Docstoc

Kustamar ITN Malang B(3)3

Document Sample
Kustamar ITN Malang B(3)3 Powered By Docstoc
					                                         
Nomor 9 Volume V Januari 2007                                       ISSN 1693-0134
                                                                                     
                                                                                      

                                                                  


               
               




                       Uji Kemampuan Clarifier Thickener
             dalam Menurunkan Kadar BOD dan P04 pada Limbah Tahu
                             Hery Setyobudiarso

                        Studi Kelayakan Investasi Jalan Tol
                           Segmen Lawang-Purwosari
                              Kamidjo Rahardjo

                   Penanggulangan Erosi Lahan dan Sedimentasi
                         dengan Bangunan Dam Penahan
                     pada Sub DAS Lesti di Kabupaten Malang
                                  Erni Yulianti

                          Studi Pengembangan Bus Kota
                                  Malang Raya
        Agung Witjaksono ; Bevi Agusti Tulak ; Hermelinda F. Letto

            Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan
                terhadap Koefisien Pengaliran dan Hidrograf Satuan
                        Ibnu Hidayat P.J. ; Kustamar

                       Studi Ketelitian Kualitas Geometrik
                         Citra Ikonos Ortho Rektifikasi
                      Menggunakan Data DEM Skala 1:1000
                          Joannes Pradono De Deo




    
PETUNJUK UMUM BAGI PENULIS                          Nomor 9 Volume V Januari 2007
                                                                 ISSN 1693-0134
• Spectra merupakan Jurnal Ilmiah
  Populer Fakultas Teknik Sipil
  dan Perencanaan ITN Malang
                                                                                     
  memuat karangan asli dari para
  penyumbang baik dari dalam
                                          
                                          
  maupun dari luar lingkungan                 
  fakultas.                                   
• Karangan dapat ditulis bahasa
  Indonesia maupun dalam bahasa                                    
  Inggris.                                                     Pembina
• Semua grafik, peta dan gambar                       Dekan FTSP ITN Malang
  lain yang diperlukan dalam                                    
  karangan disebut gambar dan diberi               Pemimpin Umum / Penanggungjawab
                                                         Dr. Ir. Kustamar, MT.
  nomor dengan simbol angka Arab
                                                                     
  diikuti judul.                                          Redaktur Pelaksana
• Semua tabel dan daftar yang                         Ir. Y. Setyo Pramono, MT.
  diperlukan dalam karangan disebut                                 
  tabel dan diberi nomor dengan                              Staf Redaksi
                                                        Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT.
  simbol angka Arab diikuti judul yang                Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT.
  ditulis di atas setiap tabel.                    Dr. Ir. Hery Setyobudiarso, MSc.
• Semua foto dalam karangan tetap                      Ir. Ibnu Hidayat P.J., MT.
  disebut foto dan diberi nomor dengan                  Ir. Nusa Sebayang, MT.
  simbol angka Arab diikuti judul yang                Ir. J. Pradono de Deo, MT.
  ditulis di bawah setiap foto.                                      
                                                            Alamat Redaksi
                                                    Gedung FTSP Lt. II ITN Malang
HAK DEWAN REDAKSI                                 Jl. Bend. Sigura-gura No. 2 Malang
                                                   Telepon: (0341) 551431 Pes. 212
                                                       Facsimile: (0341) 553015
• Dewan Redaksi berhak menolak                       E-mail: spectra@ftsp.itn.ac.id
  suatu karangan yang kurang
  memenuhi syarat setelah meminta
  pertimbangan para pembina atau
  tenaga ahli.                                Spectra mengupas keilmuan bidang
• Dewan redaksi dapat menyesuaikan            teknik sipil dan perencanaan dari
  bahasa dan atau istilah tanpa               segala s is i. Dengan keinginan
  mengubah isi dan pengertiannya              untuk terbit rutin secara berkala
  dengan tidak memberi tahu kepada            se tiap tengah wa rsa , m aka
  Penulis, apabila dipandang perlu            pengembangan wacana ilmiah
  untuk mengubah isi karangan.                kami akan tetap terjaga. Semoga
• Karangan yang dimuat dalam jurnal           penampilan S p e c t r a senantiasa
  ini menjadi hak Fakultas Teknik Sipil       memuaskan Pembaca yang budiman.
  dan Perencanaan ITN Malang,
  sehingga penerbitan kembali oleh
  siapapun harus meminta Ijin Dewan           Spectra 
  Redaksi.                                                         
                                                         
                                       
                                       
                     
                     


                                
                                       

                     Nomor 9 Volume V Januari 2007




Uji Kemampuan Clarifier Thickener
dalam Menurunkan Kadar BOD dan P0 4 pada Limbah Tahu
Hery Setyobudiarso                                                  1

Studi Kelayakan Investasi Jalan Tol
Segmen Lawang-Purwosari
Kamidjo Rahardjo                                                   16

Pengembangan Konservasi Lahan
Terhadap Erosi Parit/Jurang (Gully Erosion)
pada Sub DAS Lesti di Kabupaten Malang
Erni Yulianti                                                      25

Studi Pengembangan Bus Kota
Malang Raya
Agung Witjaksono, Bevi Agusti Tulak, dan Hermelinda F. Letto       33

Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan
terhadap Koefisien Pengaliran dan Hidrograf Satuan
Ibnu Hidayat P.J. dan Kustamar                                     50

Studi Ketelitian Kualitas Geometrik Citra Ikonos
Hasil Ortho Rektifikasi
Menggunakan Data DEM Skala 1:1000
Pradono Joanes De Deo                                              65
                                     Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



      UJI KEMAMPUAN CLARIFIER THICKENER DALAM
   MENURUNKAN KADAR BOD DAN PO4 PADA LIMBAH TAHU

                             Hery Setyobudiarso
                    Dosen Teknik Lingkungan FTSP ITN Malang



                                ABSTRAKSI

     Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu mempunyai beban
     pencemar yang cukup tinggi. Parameter yang dapat digunakan untuk
     mengetahui tingkat pencemaran tersebut adalah Biological Oxygen
     Demand (BOD) dan Fosfat (PO4). Salah satu alternatif untuk
     menurunkan kandungan pencemar dari limbah tahu adalah dengan
     cara penjernihan dengan prinsip sedimentasi (pengendapan). Alternatif
     pengembangan tersebut adalah dengan penggunaan alat pengendap
     tipe clarifier thickener dan menggunakan koagulan PAC untuk
     meningkatkan efisiensi pengolahan limbah tahu.
     Alat clarifier thickener yang dipakai memiliki variasi konsentrasi
     koagulan PAC 400-500-600-700 ppm dan waktu pengadukan 6-9-12-15
     menit dengan proses koagulasi flokulasi. Metode analisa untuk
     mengetahui besar konsentrasi BOD menggunakan titrasi; untuk
     mengetahui konsentrasi PO4 digunakan pembacaan spektrofotometer,
     serta untuk mengetahui perbedaan antara berbagai variasi percobaan
     melalui analisa statistik dengan uji anova, korelasi, dan regresi.
     Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosentase penyisihan
     konsentrasi BOD yang paling rendah adalah pada konsentrasi PAC 400
     ppm dengan waktu pengadukan 6 menit dan prosentase penyisihan
     yang paling tinggi adalah pada konsentrasi PAC 700 ppm dengan
     waktu pengadukan 15 menit. Persentase penyisihan konsentrasi PO4
     yang paling rendah adalah pada konsentrasi PAC 400 ppm dengan
     waktu pengadukan 6 menit dan persentase penyisihan yang paling
     tinggi adalah pada konsentrasi PAC 700 ppm dengan waktu
     pengadukan 15 menit.

     Kata Kunci : Clarifier Thickener, Limbah Tahu, BOD dan PO4.




PENDAHULUAN
Latar Belakang
     Air limbah adalah air buangan dari suatu lingkungan masyarakat. Air
limbah ini dapat berasal dari limbah domestik, industri, pertanian, dan lain
sebagainya. Di dalam air buangan tersebut banyak terkandung parameter-
parameter seperti BOD, COD, TSS, minyak, lemak, dan sebagainya.


                                                                                       1
Spectra                                         Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



Apabila parameter-parameter tersebut keberadaannya melebihi ambang
batas atau melebihi dari baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan, maka
dapat menimbulkan pencemaran pada badan air penerima yang dapat
menyebabkan timbulnya bau busuk atau berkurangnya nilai estetika dan
gangguan kesehatan pada manusia.
       Tahu yang merupakan hasil produksi industri rumah tangga
merupakan makanan sehari-hari bagi kebanyakan masyarakat Indonesia,
semakin hari semakin banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan
meningkatnya konsumsi tahu oleh masyarakat dapat mengakibatkan
kontinuitas limbah industi tahu menjadi semakin meningkat juga. Disisi lain,
dalam proses produksi tahu juga berdampak negatif, yaitu adanya limbah
cair yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Pencemaran
tersebut akan mulai terasa apabila laju pertumbuhan industri tidak seiring
dengan penataan lingkungan. Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu
mempunyai beban pencemar yang cukup tinggi. Limbah cair industri tahu
yang biasanya memiliki kandungan organik tinggi harus ditangani secara
serius karena dapat menimbulkan dampak atau masalah pencemaran
lingkungan apabila dibuang langsung ke lingkungan, terutama badan air di
sekitar lokasi industri atau tanpa melalui pengolahan limbah cair untuk
menurunkan kandungan organiknya terlebih dahulu
       Penjernihan adalah proses memisahkan material tidak larut dari air.
Penjernihan dapat diaplikasikan untuk penanganan limbah air industrial,
membuang padatan dari air lumpur limbah aktif. Karena luasnya pemakaian
dan pentingnya air yang memenuhi syarat yang aman untuk digunakan
sesuai peruntukannya, maka perlu dicari pengembangan cara penjernihan
dengan prinsip sedimentasi agar didapatkan sistem penjernihan air yang
efektif dan efisien. Salah satu alternatif pengembangan tersebut adalah
dengan penggunaan alat pengendap tipe clarifier thickener.

Rumusan Masalah
     1. Bagaimanakah kemampuan alat clarifier thickener dalam
        menurunkan kadar BOD dan PO4 yang terdapat dalam limbah tahu?
     2. Adakah perbedaan penurunan nilai BOD dan PO4 pada pemakaian
        PAC dengan konsentrasi dan waktu pengadukan yang berbeda?

Tujuan Penelitian
     Penelitian ini bertujuan untuk:
     1. Mengetahui kemampuan alat clarifier thickener dalam menurunkan
        kadar BOD dan PO4 yang terdapat dalam limbah tahu.
     2. Mengetahui perbedaan penurunan kadar BOD dan PO4 dengan
        variasi konsentrasi PAC dan waktu pengadukan.




                                                                                 2
                                     Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



Manfaat Penelitian
     1. Dapat memberikan tambahan alternatif dan pengetahuan baru
        mengenai proses penurunan BOD dan PO4.
     2. Merupakan suatu teknologi tepat guna untuk mengolah dan
        menurunkan kadar BOD dan PO4 yang terdapat dalam limbah tahu,
        sehingga dapat memenuhi standar baku mutu air buangan.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Air Limbah
      Menurut Sugiharto (1987) air buangan/limbah (wastewater) adalah
kotoran dari masyarakat dan rumah tangga, termasuk dari industri, air tanah,
air permukaan, serta air buangan lainnya. Dengan demikian, air buangan ini
merupakan hal yang bersifat kotoran umum. Menurut Metcalf dan Eddy
(1984) air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah-sampah cair
yang berasal dari daerah permukiman, perkantoran, perdagangan, dan
industri bersama-sama dengan air tanah dan air hujan yang mungkin ada.
      Air limbah mengandung berbagai mikroorganisme patogen dan
penyebab penyakit pada manusia. Disamping itu, air limbah juga
mengandung senyawa-senyawa beracun yang dapat membahayakan
kehidupan dan kelestarian lingkungan. Untuk alasan tersebut, pemisahan
secara cepat dan tepat diikuti dengan pengelolaan dan pengolahan serta
pembuangan adalah hal yang sangat penting dalam masyarakat, baik
masyarakat umum maupun masyarakat industri.

Prinsip Pengolahan Air Limbah
      Pengolahan air limbah adalah proses yang dilakukan terhadap limbah
mulai masuk hingga keluar yang merupakan serangkaian perlakuan guna
menurunkan bahan pencemarnya. Untuk hal itu, diperlukan suatu instalasi
pengolahan dan proses yang dapat menghilangkan dan/atau menurunkan
kandungan zat pencemar tersebut. Unit operasi dan proses serta sistem
pengolahan air limbah berguna untuk menyisihkan zat pencemar utama
yang terdapat dalam air limbah. Metode pengolahan yang paling tepat
digunakan untuk air limbah industri tertentu sangat bergantung pada
kandungan dan beban bahan polutan sekaligus sifat-sifatnya, baik sifat fisik,
kimiawi, maupun biologis. Pemilihan metode yang tepat tersebut
dimaksudkan agar proses pengolahan air limbah nantinya dapat efektif dan
efisien.
      Sesuai dengan tujuan utama pengolahan air limbah, yaitu untuk
mengurangi bahan-bahan cemaran hingga pada tingkat yang memenuhi
baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh Pemerintah, maka diharapkan air
limbah dapat dibuang secara aman tanpa menimbulkan pencemaran pada
badan air penerima.


                                                                                       3
Spectra                                        Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



Bahan Produksi Tahu
      Tahu merupakan makanan yang terbuat dari bahan baku kedelai dan
prosesnya masih sederhana serta terbatas pada skala rumah tangga. Tahu
juga dapat diartikan sebagai hasil olahan dari ekstrak kedelai yang
diperlakukan dengan kalsium sulfat atau batu tahu juga bisa dengan asam
asetat (asam cuka). Bahan-bahan yang digunakan untuk proses produksi
tahu antara lain (1) kedelai yang merupakan bahan pokok paling mutlak
untuk produksi tahu; (2) air yang biasanya digunakan untuk mendapatkan
sari kedelai, selain digunakan pula untuk perendaman, pencucian,
penggilingan, perebusan, penyaringan, dan penggumpalan; serta (3)
pengawet tahu yang pada umumnya dilakukan dengan cara merendam
dalam air atau dengan merebus, walaupun ada pula yang diawetkan dengan
kunyit sambil memberi warna kuning dengan bahan kimia tertentu.

Proses Produksi Tahu
      Pembuatan tahu pada prinsipnya dengan cara mengekstraksi protein,
kemudian mengumpulkannya, sehingga terbentuk padatan protein. Adapun
urutan proses produksi tahu, antara lain:

       Perendaman dan Pencucian
       Pekerjaan awal dalam pembuatan tahu adalah memilih kedelai.
Kedelai yang baik adalah kedelai yang baru atau belum tersimpan lama di
gudang. Kedelai yang baru dapat menghasilkan tahu yang baik (aroma dan
bentuk). Pada umumnya para pengrajin mendapatkan kedelai dari koperasi,
disamping dari pasar bebas. Kedelai yang digunakan biasanya berwarna
kuning, putih, atau hijau dan jarang menggunakan jenis kedelai yang
berwarna hitam.
       Setelah kedelai tersedia, selanjutnya direndam dalam air bersih
selama ± 3 jam. Lama perendaman ini masing-masing pengrajin mempunyai
kebiasaan tersendiri, dimana ada yang merendam sampai 4 jam. Untuk
setiap 100 kg kedelai direndam dalam air bersih sebanyak 250 liter dan 200
liter air rendaman dibuang sebagai limbah cair. Selanjutnya kedelai hasil
rendaman dicuci dengan air bersih sebanyak 400 liter untuk menghilangkan
kotoran yang masih menempel pada kedelai. Air bekas cucian tersebut
seluruhnya dibuang sebagai limbah cair.

     Penggilingan
     Setelah kedelai direndam dan dicuci bersih, selanjutnya dilakukan
penggilingan. Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin,
karena lebih memperhalus hasil gilingan. Pada saat penggilingan, diberi air
mengalir agar bubur kedelai terdorong keluar. Air yang digunakan untuk
proses penggilingan sebanyak ± 400 liter untuk 100 kg kedelai. Kerapatan


                                                                                4
                                    Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



atau renggangnya batu gilingan dapat mempengaruhi rendaman tahu. Hasil
dari proses penggilingan berupa bubur kedelai.

      Perebusan
      Bubur kedelai yang telah terbentuk kemudian diberi air ± 200 liter
untuk 100 kg kedelai, selanjutnya dididihkan dalam tungku pemasakan
dengan menggunakan uap panas bertekanan yang dihasilkan dari ketel uap.
Sebagai bahan bakar ketel uap digunakan kayu. Setelah mendidih sampai 5
(lima) menit kemudian dilakukan penyaringan.

      Penyaringan dan Penggumpalan
      Dalam keadaan panas cairan bahan baku tahu disaring dengan kain
blaco sambil dibilas air hangat ± 400 liter untuk 100 kg kedelai, sehingga
susu kedelai dapat terekstrak keluar semua. Ampas padat yang terpisah
ditempatkan agak jauh dari proses pembuatan tahu agar tahu tidak
terkontaminasi dengan barang yang kotor. Filtrat cair hasil penyaringan yang
diperoleh kemudian ditampung dalam bak. Filtrat dalam keadaan hangat
secara pelan-pelan diaduk sambil diberi asam (catu) sebanyak ± 350 liter.
Air asam (catu) berasal dari sisa penggumpalan tahu. Pemberian air asam
dihentikan apabila proses terlihat penggumpalan. Selanjutnya dilakukan
penyaringan kedua. Jumlah limbah cair yang terjadi pada proses
penyaringan kedua ini ± 350 liter.

      Pencetakan dan Pemotongan
      Cairan bening di atas gumpalan tahu dibuang sebagian dan sisanya
untuk air asam. Gumpalan tahu kemudian diambil dan dituangkan ke dalam
cetakan kayu yang sudah tersedia dan dialasi dengan kain dan diisi penuh.
Selanjutnya kain ditutupkan ke seluruh gumpalan tahu dan dipres. Semakin
berat benda yang dipergunakan untuk mengepres semakin keras tahu yang
dihasilkan. Setelah dirasa cukup dan tahu sudah dingin, kemudian dipotong-
potong sesuai dengan keinginan konsumen di pasar. Untuk setiap 1,8 kg
kedelai menghasilkan 5,5 kg tahu dengan kadar air 85% atau setiap 1 kg
kedelai dapat menghasilkan 20 potong tahu dengan ukuran 5x5x5 cm. Pada
proses pencetakan terjadi air limbah ± 250 liter untuk setiap 100 kg bahan
baku kedelai.

Pengendapan dalam Clarifier
       Dalam clarifier dengan aliran vertikal, slurry akan bergerak ke atas,
sedangkan flok akan bergerak ke bawah untuk mengendap. Air akan
menempuh jarak setinggi bagian silinder dalam waktu tinggal rata-rata.
Kecepatan aliran air ke atas menuju overflow dapat dinyatakan sebagai laju
alir per satuan luas efektif, seperti yang terlihat pada persamaan (1)


                                                                                      5
Spectra                                                    Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



                                      Π 2
                      S0    =   Q/      de …………………………. (1)
                                      4
               Dimana : Q            = laju alir air dan koagulan (cm3/dt)
                                       d 2 − d12
                                         2
                        de           =           (cm)
                                           d1
                        d1           = diameter well cone reactor (cm)
                        d2           = diameter clarifier (cm)

Waktu tinggal rata-rata air adalah volume clarifier dibagi dengan laju alirnya
dan dinyatakan dalam persamaan (2)

                      T0 =           V / Q…………………………….. (2)
               Dimana : T0           = waktu tinggal rata-rata (dt)
                         V           = volume clarifier (cm3)
                         Q           = laju alir air dan koagulan (cm3/dt)

Agar flok dapat mengendap, maka kecepatan pengendapannya harus lebih
besar dari kecepatan air bergerak ke atas. Selisih kecepatan pengendapan
flok dengan kecepatan air bergerak ke atas merupakan kecepatan flok
mengendap didalam clarifier yang sebenarnya. Untuk dapat mengendapkan
seluruh flok, maka waktu tinggal didalam rata-ratanya dinyatakan dalam
persamaan (3).
                                    L
                      Ts =                 ………………………….. (3)
                                 (s − s0 )
               Dimana : Ts      = waktu tinggal rata-rata flok untuk mengendap (dt)
                         L      = tinggi bagian silinder (cm)
                         S      = kecepatan flok secara bebas (cm/dt)
                         S0     = kecepatan overflow rata-rata (cm/dt)

Selain kecepatan dan waktu tinggal rata-rata flok, jenis aliran dalam bagian
silinder harus laminar seperti yang terlihat pada persamaan (4). Aliran
laminar akan memberikan kesempatan flok yang terbentuk untuk
mengendap sebab kecepatan aliran slurry ke atas masih dapat dilawan oleh
kecepatan flok yang mengendap.

                      NRe =            ρ.de.υ / μ ………………………. (4)
               Dimana : NRe          = Bilangan Reynold
                         ρ           = densitas slurry (gr/cm3)
                         de          = diameter ekivalen (cm)
                         υ           = kecepatan slurry (cm/dt)
                         μ           = viskositas slurry (gr/dt)




                                                                                            6
                                          Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



METODOLOGI PENELITIAN
Pengumpulan dan Pengolahan Data
      Populasi adalah totalitas semua nilai, baik itu menghitung maupun
mengukur, kuantitatif maupun kualitatif dari karakteristik tertentu mengenai
sekumpulan obyek yang lengkap dan jelas. Sedangkan sampel adalah
sebagian data yang diambil dari populasi dengan menggunakan cara-cara
tertentu.

Metode Statistik
     Untuk keperluan perhitungan hasil penelitian berupa data kuantitatif ini
digunakan beberapa rumus statistik:

     Rata-rata hitung
     Rumus yang digunakan adalah:

           −    ∑X
          X =
                 n
     Dimana :
      −
      X = Rata – rata hitung dari sampel
     ΣX = Total jumlah sampel
     n  = Banyaknya sampel

     Standart Deviasi
     Rumus yang digunakan adalah:


           S=
                    (     )
                   n ∑ X 2 − (∑ X )
                                      2


                        n(n − 1)

     Dimana :
     S = Standart deviasi yang dicari
     ΣX = Jumlah semua harga X yang ada
     n = Jumlah pengukuran yang telah dilakukan

Pengujian Keseragaman Data
      Pengujian keseragaman data perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum
dilanjutkan pengolahan data, data disini akan diuji apakah data yang
terkumpul seragam dan selanjutnya mengidentifikasikan data yang ekstrim.



