UMAR BIN KHATTAB

Document Sample
UMAR BIN KHATTAB Powered By Docstoc
					UMAR BIN KHATTAB




                                 "Ya Allah...buatlah Islam ini kuat dengan masuknya
                                 salah satu dari kedua orang ini. Amr bin
                                 Hisham atau Umar bin Khattab." Salah satu dari
                                 doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal
                                 penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan
                                 oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah
satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Ayahnya bernama
Khattab dan ibunya bernama Khatmah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-
otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta
warna kulitnya coklat kemerah-merahan.

Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau
merupakan khalifah kedua didalam islam setelah Abu Bakar As Siddiq.

Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin
Qarth bin Razah bin 'Adiy bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan
nasab Nabi pada kakeknya Ka'ab. Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek. lbu beliau
bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah memberi
beliau "kun-yah" Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua;
dan memberi "laqab" (julukan) al Faruq.

Umar bin Khattab masuk Islam
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya
dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan
perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa
menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari
setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-
sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-
Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya
sendiri- "Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy."
Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al
Qur'an bukan syair), lantas beliau berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun." Kemudian
beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan perkataan
dukun.) akhirnya beliau berkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan tetapi karena
kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka
beliau tetap memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud
membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al 'Adawi,
seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau
kemana wahai Umar?" Umar bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad."
Lelaki tadi berkata, "Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau
kamu membunuh Muhammad?" Maka Umar menjawab, "Tidaklah aku melihatmu melainkan
kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu." Tetapi lelaki tadi menimpali, "Maukah
aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesuugguhnya adik perampuanmu
dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini."

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an, surat Thaha
kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab
bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya.
Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, "Kami tidak sedang
membicarakan apa-apa." Umar bin Khattab menimpali, "Sepertinya kalian telah keluar dari
agama nenek moyang kalian." Iparnya menjawab, "wahai Umar, apa pendapatmu jika
kebenaran itu bukan berada pada agamamu?" Mendengar ungkapan tersebut Umar bin
Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu
mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal
melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, 'Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin
membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh
kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!" lantas Umar bin
Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca
surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan
Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya
dan berkata, "Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau
adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, 'Ya Allah, muliakan
Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.' Waktu itu,
Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa." Umar bin Khattab mengambil
pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah
seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu
rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul
Muthalib bertanya, "Ada apa kalian?" Mereka menjawab, 'Umar (datang)!" Hamzah bin
Abdul Muthalib berkata, "Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita
akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya
dengan pedangnya." Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. "...
Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin
Khattab." Dan dalam riwayat lain: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah
tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk
Islam. Abdullah bin Mas'ud berkomentar, "Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak
Umar bin Khattab masuk Islam."
Kepemimpinan Umar bin Khattab
Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam.
Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan
urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan
kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang
yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As
Siddiq.

Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh
besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya
kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak,
Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan
penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan
sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi
bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil
memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam
menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh
Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun
639, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium.
Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia
telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam
terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin
Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan
bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran
Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia.
Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah
terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian
timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus
dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu
diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya ilmu Umar
bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi
diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat
dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab
menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru,
seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai
kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang
melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan,
membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat
penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk
bagi peminum "khamr" (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang
dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.
Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang
pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi
kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin
Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan
tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung
ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya
berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian
sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”

Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang, Beliau berjanji tidak
akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang
memakannya…

Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif,
bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya
hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang
pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum'at hanya
menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa
tanggung jawabnya kepada Allah SWT. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah
mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar
urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah
mendapat ridha Nabi SAW. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah
bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.
Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau
bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi
kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu)
sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.



Wafatnya Umar bin Khattab
Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin
Kattab wafat, Beliau ditikam ketika sedang melakukan
Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu
Lu’luah, budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia
mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi
saw dan Abu Bakar as Siddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.
ABI BAKAR AS SIDDIQ
Abu Bakar As Siddiq ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya
yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian
diubah oleh Rasulullah Saw menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Abu
Bakar As Siddiq atau Abdullah bin Abi Quhafah (Usman) bin Amir bin Amru
bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr
al-Quraisy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi saw kakeknya Murrah bin
Ka’ab bin Lu’ai, kakek yang keenam. Dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya
bernama Salma binti Sakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim.
Nabi Muhammad Saw juga memberinya gelar As Siddiq (artinya 'yang berkata
benar'), sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar as-Siddiq.

