MANAGEMEN AGRIBISNIS:

Document Sample
MANAGEMEN AGRIBISNIS: Powered By Docstoc
					                                                                        0




              MANAGEMEN AGRIBISNIS:
     ORGANISASI DAN MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA




                                 Oleh:
                         DR Ir Soemarno, MS
                       Dosen Fakultas Pertanian
                     Universitas Brawijaya, Malang




Makalah disajikan dalam Penatraan Agribisnis bagi Kepala Bidang Pertanian
Umum Kanwil Pertanian dan Kepala Sub Dinas Bina Usaha Lingkup Pertanian
pada tanggal 30 s/d 3 Oktober 1996 din Hotel Mirama Surabaya.




                                                     Managemen Agribisnis
                                                                          1


      PENDAHULUAN

       Dalam Pelita VI pembangunan ekonomi menjadi prioritas dengan titik
berat pada sektor pertanian yaitu peningkatan produksi pertanian dalam usaha
mempertahankan swasembada pangan, meningkatkan komoditas ekspor non-
migas serta mengembangkan agroindustri. Secara lebih spesifik tujuan
pembangunan pertanian adalah meningkatkan produksi pertanian guna
memenuhi kebutuhan pangan dan industri dalam negeri serta meningkatkan
ekspor, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, memperluas
kesempatan kerja, mendorong pemerataan kesempatan berusaha serta
mnedukung pembangunan daerah. Jalur pembangunan pertanian mencakup
kegiatan     peningkatan komoditi pertanian yang pelaksanaannya melalui
pembinaan dan pengembangan agribisnis yang meliputi kegiatan terpadu dan
tidak dapat dipisahkan mulai dari penyediaan sarana produksi, pembinaan
usahatani, pasca panen, pengolahan hasil serta pemasaran hasil.
       Propinsi Jawa Timur terbagi dalam 37 Daerah Tingkat II yang masing-
masing mempunyai potensi wilayah yang berbeda, baik potensi sumberdaya
manusia dengan segenap budayanya maupun potensi sumberdaya alam
dengan keanekaragaman hayatinya. Potensi sumberdaya ini masih belum
sepenuhnya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan, terutama daerah-daerah
lahan kering. Dari sumberdaya lahan yang ada, sebagian besar merupakan
lahan kering dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar petani.
Permasalahan klasik yang ada pada lahan kering ini adalah rendahnya
produktivitas lahan. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain karena masih
terbatasnnya informasi tentang teknologi yang dapat digunakan untuk
mengembangkan wilayah tersebut, tingkat kesulitan faktor pembatas
pertumbuhan tanaman yang relatif tinggi dan pengembangan teknologi produksi
yang sangat lamban.
       Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas andalan,
pemasaran dan pengolahannya diperlukan lembaga sosial- ekonomi sebagai
suatu wadah, pola organisasi dan atribut yang dibutuhkan oleh para petani
untuk dapat melakukan fungsinya. Lembaga sosial-ekonomi ini dapat bersifat
lembaga non-formal atau formal. Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-
ikatan dan hubungan sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat diper-
lukan dalam penanganan Sistem Agrikoman (Agribisnis Komoditi Andalan).
Menemukan lembaga-lembaga tradisional yang tumbuh dalam masyarakat
pedesaan, khususnya dalam pengusahaan komoditas andalan, sejak saat
penanaman bibit, pengelolaan lahan, pengerahan tenaga kerja, perkreditan,
panen dan pengolahan hasil, serta pemasaran hasil merupakan langkah awal
dalam upaya rekayasa dan peningkatan fungsi kelembagaan tersebut.
Selanjutnya, keberhasilan dalam sistem produksi menuntut adanya bentuk-
bentuk kelembagaan yang lebih besar dan berorientasi ekonomis sehingga
mampu mengelola sistem agribisnis secara lebih efisien dan mampu
meningkatkan kesejahteran masyarakat.




                                                      Managemen Agribisnis
                                                                               2



       PENDEKATAN DAN ORIENTASI AGRIBISNIS

        Sistem usaha pertanian yang mengintegrasikan faktor produksi lahan,
tenagakerja, modal dan teknologi/manajemen sangat dipengaruhi oleh kondisi
spesifik wilayah, yang mencakup bio- fisik, ekonomi, dan sosial. Sektor pertanian
hingga saat ini masih diartikan sebagai "sistem usaha pertanian" yang sangat
berkaitan erat dengan sistem lainnya seperti industri hulu, industri hilir,
pemasraan/perdagangan dan permintaan datri konsumen. Keseluruhan aspek-
aspek ini SALING terintegrasi dan dalam pengertian makna yang luas lazim
disebut "Sistem Agribisnis" . Keseluruhan sistem yang berkaitan dengan
sektor pertanian tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi sumberdaya, kelemba-
gaan, dan kebijaksanaan pembangunan pertanian.
        Dari keseluruhan sistem agribisnis seperti yang diabstraksikan di atas,
dapat diambil beberapa aspek atau bidang kajian epenting, yaitu:
        (a). Sistem Agribisnis dan Perdagangan/pemasaran
        (b). Sumberdaya manusia dan kelembagaan
        (c). Pengelolaan sumberdaya alam
        (d). Sistem usaha pertanian (atau usahatani)
        (e). Pengembangan agroindustri
        (f). Rintisan dan pengembangan produk.

        Istilah "agribisnis" telah menjadi semakin populer, berbagai macam
pengertian dan pemahaman tentang istilah ini telah berkembang. Dari asal
katanya, "agribisnis" terdiri dari dua suku kata, yaitu "agri" (agriculture =
pertanian) dan "bisnis" (business = usaha komersial). Oleh karena itu, agribisnis
adalah kegiatan bisnis yang berbasis pertanian. Sebagai konsep, agribisnis
dapat diartikan sebagai jumlah semua kegiatan-kegiatan yang berkecipung
dalam industri dan distribusi alat-alat maupun bahan-bahan untuk pertanian,
kegiatan produksi komoditas pertanian,        pengolahan, penyimpanan        dan
distribusi komoditas pertanian atau barang-barang yang dihasilkannya (Davis
dan Golberg, 1957).
        Menurut Snodgrass dan Wallace (1974), kegiatan agribisnis tersebut
merupakan kegiatan pertanian yang kompleks sebagai akibat dari pertanian
yang semakin modern. Pertanian meliputi perkebunan, pertanian tanaman
pangan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Agribisnis dapat memfokuskan
kegiatannya pada satu segmen dari keseluruhan industri atau keseluruhan
kegiatan secara terintegrasi. Agribisnis dapat berupa perusahaan besar seperti
perkebunan besar, pabrik pupuk, pabrik pestisida, pabrik minyak, pabrik susu,
perusahaan perikanan, dan lainnya. Selain itu juga dapat berupa perusahaan
kecil, seperti perkebunan rakyat, nelayan, petani, pedagang (bakul), peternak,
dan lainnya. Menurut Balbin dan Clemente (1986), pengertian agribisnis dapat
diperluas     mencakup pemerintah, pasar, asosiasi perdagangan, koperasi,
lembaga keuangan, sekelompok pendidik dan lembaga lain yang mempengaruhi
dan mengarahkan bermacam-macam tingkatan arus komoditas. Halcrow (1981)




                                                          Managemen Agribisnis
                                                                                   3


mengartikan agribisnis hanya meliputi kegiatan industri jasa dan material untuk
usahatani (produksi pertanian) dan industri pengolahan dan pemasaran hasil-
hasil pertanian. William dan Karen (1985) mengartikan agribisnis sebagai
perusahaan besar (profit company) yang berbeda dengan petani kecil.
         Ciri-ciri agribisnis adalah merupakan suatu industri yang kompleks dan
berstruktur vertikal, setiap komponen secara terpisah independen tetapi dalam
arti yang luas saling tergantung membentuk sebuah sistem komoditas. Oleh
karena itu pengambilan keputusan yang baik memerlukan pengertian tentang
keseluruhan struktur industri dan harus mampu memahami titik sentral dari
berbagai bagian yang relevan dari berbagai bagian sistem struktural.
         Berdasarkan keterangan di atas, "agribisnis" secara luas dapat
dipandang sebagai "bisnis" yang berbasis pertanian. Secara struktural usaha
bisnis ini terdiri atas tiga sektor yang saling bergantung, yaitu (i) sektor masukan,
yang ditangani oleh berbagai industri hulu yang memasok bahan masukan
kepada sektor pertanian , (ii) sektor produksi (farm), yang ditangani oleh
berbagai jenis usahatani yang menghasilkan produk-produk bio- ekonomik, dan
(iii) sektor keluaran, yang ditangani oleh berbagai industri hilir yang mengubah
hasil usahatani menjadi produk konsumsi awetan/olahan dan yang menyalurkan
produk ini melalui sistem pemasaran kepada konsumen (Downey dan Erickson,
1989).
         Dengan demikian "agribisnis" meliputi seluruh sektor yang terlibat dalam
pengadaan bahan masukan /input usahatani; terlibat dalam proses produksi bio-
ekonomik; menangani pemrosesan hasil-hasil usahatani; penyebaran, dan
penjualan produk-produk pemrosesan tersebut kepada konsumen. Dalam
kaitannya dengan komoditas            di suatu wilayah , sebagian besar aktivitas
ekonomi dapat dilakukan oleh petani dan penduduk pedesaan dengan skala
ekonomi yang berbeda-beda.


