saja. Ada juga yang memperluasnya sebagai kemajuan individu dan
kelompok. Dan berbagai perkembangan definisi lainnya.
       Selanjutnya istilah “civilization” ini mengalami persinggungan dengan bahasa Arab. Pada
awal abad ke-19, kata “civilization” diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan istilah ‫.التمدن‬
Rifa’ah Ath-Thahthawi dalam bukunya Manahij al-Albab al-Mashriyah menggunakan istilah
“tamaddun” untuk menunjukkan istilah “civilization” yang dipakai di Eropa. Ath-Thahthawi
menyebutkan, tamaddun mengandung dua unsur asli: secara makna seperti akhlak dan adab,
dan secara materi.
       Kata “tamaddun” terus digunakan untuk menunjukkan “civilization” sampai kemudian
berubah menjadi kata ‫ .المدنية‬Istilah “madaniyah” ini dipakai selama abad ke-19 dan abad ke-20.
Pada tahun 1936, istilah “madaniyah” diartikan sebagai sebuah keadaan sosial budaya yang
ditandai dengan kemajuan relatif dalam bidang kesenian, ilmu pengetahuan, manajemen
pemerintahan. Lalu pada tahun 1957, istilah “madaniyah” digunakan untuk menunjukkan
fenomena kemajuan fisik atau materi dalam kehidupan masyarakat.
       Lalu pada pertengahan abad ke-20, kamus-kamus bahasa Arab mulai menerjemahkan
kata “civilization” dengan arti ‫ .حضارة‬Dan pada masa ini hampir disepakati bahwa kata
“hadharah” berarti sekumpulan fenomena sosial yang memiliki karakter fisik, ilmu, seni teknik
yang ada dalam masyarakat, dan merupakan fase kemajuan dalam perkembangan manusia.
       Sebenarnya kata “‫ ”حضارة‬sudah dipakai oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya.
Namun kata “hadharah” di sini belum dipakai untuk menunjukkan sebuah peradaban yang

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         80
memiliki definisi kompleks seperti di atas. Kata “hadharah” digunakan Ibnu Khaldun untuk
menunjukkan lawan dari pola hidup yang berpindah-pindah, atau yang disebut dengan ‫.البداوة‬
Sedangkan untuk menunjukkan sebuah peradaban, Ibnu Khaldun menggunakan istilah
“umran”.
        Dr. Muhammad Imarah dalam bukunya Al-Islam wa At-Ta’addudiyah mengatakan bahwa
istilah “umran” dalam turats kita yang dulu itu adalah istilah “hadharah” dalam turats kita yang
baru. Selanjutnya Dr. Imarah mendefinisikan peradaban sebagai kumpulan dari tamadun dan
budaya, serta akumulasi dari perkotaan yang di dalamnya terdapat realitas fisik dan jiwa
manusia yang dapat memberikan kemajuan pada manusia itu sendiri.
        Pendapat-pendapat dari pemikir Muslim tentang definisi hadharah memang juga
terdapat keragaman. Bahkan pendefinisian yang berkembang dalam pemikiran Islam atau
dalam terminologi bahasa Arab bisa dikatakan sedikit rumit jika dibandingkan dengan
terminologi bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris hanya terdapat dua istilah yang berkembang,
yaitu civilization dan culture. Sedangkan dalam bahasa Arab, terdapat tiga istilah yang
berkembang untuk menunjukkan peradaban dan kebudayaan, yaitu tsaqafah, hadharah, dan
madaniah.
        Secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut: Pertama, siapa yang menerjemahkan
istilah culture sebagai tsaqafah, maka berarti menerjemahkan civilization sebagai hadharah.
Kedua, siapa yang menerjemahkan culture sebagai hadharah, maka ia menerjemahkan
civilization sebagai madaniyah. Bagi pendapat pertama, berarti ia telah menjadikan tsaqafah
sebagai elemen intelektual dalam kehidupan manusia, dan hadharah sebagai elemen fisik atau
materinya. Sedangkan pendapat kedua telah menjadikan hadharah sebagai elemen intelektual
dan madaniyah sebagai elemen fisik atau materinya.
        Sementara itu dalam bahasa Indonesia, istilah “peradaban” sering kali digunakan untuk
menunjukkan civilization atau hadharah. Kata “peradaban” berasal dari kata “adab”, yang
artinya kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, atau akhlak. Ketika kata “adab” ini
mendapat imbuhan per- dan -an menjadi “peradaban”, maka diartikan sebagai: Pertama,
kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin. Kedua, hal yang menyangkut sopan santun,
budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa.
        Dari sekian banyak pendapat dan perkembangan-perkembangan definisi tadi, setidaknya
kita dapat mengambil garis lurus untuk dapat menggambarkan istilah “peradaban”. Garis lurus
tersebut yaitu kemajuan, moral, intelektual dan fisik atau materi. Karena dalam definisinya
yang berkembang, peradaban sering kali dikaitkan dengan ketiga unsur tersebut.
      C. Peradaban dalam Islam
       Dalam terminologi bahasa Arab, kata hadharah berasal dari kata ‫ حضر‬yang artinya ‫شهد‬
‫ ,من الحضور‬atau berlawanan dengan kata ghaib. Dalam Al-Qur’an, kita juga akan menemukan
kata hadhara bermakna syahada. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 180 ( ‫إذا حضر أحدكم الموت‬
                                    ‫ق مة أ ل ق‬
), dalam surat An-Nisa ayat 8 ( ‫ ,) وإذا حضر ال ِس َ َ ُوُوا ال ُربى‬dalam surat Al-Baqarah ayat 185 ( ‫فمن‬
‫ .) شهد منكم الشهر فليصمه‬Dalam kandungan ketiga ayat tadi, makna hadhara berarti syahada.
       Prof. Dr. Nasr Muhammad Arif menjelaskan bahwa kata syahadah dalam Al-Qur’an
mengandung empat artian. Keempat artian inilah yang sebenarnya membangun istilah
hadharah dalam Islam. Keempat artian ini tidak dapat berdiri sendiri dalam menyokong konsep
peradaban Islam, namun semuanya saling melengkapi. Keempat artian tersebut adalah sebagai
berikut: 1) Syahadah dalam artian tauhid kepada Allah. Artian ini mengandung kesaksian

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                   81
manusia terhadap keesaan Allah. Makna ini adalah sebagai akidah umat Islam. Di bawah
makna ini manusia harus tunduk dengan segala aturan Allah; 2) Syahadah dalam artian
perkataan (kesaksian) yang benar dan jalan untuk menuju keadilan. Atau bisa juga berarti
kesaksian yang didasarkan dengan ilmu. Dengan demikian ini merupakan jalan untuk
mendapatkan ilmu dan pengetahuan; 3) Syahadah dalam artian pengorbanan di jalan Allah; 4)
Syahadah dalam artian kewajiban atau tugas untuk umat. Ini senada dengan kandungan Al-
Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 143
                                                                           ‫ش‬               ‫َع أم‬
                                  .‫وكذلك ج َلنكم ُ ّة وسطا لتكونوا ُهداء على الناس و يكون الرسول عليكم شهيدا‬
       Arti syahadah di sini mencakup dua dimensi, dunia dan akhirat. Oleh karena itulah,
konsep peradaban dalam Islam tidak bisa dikotomi antara dua dimensi ini. Peradaban dalam
Islam memiliki pola yang bersifat keduniawian seperti kemajuan, inovasi, pembangunan,
kesenian dan lain sebagainya. Dan di samping itu juga memiliki pola yang sifatnya keakhiratan
seperti keyakinan, nilai-nilai, pemikiran, tingkah laku atau akhlak dan lain sebagainya. Kedua
pola ini tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Jadi, pengistilahan peradaban akan tidak
sempurna jika salah satu pola ini tidak ada.
       Menurut Malik bin Nabi, di saat peradaban Barat terlalu memfokuskan perhatian
mereka kepada kemajuan materi dan pemikiran, maka peradaban Islam menjadikan akidah
tauhid sebagai fokus utama peradabannya. Malik bin Nabi mendampingkan definisi peradaban
Islam dengan unsur-unsur utama yang membentuknya. Di antara unsur-unsur pembentuk itu
adalah manusia, waktu dan tanah. Unsur manusia adalah unsur pembentuk terbesar dalam
sebuah peradaban, termasuk peradaban Islam. Dalam hal ini tentunya kualitas manusia atau
individu akan menentukan kualitas peradaban yang dibangunnya.
       Dalam setiap individu Muslim yang berperan sebagai unsur utama dalam peradaban,
sudah semestinya tertanam konsep tauhid yang menjadi fokus utama peradaban Islam tadi.
Jadi, peradaban Islam adalah peradaban yang memiliki konsep tauhidi, yang meniadakan
dikotomi antara fisik dan ruhani, atau dunia dan akhirat. Sedangkan asal mula konsep tauhid
ini adalah keimanan kepada Allah. Maka, sebenarnya peradaban Islam tidak hanya dibangun
oleh unsur manusia saja, namun yang paling penting adalah unsur yang ada di dalam diri
manusia itu sendiri, yaitu keimanan. Dengan demikian, peradaban Islam tidak dapat dipisahkan
dari unsur Tuhan.
     D. Epistemologi dan Sumber Peradaban Islam
      Dalam epistemologi Islam, sumber pengetahuan utama adalah Allah, atau yang dalam
hal ini adalah wahyu. Pengetahuan yang bersumber dari Allah tersebut dapat diperoleh
melalui indera yang sehat, berita yang benar berdasarkan otoritas, akal sehat dan hati. Indera
yang sehat ini mencakup indera luar dan indera dalam. Akal sehat pada dasarnya berfungsi
untuk mengolah apa yang diterima oleh indera tadi. Apa yang diterima oleh indera akan dinilai
oleh akal sehat sesuai dengan tingkat kelogisannya. Namun sebenarnya fungsi akal tidak
sebatas sampai di situ saja. Akal sendiri sejatinya adalah substansi spiritual yang inheran
dengan organ spiritual yang biasa kita sebut dengan hati, yang mana berfungsi sebagai
penerima pengetahuan intuitif. Jadi, pada intinya akal dan intuisi selalu berhubungan dan tidak
ada dikotomi antara keduanya.
      Meski terjadi perbedaan dalam cara memperoleh pengetahuan, namun pada dasarnya
semuanya pengetahuan itu berasal dari satu sumber, yaitu Allah. Dalam hal ini Al-Qur’an telah
menjelaskan: “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                      82
perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua
(benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31).
      Sumber pengetahuan yang berasal dari Allah tadi ditransfer kepada manusia dalam
bentuk wahyu. Dalam Islam, wahyu Allah tertuang di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasul. Kedua
sumber ini yang selanjutnya menjadi landasan utama dalam epistemologi Islam sekaligus
peradaban Islam. Kedua sumber ini banyak menginspirasikan lahirnya ilmu-ilmu. Sebagai
contoh, Allah berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang
mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS.
Al-Baqarah: 1-5).
      Dr. Abdul Halim Uwais menyebutkan bahwa peradaban Islam memiliki tiga sumber
utama, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah dan Akidah Islam.
      Dari asas di atas, terlihat bahwa dalam peradaban Islam tidak ada jurang pemisah antara
manusia yang menjadi unsur pembangun peradaban dengan Tuhan sebagai sumber
peradabannya. Sumber peradaban Islam sejalan dengan sumber pengetahuan yang dibahas
dalam epistemologi Islam. Selanjutnya, sumber ini juga menjadi cikal bakal terbentuknya
pandangan hidup Islam. Dari sini jugalah bermula segala kemajuan peradaban Islam yang
ditandai dengan berkembang pesatnya tradisi keilmuan.
     E. Worldview dan Asas Peradaban Islam
       Berkembangnya peradaban Islam sampai selanjutnya mencapai puncak kejayaan
ditandai dengan lahirnya ilmu-ilmu dalam Islam. Lahirnya ilmu dalam Islam itu tidak serta
merta ada sebelum didahului oleh tradisi keilmuan yang kuat. Tradisi keilmuan ini bisa
berkembang lantaran dilandasi oleh worldview Islam yang mengakar pada setiap individu
pelaku intelektual. Dengan demikian tradisi keilmuan tidak lantas menggerogoti ajaran-ajaran
Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
       Terbentuknya worldview Islam ini tidak dapat terpisahkan dari kandungan Al-Qur’an dan
Sunnah yang menjadi landasan utamanya. Turunnya wahyu yang dalam hal ini Al-Qur’an dan
Sunnah serta lahirnya worldview Islam, menjadi bagian utama sebab lahirnya ilmu dalam
Islam. Dengan kelahiran ilmu dan perkembangannya ini, selanjutnya menandai kegemilangan
peradaban Islam.
       Konsep worldview Islam dibangun atas pendekatan tauhidi, tanpa adanya dikotomi. Ini
sejalan dengan asas yang membangun peradaban Islam itu sendiri, seperti yang dijelaskan oleh
Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha. Menurutnya, asas bangunan peradaban Islam adalah tidak
adanya dikotomi antara agama dengan kehidupan. Begitu juga kemajuan dalam peradaban
Islam, tidak ada dikotomi antara kemajuan maknawi seperti akhlak, abad dan nilai-nilai yang
menjadi bagian dari agama dan syariat Islam itu sendiri, dengan kemajuan fisik atau materi
seperti halnya fasilitas-fasilitas yang dapat mempermudah kehidupan manusia.
       Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha menggariskan asas pembangun peradaban Islam itu sebagai
berikut:
       1. Bangunan individu Muslim. Individu ini menjadi asas pertama dalam membangun
peradaban Islam. Ini akan dapat tercapai jika adanya keseimbangan di antara sisi materi dan
ruhani dalam diri setiap individu Muslim. Dari setiap individu inilah nantinya terlahir sebuah
pola kehidupan yang seimbang pula antara materi dan ruhani. Sebagai contoh, setiap Muslim
berkewajiban untuk selalu menyuruh kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Seperti yang

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        83
terkandung dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang
menyerukan kepada kebajikan, menyuruh(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang
mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).
       2. Bangunan komunitas yang seimbang. Bangunan individu yang memiliki keseimbangan
antara materi dan ruhani tadi selanjutnya menjadi cikal bakal komunitas yang juga seimbang.
Dalam hubungannya yang seimbang antara individu dengan komunitas ini, akan terdapat
berbagai macam hak dan kewajiban. Dan dari korelasi keduanya ini juga akan melahirkan
kebaikan-kebaikan dalam kehidupan manusia. Mengenai komunitas yang seimbang ini, Al-
Qur’an telah menjelaskan: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan.
Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil
dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9).
       3. Menempatkan ilmu dalam posisi yang spesial dan penerapannya dalam perbuatan
yang bermanfaat. Ilmu yang dianjurkan oleh agama Islam adalah ilmu yang komprehensif,
mencakup ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum atau materi. Namun terdapat syarat
yang menjadikan dianjurkannya pendalaman ilmu-ilmu tersebut, yaitu syarat manfaat. Standar
yang digunakan dalam manfaat ini adalah kemaslahatan umat dan untuk menegakkan agama
Islam.
       4. Penanaman nilai-nilai kemajuan peradaban. Salah satu yang terpenting dalam
bangunan peradaban Islam adalah penetapan sistem nilai-nilai yang mempengaruhi kehidupan
manusia serta tingkah lakunya. Dalam hal ini, sangat jelas sekali fungsi agama dalam kehidupan
manusia. Dalam agama Islam, firman Allah dan Sunnah Rasul menjadi pegangan utama untuk
membedakan antara kebaikan dan keburukan, sesuatu yang boleh dan haram, dan lain
sebagainya.
       Dari keempat asas yang membangun peradaban Islam tadi, semuanya tidak terlepas dari
konsep worldview Islam yang melalui pendekatan tauhidi. Peradaban Islam memang tidak
dapat dipisahkan dari konsep tauhid yang ada dalam Islam itu sendiri. Konsep tauhid ini
merupakan cara pandang yang utuh yang tanpa dikotomi dalam memandang sesuatu.
Worldview itu tertanam pada setiap individu Muslim. Yang selanjutnya dari setiap individu
tersebut membentuk komunitas. Dan dari situlah sebenarnya peradaban Islam itu bisa
terbangun dan menjadikannya berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya. Jadi, peradaban
Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan worldview Islam itu sendiri.
      F. Timbangan
        Peradaban Islam sekarang ini memang masih tertidur. Aromanya sedikit tertutupi oleh
gemerlapnya peradaban Barat. Peradaban Barat saat ini terlihat begitu gagah dengan
kemajuan materi yang mereka capai. Kemajuan yang dicapai Barat tersebut tidak lepas dari
pesatnya perkembangan kegiatan ilmiah yang tertuang dalam penelitian-penelitiannya.
Sementara umat Islam masih belum menemukan geliat dahsyat gerakan ilmiahnya kembali
seperti halnya yang dirasakan oleh Ibnu Khaldun, Ibnu Rusy, Ibnu Sina dan ulama-ulama
lainnya yang menandai puncak kegemilangan peradaban Islam.
        Namun seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Ali Gomaa Muhammad, peradaban Islam
yang tertidur itu pasti akan bangun lagi dari tidurnya. Sekarang perlahan-lahan geliat untuk
membangkitkan peradaban Islam yang tertidur itu mulai muncul. Salah satu gerakan yang
terlihat jelas adalah proyek islamisasi pengetahuan. Karena gerakan keilmuan yang pesat
merupakan cikal bakal kemajuan peradaban.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        84
       Islamisasi pengetahuan muncul di tengah persinggungan peradaban Islam dan Barat
yang semakin intens. Persinggungan antar peradaban memang tidak dapat dihindari. Sudah
menjadi hukum alam peradaban yang terbelakang akan melek melihat peradaban yang maju.
Akulturasi peradaban pun bisa saja terjadi. Di tengah akulturasi tersebut itulah sangat
dibutuhkan sekali bangunan konsep peradaban yang kuat, agar dapat melakukan proses
filterasi, bukan adopsi yang membabi buta. Begitu juga dengan islamisasi pengetahuan. Proyek
ini akan dapat berjalan dengan lancar jika di bawahnya dibangung konsep peradaban Islam
yang kokoh. Wallahu’alam.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      85
                                          BAGIAN XIII
               PERTUMBUHAN ILMU TRADISIONAL DALAM PERADABAN ISLAM
                                 (Sebuah Tinjauan Kesejarahan)
 A. Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam
Ilmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi
bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh,
Tasawuf, dan Falsafah. Jika Ilmu Fiqh membidangi segi-segi formal peribadatan dan hukum,
sehingga tekanan orientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal lahiriah, dan Ilmu Tasawuf
membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih bersifat pribadi,
sehingga tekanan orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal-hal batiniah, kemudian
Ilmu Falsafah membidangi hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif tentang hidup ini dan
lingkupnya seluas-luasnya, maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi
mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan sebagai
Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam
agama Kristen, misalnya. (Dalam pengertian Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akan
termasuk Teologia). Karena itu sebagian kalangan ahli yang menghendaki pengertian yang
lebih persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai Teologia dialektis atau Teologia Rasional,
dan mereka melihatnya sebagai suatu disiplin yang sangat khas Islam.
Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang
cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan
lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqd'id (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul
[Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din
(Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama). Di negeri kita, terutama seperti yang terdapat
dalam sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian tentang Ilmu Kalam merupakan
suatu kegiatan yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan oleh namanya sendiri dalam
sebutan-sebutan lain tersebut di atas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan pemahaman tentang
sendi-sendi paling pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul kepercayaan, masalah
Kemaha-Esaan Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. Karena itu, tujuan pengajaran Ilmu
Kalam di madrasah dan pesantren ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang benar.
Maka dari itu pendekatannya pun biasanya doktrin, seringkali juga dogmatis.
Meskipun begitu, dibanding dengan kajian tentang Ilmu Fiqh, kajian tentang Ilmu Kalam di
kalangan kaum "Santri" masih kalah mendalam dan meluas. Mungkin dikarenakan oleh
kegunaannya yang praktis, kajian Ilmu Fiqh yang membidangi masalah-masalah peribadatan
dan hukum itu meliputi khazanah kitab dan bahan rujukan yang kaya dan beraneka ragam.
Sedangkan kajian tentang Ilmu Kalam meliputi hanya khazanah yang cukup terbatas, yang
mencakup jenjang-jenjang permulaan dan menengah saja, tanpa atau sedikit sekali menginjak
jenjang yang lanjut (advanced). Berkenaan dengan hal ini dapat disebutkan contoh-contoh
kitab yang banyak digunakan di negeri kita, khususnya di pesantren-pesantren, untuk
pengajaran Ilmu Kalam. Yaitu dimulai dengan kitab 'Aqidat al-'Awamm (Akidat Kaum Awam),
diteruskan dengan Bad' al-Amal (Pangkal Berbagai Cita) atau Jawharat al-Tauhid (Pertama
Tauhid), mungkin juga dengan kitab Al-Sanusiyyah (disebut demikian karena dikarang oleh
seseorang bernama al-Sanusi).
Disamping itu, sesungguhnya Ilmu Kalam tidak sama sekali bebas dari kontroversi atau sikap-
sikap pro dan kontra, baik mengenai isinya, metodologinya, maupun klaim-klaimnya. Karena

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                             86
itu penting sekali mengerti secukupnya ilmu ini, agar terjadi pemahaman agama yang lebih
seimbang.
     1. Pertumbuhan Ilmu Kalam
Sama halnya dengan disiplin-disiplin keilmuan Islam lainnya, Ilmu Kalam juga tumbuh
beberapa abad setelah wafat Nabi. Tetapi lebih dari disiplin-disiplin keilmuan Islam lainnya,
Ilmu Kalam sangat erat terkait dengan skisme dalam Islam. Karena itu dalam penelusurannya
ke belakang, kita akan sampai kepada peristiwa pembunuhan 'Utsman Ibn 'Aff'an, Khalifah III.
Peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al-Fitnat al-Kubra (Fitnah
Besar), sebagaimana telah banyak dibahas, merupakan pangkal pertumbuhan masyarakat (dan
agama) Islam di berbagai bidang, khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham
keagamaan. Maka Ilmu Kalam sebagai suatu bentuk pengungkapan dan penalaran paham
keagamaan juga hampir secara langsung tumbuh dengan bertitik tolak dari Fitnah Besar itu.
Sebelum pembahasan tentang proses pertumbuhan Ilmu Kalam ini dilanjutkan, dirasa perlu
menyisipkan sedikit keterangan tentang Ilmu Kalam ('Ilm al-Kalam), dan akan lebih
memperjelas sejarah pertumbuhannya itu sendiri. Secara harfiah, kata-kata Arab kalam,
berarti "pembicaraan". Tetapi sebagai istilah, kalam tidaklah dimaksudkan "pembicaraan"
dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan
menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-
kata kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter jemahan kata dan istilah Yunani logos
yang juga secara harfiah berarti "pembicaraan", tapi yang dari kata itulah terambil kata logika
dan logis sebagai derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke dalam kata Arab manthiq,
sehingga ilmu logika, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan Aristoteles dinamakan
Ilmu Mantiq ('Ilm al-Mantiq). Maka kata Arab "manthiqi" berarti "logis".
Dari penjelasan singkat itu dapat diketahui bahwa Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan
Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal
orang-orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkan dan kemudian bergaul dengan bangsa-
bangsa yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan dunia pemikiran Yunani (Hellenisme).
Hampir semua daerah menjadi sasaran pembebasan (fat'h, liberation) orang-orang Muslim
telah terlebih dahulu mengalami Hellenisasi (disamping Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah
Syria, Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat Hellenisme yang giat seperti Damaskus,
Atiokia, Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski tidak mengalami Kristenisasi (tetap
beragama Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak mengalami Hellenisasi, dengan
Jundisapur sebagai pusat Hellenisme Persia.
Adalah untuk keperluan penalaran logis itu bahan-bahan Yunani diperlukan. Mula-mula ialah
untuk membuat penalaran logis oleh orang-orang yang melakukan pembunuhan 'Utsm'an atau
menyetujui pembunuhan itu. Jika urutan penalaran itu disederhanakan, maka kira-kira akan
berjalan seperti ini: Mengapa 'Utsman boleh atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa
besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan pemerintahan) padahal berbuat dosa besar
adalah kekafiran. Dan kekafiran, apalagi kemurtadan (menjadi kafir setelah Muslim), harus
dibunuh. Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran? Karena manusia berbuat dosa
besar, seperti kekafiran, adalah sikap menentang Tuhan. Maka harus dibunuh! Dari jalan
pikiran itu, para (bekas) pembunuh 'Utsman atau pendukung mereka menjadi cikal-bakal kaum
Qadari, yaitu mereka yang berpaham Qadariyyah, suatu pandangan bahwa manusia mampu


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         87
menentukan amal perbuatannya, maka manusia mutlak bertanggung jawab atas segala
perbuatannya itu, yang baik dan yang buruk.
     2. Peranan Kaum Khawarij dan Mu'tazilah
Para pembunuh 'Utsman itu, menurut beberapa petunjuk kesejarahan, menjadi pendukung
kekhalifahan 'Ali Ibn Abi Thalib, Khalifah IV. Ini disebutkan, misalnya, oleh Ibn Taymiyyah,
sebagai berikut:
Sebagian besar pasukan Ali, begitu pula mereka yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap
netral dari peperangan itu bukanlah orang-orang yang membunuh 'Utsman. Sebaliknya, para
pembunuh 'Utsman itu adalah sekelompok kecil dari pasukan 'Ali, sedangkan umat saat
kekhalifahan 'Utsman itu berjumlah dua ratus ribu orang, dan yang menyetujui
pembunuhannya seribu orang sekitar itu.1
Tetapi mereka kemudian sangat kecewa kepada 'Ali, karena Khalifah ini menerima usul
perdamaian dengan musuh mereka, Mu'awiyah ibn Abu Sufyan, dalam "Peristiwa Shiffin" di
situ 'Ali mengalami kekalahan di plomatis dan kehilangan kekuasaan "de jure"-nya. Karena itu
mereka memisahkan diri dengan membentuk kelompok baru yang kelak terkenal dengan
sebutan kaum Khawarij (al-Kahwarij, kaum Pembelot atau Pemberontak). Seperti sikap mereka
terhadap 'Utsman, kaum Khawarij juga memandang 'Ali dan Mu'awiyah sebagai kafir karena
mengkompromikan yang benar (haqq) dengan yang palsu (bathil). Karena itu mereka
merencanakan untuk membunuh 'Ali dan Mu'awiyah, juga Amr ibn al-'Ash, gubernur Mesir
yang sekeluarga membantu Mu'awiyah mengalahkan Ali dalam "Peristiwa Shiffin" tersebut.
Tapi kaum Khawarij, melalui seseorang bernama Ibn Muljam, berhasil membunuh hanya 'Ali,
sedangkan Mu'awiyah hanya mengalami luka-luka, dan 'Amr ibn al-'Ash selamat sepenuhnya
(tapi mereka membunuh seseorang bernama Kharijah yang disangka 'Amr, karena rupanya
mirip).2
Karena sikap-sikap mereka yang sangat ekstrem dan eksklusifistik, kaum Khawarij akhirnya
boleh dikatakan binasa. Tetapi dalam perjalanan sejarah pemikiran Islam, pengaruh mereka
tetap saja menjadi pokok problematika pemikiran Islam. Yang paling banyak mewarisi tradisi
pemikiran Khawarij ialah kaum Mu'tazilah. Mereka inilah sebenarnya kelompok Islam yang
paling banyak mengembangkan Ilmu Kalam seperti yang kita kenal sekarang. Berkenaan
dengan Ibn Taymiyyah mempunyai kutipan yang menarik dari keterangan salah seorang
'ulama' yang disebutnya Imam 'Abdull'ah ibn al-Mubarak. Menurut Ibn Taymiyyah, sarjana itu
menyatakan demikian:
Agama adalah kepunyaan ahli (pengikut) Hadits, kebohongan kepunyaan kaum Rafidlah, (ilmu)
Kalam kepunyaan kaum Mu'tazilah, tipu daya kepunyaan (pengikut) Ra'y (temuan rasional) ... 3
Karena itu ditegaskan oleh Ibn Taymiyyah bahwa Ilmu Kalam adalah keahlian khusus kaum
Mu'tazilah.4 Maka salah satu ciri pemikiran Mu'tazili ialah rasionalitas dan paham Qadariyyah.
Namun sangat menarik bahwa yang pertama kali benar-benar menggunakan unsur-unsur
Yunani dalam penalaran keagamaan ialah seseorang bernama Jahm ibn Shafwan yang justru
penganut paham Jabariyyah, yaitu pandangan bahwa manusia tidak berdaya sedikit pun juga
berhadapan dengan kehendak dan ketentuan Tuhan. Jahm mendapatkan bahan untuk

      1
        Ibn Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah, jil. 4, h. 237.
      2
        Ibid, hh. 12-13.
      3
        Ibid, h. 110.
      4
        Ibid.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        88
penalaran Jabariyyah-nya dari Aristotelianisme, yaitu bagian dari paham Aristoteles yang
mengatakan bahwa Tuhan adalah suatu kekuatan yang serupa dengan kekuatan alam, yang
hanya mengenal keadaan-keadaan umum (universal) tanpa mengenal keadaan-keadaan
khusus (partikular). Maka Tuhan tidak mungkin memberi pahala dan dosa, dan segala sesuatu
yang terjadi, termasuk pada manusia, adalah seperti perjalanan hukum alam. Hukum alam
seperti itu tidak mengenal pribadi (impersonal) dan bersifat pasti, jadi tak terlawan oleh
manusia. Aristoteles mengingkari adanya Tuhan yang berpribadi personal God. Baginya Tuhan
adalah kekuatan maha dasyat namun tak berkesadaran kecuali mengenai hal-hal universal.
Maka mengikuti Aristoteles itu Jahm dan para pengikutpya sampai kepada sikap mengingkari
adanya sifat bagi Tuhan, seperti sifat-sifat kasib, pengampun, santun, maha tinggi, pemurah,
dan seterusnya. Bagi mereka, adanya sifat-sifat itu membuat Tuhan menjadi ganda, jadi
bertentangan dengan konsep Tauhid yang mereka akui sebagai hendak mereka tegakkan.
Golongan yang mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan itu dikenal sebagai al-Nufat ("pengingkar"
[sifat-sifat Tuhan]) atau al-Mu'aththilah ("pembebas" [Tuhan dari sifat-sifat]).5
Kaum Mu'tazilah menolak paham Jabiriyyah-nya kaum Jahmi. Kaum Mu'tazilah justru menjadi
pembela paham Qadariyyah seperti halnya kaum Khawarij. Maka kaum Mu'tazilah disebut
sebagai "titisan" doktrinal (namun tanpa gerakan politik) kaum Khawarij. Tetapi kaum
Mu'tazilah banyak mengambil alih sikap kaum Jahmi yang mengingkari sifat-sifat Tuhan itu.
Lebih penting lagi, kaum Mu'tazilah meminjam metologi kaum Jahmi, yaitu penalaran rasional,
meskipun dengan berbagai premis yang berbeda, bahkan berlawanan (seperti premis
kebebasan dan kemampuan manusia). Hal ini ikut membawa kaum Mu'tazilah kepada
penggunaan bahan-bahan Yunani yang dipermudah oleh adanya kegiatan penerjemahan buku-
buku Yunani, ditambah dengan buku-buku Persi dan India, ke dalam bahasa Arab. Kegiatan itu
memuncak di bawah pemerintahan al-Ma'mun ibn Harun al-Rasyid. Penterjemahan itu telah
mendorong munculnya Ahli Kalam dan Falsafah.6
Khalifah al-Ma'mun sendiri, di tengah-tengah pertikaian paham berbagai kelompok Islam,
memihak kaum Mu'tazilah melawan kaum Hadits yang dipimpin oleh Ahmad ibn Hanbal
(pendiri mazhab Hanbali, salah satu dari empat mazhab Fiqh). Lebih dari itu, Khalifah al-
Ma'mun, dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al-Mu'tashim, melakukan mihnah
(pemeriksaan paham pribadi, inquisition), dan menyiksa serta menjebloskan banyak orang,
termasuk Ahmad ibn Hanbal, ke dalam penjara.7 Salah satu masalah yang diperselisihkan ialah
apakah Kalam atau Sabda Allah, berujud al-Qur'an, itu qadim (tak terciptakan karena menjadi
satu dengan Hakikat atau Dzat Ilahi) ataukah hadits (terciptakan, karena berbentuk suara yang
dinyatakan dalam huruf dan bahasa Arab)?8 Khalifah al-Ma'mun dan kaum Mu'tazilah
berpendapat bahwa Kalam Allah itu hadits, sementara kaum Hadits (dalam arti Sunnah, dan

      5
         Ibid., jil. 1, hh. 344 dan 345.
      6
         Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, h. 185.
       7
         Minhaj, jil. 1, h. 344.
       8
          Karena dominannya isu Kalam atau Sabda Allah apakah qadim atau hadits sebagai pusat
kontroversi itu maka ada kaum ahli yang mengatakan penalaran tentang segi ajaran Islam yang relevan
itu disebut Ilmu Kalam, seolah-olah merupakan ilmu atau teori tentang Kalam Allah. Disamping itu,
seperti Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa ilmu itu disebut Ilmu Kalam dan para ahlinya disebut kaum
Mutakallim, sesuai dengan makna harfiah perkataan kalam dan mutakallim (pembicaraan, hampir
mengarah kepada arti "orang yang banyak bicara"), ialah karena bertengkar sesama mereka dengan adu
argumen melalui pembicaraan kosong, tidak substantif. (Lihat Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, hh.
205-206).
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                             89
harap diperhatikan perbedaan antara kata-kata hadits [a dengan topi] dan hadits [i dengan
topi]) berpendapat al-Qur'an itu qadim seperti Dzat Allah sendiri.9 Pemenjaraan Ahmad ibn
Hanbal adalah karena masalah ini.
Mihnah itu memang tidak berlangsung terlalu lama, dan orang pun bebas kembali. Tetapi ia
telah meninggalkan luka yang cukup dalam pada tubuh pemikiran Islam, yang sampai saat
inipun masih banyak dirasakan orang-orang Muslim. Namun jasa al-Ma'mun dalam membuka
pintu kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap diakui besar sekali dalam sejarah umat
manusia. Maka kekhalifahan al-Ma'mun (198-218 H/813-833 M), dengan campuran unsur-
unsur positif dan negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak sejarah perkembangan
pemikiran Islam, termasuk perkembangan Ilmu Kalam, dan juga Falsafah Islam."10
    3. Plus-Minus Ilmu Kalam
Dalam perkembangan selanjutnya, Ilmu Kalam tidak lagi menjadi monopoli kaum Mu'tazilah.
Adalah seorang sarjana dari kota Basrah di Irak, bernama Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324
H/873-935 M) yang terdidik dalam alam pikiran Mu'tazilah (dan kota Basrah memang pusat