Abu Bakar As Siddiq tumbuh dan besar di Mekah dan tidak pernah keluar dari
Mekah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Beliau memiliki harta kekayaan
yang sangat banyak dan kepribadian yang sangat menarik, memiliki kebaikan
yang sangat banyak, dan sering melakukan perbuatan-perbuatan yang terpuji.
Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Dughunnah, sesungguhnya engkau
selalu menyambung tali kasih dan keluarga, bicaramu selalu benar, dan kau
menanggung banyak kesulitan, kau bantu orang-orang yang menderita dan kau
hormati tamu.

An-Nawawi berkata: Abu Bakar As Siddiq termasuk tokoh Quraisy dimasa
Jahiliyah, orang yang selalu dimintai nasehat dan pertimbangannya, sangat
dicintai dikalangan mereka, sangat mengetahui kode etik dikalangan mereka.
Tatkala, Islam datang Abu Bakar As Siddiq mengedepankan Islam atas yang
lain, dan beliau masuk Islam dengan sempurna.

Zubair bin Bakkar bin Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ma’ruf bin Kharbudz dia
berkata: Sesungguhnya Abu Bakar As Siddiq adalah salah satu dari 10 orang
Quraisy yang kejayaannya dimasa Jahiliyah bersambung hingga zaman Islam.
Abu Bakar As Siddiq mendapat tugas untuk melaksanakan diyat (tebusan atas
darah kematian) dan penarikan hutang. Ini terjadi karena orang-orang Quraisy
tidak memiliki raja dimana mereka bisa mengembalikan semua perkara itu
kepada raja. Pada setiap kabilah dikalangan Quraisy saat itu, ada satu
kekuasaan umum yang memiliki kepala suku dan kabilah sendiri.

Istri-istri dan anak Abu Bakar.
Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abdul Uzza bin Abd bin As’ad pada
masa jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’.

Beliau juga menikah dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal
bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan
‘Aisyah.

Beliau juga menikah dengan Asma’ binti Umais bin ma’add bin Taim al-
Khatts’amiyyah, dan sebelumnya Asma’ diperistri oleh Ja’far bin Abi Thalib.
Dari hasil pernikahannya ini lahirlah bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut
terjadi pada waktu haji Wada’ di Dzul Hulaifah.

Beliau juga menikah dengan Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Zuhair dari
Bani al-Haris bin al-Khazraj.

Abu Bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah
dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam
dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh hingga Rasullullah
saw wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal
Rasulullah saw. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Khultsum.

Orang yang paling bersih di masa Jahilliyah
Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Aisyah, dia
berkata: demi Allah, Abu Bakar As Siddiq tidak pernah melantunkan satu
syairpun di masa Jahiliyah dan tidak pula dimasa Islam. Abu Bakar As Siddiq
dan Utsman bin Affan tidak pernah minum minuman keras di zaman Jahiliyah.


Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, dia berkata, Abu Bakar As
Siddiq sama sekali tidak pernah mengucapkan syair.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Al-Aliyyah Ar-rayahi, dia berkata:
Dikatakan kepada Abu Bakar As Siddiq ditengah sekumpulan sahabat
Rasulullah: Apakah kamu pernah meminum minuman keras di zaman
Jahiliyah? Beliau berkata, ”Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan itu!”