       ANALISIS PEWILAYAHAN KOMODITAS

        1. Seleksi Komoditas
        Seleksi komoditas dilakukan untuk mendapatkan alternatif komoditas
yang sesuai dikembangkan di suatu wilayah dengan lngkungan tumbuh tertentu.
Inventarisasi dimulai dari jenis- jenis komoditas yang banyak diusahakan oleh
rakyat, kemudian baru melibatkan jenis-jenis komoditas yang belum dikenal.
Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi tertumpu pada segi
agroteknologinya untuk dikembangkan lebih lanjut serta potensi pasarnya baik
domestik maupun ekspor, nilai tambah ekonomi bagi petani serta dampaknya
terhadap kesempatan kerja dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari seleksi
ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman pangan,
perkebunan, maupun tanaman hortikultura.

       2. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha




                                                            Managemen Agribisnis
                                                                             4


        Uraian tentang teknik budidaya meliputi persiapan tanam, pemeliharaan
pertanaman, sampai dengan pemungutan hasil. Berdasarkan pada teknologi
budidaya yang diterapkan di lapang saat ini, dengan penyesuaian seperti yang
dianjurkan oleh lembaga penelitian. Selain itu pemilihan teknologi terutama
didasarkan pada kemampuan produsen, baik dari segi managerial maupun par-
sialnya. Pertimbanagn yang sama juga berlaku bagi industri pengolahan dengan
mempertimbangkan skala yang memadai dan kemungkinan tersedianya bahan
baku. Modal usahatani maupun industri pengolahan diasumsikan berasal dari
sistem perbankan formal, sehingga tingkat bunga harus disesuaikan.
        Lama analisis keuangan atau finansial yang dilakukan akan bervariasi
disesuaikan selama satu siklus umur tanaman dengan lausan satu hektar. Untuk
mengetahui tingkat kelayakan usahanya digunakan beberap[a tolok ukur yaitu
pendapatan B/C, MPV dan IRR, kecuali untuk tanaman semusim digunakan
pendapatn dan R/C.


       STRATEGI PENANGANAN SISTEM AGRIKOMAN

       Sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya, penyusunan konsep
penanganan Sistem Agribisnis Komoditas Andalan dilandasi dengan pendekatan
"Agrosistem" dengan tiga aspek utamanya, yaitu aspek teknis-teknologi
(termasuk pertimbangan bio-fisik), aspek ekonomi-bisnis, dan aspek sosial-
budaya (termasuk kelembagaan penunjang).

       1. Penetapan Komoditas Unggulan
       Suatu tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu
lahan pertanian apabila kondisi lahan tersebut memenuhi syarat. Masing-masing
daerah mempunyai ciri khusus tentang macam komoditi yang dikembangkan.
Selain kondisi lingkungan yang sesuai tentunya pengembangan komoditi juga
harus mempertimbangkan tingkat keuntungan yang dapat dipetik. Kepentingan
ini dapat direncanakan sejak dini, misalnya dengan membuat peta wilayah
komoditi pada masing-masing daerah yang akan dikembangkan. Untuk
menentukan peta wilayah komoditi dapat dilakukan dengan menggunakan dua
pendekatan, yaitu :

        (a). Pendekatan ekonomi wilayah
        Pendekatan ini dilakukan dengan cara menentukan jenis tanaman yang
secara ekonomi layak untuk dikembangkan dan dibudidayakan. Pewilayahan
tanaman yang dilakukan berdasar kepada keuntungan atau nilai tambah yang
diterima petani dalam upaya meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan kata
lain tanaman tersebut menguntungkan petani apabila dibudidayakan. Analisis ini
diperoleh dari selisih antara investasi yang ditanam dari usaha tersebut dengan
hasil yang diperoleh. Dari sektor-sektor usaha yang berkembang di masyarakat
akan terpilih beberapa sektor dominan yang layak untuk ditangani lebih serius,
karena memberikan prospek baik.




                                                        Managemen Agribisnis
                                                                            5


         Berdasarkan pendekatan ini dari seluruh sektor yang ada di masyarakat
yaitu , tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman hutan,
peternakan, industri,perdagangan, angkutan, jasa , tambang, ada lima sektor
yang berperan dan sangat menentukan tingkat pendapatan perkapita petani
meliputi ; sektor peternakan, industri, pertanian tanaman pangan dan horti-
kultura, tanaman perkebunan serta tanaman hutan. Dari lima sektor tersebut,
masing-masing daerah mempunyai prioritas yang berbeda-beda. Ini dikarenakan
adanya perbedaan daya dukung lahan serta alam di lokasi tiap-tiap wilayah.
          Di Wilayah pedesaan biasanya terdapat dua sektor paling doniman
memberikan sumbangan terbesar bagi pendapatan petani yaitu sektor pertanian
tanaman dan subsektor peternakan. Dua sektor tersebut masing-masing
memberi sumbangan sebesar 60-80 % dan 20-40% dari pendapatan petani. Dari
hasil pengamatan didapatkan jenis komoditi yang secara ekonomi berkembang
di masyarakat dan banyak diusahakan oleh petani sebagai tumpuhan hidup
mereka, baik tanaman pangan dan hortiukltura maupun tanaman perkebunan;
diantaranya : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, cabe,
kelapa dan kapok randu. Sedang di sektor peternakan nampaknya kambing dan
sapi lokal merupakan primadona peternakan yang perlu mendapatkan perhatian
lebih serius.

       (b).Pendekatan Ekologi Wilayah
       Pendekatan ini didasarkan pada kesesuaian komoditi pertanian untuk
dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu daerah.                 Untuk
menentukan jenis komoditi yang mampu berkembang, selain berdasar kepada
komoditi yang sudah ada tidak menutup kemungkinan mengembangkan jenis
komoditi yang secara ekologis sesuai. Penentuan jenis komoditi yang sesuai
untuk dikembangkan di suatu wilayah dilakukan dengan cara pendekatan secara
ekologis yaitu dengan cara melihat syarat tumbuh bagi masing-masing komoditi
dan juga melihat kondisi wilayahnya.
       Dari kedua faktor ekologis yang berperan menetukan tingkat kesesuaian
lahan yaitu konsidi wilayah dan syarat tumbuh yang dibutuhkan setiap komoditi,
akan diperoleh informasi tentang jenis komoditi yang secara ekologis sesuai
untuk dikembangkan. Berdasarkan hasil pengamatan secara ekologis jenis
komoditi yang dapat tumbuh dengan baik pada kondisi lahan di Kecamatan
Kedungdung meliputi : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, cabe, kelapa, mangga,
rambutan, melinjo , jeruk, jambu mete dan kapok randu. Dengan diketahuinya
jenis komoditi yang secara ekomonis lebih menguntungkan             atau lebih
menguntungkan diantara komoditi lain yang sudah ada dan secara ekologis
daerah tersebut sesuai (baik syarat tumbuh maupun kondisi wilayah
bersangkutan), maka komoditi-komoditi tersebut perlu segera dikembangkan.

     2. Organisasi dan Kelembagaan
     Untuk memperlancar program pengembangan Sistem AGRIKOMAN yang
sudah terencana, setelah diketahuinya komoditi andalan yang akan
dekembangkan, diperlukan langkah-langkah yang harus dilaksanakan. Paket




                                                       Managemen Agribisnis
                                                                                    6


    pengembangan program harus tersusun secara sistematis sehingga tahapan
    pelaksanaan dapat berjalan dengan baik, mulai dari persiapan sampai usaha
    tersebut menghasilkan sesuatu.

             (a).   Penentuan Kelompok Sasaran (POKSAR)
             Program pengembangan ini tentunya diproiritaskan bagi petani yang
     kurang mampu, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan petani kecil.
     Dasar pertimbangannya adalah bahwa petani tersebut biasanya kurang berani
     mengambil resiko kegagalan dan menanamkan modal untuk usaha yang belum
     pernah ditekuni. Disamping itu petani tersebut kurang mampu untuk mencari
     modal yang cukup besar untuk usahataninya.
             Penentuan kelompok sasaran ini dilakukan dengan cara seleksi yang
     mendasarkan kepada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai tolok ukur
     taraf hidup petani. Kriteria pemilihan berpedoman kepada beberapa fasilitas
     sarana fisik yang dimiliki seperti, pemilikan ternak, alat transport, luas lahan,
     rumah serta status pekerjaan. Apabila petani tersebut lolos dari persyaratan
     minimal yang diajukan maka tidak memenuhi syarat sebagai petani kurang
     mampu, sehingga tidak mendapatkan prioritas bantuan dan sebaliknya.
             Berdasarkan kenyataan bahwa suatu usaha adalah suatu investasi
     bisnis, maka prinsip kelayakan usaha juga harus menjadi pertimbangan. Prinsip-
     prinsip tersebut adalah :
(1). Kelayakan Usaha Berdasarkan Finansial, meliputi: Comparative advantage,
     enterprise choice cabang usaha, Opportunity cost, dan Economic of scale.
(2). Kelayakan Usaha Berdasarkan Managerial, meliputi : Sistem pengorganisasian,
     model kredit begulir, model pembinaan, model pelunasan pinjaman, sistem
     keterkaitan dengan mitra usaha, dll.
(3). Kelayakan Usaha Berdasarkan Sosial, meliputi : respon masyarakat, Partisipasi,
     dan daya jangkau kebutuhan masyarakat.