       9
           Berkenaan dengan kontroversi ini, seorang orientalis kenamaan, Wilfred Cantwell Smith dari
Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada (tempat banyak ahli keislaman
Indonesia dan Dunia belajar dan mengajar, termasuk, Prof. H.M. Rasydi), membandingkan paham orang
Islam, khususnya aliran Sunni, dengan paham orang Kristen. Kata Smith, yang sebanding dengan al-
Qur'an dalam Islam itu bukanlah Injil dalam Kristen, melainkan diri 'Isa al-masih atau Yesus Kristus.
Sebab, sebagaimana orang-orang Muslim (aliran Sunni) memandang al-Qur'an itu qadiim seperti Dzat
Ilahi, orang-orang Kristen memandang 'Isa sebagai penjelmaan Allah dalam sistem teologia Trinitas,
yang juga qadim, sama dengan al-Qur'an. Jadi jika bagi agama Islam al-Qur'an itulah wahyu Allah
(Inggris: revelation, pengungkapan diri), maka bagi agama Kristen 'Isa al-Masih itulah wahyu,
menampakkan Tuhan. Sedangkan Injil bukanlah wahyu, melainkan catatan tentang kehidupan 'Isa al-
Masih, sehingga tidak sama kedudukannya dengan al-Qur'an, tetapi bisa dibandingkan dengan Hadits.
Maka sejalan dengan itu Nabi Muhammad tidaklah harus dibandingkan dengan 'Isa al-Masih (karena dia
ini "Tuhan"), tetapi dengan Paulus (karena dia ini, sama dengan Nabi Muhammad, adalah "rasul").
(Lihat, W. C. Smith, Islam in Modern History [Princenton, N.J.: Princeton University Press, 19771, hh. 17-
18 fn). Pandangan Islam tentang Isa al-Masih sudah sangat terkenal, dan tidak perlu dikemukakan di sini.
Tetapi tentang Paulus, cukup menarik mengetahui bahwa sudah sejak awal sekali orang-orang Muslim
terlibat dalam kontroversi dan polemik sekitar tokoh ini. Menurut Ibn Taymiyyah, misalnya, Paulus
(Arab: Bawlush ibn Yusya') adalah scorang tokoh Yahudi yang berpura-pura masuk agama Nasrani
dengan maksud merusak agama itu melalui pengembangan paham bahwa 'Isa al-Masih adalah Tuhan
atau jelmaan Tuhan. Ibn Taymiyyah mengemukakan bahwa peranan Paulus dalam merusak agama
Nasrani sama dengan peranan 'Abdullah ibn Saba' dalam tnerusak agama Islam. Serupa dengan Paulus,
'Abdullah ibn Saba', kata Ibn Taymiyyah, adalah seorang tokoh Yahudi dari Yaman yang menyelundup ke
dalam Islam dengan tujuan merusak agama itu dari dalam, dengan mengembangkan paham yang salah
dan serba melewati batas tentang Ali ibn Abi Thalib dan Anggota Keluarga Nabi (Ahl al-Bayt)
sebagaimana kemudian dianut oleh kaum Rafidlah dan kaum Syi'ah pada umumnya. (Lihat, Minhaj, jil. 1,
h. 8 dan jil. 4, h. 269). Kiranya kontroversi dan polemik serupa itu tidak perlu mengejutkan kita, karena
telah merupakan bagian dari sejarah pertumbuhan pemikiran keagamaan itu sendiri.
        10
           Disini perlu kita tegaskan bahwa mihnah Khalifah al-Ma'mun itu, meskipun sangat buruk, tidak
dapat disamakan dengan inquisition yang terjadi di Spanyol setelah reconquest. Karena mihnah itu
dilancarkan dibawah semacam "liberalisme" Islam atau kebebasan berpikir yang menjadi paham
Mu'tazilah, melawan mereka yang dianggap menghalangi "liberalisme" dan kebebasan itu, khususnya
kaum "fundamentalis" (al-Hasywiyyun, sebuah sebutan ejekan, yang secara harfiah berarti kurang lebih
"kaum sampah" karena malas berpikir dan menolak melakukan interprestasi terhadap ketentuan agama
yang bagi mereka tidak masuk akal). Sedangkan inquisition di Spanyol kemudian Eropa pada umumnya
secara total kebalikannya, yaitu atas nama paham agama yang fundamentalistik dan sempit melawan
pikiran bebas yang menjadi paham para pengemban ilmu pengetahuan, termasuk para failasuf yang saat
itu telah belajar banyak dari warisan pemikiran Islam.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                    90
pemikiran Mu'tazili). Tetapi kemudian pada usia 40 tahun ia meninggalkan paham
Mu'tazilinya, dan justru mempelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang anti Mu'tazilah. Ilmu Kalam
al-Asy'ar'i itu, yang juga sering disebut sebagai paham Asy'ariyyah, kemudian tumbuh dan
berkembang untuk menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruh dalam Islam sampai
sekarang, karena dianggap paling sah menurut pandangan sebagian besar kaum Sunni.
Kebanyakan mereka ini kemudian menegaskan bahwa "jalan keselamatan" hanya didapatkan
seseorang yang dalam masalah Kalam menganut al-Asy'ari.
Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya mendapat pengakuan sama dengan al-Asy'ari ialah
Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand pada 333 H/944 M). Meskipun terdapat sedikit
perbedaan dengan al-Asy 'ari, khususnya berkenaan dengan teori tentang kebebasan manusia
(al-Maturidi mengajarkan kebebasan manusia yang lebih besar daripada al-Asy'ari), al-Maturidi
dianggap sebagai pahlawan paham Sunni, dan sistem Ilmu Kalamnya dipandang sebagai "jalan
keselamatan", bersama dengan sistem al-Asy'ari. Sangat ilustratif tentang sikap ini adalah
pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani (yang populer dengan sebutan Kiai
Saleh Darat dari daerah dekat Semarang), dengan mengutip dan menafsirkan Sabda nabi
dalam sebuah hadits yang amat terkenal tentang perpecahan umat Islam dan siapa dari
mereka itu yang bakal selamat:
(...Umat yang telah lalu telah terpecah-pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan kelak
kamu semua akan terpecah-pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dari antara tujuh puluh
tiga itu hanya satu yang selamat, sedangkan yang tujuh puluh dua semuanya dalam neraka.
Adapun yang satu yang selamat itu ialah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan
junjungan Rasulullah s.a.w., yaitu 'aqa'id (pokok-pokok kepercayaan) Ahl al-Sunnah wa 'l-
Jama'ah Asy'ariyyah dan M'aturidiyyah). 11
Kehormatan besar yang diterima al-Asy'ari ialah karena solusi yang ditawarkannya mengenai
pertikaian klasik antara kaum "liberal" dari golongan Mu'tazilah dan kaum "konservatif" dari
golongan Hadits (Ahl al-Hadits, seperti yang dipelopori oleh Ahmad ibn Hanbal dan sekalian
imam mazhab Fiqh). Kesuksesan al-Asy'ari merupakan contoh klasik cara mengalahkan lawan
dengan meminjam dan menggunakan senjata lawan. Dengan banyak meminjam metodologi
pembahasan kaum Mu'tazilah, al-Asy'ari dinilai berhasil mempertahankan dan memperkuat
paham Sunni di bidang Ketuhanan (di bidang Fiqh yang mencakup peribadatan dan hukum
telah diselesaikan terutama oleh para imam mazhab yang empat, sedangkan di bidang tasawuf
dan filsafat terutama oleh al-Ghazali, 450-505 H/1058-1111 M). Salah satu solusi yang
diberikan oleh al-Asy'ari menyangkut salah satu kontroversi yang paling dini dalam pemikiran
Islam, yaitu masalah manusia dan perbuatannya, apakah dia bebas menurut paham
Qadariyyah atau terpaksa seperti dalam paham Jabariyyah. Dengan maksud menengahi antara
keduanya, al-Asy'ari mengajukan gagasan dan teorinya sendiri, yang disebutnya teori Kasb (al-
kasb, acquisition, perolehan). Menurut teori itu, perbuatan manusia tidaklah dilakukan dalam
kebebasan dan juga tidak dalam keterpaksaan. Perbuatan manusia tetap dijadikan dan
ditentukan Tuhan, yakni dalam keterlaksanaannya. Tetapi manusia tetap bertanggung-jawab
atas perbuatannya itu, sebab ia telah melakukan kasb atau acquisition, dengan adanya
keinginan, pilihan, atau keputusan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, dan bukan

      11
         Hajj Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani, Tarjamat Sabil al-Abid 'ala Jawharat al-Tawhid
(sebuah terjemah dan uraian panjang lebar atas kitab Ilmu Kalam yang terkenal, Jawharat al-Tawhid,
dalam bahasa Jawa huruf Pego, tanpa data penerbitan), hh. 27-28.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                            91
yang lain, meskipun ia sendiri tidak menguasai dan tidak bisa menentukan keterlaksanaan
perbuatan tertentu yang diinginkan, dipilih dan diputus sendiri untuk dilakukan itu. Ini
diungkapkan secara singkat dalam nadham Jawharat al-Tawhid demikian:
Wa indana li l abdi kasbun kullifa, wa lam yakun mu atstsiran fa 'l-tarifa.
Fa laysa majburan wa la 'khtiyara wa laysa kullan yaf'alu 'khtiyara
(Bagi kita Ahl al-Sunnah manusia terbebani oleh kasb dan ketahuilah bahwa ia tidak
mempengaruhi tindakannya. Jadi manusia bukanlah terpaksa dan bukan pula bebas, namun
tidak seorang pun mampu berbuat sekehendaknya).
Terhadap rumus itu Kiai Saleh Darat memberi komentar tipikal paham Sunni (menurut Ilmu
Kalam Asy'ari) sebagai berikut:
(... Maka Jabariyyah dan Qadariyyah itu kedua-duanya sesat. Kemudian adalah mazhab Ahl al-
Sunnah berada di tengah antara Jabariyyah dan Qadariyyah, keluar dari antara kotoran dan
darah susu yang murni, yang menyegarkan orang yang meminumnya). 12
Tetapi tak urung konsep kasb al-Asy'ari itu menjadi sasaran kritik lawan-lawannya. Dan lawan-
lawan al-Asy'ari tidak hanya terdiri dari kaum Mu'tazilah dan Syi'ah (yang dalam Ilmu Kalam
banyak mirip dengan kaum Mu'tazilah), tetapi juga muncul, dari kalangan Ahl al-Sunnah
sendiri, khususnya kaum Hanbali. Dalam hal ini bisa dikemukakan, sebagai contoh, yaitu
pandangan Ibn Taymiyyah (661-728 H/1263-1328 M), seorang tokoh paling terkemuka dari
kalangan kaum Hanbali. Ibn Taymiyyah menilai bahwa dengan teori kasb-nya itu alAsy'ari
bukannya menengahi antara kaum Jabari dan Qadari, melainkan lebih mendekati kaum Jabari,
bahkan mengarah kepada dukungan terhadap Jahm ibn Shafwin, teoretikus Jabariyyah yang
terkemuka. Dalam ungkapan yang menggambarkan pertikaian pendapat beberapa golongan di
bidang ini, Ibn Taymiyyah yang nampak lebih cenderung kepada paham Qadariyyah (meskipun
ia tentu akan mengingkari penilaian terhadap dirinya seperti itu) mengatakan demikian:
... Sesungguhnya para pengikut paham Asy'ari dan sebagian orang yang menganut paham
Qadariyyah telah sependapat dengan al-Jahm ibn Shafwan dalam prinsip pendapatnya tentang
Jabariyyah, meskipun mereka ini menentangnya secara verbal dan mengemukakan hal-hal
yang tidak masuk akal... Begitu pula mereka itu berlebihan dalam menentang kaum Mu'tazilah
dalam masalah-masalah Qadariyyah --sehingga kaum Mu'tazilah menuduh mereka ini pengikut
Jabariyyah-- dan mereka (kaum Asy'ariyyah) itu mengingkari bahwa pembawaan dan
kemampuan yang ada pada benda-benda bernyawa mempunyai dampak atau menjadi sebab
adanya kejadian kejadian (tindakan-tindakan).13
Namun agaknya Ibn Taymiyyah menyadari sepenuhnya betapa rumit dan tidak sederhananya
masalah ini. Maka sementara ia mengkritik konsep kasb alAsy'ari yang ia sebutkan dirumuskan
sebagai "sesuatu perbuatan yang terwujud pada saat adanya kemampuan yang diciptakan
(oleh Tuhan untuk seseorang) dan perbuatan itu dibarengi dengan kemampuan tersebut"14 Ibn
Taymiyyah mengangkat bahwa pendapatnya itu disetujui oleh banyak tokoh Sunni, termasuk
Malik, Syafii dan Ibn Hanbal. Namun Ibn Taymiyyah juga mengatakan bahwa konsep kasb itu
dikecam oleh ahli yang lain sebagai salah satu hal yang paling aneh dalam Ilmu Kalam.15



      12
         Ibid., hh. 149-151.
      13
         Minhaj, jil. 1, h. 172.
      14
         Ibid., h. 170.
      15
         Ibid.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       92
Ilmu Kalam, termasuk yang dikembangkan oleh al-Asy'ari, juga dikecam kaum Hanbali dari segi
metodologinya. Persoalan yang juga menjadi bahan kontroversi dalam Ilmu Kalam khususnya
dan pemahaman Islam umumnya ialah kedudukan penalaran rasional ('aql, akal) terhadap
keterangan tekstual (naql, "salinan" atau "kutipan"), baik dari Kitab Suci maupun Sunnah Nabi.
Kaum "liberal", seperti golongan Mut'azilah, cenderung mendahulukan akal, dan kaum
"konservatif" khususnya kaum Hanbali, cenderung mendahulukan naql. Terkait dengan
persoalan ini ialah masalah interprestasi (ta'wil), sebagaimana telah kita bahas.16 Berkenaan
dengan masalah ini, metode al-Asy'ari cenderung mendahulukan naql dengan membolehkan
interprestasi dalam hal-hal yang memang tidak menyediakan jalan lain. Atau mengunci dengan
ungkapan "bi la kayfa" (tanpa bagaimana) untuk pensifatan Tuhan yang bernada
antropomorfis (tajsim) --menggambarkan Tuhan seperti manusia, misalnya, bertangan, wajah,
dan lain-lain. Metode al-Asy'ari ini sangat dihargai, dan merupakan unsur kesuksesan
sistemnya.
Tetapi bagian-bagian lain dari metodologi al-Asy'ari, juga epistemologinya, banyak dikecam
oleh kaum Hanbali. Di mata mereka, seperti halnya dengan Ilmu Kalam kaum Mu'tazilah, Ilmu
Kalam al-Asy'ari pun banyak menggunakan unsur-unsur filsafat Yunani, khususnya logika
(manthiq) Aristoteles. Dalam penglihatan Ibn Taymiyyah, logika Aritoteles bertolak dari premis
yang salah, yaitu premis tentang kulliyyat (universals) atau al-musytarak al-muthlaq
(pengertian umum mutlak), yang bagi Ibn Taymiyyah tidak ada dalam kenyataan, hanya ada
dalam pikiran manusia saja karena tidak lebih daripada hasil ta'aqqul (intelektualisasi).17
Demikian pula konsep-konsep Aristoteles yang lain, seperti kategori-kategori yang sepuluh
(esensi, kualitas, kuantitas, relasi, lokasi, waktu, situasi, posesi, aksi, dan pasi), juga konsep-
konsep tentang genus, spesi, aksiden, properti, dan lain-lain, ditolak oleh Ibn Taymiyyah
sebagai basil intelektualisasi yang tidak ada kenyataannya di dunia luas. Maka terkenal sekali
ucapan Ibn Taymiyyah bahwa "hakikat ada di alam kenyataan (di luar), tidak dalam alam
pikiran" (Al-haqiqah fi al-ayan, la fi al-adzhan).18
Epistemologi Ibn Taymiyyah tidak mengizinkan terlalu banyak intelektualisasi, termasuk
interprestasi. Sebab baginya dasar ilmu pengetahuan manusia terutama ialah fithrah-nya:
dengan fithrah itu manusia mengetahui tentang baik dan buruk, dan tentang benar dan
salah.19 Fithrah yang merupakan asal kejadian manusia, yang menjadi satu dengan dirinya
melalui intuisi, hati kecil, hati nurani, dan lain-lain, diperkuat oleh agama, yang disebut Ibn
Taymiyyah sebagai "fithrah yang diturunkan" (al-fithrah al-munazzalah). Maka metodologi
kaum Kalam baginya adalah sesat.20
Yang amat menarik ialah bahwa epistemologi Ibn Taymiyyah Yang Hanbali berdasarkan fithrah
itu paralel dengan epistemologi Abu Ja'far Muhammad ibn Ali ibn al-Husayn Babwayh al-
Qummi (wafat 381 H), seorang "ahli Ilmu Kalam" terkemuka kalangan Syi'ah. Al-Qummi,
dengan mengutip berbagai hadits, memperoleh penegasan bahwa pengetahuan tentang



       16
            Lihat kajian kita tentang "Interprestasi Metaforis" yang telah lalu.
       17
            Lihat Minhaj, jil. 1, hh. 235, 243, 254, 261, dan hh. 266. Juga Naqdl al-Manthiq, h. 25,164 dan
202.
       18
          Minhaj, jil. 1, hh. 243 dan 245.
       19
          Ibid., hh. 281 dan 291.
       20
          Naqdl al-Manthiq, hh. 38, 39, 171, 160-162, dan 172.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                     93
Tuhan diperoleh manusia melalui fitrah-nya, dan hanya dengan adanya fitrah itulah manusia
mendapat manfaat dari bukti-bukti dan dalil-dalil.21
Maka sejalan dengan itu, Ibn Taymiyyah menegaskan, bahwa pangkal iman dan ilmu ialah ingat
(dzikr) kepada Allah. "Ingat kepada Allah memberi iman, dan ia adalah pangkal iman
.....pangkal ilmu.22
B. Sejarah Perkembangan Ilmu Fiqih
       1. Masa Nabi
Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan
kesalahan). Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan
himmahnya adalah kebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya. Dalam masa
Nabi wahyu Al-Qur’an masih terus turun susul-menyusul. Wahyu yang turun kadang-kadang
merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan para
sahabatnya.
Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang
Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan
masukan dari para sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri.
Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil
posisi di suatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang
mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan
ternnyata usulan itu diterima dan dilaksanakan oleh Nabi.
Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk
memperoleh buah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk
sari pohon kurma, maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata
pada tahun itu pohon-pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi
mengawinkan serbuk sari pohon kurma, seraya bersabda “Kamu lebih mengetahui urusan
duniamu”.
Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu
kemudian Nabi bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat
menjawab : “Daging keledai jinak”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan
pecahkan periuknya”. Salah seorang sahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami
membuang isinya dan kami mencuci periuknya ?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”.
Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabi
tidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan.
Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan
mereka itu ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar
atau Nabi memberi komentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para
sahabat Nabi terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang
kepada Nabi dan menanyakan masalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya.
Contohnya adalah sebagai berikut :
     a. Dalam perang Zatu al Salasil (perang musim dingin) ‘Amr bin Ash mengalami mimpi
junub. Akan tetapi ‘Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia

      21
          Abu Ja'far Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn Babwayh al-Qummi, al-Tawhid (Qumm:
Mu'assasat al-Nasyr al-Islami, 1398 H), hh. 22, 35, 82 dan 230.
      22
         Naqdl al-Manthiq, h. 34.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    94
hanya ber tayamum dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad ‘Amr bin Ash itu sampai
kepada Nabi, maka beliau bertanya kepada ‘Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama
sahabat kamu,sedangkan kamu berada dalam keadaan junub ?” maka ‘Amr bin Ash menjawab
: “Aku mendengar Allah berfirman : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya
Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” (QS An-Nisa : 29)
Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itu
merupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.
     b. Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan ‘Ammar bin Yasir sama-sama dalam
keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara
waktu shalat telah tiba. ‘Ammar ber-ijtihad dengan meng qiyas kan air dengan debu, maka
‘Ammar berguling-guling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang
menurutnya hanya menghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat.
Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa kedua
ijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamum
biasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadas
besar dalam keadaan darurat.
     c. Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjian
persekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh.
Pada saat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan
berusaha membantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung
diporak-porandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah
memerintahkan Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada
diantara kalian yang melakukan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah”.
Sekelompok sahabat Nabi memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna
lahirnya) maka mereka bergegas pergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat
yang lain memahami sabda Nabi diatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh
melakukan shalat Ashar tepat waktu, baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke
perkampungan Bani Quraidhah. Ternyata Nabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.
Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yang
seharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para
sahabat.
    3. Masa Khulafaur Rasyidin
Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka
beliau mengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang
mengetahui hadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi
maka Khalifah Abu Bakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila
tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan
berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.
Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah
pertama yaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota
Madinah, maka kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi
Ijma’ yang mutlak dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin.
Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kota
Madinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaum
muslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama
sesuai dengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan
para ulama dan mujtahid dari generasi tabi’in dan tabi’it-tabi’in.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    95
Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya
dari Madinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan
darah diantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang
Nahrawand.
Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin
dapat dijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi :
“Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” (HR Tirmidzi, Thabarani,
Hakim)
“Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan
(faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin
yang diberi hidayah.” (HR. Abu Dawud).
Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenal
sebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak
disandarkan berasal dari Nabi disebut hadits mauquf.
Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapa
ayat Al-Qur’an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits.
Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 :
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang
Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.”
Hadits Nabi :
“Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian
umatku.”
Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahui
latar belakang turunnya ayat Al-Qur’an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya
hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan paling
besar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukan
dan diikuti.
Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenal
banyak memberi fatwa adalah :
    a. Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah.
    b. Abdullah Ibnu Mas’ud, mengembangkan perguruannya di Kufah.
    c. Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah.
    d. Abdullah bin ‘Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di Mesir.
    e. Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria).
    f. Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah.
    g. Aisyah, Ummul Mukminin
    h. Abu Hurairah, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi.
    i. Abu Darda’, mengembangkan perguruannya di Basrah.
    j. Abu Musa Al-Asy’ari, mengembangkan perguruannya di Basrah.
    k. Ubay bin Ka’ab, pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah.
Karakteristik Ijtihad masa Sahabat :
     a. Dengan musyawarah diantara ahlul hal wal aqd, yaitu para Khalifah (penguasa) dan
         para fuqaha (ahli fiqih) sahabat besar.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       96
     b. Patuh dan tidak menyelisihi keputusan Amir.
     c. Tidak berfatwa untuk sesuatu yang belum terjadi. Atsar dari Masruq yang bertanya
        kepada Ubay bin Ka’ab tentang sesuatu hal, maka Ubay bin Ka’ab menjawab :
        “Apakah hal itu telah terjadi ?” Aku menjawab : “Belum”. Ia mengatakan : “Kita
        tangguhkan (tunggu) sampai hal itu terjadi. Apabila hal itu telah terjadi, kami akan
        berijtihad untuk kamu dengan pendapat kami”.
     d. Toleran
        Ath-Thabari meriwayatkan atsar bahwa Umar bin Khattab bertemu dengan seorang
        laki-laki yang sedang mempunyai kasus, lalu Umar bertanya padanya : “Apa yang
        engkau perbuat ?” Orang itu menjawab : “Aku dihukumi demikian, oleh Ali dan Zaid”.
        Umar berkata : “Kalau aku, tentu aku akan menghukumi demikian”. Lelaki itu berkata :
        “Apa yang menghalangimu, sedangkan urusan itu ada padamu ?” Umar menjawab :
        “Kalau aku mengembalikanmu kepada Kitabullah dan Sunnah, tentu aku lakukan.
        Tetapi aku mengembalikanmu pada ra’yu (ijtihad akal), sedangkan ra’yu itu musytarak
        (lebih dari satu pendapat) dan aku tidak tahu pendapat mana yang benar menurut
        Allah. Maka tidak kurang nilainya apa yang dikatakan oleh Ali dan Zaid”.
     e. Menjauhi pembahasan ayat-ayat Mutasyabih. Khalifah Umar bin Khatab pernah
        mencambuk orang yang suka membahas ayat-ayat mutasyabih.
      4. Masa Tabi’in
Para tabi’in adalah murid-murid langsung dari para sahabat Nabi. Pada masa tabi’in mereka
melakukan dua peranan penting, yaitu :
        a. Mengumpulkan riwayat hadits dan fatwa sahabat.
        b. Ber ijtihad untuk masalah-masalah yang belum diketahui pendapat dari sahabat.
Para tabi’in di tiap-tiap kota mengembangkan ijtihadnya berdasarkan pengajaran dan methode
guru mereka masing-masing dari kalangan sahabat Nabi.
Mufti dan Fuqaha di Madinah
    a. Said bin Al Musayyab
    b. Urwah bin Zubair
    c. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq
    d. Kharijah bin Zaid bin Tsabit
    e. Abu Bakar bin Abdurrahman
    f. Sulaiman bin Yasar
    g. Ubaidillah bin Abdullah
Mufti dan Fuqaha di Mekkah :
    a. Atha’ bin Abi Rabah
    b. Thawus bin Kisan
    c. Mujahid bin Jabar
    d. Ubaid bin Umar
    e. Amru bin Dinar
    f. Ikrimah maula Ibnu Abbas
Mufti dan Fuqaha di Basrah :
    a. Amru bin Salamah
    b. Abu Maryam al-Hanafy
    c. Ka’ab bin Sud

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      97
   d. Hasan Al Basri
   e. Muhammad bin Sirin
   f. Muslim bin Yasar
Mufti dan Fuqaha di Kufah :
   a. Alqamah bin Qais An-Nakhaiy
   b. Masruq bin Al Ajda; Al Hamdany
   c. Syuraih al Qadhy
   d. Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Qadly.
   e. Rabi’ bin Khutsam.
Mufti dan Fuqaha di Mesir :
   a. Yazid bin Abi Habib
   b. Bakir bin Abdillah
   c. Amru bin Al-Harits
Mufti dan Fuqaha di Yaman :
   a. Mutharrif bin Mazin al-Qadly.
   b. Abdul Raziq bin Hamman
   c. Hisyam bin Yusuf
   d. Muhammad bin Tsur
   e. Samak bin Al-Fadhl
Mufti dan Fuqaha di Baghdad :
   a. Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam
   b. Abu Tsur Ibrahim bin Khalid al Kalby
Mufti dan Fuqaha di Andalusia :
   a. Yahya bin Yahya
   b. Abdul Malik bin Habib
   c. Baqi bin Makhlad
   d. Qasim bin Muhammad
   e. Maslamah bin Abdul Aziz Al Qadly
Fuqaha Tujuh (Fuqaha al-sab’ah)
Mereka adalah para tabi’in yang dikenal sebagai imam ahli Fiqih (Fuqaha), yaitu :
   a. Said bin Al-Musayyab (15 – 93 H), menantu sahabat Nabi Abu Hurairah. Ahli hadits,
        paling mengetahui keputusan hukum Abu Bakar dan Umar, guru Ibnu Syihab Az Zuhry.
   b. ‘Urwah bin Zubair (wafar 94 H), keponakan Aisyah Ummul Mukminin.
   c. Abu Bakar bin ‘Ubaid bin Al Harits bin Hisyam Al Makzumi (wafat 94 H).
   d. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq (wafat 94 H).
   e. ‘Ubaidillah bin Utbah bin Abdullah bin Mas’ud (wafat 99 H), guru Umar bin Abdul Azis.
   f. Sulaiman bin Yasar (34-100 H), meriwayatkan hadits dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin
        Umar, Abu Hurairah, Aisyah, Maimunah dan Ummu Salamah.
   g. Kharijah bin Zaid bin Tsabit, ahli fiqih dan menguasai ilmu faraidh (warisan).

     5. Masa Tabi’t Tabi’in dan Imam Mazhab.
Mufti dan Fuqaha di Mekkah :
Di mekkah terdapat Muslim bin Khalid Al Zanji, Sa’id bin Salim Al-Qadah, Abdullah bin Zubair al
Humaidy, Musa bin Abi Jarud dan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i.
Mufti dan Fuqaha di Madinah :
Ibnu Sihab Az Zuhri, Abdurrahman bin Hurmuz, Malik bin Anas.
Mufti dan Fuqaha di Basrah :
Abdul Wahab bin Majid Ats Tsaqafy, Said bin abi ‘Arubah, Hammad bin Salamah, Ma’mar bin
Rasyid.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         98
Mufti dan Fuqaha di Kufah :
Ibnu Abi Layla, Abdullah bin Syubramah, Syarikh Al Qadly, Sufyan Tsauri, Muhammad Al Hasan
Asy Syaibany, Abu Yusuf Al Qadly, Abu Hanifah
Mufti dan Fuqaha di Baghdad :
Abu Tsur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi.
Mufti dan Fuqaha di Syam
Yahya bin Hamzah Al Qadly, ‘Amru Abdurrahman bin ‘Amru Al Auzay, Abu Ishaq Al Farazy Ibnu
Mubarak.
Mufti dan Fuqaha di Mesir :
Abdullah bin Wahbin, Al Muzny, Ibnu Abdul hakam, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i.
          Imam Abu Hanifah (80-150 H)
Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, lahir tahun 80 H di kota Kufah
pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Beliau lebih populer dipanggil Abu Hanifah.
Kakeknya seorang Persia beragama Majusi. Hanifah dalam bahasa Iraq berarti tinta. Ini karena
beliau banyak menulis dan memberi fatwa.
Abu Hanifah pada mulanya adalah seorang pedagang yang sering pulang-pergi ke pasar.
Hingga suatu ketika beliau bertemu dengan Sya’bi yang melihat bakat kecerdasan Abu Hanifah
dan menyarankannya agar banyak menemui ulama mempelajari agama. Nasehat Syabi’
berkesan di hati Abu Hanifah, kemudian beliaupun banyak berguru kepada para ulama.
Imam Abu Hanifah mendapatkan hadits dari Atha’ bin Abi Rabah, Abu Ishaq As Syuba’I, Muhib
bin Disar, Haitam bin Hubaib Al Sarraf, Muhammad bin Mukandar, Nafi Maula Abdullah bin
Umar, Hisyam bin urwah dan Samak bin Harb. Beliau mempelajari Fiqih dari Hammad bin
Sulaiman, mempelajari qiraat dari Imam ‘Ashim (salah satu qurra’ tujuh). Beliau seorang hafidz
(hafal Al-Qur’an), pada bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali.
Imam Syafi’i berkata : “Semua kaum muslimin berhutang budi pada Abu Hanifah, Imam Abu
Hanifah itu bapak dan para ahli Fiqih itu anak-anaknya.”
Imam Malik berkata : “Subhanallah, saya tidak pernah melihat orang seperti dia, andaikan dia
mengatakan bahwa tiang ini terbuat dari emas, tentu ia akan dapat membuktikannya melalui
Qiyasnya.”
Mengenai metode Ijtihadnya, Imam Abu Hanifah pernah berkata : “Saya mengambil Kitabullah
(Al-Qur’an) jika saya mendapatkannya. Hal yang tidak saya jumpai dalam Al-Qur’an akan saya
ambil dari Sunnayh Rasulullah SAW, dari riwayat yang shahih dan populer dikalangan orang-
orang kepercayaan. Jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah, saya akan
mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan yang lain. Setelah itu saya
tidak akan keluar dalam fatwa selain mereka. Jika telah sampai kepada Ibrahim, Sya’bi, Ibnu
Sirin, Ibnu Musayyab dan lainnya, maka saya ber-ijtihad sebagaimana mereka juga ber-ijtihad.
Fudail bin Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah didasarkan pada hadits yang shahih sampai
kepada Abu Hanifah, pasti dia akan mengikutinya. Begitu juga dari sahabat dan tabi’in. Kalau
tidak, dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik”.
Al-Dabussi dalam kitab Ta’sis al-Nazhar menyebutkan : “Abu Hanifah suka pada kebebasan
berpikir. Ia seringkali memberikan kepada sahabat dan murid-muridnya untuk mengajukan
keberatan-kebaratan atas ijtihadnya. Imam Abu Hanifah dalam mempelajari suatu masalah
menukik dalam sampai ke akar permasalahan. Beliau memahami inti hakikat (lubb al-haqa’iq),
memahami isi dan misi yang terdapat dibelakang nash-nash itu dalam bentuk illat-illat dan
hukum-hukum.”

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        99
Imam Abu Hanifah berkata : “Perumpamaan orang yang mempelajari hadits, sedangkan ia
tidak memahami, sama halnya dengan apoteker yang mengumpulkan obat, sementara ia tak
tahu persis untuk apa obat itu digunakan, akhrinya dokter datang….demikianlah kedudukan
penuntut hadits yang tidak mengenal wajah haditsnya, sehingga hadirnya fiqih”.
Imam Abu hanifah dikenal teguh hati dan kokoh dalam pendirian. Beliau pernah mengalami
dua kali masa ujian. Pertama pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (Khalifah
terakhir Bani Umayyah), Ibnu Hubairah (gubernur Iraq) menunjuk Imam Abu Hanifah menjadi
qadly, namun pengangkatan itu ditolak oleh Imam Abu Hanifah. Maka Imam Abu Hanifah
dipukul sampai empat belas kali sebagai hukuman karena dianggap tidak mendukung
pemerintahan Bani Umayyah.
Ujian kedua dialami pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al Manshur dinasti Abbasyah.
Kasusnya hampir sama, karena Imam Abu Hanifah menolak diangkat menjadi Qadly oleh
Khalifah Al Manshur. Beliau dipenjara dan disiksa dalam penjara.
Beliau juga dicurigai mendukung gerakan kaum Alawiyin yang dituduh berusaha memberontak
terhadap kekuasaan Bani Abbas. Akhirnya Imam Abu Hanifah meninggal karena diracun dalam
penjara. Pada tahun 150 H, bersamaan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah, lahir Imam
Syafi’i.
Metode Ijtihad Imam Abu Hanifah :
    1. Al-Qur’an
    2. Hadits dari riwayat kepercayaan.
    3. Ijma’
    4. Fatwa Shabat
    5. Qiyas
    6. Istihsan (keluar dari qiyas umum karena ada alasan yang lebih kuat).
    7. Urf (kebiasaan yang baik dalam tata-pergaulan, muamalah dikalangan manusia)
Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar kodifikasi ilmu Fiqih,
pemikiran-pemikiran beliau kemudian ditulis dan dibukukan oleh sahabat sekaligus murid-
muridnya seperti Abu Yusuf Al Qadhy dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani.
Fiqih mazhab Hanafi mewakili aliran Kufah, menggunakan porsi ra’yu (Qiyas) lebih banyak
dibandingkan aliran Hijaz yang lebih banyak menggunakan hadits/atsar.
Kitab-kitab kumpulan fatwa mazhab Hanafi :
Tentang Masailul Ushul :
         1. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         2. Al-Jami’us Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         3. Al-Jami’ul Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         4. As-Sairus Shaghir, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         5. AS-Sairus Kabir, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         6. Az-Zidayat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         7. Al-Kafi, karya : Abdul Fadha’ Hammad bin Ahmad.
         8. Al-Mabshuth, karya : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.
Tentang Masailul Nawadhir :
         1. Dhahirur Riwayah, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         2. Haruniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         3. Jurjaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         4. Kisaniyat, karya : Muhammad bin Al Hasan.
         5. Al-Mujarrad, karya : Hasan bin Ziad.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                 100
Tentang Fatwa wal Waqi’at :
   1. An Nawazil, karya : Abdul Laits As Samarqandi.
   Tentang Akidah dan Ilmu Kalam :
   1. Fiqhul Akbar, diriwayatkan oleh Abi Muthi’ Al Hakam.
          Imam Malik bin Anas (93-179 H)
Nama lengkapnya Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amir al-Asbahi al Madani. Beliau
dilahirkan di Madinah tahun 93 H. Sejak muda beliau sudah hafal Al-Qur’an dan sudah nampak
minatnya dalam ilmu agama.
Imam Malik belajar hadits kepada Rabi’ah, Abdurrahman bin Hurmuz, Az-Zuhry, Nafi’ Maula
Ibnu Umar. Belajar Fiqih kepada Said bin Al Musayyab, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin
Muhammad bin Abu Bakar Shidiq, Abu Salamah, Hamid dan Salim secara bergiliran. Belajar
qiraat kepada Nafi’ bin Abu Nu’man.
Ibnu Al-Kasim berkata : “Penderitaan Malik selama menuntut ilmu sedemikian rupa, sampai-
sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian di jual kepasar”.
Imam malik sangat memulikan ilmu dan menghormati hadits Nabi. Imam Malik tidak mau
mempelajari hadits dalam keadaan berdiri. Beliau juga tidak mau menaiki kuda di kota
Madinah karena beliau malu berkuda diatas kota yang dibawah tanahnya ada makam
Rasulullah SAW.
Ibnu Abdu Al-Hakam mengatakan : “ Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama dengan
gurunya Yahya bin Sa’ad, Rabiah dan Nafi’, meskipun usianya baru berusia 17 tahun. Beliau
dikenal jujur dalam periwayatannya.
Abu Dawud mengatakan : “Hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari
Nafi’ dari Ibnu Umar. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari Az Zuhry dari Salim dari
ayahnya. Beriktnya adalah hadits dari Malik dari Abu Zanad dari ‘Araj dari Abu Hurairah. Hadits
mursal Malik lebih shahih dari pada hadits mursal Said bin Al Musayyab atau Hasan Al Basri.”
Sufyan mengatakan : “Jika Malik sudah mengatakan ‘balaghny’ telah sampai kepadaku, niscaya
isnad hadits tersebut kuat”.
Imam Syafi’i mengatakan : “Jika engkau mendengar suatu hadits dari Imam Malik, maka
ambillah hadits itu dan percayalah”.
Imam Malik juga dikenal sangat hati-hati dalam masalah hukum halal-haram. Imam
Abdurrahman bin Mahdy meriwayatkan : “Kami pernah disamping Imam Malik, ketika itu
datang seorang laki-laki kepada beliau lalu berkata : ‘Dari perjalanan yang menghabiskan
tempoenam bulan lamanya, para kawanpenduduk dikampung saa membawa suatu masalah
kepadaku untuk ditanyakan kepada engkau”. Imam Malik berkata : “Bertanyalah”. Orang tadi
lalu menyampaikan pertanyaan kepada beliau dan beliau hanya menjawab : “aku tidak
memandangnya baik”. Orang itu terus mendesak karena menginginkan Imam Malik lebih tegas
memfatwakan hukumnya, “Bagaimana nanti kalau kau ditanya orang di kampungku yang
menyuruh aku datang kemari, bilamana aku telah pulang kepada mereka ?” Imam Malik
berkata : “Katakan olehmu bahwa aku Malik bin Anas mengatakan tidak menganggapnya
baik”. Artinya beliau sangat hati-hati, tidak gegabah menghukumi haram bila tidak ada dalil
nash yang tegas mengharamkannya.
Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadits dan fiqih.
Tentang penguasaannya dalam hadits, beliau sendiri pernah mengatakan : “Aku telah menulis


