Bumi Pasca Air Bah by Knc0XQ9k

VIEWS: 5 PAGES: 25

									Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa
Pembahasan Melalui Powerpoint
                                 Disediakan oleh
11 November 2006                 Pdt. Sammy Lee
                                 Sydney, Australia
Bayangkan perasaan dari keluarga Nuh ketika hujan
berhenti dan merekaKeluar dari bahtera mereka 150
hari kemudian. Apa yang mereka saksikan ketika itu
jauh mencekam daripada apa yang dapat kita lihat
dimanapun juga didunia ini. Kita sudah terbiasa me-
nyaksikan dunia kita sekarang ini dalam keadaanya
sesudah air bah. Akan tetapi Nuh dan keluarganya
selalu menyaksikan dunia sebelum air bah yang masih
indah, sebelum terjadi kehancuran yang mengerikan.
     AYAT APALAN :

“Yang terutama harus kamu ketahui ialah,
bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil
pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya,
yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa
nafsunya. Kata mereka: ‘Di manakah janji
tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-
bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu
tetap seperti semula, pada waktu dunia
diciptakan.’ ” (2 Pet. 3:3, 4,
Dalam pelajaran ini kita menyaksikan betapa Tuhan itu
  tetap memeliharakan janjiNya walaupun manusia
  memberontak kepadaNya di menara Babel.
  I. Perjanjian Pelangi
  Dalam Kejadian 1 waktu mengahiri penciptaan,
  Tuhan mengadakan suatu tanda diantara Dia
  dengan umatNya, yaitu perhentian Hari Sabat,
  dimana angka tujuh sebagai tanda tanganNya
  nyata tampak.
Setelah air bah, Tuhan mengadakan tanda perjanjian
  lagi dengan umatNya, kali ini dengan menggunakan
  Pelangi sebagai tanda, dimana juga tampak angka
  tujuh, yaitu 7 warna pelangi: Merah, lembayung,
  kuning, hijau, biru, biru tua dan ungu. (Kej. 9:8-17).
  (Didalam perjanjian lama, Tuhan menggunakan tiga
  simbol untuk tanda perjanjianNya yakni : Sabat [Kel.
  31:16], pelangi [Kejadian 9:13], dan sunat
[Kej. 17:11].
Perjanjian sunat itu telah diadakan oleh Tuhan khusus
  untuk Abraham dan keturunannya, sedangkan
  perjanjian pelangi itu adalah bagi semua manusia di
  atas bumi [Kejadian 9:17].
Ketika Tuhan menciptakan dunia pada awalnya, Dia
  memberikan Hari Sabat sebagai tanda perjanjiannya
  yang kekal kepada umat manusia seluruhnya.
  Sekarang pada waktu Dia menciptakan permukaan
  bumi kembali dengan suatu generasi yang baru
  dengan nenek moyang semua makhluk yang selamat
  dalam bahtera, Dia juga memberikan satu tanda yang
  ditujukan bagi semua manusia, yaitu pelangi.
Di takhta Allah yang disorga pelangi tampak menjadi tanda
kemurahanNya yang kekal selamanya. Jadi kedua tanda itu,
“Sabat hari perhentian” dan “pelangi” akan menjadi suatu tanda
peringatan yang abadi bagi umat Tuhan yang selamat nanti.
(Yesaya 66:22,23; Wahyu 4:3 “Dan Dia yang duduk di takhta itu
nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan
suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan
zamrud rupanya.”
 Tanda peringatan Tuhan, yaitu hari Sabat dan Pelangi, bukanlah dibuat
 untuk Tuhan atau mengingatkan dia akan janjiNya, melainkan adalah
 untuk meneguhkan iman kita kepadaNya dan meyakinkan kita bahwa Dia
 yang telah menciptakan alam semesta tetap memegang janjiNya dan
 akan memeliharakan kita selama kita setia menurut kepadaNya.




Tuhan Allah tidak mungkin memungkiri janjiNya, tapi sebaliknya sangat
menyedihkan bahwa keturunan Nuh, tidak lama kemudian, sementara Nuh
masih hidup, sudah melakukan pelanggaran terhadap perintahNya. Mereka
tidak mau menurut untuk menyebar keseluruh muka bumi dan memenuhi
dunia kembali dengan keturunan mereka.
Dengan alasan demi keamanan dan kesejahteraan bersama, Nimrod
berhasil membujuk keturunan Nuh untuk mendirikan satu kota dan
tinggal disitu gantinya menyebar keseluruh dunia. Tapi sebenarnya
alasan yang paling utama adalah mereka “meragukan” Firman Tuhan
dan “mereka mau membuat nama bagi diri mereka sendiri.”
Perhatikan ayat-ayat yang berikut ini dalam
  Kejadian 11:3,4
Mereka berkata seorang kepada yang lain:
 "Marilah kita membuat batu bata dan
 membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah
 dipakai mereka sebagai batu dan tergala-gala
 sebagai tanah liat.
 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita
 sebuah kota dengan sebuah menara yang
 puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita
 cari nama, supaya kita jangan terserak ke
 seluruh bumi.“

