Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

resensi novel ayat-ayat cinta

Document Sample
resensi novel ayat-ayat cinta Powered By Docstoc
					http://ekonomi.kabo.biz




       Resensi ini ditulis untuk memenuhi tugas
             mata kuliah Bahasa Indonesia




                              Disusun Oleh :
                     [ MANAJEMEN D / SEMESTER III ]
                Muslim                         106081002465
                Muzammil                       106081002467
                Nresna Iqlima                  106081002471
                Nurhasanah                     106081002473
                Nurullita utami                106081002475
                Primanda Wijaya                106081002477

            FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
                    JAKARTA INDONESIA
                           2007
http://ekonomi.kabo.biz



                          Resensi Novel Ayat-ayat Cinta

Penulis        : Habiburrahman El-Shirazy

Judul Buku     : Ayat-ayat Cinta

Penerbit       : Republika

Terbit         : Desember 2004

Tebal Buku     : 411 Halaman

         Bab-bab awal, penulis mencoba mengenalkan semua tokoh yang nantinya akan
terlibat. Lumayan lambat dan bertele-tele sih diawalnya mungkin karena ingin
mengemukakan semua hal diawal sih sehingga sebuah perjalanan untuk mengaji saja
akan memakan 50 halaman. Tapi mungkin memang cerita ini harus bermula dari sini.
Pertemuan tokoh utama yaitu Fahri dengan Maria, seorang Qibti yang hafal surat
Maryam; dengan Alicia, wartawan Amerika yang karena dia Amerika tidak disukai di
Mesir, sehingga lupa dia adalah perempuan yang harus dihormati yang akan
menimbulkan konflik selama di Bus; dengan Aisha, wanita campuran Jerman dan Turki
yang kaya raya yang nantinya akan jadi istrinya; semua ingin dijabarkan diawal. Jujur
kejutannya sudah hilang, ketika semua tokoh perempuan muncul, hmm ini akan jadi cinta
segilima ketika tokoh Nurul, putri Kiai besar di Jawa dan Nourma, wanita yang ditolong
oleh tokoh utama, muncul.

        Naif dan sederhana bagiku, tapi entahlah ada sesuatu yang menarik hingga tak
bisa aku berhenti. Cerita mengalir indah, tapi mungkin karena penulis tahu anatomi
masyarakat Mesir, kelemahan dan harga dirinya, ini mirip sebuah sajian antropologi
Cliffort Geertz. Kita dibawa, seakan-akan menjelajahi sebuah masyarakat yang begitu
dekat dengan hidup kita. Pengetahuan hadis dan ayat Alqurannya, membuatku merasa
kecil hati, aku tak tahu apa-apa rupanya. Tapi yang tentang kesehatannya, hehe disini
boleh nyombong, banyak yang salah dalam buku ini.

        Ini tentang cinta, penuh, hampir satu buku. Tapi disini cinta itu terasa indah,
romantis tanpa harus sevulgar novel Indonesia sekarang. Tentang cinta yang disandarkan
pada Allah, dan Allah membalasnya dengan amat baik. (jadi ingat seorang teman, ketika
dia bilang hanya akan menikah dengan orang yang bisa mencintainya karena Allah).

        Ceritanya bergulir cepat. Fahri disini menjadi pria ideal. Dengan Alicia, wartawan
dari Amerika itu, ia mencoba menjawab semua pertanyaan tentang Islam itu apa. Ia
merangkum berbagai tulisan untuk menjawabnya. Dan setelah selesai, ia memberikan
tulisan itu pada Alicia yang nantinya akan menerbitkannya di Amerika. Dengan Maria,
gadis qibti itu, mereka berteman dengan sangat baik, Fahri berusaha menjadi tetangga
yang baik bagi keluarga Maria. Dan semua kebaikan itu, menimbulkan pesona yang
percikan apinya menyentuh hati Maria. Dengan Nourma, ia menjadi pahlawannya. Ialah
http://ekonomi.kabo.biz