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        101
dengan tanganku sendiri 100.000 hadits”. Beliau mengarang kitab hadits Al-Muwatta’,
merupakan kitab hadits tertua yang sampai kepada kita.
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur beliau pernah memberi fatwa bahwa
“akad orang yang dipaksa itu tidak syah”. Fatwa ini tidak disukai oleh pemerintah karena bisa
membawa konsekuensi juga bahwa baiat kepada penguasa karena terpaksa adalah juga tidak
syah dan itu dianggap membahayakan kekuasaan Bani Abbas.
Gubernur Madinah, Ja’far bin Sulaiman memerintahkan agar Imam Malik mencabut fatwanya,
namun Imam Malik menolak. Akibatnya gubernur memukulnya sampai 80 kali sampai tulang
belikatnya retak dan mengaraknya diatas kuda keliling kota Madinah. Sejak itu namanya
bukannya menjadi cemar, justru makin melambung dan harum dimata umat.
Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau meminta Imam Malik agar datang ke
Baghdad dan mengajarkan Al Muwatta’ untuk keluarga istana, maka Imam Malik berkata , “
Ilmu itu didatangi bukan sebaliknya”. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid bersama dua anaknya
Al Ma’mun dan Al Amin datang ke Madinah untuk belajar kitab Al Muwatta’.
Khalifah Harun Al Rasyid pernah berkata : “Aku akan menggiring manusia kepada kitab Al
Muwatta’ sebagaimana Usman menggiring pada Mushaf Al-Qur’an”. Keinginan Khalifah
tersebut dijawab oleh Imam Malik bahwa hal itu tidak mungkin, karena sejak Masa Khalifah
Usman, sahabat Nabi sudah tersebar ke berbagai kota dan masing-masing mengembangkan
ijtihad dan berfatwa. Kemudian Imam Malik pun mengarang kitab kumpulan fatwa-fatwa
sahabat, yaitu : Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang
keras), Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan) dan
Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud).
Metode Ijtihad Imam Malik bin Anas :
     1. Al-Qur’an
     2. Hadits (termasuk hadits dhaif yang diamalkan penduduk Madinah).
     3. Ijma’
     4. Atsar yang diamalkan penduduk Madinah.
     5. Qiyas
     6. Mashlahah Mursalah (keluar dari Qiyas umum karena alasan mencari maslahat)
     7. Perkataan Sahabat.
Bila dibandingkan dengan Imam Abu Hanifah (aliran Kufah), mazhab Imam Malik mewakili
aliran Hijaz lebih banyak berdasarkan hadits dan atsar, lebih sedikit menggunakan porsi
dengan ra’yu (Qiyas).
Kitab Kitab Mazhab Maliki :
         1. Kitab Hadits, Al Muwatta’.
         2. Syada’id Abdullah bin Umar (Pendapat-pendapat Abdullah bin Umar yang keras)
         3. Rukhas Abdullah bin Abbas (Pendapat-pendapat Abdullah bin Abbas yang ringan)
         4. Shawazh Abdullah Ibnu Mas’ud (Pendapat-pendapat Abdullah bin Mas’ud).
         Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H)
Seorang pemuda Quraisy yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf,
kakek generasi keempat diatas Rasulullah. Beliau lahir di Ghaza, Palestina (riwayat lain lahir di
Asqalan, perbatasan dengan Mesir) pada tahun 150 H, pada tahun yang sama dengan
meninggalnya Imam Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, diasuh dan
dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi serba kekurangan (miskin).
Beliau dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Pada usia tujuh tahun sudah dapat
menghafal Al-Qur’an. Kemudian beliau pergi ke kampung Bani Huzail untuk mempelajari sastra
Arab dari Bani Huzail yang dikenal halus bahasanya. Sampai suatu ketika beliau bertemu
dengan Muslim bin Khalid Az Zanji yang menyarankan agar beliau mempelajari fiqih.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          102
Imam Syafi’i kemudian berguru kepada Imam Muslim bin Khalid Az Zanji (mufti Mekkah). Pada
usia 10 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwatta’ karya imam Malik. Pada usia 13
tahun bacaan Al-Qur’an imam Syafi’i yang sangat merdu mampu membuat pendengarnya
menangis tersedu-sedu. Pada usia 15 tahun beliau diijinkan oelh gurunya untuk memberi
fatwa di Masjidil Haram.
Ketika berumur 20 tahun Imam Syafi’i ingin berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas,
pengarang kitab Al Muwatta’ di Madinah. Niat itu didukung oleh gurunya dan didukung juga
oleh gubernur Mekkah yang membuatkan surat pengantar untuk gubernur Madinah meminta
dukungan bagi keperluan Imam Syafi’i dalam belajar kepada Imam Malik di Madinah.
Dengan diantar gubernur Madinah, Imam Syafi’i mendatangi rumah Imam Malik. Mula-mula
Imam Malik kurang suka dengan adanya surat pengantar dalam urusan menuntut ilmu. Tapi
setelah pemuda Syafi’i bicara dan mengemukakan keinginannya yang kuat untuk belajar,
apalagi setelah mengetahui bahwa pemuda Syafi’i telah hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al
Muwatta’ karangannya, maka Imam Malik menjadi kagum dan akhrinya menerimanya menjadi
muridnya.
Imam Syafi’i kemudian menjadi murid kesayangannya dan tinggal di rumah Imam Malik. Imam
Syafi’i juga dipercaya mewakili Imam Malik membacakan kitab Al-Muwatta’ kepada jamaah
pengajian Imam Malik. Sekitar satu tahun Imam Syafi’i tinggal bersama Imam Malik bin Anas,
hingga akhirnya Imam Syafi’i ingin pergi ke Irak, untuk mempelajari fiqih dari penduduk Irak,
yaitu murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Malik pun mengijinkan dan memberikan uang
saku sebesar 50 dinar.
Sesampai di Irak, imam Syafi’i menjadi tamu Imam Muhammad Al Hasan (murid Abu Imam Abu
Hanifah). Beliau banyak berdiskusi dan mempelajari kitab-kitab mazhab Hanafi yang dikarang
oleh Muhammad Al Hasan dan Abu Yusuf. Setelah sekitar dua tahun berdiam di Irak, Imam
Syafi’i meneruskan pengembaraan ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah. Di setiap kota
yang dikunjungi Imam Syafi’i mengunjungi ulama-ulama setempat, melakukan diskusi
mempelajari ilmu dari mereka dan mempelajari adat-istiadat budaya setempat. Setelah
bermukim 2 tahun di Irak dan 2 tahun mengembara berkeliling ke negeri negeri Islam akhirnya
Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan disambut penuh haru oleh gurunya yaitu Imam Malik bin
Anas. Kemudian Imam Syafi’i selama empat tahun lebih tinggal di rumah Imam Malik dan
membantu gurunya dalam mengajar, sampai meninggalnya Imam Malik pada tahun 179 H.
Sepeninggal Imam Malik, ketika itu beliau berusia 29 tahun, maka tidak ada lagi orang yang
membantu keperluan beliau. Atas pertolongan Allah pada tahun itu juga datang wali negeri
Yaman ke Madinah yang mengetahui bahwa Imam Malik bin Anas telah wafat dan mengetahui
tentang salah seorang muridnya yang cerdas dan ahli yaitu Imam Syafi’i. Wali Negeri Yaman
mengajak Imam Syafi’i ikut ke Yaman untuk menjadi sekertaris dan penulis istimewanya. Di
Yaman beliau menikah dengan Hamidah binti Nafi (cucu Usman bin Affan) dan dikaruniai
seorang putra dan dua orang putri.
Di Yaman Imam Syafi’i juga masih terus belajar, terutama kepada Imam Yahya bin Hasan.
Disana beliau juga banyak mempelajari ilmu firasat yang pada saat itu sedang marak dipelajari.
Pada waktu itu Yaman merupakan salah satu pusat pergerakan kaum Alawiyin yang berusaha
memberontak terhadap kekuasaan Bani Abbas. Berdasarkan laporan mata-mata Khalifah maka
beberapa tokoh orang-orang Alawiyin dan termasuk juga Imam Syafi’i ditangkap dan dibawa
ke Baghdad untuk diinterogasi oleh Khalifah Harun Al Rasyid.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       103
Setelah diinterogasi dan berdialog dengan Khalifah Harun Al Rasyid, beliau dibebaskan dari
segala tuduhan, sedangkan semua orang-orang Alawiyin dibunuh oleh Khalifah. Setelah bebas
dibebaskan, Imam Syafi’i sempat beberapa lama tinggal di Baghdad dan menuliskan fatwa-
fatwa qaul qadim (pendapat lama) nya. Selama di Baghdad ini pula pemuda Ahmad bin Hanbal
berguru kepada beliau mempelajari fiqih.
Pada sekitar tahun 200 H, Abbas bin Abdullah diangkat menjadi gubernur Mesir. Gubernur
Mesir yang baru tersebut mengajak Imam Syafi’i ikut ke Mesir untuk dijadikan Qadly sekaligus
mufti di Mesir. Maka akhirnya Imam Syafi’I tinggal di Mesir bersama sang Gubernur.
Setibanya di Mesir, Imam Laits bin Sa’ad mufti Mesir telah meninggal, maka beliau
mempelajari fiqih Imam Laits melalui murid-muridnya. Di Mesir inilah beliau menuliskan fatwa-
fatwa qaul jadid (pendapat baru) nya. Imam Syafi’i terus mengajar dan menjadi mufti,
memberikan fatwa-fatwa di Masjid ‘Amr bin Ash sampai wafatnya.
Metode Ijtihad Imam Syafi’i :
         1. Al-Qur’an
         2. Hadis
         3. Ijma’
         4. Qiyas
         5. Istidlal
Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menyusun sistematika, perumus dan yang
mengkodifikasikan ilamu Ushul Fiqih, melalui kitabnya Ar Risalah. Beliau menerangkan cara-
cara istinbath (pengambilan hukum) dari Al-Qur’an dan Hadist, menerangkan mukashis nash
yang mujmal, menerangkan cara mengkompromikan dan men tarjih nash-nash yang secara
zahirnya saling bertentangan, menerangkan kehujahan Ijma’, qiyas dsb. Imam Syafi’i Juga
melakukan penilaian terhadap metode ihtihsan Imam Abu Hanifah, metode maslahah
mursalah dan praktek penduduk Madinah yang dipakai oleh Imam Malik.
Kitab-kitab mazhab Syafi’i :
         1. Ar Risalah, kitab pertama yang menguraikan tentang ilmu Ushul Fiqih.
         2. Al ‘Um (kitab induk), berisi pembahasan berbagai masalah fiqih.
         3. Jami’ul Ilmi.
         4. Ibthalul-Istihsan, berisi penilaian terhadap metode Istihsan.
         5. Ar-Raddu ‘ala Muhammad ibn Hasan, berisi mudhabarah, diskusi dan bantahan
         terhadap pendapat Muhammad ibn Hasan, murid utama Imam Abu Hanifah.
         6. Siyarul Auza’y, berisi pembelaan terhadap Imam Al-Auza’y.
         7. Mukhtaliful Hadits, berisi cara mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahir
         saling bertentangan.
         8. Musnad Imam Syafi’i, berisi kumpulan hadits yang diterima dan diriwayatkan oleh
         Imam Syafi’i.
         Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H)
Lahir di kota Baghdad pada tahun 164 H. Ayahnya meninggal ketika beliau masih anak-anak
dan kemudian dibesarkan dan diasuh oleh ibunya. Kota Baghdad pada waktu itu merupakan
ibukota Kekhalifahan Bani Abbas dan merupakan gudangnya para ulama dan ilmuwan. Imam
Ahmad bin Hanbal banyak berguru pada ulama-ulama di kota kelahirannya tersebut.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      104
Ketika berumur 16 tahun, pemuda Ahmad bin Hanbal pergi mengembara menuntut ilmu,
terutama berburu hadits-hadits Nabi sampai ke Kufah, Basrah, Syria, Yaman, Mekkah dan
Madinah.
Mengenai gurunya ada puluhan orang yang semuanya adalah ulama-ulama dalam berbagai
bidang ilmu. Diantara gurunya adalah Sufyan bin Uyainah, Abu Yusuf Al Qadhy dan Imam
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Imam Hanbali dikenal sangat gemar dan bersemangat menuntut ilmu, berburu hadits, ahli
ibadah, wara’ dan zuhud. Imam Abu Zu’rah mengatakan : “Imam Ahmad bin Hanbal hafal lebih
dari 1.000.000 (satu juta) hadits”. Sementara anaknya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal
mengatakan : “Ayahku telah menuliskan 10.000.000 hadits banyaknya dan tidaklah beliau
mencatatnya hitam diatas putih, melainkan telah dihafalnya diluar kepala”.
Ketika pemerintahan ada ditangan Khalifah Al Ma’mun, saat itu kaum Mu’tazilah berhasil
mempengaruhi Khalifah untuk mendukung pemikiran mereka dan mempropagandakan
pendapat bahwa Al-Qur’an adalah mahkluk. Kaum Mu’tazilah yang didukung penuh oleh
Khalifah Al-Ma’mun memaksakan pendapat itu kepada seluruh rakyat.
Para Ulama yang tidak sependapat ditangkap dan diinterogasi ke istana. Hampir semua ulama
tidak berani menentang karena takut dihukum berat. Satu-satunya ulama yang tetap istiqomah
menentang pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hanyalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Akibatnya beliau disiksa, dipukuli dan hampir saja dibunuh. Rupanya Allah menyelamatkan
beliau karena tiba-tiba Khalifah Al Ma’mun meninggal secara mendadak di Tharsus, sehingga
eksekusi hukuman mati kepada Imam Ahmad bin Hanbal tidak sampai dilaksanakan.
Sepeninggal Al Ma’mun, dua orang Khalifah penggantinya yaitu Al Muntashir dan Al-Watsiq
masih meneruskan kebijaksanaan mendukung kaum Mu’tazilah dan progandanya bahwa Al-
Qur’an adalah makhluk. Selama itu Imam Ahmad bin Hanbal hidup dalam persembunyian dan
mengasingkan diri.
Setelah Al-Watsiq, yang naik tahta adalah Khalifah Al-Mutawakil. Pada masa Al-Mutawakil
inilah propaganda bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dihentikan sama sekali. Bahkan Khalifah
menangkapi dan menghukum ulama-ulama Mu’tazilah yang dahulu menjadi pelopor utama
propaganda kemakhlukan Al-Qur’an.
Khalifah Al Mutawakil sangat menghormati dan memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau
dijadikan penasehat resmi istana, dan Khalifah mendukung penuh ajaran-ajaran Imam Ahmad
bin Hanbal dan para ahli hadits. Metode Ijtihad Imam Ahmad bin Hanbal :
         1. Al-Qur’an
         2. Hadits
         3. Ijma’ Sahabat
         4. Fatwa Sahabat
         5. Atsar Tabi’in
         6. Hadits Mursal / Dhaif
         7. Qiyas
     Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan
     atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis
     dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas.
     Kitab-kitab mazhab Hanbali :
     1. Tafsir Al-Qur’an.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       105
    2.    Musnad Imam Ahmad, sebuah kitab kumpulan hadits yang tebal.
    3.    Kitab Nasikh wal Mansukh.
    4.    AL Muqaddam wal Muakhkhar fil Qur’an.
    5.    Jawabatul Qur’an.
    6.    Kitab At Tarikh.
    7.    Al Manasikul Kabir.
    8.    Al Manasikus Saghir.
    9.    Tha’atur Rasul.
    10.   Al-‘Illah.
    11.   Kitab Zuhud.
    12.   Kitab Ash Shalah.
    13.   http://ahmadfaruq.blogdetik.com

C. Sejarah Perkembangan Tasawuf
     1. Pengertian Tasawuf
Kata tasawuf diambil dari kata shafa yang berarti bersih. Dinamakan shufi karena hatinya tulus
dan bersih di hadapan Tuhannya. Teori lain mengatakan bahwa kata tersebut diambil dari kata
Shuffah yang berarti serambi Masjid Nabawi di Madinah yang ditempati oleh sahabat-sahabat
Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl as-shuffah yang sungguh pun
miskin namun berhati mulia dan memang sifat tidak mementingkan kepentingan dunia dan
berhati mulia adalah sifat-sifat kaum sufi/ teori lainnya menegaskan bahwa kata sufi diambil
dari kata suf yaitu kain yang dibuat dari bulu atau wool, dan kaum sufi memilih memakai wool
yang kasar sebagai simbol kesederhanaan.
Dari berbagai teori di atas, tampak bisa dipahami bahwa sufi dapat dihubungkan dengan dua
aspek, yaitu aspek lahiriyah dan bathiniyah. Teori yang menghubungkan orang yang menjalani
kehidupan tasawuf dengan orang yang berada di serambi masjid dan bulu domba merupakan
tinjauan aspek lahiriyah dari shufi. Ia dianggap sebagai orang yang telah meninggalkan dunia
dan hasrat jasmani, dan menggunakan benda-benda di dunia hanya untuk sekedar
menghindarkan diri dari kepanasan, kedinginan dan kelaparan. Sedangkan teori yang melihat
sufi sebagai orang yang mendapat keistimewaan di hadapan Tuhan nampak lebih
memberatkan pada aspek bathiniyah.
Tasawuf sebagaimana disebutkan dalam artinya di atas bertujuan untuk memperoleh
hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang
berada di hadirat Tuhan, dan intisari dari sufisme itu adalah kesadaran akan adanya
komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan
berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ijtihad
atau menyatu dengan Tuhan.
Dalam ajaran tasawuf, seorang sufi tidak begitu saja dapat berada dekat dengan Tuhan,
melainkan terlebih dahulu ia harus menempuh latihan tertentu. Ia misalnya harus menempuh
beberapa maqam (stasiun), yaitu disiplin kerohanian yang ditujukan oleh seorang calon sufi
dalam bentuk berbagai pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha
tertentu.
Mengenai jumlah maqamat yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda sesuai dengan
pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Bakar Muhammad al-Kalabadzi misalnya,

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       106
mengemukakan beberapa mawamat, yaitu : taubat, zuhud, sabar, al-faqr, al-tawadlu’, taqwa,
tawakkal, al-ridla, al-mahabbah, al-ma’rifat dan kerelaan hati.

     2. Asal-Usul Tasawuf
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar yang masuk ke dalam
Islam. Sebagian penulis misalnya ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kebiasaan
rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan material. Ada pula yang mengatakan
bahwa tasawuf timbul atas pengaruh ajaran Hindu dan disebutkan pula bahwa ajaran tasawuf
berasal dari filsafat Phytagoras dengan ajaran-ajarannya yang meninggalkan kehidupan
material dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk ke
dalam Islam karena pengaruh filsafat Plotinus. Disebutkan bahwa menurut filsafat emanasi
Plotinus bahwa roh memancar dari zat Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Tetapi
dengan masuknya roh ke alam materi, ia menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke tempat
Yang Maha Suci, terlebih dahulu ia harus disucikan. Tuhan Maha Suci dan Yang Maha Suci tidak
dapat didekati kecuali oleh yang suci, dan pensucian roh ini terjadi dengan meninggalkan hidup
kematerian, dan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin dan kalau bisa
hendaknya bersatu dengan Tuhan semasih berada dalam hidup ini.
Namun demikian, terlepas atau tidak adanya pengaruh dari luar itu, yang jelas bahwa dalam
sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan hadist terdapat ajaran yang dapat membawa kepada
timbulnya tasawuf. Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, yang merupakan ajaran
dalam mistisisme ternyata ada di dalam Al-Qur’an dan hadist.
Ayat 186 Surat Al-Baqarah misalnya menyatakan :
                                       ‫َو ِاذى ساَِ ع َبا ِدى عَِّن فَ ِانـّي قَر يْب لاجِ ْلب دعْو َة ادله اع ِاذادعَان‬
                                       ِ َ َ ِ              َ َ ‫ِّ ْ ْ ِ م ل‬                              ِ َ َ َ
Artinya :
“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku. Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan seruan orang memanggil jika ia panggil Aku” (QS. Al-Baqarah : 186)
Kata ‫ دعا‬yang terdapat dalam ayat di atas oleh sufi diartikan bukan berdoa dalam arti yang
lazim dipakai, melainkan dengan arti berseru atau memanggil. Tuhan mereka panggil dan
Tuhan memperhatikan diri-Nya kepada mereka. Ayat 115 juga Surat Al-Baqarah juga
menyatakan :

                                                               ‫َوهلل املْْش لق َواملغَرب فَاي َ ْن َماَتو لوا فَمث َوج له هللا‬
                                                                       ْ ‫َ ُّ ه‬                      ‫ِل‬           ِْ
Artinya :
“Timur dan Barat kepunyaan Allah, maka kemana saja kamu berpaling di situ (kamu jumpai)
wajah Tuhan”.
Bagi kaum sufi ayat ini mengandung arti bahwa di mana saja Tuhan ada dan dapat dijumpai.
Selanjutnya dalam hadits dinyatakan :

                                                                                                        َ َ ْ
                                                                                 ‫َمن ع ََر ف نـَ ْفس له فَقَدْ ع ََرف َهللا‬
Artinya :
“Siapa yang kenal pada dirinya, pasti kenal kepada Tuhan”
Hadits lain juga mempunyai pengaruh kepada timbulnya paham tasawuf adalah hadits qudsi
yang artinya :
“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin kenal, maka
Kuciptakanlah makhluk dan mereka pun kenal pada-Ku melalui diri-Ku”

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                                     107
Menurut hadits ini, bahwa Tuhan dapat dikenal melalui makhluk-Nya, dan pengetahuan yang
lebih tinggi ialah mengetahui Tuhan melalui diri-Nya.
Tahanuts yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan
utama bagi nur tasawuf, karena itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniah. Di dalam
mengingat Allah serta memuja-Nya di Gua Hira, putuslah ingatan dan tali rasa beliau dengan
segala makhluk lainnya. Di situ pula berawalnya Nabi Muhammad mendapat hidayah,
membersihkan diri dan mensucikan jiwa dari noda-noda penyakit yang menghinggapi sukma,
bahkan sewaktu itu pulalah berpuncaknya kebesaran, kesempurnaan, dan kemuliaan jiwa
Muhammad Saw. dan membedakan beliau dari kebiasaan hidup manusia biasa.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama hayatnya, segenap peri kehidupan beliau menjadi
tumpuan masyarakat, karena segala sifat terpuji terhimpun pada dirinya, bahkan beliau
merupakan lautan budi yang tidak pernah kering airnya kendatipun diminum oleh semua
makhluk yang memerlukan air. Amal ibadah beliau tiada tara bandingannya. Dalam sehari
semalam Rasulullah minimal membaca istighfar minimal 70 kali, shalat fardhu, rawatib serta
shalat dhuha yang tidak kurang dari delapan rakaat setiap hari. Shalat tahajjud beliau tidak
lebih dari sebelas rakaat, dan lama sujudnya sama dengan lamanya sahabat membaca lima
puluh ayat. Shalat beliau yang khusuk dan tuma’ninah amat sempurna. Dalam berdoa,
perasaan khauf dan raja’ selalu dinampakkan Rasulullah dengan tangis dan sedu sedannya.
Masih banyak lagi amalan Rasulullah yang menunjukkan ketasawufannya. Apa yang
dikemukakan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa amalan tasawuf ternyata sudah
dipraktekkan oleh Rasulullah Saw.
Pola hidup dan kehidupan Rasulullah yang sangat ideal itu menjadi suri tauladan bagi para
sahabatnya, baik bagi sahabat dekat maupun sahabat yang jauh. Tumpuan perhatian mereka
senantiasa ditujukan untuk mengetahui segala sifat, sikap dan tindakan Rasulullah, sehingga
para sahabat tersebut dapat pula memantulkan cahaya yang mereka terima kepada orang
yang ada di sekitarnya dan generasi selanjutnya. Amalan tasawuf sebagaimana dipraktekkan
oleh Rasulullah itu juga diikuti oleh para sahabatnya.
Abu Bakar Ash-Shiddieq misalnya, pernah hidup dengan sehelai kain saja. Dalam beribadat
kepada Allah Swt. karena khusu dan tawadhu’nya sampai dari mulutnya tercium bau limpanya,
karena terbakar oleh rasa takut kepada Allah. Pada malam hari ia beribadat dengan membaca
Al-Qur’an sepanjang malam.
Umar bin Khattab dikenal dengan keadilan dan amanahnya yang luar biasa. Ia pernah
berpidato di hadapan orang banyak, sedangkan di dalam pakaiannya terdapat dua belas
tambalan dan dia tidak memiliki kain yang lainnya.
Usman bin Affan dikenal sebagai orang yang tekun beribadah dan pemalu, dan meskipun ia
juga dikenal sebagai seorang sahabat yang tekun mencari rezeki, tetapi iapun terkenal sebagai
pemurah, sehingga tidak sedikit kekayaannya digunakan untuk menolong perjuangan Islam.
Sahabat selanjutnya adalah Ali bin Abi Thalib yang tidak peduli terhadap pakaiannya yang
robek dan menjahitnya sendiri.
Beberapa tokoh besar dalam sufi adalah : Rabi’ah al-Adawiyah, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-
Bustami, Husein bin Mansur al-Hajjaj, dan Al-Ghazali.
Demikian fakta sejarah berbicara tentang kehidupan yang dipraktekkan oleh orang-orang yang
bertasawuf, meninggalkan kemegahan dunia dan hanya mengabdikan diri untuk akhiratnya.



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      108
Daftar Pustaka :
1. Al-Kalabadzi, al-Ta’arruf li Madzhab ahl al-Tashawuf (al-Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah,
Cairo, 1969) h. 28
2. Ibrahim Basuni, Nasy’ah al-Tashawuf al-Islami, Juz III (Dar al-Maarif, Mesir, 1119), h. 9
3. Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filasafat dan Tawawuf (Dirasah Islamiyah IV)(Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2001), h. 153
D. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh
Ilmu Ushul Fiqh adalah kaidah-kaidah yang digunakan dalam usaha untuk memperoleh hukum-
hukum syara' tentang perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.Dan usaha untuk
memperoleh hukum-hukum tersebut, antara lain dilakukan dengan jalan ijtihad.
Sumber hukum pada masa Rasulullah SAW hanyalah Al-Qur'an dan As-Sunnah (Al-Hadits).
Dalam pada itu kita temui diantara sunnah-sunnahnya ada yang memberi kesan bahwa beliau
melakukan ijtihad. Misalnya, beliau melakukan qiyas terhadap peristiwa yang dialami oleh
Umar Bin Khattab RA, sebagai berikut.
Artinya:
"Wahai Rasulullah, hari ini saya telah berbuat suatu perkara yang besar; saya mencium isteri
saya, padahal saya sedang berpuasa. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya : Bagaimana
pendapatmu, seandainya kamu berkumur-kumur dengan air dikala kamu sedang berpuasa?
Lalu saya jawab: tidak apa-apa dengan yang demikian itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda
: Maka tetaplah kamu berpuasa!" (I'lamul Muwaqqi'in, Juz: I, hal: 199).
Pada hadits di atas Rasulullah SAW menetapkan tidak batal puasa seseorang karena mencium
isterinya dengan mengqiyaskan kepada tidak batal puasa seseorang karena berkumur-kumur.
Juga seperti hadits Rasulullah SAW :
Artinya                                                                                           :
"Seandainya tidak akan memberatkan terhadap umatku, niscaya kuperintahkan kepada
mereka bersiwak (bersikat gigi) setiap akan melakukan shalat." (HR. Abu Daud dari Zaid Bin
Khalid al-Juhanni).
Diterangkan oleh Muhammad Ali as-Sayis, bahwa hadits tersebut menunjukkan kepada kita
adanya pilihan Rasulullah SAW terhadap salah satu urusan, karena untuk menjaga
kemaslahatan umatnya. Seandainya beliau tidak diperbolehkan melakukan ijtihad, hal itu tidak
akan terjadi. Dalam pada itu, dari penelitian sebagian ulama terhadap berbagai peristiwa hidup
Rasulullah SAW, berkesimpulan bahwa beliau bisa melakukan ijtihad dan memberi fatwa
berdasarkan pendapatnya pribadi tanpa wahyu, terutama dalam hal-hal yang tidak
berhubungan langsung dengan persoalan hukum. Kesimpulan tersebut, sesuai dengan sabda
beliau sendiri :
Artinya                                                                                           :
"Sungguh saya memberi keputusan diantara kamu tidak lain dengan pendapatku dalam hal
tidak diturunkan (wahyu) kepadaku." (HR. Abu Daud dan Ummi Salamah).
Rasulullah SAW adalah seorang manusia juga sebagaimana manusia yang lain pada umumnya
maka hasil ijtihadnya bisa benar dan bisa salah, sebagaimana diterangkan dalam sebuah
riwayat, beliau bersabda :
Artinya                                                                                           :
"Saya tidak lain adalah seorang manusia juga, maka segala yang saya katakan kepadamu
yang berasal dari Allah adalah benar; dan segala yang saya katakan dari diri saya sendiri,
karena tidak lain saya juga seorang manusia, bisa salah bisa benar." (Ijtihad Rasul, hal: 52-53).
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                            109
Hanya saja jika hasil ijtihad beliau itu salah, Allah menurunkan wahyu yang tidak
membenarkan hasil ijtihad beliau dan menunjukkan kepada yang benar.
Sebagai contoh hasil ijtihad beliau tentang tindakan yang diambil terhadap tawanan perang
Badar. Dalam hal ini beliau menanyakan terlebih dahulu kepada para sahabatnya. Menurut
Abu Bakar agar mereka (para tawanan perang Badar) dibebaskan dengan membayar tebusan.
Sedangkan menurut Umar bin Khattab, mereka harus dibunuh, karena mereka telah
mendustakan dan mengusir Rasulullah SAW dari Makkah. Dari dua pendapat tersebut, beliau
memilih pendapat Abu Bakar. Kemudian turun ayat Al-Qur'an yang tidak membenarkan pilihan
beliau tersebut dan menunjukkan kepada yang benar, yakni :
Artinya                                                                                       :
"Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (Al-
Anfaal: 67).
Jika terhadap hasil ijtihad Rasulullah SAW tersebut, tidak diturunkan wahyu yang tidak
membenarkan dan menunjukkan kepada yang benar, berarti hasil ijtihad beliau itu benar, dan
sudah barang tentu termasuk ke dalam kandungan pengertian As-Sunnah (Al-Hadits).
Kegiatan ijtihad pada masa ini, bukan saja dilakukan oleh beliau sendiri, melainkan beliau juga
memberi ijin kepada para sahabatnya untuk melakukan ijtihad dalam memutuskan suatu
perkara atau dalam menghadapi suatu persoalan yang belum ada ketentuan hukumnya dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah, sebagaimana yang terjadi ketika beliau mengutus Mu'adz bin Jabal
ke Yaman, yang diterangkan dalam hadits sebagai berikut :
Artinya                                                                                       :
"(Rasulullah SAW bertanya) : Bagaimana cara kamu memutusi jika datang kepadamu suatu
perkara? Ia menjawab : Saya putusi dengan (hukum) yang terdapat dalam kitab Allah. Beliau
bertanya : Jika tidak kamu dapati (hukum itu) dalam kitah Allah? Ia menjawab : Maka dengan
Sunnah Rasulullah. Beliau bertanya : Jika tidak kamu dapati dalam Sunnah Rasulullah juga
dalam kitab Allah? Ia menjawab : Saya akan berijtihad dengan pikiran dan saya tidak akan
lengah. Kemudian Rasulullah SAW menepuk dadanya dan bersabda : Segala puji bagi Allah
yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah SAW yang diridlai oleh Rasulullah." (HR.
Abu Daud).
Bahkan beliau pernah memerintahkan 'Amr bin 'Ash untuk memberi keputusan terhadap suatu
perkara, padahal beliau di hadapannya. Atas perintah itu, lalu 'Amr bertanya kepada beliau :
Sebagai contoh ijtihad yang dilakukan oleh sahabat, yakni ijtihad yang dilakukan oleh 'Amar bin
Yasir, sebagai berikut :
Artinya:
"Saya telah berjunub dan tidak mendapatkan air. Maka saya berguling-guling pada debu
kemudian saya mengerjakan shalat. Lalu hal itu, saya sampaikan kepada Nabi SAW. Maka
beliau bersabda : Sesungguhnya cukup kamu melakukan begini : Nabi menepuk tanah dengan
dua telapak tangannya kemudian meniupnya, lalu menyapukannya ke wajahnya dan dua
telapak tanganya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada hadits di atas, 'Ammar bin Yasir mengqiyaskan debu dan air untuk mandi dalam
menghilangkan junubnya, sehingga ia dalam menghilangkan junub karena tidak mendapatkan



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        110
air itu, dilakukan dengan berguling-guling di atas debu. Namun hasil ijtihadnya ini tidak
dibenarkan oleh Rasulullah SAW.
Hasil ijtihad para sahabat tidak dapat dijadikan sumber hukum atau tidak mempunyai
kekuatan hukum yang dapat dipedomani oleh kaum muslimin, kecuali jika hasil ijtihadnya telah
mendapat pengesahan atau pengakuan dari Rasulullah SAW dan tidak diturunkan wahyu yang
tidak membenarkannya.
Dari uraian di atas dapat dipetik arti bahwa ijtihad baik yang dilakukan oleh Rasulullah SAW
maupun oleh para sahabatnya pada masa ini tidak merupakan sumber hukum, karena
keberadaan atau berlakunya hasil ijtihad kembali kepada wahyu.
Akan tetapi dengan adanya kegiatan ijtihad yang terjadi pada masa ini, mempunyai hikmah
yang besar, karena hal itu merupakan petunjuk bagi para sahabat dan para ulama dari generasi
selanjutnya untuk berijtihad pada masa-masanya dalam menghadapi berbagai persoalan baru
yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW atau yang tidak didapati ketetapan hukumnya
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Memang, semenjak masa sahabat telah timbul persoalan-persoalan baru yang menuntut
ketetapan hukumnya. Untuk itu para sahabat berijtihad, mencari ketetapan hukumnya.
Setelah wafat Rasulullah SAW sudah barang tentu berlakunya hasil ijtihad para sahabat pada
masa ini, tidak lagi disahkan oleh Rasulullah SAW, sehingga dengan demikian semenjak masa
sahabat ijtihad sudah merupakan sumber hukum.
Sebagai contoh hasil ijtihad para sahabat, yaitu : Umar bin Khattab RA tidak menjatuhkan
hukuman potong tangan kepada seseorang yang mencuri karena kelaparan (darurat/terpaksa).
Dan Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa wanita yang suaminya meninggal dunia dan belum
dicampuri serta belum ditentukan maharnya, hanya berhak mendapatkan mut'ah. Ali
menyamakan kedudukan wanita tersebut dengan wanita yang telah dicerai oleh suaminya dan
belum dicampuri serta belum ditentukan maharnya, yang oleh syara' ditetapkan hak mut'ah
baginya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
Artinya                                                                                     :
"Tidak ada sesuatupun (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum
kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah
kamu memberikan mut'ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut
kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian
menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat
kebajikan." (Al-Baqarah : 236).
Dari contoh-contoh ijtihad yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, demikian pula oleh para
sahabatnya baik di kala Rasulullah SAW masih hidup atau setelah beliau wafat, tampak adanya
cara-cara yang digunakannya, sekalipun tidak dikemukakan dan tidak disusun kaidah-kaidah
(aturan-aturan)nya ; sebagaimana yang kita kenal dalam Ilmu Ushul Fiqh ; karena pada masa
Rasulullah SAW, demikian pula pada masa sahabatnya, tidak dibutuhkan adanya kaidah-kaidah
dalam berijtihad dengan kata lain pada masa Rasulullah SAW dan pada masa sahabat telah
terjadi praktek berijtihad, hanya saja pada waktu-waktu itu tidak disusun sebagai suatu ilmu
yang kelak disebut dengan Ilmu Ushul Fiqh karena pada waktu-waktu itu tidak dibutuhkan
adanya. Yang demikian itu, karena Rasulullah SAW mengetahui cara-cara nash dalam
menunjukkan hukum baik secara langsung atau tidak langsung, sehingga beliau tidak
membutuhkan adanya kaidah-kaidah dalam berijtihad, karena mereka mengetahui sebab-

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      111
sebab turun (asbabun nuzul) ayat-ayat Al-Qur'an, sebab-sebab datang (asbabul wurud) Al-
Hadits, mempunyai ketajaman dalam memahami rahasia-rahasia, tujuan dan dasar-dasar
syara' dalam menetapkan hukum yang mereka peroleh karena mereka mempunyai
pengetahuan yang luas dan mendalam terhadap bahasa mereka sendiri (Arab) yang juga
bahasa Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan pengetahuan yang mereka miliki itu, mereka mampu
berijtihad tanpa membutuhkan adanya kaidah-kaidah.
Pada masa tabi'in, tabi'it-tabi'in dan para imam mujtahid, di sekitar abad II dan III Hijriyah
wilayah kekuasaan Islam telah menjadi semakin luas, sampai ke daerah-daerah yang dihuni
oleh orang-orang yang bukan bangsa Arab atau tidak berbahasa Arab dan beragam pula situasi
dan kondisinya serta adat istiadatnya. Banyak diantara para ulama yang bertebaran di daerah-
daerah tersebut dan tidak sedikit penduduk daerah-daerah itu yang memeluk agama Islam.
Dengan semakin tersebarnya agama Islam di kalangan penduduk dari berbagai daerah
tersebut, menjadikan semakin banyak persoalan-persoalan hukum yang timbul. Yang tidak
didapati ketetapan hukumnya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Untuk itu para ulama yang
tinggal di berbagai daerah itu berijtihad mencari ketetapan hukumnya.
Karena banyaknya persoalan-persoalan hukum yang timbul dan karena pengaruh kemajuan
ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang yang berkembang dengan pesat yang terjadi pada
masa ini, kegiatan ijtihad juga mencapai kemajuan yang besar dan lebih bersemarak.
Dalam pada itu, pada masa ini juga semakin banyak terjadi perbedaan dan perdebatan antara
para ulama mengenai hasil ijtihad, dalil dan jalan-jalan yang ditempuhnya. Perbedaan dan
perdebatan tersebut, bukan saja antara ulama satu daerah dengan daerah yang lain, tetapi
juga antara para ulama yang sama-sama tinggal dalam satu daerah.
Kenyataan-kenyataan di atas mendorong para ulama untuk menyusun kaidah-kaidah syari'ah
yakni kaidah-kaidah yang bertalian dengan tujuan dan dasar-dasar syara' dalam menetapkan
hukum dalam berijtihad.
Demikian pula dengan semakin luasnya daerah kekuasan Islam dan banyaknya penduduk yang
bukan bangsa Arab memeluk agama Islam. Maka terjadilah pergaulan antara orang-orang Arab
dengan mereka. Dari pergaulan antara orang-orang Arab dengan mereka itu membawa akibat
terjadinya penyusupan bahasa-bahasa mereka ke dalam bahasa Arab, baik berupa ejaan, kata-
kata maupun dalam susunan kalimat, baik dalam ucapan maupun dalam tulisan. Keadaan yang
demikian itu, tidak sedikit menimbulkan keraguan dan kemungkinan-kemungkinan dalam
memahami nash-nash syara'. Hal ini mendorong para ulama untuk menyusun kaidah-kaidah
lughawiyah (bahasa), agar dapat memahami nash-nash syara' sebagaimana dipahami oleh
orang-orang Arab sewaktu turun atau datangnya nash-nash tersebut.
Dengan disusunnya kaidah-kaidah syar'iyah dan kaidah-kaidah lughawiyah dalam berijtihad
pada abad II Hijriyah, maka telah terwujudlah Ilmu Ushul Fiqh.
Dikatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ulama yang pertama kali menyusun kitab Ilmu Ushul Fiqh
ialah Imam Abu Yusuf -murid Imam Abu Hanifah- akan tetapi kitab tersebut tidak sampai
kepada kita.
Diterangkan oleh Abdul Wahhab Khallaf, bahwa ulama yang pertama kali membukukan
kaidah-kaidah Ilmu Ushul Fiqh dengan disertai alasan-alasannya adalah Muhammad bin Idris
asy-Syafi'iy (150-204 H) dalam sebuah kitab yang diberi nama Ar-Risalah. Dan kitab tersebut
adalah kitab dalam bidang Ilmu Ushul Fiqh yang pertama sampai kepada kita. Oleh karena itu
terkenal di kalangan para ulama, bahwa beliau adalah pencipta Ilmu Ushul Fiqh.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       112
Pembahasan tentang Ilmu Ushul Fiqh ini, kemudian dilanjutkan oleh para ulama generasi
selanjutnya.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                               113
                                       BAGIAN XIV
                          SISTEM POLITIK ISLAM DAN DEMOKRASI
A. Pengertian Politik Islam
      Dalam term keislaman politik identik dengan siyasah. Secara etimologis siasah artinya
mengatur, aturan, dan keteraturan. Fikih siasah adalah hukum Islam yang mengatur system
kekuasaan dan pemerintahan. Politik sendiri artinya segala urusan tindakan (kebijakan, siasat,
dan sebagainya) mengenai pemerintahan suatu negara, dan kebijakan suatu negara terhadap
negara lain. Politik dapat juga berarti kebijkan atau cara bertindak suatu negara dalam
menghadapi atau menangani suatu masalah. Garis-garis besar siyasah Islam meliputi tiga
aspek:
     1. Siyasah Dusturiyyah (Tata Negara dalam Islam).
     2. Siyasah Dauliyyah (Hukum politik yang mengatur hubungan antara satu negara dengan
        negara yang lain).
     3. Siyasah Maliyyah (Hukum politik yang mengatur sistem ekonomi negara).
      Kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi menurut siasah Islam ada pada Allah. Kedaulatan
yang dapat mempersatukan kekuatan-kekuatan dan aliran-aliran yang berbeda-beda di
masyarakat dalam konsep Islam berada di tangan Tuhan. Gambaran kekuasaan dan kehendak
Tuhan tertuang dalam al-Qur’an dan sunnah Rasul. Oleh karena itu, penguasa tidaklah
memiliki kekuasaan mutlak, ia hanyalah wakil (khalifah) Allah di muka bumi yang berfungsi
untuk membumikan sifat-sifat Allah dalam kehidupan nyata. Kekuasaan adalah amanah Allah
yang diberikan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Pemegang amanah
haruslah menggunakan kekuasaannya itu dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan prinsip-prinsip
dasar yang ditetapkan al-Qur’an.
B. Prinsip-Prinsip Dasar Politik dalam Islam
       Prinsip-prinsip dasar siasah dalam Islam meliputi antara lain:
     1. al-Musyawarah
         a. Pembahasan bersama
         b. Tujuan bersama yaitu untuk mencapai suatu keputusan
         c. Keputusan itu merupakan penyelesaian dari suatu masalah yang dihadapi bersama.
     2. al-‘Adalah (keadilan)
     3. al-Musawah (persamaan)
     4. al-Hurriyyah (kemerdekaan)
     5. Perlindungan jiwa raga dan harta masyarakat (A. Djazuli, 2001: 15).
C. Demokrasi dalam Islam
      Kedaulatan mutlak dan keesaan Tuhan yang terkandung dalam konsep tauhid dan
peranan manusia yang terkandung dalam konsep khilafah memberikan kerangka yang
dengannya para cendekiawan belakangan ini mengembangkan teori politik tertentu yang
dapat dianggap demokratis. Di dalamnya tercakup definisi khusus dan pengakuan terhadap
kedaulatan rakyat, tekanan pada kesamaan derajat manusia dan kewajiban rakyat sebagai
pengemban pemerintah. Penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual Islam,
banyak memberikan perhatian pada beberapa aspek khusus dari ranah sosial dan politik.
Demokrasi Islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami yang
sudah lama berakar, yaitu musyawarah (syura’), persetujuan (ijma’) dan penilaian interpretatif