            (b). Penyuluhan
            Mengingat tingkat pengetahuan petani lahan kering di wilayah pedesaan
    miskin sangat terbatas, khususnya mengenai hal- hal yang mesih dianggap baru,
    maka petani harus diperkenalkan dengan teknologi budidaya tanaman tersebut.
    Pengenalan IPTEK baru ini meliputi beberapa aspek baik teknis maupun non
    teknis. Hal-hal yang bersifat teknis misalnya teknologi budidaya yang perlu
    diperhatikan mulai dari penyediaan bibit atau bahan tanam, pemupukan,
    pemeliharaan tanaman sampai kepada pasca panennya.           Hal yang bersifat
    noon teknis misalnya manfaat tanaman bagi peningkatan pendapatan, prospek
    tanaman untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun peluangnya untuk
    ekspor dan sebagainya. Dengan demikian petani akan terbuka wawasannya
    dan mempunyai minat besar untuk mengembangkan komoditi tersebut.

           (c). Penyediaan bahan tanam/Bibit
           Salah satu aspek yang menentukan berhasil tidaknya suatu usahatani
    adalah tersedianya bahan tanam baik berupa bibit maupun benih. Kesalahan




                                                              Managemen Agribisnis
                                                                                 7


    dalam memilih bahan tanam tersebut banyak yang mengakibatkan kerugian
    yang membawa akibat fatal bagi petani. Sebagai contoh, kalau seandainya
    petani ingin menanam kelapa, sementara mereka tidak memperhatikan bibit
    yang digunakan sebagai bahan tanam, maka kesalahan penggunaan bibit ini
    akan baru dirasakan setelah menunggu selama 5 - 7 tahun berikutnya.
    Sehingga petani disamping rugi dengan biaya yang dikeluarkan, juga akan rugi
    waktu. Karena mereka bersusah payah menunggu sampai bertahun-tahun
    akhirnya tanaman yang diusahakan tidak memuaskan.


           MANAGEMEN SUMBERDAYA DAN ORGANISASI

           Agribisnis menghimpun sejumlah manusia yang bekerja sama untuk
    mencapai maksud dan tujuan bersama. Segera setelah agribisnis melibatkan
    lebih dari satu orang, berbagai hal mengenai organisasi, personalia,
    kepemiminan dan faktor pemotivasi pasti langsung bermunculan. Semakin
    besar organisasi, semakin rumit dan semakin penting permasalahannya. Oleh
    karena salah satu tanggung jawab dasar manajer adalah memperoleh, menata,
    memotivasi dan mengnedlaikan sumberdaya manusia, untuk mencapai tujuan
    bisnisnya seefektif mungkin, maka manajemen harus mengemban tanggung
    jawab tersebut.

            Pengelolaan sumberdaya manusia dalam agribisnis mempunyai banyak
    dimensi. Pertama, melibatkan kesleuruhan fungsi personalia, yaitu perekrutan,
    pengangkatan, pelatihan, pengevaluasian, pengajuan promosi, pengelolaan
    balas jasa dan tunjangan, dan pada agribisnis tertentu berurusan dengan serikat
    pekerja. Selain itu, manajemen juga harus mengembangkan struktur organisasi
    dimana tanbggung jawab, wewenang, dan tanggung gugat perorangan
    dirumuskan dengna jelas. Kemudian manajemen harus memusatkan perhatian
    pada pengarahan dan pemantauan kegiatan harian.
            Kepemimpinan akan menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis apabila
    manajer berupaya memotivasi dan mengendalikan sumberdaya manusia untuk
    memaksimasi produktivitas.
            "Manajemen" dapat didefinisikan sebagai: seni untuk keberhasilan
    mencapai hasil yang diinginkan secara gemilang dengan sumber-sumber yang
    tersedia bagi organisasi.

(1). Manusia yang melaksanakan manajemen (Manajer)
     Kemampuan manajer untuk mencapai hasil melalui ornag lain snagat epenting
     sekali dlaam manajemen yang baik. Investasi berupa waktu dan perhatian
     kepada bawahan sering mendatangkan imbalan sangat berharga.
(2). Seni dan bukan ilmu.
     Setiap orang dapat menggunakan prinsip-prinsip manajemen untuk mewujudkan
     pertumbuhan dan kemajuan secara berkelanjutan.
(3). Berhasil dengan gemilang.




                                                            Managemen Agribisnis
                                                                                  8


(4). Sumberdaya yang tersedia.

            Manajer menggunakan apa yang dimiliki untuk memperoleh apa yang
    didinginkan, dan mereka berurusan dengan peluang , bukan fantasi.

             Konsep Manajemen
(1). Konsep 6M
     Daya upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan melalui pemanfaatan yang
     efektif atas sumberdaya yang tersedia (Money, Markets, Material, Machinery,
     Methods, dan Man).
(2). Konsep Perilaku
     Manajer memperluas dan memperkaya pekerjaan; memberi lebih banyak
     tanggungjawab dan wewenang kepada setiap pekerja, dan menciptakan
     lingkungan kerja dimana para pekerja merasa puas karena kebutuhannya diakui,
     diterima dan dipenuhi.
(3). Konsep 5P.
     Manajemen merupakan sederetan fungsi : Perencanaan, Pengorganisasian,
     Pengarahan, Pengendalian, dan Pengkoordinasian. Dua fungsi tambahan:
     Pengkomunikasian dan Pemotivasian.
             Keberhasilan agribisnis pada dasarnya tergantung pada efektif-tidaknya
     pemanfaatan sumberdaya organisasi oleh manajer. Kemampuan untuk
     memanajemen atau mengelola sesuatu merupakan bakat bawaan, namun
     dapat juga merupakan keahlian yang dapat dan harus dipelajari.             Bagi
     sementara orang, "manajemen" dianggap sebagai suatu "kegaiban dan
     permainan sulap". Namun tentu saja kesan seperti ini tidaklah profesional.
             Dewasa ini pendidikan bisnis telah sedemikian canggihnya dengan
     berbagai model dan kelengkapannya.
             Manajer bisnis yang berhasil dibimbing oleh pronsip dan pengetahuan
     manajemen, hal ini mengisyaratkan bahwa keahlian manajemen dapat dipelajari.
             Bisnis harus mencoba memahami, bahwa mereka harus bersedia
     menginvestasi waktu, uang, dan daya-upaya untuk karyawan sebagaimana
     halnya dengan investasi dalam bentuk tambahan peralatan dan perlengkapan.
             Seorang manajer dapat dipandang sebagai seorang yang menyiapkan
     organisasi dengan kepemimpinannya dan bertindak sebagai katalisator
     perubahan.         Manajer yang baik sangat efektif dalam lingkungan yang
     memungkinkan perubahan bersifat kreatif.
             Manajer yang tidak efektif memusatkan pikirannya untuk melaksanakan
     sesuatu dengan cara yang tepat, bukannya memikirkan apa yang tepat untuk
     dilakukan.
              Ciri-ciri khusus manajemen agribisnis:
(1). Jenis-jenis bisnis yang sangat beraneka-ragam, mulai dari para produsen dasar
     hingga para pengirim, perantara, pedagang borongan, penroses, pengepak,
     pembuatn barang, usaha pergudangan, pengangkut, lembaga keuangan,
     pengecer, kongsi bahan pangan, restoran dan lain sebagainya. Perjalanan




                                                             Managemen Agribisnis
                                                                                  9


     sepotong roti mulai dari bibit gandum hingga gudang grosir dan toko makanan
     jelas melibatkan berbagai macam jenis usaha bisnis.
(2). Berjuta bisnis yang berbeda-beda telah lazim menangani route dari produsen
     hingga pengecer dan konsumen.
(3). Pembentukan agribisnis dasar (primer) di sekeliling pengusaha tani. Para petani
     (pengusaha tani) ini menghasilkan berbagai produk pertanian. Hampir semua
     agribisnis terkait dengan pengusaha tani ini, baik secara langsung maupun tidak
     langsung.
(4). Ukuran agribisnis sangat beragam dan tidak menentu, mulai dari yang berukuran
     raksasa hingga organisais yang dikelola oelh satu orang atau satu rumahtangga.
(5). Agribisnis berukuran kecil dan harus berjuang di pasar yang relatif bebas
     dnegna penjual yang berjumlah banyak dan pembeli yang lebih sedikit.
(6). Falsafah hidup tradisional yang dianut oleh para pelaku agribisnis cenderung
     mengakibatkan agribisnis lebih kolot dibandingkan dengan bisnis lainnya.
(7). Badan usaha agribisnis cenderung berorientasi pada keluarga. Suami dan istri
     seingkali terlibat dengna sangat baik pada tahap pengoperasian dan tahap
     pengambilan keputusan bisnis berdasarkan mitra kerja penuh.
(8). Agribisnis cenderung berorientasi pada masyarakat . Banyak agribisnis
     berlokasi di kota kecil dan pedesaan dimana hubungan antar perorangan sangat
     penting dan ikatan ini bersifat jangka panjang. Antar ependuduk dan antar
     rumahtangga saling kenal dalam jangka panjang.
(9). Agribisnis bersifat musiman. Maslaah-masalah khusus sering muncul sebagai
     akibat dari eratnya ketergantungan antara agribisnis dengan pengusaha tani,
     dan juga karena sifat musiman komoditas.
(10). Agribisnis bertalian dengan gejala alam, seperti kekeringna, banjir, hama &
     penyakit, dan cuaca/iklim.
(11).Dampak dari program dan kebijakan pemerintah mengena langsung kepada
     agribisnis.

