PRILAKU KONSUMSI ISLAMI by M537WQ

VIEWS: 0 PAGES: 18

									                             PRILAKU KONSUMSI ISLAMI1
                                OLEH : NURUL HUDA2



PENDAHULUAN

         Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri manusia. Sejak
kecil, bahkan ketika baru lahir, manusia sudah menyatakan keinginan untuk memenuhi
kebutuhannya dengan berbagai cara, misalnya dengan menangis untuk menunjukkan
bahwa seorang bayi lapar dan ingin minum susu dari ibunya. Semakin besar dan akhirnya
dewasa, keinginan dan kebutuhan seorang manusia akan terus meningkat dan mencapai
puncaknya pada usia tertentu untuk seterusnya menurun hingga seseorang meninggal
dunia.
         Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia
memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya
(resources) yang dimilikinya.
         Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari
pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan
bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui                      apa yang baik untuk
kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri. Dengan demikian pembatasan terhadap
kebebasan individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan
harus ada alasan kuat untuk melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam
buku On Liberty yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan
konsep ‘freedom of action’ sebagai pernyataan dari kebebasan-kebebasan dasar manusia.
Menurut Mill, campur tangan negara di dalam masyarakat manapun harus diusahakan
seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan
campir tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus
dihentikan.
         Lebih jauh Mill berpendapat bahwa setiap orang di dalam masyarakat harus bebas
untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri, namun kebebasan

1
  Makalah disampaikan dalam diskusi bulanan Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi tanggal 6 Nopember
2006
2
  Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Yarsi
seseorang untuk bertindak itu dibatasi oleh kebebasan orang lain; artinya kebebasan
untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain.
      Dasar filosofis tersebut melatarbelakangi analisa mengenai perilaku konsumen
dalam teori ekonomi konvensional. Beberapa prinsip dasar dalam analisa perilaku
konsumen adalah:
1.   Kelangkaan dan terbatasnya pendapatan. Adanya kelangkaan dan terbatasnya
     pendapatan memaksa orang menentukan pilihan. Agar pengeluaran senantiasa
     berada di anggaran yang sudah ditetapkan, meningkatkan konsumsi suatu barang
     atau jasa harus disertai dengan pengurangan konsumsi pada barang atau jasa yang
     lain.
2.   Konsumen mampu membandingkan biaya dengan manfaat. Jika dua barang
     memberi manfaat yang sama, konsumen akan memilih yang biayanya lebih kecil.
     Di sisi lain, bila untuk memperoleh dua jenis barang dibutuhkan biaya yang sama,
     maka konsumen akan memilih barang yang memberi manfaat lebih besar.
3.   Tidak selamanya konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat. Saat
     membeli suatu barang, bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga
     yang harus dibayarkan: segelas kopi Starsbuck, misalnya, ternyata terlalu pahit
     untuk harga Rp. 40.000,- per cangkir. Lebih nikmat kopi tubruk di warung kopi
     yang Rp. 3.000,- per gelasnya. Pengalaman tersebut akan menjadi informasi bagi
     konsumen yang akan mempengaruhi keputusan konsumsinya mengenai kopi di
     masa yang akan datang.
4.   Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain. Dengan demikian konsumen
     dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara.
5.   Konsumen tunduk kepada hukum Berkurangnya Tambahan Kepuasan (the Law of
     Diminishing Marginal Utility). Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi,
     semakin kecil tambahan kepuasan yang dihasilkan. Jika untuk setiap tambahan
     barang diperlukan biaya sebesar harga barang tersebut (P), maka konsumen akan
     berhenti membeli barang tersebut manakala tambahan manfaat yang diperolehnya
     (MU) sama besar dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan. Maka jumlah
     konsumsi yang optimal adalah jumlah di mana MU = P.
     Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki
perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyagkut nilai
dasar yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan
alokasi anggaran untuk berkonsumsi.
Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim :

1.   Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan
     seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia.
     Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi
     untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di
     akherat), sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption.

