Analisa Penurunan Preloading dengan Sistem Matras Bambu pada Tanah

Document Sample
Analisa Penurunan Preloading dengan Sistem Matras Bambu pada Tanah Powered By Docstoc
					                  Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)        1


     Studi Analisa Penegndelaiam Mutu Proyek Jalan Mlirip - Jampirogo


                                     ABSTRAK
Dengan berkembangnya tehnologi khususnya pada bidang konstruksi jalan, banyak
upaya pemerintah (Bina Marga) untuk terus berbenah akibat kegagalan-kegagalan
pekerjaan yang terjadi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kerusakan atau
kegagalan oleh human error, yang banyak terjadi sering mengenyampingkan mutu
bahan dan pelaksanaan.
Untuk mendapatkan kualitas bahan dan pelaksanaan yang memenuhi persyaratan mutu
banyak yang harus diperhatikan, terutama pada kemampuan sumber daya manusia.
Kemampuan atau keterampilan melakukan pengujian dan pelaporan dengan benar
merupakan kunci pengendalian mutu. Macam-macam pengujian yang dikerjakan untuk
mengetahui sifat-sifat bahan dan metode rencana pencampuran agregat A dan B yang
melalui tahapan dari pengambilan, perumusan dan pemprosesan bahan hingga menjadi
suatu bahan campuran lapis pondasi. Penentuan tempat pengambilan sirtu dievaluasi
yang terkecil akibat dampak penambangan. Pemprosesan bahan dari sirtu melalui mesin
pemecah batu menjadi fraksi sirtu dan batu pecah dan mencampurnya sesuai komposisi
dan gradasi Mix Desain yang disetujui. Pengujian bahan dengan standar pengujian yang
ditentukan tidak kurang dari batas-batas yang ditentukan spesifikasi. Untuk
mendapatkan keseragaman pada sifat-sifat material, pada pengambilan sirtu tidak boleh
lebih dari satu lokasi pengambilan (quarry). Didalam pelaksanaan kita sudah
mengetahui kualitas bahan yang dikirim layak untuk diterima atau ditolak. Dan sampai
akhir pekerjaan sudah bisa dijamin kualitasnya.Dari hasil pengujian di laboratorium
material sirtu dan batu pecah lolos saringan 1½” untuk agregat kelas A, dan lolos
saringan 2” untuk agregat B, bila dicampur dengan komposisi 70 : 30 persen dengan
perbandingan berat, akan didapat daya dukung tanah (CBR) sebesar 104,0 % untuk
agregat kelas A dan 73,5 % untuk agregat kelas B.

Kata Kunci : agregat, komposisi, gradasi, mix desain, spesifikasi, quarry.

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
   UMUM
   Jalan raya adalah prasarana transportasi darat yang lebih banyak dipakai oleh
   masyarakat di Indonesia. Untuk itu pelayanan, kenyamanan dan keamanan bagi
   pengguna prasarana ini perlu perhatian intensif supaya mendapatkan hasil pelayanan
   yang memuaskan. Departemen Pekerjaan Umum merupakan Departemen yang
   melaksanakan layanan Pemerintah untuk menjaga pelayanan transportasi darat
   menjadi aman dan nyaman bagi pemakai prasarana ini. Untuk meningkatkan
   pelayanan ini, pihak Departemen Pekerjaan Umum Menunjuk Kontraktor sebagai
   pelaksana, dan Konsultan sebagai perencana dan pengawas pelaksanaan.
   Pada proyek – proyek Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan di Dinas Bina Marga
   yang di kerjakan kontraktor kelas nasional maupun daerah, yang terjadi saat ini
2                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


    masih bisa dikatakan belum memenuhi pelayanan yang memuaskan. Hal ini bisa
    kita liat pada proyek – proyek yang ada, di mana banyak sekali kita temui sebelum
    mencapai umur rencana dan pada waktu pelaksanaan sudah mengalami kerusakan.
    Hal ini disebabkan oleh sumber daya manusia yang melaksanakan pekerjaan
    tersebut belum mumpuni. Untuk memenuhi tuntutan mutu yang diminta perlu
    tenaga ahli dan pelaksana pekerjaan yang mempunyai dedikasi tinggi untuk
    mencapai mutu pekerjaan yang baik.




I.2 PERUMUSAN MASALAH

    Pada Perencanaan di dapat tebal aggregat base klas A = 30.00 cm, dan aggregat base
    klas B = 40.00 cm. Yang menjadi permasalahan adalah :
    1. Dengan keterbatasan tempat pengambilan material bisakah kontraktor
       mendapatkan bahan berkualitas dan proses pencampuran bahan dengan baik.
    2. Dengan material yang tersedia, bagaimana mengolah material itu menjadi bahan
       badan jalan yang memenuhi yang disyaratkan.
    3. Macam-macam metode pengujian apa saja yang diterapkan untuk mengetahui
       bahwa bahan itu bisa dipakai untuk bahan badan jalan.
    4. Bagaimana penerapan pelaksanaan yang mudah dan bisa memenuhi persyaratan.



I.3 TUJUAN PENELITIAN


    Tujuan dari Analisa Metode Pengendalian Mutu ini adalah Meninjau ke dalam
    pelaksanaan proyek ini untuk mengetahui alur metode pelaksanaan dan mengontrol
    mutu, sejak dari tempat pegambilan material, pengolahan sampai penghamparan dan
    pemadatan. Dan bagaimanakah pengujian dan pelaporannya.



I.4 BATASAN MASALAH


    Dalam penulisan tugas akhir ini lingkup pembahasan yang direncanakan akan
    diungkap antara lain adalah :
                  Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)        3


  1. Proyek yang akan dibahas adalah Proyek Pembangunan Jalan Mlirip –
     Jampirogo.
  2. Analisa pemilihan metode dilakukan pada aspek – aspek yang meliputi :
      Analisa Metode Pengendalian Mutu Konstruksi Jalan.
      Analisa Pekerjaan Pondasi aggregate klas A dan B
      Analisa Pengujian Laboratorium
      Analisa Pengujian Lapangan
      Analisa Pelaksanaan penghamparan dan pemadatan.


TEORI PENUNJANG
UMUM

   Pengendalian mutu merupakan suatu sistim pengumpulan, analisa dan penafsiran
   dari ukuran-ukuran serta data lain mengenai karakteristik yang ditetap akan dari
   suatu bahan, proses dan suatu produk untuk menentukan kesesuaiannya terhadap
   persyaratan-persyaratan yang ditetapkan. Pada pokoknya semua itu merupakan
   fungsi pengawasan. (Buku Pondasi Jalan, oleh Ir.Rudy Setiawan, tahun 1999)
   Tujuan pengendalian mutu adalah untuk menjamin bahwa pekerjaan yang telah
   selesaikan, betul-betul memenuhi persyaratan dan rancangan yang telah
   direncanakan serta bahan-bahan dan keterampilan kerjanya juga memenuhi
   standar yang cukup tinngi untuk pelaksanaan pekerjaan yang memuaskan (dan
   secara ekonomis) dalam jangka waktu yang diiginkan.
   Pengendali mutu dapat dianggap sebagai cara yang formal untuk mencapai hasil
   yang di inginkan dan secara berurutan pelaksanaannya adalah :
   1. Program pengendalian mutu merupakan upaya untuk meyakinkan terhadap
       tercapainya kualitas hasil pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan apa yang
       dikehendaki spesifikasi dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
   2. Pengendalian mutu dilaksanakan sejak awal pelaksanaan pekerjaan sampai
       dengan pasca pelaksanaan .
   3. Program pengendalian mutu harus disusun proyek / bagian proyek dan dibahas
       pada saat Rapat Pra Pelaksanaan (Pre Construction Meeting / PCM). Program
       tersebut dapat direvisi sesuai dengan perkebangan lingkup pekerjaannya.
   4. Progam pengendalian mutu proyek berisi paling tidak meliputi :
       1) Informasi Proyek
4                              NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


             2) Organisasi Pelaksanaan Proyek (termasuk Konsultan Supervisi dan
                 Kontraktor)
             3) Jadual Pelaksanaan
             4) Langkah-langkah Pengendalian Mutu
             5) Jadual pengujian yang telah dikaji Atasan Langsung Pimpro / Pimbagpro
                 dari program pengendalian mutu pekerjaan proyek.
          5. Untuk melaksanakan pengujian laboratorium dalam rangka pengendalian mutu
             pekerjaan, Proyek / Bagian Proyek harus mempedomani pemanfaatan
             laboratorium sebagai berikut :
          Tabel : II. 1
    NO.                                                  PERIODE                 TEMPAT
                   JENIS PENGUJIAN
                                                       PENGUJIAN               PENGUJIAN
    1.      Pengujian Dasar Persyaratan Dasar Awal Pelaksanaan              Lab. DPU Bina
                                                                            Marga Prop. Jatim
    2.      Laboratorium Mix Formula                Awal Pelaksanaan        Lab. DPU Bina
                                                                            Marga Prop. Jatim
    3.      Pengujian Rutin Selama                  Selama                  Lab. Kontraktor /
                                                    Pelaksanaan             DPU Bina Marga /
            Pelaksanaan
                                                                            lainnya
    4.      Pengujian untuk pengawasan              Selama                  Lab. DPU Bina
                                                    Pengawasan              Marga Prop. Jatim
            melekat
                                                    melekat
    5.      Pengujian Serah Terima Pekerjaan        Saat Serah Terima Lab. DPU Bina
                                                                      Marga Prop. Jatim
                                                    Pekerjaan / PHO


II.2 Pedoman Langkah-langkah Pngendalaian Untuk Bahan Mentah
          1) Pra Pelaksanaan
             a. Pemilihan pabrikan / pemasok asal bahan yang menjamin pemenuhan
                 mutunya.
             b. Pemilihan quarry asal bahan yang menjamin pemenuhan mutunya.
             c. Pemilihan metode produksi / penyiapan yang menjamin dihasilkannya
                 bahan bermutu.
             d. Pemilihan peralatan penghasil / pengolah yang menjamin dihasilkannya
                 bahan bermutu.
             e. Pemilihan peralatan uji yang menjamin akurasi dan presisi mutu bahan.
             Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)         5


   Dokumen hasil pengendalian mutu diantaranya :
   1. Sertifikasi hasil uji mutu bahan dari laboratorium pabrikan.
   2. Sertifikasi hasil uji mutu bahan dari laboratorium Dinas Pekerjaan Umum
      Bina Marga Propinsi Jawa Timur.
   3. Surat rekomendasi lembaga berwenang / prestasi kerja yang di akui
      pengguna mengenai kepekaan pengukuran dari peralatan uji.
   4. Surat bukti kemampuan / pengakuan pemenuhan bahan / peralatan /
      metode menghasilkan bahan yang bermutu dari lembaga berwenang /
      pengguna sebelumnya.
   5. Berita acara hasil pengujian mutu yang dibuat bersama oleh produsen /
      pemasok dan pengguna bahan.


2) Pelaksanaan
   i. Awal
       a. Pengujian dasar persyaratan penggunaan bahan.
       b. Pengujian formula campuran sample bahan yang akan digunakan /
          Laboratorium Mixed Formula.
       c. Kalibrasi penggunaan peralatan produksi dan pengukuran.
      Dokumen Hasil pengendalian mutu di antaranya :
      1. Sertifikat hasil uji mutu bahan dan laboratorium mixed formula dari
          laboratorium Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Propinsi Jawa
          Timur.
      2. Surat rekomendasi lembaga berwenang mengenai kemampuan
          peralatan menghasilkan bahan bermutu.
      3. Sertifikat hasil kalibrasi / tera peralatan pengukur yang digunakan dari
          lembaga berwenang yang masih berlaku.
      4. Berita acara yang dibuat bersama oleh kontraktor, proyek dan
          konsultan supervisi mengenai hasil kalibrasi peralatan produksi /
          pengukuran yang digunakan.
  ii. Produksi
      a. Pengujian formula campuran bahan yang digunakan / job Mixed
          Formula.
6                     NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


          b. Pengujian ulang kalibrasi ukuran / volume / berat dari bahan komponen
             hasil produksi yang digunakan dasar pembayaran.


         Dokumen Hasil pengendalian mutu di antaranya :
         1. Sertifikat hasil uji mutu bahan yang diproduksi dan digunakan dari
             laboratorium proyek.
         2. Berita acara Job Mixed Formula bahan diproduksi yang disahkan
             bersama oleh proyek, kontraktor dan konsultan supervisi.
         3. Sertifikat hasil kalibrasi / tera penggunaan peralatan pengukur yang
             berlaku dari lembaga berwenang.
         4. Berita acara hasil kalibrasi penggunaan peralatan produksi /
             pengukuran yang disahkan bersama oleh proyek, konsultan supervisi
             dan kontraktor.
    iii. Pengerjaan
          a. Pengujian rutin setiap hari, volume dan berat sesuai ketentuan standar
             spesifikasi dari laboratorium proyek.
          b. Percobaaan penentuan lintas pemadatan, ukuran pemadat dan
             pengujian kepadatannya.
          c. Pengujian kalibrasi volume tempat penampung bahan dan jumlah
             penggunaannya.
         Dokumen Hasil pengendalian mutu di antaranya :
         1. Sertifikat hasil uji mutu produksi bahan pada setiap tingkatan (sesuai
             ketentuan     standar   spesifikasi)    dalam     tahap   pengerjaan   dari
             laboratorium proyek.
         2. Berita acara penggunaan formula pemadatan bahan yang dikerjakan
             dan disahkan bersama oleh proyek, konsultan supervisi dan kontraktor.
         3. Berita acara kalibrasi penggunaan tempat penampung dan jumlah
             bahan yang dikerjakan dan disahkan bersama oleh proyek, konsultan
             supervisi dan kontraktor.
    iv. Akhir
          a. Pengujian kepadatan, ketebalan, kadar dan komposisi bahan yang
             dikerjakan.
          b. Pengujian kerataan dan kemiringan.
                 Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)            7


           c. Pengujian kekuatan.
           Dokumen Hasil pengendalian mutu di antaranya :
           Sertifikat hasil uji mutu pengerjaan produksi bahan pada tahap pelaksanaan
           akhir sesuai ketentuan standar spesifikasi dari laboratorium proyek.


    3) Pasca Pelaksanaan
       1. Pengujian kepadatan, ketebalan, kadar dan komposisi bahan yang
           diselesaikan.
       2. Pengujian kerataan dan kemiringan.
       3. Pengujian kekuatan, daya dukung.
       Dokumen Hasil pengendalian mutu di antaranya :
       Sertifikat hasil uji mutu pekerjaan selesai sesuai kebutuhan yang dikerjakan.