Sifat Abu Bakar As Siddiq
Ibnu Saad meriwayatkan dari Aisyah bahwa seorang laki-laki berkata
kepadanya: Coba sebutkan kepada saya gambaran tentang Abu Bakar As
Siddiq! Kata Aisyah: dia adalah laki-laki kulit putih, kurus, tidak terlalu lebar
bentuk tubuhnya,sedikit bungkuk, tidak bisa untuk menahan pakaiannya turun
dari pinggangnya, tulang-tulang wajahnya menonjol, dan pangkal jemarinya
datar.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar As Siddiq mewarnai
rambutnya dengan 'daun pacar' dan katam (nama jenis tumbuhan). Dia juga
meriwayatkan dari Anas, dia berkata, Rasulullah datang ke Madinah, dan tidak
ada salah seorang dari para sahabatnya yang beruban kecuali Abu Bakar As
Siddiq, maka dia menyemirnya dengan daun pacar dan katam.
Abu Bakar As Siddiq dilahirkan di Mekah dari keturunan Bani Tamim (
Attamimi ), suku bangsa Quraisy. Berdasarkan beberapa sejarawan Islam, ia
adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang
terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi.

Era bersama Nabi saw
Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia
juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang
mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan
terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara
para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan
sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong
Abu Bakar As Siddiq membebaskan para budak tersebut dengan membelinya
dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan. Sehingga diriwayatkan
bahwa Abu Bakar As Siddiq memiliki 9 toko yang semuanya habis dibuat untuk
tegaknya agama islam. Beberapa budak yang ia bebaskan antara lain :




         Ubays


Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah (622
M), Abu Bakar As Siddiq adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu
Bakar As Siddiq juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan.
Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat
setelah Hijrah.

Menjadi Khalifah
Selama masa sakit Rasulullah SAW saat menjelang ajalnya, dikatakan bahwa
Abu Bakar As Siddiq ditunjuk untuk menjadi imam shalat menggantikannya,
banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar As Siddiq akan
menggantikan posisinya. Segera setelah kematiannya (632), dilakukan
musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di
Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar As Siddiq
sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam.

Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan.
Penunjukan Abu Bakar As Siddiq sebagai khalifah adalah subyek yang sangat
kontroversial dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam, dimana
umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Di satu sisi kaum Syi'ah
percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu nabi Muhammad), yang
menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah SAW sendiri
sementara kaum sunni berpendapat bahwa Rasulullah SAW menolak untuk
menunjuk penggantinya. Kaum sunni berargumen bahwa Rasulullah
mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin. Sementara muslim
syi'ah berpendapat kalau Rasulullah saw dalam hal-hal terkecil seperti sebelum
dan sesudah makan, minum, tidur, dll, tidak pernah meninggalkan umatnya
tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terahir,
dan juga banyak hadits di Sunni maupun Syi'ah tentang siapa khalifah
sepeninggal Rasulullah saw, serta jumlah pemimpin islam yang dua belas.
Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum
tersebut, Ali bin Abu Thalib sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya
(berbai'at) kepada Abu Bakar As Siddiq dan dua khalifah setelahnya (Umar bin
Khattab dan Usman bin Affan). Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini
sebagai pernyataan yang antusias dan Ali bin Abu Thalib menjadi pendukung
setia Abu Bakar As Siddiq dan Umar bin Khattab. Sementara kaum syi'ah
menggambarkan bahwa Ali bin Abu Thalib melakukan baiat tersebut secara
"pro forma," mengingat beliau berbaiat setelah sepeninggal Fatimah istri beliau
yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan protes dengan
menutup diri dari kehidupan publik.

Perang Ridda
Segera setelah menjabat Abu Bakar As Siddiq, beberapa masalah yang
mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu
muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang
kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa diantaranya menolak
membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa
yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan
berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen
dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak
berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap
mereka yang dikenal dengan nama perang Ridda. Dalam perang Ridda
peperangan terbesar adalah memerangi "Ibnu Habib al-Hanafi" yang lebih
dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang
mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad SAW.
Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin
Walid.




Al Quran
Abu Bakar As Siddiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al
Quran. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan
Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal Al Qur'an yang ikut tewas
dalam pertempuran. Abu Bakar As Siddiq lantas meminta Umar bin
Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur'an. Setelah lengkap koleksi
ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang
terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah
tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh
Hafsah, anak dari Umar bin Khattab dan juga istri dari Nabi Muhammad SAW.
Kemudian pada masa pemerintahan Ustman bin Affan koleksi ini menjadi dasar
penulisan teks al Qur'an hingga yang dikenal hingga saat ini.