2.   Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama
     Islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas
     semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan
     kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat
     dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan
     diri dari kejahatan.

3.   Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan
     sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan).       Harta
     merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan
     dengan benar.(QS.2.265)

265. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari
keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di
dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua
kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan
Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

PERMASALAHAN

       Tulisan ini akan membahas lebih jauh tentang bagaimana konsep teori prilaku
konsumen dalam pendekatan ekonomi mikro Islam
PEMBAHASAN

Prinsip Konsumsi Dalam Islam

Menurut Manan, ada 5 prinsip konsumsi dalam islam :
1. Prinsip Keadilan, prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang
   halal dan tidak dilarang hukum. Firman Allah dalam QS : Al-Baqarah : 173


   173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging
   babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. tetapi
   barangsiapa    dalam   keadaan    terpaksa     (memakannya)     sedang    dia   tidak
   menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya.
   Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
   [108]    Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang
   menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
   Pelarangan dilakukan karena berkaitan dengan hewan yang dimaksud berbahaya bagi
   tubuh dan tentunya berbahaya bagi jiwa , terkait dengan moral dan spritual
   (Mempersekutukan tuhan)
2. Prinsip Kebersihan, makanan harus baik dan cocok untuk dimakan, tidak kotor
   ataupun menjijikkan sehingga merusak selera.
3. Prinsip Kesederhanaan, prinsip ini mengatur perilaku manusia mengenai makan dan
   minuman yang tidak berlebihan Firman Allah dalam QS : Al-A’raaf :31
   31.     Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
   mesjid[534],   makan    dan   minumlah,      dan   janganlah   berlebih-lebihan[535].
   Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
   [534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling
   ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
   [535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan
   jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

4. Prinsip kemurahan hati, dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun
   dosa ketika kita memakan dan meminum makanan halal yang disediakan Tuhannya.
   Firman Allah dalam QS : Al-Maidah : 96
   96.   Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari
   laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam
   perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu
   dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan
   dikumpulkan.
   [442] Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti
   mengail, memukat dan sebagainya. termasuk juga dalam pengertian laut disini ialah:
   sungai, danau, kolam dan sebagainya.
   [443] Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, Karena
   Telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya.


5. Prinsip moralitas, seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum
   makan dan menyatakan terima kasih kepadanya setelah makan


Konsep Maslahah Dalam Prilaku Konsumen Islami
         Syariah   Islam    menginginkan       manusia     mencapai      dan    memelihara
kesejahteraannya. Imam Shatibi menggunakan istilah ‘maslahah’, yang maknanya lebih
luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional.
Maslahah merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama.
         Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa
yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi
ini (Khan dan Ghifari, 1992). Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan
atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-
aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung
tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah
yang disebut maslahah. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi, konsumsi dan
pertukaran hyang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu
‘religious duty‘ atau ibadah. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga
kesejahteraan di akhirat. Semua aktivitas tersebut, yang memiliki maslahah bagi umat
manusia, disebut ‘needs’ atau kebutuhan. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi.
       Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah
tujuan dari aktivitas ekonomi Islami, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu
kewajiban dalam beragama.
Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut:
   -   Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi
       masing-masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu
       maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria
       maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua
       individu. Misalnya, bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi
       maslahah bagi diri dan usahanya, namun syariah telah menetapkan keharaman
       bunga bank, maka penilaian individu tersebut menjadi gugur.
   -   Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak.
       Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan
       optimal di mana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau
       kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan
       orang lain.
   -   Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu
       produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi.
       Berdasarkan kelima elemen di atas,maslahah dapat dibagi dua jenis: pertama,
maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, dan
kedua: maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat.
   Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan:
   •   Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis
       pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua.
   •   Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian
       pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan
       dunia (dalam rangka mencapai ‘kepuasan’ di akhirat) dan berapa bagian untuk
       kebutuhan akhirat.
       Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk
hal-hal yang menyangkut akhirat, akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada non-
muslim. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. Tidak semua
barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya,
sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam
membandingkan konsep ‘kepuasan’ dengan ‘pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung
di dalamnya maslahah), kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum
syara’ yakni antara daruriyyah, tahsiniyyah dan hajiyyah. Penjelasan dari masing-masing
tingkatan itu sebagai berikut:


Daruriyyah : Tujuan daruriyyah merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi
penciptaan kesejahteraan di dunia dan akhirat, yaitu mencakup terpeliharanya lima
elemen dasar kehidupan yakni jiwa, keyakinan atau agama, akal/intelektual, keturunan
dan keluarga serta harta benda. Jika tujuan daruriyyah diabaikan, maka tidak akan ada
kedamaian, yang timbul adalah kerusakan (fasad) di dunia dan kerugian yang nyata di
akhirat.


Hajiyyah : Syari’ah bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan.
Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok
tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati-hati terhadap lima hal pokok
tersebut.


Tahsiniyyah : syariah menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman di dalamnya.
Terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai
pemanfaatan yang lebih baik, keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah.
Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah.


Dari paparan di atas, lalu bagaimana sesungguhnya aplikasi teori perilaku konsumen
Islami? Marilah kita cermati nasihat sahabat Abu Bakar as-Shidiq: “Sesungguhnya aku
membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk
beberapa hari, dalam satu hari saja.” Kalau nasihat itu datang dari seorang yang miskin,
kita boleh saja mengabaikannya. Lain halnya bila nasihat itu datang dari seorang sekaya
Abu Bakar.
Bagi sahabat Mu’awiyah, kuncinya adalah bagaimana kita mengatur anggaran
pendapatan dan belanja rumah tangga. “Pengaturan belanja yang baik itu merupakan
setengah usaha, dan dia dianggap sebagai setengah mata pencaharian,” katanya. Lalu
bagaimana seorang muslim mengatur anggaran rumah tangganya? Islam, sebagaimana
kita telah mengetahui, menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik.
Islam juga memerintahkan agar harta dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat.
Pada intinya bila umat Islam dalam mencari harta sampai kemudian membelanjakannya
tetap berpedoman bahwa itu semua merupakan bagian dari ibadah, insyaAllah tidak akan
terjerumus pada pembelanjaan yang ditujukan untuk keburukan yang bisa membawa
keluarga itu pada kemaksiatan.
      Disadari atau tidak sesungguhnya pola konsumsi dan gaya hidup kita cenderung
merugikan diri sendiri. Dimulai dari pemenuhan kebutuhan pokok (primer) seperti
makan, minum, sandang dan papan, keseluruhannya mengandung bahan-bahan yang
harus diimpor dengan mengabaikan sumber-sumber yang sesungguhnya dapat dipenuhi
dari dalam negeri. Banyak barang-barang tertentu yang semestinya belum layak
dikonsumsi oleh bangsa ini, telah diperkenalkan dan kemudian menjadi mode yang ditiru
sehingga meningkatkan impor akan barang tersebut. Ini belum ditambah dengan barang-
barang mewah yang beredar mulai dari alat-alat kecantikan sampai kepada mobil-mobil
mewah. Padahal pola hidup seperti ini hanya akan memperburuk neraca transaksi
berjalan karena meningkatkan impor barang tersebut sehingga menguras devisa dan pada
gilirannya akan menekan nilai tukar mata uang dalam negeri.
      Islam memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan konsep israf
(berlebih-lebih) dalam membelanjakan harta dan tabzir. Islam memperingatkan agen
ekonomi agar jangan sampai terlena dalam berlomba-lomba mencari harta (at-takaatsur).
Islam membentuk jiwa dan pribadi yang beriman, bertaqwa, bersyukur dan menerima.
Pola hidup konsumtivme seperti di atas tidak pantas dan tidak selayaknya dilakukan oleh
pribadi yang beriman dan bertaqwa. Satu-satunya gaya hidup yang cocok adalah simple
living ( hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i.
       Islam mengajarkan kepada kita agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih
mengutamakan kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Setidaknya
terdapat tiga kebutuhan pokok:
        Pertama adalah kebutuhan primer, yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang
dapat mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa, akal, agama,keturunan
dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia tidak akan berlangsung.
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa
aman, pengetahuan dan pernikahan.
        Kedua, kebutuhan sekunder, yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan
kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum
kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan inipun masih berkaitan dengan lima tujuan
syariat itu tadi.
        Ketiga adalah kebutuhan pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan
kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini
tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder serta, sekali lagi,
berkaitan dengan lima tujuan syariat.
        Untuk mewujudkan lima tujuan syariat ini, ibu rumah tangga yang umumnya
merupakan manajer rumah tangga, mesti disiplin dalam menepati skala prioritas
kebutuhan tadi, sesuai dengan pendapatan yang diperoleh suaminya.
        Meski satu rumah tangga sudah mampu memenuhi sampai kebutuhan ketiga atau
pelengkap, Islam tetap tidak menganjurkan, bahkan mengharamkan pengeluaran yang
berlebih-lebihan dan terkesan mewah, karena dapat mendatangkan kerusakan dan
kebinasaan. Allah berfirman dalam .” (QS al-Israa ayat 16):


16. Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka
melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya
perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
        Untuk mencegah agar kita tidak terlanjur ke gaya hidup mewah, Islam
mengharamkan segala pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat, baik manfaat
material maupun spiritual. Apalagi melakukan pembelanjaan untuk barang-barang yang
bukan hanya tidak bermanfaat tetapi juga dibenci Allah, seperti: minuman alkohol,
narkoba, dan barang haram lainnya. Juga pembelian yang mengarah pada perbuatan
bid’ah dan kebiasaan buruk.
        Namun itu semua tidak berarti membuat kita menjadi kikir. Islam mengajarkan
kepada kita sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta, tidak berlebihan dan tidak pula
kikir. Sikap berlebihan akan merusak jiwa, harta dan masyarakat. Sementara kikir adalah
satu sikap hidup yang dapat menahan dan membekukan harta. Dalam QS al-Furqaan ayat
67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Atau dalam QS al-israa ayat 29:
29.   Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah
kamu terlalu mengulurkannya[852] Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.
        Sesungguhnya bukan hanya individu yang akan menghadapi pilihan sulit seperti
ini. Masyarakat atau negara juga sering harus menghadapi pilihan-pilihan yang tidak
mudah. Pemerintah kita misalnya menghadapi pilhan sulit antara membangun
infrastruktur untuk merangsang investasi, atau membangun pendidikan yang baik demi
dihasilkannya SDM yang berkualitas. Untuk itu diperlukan satu pilihan yang sangat bijak
agar kedua hal tersebut bisa dicapai secara optimal.
        Sesungguhnya pembagian Allah atas rizki hambaNya telah ditentukan batasan,
kadar dan jenisnya. Allah mengetahui kemampuan seorang hamba di dalam
membelanjakan dan men-tasaruffkan-kan rizki yang telah diberikan tanpa adanya sikap
melampaui batas dan tindak keborosan. Allah mengetahui seberapa jauh kemampuan
hambaNya untuk mengelola rizki dan kekayaan yang telah diberikan tanpa melanggar
batas-batas yang telah ditentukan (Quthb, 1939 dalam Marthon, 2004). Allah berfirman
dalam (QS Al Baqarah ayat 155).


155. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar.