II.3 Pedoman Langkah-langkah Pengendalian Untuk Bahan Pabrikan
    Pengendalian mutu yang dilaksanakan meliputi :
    Menyerahkan hasil Job Mixed Formula dari Laboratorium produsen / pabrikan
    pemasok yang memenuhi ketentuan standar spesifikasi teknis yang diakui / Bina
    Marga mengenai komposisi bahan produksi yang digunakan sebagai dasar
    pedoman kerja produksi yang dipasok :
    1. Menyerahkan hasil pengujian rutin persatuan ukuran / waktu produksi /
       pekerjaan selama proses pelaksanaan sesuai ketentuan standar spesifikasi
       teknis meliputi :
       a. Produksi
       b. Pengerjaan
    2. Menyerahkan hasil pengujian selama proses akhir persatuan produksi /
       pekerjaan sesuai ketentuan standar spesifikasi teknis seperti di antaranya
       pengujian kepadatan, ketebalan, kadar dan komposisi bahan serta kekuatan.
    3. Pengujian pada proses pasca pekerjaan selesai di antaranya meliputi beberapa
       pengujian ulang, jika dibutuhkan.
    4. Perkecualian diberikan untuk penggunaan hasil pengujian dari produsen
       (dalam negeri / luar negeri), laboratorium pengujian tanpa akreditasi apabila
       berdasarkan sifat serta kekhususan bahan / pekerjaan yang digunakan adalah:
8                          NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


       a. Menggunakan teknologi canggih dan di dalam                    negeri belum mampu
          dilakukan pengujian tersendiri.
       b. Teknologi yang digunakan tetapi di dalam negeri belum mampu di lakukan
          pengujian tersendiri.
       c. Teknologi yang digunakan merupakan hak eksklusif / paten produsen yang
          belum mampu diuji di laboratorium dalam negeri selain oleh laboratorium
          produsen.
       d. Teknologi yang digunakan belum mampu diuji laboratorium penguji dalam
          negeri yang telah memiliki akreditasi.


II.4 Pedoman Penentuan Batasan Volume Menurut Kelompok Pekerjaan
    1. Kelompok pekerjaan agregat
       Sesuai ketentuan pengujian dengan volume minimal standar pada spesifikasi
       Bina Marga :
       a. Volume di atas 1000 m³ pengujian rutin persetiap kelipatan produksi 1000
          m³.
       b. Produksi pengujian untuk produksi mulai 200 m³.
    2. Kelompok Pekerjaan Sejenis Volume / Produksi Kecil Di Bawah Ukuran
       Minimal Ketentuan Pengujian, Lokasi Tersebar Pada beberapa Paket
       Kontrak Tetapi Terletak Pada Satu Wilayah BPJ Serta Berasal Dari Satu
       Sumber Quarry / Produsen Pemasok Yang Sama, diharuskan ketentuan
       sebagai berikut :
       a. Satu Laboratorium Mixed formula dari laboratorium Dinas Pekerjaaan
          Umum Propinsi Jawa Timur yang berlaku untuk satu jenis volume /
          produksi kecil tersebar pada beberapa paket kontrak dalam satu wilayah
          BPJ.
       b. Diadakan pengujian rutin yang dapat menggambarkan mutu serta teknis
          pengerjaan bahan dan pelaksanaan pekerjaan pada masing-masing lokasi
          pekerjaan yang meliputi semua tahapan yaitu :
           i. Produksi
          ii. Pengerjaan.
                  Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)      9


        c. Pengujian selama proses akhir meliputi di antaranya pengujian kepadatan,
           ketebalan, kadar dan komposisi bahan yang dipakai, kekuatan maupun
           daya dukung.


II.5 Ringkasan Proses Pengendalian Mutu Konstruksi Jalan
    1. Penyerahan lokasi pekerjaan ke proyek.
    2. Kontrak.
    3. Surat Perintah Mulai Kerja.
    4. Penyerahan Lokasi Pekerjaan Ke Kontraktor.
    5. Rapat Pra Konstruksi ( PCM ) :
        a. Jadual kerja.
        b. Mobilisasi Sumber Daya.
        c. Desain campuran.
        d. Pematokan.
        e. Tata kerja pengaujuan MC dan kelengkapannya.
    6. Rekayasa Lapangan, Review design.
    7. CCO / Addendum Kontrak.
    8. Pembersihan, pengerjaan tanah dan persiapan tanah dasar, drainase dan
        gorong-gorong.
    9. Teknik konstruksi lapis pondasi bawah dan atas.
    10. Teknik konstruksi permukaan.
    11. Teknik konstruksi pekerjaan pelengkap dan penunjang akhir.
    12. Pernyataan pekerjaan selesai 100 % dan final addendum kontrak.
    13. Proses PHO pekerjaan.
    14. Masa pemeliharaan pekerjaan
    15. Proses FHO pekerjaan
    16. Penyerahan kembali hasil pekerjaan ke Pembina jalan.


II.6 Peranan Pengendalian Mutu Pada Pekerjaan Lapis Pondasi Jalan Tanah
    Berbutir


    Pengendalian pekerjaan-pekerjaan proyek dilaksanakan dengan cara melakukan
    inspeksi, pengukuran dan pengujian (testing). Hal ini terdiri dari metode utama
10                        NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


     pengendalian mutu dan keterampilan kerja serta pelaksanaan spesifikasi-
     spesifikasi untuk konstruksi jalan serta pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan.
     Pengendalian dan pengujian secara teratur, merupakan alat / cara yang diperlukan
     untuk menghindari hasil yang tidak diterima, yang disebabkan oleh faktor-faktor
     seperti keterampilan kerja yang jelek, perubahan sumber-sumber bahan bermutu
     jelek, peralatan yang tidak sesuai atau tidak memadai dan kondisi yang merugikan
     pekerjaan di lapangan, berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
     Dalam pemeliharaan maupun pembangunan jalan, hasil penelitian di Indonesia
     maupun di Negara-negara lainnya dengan jelas menunjukkan bahwa pengendalian
     mutu yang baik dapat sangat meningkatkan kinerja jalan. Sesungguhnya bahwa,
     pengendalian mutu yang baik juga akan menghemat biaya lima sampai sepuluh
     kali lipat dari pada menggunakan uang yang sama itu membuat lapisan bahan
     yang lebih kuat atau lebih tebal.
     Bila semua faktor ini dijadikan satu, kita akan menyadari betapa pentingnya
     peranan petugas pengendali mutu dan jika ia bekerja dengan baik, ia dapat
     menjadi salah stu seorang tenaga yang paling produktif untuk pembangunan
     Nasional.
     Ada dua fungsi utama dari percobaan pengendalian mutu berdasarkan kontrak dan
     sangat penting bagi petugas pengendali mutu untuk memahami betul-betul
     perbedaan antara kedua fungsi ini yaitu :
     1. Pengendalian mutu bahan, yang diperlukan untuk menjamin bahwa bahan-
        bahan yang diusulkan kegunaanya untuk pekerjaan lapisan pondasi jalan tanah
        berbutir adalah sesuai dan memuaskan serta memenuhi persyaratan spesifikasi.
        Hal ini penting karena bahan-bahan tersebut harus diperiksa dan diuji mutunya
        (seperti batas-batas Atterberg, gradasi, CBR dan lain-lain). Sebelum
        dimasukkan ke dalam pekerjaan dan dilaporkan kepada Direksi Teknik.
     2. Pengendalian mutu pelaksanaan pekerjaan, yang dilaksanakan untuk menjamin
        bahwa pekerjaan dari kontraktor yang telah diselesaikan memenuhi standar
        perencanaan dan standar konstruksi yang telah ditetapkan. Hasil pekerjaan
        tersebut (seperti tingkat pemadatan yang didapat dalam pondasi agregat dan
        lain-lain). Diperlukan oleh Direksi Teknik untuk menentukan pekerjaan itu
        diterima atau ditolak.
                   Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)           11


    3. Pengendalian mutu pekerjaan memerlukan pengawasan (konsultan supervisi)
       terus menerus selama pelaksanaan pekerjaan.


II.7 Tugas Dan Tanggung Jawab Pengendali Mutu
    Pengendali mutu harus memastikan terhadap pelaksanaan pekerjaan kontraktor
    semua pengujian-pengujian yang diperlukan menurut spesifikasi atau menurut
    keperluan Direksi dilaksanakan secepat mungkin dan keputusannya dicatat dengan
    sempurna, disimpan dan secepatnya diserahkan kepada Pengendali Mutu
    Lapangan dan Direksi Pengawas Lapangan supaya pekerjaan yang berkualitas
    jelek tidak diterima. Untuk mencapai tujuan di atas, pengendali mutu harus
    melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut :
    1. Mengawasi terus menerus teknisi kontraktor dalam melaksanakan persyaratan
       pengujian yang telah ditentukan, pengawasan pengambilan bahan contoh,
       ketelitian pengujian dan laporan.
    2. Memberi petunjuk kepada kontraktor di mana contoh yang cocok harus
       diambil dan menentukan bahwa frekwensi pengambilan contoh dan pengujian
       telah mencukupi dan memenuhi persyaratan-persyaratan frekwensi yang di
       tetapkan.
    3. Menentukan semua pengujian-pengujian pada semua material dan pekerjaan
       lapangan telah dicatat dengan sempurna oleh teknisi kontraktor ke dalam
       laporan harian dan disimpan secara tersendiri dari kontraktor, simpanan
       terpisah yang terdiri daripada semua laporan-laporan dan hasil-hasil pengujian
    4. Memastikan bahwa teknisi kontraktor melaporkan hasil-hasil pengujian
       dengan menggunakan formulir laboratorium yang standar.
    5. Menyerahkan ringkasan laporan mingguan untuk semua hasil-hasil pengujian
       kepada Direksi Pengawas Lapangan berikut saran-saran mengenai diterima
       atau ditolaknya material pekerjaan, berdasarkan hasil pengujian dan
       pengamatan prosedur yang dilaksanakan oleh teknisi kontraktor.
    Sebagai pengendali mutu harus memberikan petunjuk kepada staf kontraktor
    dalam pengambilan contoh dan terus juga bekerja sama dengan teknisi kontraktor
    melakukan pengujian, dia harus diberikan surat kuasa dari Pemimpin Proyek
    untuk menentukan bahwa dia bisa melaksanakan tugas degan efektif sebagai
    wakil Direksi dalam hal-hal pengambilan contoh dan pengujian. Kontraktor adalah
12                          NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


     bertanggung jawab dibawah ketetapan-ketetapan kontrak, untuk bekerjasama
     dengan wakil yang diberi kuasa dari Direksi (yaitu pengendali mutu) dalam
     melaksanakan pengujian-pengujian yang ditentukan. Pengendali mutu tidak harus
     melakukan pekerjaan pengambilan bahan contoh atau pengujian, tetapi secara
     seksama mengawasi teknisi kontraktor sewaktu mereka melaksanakan pekerjaan
     dan harus melaporkan secepat mungkin kepada Direksi Lapangan atau Pemimpin
     Proyek Jika :
     a. Ketidak cukupan jumlah pengujian-pengujian yang telah dilakukan (yaitu
        pengujian-pengujian kurang dari pada yang telah ditentukan dalam volume 3
        spesifikasi dari dokumen kontrak).
     b. Prosedur pengambilan contoh yang digunakan adalah salah.
     c. Prosedur pengujian yang digunakan adalah salah.
     d. Alat-alat laboratorium kontraktor di bawah standar yang sepantasnya atau
        tidak mencukupi (yaitu jika tiap hal dari daftar lampiran, volume 3 dari
        spesifikasi tidak dipunyai oleh laboratorium lapangan atau dipunyai tetapi
        tidak berfungsi).
     e. Pencatatan atau pelaporan untuk hasil-hasil pengujian adalah salah satu
        dipalsukan dengan bebagai cara.
     f. Pengendali mutu harus mendorong kontraktor untuk mengelola laboratorium
        lapangan dengan cara yang efisien dan profesional, sehingga memberikan hasil
        / produk yang lebih tepat.


II.8 Pengendalian Mutu Pekerjaan Pondasi Jalan Berbutir
     Aspek pengendalian mutu yang berhubungan dengan pekerjaan pondasi jalan
     tanah berbutir dan kegiatan tertentu yang harus dilaksanakan meliputi sebelum,
     selama dan setelah konstruksi pekerjaan pondasi jalan tanah berbutir.
     Lapisan pondasi bawah dan pondasi atas adalah lapisan konstruksi yang berfungsi
     sebagai pembagi beban lapis kedua yang berupa bahan berbutir yang terletak di
     atas lapis tanah dasar (subgrade) yang telah dibentuk berupa embankment dan
     dipadatkan serta langsung berada di bawah lapis pondasi atas perkerasan.
     Pekerjaan subgrade sudah harus selesai / sempurna dilaksanakan sebelum peerjaan
     subbase / base dimulai seperti batang melintang, kerataan memanjang, ketebalan
     dan kepadatan.
                 Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)       13


    Pengendalian mutu subase / base dilakukan dengan memeriksa sifat-sifat agregat
    subase /dan base. Agregat biasanya diambil dari sumber bahan / quarry pada
    lokasi sumber bahan dan pertama-tama yang harus dipelajari adalah keadaan
    lapangan agar didapat contoh tanah yang kira-kira dapat mewakili. Agregat yang
    berasal dari quarry dan tambahan batu pecah hasil dari lokasi pencampuran yang
    memenuhi spesifikasi setela dilakukan pemeriksaan dan uji, sebagian harus
    disimpan di Direksi Kit untuk mengecek apakah agregat yang diuji sesuai dengan
    agregat yang diangkut kelapangan.
    Macam pemeriksaan yang dilakukan terdiri dari :
    1. Batas Atterberg
    2. Indeks Plastisitas
    3. Analisa Saringan untuk menentukan gradasi
    4. CBR untuk menentukan daya dukung tanah
    5. Kepadatan Laboratorium untuk menetapkan tingkat kepadatan lapangan
    6. Sand Cone


II.9 Ringkasan Standar Pengujian Lapangan dan Laboratorium yang digunakan
    pada pekerjaan Pondasi Jalan tanah Berbutir
    Secara umum standar pengujian lapangan dan laboratorium mengandung
    informasi tentang :
    1. Ukuran benda uji
    2. Nomor Pengujian Standar
    3. Daftar Peralatan dan Bahan
    4. Kekerapan pengujian
    5. Metode uji
    6. Lokasi
    7. Rumus-rumus dan blangko pengujian