yang berani untuk menjauhkan Nourma dari orang tuanya yang galak, mencari tahu jati
diri orang tua Nourma yang kemudian menyatukan Nourma dengan orang tua
kandungnya. Dengan Nurul, anak kiai besar di pulau Jawa, mereka tahu kemana akan
saling meminta tolong jika diperlukan. Simpati itu timbul, dan bagi Fahri sendiri, nama
Nurul mampu menggetarkan hatinya walaupun disatu sisi ia tahu ada perbedaan kufu dan
perasaan rendah dirinya. Dengan Aisha, ia terlihat luar biasa dimata Aisha, kefasihannya,
kedalaman agamanya dan kemuliaan akhlaknya memikat hati Aisha. Di sini cinta
bersemi, tetapi disini juga cinta menemukan pelabuhannya. Disini cinta tak menjadi
murahan yang diobral setiap saat ketika sesuatu belum jelas halalnya. Fahri memiliki
rencana dalam hidupnya. Ditahun itu ia berniat menikah, tetapi ia akan membiarkan
waktu mengalir dan biarkan Alloh yang menentukan takdirnya. Tiba-tiba Nurul
memintanya untuk menghubungi seorang kenalannya. Keterbatasan waktu Fahri
membuatnya tak bisa memenuhi dengan cepat. Disisi lain Fahri diminta guru ngajinya
untuk menikah dengan seorang yang memintanya yang dikemudian hari baru diketahui
bernama Aisha.

        Disini cinta menemukan jawabannya, tapi disini pula cinta menemukan
kesendiriannya. Menikah bukanlah sekedar mencari pilihan. Ia harusnya menjadi
pertimbangan objektif bukan subjektif. Kriteria disusun terlebih dahulu, baru pilihan tiba.
Seharusnya akal sehat yang bermain, sebab cinta lebih mudah tumbuh daripada karakter
pribadi. Setelah mengetahui siapa wanita itu, Fahri masuk kedalam suasana untuk lebih
mengetahui visi dan mimpi calon istrinya. Dan keajaiban cinta berbicara, tak ada satupun
yang menghalanginya. Maka Khitbah dilakukan dan waktu pernikahan ditentukan.

       Tetapi ada waktu yang tak pernah bisa diputar ulang. Kenalan Nurul datang
beberapa jam sebelum akad, dan menanyakan bersediakah Fahri menikahi Nurul. Sebuah
cobaan datang tepat dihari yang seharusnya bahagia itu. Kenapa terlambat? Kenapa hati
yang tergetar hanya tuk satu nama itu terlambat mengetahuinya? Siapa yang salah?
Pengecutkah Fahri dengan rasa rendah dirinya? Ada penyesalan hadir, andai waktu…
Tapi Fahri tak mungkin mundur, Fahri tak mungkin mengkhianati perjanjian yang sudah
dilakukannya. Tapi ternyata hati ini harus menangis.

         Ada banyak hati yang patah, ada banyak hati yang menyesali kenapa waktu tak
berpihak. Bagi Maria dan Nourma, pertanyaan yang tersisa adalah hanya menangisi yang
tersisa. Kenapa bertepuk sebelah tangan? Bagi Nurul, waktulah yang disesalinya. Kenapa
terlambat? Andai waktu bisa berputar balik. (sebuah pertanyaan dan permintaan yang
sama padaku terjadi beberapa waktu lalu). Tapi jodoh adalah urusan-Nya, bukan milik
kita. Lihatlah bagaimana mereka menyikapinya. Bagi Nurul, hidup harus berlanjut.
Menikah bukanlah sebuah urusan yang bisa ditunda. Cinta itu tetap ada, tapi menghadapi
realitas lebih penting lagi bagi jiwa matang yang menyandarkan cinta pada Sang Pemilik
cinta. Nurul menerima lamaran dari pria lain, dengan keyakinan bahwa cinta adalah
urusan-Nya, Dia akan menumbuhkan bunga lain ditaman hati jika Dia berkehendak. Bagi
Maria, ini adalah kepedihan. Maria sakit, koma, yang hanya terobati oleh Fahri. Atas
kebesaran jiwa Aisha, istri Fahri, Fahri akhirnya diizinkan menikah dengan Maria.
http://ekonomi.kabo.biz


       Sedangkan Nourma, ternyata ia hamil setelah diperkosa bapak angkatnya. Dan
cerita mengalir menuju klimaks ketika Nourma menuduh Fahri memperkosanya. Tapi
kebenaran itu milik Allah, jawaban itu pun muncul diakhir cerita. Fahri bebas, Nourma
mengakui kebohongannya adalah usaha agar Fahri mau menikah dengannya. Lalu cinta
itu apa? Pertanyaan itu masih tersisa dan mungkin kita punya jawabannya sendiri. Ia
adalah sebuah hal abstrak, karunia-Nya agar kita tahu arti dari kasih sayang itu, agar
hidup kita bisa selalu terpenuhi dengan senyum, ketika kebahagiaan itu muncul melihat
wajah saudaramu, kekasihmu atau orang tuamu. Bahkan udara ini pun bukti cinta-Nya
pada kita.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:44
posted:2/13/2013
language:
pages:4
Description: resensi novel ayat-ayat cinta, tugas untuk mata kuliah bahasa indonesia.