Aliran Ilmu Kalam by charlesmm1

VIEWS: 13 PAGES: 8

									    Aliran Ilmu Kalam




         Oleh :
1. Nur Hasbiah
2. Pita Sari Rizky
3. Rizky Purnamasari
4. Rohliana Lubis
5. Sri Rahmadhani Nst

      Kelas : XI IPA-1




     T.A. 2011/2012
Aliran Karamiyah


Aliran Karamiyah meyakini bahwa kalam Ilahi terdiri dari suara dan huruf-huruf, dan kalam Ilahi
itu bersifat hadis dan menyatu dengan zat Allah Swt, dan mereka mengatakan bahwa tidak ada
masalah menggandengkan sifat hadis pada yang zat yang qadim.
Allamah Hilli mengomentari pendapat Karamiyah sebagai berikut, “Wajib al-Wujud (Allah Swt)
tidak menerima sifat yang hadis (yang baru) dengan tiga dalil: pertama, ke-hadis-an dan ke-
baru-an pada zat Allah menyebabkan perubahan yang bersifat reaktif dalam diri-Nya dimana hal
ini sangat berkontradiksi dengan zat Wajib al-Wujud, karena setiap perubahan itu merupakan
sifat bagi benda-materi dan Allah bukanlah materi dan benda. Kedua, jika Allah Swt dipandang
sebagai sebab dari sifat yang hadis ini, maka sifat yang hadis itu pun harus azali, karena
sebabnya adalah azali, sementara anda mengatakan bahwa hadis tersebut adalah sesuatu yang
baru terwujud (yakni pernah tiada dan sekarang menjadi ada), dan jika zat sebab itu bukan zat
Wajib al-Wujud maka kemestiannya adalah bahwa dia memiliki sifat hadis dan membutuhkan
kepada sesuatu yang lain, dan hal ini juga tidak layak bagi Wajib al-Wujud. Ketiga, hadis itu jika
termasuk sifat kamaliyah (sifat kesempurnaan) maka mustahil sifat tersebut tidak termasuk
dalam jajaran sifat-sifat Tuhan, karena Tuhan niscaya memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan
apabila hadis itu merupakan sifat cacat dan kekurangan maka mustahil Tuhan memiliki sifat
tersebut.


Terdapat kaitan antara makna Murjiah secara bahasa dan istilah sehingga golongan ini boleh
dinamakan dengan Murjiah. Nama ini diambil dari kata irja. Karena mereka menagguhkan amal
setelah adanya niat dan tujuan. Sebagaimana boleh juga dinamakan dari makna yang kedua
yaitu mereka meyakini maksiat itu tidak membahayakan keimanan sebagaimana juga ketaatan
tidak bermanfaat bagi naiknya keimanan. Mereka memberikan harapan(irja) pahala orang yang
bermaksiat di sisi Allah.
Golongan Murjiah terbagi menjadi tiga jenis, sebagaimana yang disebutkan Syaikhul Islam ibnu
Taimyiah :
Jenis pertama : Orang yang mengatakan iman hanya ada di hati. Di antara mereka ada yang
memasukkan amal hati ke dalamnya. Merekalah kelompok Murjiah yang terbesar dan di antara
mereka ada yang tidak memasukkan amal hati ke dalam iman.seperti Jahm bin Shafwan.
Jenis kedua : Orang yang mengatakan iman sekedar ucapan semata. Inilah pendapat golongan
Karamiyah.
Jenis ketiga : Orang yang mengatakan iman itu hanya membenarkan dalam hati dan ucapan.
Inilah pendapat para ahli fiqih Murjiah.
Syaikhul Islam mengatakan, Dan demikian pula Murjiah moderat, kebidahan mereka adalah
kebidahan ahli fiqh yang tidak ada kekafiran padanya. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini.
Bila ada kawan-kawan kami yang memasukkan kebidahan mereka ke dalam lingkup kekafiran
maka ini adalah suatu kesalahan. Mereka (Murjiah moderat) itu tidak memasukkan ama-amal
dan perbuatan-perbuatan dalam lingkup keimanan. Berartu kewajiban ditinggalkan. Adapun
Murjiah eksrtrim adalah orang-orang yang mengingkari siksa neraka dan berkeyakian bahwa
nash-nash yang berisi ancaman yang menakutkan hakikatnya tidak ada. Ucapan ini berbahaya
dan berarti kewajiban ditinggalkan. Di tempat lain beliau berkata tentang ahli Fiqh dari kalangan
Murjiah, Kemudian Salaf sangat mengingkari dan menvonis bidah dan menyalahkan pendapat
mereka. Aku tidak mengetahui seorang pun dari Salaf menvonis mereka kafir. Bahkan mereka
sepakat golongan ini tidak dikafirkan. Salah seorang ulama telah membawakan dalil yang
menguatkan bahwa Murjiah tidaklah kafir. Barang siapa menukil dari Imam Ahmad atau
selainnya menvonois kafir mereka atau menggolongkan mereka ke dalam ahlul bidah yang
masih diperselisihkan kekafirannya maka sungguh ia telah berkesimpulan dengan amat salah.