Abu Bakar As Siddiq meninggal pada tanggal 23 Agustus 634/ 8 Jumadil Awwal
13 H di Madinah pada usia 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya
dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan
di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam
Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam
liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar
bin Khattab, Usman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah.
                        Kisah   Ya'juj
                        Dan Ma'juj


Saat menjelang wafat, Nabi Nuh a.s memanggil anak-anaknya untuk menghadap
beliau. Maka Sam a.s segera datang menemuinya, namun kedua saudaranya tidak
muncul yaitu Ham dan Yafits. Akibat dari ketidakpatuhan Ham dan Yafits, Allah
kemudian menurunkan ganjaran kepada mereka. Yafits yang tidak datang karena
lebih memilih berdua dengan istrinya (berhubungan suami istri) kemudian melahirkan
anak bernama Sannaf. Kelak kemudian Sannaf menurunkan anak yang ganjil. Ketika
dilahirkan, keluar sekaligus anak-anak dalam wujud kurang sempurna. Selain itu
ukuran besar dan bobot masing-masing juga berbeda, ada yang fisiknya besar
sedangkan lainnya kecil. Untuk selanjutnya yang besar kemudian terus tumbuh hingga
melebihi ukuran normal (raksasa), sebaliknya yang bertubuh kecil terus kecil seperti
liliput. Mereka kemudian dikenal sebagai Ya’juj dan Ma’juj.

Selain wujudnya yang ganjil, Ya’juj dan Ma’juj mempunyai nafsu makan yang
melebihi normal. Padahal bilamana mereka makan tumbuhan tertentu maka
tumbuhan itu akan berhenti tumbuh sampai kemudian mati. Demikian pula bila
minum air dari suatu tempat maka airnya tidak akan bertambah lagi. Sehingga banyak
sumber-sumber air dan sungai menjadi kering karenanya. Masyarakat di sekitar
mereka pun harus menanggung dampaknya yaitu krisis pangan dan air.

Karena interaksi sosial yang tidak kondusif akibat masalah yang dibawa oleh Ya’juj
dan Ma’juj ini maka mereka kemudian cenderung mengisolasi diri di suatu celah
gunung di tengah-tengah komunitas induk bangsa-bangsa keturunan Yafits lainnya,
yang antara lain meliputi bangsa: Armenia, Rusia/Slavia, Romawi dan Turk di
wilayah-wilayah luas seputar Laut Hitam. Namun bilamana mereka membutuhkan
makan dan minum, akan keluar secara serentak bersama-sama ke daerah-daerah
sekitarnya yang masih belum tersentuh oleh mereka sebelumnya. Karena kondisi
fisiknya, mereka mampu menempuh perjalanan jauh dalam waktu relatif lebih pendek
dibandingkan oleh manusia normal. Bagi golongan raksasa karena mereka mampu
melangkah dengan jangkauan lebar sedangkan golongan liliput adalah karena
sedemikian ringan bobotnya terhadap gravitasi bumi sehingga bila berjalan sangat
cepat seperti meluncur bersama angin.

Pada puncak keresahan masyarakat pada masa itu, Allah SWT kemudian mengutus
salah satu hambaNya yang berkulit kehitaman (tetapi bukan termasuk ras negro)
dengan dua benjolan kecil (tidak bertulang tanduk) di kedua sisi keningnya yang
sebenarnya lebih sering tak tampak karena tertutupi oleh surbannya yaitu Nabi Dzul
Qarnain a.s untuk menghadang laju Ya’juj dan Ma’juj yang telah menimbulkan
kerusakan alam yang akan terus bertambah luas.