II.10 PENGUJIAN SUB BASE / BASE SEBELUM KONSTRUKSI
    Semua bahan yang digunakan untuk subbase / base harus diperiksa terlebih dulu di
    laboratorium untuk menentukan sifat-sifat teknisnya. Bahan yang diambil dari
    sumber bahan untuk diperiksa harus mendapat persetujuan Direksi. Pengambilan
14                        NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


     contoh bahan dari sumber bahan harus dihadiri oleh Direksi. Jenis pemeriksaan
     yang dilakukan tergantung pada spesifikasi yang digunakan.
     Material yang ada mungkin terdiri dari 2 atau 3 jenis gradasi, oleh karena itu harus
     dilakukan pencampuran bahan agar spesifikasi tercapai sehingga dapat ditentukan
     komposisi (presentase) masing-masing bahan.
     a) Pembuatan lapis pondasi atas kelas A dan kelas B
        Lapis pondasi atas kelas A adalah agregat batu pecah disaring dan digradasi
        yang merupakan batu pecah keras dan bersih serta semuanya lolos saringan
        37,5 mm.
        Lapis pondasi bawah kelas B juga meliputi agregat kasar yang tertahan pada
        saringan 4,75 mm bilamana dihasilkan dari kerikil tidak kurang dari 50 %
        terhadap berat, merupakan partikel-partikel yang memiliki paling sedikit satu
        bidang pecah. Agregat halus lolos saringan 4,75 mm dan terdiri dari kerikil
        halus dan pasir alami atau debu crusher. Prosentase berat agregat tipis / pipih
        (perbandingan tebal dengan panjang lebih dari 1 : 5) maksimum 5 %.
        Gradasi lapis pondasi Kelas A dan B harus memenuhi syarat-syarat spesifikasi
        menurut gradasi persen berat yang lolos adalah :
        Tabel : II.2.
             ASTM                (mm)                  KelasA             Kelas B
                2”                50                                        100
              1 ½”               37,5                    100               88 - 95
                1”               25,0                  79 - 85             70 - 85
               3/8”              9,50                  44 - 85             30 - 65
               #4                4,75                  29 - 44             25 - 55
               # 10               2,0                  17 - 30             15 - 40
               # 40              0,425                  7 - 17             8 - 20
              # 200              0,075                   2-8                2-8


     b) Jenis-jenis pengujian sebelum konstruksi pekerjaan LPA dan LPB meliputi :
        1. Analisa saringan dari agregat halus dan kasar
        2. Batas Cair
        3. Batas Plastis dan Indeks Plastisitas Tanah
        4. Keausan dari agregat kasar berukuran kecil dengan Mesin Los Angeles
                Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)              15


      5. Hubungan kelembaban kepadatan dari tanah dengan penumbuk seberat
         4,54 kg dan tinggi 457 mm.
      6. Karakteristik agregat
      7. Kepadatan tanah ditempat dengan metode kerucut pasir
      8. CBR


      Sifat-sifat lapis pondasi agregat :
      Tabel : II.3.
                      Sifat-sifat                         Kelas A            Kelas B
       Abrasi dari Agregat Kasar                         0 – 40 %            0 – 40 %
       Indeks Plastisitas                                  0–6                0 – 10
       Hasil kali Indeks Plastisitas dengan %            Maks 25                -
       lolos ayakan No. 200
       Batas Cair                                          0 – 25             0 – 35
       Bagian yang Lunak                                  0–5%               0–5%
       CBR                                               Min 90 %            Min 35 %


II.11 PENGUJIAN SUB BASE / BASE SELAMA KONSTRUKSI
   1. Bahan yang di angkut ke lapangan haruslah bahan yang sesuai dengan
      spesifikasi. Bahan yang tidak sesuai tidak boleh dicampur dengan bahan yang
      sudah sesuai spesifikasi. Bahan yang terlanjur dihampar / dipadatkan harus
      dibongkar dan diganti dengan material yang sesuai dengan spesifikasi serta
      dipadatkan kembali.
   2. Penghamparan harus dibuat lebih tebal dari tebal padat rencana dan
      disesuaikan dengan bentuk melintang jalan yang diperiksa dengan mal
      lengkung. Tebal hamparan dapat mencapai 1,2 – 1,5 tebal padat.
   3. Lapis pondasi agregat harus dibawa ke tempat pada badan jalan sebagai
      campuran yang merata dan harus dihampar pada kadar air dalam rentang yang
      disyaratkan. Kelembaban dalam bahan harus tersebar secara merata.
   4. Masing-masing lapisan harus dihampar pada satu operasi pada tingkat yang
      merata yang akan menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi
      yang disyaratkan. Bila lebih dari satu lapis akan dipasang, lapis-lapis tersebut
      harus diusahakan sama tebalnya.
16                       NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


     5. Lapis pondasi agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu metode
        yang disetujui yang menyebabkan segregasi dari partikel agregat kasar dan
        partikel agregat halus. Material yang segregasi harus diperbaiki atau dibuang
        dan diganti dengan bahan yang bergradasi baik.
     6. Tebal minimum lapisan gembur yang untuk setiap lapisan konstruksi harus
        dua kali lipat ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal maksimum lapisan
        gembur tidak boleh melebihi 20 cm, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi
        Teknik.


II.12 PENGUJIAN SUB BASE / BASE SETELAH KONSTRUKSI
     1. Pengecekan bentuk melintang permukaan dengan mal lengkung atau mal
        miring tiap 5 – 10 meter. Bentuk permukaan harus sesuai dengan rencana.
     2. Pengecekan kerataan memanjang permukaan dengan mal datar.
     3. Pengecekan Kepadatan Lapangan.
        Pengecekan kepadatan lapangan umumnya dilakukan menggunakan sand cone
        dengan interval berselang tidak lebih dari setiap 200 meter panjang permukaan
        subbase / base dan letak titik pemeriksaan di buat zig-zag. Setiap kepadatan
        lapangan dibuat harus 100 % kepadatan laboratorium, apabila γd lapangan
        belum 100 % kepadatan laboratorium, harus dilakukan pemadatan ulang.
     4. Pemeriksan Visual.
        Pemeriksaan visual dilakukan untuk mengecek apakah terdapat bagian-bagian
        lembek, genangan-genangan air, tonjolan-tonjolan besar dan lain-lain. Apabila
        terdapat bagian-bagian lembek harus dibongkar dan dipadatkan kembali.
     5. Bagian-bagian pekerjaan subbase / base yang telah selesai harus dilindungi
        misalnya terhadap lalu-lintas yang lewat, mencegah terjadi kerusakan pada
        subbase / base. Sebaiknya subbase / base yang sudah selesai dikerjakan, harus
        ditutup segera dengan base / lapis permukaan untuk mencegah kerusakan pada
        subase / base.
     6. Pemeriksaan uji petik gradasi, Atterberg dan CBR lapangan terhadap hasil
        produk yang telah padat terhampar di lokasi jika diperlukan.
II.13 PEMADATAN
     Pada pembuatan timbunan untuk jalan raya, dam dan banyak struktur teknik
     lainnya, tanah yang lepas (renggang) haruslah dipadatkan untuk :
             Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)          17


a) Meningkatkan berat volumenya.
b) Meningkatkan kekuatan tanah, sehingga dengan demikian meningkatkan daya
   dukung pondasi di atasnya.
c) Mengurangi besarnya penurunan / compressbility tanah yang diinginkan dan
   meningkatkan kemantapan lereng timbunan (embankments).
d) Memperkecil pengaruh air terhadap tanah.
Pemadatan adalah suatu proses di mana udara pada pori-pori tanah dikeluarkan
dengan salah satu cara mekanis. Proses pemadatan berlainan sama sekali dengan
proses konsolidasi dan kedua istilah tersebut tidak dapat dicampur adukkan. Cara
mekanis yang dipakai untuk memadatkan tanah untuk memadatkan tanah
bermacam-macam       dilapangan biasanya dipakai           cara menggilas   dan di
laboratorium dipakai cara memukul. Penggilas besi berpermukaan halus(smooth-
wheell rollers) dan penggilas getar (vibratory rollers) adalah alat-alat yang umum
digunakan di lapangan untuk pemadatan tanah. Mesin getar dalam (vibroflot) juga
banyak digunakan untuk pemadatan tanah berbutir (granular soil) sampai ke dalam
yang cukup besar dari permukaan tanah. Cara pemadatan tanah dengan sistim ini
disebut vibroflotation (pemampatan getar apung).
1. Prinsip-prinsip Pemadatan Umum
   Tinglat pemadatan tanah diukur dari berat volume kering tanah yang
   dipadatkan. Bila air ditambahkan kepada suatu tanah yang sedang dipadatkan,
   air terebut akan berfungsi sebagai unsur pembasah (pelumas) pada partikel-
   partikel tanah. Karena adanya air, partikel-partikel tanah tersebut akan lebih
   mudah bergerak dan bergeseran satu sama lain dan membentuk kedudukan
   yang lebih rapat / padat. Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume
   kering tanah akan naik bila kadar air dalam tanah (pada saat dipadatkan)
   meningkat. Bila kadar airnya ditingkatkan terus secara bertahap pada usaha
   pemadatan yang sama, maka berat jumlah padat dalam tanah persatuan volume
   juga meningkat secara bertahap pula. Setelah mencapai kadar air tertentu,
   adanya penambahan kadar air justru cenderung menurun berat volume kering
   dari tanah. Hal ini di sebabkan karena air tersebut kemudian menempati ruang-
   ruang pori dalam tanah yang sebetulnya dapat ditempati oleh partikel-partikel
   padat dari tanah. Kadar air di mana harga berat volume kering maksimum
   tanah dicapai disebut kadar air optimum.
18                          NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        Percobaan-percobaan        di    laboratorium     yang     umum   dilakukan   untuk
        mendapatkan berat volume kering maksimum dan kadar air optimum adalah
        Proctor Compaction test.
     2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepadatan.
        Pada pembahasan pemadatan tanah menunjukkan bahwa kadar air mempunyai
        pengaruh yang besar terhadap tingkat kepadatan yang dapat dicapai oleh suatu
        tanah. Disamping kadar air, faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi
        pemadatan tanah adalah :
        a. Kadar air
        b. Jenis tanah
        c. Usaha pemadatan
        d. Tebal lapisan tanah yang dipadatkan
        e. Intensitas tekanan yang dihasilkan alat pemadat
        f. Luasan muka tanah di mana tekanan pemadat bekerja


II.14 Pengujian Pemadatan Pekerjaan Sub Base dan Base
     1. Uji Proctor Standar (Standard Proctor Test)
        Pada uji Proctor, tanah dipadatkan dalam sebuah cetakan silinder bervolume
        1/30 ft³ (= 943,3 cm³). Diameter cetakan tersebut adalah 4 inch (= 101,6 mm).
        Selama percobaan di laboratorium, cetakan itu dikelem pada sebuah pelat
        dasar dan di atasnya diberi perpanjangan (juga berbentuk silinder). Tanah
        dicampur air dengan kadar air yang berbeda-beda dan kemudian dipadatkan
        dengan menggunakan penumbuk khusus. Pemadatan tanah tersebut dilakukan
        dalam 3 lapisan (dengan tebal tiapan kira-kira 1,0 inch) dan jumlah tumbukan
        adalah 25 kali setiap lapisan. Berat penumbuk adalah 5,5 lb (= 2,5 kg) dan
        tingi jatuh sebesar 12 inch (= 304,8 mm). Untuk setiap percobaan, besar γ dari
        tanah yang dipadatkan tersebut dapat dihitung sebagai berikut :


                        W
             γ   =
                       V(m)

        Di mana :
        W              = Berat tanah yang dipadatkan di dalam cetakan
         Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)           19


V(m) = Volume cetakan (= 1/30 ft³ = 943,3 cm³)
Juga pada setiap percobaan besarnya kadar air dalam tanah yang dipadatkan
tersebut dapat ditentukan di laboratorium. Bila kadar air tersebut diketahui,
berat volume kering γd dari tanah tersebut dapat dihitung sebagai berikut :

                                 γ
         γd =                 w (%)
                     1 +
                               100

Di mana w (%) = Presentase kadar air
Harga γd dari persamaan rumus tersebut dapat digambarkan terhadap kadar air
untuk mendapatkan berat volume kering maksimum dan kadar air optimum.
Prosedur pelaksanaan Uji Proctor Standar telah dirinci dalam ASTM Test
Designation D - 698 dan dalam AASHTO Test Designation T-99.
Untuk kadar air tertentu, berat volume kering secara teoritis didapat bila pada
pori-pori tanah tidak ada udaranya lagi, yaitu pada saat di mana derajat
kejenuhan tanah sama dengan 100 %. Jadi berat volume kering maksimum
(teoritis pada suatu kadar air tertentu dengan kondisi zero air voids (pori-pori
tanah tidak mengandung udara sama sekali) dapat ditulis sebagai :

                         Gs
            γzav =
                         1 + e

Di mana :
γzav         = berat volume pada kondisi zero air void
γw           = berat volume air
e            = angka pori
Gs           = berat spesifik butiran padat tanah
Untuk keadaan tanah jenuh 100 %, e = wGs, Jadi :

                     Gs γw                 γw
       γzav =                        =
                     1 + wGs                   1
                                         w +
                                               Gs

Di mana w = kadar air
20                           NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        Untuk mendapat variasi dari γzav terhadap kadar air, gunakanlah prosedur
        berikut :
        a. Tentukan berat spesifik butiran tanah
        b. Cari berat volume air (γw)
        c. Tentukan sendiri berapa harga kadar air w,misalnya ; 5%, 10%,
             15%.....dan seterusnya.
        d. gunakanlah persamaan rumus di atas untuk mencari γzav dari kadar-kadar
             air tersebut.


     2. Percobaan Proctor Modified (Modified Proctor Test).
        Cara melakukan ini tidak banyak berbeda dengan cara melakukan percobaan
        standard. Cetakan yang dipakai sama dan banyaknya pukulan pada setiap
        lapisan juga sama. Tetapi di sini berat alat pemukul lebih besar yaitu 10 pound
        dan tinggi jatuhnya 18 inch. Juga di sini tanah dipadatkan dalam 5 lapisan.
        Dari grafik yang khas hasil dari penggabaran kedua macam percobaan tersebut
        dapat dibuat suatu garis zero air voids line. Atau garis derajat kejenuhan 100
        %.
        Garis ini adalah hubungan teoritis antara berat isi kering dengan kadar air
        bilamana derajat kejenuhan adalah 100 % , yaitu bila pori tanah sama sekali
        tidak mengandung udara. Garis tersebut dapat dihitung dengan memakai
        rumus:

                                      G. γw
                      γD =
                                      1 + wG

        Garis tersebut berguna sebagai petunjuk pada waktu digambarkan grafik hasil
        percobaan pemadatan. Garis pemadatan tidak boleh memotong garis zero air
        voids line ini, dan pada kadar air yang tinggi mestinya menjadi sejajar dengan
        garis tersebut.