Dengan melihat isi dari ajaran dan wejangan Sunan Bonang yang tertulis dalam kitab primbon
Het Boek Van Bonang, setidak-tidaknya ada sejumlah kitab Arab klasik yang diperkirakan telah
menjadi sumber rujukan dari ajaran walisongo. Beberapa kitab tersebut, antara lain adalah :
1. Ihya’ Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghozali
2. Tamhid (fi bayanit-Tawhid Wa Hidayati fi Kulli Mustarasyid Wa Rasyid) karya Abu Syakur bin
Syu’aib Al-Kasi al Hanafi as-Salimi (hidup diakhir abad 5 H).
3. Talkhis al-Minhaj karya Imam Nawawi,
4. Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makky
5. Risalah al-Makkiyah fi Thariq al-Sada al-Sufiyyah karya Afifuddin at-Tamimi,
6. Al-Anthaki. Mengenai al-Anthaki ini, ada dua kemungkinan, yaitu Abu Muhammad al-Anthaki
seorang penyair dari Faulah Bani Fathimiyyah zaman al-Mu’iz Li Dinillah (341-365 H.) dan Zaman
Al-Aziz Billah (365-386 H.) atau Daud al-Anthaki penulis kitab Tazyinul Asywaq bi Tafshil Asywaq
Al Usysyaq atau Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Isfahani pengarang kitab Hilyatul Auliya’ yang
bergelar Ahmad bin Ashim Al-Anthaki.
Disamping beberapa nama pengarang kitab tersebut diatas, ditemui pula nama para tokoh
Tasyawwuf seperti Abu Jazid Al-Basthami, Muhyiddin ibn ‘Arabi, Syekh Ibrahim al-Iraqi, Syekh
Abdul Qodir Jailani, Syekh Semangu Asarani (?), Syekh Ar-Rudaji, Syekh sabti (?), Pandita Sujadi
Waquwatihi (?).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ajaran Walisongo, meliputi bidang ilmu fiqih
(syariat), ilmu kalam -- termasuk didalamnya adalah ilmu tauhid dan ushuluddin, serta diajarkan
pula ilmu tasyawwuf seperti suluk, tarikat dan mistik.