"Berilah Aku potongan-potongan besi," hingga apabila besi itu telah sama rata dengan
kedua puncak gunung itu, berkatalah dzulqarnain,"Tiuplah (api itu)," Hingga apabila
besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata,"Berilah aku tembaga (yang
mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu." -Al Kahfi: 96-

Sesuai petunjuk Allah, Nabi Dzul Qarnain a.s kemudian mengajak masyarakat di
sekitar lokasi tempat tinggal Ya’juj dan Ma’juj untuk bersama-sama membuat dinding
tembaga dan besi yang akan menutup satu-satunya lubang keluar masuk mereka.
Setelah selesai, masyarakat yang sebelumnya tinggal di dekat dinding diajak untuk
meninggalkan lokasi yang sudah kering tanpa air dan tumbuhan tersebut menuju ke
tempat lain yang lebih layak untuk di huni.

"Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya." -
Al Kahfi: 97-

Ya’juj dan Ma’juj yang telah terkurung terus berupaya membuka dinding logam
tersebut dengan segala cara, bahkan dengan menjilatinya karena mereka tahu bahwa
benda apapun yang mereka sentuh dengan mulutnya akan berhenti
tumbuh/bertambah, kering atau tergerus. Cara ini mampu membuat bagian-bagian
dinding yang mereka sentuh menjadi tipis. Namun setiap kali akan berlubang, Allah
mengembalikan lagi kondisinya seperti semula. Untuk bertahan hidup selama
terkurung di balik dinding, Allah menumbuhkan sejenis lumut, sebagai satu-satunya
tumbuhan yang dapat terus tumbuh dan justru makin bertambah banyak setiap kali
dimakan oleh masyarakat Ya’juj dan Ma’juj.

"Dzulqarnain berkata,"Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila
sudah datang janji Tuhanku. Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji
Tuhanku        itu       adalah        benar."      -Al      Kahfi:      98-

Allah SWT juga mewahyukan kepada Nabi Dzul Qarnain a.s bahwa dinding itu akan
terjaga dan baru akan terbuka bila saatnya tiba yaitu kelak menjelang datangnya Hari
Kiamat. Kemudian Allah menjadikan gaib (tidak terlihat) lokasi dinding tersebut.

"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan
cepat dari seluruh tempat yang tinggi." -Al Anbiyaa: 96-

Mereka berusaha untuk keluar dengan berbagai cara, hingga sampai saat matahari
akan terbenam mereka telah dapat membuat sebuah lobang kecil untuk keluar. Lalu
pemimpinnya berkata,'Besok kita lanjutkan kembali pekerjaan kita dan besok kita
pasti bisa keluar dari sini." Namun keesokkan harinya lubang kecil itu sudah tertutup
kembali seperti sedia kala atas kehendak Allah. Mereka pun bingung tetapi mereka
bekerja kembali untuk membuat lubang untuk keluar. Demikian kejadian tersebuat
terjadi berulang-ulang. Hingga kelak menjelang Kiamat, di akhir sore setelah membuat
lubang kecil pemimpin mereka berkata,“InsyaAllah, Besok kita lanjutkan kembali
pekerjaan kita dan besok kita pasti bisa keluar dari sini.” Maka keesokan paginya
lubang kecil itu masih tetap ada, kemudian terbukalah dinding tersebut sekaligus
kegaibannya dari penglihatan masyarakat luar sebelumnya. Dan Kaum Ya’juj dan
Ma’juj yang selama ribuan tahun terkurung telah berkembang pesat jumlahnya akan
turun bagaikan air bah memuaskan nafsu makan dan minumnya di segala tempat yang
dapat mereka jangkau di bumi.

Pada saat Ya'juj dan Ma'juj menyerang pada saat mendekati kiamat nanti dan saat itu
masyarakat muslim termasuk Nabi Isa a.s yang telah terpojok di sebuah gunung (tur).
Nabi Isa dan Umat muslim lalu bersama-sama berdoa kepada Allah agar terhindar
dari masalah akibat perbuatan Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian Allah SWT
memerintahkan ulat-ulat yang tiba-tiba menembus keluar dari tengkuk Ya’juj dan
Ma’juj yang langsung mengakibatkan kematian mereka secara serentak. WaAllahu
'Alam.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: UMAR, KHATTAB
Stats:
views:40
posted:2/13/2013
language:
pages:12
Description: UMAR BIN KHATTAB