              Manajemen Sumberdaya Manusia
              Pada dasarnya manajemen sumberdaya manusia dapat dibagi menjadi :
       (1) pengelolaan fungsi dan (2) pengelolaan motivasi. Apabila orangnya dan
       pekerjaannya tidak serasi, motivasi tidak akan timbul.
              Tiga hal pokok fungsi sumberdaya manusia dalam kebanyakan agribisnis
       adalah (a) ukuran perusahaan, (b) pengetahuan mengenai fungsi sumberdaya
       manusia, dan (c) falsafah manajemen puncak mengneai sumberdaya manusia.
              Fungsi manajemen sumberdaya manusia:
(1).   Menentukan kebutuhan personil perusahaan
(2).   Mencari dan merekrut tenagakerja
(3).   Mengangkat atau memilih tenagakerja
(4).   Mengorientasikan tenagakerja pada pekerjaannya
(5).   Menetapkan persyaratan kompensasi dan tunjangan
(6).   Mengevaluasi prestasi kerja
(7).   Mengawasi pelatihan dan pengembangan
(8).   Mengadakan promosi atau kenaikan jabatan




                                                             Managemen Agribisnis
                                                                                   10


(9). Menangani pemutusan hubungna kerja atau pemindahan.
             Langkah pertama manajemen sumberdaya manusia adalah perumusan
     pekerjaan yang akan dilakukan. Tantangan perumusan pekerjaan terletak pada
     rencana organisasional yang tersusun dan berwawasan mendalam. Setiap posisi
     harus mempunyai job-goals yang menunjang keberhasilan perusahaan.
     Pekerjaan dapat dirumuskan dengna menggunakan dua pendekatan: (1)
     spesifikasi kerja dan (2) uraian kerja.
             Spesifikasi kerja mengisyaratkan kualifikasi yang diperlukan untuk
     melaksanakan pekerjaan secara memuaskan. Spesifikasi kerja ini dapat
     mencakup beberapa aspek, yaitu:
(1). Maksud pekerjaan: tujuannya, kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk
     mencapai tujuan tersebut.
(2). Jenis pekerjaan: supervisi, pelatihan, tanggungjawabnya; apakah pekerjaan
     merupakan tugas seumur hidup atau menjanjikan peningkatan karir.
(3). Persyaratan pekerja: pendidikan, pengalaman, ketrampilan khusus, kesehatan,
     kepribadian dlsb.
(4). Cara-cara khusus untuk menentukan kemampuan pelamar: ujian, catatan kerja
     masa lalu, dlsb.

           Uraian kerja (job description) berittik berat pada kegiatan dan tugas kerja
    .
            Calon karyawan dapat dicari pada banyak sumber. Kualifikasi kerja,
    upah atau gaji, jenis dan ukuran organisasi, dan lokasi agribisnis memainkan
    peranan penting dalam perekrutan karyawan. Pertimbangan penting ialah
    rekomendasi dari karyawan sendiri yang selama ini telah selalu bekerja dengan
    baik. Apabila pekerjaan memerlukan pelatihan dan pendidikan khusus, Balai
    Latihan kerja atau penyuluh dapat diminta untuk mencarikan calon pekerja.
            Sumberdaya manusia merupakan aktiva terpenting pada setiap agribis-
    nis. Fungsi manajemen sumberdaya manusia            bersnagkut paut dengan
    pengelolaan mekanisme pengkaryaan. Semakin besar agribisnis, semakin
    formal dan rumit proses tersebut; tetapi setiap agribisnis harus mampu
    menyelenggarakan fungsi personalia secara tuntas.
            Manajemen sumberdaya manusia mengawalinya dengan menentukan
    kebutuhan pengkaryaan. Dalam hal ini biasanya harus ada perumusan atas
    pekerjaan dan pengembangan uraian kerja sehingga personil yang tepat dapat
    direkrut. Perekrutan mencakup usaha mencari calon karyawan yang qualified
    atau berbobot, wawancara, dan peran-serta dalam memilih yang terbaik.
    Setelah itu, fungsi personalia harus senantiasa mengamati kegiatan-kegiatan
    pada masa awal pengkaryaan, orientasi, dan pelatihannya.
            Fungsi personalia lainnya ialah pengembangan dan pengelolaan program
    tunjangan karyawan; asuransi, pensiun, kesehatan, kecelakaan kerja ,
    pendidikan, dan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan dan
    produktivitas kerja.
            Pada kebanyakan agribisnis, fungsi personalia juga mencakup evaluasi
    prestasi kerja karyawan secara teratur dan pengupayaan pertumbuhan




                                                              Managemen Agribisnis
                                                                             11


profesional yang berkelanjutan melalui program pelatihan dan pengembangan
yang diselenggarakan. Pelatihan dapat dilaksanakan secara informal, sambil
kerja, atau berupa seminar formal, yang semuanya harus mengarah kepada
peningkatan produktivitas.
        Pengelolaan sumberdaya manusia merupakan tanggungjawab dasar bagi
manajer agribisnis. Para manajer harus mengembangkan struktur organisasi
dimana tanggungjawab, wewenang, dan tanggung gugat perorangan ditentukan
secara jelas. Manajemen harus mengarahkan dan memantau kegiatan harian,
memotivasi dan mengnedalikan para karyawan agar berupaya mencapai
produktivitas yang maksimum.
        Banyak agribisnis menggunakan bagan organisasi formal untuk
memperjelas tanggung jawab, wewenang dan tanggung uggat para karyawan.
organisasi lini merupakan struktur dimana setiap orang berada dalam rantai
komando dan mempunyai tanggungjawab langsung bagi fungsi- fungsi utama
dalam bisnis. Dalam struktur organisasi lini dapat ditambahkan tenaga staf ahli
tanpa diberi wewenang dan hanya berhak memberi nasihat kepada para manajer
lini organisasi; sedangkan dalam struktur organisasi fungsional para staf ahli
diberi wwewenang untuk melaksanakan gagasan-gagasan                 dalam bidang
tanggung-jawabnya.
        Kepemimpinan merupakan tugas yang menantang bagi hampir semua
manajer agribisnis. Banyak gaya kepemimpinan yang berbeda dan berjenjang
mulai dari yang bersifat otokratik, demokratik, hingga yang bersifat bebas.
        Pemotivasian berarti mendorong karyawan agar bertindak dalam cara-
cara tertentu. Maslow menjelaskan kebutuhan pokok manusia sebagai hierarkhi,
pemenuhan kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia. Namun
demikian, faktor lainnya seperti uang sudah merupakan bagian dari pengharapan
wajar manusia sehingga hal ini bukan lagi merupakan faktor pemotivasi tetapi
sudah merupakan faktor higienik, yang jika jumlahnya tidak memadai, akan
menciptakan ketidak puasan.
        Analisis transaksional merupakan salah satu model untuk memahami
keinginan karyawan dan dan faktor pemotivasinya. Analisis transaksional
merupakan alat yang bagus untuk membantu para manajer mengerti kehendak
bawahan, tetapi hal ini hanya perlu digunakan sebagai alat tambahan saja.
Tidak ada rumus yang siap pakai atau jawaban yang tepat dalam bentuk yang
terbaik untuk memanajemeni manusia. Manajemen merupakan proses rumit
yang didasarkan pada sifat watak pemimpin, sifat si terpimpin, dan situasi.


DESKRIPSI PROFIL SISTEM AGRIBISNIS KOMODITAS MANGGA DI JATIM

       1. Pendahuluan

        Beberapa permasalahan agribisnis mangga di Jawa Timur yang dapat
diidentifikasikan selama ini adalah:




                                                         Managemen Agribisnis
                                                                                 12


(a). Volume ekspor buah mangga selama ini mengalami fluktuasi yang sangat
     tajam dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang terkait dengan masalah ini
     adalah potensial demand pasar luar negeri dan domestik ; kendala-kendala
     kualitas (terutama tentang jenis/varietas yang paling disukai konsumen);
     keadaan teknik penanganan pascapanen; serta kendala-kendala
     kontinyuitas dan peningkatan produksi buah.
(b). Sebagian besar tanaman mangga ditanam penduduk di lahan pekarangan
     di sela-sela tanaman lainnya. Alternatif pengembangan kebun mangga
     monokultur pada lahan tegalan atau perkebunan masih belum diketahui
     secara meyakinkan, apakah tanaman mangga yang diusahakan secara
     komersial cukup "layak" (feasible) baik ditinjau dari aspek finansial, ekonomi,
     maupun sosial.
(c). Biaya investasi untuk pengusahaan mangga apabila dilakukan secara
     komersial (perkebunan) cukup besar, sulit terjangkau oleh petani yang
     permodalannya lemah. Oleh karenanya, dalam rangka pengembangan
     agribisnis mangga, perlu dikaji model pengelolaan yang dapat memecahkan
     masalah tersebut, termasuk permodalan, pemasaran, transfer teknologi
     serta permasalahan lainnya.


        2. Potensi Produksi Mangga

      Perkembangan produksi mangga di Jawa Timur semenjak tahun 1985
menunjukkan peningkatan (Tabel 1). Tiga jenis mangga yang dominan adalah
Arumanis, Gadung dan Manalagi (Tabel 2)

Tabel 1. Perkembangan Produksi Mangga di Jawa Timur Selama Tahun 1985-
          1990.

Tahun                       Produksi           Perkembangan
                               (ton)                (% /th)
1985                        186.250                     -
1986                        207.600                  11.46
1987                        284.850                  37.21
1988                        306.225                   7.50
1989                        452.500                  47.77
1990                        611.250                  35.08
Sumber: Diolah dari laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan
       Propinsi Jawa Timur 1991/1992


Tabel 2.   Produksi Mangga Berdasarkan Jenisnya di Jawa Timur, Tahun 1990




                                                            Managemen Agribisnis
                                                                                  13



Jenis Mangga                   Produksi             Persen
                               (ton)                 (%)
 Arumanis                     216.994              35.50
 Golek                         92.290              15.10
 Manalagi                     132.641              21.70
Jenis lain                    169.316              27.70
Sumber: Diolah dari Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa
           Timur, 1991/1992.