                                                                                            7
Spectra                                                 Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



      Data ekstrim yang dimaksud adalah data yang terlalu besar atau data
yang terlalu kecil dan jauh menyimpang dari trend rata-ratanya. Data yang
ekstrim tidak digunakan perhitungan selanjutnya. Untuk memudahkan
pengujian maka digunakan peta kontrol dengan contoh sebagai berikut :

     Xn
     X1                                   BKA
     X                                            X
     X2                                           BKB


            1               2             4                  6              8
                                    Gambar 1.
                                   Peta Kontrol


     Rumus yang digunakan untuk menentukan batas kontrol atas (BKA)
dan batas kontrol bawah (BKB) adalah sebagai berikut:
                −
     BKA = X        + K.S
                −
     BKB = X – K.S

     Dimana:
       −
      X = Hasil rata-rata Pengukuran
     S     = Standart Deviasi dari hasil pengukuran
     K     = Indeks (bergantung dari tingkat kepercayaan yang diambil)
             untuk tingkat kepercayaan 95%, nilai K = 2

Pengolahan Data Secara Statistik
      Untuk mengolah data kuantitatif dibutuhkan beberapa tahapan, yaitu
analisis derajat hubungan antar variabel, uji statistik, dan uji beda dengan
penggunaan analisa varians. Teknik statistik yang digunakan adalah
sebagai berikut:

     Koefisisen Korelasi
       Koefisien Korelasi adalah indeks atau bilangan yang digunakan untuk
mengukur derajat hubungan, meliputi kekuatan hubungan dan bentuk/arah
hubungan. Untuk kekuatan hubungan, nilai koefisien korelasi berada -1 dan
+1. Untuk bentuk/arah hubungan, nilai koefisien korelasi dinyatakan dalam
positif (+) dan negatif (-), atau (-1 ≤ KK ≤ + 1), dimana:
        Jika koefisien korelasi bernilai positif, maka variabel-variabel
          berkorelasi positif. Artinya jika variabel yang satu naik/turun, maka

                                                                                         8
                                       Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



       variabel yang lainnya juga naik/turun. Semakin dekat nilai koefisien
       korelasi ke +1, maka semakin kuat korelasi positifnya.
      Jika koefisien korelasi bernilai negatif, maka variabel-veriabel
       berkorelasi negatif. Artinya jika variabel yag satu naik/turun, maka
       variabel yang lainya akan turun/naik. Semakin dekat nilai koefisien
       korelasi -1, maka semakin kuat korelasi negatifnya.
      Jika koefisien korelasi     bernilai 0 (nol), maka variabel tidak
       menunjukkan korelasi.
      Jika koefisien korelasi bernilai +1 atau -1, maka variabel-variabel
       menunjukkan korelasi positif atau negatif sempurna.

      Proses untuk memperoleh koefisien korelasi ini disebut sebagai
ukuran asosiasi. Oleh karena jenis data adalah kuantitatif dan bersifat
interval, maka dipilih rumus koefisien korelasinya adalah Koefisien Korelasi
Pearson.

                 n ∑ XY − ∑ X − ∑ Y
      r=
            ( n ∑ X − (∑ X ))(n ∑ Y − (∑ Y ))

     Dimana :
     r = koefisien korelasi Pearson,
     X = variabel bebas
     Y = variabel terikat

      Uji Statistik Koefisien Korelasi untuk mengetahui signifikan atau
tidaknya hubungan antar variabel tersebut adalah:

      Untuk sampel kecil (n≤30), menggunakan uji t.

                n−2
         t =t              dengan db = n-2
                1− r

      Untuk sampel kecil (n≤30), menggunakan uji z

         z= r
                1/ n − 1

     Regresi
     Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga digunakan untuk
mengukur ada atau tidaknya korelasi antar variabel. Analisis regresi ini lebih
akurat dibanding dengan analisis lainnya karena pada analisis ini kesulitan



                                                                                         9
Spectra                                                  Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



dalam menunjukkan slope (tingkat perubahan suatu variabel terhadap
variabel lainnya) dapat teratasi. Digunakan rumus sebagai berikut:

     a. Regresi Linier Sederhana
          Y = a + bX
          Keterangan:
          Y = variabel terikat (variabel yang diduga),
          X = variabel bebas,
          a = intersep
          b = koefisien regresi (slop)

          Untuk melihat bentuk korelasi antar variabel dengan persamaan
          regresi tersebut, maka nilai a dan b harus ditentukan terlebih
          dahulu.

               n ∑ XY − (∑ X ) − (∑ Y )
          b=
                    ∑ X − (∑ X )

               ∑ Y − b. ∑ X
          a=
                    n

          Uji Statistik regresi linier sederhana bagi koefisien korelasi b
          menggunakan uji statistik F dengan rumus:

                  b. ∑( X − X )
             F=
                        Se

          Keterangan :
          Y = variabel terikat (variabel yang diduga),
          X = variabel bebas,
          Se = kesalahan baku regresi

     b. Regresi Linier Berganda
           Y = a + b1X 1 + b 2 X 2

          Keterangan :
          Y         = variabel terikat (variabel yang diduga),
          X1 dan X2 = variabel bebas I dan II,
          a         = intersep
          b1 dan b2 = koefisien regresi (slop)



                                                                                         10
                                           Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



        Nilai a dan b harus ditentukan terlebih dahulu dengan rumus:

             n ∑ XY − (∑ X ) − (∑ Y )
        b=
                  ∑ X − (∑ X )

             ∑ Y − b. ∑ X − b. ∑ X
        a=
                       n

        Uji Statistik regresi linier sederhana:

         Untuk uji hipotesis serentak menggunakan uji F yaitu:

                 RKreg ( RKR )
           F=
                 RKres ( RKE )

           Keterangan :
           Rkreg = rata-rata kuadrat regresi
           Rkres = rata-rata kuadrat residu (error)

         Untuk uji hipotesis individual menggunakan uji t, yaitu:

                bi − Bi
           t=           , i = 1,2,3,....
                  Sbi

           Keterangan :
           bi = nilai koefisien regresi
           Bi = nilai koefisien regresi untuk populasi
           Sbi = kesalahan baku koefisien regresi


Analisis Komparasi
      Analisis Komparasi atau perbedaan merupakan prosedur statistik
untuk menguji perbedaan di antara dua kelompok data (variabel) atau lebih.
Dikarenakan penggunaan data adalah interval maka digunakan One way
Analisis Varians (ANOVA) dengan rumus:

      Sumber             Jumlah             Derajat             Rata-rata
                                                                                     F0
      Varians            Kuadrat            Bebas               Kuadarat
  Rata-rata Kolom           JKK               k-1          S12 = JKK/k-1            S12
  Error                     JKR             k (n-1)        S22 = JKE/k(n-1)
                                                                                    S22
  Total                     JKT             Nk – 1



                                                                                            11
Spectra                                         Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



Analisis Deskriptif
     Analisis deskriptif merupakan prosedur statistik untuk menguji
generalisasi hasil penelitian yang didasarkan atas satu variabel. Jenis data
yang digunakan interval, sehingga digunakan rumus t-tes, yaitu:

           X − µ0
      t=
           s/ n
     Keterangan :
     t = nilai t hitung,
     X = rata-rata X,
     µ0 = nilai yang dihipotesiskan,
     s = simpangan baku
     n = jumlah anggota sampel

ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Konsentrasi PAC dan Waktu Pengadukan dalam Penyisihan BOD
      Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi awal BOD dari
limbah cair pabrik tahu adalah 3.750 ppm. Setelah dilakukan proses
pengolahan secara koagulasi flokulasi yang dilanjutkan dengan proses
pengendapan menggunakan alat clarifier thickener dengan variasi
konsentrasi PAC (400 ppm, 500 ppm, 600 pmm, dan 700 ppm) serta waktu
pengadukan (6 menit, 9 menit, 12 menit, dan 15 menit) telah terbukti dapat
menurunkan konsentrasi BOD pada limbah cair tahu secara meningkat
seiring dengan besarnya konsentrasi dan lamanya waktu pengadukan yang
diberikan. Dalam hal ini dapat menunjukkan prosentase penyisihan
konsentrasi BOD setelah proses koagulasi flokulasi yang paling rendah,
adalah pada konsentrasi PAC 400 ppm dengan waktu pengadukan 6 menit
dengan penurunan 37,68% serta prosentase penyisihan yang paling tinggi
adalah pada konsentrasi PAC 700 ppm dengan waktu pengadukan 15 menit
dengan penurunan 78,13%. Hal ini membuktikan bahwa semakin besar
konsentrasi PAC dan semakin lama waktu pengadukan, bahan-bahan
organik yang disisihkan akan semakin besar. Tingginya efektifitas
penyisihan BOD ini diakibatkan waktu pengadukan yang semakin lama
maka kontak air limbah dengan bahan koagulan juga lebih lama, sehingga
partikel-partikel dalam air limbah yang mengalami destabilisasi juga semakin
meningkat.
      Pada proses koagulasi, kecepatan pengadukan harus tinggi agar
proses pencampuran benar-benar merata ke seluruh campuran. Proses
pengadukan cepat dimaksudkan untuk meratakan campuran antara
koagulan dengan air buangan, sehingga diperoleh suatu kondisi campuran
yang homogen. Molekul-molekul serta partikel-partikel yang bermuatan


                                                                                12
                                     Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



negatif dalam air, seperti koloid, akan diikat oleh molekul-molekul serta ion-
ion yang bermuatan positif dari koagulan.
       Dari uji korelasi pada (AlCl3)n.6H2O) diketahui bahwa faktor yang
mempengaruhi penurunan konsentrasi BOD dalam limbah tahu adalah
konsentrasi PAC (AlCl3)n.6H2O) dengan nilai korelasi 0,577. Hal ini
menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi BOD disebabkan tingginya
efektifitas penyisihan zat-zat organik yang dipengaruhi oleh konsentrasi
PAC. Faktor pendukung pada proses koagulasi, yaitu waktu pengadukan,
juga memiliki pengaruh cukup kuat dalam penurunan konsentrasi BOD
dengan nilai korelasi 0,767; sedangkan pengadukan cepat juga memiliki
pengaruh pada proses koagulasi. Hal ini dikarenakan pengadukan cepat
(flash mixing) diperlukan untuk mendistribusikan koagulan secara merata
dalam air limbah sehingga terbentuk flok-flok.
       Pengaruh variabel konsentrasi PAC dan waktu pengadukan adalah
signifikan, kemudian diperkuat dengan nilai R square sebesar 0.921
menyatakan bahwa 92,1% penyisihan konsentrasi BOD dipengaruhi oleh
variabel tersebut (konsentrasi PAC dan waktu pengadukan). Dengan
demikian, diketahui terdapat hubungan yang erat dan benar-benar
berpengaruh secara signifikan antara penambahan konsentrasi koagulan
PAC dan waktu pengadukan terhadap penurunan konsentrasi BOD.

Konsentrasi PAC dan Waktu Pengadukan Terhadap Penyisihan PO4
        Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi awal PO4 dari
limbah cair pabrik tahu adalah 38,23 ppm. Setelah dilakukan proses
pengolahan secara koagulasi flokulasi yang dilanjutkan dengan proses
pengendapan menggunakan alat clarifier thickener dengan variasi
konsentrasi PAC (400 ppm, 500 ppm, 600 pmm, dan 700 ppm) dan waktu
pengadukan (6 menit, 9 menit, 12 menit, dan 15 menit) telah terbukti dapat
menurunkan konsentrasi PO4 pada limbah cair tahu secara meningkat
seiring dengan besarnya konsentrasi dan lamanya waktu pengadukan yang
diberikan.
        Penyisihan konsentrasi PO4 setelah proses koagulasi flokulasi yang
paling rendah adalah pada konsentrasi PAC 400 ppm dengan waktu
pengadukan 6 menit dengan penurunan 18,02% dan prosentase penyisihan
yang paling tinggi adalah pada konsentrasi PAC 700 ppm dengan waktu
pengadukan 15 menit dengan penurunan 65,97%. Hal ini membuktikan
bahwa semakin besar konsentrasi PAC dan semakin lama waktu
pengadukan, fosfat terlarut yang disisihkan akan semakin besar. Seperti
yang telah dikemukakan oleh Shaukat Farooq dan Abdul Bari (1989) dalam
Lukmila A. (2005) penurunan fosfat secara fisik-kimiawi (phisic-chemical
processes) adalah dengan proses koagulasi, dimana reaksi yang terjadi
pada proses koagulasi tersebut adalah kompleks, tetapi reaksi yang
pertama kali terjadi adalah penggabungan ortofosfat dengan ion logam
Al(III), Fe(III), dan Ca(II) yang mempengaruhi kestabilan partikel koloid,

                                                                                      13
Spectra                                          Nomor 9 Volume V Januari 2007: 1-15



sehingga mengakibatkan terjadinya pengendapan. Hal ini berarti adanya
ion-ion logam tersebut akan mengakibatkan penurunan konsentrasi fosfat.
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan koagulan Poly
Alumunium Chlorida (AlCl3)n.6H2O) dapat menurunkan kadar fosfat dalam
limbah tahu. Hal ini dikarenakan senyawa PAC (ortofosfat) dalam limbah
tahu merupakan partikel koloid yang dapat berikatan dengan Al3+, Fe3+ dan
Ca2+ membentuk flok kemudian mengendap. Begitu juga yang telah
dinyatakan oleh Gordon, F., John Geyer, dan Daniel Okun (1971) dalam
Lukmila A. (2005) bahwa ion logam yang dapat mengendapkan senyawa
fosfat adalah Al(III), Fe(III), dan Ca(II).
       Pada proses koagulasi, kecepatan pengadukan harus tinggi agar
proses pencampuran benar-benar merata ke seluruh campuran. Proses
pengadukan cepat dimaksudkan untuk meratakan campuran antara
koagulan dengan air buangan, sehingga diperoleh suatu kondisi campuran
yang homogen. Molekul-molekul serta partikel-partikel yang bermuatan
negatif dalam air, seperti koloid, akan diikat oleh molekul-molekul serta ion-
ion yang bermuatan positif dari koagulan.
       Dari uji korelasi pada (AlCl3)n.6H2O) diketahui bahwa faktor yang
mempengaruhi penurunan konsentrasi PO4 dalam limbah tahu adalah
konsentrasi PAC (AlCl3)n.6H2O) dengan nilai korelasi 0,577.           Hal ini
menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi PO4 disebabkan oleh tingginya
efektifitas penyisihan zat-zat organik yang dipengaruhi oleh konsentrasi
PAC. Faktor pendukung pada proses koagulasi, yaitu waktu pengadukan,
juga memiliki pengaruh cukup kuat dalam penurunan konsentrasi PO4
dengan nilai korelasi 0,767; sedangkan pengadukan cepat juga memiliki
pengaruh pada proses koagulasi. Hal ini dikarenakan pengadukan cepat
(flash mixing) diperlukan untuk mendistribusikan koagulan secara merata
dalam air limbah, sehingga terbentuk flok-flok.
       Pengaruh variabel konsentrasi PAC dan waktu pengadukan adalah
signifikan, kemudian diperkuat dengan nilai R square sebesar 0.913
menyatakan bahwa 91,3% penyisihan konsentrasi PO4 dipengaruhi oleh
variabel tersebut (konsentrasi PAC dan waktu pengadukan). Dengan
demikian, diketahui terdapat hubungan yang erat dan benar-benar
berpengaruh secara signifikan antara penambahan konsentrasi koagulan
PAC dan waktu pengadukan terhadap penurunan konsentrasi PO4.

KESIMPULAN
      Dari penelitian yang telah dilakukan dengan variasi konsentrasi PAC
dan waktu pengadukan dapat diambil kesimpulan antara lain sebagai
berikut:
      1. Prosentase penyisihan konsentrasi BOD setelah proses koagulasi
         flokulasi yang paling rendah adalah pada konsentrasi PAC 400 ppm
         dengan waktu pengadukan 6 menit dengan penurunan sebesar


                                                                                 14
                                  Uji Kemampuan Clarifier Thickener Hery Setyobudiarso



        37,68% dan prosentase penyisihan yang paling tinggi adalah pada
        konsentrasi PAC 700 ppm dengan waktu pengadukan 15 menit
        dengan penurunan sebesar 78,13%.
     2. Prosentase penyisihan konsentrasi PO4 setelah proses koagulasi
        flokulasi yang paling rendah adalah pada konsentrasi PAC 400 ppm
        dengan waktu pengadukan 6 menit dengan penurunan sebesar
        18,02% dan prosentase penyisihan yang paling tinggi adalah pada
        konsentrasi PAC 700 ppm dengan waktu pengadukan 15 menit
        dengan penurunan sebesar 65,97%.
     3. Alat clarifier thickener mampu menurunkan konsentrasi BOD dan
        PO4 pada limbah tahu dengan proses koagulasi flokulasi.


DAFTAR PUSTAKA
Alaerts G., Sri S. Santika. 1987. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha
      Nasional.
Al-Layla, M.A, S. Ahmad and E. J. Middlebrooks. 1978. Water Supply
      Engineering and Design. New York.
Anonimus. 2004. Clarifier Thickener. Entry from: www.mining-technology.
      com/contractor/filtering/dorr-oliver/index.html#dorr-oliver3.
Anonimus. 2004. Clarifier. Entry from: www.ajmenviro.com.av/dowloads/
      clariflow.pdf.
Anonimus. 2002. Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri. Surabaya.
Clair N. Sawyer,        Perry L. McCarty. Chemistry For Environmental
      Engineering. 3rd edition. New York: Mc. Graw Hill Book Company.
Cohen, Jesse M. & Sydney A. Hannah. 1971. Coagulation and Flocculation.
      dalam Water Quality and Threatment. edisi III. Washington: AWWA
      Inc.
Hammer M.J. 1977. Water and Waste Water Technology. Second Edition.
      New York: Prentice Hall International Inc.
Kusnarjo. 2001. Pengaruh Perbandingan Tinggi Dengan Diameter Dan
      Sudut Puncak Pada Pengendap Tipe Clarifier Terhadap Removal Floc
      Yang Terbentuk. Prosiding Seminar Nasional. Rekayasa Kimia Dan
      Proses. Jurusan Teknik Kimia. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
      Nopember.
Qasim, Syed R. 1985. Wastewater Treatment Plant: Planing, Design, and
      Operation. Texas: The University of Texas at Arlington.
Santoso Singgih. 2002. SPSS Versi 10: Mengolah Data Secara Profesional.
      Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta: Universitas
      Indonesia Press.




                                                                                   15
Spectra                                             Nomor 9 Volume V Januari 2007: 16-24



            STUDI KELAYAKAN INVESTASI JALAN TOL
                SEGMEN LAWANG-PURWOSARI

                                Kamidjo Rahardjo
                        Dosen Teknik Sipil FTSP ITN Malang



                                  ABSTRAKSI

     Volume lalulintas yang terus meningkat di daerah Lawang - Purwosari
     pada beberapa tahun terakhir ini mengakibatkan tidak mencukupinya
     ruas-ruas jalan untuk menampung sarana transportasi. Hal tersebut
     menimbulkan kemacetan pada ruas-ruas jalan menuju ataupun keluar
     Kota Malang yang mengakibatkan kerugian waktu dan BOK. Untuk itu,
     usaha dalam memecahkan masalah transportasi sebagai salah satu
     alternatif adalah dengan pembangunan jalan tol. Dengan adanya
     pembangunan jalan tol ini diharapkan investor dapat memperhitungkan
     layak atau tidaknya pembangunan tersebut dengan menggunakan
     analisa ekonomi. Dengan demikian, diharapkan investor tidak salah
     dalam menanamkan investasinya.
     Kelayakan investasi dipilih berdasarkan perhitungan biaya konstruksi
     dan keuntungan investor. Untuk data-data sekunder diperoleh dari data
     studi potensi dan nilai manfaat. Perhitungan nilai potensi untuk jalan tol
     ini dilakukan dengan metode survey plat number check yang dilakukan
     selama 4 hari dalam waktu 16 jam/hari. Pada saat yang sama, nilai
     manfaat dilakukan dengan survei volume lalulintas, sedangkan survey
     kecepatan dilakukan dengan metode Moving Car Observer dan survei
     geometrik jalan. Untuk analisa kelayakan investasi pembangunan jalan
     tol segmen Lawang-Purwosari dilakukan dengan metode kriteria
     kelayakan ekonomi, antara lain perhitungan BCR (Benefit Cost Ratio),
     NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return) dan Periode
     Pengembalian (Pay Back Period).

     Kata Kunci : Kriteria Kelayakan, Investasi Pembangunan, Jalan Tol.




PENDAHULUAN
Latar Belakang
      Proyek jalan tol dikatakan berhasil dan menguntungkan secara
ekonomis apabila proyek tersebut dapat memberikan pengaruh positif
terhadap investasi yang bertitiktolak pada dua faktor studi kelayakan proyek,
yaitu biaya (finansial) dan manfaat. Biaya merupakan pengeluaran yang
meliputi dana pembangunan, operasional, dan perawatan yang diperoleh
dari pemakai jalan dengan membayar tarip tol. Semakin banyaknya pemakai


                                                                                     16
                                      Studi Kelayakan Investasi Jalan Tol Kamidjo Rahardjo



jalan tol, maka akan bermanfaat bagi investor, yaitu dengan adanya laba
dan kembalinya modal/titik impas (break event point). Selain investor, juga
bermanfaat bagi masyarakat umum, yaitu waktu perjalanan menjadi lebih
singkat, lancar, nyaman, dan meningkatnya keamanan lalulintas karena
berkurangnya kemacetan yang terjadi di beberapa ruas jalan lain.
      Studi kelayakan proyek jalan tol merupakan suatu kumpulan dokumen
hasil studi yang memberikan gambaran produk yang ingin diwujudkan, terdiri
dari beberapa analisa, salah satunya adalah analisa proyeksi lalulintas. Oleh
karena itu, untuk mengerjakan analisa tersebut perlu dilakukan studi
pergerakan lalulintas dimana tempat proyek itu dibangun.
      Studi kelayakan investasi untuk jalan tol segmen Lawang-Purwosari,
dimana dalam perencanaannya perlu diperkirakan jumlah total existing road
dan data sekunder, seperti nilai jual obyek pajak, nilai manfaat, dan
seberapa jauh para investor tertarik dengan perencanaan pembangunan
jalan tol tersebut pada tahun rencana yang akan digunakan. Dengan
demikian, hasil dari studi ini dapat dilihat apakah jalan tol segmen Lawang-
Purwosari layak atau tidak layak untuk dilaksanakan.

Rumusan Masalah
       Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
identifikasi permasalahan studi ini adalah:
        Estimasi investasi pembangunan.
        Layak atau tidaknya pembangunan jalan tol segmen Lawang-
          Purwosari dilaksanakan.
        Estimasi tarif tol.
       Dengan demikian, berdasarkan identifikasi tersebut di atas, maka
permasalahan yang muncul dalam studi ini adalah:
        Berapa estimasi investasi pembangunan?
        Apakah proyek pembangunan jalan tol segmen Lawang-Purwosari
          ini layak dilaksanakan atau tidak dengan menggunakan teori Net
          Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost
          Ratio (BCR), dan Payback Period?
        Berapa estimasi tarif tol?

