Docstoc

Epigrafi Dan Sejarah Indonesia

Document Sample
Epigrafi Dan Sejarah Indonesia Powered By Docstoc
					                                  Epigrafi dan Sejarah Indonesia

         Berbicara mengenai sejarah kuno Indonesia, yang pertama terbayang ialah karya N.J. Krom,
Hindoe-Javaansche Geschiedents, sebab hingga sekarang karya Krom itu masih dianggap sebagai
satu-satunya buku acuan yang lengkap tentang sejarah kuno Indonesia. Mungkin sekali judul itu
dipilih oleh Krom karena sebagian besar dari sumber-sumber penulisan sejarah dari abad VIII sampai
abad XVIII ditemukan di Pulau Jawa, sehingga hanya dari Pulau Jawa kita memperolah gambaran
sejarah yang agak lengkap pada masa tersebut.

         Dalam mempelajari karya Krom itu segera tampak bahwa pembaca dihadapkan pada suatu
cara penyajian yang lain daripada yang terdapat di dalam buku-buku sejarah biasa. Orang sering
menjumpai pembicaraan yang panjang lebar tentang pembacaan atau penafsiran sebuah perkataan
atau istilah dalam prasasti atau sumber sejarah lain, atau mungkin juga suatu pembahasan yang
mendalam tentang berbagai teori mengenai sesuatu masalah dan atas dasar itu Krom mengambil
kesimpulan secara sangat hati-hati.

         Diantara sumber-sumber yang akan menjadi pokok pembicaraan pada karangan ini ialah
prasasti-prasasti, yang merupakan salah satu sumber sejarah yang kontemporer. Yang dimaksudkan
dengan prasasti ialah sumber-sumber sejarah dari masa lampau yang tertulis di atas batu atau logam.
Sebagian besar dari prasasti-prasasti tersebut, dikeluarkan oleh raja-raja yang memerintah di berbagai
kepulauan Indonesia sejak abad 5 masehi. Sejumlah kecil daripadanya merupakan keputusan
pengadilan, yang biasa disebut dengan istilah jayapattra. Sebagian dari prasasti-prasasti itu memuat
sebuah naskah ang panjang, tetapi ada juga di antaranya yang hanya memuat angka tahun atau nama
seseorang pejabat kerajaan.

         Sekarang, penelitian atas prasasti menjadi tugas dari Pusat Penelitian Purbakala dan
Peninggalan Nasional. Di dalam instansi tersebut tersimpan sekitar tiga ribu cetakan kertas prasasti-
prasasti batu dan logam yang tersebar di seluruh kepulauan. Sebagian besar dari prasasti-prasasti itu
masih harus diteliti dengan seksama, sebab sekalipun sudah banyak yang dibaca dan diterbitkan,
kebanyakan baru terbit dalam bentuk transkripsi sementara. Untuk memperoleh gambaran yang lebih
jelas tentang apa yang masih harus dikerjakan dalam bidang penelitian prasasti, kita dapat melihat
dalam daftar prasasti yang disusun oleh L.Ch. Damais. Dari 290 prasasti yang berasal dari Sumatra,
jawa, Madura dan Bali, baru 81 terbit lengkap dengan transkripsi, terjemahan dan pembahasan, 134
terbit dalam bentuk transkripsi saja, sedang 75 belum pernah diterbitkan sama sekali. Kita belum lagi
berbicara tentang prasasti-prasasti yang tidak berangka tahun, temuan-temuan baru sesudah Damais
menulis karangannya itu dan prasasti-prasasti dari zaman Islam yang boleh dikatakan sampai
sekarang tidak mendapat perhatian dari para sarjana.

         Tugas seorang ahli epigrafi sekarang ini tidak saja meneliti prasasti-prasasti yang belum
diterbitkan, tetapi juga meneliti kembali prasasti yang baru terbit dalam transkripsi sementara. Dalam
menunaikan tugas tersebut ahli epigrafi banyak menjumpai kesulitan. Pertama, karena banyak



prasasti, terutama prasasti batu yang sudah sedemikian usang sehingga amat sulit untuk membacanya.
Kedua, dihadapi pada waktu menerjemahkan prasasti itu, pengetahuan kita tentang bahasa-bahasa
kuno yang digunakan di dalam prasasti-prasasti itu masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya
makna yang terkandung di dalam naskah.

        Pada umumnya prasasti-prasasti memperingati penetapan sebidang tanah atau suatu daerah
sebagai sima dan daerah perdikan. Penetapan suatu sima merupakan peristiwa yang penting karena
menyangkut perubahan status sebidang tanah. Maka di dalam prasasti sering dijumpai keterangan
yang panjang lebar tentang hari,bulan,tahun dan unsur penanggalan lain ketika suatu daerah
ditetapkan menjadi sima. Kebanyakan penetapan daerah perdikan itu dilakukan oleh seorang raja atau
perintah seorang raja. Unsur penanggalan yang biasa ditulis dengan lengkap disusul dengan nama raja
dan nama pejabat kerajaan, memberikan kerangka kronologi bagi penulisan sejarah itu. Berdasarkan
keterangan itu kita dapat mengetahui masa pemerintahan seseorang raja dan luasnya kekuasaan raja.
Dapatlah dipahami mengapa pembacaan angka tahun yang tepat merupakan syarat yang mutlak.