       3. Wilayah Agroekologi Mangga

        Tanaman mangga sangat cocok untuk daerah-daerah yang mempunyai
bulan kering sekitar tiga bulan (tipe iklim yang sesuai B2, C dan D), ia cukup
tahan kekeringan. Di daerah yang beriklim basah tanaman mangga sering
mengalami ganggua seperti kerontokan bunga, gangguan penyakit Gleosporium
dan penggerek buah. Di daerah iklim kering diperlukan persyaratan bahwa
kedalaman air tanah tidak boleh lebih dari 200 cm. Tanaman ini kurang sesuai
untuk daerah dataran tinggi (>1000 m dpl). Periode kering sebelum dan sewaktu
pembungaan sangat diperlukan untuk keberhasilan pembuahan, sedangkan
cuaca berawan dan banyak hujan pada saat pohon berbunga dapat
mengganggu perkawinan bunga dan mengakibatkan kerontokan. Karakteristik
tanah yang sesuai adalah gembur dan tekstur lempung berpasir, dan solumnya
cukup dalam.
        Tiga macam faktor agroekologi utama yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman mangga adalah ketinggian tempat, pola
hujan sepanjang tahun, dan solum tanah. Sedangkan faktor-faktor agroekologi
lain yang dapat membatasi produktivitas tanaman mangga adalah (i) salinitas
tanah yang tinggi, (ii) muka air tanah yang terlalu dangkal, (iii) tekstur tanah liat
berat, (iv) drainase tanah yang jelek/daerah genangan/banjir, (v) faktor khusus.
Hasil evaluasi rekonaisans di Jawa Timur diabstraksikan dalam Tabel 3.
        Secara general, wilayah pengembangan mangga di Jawa Timur dapat
dijelaskan seperti berikut.
(1). Wilayah pengembangan dataran menengah beriklim basah (400-1000 m
     dpl, CH = > 2000 mm/tahun)
     Daerah ini kurang sesuai bagi tanaman mangga, faktor pembatasnya adalah
     curah hujan yang berlebihan. Pada saat tanaman mangga menghendaki
     periode kering ternyata masih turun hujan. Oleh karena itu kasus yang
     sering terjadi ialah kerontokan bunga dan bakal buah.
(2). Wilayah pengembangan dataran menengah beriklim agak basah (400- 1000
     m dpl, CH = 1000 - 2000 mm/tahun)
     Sebaran wilayah ini di Jawa Timur sangat luas dengan kondisi agroekologi
     sangat beragam. Keadaan ini memungkinkan berbagai jenis mangga




                                                            Managemen Agribisnis
                                                                                         14


     tumbuh dan berkembang dengan baik. Kendala yang mungkin dihadapi
     adalah solum tanah yang tipis, tekstur liat berat atau berpasir.
(3). Wilayah pengembangan dataran rendah beriklim kering
     (0-400 m dpl, CH = < 1000 mm/tahun)
     Wilayah pengembangan ini hanya sesuai bagi tanaman mangga yang tahan
     terhadap kekeringan, yaitu jenis-jenis lokal yang mempunyai perakaran
     sangat dalam dan luas, penetrasinya kuat dan umumnya mempunyai tajuk
     yang daunnya kecil-kecil. Kendala yang lazim adalah cekaman air tanah
     yang mengakibatkan kegagalan fruitset.

Tabel 3.   Klasifikasi lahan bagi pengembangan mangga di Jawa Timur
        (Soemarno dkk, 1992)

N    Development zones        Altitude   Tipe     Solum     Possible constraint*)
 o   (Symbols)                ( m dpl    iklim    (cm)
1.   A1R1S1 (Sesuai)          0-400       C2-C3   > 100     k1; k2   k3    k4       k5
2.   A1R1S2 (Sesuai)          0-400       C2-C3   60-100    k1; k2   k3    k4       k5
3.   A1R1S3 (Kurang sesuai)   0-400       C2-C3   < 60      k1; k2   k3    k4       k5
4.   A1R2S1 (Kurang sesuai)   0-400        D      > 100     k1; k2   k3    k4       k5
5.   A1R2S2 (Kurang sesuai)   0-400        D      60-100    k1; k2   k3    k4       k5
6.   A1R3S1 (Kurang sesuai)   0-400       B; E    > 100    k1; k2    k3    k4       k5
7.   A1R3S2 (Kurang sesuai)   0-400        B; E   60-100    k1; k2   k3    k4       k5
8.   A2R1S1 (Sesuai)          400-1000     C2 -    > 100    k1; k2   k3    k4       k5
                                         C3
9.   A2R1S2 (Sesuai)          400-1000     C2 -    60-      k1; k2   k3    k4       k5
                                         C3       100
10   A2R1S3 (Cukup sesuai)    400-1000     C2 -    < 60     k1; k2   k3    k4       k5
                                         C3
11   A2R2S1 (Cukup sesuai)    400-1000     D      > 100     k1; k2   k3    k4       k5
12   A2R2S2 (Cukup sesuai)    400-1000     D      60-100    k1 ;k2   k3    k4       k5
13   A2R2S3 (Kurang sesuai)   400-1000     D      < 60      k1; k2   k3    k4       k5
14   A2R3S1 (Kurang sesuai)   400-1000     B; E   > 100     k1; k2   k3    k4       k5
15   A2R3S2 (Kurang sesuai)   400-1000     B; E   60-100    k1; k2   k3    k4       k5
16   A3R2S3 (Tidak sesuai)    >1000        D      < 60      k1; k2   k3    k4       k5
Keterangan : *) Kendala yang mungkin ada; k1 = salinitas yang tinggi; k2 =
           kedalaman muka air tanah < 50 cm; k3 = tekstur tanah liat berat; k4
           = drainase buruk/daerah genangan/banjir; k5 = kekeringan; k6 =
           kondisi iklim (suhu dan kelembaban udara) ; k7 = curah hujan
           berlebihan.


(4). Wilayah pengembangan dataran rendah beriklim agak basah (0-400 m dpl,
     CH = 1000-2000 mm/tahun)




                                                           Managemen Agribisnis
                                                                             15


    Wilayah ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pusat produksi
    mangga. Kondisi agroklimat umumnya sesuai bagi pertumbuhan dan
    produksi mangga.        Periode kering cukup panjang bagi periodisasi
    pertumbuhan tanaman mangga. Kendala yang mungkin dihadapi adalah
    muka air tanah yang terlalu dangkal, drainase yang jelek atau genangan air,
    dan tekstur tanah liat berat.


       4. Pusat produksi mangga

       Tanaman mangga di Jawa Timur tersebar pada hampir seluruh wilayah.
Daerah-daerah sentra produksi aktual mangga di Jawa Timur disajikan dalam
Tabel 4.

       Tabel 4. Daerah Sentra Produksi Mangga di Jawa Timur

    Kabupaten                     Produksi buah (ton) Kultivar:
                                Arumanis      Golek          Lainnya
1. Pasuruan                        44.436      27.025           29.143
2. Probolinggo                     28.895        2.565           9.620
3. Kediri                            4.962       8.575          24.850
4. Lumajang                          7.040       4.128          13.760
5. Jombang                         17.940        1.331           5.430
6. Gresik                            7.524        1964           9.642
7. Mojokerto                         7.434       1.127           8.270
8. Ponorogo                          7.560         975           7.515
Sumber: Diolah dari Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan
        Propinsi Jawa Timur, 1991/92.



       5. Keragaan Sistem Agribisnis Mangga

       5.1. Usahatani

         Tanaman mangga pada umumnya diusahakan di lahan pekarangan
secara sambilan. Estimasi tentang persentase luas pengusahaan mangga
berdasarkan sistim pengusahaannya disajikan dalam Tabel 5.
         Tanaman mangga di lahan pekarangan penduduk tidak mendapatkan
perawatan secara memadai, pemupukan dilakukan ala kadarnya, pemangkasan
tajuk tidak dilakukan. Sebagian besar tanaman berumur tua dan ditanam dari biji.




                                                         Managemen Agribisnis
                                                                        16




Tabel 5.       Estimasi Persentase Usahatani Tanaman Mangga Berdasarkan
               Sistem Pengusahaannya

      Farming systems                                      % luasan
1.    Mangga diusahakan pada lahan pekarangan               90 - 95
2.    Mangga diusahakan pada lahan
      tegal dan tumpangsari dengan tanaman pangan             ± 5.0
3.    Mangga diusahakan pada lahan
      tegal secara monokultur                                 ± 1.0
        Sumber: Soemarno dkk., 1992.



           5.2. Produktivitas mangga

       Jumlah tanaman mangga dan produksinya di daerah sentra produksi
Probolinggo disajikan dalam Tabel 6.


Tabel 6.       Jumlah Tanaman dan Produksi Buah Mangga di Kabupaten
               Probolinggo, 1990/91.

Kultivar                        Jumlah pohon mangga:          Produksi
                            Productif   Muda       Total         buah
                                                                  (kw)
Gadung                    95.527  55.520          151.047      137.085
Manalagi                  44.735  33.149           77.884       58.357
Golek                     20.950  23.986           44.936       35.803
Madu                       7.229  18.303           25.532        7.898
Jenis lain                45.972  63.932          109.904      142.372
Jumlah                    214.413 204.890         419.303      381.515
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan        Kabupaten Probolinggo, Jawa
           Timur, 1991/1992.