Tujuan dan Manfaat Studi
      Tujuan dan manfaat dari studi kelayakan pembangunan jalan tol
segmen Lawang-Purwosari adalah untuk mendapatkan gambaran tentang
kelayakan investasi dari rencana pembangunan jalan tol segmen Lawang-
Purwosari. Disamping itu, juga untuk menentukan apakah proyek tersebut
layak dilaksanakan atau tidak sebagai evaluasi dalam menanamkan
investasi dan masukan bagi pemerintah untuk mengambil keputusan dalam
menentukan kebijakan terhadap pembangunan jalan tol segmen Lawang-
Purwosari.


                                                                                      17
Spectra                                        Nomor 9 Volume V Januari 2007: 16-24



TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Analisa Kelayakan Investasi
      Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat adalah dengan cara menanam investasi, seperti
membangun proyek prasana atau sarana produksi. Hal ini disebabkan
investasi yang sehat yang didukung oleh prinsip-prinsip ekonomi universal
akan mendorong kegiatan di segala bidang, diantaranya adalah tersedianya
lapangan kerja, menambah produk di pasaran, dan menaikkan tingkat
penghasilan. Investasi dapat dilakukan oleh swasta maupun Negara dengan
motif keuntungan finansial ataupun nonfinansial. Untuk dipakai sebagai
bahan pengambilan keputusan tentang sehat tidaknya suatu investasi, maka
dilakukan dengan mengkaji kelayakan usulan tersebut sebelum
implementasi membangun proyek, yaitu dengan menyiapkan studi
kelayakan yang menyoroti segala macam aspek yang diperkirakan memiliki
relevansi kuat dengan rencana yang bersangkutan.

Studi Kelayakan
       Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu
proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan
berhasil. Pengertian keberhasilan ini mungkin bisa ditafsirkan agak berbeda-
beda. Ada yang mengartikan dalam artian yang lebih luas dan ada juga
yang mengartikan dalam artian yang lebih terbatas. Dari pihak Pemerintah
atau lembaga nonprofit, pengertian menguntungkan bisa dalam arti yang
lebih relatif, misalnya manfaat dalam penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan
sumberdaya yang melimpah, penghematan devisa, maupun penambahan
devisa yang diperlukan oleh Pemerintah untuk Negara.
       Layaknya suatu kegiatan pembangunan terjadi bilamana kajian
kelayakan suatu usulan proyek dapat mempelajari usulan dari segala segi
secara profesional agar nantinya setelah diterima dan dilaksanakan betul-
betul dapat mencapai hasil sesuai dengan yang direncanakan. Oleh karena
itu, perlu penelitian dan pengkajian yang seksama dan sistematis sebelum
terlanjur menenam modal untuk implementasi. Sedangkan kondisi tidak
layak apabila kajian kelayakan suatu usulan proyek gagal dalam mencapai
hasil yang telah tersusun sesuai dengan perencanaannya dan apabila
pembangunan yang telah selesai dibangun dan dioperasikan ternyata
hasilnya jauh dari harapan.

Pengertian Ekonomi Teknik
       Ekonomi teknik adalah suatu subyek yang mempunyai inti suatu
pengambilan keputusan yang didasarkan pada perbandingan ekuivalensi
nilai-nilai uang dari beberapa alternatif rangkaian kegiatan sehubungan
dengan keperluan pembiyayaan. Keputusan yang dimaksud disini adalah


                                                                                18
                                     Studi Kelayakan Investasi Jalan Tol Kamidjo Rahardjo



suatu keputusan mengenai pemilihan dari dua atau lebih rangkaian
kegiatan. Keputusan-keputusan tersebut bermacam-macam, dimulai dari
investasi sumberdaya manusia, peralatan, hingga penentuan anggaran
pemodalan yang terjadi pada seluruh lapisan organisasi dalam
perekonomian.
      Dalam memutuskan investasi mana yang akan dilakukan, biasanya
timbul tiga pertanyaan yang akan menentukan keputusan, yaitu:
       Mengapa memerlukan hal ini?
       Mengapa melakukan sekarang?
       Mengapa melakukan dengan cara ini?
      Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut tidak dapat dilakukan
dengan berdasarkan perasaan saja (feelling), akan tetapi harus melalui
suatu studi ekonomi. Studi Ekonomi tersebut dapat diartikan sebagai suatu
perbandingan alternatif-alternatif yang ada, dengan dinyatakan dalam
bentuk uang.
      Konsep dasar teori ekonomi teknik dapat dijabarkan dalam beberapa
prinsip, antara lain:
       Harus mencari, penjabaran, dan mengevaluasi semua alternatif,
          sehingga sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
       Mengetahui terlebih dahulu akan dampak dari suatu pengambilan
          keputusan, baik dampak yang akan terjadi sebelum maupun
          sesudah pengambilan keputusan.
       Sudut pandang pengambilan keputusan harus menguntungkan
          pihak pemilik (owner).
       Semua dampak harus dinyatakan dalam bentuk uang, karena nilai
          uang memiliki nilai waktu, Demikian pula halnya dengan dampak-
          dampak dari suatu pengambilan keputusan.
       Memprioritaskan kriteria-kriteria sebelum pengambilan keputusan.
          Ini diperlukan untuk menjaga obyektifitas suatu pengambilan
          keputusan serta dapat mengoptimalkan sumberdaya yang terbatas.
       Penentuan perbadaan antara kriteria-kriteria yang dapat maupun
          tidak dapat dinyatakan dalam bentuk uang.
       Dalam pengambilan keputusan bukan berdasarkan sudut pandang
          individu, tetapi dalam sudut pandang sistem atau secara
          keseluruhan. Keputusan yang diambil tidak hanya berpengaruh
          terhadap individu saja, tetapi berpengaruh terhadap keseluruh atau
          semua sistem.

Net Present Value (NPV)
       Present Value atau nilai bersih sekarang adalah nilai yang
mengatakan ekuivalensinya pada saat ini, yaitu semua uang yang akan
diterima ataupun yang akan dikeluarkan selama umur ekonomis yang harus
dihitung dalam nilai yang sama.


                                                                                     19
Spectra                                            Nomor 9 Volume V Januari 2007: 16-24



      Net Present Value (NPV) dari suatu proyek merupakan nilai sekarang
(present value) dari selisih antara hasil proyek (benefit) dengan modal yang
ditanam (cost) pada discount rate tertentu. NPV menunjukan kelebihan
manfaat (benefit) dibanding biaya (cost). Jika nilai sekarang penerimaan-
penerimaan kas bersih di masa yang akan datang lebih besar dari nilai
sekarang investasi, maka proyek ini dikatakan menguntungkan. Sedangkan
apabila lebih kecil (NPV < 0), maka proyek tersebut ditolak karena dinilai
tidak menguntungkan.
      Dibanding dengan metode lainnya, metode ini kadang-kadang lebih
mudah diterapkan pada situasi dimana berbagai jumlah uang secara luas
dibayarkan atau diterima suatu periode waktu. Dalam penggunaannya
metode ini lebih cepat, nilainya aktual, dan efisien waktu dalam menilai
proyek investasi. Metode ini cocok untuk proyek-proyek dengan investasi
besar dan dengan umur ekonomis yang panjang karena dalam metode
tersebut meramalkan perkembangan perekonomian untuk waktu yang
sedemikian lama, misalnya perkembangan inflasi dan sebagainya.
      Dasar yang dipakai adalah bahwa semua penerimaan atau
pengeluaran di masa mendatang yang berhubungan dengan suatu proyek
investasi diubah ke nilai sekarang dengan menggunakan suatu tingkat
tertentu. Metode sekarang dibuat untuk memudahkan perhitungan dimana
cash flow sangat tidak teratur. Cara perhitungan NPV adalah sebagai
berikut:
                   n
                       (C )t − n (Co )t                   n          n
     NPV      =   ∑ (1 + i )t ∑ (1 + i )t
                  t =0        t =0
                                            atau NPV =   Σ PVR − Σ PVE
                                                         t =0       t =0
     Dimana :
     NPV = nilai sekarang netto.
     (C)t = aliran kas masuk tahun ke-t.
     n    = umur unit usaha hasil investasi
     I    = arus pengembalian ( rate of return )
     t    = waktu

Ukuran kelayakan yang digunakan dengan rumus NPV:
     NPV > 0, maka proyek layak dibangun
     NPV = 0, maka proyek mengembalikan persis dengan investasi
     NPV< 0, maka proyek dari segi ekonomis tidak layak dibangun

Benefit Cost Ratio (BCR )
    Benefit Cost Ratio (BCR) adalah perbandingan antara nilai sekarang
(present value) dari manfaat (benefit) dengan nilai sekarang dari biaya
(cost). Secara umum rumus untuk perhitunan BCR adalah sebagai berikut:

             Nilai sekarang benefit ( PV ) B
     BCR =                         =
             Nilai sekarang biaya ( PV )C

                                                                                    20
                                            Studi Kelayakan Investasi Jalan Tol Kamidjo Rahardjo



       Biaya C pada rumus di atas dapat dianggap sebagai biaya pertama
(cf), sehingga rumusnya menjadi:

             ( PV ) B
     BCR =
                Cf
     Dimana :
     BCR = Perbandingan manfaat terhadap biaya (benefit cost ratio )
     (PV)B = Nilai sekarang benefit.
     (PV)C = Nilai sekarang biaya.

      Pada proyek swasta, benefit umumnya berupa pendapatan minus
biaya di luar biaya pertama (misalnya untuk operasi dan produksi), sehingga
rumusnya menjadi:
             R − ( PV )op
     BCR =
                  Cf
     Dimana :
     R      = Nilai sekarang pendapatan
     (C) op = Nilai sekarang biaya ( diluar biaya pertama )
     Cf     = Biaya pertama

Ukuran kelayakan dari BCR adalah
     BCR >1, maka proyek diterima dan layak dikerjakan
     BCR < 1, maka proyek ditolakdan tidak layak dikerjakan
                                                           Proyek Layak
      -~                                                                         +~
                                       -1   0     1
                  Proyek Tidak Layak
      Setiap kriteria tadi dipakai untuk menentukan diterima atau tidaknya
suatu usulan proyek. Tidak satupun dari kriteria tersebut disetujui secara
bersama (universal) sebagai yang saling bermanfaat pada setiap keadaan.
Penggunaan dari setiap metode tersebut akan membawa pada setiap
kesimpulan yang sama (nilai yang mana yang dianggap paling layak).
Hal-hal tersebut di atas merupakan ukuran yang ditetapkan oleh
Departemen Keuangan RI Nomor S-621/M/1992 dan ketetapan lain yang
sering dipakai. Namun, selain itu masih ada metode-metode yang lain untuk
menentukan kelayakan proyek.

Pay Back Period (Periode Pengembalian)
      Yang dimaksud dengan pay back period atau pembayaran kembali
adalah pada tahun berapa investasi sudah dapat meraih keuntungan. Sama
dengan titik impas atau break even point (BEP), tetapi banyak investor salah
interpretasi istilah ini, sehingga nilai waktu dari uang tidak diperhitungkan
dalam pay back tersebut.

                                                                                            21
Spectra                                       Nomor 9 Volume V Januari 2007: 16-24



                             n −1
                                      1 
     Rumus: (n − 1) + Cf −   ∑ An  An 
                              I   
     Dimana :
     Cf = Biaya pertama
     An = Aliran kas pada tahun ke-n
     n   = Tahun pengembalian ditambah 1

Tarif Tol
      Lembaga yang mengatur mengenai jalan tol adalah Badan Pengatur
Jalan Tol (BPJT), dimana lembaga tersebut adalah badan yang dibentuk
oleh dan bertanggungjawab kepada Menteri Pekerjaan Umum. Tarif tol
tersebut nantinya akan digunakan sebagai peningkatan mutu pelayanan dan
pemeliharaan jalan tol. Pemeliharaan jalan tol meliputi:
       Pemeliharaan rutin
       Pemeliharaan berkala
       Peningkatan mutu
      Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang
Jalan Tol disebutkan bahwa:
       Tarif tol dihitung berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan
         tol, besar keuntungan BOK (Biaya Operasi Kendaraan), dan
         kelayakan investasi (Pasal 66 ayat 1).
       Pemberlakuan tarif tol ditetapkan bersamaan dengan penetapan
         pengopersian jalan tol (Pasal 67 ayat 1).
       Evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap 2 (dua) tahun
         sekali oleh BPJT berdasarkan tarif lama yang disesuaikan dengan
         pengaruh inflasi sesuai dengan formula Tarif Baru = Tarif Lama (1+
         Inflasi) (Pasal 68 ayat 1).

HASIL DAN PEMBAHASAN
      Pada perencanaan awal pembangunan jalan tol, khususnya investasi
pembangunan, karena luasnya cakupan pembahasan masalah studi
kelayakan mengenai jalan tol segmen Lawang-Purwosari, maka dalam studi
ini hanya menghitung/menentukan masalah kelayakan pembiayaan
investasi proyek (keuangan proyek atau manajemen proyek). Dari lingkup
bahasan tersebut di atas, maka diperoleh hasil:
      1. Estimasi investasi pembangunan jalan tol segmen Lawang-
         Purwosari dengan umur rencana (time horizon) selama 20 tahun
         sebesar Rp. 101.384.262.429,43
      2. Dari segi kelayakan investasi pembangunan, maka didapat:
         a. Keuntungan investasi bagi pengguna jalan dengan kurun waktu
            10 tahun:



                                                                               22
                                      Studi Kelayakan Investasi Jalan Tol Kamidjo Rahardjo



             Nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 23,71% > 12%,
               maka pembangunan dikatakan layak untuk dilaksanakan.
             Nilai Net Present Value (NPV) adalah sebesar Rp.
               158.092.403.763,29 (+)
             Nilai Benefit Cost Ratio (BCR) adalah sebesar 2,.45 > 1,
               maka pembangunan dikatakan layak untuk dilaksanakan.
             Nilai Payback Period (periode pengembalian) terjadi pada
               tahun ke-4, yaitu pada tahun 2010 dan pembangunan layak
               untuk dilaksanakan.
        b. Keuntungan investasi bagi investor dengan kurun waktu 20
            tahun :
             Nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 0% < 12%, maka
               pembangunan dikatakan tidak layak untuk dilaksanakan.
             Nilai Net Present Value (NPV) adalah sebesar Rp.
               52.288.300.000,10 (+)
             Nilai Benefit Cost Ratio (BCR) adalah sebesar 1,36 > 1, maka
               pembangunan dikatakan layak untuk dilaksanakan.
             Nilai Payback Period (periode pengembalian) tidak terjadi
               karena pembangunan tidak layak untuk dilaksanakan.
        c. Terdapat keuntungan investasi bagi pengguna jalan untuk kurun
            waktu 5 tahun, 10 tahun, dan 15 tahun.
     3. Estimasi pendapatan (income) total tarif tol per tahun pada tahun
        ke-20 sebesar Rp. 23.805.017.499,61.
     4. Pada sisi pengguna jalan tol semua nilai kriteria kelayakan terjadi
        pada umur rencana 10 tahun karena pada umur rencana tersebut
        nilai-nilai kriteria kelayakan telah terpenuhi. Dari sisi investor nilai
        kriteria kelayakan tidak terpenuhi, maka pembangunan tidak layak
        untuk dilaksanakan.
     5. Khusus untuk sisi investor nilai kelayakan akan terpenuhi apabila
        pertumbuhan jumlah volume lalulintas semakin bertambah karena
        pada setiap tahunnya volume lalulintas terus meningkat dan nilai
        kelayakan akan terpenuhi pula apabila didukung dengan tarif tol
        yang relatif murah bagi pengguna jalan.

KESIMPULAN
     Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
     1. Berdasarkan hasil perhitungan biaya konstruksi dan keuntungan
        investor, didapat biaya investasi sebesar Rp.101.384.262.429,- dan
        untuk pendapatan dari keuntungan pengguna jalan NPV sebesar
        Rp. 158.092.403.763,29; BCR sebesar 2,45; dan IRR sebesar
        23,71% > 12% serta nilai payback period terjadi pada tahun ke-4,
        yaitu tahun 2010.


                                                                                      23
Spectra                                          Nomor 9 Volume V Januari 2007: 16-24



     2. Untuk umur rencana 10 tahun pembangunan jalan tol layak untuk
        dilaksanakan dan untuk nilai pendapatan dari investor tidak
        mendapatkan keuntungan karena dari nilai kriteria kelayakan tidak
        terpenuhi.
     3. Kelayakan pembangunan jalan tol segmen Lawang-Purwosari
        untuk umur rencana 20 tahun dari segi pengguna jalan memenuhi
        kriteria kelayakan ekonomi (BCR, NPV,IRR, dan Payback Period),
        namun dari segi investor tidak memenuhi kriteria kelayakan
        ekonomi (BCR, NPV, IRR, dan Payback Period).


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Jalan.
______. 2004. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2005
      Tentang Jalan Tol.
______. 1970. Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya.
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Malang. 2005. Laporan Akhir Studi
      Kelayakan Jalan Lingkar Timur. Malang.
Dinas Kimpraswil Kota Malang. 2006. Daftar Harga Satuan Pekerjaan Konstruksi
      (HSPK) Bidang Jalan, Jembatan, dan Drainase. Malang
Kodoatie R.J. 1995. Analisis Ekonomi Teknik. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Morlok, Edward K. 1984. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Jakarta:
      Penerbit Erlangga.
Pujawan, I Nyoman. 2004. Ekonomi Teknik. Surabaya: Penerbit Guna Widya.
Soeharto, Imam. 2004. Manajemen Proyek. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Tamin, Ofyar Z. 2000. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Edisi Ke-2.
      Bandung: ITB Bandung.
Utomo P., Adhie. 2005. Analisa Kerugian Biaya Akibat Kemacetan di Persimpangan
      Jalan Panglima Sudirman – Urip Sumoharjo – Pattimura Kota Malang, Skripsi
      Jurusan Teknik Sipil. Malang: ITN Malang.




                                                                                  24
                                                  Konservasi Lahan Sub DAS Lesti Erni Yulianti



           PENGEMBANGAN KONSERVASI LAHAN
      TERHADAP EROSI PARIT/JURANG (GULLY EROSION)
        PADA SUB DAS LESTI DI KABUPATEN MALANG

                                  Erni Yulianti
                     Dosen Teknik Pengairan FTSP ITN Malang



                                 ABSTRAKSI

     Sungai Lesti merupakan salah satu sungai yang terletak di bagian hulu
     DAS Brantas.Secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Malang
     dengan luas 58.384 ha. Kondisi DAS Brantas saat ini sudah mulai kritis,
     khususnya di bagian hulu, antara lain meliputi daerah Sub DAS Lesti.
     Hal ini ditengarai oleh adanya penurunan daya tampung sungai dan
     waduk karena sedimentasi. Perubahan tataguna lahan pada Sub DAS
     Lesti, dimana banyak perkebunan yang menjadi lahan terbuka serta
     penebangan hutan dalam jumlah yang besar, mengakibatkan material
     erosi yang terjadi pada lahan semakin besar, sehingga material
     tersebut terus terangkut bersama aliran sungai dan menjadikan
     sedimentasi pada sungai. Apabila sedimentasi yang ikut terbawa aliran
     sungai ini semakin besar, maka hal inilah yang menjadi salah satu
     penyebab berkurangnya daya tampung sungai dan waduk, baik yang
     berada di bagian hulu maupun di bagian hilir DAS Brantas.
     Usaha konservasi lahan harus terus dilakukan dan dikembangkan
     menurut kerusakan yang dialami lahan di sekitar DAS Lesti. Terjadinya
     erosi lahan yang disebut dengan erosi parit/jurang (gully erosion) dapat
     menimbulkan kelongsoran dalam jumlah yang besar pada lahan dan
     tebing-tebing sungai. Salah satu bangunan konservasi terhadap lahan
     yang dapat mencegah dan mengendalikan erosi parit/jurang (gully
     erosion) adalah bangunan gully plug yang seharusnya mulai lebih
     banyak dibuat pada lahan-lahan yang sering mengalami erosi,
     sehingga konservasi tanah dan air pada lahan bisa tetap terjaga dan
     terpelihara.

     Kata Kunci : Konservasi Lahan, Gully Erosion, Sub DAS Lesti.



PENDAHULUAN
Latar Belakang
      Kondisi DAS Brantas saat ini sudah mulai kritis, salah satunya adalah
Sub DAS Lesti. Hal ini disebabkan terjadinya erosi lahan yang cukup besar,
khususnya di bagian hulu. Bebarapa bukti yang bisa terlihat dengan jelas
yaitu adanya kapasitas tampungan sungai-sungai yang berkurang, sehingga
air sungai banyak yang meluap dan menimbulkan banjir di daerah

                                                                                          25
Spectra                                         Nomor 9 Volume V Januari 2007: 25-32



sekitarnya. Selain itu, juga terjadinya penurunan daya tampung waduk yang
merupakan data sangat penting untuk rencana pola operasi waduk,
terutama bagi sebuah waduk yang berfungsi sebagai pengendali banjir,
suplai air pada musim kemarau, perikanan, pertanian, pembangkit tenaga
listrik, dan lain-lain .
        Beberapa waduk di wilayah DAS Brantas seperti Waduk Sutami,
Sengguruh, Wlingi Raya, dan waduk yang lain kapasitas tampungannya
sudah sangat berkurang karena dipenuhi sedimen yang berasal dari lahan
pada hulu DAS dan dari arus sungai. Mengingat bahwa waduk-waduk
tersebut selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional, maka
laju sedimen dari wilayah sungai bagian hulu harus segera dikurangi dan
mendapatkan perhatian khusus. Berdasarkan studi terdahulu, umur operasi
waduk akan berakhir bila kapasitas mati yang tersedia sudah penuh oleh
sedimen. Dengan kondisi seperti ini, pengoperasian waduk menjadi tidak
ekonomis lagi, sehingga dikhawatirkan akan menganggu stabilitas nasional.
        Sungai Lesti merupakan salah satu sungai yang terletak pada bagian
hulu DAS Brantas. Sub DAS Lesti tepatnya terletak pada koordinat
112o10’00” - 112o25’00” BT dan 7o40’00” - 7o55’00” LS. Luas wilayahnya
sebesar 58.384 ha. Topografi Sub DAS Lesti berbentuk dari mulai datar
sampai dengan bergunung, dimana elevasi terendah ± 235 mdpl sampai
dengan ± 3.676 mdpl. Berdasarkan data dan peta curah hujan tahunan rata-
rata menurut pengamatan stasiun hujan pada Hulu DAS Brantas rata-rata
1.458 mm sampai dengan 1.950 mm, sedangkan curah hujan tertinggi di
Malang terjadi pada Sub DAS Lesti bagian hulu, yaitu pada Kecamatan
Poncokusumo sebesar 2.425 mm/tahun.
        Jenis tanah pada hulu Sub DAS Lesti adalah alluvial, regosol, andosol,
mediteran, latosol, bertekstur pasir, dan berbagai macam lagi yang tersebar
didalamnya. Kemiringan lereng dominan 35 - 45% dengan terrain terjal
sampai dengan tanah pegunungan dengan kemiringan lereng dominan          ≥
85% dan terrain amat sangat terjal. Batuan berupa endapan holosen alluvial
berada pada wilayah hilir Sub DAS Lesti.