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       114
yang mandiri (ijtihad). Seperti banyak konsep dalam tradisi Barat, istilah-istilah ini tidak selalu
dikaitkan dengan pranata demokrasi dan mempunyai banyak konteks dalam wacana muslim
dewasa ini. Namun, lepas dari konteks dan pemakaian lainnya, istilah-istilah ini sangat penting
dalam perdebatan menyangkut demokratisasi di kalangan masyarakat muslim (John L. Esposito
& John O’Voll, 1999:33). Perlunya musyawarah merupakan konsekuensi politik kekhalifahan
manusia. Masalah musyawarah ini dengan jelas juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat Asy-
Syura/42:28, yang isinya berupa perintah kepada para pemimpin dalam kedudukan apapun
untuk menyelesaikan urusan yang dipimpinnya dengan cara bermusyawarah. Dengan
demikian, tidak akan terjadi kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin terhadap rakyat
yang dipimpinnya.
       Oleh karena itu, “perwakilan rakyat” dalam sebuah negara Islam tercermin terutama
dalam doktrin musyawarah (syura’). Dalam bidang politik, ummat Islam mendelegasikan
kekuasaan mereka kepada penguasa dan pendapat mereka harus diperhatikan dalam
menangani masalah negara. (John L. Esposito, 1991:149).
       Di samping musyawarah ada hal lain yang sangat penting dalam masalah demokrasi,
yaitu konsensus atau ijma’. Konsensus memainkan peranan yang menentukan dalam
perkembangan hukum Islam dan memberikan sumbangan sangat besar pada korpus hukum
atau tafsir hukum. Namun hampir sepanjang sejarah Islam konsensus sebagai salah satu
sumber hukum Islam cenderung dibatasi pada konsensus para cendekiawan, sedangkan
konsensus rakyat kebanyakan mempunyai makna yang kurang begitu penting dalam
kehidupan ummat Islam. Namun dalam pemikiran muslim modern, potensi fleksibilitas yang
terkandung dalam konsep konsensus akhirnya mendapat saluran yang lebih besar untuk
mengembangkan hukum Islam dan menyesuaikannya dengan kondisi yang terus berubah
(Hamidullah/1870:130).
       Dalam pengertian yang lebih luas, konsensus dan musyawarah sering dipandang sebagai
landasan yang efektif bagi demokrasi Islam modern. Konsep konsensus memberikan dasar bagi
penerimaan sistem yang mengakui suara mayoritas (John L. Esposito & John O. Voll, 1999:34).
       Selain syura dan ijma’, ada konsep yang sangat penting dalam proses demokrasi Islam,
yaitu ijtihad. Bagi para pemikir muslim, upaya ini merupakan langkah kunci menuju penerapan
perintah Tuhan di suatu tempat atau waktu. Musyawarah, konsensus dan ijtihad merupakan
konsep-konsep yang sangat penting bagi artikulasi demokrasi Islam dalam kerangka Keesaan
Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia sebagai khalifah-Nya. Meskipun istilah-istilah ini
banyak diperdebatkan maknanya, namun lepas dari ramainya perdebatan maknanya di dunia
Islam, istilah-istilah ini memberi landasan yang efektif untuk memahami hubungan antara
Islam dan demokrasi di sunia kontemporer (John L. Esposito & John O. Voll, 1999:36).
D. Prinsip-prinsip Politik Luar Negeri dalam Islam (Siasah Dauliyyah)
       Prinsip-prinsip hukum internasional dalam Islam adalah sebagai berikut:
     1. Saling menghormati fakta-fakta dan traktat-traktat.
     2. Menjaga kehormatan dan integrasi nasional masing-masing Negara.
     3. Keadilan universal
     4. Menjaga perdamaian abadi
     5. Menjaga kenetralan Negara-negara lain, serta larangan terhadap eksploitasi dan
         imperialisme.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                            115
    6. Memberikan perlindungan dan dukungan kepada orang-orang Islam yang hidup di
       Negara lain.
    7. Bersahabat dengan kekuasaan-kekuasaan netral.
    8. Menjaga kehormatan dan hubungan internasional
    9. Persamaan keadilan untuk para penyerang.
E. Kontribusi Ummat Islam terhadap Kehidupan Politik di Indonesia
       Islam sebagai sebuah ajaran yang mencakup persoalan spiritual dan politik telah
memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kehidupan
politik di Indonesia.
    1. Ditandai dengan munculnya partai-partai berasaskan Islam serta partai nasionalis
berbasis ummat Islam dan kedua, ditandai dengan sikap pro aktifnya tokoh-tokoh politik Islam
dan ummat Islam terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sejak awal
proses kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan hingga sekarang
era reformasi.
    2. Berkaitan dengan keutuhan Negara, misalnya Muhammad Natsir pernah menyerukan
ummat Islam agar tidak mempertentangkan Pancasila dengan Islam. Dalam pandangan Islam,
perumusan Pancasila bukan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran al-Qur’an,
karena nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an. Demi keutuhan persatuan dan kesatuan
bangsa, ummat Islam rela menghilangkan tujuh kata dari sila kesatu dari Pancasila, yaitu kata-
kata “kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi para pemeluknya.”
       Ummat Islam Indonesia dapat menyetujui Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945
setidak-tidaknya atas dua pertimbangan: Pertama, nilai-nilainya dibenarkan oleh ajaran Islam;
Kedua, fungsinya sebagai nuktah-nuktah kesepakatan antar berbagai golongan untuk
mewujudkan kesatuan politik bersama (Kuntowijiyo, 1997: 80).




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       116
                                         BAGIAN XV
           PERBEDAAN MENDASAR EKONOMI ISLAM DAN EKONOMI KONVENSIONAL
A. Pengantar
       Sistem ekonomi menunjuk pada satu kesatuan mekanisme dan lembaga pengambilan
keputusan yang mengimplementasikan keputusan tersebut terhadap produksi, konsumsi dan
distribusi pendapatan.23 Karena itu, sistem ekonomi merupakan sesuatu yang penting bagi
perekonomian suatu negara. Sistem ekonomi terbentuk karena berbagai faktor yang
kompleks, misalnya ideologi dan sistem kepercayaan, pandangan hidup, lingkungan geografi,
politik, sosial budaya, dan lain-lain.
       Pada saat ini terdapat berbagai macam sistem ekonomi negara-negara di dunia.
Meskipun demikian secara garis besar, sistem ekonomi dapat dikelompokkan pada dua kutub,
yaitu kapitalisme dan sosialisme. Sistem-sistem yang lain seperti welfare state, state
capitalism, market socialisme, democratic sosialism pada dasarnya bekerja pada bingkai
kapitalisme dan sosialisme. Akan tetapi, sejak runtuhnya Uni Soviet, sistem sosialisme
dianggap telah tumbang bersama runtuhnya Uni Soviet tersebut. Dalam konteks tulisan ini,
maksud ekonomi konvensional adalah sistem ekonomi kapitalisme yang hingga kini masih
menjadi sistem ekonomi kuat di dunia.
B.   Pokok-pokok ekonomi konvensional
   1. Sejarah
      Sistem ekonomi konvensional yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sistem
ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi kapitalis diawali dengan terbitnya buku The Wealth of
Nation karangan Adam Smith pada tahun 1776. Pemikiran Adam Smith memberikan inspirasi
dan pengaruh besar terhadap pemikiran para ekonom sesudahnya dan juga pengambil
kebijakan negara.
      Lahirnya sistem ekonomi kapitalis, sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut
dari perkembangan pemikiran dan perekonomian benua Eropa pada masa sebelumnya. Pada
suatu masa, di Benua Eropa pernah ada suatu zaman dimana tidak ada pengakuan terhadap
hak milik manusia, melainkan yang ada hanyalah milik Tuhan yang harus dipersembahkan
kepada pemimpin agama sebagai wakil mutlak dari Tuhan. Pada zaman tersebut yang
kemudian terkenal dengan sistem universalisme. Sistem ini ditegakkan atas dasar keyakinan
kaum agama “semua datang dari Tuhan, milik Tuhan dan harus dipulangkan kepada Tuhan”.
Kemudian lahir pula golongan baru, yang mendekatkan dirinya pada kaum agama, yaitu kaum
feodal. Mereka ini yang berkuasa di daerahnya masing-masing, lalu menguasai tanah-tanah
dan memaksa rakyat menjadi hamba sahaya yang harus menggarap tanah itu. Sistem feodal
hidup subur di bawah faham universalisme. Faham ini lebih terkenal dengan feodalisme. Jika
kaum feodal memaksa rakyat bekerja mati-matian, maka kaum agama dengan nama Tuhan
menghilangkan hak dari segala miliknya. Artinya kaum feodal yang bekerjasama dengan kaum
agama, telah mempermainkan seluruh hak milik manusia untuk kepentingan mereka sendiri.
Gambaran yang dapat diperoleh dari zaman kaum agama dan feodal ialah manusia hidup
seperti hewan, tidak mempunyai fikiran sendiri, tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri dan
semuanya hanyalah kaum agama yang memilikinya. Inilah suatu kesalahan besar yang pernah

      23
         Paul R Gregory dan Robert C Stuart, 1981, Comparative Economic System, Boston: Houghton
Miffin Company, hal. 16.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         117
diperbuat oleh kaum agama di benua Eropa. Seluruh masyarakat Eropa berontak dan
mengadakan perlawanan menentang kaum agama dan feodal. Pecahlah revolusi Perancis yang
sudah terkenal itu.
       Revolusi Perancis (1789 – 1793) dipandang sebagai puncak kegelisahan dari rakyat yang
tertindas dan dirampas haknya. Dengan dendam dan kemarahan yang luar biasa mereka
menghancurkan universalisme dan feodalisme yang mengikat mereka. Tetapi, akibatnya lebih
buruk dari itu. Bukan saja mereka memusuhi kaum agama dan feodal, tetapi juga menjatuhkan
nama suci dari Tuhan yang selalu dibuat kedok oleh kedua golongan di atas.
       Di samping itu, berkembangnya sistem ekonomi kapitalis juga dapat dirunut dari sejak
munculnya faham fisiokrat (abad 17) yang mengatakan bahwa pertanian adalah dasar dari
produksi negara, sebab itu, seluruh perhatian harus ditumbuhkan kepada memperbesar hasil
pertanian. Kemudian lahir pula paham merkantilisme (awal abad 18) yang mengatakan bahwa
perdagangan adalah lebih penting dari pertanian, karena itu pemerintah harus memberikan
perhatiannya kepada mencari perdagangan dengan negara-negara lainnya.
       Pada pertengahan abad ke-18, lahirlah paham baru yang dinamakan liberalisme dari
Adam Smith (1723 – 1790) di Inggris. Menurut dia, bukan soal pertanian atau perdagangan
yang harus dipentingkan, tetapi titik beratnya diletakkan pada pekerjaan dan kepentingan diri.
Jika seseorang dibebaskan untuk berusaha, dia harus dibebaskan pula untuk mengatur
kepentingan dirinya. Sebab itu ajaran laiser aller, laisser passer (merdeka berbuat dan merdeka
bertindak) menjadi pedoman bagi persaingan mereka. Selanjutnya manusia memasuki kancah
individualisme yang ditandai dengan nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya yang
ditimbulkan oleh persaingan yang bebas tadi. Dari paham liberalisme, timbullah kaum borjuis.
Kaum borjuis ini akhirnya menimbulkan sistem ekonomi, sistem ekonomi kapitalis.
       Berkembangnya paham kapitalis menimbulkan reaksi yang ditandai dengan munculnya
paham komunisme. Paham ini lahir dari seorang Jerman, bernama Karl Marx pada tahun 1848
yang sangat kecewa terhadap sistem ekonomi kapitalis yang dianggap telah menyengsarakan
rakyat banyak. Silih berganti nasib yang dilalui paham Marx itu. Tetapi akhirnya sewaktu Lenin
mendirikan pertama kali negara komunis di Rusia pada tahun 1917, maka marxisme telah
menjejakkan kakinya dengan kuat sebagai dasar bagi negara baru tersebut. Walapun ajaran
komunisme ini pernah menguasai hampir separo dari penduduk dunia, akan tetapi paham ini
dianggap telah runtuh bersamaan dengan runtuhnya Rusia.
   2.    Landasan Filosofi dan Welstanchaung
       Landasan filosofi sekaligus welstanchaung sistem ekonomi kapitalis adalah materialisme
dan sekularisme. Pengertian manusia sebagai homo economicus atau economic man adalah
manusia yang materialis hedonis, sehingga ia selalu dianggap memiliki serakah atau rakus
terhadap materi. Dalam perspektif materialisme hedonisme murni, segala kegiatan manusia
dilatarbelakangi dan diorientasikan kepada segala sesuatu yang bersifat material. Manusia
dianggap merasa bahagia jika segala kebutuhan materialnya terpenuhi secara melimpah.
Pengertian kesejahteraan yang materialistik seperti ini seringkali menafikan atau paling tidak
meminimalkan keterkaitannya dengan unsur-unsur spiritual ruhaniah.24



        24
        M. Umer Chapra, 2001, Masa Depan Ilmu Ekonomi, (terj.) Ikhwan Abidin, The Future of
Economics: An Islamic Perspective, Jakarta: Gema Insani Press, hal. 3.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        118
       Dalam sistem ekonomi kapitalis, materi adalah sangat penting bahkan dianggap sebagai
penggerak utama perekonomian. Dari sinilah sebenarnya, istilah kapitalisme berasal, yaitu
paham yang menjadikan kapital (modal/material) sebagai isme.
Ilmu ekonomi konvensional sangat memegang teguh asumsi bahwa tindakan individu adalah
rasional. Rasionality assumption dalam ekonomi menurut Roger LeRoy Miller adalah
individuals do not intentionally make decisions that would leave them worse off.25 Ini berarti
bahwa rasionaliti didefinisikan sebagai tindakan manusia dalam memenuhi keperluan
hidupnya yaitu memaksimumkan kepuasan atau keuntungan senantiasa berdasarkan pada
keperluan (need) dan keinginan-keinginan (want) yang digerakkan oleh akal yang sehat dan
tidak akan bertindak secara sengaja membuat keputusan yang bisa merugikan kepuasan atau
keuntungan mereka. Bahkan menurutnya, suatu aktivitas atau sikap yang terkadang nampak
tidak rasional akan tetapi seringkali ia memiliki landasan rasionaliti yang kuat, misalnya orang
yang berpacaran menghabiskan waktu dan uang, dan lain sebagainya.
Rasionaliti merupakan kunci utama dalam pemikiran ekonomi modern. Ia menjadi asas
aksioma bahwa manusia adalah makhluk rasional.26 Konsep rasionaliti muncul karena adanya
keinginan-keinginan konsumen untuk memaksimalkan utiliti dan produsen ingin
memaksimalkan keuntungan, berasaskan pada satu set constrain. Yang dimaksud constrain
dalam ekonomi konvensional adalah terbatasnya sumber-sumber dan pendapatan yang
dimiliki oleh manusia dan alam, akan tetapi keinginan manusia pada dasarnya tidak terbatas.
Dalam ekonomi Islam yang dimaksud dengan constrain adalah terbatasnya kemampuan
manusia baik dari segi fisik maupun pengetahuan untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu
sumber yang tidak terbatas yang telah disediakan oleh Allah SWT.27 Berdasarkan pernyataan di
atas maka manusia perlu membuat suatu pilihan yang rasional sehingga pilihan tersebut dapat
memberikan kepuasan atau keuntungan yang maksimal pada manusia.
       Menurut ilmu ekonomi konvensional, sesuai dengan pahamnya tentang rational
economics man, tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada kepentingan diri
sendiri (self interest)28 yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh aktivitas. Dalam ekonomi
konvensional, perilaku rasional dianggap ekuivalen (equivalent) dengan memaksimalkan utiliti.
Ekonomi konvensional mengabaikan moral dan etika dalam pembelanjaan dan unsur waktu
adalah terbatas hanya di dunia saja tanpa mengambilkira hari akhirat.
       Adam Smith menyatakan bahwa tindakan individu yang mementingkan kepentingan diri
sendiri pada akhirnya akan membawa kebaikan masyarakat seluruhnya karena tangan tak
tampak (invisible hand) yang bekerja melalui proses kompetisi dalam mekanisme pasar.29
       Pada sisi lain, landasan filosofi sistem ekonomi kapitalis adalah sekularisme, yaitu
memisahkan hal-hal yang bersifat spiritual dan material (atau agama dan dunia) secara
dikotomis. Segala hal yang berkaitan dengan dunia adalah urusan manusia itu sendiri
sedangkan agama hanyalah mengurusi hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Implikasi


         25
              Roger LeRoy Miller, 1997, Economics Toda: The Micro View, edisi 9, New York: Addison Wesley,
hal. 6
         26
           Qasem Hamouri, 1991, “Rationality, Time and Accounting for The Future in Islamic Thaought”,
dalam Faridi (ed), Essays in Islamic Economic Analysi, New Delhi: Genuine Publication & Media PVT. Ltd.,
hal. 70
        27
            M.A. Mannan, 1982, “Scarcity, Choice and Opportunity Cost: Their Dimension in Islamic
Economics” Saudi Arabia: International Centre for Research in Islamic Economics, hal. 107-109
        28
           Ini tergambar dalam ungkapan Adam Smith (1776) dalam bukunya an Inquiry into the Nature
and Causes of the Wealth of Nation, yang menyatakan “it is not from the benevolence of the butcher,
the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest”.
Sebagaimana dikutip oleh Miller, 1997, hal. 5-6
        29
           Paul Samuelson dan William D. Nordhaus, 2001, Microeconomic, New York: McGraw-Hill, edisi
17, hal. 30-31 dan 216
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                   119
dari ini adalah menempatkan manusia sebagai sebagai pusat dari segala hal kehidupan
(antrophosentris) yaitu manusilah yang berhak menentukan kehidupannya sendiri.
    3. Pokok-pokok pikiran
    Dalam dunia nyata, kapitalisme tidak memiliki bentuk yang tunggal. Ia memiliki ragam
    yang tidak selalu sama di antara negara-negara yang menerapkannya, dan ia seringkali
    berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal ini paling tidak disebabkan oleh dua hal, (1) ada
    banyak ragam pendapat dari para pemikir, (2) definisi kapitalisme selalu berubah-ubah
    sesuai dengan situasi dan kondisi dan modifikasi ini telah berlangsung berabad-abad.30
    Dengan demikian, pengertian kapitalisme sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam
    pemikiran Adam Smith mungkin tidak lagi dijumpai secara murni. Karakteristik umum
    kapitalisme antara lain:
         a. Kapitalisme menganggap ekspansi kekayaan yang dipercepat dan produksi yang
            maksimal serta pemenuhan keinginan menurut preferensi individual sebagai
            sesuatu yang esensial bagi kesejahteraan manusia.
         b. Kapitalisme menganggap bahwa kebebasan individu yang tak terhambat dalam
            mengaktualisasikan kepentingan diri sendiri dan kepemilikan atau pengelolaan
            kekayaan pribadi sebagai suatu hal yang sangat penting bagi inisiatif individu
         c. Kapitalisme berasumsi bahwa inisiatif individu ditambah dengan pembuatan
            keputusan yang terdesentralisasi dalam suatu pasar yang kompetitif sebagai syarat
            utama untuk mewujudkan efisiensi optimum dalam alokasi sumberdaya ekonomi.
         d. Kapitalisme tidak menyukai pentingnya peranan pemerintah atau penilaian kolektif
            (oleh masyarakat), baik dalam efisiensi alokatif maupun pemerataan distributif.
         e. Kapitalisme mengklaim bahwa melayani kepentingan diri sendiri oleh setiap
            individu secara otomatis akan melayani kepentingan sosial kolektif.
Adapun konsep-konsep pemikiran penting dalam sistem ekonomi konvensional31 adalah
sebagai berikut:
         a. Rational economic man
Ilmu ekonomi konvensional sangat memegang teguh asumsi bahwa tindakan individu adalah
rasional. Berdasarkan paham ini, tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada
kepentingan diri sendiri (self interest)32 yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh
aktivitas. Dalam implementasinya, rasionaliti ini dianggap dapt diterapkan hanya jika individu
diberikan kebebasan dalam arti yang seluas-luasnya, sehingga dengan sendirinya di dalamnya
terkandung individualisme dan liberalisme. Adam Smith menyatakan bahwa tindakan individu
yang mementingkan kepentingan diri sendiri pada akhirnya akan membawa kebaikan
masyarakat seluruhnya karena tangan tak tampak (invisible hand) yang bekerja melalui proses




      30
         Umer Chapra, 1995, Islam and Economic Challenge. Herndon USA: IIIT
      31
         Umer Chapra, 2001, op.cit. hal. 23-28
      32
         Ini tergambar dalam ungkapan Adam Smith (1776) dalam bukunya an Inquiry into the Nature
and Causes of the Wealth of Nation, yang menyatakan “it is not from the benevolence of the butcher,
the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest”.
Sebagaimana dikutip oleh Miller, 1997, hal. 5-6
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                            120
kompetisi dalam mekanisme pasar.33 Oleh karena itu, kapitalisme sangat menjunjung tinggi
pasar yang bebas dan menganggap tidak perlu ada campur tangan pemerintah.34
         b. Positivism
Kapitalisme berusaha mewujudkan suatu ilmu ekonomi yang bersifat objektif, bebas dari
petimbangan moralitas dan nilai, dan karenanya berlaku universal. Ilmu ekonomi telah
dideklarasikan sebagai kenetralan yang maksimal di antara hasil akhir dan independensi setiap
kedudukan etika atau pertimbangan normatif. Untuk mewujudkan obyektivitas ini, maka
positivism telah menjadi bagian integral dari paradigma ilmu ekonomi. Positivism menjadi
sebuah keyakinan bahwa setiap pernyataan ekonomi yang timbul harus mempunyai
pembenaran dari fakta empiris. Paham ini secara otomatis mengabaikan peran agama dalam
ekonomi, sebab dalam banyak hal, agama mengajarkan sesuatu yang bersifat normatif.
         c.   Hukum Say
Terdapat suatu keyakinan bahwa selalu terdapat keseimbangan (equilibrium) yang bersifat
alamiah, sebagaimana hukum keseimbangan alam dalam tradisi fisika Newtonian. Jean Babtis
Say menyatakan bahwa supply creates its own demand, penawaran menciptakan
permintaannya sendiri. Ini berimplikasi pada asumsi bahwa tidak akan pernah terjadi
ketidakseimbangan dalam ekonomi. Kegiatan produksi dengan sendirinya akan menciptakan
permintaannya sendiri, maka tidak akan terjadi kelebihan produksi dan pengangguran.
Implikasi selanjutnya, tidak perlu ada intervensi pemerintah dalam kegiatan ekonomi.
Intervensi pemerintah dianggap justru akan mengganggu keseimbangan alamiah. Asumsi inilah
yang menjadi piranti keyakinan akan kehebatan pasar dalam menyelesaikan semua persoalan
ekonomi. Inilah salah satu paradigma ilmu ekonomi konvensional.35
C. Pokok-pokok Ekonomi Islam
   1. Sejarah


       33
           Paul Samuelson dan William D. Nordhaus, 2001, Microeconomic, New York: McGraw-Hill, edisi
17, hal. 30-31 dan 216
        34
            Dalam bukunya yang berjudul Economics, Paul dan Ronald Wonnacott menulis enam
kelemahan mekanisme pasar. Pertama, sekalipun pasar memberikan kebebasan individu lebih tinggi
kepada para pemain di dalamnya, ia hanya memberikan kepada si lemah kebebasan untuk merasakan
lapar dan tersingkir. Kenyataan menunjukkan, dalam mekanisme pasar yang bebas dan berjalan baik,
banyak orang kaya dapat memberikan makanan yang lebih bergizi untuk anjingnya daripada si miskin
memberikan makanan kepada diri dan keluarganya. Kedua, dalam suatu sistem perekonomian dengan
sistem pasar yang tidak diatur, akan terjadi keadaan yang sangat tidak stabil dengan inflasi tinggi, diikuti
oleh resesi yang tajam. Bila ini terjadi, segenap lapisan masyarakat akan menderita. Ketiga, dalam
sistem laissez faire, harga-harga di pasaran tidak selalu mencerminkan kekuatan pasar yang tidak
memihak. Harga-harga yang mencerminkan mekanisme murni permintaan dan penawaran, hanya
terjadi pada pasar bersaing sempurna. Namun pasar ini hanya ada dalam teori. Dalam faktanya, para
produsen senantiasa memiliki kekuasaan untuk mempermainkan harga dan pasar cenderung berbentuk
monopolis, oligopolis dan persaingan tidak sempurna. Keempat, pasar tidak menggubris efek
eksternalitas seperti polusi udara dan air dan penurunan kualitas kehidupan fisik. Kelima, dalam
wilayah-wilayah tertentu, kadang-kadang terjadi kegagalan pasar. Jika ini ada, maka pemerintahlah yang
harus mengambil alih komando. Keenam, dalam sebuah perekonomian dengan mekanisme pasar yang
baik, dunia usaha mampu memenuhi keinginan konsumen dengan sangat baik. Namun harus disadari
konsumen bersedia membeli produk tidak selalu didorong oleh keinginan riil pribadinya yang
independen, tetapi sering lebih dipengaruhi gencarnya iklan di berbagai media. Preferensi dan cita rasa
konsumen telah didikte oleh imajinasi yang ditimbulkan oleh promosi.
        35
           M. B. Hendrie Anto, 2003, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, Yogyakarta: EKONISIA, hal. 353

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                     121
Sesungguhnya telah sepuluh abad sebelum orang-orang Eropa menyusun teori-teori tentang
ekonomi, telah diturunkan oleh Allah SWT di daerah Arab sebuah analisis tentang ekonomi
yang unggul, karena analisis ekonomi tersebut tidak hanya mencerminkan keadaan bangsa
Arab pada waktu itu –sehingga hanya bermanfaat untuk bangsa Arab saat itu–, tetapi juga
untuk seluruh dunia. Struktur ekonomi yang ada dalam firman Allah dan sudah sangat jelas
aturan-aturannya tersebut, pernah dan telah dilaksanakan dengan baik oleh umat pada waktu
itu. Sistem ekonomi tersebut adalah suatu susunan baru yang bersifat universal, bukan
merupakan ekonomi nasional bangsa Arab. Sistem ekonomi tersebut dinamakan ekonomi
Islam.
Berbagai pemikiran dari para sarjana ataupun filosof zaman dahulu mengenai ekonomi
tersebut juga sudah ada. Diantaranya adalah pemikiran Abu Yusuf (731 - 798 M), Yahya Ibnu
Adam (meninggal 818 M), Al Farabi (870 – 950 M), Ibnu Sina (980 – 1037 M), El-Hariri (1054 –
1122 M), Imam Al Ghozali (1058 – 1111 M), Tusi (1201 – 1274 M), Ibnu Taimiyah (1262 – 1328
M), Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M), dan lain-lain. Sumbangan Abu Yusuf terhadap keuangan
umum adalah tekanannya terhadap peranan negara, pekerjaan umum dan perkembangan
pertanian yang bahkan masih berlaku sampai sekarang ini.
Gagasan Ibnu Taimiyah tentang harga ekuivalen, pengertiannya terhadap ketidaksempurnaan
pasar dan pengendalian harga, tekanan terhadap peranan negara untuk menjamin
dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat dan gagasannya terhadap hak milik,
memberikan sejumlah petunjuk penting bagi perkembangan ekonomi dunia sekarang ini. Ibnu
Khaldun telah memberikan definisi ekonomi yang lebih luas dengan menyatakan bahwa ilmu
ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang positif maupun normatif. Maksudnya
mempelajari ekonomi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan bukan
kesejahteraan individu saja. Ibnu Khaldun juga menyatakan adanya hubungan timbal balik
antara faktor-faktor ekonomi, politik, sosial, etika, dan pendidikan. Dia memperkenalkan
sejumlah gagasan ekonomi yang mendasar seperti pentingnya pembagian kerja, pengakuan
terhadap sumbangan kerja dalam teori nilai, teori mengenai pertumbuhan penduduk,
pembentukan modal, lintas perdagangan, sistem harga dan sebagainya.
Secara keseluruhan para cendekiawan tersebut pada umumnya dan Ibnu Khaldun pada
khususnya dapat dianggap sebagai pelopor perdagangan fisiokrat dan klasik (misalnya Adam
Smith, Ricardo, Malthus) dan neo klasik (misalnya Keynes).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa sebutan ekonomi Islam melahirkan kesan beragam. Bagi sebagian
kalangan, kata ‘Islam’ memposisikan Ekonomi Islam pada tempat yang sangat eksklusif,
sehingga menghilangkan nilai kefitrahannya sebagai tatanan bagi semua manusia. Bagi lainnya,
ekonomi Islam digambarkan sebagai ekonomi hasil racikan antara aliran kapitalis dan sosialis,
sehingga ciri khas spesifik yang dimiliki oleh Ekonomi Islam itu sendiri hilang.
Sebenarnya Ekonomi Islam adalah satu sistem yang mencerminkan fitrah dan ciri khasnya
sekaligus. Dengan fitrahnya ekonomi Islam merupakan satu sistem yang dapat mewujudkan
keadilan ekonomi bagi seluruh umat. Sedangkan dengan ciri khasnya, ekonomi Islam dapat
menunjukkan jati dirinya – dengan segala kelebihannya — pada setiap sistem yang dimilikinya.
Ekonomi Rabbani menjadi ciri khas utama dari model Ekonomi Islam. Chapra menyebutnya
dengan Ekonomi Tauhid. Tapi secara umum dapat dikatakan sebagai divine economics.
Cerminan watak “Ketuhanan” ekonomi Islam bukan pada aspek pelaku ekonominya — sebab
pelakunya pasti manusia — tetapi pada aspek aturan atau sistem yang harus dipedomani oleh

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      122
para pelaku ekonomi. Ini didasarkan pada keyakinan bahwa semua faktor ekonomi termasuk
diri manusia pada dasarnya adalah kepunyaan Allah, dan kepadaNya (kepada aturanNya)
dikembalikan segala urusan (QS 3: 109). Melalui aktivitas ekonomi, manusia dapat
mengumpulkan nafkah sebanyak mungkin, tetapi tetap dalam batas koridor aturan
main..”Dialah yang memberi kelapangan atau membatasi rezeki orang yang Dia kehendaki”
(QS 42: 12; 13: 26). Atas hikmah Ilahiah, untuk setiap makhluk hidup telah Dia sediakan
rezekinya selama ia tidak menolak untuk mendapatkannya (11: 6). Namun Allah tak pernah
menjamin kesejahteraan ekonomi tanpa manusia tadi melakukan usaha.
Sebagai ekonomi yang ber-Tuhan maka Ekonomi Islam — meminjam istilah dari Ismail Al
Faruqi — mempunyai sumber “nilai-nilai normatif-imperatif”, sebagai acuan yang mengikat.
Dengan mengakses kepada aturan Ilahiah, setiap perbuatan manusia mempunyai nilai moral
dan ibadah. Setiap tindakan manusia tidak boleh lepas dari nilai, yang secara vertikal
merefleksikan moral yang baik, dan secara horizontal memberi manfaat bagi manusia dan
makhluk lainnya.
Ekonomi Islam pernah tidak populer sama sekali. Kepopuleran ekonomi Islam bisa dikatakan
masih belum lama. Oleh karena itu, sering muncul pertanyaan, apakah ekonomi Islam adalah
baru sama sekali? Jika melihat pada sejarah dan makna yang terkandung dalam ekonomi Islam,
ia bukan sistem yang baru. Argumen untuk hal ini antara lain:
      1. Islam sebagai agama samawi yang paling mutakhir adalah agama yang dijamin oleh
      Allah kesempurnaannya, seperti ditegaskan Allah dalam surat Al-Maidah (5):3. Di sisi
      lain, Allah SWT juga telah menjamin kelengkapan isi Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
      umat manusia yang beriman dalam menjalankan perannya sebagai khalifah Allah di
      muka bumi. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firmannya QS Al-An’am (6):38,