2.Beberapa wejangan Sunan Bonang
Isi dari ajaran dan wejangan yang terdapat dalam kitab primbon karya Sunan Bonang itu dapat
diringkas sebagai berikut :
Pertama-tama, Sunan Bonang mengawali tulisannya dengan bacaan Basmalah dan puji syukur,
kemudian menunjukkan maksud dan tujuan dari penulisan isi primbon, yaitu hendak
menyampaikan ajaran tentang ilmu suluk. Ilmu suluk ini meliputi ilmu Ushuluddin, Tauhid,
Tarekat dan Tasyawwuf yang berhaluan ahlussunnah Wal Jama’ah.
Ajaran Ushul Suluk berpangkal pada penafsiran terhadap dua kalimat Syahadat yang
diungkapkan dalam pembukaan kitab : “Asyhadu an La ilaha Illallah Wahdahu La Syarikalahu, Wa
Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”. Selanjutnya beliau menguraikan ajaran-ajarannya
dengan menitik beratkan pada ushul suluk menurut pemikiran al-Ghozali dan Abu Syakur as-
Salimi. Ajaran ushul suluk merupakan perpaduan antara uraian ilmu ushuluddin dan Tasyawwuf
atau tauhid mistik dalam batas-batas akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang materinya berkisar
pada tiga polok masalah ditambah satu penegasan, yaitu :
1. Kajian tentang Allah, yang meliputi zat, sifat dan af’al-Nya,
2. Kajian tentang hubungan antara manusia dengan Allah,
3. Kajian tentang masalah Ru’yat (kemampuan melihat) Allah, dan
4. Tanbih, tambahan dari kitab yang diutarakan dengan maksud sebagai peringatan agar
senantiasa berbuat sholeh, takwa, dan berpegang teguh serta menjaga batas syariat.
Pada bagian pertama dari isi Primbon, pembahasan Sunan Bonang tentang Allah meliputi
pendirian mengenai berbagai paham dan ajaran tauhid serta ketuhanan yang benar dimana isi
uraian beliau pada dasarnya hanya merupakan ikhtisar dan terjemahan bebas dari kitab Ihya’
Ulumuddin dan kitab Tamhid. Disamping itu diungkapkan pula bagaimana ajaran dan faham
yang sesat tentang tauhid dan Tuhan, yang menurut beliau, dapat mengakibatkan penganutnya
menjadi kafir.
Pembahasan Sunan Bonang terhadap dua tema diatas meliputi uraian tentang ma’rifat Dzat
Allah, Ma’rifat Sifat Allah dan ma’rifat Af’al Allah yang diungkapkan dengan metode dialog
katekismus, yaitu berbentuk dialog tanya jawab antara guru dan murid dimana si murid
bertanya yang kemudian dijawab oleh sang guru dengan uraian materi diatas.
Pada bagian tersebut, diungkapkan juga 12 macam pandangan tentang ajaran tauhid dan
ketuhanan yang dianggap sesat dan layak dijuluki “wong sasar” menurut standar empat
madzhab, yaitu :
1. Pandangan yang menyatakan bahwa :”i(ng)kang ana iku Allah, i(ng)kang ora ana iku Allah, den
tegesake oraning Allah iku ora andade’aken. (yang ada ialah Allah, yang tiada ialah Allah, dengan
arti tiadanya adalah tiada mejadikan).
2. Pandangan tentang Tuhan yang menyatakan : “iya namane iya kersane, iya namane iya dzate,
iya dzat(e) iya kersane. Iku among ing paekan tan weruh ing panunggale”. (nama-Nya itu itulah
juga kehendak-Nya, nama -Nya itulah juga dzat-Nya, Dzat-Nya itulah kehendak-Nya…).
Kedua ungkapan tersebut diatas dianggap sesat karena dapat mengacaukan pemahaman akan
keesaan Tuhan.
3. Pandangan Kawabatiniyah (kebatinan) yang disifati oleh Sunan Bonang sebagai “atunggal
sastra anging tan apatut “ atau congkak dalam kata namun tidak patut dan tidak sesuai dengan
akal budi karena bertentangan dengan pokok ushul suluk yang terdapat dalam kitab Ihya’ dan
Tamhid.
4. Suatu pandangan ganjil yang menyatakan : “ Kadi anggrupa’aken sifating pengeran, kadi
akecap : sekatahing dumadi iku sifating Allah, kadi ngana’aken ing nora, kadi ama’duamen ing
Allah. Pandangan ini adalah kufur.
5. Pandangan yang beranggapan bahwa dalam fana’ terjadi ittihad (perpaduan) antara kawula-
Gusti (hamba - Tuhan) sebagaimana berpadunya sungai di muara dengan air laut. Hal ini
menurut beliau merupakan penta’wilan yang menyeleweng dan sesat yang bertentangan
dengan firman Allah swt.: “Marajal Bahraini Yal Taqiyani bainahuma Barzahun La yabgiyani”.
6. Paham karamiyah, sebuah paham yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, didirikan oleh
Abdullah Muhammad bin Karamiyah yang menandaskan bahwa Allah duduk di singgasana-Nya
di arsy, dimana ia menjisimkan dzat Allah.
7. Paham yang menyatakan bahwa “sifat iku ana ing dzat, asma itu ana ing deweke”, yaitu suatu
paham yang menyamaratakan antara sifat, dzat dan asma’ Allah.
8. Paham yang berpendapat bahwa “sifat sifat, dzat dzat” , yaitu menganggap bahwa
keberadaan dzat dan sifat sebagai dua keadaan yang masing-masing berdiri sendiri.
I’badiyah