           5.3. Usahatani mangga rakyat

      Deskripsi ringkas sistem usahatani mangga yang dilakukan oleh petani
sebagaimana disajikan dalam Tabel 7.

           5.4. Sistem Pemasaran




                                                     Managemen Agribisnis
                                                                             17



        Buah mangga pada umumnya dikonsumsikan dalam bentuk segar,
kurang dari satu persen dari total produksi yang diproses menjadi bentuk olahan
(Direktorat Bina Produksi Hortikultura, 1986). Buah mangga sebagian besar
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

      a. Saluran Pemasaran. Buah mangga yang dihasilkan di Kabupaten
Pasuruan, Probolinggo dan sekitarnya dipasarkan di dalam wilayah Kabupaten
dan sebagian dikirim ke luar wilayah.

       b. Cara Pemasaran
       Penjualan buah mangga pada umumnya dilakukan melalui tiga cara,
yakni tebasan, ijon dan kontrak. Sebagian besar petani melakukan pemasaran
mangganya dengan cara tebasan (80%), sisanya dengan cara ijon dan kontrak.
Dalam hal ijon dan kontrak, penentuan harga sangat didominasi oleh pedagang.


Tabel 7. Deskripsi Sistem Usahatani Mangga Yang Dilakukan Petani, 1992/1993

                                       Kondisi aktual
1. Rata-rata jumlah pohon              3-5 pohon
2. Lahan yang digunakan                Lahan pekarangan
3. Jarak tanam                         Tidak beraturan
4. Sistim penanaman                    Sebagian besar berasal dari
                                      cangkokan
5. Jenis mangga yang                      Arumanis (gadung) dan
  banyak diusahakan                       Manalagi
6. Pemangkasan                            Umumnya dilakukan pada
                                         waktu tanaman umur 1-3 tahun
7. Pemupukan                          Umumnya dilakukan pada waktu
                                        tanaman umur 1-2 tahun
8.Pemberantasan hama dan penyakit     Jarang dilakukan
      Sumber: Soemarno dkk. 1992.


       c. Marjin pemasaran

       Marjin pemasaran mangga di Kabupaten Probolinggo sebagaimana
Tabel    untuk pemasaran sampai luar Probolinggo (ke Jakarta) . Market Share
petani dari harga beli konsumen hanya sebesar lebih kurang 45% (Tabel 8).




                                                        Managemen Agribisnis
                                                                            18


Tabel 8.    Pemasaran Mangga dari Kabupaten Probolinggo ke luar Kabupaten,
            1992/1993

Aktivitas                                      Nilai             Pangsa
                                          (Rp/100 buah)            (%)
1. Petani
  Harga jual                                  14.280              44.70
2. Pedagang pengumpul
  a. Harga beli                               14.280              44.70
  b. Biaya
   - Panen                                       714               2.23
   - Sortasi                                     460               1.44
   - Packing                                   1.285               4.02
   - Transport lokal                             250               0.78
   - Kuli angkut                                 860               2.69
   - Transpor ke luardaerah (Jakarta)          5.732              17.94
          Total                                9.301              29.12
  c. Harga jual                               31.945              100
  d. Keuntungan                                8.355              26.15
        Sumber: Soemarno dkk, 1993


       5.5. Agroteknologi mangga

       Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo
diperoleh informasi tentang agro-teknologi mangga seperti yang diabstraksikan
dalam Tabel 9. Sebagian besar petani mangga di dua daerah sentra produksi
mangga (Pasuruan dan Probolinggo) kurang menerapkan teknologi budidaya
mangga. Terutama para petani yang menanam mangga di pekarangan dapat
dikatakan belum melakukan usaha kearah peningkatan teknologi budidaya, atau
boleh dikatakan melakukan budidaya apa adanya.


       6. Tingkat Kelayakan

       6.1. Aspek Agroekologi

       Tanaman mangga dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada
tempat-tempat     dengan     ketinggian 0-600 meter diatas permukaan laut,
sedangkan kondisi yang ideal adalah 0-300 m dpl. Syarat-syarat tumbuh (pola
hujan) untuk tanaman mangga sebagai berikut :
(1). Daerah-daerah yang kondisi iklimnya ditandai oleh bulan basah kurang dari
     9 bulan dan bulan kering minimal 2 bulan, daerah toleransinya adalah 7-8




                                                       Managemen Agribisnis
                                                                           19


     bulan basah dan 4-5 bulan kering . Kedalaman muka air tanahnya 50 cm
     atau lebih, sehingga tidak terjangkau oleh sistem perakaran .
(2). Daerah-daerah yang bulan basahnya 5-7 bulan dan bulan keringnya 4-6
     bulan, dengan kedalaman muka air tanah 50 cm sampai 150 cm.
(3). Daerah-daerah yang bulan basahnya kurang dari 5 bulan dan bulan
     keringnya 6 bulan, sampai yang bulan basahnya 2-4 bulan dan keringnya 8
     bulan, dengan kedalaman muka air tanahnya 50 cm sampai dengan 150
     cm di bawah permukaan.

      6.2. Prospek pengembangan Mangga

      Keberhasilan pengembangan mangga di Jawa Timur menghadapi
beberapa faktor:

        (a). Swa sembada pangan
        Pengembangan tanaman mangga haruslah diarahkan pada lahan kering
(pekarangan, tegalan, kebun campuran, dan lahan-lahan kritis). Arah kebijakan
ini dipertegas oleh Dinas Pertanian Cabang Kabupaten yang menggelarkan
"gerakan mangganisasi", yaitu menanam tanaman mangga pada setiap jengkal
lahan yang kosong.

        (b). Pengelolaan lahan kritis
        Lahan-lahan kritis di Jawa Timur sampai saat ini masih memer lukan
penanganan yang lebih serius, terutama yang berada di kawasan lahan usaha
milik penduduk. Kenyataan ini mendorong adanya kebijakan Pemerintah Daerah
untuk menggerakkan program penghijauan. Jenis tanaman unggulan yang
dianjurkan adalah mangga, karena tanaman ini disamping untuk tujuan
penghijauan sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

       (c). Respons petani
       Respon petani untuk menanam mangga pada lahan kering (pekarangan,
tegalan, kebuun, dan lahan-lahan terlantar) cukup besar. Untuk lebih membantu
respon penduduk ini pemerintah daerah telah mengarahkan bantuan
pembangunan desa untuk pengadaan bibit mangga yang baik.

        (d). Intensifikasi penggunaan lahan
        Intensitas penggunaan lahan kering masih sangat rendah yakni satu
sampai dua kali setahun (tanam yang kedua kadang-kadang berhasil dipanen
dan kadang-kadang gagal dipanen karena mengalami kekeringan). Pada musim
kemarau lahan-lahan seperti ini praktis tidak menghasilkan produk, sehingga
lazimnya dikategorikan sebagai lahan "Sleeping Land". Dengan demikian
penanaman mangga pada lahan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan
intensitas produktivitasnya.




                                                       Managemen Agribisnis
                                                                               20


Tabel 9. Keadaan Agro-Teknologi Budidaya Mangga di Kabupaten Pasuruan
          dan Probolinggo .

                                      Pasuruan              Probolinggo
                                   Home-      Gardens    Homeyards   Gardens
                                   yards
I. Bibit dan Pembibitan
    a. Asal bibit
      - Sendiri                   75.0 %     36.5 %     55 %          20%
      - Membeli                   25.0 %     63.5 %      45 %          80
    b. Cara Pembibitan
      - Biji                      55.0 %       0         15 %          -
      - Sambungan                 26.0 %     55.0        30 %          60%
      - Okulasi                   15.0 %      30.0       20 %          40
      - Cangkok                   4.0 %       15.0       35 %          -
    c. Jarak Tanam; m
      - Tak teratur               8x8         -          7x7           -
      - Teratur                   10 x 10    12 x 12    10 x 10      10 x 10
    d. Sistim Penanaman
      - Tumpangsari               100 %      75 %       85 %          50%
      - Monokultur                 -         25 %       15 %          50
II. Pemeliharaan
   a. Pemangkasan/
     Benalu                       55.55 % 40.75 %       50 %          80%
   b. Pemupukan                    11.00 % 55.00         20 %          90%
                                           %
   c. Pemberantasan
      hama penyakit                5.00 %    45.00 %     12 %         70%
   d. Penyiangan                  40.00 %    75.00%      20 %         80%
III. Jumlah rata-rata              4 pohon    60         3            40
     pohon setiap orang
         Sumber: Soemarno, dkk.   1992.


       (e). Peningkatan pendapatan petani
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman mangga membe rikan
sejumlah pendapatan keluarga. Kenyataan ini menunjukkan bahwa apabila
pengembangan mangga diarahkan pada lahan-lahan petani tersebut diharakan
dapat meningkatkan pendapatan petani.

       6.3. Aspek Sosio-teknologi

      Penguasaan agroteknologi mangga oleh penduduk pada umumnya
sudah menguasai syarat minimal, akan tetapi untuk menuju kepada usahatani




                                                          Managemen Agribisnis
                                                                          21


yang lebih intensif masih diperlukan tambahan informasi teknologi inovatif.
Teknologi bibit dan pembibitan, penanaman bibit dan perawatan tanaman, serta
fungsi pascapanen sederhana telah dikuasai penduduk.

      6.4. Ketersediaan sarana produksi

        Ketersediaan sarana produksi untuk pengembangan mangga yang
terpenting adalah bibit yang kualitasnya baik. Potensi bibit mangga di Jawa
Timur masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan permintaan pasar. Dalam
rangka penyediaan bibit mangga, peranan masyarakat dalam usahatani
pembibitan mangga dipandang perlu dilibatkan, karena usahataninya cukup
efisien dan meningkatkan pendapatan petani (Tabel 10).