Perhatikan kedua alasan mereka: Cari nama dan
Jangan terserak ke seluruh bumi.
Pada waktu Tuhan menciptakan dunia ini, Dialah yang
  memberikan nama kepada ciptaanNya:
Kej. 1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu
  malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
Kej. 1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang
  dan jadilah pagi, itulah hari kedua.
Kej. 1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia
  menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas
  ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak
  dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang
  merayap di bumi."
Ketika Tuhan menjadikan Adam, yang artinya “manusia”,
  Tuhanlah yang memberikan nama itu kepada Adam.
Kemudian ketika Adam sudah diciptakan untuk menjadi Raja
  diatas dunia ini, Dia memberikan kekuasaan supaya Adam
  menamakan semua binatang. Begitu juga ketika Hawa
  diciptakan Adam yang memberikan nama “perempuan” ,
  kepadanya.
Pada waktu seseorang menikah, maka dia memberikan nama
  kepada isterinya. Dan ini berlaku sampai sekarang. Isteri kita
  diberikan nama oleh kita, atau dipanggil dengan nama kita, jadi
  Ny. Lee, atau Ibu Lee, atau Ibu Sammy, kadang-kadang.
  Kemudian anak-anak waktu lahir diberikan nama oleh orang
  tuanya, jadi anak saya mendapat nama Victor Lee dan Meike
  Lee. Kalau seandainya saya orang Yahudi atau Arab, maka
  anak saya akan bernama Victor bin Sammy, dan anaknya Victor
  adalah Daniel bin Victor.
Didalam Yesaya 40:26 bahkan semua bintang-bintang pun
  diberikan nama mereka oleh Tuhan. “Arahkanlah matamu ke
  langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu
  dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil
  memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak
  hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.”
Sekarang bandingkan itu dengan kekonyolan dari Nimrod yang
  mengatakan “Marilah kita mencari nama bagi diri kita sendiri.”
Mereka bertekad untuk menamakan diri mereka sendiri. Mereka
  menamakan kota itu Babel, yang sebenarnya dalam bahasa
  Sumeria “babilu” artinya “Gerbang kepada Allah”. Mereka mau
  mengadakan jembatan ke langit, ketempatnya takhta Allah.
Ingat apa yang dikatakan oleh Lucifer?
Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke
  langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-
  bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan,
  jauh di sebelah utara.
  Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak
  menyamai Yang Mahatinggi!
Aha! Sekarang baru ketahuan biang keroknya! Jadi siapakah
  yang menjadi Dalangnya? Benar, Naga itu. Dia juga yang
  memberikan takhtanya kepada binatang dalam Wahyu 13!
Ingin menjadi sama dengan Allah, ingin menjadi diktator tunggal
  yang memerintah diseluruh dunia, melawan semua perintah
  Allah! Mengikis habis dan mengubah semua hukum-
  hukumNya. Siapa yang tidak mau menurut, dianggap heretik
  dan boleh dianiaya dan ditumpas habis.
Perhatikan bahwa semua peristiwa-peristiwa ini terjadi
disekitar Mesopotamia, yang dipercayai sebagai letaknya
Taman Eden.
Bahtera Nuh mendarat disebelah utara lokasi itu, yaitu di
Gunung Ararat. Kemudian mereka mendirikan kota dan
Menara Babel di sebelah selatan dari lokasi Eden.