Ibadi adalah golongan Muslim yang bersumber pada Al-Quran dan hadits dengan fokus utama
menjadi hamba Allah dengan sederhana. Golongan ini tersebar di berbagai golongan umat Islam
baik Sunni maupun Syi'ah dengan berbagai mahzabnya.[rujukan?] Aliran ini merupakan aliran yang
dominan di Oman. Keyakinan kaum Ibadi adalah bahwa setiap Muslim bersaudara dan hanya
Allah yang akan menjadi hakim bagi umat manusia.


Kaum Ibadi mementingkan ukhuwah islamiyyah daripada bermusuh-musuhan hanya karena
berbeda mahzab atau aliran. Cukuplah keyakinan mereka mengharapkan disebut hamba-hamba
Allah yang dipanggil untuk masuk ke dalam surga-Nya.


Golongan ini adalah pengikut Abdullah Ibn Ibadh. Merupakan golongan yang paling modert dari
seluruh golongan Khawarij.[15] Mereka berpendapat bahwa pernikahan dan pewarisan antara
mereka dan orang – orang Muslim yang tidak sepaham dengan meraka adalah sah. Negeri orang
– orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka adalah negeri Tauhid, kecuali markas tentara
Sultan, itu adalah negeri kesesatan. Mereka bersedia menerima persaksian dari orang – orang
yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka berpendapat ,bahwa perbuatan manusia adalah
dijadikan Allah, tetapi diusahakan oleh manusia sendiri. Mereka tidak mau menyebut Imam
mereka dengan sebutan “Amirul mu’minin” dan tidak pula menyebut diri mereka kaum
Muhajirin, mereka tidak membolehkan memerangi orang – orang yang tidak sepaham denagn
mereka, kecuali setelah melakukan da’wah lebih dahulu.




Khawarij terkenal karena ketidaksudian dan keengganan berkompromi dengan pihak manapun
yang dianggap bertentangan dan berseberangan dengan dengan pendapat dan pemikirannya,
sehingga muncullah beberapa kelompok sektarian (sempalan) dari aliran khawarij ini yang
masing-masing sekte tersebut cenderung memilih imamnya sendiri dan menganggap sebagai
satu-satunya komunitas muslim yang paling benar.

Ajaran-ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur'an dan Hadis diartikan menurut lafaz dan harus
diartikan sepenuhnya. Iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang yang
sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatik yang membuat mereka tidak bisa
mentolerir penyimpangan terhadap ajaran Islam walaupun hanya penyimpangan dalam bentuk
kecil.

Hal inilah yang menyebabkan kaum khawarij mudah terpecah belah menjadi sekte-sekte kecil
dan terus menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam dan umat Islam
yang ada pada masanya.

Mengenai jumlah sekte khawarij, ulama berbeda pendapat, Abu Musa Al-Asy'ary mengatakan
lebih dari 20 sekte, Al-Baghdady berpendapat ada 20 sekte, Al-Syahristani menyebutkan 18
sekte, Musthafa al-Syak'ah berpendapat ada 8 sekte utama, yaitu al-Muhakkimah, al-Azariqah,
al-Najdat, al-Baihasiyah, al-Ajaridah, al-Saalibah, al-Ibadiah dan al-Sufriyah. Muhammad Abu
Zahrah menerangkan 4 sekte yaitu al-Najdat, al-Sufriyah, al-Ajaridah dan al-Ibadiah. Sedangkan
Harun Nasution ada 6 sekte penting yaitu:

   1. Al-Muhakkimah

Al-Muhakkimah dipandang sebagai golongan khawarij asli (pelopor aliran khawarij) karena
terdiri dari pengikut Ali bin Abi Thalib yang kemudian membangkang dan keluar dari barisan Ali
bin Abi Thalib. Nama al-Muhakkimah berasal dari semboyan dari doktrin mereka la hukma illa li
allah yang merujuk pada Q.S. 6 : 57 : In al-hukmu illa li allah (menetapkan hukum itu hanyalah
hak Allah). Mereka menolak arbitrase karena dianggap bertentangan dengan perintah Allah
dalam Q.S. 49 : 9 yang menyuruh memerangi kelompok pembangkang (bughat) sampai mereka
kembali ke jalan Allah.