II.15 Pengujian Pemadatan Lapis Agregat Pondasi Bawah danPondasi Atas di
     Lapangan
     1. Pemadatan
               Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)                 21


   Pemadatan dilakukan lapis demi lapis maksimum 20 cm dengan peralatan
   yang sesuai, agar tercapai kepadatan yang diinginkan.
   Pemadatan dilakukan sekitar kadar air optimum ( W opt ± 1,5 % ), tetapi
   sebaiknya pada kadar air W opt + 1,5 %.
   Pengaturan kadar air dilakukan dengan sprinkle truk sehingga dapat diketahui
   jumlah kadar air.
   Penggilasan dimulai dari tepi ke tengah ( center line ) pada jalan lurus,
   penggilasan mulai dari bagian terendah ke bagian yang tertinggi untuk
   tikungan.
2. Pengujian
   a) Jumlah dari data pendukung pengujian yang diperlukan untuk persetujuan
      awal dari bahan akan seperti yang diperintahkan Direksi Teknik, tetapi
      akan mencakup seluruh pengujian yang disyaratkan, paling sedikit tiga
      contoh yang mewakili dari sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih
      untuk mewakili mutu rentang / sebaran dari bahan yang cenderung akan
      diperoleh dari sumber tersebut.
   b) Menyusul persetujuan mengenai mutu dari bahan lapis pondasi agregat
      yang diusulkan, seluruh rentang pengujian, bahan yang dilakukan
      selanjutnya harus diulangi atas pertimbangan Direksi Teknik, dalam hal
      tampak perubahan bahan atau sumbernya atau metode produksinya.
   c) Suatu program pengujian pengendalian mutu bahan secara rutin harus
      dilaksanakan untuk pengendalian ketidak seragaman bahan yang dibawa
      ketempat pekerjaan. Cakupan pengujian harus seperti yang diperintahkan
      oleh Direksi Teknik, tetapi unutk setiap 1000 meter kubik bahan yang
      diproduksi paling sedikit meliputi tidak kurang dari lima ( 5 ) pengujian
      gradasi partikel, lima ( 5 ) indeks plastisitas, satu                 ( 1 ) penentuan
      kepadatan kering maksimum menggunakan AASHTO metode D.
      Pengujian CBR harus dilakukan sewaktu-waktu tertentu sebagaimana
      diperintahkan oleh Direksi Teknik.
   d) Kepadatan dan kadar air dari bahan yang dipadatkan harus secara rutin
      ditentukan, menggunakan AASHTO T 191. Pengujian harus dilakukan
      sampai kedalaman menyeluruh dari lapisan tersebut pada lokasi yang
22                        NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


            ditetapkan oleh Direksi Teknik, tetapi tidak boleh berselang dari 200
            meter.


II.16 Peralatan Pekerjaan Pemadatan Lapangan yang sesuai untuk Lapis Agregat
     Pondasi Bawah dan Atas
     Untuk pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi jalan tanah berbutir secara keseluruhan
     sejak pengambilan bahan di quarry sampai dengan diselesaikannya lapis pondasi
     padat terhampar meliputi ;
     a) Di quarry dan lokasi pencampuran :
         1. Dump truck / truck
         2. Loader / Excavator
         3. Stone Crusher Plant
     b) Di lokasi penghamparan dan pemadatan ( lapangan )
         1. Dump truck / truck
         2. Truck tangki air ( Water tank ) / Truck Sprinkler
         3. Motor Grader
         4. Pemadat roda besi
         5. Pemadat roda karet
     Hampir semua pemadatan tanah dilakukan dengan penggilasan ( roller ).
     Jenis penggilas yang paling umum dipakai adalah :
       i.   Penggilas besi berpermukaan halus ( penggilas bentuk drum )
            Penggilas besi berpermukaan halus cocok untuk meratakan permukaan
            tanah dasar ( subgrade ) dan untuk pekerjaan penggilasan akhir pada
            timbunan tanah pasir atau lempung. Penggilas tipe ini dapat memadatkan
            100 % luasan muka tanah yang dilalui roda dengan tekanan kontak antara
            tanah dan roda sebesar antara 45 sampai 55 psi ( antara 310 sampai 380
            kN/m² ). Penggilas tipe ini tidak cocok untuk pekerjaan yang tingkat
            pemadatan yang tinggi pada lapisan yang tebal.
      ii.   Penggilas ban karet ( angin )
            Penggilas ban karet dalam banyak hal masih lebih baik dari pada penggilas
            besi berpermukaan halus. Penggilas ban karet ini pada dasarnya
            merupakan sebuah kereta bermuatan berat dan beroda karet yang tersusun
            dalam beberapa baris. Baris-baris ban karet ini berjarak dekat satu sama
             Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)          23


       lain di mana pada setiap baris ban terdapat empat sampai enam buah ban.
       Tekanan kontak di bawah ban berkisar antara 85 sampai 100 psi. ( 585
       sampai 690 kN/m² ), dan baris-baris ban tersebut memadatkan antara 70
       sampai 80 % luasan tanah yang dilalui penggilas. Penggilas ban karet ini
       dapat digunakan pada pemadatan tanah pasir dan tanah lempung.
       Pemadatan dicapai dari kombinasi antara tekanan dan kneading action
       (pemadatan dengan meremas-remas).
iii.   Penggilas kaki kambing
       Penggilas kaki kambing adalah berupa silinder ( drum ) yang mempunyai
       banyak kaki-kaki yang menjulur keluar dari drum. Kaki-kaki ini
       mempunyai luas proyeksi penampang sekitar 4 sampai 13 inc² (1380
       sampai 6900 kN/ m²). pada waktu pemadatan di lapangan, mula-mula pada
       awal lintasan bagian tanah yang dipadatkan ialah bagian sebelah bawah
       dari lift. Pada lintasan-lintasan berikutnya barulah tanah dibagian tengah
       dan atas dari lift ikut dipadatkan.
iv.    Penggilas getar
       Penggilas getar sangat berfaedah untuk pemadatan tanah berbutir ( pasir,
       kerikil dan sebagainya ). Alat getar dapat saja dipasang pada penggilas besi
       berpermukaaan halus, penggilas ban karet, atau pada penggilas kaki
       kambing untuk menghasilkan getaran pada tanah. Getaran dihasilkan dari
       berputarnya suatu beban yang tidak sentris.
 v.    Penggilas besi berporos dua permukaan halus tanggung / getar
       Penggilas besi berporos dua permukaan tanggung / getar sangat efektif
       dalam pemadatan tanah berbutir bila ruang gerak yang tersedia tanggung
       ukurannya. Mesin penggilas ini terutama digunakan pada tempat-tempat
       dimana suang geraknya tetapi tetap leluasa untuk penggilas getar yang
       besar seperti untuk pelebaran jalan yang sempit, bahu jalan sempit,
       penambahan perkerasan luas tanggung dan terpencar.


vi.    Pemadat plat getar dioperasikan dengan tangan ( stamper )
       Pelat penggetar yang dioperasikan dengan tangan sangat efektif dalam
       pemadatan tanah berbutir bila ruang gerak yang tersedia sangat terbatas.
       Model pelat penggetar seperti ini ada yang dilengkapi dengan mesin yang
24                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


             dapat menggetarkan beberapa plat sekaligus. Mesin seperti ini dapat
             digunakan di tempat-tempat dimana ruang geraknya lebih leluasa tetapi
             tidak cukup leluasa untuk penggilas getar yang besar.




METODOLOGI PENELITIAN
Persiapan
        1. Sebelum menentukan tempat pengambilan material sirtu (pasir batu),
           pertama kali kita lakukan adalah survey beberapa quarry secara visual
           kualitas dan volume sudah mencukupi untuk kebutuhan material di proyek.
           Kualitas jenis bahan bisa diprediksi kekerasan dan keausannya dari
           pengalaman pada pengujian.
        2. Menentukan lokasi (base camp) untuk penyimpanan material sebelum diolah
           maupun sesudah diolah.
        3. Pembangunan mesin pemecah batu (stone crusher) untuk memecah batu
           secara mekanis untuk mendapatkan keseragaman gradasi, ukuran maksimum
           butiran pecah bisa disesuaikan dengan kebutuhan.


III.3   Pemisahan Sirtu dan Batu Pecah dari Stone Crusher
        Pemasangan screen pada mulut jaw, ukuran screen di sesuaikan dengan
        kebutuhan, untuk pembuatan agregat kelas A dipakai screen 1 1/2 inch, dan
        untuk agregat kelas B screen yang digunakan 2 inch. Material yang lolos bisa
        dinamakan material sirtu (rounded Material), dan bagian yang tertahan akan
        jatuh di Jaw untuk di pecah sesuai ukuran yang kita inginkan. Artinya bahwa
        material hasil dari stone crusher menjadi dua stock pile yaitu pile sirtu dan pile
        batu pecah.
                   Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)       25




III.4   Pengujian Bahan dan Pembuatan JMF
        Sampling bahan / material hasil dari mesin pemecah batu bersama-sama teknisi
        proyek, konsultan supervisi dan kontraktor untuk diuji kualitas, dan penentuan
        komposisi masing-masing. Macam-macam pengujiannya adalah:
        1) Tes Abrasi material kasar
        2) Analisa Saringan
        3) Pemeriksaan Specific Grafity (SPGR), dan penyerapan air (Absorption).
        4) Penentuan komposisi
        5) Pemeriksaan batas-batas Atterberg
        6) Pemeriksaan bagian yang lunak
        7) Pemeriksaan kepadatan laboratorium
        8) Pemeriksaan CBR laboratorium
        Dan untuk       menghitung kemampuan produksi dilakukan pengujian /
        pengukuran:
        a) Kalibrasi volume produksi
        b) Berat isi material


III.5   Pencampuran Agregat A dan Agregat B
        Setelah JMF selesai dan disetujui oleh Proyek, Konsultan Supervisi dan
        Kontraktor, maka dipakailah komposisi hasil percobaan (JMF). Pencampuran
        bahan unutuk memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dikerjakan di lokasi
        instalasi pemecah batu atau pencampur yang di setujui, dengan menggunakan
        pemasok mikanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus
        dari komponen-komponen campuran dengan proporsi yang benar. Untuk metode
        pencampuran yang dipakai adalah perbandingan volume mengingat perlatan
        untuk pencampuran (blending) yang dipakai adalah bucket loader. Kedua fraksi
        agregat itu ditakar, dicampur dan diaduk dengan loader untuk mendapatkan
        keseragaman gradasi. Penyimpanan material disarankan tidak melebihi
        ketinggian 5 meter untuk mencegah terjadinya segregasi. Dalam kondisi apaun
        tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan.


III.6   Pengujian Agregat A dan B Sebelum Dibawa Ke Lapangan
26                        NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        Material bisa dibawa ke lapangan apabila sudah dilakukan kontrol pengujian
        bersama teknisi proyek, konsultan supervisi dan kontraktor. Pengujian bisa
        dilakukan sejak volume campuran 200 m³, namun ketentuan yang ada tidak
        lebih dari 1000 m³ sudah dilakukan pengujian di antaranya :
        1) Analisa Saringan (sebanyak 5 kali pengujian)
        2) Indeks Plastisitas (sebanyak 5 kali pengujian)
        3) Pengujian Kepadatan Laboratorium (sebanyak 5 kali pengujian)
        4) Pengujian CBR kalau diperintahkan oleh Direksi




III.7   Pengiriman Material
        Jika uji kontrol sudah memenuhi syarat spesifikasi material sudah siap di angkut
        ke lapangan. Untuk pengiriman material menunggu konfirmasi dari Direksi
        lapangan untuk memastikan lokasi penempatan dan volume yang akan dikirim.
        Dari base camp campuran material dinaikkan dengan loader ke atas dump truck
        dan dikirim ke lapangan sesuai dengan lokasi dan formasi yang sudah
        dipersiapkan.


III.8   Penghamparan dan Pemadatan
        Material yang didrop di lapangan dihampar dengan alat motor grader dengan
        ketebalan dan kemiringan yang direncanakan. Setiap lapis harus dihampar pada
        suatu operasi dengan tekanan merata agar menghasilkan tebal padat yang
        diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan. Bilamana akan dihampar lebih satu
        lapis maka lapisan-lapisan tersebut harus diusahakan sama tebalnya. Tebal padat
        minimum untuk setiap lapisan tidak kurang dari dua kali ukuran terbesar agregat
        lapis pondasi. Tebal padat maksimum tidak boleh melebihi 20 cm. Pemadatan
        harus dilakukan hanya bila kadar air berada dalam rentang 3 % dibawah kadar
        optimum sampai 1 % di atas kadar aiar optimum. Untuk langkah awal perlu
        dilakukan percobaan pemadatan untuk mengetahui                 persentase penurunan
        gembur menjadi padat. Dengan kapasitas alat yang dipakai juga dicoba untuk
                   Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)        27


        mengetahui jumlah lintasan alat tersebut agar mencapai kepadatan minimum 100
        %. Penghamparan selanjutnya sudah mempunyai acuan lintasan pemadatan dan
        penghamparan gembur. Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi
        dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan, pada bagian yang
        bersuperelevasi penggilasan dimulai dari bagian yang terendah dan bergerak
        sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi penggilasan harus
        dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin gilas hilang dan lapis tersebut
        terpadatkan secara merata. Jika ada lokasi yang tidak dapat di jangkau dengan
        pemadat besar, maka dilaksanakan dengan alat pemadat yang disetujui oleh
        Direksi.




III.9   Pengujian Kepadatan Lapangan
        Setelah selesai pemadatan, langkah selanjutnya pengecekan elevasi memanjang
        dan melintang, apakah sudah memenuhi dari ketebalan rencana. Apabila masih
        kurang atau lebih supaya dilakukan perbaikan. Jika dari pengukuran elevasi
        sudah mencukupi bisa dilanjutkan dengan pengujian kepadatan lapangan dengan
        kerucut pasir (sand cone). Pengujian harus dilakukan sampai seluruh kedalaman
        lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan, tetapi tidak
        berselang lebih 200 meter.
        Apabila hasil kepadatan tidak masuk maka perlu pengerjaan ulang, dan jika
        sudah memenuhi syarat kontraktor bisa mengajukan pekerjaan selanjutnya.