                                                            ‫ما فرطنا ِف الكتاب من يشء مث اىل رِبم ُيْشون‬
      2. Sejarah mencatat bahwa umat Islam pernah mencapai zaman keemasan, yang tidak
      dapat disangkal siapapun. Dalam masa itu, sangat banyak kontribusi sarjana muslim yang
      tetap sangat diakui oleh semua pihak dalam berbagai bidang ilmu sampai saat ini, seperti
      matematika, astronomi, kimia, fisika, kedokteran, filsafat dan lain sebagainya. Sejarah
      juga membuktikan, bahwa sulit diterima akal sehat sebuah kemajuan umat dengan
      begitu banyak kontribusi dalam berbagai lapangan hidup dan bidang keilmuan tanpa
      didukung lebih awal dari kemajuan di lapangan ekonomi.
      3. Sejarah juga mencatat banyak tokoh ekonom muslim yang hidup dan berjaya di
      zamannya masing-masing, seperti Tusi, Al-Farabi, Abu Yusuf, Ibnu Taimiyyah, Al-Maqrizi,
      Syah Waliyullah, Ibnu Khaldun dan lain-lain.36 Bahkan yang disebut terakhir (Ibnu
      Khaldun) diakui oleh David Jean Boulakia37 sebagai berikut: “Ibn Khaldun discovered a
      great number of fundamental economic notions a few centuries before their official
      births. He discovered the virtues and the necessity of a division of labor before (Adam)
      Smith and the principle of labor before Ricardo. He elaborated a theory of population
      36
           M. Abdul Mannan, 1986, Islamic Economics, Theory and Practice. Cambride: Hodder and
Stoughton, The Islamic Academy; M. Umar Chapra, 2001, What is Islamic Economics, Jeddah: IRTI – IDB,
hal. 44.
        37
           David Jean C. Boulakia, 1971, “Ibn Khaldun: A Fourteenth Century Economist”, Journal of
Political Economy, Vol. 79, No. 5 (September/October), The University of Chicago, hal. 1117-1118.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                 123
       before Malthus and insisted on the role of the state in the economy before Keynes. The
       economist who rediscovered mechanisms that he had already found are too many to be
       named.” “. . . although Ibn Khaldun is the forerunner of many economist, he is an
       accident of history and has no consequence on the evolution of economic thought.”
Ketiga argumen dan indikator di atas dapat dipakai sebagai pendukung yang amat meyakinkan
bahwa sistem ekonomi Islam bukanlah hal baru sama sekali. Namun patut diakui bahwa sistem
yang pernah berjaya ini pernah tenggelam dalam masa yang cukup lama, dan sempat
dilupakan oleh sementara pihak, karena kuatnya dua sistem yang pernah berebut simpati
dunia yaitu sistem kapitalisme dan sosialisme.
Sistem ekonomi Islam mengalami perkembangan sejarah baru pada era modern. Menurut
Khurshid Ahmad, yang dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, ada empat tahapan
perkembangan dalam wacana pemikiran ekonomi Islam, yaitu:
       1. Tahapan Pertama, dimulai ketika sebagian ulama, yang tidak memiliki pendidikan
formal dalam bidang ilmu ekonomi namun memiliki pemahaman terhadap persoalan-
persoalan sosio-ekonomi pada masa itu, mencoba untuk menuntaskan persoalan bunga.
Mereka berpendapat bahwa bunga bank itu haram dan kaum muslimin harus meninggalkan
hubungan apapun dengan perbankan konvensional. Mereka mengundang para ekonom dan
banker untuk saling bahu membahu mendirikan lembaga keuangan yang didasarkan pada
prinsip-prinsip syariah dan bukan pada bunga. Yang menonjol dalam pendekatan ini adalah
keyakinan yang begitu teguh haramnya bunga bank dan pengajuan alternatif. Masa ini dimulai
kira-kira apada pertengahan dekade 1930-an dan mengalami puncak kemajuannya pada akhir
dekade 1950-an dan awal dekade 1960-an. Pada masa itu di Pakistan didirikan bank Islam lokal
ayang beroperasi bukan pada bunga. Sementara itu di Mesir juga didirikan lembaga keuangan
yang beroperasi bukan pada bunga pada awal dasa warsa 1960-an. Lembaga keuangan ini
diberi nama Mit Ghomir Local Saving yang berlokasi di delta sungai Nil, Mesir. Tahapan ini
memang masih bersifat prematur dan coba-coba sehingga dampaknya masih sangat terbatas.
Meskipun demikian tahapan ini telah membuka pintu lebar bagi perkembangan selanjutnya.
       2. Tahapan kedua dimulai pada akhir dasa warsa 1960-an. Pada tahapan ini para
ekonom Muslim yang pada umumnya dididik dan dilatih di perguruan tinggi terkemuka di
Amerika Serikat dan Eropa mulai mencoba mengembangkan aspek-aspek tertentu dari sistem
moneter Islam. Mereka melakukan analisis ekonomi terhadap larangan riba (bunga) dan
mengajukan alternatif perbankan yang tidak berbasis bunga. Serangkaian konferensi dan
seminar internasional tentang ekonomi dan keuangan Islam digelar beberapa kali dengan
mengundang para pakar, ulama, ekonom baik muslim maupun non-muslim. Konferensi
internasional pertama tentang ekonomi Islam digelar di Makkah al-Mukarromah pada tahun
1976 yang disusul kemudian dengan konferensi internasional tentang Islam dan Tata Ekonomi
Internasional yang baru di London pada tahun 1977. Setelah itu digelar dua seminar tentang
Ekonomi Moneter dan Fiskal dalam Islam di Makkah pada tahun 1978 dan di Islamabad pada
tahun 1981. Kemudian diikuti lagi oleh konferensi tentang Perbankan Islam dan Strategi kerja
sama ekonomi yang diadakan di Baden-Baden, Jerman pada tahun 1982 yang kemudian diikuti
Konferensi Internasional Kedua tentang Ekonomi Islam di Islamabad pada tahun 1983. Belasan
buku dan monograf telah diterbitkan semenjak konferensi dan seminar ini digelar yang
berhasil memberikan gambaran yang lebih terang tentang Ekonomi Islam baik dalam teori
maupun praktek. Menurut Khurshid Ahmad, kontribusi yang paling signifikan selain dari hasil-

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      124
hasil konferensi dan seminar tadi adalah laporan yang dikeluarkan oleh Dewan Ideologi Islam
Pakistan tentang penghapusan riba dari ekonomi. Laporan ini tidak saja menjelaskan tentang
hukum bunga bank yang telah ditegaskan haram oleh ijma’ para ulama masa kini, tetapi juga
memberikan pedoman bagaimana menghapuskan riba dari perekonomian. Pada tahapan
kedua ini muncul nama-nama ekonom muslim terkenal di seluruh dunia Islam anatara lain
Prof. Dr. Khurshid Ahmad yang dinobatkan sebagai bapak ekonomi Islam, Dr. M. Umer Chapra,
Dr. M. A. Mannan, Dr. Omar Zubair, Dr. Ahmad An-Najjar, Dr. M. Nejatullah Siddiqi, Dr. Fahim
Khan, Dr. Munawar Iqbal, Dr. Muhammad Ariff, Dr. Anas Zarqa dan lain-lain. Mereka adalah
ekonom muslim yang dididik di Barat tetapi memahami sekali bahwa Islam sebagai way of life
yang integral dan komprehensif memiliki sistem ekonomi tersendiri dan jika diterapkan dengan
baik akan mampu membawa umat Islam kepada kedudukan yang berwibawa di mata dunia.
       3. Tahapan ketiga ditandai dengan upaya-upaya konkrit untuk mengembangkan
perbankan dan lembaga-lembaga keuangan non-riba baik dalam sektor swasta maupun dalam
sektor pemerintah. Tahapan ini merupakan sinergi konkrit antara usaha intelektual dan
material para ekonom, pakar, banker, para pengusaha dan para hartawan muslim yang
memiliki kepedulian kepada perkembangan ekonomi Islam. Pada tahapan ini sudah mulai
didirikan bank-bank Islam dan lembaga investasi berbasis non-riba dengan konsep yang lebih
jelas dan pemahaman ekonomi yang lebih mapan. Bank Islam yang pertama kali didirikan
adalah Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975 di Jeddah, Saudi Arabia. Bank Islam
ini merupakan kerjasa sama antara negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi
Konferensi Islam (OKI). Tidak lama kemudian disusul oleh Dubai Islamic Bank. Setelah itu
banyak sekali bank-bank Islam bermunculan di mayoritas negara-negara muslim termasuk di
Indonesia.
       4. Tahapan keempat ditandai dengan pengembangan pendekatan yang lebih integratif
dan sophisticated untuk membangun keseluruhan teori dan praktek ekonomi Islam terutama
lembaga keuangan dan perbankan yang menjadi indikator ekonomi umat.
    2. Pengertian dan Prinsip Dasar
Para pakar ekonomi Islam memberikan definisi ekonomi Islam yang berbeda-beda, akan tetapi
semuanya bermuara pada pengertian yang relatif sama. Menurut M. Abdul Mannan, ekonomi
Islam adalah “sosial science which studies the economics problems of people imbued with the
values of Islam”.38 Menurut Khursid Ahmad, ekonomi Islam adalah a systematic effort to try to
understand the economic problem and man’s behavior in relation to that problem from an
Islamic perspective. Sedangkan menurut Muhammad Nejatullah Siddiqi, ekonomi Islam adalah
“the muslim thinkers’ response to the economic challenges of their times. This response is
naturally inspired by the teachings of Qur’an and Sunnah as well as rooted in them”.39

      38
          M. Abdul Mannan, 1986, Islamic Economics; Theory and Practice, Cambride: Houder and
Stoughton Ltd., hal. 18.
       39
          Muhammad Nejatullah Siddiqi, 1991, “Islamic Economic Thought: Foundations, Evolution and
Needed Direction”, dalam AbulHasan M. Sadeq et al. (eds.), Development and Finance in Islamic,
Petaling Jaya: International Islamic University Press, hal. 21. Bandingkan dengan definisi yang
dikemukakan Akram Khan, “Islamic economics aims at the study of human falah [well-being] achieved
by organizing the resources of the earth on the basis of cooperation and participation”. Lihat
Muhammad Akram Khan, 1994, An Intrduction to Islamic Economics, Islamabad: IIIT Pakistan, hal. 33.
Dan juga definisi Khurshid Ahmad, ekonomi Islam adalah “a sistematic effort to try to understand the
economic problems and man’s behaviors in relation to that problem from an Islamic perspective”.
Khursid Ahmad, 1992, dalam M. Umer Chapra, What is Islamic Economics, (Jeddah: IRTI – IDB, hal. 19.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                             125
Dari berbagai definisi tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa ekonomi Islam adalah suatu ilmu
pengetahuan yang berupaya untuk memandang, meninjau, meneliti, dan akhirnya
menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami
(berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam).40 Sedangkan prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam
menurut Umer Chapra41 adalah sebagai berikut:
        1. Prinsip Tauhid. Tauhid adalah fondasi keimanan Islam. Ini bermakna bahwa segala
apa yang di alam semesta ini didesain dan dicipta dengan sengaja oleh Allah SWT, bukan
kebetulan, dan semuanya pasti memiliki tujuan. Tujuan inilah yang memberikan signifikansi
dan makna pada eksistensi jagat raya, termasuk manusia yang menjadi salah satu penghuni di
dalamnya.
        2. Prinsip khilafah. Manusia adalah khalifah Allah SWT di muka bumi. Ia dibekali dengan
perangkat baik jasmaniah maupun rohaniah untuk dapat berperan secara efektif sebagai
khalifah-Nya. Implikasi dari prinsip ini adalah: (1) persaudaraan universal, (2) sumber daya
adalah amanah, (3), gaya hidup sederhana, (4) kebebasan manusia.
        3. Prinsip keadilan. Keadilan adalah salah satu misi utama ajaran Islam. Implikasi dari
prinsip ini adalah: (1) pemenuhan kebutuhan pokok manusia, (2) sumber-sumber pendapatan
yang halal dan tayyib, 3) distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata, (4) pertumbuhan
dan stabilitas.
     3. Landasan Filosofi dan Welstanchaung
        Banyak sekali keterangan dari Al-Quran yang menyinggung masalah ekonomi, baik
secara eksplisit maupun implisit. Bagaimana jual beli yang baik dan sah menurut Islam, pinjam
meminjam dengan akad-akad yang sah sampai dengan pelarangan riba dalam perekonomian.
Walaupun pada kitab suci sebelumnya juga pernah disebutkan, dimana perbuatan riba itu
dibenci Tuhan. Sedangkan pada tatanan teknisnya diperjelas dengan hadis serta teladan dari
Rasulullah dan para alim ulama.
        Dari namanya sudah dapat dipastikan bahwa secara ideologi sistem ekonomi Islam
kental dengan nuansa keislaman, dengan kata yang lebih jelas adalah aqidah islamiyah. Sistem
ekonomi Islam memberikan tuntunan pada manusia dalam perilakunya untuk memenuhi
segala kebutuhannya dengan keterbatasan alat pemuas dengan jalan yang baik dan alat
pemuas yang tentunya halal, secara zatnya maupun secara perolehannya.
Tujuan utama Syari‘at Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahahan umat manusia, baik di
dunia maupun di akhirat. Ini sesuai dengan misi Islam secara keseluruhan yang rahmatan
lil‘alamin. Al-Syatibi dalam al-Muwafaqat42 menegaskan:

                                                           ‫ومعلوم ان الْشيعة امنا وضعْ ملصاحل اخللق ابطَلق‬
Artinya: “Telah diketahui bahwa syariat Islam itu disyariatkan/diundangkan untuk mewujudkan
kemaslahahan makhluk secara mutlak”. Dalam ungkapan yang lain Yusuf al-Qaradawi
menyatakan:
                                                                              ‫ايامن َكنْ املصلحة فمث حمك هللا‬
      40
          Lihat M. B. Hendrie Anto, 2003, op.cit., hal. 10-11; Syed Mohd. Ghazali Wafa Syed Adwam Wafa
et al., 2005, Pengantar Perniagaan Islam, Petaling Jaya: Pearson Malaysia Sdn. Bhd., hal. 50;
Mohammad Daud Ali, 1988, Sistem Ekonomi Islam, Zakat dan Wakaf, Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia, hal. 18.
       41
          M. Umer Chapra, 2001, op.cit., hal. 202-206.
       42
          Al-Syatibi, t.t., al-Muwafaqat fi Usul al-Ahkam, Beirut: Dar al-Fikr, juz 2, hal. 19.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                     126
Artinya: “Di mana ada maslahah, di sanalah hukum Allah”.43
       Dua ungkapan tersebut menggambarkan secara jelas bagaimana eratnya hubungan
antara Syariat Islam dengan kemaslahahan. Ekonomi Islam yang merupakan salah satu bagian
dari Syariat Islam, tujuannya tentu tidak lepas dari tujuan utama Syariat Islam. Tujuan utama
ekonomi Islam adalah merealisasikan tujuan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan
akhirat (falah), serta kehidupan yang baik dan terhormat (al-hayah al-tayyibah).44 Ini
merupakan definisi kesejahteraan dalam pandangan Islam, yang tentu saja berbeda secara
mendasar dengan pengertian kesejahteraan dalam ekonomi konvensional yang sekuler dan
materialistik.45 Dengan demikian tujuan sistem ekonomi Islam adalah berkait dengan tujuan
yang tidak hanya memenuhi kesejahteraan hidup di dunia saja (materialis) namun juga
kesejahteraan hidup yang lebih hakiki (akhirat). Allah SWT sebagai puncak tujuan, dengan
mengedepankan pencarian keridloan-Nya dalam segala pola perilaku sejak dari konsumsi,
produksi hingga distribusi.
       Secara terperinci, tujuan ekonomi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: (1)
Kesejahteraan ekonomi adalah tujuan ekonomi yang terpenting. Kesejahteraan ini mencakup
kesejahteraan individu, masyarakat dan negara. (2) Tercukupinya kebutuhan dasar manusia,
meliputi makan, minum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, keamanan serta
sistem negara yang menjamin terlaksananya kecukupan kebutuhan dasar secara adil. (3)
Penggunaan sumber daya secara optimal, efisien, efektif, hemat dan tidak membazir. (4)
Distribusi harta, kekayaan, pendapatan dan hasil pembangunan secara adil dan merata. (5)
Menjamin kebebasan individu. (6) Kesamaman hak dan peluang. (7) Kerjasama dan keadilan.46
    4. Pokok-pokok Pikiran
       a. Metodologi Ekonomi Islam
Para pakar ekonomi Islam (seperti Masudul Alam Choudoury, M Fahim Khan, Monzer Khaf, M.
Abdul Mannan, dan lain-lain) telah merumuskan metodologi ekonomi Islam secara berbeda,
tetapi dapat ditarik garis persamaan bahwa semunya bermuara pada ajaran Islam. Metodologi
Ekonomi Islam, dapat diringkaskan sebagai berikut47:

      43
           Yusuf al-Qaradawi, 1998, al-Ijtihad al-Mu‘asir, Beirut: al-Maktab al-Islami, hal. 68.
      44
           Al-Quran menyebut kata falah dalam 40 tempat. Falah mencakup konsep kebahagiaan dalam
dua dimensi yaitu dunia dan akhirat. Kebahagiaan dimensi duniawi, falah mencakup tiga aspek, yaitu:
(1) kelangsungan hidup, (2) kebebasan dari kemiskinan, (3) kekuatan dan kehormatan. Sedangkan dalam
kebahagiaan dimensi akhirat, falah mencakup tiga aspek juga, yaitu: (1) kelangsungan hidup yang abadi
di akhirat, (2) kesejahteraan abadi, (3) berpengetahuan yang bebas dari segala kebodohan. Falah hanya
dapat dicapai dengan suatu tatatan kehidupan yang baik dan terhormat (hayah al-tayyibah). Lihat M. B.
Hendrie Anto, 2003, op.cit., hal. 7.
        45
           Muhammad Akram Khan, 1989, “Methodology of Islamic Economics” dalam Aidit Ghazali dan
Syed Omar (eds.), Readings in The Concept and Methodology of Islamic Economics, Petaling Jaya:
Pelanduk Publications, hal. 59; Syed Mohd. Ghazali Wafa Syed Adwam Wafa et al., 2005, op.cit., hal. 53;
M. B. Hendrie Anto, 2003, op.cit., hal. 7.
        46
           Anas Zarqa’, 1989, “Islamic Economics: An Approach to Human Welfare”, dalam Aidit Ghazali
dan Syed Omar (eds.), Readings in The Concept and Methodology of Islamic Economics, Petaling Jaya:
Pelanduk Publications, hal. 29-38.
        47
           Joni Tamkin Bin Borhan, 2002, “Metodologi Ekonomi Islam: Suatu Analisis Perbandingan”,
dalam Jurnal Usuluddin, No. 15, Kuala Lumpur: Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, hal. 77-83;
Farhad Nomani dan Ali Rahnema, 1994, Islamic Economic Systems, London: Zed Books Ltd., hal. 2-19;
Muhammad Akram Khan, 1989, op.cit., hal. 53-60; Monzer Kahf, 1989, “Islamic Economics and Its
Methodology” dalam Aidit Ghazali dan Syed Omar (eds.), Readings in The Concept and Methodology of
Islamic Economics, Petaling Jaya: Pelanduk Publications, hal. 43-48.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                127
    1.    Ekonomi Islam dibentuk berdasarkan pada sumber-sumber wahyu, yaitu al-Quran
        dan al-Sunnah. Penafsiran terhadap dua sumber tersebut mestilah mengikuti garis
        panduan yang telah ditetapkan oleh para ulama muktabar, bukan secara membabi
        buta dan ngawur.48
    2. Metodologi ekonomi Islam lebih mengutamakan penggunaan metode induktif.
    3. Ilmu Usul tetap mengikat bagi metodologi ilmu ekonomi Islam. Walaupun begitu
        pemikiran kritis dan evaluatif terhadap ilmu usul sangat diperlukan karena pada
        dasarnya ilmu usul adalah produk pemikrian manusia.
    4. Penggunaan metode ilmiah konvensional atau metodologi lainnya dapat dibenarkan
        sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
    5. Ekonomi Islam dibangun di atas nilai dan etika luhur yang berdasarkan Syariat Islam,
        seperti nilai keadilan, sederhana, dermawan, suka berkorban dan lain-lain.
    6. Kajian ekonomi Islam bersifat normatif dan positif.
    7. Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai falah di dunia dan akhirat.
    8. Pada dasarnya metodologi yang bersumber dari metode ilmiah memiliki peluang untuk
        menghasilkan kesimpulan yang sama dengan yang bersumber dari ilmu usul. Ilmu usul
        untuk ayat qauliyah dan metode ilmiah untuk ayat kauniyah
        b. Ekonomi Islam Membentuk Islamic Man
Berbeda dengan ekonomi konvensional yang mengasumsikan manusia sebagai rational
economic man, ekonomi Islam membentuk manusia menjadi islamic man. Faham rational
economic man dalam ekonomi konvensional menuai berbagai kritik. Di antara kritik-kritik
terhadap rasionaliti dalam ekonomi konvensional adalah sebagai berikut:
      1. Terlalu demanding, karena menganggap setiap agen ekonomi pasti memiliki
informasi lengkap. Ini tentu anggapan yang tidak realistik. Di samping itu terlalu terbatas,
karena memahami self interest secara sangat sempit.
      2. Tidak menggambarkan tingkah laku manusia yang sesungguhnya yaitu apa yang
diasumsikan oleh ekonomi konvensional tidak mewakili perilaku manusia yang sebenarnya dan
mengabaikan sama sekali emosi dan perasan. Clive Hamilton mengungkapkan bahwa ilmu
ekonomi berkait dan bersepakat dengan kehidupan manusia, sedangkan manusia adalah
makhluk yang berperasaan selain berakal, oleh karena itu ekonomi modern yang mengabaikan
perasaan (moral/etika) dan spirituality merupakan kesalahan yang sangat telak. Memahami
sesuatu dengan hanya berdasarkan akal semata merupakan pemahaman yang tidak lengkap.49
      3. Pilihan perlu konsisten. Individu diandaikan rasional jika memilih pilihannya yang
senantiasa konsisten dan mengabaikan perbedaan cita rasa individu. Di samping itu, dalam
setiap pilihannya, setiap individu tidak hanya mempertimbangkan apakah pilihannya itu
memenuhi utilitinya, akan tetapi juga mempertimbangkan mestikah memilih pilihan itu.
Misalnya, pertanyaannya bukan hanya, “Dapatkah benda ini dibeli?” Tetapi juga “Haruskah
minuman keras ini dibeli?”. Oleh karena itu Viktor J. Vanberg50 menyatakan bahwa karena
tidak mungkin mencapai konsisten yang terus menerus dalam pilihan rasional, beliau
menyatakan perlu ada sebuah teori yang disebut dengan theory of behavioural adaptation.

         48
         M. Abdul Mannan, 1986, op.cit., hal. 13-27.
         49
         Clive Hamilton, 1994, op.cit., hal. 6-7. Lihat pula Masudul Alam Choudory, 1989, The Paradigm
of Humanomics, Bangi: UKM
      50
         Viktor J. Vanberg, 1994, Rules and Choice in Economics, London: Routledge, hal. 37
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                               128
       4.    Terlalu materialistik. Teori ilmu ekonomi konvensional menganggap manusia
senantiasa ingin mencapai keuntungan material yang lebih tinggi sedangkan sebenarnya ada
batasan dalam kehendak manusia. Dalam kenyataannya keinginan manusia tidak hanya
dibatasi oleh budget constrain/level of income, tingkat harga, atau tingkat modal yang dipunya,
tetapi juga oleh hukum, peraturan perundangan, tradisi, nilai-nilai/ajaran agama, nilai moral,
dan tanggung jawab sosial.51 Secara konseptual terdapat perberbedaan mendasar antara
ekonomi konvensional dan ekonomi Islam dalam memandang manusia. Ekonomi konvensional
mengasumsikan manusia sebagai rational economic man, sedangkan ekonomi Islam hendak
membentuk manusia yang berkarakterkan Islamic man (‘Ibadurrahman), (QS 25:63). Islamic
man dianggap perilakunya rasional jika konsisten dengan prinsip-prinsip Islam yang bertujuan
untuk menciptakan masyarakat yang seimbang. Tauhidnya mendorong untuk yakin, Allah-lah
yang berhak membuat rules untuk mengantarkan kesuksesan hidup.
       Islamic man dalam mengkonsumsi suatu barangan tidak semata-mata bertujuan
memaksimumkan kepuasan, tetapi selalu memperhatikan apakah barang itu halal atau haram,
israf atau tidak, tabzir atau tidak, memudaratkan masyarakat atau tidak dan lain-lain.
Ketakwaannya kepada Allah dan kepercayaannya kepada hari kiamat membuatnya senantiasa
taat kepada rules Allah dan Rasul-Nya. Islamic man tidak materialistik, ia senantiasa
memperhatikan anjuran syariat untuk berbuat kebajikan untuk masyarakat, oleh karena itu ia
baik hati, suka menolong, dan peduli kepada masyarakat sekitar. Ia ikhlas mengorbankan
kesenangannya untuk menyenangkan orang lain. (QS 2: 215; QS 92: 18-19). Motifnya dalam
berbuat kebajikan kepada orang lain, baik dalam bentuk berderma, bersedekah, menyantuni
anak yatim, maupun mengeluarkan zakat harta, dan sebagainya, tidak dilandasi motif ekonomi
sebagaimana dalam doctrine of social responsibility, tetapi semata-mata berharap keridhaan
Allah SWT.
       Dalam ekonomi Islam, tindakan rasional termasuklah kepuasan atau keuntungan
ekonomi dan rohani baik di dunia maupun di akhirat, sedangkan dalam ekonomi konvensional
cakupan tujuannya terbatas hanya pada kepuasan atau keuntungan ekonomi saja. Oleh karena
itu, dimensi waktu dalam ekonomi Islam adalah lebih luas dan menjadi perhatian tersendiri
pada tingkat agen-agen ekonomi di dalam Islam. Dalam ekonomi Islam, di dalam menjalankan
perekonomian tidak hanya berasaskan pada logika semata-mata, akan tetapi juga berasaskan
pada nilai-nilai moral dan etika serta tetap berpedoman kepada petunjuk-petunjuk dari Allah
SWT.
       Manusia perlu bertindak rasional karena ia mempunyai beberapa kelebihan dibanding
ciptaan Allah yang lainnya. Manusia dianggap bertindak rasional apabila .individu tersebut
mengarahkan perilakunya untuk mencapai tahapan maksimum sesuai dengan norma-norma
Islam.52 Individu rasional adalah individu yang berusaha memaksimumkan al-falah dibanding
memaksimumkan kepentingan diri sendiri.
Konsep asas rasionalisme Islam menurut Monzer Kahf53:
         1. Konsep kesuksesan

      51
           Syed Omar Syed Agil, 1992, op.cit., hal. 34-38
      52
           Muhammad Nejatullah Siddiqi, 1992, “Islamic Consumer Behaviour” dalam Sayyid Tahir et al.
(ed.), Readings in Microeconomics An Islamic Perspective, Petaling Jaya: Longman Malaysia Sdn Bhd, hal.
55-56
        53
           Monzer Kahf, 1992, “The Theory of Consumption” dalam Sayyid Tahir et al. (ed.), Readings in
Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya: Longman Malaysia Sdn Bhd, hal. 62-67
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                129
       Islam membenarkan individu untuk mencapai kesuksesan di dalam hidupnya melalui
tindakan-tindakan ekonomi, namun kesuksesan dalam Islam bukan hanya kesuksesan materi
akan tetapi juga kesuksesan di hari akhirat dengan mendapatkan keridhaan dari Allah SWT.
Kesuksesan dalam kehidupan muslim diukur dengan moral agama Islam, bukan dengan jumlah
kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas seseorang, semakin tinggi pula kesuksesan
yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketakwaan kepada Allah SWT merupakan kunci dalam
moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan perilaku yang baik dan
bermanfaat bagi kehidupan serta menjauhkan diri dari kejahatan. Ketakwaan kepada Allah
dicapai dengan menyandarkan seluruh kehidupan hanya karena (niyat), dan hanya untuk
(tujuan) Allah, dan dengan cara yang telah ditentukan oleh Allah.54
          2. Jangka waktu perilaku konsumen
       Dalam pandangan Islam kehidupan dunia hanya sementara dan masih ada kehidupan
kekal di akhirat. Maka dalam mencapai kepuasan perlu ada keseimbangan pada kedua tempoh
waktu tersebut, demi mencapai kesuksesan yang hakiki. Oleh karena itu sebagian dari
keuntungan atau kepuasan di dunia sanggup dikorbankan untuk kepuasan di hari akhirat.
Manakala dalam pandangan konvensional mereka tidak memperhitungkan hal tersebut karena
mereka menganggap kematian sebagai akhir dari segalanya, sehingga tidak perlu menyisihkan
sebagian hartanya dari keuntungan atau kepuasan untuk masa yang tidak jelas dan tidak logis
pada hari akhirat.
          3. Konsep kekayaan
       Kekayaan dalam konsep Islam adalah amanah dari Allah SWT dan sebagai alat bagi
individu untuk mencapai kesuksesan di hari akhirat nanti, sedangkan menurut pandangan
konvensional kekayaan adalah hak individu dan merupakan pengukur tahap pencapaian
mereka di dunia.
          4. Konsep barang
       Konsep barang dalam pandangan Islam selalu berkaitan dengan nilai-nilai moral. Dalam
al-Quran dinyatakan dua bentuk barang yaitu: al-tayyibat (barangan yang baik, bersih, dan suci
serta berfaedah) dan barangan al-rizq (pemberian Allah, hadiah, atau anugerah dari langit)
yang bisa mengandung halal dan haram. Menurut ekonomi Islam, barang bisa dibagi pada tiga
kategori yaitu: barang keperluan primer (daruriyyat) dan barang sekunder (hajiyyah) dan
barang tersier (tahsiniyyat). Barang haram tidak diakui sebagai barang dalam konsep Islam.
Dalam menggunakan barang senantiasa memperhatikan maqasid syariah (tujuan syariah).
Oleh karena itu konsep barang yang tiga macam tersebut tidak berada dalam satu level akan
tetapi sifatnya bertingkat dari daruriyyat, hajiyyat dan tahsiniyyat.55
          5. Etika konsumen
       Islam tidak melarang individu dalam menggunakan barang untuk mencapai kepuasan
selama individu tersebut tidak mengkonsumsi barang yang haram dan berbahaya atau
merusak. Islam melarang mengkonsumsi barang untuk israf (pembaziran) dan tabzir (spending
in the wrong way) seperti suap, berjudi dan lainnya.



      54
         MB Hendri, 2003, op.cit., hal. 123
      55
         M. Fahim Khan, 1992, “Theory of Consumer Behaviour in Islamic Perspective”, dalam Sayyid
Tahir et al. (ed), Readings in Microeconomics An Islamic Perspective, Petaling Jaya: Longman Malaysia,
hal. 74
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                               130
       Dengan demikian economic rationality from Islamic view bermakna: (1) konsisten dalam
pilihan ekonomi (2) Content pilihan tidak mengandungi haram, israf, tabdzir, mudarat kepada
masyarakat (jadi senantiasa taat kepada rules Allah) (3) Memperhatikan faktor eksternal
seperti kebaikan hati (altruism) yang sesungguhnya, interaksi sosial yang mesra. Menurut
Siddiqi, perilaku rasional dalam ekonomi Islam tidak selalu mengindikasikan
pemaksimuman.(Rational behaviour in Islamic economics doesn’t necessarily imply
maximization).
c. Keseimbangan dalam Ekonomi Islam
       Orientasi dari keseimbangan konsumen dan produsen dalam ekonomi konvensional
adalah untuk semata-mata mengutamakan keuntungan. Semua tindakan ekonominya
diarahkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Jika tidak demikian justeru
dianggap tidak rasional. Lain halnya dengan ekonomi Islam yang tidak hanya ingin mencapai
keuntungan ekonomi tetapi juga mengharapkan keuntungan rohani dan al-falah.
Keseimbangan antara konsumen dan produsen dapat diukur melalui asumsi-asumsi secara
keluk. Memang untuk mengukur pahala dan dosa seorang hamba Allah, tidak dapat diukur
dengan uang, akan tetapi hanya merupakan ukuran secara anggaran unitnya tersendiri.56
       Rasionaliti keseimbangan konsumen dan produsen dalam ekonomi konvensional
ditunjukkan pada perilaku seseorang untuk memenuhi kehendaknya dan kehendak masyarakat
sebagaimana ia memenuhi kehendak dirinya sendiri. Kenyataan ini adalah tidak benar karena
perilaku seseorang individu adalah berbeda dengan perilaku individu lain dan tidaklah mungkin
bisa memenuhi keperluan dan keinginan sendiri apabila keperluan individu itu tidak dipenuhi.
Timothy Gorringe menyatakan bahwa mereduksi manusia yang homo sapiens (makhluk
bijaksana) dengan hanya homo economicus yang secara rasional memaksimumkan utiliti,
bertindak berasas self interest saja merupakan reduksi yang sangat telak terhadap nilai-nilai
moral/etika.57
       Menurut Umer Chapra, sebenarnya kalau tujuan-tujuan normatif masyarakat telah
ditentukan, tidak bisa ada kebebasan tak terbatas untuk mendefinisikan rasionaliti
sebagaimana dalam ekonomi konvensional. Dengan demikian, perilaku rasional secara
otomatik akan teridentifikasi dengan perilaku yang kondusif bagi realiasasi tujuan-tujuan
normatif tersebut.58
       Sebenarnya dapat saja memenuhi kepentingan diri sendiri dalam berbagai cara, baik
ekonomi maupun nonekonomi, yang didasarkan kepada perhitungan uang atau selain uang.
Namun, untuk menyelaraskan dengan orientasi materinya, ilmu ekonomi mengesampingkan
semua aspek kepentingan diri nonekonomi itu, sementara itu ia hanya menyamakan rasionaliti
dengan aspek ekonomi saja. Bahkan pengertian ekonomi di sini, disederhanakan lagi hanya
dikaitkan dengan hitungan uang.
       Ilmu ekonomi telah menciptakan konsep imajiner tentang “manusia ekonomi” di mana
tanggungj awab sosial satu-satunya adalah meningkatkan keuntungannya. Dengan demikian,
ilmu ekonomi hanya memperhatikan perilaku rasional manusia ekonomi yang dimotivasi hanya
oleh dorongan untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri dengan cara memaksimumkan

      56
        Bandingkan dengan penjelasan Clive tentang transrationality, Clive Hamilton, 1994, The Mystic
Economist, Australia: Hamilton, hal. 158-161
     57
        Timothy Gorringe, 1999, Fair Shares: Ethics and The Global Economy, Slovenia: Thames, hal. 31
     58
        Umer Chapra, 2001, op.cit., hal. 19
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                              131
kekayaan dan konsumsinya lewat cara apapun. Semua keinginan lain yang membawa manusia
bersama-sama seperti kerjasama, saling menyayangi, persaudaraan dan altruisme, di mana
orang berjuang untuk kebahagiaan orang lain, sekalipun kadangkala hal itu mesti
mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, dikesampingkan sama sekali. Dengan demikian,
jebakan ilmu ekonomi sekularis pada dasarnya adalah bagaimana memenuhi kepentingan diri
sendiri lewat maksimumisasi kekayaan dan konsumsi sebagai alat utama untuk melakukan
filterasasi, motivasi, dan restrukrisasi.59
        Berbeda dengan tujuan utama konsumsi oleh konsumen dalam ekonomi konvensional
yang semata-mata memaksimumkan utilitinya, dalam Ekonomi Islam yang berasaskan syariat
Islam, menolak aktivitas manusia yang selalu memenuhi segala kehendaknya untuk
memaksimumkan utiliti, karena pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan terhadap hal
yang baik dan buruk sekaligus. Kehendak manusia didorong oleh suatu kekuatan dalam diri
manusia (inner power) yang bersifat pribadi, dan karenanya seringkali berbeda antara satu
orang dengan lainnya (sangat subjektif). Kehendak tidak selalu sesuai dengan rasionaliti,
karena sifatnya yang tak terbatas. Kekuatan dari dalam diri manusia itu disebut jiwa atau hawa
nafsu (nafs) yang menjadi penggerak aktiviti manusia.60 Karena kualitas hawa nafsu manusia
berbeda-beda, maka sangat wajar apabila kehendak satu orang dengan lainnya berbeda-beda
pula.61
        Secara sistematis perangkat penyeimbang perekonomian dalam Islam berupa:
     a. Diwajibkannya zakat terhadap harta yang tidak di investasikan, sehingga mendorong
pemilik harta untuk menginves hartanya, disaat yang sama zakat tidak diwajibkan kecuali
terhadap laba dari harta yang diinvestasikan, Islam tidak mengenal batasan minimal untuk
laba, hal ini menyebabkan para pemilik harta berusaha menginvestasikan hartanya walaupun
ada kemungkinan adanya kerugian hingga batasan wajib zakat yang akan dikeluarkan, maka
kemungkinan kondisi resesi dalam Islam dapat dihindari.
     b. Sistem bagi hasil dalam berusaha (profit and loss sharing) menggantikan pranata bunga
membuka peluang yang sama antara pemodal dan pengusaha, keberpihakan sistem bunga
kepada pemodal dapat dihilangkan dalam sistem bagi hasil. Sistem inipun dapat
menyeimbangkan antara sektor moneter dan sektor riil.
     c. Adanya keterkaitan yang erat antara otoritas moneter dengan sektor belanja negara,
sehingga pencetakan uang tidak mungkin dilakukan kecuali ada sebab-sebab ekonomi riil, hal
ini dapat menekan timbulnya inflasi.
     d. Keadilan dalam distribusi pendapatan dan harta. Fakir miskin dan pihak yang tidak
mampu ditingkatkan pola konsumsinya dengan mekanisme zakat, daya beli kaum dhu’afa
meningkat sehingga berdampak pada meningkatnya permintaan riil ditengah masyarakat dan
tersedianya lapangan kerja.
     e. Intervensi negara dalam roda perekonomian. Negara memiliki wewenang untuk
intervensi dalam roda perekonomian pada hal-hal tertentu yang tidak dapat diserahkan
kepada sektor privat untuk menjalankannya seperti membangun fasilitas umum dan
memenuhi kebutuhan dasar bagi masyarakat. Ada dua fungsi negara dalam roda
perekonomian: (1) Melakukan pengawasan terhadap jalannya roda perekonomian dari adanya

      59
         Ibid., hal. 20
      60
         Lihat QS Asy-Syams: 7-10
      61
         Lihat QS Yusuf: 53; al-Qiyamah: 2; al-Fajr: 27
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       132
penyelewengan atau distorsi seperti ; monopoli, upah minimum, harga pasar dan lain-lain. (2)
Peran negara dalam distribusi kekayaan dan pendapatan serta kebijakan fiskal yang seimbang.
d. Konsep Need Membawa Maslahah
       Menurut Islam, manusia mesti mengendalikan dan mengarahkan kehendaknya (want)
sehingga dapat membawa maslahah dan bukan madarat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Sedangkan keperluan (need) muncul dari suatu pemikiran atau identifikasi secara objektif atas
berbagai sarana yang diperlukan untuk mendapatkan manfaat bagi kehidupan. Keperluan
diarahkan oleh rasionaliti normatif dan positif yaitu rasionaliti ajaran Islam, sehingga bersifat
terbatas dan terukur dalam kuantitas dan kualitasnya. Jadi, seorang muslim mengkonsumsi
suatu barang atau jasa dalam rangka memenuhi keperluannya sehingga memperoleh
kemanfaatan yang setinggi-tingginya bagi kehidupannya. Hal ini merupakan asas dan tujuan
dari syariat Islam itu sendiri, yaitu maslahah al-ibad (kesejahteraan hakiki untuk manusia),
sekaligus sebagai cara untuk mendapatkan falah yang maksimum.
Rasionaliti dalam ekonomi Islam, senantiasa memperhatikan maslahah untuk diri, keluarga
dan masyarakat, utiliti bukanlah suatu prioritas, walau tidak dibuang. Implikasi pengaplikasian
konsep need ini dalam mewujudkan maslahah adalah sebagai berikut:
    1. Menghindarkan diri dari sikap israf (berlebih-lebihan melampaui batas).
       Seorang konsumen muslim akan selalu mempertimbangkan maslahah bagi diri dan
masyarakatnya dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa dan menghindari sikap israf.62 Ia
tidak akan menuruti want-nya untuk mendapatkan utiliti yang maksimum, apabila didapati
want-nya itu mengandungi israf. Misalnya, seorang muslim tidak akan mengkonsumsi
makanan yang mahal-mahal walau income-nya memungkinkan untuk membelinya, sementara
ia mengetahui tetangganya kelaparan karena tidak punya makanan. Ia akan memilih untuk
menginfakkan sebagian income-nya kepada tetangganya agar dapat makan. Dengan begitu ia
berarti mendahulukan maslahah daripada memaksimalkan utiliti untuk diri pribadinya.
    2. Mengutamakan akhirat daripada dunia.
       Pada asasnya seorang muslim akan dihadapkan pada dua pilihan yaitu di antara
mengkonsumsi barang ekonomi yang bersifat duniawi saja dan yang bersifat ibadah (ukhrawi).
Pengunaan barang atau jasa untuk keperluan ibadah bernilai lebih tinggi dari konsumsi untuk
duniawi. Konsumsi untuk ibadah lebih tinggi nilainya karena orientasinya adalah al-falah yang
akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, sehingga lebih bertujuan untuk kehidupan akhirat
kelak. Oleh karena itulah, konsumsi untuk ibadah pada hakikatnya adalah konsumsi untuk
masa depan (future consumption), sedangkan konsumsi duniawi adalah hanya untuk konsumsi
masa sekarang (present consumption). Semakin besar konsumsi untuk ibadah maka semakin
tinggi pula al-falah yang akan dicapai, vice versa.63
    3. Konsisten dalam prioritas pemenuhan keperluan (daruriyyah, hajiyyah, dan tahsiniyyah)
       Keperluan manusia dalam konsumsi memiliki tingkat kepentingan yang tidak selalu
sama. Terdapat prioritas-prioritas di antara satu dengan lainnya yang menunjukkan tingkat
kemanfaatan dan kemendesakan dalam pemenuhannya. Para ulama telah membagi prioritas
ini menjadi tiga, yaitu al-hajat al-dharuriyyah, al-hajat al-hajiyyah, dan al-hajat al-tahsiniyyah.