Pemimpin sekte ini bernama Abdullah bin Wahab al-Risbi yang dinobatkan setelah keluar dari
barisan Ali bin Abi Thalib. Dalam paham sekte ini Ali, Muawiyah dan semua orang yang terlibat
dan menyetujui arbitrase dituduh telah menjadi kafir karena telah menyimpang dari ajaran
Islam berdasarkan Q.S.5 : 44.

Sekte ini juga berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar seperti membunuh tanpa
alasan yang benar dan berzina adalah kafir.

   1. Al- Azariqah

Sekte al-Azariqah lahir sekitar tahun 60 H. (akhir abad 7 M.) di daerah perbatasan antara Irak
dan Iran. Nama al-Azariqah dinisbahkan kepada pemimpin sekte ini yang bernama Nafi bin Azraq
al-Hanafi al-Hanzali, anak bekas budak Yunani. Sebagai khalifah Nafi diberi gelar amir al-
mukminin. Menurut al-Baghdadi pendukung sekte ini berjumlah lebih dari 20 ribu orang. Paham
dari pemikiran sekte ini lebih ekstrem (radikal), diantaranya:

   1. Orang Islam yang tidak bersedia memihak atau bekerja sama dengan mereka dianggap
      murtad.
   2. Orang yang menolak ajaran al-Azariqah adalah musyrik.
   3. Pengikut al-Azariqah yang tidak berhijarah (eksodus) ke daerah wilayah kekuasaan
      mereka dianggap musyrik juga.
   4. Semua orang Islam yang musyrik boleh ditawan atau dibunuh termasuk anak dan istri
      mereka.
   5. Adanya praktek isti'rad artinya menilai dan menyelidiki atas keyakinan para penentang
      mereka. Orang-orang yang tidak lolos dari penyelidikan ini dijatuhi hukuman mati,
      termasuk wanita dan anak-anak, karena anak-anak orang musyrik akan dikutuk bersama
      orang tuanya.

Berdasarkan prinsip dan pemikiran tersebut, pengikut al-Azariqah banyak melakukan
pembunuhan terhadap sesama umat Islam yang berada di luar wilayah daerah kekuasaan
mereka. Mereka menganggap daerah mereka sebagai dar al-islam, diluar daerah itu dianggap
dar al-kufr (daerah yang dikuasai/diperintah orang kafir).

Pada tahun 684 M. Sekte al-Azariqah ini membiarkan kaum khawarij lainnya di Bashrah
menjalani perang yang mencekam di Irak selatan dan Iran, akhirnya semuanya menemui
kematian syahid menurut mereka sebagaimana harapan mereka.

   1. Al-Najdat

Penamaan sekte ini dinisbatkan kepada pemimpinnya yang bernama Najdah bin Amir al-Hanafi,
penguasa daerah Yamamah dan Bahrain. Lahirnya sekte ini sebagai reaksi terhadap pendapat
Nafi (pemimpin al-Azariqah) yang dianggap terlalu ekstrem. Pendapat Nafi yang ditolak adalah
tentang :

    1. Kemusyrikan pengikut al-Azariqah yang tidak mau hijrah ke wilayah al-Azariqah.
    2. Kebolehan membunuh anak-anak atau istri orang yang dianggap musyrik.

Pengikut al-Najdat memandang Nafi dan orang-orang yang mengakuinya sebagai khalifah telah
menjadi kafir. Paham theologi al-Najdat yang terpenting adalah :

    1. Orang Islam yang tidak sepaham dengan alirannya dianggap kafir dan akan masuk
       neraka yang kekal di dalamnya.
    2. Pengikut al-Najdat tidak akan kekal dalam neraka walaupun melakukan dosa besar.
    3. Dosa kecil dapat meningkat posisinya menjadi dosa besar apabila dikerjakan terus
       menerus.
    4. Adanya faham taqiyah yaitu orang Islam dapat menyembunyikan identitas keimanannya
       demi keselamatan dirinya. Dalam hal ini diperbolehkan mengucapkan kata-kata atau
       melakukan tindakan yang bertentangan dengan keyakinannya.