III.10 Pelaporan
        Untuk semua hasil pengujian dilaporkan dalam format standar sesuai dengan
        jenis pengujiannya. Proyek, konsultan supervisi dan kontraktor masing-masing
        harus punya arsip data pengujian yang telah dilaksanakan. Dan menyatakan
        bahwa kualitas pekerjaan yang sudah di uji memenuhi syarat dan bisa diterima
        dengan melaporkaan hasil pemeriksaan.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemeriksaan Abrasi
28                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


     Pemeriksaan ini untuk menentukan ketahanan agregat kasar terhadap keausan
     dengan mempergunakan mesin Los Angeles. Keausan tersebut dinyatakan dengan
     perbandingan antara berat bahan aus lewat saringan no. 12 terhadap berat semula,
     dalam persen.
     1. Perlatan :
        a) Mesin Los Angeles.
            Mesin terdiri dari silinder baja tertutup pada kedua sisinya dengan
            diameter 71 cm (28”) panjang dalam 50 cm (20”). Silinder bertumpu pada
            dua poros pendek yang tak menerus dan berputar pada proses mendatar.
            Silinder berlubang untuk memasukkan benda uji. Penutup lubang
            terpasang rapat sehingga permukaan dalam silinder tidak terganggu.
            Dibagian dalam silinder terdapat bilah baja melintang penuh setinggi 8,9
            cm (3,56”).
        b) Sarigan no. 12 dan saringan-saringan lainya seperti tercantum dalam daftar
            :
            Tabel : IV. 1.
                Ukuran saringan                Berat dan gradasi benda uji (gram)
                Lewat     Tertahan
                                        A        B       C        D      E      F      G
                (mm)       (mm)
                76,2        63,5                                        2500
                63,5        50,8                                        2500
                50,8        38,1                                        5000   5000
                38,1        25,4      1250                                     5000   5000
                25,4       19,05      1250                                            5000
                19,05       12,7      1250     2500
                12,7        9,51      1250     2500
                9,51        6,35                       2500
                6,35        4,75                       2500
                4,75        2,36                                5000
                  Jumlah bola           12      11       8        6      12     12     12
                                      5000     4584    3330     2500    5000   5000   5000
                Berat bola (gram)
                                       ± 25    ± 25     ± 20    ± 25    ± 25   ± 25   ± 25
                   Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)       29


       c) Timbangan, dengan ketelitian 5 gram.
       d) Bola-bola baja dengan diameter rata-rata 4,68 cm (1⅞”) dan berat masing-
           masing antara 390 – 445 gram.
       e) Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110
           ± 5)ºC.
    2. Benda uji :
       a) Berat dan gradasi benda uji sesuai dengan tabel IV.1.1b)
       b) Bersihkan benda uji dan keringkan dalam oven pada suhu (110 ± 5)ºC
           sampai berat tetap.
    3. Cara melakukan :
       a) Benda uji dan bola-bola baja dimasukkan kedalam mesin Los Angeles.
       b) Putar mesin dengan kecepatan 30 – 33 rpm, 500 putaran untuk gradasi A,
           B, C dan D ; 1000 putaran untuk gradasi E, F dan G.
       c) Setelah selesai pemutaran, keluarkan benda uji dari mesin kemudian saring
           dengan saringan no. 12. butiran yang tertahan diatasnya dicuci bersih,
           slanjutnya dikeringkan dalam oven suhu (110 ± 5)ºC sampai berat tetap.
    4. Perhitungan :
       Keausan       =    a–b
                                     x 100 %
                           a

       a = berat benda uji semula (gram)
       b   = berat benda uji tertahan saringan no. 12 (gram)
    5. Pelaporan :
       Keausan dilaporkan sebagai bilangan bulat dalam persen.
    6. Catatan :




IV.2 Pemeriksaan Gumpalan Lempung dan Butiran Mudah Pecah Dalam Agregat
    Pemeriksaan ini untuk mengetahui kadar lempung yang menggumpal dan bahan
    yang mudah pecah sehingga menjadi ukuran lebih kecil dari ukuran semula.
    1. Peralatan :
       a) Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110
           ± 5)ºC.
30                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        b) Saringan ukuran ; 1½”, 1”, ¾”, ⅜”, no. 4, no. 16, no. 20, no. 200.
        c) Talam.
        d) Timbangan dengan kapasitas 5 kg dan ketelitian 0,1 % dari berat contoh
            yang ditimbang.
     2. Benda uji :
        Bahan yang sudah mengalami pengujian analisa saringan lolos saringan no.
        200.
     3. Cara melakukan :
        a) Keringkan material yang tertahan no. 200 dalam oven (110 ± 5)ºC hingga
            berat tetap.
        b) Material dipisahkan dan timbang sebagai berikut :
            Lolos     1½” tertahan       1”            = 5000 gram
            Lolos     1”    tertahan     ¾”            = 3000 gram
            Lolos     ¾”    tertahan     ⅜”            =   2000 gram
            Lolos     ⅜”    tertahan     no. 4         = 1000 gram
            Lolos no. 4 tertahan         no. 16        =    100 gram
        c) Rendam material dalam pan hingga (24 ± 4) jam.
        d) Remas-remas batu tersebut dengan ujung jari kemudian saring dengan
            saringan masing-masing : no. 4, no. 4, no.4, no.8, no. 20.
        e) Keringkan material dalam oven (110 ± 5)ºC hingga berat tetap.
        f) Timbang dan catat beratnya.
     4. Perhitungan :
                                                 a–b
        Gumpalan lempung dan             =                 x 100 %
                                                  a
        Material mudah pecah
        a = berat benda uji semula (gram)
        b   = berat benda uji tertahan saringan yang ditentukan (gram)
     5. Pelaporan :
        Gumpalan lempung dan material mudah pecah dilaporkan sebagai bilangan
        bulat dalam persen.
     6. Catatan:


IV.3 Analisa Saringan
                      Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)         31


    Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian butir (gradasi)
    agregat halus dan agregat kasar dengan menggunakan saringan.


    1. Peralatan :
        a) Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2 % dari berat benda uji.
        b) Satu set Saringan ; 2” ; 1 1/2” ; 1” ; 3/8” ; # 4 ; # 10 ; # 40 ; # 200 (standar
             ASTM)
        c) Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110
             ± 5)ºC.
        d) Alat pemisah contoh.
        e) Mesin pengguncang saringan.
        f) Talam-talam
        g) Kuas, sikat kuningan, sendok dan alat-alat lainnya.
    2. Benda Uji :
        Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat. Kebutuhan
        jumlah berat contoh minimum disesuaikan dengan ukuran gradasi maksimum
        yang ditentukan pada tabel Lampiran A.
    3. Cara melakukan
        a) Benda uji dikeringkan didalan oven dengan suhu (110 ± 5)ºC, sampai berat
             tetap.
        b) Saring benda uji lewat susunan saringan dengan ukuran saringan paling
             besar ditempatkan paling atas. Saringan diguncang dengan tangan atau
             mesin pengguncang selama ± 15 menit
    4. Perhitungan :
        Prosentase berat benda uji yang tertahan di atas masing-masing saringan
        terhadap berat total benda uji.


IV.4 Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar
    Pemeriksaan untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering permukaan
    jenuh (saturated surface dry = SSD), berat jenis semu (apparent) dari agregat
    kasar.
    1. Peralatan :
32                          NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        a) Keranjang kawat ukuran 3,35 mm atau 2,36 mm (no. 6 atau no. 8) dengan
            kapasitas kira-kira 5 kg.
        b) Tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai untuk pemeriksaan.
            Tempat ini harus dilengkapi dengan pipa sehingga permukaan air selalu
            tetap.
        c) Timbangan dengan kapasitas 5 kg dan ketelitian 0,1 % dari berat contoh
            yang ditimbang dan dilengkapi dengan alat penggantung keranjang.
        d) Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110
            ± 5)ºC.
        e) Alat pemisah contoh.
        f) Saringan no. 4.
     2. Benda uji :
        Agregat yang tertahan saringan no. 4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau
        cara perempat, sebanyak kira-kira 5 kg.
     3. Cara melakukan :
        a) Cuci benda uji untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan lain yang
            melekat pada permukaan.
        b) Keringkan benda uji dalam oven pada suhu 105ºC. sampai berat tetap.
        c) Dinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1 – 3 jam, kemudian timbang
            dengan ketelitian 0,5 gram (Bk).
        d) Rendam benda uji dalam air pada suhu kamar selama 24 ± 4 jam.
        e) Keluarkan benda uji dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air
            pada permukaan hilang (SSD), untuk butiran yang besar pengeringan harus
            satu persatu.
        f) Timbang benda uji kering-permukaan jenuh (Bj).
        g) Letakkan benda uji didalam keranjang, goncangkan batunya untuk
            mengeluarkan udara yang tersekap dan tentukan beratnya dalam air (Ba).
            Ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan kepada suhu standar (25ºC).
     4. Perhitungan :
        a) Berat jenis (Bulk Specific Grafity)                  =         Bk
                                                                         Bj - Ba

        b) Berat jenis kering-permukaan jenuh                   =         Bj
                                                                         Bj - Ba
            (Saturated Surface Dry)
                                                                           Bk
                                                                          Bk - Ba
                   Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)              33


        c) Berat jenis semu (Apparent Specific Grafity) =


        d) Penyerapan (Absorption)                             =         Bj - Bk x 100 %
                                                                           Bk

        Bk = berat benda uji kering oven, (gram).
        Bj = berat benda uji kering-permukaan jenuh, (gram).
        Ba = berat benda uji kering-permukaan jenuh didalam air, (gram).
    5. Pelaporan :
        Hasil dilaporkan dalam bilangan desimal sampai dua angka dibelakang koma.
    6. Catatan :
        Bila penyerapan dan harga berat jenis digunakan dalam pekerjaan beton
        dimana agregatnya digunakan pada keadaan kadar air aslinya maka tidak perlu
        pengeringan dengan oven.


IV.5 Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus
    Pemeriksaan untuk menentukan berat jenis (bulk),berat jenis kering permukaan
    jenuh (saturated surface dry = SSD), berat jenis semu (apparent) dari agregat
    halus.
    1. Peralatan :
        a) Timbangan, kapasitas 1 kg atau lebih dengan ketelitian 0,1 gram.
        b) Piknometer dengan kapasitas 500 ml.
        c) Kerucut terpancung (cone), diameter bagian atas (40 ± 3) mm, diameter
             bagian bawah (90 ± 3) mm dan tinggi (75 ± 3) mm dibuat dari logam tebal
             minimum 0,8 mm.
        d) Batang penumbuk yang mempunyai penumbuk rata, berat (340 ± 15)
             gram. Diameter permukaan penumbuk (25 ± 3) mm.
        e) Saringan no. 4.
        f) Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110
             ± 5)ºC.
        g) Pengukur suhu dengan ketelitian pembacaan 1ºC.
        h) Talam.
        i) Bejana tempat air.
        j) Pompa hampa udara (vacuum pump) atau tungku.
34                        NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        k) Air suling.
        l) Desikator.
     2. Benda uji :
        Agregat yang lolos saringan no. 4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara
        perempat, sebanyak 1000 kg.
     3. Cara melakukan :
        a) Keringkan benda uji dalam oven pada suhu (110 ± 5)ºC, sampai berat
            tetap. Yang dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan berat benda uj
            selama tiga kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan
            selang waktu 2 jam berturut-turut, tidak akan mengalami perubahan, kadar
            air lebih besar daripada 0,1 %. Dinginkan pada suhu ruang, kemudian
            rendam dalam air selama (24 ± 4) jam.
        b) Buang air perendam hati-hati, jangan ada butiran yang hilang, tebarkan
            agregat diatas talam, keringkan diudara panas dengan cara membalik-
            balikkan benda uji. Lakukan pengeringan sampai tercapai keadaan kering-
            permukaan jenuh.
        c) Periksa keadaan kering permukaan jenuh dengan mengisikan benda uji
            kedalam kerucut terpancung, padatkan dengan batang penumbuk sebanyak
            25 kali, angkat kerucut terpancung. Keadaan kering-permukaan jenuh
            tercapai bila benda uji runtuh akan tetapi masih dalam keadaan tercetak.
        d) Segera setelah tercapai keadaan kering-permukaan jenuh masukkan 500
            gram benda uji kedalam picnometer. Masukkan air suling sampai
            mencapai 90 % isi picnometer, putar sambil diguncang sampai tidak
            terlihat gelembung udara didalamnya. Untuk mempercepat proses ini dapat
            dipergunakan pompa hampa udara, tetapi harus diperhatikan jangan sampai
            ada air yang ikut terisap, dapat juga dilakukan dengan merebus
            picnometer.
        e) Rendam picnometer dalam air dan ukur suhu air untuk penyesuaian
            perhitungan kepada suhu standar 25ºC.
        f) Tambahkan air sampai mencapai tanda batas.
        g) Timbang picnometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gram
            (Bt).
                    Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)             35


        h) Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven dengan suhu (110 ± 5)ºC
             sampai berat tetap, kemudian dinginkan benda uji dalam desikator.
        i) Setelah benda uji dingin kemudian timbanglah (Bk).
        j) Tentukan berat picnometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna
             penyesuaian dengan suhu standar 25ºC (B).
     4. Perhitungan :
                                                                           Bk
        k) Berat jenis (Bulk Specific Grafity)                  =
                                                                      (B + 500 – Bt)

                                                                           500
        l) Berat jenis kering-permukaan jenuh                  =      (B + 500 – Bt)
             (Saturated Surface Dry)
        m) Berat jenis semu (Apparent Specific Grafity) =                  Bk
                                                                      (B + Bk – Bt)

        n) Penyerapan (Absorption)                              =     (500 – Bk) x 100 %
                                                                         Bk

        Bk = berat benda uji kering oven, (gram).
        B     = berat picnometer berisi air, (gram).
        Bt    = berat picnometer berisi benda uji dan air, (gram).
        500 = berat benda uji dalam keadaan kering-permukaan jenuh, (gram).
     5. Pelaporan :
        Hasil dilaporkan dalam bilangan desimal sampai dua angka dibelakang koma.
     6. Catatan :




IV.6 Berat Isi Agregat
     Pemeriksaan ini untuk menentukan berat isi agregat halus, kasar atau campuran.
     Berat isi adalah perbandingan berat dan isi.
     1. Peralatan :
        a) Timbangan dengan ketelitian 0,1 % berat contoh.
        b) Talam berkapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat.
        c) Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm dengan ujung bulat
             sebaiknya terbuat dari baja tahan karat.
        d) Mistar perata (straight edge).
        e) Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder dengan alat pemegang.
36                          NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


     2. Benda uji :
        Masukkan contoh agregat kedalam talam, keringkan dalam oven dengan suhu
        (110 ± 5)ºC, sampai berat tetap dan gunakan sebagai benda uji.
     3. Cara melakukan :
        a) Berat isi lepas.
            i. Timbang dan catatlah berat wadah (W1)
            ii. Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan
               butir-butir, dari ketinggian maksimum 5 cm diatas wadah dengan
               menggunakan sendok atau sekop sampai penuh.
           iii. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
           iv. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
            v. Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 – W1).
        b) Berat isi padat agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1½”) dengan
            cara penusukan.
            i. Timbang dan catatlah berat wadah (W1)
            ii. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap
               lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali secara
               merata. Pada pemadatan tongkat harus tepat masuk sampai pada
               lapisan bawah tiap tiap lapisan.
           iii. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
           iv. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
            v. Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 – W1).
        c) Berat isi padat agregat ukuran butir antara 38,1 mm (1½”) sampai 101,6
            mm (4”) dengan cara penggoyangan.
            i. Timbang dan catatlah berat wadah (W1)
            ii. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal.
           iii. Padatkan setiap lapisan dengan cara menggoyang-goyangkan wadah
               seperti berikut :
               a) Letakkan wadah diatas tempat yang datar, angkatlah salah satu
                      sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan.
               b) Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan setiap lapisan
                      sebanyak 25 kali setiap sisi.
           iv. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
                   Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)      37


           v. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
           vi. Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 – W1).
    4. Perhitungan :

                                       W3
            Berat isi agregat    =             gram/cm³
                                       V
           V = isi wadah (cm³)
    5. Pelaporan :
        Laporkan berat isi agregat dalam satuan gram/cm³
    6. Catatan :
        Wadah sebelum digunakan harus dikalibrasi untuk mengetahui volumenya.