      62
        M. Fahim Khan (1992), op. cit., hal. 78
      63
        M.B Hendri Anto, 2003, op.cit., hal. 129-131. Lihat pula Monzer Kahf, “A Contribution to the
theory of Consumer Behaviour in Islamic Society” dalam Sayyid Tahir et al. (ed), Readings in
Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya: Longman Malaysia, hal. 96-98
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                             133
Seorang muslim perlu mengalokasikan budget-nya secara urut sesuai dengan tingkat
prioritasnya secara konsisten. Keperluan pada tingkat dharuriyyah mesti dipenuhi terlebih
dahulu, baru kemudian hajiyyah dan akhir sekali tahsiniyyah.64 Prioritas ini semestinya
diaplikasikan pada semua jenis keperluan, yaitu agama (al-din), kehidupan, harta, ilmu
pengetahuan (akal) dan kelangsungan keturunan.
   4. Memperhatikan etika dan norma65
       Syariah Islam memiliki seperangkat etika dan norma yang mesti dipedomani dalam
semua aktivitas kehidupan. Beberapa etika misalnya kesederhanaan, keadilan, kebersihan,
halalan toyyiba, keseimbangan, dan lain-lain. Ringkasnya, seorang muslim dalam beraktivitas,
khususnya dalam mengkonsumsi barang atau jasa mestilah berpedoman pada etika dan norma
yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Ini artinya, ia lebih mengutamakan maslahah, dari
mendapatkan utiliti untuk memenuhi want-nya yang relatif tidak terbatas.
Menurut Anas Zarqa’,66 perilaku muslim yang rasional dalam mengaplikaiskan konsep need
akan mendorong individu untuk berada pada suatu tingkat yang berada di antara pembaziran
dan kecukupan. Rasional dalam mengkonsumsi menurut modelnya adalah:
          1. Konsumen yang rasional tidak akan berpuas hati sebelum sampai ke tahap barang
             kecukupan yang mampu diusahakan, karena akan dihukum bersalah dan dianggap
             menimbulkan penganiayaan terhadap diri dan keluarga.
          2. Tidak melebihi garis pembaziran, karena dilarang Islam
          3. Konsumen tidak menggunakan barang terlarang, karena berkibat buruk di akhirat.
          4. Bersedia share sebagian dari konsumsinya dengan orang lain atas sikap mematuhi
             prinsip Islam seperti zakat, sadaqah, infaq.
D. Kesimpulan
       Berdasarkan uraian di atas, jelaslah perbedaan mendasar antara ekonomi Islam dan
ekonomi konvensional. Di antara perbedaan mendasar itu adalah:
       1.     Rasionaliti dalam ekonomi konvensional adalah rational economics man yaitu
tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada kepentingan diri sendiri (self
interest) yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh aktivitas. Ekonomi konvensional
mengabaikan moral dan etika dalam pembelanjaan dan unsur waktu adalah terbatas hanya di
dunia saja tanpa mengambilkira hari akhirat. Sedangkan dalam ekonomi Islam jenis manusia
yang hendak dibentuk adalah Islamic man (‘Ibadurrahman), (QS 25:63). Islamic man dianggap
perilakunya rasional jika konsisten dengan prinsip-prinsip Islam yang bertujuan untuk
menciptakan masyarakat yang seimbang. Tauhidnya mendorong untuk yakin, Allah-lah yang
berhak membuat rules untuk mengantarkan kesuksesan hidup. Ekonomi Islam menawarkan
konsep rasionaliti secara lebih menyeluruh tentang tingkah laku agen-agen ekonomi yang
berlandaskan etika ke arah mencapai al-falah, bukan kesuksesan di dunia malah yang lebih
penting lagi ialah kesuksesan di akhirat.
       2.     Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai falah di dunia dan akhirat,
sedangkan ekonomi konvensional semata-mata kesejahteraan duniawi.


          64
               M.A Mannan, 1993, Ekonomi Islam: Teori dan Praktek (terj.), Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf,
hal. 48
          65
               M. Fahim Khan, 1992, op. cit., hal. 78. Lihat pula M.B Hendri Anto, 2003, op.cit., hal.132
          66
               Sebagaimana dikutip Syed Omar Syed Agil, 1992, op.cit., hal. 43

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                                         134
      3. Sumber utama ekonomi Islam adabah al-Quran dan al-Sunnah atau ajaran Islam.
Segala sesuatu yang bertentangan dengan dua sumber tersebut harus dikalahkan oleh aturan
kedua sumber tersebut. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang berdasarkan pada hal-
hal yang bersifat positivistik.
      4. Islam lebih menekankan pada konsep need daripada want dalam menuju maslahah,
karena need lebih bisa diukur daripada want. Menurut Islam, manusia mesti mengendalikan
dan mengarahkan want dan need sehingga dapat membawa maslahah dan bukan madarat
untuk kehidupan dunia dan akhirat.
      5. Orientasi dari keseimbangan konsumen dan produsen dalam ekonomi konvensional
adalah untuk semata-mata mengutamakan keuntungan. Semua tindakan ekonominya
diarahkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Jika tidak demikian justeru
dianggap tidak rasional. Lain halnya dengan ekonomi Islam yang tidak hanya ingin mencapai
keuntungan ekonomi tetapi juga mengharapkan keuntungan rohani dan al-falah.
Keseimbangan antara konsumen dan produsen dapat diukur melalui asumsi-asumsi secara
keluk. Memang untuk mengukur pahala dan dosa seorang hamba Allah, tidak dapat diukur
dengan uang, akan tetapi hanya merupakan ukuran secara anggaran unitnya tersendiri.
Wallahua’lam bi Ash-Shawab.


DAFTAR PUSTAKA
Abul Hasan M. Sadeq, 1992, “Islamic Economic Thought”, dalam AbulHasan M. Sadeq dan Aidit
Ghazali (eds.), Readings in Islamic Economic Thought, Petaling Jaya: Longman Malaysia Sdn.
Bhd.
Ahmad, Khursid, 1992, dalam M. Umer Chapra, What is Islamic Economics, (Jeddah: IRTI – IDB.
Al-Syatibi, t.t., al-Muwafaqat fi Usul al-Ahkam, Beirut: Dar al-Fikr, juz 2.
Chapra, M. Umer, 1995, Islam and Economic Challenge, USA: IIIT dan The Islamic Foundation.
Chapra, Umer, 2001, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam/The Future of
Economics: An Islamic Perspective. Ikhwan Abidin Basri (terj.) Jakarta: Gema Insani Press
Choudory, Masudul Alam, 1989, The Paradigm of Humanomics. Bangi: UKM
Gorringe, Timothy, 1999, Fair Shares: Ethics and The Global Economy. Slovenia: Thames
Hamilton, Clive, 1994, The Mystic Economist. Australia: Hamilton
Hamouri, Qasem, 1991, “Rationality, Time and Accounting for The Future in Islamic Thaought”,
dalam Faridi (ed), Essays in Islamic Economic Analysis. New Delhi: Genuine Publication &
Media PVT. Ltd.
Heap, Shaun Hargreaves, 1992, “Rationality”, dalam Shaun Hargreaves Heap et. al (1992), The
Theory of Choice: A Critical Guide. Oxford UK: Basil Blackwell Ltd.
Joni Tamkin Bin Borhan, 2002, “Economic Function of The State: An Islamic Perspective” dalam
Jurnal Usuluddin, No. 16, Kuala Lumpur: Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya.
___________________ 2002, “Metodologi Ekonomi Islam: Suatu Analisis Perbandingan”,
dalam Jurnal Usuluddin, No. 15, Kuala Lumpur: Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya.
Kahf, Monzer, 1989, “Islamic Economics and Its Methodology” dalam Aidit Ghazali dan Syed
Omar (eds.), Readings in The Concept and Methodology of Islamic Economics, Petaling Jaya:
Pelanduk Publications.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     135
 _____________1992, “The Theory of Consumption” dalam Sayyid Tahir et al. (ed.), Readings
in Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya: Longman Malaysia Sdn Bhd.
 __________, “A Contribution to the theory of Consumer Behaviour in Islamic Society” dalam
Sayyid Tahir et al. (ed), Readings in Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya:
Longman Malaysia
___________ 1991, “Zakat: Unresolved Issues in Contemporery Fiqh”, dalam AbulHasan M.
Sadeq et al. (eds.), Development and Finance in Islamic, Petaling Jaya: International Islamic
University Press.
Khan, M. Fahim, 1992, “Theory of Consumer Behaviour in Islamic Perspective”, dalam Sayyid
Tahir et al. (ed), Readings in Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya: Longman
Malaysia
____________ 1994, An Intrduction to Islamic Economics, Islamabad: IIIT Pakistan.
Khan, Muhammad Akram, 1989, “Methodology of Islamic Economics” dalam Aidit Ghazali dan
Syed Omar (eds.), Readings in The Concept and Methodology of Islamic Economics, Petaling
Jaya: Pelanduk Publications.
M.B. Hendrie Anto, 2003, Pengantar Ekonomika Mikro Islami. Yogyakarta: EKONISIA
Mannan, M. Abdul, 1986, Islamic Economics; Theory and Practice, Cambride: Houder and
Stoughton Ltd.
____________1993, Ekonomi Islam: Teori dan Praktek (terj.). Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf
____________1982, “Scarcity, Choice and Opportunity Cost: Their Dimension in Islamic
Economics” Saudi Arabia: International Centre for Research in Islamic Economics
March, James G. 1986, “Bounded Rationality, Ambiguity, and the Engineering of Choice”,
dalam Jon Elster (ed.) Rational Choice. Oxford UK: Basil Blackwell Ltd.
Miller, Roger LeRoy, 1997, Economics Today, The Micro View, edisi 9. New York: Addison
Wesley
Mohammad Daud Ali, 1988, Sistem Ekonomi Islam, Zakat dan Wakaf, Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia.
Nomani, Farhad dan Ali Rahnema, 1994, Islamic Economic Systems, London: Zed Books Ltd.
Qaradawi, Yusuf al-, 1998, al-Ijtihad al-Mu‘asir, Beirut: al-Maktab al-Islami.
Rahman, Afzalur, 1979, Economic Doctrines of Islam, Vol. 4, London: The Muslim Schools Trust.
Samuelson, Paul dan William D. Nordhaus, 2001, Microeconomics. New York: McGraw-Hill,
edisi 17
Siddiqi, Muhammad Nejatullah, 1991, “Islamic Economic Thought: Foundations, Evolution and
Needed Direction”, dalam AbulHasan M. Sadeq et al. (eds.), Development and Finance in
Islamic, Petaling Jaya: International Islamic University Press.
______________ 1992, “Islamic Consumer Behaviour” dalam Sayyid Tahir et al. (ed.),
Readings in Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya: Longman Malaysia Sdn Bhd
Syed Mohd. Ghazali Wafa Syed Adwam Wafa et al. 2005, Pengantar Perniagaan Islam, Petaling
Jaya: Pearson Malaysia Sdn. Bhd.
Syed Omar Syed Agil, 1992, “Rationality in Economic Theory: A Critical Appraisal”, dalam
Sayyid Tahir et al. (ed.), Readings in Microeconomics An Islamic Perspective. Petaling Jaya:
Longman Malaysia Sdn Bhd

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       136
Tajuldin et.al, 2004, Rasionalisme dari Perspektif Ekonomi Konvensional dan Ekonomi Islam:
Implikasi ke Atas Keseimbangan Konsumen dan Keseimbangan Pengeluar. Kertas kerja untuk
seminar
Vanberg, Viktor J. 1994, Rules and Choice in Economics. London: Routledge, h. 37
Zarqa’, Anas, 1989, “Islamic Economics: An Approach to Human Welfare”, dalam Aidit Ghazali
dan Syed Omar (eds.), Readings in The Concept and Methodology of Islamic Economics,
Petaling Jaya: Pelanduk Publications




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                   137
                                     BAGIAN XVI
                           KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
A. Pengertian
       "Rukun" dari Bahasa Arab "ruknun" artinya asas-asas atau dasar, seperti rukun Islam.
Rukun dalam arti adjektiva adalah baik atau damai. Kerukunan hidup umat beragama artinya
hidup dalam suasana damai, tidak bertengkar, walaupun berbeda agama. Kerukunan umat
beragama adalah program pemerintah meliputi semua agama, semua warga negara RI.
       Pada tahun 1967 diadakan musyawarah antar umat beragama, Presiden Soeharto dalam
musyawarah tersebut menyatakan antara lain: "Pemerintah tidak akan menghalangi
penyebaran suatu agama, dengan syarat penyebaran tersebut ditujukan bagi mereka yang
belum beragama di Indonesia. Kepada semua pemuka agama dan masyarakat agar melakukan
jiwa toleransi terhadap sesama umat beragama".
       Pada tahun 1972 dilaksanakan dialog antar umat beragama. Diaolog tersebut adalah
suatu forum percakapan antar tokoh-tokoh agama, pemuka masyarakat dan pemerintah.
Tujuannya adalah untuk mewujudkan kesadaran bersama dan menjalin hubungan pribadi yang
akrab dalam menghadapi masalah masyarakat.
B. Tujuan
      Kerukunan umat beragama bertujuan untuk memotivasi dan mendinamisasikan semua
umat beragama agar dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa.
C. Landasan Hukum
    1. Landasan Idiil, yaitu Pancasila (sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa).
    2. Landasan Konstitusional, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 29 ayat 1: "Negara
berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa". Dan Pasal 29 ayat 2 : "Negara menjamin
kemerdekaan tiap- tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu".
    3. Landasan Strategis, yaitu Ketatapan MPRNo.IV tahun 1999 tentang Garis-Garis Besar
Haluan Negara. Dalam GBHN dan Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000,
dinyatakan bahwa sasaran pembangunan bidang agama adalah terciptanya suasana kehidupan
beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang penuh keimanan dan
ketaqwaan, penuh kerukunan yang dinamis antar umat beragama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, secara bersama-sama makin memperkuat landasan spiritual., moral dan
etika bagi pembangunan nasional, yang tercermin dalam suasana kehidupan yang harmonis,
serta dalam kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa selaras dengan penghayatan dan
pengamalan Pancasila.
    4. Landasan Operasional
a. Undang Undang No. 1/PNPS/l 965 tentang larangan dan pencegahan penodaan dan
    penghinaan agama
b. Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI. No. 01/Ber/Mdn/1969
    tentang pelaksanaan aparat pemerintah yang menjamin ketertiban dan kelancaran
    pelaksanaan dan pengembangan ibadah pemeluk agama oleh pemeluknya.
c. Surat Keputusan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri RI. No.01/1979 tentang tata
    cara pelaksanaan pensyiaran agama dan bantuan luar negeri kepada lembaga-lembaga
    keagamaan swasta di Indonesia.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    138
d. Surat Edaran Menteri Agama RI. No.MA/432.1981 tentang penyelenggaraan peringatan hari
    besar keagamaan
D. Wadah Kerukunan Kehidupan Beragama
Pada awalnya wadah tersebut diberi nama Konsultasi Antar Umat Beragama, kemudian
berubah menjadi Musyawarah Antar Umat Beragama. Ada tiga kerukunan umat beragama,
yaitu sebagai berikut: 1 .Kerukunan antar umat beragama. 2.Kerukunan intern umat beragama.
3 .Kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Usaha memelihara kesinambungan
pembangunan nasional dilakukan antara lain:
   1. Menumbuhkan kesadaran beragama.
   2. Menumbuhkan kesadaran rasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap Pancasila
dan UUD 1945.
   3. Menanamkan kesadaran untuk saling memahami kepentingan agama masing-masing.
   4. Mencapai masyarakat Pancasila yang agamis dan masyarakat beragama Pancasilais.
Usaha tersebut pada prinsipnya:
       a. Tidak mencampuradukan aqidah dengan bukan aqidah.
       b. Pertumbuhan dan kesemarakan tidak menimbulkan perbenturan.
       c. Yang dirukunkan adalah warga negara yang berbeda agama, bukan aqidah dan ajaran
          agama.
       d. Pemerintah bersikap preventif agar terbina stabilitas dan ketahanan nasional serta
          terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.
E. Pembangunan Kehidupan Beragama
   1. Agama Sebagai Sumber Nilai Pembangunan
       a. Pembangunan untuk mencapai kebahagiaan hidup.
       b. Kebahagiaan material nisbi, kebahagiaan mutlak dari Allah, yaitu kabahagiaan
           batiniah dan lahiriah.
       c. Hakikat pembangunan adalah manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat
           Indonesia dengan segala totalitasnya, peradabannya, kebudayaannya dan agamanya.
       d. Bila tidak total akan terjadi penyimpangan. Ini bertentangan dengan pembangunan
           nasional
       e. Aspirasi sosial harus sejalan dengan keutuhan hidup secara perorangan masyarakat.
       f. Pembangunan untuk membangun manusia dan agama untuk kebahagiaan manusia.
       g. Pembangunan perlu nilai agama, agama memberi bentuk, arti dan kualitas hidup.
       h. Agama memberi motivasi dan tujuan pembangunan.
   2. Agama dan Ketahanan Nasional
       a. Ketahanan nasional berarti menyatukan kekuatan rakyat bersama aparat pemerintah
           dan alat keagamaan
       b. Agama besar di dunia mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan
           bangsa dalam wujud tradisi dan adat istiadat, serta corak kebudayaan Indonesia.
       c. Usaha bangsa Indonesia memerdekakan bangsa dan negara tidak terlepas dari
           pengaruh dan motivasi agama.
       d. Ketahanan nasional adalah dari, oleh dan untuk seluruh bangsa Indonesia yang
           beragama, maka ketahanan nasional harus terangkat dengan dukungan umat
           beragama.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     139
F. Pola Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama
   1. Perlunya Kerukunan Hidup Beragama
       a. Manusia Indonesia satu bangsa, hidup dalam satu negara, satu ideologi Panncasila.
           Ini sebagai titik tolak pembangunan.
       b. Berbeda suku, adat dan agama saling memperkokoh persatuan.
       c. Kerukunan menjamin stabilitas sosial sebagai syaratmutlak pembangunan.
       d. Kerukunan dapat dikerahkan dan dimanfaatkan untuk kelancaran pembangunan.
       e. Ketidakrukunan menimbulkan bentrok dan perang agama, mengancam kelangsungan
           hidup bangsa dan negara.
       f. Pelita III: kehidupan keagamaan dan kepercayaan makin dikembangkan sehingga
           terbina hidup rukun di antara sesama umat beragama untuk memperkokoh kesatuan
           dan persatuan bangsa dalam membangun masyarakat.
       g. Kebebasan beragama merupakan beban dan tanggungjawab untuk memelihara
           ketentraman masyarakat.
   2. Kerukunan Intern Umat Beragama
      a. Pertentangan di antara pemuka agama yang bersifat pribadi jangan mengakibatkan
          perpecahan di antara pengikutnya.
      b. Persoalan intern umat beragama dapat diselesaikan dengan semangat kerukunan
          atau tenggang rasa dan kekeluargaan.
   3. Kerukunan Antar Umat Beragama
      a. Keputusan Menteri Agama No.70 tahun 1978 tentang pensyiaran agama sebagai rule
         of game bagi pensyiaran dan pengembangan agama untuk menciptakan kerukunan
         hidup antar umat beragama.
      b. Pemerintah memberi perintah pedoman dan melindungi kebebasan memeluk agama
         dan melakukan ibadah menurut agamanya masing-masing.
      c. Keputusan Bersama Mendagri dan Menag No.l tahun 1979 tentang tata cara
         pelaksanaan pensyiaran agama dan bantuan luar negeri bagi lembaga keagamaan di
         Indonesia.
   4. Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah
       a. Semua pihak menyadari kedudukannya masing-masing sebagai komponen orde baru
          dalam menegakkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
       b. Antara pemerintah dengan umat beragama ditemukan apa yang saling diharapkan
          untuk dilaksanakan.
       c. Pemerintah mengharapkan tiga prioritas, umat beragama, diharapkan partisipasi aktif
          dan positif dalam:
          1) pemantapan ideologi Pancasila;
          2) pemantapan stabilitas dan ketahanan nasional;
          3) suksesnyapembangunan nasional;
          4) pelaksanaan tiga kerukunan harus simultan.
       Pembinaan tiga kerukunan tersebut harus simultan dan menyeluruh sebab hakikat
ketiga bentuk itu saling berkaitan. Tahap-tahap kerukunan:
Musyawarah antar umat beragama -» pendekatan bersifat politis.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      140
   1. Pertemuan dan dialog -> bersifat ilmiah filosofis menghasilkan agree in
disagreement=setuju dalam perbedaan.
   2. Pendekatan praktis pragmatis yaitu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar
kehidupan beragama makin semarak, dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan bernegara.
      Pada tanggal 30 Juni 1980 di bentuk wadah musyawarah antar umat beragama dalam
keputusan Menteri Agama RI. No.35 tahun 1980 yang ditandatangani wakil-wakil dari:
   1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari golongan Islam.
   2. Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) dari golongan Kristen Protestan.
   3. Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI) dari golongan Katolik.
   4. Prasida Hindu Darma Pusat (PHDP) dari golongan Hindu.
   5. Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI) dari golongan Budha.
   6. Sekretaris JenderalDepartemen Agama.
G. Langkah-Langkah Pelaksanaan Kerukunan Hidup Beragama
   1. DasarPemikiran
      a. Landasan falsafah Pancasila dan Pembangunan Bangsa.
      b. Pancasila mengandung dasar yang dapat diterima semua pihak.
      c. Pembangunan tersebut wajib dilaksanakan dan disukseskan.
      d. Kerukunan bukan status quo, tetapi sebagai perkembangan masyarakat yang sedang
          membangun dengan berbagai tantangan dan persoalan.
      e. Kerukunan menimbulkan sikap mandiri
   2. Pedoman Pensyiaran Agama
      a. Pupuk rasa hormat-menghormati dan percaya-mempercayai.
      b. Hindarkan perbuatan menyinggung perasaan golongan lain.
      c. Pensyiaranjangan pada orang yang sudah beragama, dengan bujukan dan tekanan.
      d. Jangan pengaruhi orang yang telah menganut agama lain dengan: datang ke rumah,
         janj i, hasut danmenjelekkan.
      e. Pensyiaran jangan dengan pamflet, majalah, obat dan buku di daerah atau rumah
         orang yang beragama lain.
   3.   Bantuan Luar Negeri
        a. Bantuan luar negeri hanya untuk pelengkap.
        b. Pemerintah berhak mengatur, membimbing dan mengarahkan agar bermanfaat
           dan sesuai dengan fungsi dan tujuan bantuan.
   4.   Tindak Lanjut
        a. Pemerintah perlu mengatur pensyiaran agama.
        b. Pensyiaran dilandaskan saling haiga-menghaigai, hormat-menghormati dan
           penghormatan hak seseorang memeluk agamanya.
        c. Perlu sikap terbuka.
        d. Bantuan luar negeri agar bermanfaat selaras dengan fungsi dan tujuan bantuan.
   5. Peraturan-peraturan tentang Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama
      a.       Dakwah. Dakwah melalui radio tidak mengganggu stabilitas nasional, tidak
mengganggu pembangunan nasional dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Keputusan Menteri Agama No.44 tahun 1978:

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                 141
       b. Dakwah; pengajian, majelis taklim, peringatan hari besar Islam, upacara keagamaan,
ceramah agama, drama dan pertunjukkan seni serta usaha pembangunan seperti: madrasah,
poliklinik, rumah sakit, rumah jompo dsb.
       c. Aliran kepercayaan (Surat Menag No.B/5943/78). Diantaranya adalah: Tidak
merupakan agama dan tidak mengarah kepada pembentukan agama baru, pembinaannya
tidak termasuk DEPAG, penganut kepercayaan tidak kehilangan agamanya, serta tidak ada
sumpah, perkawinan, kelahiran dan KTP menurut kepercayaan (Tap MPR No.IV/ MPR/78).
       d. Tenagaasing. Diantaranya adalah: tenaga asing harus memiliki izin bekerja ter. tulis
dari Depnaker, diktat bagi tenaga WNI untuk menggantikan WNA, orang asing dapat
melakukan kegiatan keagamaan dengan seizin Menag, Instruksi Menag. "No. 10 tahun 1968,
serta Keputusan Menag. No.23 tahun 1997 dan No.49 tahun 1980.
         e. Buku-buku
             1) Jaksa Agung berwenang melarang buku yang dapat mengganggu ketertiban
                 umum.
             2) Barang siapa menyimpan, memiliki, mengumumkan, menyampaikan,
                 menyebarkan, menempelkan, memperdagang kan dan mencetak kembali
                 barang cetakan yang terlarang di hukum dengan hukuman kurungan setinggi-
                 tingginya 1 tahun.
             3) Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama agar:
                 a) mengawasi dan meneliti peredaran mushaf Al-Qur'an dalam masyarakat dan
                     toko, apakah sudah ada tanda tashih dari lajnah/panitia pentashih apa
                     belum.
                 b) segera melaporkan kepada Balitbang Depag bila terdapat mushaf yang belum
                     ada tanda tashih.
         f. Pembangunan tempat ibadah
             1). Pembangunan tempat ibadah perlu izin Kepala Daerah.
             2). Kepala     Daerah     mengizinkan   pendirian     sarana     ibadah     setelah
                 mempertimbangkan: pendapat Kanwil Depag setempat, planologi, dan kondisi
                 keadaan setempat.
             3). Surat permohonan ditujukan kepada Gubernur, dilampiri: keterangan tertulis
                 dari lurah setempat, jumlah umat yang akan menggunakan dan domisili, surat
                 keterangan status tanah oleh kantor agraria, peta situasi dari Sudin Tata Kota,
                 rencana gambar, dan daftar susunan pengurus/panitia.
             4). Kepala Daerah membimbing dan mengawasi, agar penyebaran agama: tidak
                 menimbulkan perpecahan, tidak disertai intimidasi, bujukan, paksaan dan
                 ancaman, serta tidak melanggar hukum, keamanan dan ketertiban umum.
H. Pokok-Pokok Ajaran Islam Tentang Kerukunan Hidup Beragama
      Kerukunan hidup umat beragama di Indonesia adalah program pemerintah sesuai
dengan GBHN tahun 1999 dan Propenas 2000 tentang sasaran pembangunan bidang agama.
Kerukunan hidup di Indonesia tidak termasuk aqidah atau keimanan menurut ajaran agama
yang dianut oleh warga negara Indonesia, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan
Budha. Setiap umat beragama di beri kesempatan melakukan ibadah sesuai dengan keimanan
dan kepercayaan masing-masing.
   1. Pengertian Kerukunan Menurut Islam
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         142
       Kerukunan dalam Islam diberi istilah "tasamuh " atau toleransi. Sehingga yang di maksud
dengan toleransi ialah kerukunan sosial kemasyarakatan, bukan dalam bidang aqidah Islamiyah
(keimanan), karena aqidah telah digariskan secara jelas dan tegas di dalam Al-Qur'an dan Al-
Hadits. Dalam bidang aqidah atau keimanan seorang muslim hendaknya meyakini bahwa Islam
adalah satu-satunya agama dan keyakinan yang dianutnya sesuai dengan firman Allah SWT.
dalam Surat Al-Kafirun (109) ayat 1 -6 sebagai berikut Artinya: "Katakanlah, "Hai orang-orang
kafir!". Aku tidak menyembah apayang kamu sembah. Dan tiada (pula) kamu menyembah
Tuhanyang aku sembah. Dan aku bukanpenyembah apayang biasa kamu sembah. Dan kamu
bukanlahpenyembah Tuhanyang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku". Sikap
sinkritisme dalam agama yang menganggap bahwa semua agama adalah benar tidak sesuai
dan tidak relevan dengan keimanan seseorang muslim dan tidak relevan dengan pemikiran
yang logis, meskipun dalam pergaulan sosial dan kemasyarakatan Islam sangat menekankan
prinsip toleransi atau kerukunan antar umat beragama. Apabila teijadi perbedaan pendapat
antara anggota masyarakat (muslim) tidak perlu menimbulkan perpecahan umat, tetapi
hendaklah kembali kepada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW.,
kerukunan sosial kemasyarakatan telah ditampakkan pada masyarakat Madinah. Pada saat itu
rasul dan kaum muslim hidup berdampingan dengan masyarakat Madinah yang berbeda
agama (Yahudi dan Nasrani). Konflik yang terjadi kemudian disebabkan adanya penghianatan
dari orang bukan Islam (Yahudi) yang melakukan persekongkolan untuk menghancurkan umat
Islam.
    2. Pandangan Islam Terhadap Pemeluk Agama lain
         a. Darul Harbi (daerah yang wajib diperangi)
       Islam merupakan agama rahmatan lil-'alamin yang memberikan makna bahwa perilaku
Islam (penganut dan pemerintah Islam) terhadap non muslim, dituntut untuk kasih sayang
dengan memberikan hak dan kewajibannya yang sama seperti halnya penganut muslim sendiri
dan tidak saling mengganggu dalam masalah kepercayaan. Islam membagi daerah (wilayah)
berdasarkan agamanya atas Darul Muslim dan Darul Harbi. Darul Muslim adalah suatu wilayah
yang didiami oleh masyarakat muslim dan diberlakukan hukum Islam. Darul Harbi adalah suatu
wilayah yang penduduknya memusuhi Islam. Penduduk Darul Harbi selalu mengganggu
penduduk Darul Muslim, menghalangi dakwah Islam, melakukan penyerangan terhadap Darul
Muslim. Terhadap penduduk Darul Harbi yang demikian bagi umat Islam berkewajiban
melakukan jihad (berperang) melawannya, seperti difirmankan dalam Al-Qur'an Surat Al-
Mumtahanah (60) ayat 9 yang artinya: "Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu
menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan
mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang
siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim ".
       Di dalam sejarah dinyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. sebagai pendiri negara Islam
Madinah dalam memahami apakah negeri itu termasuk Darul Islam, Darul Harbi atau Daruz
Zimmy. Nabi SAW. berkirim surat kepada:
         1) Hercules Maharaja Rumawy, yang diantar oleh perutusan di bawah pimpinan
            Dakhiyah bin Khalifah Al-Kalby Al-Khazrajy.
         2) Kaisar Persia, yang dibawa perutusan di bawah pimpinan Abdullah bin Huzaifah as-
            Sahmy.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       143
        3) Negus, Maharaja Habsyah, yang diantar oleh perutusan di bawah pimpinan Umar
            bin Umaiyah Al-Diamary.
        4) Muqauqis, Gubernur Jenderal Rumawy untuk Mesir, yang dibawa oleh perutusan di
            bawah pimpinan Khatib bin Abi Balta'ah Al-Lakny.
        5) Hamzah bin Ali Al-Hanafy, Amir Negeri Yamamah, yang diantar perutusan di bawah
            pimpinan Sulaith bin Amr Al-Amiry.
        6) Al-Haris bin Abi Syuruz, Amir Ghasan, dibawa oleh Syuja bin Wahab
        7) Al-Munzir bin Saury, Amir Al-Bakhrain, yang dibawa oleh perutusan di bawah
            pimpinan Al- Ala bin Al-Khadlany.
        8) Dua putera Al-Jalandy, Jifar dan Ibad, yang dibawa oleh Amr bin Ash. Sekalipun
            surat-surat Nabi SAW. ini tidak di terima dengan baik, namun dengan surat Nabi
            SAW. dapat diketahui mana Daruz Zimmy (yaitu daerah kekuasaan yang penguasa
            dan masyarakatnya tidak beragama Islam, namun tidak membenci, menghalangi
            dan menyerang Islam). Daruz Zimmy tidak boleh diperangi dan Islam mengharuskan
            untuk menghormatinya. Sebaliknya Darul Harbi, yaitu suatu wilayah kekuasaan
            yang mereka menyerang Islam, menghalangi dakwah Islam dan membenci serta
            menyerang Darul Muslim, maka penguasa yang demikian mesti diserang dan
            diperangi dengan jihad oleh penguasa Darul Muslim.
        b. Kufur Zimmy
       Dalam suatu perintah Islam, tidaklah akan memaksa masyarakat untuk memeluk Islam
dan Islam hanya disampaikan melalui dakwah (seruan) yang merupakan kewajiban bagi setiap
muslim berdasarkan pemikiran wahyu yang menyatakan bahwa: "Tidakadapaksaan untuk
memasuki agama Islam ". Kufur Zimmy ialah individu atau kelompok masyarakat bukan Islam,
akan tetapi mereka tidak membenci Islam, tidak membuat kekacauan atau kerusakan, tidak
menghalangi dakwah Islam. Mereka ini dinamakan kufur zimmy yang harus dihormati oleh
pemerintah Islam dan diperlakukan adil seperti umat Islam dalam pemerintahan serta berhak
diangkat sebagai tentara dalam melindungi daerah Darul Muslim dan yang demikian adalah
meneladani pemerintahan Islam "Negara Madinah". Adapun agama keyakinan individu atau
kelompok kufur zimmy adalah diserahkan mereka sendiri dan umat Islam tidak diperbolehkan
mengganggu keyakinan mereka. Adapun pemikiran Al-Qur'an dalam masalah kufur zimmy,
seperti dalam Al-Qur'an Surat Al-Mumtahanah (60) ayat 8, yang artinya: "Allah tiada melarang
kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu
karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil".
        c. Kufur Musta'man
       Kufur Musta'man ialah pemeluk agama lain yang meminta perlindungan keselamatan
dan keamanan terhadap diri dan hartanya. Kepada mereka Pemerintah Islam tidak
memberlakukan hak dan hukum negara. Diri dan harta kaum musta'man harus dilindungi dari
segala kerusakan dan kebinasaan serta bahaya lainnya, selama mereka berada di bawah
lindungan perintah Islam.
        d. Kufur Mu'ahadah
       Kufur Mu'ahadah ialah negara bukan negara Islam yang membuat perjanjian damai
dengan pemerintah Islam, baik disertai dengan perjanjian tolong-menolong dan bela-membela
atau tidak.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     144
    3. Kerukunan Intern Umat Islam
       Kerukunan intern umat Islam di Indonesia harus berdasarkan atas semangat ukhuwah
Islamiyyah (persaudaraan sesama muslim) yang tinggal di Negara Republik Indonesia, sesuai
dengan firman-Nya dalam Surat Al-Hujurat (49) ayat 10. Kesatuan dan persatuan intern umat
Islam diikat oleh kesamaan aqidah (keimanan), akhlak dan sikap beragamanya didasarkan atas
Al-Qur'an dan Al-Hadits. Adanya perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah rahmat
asalkan perbedaan pendapat itu tidak membawa kepada perpecahan dan permusuhan
(perang). Adalah suatu yang wajar perbedaan pendapat disebabkan oleh masalah politik,
seperti peristiwa terjadinya golongan Ahlu Sunnah dan golongan Syi'ah setelah terpilihnya
Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga munculnya partai-partai Islam yang semuanya menjadikan
Islam sebagai asas politiknya.
    4. Kerukunan Antar Umat Beragama Menurut Islam
       Kerukunan umat Islam dengan penganut agama lainnya di Indonesia didasarkan atas
falsafah Pancasila dan UUD1945. Hal-hal yang terlarang adanya toleransi adalah adanya dalam
masalah aqidah dan ibadah, seperti pelaksanaan sosial, puasa dan haj i, tidak dibenarkan
adanya toleransi, sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Al-Kafirun (109) ayat 6, yang artinya :
"Bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku".
I. Kerukunan Beragama Di Indonesia
       Kondisi keberagamaan rakyat Indonesia sejak pasca krisis tahun 1997 sangat
memprihatinkan. Konflik bernuansa agama terjadi di beberapa daerah seperti Ambon dan
Poso. Konflik tersebut sangat mungkin terjadi karena kondisi rakyat Indonesia yang multi etnis,
multi agama dan multi budaya. Belum lagi kondisi masyarakat Indonesia yang mudah
terprovokasi oleh pihak ketiga yang merusak watak bangsa Indonesia yang suka damai dan
rukun. Sementara itu krisis ekonomi dan politik terus melanda bangsa Indonesia, sehingga
sebagian rakyat Indonesia sudah sangat tertekan baik dari segi ekonomi, politik maupun
beragama. Terakhir peristiwa dihancurkannya gedung World Trade Centre pada tanggal 11
September 2001 dan bom Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang menewaskan 180 orang,
yang berdampak diidentikkannya umat Islam dengan teroris dan dituduhnya Indonesia sebagai
sarang teroris.
       Dalam menghadapi konflik seperti di atas dan sesuai prinsip-prinsip kerukunan hidup
beragama di Indonesia, kebijakan umum yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut:
     1. Kebebasan beragama tidak membenarkan menjadikan orang lain yang telah menganut
        agama tertentu menjadi sasaran propaganda agama yang lain.
     2. Menggunakan bujukan berupa memberi uang, pakaian, makanan dan lainnya supaya
        orang lain pindah agama adalah tidak dibenarkan.
     3. Penyebaran pamflet, maj alah, buletin dan buku-buku dari rumah ke rumah umat
        beragama lain adalah terlarang.
     4. Pendirian rumah ibadah harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan umat dan
        dihindarkan timbulnya keresahan penganut agama lain kerena mendirikan rumah
        ibadah di daerah pemukiman yang tidak ada penganut agama tersebut.
     5. Dalam masalah perkawinan, terlarang perkawinan antara umat Islam dengan penganut
        agama lain, seperti diatur dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974.
        Demikian pula dalam Al-Qur'an pada Surat Al-Maidah (5) ayat 5 dan Al-Baqarah (2)
        ayat 221.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        145
      Sasaran pembangunan bidang agama adalah terciptanya suasana kehidupan beragama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang penuh keimanan dan ketaqwaan,
kerukunan yang dinamis antar dan antara umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa secara bersama-sama makin memperkuat landasan spiritual, moral dan etika
bagi pembangunan nasional. Sebagai warga negara Indonesia, umat Islam Indonesia harus
berpartisipasi secara langsung dalam pembangunan negara Indonesia, bersama pemeluk
agama lain. Islam tidak membenarkan umat Islam bersikap eksklusif dalam tugas dan
kewajiban bersama sebagai anggota warga negara Indonesia.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                               146
                                   BAGIAN XVII
                   DAPATKAH AGAMA MENUNJANG PERSATUAN BANGSA