      6.5. Aspek Finansial

        a. Tingkat profit
        Usahatani mangga apabila akan dikembangkan secara kormersial
dalam bentuk kebun mangga monokultur, terlebih dahulu perlu dievaluasi
keuntungannya. Perkiraan biaya investasi dan keuntungan iusahatani kebun
mangga monokultur disajikan dalam Tabel 11 dan 12.
        Ramalan produksi mangga dilakukan hingga umur ekonomi tanaman
mangga 30-35 tahun pada tingkat produktivitas medium. Hal ini dilakukan
dengan alasan untuk memperhitungkan faktor resiko dikarenakan adanya
mangga yang tidak bisa dipasarkan karena busuk, terlalu kecil, kecurian,
gangguan hama-penyakit dan lain-lain. Berdasarkan estimasi cash flow selama
30 tahun diperoleh informasi bahwa tanaman mangga baru mendatangkan
keuntungan setelah umur 5 tahun. Sedangkan apabila modalnya berasal dari
kredit akan dapat terlunasi pada tahun ke-10. Besarnya keuntungan mangga
pada "discount rate" 18 persen per tahun dengan "Net Present Value" (NPV)
sekitar Rp.4.000.000,- sedangkan besarnya "Internal Rate of Return" (IRR)
sekitar 32.5 persen. Dengan informasi ini dapat disimpulkan bahwa secara
finansial usahatani kebun mangga secara monokultur sangat menguntungkan.




Tabel 10 . Analisis Usaha pembibitan mangga dengan volume 1500 buah bibit
           mangga

Bahan :
a. Sewa Tanah 015 Ha                                   Rp. 150.000.-
b. Benih    2000 x Rp. 10                              Rp. 20.000.-
c. Pupuk I 10 Kg x Rp. 170.-                            Rp. 1.700.-
         II 30 Kg x Rp. 170.-                           Rp. 5.100.-




                                                      Managemen Agribisnis
                                                                               22


d. Tali Plastik                                          Rp. 1.000.-
e. Kranjang 2000 x Rp. 50.-                             Rp. 100.000.-
f. Entris   2000 x Rp. 15                               Rp. 30.000.-
                                                        Rp. 307.800.-
Tenaga_Kerja :
a. Pengolahan Tanah:
   - Bajak     10 HKSP x Rp. 2.000.-                     Rp.   20.000.-
   - Bedengan 17.5 HKSP x Rp. 2.000.-                    Rp.   35.000.-
b. Penanaman:
   - Ajir & tanam 125 HKSP x Rp.2.000                    Rp.   25.000.-
c. Pengairan:
   - Penyiraman 25 HKSP x Rp. 2.000.-                   Rp. 50.000.-
   - Pengairan 24 HKSP x Rp. 2.000.-                    Rp. 48.000.-
d. Penyiangan 18 HKSP x Rp. 2.000.-                     Rp. 36.000.-
e. Pemupukan        10 HKSP x Rp. 2.000.-               Rp. 20.000.-
f. Penyambungan 1500 x Rp. 100 .-                       Rp. 150.000.-
g. Pemanenan &
   pembungkusan 50 HKSP x Rp. 2.000.-                   Rp. 100.000.-
                         Total                          Rp. 484.000.-
Produksi : 1500 bibit x Rp. 1.250.-                     Rp. 1.875.000.-
Total biaya: Rp.307.800 + Rp. 484.000                   Rp. 791.800.-
Pendapatan :                                            Rp. 1.083.200.-
          Sumber: Soemarno dkk.,1993.


         7. Kebun Percobaan Mangga

         7.1. Pendahuluan

       Kebun percobaan tanaman mangga Cukur Gondang terletak di desa
Cukur Gondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Luas areal seluruhnya
kurang lebih 11 Ha. Jenis tanahnya termasuk komplek latosol dengan ketinggian
50 m di atas permukaan laut. Rataan curah hujan tahunan 1100 mm, dengan
suhu udara rata-rata 31 oC. Kedalaman air tanah dapat mencapai sekitar 1,5 m
di bawah permukaan tanah.

Tabel 11. Biaya Investasi Awal Untuk Usahatani Mangga di Probolinggo dan
         Pasuruan

Uraian                           Satuan        Volume             Nilai (Rp)
1. Sewa tanah                       Ha              1              200.000
2. Sarana pengairan                Buah             2              400.000
  (pembuatan sumur)




                                                        Managemen Agribisnis
                                                                           23


  (@ Rp. 200.000
3. Sarana produksi:
a. Bibit                         batang       175                218.750
b. Pengolahan tanah              HKSP          11                 22.000
c. Penanaman                    HKSP           20                 40.000
d. Pengairan                    HKSP            8                 16.000
e. Pupuk dan rabuk                unit         175                43.750
                               Sub Total                         340.500
 Total of initial invesment                                      940.500
      Sumber: N. Hanani dkk. 1992.


Tabel 12. Analisis Keuntungan Usahatani kebun mangga (untuk setiap Hektar
         kebun Mangga)

Keterangan                                             Keadaan
1. Umur mulai berproduksi                               4 tahun
2. Umur impas permodalan                                10 tahun
3. Net Present Value (NPV)
  dengan DF = 18 %                                Rp. 4.059.068
4. Internal Rate of Return (IRR)                     32.77 %
5. Nilai Break Event Point (BEP)
  a. Produksi                                   189 buah / pohon
  b. Harga                                       Rp. 24.4 / buah
         Sumber: Soemarno dkk, 1993.


        Tanaman uatamanya adalah mangga yang merupakan tanaman koleksi.
Pada umumnya tanaman ini sudah tua ( ditanam tahun 1941). Adapun tanaman
lainnya adalah koleksi pisang, tanaman pekarangan, tanaman buah-buahan
aneka warna. Koleksi mangga terdiri dari 197 jenis yang berasal dari Jawa
Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan luar negeri. Pada bulan juni 1981 yang
baru lalu ditambah 6 jenis mangga baru asal Pakistan.


                            PUSTAKA ACUAN


Afandi, S. 1991. Pengaruh Beberapa macam Media terhadap Pertumbuhan Tiga
       Varietas Batang Bawah Mangga dan Keberhasilan Sambungan Muda
       dengan Teknik Mini-Trees. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian,
       Faperta Unibraw, Malang.




                                                     Managemen Agribisnis
                                                                            24


Affandie, A. 1995. Abstraksi Agroteknologi Jeruk di Jawa Timur. Prosiding
       Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP
       Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw.

Aliudin. 1979. Masalah kerontokan buah pada mangga. Departemen Agronomi,
        Fakultas Pertanian, Unibraw.

Aravindakshan,M. dan J. Philip. 1980. Effect of varying doses of NPK on growth
       and vigour of mango during prebearing stage. South Indian Horticulture
       28(3): 94-97

Arifin, M.S. 1986. Studi tentang Penggunaan Zat Penghambat Pertumbuhan
        pada Buah Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya
        Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Astawa, I,N,G. 1986. Pengaruh beberapa Wadah Pembibitan dan Pemupukan
      Terhadap Pertumbuhan Berbagai Jenis Mangga Sebagai Bahan Batang
      Bawah. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw,
      Malang.

Budhi, D.D. 1988. Pengaruh Penyambungan terhadap Tingkat Keberhasilan dan
       Pertumbuhan Tiga Varietas Batang Bawah Mangga. Tesis S1, Jurusan
       Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Das, G.C. dan J. Panda. 1975. Study on the effect of B- nine (N-Dimethyl Amino
      Succinamic Acid) and Maleic Hydrazide on vegetative shoots of late
      occurrence in mango. Orissa Jour. of Hort. 4(1&2): 33-36.

Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan
       Makanan. Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Downey, W.D. dan S.P. Ericson. 1989. Management Agribisnis. Penerbit
     Erlangga, Jakarta.

FAO. 1978. A Framework for Land Evaluation. Soils Bulletin No. 32. Food
      and Agriculture Organization of The United Nations. Rome.

FAO. 1978. Agro-ecological Zone Project. Soil Resources Report No. 48. .

Hanani, N. 1991. Studi Kelayakan Pengembangan Komoditas komoditas
      andalan dalam Rangka Peningkatan Ekspor dan Agribisnis Hortikultura.
      Laporah Hasil Penelitian No Kontrak 351/P4M DPPM/BD XXI/1990.
      Fakultas Pertanian Unibraw.




                                                       Managemen Agribisnis
                                                                             25


Hanani, N., A. Affandie dan Soemarno. 1995. Deskripsi Sistem Agribisnis
      Mangga di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil
      Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94.
      Lembaga Penelitian Unibraw.

Hanani, N., R. Dwiastuti, Syafrial, S. Wijana, M. Dewani dan A. Affandie. 1991.
      Studi Pengembangan Agribisnis Mangga di Jawa Timur. Laporan Hasil
      Penelitian PHB I/1 DP-4M, Lembaga Penelitian Unibraw.

Handajani, S. 1979. Mencagah kerontokan buah mangga. Cabang Lembaga
      Penelitian Hortikultura, Malang.

Hussein, M.A., dan K.E. Youssef. 1973. Physico-chemical Parameter as An
      Index of Optimum Maturity in Egyptian Mango Fruit, Mangifera indicaL.
      Hort. Dept., Univ. of Assiut, Assiut, Egypt.

Idiyah, S. 1987. Studi Budidaya Tanaman Mangga (Mangifera     indica L.) di
        Balai Benih Induk Pohjentrek , Kebun Percobaan Kraton dan Kebun
        Percobaan Cukur-Gondang Pasuruan. Jurusan Budidaya Pertanian,
        Fakultas Pertanian, Unibraw, Malang.