IV.7 Pemeriksaan Batas-batas Atterberg
    Pemeriksaan ini untuk menentukan kadar air suatu tanah pada batas cair. Batas
    cair ialah kadar air batas dimana suatu suatu tanah berobah dari keadaan cair
    menjadi keadaan plastis.
    1. Peralatan :
        a) Alat batas cair standard.
        b) Alat pembuat alur (grooving tool).
        c) Sendok dempul.
        d) Pelat kaca 45 x 45 x 0,9 cm.
        e) Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.
        f) Cawan kadar air minimal 4 buah.
        g) Spatula dengan panjang 12,5 cm.
        h) Botol tempat air suling.
        i) Air suling.
        j) Oven, yang dilengkapi dengan pengukur suhu untuk memanasi sampai
           (110 ± 5)ºC.
    2. Benda uji :
        a) Jenis-jenis tanah yang tidak mengandung batu dan hampir semua
           butirannya lebih halus dari saringan 0,42 mm (no. 40). Dalam hal ini benda
           uji tidak perlu dikeringakan dan tidak perlu disaring dengan saringan 0,42
           mm (no. 40).
38                       NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        b) Jenis-jenis tanah yang mengandung batu, atau banyak mengandung butiran
            yang lebih kasar dari saringan 0,42 mm (no. 40). Keringkan contoh di
            udara sampai bisa disaring. Ambil benda uji yang lewat saringan 0,42 mm
            (no. 40).
     3. Cara melakukan :
        a) Letakkan 100 gram benda uji yang sudah dipersiapkan didalam pelat kaca
            pengaduk.
        b) Dengan menggunakan spatula, aduklah benada uji tersebut dengan
            menambah air suling sedikit demi sedikit, sampai homogen.
        c) Setelah contoh menjadi campuran yang merata, ambil sebagian benda uji
            ini dan letakkan diatas mangkok alat batas cair, ratakan permukaannya
            sedemikian sehingga sejajar dengan dasar alat, bagian yang paling tebal
            harus ± 1 cm.
        d) Buatlah alur dengan jalan membagi dua benda uji dalam mangkok itu,
            dengan menggunakan alat pembuat alur (grooving tool) melalui garis
            tengah pemegang mangkok dan simetris. Pada waktu membuat alur posisi
            alat pembuat alur (grooving tool) harus tegak lurus permukaan mangkok.
        e) Putarlah alat sedemikian, sehingga mangkok naik / jatuh dengan kecepatan
            2 putaran per detik. Pemutaran ini dilakukan terus sampai dasar alur benda
            uji bersinggungan sepanjang kira-kira 1,25 cm dan catat jumlah
            pukulannya waktu bersinggungan.
        f) Ulangi pekerjaan (c) sampai dengan (e) beberapa kali sampai diperoleh
            jumlah pukulan yang sama, hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan apakah
            pengadukan contoh sudah betul-betul merata kadar airnya. Jika ternyata
            pada 3 kali percobaan telah diperoleh jumlah pukulan ± sama, maka
            ambillah benda uji langsung dari mangkok pada alur, kemudian masukkan
            kedalam cawan yang telah dipersiapkan. Maka periksalah kadar airnya.
        g) Kembalikan benda uji di atas kaca pengaduk, dan mangkok batas cair
            dibersihkan. Benda uji diaduk kembali dengan merobah kadar airnya.
            Kemudian langkah (b) sampai (f) minimal 3 kali berturut-turut dengan
            variasi kadar air yang berbeda, sehingga akan diperoleh perbedaan jumlah
            pukulan sebesar 8 – 10.
     4. Perhitungan :
               Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)        39


   Hasil-hasil yang diperoleh berupa jumlah pukulan dan kadar air yang
   bersangkutan kemudian digambarkan dalam bentuk grafik. Jumlah pukulan
   sebagai sumbu mendatar dengan skala logaritma, sedang besarnya kadar air
   sebagai sumbu tegak dengan skala biasa.
5. Pelaporan :
   Catatlah pada formulir laboratorium, benda uji yang diperiksa dalam keadaan
   asli atau telah kering udara, disaring atau tidak. Hasil dilaporkan sebagai
   bilangan bulat.
6. Catatan :
   a) Alat-alat yang skan dipakai harus diperiksa dulu sebelum dipakai dan
       harus dalam keadaan bersih dan kering.
       i. Periksa tinggi jatuh mangkok alat batas cair apakah sudah tepat 1,0 cm
          mangkok ini harus bersih, kering dan tidak goyang.
      ii. Alat pembuat alur harus bersih, kering dan tidak aus.
      iii. Cawan kadar air yang akan dipakai diberi tanda kemudian ditimbang
          untuk menentukan beratnya.
   b) Beberapa jenis lempung akan mengalami kesulitan untuk diaduk dan
       kadang-kadang jika terlalu banyak atau lama pengadukannya akan berubah
       sifat. Agar pengadukan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan lebih
       cepat, maka adukan disimpan dulu dan ditutup dengan kain basah atau
       contoh yang telah disiapkan direndam dulu selama 24 jam.
   c) Beberapa jenis tanah lempung menunjukkan bahwa pada waktu pemukulan
       ternyata bersingungan alur disebabkan karena kedua bagian massa tanah
       diatas mangkok bergeser terhadap permukaan mangkok, sehingga jumlah
       pukulan yang didapat lebih kecil. Jumlah pukulan yang betul adalah jika
       proses berhimpitnya dasar alur disebabkan massa tanah seolah-olah
       mengalir dan bukan karena bergeser. Kalau ternyata terjadi pergeseran,
       maka percobaan harus diulangi beberapa kali dengan kadar air berbeda,
       dan kalau masih terjadi pergeseran ini maka harga batas cair ini tidak dapat
       diperoleh.
   d) Selama berlangsungnya percobaan pada kadar air tertentu benda uji tidak
       boleh dibiarkan mengering atau terjadi perubahan kadar air.
40                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        e) Untuk memperoleh hasil yang teliti, maka jumlah pukulan diambil antara
              40 – 30, 30 – 20, 20 – 10, sehingga akan memperoleh 3 titik.
        f) Alat pembuat alur Casagrande dipergunakan untuk tanah kohesive. Alat
              pembuat alur ASTM untuk tanah yang kepasiran.




IV.8 Percobaan Pemadatan Modified
     Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan hubungan antara kadar air dan
     kepadatan tanah dengan memadatkan didalam cetakan silinder berukuran tertentu
     dengan menggunakan alat penumbuk 4,54 kg (10 lbs) dan tinggi tatuh 45,7 cm
     (18”).
     Pemeriksaan kepadatan dibagi dalam 4 cara sebagai berikut :
     Cara A :    Cetakan diameter 102 mm (4”) bahan lewat saringan 4,75 mm (no.4)
     Cara B :    Cetakan diameter 152 mm (6”) bahan lewat saringan 4,75 mm (no.4)
     Cara C :    Cetakan diameter 102 mm (4”) bahan lewat saringan 19 mm (¾”)
     Cara D :    Cetakan diameter 152 mm (6”) bahan lewat saringan 19 mm (¾”)
     Bila tidak ditentukan cara yang harus dilakukan maka ditetapkan cara A atau D.
     1. Peralatan :
        a) Cetakan diameter 102 mm (4”) kapasitas 0,000943 ± 0,000008 m³ (0,333 ±
              0,0003 cu.ft) dengan diameter dalam 101,6 ± 0,406 mm (4,000 ± 0,016”)
              tinggi 116,43 ± 0,1270 mm (4,584” ± 0,005”).
        b) Cetakan 152 mm (6”) kapasitas 0,002124 ± 0,000021 m³ (0,07500 ±
              0,00075 cu.ft) dengan diameter dalam 152,4 ± 0,6609 mm (6,000” ±
              0,024”) tinggi 116,43 ± 0,1270 mm (4,584 “ ± 0,005”).
              Cetakan-cetakan harus dari logam yang mempunyai dinding teguh dan
              dibuat sesuai dengan ukuran di atas. Cetakan harus dilengkapi dengan
              leher sambungan, dibuat dari bahan yang sama dengan tinggi lebih kurang
              60 mm (2 ⅜”) yang dipasang kuat-kuat dan dapat dilepaskan.
              Cetakan-detakan yang telah dipergunakan beberapa lama sehingga tidak
              memenuhi syarat toleransi di atas, masih dapat dipergunakan bila toleransi
              tersebut tidak dilampaui lebih dari 50 %.
        c) Alat penumbuk :
            Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)        41


       i. Alat penumbuk tangan dari logam yang mempunyai permukaan
          tumbuk rata, diameter 50,8 ± 0,127 mm (2,000” ± 0,005”), toleransi
          0,013 mm (0,005”) dan berat 4,5359 ± 0,0081 kg. Alat penumbuk
          dilengkapi dengan selubung yang bisa mengatur tinggi jatuh secara
          bebas setinggi 457,2 ± 1,524 mm.
       ii. Dapat juga dipergunakan alat penumbuk mekanis, dari logam yang
          dilengkapi alat pengontrol tinggi jatuh bebas 457,2 ± 1,524 mm di atas
          permukaan.
          Alat penumbuk harus mempunyai permukaan tumbuk yang rata
          berdiameter 50,8 ± 0,127 mm (2,000” ± 0,005”) dan berat 4,5359 ±
          0,0081 kg.
   d) Alat pengeluar contoh.
   e) Timbangan kapasitas kira-kira 11,5 kg dengan ketelitian sampai 5 gram.
       Neraca kapasitas minimal 1 kg dengan ketelitian 0,1 gram.
   f) Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110
       ± 5)ºC.
   g) Alat perata dari besi (straight edge) panjang 25 cm, salah satu sisi
       memanjang harus tajam dan sisi lain datar (0,01 % dari panjang).
   h) Saringan 50 mm (2”), 19 mm (¾”) dan 4,75 mm (no.4).
   i) Talam, alat pengaduk dan sendok.


2. Benda uji :
   a) Bila contoh tanah yang diterima dari lapangan masih dalam keadaan
       lembab, keringkan contoh tersebut sehingga menjadi gembur.
       Pengeringan dapat dilakukan di udara atau dengan alat pengering lain
       dengan suhu tidak melampaui 60ºC. Kemudian gumpalan tanah tersebut
       ditumbuk tetapi butir aslinya tidak pecah. Untuk cara D tanah yang sudah
       dihancurkan disaring dalam saringan 19 mm (¾”).
   b) Benda uji dibagi menjadi 6 bagian, tiap-tiap bagian dicampur dengan air
       yang ditentukan dan diaduk sampai merata. Penambahan air diatur
       sehingga didapat beda-beda uji sebagai berikut :
       i. 3 contoh dengan kadar air kira-kira dibawah kadar air optimum
       ii. 3 contoh dengan kadar air kira-kira diatas kadar air optimum
42                          NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


            Penambahan kadar air dari benda uji masing-masing antara 1 – 3 %.
        c) Masing-masing benda uji dimasukkan kedalam kantong plastik dan
            disimpan selama 12 jam atau sampai kadar airnya merata.
     3. Cara melakukan metode D :
        a) Timbang cetakan diameter 152 mm (6”) dan keping alas dengan ketelitian
            5 gram (B1 gram).
        b) Cetakan, leher dan keping alas dipasang menjadi satu, dan tempatkan pada
            landasan yang kokoh.
        c) Ambil dari salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan didalam
            cetakan dengan cara sebagai berikut :
            Jumlah tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga tinggi kelebihan
            tanah yang disyaratkan setelah leher dilepas tidak lebih dari 0,5 cm.
            Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk modified 4,54 kg (10 lbs)
            dengan tinggi jatuh 45,7 mm (18”). Tanah dipadatkan dalam 5 bagian dan
            tiap-tiap lapisan dipadatkan dengan 56 tumbukan.
        d) Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher, dengan pisau dan
            lepaskan leher sambung.
        e) Pergunakan alat perata untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul-
            betul rata dengan permukaan cetakan.
        f) Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5
            gram (B2 gram).
        g) Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat
            pengeluar benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari contoh pada
            keseluruhan tingginya untuk pemeriksaan kadar air. Tentukan kadar air
            (W) benda uji sesuai dengan SNI 03-1971-1990
     4. Perhitungan :
        a) Hitung berat isi basah dengan mempergunakan rumus :

                γ   =     B2 – B1       (gr/cm³)
                             V
            γ       = berat isi basah     (gr/cm³).
            B1      = berat cetakan + keping alas (gr).
            B2      = berat cetakan + keping alas dan benda uji (gr).
            V       = isi cetakan (cm³).
               Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)     43


   b) Hitung berat isi basah dengan mempergunakan rumus :