       Agama kelihatan telah menjadi faktor pemecah-belah. Selama setahun terakhir ini, telah
terjadi banyak kasus kebringasan massal dalam masyarakat yang sering kelihatan terkaitkan
dengan sentimen keagamaan.
Sebab itu, berbicara tentang peranan agama dalam pembinaan persatuan bangsa kedengaran
ironis.Tetapi kerukunan dan kerjasama antar berbagai kelompok agama merupakan
keharusan, kalau dengan membentuk Indonesia merdeka sebagai negara-bangsa, kita semua
bertekad untuk terus hidup bersama dalam suatu masyarakat plural yang dinamis, demokratis,
dan damai.
       Secara konseptual, masalah kebangsaan Indonesia sebenarnya sudah selesai. Tetapi
sebagai suatu cita-cita, persatuan bangsa, dan dengan demikian penghayatan wawasan
kebangsaan, harus diperjuangkan terus-menerus, dan tidak dapat taken for granted.
Kini rasanya kita mengalami kemunduran dalam pemeliharaan persatuan bangsa, terutama
dalam pengertian ras dan keagamaan, kalaupun dalam arti etnis dan budaya kita sudah banyak
mencapai kemajuan. Yang seringkali dilupakan orang kelihatannya adalah bahwa kebangsaan
Indonesia merupakan konsep politik, tidak didasarkan atas ikatan etnis, rasial, keagamaan,
kultural, bahasa, atau ikatan-ikatan sektarian atau “primordial” lainnya. Bangsa Indonesia
dibentuk oleh kehendak “bangsa-bangsa” dalam arti sempit (Jawa, Sunda, Minangkabau, dsb.)
untuk hidup bersama dan senasib-sepenanggungan dalam suatu bangsa baru, yaitu bangsa
Indonesia, sehingga Indonesia merdeka yang hendak didirikan akan merupakan negara-
bangsa, dalam wilayah tanah air Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
yang merupakan konsensus atau kompromi antara bahasa berbagai “bangsa” dalam
pengertian sempit tadi. Itulah yang dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober
1928.
Pemikiran dan aspirasi politik itulah yang merupakan faktor pemersatu utama bangsa
Indonesia. Kemudian, dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi negara, sebenarnya
berbagai agama yang hidup dalam masyarakat Indonesia dipersatukan oleh sila Ketuhanan
YME.
Implikasi konsep kebangsaan itu ialah bahwa tiada kelompok dalam Indonesia merdeka, besar
atau kecil, apa pun dasar atau ikatannya, mempunyai kedudukan istimewa atau menikmati
hak-hak istimewa. Semua orang dan semua kelompok mempunyai hak, kesempatan dan
kewajiban atau komitmen yang sama sebagai warga negara dan berkedudukan sama (equal) di
depan hukum
Apirasi politik sebagai pemersatu bangsa itu terasa kuat selama perjuangan kemerdekaan,
ketika kita masih menghadapi kolonialisme Belanda sebagai musuh bersama. Tetapi daya
pengikat politik itu melemah setelah kita tidak lagi menghadapi musuh bersama itu dalam
bentuk kolinialisme dan memasuki tahap konsolidasi serta mengisi kemerdekaan.
Apakah musuh bersama yang akan selalu dapat mempersatukan bangsa? Musuh bersama itu
terutama adalah ketidakadilan. Kita tidak dapat memelihara persatuan dan integrasi bangsa
tanpa mengusahakan pemerataan atau mewujudkan keadilan. Tiada orang atau kelompok
bersedia diajak bersatu atau berintegrasi jika dalam persatuan itu dia atau mereka merasa
diperlakukan secara tidak adil, atau menderita sesuatu bentuk ketidakadilan seperti
diskriminasi, apa pun dasarnya, yang menyangkut kepentingannya.
Sebab itu inti masalahnya adalah, bagaimana berbagai golongan agama di Indonesia dapat
bekerjasama dalam perjuangan menegakkan keadilan, di samping menanggulangi masalah-
masalah bersama lainnya, seperti kemiskinan, keterbelakangan dan lingkungan hidup, yang
melampaui batas-batas keagamaan, etnis, rasial, bahasa ataupun budaya.
Keadilan merupakan prinsip, norma, atau sikap, yang menuntut persamaan. Dalam pengertian
ini keadilan sama dengan asas demokrasi sebagai suatu cita-cita. Sebab itu demokrasi dan

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      147
keadilan saling berkaitan, bahkan merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Demokrasi
menuntut persamaan dan keadilan, sedang keadilan dalam masyarakat atau keadilan sosial
hanya dapat diwujudkan secara lebih baik dalam sistem demokrasi.
Tuntutan atas persamaan itu ialah agar hak setiap orang dihormati dan semua manusia
diperlakukan secara sama, karena semua manusia diciptakan sama di hadapan Tuhan. Ini
berlaku pada kepentingan manusia dalam semua hidang kehidupan.
Seperti telah disinggung dalam tulisan terdahulu, keadilan merupakan asas atau tuntutan yang
abstrak. Karena itu, secara konkrit, usaha menegakkan keadilan ditempuh terutama dengan
mendobrak segala bentuk ketidakadilan, terutama dalam bidang sosial-ekonomi, yang lebih
nyata kelihatan. Dengan begitu kita berjuang menegakkan keadilan sosial, wujud keadilan
dalam masyarakat.
Agama dapat membantu persatuan bangsa, (1) jika umat berbagai agama mempunyai
komitmen bersama pada persatuan bangsa dengan pemahaman yang sama (common) tentang
konsep dan wawasan kebangsaan Indonesia dengan segala implikasinya; (2) jika umat berbagai
agama mempunyai komitment bersama pada cita-cita keadilan dan kesejahteraan. Kita
bersama-sama berjuang menegakkan keadilan dan menciptakan kesejahteraan umum sebagai
perwujudan cinta kasih dan pengabdian kepada sesama. Pada gilirannya, hal itu merupakan
penjabaran iman, cinta kasih, dan pengabdian kepada Tuhan, sekalipun melalui agama yang
berbeda-beda.
Akhirnya, (3) jika umat berbagai agama dapat mengembangkan pemahaman bersama tentang
kedudukan agama dalam negara Pancasila. Ini meliputi pengertian tentang UUD 1945,
terutama ideologi Pancasila, sebagai sumber hukum, dan tentang kebebasan beragama serta
implementasinya secara konsisten.
Mengembangkan kebersamaan dalam pengertian-pengertian itu dengan segala implikasinya
yang luas merupakan masalah yang kompleks. Hal itu akan memerlukan proses dialog terus-
menerus, dengan kejujuran, keterbukaan, ketekunan, kesabaran dan kehendak baik semua
golongan agama.
Ideologi Pancasila
Suatu ideologi pada suatu bangsa pada hakikatnya memiliki ciri khas serta karakteristik
masing-masing sesuai dengan sifat dan ciri khas bangsa itu sendiri. Ideologi Pancasila
mendasarkan pada hakikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Negara Pancasila
Manusia dalam merealisasikan dan meningkatkan harkat dan martabat tidaklah mungkin
untuk dipenuhinya sendiri, oleh karena itu manusia sebagai makhluk social senantiasa
membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Dalam pengertian inilah manusia membentuk suatu
persekutuan hidup yang disebut negara.
Nilai-nilai tersebut adalah berupa nilai-nilai adat-istiadat kebudayaan, serta nilai religius yang
kemudian dikristalisasikan menjadi suatu sistem nilai yang disebut Pancasila. Pancasila, yaitu
suatu negara Persatuan, suatu negara Kebangsaan serta suatu negara yang bersifat
Integralistik. Hakikat serta penertian sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Paham Negara Persatuan
Bangsa dan negara Indonesia adalah terdiri atas berbagai macam unsur yang membentuknya
yaitu suku bangsa, kepulauan, kebudayaan, golongan serta agama yang secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan. Hakikat negara persatuan dalam pengertian ini adalah negara yang
merupakan suatu kesatuan dari unsur-unsur yang membentuknya, yaitu rakyat yang terdiri
atas berbagai macam etnis suku bangsa, golongan, kebudayaan serta agama. Negara
persatuan adalah merupakan satu negara, satu rakyat, satu wilayah dan tidak terbagi-bagi
misalnya seperti negara serikat, satu pemerintahan, satu tertib hukum yaitu tertib hukum
nasionak, satu bahasa serta satu bangsa yaitu Indonesia. Pengertian ‘Persatuan Indonesia’
lebih lanjut dijelaskan secara resmi dalam Pembukaan UUD 1945 yang termuat dalam berita

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           148
republik Indonesia Tahun II No 7, bahwa bangsa Indonesia mendirikan negara Indonesia.
‘Negara persatuan’ yaitu negara yang mengatasi segala paham golongan dan paham
perseorangan.
Bhineka Tunggal Ika
Hakikat makna Bhineka Tunggal Ika yang memberikan suatu pengertian bahwa meskipun
bangsa dan negara Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa yang memiliki adat
istiadat, kebudayaan serta karakter yang berbeda-beda, memilki agama yang berbeda-beda
dan terdiri atas beribu-ribu kepulauan wilayah nusantara Indonesia, namun keseluruhannya
adalah merupakan suatu persatuan yaitu persatuan bangsa dan negara Indonesia.
2. Paham Negara Kebangsaan
Bangsa Indonesia sebagai bagian dari umat manusia di dunia adalah sebagai makhluk Tuhan
yang Maha Esa yang memiliki sifat kodrat sebagai mahkluk individu yang memiliki kebebasan
dan juga sebagai mahkluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain.
Menurut Muhammad Yamin, bangsa Indonesia dalam merintis terbentuknya suatu bangsa
dalam panggung politik internasional, yaitu suatu bangsa yang modern yang memiliki
kemerdekaan dan kebebasan, berlangsung melalui tiga fase. Fase pertama, yaitu zaman
kebangsaan Sriwijaya, kedua zaman kerajaan majapahit. Kedu zaman negara kebangsaan
tersebut adalah merupakan kebangsaan lama, dan ketiga pada gilirannya masyarakat
Indonesia membentuk suatu nationale Staat, atau suatu Etat Nationale, yaitu suatu negara
kebangsaan Indonesia modern menurut susunan kekeluargaan berdasar atas Ketuhanan yang
Maha Esa serta Kemanusiaan (sekarang negara proklamasi 17 Agustus 1945).
    a. Hakikat Bangsa
Hakikatnya adalah merupakan suatu penjelmaan dari sifat kodrat manusia tersebut dalam
merealisasikan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Manusia membentuk suatu bangsa karena untuk memenuhi hak kodratnya yaitu sebagai
individu dan mahkluk sosial, oleh karena itu deklarasi bangsa Indonesia tidak mendasarkan
pada deklarasi kemerdekaan individu sebagaimana negara liberal.
    b. Teori Kebangsaan
Dalam tumbuh berkembangnya suatu bangsa atau juga disebut sebagai ‘nation’ terdapat
berbagai macam teori besar yang merupakan bahan komparasi bagi para pendiri negara
Indonesia untuk mewujudkan suatu bangsa yang memiliki sifat dan karakter tersendiri. Teori-
teori kebangsaan tersebut adalah sebagai berikut :
    1) Teori Hans Kohn
Hans Kohn sebagai seorang ahli astrologi etnis mengemukakan teorinya tentang bangsa yaitu
terbentuk karena persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan
kewarganegaraan.
    2) Teori Kebangsaan Ernest Renan
Hakikat bangsa atau ‘nation’ ditinjau secara ilmiah oleh seorang ahli dari Academmie Francaise
Prancis pada tahun 1982. menurut Renan pokok-pokok pikiran tentang bangsa adalah sebagai
berikut :
 Bahwa bangsa adalah suatu jiwa, suatu asas kerokhanian
 Bahwa bangsa adalah suatu solidaritas yang besar
 Bangsa adalah suatu hasil sejarah. Oleh karena sejarah berkembang terus maka kemudian
   menurut Renan bahwa :
 Bangsa adalah bukan sesuatu yang abadi
 Wilayah dan ras bukanlah suatu penyebab timbulnya bangsa. Wilayah memberikan ruang di
   mana bangsa hidup, sedangkan manusia membentuk jiwanya. Dalam kaitan inilah maka
   Renan kemudian tiba pada suatu kesimpulan bahwa bangsa adalah suatu jiwa, suatu asas
   kerokhanian.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       149
Lebih lanjut Ernest Renan menegaskan bahwa faktor-faktor yang membentuk jiwa bangsa
adalah sebagai berikut :
 Kejayaan dan kemuliaan di masa lampau
 Suatu keinginan hidup bersama baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang
 Penderitaan-penderitaan bersama sehingga kesemuanya itu merupakan
 ‘Le capital social’ (suatu modal sosial) bagi pembentukan dan pembinaan paham
   kebangsaan. Akan tetapi yang terlebih penting lagi adalah bukan apa yang berakar di masa
   silam melainkan apa yang harus diperkembangkan di masa yang akan datang. Hal ini
   memerlukan suatu :
 Persetujuan bersama pada waktu sekarang, yaitu suatu musyawarah untuk mencapai suatu
   kesepakatan bersama di saat sekarang yang mengandung hasrat
 Keinginan untuk hidup bersama, dengan kesediaan untuk :
 Berani memberikan suatu pengorbanan. Oleh karena itu bila mana sautu bangsa ingin
   hidup terus kesediaan untuk berkorban ini harus terus dikembangkan. Dalam pengertian
   inilah maka Renan sebagai :
 Pemungutan suara setiap hari, yang menjadi syarat mutlak bagi hidupnya suatu bangsa
   serta pembinaan bangsa (Ismaun, 1981 : 38, 39)
   3) Teori Gepolitik oleh Frederich Ratzel
Teori ini menyatakan bahwa negara adalah merupakan suatu organisme yang hidup. Dalam
bahasa jerman disebut ‘Lebensraum’. Negara-negara besar menurut ratzel memiliki semangat
ekspansi, militerisme serta optimisme, teori Ratzel ini bagi negara-negara modern terutama di
Jerman mendapat samputan yang cukup hangat, namun sisi negatifnya menimbulkan
semangat kebangsaan yang chauvinistis (Polak, 1960 : 71).
   4) Negara Kebangsaan Pancasila
Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang, sejak zaman
kerajaan-kerajaan Sriwijaya, Majapahit serta dijajah oleh bangsa asing selama tiga abad.
Pancasila adalah bersifat ‘majemuk tunggal’. Adapaun unsur-unsur yang membentuk
nasionalsime (bangsa) Indonesia adalah sebagai berikut :
 Kesatuan sejarah, bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dari suatu proses sejarah,
   yaitu sejak zaman prasejarah, zaman Sariwijaya, Majapahit kemudian datang penjajah,
   tercetus Sumpah Pemuda 1928 dan akhirnya memproklamasikan sebagai bangsa yang
   merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dalam suatu wilayah negara republik Indonesia.
 Kesatuan nasib, yaitu bangsa Indonesia terbentuk karena memiliki kesamaan nasib yaitu
   penderitaan penjajahan selama tiga setengah abad dan memperjuangkan demi
   kemerdekaan secara bersama dan akhirnya mendapatkan kegembiraan bersama atas
   karunia Tuhan yang Maha Esa tentang kemerdekaan.
 Kesatuan Kebudayaan, walaupun bangsa Indonesia memiliki keragaman kebudayaan,
   namun keseluruhannya itu merupakan satu kebudayaan yaitu kebudayaan nasional
   Indonesia. Jadi kebudayaan nasional Indonesia tumbuh dan berkembang di atas akar-akar
   kebudayaan daerah yang menyusunnya.
 Kesatuan Wilayah, bangsa ini hidup dan mencari penghidupan dalam wilayah Ibu Pertiwi,
   yaitu satu tumpah darah Indonesia.
 Kesatuan Asas Kerokhanian, bangsa ini sebagai satu bangsa memiliki kesamaan cita-cita,
   kesamaan pandangan hidup dan filsafat hidup yang berakar dari pandangan hidup
   masyarakat Indonesia sendiri yaitu pandangan hidup Pancasila (Notonagoro, 1975 106)
3. Paham Negara Integralistik
Pancasila sebagai asas kerokhanian bangsa dan negara Indonesia pada hakikatnya merupakan
suatu       asas       kebersamaan,        assas    kekeluargaan       serta     religius.
Dalam pengertian ini kesatuan integralistik memberikan suatu prinsip bahwa negara adalah
suatu kesatuan integral dari unsur-unsur yang menyusunnya, negara mengatasi semua

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      150
golongan bagian-bagian yang membentuk negara, negara tidak memihak pada suatu golongan
betapapun golongan tersebut sebagai golongan besar.
Berdasarkan pengertian paham integralistik tersebut maka rincian pandangan tersebut adalah
sebagai berikut :
 Negara merupakan suatu susunan masyarakat yang integral
 Semua golongan bagian, bagian dan anggotanya berhubungan erat satu dengan lainnya
 Semua golongan, bagian dari anggotanya merupakan persatuan masyarakat yang organis
 Yang terpenting dalam kehidupan bersama adalah perhimpunan bangsa seluruhnya
 Negara tidak memihak kepada suatu golongan atau perseorangan
 Negara tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat.
 Negara tidak hanya untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan saja
 Negara menjamin kepentingan manusia seluruhnya sebagai suatu kesatuan integral
 Negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai suatu kesatuan yang tidak
   dapat dipisahkan (yamin, 1959).
4.Negara Pancasila Adalah Negara Kebangsaan Yang Berketuhanan Yang Maha Esa
Dasar ontologis negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah hakikat
manusia ‘monopluralis’. Manusia secara filosofis memiliki unsur ‘susunan kodrat’ jasmani
(raga) dan rokhani (jiwa), sifat kodrat sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta
kedudukan kodrat sebagai mahkluk Tuhan yang Maha Esa serta sebagai makhaluk pribadi.
Individu yang hidup dalam suatu bangsa adalah sebagai makhluk Tuhan maka bangsa dan
negara sebagai totalitas yang integral adalah Berketuhanan, demikian pula setiap warganya
juga berketuhanan Yang maha Esa.
Rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945
yaitu bukan merupakan negara sekuler yang memisahkan antara agama dengan negara
demikian juga bukan merupakan negara agama yaitu negara yang mendasarkan atas agama
tertentu.
Kebangsaan beragama dan kebebasan agama adalah merupakan hak asasi manusia yang
paling mutlak, karena langsung bersumber pada martabat manusia yang berkedudukan kodrat
sebagai pribadi dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa.
    a. Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama Pancasila sebagai dasar filsafat negara adalah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Oleh
karena sebagai dasar negara maka sila tersebut merupakan sumber nilai, dan sumber norma
dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, baik yang bersifat material maupun spiritual. Arti
material antrara lain, bentuk negara tujuan negara, tertib hukum, dan sistem negara. Adapun
yang bersifat spiritual antara lain moral agama dan moral penyelenggaraan agama.
Pancasila adalah negara kebangsaan yang berketuhanan yang Maha Esa dalam arti memiliki
kebebasan dalam memeluk agama sesuai dengan keimanan dan ketaqwaan masing-masing,
Pasal 29 ayat 1 dan ayat 2.
    b. Hubungan Negara dengan Agama
Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu persekutuan hidup bersama sebagai
penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Berdasarkan
kodrat manusia tersebut maka terdapat berbagai macam konsep tentang hubungan negara
dengan agama, dan hal ini sangat ditentukan oleh dasar ontologis manusia masing-masing.
    1) Hubungan Negara dengan Agama Menurut Pancasila
    Menurut Pancasila negara adalah berdasar atas ketuhanan Yang maha Esa atas dasar
    kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini termuat dalam Penjelasan Pembukaan UUD
    1945 yaitu Pokok Pikiran keempat. Pancasila adalah bukan negara sekuler yang
    memisahkan negara dengan agama, karena hal ini tercantum dalam pasal 29 ayat 1, bahwa
    negara adalah berdasar ketuhanan Yang Maha Esa.


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      151
   Masing-masing negara kebangsaan yang Berketuhanan yang Maha Esa adalah negara yang
   merupakan penjelmaan dari hakikat kodrat manusia sebagai individu makhluk sosial dan
   manusia adalah sebagai pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Bilamana dirinci maka
   hubungan negara dengan agama menurut negara Pancasila adalah sebagai berikut :
     Negara adalah berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa
     Bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa Indonesia yang berketuhanan Yang Maha Esa.
        Konsekuensinya setiap warga memiliki hak asasi untuk memeluk dan menjalankan
        ibadah sesuai dengan agama masing-masing
     Tidak ada tempat bagi atheisme dan sekulerisme karena hakikatnya manusia
        berkedudukan kodrat sebagai mahkluk Tuhan
     Tidak ada tempat bagi pertentangan agama, golongan agama, antar dan inter pemeluk
        agama serta antar pemeluk agama
     Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketaqwaan itu bukan hasil paksaan
        bagi siapapun juga
     Oleh karena itu harus memberikan toleransi terhadap orang lain dalam menjalankan
        agama dalam Negara
     segala aspek dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara harus sesuai dengan
        nilai–nilai Ketuhanan Yang Maha Esa terutama norma-norma hukum positif maupun
        norma moral baik moral agama negara maupun moral para penyelenggara Negara
     Negara pada hakikatnya adalah merupakan “.........berkat rakhamat Allah yang maha
        Esa. (bandingkan dengan Notonagoro, 1975)
   2) Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Theokrasi
Hubungan negara dengan agama menurut paham theokrasi bahwa antara negara dengan
agama tidak dapat dipisahkan. Dalam praktek kenegaraan terdapat dua macam pengertian
negara theokrasi , yaitu Negara Theokrasi Langsung, dan Negara Theokrasi tidak Langsung.
     Negara Theokrasi Langsung. Dalam system Negara Theokrasi langsung, kekuasaan
        adalah langsung merupakan otoritas Tuhan. Adanya Negara di dunia ini adalah atas
        kehendak Tuhan, dan yang memerintah adalah Tuhan.
     Negara Theokrasi tidak Langsung. Berbeda dengan system Theokrasi yang langsung,
        Negara Theokrasi tidak Langsung bukan Tuhan sendiri yang memerintah dalam
        Negara, melainkan Kepala Negara atau Raja, yang memiliki otoritas atas nama Tuhan.
        Kepala Negara atau raja memerintah Negara atas kehendak Tuhan, sehingga
        kekuasaan dalam negara merupakan suatu karunia dari Tuhan
   3) Hubungan Negara dengan Agama Menurut Sekulerisme
Paham sekulerisme membedakan dan memisahkan antara agama dan negara. Sekulerisme
berpandangan bahwa negara adalah masalah-masalah keduniawian hubunagan manusia
dengan manusia, adapun agama adalah urusan akherat yang menyangkut hubungan manusia
dengan Tuhan. Negara adalah urusan hubungan horizontal antar manusia dalam mencapai
tujuannya. Agama adalah menjadi unsur umat masing-masing agama. Walaupun dalam negara
sekuler membedakan antara agama dan negara, namun lazimnya negara diberikan kebebasan
dalam memeluk agama masing-masing.
5. Negara Pancasila Adalah Negara Kebangsaan Yang Berkemanusiaan Yang Adil Dan
    Beradab
Filsafat Pancasila adalah merupakan suatu penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial serta manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Negara
adalah suatu negara kebangsaan berketuhanan Yang Maha Esa, dan berkemanusiaan yang Adil
dan Beradab. Sifat-sifat dan keadaan negara tersebut adalah meliputi (1) bentuk negara (2)
tujuan negara (3) organisasi negara (4) kekuasaan negara (5) penguasa negara (6) warga
negara, masyarakat, rakyat dan bangsa (lihat Notonagoro, 1975). Negara dalam pengertian ini
menempatkan manusia sebagai dasar ontologis, sehingga manusia adalah sebagai asal mula

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    152
negara dan kekuasaan negara. Manusia adalah merupakan paradigma sentral dalam setiap
aspek penyelenggara negara, terutama dalam pembangunan negara (pembangunan Nasional).
6. Negara Pancasila Adalah Negara Kebangsaan Yang Berkerakyatan
Negara menurut filsafat Pancasila adalah dari oleh dan untuk rakyat. Rakyat adalah merupakan
suatu penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Hak-hak
demokrasi yang (1) disertai tanggung jawab kepada Tuhan Yang maha Esa (2) menjunjung dan
memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta (3) disertai dengan tujuan untuk
mewujudkan suatu keadilan sosial, yaitu kesejahteraan dalam hidup bersama.
Pokok-pokok kerakyatan yang terkandung dalam sila keempat dalam penyelenggaraan negara
dapat dirinci sebagai berikut :
     Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat mempunyai
        kedudukan dan hak yang sama
     Dalam menggunakan hak-haknya selalu memperhatikan dan mempertimbangkan
        kepentingan negara dan masyarakat
     Karena mempunyai kedudukan, hak serta kewajiban yang sama maka pada dasarnya
        tidak dibenarkan memaksakan kehendak pada pihak lain
     Sebelum mengambil keputusan, terlebih dahulu diadakan musyawarah
     Keputusan diusahakan ditentukan secara musyawarah
     Musyawarah untuk mencapai mufakat, diliputi oleh suasana dan semangat
        kebersamaan. (Suhadi, 1998).
    6. Negara Pancasila Adalah Negera Berkebangsaan Yang Berkeadilan Sosial
Negara Pancasila adalah negara kebangsaan yang berkeadilan sosial, yang bearti bahwa negara
sebagai penjelmaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sifat kodrat individu dan
makhluk sosial bertujuan untuk mewujudkan suatu keadilan dalam hidup bersama (Keadilan
Sosial). Manusia pada hakikatnya adalah adil dan beradab yang bearti manusia harus adil
terhadap diri srndiri, adil terhadap Tuhannya, adil terhadap orang lain dan masyarakat serta
adil terhadap lingkungan alamnya. Hukum harus terpenuhi adanya tiga syarat pokok yaitu (1)
pengakuan dan perlindungan atas hak-hak asasi manusia, (2) peradilan yang bebas, (3)
legalitas dalam arti hukum dalam segala bentuknya, yang tercantum dalam Undang-Undang
Dasar 1945 pasal 27 ayat 1 dan 2, Pasal 28, Pasal 29 ayat 2, Pasal 31 ayat 1. Realisasinya
Pembangunan Nasional adalah merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan negara,
sehingga Pembangunan Nasional harus senantiasa meletakkan asas keadilan sebagai dasar
operasional serta dalam penentuan berbagai macam kebijaksanaan dalam pemerintahan
negara.
    1) Ideologi Liberal
Akar-akar rasionalisme yaitu paham yang meletakkan rasio sebagai sumber kebenaran
tertinggi, materialisme yang meletakkan materi sebagai nilai tertinggi, empirisme yang
mendasarkan atas kebenaran fakta empiris (yang dapat ditangkap dengan indra manusia).
Istilah Hobbes disebut “homo homini lupus” sehingga manusia harus membuat suatu
perlindungan bersama. Atas dasar kepentingan bersama.
    2) Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Liberalisme
Negara adalah merupakan alat atau sarana individu, sehingga masalah agama dalam negara
sangat ditentukan oleh kebebasan individu.
    3) Ideologi Sosialisme Komunis
Bebagai macam konsep dan paham sosialisme sebenarnya hanya paham komunismelah
sebagai paham yang paling jelas dan lengkap. Paham ini adalah sebagai bentuk reaksi atas
dasar perkembangan masyarakat kapitalis sebagai hasil dari ideologi liberal. Manusia pada
hakikatnya adalah merupakan sekumpulan relasi, sehingga yang mutlak adalah komunitas dan
bukannya idividualitas. Etika ideologi komunisme adalah mendasarkan suatu kebaikan hanya
pada kepentingan demi keuntungan kelas masyarakat secara totalitas.
Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     153
8.Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Komunisme
Pada komunisme dalam memandang hakikat hubungan negara dengan agama mendasarkan
pada pandangan filosofis materialisme dialektis dan materialisme historis. Hakikat kenyataan
tertinggi menurut paham komunisme adalah materi. Fenomena-fenomena dasar yaitu dengan
suatu keiatan-kegiatan yang paling material yaitu fenomena-fenomena ekonomis. Agama
menurut komunisme adalah realisasi fanatis makhluk manusia, agama adalah keluhan makhluk
tertindas. Oleh karena itu menurut komunisme Marxis, agama adalah merupakan candu
masyarakat (Marx, dalam Louis leahy, 1992 97,98). Negara yang berpaham komunisme adalah
bersifat atheis bahkan bersifat antitheis, melarang dan menekan kehidupan agama.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     154
                                      ARTIKEL PERTAMA
                       KERUKUNAN HIDUP ANTAR UMAT BERAGAMA
1. Pendahuluan
       Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta
berkat adanya toleransi agama. Toleransi agama adalah suatu sikap saling pengertian dan
menghargai tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun, khususnya dalam masalah agama.
Lalu, adakah pentingnya kerukunan umat beragama di Indonesia ? Jawabannya adalah iya.
Kerukunan umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah
kesejahteraan hidup di negeri ini. Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki keragaman
yang begitu banyak. Tak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni, tapi juga termasuk
agama.Walau mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, ada beberapa agama lain
yang juga dianut penduduk ini. Kristen, Khatilik, Hindu, dan Budha adalah contoh agama yang
juga banyak dipeluk oleh warga Indonesia. Setiap agama tentu punya aturan masing-masing
dalam beribadah. Namun perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai satu
saudara dalam tanah air yang sama, kita harus menjaga kerukunan umat beragama di
Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.
2. Pembahasan
        Tri kerukunan umat beragama merupakan konsep yang digulirkan oleh pemerintah
Indonesia dalam upaya menciptakan kehidupan masyarakat antar umat beragama yang rukun.
Istilah lainnya adalah “trikerukunan”.
        Kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri atas puluhan etnis , budaya, suku, dan
agama. Membutuhkan konsep yang memungkinkan terciptanya masyarakat yang damai dan
rukun. Dipungkiri atau tidak, perbedaan sangat beresiko pada kecenderungan konflik.
Terutama dipacu oleh pihak-pihak yang menginginkan kekacauan di masyarakat.
Perbedaan atau kebhinekaan Nusantara tidaklah diciptakan dalam satu waktu saja. Proses
perjalanan manusia di muka bumi Indonesia dengan wilayah yang luas menciptakan
keberagaman suku dan etnis manusia. Maka lahir pula sekian puluh kepercayaan dan agama
yang berkembang di setiap suku -suku di Indonesia.
    a. Kebijakan Pemerintah
       Pemerintah sendiri telah menyadari resistensi konflik antar umat beragama. Berbagai
kebijakan pemerintah telah diterbitkan untuk memperbaiki keadaan. Berbagai rambu
peraturan telah disahkan agar meminimalisir bentrokan-bentrokan kepentingan antar umat
beragama.
       Seluruh peraturan pemerintah yang membahas tentang kerukunan hidup antar umat
beragama di Indonesia. Mencakup pada empat pokok masalah, yakni sebagai berikut.
1. Pendirian Rumah Ibadah .
2. Penyiaran Agama.
3. Bantuan Keagamaan dari Luar Negeri.
4. Tenaga Asing Bidang Keagamaan.
   b. Konsep Tri Kerukunan
      Tri kerukunan umat beragama bertujuan agar masyarakat Indonesia bisa hidup dalam
kebersamaan, sekali pun banyak perbedaan. Konsep ini dirumuskan dengan teliti dan bijak

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                    155
agar tidak terjadi pengekangan atau pengurangan hak-hak manusia dalam menjalankan
kewajiban dari ajaran-ajaran agama yang diyakininya.Trikerukunan ini meliputi tiga kerukunan,
yaitu: Kerukunan intern umat beragama, Kerukunan antar umat beragama, dan Kerukunan
antara umat beragama dan pemerintah.
Pertama: Kerukunan intern umat beragama
       Perbedaan pandangan dalam satu agama bisa melahirkan konflik di dalam tubuh suatu
agama itu sendiri. Perbedaan madzhab adalah salah satu perbedaan yang nampak dan nyata.
Kemudian lahir pula perbedaan ormas keagamaan. Walaupun satu aqidah, yakni aqidah Islam,
perbedaan sumber penafsiran, penghayatan, kajian, pendekatan terhadap Al-Quran dan As-
Sunnah terbukti mampu mendisharmoniskan intern umat beragama.Konsep ukhuwwah
islamiyah merupakan salah satu sarana agar tidak terjadi ketegangan intern umat Islam yang
menyebabkan peristiwa konflik . Konsep pertama ini mengupayakan berbagai cara agar tidak
saling klain kebenaran. Menghindari permusuhan karena perbedaan madzhab dalam Islam.
Semuanya untuk menciptakan kehidupan beragama yang tenteram, rukun, dan penuh
kebersamaan.
Kedua: Kerukunan antar umat beragama
       Konsep kedua dari trikerukunan memiliki pengertian kehidupan beragama yang tentram
antar masyarakat yang berbeda agama dan keyakinan. Tidak terjadi sikap saling curiga
mencurigai dan selalu menghormati agama masing-masing.Berbagai kebijakan dilakukan oleh
pemerintah, agar tidak terjadi saling mengganggu umat beragama lainnya. Semaksimal
mungkin menghindari kecenderungan konflik karena perbedaan agama. Semua lapisan
masyarakat bersama-sama menciptakan suasana hidup yang rukun dan damai di Negara
Republik Indonesia.
Ketiga: Kerukunan antara umat beragama dan pemerintah
       Pemerintah ikut andil dalam menciptakan suasana tentram, termasuk kerukunan antara
umat beragama dengan pemerintah sendiri. Semua umat beragama yang diwakili para pemuka
dari tiap-tiap agama dapat sinergis dengan pemerintah. Bekerjasama dan bermitra dengan
pemerintah untuk menciptakan stabilitas persatuan dan kesatuan bangsa.Trikerukunan umat
beragama diharapkan menjadi menjadi salah satu solusi agar terciptanya kehidupan umat
beragama yang damai, penuh kebersamaan, bersikap toleran, saling menghormati dan
menghargai dalam perbedaan.
Macam-Macam Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
     • Kerukunan antar pemeluk agama yang sama, yaitu suatu bentuk kerukunan yang terjalin
        antar masyarakat penganut satu agama. Misalnya, kerukunan sesama orang Islam atau
        kerukunan sesama penganut Kristen.
     • Kerukunan antar umat beragama lain, yaitu suatu bentuk kerukunan yang terjalin antar
        masyarakat yang memeluk agama berbeda-beda. Misalnya, kerukunan antar umat
        Islam dan Kristen, antara pemeluk agama Kristen dan Budha, atau kerukunan yang
        dilakukan oleh semua agama.
Bagaimana Menjaga Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
     • Menjunjung tinggi rasa toleransi antar umat beragama, baik sesama antar pemeluk
        agama yang sama maupun yang berbeda.
        Rasa toleransi bisa berbentuk dalam macam-macam hal. Misal, perijinan
        pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      156
         mengganggu umat lain, atau memberi waktu pada umat lain untuk beribadah bila
         memang sudah waktunya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap
         toleransi. Hal ini sangat penting demi menjaga tali kerukunan umat beragama di
         Indonesia.
     • Selalu siap membantu sesama. Jangan melakukan diskriminasi terhadap suatu agama,
         terutama saat mereka membutuhkan bantuan.
         Misalnya, di suatu daerah di Indonesia mengalami bencana alam. Mayoritas
         penduduknya adalah pemeluk agama Kristen. Bagi Anda yang memeluk agama lain,
         jangan lantas malas untuk membantu saudara sebangsa yang sedang kesusahan hanya
         karena perbedaan agama.
     • Selalu jagalah rasa hormat pada orang lain tanpa memandang agama apa yang mereka
         anut. Misalnya dengan selalu berbicara halus dan tidak sinis. Hal ini tentu akan
         mempererat kerukunan umat beragama di Indonesia.
     • Bila terjadi masalah yang menyangkut agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin
         tanpa harus saling menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan
         pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan
         tidak merugikan pihak manapun, atau mungkin malah menguntungkan semua pihak.
       Sekitar 30 pemuka atau tokoh lintas agama tingkat pusat turut dalam rombongan
Departemen Agama pada acara audiensi dan dialog yang digelar tiga hari di Ternate dan
Halmahera, Maluku Utara. Antara lain Ketua PP Muhammadyah Goodwil Zubir, Ridwan Lubis
dari PBNU, I Nengah Dana (PHDI), Romo Benny Susetyo (KWI), Pendeta Kumala Setiabrata
(PGI), Slamet Effendi Yusuf (MUI), Sudjito Kusumo (WALUBI) serta Herlianti Widagdo
(MATAKIN). Rombongan disambut Wagub Maluku Utara Abdul Ghani Kasuba serta sejumlah
tokoh dan pemuka agama Maluku Utara.
       Diakui Menag, kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia saat ini diwarnai oleh adanya
perbedaan-perbedaan dalam pemelukan agama. ``Kita sudah terbiasa menerimanya dengan
hidup berdampingan secara damai dalam balutan semangat kesatuan bangsa. ``Namun
penerimaan perbedaan saja tanpa pemahaman yang mendalam akan arti dan hakikat yang
sesungguhnya dari perbedaan tersebut ternyata masih sangat rentan terhadap godaan
kepentingan primordialisme dan egosentrisme individu maupun kelompok,`` katanya. Menurut
Menag, gangguan kedamaian itu akan mudah meluas manakala sentimen dan simbol-simbol
keagamaan dipakai sebagai sumbu atau pemicu.
       Pada kesempatan yang sama, Ketua PP Muhammadyah Goodwil Zubir menegaskan
bahwa sepanjang sejarah konflik horizontal yang pernah terjadi di Indonesia, tidak pernah
bermula atau berawal dari agama sebagai pemicunya. ``Misalnya kasus di Poso, Aceh, Sampit
dan di Maluku ini, bukan merupakan konflik agama. Namun konflik kepentingan yang
kemudian dibungkus atau dikemas dengan agama,`` tegas Goodwil.
Menurut Goodwil, salah satu tujuan penyelenggaraan dialog antar tokoh agama pusat dan
daerah ini, antara lain adalah untuk menyerap kearifan-kearifan lokal yang terdapat di Maluku
Utara. ``Ini juga kita lakukan di daerah-daerah lain. Bisa saja kearifan lokal yang ada di Maluku
Utara ini kemudian bisa diterapkan di daerah lain. Demikian juga sebaliknya,`` kata Goodwil.
       Sementara Wagub Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba, mengakui bahwa konflik yang
terjadi di Maluku dan Maluku Utara beberapa tahun silam, di tingkat masyarakat sendiri tidak
mengetahui apa pemicunya. ``Yang jelas sampai hari ini, kita semua berupaya untuk