Identifikasi Masalah
       Permasalahan sedimentasi dan erosi lahan akan menganggu
keseimbangan (equilibrium) pada Sub DAS Sungai Lesti beserta alur
sungainya, sehingga alur sungai akan rusak dan pada saat musim hujan
menimbulkan banjir, sedangkan pada musim kering debit sungai sangat
kecil. Beberapa hal yang masih menjadi permasalahan yang sering terjadi
pada Sub DAS Lesti, antara lain yaitu: (1) kondisi lahan pertanian dan
perkebunan yang mempunyai kemiringan tajam dan belum banyak yang
sejajar garis kontur (terasering), namun masih searah garis kontur, sehingga
mempercepat laju erosi; (2) masih banyak lahan-lahan kosong dan lahan
yang mengalami kerusakan belum ditanami kembali (reboisasi)


                                                                                 26
                                                        Konservasi Lahan Sub DAS Lesti Erni Yulianti



menyebabkan semakin bertambahnya erosi dan semakin berkurangnya
cadangan air pada kawasan tersebut; serta (3) masih kurangnya bangunan-
bangunan penahan dan pengendali erosi pada lahan untuk menahan
longsoran pada tebing lahan, sehingga dapat mengurangi sedimen masuk
ke sungai.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Erosi
      Erosi merupakan suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau
sebagian tanah dari suatu tempat yang terangkut ke tempat yang lain.
Sedangkan sedimen merupakan hasil akhir dari suatu proses erosi, baik
erosi akibat gerakan air, angin, atau akibat gaya gravitasi bumi. Di daerah
tropis basah seperti Indonesia, erosi terutama disebabkan oleh air (Utomo,
1989). Erosi terdiri atas normal erosion (erosi alamiah) dan
accelerated erosion atau erosi yang dipercepat. Dari kedua macam
erosi itu, erosi yang dipercepatlah yang bentuk-bentuknya perlu kita
perhatikan, selain itu erosi macam ini juga sering terjadi karena
perbuatan manusialah yang mendorongnya.


                                                                           Sheet erosion
                                           Accelerated Erosion             Riil erosion
                                           (Pengaruh iklim dan             Gully erosion
                                            Tindakan manusia)              Stream bank erosion
        EROSION
         (Erosi)

                                              Normal Erosion
                                             (Secara alamiah)


     Keterangan :
     Sheet erosion         =   Erosi permukaan
     Riil erosion          =   Erosi alur
     Gully erosion         =   Erosi parit
     Stream bank erosion   =   Erosi tebing sungai

                                 Gambar 1. Klasifikasi Erosi

    Keempat bentuk erosi ini terjadinya sangat dipengaruhi iklim (hujan
dan angin) serta akibat-akibat perbuatan atau tindakan manusia yang
mempercepat terjadinya erosi tersebut.



                                                                                                27
Spectra                                        Nomor 9 Volume V Januari 2007: 25-32



Usaha Pengendalian Erosi Parit/Jurang
      Dari uraian tersebut di atas, untuk menanggulangi berbagai
permasalahan erosi lahan yang menimbulkan sedimentasi pada sungai dan
tetap menjamin tersedianya air yang cukup pada saat musim kering,
khususnya di Sub DAS Lesti, maka langkah yang paling tepat adalah segera
melaksanakan konsevasi lahan untuk melestarikan tanah dan air (land and
water conservation). Usaha yang bisa dilakukan dalam meningkatkan
konservasi tanah dan air adalah mengendalikan erosi dengan terasiring,
mekanik, vegetasi, reboisasi, dan pembuatan bangunan gully plug. Gambar
di bawah ini merupakan salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya
erosi parit/jurang pada lokasi Sub DAS Lesti karena masih banyak lagi
beberapa erosi parit yang terjadi pada lahan yang lain.




     Gambar 2. Contoh Lokasi pada Lahan yang Mengalami Erosi Parit/Jurang

Alternatif Pengendalian Erosi
      Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengendalikan erosi
pada lahan, antara lain yaitu: (1) pada daerah yang mempunyai kemiringan
tajam, pengolahan lahannya harus sejajar garis kontur (terasering)
sehingga dapat menahan laju erosi; (2) pada lahan-lahan kosong yang
rentan terhadap erosi harus segera dilaksanakan penghijauan kembali
(reboisasi) agar dapat mengurangi laju erosi, juga berfungsi sebagai
konservasi tanah dan air; serta (3) pada lahan yang terjadi erosi parit
seharusnya dibuatkan bangunan (gully plug), agar kondisi selokan tidak
semakin dalam dan semakin besar sehingga semakin besar pula erosi lahan
yang terjadi, sedangkan pada tebing sungai agar dibangun pelindung tebing
(bank protection) agar kondisi tebing sungai tidak longsor.
      Erosi parit sangat erat hubungannya dengan erosi alur, karena memang
erosi parit melanjutkan aktivitas daya pengikisan/pengangkutan partikel-

                                                                                28
                                               Konservasi Lahan Sub DAS Lesti Erni Yulianti



partikel tanah pada alur-alur yang sudah terbentuk, jadi kalau pada erosi alur
kita mendapati alur-alur yang dangkal, sedang pada erosi parit kita mendapati
alur-alurnya yang lebih lebar dan lebih dalam yang membentuk parit-parit
dengan kedalaman antara 1 - 2,5 m atau lebih. Resistensi atau daya tahan
tanah terhadap erosi dapat mewujudkan parit-parit bagaikan huruf V dan U,
yang bagaikan huruf V yaitu apabila resistensi tanahnya agak kuat, sedang
parit yang bagaikan huruf U yaitu apabila resistensi tanahnya kurang kuat
seperti halnya tanah berpasir, debu.
      Terjadinya erosi parit dikarenakan aliran air permukan tanah demikian
besar yang kemudian memasuki alur.-alur yang ada. Erosi parit yang tidak
erat hubungannya dengan erosi alur, dapat terjadi karena adanya
perubahan pada permukan tanah, seperti misalnya penebangan pohon-
pohonan secara liar, pembakaran dan sejenisnya sehingga daya tampung air
pada daerah tersebut (catchment area) kewalahan dan air mengalir secara
bersama-sama dan berlebihan dari daerah tampungnya itu ke bawah
menuruni lereng yang resistensi tanahnya kurang kuat.




            Gambar 3. Erosi Parit/Jurang yang Terjadi di Area tegalan

PENGENDALIAN EROSI PARIT (GULLY EROSION)
Bangunan Gully Plug
      Pengendalian erosi dengan usaha meningkatkan konservasi tanah dan
air harus dapat mencapai sasaran secara maksimal. Selain itu juga harus
diketahui lebih jauh lagi hubungan antara berbagai keadaan di lapangan
antara lain : kondisi lahan, curah hujan, laju sedimen dan debit air.
      Apabila usaha pengendalian erosi pada lahan dengan terasiring dan
reboisasi sudah banyak dilakukan oleh masyarakat tetapi belum
memberikan solusi yang besar dalam mengurangi laju erosi pada lahan,
maka perlu ditingkatkan lagi dengan usaha membuat suatu bangunan gully
plug yang dapat menahan laju erosi pada lahan (gully erosion). Manfaat


                                                                                       29
Spectra                                       Nomor 9 Volume V Januari 2007: 25-32



yang akan diperoleh adalah mengurangi laju sedimentasi yang masuk
kedalam sungai sehingga sungai menjadi stabil serta sedimentasi yang
dibawa arus sungai kehilir masuk ke waduk-waduk semakin berkurang
(kecil).
       Bangunan gully plug merupakan bangunan yang tersusun dari batuan
seperti bronjong yang dibuat bertingkat seperti tangga yang berfungsi
mencegah tergerusnya dinding/ tebing sungai akibat tekanan air mengalir
yang berasal dari sumber-sumber air maupun dari drainase sawah yang
berada di atas tebing kanan kiri sungai. Dengan adanya bangunan yang
dibuat pada lahan-lahan di sekitar sungai ini diharapkan berbagai macam
material tanah akibat erosi lahan maupun sampah yang jatuh ke sungai
bersamaan dengan air dari tebing kanan kiri sungai dapat dikendalikan
sehingga tebing sungai tidak mudah tergerus terus menerus. Selain itu,
apabila terdapat bangunan air lain (bendung/sabo/check dam) yang ada di
bawahnya dapat dilindungi keberadaannya. Bangunan gully plug ini
mempunyai penampang yang sederhana, lebarnya antara 1 sampai 2 m,
tingginya sekitar 1,5 sampai 2 m dan bentuknya dibuat trap/seperti tangga.

Konstruksi Gully Plug
       Pengertiankonstruksi bangunan gully plug adalah suatu bangunan
konservasi tanah berupa bendungan kecil lolos air yang dibuat pada parit-
parit melintang alur dengan konstruksi bronjong batu, kayu/bambu atau
pemasangan batu spasi. Bangunan ini jika ditempatkan pada ujung
parit/jurang disebut pengendali erosi parit/jurang. Tujuannya antara lain
untuk:
        Memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi
          jurang/parit.
        Mencegah bertambah luasnya kerusakan lahan akibat terjadinya
          jurang/parit yang semakin lebar.
        Mengendalikan erosi dan lumpur/sedimen serta air dari daerah
          atas.
        Memperbaiki kondisi tata air daerah sekitarnya.
Beberapa Persyaratan teknis yang harus diperhatikan, yaitu:
        Kemiringan lereng : ± 30 %
        Jenis erosi          : erosi jurang/parit
        Daerah kritis dengan tangkapan air maksimum.
        Lebar dan kedalaman jurang/alur/parit maksimum.
        Panjang jurang/alur/parit maksimum 250 m.
        Kemiringan jurang/alur/parit maksimum 5%.
Cara pembuatan bangunan gully plug:
        Pembersihan lokasi bangunan dari pohon-pohon dan semak-
          semak yang mengganggu pelaksanaan pekerjaan.
        Pengukuran, pematokan, dan pencetakan bangunan.


                                                                               30
                                            Konservasi Lahan Sub DAS Lesti Erni Yulianti



      Pengadaan bahan dan peralatan, antara lain: batu, kayu, kawat,
       dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan.
      Pembuatan bronjong batu dan pemasangan bronjong batu, kayu/
       bambu atau batu spesi serta patok penguat.




     Gambar 4. Contoh Penerapan Bangunan Pengendali Erosi Parit/ Jurang



KESIMPULAN
     Berdasarkan beberapa kajian dan analisa yang telah dijelaskan pada
mengenai usaha konservasi di Hulu DAS Brantas, maka dapat diberikan
beberapa kesimpulan, yaitu:
     1. Mengingat curah hujan yang terjadi cukup tinggi dan kondisi lahan
        pertanian di sekitar Sub DAS Lesti yang berupa ladang tanaman
        campuran dan terbuka, maka perlu diadakannya konservasi lahan
        yang lebih baik lagi, contohnya dengan pembuatan bangunan
        konservasi (gully plug) sebanyak mungkin dan penghijauan supaya
        air hujan dapat disimpan oleh akar-akar tanaman untuk persediaan
        pada musim kemarau, pembuatan teras-teras di lahan/ladang dekat
        sungai, serta pengolahan tanah yang baik juga sangat membantu
        dalam usaha konservasi lahan.
     2. Perlu dilakukan perbaikan-perbaikan pada tebing sungai yang
        rawan longsor di sepanjang aliran sungai (bank protection).
     3. Perlu dilaksanakan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan
        dan Konservasi Tanah (RTL-RLKT) dengan melakukan overlay
        informasi-informasi arahan fungsi kawasan, tingkat bahaya erosi,



                                                                                    31
Spectra                                         Nomor 9 Volume V Januari 2007: 25-32



          dan kondisi lahan dengan mempertimbangkan hasil identifikasi
          permasalahan hidrologi dan sosial ekonomi.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. Laporan Monitoring Tata-Air SPAS Sub DAS Lesti. Jakarta: Balai
     Pengelolaan DAS Brantas, Departemen Kehutanan
______. 2003. Laporan Data Erosi dan Sedimentasi Sub DAS Lesti. Malang: Balai
     Pengelolaan DAS Sungai Brantas Kabupaten Malang
______. 2003. Laporan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan
     Konservasi Tanah (RTL-RLKT) pada Sub DAS Lesti. Malang: Balai
     Pengelolaan DAS Sungai Brantas Kabupaten Malang
______. 2005. Laporan Rencana Konservasi Lahan dan Air pada DAS Brangkal
     Kabupaten Mojokerto. Mojokerto: Balai Pengelolaan DAS Sungai Brangkal
     Kabupaten Mojokerto.
______. 2005. Petunjuk Teknis Pembuatan Bangunan Konservasi Lahan (Tanah
     dan Air) untuk Menanggulangi Erosi Lahan dan Sedimentasi. Jakarta: Balai
     Pengelolaan DAS Brantas, Departemen Kehutanan




                                                                                 32
              Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



      STUDI PENGEMBANGAN BUS KOTA MALANG RAYA


                                Agung Witjaksono
                                Bevi Agusti Tulak
                               Hermelinda F. Letto
                         Teknik Planologi FTSP ITN Malang



                                   ABSTRAKSI

     Sejalan dengan perkembangan kegiatan di Kota Malang, Kabupaten
     Malang, dan Kota Batu (Malang Raya) serta pergerakan penduduk
     yang semakin meningkat, maka diperlukan transportasi yang semakin
     cepat dan murah. Salah satu alternatif yang akan dikembangkan
     dengan pengadaan angkutan bus kota seiring dengan peningkatan
     kebutuhan akan transportasi.
     Keberadaan bus kota dirasakan beberapa pihak sudah saatnya untuk
     dioperasikan, di sisi lain rencana pengembangan bus kota tersebut
     dikhawatirkan dapat menimbulkan permasalahan baru, baik terhadap
     keberadaan mikrolet maupun kemacetan. Oleh karena itu, sebelum
     dilakukannya pengoperasian bus kota, salah satu faktor yang perlu
     dipersiapkan adalah kondisi sarana dan prasarana jalan yang akan
     dipakai sebagai jalur bus kota. Berdasarkan kajian kondisi sarana dan
     prasarana di wilayah Malang Raya, maka dirasa masih perlu
     ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, maupun pengaturan fasilitas
     pendukung untuk meminimalkan konflik yang mungkin akan timbul.

     Kata Kunci : Pengembangan, Bus Kota, Malang Raya.



PENDAHULUAN
Latar Belakang
      Manusia memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya dengan melakukan
berbagai aktifitas. Tuntutan kebutuhan yang tidak memungkinkan untuk
dilakukan pada suatu tempat saja menyebabkan perlu adanya pergerakan
ke tempat lain. Transportasi dapat diartikan sebagai pemindahan barang
dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan, sedangkan fungsi
transportasi itu sendiri adalah untuk memudahkan pergerakan dari satu
tempat ke tempat yang lain.
      Angkutan pada dasarnya adalah sarana untuk memindahkan orang
dan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Tujuannya adalah
membantu orang atau kelompok orang menjangkau berbagai tempat yang
dikehendaki, atau mengirimkan barang dari tempat asalnya ke tempat


                                                                                           33
Spectra                                        Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



tujuannya. Angkutan umum penumpang adalah angkutan penumpang yang
dilakukan dengan sistem sewa atau bayar. Tujuan utama keberadaan
angkutan umum menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baik dan
layak bagi masyarakat. Ukuran pelayanan yang baik adalah pelayanan yang
aman, cepat, murah, dan nyaman. Selain itu, keberadaan angkutan umum
penumpang juga membuka lapangan kerja. Keberadaan angkutan umum
penumpang mengandung arti pengurangan volume lalulintas kendaraan
pribadi. Hal ini dimungkinkan karena angkutan umum penumpang bersifat
angkutan massal, sehingga biaya angkut dapat dibebankan kepada lebih
banyak orang atau penumpang, sehingga banyaknya penumpang
menyebabkan biaya per penumpang dapat ditekan serendah mungkin.
      Pada umumnya kota yang pesat perkembangannya adalah kota yang
berada pada jalur sistem angkutan. Perubahan gaya hidup, pola
perkembangan kota, dan pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi
memang mengurangi sumbangan angkutan umum bagi mobilitas suatu kota.
Angkutan umum penumpang berfungsi melayani pergerakan orang dan
barang, sehingga kebijaksanaan yang menyangkut sistem perangkutan tidak
dapat mengabaikan peranan yang penting itu. Usaha meningkatkan mutu
pelayanan angkutan umum dilakukan dengan berbagai cara, termasuk
kebijakan yang mengistimewakan angkutan umum penumpang, seperti
penetapan lajur khusus bus, lajur bus arus balik, serta pembatasan atau
larangan kendaraan pribadi dalam kawasan tertentu selama waktu tertentu,
yang semuanya bermaksud mendorong orang untuk lebih mengutamakan
menggunakan angkutan umum penumpang dengan tujuan membantu
meningkatkan kelancaran lalulintas. Sistem transportasi yang selama ini
melayani masyarakat Malang Raya didominasi oleh angkutan pribadi dan
angkutan umum jenis mikrolet yang dalam kenyataannya jumlah kendaraan
yang ada ini sudah memberikan dampak terhadap kemacetan lalulintas
yang cukup tinggi.
      Atas dasar kenyataan ini, salah satu alternatif yang bisa dikembangkan
adalah pengembangan angkutan bus kota seiring dengan peningkatan
kebutuhan akan transportasi yang cepat dan murah. Isu tersebut
memunculkan berbagai respon dari berbagai kalangan, baik masyarakat
umum, pengusaha, ataupun kalangan akademisi. Berdasarkan adanya
fenomena dari perkembangan isu tersebut, maka memunculkan minat untuk
melakukan suatu kajian mengenai pengadaan bus kota di Malang Raya.
Keberadaan bus kota dirasakan beberapa pihak sudah saatnya untuk
dioperasikan. Pada sisi lain, rencana pengembangan bus kota tersebut
dikhawatirkan dapat menimbulkan kontra dengan keberadaan mikrolet
maupun kemacetan baru. Oleh karena itu, pengoperasian bus kota harus
dapat mengakomodir kebutuhan dan kepentingan semua masyarakat luas
sebagai pengguna moda transportasi di Malang Raya maupun pengemudi
angkutan umum. Dengan pertimbangan tersebut, maka diharapkan
pengoperasian bus kota nantinya tidak memunculkan rasa ketidak-adilan


                                                                                34
                Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



ataupun kerugian terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dan terkait
dengan keberadaan bus kota di Malang Raya.

Tujuan
      Tujuan studi ini adalah mengkaji kesiapan kondisi sarana dan
prasarana jalan yang perlu dalam mendukung rencana pengembangan bus
kota di Malang Raya.

Rumusan Permasalahan
    Bagaimana kondisi sarana dan prasana jalan yang ada dalam
mendukung rencana pengembangan jalur bus kota di wilayah Malang Raya?

Batasan Studi
      Rencana pengembangan jalur bus kota Malang Raya dibatasi pada
jalur Lawang-Arjosari-Gadang-Kepanjen. Alternatif ruas jalan yang dapat
dilewati adalah :
       Daerah Lawang, yaitu Jl. Raya Singosari, Jl. Raya Song, Jl. Raya
         Randuagung, Jl. Raya Dr. Cipto, Jl. Raya Dr. Wahidin, Jl. MH.
         Thamrin, Jl. Dr. Sutomo.
       Daerah Kota Malang, yaitu Jl. Raden Intan, Jl. Panji Saroso, Jl.
         Sunandar Priyosudarmo, Jl. Tumenggung Suryo, Jl. Panglima
         Sudirman, Jl. Gatot Subroto, Jl. Laksamana Martadinata, Jl. Kolonel
         Sugiono.
       Daerah Gadang hingga Kepanjen, diantaranya ruas Jl. Panglima
         Sudirman Kepanjen dan Jl. Ahmad Yani Kepanjen.

KAJIAN PENGEMBANGAN BUS KOTA
Daya Dukung Sarana/Prasarana Jalan
     Daya dukung sarana/prasarana jalan dilakukan untuk mengetahui
kesiapan prasarana jalan yang ada dengan menggunakan metode
pembobotan pada aspek di bawah ini, yaitu:




                                                                                             35
Spectra                                            Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



                                     Tabel 1.
          Persyaratan Prasarana Jalan Yang Mendukung Pelayanan Trayek

    Trayek       Fungsi Jalan    Lebar jalan (m)         Jenis Angkutan
                                                        Bus besar
     Utama           Arteri            >8
                                                        Bus besar non AC
                                                        Bus besar lantai ganda
                                                        Bus besar non AC
    Cabang         Kolektor            >7
                                                        Bus kecil
                                                        MPU
                                                        Bus sedang
    Ranting          Lokal              5               Bus kecil
                                                        MPU
  Sumber : Kep Dirjen hub.Dat No.274/HK.105/DRJD/96.Hal V-1

     Berdasarkan tabel tersebut di atas dan melakukan perbandingan
dengan jenis bus yang akan dioperasikan, yaitu bus dengan kapasitas 30
orang atau tergolong sebagai bus kategori sedang, maka:
      Jalan lokal dapat dikategorikan baik
      Jalan Kolektor dikategorikan sedang
      Jalan Arteri dikategorikan buruk
     Untuk lebar jalan dilakukan penyesuain dengan hasil analisa LOS,
diasumsikan bahwa semakin lebar jalan maka akan semakin baik untuk
penambahan transportasi bus kota. Pembandingan dengan analisis LOS
karena kinerja jalan juga sangat ditentukan oleh besarnya arus lalu-lintas.
Sedangkan kondisi jalan dapat dibedakan sebagai berikut:
      Baik        : Kendaraan bergerak lebih lancar dengan hambatan
                     minim
      Sedang : Kendaraan bergerak kurang lancar karena terjadinya
                     beberapa ambatan pada jalur tesebut.
      Buruk       : Kendaraan mengalami hambatan yang sangat besar
      Perkerasan jalan merupakan kondisi permukaan penutup jalan yang
dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
       Aspal     : baik, karena perkerasan yang mendukung kelancaran
                    pergerakan kendaraab.
       Makadam : sedang ,karena meskipun masih dapat dilalui
                    kendaraan namun hambatan pergerakan yang
                    dihasilkan cukup besar.
       Tanah     : buruk, karena dapat mengganggu kelancaran
                    pergerakan kendaraan terutama disaat musim hujan.
      Perabot jalan yang dimaksudkan adalah halte, rambu lalu-lintas, lampu
jalan dan pedestrian, yaitu:



                                                                                    36
                  Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



       Lengkap dengan kondisi baik: keempat kategori rambu tersebut ada
        dengan kondisi baik.
       Lengkap dengan kondisi buruk: keempat kategori rambu tersebut
        ada, namun berada dalam kondisi buruk.
       Tidak lengkap dengan kondisi baik: salah satu atau dua dari
        perabot tersebut tidak ada, namun perabot yang ada masih dalam
        kondisi baik.
       Tidak lengkap dengan kondisi buruk: salah satu atau dua dari
        perabot tersebut tidak ada dan berada dalam kondisi buruk.