           γ   =     γ + 100        (gr/cm³)
                     100 + W

       γ       = berat isi kering (gr/cm³).
       W       = kadar air (%)
5. Pelaporan :
   Gambarkan grafik berat isi tanah kering terhadap kadar air dari hasil
   percobaan. Kemudian gambarkan sebuah kurva yang halus, yang paling
   mendekati dengan titi-titik yang digambarkan dantentukan berat isi kering
   maksimum dan kurva tersebut dengan ketelitian 0,01 gram/cm³. Kadar air
   yang sesuai dengan berat isi kering maksimum ini adalah kadar air optimum
   dan harus dicatat dengan ketelitian 0,5 %. Setelah diketahui Wopt dan γd
   maksimum gambarlah zero air voids line dengan rumus :

   γ   =       G. γ w        (gr/cm³)
               1 + G .W
       γd       = berat isi kering (gr/cm³).
       G        = berat jenis agregat (gr/cm³).
       γd       = berat isi kering (gr/cm³).
       W        = kadar air (%)
   Grafik pemadatan tidak boleh memotong zero air voids line dan pada harga
   kadar air yang tinggi menjadi sejajar dengan garis tersebut.
   Laporan harus mencantumkan :
   a) Cara yang dipergunakan (cara A, B, C atau D).
   b) Bila cara C dan D yang dipergunakan apakah bahan tertahan saringan 19
       mm (¾”) dibuang atau diganti.
6. Catatan :
   a) Tanah yang telah dipadatkan dapat dipergunakan lagi untuk percobaan bila
       butir tanah tidak pecah akibat penumbukan.
   b) Untuk cara C dan D bila diinginkan supaya prosentase bahan kasar lewat
       saringan 50 mm(2”) dan tertahan 4,75 mm (no. 4) dipertahankan sama
       seperti keadaan aslinya di lapangan, maka material yang tertahan saringan
       19 mm (¾”) harus diganti sebagai berikut :
44                        NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


             Bahan yang lewat saringan 50 mm (2”) dan tertahan saringan 19 mm (¾”)
             diganti dengan bahan yang lewat 19 mm (¾”) tertahan saringan 4,75 mm
             (no. 4) dengan jumlah yang sama. Bahan pengganti di ambil dari sisa.


IV.9 Pemeriksaan CBR Laboratorium
     Pemeriksaan ini untuk menentukan CBR (California Bearing Ratio) perbandingan
     antara beban penetrasi suatu bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan
     penetrasi yang sama, agregat yang dipadatkan dilaboratorium pada kadar air
     tertentu.
     1. Peralatan :
         a) Mesin penetrasi (loading machine) berkapasitas sekurang-kurangnya 4,45
             ton ( 10.000 lbs) dengan kecepatan penetrasi sebesar 1,27 mm (0,05”) per
             menit.
         b) Cetakan logam berbentuk silinder dengan diameter dalam 152,4 ± 0,6609
             mm (6” ± 0,0026) dengan tinggi 177,8 ± 0,13 mm (7” ± 0,005”). Cetakan
             harus dilengkapi dengan leher sambung dengan tinggi 50,8 (2”) dan
             keeping atas logam yang berlubang-lubang dengan tebal 9,53 mm(⅜”) dan
             diameter lubang tidak lebih dari 1,59 mm(1/16”).
         c) Piringan pemisah dari logam (spacer disk) dengan diameter 150,8 mm (5
             15/16”) dan tebal 61,4 mm (2,416”).
         d) Alat penumbuk sesuai dengan cara pemadatan SNI 03-1743 -1989
         e) Alat pengukur pengembangan (swell) yang terdiri dari keeping
             pengembangan yang berlubang-lubang dengan batang pengatur, tripod
             logam, dan arloji penunjuk.
         f) Keping beben dengan berat 2,27 kg (5 pound), diameter 194,2 mm (5 7/8”)
             dengan lubang tengah diameter 54,0 mm (2 1/8”).
         g) Torak penetrasi dari logam berdiameter 49,5 mm (1,95”), luas 1935 mm²
             (3 inc²) dan panjang tidak kurang dari 101,6 mm (4”).
         h) Satu buah arloji beban dan satu buah arloji pengukur penetrasi.
         i) Peralatan lain seperti talam, alat perata , tempat untuk merendam.
         j) Alat timbang sesuai SNI 03-1743 -1989
     2. Benda uji :
         Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)        45


Benda uji harus dipersiapkan menurut cara pemeriksaan kepadatan SNI 03-
1743-1989
a) Ambil contoh kira-kira seberat 5 kg atau lebih untuk tanah dan 5,5 kg
   untuk campuran tanah agregat.
b) Kemudian campur bahan tersebut dengan air sampai kadar optimum atau
   kadar air lain yang dikehendaki.
c) Pasang cetakan pada keeping alas dan timbang. Masukkan piringan
   pemisah (spacer disk) diatas keeping alas dan pasang kertas saring
   diatasnya.
d) Padatkan bahan tersebut didalam cetakan sesuai dengan cara B atau D dari
   pemeriksaan pemadatan SNI 03-1743 -1989. Bila benda uji akan direndam
   periksa kadar airnya sebelum dipadatkan. Bila benda uji tersebut tidak
   direndam, pemeriksaan kadar air dilakukan setelah benda uji dikeluarkan
   dari cetakan.
e) Buka leher sambung dan ratakan dengan alat perata. Tambal lubang-
   lubang yang mungkin terjadi pada permukaan karena lepasnya butir-butir
   kasar dengan yang lebih halus. Keluarkan piringan pemisah, balikkan dan
   pasang kembali cetakan barisi benda uji pada keping alas dan timbang.
f) Untuk pemeriksaan CBR langsung, benda uji ini telah siap untuk diperiksa.
   Bila dikehendaki CBR yang direndam (soaked CBR) harus dilakukan
   langkah-langkah sebagai berikut :
    i. Pasang keping pengembangan di atas permukaan benda uji dan
       kemudian pasang keping pemberat yang di kehendaki (seberat 4 ½ kg
       [10 lbs]) atau sesuai dengan keadaan beban perkerasan.
       Rendam cetakan beserta beban di dalam air sehingga air dapat meresap
       dari atas maupun dari bawah .
       Pasang tripod beserta arloji pengukur pengembangan. Catat pembacaan
       pertama dan biarkan benda uji selama 96 jam.
       Permukaan air selama perendaman harus tetap (kira-kira 2,5 cm di atas
       permukaan permukaan benda uji).
       Tanah berbutir halus atau berbutir kasar yang dapat melakukan adu
       lebih cepat dapat direndam dalam waktu yang lebih singkat sampai
46                      NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


               pembacaan arloji tetap. Pada akhir perendaman catat pembacaan dan
               pengembangan.
           ii. Keluarkan cetakan dari bak air dan miringkan selama 15 menit
               sehingga air bebas mengalir habis. Jagalah agar selama pengeluaran air
               permukaan benda uji tidak terganggu.
          iii. Ambil beban dari keping alas, kemudian cetakan bersama isinya
               ditimbang. Benda uji CBR yang direndam telah siap untuk diperiksa.
     3. Cara melakukan :
        a) Letakkan keping pemberat diatas permukaan benda uji seberat minimal 4,5
           kg (10 pound) atau sesuai dengan beban perkerasan.
        b) Untuk benda uji yang direndam beban harus sama dengan beban yang
           dipergunakan waktu perendaman.
           Letakkan pertama-tama keping pemberat 2,27 kg (5 pound) untuk
           mencegah mengembangnya permukaan benda uji pada bagian lubang
           keping pemberat. Pemberat selanjutnya dipasang setelah torak disentuhkan
           pada permukaan benda uji.
        c) Kemudian atur torak penetrasi pada permukaan benda uji sehingga arloji
           beban menunjukkan beban permulaan sebesar 4,5 kg (10 pound).
           Pembebanan permulaan ini diperlukan untuk menjamin bidang sentuh
           yang sempurna antara torak dengan permukaan benda uji.
           Kemudian arloji penunjuk beban dan arloji pengukur penetrasi dinolkan
        d) Berikan pembebanan dengan teratur sehingga kecepatan penetrasi
           mendekati kecepatan 1,27 mm/menit.
           Catat pembacaan pembebanan pada penetrasi 0,312 mm (0,00125”), 0,62
           mm (0,025”), 1,25 mm (0,05”), 0,187 mm (0,075”), 2,5 mm (0,10”), 3,75
           mm (0,15”), 5 mm (0,20), 7,5 mm (0.30”), 10 mm (0,40”) dan 12,5 mm
           (0,50”).
        e) Catat beban maksimum dan penetrasinya bila pembebanan maksimum
           terjadi sebelum penetrasi 12,50 mm (0,50”).
        f) Keluarkan benda uji dari cetakan dan tentukan kadar air dari lapisan atau
           benda uji setebal 25,4 mm.
        g) Pengambilan benda uji untuk kadar air dapat diambil dari seluruh
           kedalaman bila diperlukan kadar air rata-rata. Benda uji untuk pemeriksaan
            Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)         47


       kadar air sekurang-kurangnya 100 gram untuk tanah berbutir halus atau
       sekurang-kurangnya 500 gram untuk tanah berbutir kasar.
4. Perhitungan :
   a) Pengembangan (swell) ialah perbandingan antara perubahan tinggi selama
       perendaman terhadap tinggi benda uji semula dinyatakan dengan prosen.
   b) Hitung pembebanan dalam kg (lbs), dan gambarkan grafik beban terhadap
       penetrasi. Pada beberapa keadaan permulaan dari kurva beban cekung
       akibat dari ketidak teraturan permukaan atau sebab-sebab lain. Dalam
       keadaan ini titik nol-nya harus dikoreksi.
   c) Dengan menggunakan harga-harga beban yang sudah dikoreksi pada
       penetrasi 2,54 mm (0,1”) dan 5,08 mm (0,2”) hitung harga CBR dengan
       cara membagi beban standar masing-masing 70,31 kg/cm² (1000 psi) dan
       105,47 kg/cm² (1500 psi) dan kalikan dengan 100 harga CBR diambil
       harga pada penetrasi 2,54 mm (0,1”). Umumnya harga CBR diambil pada
       penetrasi 0,1”. Bila harga yang didapat pada penetrasi 5,08 mm(0,2”)
       ternyata lebih besar pecobaan itu diulangi.
       Apabila percobaan ulangan ini masih tetap menghasilkan nilai CBR pada
       penetrasi 5,08 mm lebih besar dari nilai CBR pada penetrasi 2,54 mm
       (0,10”) maka harga CBR diambil harga pada penetrasi 5,08 mm (0,20”).
       Bila beban maksimum dicapai pada penetrasi sebelum 5,08 mm (0,20”)
       maka harga CBR diambil dari beban maksimum dengan beban standar
       yang sesuai.
5. Pelaporan :
   Laporan harus mencantumkan hal-hal seperti berikut :
   a) Cara yang dipakai untuk mempersiapkan dan memadatkan benda uji.
       Cara B atau D menurut pemadatan SNI 03-1743 -1989.
   b) Keadaan benda uji (direndam atau tidak direndam).
   c) Berat isi kering uji sebelum direndam.
   d) Berat kering benda uji setelah direndam.
   e) Kadar air benda uji ( % ) sebelum dan sesudah pemadatan.
   f) Kadar air setelah perendaman yang diambil dari lapisan atas benda uji
       setebal 25,4 mm (1”) atau rata-rata.
   g) Pengembangan (swell) dalam persen.
48                       NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        h) Harga CBR (direndam atau tidak direndam) dalam persen.
     6. Catatan:
        a) Bila dikehendaki harga CBR dapat diperiksa pada kadar air pada berat isi
            kering yang berlainan.
        b) Untuk menentukan CBR rencana ada beberapa cara diantaranya :
            i. Cara menurut buku Penetapan Tebal Perkerasan Bina Marga 0/PD/BM.
            ii. Cara AASHTO T - 193 - 74
        c) Berat isi kering dihitung dengan kadar air pada waktu perendaman.
        d) Bila dikehendaki nilai CBR pada penetrasi 7,5 mm (0,30”), 10,0 mm
            (0,40”) dan 12,5 mm (0,50”) bagi besarnya beban pada penetrasi yang
            bersangkutan masing-masing dengan 5700 : 6900 dan 7800 pound dan
            kalikan dengan 100.
IV.10Tes Kepadatan Lapangan dengan Sand Cone
     Pemeriksaan ini untuk menentukan kepadatan di tempat dari lapisan tanah atau
     perkerasan yang telah dipadatkan. Alat yang di uraikan di sini hanya terbatas
     untuk tanah mengandung butir kasar tidak lebih dari 5 cm.
     1. Peralatan :
        a) Botol transparan untuk tempat pasir dengan isi lebih kurang 4 liter.
        b) Corong Kalibrasi pasir diameter 16,51 cm.
        c) Pelat untuk corong pasir ukuran 30,48 cm x 30,48 cm dengan lubang
            bergaris tengah 16,51 cm.
        d) Satu buah timbangan dengan kapasitas 20 kg ketelitian sampai 1,0 gram.
        e) Satu buah timbangan dengan kapasitas 311 kg ketelitian sampai 0,01 gram.
        f) Pasir bersih keras, kering dan bisa mengalir bebas tidak mengandung
            bahan pengikat dan bergradasi lewat saringan no. 10 (2 mm) dan tertahan
            pada saringan no. 200 (0,075 mm).
        g) Peralatan kecil yaitu ; palu, sendok, kuas, pahat dan peralatan untuk
            mencari kadar air.
     2. Benda uji :
        Titik lokasi pengujian pekerjaan timbunan.
     3. Cara melakukan :
        a) Menentukan isi botol pasir :
            i. Timbang alat (botol + corong) = (W1 gram)
         Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)            49