Dalam perkembangan selanjutnya sekte ini mengalami perpecahan. Dari tokoh penting sekte ini
seperti Abu Fudaik dan Rasyid al-Tawil membentuk kelompok oposisi terhadap al-Najdat yang
berakhir dengan terbunuhnya al-najdat pada tahun 69 H. (688 M.).



    1. Al-Ajaridah

Pemimpin sekte ini adalah Abdul Karim bin Ajarrad. Pemikiran sekte ini lebih moderat dari pada
pemikiran al-Azariqah. Sekte ini berpendapat :

    1. Tidak ada kewajiban hijrah ke wilayah daerah al-Ajaridah.
    2. Tidak boleh merampas harta dalam peperangan kecuali harta orang yang mati terbunuh.
    3. Anak-anak kecil tidak dapat dikatagorikan orang musyrik.
    4. Surat Yusuf bukan bagian dari al-Qur'an, karena al-Qur'an sebagai kitab suci tidak layak
       memuat cerita percintaan seperti yang terkandung dalam surat yusuf.
    5. Al-Sufriyah

Sekte ini membawa paham yang mirip dengan paham al-Azariqah akan tetapi lebih lunak. Nama
al-Sufriyah berasal dari nama pemimpin mereka yang bernama Zaid bin Asfar. Pendapat dari
sekte al-Sufriyah yang terpenting adalah :

    1. Umat Islam non khawarij adalah musyrik, tetapi boleh tinggal bersama mereka dalam
       perjanjian damai (genjatan senjata) asalkan tidak mengganggu dan menyerang.
    2. Kufur atau kafir mengandung dua arti yaitu kufr al-nikmat (mengingkari nikmat Tuhan)
       dan kufr bi Allah (mengingkari Allah). Kufr al-nikmat tidak berarti keluar dari Islam.
    3. Taqiyah hanya dibenarkan dalam bentuk perkataan, tidak dibenarkan dalam bentuk
       tindakan (perbuatan).
    4. Perempuan Islam diperbolehkan menikah dengan laki-laki kafir apabila terancam
       keamanan dirinya.
    5. Al-Ibadiyah

Sekte ini dilahirkan oleh Abdullah bin Ibad al-Murri al-Tamimi tahun 686 M. Doktrin sekte ini
yang terpenting adalah :

    1. Orang Islam yang berbuat dosa besar tidak dapat dikatakan mukmin, akan tetapi
       muwahhid.
   2. Dar al-kufr adalah markas pemerintahan yang harus diperangi, sedangkan diluar itu
      disebut dar al-tauhid dan tidak boleh diperangi.
   3. Yang boleh menjadi harta pampasan perang adalah kuda dan peralatan perang.
   4. Umat Islam non khawarij adalah orang yang tidak beragama tetapi bukan orang musyrik
      8
       .

Sekte al-Ibadiyah sebagai golongan yang paling moderat dalam aliran khawarij dan merupakan
sekte khawarij yang bertahan hingga zaman modern. Mereka menghasilkan sejumlah
mutakallimin (theolog) paling awal dalam Islam dan bersedia hidup berdampingan secara damai
dengan umat Islam lainnya yang tidak menganiaya mereka. Mayoritas umat Islam dan keluarga
penguasa dalam kesultanan Oman adalah Ibadiyah. Sekte ini juga terdapat di Mzab dan Wargla
(Aljazair), pulau Jerba lepas pantai timur Tunisia, Nafusa dan Zuwaghah (Libia), Zanzibar dan
beberapa perkampungan di Afrika Timur. Kini jumlahnya tidak lebih dari sejuta orang.

Adapun golongan Khawarij ekstrim dan radikal, sungguhpun mereka sebagai golongan telah
hilang dalam sejarah, ajaran-ajaran mereka masih mempunyai pengaruh walaupun tidak banyak
dalam masyarakat Islam sekarang.

								
To top