                                        Tabel 2.
                            Parameter Sarana Prasarana Jalan

     VARIABEL                       PARAMETER                        BOBOT           KET
                          # arteri                                      3        Baik
  Klas Jalan              # kolektor                                    2        Sedang
                          # lokal                                       1        Buruk
                          #≥8m                                          3        Baik
  Lebar Jalan             #6m–7m                                        2        Sedang
                          #≤6m                                          1        Buruk
                          # Baik                                        3        Baik
  Kondisi Jalan           # Sedang                                      2        Sedang
                          # Buruk                                       1        Buruk
                          # Aspal                                       3        Baik
  Jenis Perkerasan
                          # Tanah                                       2        Sedang
  Jalan
                          # Makadam                                     1        Buruk
  Perabot Jalan           # lengkap dan kondisi baik                    3        Baik
  (rambu lalulintas,      # lengkap dan kondisi buruk                   2        Sedang
  lampu jalan,            # tidak lengkap dan kondisi baik              1        Buruk
  pedestrian)             # tidak lengkap dan kondisi buruk             0        Buruk sekali

      Dimana:

      Interval =
                       ∑ bobottertinggixjumlah var iabel         =
                                                                     15
                                                                        =5
                                 jumlahkategori                       3

      Kategori :
      Rendah = 0 - 5
      Sedang = 6 - 11
      Tinggi     = > 11

      Khusus untuk penentuan parameter lebar jalan yang ada saat ini
dengan tingkat kesesuaiannya terhadap pengoperasian bus kota, maka
perlu dilakukan penyesuaian dengan kapasitas jalan melalui analisa LOS.
Dengan rumus:




                                                                                                37
Spectra                                                 Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49




             Level Of Service (LOS) = V/C

      Dimana :
      C = Co x FCw x FCsp xFCsf x FCcs

      C         = Kapasitas (smp/jam)
      Co        = Kapasitas dasar (smp/jam)
      FCw       = Faktor penyesuaian lebar jalan
      FCsp      = Factor penyesuaian pemisah arah
      FCsf      = Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan
      FCcs      = Faktor penyesuaian ukuran kota

Kajian Sarana/Prasarana Jalan
      Adapun kajian terhadap sarana/prasarana jalan pada jalur Lawang-
Arjosar-Gadang-Kepanjen adalah:

      Jalan Raden Intan
       Jalan Raden Intan diklasifikasikan sebagai jalan arteri primer. Lebar
jalan adalah 15 m, lebar bahu jalan 1,5 m, dan lebar saluran tepi jalan
adalah 2 m. Jalan Raden Intan merupakan jalan dua arah yang terdiri dari 4
lajur.
       Kondisi perkerasan jalan adalah aspal baik. Lalulintas tergolong arus
tinggi, baik yang berasal dari luar kota Malang maupun dari dalam kota
Malang yang menuju ke Terminal arjosari. Penggunaan lahan di sekitar
kawasan tersebut didominasi oleh perkantoran.
       Berdasarkan nilai LOS pada ruas Jalan Panji Saroso yaitu 0,3; maka
ruas jalan tersebut dikategorikan dalam tingkat pelayanan B. Jalan dengan
tingkat pelayanan B memiliki karakteristik yaitu arus stabil tetapi kecepatan
operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalulintas. Pengemudi memiliki
kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.

                                   Tabel 3.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                              Jalan Raden Intan
 No       Variabel                 Parameter               Bobot        Keterangan
  1   Kelas jalan        Arteri primer                       3      Baik
  2   Lebar jalan        15 m, dengan LOS 0,3                2      Sedang
  3   Kondisi jalan      Sedang                              2      Sedang
  4   Jenis perkerasan   Aspal                               3      Baik
                         Tidak lengkap dengan kondisi
  5   Perabot jalan                                          1
                         baik
                                                                    Daya dukung
                      JUMLAH (∑)                             11     prasarana tergolong
                                                                    sedang


                                                                                         38
                 Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



       Jalan Panji Suroso
      Berdasarkan kebijakan transportasi Kota Malang diketahui bahwa ruas
Jalan Panji Suroso termasuk dalam kelas jalan arteri sekunder. Jalan Panji
Suroso merupakan jalan dua jalur dan dua lajur dengan lebar perkerasan
jalan 8,8 m. Masing-masing lajur memiliki lebar 4,4 m serta lebar bahu jalan
adalah 2 m dan lebar saluran tepi jalan adalah 0,6 m. Selain itu, diketahui
pula lebar daerah pengawasan jalan (dawasja) adalah 2-5 meter.
      Kondisi perkerasan Jalan Panji Saroso tergolong baik dengan
perkerasan dari aspal. Penggunaan lahan di sekitar jalan tersebut sebagian
besar adalah untuk usaha perdagangan dan jasa seperti CV, perbengkelan,
dan beberapa bangunan ruko. Secara umum kondisi arus lalulintas di
sepanjang Jalan Panji Suroso terlihat stabil, namun terdapat titik yang
menyebabkan kemacetan, yaitu pada ujung ruas jalan dan perempatan
dengan Jl. Laksda Adi Sucipto - Jl. S. Prijosudarmo.
      Berdasarkan nilai LOS pada ruas Jalan Panji Saroso yaitu 0,29 maka
ruas jalan tersebut dikategorikan dalam tingkat pelayanan B. Jalan dengan
tingkat pelayanan B memiliki karakteristik yaitu arus stabil, tetapi kecepatan
operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalulintas. Pengemudi memiliki
kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.

                                   Tabel 4.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                              Jalan Panji Suroso
  No        Variabel                  Parameter                Bobot         Keterangan
   1    Kelas jalan         Arteri sekunder                      3       Baik
   2    Lebar jalan         8,8 m dengan LOS 0,29                2       Sedang
   3    Kondisi jalan       Sedang                               2       Sedang
   4    Jenis perkerasan    Aspal                                3       Baik
                            Tidak lengkap dengan kondisi
  5     Perabot jalan                                             1      Buruk
                            baik
                                                                         Daya dukung
                        JUMLAH (∑)                               11      prasarana
                                                                         tergolong sedang



       Jalan Sunandar Priyosudarmo
      Seperti halnya kelas jalan pada Jalan Panji Suroso, maka Jalan
Sunandar Priyosudarmo digolongkan kedalam jalan arteri sekunder.
Sebagai terusan dari Jalan Panji Suroso, ruas Jalan Sunandar Priyo-
sudarmo juga terdiri dari dua jalur dan dua lajur.
      Lebar jalan tersebut adalah 6,5 m dengan tiap lajur memiliki lebar 3,25
m. Sementara itu, lebar bahu jalan jalan adalah 4 m dan lebar saluran tepi
jalan adalah 0,9 m. Jarak dari saluran tepi jalan ke bangunan di tepi jalan
adalah 5 m.


                                                                                              39
Spectra                                               Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



      Perkerasan jalan pada Jalan Sunandar Priyosudarmo menggunakan
perkerasan aspal dengan kondisi yang masih baik. Adapun karakter
kawasan di sekitar jalan tersebut tidak berbeda jauh dengan karakter
kawasan di sekitar Jalan Panji Suroso, dimana penggunaan lahannya
sebagian besar adalah untuk perdagangan dan jasa seperti perbengkelan,
penjualan suku cadang kendaraan bermotor, CV, dan ruko.
      Perhitungan kapasitas jalan pada Jalan Sunandar Priyo Sudarmo
diasumsikan bahwa kapasitas jalan tersebut tidak berbeda jauh dengan
Jalan Panji Saroso. Hal tersebut didasarkan pada hasil pengamatan di
lapangan, dimana kondisi arus lalulintas di sepanjang jalan tersebut tidak
memiliki perbedaan yang mencolok dengan kondisi arus lalulintas di Jalan
Panji Saroso.

                                    Tabel 5.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                          Jalan Sunandar Priyosudarmo
  No        Variabel                 Parameter            Bobot        Keterangan
   1    Kelas jalan        Arteri sekunder                  3      Baik
   2    Lebar jalan        6,5 m dengan LOS 0,29            2      Sedang
   3    Kondisi jalan      Sedang                           2      Sedang
   4    Jenis perkerasan   Aspal                            3      Sedang
                           Tidak lengkap dengan kondisi
  5     Perabot jalan                                       1      Buruk
                           kurang baik
                                                                   Daya dukung
                        JUMLAH (∑)                         10      prasarana
                                                                   tergolong sedang



       Jalan Tumenggung Suryo
      Jalan Tumenggung Suryo merupakan salah satu ruas jalan yang
menghubungkan Terminal Arjosari menuju ke Terminal Gadang, dimana dari
kedua terminal tersebut dapat menghubungkan penumpang yang berasal
dari Kota Malang menuju Kabupaten Malang, Blitar dan kota lainnya.
Dikategorikan sebagai jalan arteri sekunder.
      Ruas jalan tersebut merupakan jalan dengan dua jalur dan dua lajur.
Adapun lebar jalan Tumenggung Suryo adalah 8,8 m dengan masing-
masing lajur memiliki lebar 4,4 m. Untuk bahu jalan jalan memiliki lebar 1,2
m dan saluran tepi jalan selebar 0,85 m. Dari saluran tepi jalan sampai ke
bangunan di tepi jalan (dawasja) lebarnya berkisar antara 5 m ke atas.
      Perkerasan jalan di Jalan Tumenggung Suryo menggunakan
perkerasan aspal dengan kondisi yang masih baik. Penggunaan lahan di
sekitar ruas jalan kebanyakan didominasi oleh perumahan penduduk serta
terdapat pula beberapa bangunan perdagangan dan jasa, seperti ruko, kios,
dan wartel. Selain itu, juga terdapat fasilitas pendidikan, yaitu SD dan SMP.



                                                                                       40
                 Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



      Perhitungan kapasitas jalan (LOS) untuk Jalan Tumenggung Suryo
diasumsikan sama dengan ruas Jalan Panji Saroso dan Jalan Sunandar
Priyo Sudarmo. Hal tersebut didasarkan atas hasil pengamatan di lapangan
dimana kondisi arus lalulintas pada jalan tersebut relatif sama dengan dua
ruas jalan sebelumnya.

                                   Tabel 6.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                           Jalan Tumenggung Suryo
  No        Variabel                  Parameter                Bobot         Keterangan
   1    Kelas jalan         Arteri sekunder                      3       Baik
   2    Lebar jalan         8,8 m dengan LOS 0,29                2       Sedang
   3    Kondisi jalan       Sedang                               2       Sedang
   4    Jenis perkerasan    Aspal                                3       Baik
                            Tidak lengkap dengan kondisi
  5     Perabot jalan                                             1      Buruk
                            baik
                                                                         Daya dukung
                        JUMLAH (∑)                               11      prasarana
                                                                         tergolong sedang



       Jalan Panglima Sudirman
      Jalan Panglima Sudirman diklasifikasikan kedalam jalan arteri
sekunder, dimana ruas jalan ini merupakan salah satu ruas jalan yang
menghubungkan Terminal Arjosari di Kota Malang terus ke arah Selatan
sampai dengan Terminal Gadang.
      Ruas Jalan Panglima Sudirman merupakan ruas jalan yang terdiri dari
dua jalur dan tiga lajur dengan lebar jalan adalah 10 m dan masing-masing
lajur memiliki lebar 3,3 m. Bahu jalan memiliki lebar 1 m dan saluran tepi
jalan selebar 0,8 m. Sementara lebar daerah pengawasan jalan berkisar dari
2 m sampai 10 m.
      Kondisi jalan di Jalan Panglima Sudirman tergolong baik dengan
perkerasan dari aspal. Penggunaan lahan di sekitar jalan tersebut bervariasi
yaitu keberadaan fasilitas pendidikan, seperti sekolah, perhotelan, fasilitas
olahraga (lapangan sepakbola), dan terdapat pula kawasan militer.
      Keberadaan perempatan Jalan pada persimpangan Jalan Panglima
Sudirman dengan Jalan Pattimura merupakan salah satu lokasi titik
kemacetan jalan menurut pengamatan di lapangan.
      Berdasarkan nilai LOS pada ruas Jalan Panglima Sudirman yaitu 0,29,
maka ruas jalan tersebut dikategorikan dalam tingkat pelayanan B. Jalan
dengan tingkat pelayanan B memiliki karakteristik arus stabil, tetapi
kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalulintas. Pengemudi memiliki
kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan




                                                                                              41
Spectra                                               Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



                                   Tabel 7.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                           Jalan Panglima Sudirman
  No        Variabel                 Parameter            Bobot        Keterangan
   1    Kelas jalan        Arteri sekunder                  3      Baik
   2    Lebar jalan        10 m dengan LOS 0,29             2      Sedang
   3    Kondisi jalan      Sedang                           2      Sedang
   4    Jenis perkerasan   Aspal                            3      Baik
                           Tidak lengkap dengan kondisi
  5     Perabot jalan                                       1      Buruk
                           baik
                                                                   Daya dukung
                        JUMLAH (∑)                         11      prasarana
                                                                   tergolong sedang



       Jalan Gatot Subroto
      Jalan Gatot Subroto juga termasuk kedalam kelas jalan arteri
sekunder. Ruas jalan Gatot Subroto memiliki lebar 15 m yang terdiri dari dua
jalur dan empat lajur. Untuk lebar bahu jalan beserta saluran tepi jalan
adalah 1 m. Sementara jarak dari saluran tepi jalan ke bangunan samping
jalan adalah 0 – 5 m.
      Kondisi jalan menggunakan perkerasan dari aspal dengan kondisi
baik. Penggunaan lahan di sekitar jalan tersebut hampir sebagian besar
difungsikan sebagai toko. Keberadaan toko-toko yang berjarak sangat dekat
dengan jalan ditambah lagi tingginya arus lalulintas di jalan tersebut
menyebabkan terjadinya kemacetan. Selain itu, kemacetan juga diakibatkan
oleh pemakaian badan jalan sebagai area parkir, baik oleh pemilik sarana
perdagangan jasa di kawasan tersebut ataupun para pengunjung.
      Berdasarkan nilai LOS pada ruas Jalan Gatot Subroto yaitu 0.38 maka
ruas jalan tersebut dikategorikan dalam tingkat pelayanan B. Jalan dengan
tingkat pelayanan B memiliki karakteristik arus stabil, tetapi kecepatan
operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalulintas. Pengemudi memiliki
kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.
                                   Tabel 8.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                             Jalan Gatot Subroto
  No        Variabel                 Parameter            Bobot        Keterangan
   1    Kelas jalan        Arteri sekunder                  3      Baik
   2    Lebar jalan        15 m dengan LOS 0,38             2      Sedang
   3    Kondisi jalan      Sedang                           2      Sedang
   4    Jenis perkerasan   Aspal                            3      Baik
                           Tidak lengkap dengan kondisi
  5     Perabot jalan                                       1      Buruk
                           baik
                                                                   Daya dukung
                        JUMLAH (∑)                         11      prasarana
                                                                   tergolong sedang


                                                                                       42
                Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



       Jalan Laksamana Martadinata
       Jalan Laksamana Martadinata juga tergolong jalan arteri sekunder.
Jalan tersebut merupakan terusan dari Jalan Gatot Subroto dengan lebar 15
m yang terdiri dari dua jalur dan empat lajur. Sebagai ruas jalan yang berada
di sekitar kawasan perdagangan dan jasa, maka kondisi ruas jalan ini sering
mengalami kemacetan. Hal tersebut diakibatkan oleh jarak pertokoan yang
sangat dekat ke badan jalan, sehingga pemakaian parkir menyerobot badan
jalan.
       Perhitungan kapasitas jalan (LOS) untuk Jalan Laksamana
Martadinata diasumsikan sama dengan LOS pada jalan Gatot Subroto. Hal
tersebut didasarkan pada pengamatan di lapangan, dimana Jalan
Laksamana Martadinata masih merupakan terusan dari Jalan Gatot Subroto
dengan ukuran dan kondisi yang sama pula.

                                    Tabel 9.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                          Jalan Laksamana Martadinata
  No        Variabel                 Parameter                Bobot         Keterangan
   1    Kelas jalan        Arteri sekunder                      3       Baik
   2    Lebar jalan        15 m dengan LOS 0,38                 2       Sedang
   3    Kondisi jalan      Sedang                               2       Sedang
   4    Jenis perkerasan   Aspal                                3       Baik
   5    Perabot jalan      Tidak lengkap                        1       Buruk
                                                                        Daya dukung
                     JUMLAH (∑)                                 10      prasarana
                                                                        tergolong sedang



       Jalan Kolonel Sugiono
      Sebagaimana Jalan Laksamana Martadinata, maka jalan Kolonel
Sugiono juga masih merupakan terusan dari jalan Gatot Subroto dengan
lebar dan kondisi yang sama. Adapun lebar jalan Kolonel Sugiono adalah 15
m yang terdiri dari dua jalur dan empat lajur.
      Adapun kondisi perkerasan jalan tergolong aspal baik. Untuk
penggunaan lahan di sekitar jalan tersebut masih merupakan area
perdagangan dan jasa yang didominasi oleh keberadaan toko dan ruko.
Kondisi yang sama dengan dua ruas jalan sebelumnya tersebut
menyebabkan perhitungan LOS pada ruas jalan ini diasumsikan sama
dengan LOS pada ruas Jalan Gatot Subroto dan Jalan Laksamana
Martadinata.




                                                                                             43
Spectra                                           Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



                                   Tabel 10.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                             Jalan Kolonel Sugiono
  No        Variabel                 Parameter       Bobot         Keterangan
   1    Kelas jalan        Arteri sekunder             3       Baik
   2    Lebar jalan        15 m dengan LOS 0,38        2       Sedang
   3    Kondisi jalan      Sedang                      2       Sedang
   4    Jenis perkerasan   Aspal                       3       Baik
   5    Perabot jalan      Tidak lengkap               1       Buruk
                                                               Daya dukung
                     JUMLAH (∑)                         8      prasarana
                                                               tergolong sedang



       Jalan Panglima Sudirman (Kepanjen)
      Jalan Panglima Sudirman yaitu ruas jalan di Kota Kepanjen yang
memiliki lebar jalan 9 meter.
      Berdasarkan nilai LOS pada ruas Jalan Panglina Sudirman Kepanjen
yaitu 0.28 maka ruas jalan tersebut dikategorikan kedalam tingkat pelayanan
B. Jalan dengan tingkat pelayanan B memiliki karakteristik arus yang stabil,
tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalulintas. Pengemudi
memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.

                                   Tabel 11.
               Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                             Jalan Kolonel Sugiono
  No        Variabel                 Parameter       Bobot         Keterangan
   1    Kelas jalan        Arteri sekunder             3       Baik
   2    Lebar jalan        9 m dengan LOS 0,28         2       Sedang
   3    Kondisi jalan      Sedang                      2       Sedang
   4    Jenis perkerasan   Aspal                       3       Baik
   5    Perabot jalan      Tidak lengkap               1       Buruk
                                                               Daya dukung
                     JUMLAH (∑)                        11      prasarana
                                                               tergolong sedang


       Jalan Achmad Yani (Kepanjen)
      Jalan Achmad Yani merupakan ruas jalan di Kota Kepanjen yang
memiliki lebar jalan 9 meter, termasuk kolektor primer.
      Berdasarkan nilai LOS pada ruas Jalan Achmad Yani yaitu 0.23 maka
ruas jalan tersebut dikategorikan kedalam tingkat pelayanan B. Jalan
dengan tingkat pelayanan B memiliki karakteristik yaitu arus yang stabil,
tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalulintas. Pengemudi
memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan.



                                                                                   44
               Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



                                  Tabel 12.
              Analisa Pembobotan Daya Dukung Sarana/Prasarana
                            Jalan Kolonel Sugiono
  No       Variabel                 Parameter                Bobot         Keterangan
   1   Kelas jalan        Kolektor primer                      2       Sedang
   2   Lebar jalan        9 m dengan LOS 0,23                  2       Sedang
   3   Kondisi jalan      Sedang                               2       Sedang
   4   Jenis perkerasan   Aspal                                3       Baik
   5   Perabot jalan      Tidak lengkap                        1       Buruk
                                                                       Daya dukung
                    JUMLAH (∑)                                 10      prasarana
                                                                       tergolong sedang


       Dari hasil analisa diperoleh daya dukung sarana-prasarana jalan pada
jalur Lawang-Arjosari-Gadang-Kepanjen sebagian besar dapat dikategorikan
kedalam kelas sedang.


Konflik yang Timbul
      Untuk kondisi jalan, dilakukan identifikasi titik-titik yang mempunyai
potensi dalam memunculkan konflik. Faktor yang perlu diketahui yaitu
bentuk konflik, faktor penyebab adanya konflik, besaran konflik, dan akibat
yang ditimbulkan oleh konflik, untuk selanjutnya memberikan alternatif
penyelesaian konflik.
      Dari kondisi yang ada beberapa potensi konflik yang muncul adalah
kemacetan. Kemacetan ini muncul sebagai akibat adanya kondisi pada ruas
jalan, seperti adanya persilangan antara kendaraan pada pertigaan dan
perempatan jalan, sehingga menyebabkan terjadinya antrian panjang bagi
kendaraan yang akan melaju; kapasitas jalan yang tidak lagi mampu
menampung tingginya volume kendaraan yang melalui jalan tersebut; tidak
tersedianya rambu lalu lintas yang memadai; sistem parkir di tepi jalan yang
tidak teratur; serta faktor lainnya. Pada tabel berikut akan ditampilkan
analisa potensi konflik lalulintas.