                                             Mt. Ararat

                                              Eden
                                             Tower of
                                             Babel
Sekarang perhatikan apa yang terjadi dengan manusia yang
   dipimpin oleh Setan mau membuat nama mereka sendiri.
Nama Babel itu juga mempunyai arti :kekacauan.
Dan arti itulah yang digunakan dalam kitab Wahyu
   menggambarkan agama palsu yang akan menguasai dunia ini
   sampai pada saat Tuhan akan merubuhkan Babel rohani itu,
   dan mendirikan KerajaanNya sendiri.
Dari mula pertama manusia dibawah hasutan Setan ingin
   mempersatukan dunia dalam satu kerajaan melawan Allah.
Tapi mereka gagal. Itu pula yang dikatakan Tuhan melalui Daniel
   dalam Daniel 2. “Mereka tidak akan dapat dipersatukan!”
Itu sebabnya Setan sangat panasaran, dia akan berusaha terus
   membuktikan ucapan Tuhan itu salah. Dia berusaha mem-
   persatukan dunia, seperti Nebukadnezar raja Babilon dulu yang
   mendirikan patung dari emas seluruhnya, karena ingin
   mengubah dekrit Allah: Mereka tidak akan dapat dipersatukan!
Dia akan mengusahakan mendirikan satu Dunia Orde Baru!
Itulah yang sedang diusahakannya sekarang melalui organisasi
   bonekanya, yaitu Jesuit dan Freemanson, yang tujuan
   utamanya adalah
The New World Order, Dunia Orde Baru!
Tapi sama seperti peristiwa di menara Babel, usaha ini akan
   berakhir didalam “kekacauan”.
Moto dari Jesuit dan Freemason adalah : “Ordo ab chao”, “order
   out of chaos” atau “ketertiban dari kekacauan”. Dunia
   sekarang dalam kekacauan, dan menurut mereka yang
   didalangi Lucifer, harus diusahakan dengan jalan apa pun juga
   untuk mengubah kekacauan ini menjadi satu dunia yang aman
   makmur dan sejahtera dibawah satu kekuasaan.
Tapi sama juga dengan Menara Babel, akhirnya vonis yang
   dijatuhkan kepada mereka adalah : “Sudahlah roboh, negeri
   Babel besar itu!”
• Dalam mengacaukan bahasa mereka, sebenarnya
 Tuhan menunjukkan kemurahanNya. Bayangkan apa
 yang akan terjadi seandainya Tuhan membiarkan
 mereka meneruskan proyek mereka itu. Pada saat
 dimana tidak ada alat-alat berat seperti sekarang,
 tidak ada beton bertulang dengan kawat dan besi
 waja seperti sekarang, bukankah mereka itu sedang
 menuju kepada kebinasaan mereka sendiri. Kalau
 bangunan itu mencapai tinggi beberapa puluh tingkat
 saja, pasti akan ambruk dengan beratnya sendiri dan
 karena bahan yang digunakannya begitu rapuh. Ini
 menggambarkan betapa rapuhnya keadaan manusia
 yang mau menentang dan melawan Tuhan!
Dalam aksara Cina huruf “migrasi/bermigrasi”, atau “qian”, bacanya “chyen”,
   hampir sama dengan mengucapkan “seribu” atau “uang”[chyen] dalam
   bahasa Mandarin.
Huruf “chyen” atau “bermigrasi” itu dituliskan sebagai berikut:
“barat” +
“besar” +
“bungkusan/                       “to migrate” [qian]
tas” +                            “one thousand” + “moving/walking”
 “berjalan/
                                                                     “child”
bergerak/                                       “west”
berpindah”.
                                               “big”
Migrasi besar
                                               “bag”
Yang pertama
terjadi di barat
                                              “moving/walking”
dimana ribuan
orang angkat                       “confusion”[luan]
koper,/tas/                        “tongue” [1 thousand from mouth]
mereka.                            + “divided/half of child”
                                               Huruf ini kemudian diru-
           “to migrate” [qian]                 bah dan disederhanakan
           “one thousand” + “moving/walking” oleh Rejim Komunis
                                                  dengan singkatan
                                       “child”
                      “west”                   Seperti tampak dikiri atas
                                               yang hanya terdiri dari
                     “big”
                                               “seribu” dan “berjalan”.
                     “bag”
                                               Kemudian kata
                    “moving/walking”           “kekacauan”[confusion]
                                               adalah terdiri dari “lidah”
            “confusion”[luan]                  dan “anak lelaki”(er) yang
            “tongue” [1 thousand from mouth]
                                               dipisahkan.
            + “divided/half of child”
                                               Jadi dengan kata lain:


Ketika Menara Babel diperdirikan, bahasa (lidah) manusia telah dikacaukan
Menjadi ribuan, dan kemudian terjadilah “perpindahan besar dari barat”
Dimana orang-orang memikul tas atau bungkusan masing-masing menuju
Ke segenap arah. Sedangkan bangsa Cina langsung berjalan sampai ke
Ujung bumi sebelah Timur. The Far East.
Walaupun manusia memberontak kepadaNya, Tuhan tetap tidak
melanggar janjiNya. Dia tidak membinasakan mereka lagi,
melainkan memilih segelintir
umat pilihanNya yang tersisa. Pada akhir zaman, umat yang sisa
inilah yang bertugas untuk menyerukan undangan dan amaranNya
yang terakhir: Keluarlah dari dalam Babel yang sudah roboh, atau
sistim agama yang palsu. Terimalah tanda peringatanNya akan
Janji KasihNya: Yaitu Hari Sabat hari yang ketujuh, dan turutlah
semua perintahNya. (Wahyu 14:6,7)
Sekarang perhatikan ayat yang sangat menarik dalam 2
  Petrus 3:3-6 ini:
Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada
  hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek
  dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang
  hidup menuruti hawa nafsunya.
  Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-
  Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal,
  segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia
  diciptakan."
  Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman
  Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang
  berasal dari air dan oleh air,
  dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa,
  dimusnahkan oleh air bah.