   ii. Letakkan alat dengan botol di bawah, bukalah kran dan isi dengan air
       sampai penuh di atas kran. Tutuplah kran dan bersihkan kelebihan air.
  iii. Timbanglah alat yang terisi pasir = (W2 gram), berat air = isi botol
       pasir
  iv. Lakukan langkah ii dan iii tiga kali dan ambil harga rata-rata dari
       ketiga hasil. Perbedaan pengukuran tidak boleh lebih dari 3 cm³.
b) Menentukan berat isi pasir :
    i. Letakkan alat dengan botol dibawah pada dasar yang rata, tutup kran
       dan isi corong pelan- pelan dengan pasir.
   ii. Bukalah kran, isi botol sampai penuh dan dijaga agar selama pengisian
       corong selalu terisi paling sedikit setengahnya.
  iii. Tutup kran, bersihkan kelebihan pasir di atas kran dan timbang = (W3
       gram).
c) Menentukan berat pasir dalam corong :
    i. Isi botol pelan-pelan dengan pasir secukupnya dan timbang = (W4
       gram)
   ii. Letakkan alat dengan corong di bawah pada plat corong, pada dasar
       yang rata dan bersih.
  iii. Buka kran pelan-pelan sampai pasir berhenti mengalir.
  iv. Tutup kran, dan timbanglah alat berisi sisa pasir = ( W5 gram)
   v. Hitunglah berat pasir dalam corong = (W4-W5 gram).
d) Menentukan berat isi tanah :
    i. Isi botol dengan pasir secukupnya.
   ii. Ratakan permukaan tanah yang akan diperiksa. Letakkan pelat corong
       pada permukaan yang telah rata tersebut dan kokohkan dengan paku di
       keempat sisinya.
  iii. Galilah lubang sedalam minimal 10 cm (tidak melampaui tebal satu
       hamparan padat).
  iv. Seluruh hasil tanah galian dimasukkan kedalam kaleng yang tertutup
       yang telah diketahui beratnya = (W9 gram) dan timbang kaleng dan
       tanah (W8 gram).
   v. Timbang alat dengan pasir didalamnya = (W6 gram).
50                       NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


           vi. Letakkan alat pada tempat (ii), corong ke bawah di atas pelat corong
               dan buka kran pelan-pelan sehingga pasir masuk kedalam lubang.
               Setelah pasir berhenti mengalir tutup krankembali dan timbang alat
               dengan sisa pasir (W7 gram).
          vii. Ambil tanah sedikit dari kaleng untuk menentukan kadar air W %.
     4. Perhitungan :
        a) Isi botol         =      berat air =         (W2 – W1)      cm³.
        b) Berat isi pasir =     γp          =          (W3 – W1)      Gram.
                                                        (W2 – W1)

        c) Berat pasir dalam corong          =          (W4 – W5)      gram.
        d) Berat pasir dalam lubang          = (W6 – W7) – (W4 – W5) = W10 gram.
        e) Isi lubang                       =      W10         = Ve     cm³.
                                                   γp

        f) Berat tanah                      =           W8 – W9        gram.
        g) Berat isi tanah                  =     γ =     W8 – W9      gram/ cm³.
                                                            Ve
                                                              γ
        h) Berat isi kering tanah           = γ d lap =               x 100 % gram/cm³
                                                           100 + W

                                                            γ d lap
        i) Derajat kepadatan di lapangan = D =                        x 100 %
                                                            γ d lab

     5. Catatan :
        a) Dalam menentukan pemeriksaan ini jangan sampai ada getaran-getaran.
        b) Dalam pengisian pasir baik kedalam wadah pasir maupun kedalam lubang,
            harus dilakukan pelan-pelan agar pasir tidak memadat setempat.
        c) Penentuan berat isi pasir ( IV.9 4b) dilakukan pada setiap penggantian
            jenis pasir yang baru atau apabila pasir tersebut telah lama dipergunakan
            (kotor).
        d) Kepadatan maksimum laboratorium harus dikoreksi terhadap fraksi kasar
            tertahan saringan # 4


IV.11KADAR AIR TANAH
     Pemeriksaan ini untuk menentukan kadar air tanah.
               Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)                51


Yang dimaksud dengan kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang
terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah tersebut dinyatakan dalam
persen.
1. Peralatan :
   a) Oven, yang dilengkapi dengan pengukur suhu untuk memanasi sampai
          (110 ± 5)ºC.
   b) Cawan kedap udara dan tidak berkarat, dengan ukuran yang cukup. Cawan
          dapat terbuat dari gelas atau logam, misalnya alumunium.
   c) Neraca :
          i. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
          ii. Neraca dengan ketelitian 0,1 gram
      iii. Neraca dengan ketelitian 1 gram
      iv. Desikator.
2. Benda uji :
   Benda uji yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kadar air tergantung pada
   ukuran butiran maksimum dari contoh yang diperiksa dengan ketelitian seperti
   daftar tabel : IV. 2.
     Ukuran butir maksimum            Jumlah benda uji minimum              Ketelitian
                     ¾”                        1000 gram                     1 gram
      Lewat saringan No. 10                    100 gram                     0,1 gram
      Lewat saringan No. 10                      1 gram                     0,01 gram


3. Cara melakukan :
   a) Benda uji yang mewakili tanah yang diperiksa ditempatkan dalam cawan
          yang bersih, kering dan diketahui beratnya.
   b) Cawan dan isinya kemudian ditimbang dan berat dicatat.
   c) Tutup cawan kemudian dibuka dan cawan ditempatkan dioven atau
          pengering lainnya paling sedikit 4 jam (untuk oven) atau sampai berat
          konstan.
   d) Cawan ditutup kemudian didinginkan dalam desikator.
   e) Setelah dingin ditimbang dan beratnya dicatat.
4. Perhitungan :
   Kadar air dapat dihitung sebagai berikut :
52                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


        Berat cawan + tanah basah           =    W1                     gram
        Berat cawan + tanah kering          =    W2                     gram
        Berat cawan kosong                  =    W3                     gram
        Berat air                           =     (W1 – W2)             gram
        Berat tanah kering                  =    (W2 – W3)   gram
        Kadar air                           =    W1 – W2 x 100 %
                                                 W2 – W3

     5. Pelaporan :
        Kadar air dilaporkan dalam persen dengan ketelitian satu angka dibelakang
        koma.
     6. Catatan :
        a) Jika tidak terdapat oven pengering, maka pelaksanaan pengeringan dapat
            dilakukan dengan cara :
            i.      Jika benda uji yang akan diperiksa kadar airnya tidak mengandung
                    bahan organik atau bahan yang mudah terbakar, maka pengeringan
                    dapat dilakukan diatas kompor atau dibakar langsung setelah disiram
                    dengan spirtus. Penimbangan dan pengeringan dilakukan berulang-
                    ulang, setelah 3 kali penimbangan terakhir telah tercapai berat yang
                    konstan.
           ii.      Jika benda uji yang akan diperiksa mengandung bahan yang mudah
                    terbakar, maka tidak boleh dilakukan pengeringan dengan cara
                    dibakar dengan spirtus, tapi harus dikeringkan dengan kompor
                    dengan temperatur tidak lebih dari 60°C.
        b) Untuk masing-masing contoh tanah harus dipakai cawan-cawan yang
            diberi tanda dan tidak boleh sampai tertukar.
        c) Untuk tiap benda uji harus dipakai minimal 2 cawan sehingga kadar air
            dapat diambil rata-rata.
        d) Agar pengeringan dapat berjalan sempurna, maka susunan benda uji
            didalam oven harus diatur sehingga pengeringan tidak terganggu, serta
            saluran udara harus dibuka.
                    Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)           53




Ringkasan hasil analisa agregat kelas A
Tabel : IV.3.
        JENIS PENGUJIAN                       HASIL          SPESIFIKASI         PERSYARATAN
                                          PENGUJIAN
 1. Abrasi                                  28.22    %        40 % (maks)          Memenuhi
 2. Gumpalan lempung                         2.54 %            5 % (maks)          Memenuhi
 3. Gradasi :
     Saringan 1,5”                            100 %                100
     Saringan 1”                             83.02 %             79 – 85
     Saringan 3/8”                           50.62 %             44 – 58
     Saringan #4                             39.44 %             29 – 44           Memenuhi
     Saringan #10                            22.71 %             17 – 30
     Saringan #40                            13.78 %              7 – 17
     Saringan #200                            5.42 %               2–8
 4. Berat jenis                              2.7 gr/cc               -

 5. Berat isi
     Sirtu                                 1.512 gr/cc               -
     Batu pecah                             1.49 gr/cc               -
 6. Indeks Plastis                             0 %               0–6 %             Memenuhi
 7. Proctor Modified
     Kepadatan kering maksimum              2.04 gr/cc               -
     Kadar air optimum                        9.7 %                  -
 8. CBR                                       104 %               90 %             Memenuhi
54                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


 9. Kepadatan Lapangan
     Lapis I Kiri (rata-rata)              101.17 %
     Lapis II Kiri(rata-rata)              101.04 %          100 % (min)     Memenuhi
     Lapis I Kanan(rata-rata)              101.13 %
     Lapis II Kanan(rata-rata)             100.48 %




 Ringkasan hasil analisa agregat kelas B
 Tabel : IV.4.
        JENIS PENGUJIAN                      HASIL          SPESIFIKASI    PERSYARATAN
                                         PENGUJIAN
 1. Abrasi                                  28.22%           40 % (maks)     Memenuhi
 2. Gumpalan lempung                         2.98%            5 % (maks)     Memenuhi
 3. Gradasi :
     Saringan 2”                             100 %                 100
     Saringan 1,5”                          89.60 %             88 – 95
     Saringan 1”                            75.37 %             70 – 85
     Saringan 3/8”                          45.51 %             30 – 65      Memenuhi
     Saringan #4                            36.38 %             25 – 55
     Saringan #10                           23.05 %             15 – 40
     Saringan #40                           14.10 %              8 – 20
     Saringan #200                          3.21 %                2–8
 4. Berat jenis                            2.69 gr/cc               -        Memenuhi
 5. Berat isi
     Sirtu                                1.507 gr/cc               -
     Batu pecah                            1.46 gr/cc               -
 6. Indeks Plastis                            0 %              0 – 10 %      Memenuhi
 7. Proctor Modified
     Kepadatan kering maksimum             1.91 gr/cc               -
     Kadar air optimum                     11.6 gr/cc               -
 8. CBR                                     73.5 %               35 %        Memenuhi
                    Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)                55


 9. Kepadatan Lapangan
     Lapis I Kiri (rata-rata)               101.36 %
     Lapis II Kiri(rata-rata)               101.11 %            100 % (min)             Memenuhi
     Lapis I Kanan(rata-rata)               101.16 %
     Lapis II Kanan(rata-rata)              101.09 %




KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan. Mengingat waktu pelaksanaan proyek yang sangat terbatas, surat
     perijinan untuk penambangan di daerah sungai sangat sulit dikabulkan, maka
     ditentukan tempat penambangan di lokasi kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto,
     yang   berbatasan      dengan    kecamatan      Gempol       kabupaten      Pasuruan.Untuk
     memperkecil dampak penambangan sirtu terhadap lingkungan, quarry yang
     diambil adalah daerah perbukitan.
V.2 Dari hasil penambangan sirtu, yang belum bisa memenuhi persyaratan gradasi dan
     sifat-sifat agregat A dan B perlu pemprosesan yaitu pencampuran sirtu dengan
     batu pecah yang sudah mendapat rekomendasi komposisi dari laboratorium yang
     sebelumnya sudah melakukan percobaan mix desain untuk mencapai gradasi dan
     sifat-sifat yang ditentukan oleh spesifikasi. Dari hasil penelitian tersebut didapat
     komposisi cmpuran agregat di antaranya :
     Tabel : V.1.
                     Aggregate klas A                     Sirtu            Batu pecah
       Perbandingan berat                 (ton)             7                     3
       Perbandingan volume                (m³)           10,584                  4,47
                     Aggregate klas B                     Sirtu            Batu pecah
       Perbandingan berat                 (ton)             7                     3
       Perbandingan volume                (m³)           10,549                  4,38
56                         NEUTRON, Vol.3, No. 1, Februari 2003: 1-14


V.3 Untuk mengetahui atau kontrol mutu material yang paling utama sekali adalah
     abrasi agregat kasar tidak melebihi 40 %. Yang kedua adalah gumpalan lempung
     dan material mudah pecah tidak melebihi 5 %. Kemudian hasil racikan percobaan
     gradasi untuk bisa berada didalam amplop gradasi yang ditentukan. Kemudian
     diikuti pengujian kepadatan dan CBR laboratorium supaya mengetahui daya
     dukungnya. Untuk kelanjutan kontrol campuran bisa dilakukan pengecekan
     gradasi bahan dasar dan material campuran supaya mengetahui perubahan gradasi
     material lebih awal untuk tetap pada kontrol gradasi mix desain.


V.4 Penerapan pelaksanaan akan mudah dan mencapai mutu yang diharapkan apabila
     pengendali mutu betul-betul selektif terhadap material yang akan digunakan.
     Untuk pengambilan material diupayakan tidak terlalu banyak lokasi pengambilan
     (quarry), dengan maksud menjaga keseragaman material. Untuk pekerjaan
     pencampuran komposisi harus menyerupai atau mendekati pada pekerjaan job
     mixed formula yang sudah disetujui Direksi Pekerjaan. Supaya mendapatkan sifat-
     sifat yang sama dengan pengujian sebelumnya, dan akhirnya akan mempermudah
     pelaksanaan pemadatan pada saat kondisi kadar air optimum.
     Dengan Komposisi Sirtu dan Batu Pecah berbanding 70 : 30 didapat sifat-sifat
     material agregat A dan B pada Tabel V.2.

                       Sifat- sifat                Agregat Kelas A      Agregat Kelas B
      Abrasi                              (%)             28.22             28.22
      Bagian yang lunak                   (%               2.98              2.98
      )
      Indeks Plastisitas                  (%)               0                 0
      Kepadatan kering Maksimum (gr/cc)                    2.04              1.91
      Kadar air Optimum                    (%)             9.7               11.6
      CBR                                  (%)             104               73.5
      Kepadatan Lapangan                   (%)            > 100             > 100




REFERENSI
                 Analisis Penurunan Preloading Sistim Matras Bambu (Arifin)             57


1.   Manual Pemeriksaan Bahan Jalan No.01/MN/BM/1976, Departemen Pekerjaan
     Umum dan Tenaga Listrik Direktorat Jenderal Bina Marga.           Bina Marga (1976).
2.   Pondasi Jalan jilid 2 Materi Pelatihan Berkelanjutan Bidang Kebinamargaan, Ir.
     Rudy Setyawan (1999)
3.   Spesifikasi Umum (buku 3) Proyek Pembangunan Jalan Mlirip – Jampirogo,
     Departemen Pekerjaan Umum Badan Penelitian dan Pengembamgan PU, Pusat
     Penelitian dan Pengembangan Jalan. Bina Marga (2006).
4.   Standard Specifications for Transportation Materials and Methods Sampling
     and Testing Part 1 spesifications adopted by The American Association of State
     Highway and Transportation Officials.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8
posted:2/12/2013
language:Unknown
pages:57