                                                                                            45
Spectra                                                Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



                                     Tabel 13.
                                  Konflik Lalulintas

                                              Konflik Lalu Lintas
 No       Ruas Jalan                                                    Dampak Dari
                               Bentuk dan Faktor Penyebab
                                                                           Konflik
  1           2                                 3                            4
  1   Jl. Raden Intan       Adanya persilangan antara kendaraan      Kemacetan
                             yang akan berbelok dengan kendaraan      Rawan
                             yang melaju lurus pada pertigaan         Kecelakaan
                             jalan.
                            Pemberhentian pada saat lampu
                             merah yang menyebabkan antrian
                             panjang, sehingga kendaraan yang
                             akan membelok tertahan oleh antrian
                             kendaraan.
  2   Jl. Panji Suroso      Kapasitas jalan yang terlampaui akibat   Kemacetan
                             banyaknya kendaraan yang melaju.         Rawan
                            Lebar jalan yang tidak memadai,          kecelakaan
                             sehingga tidak bisa menampung
                             volume kendaraan yang tinggi.
                            Pada ujung ruas jalan, perempatan
                             dengan Jl. Laksda Adi Sucipto - Jl. S.
                             Prijosudarmo terjadi persilangan
                             karena adanya kendaraan yang akan
                             membelok dengan kendaraan yang
                             akan melaju lurus
  3   Jl. Laksda Adi        Banyaknya kendaraan yang memarkir        Kemacetan
      Sucipto                tidak teratur di tepi jalan.             Rawan
                            Angkutan yang berhenti di sebagian       kecelakaan
                             badan jalan.
                            Persilangan pada perempatan jalan
                             antara kendaraan yang akan berbelok
                             dengan kendaraan yang melaju lurus.
  4   Jl. Panglima          Adanya aktifitas perdagangan (PKL) di    Kemacetan
      Sudirman               tepi jalan menyebabkan terganggunya
                             kelancaran arus kendaraan.
                            Adanya persilangan antar kendaraan
                             pada persimpangan, sehingga
                             mengakibatkan antrian panjang.
  5   Jl. Gatot             Adanya kegiatan perdagangan yang         Kemacetan
      Subroto                meberikan dampak pada aktifitas          Rawan
                             pejalan kaki, sehingga berpengaruh       kecelakaan
                             pada laju kendaraan yang harus pelan-
                             pelan.
                            Parkir tepi jalan yang kurang efektif.
  6   Jl. Laksda            Adanya kegiatan perdagangan yang         Kemacetan
      Martadinata            meberikan dampak pada aktifitas          Rawan
                             pejalan kaki, sehingga berpengaruh       kecelakaan
                             pada laju kendaraan yang harus pelan-
                             pelan.
                            Parkir tepi jalan yang kurang efektif.




                                                                                        46
                Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto




 1            2                                 3                                  4
 7    Jl. Kolonel            Kapasitas jalan terlampaui karena           Kemacetan
      Sugiono                 tingginya volume kendaraan yang             Kesembrawutan
                              melaju.                                     pada lokasi dan
                             Adanya perlintasan rel kereta api,          ruas jalan
                              sehingga menimbulkan antrian                Rawan
                              kendaraan.                                  kecelakaan
                             Adanya persilangan antara kendaraan
                              yang akan masuk-keluar dari terminal
                              Gadang dengan kendaraan yang akan
                              melaju lurus.
                             Tidak efektifnya rambu lalulintas oleh
                              para pengemudi.
                             Banyak pengemudi yang memarkir
                              kendaraannya tidak pada tempatnya.
 8    Jl. Ahmad Yani         Adanya aktifitas PKL di pinggir jalan       Kemacetan
      Kepanjen                menyebabkan arus lalu-lintas
                              terganggu.
                             Parkir kendaraan di sisi jalan.



KESIMPULAN
     1. Daya dukung sarana prasarana jalan yang dimaksudkan
        menyangkut kajian terhadap kondisi ruas jalan yang membahas
        tentang kelas jalan, lebar jalan dikaitkan dengan kapasitas jalan
        melalui analisis LOS, kondisi jalan menyangkut ada tidaknya konflik
        lalulintas pada ruas jalan, perkerasan jalan, dan lengkap tidaknya
        perabot jalan.
     2. Dari hasil analisa diperoleh kesimpulan bahwa sebagian besar ruas
        jalan yang menghubungkan Lawang-Arjosari-Gadang-Kepanjen
        memiliki daya dukung sarana prasarana dengan kategori sedang.
        Adapun rekomendasi yang diberikan untuk perbaikan tiap ruas jalan
        yang memiliki konflik lalulintas adalah seperti yang tampak pada
        tabel di bawah ini.




                                                                                             47
Spectra                                               Nomor 9 Volume V Januari 2007: 33-49



                                      Tabel 14.
                      Alternatif Penyelesaian Konflik Lalu-lintas


               Ruas Jalan                   Alternatif Penyelesaian Konflik

          Jl. Raden Intan              Perlunya penambahan traffic light pada
                                        pertigaan Raden Intan-Panji Suroso.
                                       Perbaikan perkerasan jalan.
          Jl. Panji Suroso             Pengaturan kembali sistem traffic light (lampu
                                        lalulintas)
                                       Perlunya pelebaran jalan.
                                       Pengaturan rambu-rambu lalulintas terhadap
                                        pengendara.
          Jl. Panglima Sudirman        Peningkatan perkerasan jalan.
          Jl. Gatot Subroto            Pengaturan kembali sistem parkir, terutama
                                        model parkir.
          Jl. Laksda Martadinata       Pengaturan kembali sistim parkir, terutama
                                        model parkir.
          Jl. Kolonel Sugiono          Perlunya pelebaran jalan.
                                       Penertipan PKL.
                                       Pengaturan sistiem parkir yang efektif.
          Jl. Ahmad Yani               Penertiban PKL.
          Kepanjen                     Pengaturan sistem parkir.

     3. Fasilitas bagi penumpang yang menunggu adalah berupa ruang
        antri, yaitu berupa side walk. Dalam hal ini dimensi side walk yang
        direncanakan adalah 2 m dengan ukuran 1,2-1,5 m dipergunakan
        untuk penumpang yang antri dan sisanya untuk pedestrian yang
        lalulalang. Rencana dimensi side walk sifatnya tidak mengikat,
        tetapi disesuaikan dengan kondisi eksisting lahan yang ada.
     4. Bangunan perhentian bus (halte) adalah prasarana yang disediakan
        untuk penumpang pada saat diperhentian agar terlindung dari
        matahari, hujan, dan angin. Halte pada prinsipnya dibangun agar
        proses interaksi antar bus dan penumpang dapat berlangsung
        secara aman dan nyaman, terutama bagi penumpang, berdasarkan
        pertimbangan: (a) tata letak halte dapat dibedakan menjadi halte
        dengan sidewalk di depannya dan halte dengan sidewalk di
        belakangnya dengan ukuran minimal 0,8 m agar kapasitas side
        walk dalam melayani pejalan kaki tidak kurang dari 35 pedestrian
        tiap menit, (b) tipe halte dapat ditentukan berdasarkan tolok ukur
        kenyamanan dan ketersediaan anggaran pembangunan halte
        dengan desain gaya arsitektur khas Malang atau Jawa Timur, serta
        (c) halte dilengkapi dengan bangku dan papan informasi yang
        menunjukkan jadwal bus, selain dapat juga untuk perletakan papan
        informasi pariwisata Malang Raya atau pemberitahuan lainnya yang
        berguna untuk kepentingan publik.


                                                                                         48
               Pengembangan Bus Kota Agung Witjaksono - Bevi Agusti Tulak - Hermelinda F. Letto



DAFTAR PUSTAKA
Marbun, B.N. 1990. Kota Indonesia Masa Depan. Jakarta: Erlangga.
Miro, Fidel. 2002. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga.
Marlok, E.K. 1995. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Jakarta:
       Erlangga.
Warpani, Suwardjoko. 1990. Pengelolaan Lalulintas dan Angkutan Jalan. Bandung:
       ITB Bandung.
___________. 1991. Perencanaan Transportasi. Bandung: ITB Bandung.




                                                                                            49
Spectra                                            Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



       PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN
DAN KERUSAKAN HUTAN TERHADAP KOEFISIEN PENGALIRAN
               DAN HIDROGRAF SATUAN

                               Ibnu Hidayat P.J.
                                  Kustamar
                    Dosen Teknik Pengairan FTSP ITN Malang



                                ABSTRAKSI

     Kali Konto merupakan salah satu anak sungai Kali Brantas dengan luas
     DAS 370 km2, panjang sungai 70 km, dan curah hujan rerata tahunan
     sebesar 2.500 mm. Kali Konto mengalir sepanjang Kecamatan Pujon
     Kabupaten Malang dan Kecamatan Ngantang Kabupaten Kediri,
     merupakan daerah dengan kategori yang rawan terhadap
     penggundulan hutan, rawan bencana longsor, serta termasuk rawan
     bencana banjir. Hal ini dibuktikan dengan pada 10 tahun terakhir ini
     kerusakan lingkungan sungai akibat perubahan pola penggunaan lahan
     di DAS Kali Konto yang semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini
     adalah untuk mengetahui besarnya perubahan koefisien pengaliran
     akibat dari perubahan tata guna lahan dan kerusakan hutan yang dapat
     merubah kondisi pengaliran di Kali Konto. Metode yang dilakukan yaitu
     dimulai dengan pengumpulan data yang meliputi data karakteristik fisik
     DPS, peta topografi, dan data Automatic Water Level Recorded
     (AWLR) serta dilanjutkan dengan pengolahan data yang meliputi:
     perhitungan curah hujan rerata daerah, perhitungan koefisien aliran,
     perhitungan curah hujan efektif, dan perhitungan ordinat hidrogaf
     satuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien pengaliran
     terlihat semakin meningkat, untuk tahun 1995 koefisien pengalirannya
     0.0379, tahun 2000 koefisien pengalirannya 0.0963 dan tahun 2006
     koefisien pengalirannya 0.1799. Sedangkan nilai Qp (tinggi limpasan)
     setiap tahun meningkat yang menandakan bahwa kerusakan
     lingkungan sungai semakin meningkat.

     Kata Kunci : Koefisien Pengaliran, Ketusakan Hutan, Reboisasi.



PENDAHULUAN
Latar Belakang
      Kali Konto merupakan salah satu anak sungai Kali Brantas yang
mempunyai luas DAS 370 km2, panjang sungai 70 km, dan curah hujan
rerata tahunan sebesar 2.500 mm. Kali Konto telah dimanfaatkan untuk
berbagai kepentingan, seperti PLTA serta suplai air irigasi di daerah


                                                                                    50
                           Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



Kabupaten Kediri dan Jombang. Kali Konto mengalir sepanjang kecamatan
Pujon Kabupaten Malang dan Kecamatan Ngantang Kabupaten Kediri.
Kecamatan ini terletak pada ketinggian > 40% dan termasuk daerah yang
terjal atau perbukitan. Daerah dengan keadaan seperti ini merupakan
daerah yang harus dihutankan karena mempunyai fungsi sebagai
perlindungan terhadap tanah dan air serta menjaga ekosistem lingkungan
hidup.
       Kecamatan Pujon dan Ngantang termasuk wilayah kecamatan dengan
kategori yang rawan. Yang dimaksud daerah yang rawan di sini adalah
daerah yang rawan terhadap penggundulan hutan, rawan bencana longsor,
dan rawan bencana banjir. Dari hasil survei, semua desa di dua kecamatan
ini dikategorikan sebagai daerah yang rawan. Namun, pada 10 tahun
terakhir ini kerusakan lingkungan sungai akibat perubahan pola penggunaan
lahan di DAS Kali Konto, khususnya di bagian hulu bendungan Selorejo
seluas 233.25 km2, cenderung semakin meningkat. Beberapa bangunan
check dam mengalami kerusakan yang cukup parah karena tidak mampu
menahan terjangan banjir dan debris yang terjadi. Gerusan yang merubah
morfologi sungai tersebut diperparah oleh perusakan lingkungan. Dengan
rusaknya lingkungan di sekitar sungai, maka limpasan permukaan di daerah
tersebut semakin besar dan akan mengakibatkan bertambah besarnya
gerusan. Oleh karena itu, kegiatan konservasi lingkungan DAS sangat perlu
diadakan.

Identifikasi Masalah
     Sifat-sifat sungai sangat dipengaruhi oleh luas, kondisi, dan bentuk
DAS serta kemiringan dasar sungainya. Secara geografis Kali Konto yang
bersumber di Gunung Anjasmoro dan daerah pengalirannya meliputi
kecamatan Pujon dan Kecamatan Ngantang, mempunyai kemiringan dasar
sungai, yaitu:

                                  Tabel 1.
                       Gradien Kemiringan Dasar Sungai

                            Ruas                         Gradien
                    Selorejo – Lebaksari                1/40 – 1/50
                 Siman Mendalan – Selorejo              1/50 – 1/60
                     Kandangan – Pare                       1/90
                       Pare – Kediri                       1/300

      Data di atas menunjukkan bahwa mulai dari Selorejo ke arah hulu,
yaitu Lebaksari dengan panjang sungai 30 km, mempunyai kemiringan yang
sangat tajam dan termasuk sungai di daerah pegunungan. Dengan
karakteristik seperti itu, maka di Kali Konto perlu dilakukan perbaikan dan
pengendalian sungai dengan mengamankan lingkungannya karena


                                                                                        51
Spectra                                          Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



permasalahan pokok yang masih dialami dan cenderung semakin meningkat
adalah kerusakan lingkungan sungai. Diindikasikan bahwa penyebab utama
dari kerusakan lingkungan ini adalah pengembangan daerah pertanian (non
padi) yang pada umumnya banyak dilakukan di daerah berhawa sejuk
dengan ketinggian topografi tertentu. Hal ini juga melanda kawasan DAS
Kali Konto, dimana berdasarkan data tahun 1973 menunjukkan bahwa
kondisi tata guna lahannya adalah sebagai berikut:

                               Tabel 2.
                      Penggunaan Lahan Tahun 1973

                   Jenis tata guna lahan        Luas (km2)
                 Hutan alam                       93,200
                 Hutan industri dan ladang       118,000
                 Sawah                            13,400
                 Perkampungan                     10,700
                         Total luas              233,300

                               Tabel 3.
                      Penggunaan Lahan Tahun 2004

                Jenis Tata Guna Lahan        Ngantang    Pujon
                 Pemukiman                    12.340       5.499
                 Sawah                        10.460       8.433
                 Tegal/ Kebun                  9.700      17.480
                 Perkebunan                    8.010       0.400
                 Hutan                        91.700      92.810
                 Lainnya                       3.780       5.920

      Perubahan tata guna lahan tersebut ditinjau dari prosentasenya
selama 25 tahun memang relatif kecil. Namun, ditinjau dari akibat-akibat
yang timbul dengan adanya perubahan tersebut, terutama cara
mengeksploitasi lahan-lahan pertanian non padi (ladang) maupun tegalan,
cenderung untuk meningkatkan laju erosi lahan. Tegalan merupakan
kegiatan pembukaan lahan hutan untuk tanaman perkebunan dan apabila
lahan tersebut tidak produktif lagi, maka akan ditinggalkan terbelengkai.
Kegiatan ini dapat menambah parahnya kerusakan lahan. Topografi yang
curam, diikuti dengan terjadinya perubahan tata guna lahan, dan
berkurangnya daerah resapan dapat memperbesar limpasan permukaan
yang terjadi. Limpasan tersebut akan mengalir dan masuk ke sungai,
sehingga debit di sungai semakin besar yang pada akhirnya dapat
menyebabkan banjir.




                                                                                  52
                          Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



Perumusan Masalah
      Dari identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan
dalam studi ini, yaitu berapa besarnya perubahan koefisien limpasan yang
diakibatkan oleh kerusakan hutan dan perubahan tata guna lahan.

Tujuan dan Manfaat
      Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui besarnya perubahan
koefisien pengaliran akibat dari perubahan tata guna lahan dan kerusakan
hutan yang dapat merubah kondisi pengaliran di Kali Konto.
Sedangkan manfaat studi adalah:
       Mengetahui perubahan koefisien limpasan akibat dari perubahan
         tata guna lahan dan kerusakan hutan.
       Membandingkan perbedaan koefisien limpasan sebelum dan
         sesudah terjadinya perubahan tata guna lahan dan kerusakan
         hutan.

ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN
Data Karakteristik DPS
     Luas DPS       : 233.25 km2
     Panjang sungai : 20.5 km

Data Automatic Water Level Record (AWLR)
       AWLR diletakkan pada titik keluaran (outlet) dalam DPS, dimana dari
alat ini diperoleh grafik hubungan antara tinggi muka air (m) terhadap waktu
(jam) yang berjalan secara terus menerus. Pada Kali Konto penempatan
AWLR berada di daerah Kambal.

Data Debit
     Data debit ini diperoleh melalui pengalihragaman data tinggi muka air
yang melimpah di atas alat ukur. Dengan menggunakan rumus alat ukur
bendung tipe Romijn, dimana:

     Koefisien romijn     = 1.71
     Lebar pelimpah (B) = 39 m
     H = tinggi air yang berada di atas pelimpah, merupakan data AWLR.




                                                                                       53
Spectra                                              Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



                                Tabel 1.
            Data AWLR dan Debit Hasil Perhitungan Tahun 2006
                                                             3
                Jam           H (m)    K     B (m)      Q (m /dt)
                12:00         0.24    1.71    39          7.841
                13:00         0.25    1.71    39          8.336
                14:00         0.26    1.71    39          8.841
                15:00         0.30    1.71    39         10.958
                16:00         0.60    1.71    39         30.995
                17:00         0.56    1.71    39         27.947
                18:00         0.48    1.71    39         22.178
                19:00         0.41    1.71    39         17.507
                20:00         0.35    1.71    39         13.809
                21:00         0.31    1.71    39         11.511


     Rumus Romijn:
     Q =1.71× B × H
                      3
                          2


     untuk ketinggian air pada jam 12:00 tanggal 27 Nopember 2006
     B = 39 m
     H = 0.24
     Q = 1.71 * 39 * 0.241.5
       = 7.841 m3/dt

Perhitungan Curah Hujan Rerata Daerah
     Data yang dipakai adalah data curah hujan jam-jaman, data ini
didapatkan dari pos penakar hujan otomatis, yang memberikan pengaruh
pada setiap DAS dan perhitungannya dilakukan dengan cara Thiessen.
    Luas DPS        = 233.25 km2 atau 233.3 E+08 m2.
    Luasan Pujon    = 76.7 km2.
    Luasan Selorejo = 156,5 km2.
Faktor pembobot luasan masing-masing daerah:
    Pujon           = 76.7/ 233.25 = 0.329
    Selorejo        = 156.5 / 233.25 =0.671




                                                                                      54
                             Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



                                     Tabel 2.
               Curah Hujan Thiessen untuk Tanggal 27 Nopember 2006

         Jam        Pujon (0.329)      Selorejo (0.671)        D max (mm/jam)

         13:00           0                     2                    1.342
         14:00           0                     0                      0
         15:00           0                     1                    0.671
         16:00           0                    22                    16.740
         17:00           0                    24                    16.100
         18:00           0                     5                    3.355
         19:00           0                     2                    1.342
         20:00           2                     3                    2.671
         21:00           1                     0                    0.329


     Perhitungan Curah hujan rerata daerah pada jam 13:00
     Koefisien luasan Pujon = 0.329
     Koefisien luasan selorejo = 0.671
     D max = (0.329 × 0) + (0.671× 2)
     D max = 1.342 mm/jam

Perhitungan Waktu Konsentrasi
     Panjang Sungai                  = 20.5 km
     Kemiringan dasar sungai (slope) = 0.0425
     t   = L/W
     W = 72 (H/L)0.6
         = 72 (0.0425)0.6
         = 10.8 km/jam
     t   = 20.5 / 10.8
         = 1.89 jam = 2 jam

Perhitungan Koefisien limpasan
Perhitungan koefisien aliran tanggal 27 Nopember 2006
Dengan Waktu konsentrasi = 2 jam, maka hujan yang terjadi pada 27
November 2006 pukul 13:00 akan mengakibatkan debit banjir pada pukul
15:00 pada stasiun pengukur AWLR.
Perhitungannya:
      R   = 1.342 mm
     I      = 1.342 mm/jam
     t      = 2 jam




                                                                                          55
Spectra                                                Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



                 3.6 × Q
        C    =
                  I×A

                    Q (m3 / dt ) × 3600    3600 Q (m3 / jam)
        atau                            = −3
                 I (mm / jam) × A(km 2 ) 10 (m / jam) × 106 (m 2 )
                       3600 ×10.958
               =
                   0.001342 × 233250000
               = 0.126


                                          Tabel 3.
                    Hasil Perhitungan Koefisien Aliran 27 Nopember 2006


            H (m)       K     B (m)    Q (m^3/jam)      R          R
  Jam                                                                           C
              1         2       3       (3*2*1^3/2)   (mm)        (m)
   12       0.240      1.71    39      7.841110605       0         0            0
   13       0.250      1.71    39         8.33625      1.342    0.00134         0
   14       0.260      1.71    39      8.841393895       0         0            0
   15       0.300      1.71    39      10.95828521     0.671    0.00067     0.1260291
   16       0.600      1.71    39      30.99471112    16.736    0.01674         0
   17       0.560      1.71    39      27.94748669    16.104    0.0161      0.6428373
   18       0.480      1.71    39      22.17800992     3.355    0.00336     0.0204528
   19       0.410      1.71    39      17.50799857     1.342    0.00134     0.0167797
   20       0.350      1.71    39      13.80901763     2.671    0.00267     0.0635259
   21       0.310      1.71    39      11.51074037       0         0        0.1323828
   22       0.280      1.71    39      9.880928676       0         0        0.0570959
   23       0.260      1.71    39      8.841393895     0.329    0.00033         0
   24       0.240      1.71    39      7.841110605       0         0            0




                                                                                        56
                                 Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



                                         Tabel 4.
                    Hasil Perhitungan Koefisien Aliran 18 Pebruari 2000
           H (m)        K     B (m)     Q (m^3/jam)          R           R
   Jam                                                                                C
             1          2       3        (3*2*1^3/2)       (mm)         (m)
  16:00    0.240       1.71    39       7.841110605        0.658     0.00066          0
  17:00    0.300       1.71    39           10.28          1.342     0.00134          0
  18:00    0.332       1.71    39            12.8            0          0         0.3002375
  19:00    0.368       1.71    39        14.8878658        6.039     0.00604      0.1712225
  20:00    0.390       1.71    39       16.24267774        8.329     0.00833          0
  21:00    0.370       1.71    39       15.00939903        2.316     0.00232       0.03836
  22:00    0.300       1.71    39       10.95828521        2.658     0.00266      0.0203063
  23:00    0.250       1.71    39          8.33625         2.342     0.00234      0.0555537
  0:00     0.240       1.71    39       7.841110605        6.632     0.00663      0.0455306
  1:00     0.230       1.71    39       7.356182099        5.013     0.00501      0.0484782
  2:00     0.225       1.71    39       7.117615029        1.671     0.00167      0.0165642
  3:00     0.220       1.71    39       6.881684194          1        0.001       0.0211874
  4:00     0.219       1.71    39        6.83481698        0.329     0.00033      0.0631293
  6:00     0.217       1.71    39       6.741403438        0.987     0.00099      0.1040474



                                        Tabel 5.
                    Hasil Perhitungan Koefisien Aliran 8 Pebruari 1995
           H (m)        K     B (m)     Q (m^3/jam)         R            R
   Jam                                                                                C
              1         2       3        (3*2*1^3/2)      (mm)          (m)
   13:00   0.2317      1.71    39       7.437890289       4.026      0.00403          0
   14:00   0.306       1.71    39       11.28867207       0.658      0.00066          0
   15:00   0.322       1.71    39       12.18553285       5.329      0.00533      0.0467145
   16:00   0.314       1.71    39       11.73424602       6.948      0.00695      0.2752391
   17:00   0.2851      1.71    39       10.15211534       5.987      0.00599          0
   18:00   0.2402      1.71    39       7.850914035       1.671      0.00167      0.0174398
   19:00    0.21       1.71    39       6.417851435       0.987      0.00099      0.0165448
   20:00   0.202       1.71    39       6.054632274       0.671      0.00067      0.0559232
   21:00   0.198       1.71    39       5.875684972         0           0         0.0918803
   22:00   0.197       1.71    39       5.831228457       0.658      0.00066      0.1341277




Peningkatan Koefisien Pengaliran
      Peningkatan koefisien pengaliran dapat dihitung dengan metode
statistik, yaitu:




                                                                                              57
Spectra                                                Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



     Analisa Varian Data

     b          =
                    ∑ xy    = -0.0113
                    ∑x  2


     a          = y − (b . x) = 0.192
      S 2Y
                = 
                     1  2
                                [
                         × y − (b . xy )      ]
       X            n−2
                = 0.04518
                                              S 2Y   2
     VAR Y =
                    S 2Y
                            (                      )
                                              X / ∑ X  = 0.0056
                         + X 2 − X 2tengah ×          
                     X                                
     Persamaan Regresi
     Y         = a – b* VAR Y
               = 0.192 – (-0.011305 * x)
                                          µY
     Y – t (0.025, n -2) * (VAR Y)0.5 <
                                          X

     Y         = 0.192 – 0.011305 *0.0056
                      = 0.1865
          µY
     <         = Y – ( 2.447 * VAR Y )
          X
               = 0.1865 – (2.447 * 0.0056)
               = 0.173
          µY
     >         = Y + ( 2.447 * VAR Y )
          X
               = 0.1865 + (2.447 * 0.0056)
                  = 0.2003

Menghitung Tinggi Limpasan Untuk mendapatkan Hujan Efektif
       Hujan efektif diperoleh dengan merubah data debit menjadi volume
limpasan rata-rata dengan cara menjumlahkan data debit awal dengan debit
setelahnya, kemudian dibagi dua, setelah itu dikalikan dengan durasi waktu.
Dengan demikian, diperoleh volume limpasan permukaan, setelah itu semua
volume limpasan tersebut dijumlahkan menjadi volume total limpasan.
Volume total limpasan di bagi dengan luasan DPS, maka diperoleh tinggi
limpasan. Tinggi limpasan dicocokkan dengan tinggi hujan, dimana jika
tinggi sama maka dapat dipergunakan sebagai hujan efektif untuk
perhitungan Collins.