        Setelah menyebut angka tahun dan unsur penanggalan yang lain, prasasti biasanya
menyebutkan bahwa perintah seorang raja diturunkan kepada sekelompok pejabat kerajaan, yang
kemudian meneruskannya lagi kepada sekelompok pejabat yang lebih rendah. Berdasarkan
keterangan-keterangan itu dapat disimpulkan bahwa pemerintahan pusat terdiri atas sekurang-
kurangnya dua kelompok kerajaan. Setelah menyebut pejabat kerajaan yang menerima perintah raja,
prasasti menyebutkan peristiwa pokoknya, yaitu penetapan suatu daerah menjadi sima, beberapa
prasasti berisi keterangan yang panjang lebar dalam bagian ini, yaitu prasasti Pucanan, prasasti
Kudadu dan prasasti Sukhamrta.

         Itulah ketiga keterangan sejarah yang amat penting yang terkandung didalam bagian prasasti
yang menyebutkan sebabnya seorang pejabat kerajaan mendapat anugerah sima, atau mengapa suatu
bangunan suci mendapat tanah perdikan. Tetapi apabila kita meneliti semua prasasti yang telah dibaca
sampai sekarang, ketiga prasasti tersebut ternyata merupakan pengecualian, prasasti yang lain
memang ada juga yang memuat keterangan sejarah, tetapi keterangan itu biasanya hanya samar-samar
saja. Perlu disadari bahwa penulis prasasti tidak bermaksud untuk mewariskan keterangan-keterangan
kepada generasi yang akan datang, termasuk kita yang hidup di masa kini, ia tidak memandang perlu
untuk memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya. Yang terpenting untuk diketahui oleh generasi
yang akan datang hanyalah bahwa daerah yang disebutkan di dalam prasasti, telah ditetapkan menjadi
sima.

         Seorang ahli sejarah tidak dapat mengharapkan semua prasasti berisi keterangan yang
lengkap. Ia harus menjalin ceritanya di sekitar sejumlah fakta yang tersebar dari berbagai prasasti.
Tetapi di dalam menulis ceritanya itu seorang ahli sejarah harus mempunyai pengetahuan tentang
struktur masyarakat zaman kuno yang harus digunakannya sebagai landasan untuk merekonstruksikan
fakta sejarah. Prasasti banyak berisi keterangan tentang keadaan masyarakat, tetapi justru dibagian itu
sering diabaikan oleh ahli sejarah.

        Di dalam bagian prasasti, secara tidak langsung diperoleh juga keterangan tentang kegiatan
perdagangan dan usaha kerajinan. Keterangan itu diperoleh dari ketentuan mengenai pajak
perdagangan dan pajak usaha. Juga dijumpai keterangan tentang ketentuan mengenai denda dari
berbagai macam kejahahatan. Sering juga dikatakan bahwa seorang pejabat yang memperoleh
anugerah sima karena jasanya terhadap raja dan kerajaan mendapat tambahan berupa hak istimewa.
Kalau keterangan hak istimewa itu diteliti dengan seksama, mungkin akan diperoleh gambaran
tentang perbedaan antara rakyat biasa dan kaum bangsawan.

         Di dalam penjelasan awal karangan ini telah menunjukkan apa yang disumbangkan oleh
epigrafi untuk penulisan sejarah kuno Indonesia. Tetapi rasanya uraian tersebut tidak lengkap apabila
tidak disebutkan perdebatan yang sengit diantara para ahli. Yang dimaksudkan disini ialah teori CC.
Berg tentang nilai dari berbagai sumber sejarah yang terdapat di Jawa untuk penulisan sejarah yang
banyak ditentang oleh ahli lain. Berg meneliti nilai kitab-kitab Kidun dan hasil kesusatraan yang lain
sebagai sumber sejarah. Ia juga membicarakan nilai beberapa prasasti sebagai sumber sejarah. Di
dalam serentetan karangannya itu ia mengemukakan pendapat bahwa bangsa Indonesia, terutama
orang Jawa, tidak mengenal penulisan sejarah dalam arti seperti yang terdapat di Cina atau dunia
barat. Maka di dalam menilai sumber sejarah dari Jawa itu orang harus menggunakan cara-cara
khusus. Sumber sejarah dari Jawa adalah hasil dari kebudayaan Jawa dan karena itu dalam
menggunakan sumber tersebut sebagai bahan penelitian sejarah, orang harus menilainya dari sudut
penglihatan Jawa.

       Pada dasarnya anggapannya itu dapat diterima. Tetapi masalahnya ialah bagaimana
menerapkan teori itu didalam praktek.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:8
posted:2/14/2013
language:Unknown
pages:3
Description: Berbicara mengenai sejarah kuno Indonesia, yang pertama terbayang ialah karya N.J. Krom, Hindoe-Javaansche Geschiedents, sebab hingga sekarang karya Krom itu masih dianggap sebagai satu-satunya buku acuan yang lengkap tentang sejarah kuno Indonesia.