Imam Syafii. 1995. Deskripsi Sistem Agribisnis Tanaman Melinjo di Magetan.
     Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka
     Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian
     Unibraw.

Ingdrawati, M.L.A. 1989. Pengaruh Penggunaan Berbagai Jenis Lokal yang
       Berpotensi Sebagai Batang Bawah terhadap Keberhasilan Sambungan
       dengan Batang Atas Mangga Gadung. Tesis S1, Jurusan Budidaya
       Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra dan R.G. Kartasapoetra. 1985.
       Management Pertanian (Agribisnis). Bina Aksara, Jakarta.

Kuntari, Y.B. 1989. Pengaruh Letak Sambungan dan Waktu Defoliasi Batang
       Atas Terhadap Keberhasilan Grafting pada Mangga Batang Bawah
       Varietas Madu. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw.

Kusumaningsih, D. 1990. Pengaruh Pemangkasan dan Pemberian Dormex
     terhadap Pemecahan Kuncup dan Pertumbuhan Tunas Lateral pada
     Bibit mangga Varietas Lokal. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian,
     Faperta Unibraw.

Kusumo, S. dan T. Suminto. 1971. Jenis-jenis Mangga yang Baik Untuk Buah
     Meja. Bulletin Tjahort. 5: 1-24.




                                                        Managemen Agribisnis
                                                                              26



Masyrofie dan Soemarno. 1995. Sistem Agribisnis Kenanga di Jawa Timur.
      Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka
      Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian
      Unibraw.

Mujiono. 1988. Pengaruh Cara Penyambungan terhadap Tingkat Keberhasilan
       dan Pertumbuhan Beberapa Varietas Batang Atas Mangga (Mangifera
       indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw,
       Malang.

Musrifah, S. 1991. Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh terhadap
       Pembibitan Buah Mangga (Mangifera indica L.). Tesis S1, Jurusan
       Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Notodimedjo, S. 1983. Pengantar Ilmu Hortikultura. Fakultas Pertanian.
      Universitas Brawijaya Malang.

Oetomo, T.K. 1987. Pengaruh Penggunaan Berbagai Dosis Herbisida
     Otyfluorfen Dalam Pengendalian Gulma dan Akibatnya terhadap
     Pertumbuhan Tanaman Mangga (Mangifera indica L.) Varietas Madu di
     Pesemaian. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw,
     Malang.

Patel, B.M. dan R.S. Amin. 1981. Investigation Into the      Best Period for Soft
        Wood Grafting of Mango in Situ South Indian Horticulture. 29(2):90-94.

PPA. 1988. Commodity Profiles, Pusat Pengembangan AGribisnis, Jakarta.

Purbiati, T., Widodo, dan A. Supriyanto. 1986. Pengaruh Media dan Saat
       Penyambungan pada Pembibitan Mangga Secara Cepat. Sub Balai
       Penelitian Hortikultura, Malang. Hortikultura No. 21: 84-92.

Purushatham, K. dan B. Narasimhan. 1981. Depletion of Soil Moisture by
      Young Mango Trees With and Without Irrigation.     South Indian
      Horticulture 29(1):68-69.

Purwati, S. 1987. Budidaya Tanaman Mangga dan Permasalahannya di
       Kabupaten Pasuruan. Laporan Praktek Kerja Lapang, Jurusan Budidaya
       Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.

Rachim, F. 1988. Pengaruh KNO3 pada Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif
      mangga Varietas Gadung, Golek, dan Kopyor. Tesis S1, Jurusan
      Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw, Malang.




                                                          Managemen Agribisnis
                                                                              27


Rao, V.N.V., J.B.M.M.A. Khader. 1980. Effect of Pruning     and Thinning of
      Young Shoot Clusters of Mango Vari        eties. Indian Food Packer.
      34(3):60-63.

Rini Dwiastuti. 1995. Abstraksi Sistem Agribisnis Rambutan di Jawa Timur.
      Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka
      Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian
      Unibraw.

Ryall, A.L. dan W.J. Lipton. 1983. Handling, Transportation and Storage of Fruits
        and Vegetables. Volume I. AVI Publishing Company, Inc. Westport,
        Connecticut.

Santoso, R.D. 1987. Keberhasilan Umur Penyambungan Muda beberapa
      Varietas Batang Bawah dan Batang Atas Tanaman Mangga (Mangifera
      indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta Unibraw,
      Malang.

Sentra, I.W. 1988. Pengelolaan Kebun bibit buah-buahan Bank Indonesia,
       Pasuruan. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Unibraw,
       Malang.

Simon B.W. dan Soemarno. 1995. Sistem Agribisnis Pisang di Jawa Timur.
      Prosiding Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka
      Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian
      Unibraw.

Soemarno, N. Hanani, W. Susinggih, dan M. Dewani. 1993. Penelitian
     Pengembangan Agroindustri Buah-buahan di Jawa Timur. Kerjasama
     antara Bappeda Tk I Jawa Timur dan Pusat Penelitian Universitas
     Brawijaya, Malang.

Soemarno, K. Sukesi, B. Setiawan. L. Agustina, B.S. Suprih, dan Sudarto. 1995.
     Identifikasi Potensi Komoditas Andalan Berdasarkan Agribisnis.
     Kerjasama P2LK Pusat dengan Fakultas Pertanian Unibraw.

Soemarno dan Iksan Semaoen. 1995. Model Pengentasan Kemiskinan di
     Wilayah Pedesaan. Prosiding Lokakarya Review Hasil- hasil Penelitian
     dalam Rangka Implementasi PIP Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga
     Penelitian Unibraw.

Soemarno. 1991. Model Pewilayahan Komoditi Pertanian yang Berwawasan
     Lingkungan. Makalah disampaikan dalam Seminar Ilmiah Tanggal 12
     Juni 1991 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.




                                                          Managemen Agribisnis
                                                                        28


Soemarno. 1995. Konsep Sistem Agribisnis Komoditi Unggulan. Prosiding
     Lokakarya Review Hasil-hasil Penelitian dalam Rangka Implementasi PIP
     Unibraw 1990/91- 1993/94. Lembaga Penelitian Unibraw.

SP2UK-PPLK. Jatim. 1991. Petunjuk Teknis Budidaya dan Konservasi Lahan
     Kering. SP2UK-PPLK Jawa Timur, Malang.

Suhadak, E. 1988. Pengaruh Zat Antioksida pada Kultur kalus Tanaman Mangga
      (Mangfera indica L.). Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian, Faperta
      Unibraw, Malang.

Sukindar. 1991. Observasi tanaman mangga (Mangifera indica L.) di Kebun
      Percobaan Cukur Gondang, Pasuruan. Departemen Agronomi, Fakultas
      Pertanian, Unibraw, Malang.

Sumarno, S.Z. Nurchasanah dan H. Danoesastro. 1981. Usaha Mempercepat
      Perakaran "Turus Daun" Apel dan Mangga Dengan IBA. Fakultas
      Pertanian, Universitas Gajahmada, Yogyakarta.

Sumiatun. 1989. Pengaruh Pemberian Zat Pengatur Tumbuh terhadap
      Pembentukan Buah Mangga. Tesis S1, Jurusan Budidaya Pertanian,
      Faperta Unibraw, Malang.

Sunaryono, H.    1981.  Pengenalan Jenis Tanaman Buah- Buahan dan
      Bercocok Tanam Buah-Buahan Penting di Indonesia. Penerbit Sinar
      Baru. Bandung.

Tan Bock Thiam dan Shao-Er Ong. 1979. Readings in Asian Farm Manage-
      ment. Singapore University Press.


                           KATA PENGANTAR


       Dengan memanjatkan puji sykur kehadirat Allah swt, atas segala
karuniaNya, makalah yang berjudul " MANAGEMEN AGRIBISNIS: Orgasnisasi
dan Managemen Sumberdaya Manusia" ini dapat disusun . Makalah ini
menyajikan pokok-pokok pikiran mengenai keterkaitan pengembangan
managemen agribisnis yang diabstraksikan dari berbagai referensi.

        Makalah ini disajikan sebagai salah satu materi dalam Penataran
Agribisnis bagi Kepala Bidang Pertanian Umum Kanwil Pertanian pada tanggal
30 s/d 3 Oktober 1996 di Surabaya. Diharapkan makalah ini dapat memberikan
gambaran kepada para peserta tentang pentingnya program pembangunan
agribisnis .




                                                     Managemen Agribisnis
                                                                    29



       Dengan telah selesainya makalah ini, maka perkenankanlah kami
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua rekan yang
telah membantu.




                               Malang, SEPTEMBER 1996

                                    Penulis.




                               DAFTAR ISI




No                      Teks                       Halaman


     KATA PENGANTAR

     DAFTAR ISI

     PENDAHULUAN                                          1

     PENDEKATAN DAN ORIENTASI AGRIBIS-NIS                 2

     ANALISIS PEWILAYAHAN KOMODITAS                       3




                                                  Managemen Agribisnis
                                                            30



STRATEGI   PENANGANAN    SISTEM   AGRI-           4
KOMAN

MANAJEMEN   SUMBERDAYA    DAN     ORGA-           7
NISASI

DESKRIPSI PROFIL SISTEM AGRIBISNIS               12
KOMODITAS MANGGA DI JAWA TIMUR

PUSTAKA ACUAN                                    25




                                          Managemen Agribisnis

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2
posted:2/12/2013
language:Unknown
pages:31