Bagi saya ayat ini sungguh sangat menakjubkan seolah-
  olah Petrus ada hidup sekarang ini dan sebagai seorang
wartawan sedang memberikan laporan tentang manusia
  yang hidup pada akhir zaman ini.
Pertama-tama perhatikan bahwa mereka adalah pengejek
  atau pengolok yang akan datang pada akhir zaman.
Kemudian perhatikan bahwa mereka itu bukannya tidak
  percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta.
Kebanyakan gereja didunia sekarang ini, bahkan
  beberapa pendeta Advent sendiri pun sudah mulai
  mempunyai paham bahwa Tuhan benar menciptakan
  alam ini pada mula pertama, tapi sesudah itu terjadi
  proses evolusi yang memakan waktu ratusan juta
  tahun.
Sekarang perhatikan bagian yang terakhir: Mereka
  sengaja tidak mau tahu, …bumi yang dahulu telah
  binasa, dimusnahkan oleh air bah.
Jadi mereka itu bukan tidak tahu, tapi sengaja tidak mau
  tahu, bahwa bumi yang dahulu dimusnahkan dengan air
  bah.
Maksud saya bukan “Batubara” yang asalnya dari Tapiannauli,
  tapi ‘batubara’ yang berasal dari Sawahlunto.
Tambang-tambang batubara didunia membukti-kan adanya airbah
  pada zaman Nuh.
Lapisan-lapisan batubara itu sangat jelas bagi orang yang mau
  percaya dan tidak “sengaja tidak mau tahu” bahwa itu
  membuktikan terjadinya air bah seperti yang dituliskan Alkitab.
  Lapisan-lapisan itu sangat jelas menunjukkan bagaimana
  tumbuh-tumbuhan yang tumbang akibat airbah telah
  berkumpul diatas permukaan bumi kemudian diuruk dengan
  lumpur tanah, yang terombang ambing setelah hujan itu
  berhenti, dan akhirnya menjadi seperti itu, lapisan fosil
  tanaman yang akhirnya menjadi hitam setelah sekitar 4 ribu
  tahun terpendam dalam tanah.
Batu bara itu asalnya adalah tumbuh-tumbuhan yang
  mengandung zat makanan yang dihasilkan photosyn-thesis dari
  chlorophyl dengan pertolongan sinar matahari.
Sedangkan petroleum atau minyak bumi,
 berasal dari hewan yang juga mati
 bertumpuk-tumpuk pada saat yang sama
 dalam sekejap, dan tertimbun didalam perut
 bumi. Walaupun ada perdebatan diantara
 para pakar geology mengenai asal usul dari
 minyak bumi, yang jelas adalah banyak
 sekarang yang mengakuinya sebagai
 “minyak fosil” atau fosil oil, yang berasal
 dari marine, atau laut, yang kemudian
 tertimbun oleh tanah atas letusan gunung
 berapi.
Tapi tentu saja kalau mereka mengakui hal
 ini, maka mereka harus membuang teori
 evolusi mereka dan mereka harus mengakui
 teori penciptaan seperti yang dicatat dalam
 Alkitab.
Sekarang terserah kepada kita untuk mempercayai yang mana.
Yang jelas teori-teori itu selama dua ratus tahun ini sudah
  dirubah-rubah di ralat dan diralat, tapi Alkitab masih tetap
  sama, dan tidak berubah dan dengan tegas mengatakan:
Tuhan menciptakan bumi dalam enam hari dan pada hari yang
  ketujuh Dia berhenti, dan menjadikan itu Tanda
  PenciptaanNya.
Kedua, karena dosa manusia dan kejahatan yang memuncak
  Tuhan membinasakan bumi dengan air bah, dan
  memulaikannya kembali dengan penduduk 8 orang keluarga
  Nuh, dan sebagai tanda Dia menaruh busur pelangi dilangit.
Walaupun hampir seluruh dunia akan membantahNya, nanti pada
  zaman kekekalan kedua tanda itu: Sabat dan Pelangi akan
  tetap menjadi bukti yang teguh, telak tak dapat dibantah bagi
  semua pengeje-pengejekNya, dan akan kita saksikan
  selamanya pada takhtaNya dan pada berlangsungnya waktu,
  dari Sabat ke Sabat. (Wahyu 4:3 dan Yesaya 66:22, 23)
Selamat Hari Sabat semua dari saudaramu,
Sammy Lee, Sydney Australia.

								
To top