                                                                                        58
                                 Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



          n

         ∑ (Q + Q )
              1           n +1
Q   =     1
                                 × 3600
                  2
          n

         ∑ (7.841 + 8.336)
    =     1
                                     × 3600
                      2
    = 29119.25 m3

                                      Tabel 6.
                            Perhitungan Volume Limpasan
                 Q                      Q
    Jam                                               mm             m           Heff
              (m^3/jam)               (m^3)
    12            7.841111                             0             0
    13            8.33625           29119.25         1.342       0.001342
    14            8.841394          30919.76           0             0
    15            10.95829          35639.42         0.671       0.000671
    16            30.99471          75515.39        16.736       0.016736      0.00177
    17            27.94749           106096         16.104       0.016104       0.001
    18            22.17801          90225.89         3.355       0.003355
    19             17.508           71434.82         1.342       0.001342
    20            13.80902          56370.63         2.671       0.002671
    21            11.51074          45575.56           0             0
    22            9.880929            38505            0             0
    23            8.841394          33700.18         0.329       0.000329
                    ΣQ =            613101.9


Tinggi limpasan = ΣQ / A
                = 613101.9 / 233.3E+08
                = 0.00263 m




                                                                                              59
Spectra                                                    Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64




                           Grafik Tinggi Curah Hujan Thn 2006
    0.0171
    0.0161
    0.0151
    0.0141
    0.0131
    0.0121
    0.0111
H (m)
    0.0101
    0.0091
    0.0081
    0.0071
    0.0061
    0.0051
    0.0041
    0.0031
    0.0021
    0.0011
    0.0001
               12     13     14     15    16      17      18      19      20      21       22    23
                                               Waktu (jam)


                                       Gambar 1.
                                   Grafik Tinggi Hujan

       Seperti yang disebutkan dalam perhitungan hujan efektif, maka dari
grafik batang tersebut di atas diperoleh hujan efektif Heff 1 = 0.00177 m dan
Heff 2 = 0.0008 m.

                                      Tabel 7.
                    Perhitungan Volume Limpasan 18 Pebruari 2000
    Jam      Q (m^3/jam)         V          R            R
                                                                   baseflow            q limp.
              (3*2*1^3/2)      (m^3)      (mm)          (m)
    16:00      7.84111061                 0.658        0.000658        6.741403    1.099707
    17:00      10.9582852     33838.91    1.342        0.001342        6.741403    4.216882
    18:00      12.7575666     42688.53        0               0        6.741403    6.016163
    19:00      14.8878658     49761.78    6.039        0.006039        6.741403    8.146462
    20:00      16.2426777     56034.98    8.329        0.008329        6.741403    9.501274
    21:00       15.009399     56253.74    2.316        0.002316        6.741403    8.267996
    22:00      10.9582852     46741.83    2.658        0.002658        6.741403    4.216882
    23:00         8.33625     34730.16    2.342        0.002342        6.741403    1.594847
     0:00      7.84111061     29119.25    6.632        0.006632        6.741403    1.099707
     1:00       7.3561821     27355.13    5.013        0.005013        6.741403    0.614779
     2:00      7.11761503     26052.83    1.671        0.001671        6.741403    0.376212
     3:00      6.88168419     25198.74        1           0.001        6.741403    0.140281
     4:00      6.83481698      24689.7    0.329        0.000329        6.741403    0.093414
     6:00      6.74140344      24437.2    0.987        0.000987        6.741403           0
             ΣQ =             476902.8



                                                                                                 60
                                 Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



      Tinggi limpasan = ΣQ / A
                      = 476902.8 / 233.3E+08
                      = 0.002046 m



                           Grafik Tinggi Curah Hujan Thn 2000

    0.0105


    0.0084

 H (m)
    0.0063


    0.0042


    0.0021


         0
        16:00 17:00 18:00 19:0020:00 21:00 22:00 23:00 0:00 1:00 2:00 3:00 4:00 6:00

                                           Waktu (jam)


                                        Gambar 2.
                             Grafik Tinggi Hujan Tahun 2000

       Dari Grafik dengan tinggi limpasan 0.002046 m, maka diperoleh hujan
efektif Heff 1 = 0.0018 m dan Heff 2 = 0.0002 m.

                                     Tabel 7.
                    Perhitungan Volume Limpasan 8 Pebruari 1995
    Jam      Q (m^3/jam)          V            R           R                           Q
                                                                    base flow
             (3*2*1^3/2)         m^3          mm           m                       limpasan
   14:00     7.43789029                      4.026       0.00403    5.8312285      1.606662
   15:00     11.2886721       33707.812      0.658       0.00066    5.8312285      5.457444
   16:00     12.1855329       42253.569      5.329       0.00533    5.8312285      6.354304
   17:00      11.734246       43055.602      6.948       0.00695    5.8312285      5.903018
   18:00     10.1521153       39395.45       5.987       0.00599    5.8312285      4.320887
   19:00     7.85091404       32405.453      1.671       0.00167    5.8312285      2.019686
   20:00     6.41785144       25683.778      0.987       0.00099    5.8312285      0.586623
   21:00     6.05463227       22450.471      0.671       0.00067    5.8312285      0.223404
   22:00     5.87568497       21474.571        0            0       5.8312285      0.044457
   23:00     5.83122846       21072.444      0.658       0.00066    5.8312285          0
                ΣQ =          281499.15



                                                                                              61
Spectra                                                 Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



     Tinggi limpasan = ΣQ / A
                     = 281499.15 / 233.3E+08
                     = 0.0012096 m


                         Grafik Tinggi Hujan Thn 1995


         0.008
         0.007
 h (m)
         0.006
         0.005
         0.004
         0.003
         0.002
         0.001
            0
                 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00 19:00 20:00 21:00 22:00 23:00
                                         Waktu (jam)


                                      Gambar 3.
                           Grafik Tinggi Hujan Tahun 1995

     Dari Grafik dengan tinggi limpasan 0.0012069 m, maka diperoleh
hujan effektif Heff 1 = 0.00107 m dan Heff2 = 0.0001328 m

2.9 Analisa Hidrograf Satuan Metode Collins
     Data yang dibutuhkan:
     Luasan DPS                  = 233.25 km2 atau 233.3E+08 m2
     Jumlah kejadian hujan (n) = 11
     Jumlah hujan efektif (j)    =2
     Perhitungan:
     1. Tb      = n-j+1
                = 11-2+1
                = 10
     2. Ut awal = (A*1000) / (Tb *3600)
                = (233.25 *1000) / (10*3600)
                = 6.48
     3. Reff    = Hjn efektif * Ut awal
                = 0.8 * 6.48
                = 5.183

                                                                                         62
                           Tata Guna Lahan dan Kerusakan Hutan Ibnu Hidayat P.J. - Kustamar



     4. PU       = nilai Reff
     5. q        = nilai debit yang diperoleh melalui alih ragam data AWLR
                 = 8.336
     6. q – PU = 8.336 – 5.183
                 = 3.153
     7. (q – PU)/ Reff = 3.153 / 5.183
                        = 1.781

Untuk perhitungan berikutnya terlebih dahulu dicari variabel peubah:
     P = (A * 1000)/(3600* (q-PU/ Reff))
        = 1.01
     F = Σ(q-PU) / Σ PU
        = 2.00
     8. Ut’     = P * [(q – PU)/ Reff]
                = 1.795
     9. F*Ut    = 2 * 1.795
                = 3.583
     10. Ut rerata      = [U1+ (F*Ut’)]/ (1+F)
                        = (6.479+3.583) / (1+2)
                        = 3.359
          variabel q = (A*1000)/(3600*ΣUt rerata)
                        = 0.97
     11. Ut akhir       = q * Ut rerata
                        = 0.97 * 3.359

Apabila nilai Ut awal masih jauh berbeda dengan Ut akhir, maka proses
perhitungan di atas diulangi lagi dengan Ut akhir sebagai Ut awal.

     Keterangan:
     Tb        = Waktu dasar hidrograf
     Ut1       = Hidrograf satuan yang diasumsi
     ΣPU       = Jumlah Hujan Effektif dikali UT1
     q         = Hidrograf limpasan langsung U1
               = UT1 awal
     U1 Rerata = (U1 + F.U1’) / (1 + F)
     UP        = (q –ΣPU) / P maks
     Ut 2      = (U1 rerata x V) / (3600 x ΣU1 rerata


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
      Studi kajian perubahan koefisien pengaliran menggunakan rumus
rasional untuk daerah Kali Konto, dari perhitungan yang telah dilakukan
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

                                                                                        63
Spectra                                         Nomor 9 Volume V Januari 2007: 50-64



     1. Koefisien Pengaliran terlihat semakin meningkat apabila terjadi
        curah hujan yang besarnya sama yaitu 11 mm/jam, dimana untuk
        tahun 1995 koefisien pengalirannya 0.0379, tahun 2000 koefisien
        pengalirannya 0.0963, dan tahun 2006 koefisien pengalirannya
        0.1799. Dengan demikian, dapat dirata-rata peningkatannya dari
        tahun 1995 ke 2000 sebesar 1.17 % dan dari tahun 2000 ke tahun
        2006 sebesar 1.39 %.
     2. Perubahan keadaan kondisi sungai terlihat dari peningkatan debit
        puncak yang ditunjukkan dengan Nilai Qp setiap tahun meningkat.
        Hal ini menandakan bahwa kerusakan lingkungan sungai semakin
        meningkat.
     3. Dari gambar hidrograf satuan Collins, sisi turun dari grafik tersebut
        untuk tahun 2000 sangat curam. Hal ini menunjukkan keadaan
        sungai pada tahun tersebut limpasannya besar sekali, artinya
        apabila terjadi hujan, maka akan langsung melimpas.

Saran
      Berdasarkan analisa perhitungan tersebut di atas perubahan koefisien
aliran terlihat semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk mengurangi
peningkatan tersebut, maka dapat dilakukan dengan usaha mencegah
berlanjutnya degradasi lahan, memperbaiki lahan, serta melakukan
pengelolaan DAS, seperti penanaman vegetasi penutup tanah, penghijauan,
pembuatan teras, mengingat keadaan topografi di daerah Kali Konto ini
merupakan daerah dengan kemiringan yang tajam.


DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1990. Jenis Bangunan Ukur dan Cara Pengoperasiannya. Malang:
      Universitas Brawijaya.
Hidayat, Ibnu. 1999. Pengembangan Perangkat Lunak untuk Membandingkan
      Hidrograf Satuan dengan Menggunakan Hidrograf Satuan Sintetis Gama I,
      Snyder, Nakayasu, dan FSR. Malang: ITN Malang.
Kustamar, dkk. 2003. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Brantas. Malang:
      Universitas Brawijaya.
Soemarto, CD. 1995. Hidrologi Teknik. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Sosrodarsono, Suyono., Kensaku Takeda. 2003. Hidrologi Untuk Pengairan. Edisi
      Kesembilan. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sri Harto, Br. 1993. Analisis Hidrologi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Suripin, 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi
      Offset.
Wilson, E.M. 1993. Hidrologi Teknik. Bandung: ITB Bandung.




                                                                                 64
                                        Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



   STUDI KETELITIAN KUALITAS GEOMETRIK CITRA IKONOS
                HASIL ORTHO REKTIFIKASI
          MENGGUNAKAN DATA DEM SKALA 1:1000

                              Pradono Joanes De Deo
                       Dosen Teknik Geodesi FTSP ITN Malang



                                   ABSTRAKSI

     Nilai rata-rata residual dan standar deviasi koordinat GCP (Ground
     Control Point) yang diolah dalam penelitian ini mempunyai perbedaan,
     dimana data koordinat hasil proses orthorektifikasi terbukti lebih teliti
     dibandingkan dengan proses koreksi geometrik citra. Pada citra hasil
     koreksi geometrik diperoleh nilai rata-rata RMS pemasukan koordinat
     GCP sebesar 0.904 m dengan standar deviasi hasil perhitungan adalah
     sebesar 0.608 m, sedangkan pada citra hasil orthorektifikasi dihasilkan
     nilai rata-rata RMS sebesar 0.608 m dengan nilai standar deviasi
     sebesar 0.402 m.
     Dari hasil pengolahan dan perhitungan nilai rata-rata RMS dari data
     koordinat titik detail, dapat diketahui bahwa proses pengolahan citra
     dengan rektifikasi orhto memiliki tingkat ketelitian yang lebih baik
     dibandingkan dengan proses rektifikasi secara geometrik, dimana nilai
     rata-rata residual yang dihasilkan dari proses koreksi geometrik adalah
     sebesar 1.016 m, sedangkan rata-rata residual yang dihasilkan dari
     proses orthorektifikasi adalah sebesar 0.712 m.
     Proses koreksi geometrik citra dianggap kurang memenuhi persyaratan
     ketelitian citra, yakni nilai residual yang melebihi 2 pixel di citra ikonos
     atau setara dengan 2 m dilapangan.

     Kata Kunci : Ikonos, GCP, Orthorektifikasi.



PENDAHULUAN
Latar Belakang
      Data satelit penginderaan jauh yang diterima di stasiun bumi pada
dasarnya adalah data yang belum diolah (raw data). Oleh karena itu,
sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut, terlebih dahulu dilakukan pra
pengolahan data. Proses ini diperlukan untuk memperbaiki kesalahan
(distorsi), terutama akibat adanya gangguan radiometrik dan geometrik yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas citra.
      Khusus dalam koreksi geometik, untuk memperoleh citra dengan
parameter-parameter geometrik yang akurat hingga dapat digunakan untuk
analisis berbagai aplikasi, terlebih dahulu kesalahan geometrik tersebut

                                                                                          65
Spectra                                        Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79



harus dikoreksi. Salah satunya adalah dengan melakukan orthorektifikasi
yang merupakan proses rektifikasi dengan memasukkan data ketinggian
permukaan bumi.
      Mengingat pentingnya hal tersebut di atas, maka dalam penelitian ini
akan dilakukan studi ketelitian kualitas geometrik dari hasil proses
orthorektifikasi citra IKONOS menggunakan data DEM (Digital Elevation
Model) dengan skala 1:1000. Seperti satelit komersial lainnya, IKONOS
tidak memberikan informasi orbit satelit, sehingga proses koreksi
radiaometrik dilakukan oleh pihak Space Imaging sendiri. Sedangkan untuk
melakukan koreksi geometrik dapat dilakukan dengan menempatkan titik
kontrol tanah (Ground Control Point / GCP) secara merata dan ditambah
data DEM dengan skala tertentu untuk meningkatkan ketelitian kualitas
geometrik citra dari aspek azimuth dan jarak, sehingga untuk selanjutnya
dapat dihasilkan peta olahan citra yang dapat digunakan untuk berbagai
aplikasi, terutama dalam pekerjaan skala besar.

Tujuan Penelitian
      Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
melakukan studi ketelitian kualitas geometrik citra IKONOS dari aspek jarak
dan sudut arah (azimuth) yang dihasilkan dari proses koreksi geometrik dan
orthorektifikasi citra dengan menggunakan data DEM (Digital Elevation
Model) skala 1:1000.

Tujuan dan Manfaat
      Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai salah
       satu bahan pertimbangan dalam memilih dan menentukan tingkat
       ketelitian geometrik citra IKONOS yang akan digunakan untuk
       berbagai aplikasi dengan memperhatikan kebutuhan akan tingkat
       ketelitian hasil pengukuran.
      Bagi para pengguna data, ketelitian yang dihasilkan sangat
       mempengaruhi tingkat kepercayaan yang dapat diberikan terhadap
       data tersebut.
      Bagi peneliti yang melakukan penelitian serupa, hasil dari penelitian
       ini penting pula dalam upaya meningkatkan ketelitian selanjutnya.

METODOLOGI PENELITIAN
Bahan dan Materi Penelitian
      Bahan dan materi yang dipersiapkan dalam penelitian ini terdiri dari
perangkat pengolah data, alat ukur lapangan dan data-data pendukung
lainnya dengan spesifikasi sebagai berikut:




                                                                                66
                                    Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



     Perangkat Keras
     a. Peralatan pemrosesan utama, yakni sebuah komputer dengan
        spesifikasi:
         Processor Intel Celeron
         Memory SDRAM 1 GB
         Hardisk dengan kapasitas memori 80 GB
         CD-ROM LITEON
     b. Peralatan tampilan, yakni monitor LG 14’
     c. Peralatan pemasukan antara lain: papan ketik (keyboard) dan
        mouse
     d. Peralatan percetakan berupa printer A4 merk Cannon 2100i-SP.
     e. Alat ukur lapangan berupa tiga (3) set GPS Geodetic merk Leica
        CR 233 system 300 double frekuensi dan satu (1) set Total Station
        merk TopCon type 600.

     Perangkat Lunak
     Perangkat lunak pengolah data yang digunakan dalam penelitian ini
     adalah perangkat lunak pengolah citra penginderaan jauh ER Mapper
     7.0 ditambah dengan perangkat lunak AutoCad 2004, perangkat lunak
     SKI ver. 2.3, GeoLab, dan Tc Tools.

     Data Pendukung
     a. Citra IKONOS Geo color resolusi 1 meter Kota Malang yang telah di
        potong (cropping) berdasarkan daerah penelitian.
     b. Peta Topografi yang dalam hal ini adalah peta topografi dengan
        skala 1:1000.

Diagram Alir Penelitian
      Diagram alir penelitian ketelitian kualitas geometrik citra ikonos hasil
ortho rektifikasi menggunakan data DEM skala 1 : 1000 dapat digambarkan
sebagai berikut:




                                                                                      67
Spectra                                                     Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79




                                          Persiapan


                                       Pengumpulan data



             Citra Ikonos               Pengukuran titik                Peta Topografi
                                       referensi pemetaan                Skala 1:1000
                                      dengan GPS Geodetic

                                                                        Generalisasi
           Penajaman Citra

                                                                         Kontur Peta
      Titik Kontrol Tanah                                               Skala 1:1000
             (GCP)                                                      Dikonversi ke
                                                                        Format DEM


               Koreksi
              Geometrik                                                   Data DEM
                                                                         Skala 1:1000


                              Tidak
             RMS Error
                                                                        Ortorektifikasi

                   Ya
     Citra Terkoreksi (X,Y)                                   Citra ter-Orthorektifikasi (X,Y,Z)


          Kontrol Geometrik                                           Kontrol Geometrik
             Kualitas Citra                                              Kualitas Citra
           (Jarak, Azimuth)                                            (Jarak, Azimuth)


                                      Analisis Ketelitian
                                      Kualitas Geometrik
                                       Citra IKONOS


                                            Hasil

                                       Gambar 1.
                              Diagram Alir Proses Penelitian

                                                                                             68
                                   Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Penginderaan Jauh
      Penginderaan jauh merupakan seni untuk memperoleh informasi
tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang
diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung dengan obyek,
daerah, atau gejala yang dikaji. Alat yang dimaksud berupa sensor, dimana
pada umumnya sensor dipasang pada wahana (platform) yang berupa
pesawat terbang, satelit, atau lainnya. Karena sensor dipasang jauh dari
yang diindera, maka diperlukan tenaga yang dipancarkan atau yang
dipantulkan oleh obyek tersebut. Antara tenaga dan obyek terjadi interaksi,
sedangkan tiap obyek memiliki karakteristik tersendiri.
      Pada berbagai hal, penginderaan jauh dapat diartikan sebagai suatu
proses membaca. Dengan menggunakan berbagai sensor dapat
dikumpulkan data dari jarak jauh yang dapat dianalisis untuk mendapatkan
informasi tentang obyek, daerah, atau fenomena yang diteliti. Pengumpulan
data dari jarak jauh dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk
variasi agihan daya, agihan gelombang bunyi, atau agihan elektromagnetik.
Sebagai contoh, suatu grafimeter memperoleh data pada variasi agihan
daya tarik bumi, sonar pada sistem navigasi di air memperoleh data tentang
variasi di dalam agihan gelombang bunyi, atau mata seseorang akan
mendapatkan data variasi agihan energi elektromagnetik.