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                          157
melupakan peristiwa itu. Kita sekarang hidup damai, bersatu dan saling menghargai satu sama
lain,`` tandas Kasuba.(rep/ts)
        Kerukunan umat beragama yang dimiliki saat ini merupakan modal yang sangat
berharga bagi kelangsungan kehidupan masyarakat Indonesia.
        "Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, kerukunan umat beragama di Indonesia
dinilai oleh dunia internasional sebagai yang terbaik," ujar Menteri Agama Muhammad Maftuh
Basyuni dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Depag Abdul Rahman Mas'ud dalam siaran pers yang diterima dari Pusat Informasi Depag di
Jakarta, Kamis (28/5).
        "Bahkan, Indonesia dianggap sebagai laboratorium kerukunan umat beragama. Paling
tidak hal ini terungkap dari pernyataan Menlu Italia Franco Frattini dan pendiri komunitas Sant'
Egidio, Andrea Riccardi, dalam pidato mereka pada pembukaan seminar internasional dengan
tema "Unity in Diversity: The Indonesian Model for a Society in which to Live Together" yang
digelar pada 4 Maret 2009 di Roma," ujarnya.Pujian itu tentu saja tidak boleh membuat semua
pihak terlena. Harus tetap mawas diri karena kerukunan umat beragama adalah sesuatu yang
dinamis yang dapat berubah sesuai dengan perilaku para pendukungnya.
        Terlalu banyak ujian dalam upaya mewujudkan kerukunan umat beragama di Indonesia.
Eksekusi mati terhadap terpidana Tibo cs di Palu, Jum’at pagi telah memicu reaksi keras dari
sekelompok massa di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Reaksi masyarakat NTT tersebut
menunjukkan bahwa tingkat kedewasaan umat beragama di Indonesia masih rendah.
Kenyataan tersebut sekaligus mewartakan paradoks politik transisi Indonesia pasca-Orde Baru.
Betapa tidak, pemerintahan di era reformasi selalu berikhtiar memperbaiki keadaan bangsa
dibandingkan masa sebelumnya. Pemikiran tersebut berangkat dari kenyataan bahwa kondisi
sosial politik negara di masa rezim Soeharto tidak ekuivalen bagi proses demokrasi,
pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Karena itu, gagasan reformasi
diarahkan untuk memperbaiki semua kondisi yang tidak kondusif tadi ke arah yang lebih baik.
Akan tetapi, alih-alih memperbaiki keadaan, perkembangan kondisi pasca-Orde Baru justru
membuat pelbagai perikehidupan sosial rakyat makin buruk, ditandai dengan menurunnya
tingkat daya beli masyarakat, meningkatnya angka pengangguran, maraknya kriminalitas, serta
masih rendahnya tingkat partisipasi pendidikan dibandingkan dengan negara tetangga. Titik
balik reformasi bukanlah isapan jempol. Harapan-harapan atas perubahan akhirnya berbuah
kekecewaan. Di mana-mana muncul frustrasi sosial, eskapisme, pesimisme, atau keputusasaan
menghadapi masa depan kehidupan bangsa yang tidak menentu.
        Kerusuhan bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) menunjukkan masih
rentannya kohesi sosial bangsa. Cita-cita membangun Indonesia yang satu, sebagaimana
diformulasikan oleh pendiri negara (The Founding Father and Mothers) seakan sirna ketika
desing peluru, hujaman meriam, dan sabetan pedang menyimbahkan darah saudara-
saudaranya sendiri. Doktrin perdamaian dan persaudaraan yang dibangun dan dijaga sejak
zaman nenek moyang, seperti tradisi pela gandong di Maluku, akhirnya diruntuhkan dan
diinjak-injak oleh anak cucunya sendiri dengan wajah angkara murka. Emosi dendam pun
mengalahkan rasionalitas perdamaian.
Tragedi Ambon, Halmahera, Poso, Palu, Sampit, Palangkaraya dan beberapa daerah lain tak
cuma mewartakan disharmoni masa kini tetapi juga masa depan bangsa. Kerukunan sosial
seolah menjadi mimpi ketika sesama anak bangsa sulit mewujudkan titik akur. Celakanya,

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                         158
konflik paling laten di di negeri ini selalu berwarna SARA, terutama konflik berlatar belakang
suku dan agama. Masalahnya, konflik antar-suku mungkin bisa diatasi dengan kerangka resep
nasionalisme, akan tetapi konflik antar-agama sulit di-therapy dengan hanya mengandalkan
jargon kebangsaan. Pasalnya, agama selalu dipandang sebagai entitas supra-nasional.
        Padahal, secara teoretis, apa susahnya membangun harmoni sosial, toleransi, dan
konsensus. Indonesia bisa belajar dari banyak negara majemuk lainnya. Amerika Serikat,
sebagai contoh, adalah negara yang mampu membangun harmoni sosial secara matang.
Negeri Paman Sam ini dikenal sebagai bangsa plural. Penduduknya berasal (bermigrasi) dari
berbagai bangsa di lima benua plus penduduk “asli” (Indian). Beragam warna kulit, agama,
bahasa ibu, tradisi, dan kebiasaan lama akhirnya bercampur menjadi satu dalam semangat
Keamerikaan. Walaupun dari dalam terdiri dari banyak entitas, akan tetapi ke luar mereka
tampil sebagai bangsa Amerika. Belajar dari Amerika, barangkali kesulitan Indonesia
membangun harmoni sosial karena belum dewasanya rakyat kita dalam menjalani proses
kehidupan nasional. Bahkan, alih-alih berharap rakyat dewasa berpolitik, lapisan elit sendiri
sulit menjalani proses kehidupan sosial yang harmonis dan toleran. Sesama elit masih sering
bertikai secara kasar. Perilaku elit yang “berkelahi” di parlemen (nasional maupun lokal)
mengindikasikan masih rendahnya kedewasaan elit. Bagaimana mungkin mengharapkan
rakyat dewasa menyikapi perkembangan politik jika elitnya sendiri masih berperilaku kekanak-
kanakan, sebagai pernah disindir mantan Presiden Abdurrahman Wahid terhadap anggota
DPR- RI?
        Kematangan elit dalam berpolitik menentukan kematangan demokrasi yang dijalankan.
Selagi elit sulit menjalankan politik yang beradab, maka adab demokrasi pun sulit tumbuh
dalam masyarakat bangsa. Pasalnya, tingkah laku elit dalam politik akan digugu oleh rakyat.
Mengadopsi sebuah pepatah, jika elit kencing berdiri maka rakyat akan kencing berlari. Itulah
yang terjadi dalam beberapa kasus politik praktis di daerah belakangan ini. Anarkisme yang
dikompori kalangan elit bermetamorfosa menjadi tindakan brutral massa dengan merusak
fasilitas publik dan mencederai adab dasar demokrasi. Kerusuhan bernuansa SARA di beberapa
daerah dalam 8 tahun terakhir pada dasarnya juga menunjukkan rendah dan lemahnya
apreasiasi rakyat dan elit terhadap adab demokrasi. Adab demokrasi jelas menjunjung tinggi
penegakan hukum. Tidak ada demokrasi tanpa penegakan hukum (law enforcement).
Demokrasi tanpa hukum adalah democrazy yang memicu anarkisme. Konflik SARA terjadi
justru karena lemahnya penegakan hukum dan rendahnya apresiasi etika dalam penyelesaian
masalah sosial berbangsa dan bernegara.
        Konflik Poso, sebagai contoh, bisa jadi dipicu oleh masalah kecil antara dua warga yang
kebetulan berbeda agama. Akan tetapi karena secara hukum masalahnya tak pernah diusut
tuntas, maka problemnya menjadi rumit dan liar. Perselisihan kecil antarwarga akhirnya
memicu munculnya konflik lebih besar. Konflik besar bisa terjadi karena publik atau massa
tidak pecaya pada hukum. Ketika Tibo cs dituding menyerang dan membantai penghuni
sebuah pesantren di suatu pagi buta, semestinya tragedi itu tidak terjadi jika saja aparat
kemanan dapat mengantisipasi dengan mengusut para pelaku perselisihan kecil sebelumnya
dimana pihak Kristen atau Muslim menjadi korban. Akhirnya konflik SARA berujung pada siklus
balas dendam yang sulit dihentikan, kecuali penegakan hukum dalam kerangka adab
demokrasi. Pilihan bagi Indonesia tidak lain kecuali menerapkan demokrasi secara konsisten.
Konflik muncul karena demokrasi diterapkan secara parsial. Demokrasi hanya diterapkan saat

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        159
pemilu belaka – itu pun tidak utuh. Padahal demokrasi harus menjadi (meminjam istilah Plato)
virtue atau kebiasaan dan kebaikan masyarakat/umum. Ketika budaya demokrasi sudah
terbangun secara mapan, maka pelbagai kemungkinan konflik/perselisihan bisa dicegah.
Kerapnya muncul konflik di tanah air, baik konflik politik maupun sosial, karena budaya
demokrasi belum mewujud dalam perilaku masyarakat. Kesuksesan Amerika menjaga kohesi
sosial karena negara adikuasa itu mampu mewujudkan demokrasi secara konsisten –
setidaknya dibandingkan banyak negara lain. Kita sulit membayangkan Amerika akan bersatu,
maju dan well-organized seperti sekarang jika negara itu tidak memakaikan adab demokrasi
dalam mengatur masyarakatnya. Sulit mewujudkan kohesi sosial dan kehesi politik di negara
majemuk jika masih dinaungi sistem otoriter. Di sejumlah negara sistem represif mungkin bisa
dilaksanakan, tapi pada dasanya hal itu bersifat sementara. Pada saat lain, potensi konflik di
bawah permukaan bisa muncul dalam bentuknya yang keras seperti terjadi di Indonesia di
awal reformasi.
       Dalam perspektif tersebut, maka kerukunan umat beragama harus dibangun dalam
kerangka kohesi sosial yang utuh dan solid. Kerukunan umat beragama akan menjadi cermin
masa depan bangsa. Pilihannya hanya dua: mau menjadi “cermin retak” atau “cermin bening”.
Pelbagai pertentangan yang muncul harus diatasi dalam kerangka etika demokrasi, bukan
malah dalam kerangka “hukum rimba”, sekalipun mengatasnamakan doktrin keyakinan agama
masing-masing. Demokrasi kebangsaan harus mengatasi (menjadi “penengah”) semua paham
yang ada, termasuk paham keagamaan.
       Memang, dalam sejarah telah lama berkembang doktrin mengenai eksklusivitas agama
sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar, agama lain sesat dan menyesatkan.
Pandangan semacam ini masih sangat kental, bahkan sampai sekarang, seperti termuat dalam
tidak hanya buku-buku polemis, tetapi juga buku ilmiah.
       Rumusan dari Ajith Fernando, teolog kontemporer misalnya masih menarik untuk
diungkapkan di sini. Katanya "Other religions are false paths, that mislead their followers"
(Agama lain adalah jalan sesat, dan menyesatkan pengikutnya). Ungkapan Ajith Fernando ini
memang sangat keras dan langsung tergambar segi keesklusivitasannya. Dan yang menjadikan
kita kaget adalah Kitab Suci ternyata dianggapnya membenarkan hal tersebut.
Pandangan eksklusif seperti itu memang bisa dilegitimasikan--atau tepatnya dicarikan
legitimasinya--lewat Kitab Suci. Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan. Sebagai contoh,
dalam tradisi Katolik, sejak Konsili Vatikan II (1965), sudah jelaslah bahwa pandangan menjadi
sangat terbuka ke arah adanya kebenaran dan keselamatan dalam agama-agama non-Kristiani.
Karl Rahner, teolog besar yang menafsirkan Konsili Vatikan II, merumuskan teologi inklusifnya
yang begitu terbuka, kira-kira dengan mengatakan. "Other religions are implicit forms of our
own religion" (Agama lain adalah bentuk-bentuk implisit dari agama kita). Tulisan Karl Rahner
mengenai ini dibahas dalam bab "Christianity and the Non-Chrisitian Religions" dan
"Observations on the Problem of the 'anonymous Christian'," dalam bukunya Theological
Investigations, vol. 5 dan 14.
       Dalam pemikiran Islam, masalah ini juga terjadi secara ekspresif. Walaupun dalam Islam
sejak awal sudah ada konsep "Ahl al-Kitab" (Ahli Kitab) yang memberi kedudukan kurang lebih
setara pada kelompok non-muslim, dan ini dibenarkan oleh Alquran sendiri, tetapi selalu saja
ada interpretation away--yaitu suatu cara penafsiran yang pada akhirnya menafsirkan sesuatu



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       160
yang tidak sesuai lagi dengan bunyi tekstual Kitab Suci, sehingga ayat yang inklusif misalnya
malah dibaca secara eksklusif.
       Kembali pada teologi eksklusif di atas, begitulah, kita baik kaum Muslim maupun umat
Kristen telah mewarisi begitu mendalam teologi eksklusif yang rumusan inti ajarannya adalah--
seperti ditulis oleh filsuf agama terkemuka Alvin Plantiga--"the tenets of one religions are in
fact true; any propositions that are incompatible with these tenets are false" atau John Hick,
"The exclusivivits think that their description of God is the true description and the others are
mistaken insofar they differ from it."
       Karena pandangan tersebut, maka mereka menganggap bahwa hanya ada satu jalan
keselamatan: yaitu agama mereka sendiri. Pandangan ini jelas mempunyai kecenderungan
fanatik, dogmatis, dan otoriter!!!
Oleh karena itulah diperlukan suatu perspektif baru dalam melihat "Apa yang dipikirkan oleh
suatu agama, mengenai agama lain dibandingkan dengan agama sendiri" Perspektif ini akan
menentukan apakah seorang beragama itu menganut suatu paham keberagamaan yang
eksklusif, inklusif atau pluralis. Apakah ia seorang yang terbuka atau otoriter?
       Menganut suatu teologi eksklusif dalam beragama bukan hal yang sulit. Karena secara
umum, sepanjang sejarah sebenarnya kebanyakan orang beragama secara eksklusif. Kalau
ukurannya adalah Konsili Vatikal II, maka baru sejak 1965 lah secara resmi ada usaha-usaha
global untuk memulai perkembangan teologi ke arah yang inklusif.
       Dan baru belakangan ini saja berkembang teologi yang lebih pluralis--yang lebih
merentangkan inklusivitas ke arah pluralis dengan menekankan lebih luas sisi yang disebut
paralelisme dalam agama-agama--yang digali lewat kajian teologi agama-agama.
       Teologi pluralis melihat agama-agama lain dibanding dengan agama-agama sendiri,
dalam rumusan: Other religions are equally valid ways to the same truth (John Hick); Other
religions speak of different but equally valid truths (John B Cobb Jr); Each religion expresses an
important part of the truth (Raimundo Panikkar); atau setiap agama sebenarnya
mengekspresikan adanya The One in the many (Sayyed Hossein Nasr). Di sini jelas teologi
pluralis menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme itu ada kecenderungan
opresif terhadap agama lain.
       Di antara perkembangan baru mengenai teologi pluralis ini, sekarang berkembang suatu
cabang ilmu yang disebut teologi agama-agama (theology of religions). Kita perlu
memperhatikan perkembangan baru ini, karena dalam teologi ini termuat suatu pijakan
modern dalam membangun kerukunan hidup beragama: Suatu pijakan yang berangkat dari
kesadaran pentingnya memperhatikan pluralitas dari dalam teologi itu sendiri.
       Dewasa ini penerimaan atas pluralisme tidak bisa hanya didasarkan atas kesadaran
bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari segala segi SARA-nya, sebab kalau ini
pijakannya, maka kita sebenarnya berangkat dari kenyataan sosial yang terfragmentasi
(terpecah-pecah)--yang karena itu diperlukan pluralisme sebagai cara untuk menghindari
kefanatikan, jadi fungsinya hanya sebagai a negative good.
       Padahal kebutuhan sekarang bukan hanya karena fakta sosiologis saja, tapi bisakah
paham pluralisme itu dibangun karena begitulah faktanya mengenai Kebenaran Agama, bukan
hanya karena fakta sosialnya! Pluralisme adalah bagian dari--seperti sering dikatakan Prof Dr
Nurcholish Madjid--"pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine
engagement of diversities within the bonds of civility).

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                           161
      Akhirnya dalam spirit kesatuan inilah, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan agama-
agama ini harus dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara potensial bernilai
dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan imannya.
      Kerukunan umat beragama merupakan pilar kerukunan nasional dan dinamis harus
terus dipelihara dari waktu ke waktu. “Kita memang tidak boleh berhenti membicarakan dan
mengupayakan pemeliharaan kerukunan umat beragama di Indonesia,” kata Menteri Agama
saat membuka seminar “Kerukunan umat beragama sebagai pilar kerukunan nasional” di
Jakarta , Rabu (31/12).
      Menag menjelaskan, kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama
umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai
kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
      Kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia saat ini diwarnai oleh adanya perbedaan-
perbedaan dalam pemelukan agama, yang selanjutnya membangun pengelompokan
masyarakat berdasarkan pemelukan agama itu.Kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia
juga ditandai oleh berbagai faktor sosial dan budaya, seperti perbedaan tingkat pendidikan
para pemeluk agama, perbedaan tingkat sosial ekonomi para pemeluk agama, perbedaan latar
belakang budaya, serta perbedaan suku dan daerah asal.Kerukunan umat beragama akan
terbangun dan terpelihara dengan baik apabila gap atau jurang pemisah dalam bidang sosial
dan budaya semakin menyempit.Sebaliknya, kerukunan umat beragama akan rentan dan
terganggu apabila jurang pemisah antar kelompok agama dalam aspek-aspek sosial dan
budaya ini semakin lebar, termasuk jurang-jurang pemisah sosial baru yang akan muncul
akibat krisis moneter global saat ini.
      Sebagai contoh, konflik-konflik yang pernah terjadi bermula dari murni konflik tentang
kesenjangan ekonomi atau politik, kemudian bergeser dengan cepat menjadi konflik antara
pemeluk agama. Oleh karena itu, menurutnya, pemeliharaan kerukunan umat beragama
bukan hanya tanggungjawab para pejabat pemerintah di bidang agama dan pemuka agama,
melainkan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.
3. Timbangan
       Perlu kita ketahui bersama bahwa sekarang kerukunan diantara agama sedikit demi
sedikit mulai terkikis,seiring munculnya paham-paham yang menyimpang dari ajaran
agama.Begitu juga teror-teror bom yang mengatasnamakan agama,padahal mungkin cuma
dendam pribadi suatu golongan terhadap keamanan suatu negara,dan disini politik terkadang
ikut berperan.Bagaimana bisa tercipta suatu keamanan Negara jika warganya sendiri tidak bisa
saling menghargai satu sama lain.Dengan menteror warga dengan mengatasnamakan agama
dan demokrasi.
    a. Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama . Dalam tahun-tahun belakangan ini
semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi ini sangat
penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-
tidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya
untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik--lebih terbuka, adil dan
demokratis.Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama di Indonesia belakangan
ini memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang mewarnai


Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        162
ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah atau disintegrasi,
karena adanya konflik-konflik di tingkat elite dan militer.
   b. Tulisan ini tidak akan membahas latar-belakang ekonomi, sosial, dan politik dari
kehidupan antaragama di Indonesia belakangan ini--yang memang sudah banyak dianalisis--
tetapi justru ingin kembali ke pertanyaan dasar: Adakah dasar teologis yang diperlukan untuk
suatu basis kerukunan hidup beragama?
   c. Pertanyaan ini penting, karena selama ini teologi dianggap sebagai ilmu dogmatis,
karena menyangkut masalah akidah, sehingga itu tidaklah perlu dibicarakan--apalagi dalam hal
antaragama. Sehingga terkesan teologi sebagai ilmu yang tertutup, dan menghasilkan
masyarakat beragama yang tertutup. Padahal iklim masyarakat global dan pascamodern
dewasa ini lebih bersifat terbuka dan pluralistis.




Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                     163
                                       ARTIKEL KEDUA
                              AGAMA DAN PERSATUAN BANGSA
       Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun, bahkan
predikat ini menjadi cermin kepribadian bangsa kita di mata dunia internasional. Indonesia
adalah Negara yang majemuk, bhinneka dan plural. Indonesia terdiri dari beberapa suku, etnis,
bahasa dan agama namun terjalin kerja bersama guna meraih dan mengisi kemerdekaan
Republik Indonesia kita. Namun akhir-akhir ini keramahan kita mulai dipertanyakan oleh
banyak kalangan karena ada beberapa kasus kekerasana yang bernuansa Agama. Ketika bicara
peristiwa yang terjadi di Indonesia hampir pasti semuanya melibatkan umat muslim, hal ini
karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Masyarakat muslim di Indonesia
memang terdapat beberapa aliran yang tidak terkoordinir, sehingga apapun yang diperbuat
oleh umat Islam menurut sebagian umat non muslim mereka seakan-seakan
merefresentasikan umat muslim.
       Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebaiknya berkaca kepada sejarah
yang pernah terjadi dalam dunia Islam, yaitu di Madinah. Dengan pimpinan Rasulullah saw
mendirikan negara yang pertama kali dengan penduduk yang majemuk, baik suka dan agama,
suku Quraisy dan suku-suku Arab Islam yang datang dari wilayah-wilayah lain, suku-suku Arab
Islam penduduk asli Madinah, suku-suku Yahudi penduduk Madinah, Baynuqa’, Bani Nadlir dan
suku Arab yang belum menerima Islam. Sebagai landasan dari negara baru itu Rasulullah saw
memproklamasikan peratururan yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahifah dan
Piagam Madinah. Menurut para ilmuwan muslim dan non muslim dinyatakan bahwa Piagam
Madinah itu merupakan konstitusi pertama negara Islam.
       Para sejarawan tentang Islam menyebutkan bahwa pengalaman Madinah (tajrubah al
madinah) merupakan kondisi dan peristiwa historis yang paling ideal dalam Islam sepanjang
sejarah. Muhammad Arkoun, pemikir posmodernis dari Aljazair, berpendapat bahwa
pengalaman Madinah (tajrubah al madinah) tak mungkin bisa ditiru oleh generasi mana pun
sesudah Nabi Muhammad saw. Dalam bidang politik, Robert N. Bellah menyimpulkan bahwa
tajrubah al madinah meru pakan prototype system demokrasi modern dalam Islam.
       Piagam Madinah yang terdiri dari 47 pasal itu Rasulullah saw telah meletakkan batu-
batu dasar sebagai landasan kehidupan umat beragama dalam negara yang plural dan
majemuk, baik suku maupun agama dengan memasukkan secara khusus dalam Piagam
Madinah sebuah pasal spesifiik tentang toleransi. Secara eksplisit dinyatakan dalam pasal 25:
“Bagi kaum Yahudi (termasuk pemeluk agama lain selain Yahudi) bebas memeluk agama
mereka, dan bagi orang Islam bebas pula memeluk agama mereke. Kebebasan ini berlaku pada
pengikut-pengikut atau sekutu-sekutu mereka dan diri mereka sendiri” (lil yahudi dinuhum, wa
lil muslimina dinuhum, mawaalihim wa anfusuhum).
       Paradigma toleransi antar umat beragama guna terciptanya kerukunan umat beragama
perspektif Piagam Madinah pada intinya adalah seperti berikut:
     1. Semua umat Islam, meskipun terdiri dari banyak suku merupakan satu komunitas
(ummatan wahidah).
     2. Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan antara komunitas Islam dan
komunitAs lain didasarkan atas prinsip-prinsi:
       a. Bertetangga yang baik
       b. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      164
       c. Membela mereka yang teraniaya
       d. Saling menasehati
       e. Menghormati kebebasan beragama.
       Lima prinsip tersebut mengisyaratkan: 1) Persamaan hak dan kewajiban antara sesama
warga negara tanpa diskriminasi yang didasarkan atas suku dan agama; dan 2) pemupukan
semangat persahabatan dan saling berkonsultasi dalam menyelesaikan masalah bersama serta
saling membantu dalam menghadapi musuh bersama.
       Lahirnya Piagam Madinah oleh beberapa ahli tentang Islam, seperti dikatakan oleh
sejarawan Barat, Wiliam Montgomery Watt sebagai loncatan sejarah (historical jum) yang luar
biasa dalam perjanjian multilateral. Selain sifatnya yang inklusif, Piagam Madinah berhasil
mengakhiri kesalahpahaman antara pemeluk agama selain Islam dengan jaminan keamanan
yang dilindungi konstitusi Negara.
       Semangat persamaan dan persaudaraan tanpa melihat suku dan agama dalam Piagam
Madinah itu tidak lepas dari bimbingan wahyu Allah SWT, di mana Rasulullah saw tidak akan
perkata sesuatu dari kehendak nafsunya kecuali merupan wahyu Allah SWT. Piagam Madinah
senafas dengan inti ajaran paradigman kehidupan umat beragama yang termaktub dalam al
Qur’an al Karim, yakni tidak ada paksaan untuk menganut suatu agama (al Baqarah: 256),
larangan kepada Rasulullah saw untuk memaksa orang menerima Islam (Yunus:99) dan bahwa
tiada larangan bagi umat Islam untuk berbuat baik, berlaku adil dan saling tolong menolong
dengan orang-orang bukan Islam yang tidak memerangi umat Islam karena agama dan tidak
mengusir meraka dari kampung halaman atau negeri mereka (al Mumtahanah: 8 – 9), bahwa
Islam mengakui pluratas agama bukan pluralitame agama (al Kafirun: 1- 6).
       Kalau sebab turunnya (asbab al nuzul) ayat dala surat al Kafirun dikaji secara seksama,
ayat ini merupakan penolakan Nabi Muhammad saw secara diplomatis dan etis atas
propaganda agama lain. Ketika Nabi Muhammad saw ditawari untuk saling tukar agama, Nabi
saw menangapinya dengan arif dan bijaksana, “bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Tidak
konfrontatif, apalagi destruktif sehingga orang yang mengajaknya pun malah segan.
       Toleransi Nabi Muhammad saw yang demikian tinggi ini menjiwai atas pelbagai tindakan
dan kebijakan lainnya, termasuk ketika perang. Pernah suatu ketika, Nabi Muhammad saw
mengutus Usamah Ibn Zaid untuk memimpin ekspedisi peperangan. Sebelum Usamah
berangkat Nabi saw berpesan agar pasukan kavaleri dan infanteri yang dipimpinnya tidak
melakukan perusakan terhadap tumbuh-tumbuhan, tidak membunuh anak-anak, ibu-ibu, serta
tidak merusak rumah ibadah umat agama lain, baik gereja, sinagong maupun kuil.
       Katika tajrubah al madinah menjadi pola dasar dalam membina kerukunan umat
beragama di Indonesia, di mana penduduk negeri ini terbesar di dunia, mayoritas beragama
Islam, sangat heterogen dan majemuk, terdiri dari beberapa suku, etnis, golongan dan agama,
disamping menjadi unsur kekayaan rohaniah yang dapat memperkokoh kehidupan nasional,
juga akan menjadi ancaman dan potensi konflik yang berdampak sangat luas.
       Dalam “Analisis dan Interpretasi Sosiologis dari Agama” (Ronald Robertson, ed.)
misalnya, mengatakan bahwa hubungan agama dan politik muncul sebagai masalah, hanya
pada bangsa-bangsa yang memiliki heterogenitas di bidang agama. Hal ini didasarkan pada
postulat bahwa homogenitas agama merupakan kondisi kesetabilan politik. Sebab bila
kepercayaan yang berlawanan bicara mengenai nilai-nilai tertinggi (ultimate value) dan masuk
ke arena politik, maka pertikaian akan mulai dan semakin jauh dari kompromi.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                       165
       Pluralitas bangsa kita telah disadari benar-benar oleh para pendiri Negara Republik
Indonesia betapa pentinya menetapkan pendirian tentang hubungan antara agama, umat
beragama dan negara. Bahwa negara yang hendak dibentuk adalah bukan negara agama dan
bukan anti agama, tetapi negara kita adalah Negara yang nitral terhadap agama-agama dan
menganggap pentingg keterlibatan agama-agama dalam meraih kemerdekaan dan mengisi
kemerdekaan. Seluruh pemeluk agama yang ada di Indonesia terlibat dalam merebut
kemerdekaan secara proporsional tentu dalam mengisi kemerdekaan pun semuanya berhak
berdasarkan profesionalisme dan proporsional.
       Lima sila Pancasila dapat kita pandang sebagai rumusan terintegrasi antara jiwa
religiositas yang dikandung agama-agama dengan wawasan kebangsaan. Misalnya pada sila
pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa, memastikan bahwa bangsa kita adalah umat beragama
bukan sekuler, dan Negara kita juga bukan negara berdasarkan agama, tetapi masayarakat
beragama dapat menafsirkannya sila pertama itu sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
Negara kita menempatkan diri sebagai fasilitator terhadap umat beragama dan sebagai
pemersatu.
       Meskipun Indonesia kaya secara filosofis dan peraturan tentang bagaimana membangun
kerukunan umat beragama, kita perlu menyimak apa yang disampaikan oleh Profesor Dr.
Muhammad Nur Manuty bahwa interaksi antara masyarakat Islamdan non Islam perlu
diberikan perhatian lebih serius, mengingat demografi penduduk dunia akan terus berubah.
Hal itu menjadi bertambah penting dalam konteks masyarakat yang majemuk (Kompas,
27/8/1996). Perubahan demografi adalah niscaya, karena dia adalah alam yang akan berubah,
cepat atau lambat. Namun pendapat ini perlu dirumuskan: Perhatian serius itu bagaimana?
Apakah dibentuk forum, lembaga atau apalah namanya.
       Dalam beberapa tahap dan kesempatan masyarakat Indonesia yang sejak semula
bercirikan majemuk banyak kita temukan upaya masyarakat yang mencoba untuk membina
kerunan antar masayarakat. Lahirnya lembaga-lembaga kehidupan sosial budaya seperti “Pela”
di Maluku, “Mapalus” di Sulawesi Utara, “Rumah Bentang” di Kalimantan Tengah dan “Marga”
di Tapanuli, Sumatera Utara, merupakan bukti-bukti kerukunan umat beragama dalam
masyarakat.
       Ke depan, guna memperkokoh kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia yang
saat ini sedang diuji kiranya perlu membangun dialog horizontal dan dialog Vertikal. Dialog
Horizontal adalah interaksi antar manusia yang dilandasi dialog untuk mencapai saling
pengertian, pengakuan akan eksistensi manusia, dan pengakuan akan sifat dasar manusia yang
indeterminis dan interdependen. Identitas indeterminis adalah sikap dasar manusia yang
menyebutkan bahwa posisi manusia berada pada kemanusiaannya. Artinya, posisi manusia
yang bukan sebagai benda mekanik, melainkan sebagai manusia yang berkal budi, yang kreatif,
yang berbudaya.
       Suatu sifat dalam dialog, di mana seseorang melihat lawan dialognya dengan hati lapang
dan penuh pernghargaan (‘ain al ridla), bukan sebaliknya, melihat lawan dialognya sebagai
musuh dan penuh kebencian (‘ain al sukhth). Sikap dasar moral harus tetap dipertahankan
dalam hubungan dialog horizontal. Oleh karena itu tidak seharusnya manafikan eksistensi
orang lain.
       Sering terjadi dialog yang hanya bersifat semu, karena tidak mengakui eksistensi dan
sifat dasar manusia itu. Manurut Martin Buber, eksistensi manusia pada dasarnya sama.

Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                      166
Kesamaannya terdapat pada proses dialektisnya yang selalu mendambakan kesempurnaan
eksistensi. Ia senantia berproses menuju pengakuan bahwa dirinya adalah eksistensi. Yang
dimaksud eksistensi adalah ada manusia yang diliputi oleh rasa kemanusiaan, rasa budaya,
rasa progresif, dan sebagainya.
       Dialog vertical berarti pemahaman dan pengkhayatan akan fungsi dan makna
keagamaan secara mendalam bukan fanatisme buta dalam beragama karena kebodohannya.
Dalam konteks kemasyarakatan kita, banyak yang mempertentangkan suatu agama dengan
agama lain, bahkan antar sesama pemeluk agama tertentu. Namun serta merta para tokoh
agama mengingatkan betapa pentingnya penghayatan keagamaan dan untuk memperluas
cakrawala dialog vertical.
       Unsur penting dalam dialog vertikal adalah mempedulikan materi keagamaan secara
intern. Artinya, kita mesti terus berlajar mendalami secara objektif makna agama kita. Pada
posisi puncak sebenarnya adalah pengejewantahan diri kita untuk mengabdi kepada Tuhan.
Pengabdian kepada Tuhan inilah yang disebut dengan dialog vertical. Oleh karena itu, umat
beragama tidak layak mempertentangkan dan menghancurkan entitas orang lain dengan
mengatasnamakan agama.
       Islam menggariskan ajarannya kepada domain qath’iy (pasti) dan dzanny (tidak pasti).
Dua domain inilah yang menjadi pijakan umat Islam dalam memahami agamanya. Domain
qoth’iy adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa ditawar untuk ditakwil. Artinya, ruang ijtihad
dan kreatifitas berpikir bagi umat muslim untuk mengambil makna tersirat telah ditutup.
Sebaliknya domain dzanny, umat Islam diperintah untuk mengembangkan ijtihad dan
kreatifitas berpikirnya guna menemukan makna tersirat dalam ajaran agama demi memenuhi
tuntutan perubahan zaman dan demografi.
       Berdasarkan domain qath’iy dan dzanny umat beragama perlu menyikapi umat
beragama selain Islam dengan tegas dalam kontek umat beragama dan bijak dalam kontek
kebangsaan. Tegas artinya menyampaikan perbedaan keyakinaan dan keagamaan antara umat
beragama, agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku. Tegas artinya harus
mempertimbangkan asas kebangsaan, kemanusiaan, dan persaudaraan sebangsa dan se tanah
air dalam rangka mengisi kemerdekaan. Semoga kita selalu mampu menjaga persaudaraan
kemanusiaan (ukhuwah basyariyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan
persaudaraan seiman (ukhuwah diniyah).Amin

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/kerukunan-umat-beragama-harus-
   terus-dipelihara/
2. http://www.depag.go.id/index.php?a=detilberita&id=4148
3. http://www.anneahira.com/kerukunan-umat-beragama-di-indonesia.htm
4. http://nasional.kompas.com/read/2009/05/28/08422671/Indonesia..Lab.Kerukunan.Umat.
   Beragama
5. http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A3483_0_3_0_M
6. http://bataviase.co.id/content/indonesia-contoh-terbaik-kerukunan-umat-beragama
7. http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Etc/Rukun.html
8. http://www.anneahira.com/tri-kerukunan-umat-beragama.htm



Pendidikan Agama Islam- ITENAS 2012                                                        167

								
To top