Komponen Dalam Penginderaan Jauh
     Komponen dan interaksi antar komponen dalam penginderaan jauh
adalah sebagai berikut:

     Sumber Tenaga
      Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga, baik sumber
tenaga alamiah maupun sumber tenaga buatan. Tenaga ini mengenai obyek
di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor. Jumlah tenaga
matahari yang mencapai bumi dipengaruhi oleh waktu (jam, musim), lokasi,
dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima pada siang hari lebih
banyak bila dibandingkan dengan jumlah pada pagi atau sore hari.
Kedudukan matahari terhadap tempat di bumi berubah sesuai dengan
perubahan musim.

     Atmosfer
       Atmosfer membatasi bagian spektrum elektromagnetik yang dapat
digunakan dalam penginderaan jauh. Pengaruh atmosfer merupakan fungsi
panjang gelombang yang bersifat selektif. Karena pengaruh yang selektif
inilah, maka timbul istilah jendela atmosfer, yaitu bagian dari spektrum
elektromagnetik yang mencapai bumi. Dalam jendela atmosfer ada

                                                                                     69
Spectra                                              Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79



hambatan atmosfer, yaitu kendala yang disebabkan oleh hamburan pada
spektrum tampak dan serapan yang terjadi pada spektrum infra merah
thermal.

     Interaksi antara Tenaga dan Obyek
      Tiap obyek mempunyai karakteristik tertentu dalam memantulkan atau
memancarkan tenaga ke sensor. Pengenalan obyek pada dasarnya
dilakukan dengan menyidik (tracing) karakteristik spektral obyek yang
tergambar pada citra. Obyek yang banyak memantulkan/memancarkan
tenaga akan tampak cerah pada citra.




                                                              Lapisan Atmosfer
  Lapisan Atmosfer




                     (Penghamburan)                (Penyerapan)

                        Interaksi Energi Dengan Atmosfer




                        Interaksi Energi Dengan Permukaan Bumi


                                   Gambar 2.
                                Interaksi Energi

      Pengaruh total atmosfer berbeda-beda sesuai dengan perbedaan
jarak yang dilalui, besarnya sinyal tenaga yang diindera, kondisi atmosfer,
dan panjang gelombang yang digunakan. Gambar 2 menunjukkan energi
radiasi elektromagnetik yang dideteksi oleh sensor, dimana sebelumnya
harus melalui atmosfer, sehingga akan mengalami interaksi dengan
atmosfer.
       Interaksi atmosfer terutama disebabkan oleh adanya komponen gas
dan partikel di atmosfer. Pengaruh yang paling mudah terlihat adalah pada
panjang gelombang sinar tampak, yakni dapat berupa penghamburan


                                                                                      70
                                   Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



(scattering) dan penyerapan (absorption). Selanjutnya, Lillesand dan Kiefer
(1993) menambahkan, proses penghamburan akan menyebabkan radiasi
elektromagnetik kehilangan detail informasi, sedangkan proses penyerapan
menyebabkan pengurangan energi pada selang panjang gelombang
tertentu. Tenaga elektromagnetik dalam jendela atmosfer tidak dapat
mencapai permukaan bumi secara utuh, karena sebagian mengalami
hambatan oleh atmosfer. Sutanto (1990) menyebutkan bahwa hambatan ini
disebabkan oleh debu, uap air, dan gas di atmosfer. Proses
penghambatannya terjadi terutama dalam bentuk serapan (absorpsi),
pantulan (refleksi), dan hamburan (scattering).

     Sensor
      Tenaga yang datang dari obyek di permukaan bumi diterima dan
direkam oleh sensor. Tiap sensor mempunyai kepekaan tersendiri terhadap
bagian spektrum elektromagnetik. Disamping itu, kepekaannya juga berbeda
dalam merekam obyek terkecil yang masih dapat dikenali dan dibedakan
terhadap obyek lain di lingkungan sekitarnya. Kemampuan sensor dewasa
ini beroperasi untuk memperoleh data jauh lebih besar daripada
kemampuan untuk menangani data tersebut. Hal ini pada umumnya berlaku
baik untuk sistem interpretasi manual maupun sistem interpretasi dengan
bantuan komputer. Pengolahan data sensor hingga menjadi bentuk yang
dapat diinterpretasi memang merupakan suatu usaha yang memerlukan
banyak pemikiran, instrumentasi, waktu, pengalaman, dan data rujukan.
Sementara banyak penanganan data dapat dilakukan dengan mesin
(komputer dan alat mekanik atau elektronik yang lain), peranan manusia
dalam pengolahan data akan terus berlanjut sebagai hal yang penting pada
terapan yang produktif data penginderaan jauh.

     Perolehan Data
      Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual, yakni dengan
interpretasi secara visual dan dapat pula dilakukan dengan cara numerik
atau cara digtital, yaitu dengan menggunakan komputer. Foto udara pada
umumnya diinterpretasi secara manual, sedangkan data hasil penginderaan
secara elektronik dapat diinterpretasi secara manual maupun secara
numerik.

     Berbagai Pengguna Data
      Kunci keberhasilan terapan suatu sistem penginderaan jauh terletak
pada manusia yang menggunakan data penginderaan jauh sistem tersebut.
‘Data’ yang dihasilkan dengan sistem penginderaan jauh hanya akan
menjadi ‘informasi’ bila seseorang memahami asal-usulnya, mengerti
bagaimana menginterpretasinya, dan memahami bagaimana cara
menggunakannya yang paling tepat. Pemahaman menyeluruh terhadap

                                                                                     71
Spectra                                                     Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79



masalah yang dihadapi penting sekali untuk terapan yang produktif
metodologi penginderaan jauh. Juga tidak ada satu kombinasi pengumpulan
data dan analisis data pengideraan jauh saja yang akan dapat memuaskan
kebutuhan pengguna data. Sementara interpretasi foto udara kurang lebih
telah seabad digunakan sebagai alat pengelolaan sumberdaya, bentuk
penginderaan jauh yang lain merupakan teknik dan cara pengumpulan
informasi yang relatif baru dan belum konvensional. Bentuk penginderaan
jauh yang dikembangkan akhir-akhir ini hingga kini masih kurang dapat
memuaskan para pengguna. Meskipun demikian, karena terapan baru
berlanjut untuk dikembangkan dan dimanfaatkan, semakin banyak jumlah
pengguna yang menyadari potensinya dan keterbatasan teknik
penginderaan jauh. Sebagai akibatnya, penginderaan jauh telah menjadi
alat yang penting pada berbagai program operasional yang berkaitan
dengan pengelolaan sumberdaya, keteknikan dan eksplorasi.


      Sumber tenaga                                                            Non citra
                                       Sensor
                                                   Data            Visual




     Atmosfer

                            Pantulan              Digital


                                       Pancaran                             Citra




                        Obyek



                                 Gambar 3.
                      Komponen Sistem Penginderaan Jauh

Konsep Olah Citra Digital
      Data penginderaan jauh yang diperoleh dari penyiaman satelit
terhadap permukaan bumi berbentuk data digital yang disimpan dalam
bentuk dua dimensi yang elemen-elemennya mewakili suatu daerah yang
sangat kecil yang disebut pixel (picture element) dan setiap pixel
berhubungan dengan suatu luas pada permukaan bumi. Struktur dari
matriks ini disebut juga sebagai raster, maka data citra sering dinyatakan
dengan data raster. Data raster tersusun atas baris dan kolom.

                                                                                             72
                                   Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo




            Kolom


                                   Baris
                                 Gambar 4.
                             Format Data Raster

      Sebuah pixel berisikan bilangan digital yang merupakan nilai dari
intensitas sinar yang direfleksikan terhadap panjang gelombangnya. Pola
penyimpanan nilai intensitas setiap pixel digunakan tempat sebesar 8 bit,
maka ini artinya nilai intensitas pixel berkisar dari 0 – 255 (28 atau 256
tingkat warna).

Koreksi Geometrik
      Koreksi Geometrik adalah proses mentransformasikan citra, sehingga
citra tersebut mempunyai sistem proyeksi tertentu. Koreksi geometrik
dilakukan karena adanya distorsi pada citra. Beberapa hal yang
menyebabkan terjadinya distorsi adalah sebagai berikut:
      1. Distorsi akibat pengaruh rotasi bumi karena satelit berorbit polar.
      2. Distorsi panoramik yang mengakibatkan ukuran pixel makin besar
         dengan bertambahnya sudut pandang sensor terhadap nadir.
      3. Distorsi akibat kelengkungan permukaan bumi yang memiliki
         pengaruh sama dengan distorsi panoramik.
      4. Distorsi scan time skew, yaitu akibat perbedaan waktu setiap pixel
         dalam satu scan line dan kecepatan lintasan satelit.
      5. Distorsi akibat roll, pitch, dan yaw. Distorsi ini berkaitan dengan
         penyimpangan ketinggian pesawat terbang (orientasi).
          Distorsi akibat roll
            Distorsi ini akibat efek gulungan (roll) pesawat terbang pada
            sumbu terbangnya. Gulungan menyebabkan garis kisi-kisi
            medan direkam pada saat yang berbeda-beda didalam siklus
            putaran cermin. Sebagai akibatnya, maka citra tampak seperti
            ombak. Pengaruh ini dapat dihilangkan dengan proses
            kompensasi gulungan.



                                                                                     73
Spectra                                         Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79



           Distorsi akibat pitch
            Distorsi akibat pitch pesawat terbang dapat menyebabkan
            distorsi citra penyiam. Perubahan skala lokal akibat tukikan pada
            arah terbang pada umumnya haya kecil dan kesalahan tersebut
            dapat diabaikan dalam sebagian analis.
           Distorsi akibat yaw
            Bila mengalami angin menyilang selama perolehan data termal,
            maka sumbu pesawat terbang harus diarahkan keluar dari
            sumbu terbang untuk melawan angin. Distorsi ini sering
            dihindarkan dengan cara tidak mengumpulkan data termal pada
            kondisi angin menyilang yang kencang.
      Sesuai dengan keperluan pemetaan maka koreksi geometrik dapat
dilakukan dengan dua (2) cara masing-masing adalah:

     Koreksi Geometrik yang Didasarkan pada Geometri Orbit Satelit
      Koreksi dilakukan apabila tidak tersedia peta topografi serta
persyaratan ketelitian tidak begitu diperhitungkan. Biasanya koreksi ini
dilakukan dengan data-data lintasan atau orbit satelit yang dimiliki oleh
TDRSS (Tracking Data Relay Satellite System). Pada umumnya semua citra
yang dijual ke konsumen sudah dikoreksi dengan lintasan/orbit satelit.
Koreksi tersebut meliputi koreksi skala, koreksi panoramik, koreksi puntiran
(skaw), dan koreksi rotasi bumi.

     Koreksi Geometrik yang Didasarkan pada Titik Kontrol Tanah
      Koreksi ini dilakukan apabila citra diperlukan sistem koordinat dan
sistem proyeksi yang sama untuk keperluan pembuatan peta dasar atau
citra yang bergeoreferensi. Cara ini dapat dilakukan dengan memilh satu
atau beberapa titik pada citra yang dapat dikenali pada peta atau dapat juga
diidentifikasi di lapangan.
      Apabila titik-titik tersebut dapat diidentifikasi dari peta, maka titik
tersebut dapat diinterpolasi dan ditransformasikan kedalam sisitem koordinat
dan sistem proyeksi yang diinginkan. Namun, apabila titik tersebut dapat
dikenali di lapangan, maka titik tersebut dapat diukur secara teliti
dibandingkan dengan interpolasi dari peta, misalnya dengan GPS.
      Penempatan titik/tugu GPS dilakukan dengan mempertimbangkan hal-
hal sebagai berikut:
       Lokasi tugu GPS jauh dari benda-benda reflektif yang bisa
          memantulkan sinyal dari satelit GPS. Ini dilakukan untuk
          meminimumkan terjadinya multipath yang merupakan salah satu
          sumber kesalahan dalam pengamatan jarak ukuran (pseudorange)
          ke satelit.
       Lokasi tugu GPS jauh dari kabel tegangan tingi ataupun benda-
          benda bermedan listrik/magnet lainnya. Hal ini dilakukan untuk

                                                                                 74
                                        Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



         menghindari imaging yang merupakan salah satu sumber
         kesalahan pada pengukuran beda fase dari signal GPS.
       Tugu GPS ditempatkan pada lokasi yang mempunyai ruang
         pandang bebas halangan kesemua arah 150 diatas horizontal.
       Lokasi tugu GPS, ditempatkan di luar jalur lalulintas manusia dan
         binatang seperti jalan setapak, jalan raya, rel kereta api, dan lain
         sebagainya.
       Ditempatkan pada tanah yang kondisinya stabil. Bila
         memungkinkan lokasi tugu GPS dijauhkan dari keramaian tetapi
         mudah dikunjungi atau ditemukan kembali.
       Lokasi titik dapat dengan mudah diidentifikasi pada citra satelit
         IKONOS.
      Untuk mengurangi efek dari gangguan yang bersifat tidak linear dan
tidak tetap ruang, ketelitian suatu citra terutama dalam aplikasi pemetaan
dapat dilakukan dengan bantuan titik kontrol tanah dalam proses koreksi
geometris. Proses ini juga dikenal dengan registrasi citra, dimana
penggunaan titik kontrol tanah akan mempengaruhi bentuk fungsi pemetaan
yang diperoleh pada proses transformasi.

Sistem Koordinat Geografis/Geodetis
      Sistem koordinat Geografis/Geodetis mendefinisikan posisi obyek di
permukaan bumi (ellipsoid) dengan lintang, bujur, dan ketinggian dari
permukaan bumi ke permukaan ellipsoid (latitude, longitude, height (ϕ, λ,
                                                                 
h)) seperti pada Gambar 5 berikut :


                                                               Greenwich
                                   h

            Equator           φ                                   λ




                                   Gambar 5.
 Sistem Koordinat Geodetis : Lintang (φ), Bujur (λ), dan Tinggi di Atas Ellipsoid (h)


      Perlu diperhatikan disini adalah bahwa besarnya lintang tidak diukur
dari pusat ellipsoid tetapi terhadap perpotongan garis normal dengan bidang
ekuator. Garis normal di setiap permukaan ellipsoid akan memiliki panjang


                                                                                          75
Spectra                                       Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79



yang berbeda-beda. Karena alasan ini penentuan panjang garis normal
untuk setiap titik dipermukan ellipsoid mutlak diperlukan dalam perhitungan
penentuan koordinat geografis/geodetis.




                                  Gambar 5.
               Perpotongan Garis Normal Dengan Bidang Equator



Sistem Koordinat Grid/Peta
      Koordinat geografis/geodetis yang diproyeksikan ke permukaan
bidang datar/peta dengan teknik/sistem proyeksi peta disebut dengan
koordinat grid/peta. Salib sumbu koordinat grid ini adalah orthogonal yang
membentang ke utara-selatan disebut North (N) atau Utara (U), dan yang
membentang ke barat-timur disebut East (E) atau Timur (T). Sedangkan titik
pusat (origin) salib sumbu ini memiliki harga tertentu yang besarnya
ditentukan dalam sistem proyeksi peta. Contoh koordinat grid di Indonesi
adalah Universal Tranverse Mercator (UTM) dan Tranverse Mercator 30
yang digunakan dalam sistem proyeksi Tranverse Mercator.


ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Tahap Persiapan
      Tahapan ini meliputi proses perencanaan lokasi yang akan dijadikan
sebagai areal penelitian, perencanaan alat dan bahan yang akan digunakan,
serta job description yang akan dijalankan.




                                                                               76
                                     Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



Proses Pengumpulan Data
       Pengumpulan data dimaksudkan sebagai proses untuk mencari dan
mendapatkan data-data baik spasial maupun non-spasial yang akan
dijadikan sebagai bahan pendukung penelitian. Dalam penelitian ini data
spasial yang digunakan adalah Citra IKONOS, peta topografi digital skala
1:1000 yang digeneralisasi menjadi peta kontur skala 1:1000, dan Data
DEM skala 1:1000 yang diperoleh dari hasil konversi kontur peta topografi
digital. Pengumpulan data Titik Kontrol Tanah (GCP) dilakukan secara
langsung dengan menggunakan GPS Geodetic di wilayah penelitian.
       1. Pemotongan dan Penajaman Citra Ikonos
          Pemotongan (cropping) citra dimaksudkan untuk mendapat
          gambaran citra sesuai dengan batas daerah penelitian, sedangkan
          penajaman citra berkaitan dengan proses pengkontrasan, yakni
          perbedaan antara brightness relatif antara sebuah benda dengan
          sekelilingnya pada citra.
       2. Melakukan proses koreksi geometrik citra dengan menggunakan
          data hasil pengukuran Titik Kontrol Tanah (GCP) dengan metode
          X,Y sebagai koreksi awal citra.
       3. Orthorektifikasi
          Dari hasil koreksi geometrik dilanjutkan dengan proses
          orthorektifikasi dengan menggunakan data DEM skala 1:1000 yang
          diperoleh dari hasil konversi dari peta kontur yang telah
          digeneralisasi sebelumnya dari peta digital topografi, sehingga citra
          terkoreksi X,Y,Z.
       4. Kontrol Geometrik Kulitas Citra
          Dari proses koreksi geometrik dan orthorektifikasi dilanjutkan
          dengan tahap kontrol geometrik kualitas citra yang meliputi uji
          ketelitian terhadap jarak, dan azimuth.
       5. Analisis
          Tahap ini merupakan bagian akhir dari keseluruhan proses
          penelitian yang dimaksudkan untuk mengkaji dan menganalisa hasil
          penelitian yang dilakukan.

Pengukuran dan Pengumpulan Data Lapangan
         Proses pengukuran dan pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap
kegiatan. Pengukuran pertama dilakukan dengan menggunakan tiga (3) set
alat GPS (Global Positioning System) Geodetik untuk menentukan posisi
titik-titik kontrol tanah (Ground Control Point) yang akan dijadikan sebagai
titik acuan dalam pengolahan data. Tahapan pengukuran kedua dilakukan
dengan menggunakan alat TS (Total Station) TC 600 untuk menentukan
posisi titik-titik detail dari titik-titik kontrol yang telah diukur sebelumnya.




                                                                                       77
Spectra                                           Nomor 9 Volume V Januari 2007: 65-79



Pengukuran Topografi Dengan Total Station (TC600)
         Setelah proses pengukuran titik-titik GCP (Ground Control Point)
selesai dilakukan dengan menggunakan alat GPS Geodetic, maka urutan
kerja berikutnya adalah melakukan pengukuran lapangan dengan
menggunakan alat Total Station dengan maksud untuk mendapatkan posisi
titik-titik detail terhadap titik-titik GCP yang telah diukur sebelumnya.
         Pada penelitian ini dilakukan enam (6) sesi pengukuran topografi
berdasarkan jumlah sebaran titik GCP yang telah diukur sebelumnya,
dimana jumlah dan posisi titik-titik detail yang diukur bergantung pada
kondisi geografis lapangan serta bisa atau tidaknya titik-titik tersebut dikenali
pada foto citra maupun peta.

KESIMPULAN
    Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian uji ketelitian kualitas
geometrik citra IKONOS hasil orthorektifikasi dengan menggunakan data
DEM skala 1:1000 adalah sebagai berikut:
    1. Nilai rata-rata residual dan standar deviasi koordinat GCP (Ground
        Control Point) yang diolah dalam penelitian ini mempunyai
        perbedaan, dimana data koordinat hasil proses orthorektifikasi
        terbukti lebih teliti dibandingkan dengan proses koreksi geometrik
        citra. Pada citra hasil koreksi geometrik diperoleh nilai rata-rata
        RMS pemasukan koordinat GCP sebesar 0.904 m dengan standar
        deviasi hasil perhitungan adalah sebesar 0.608 m sedangkan pada
        citra hasil orthorektifikasi dihasilkan nilai rata-rata RMS sebesar
        0.608 m. dengan nilai standar deviasi sebesar 0.402 m.
    2. Dari hasil pengolahan dan perhitungan nilai rata-rata RMS dari
        data koordinat titik detail, dapat diketahui bahwa proses
        pengolahan citra dengan rektifikasi orhto memiliki tingkat ketelitian
        yang lebih baik dibandingkan dengan proses rektifikasi secara
        geometrik, dimana nilai rata-rata residual yang dihasilkan dari
        proses koreksi geometrik adalah sebesar 1.016 m sedangkan rata-
        rata residual yang dihasilkan dari proses orthorektifikasi adalah
        sebesar 0.712 m.
    3. Proses koreksi geometrik citra dianggap kurang memenuhi
        persyaratan ketelitian citra yakni nilai residual yang melebihi 2 pixel
        di citra ikonos atau setara dengan 2 m di lapangan.
    4. Dari hasil uji statistik yang dilakukan, antara lain yaitu uji ketelitian
        azimuth dari proses orthorektifikasi, menghasilkan nilai rata-rata
        pergeseran azimuth sebesar 00035’17” sedangkan dari proses
        koreksi geometrik nilai rata-rata pergeseran azimuth adalah
        sebesar 00052’34” dan rata-rata selisih pergeseran azimuth antara
        citra hasil koreksi geometrik dan orthorektifikasi adalah sebesar
        00043’55”. Untuk uji ketelitian terhadap jarak, proses orthorektifikasi


                                                                                   78
                                      Kualitas Geometrik Citra Ikonos Pradono Joanes De Deo



        menghasilkan nilai rata-rata pergeseran jarak sebesar 0.143 m,
        sedangkan pada proses koreksi geometrik nilai rata-rata
        pergeseran jarak yang dihasilkan adalah sebesar 0.160 m.
     5. Nilai rata-rata selisih pergeseran jarak yang terjadi antara citra hasil
        koreksi geometrik dan hasil orthorektifikasi adalah sebesar 0.152
        m.


DAFTAR PUSTAKA
Abidin, H.Z. 1999. Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta:
       Pradnya Paramita.
Anonim. 2001. Owner Manual And Reference Quide Garmin V. Olate Kansas USA:
       Garmin International Inc.
Dess and Lorraine Newman. 2000. Ozi Explorer Reference Manual.
Leman, S. dan Haryanto, Ign. 1998. GPS (Global Positioning System) dan
       Pemanfaatannya pada Bidang Teknik Sipil. Jakarta: Jurusan Teknik Sipil
       Universitas Tarumanegara.
Lillesand and Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta:
       Gadjah Mada University Press.
Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh, jilid 1 dan 2. Yogyakarta: Gadjah Mada
       University Press.




                                                                                        79
Nomor 9 Volume V Januari 2007   ISSN 1693-0134





























				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:7
posted:2/13/2013
language:Latin
pages:83