Ujian dan cobaan Allah yang sangat beragam itu, tak lain merupakan ujian keimanan dan
kesabaran seorang hamba. Sebagai dalam ayat di atas, salah satu ujian itu bisa berupa
adanya rasa lapar, dan kekurangan atas bahan makanan pokok. Sesungguhnya kehadiran
manusia di muka bumi hanyalah sekadar mewujudkan kehendak Tuhan (masyiah
Rabbaniyah). Sayyid Qutbh dalam Saad Marthon, menjelaskan: “Masyiah Rabbaniyah
adalah totalitas keinginan seorang hamba untuk pasrah dan menyerahkan seluruh jiwa
dan raga terhadap keinginan dan ketentuan Tuhan dalam segala aspek kehidupan, baik
dalam proses pembuatan barang, penelitian dan analisis kehidupan sosial, proses untuk
memberdayakan hasil bumi dan wewenang mengolah serta memakmurkan bumi yang
telah dititipkan Allah kepada manusia”.
       Adanya kelangkaan satu barang tidak hanya menghadirkan ujian keimanan dan
kesabaran seorang manusia. Kelangkaan barang juga akan menuntut seorang hamba
untuk kreatif dalam menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan hidup
sekaligus mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya. Satu contoh bagaimana
manusia mengatasi kelangkaan sumber energi yang dalam beberapa puluh tahun ke depan
diperkirakan habis. Banyak penelitian dilakukan untuk menghasilkan sumber energi
alternatif. Begitulah, seorang manusia akan lebih terdorong untuk memakmurkan
kehidupan masyarakat jika menemukan kesulitan dalam kehidupan ekonomi.


Kebutuhan Dan Keinginan
Sebagaimana kita pahami dalam pengertian ilmu ekonomi konvensional, bahwa ilmu
ekonomi    pada dasarnya mempelajari upaya manusia baik sebagai individu maupun
masyarakat dalam rangka melakukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas
guna memenuhi kebutuhan (yang pada dasarnya tidak terbatas) akan barang dan jasa.
Kelangkaan akan barang dan jasa timbul bila kebutuhan (keinginan) seseorang atau
masyarakat ternyata lebih besar daripada tersedianya barang dan jasa tersebut. Jadi
kelangkaan ini muncul apabila tidak cukup barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginan tersebut.
       Ilmu ekonomi konvensional tampaknya tidak membedakan antara kebutuhan dan
keinginan. Karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi, yakni
kelangkaan. Dalam kaitan ini, Imam al-Ghazali tampaknya telah membedakan dengan
jelas antara keinginan (raghbah dan syahwat) dan kebutuhan (hajat), sesuatu yang
tampaknya agak sepele tetapi memiliki konsekuensi yang amat besar dalam ilmu
ekonomi. Dari pemilahan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs), akan sangat
terlihat betapa bedanya ilmu ekonomi Islam dengan ilmu ekonomi konvensional.
       Menurut Imam al-Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk
mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan
hidupnya dan menjalankan fungsinya. Kita melihat misalnya dalam hal kebutuhan akan
makanan dan pakaian. Kebutuhan makanan adalah untuk menolak kelaparan dan
melangsungkan kehidupan, kebutuhan pakaian untuk menolak panas dan dingin. Pada
tahapan ini mungkin tidak bisa dibedakan antara keinginan (syahwat) dan kebutuhan
(hajat) dan terjadi persamaan umum antara homo economicus dan homo Islamicus.
Namun manusia harus mengetahui bahwa tujuan utama diciptakannya nafsu ingin makan
adalah untuk menggerakkannya mencari makanan dalam rangka menutup kelaparan,
sehingga fisik manusia tetap sehat dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal
sebagai hamba Allah yang beribadah kepadaNya. Di sinilah letak perbedaan mendasar
antara filosofi yang melandasi teori permintaan Islami dan konvensional. Islam selalu
mengaitkan kegiatan memenuhi kebutuhan dengan tujuan utama manusia diciptakan.
Manakala manusia lupa pada tujuan penciptaannya, maka esensinya pada saat itu tidak
berbeda dengan binatang ternak yang makan karena lapar saja.
       Anehnya, ilmu ekonomi konvensional tidak terlalu merisaukan adanya perbedaan
ini. Mereka tetap berpendirian bahwa kebutuhan adalah keinginan dan sebaliknya.
Padahal konsekuensi dari penyamaan ini berakibat pada terkurasnya sumber-sumber daya
alam secara membabi buta dan menciptakan ketidakseimbangan ekologi yang gawat.
Maka tidak heran jika sekarang terjadi bermacam-macam bencana alam yang mengerikan
disebabkan karena doktrin keinginan sama dengan kebutuhan.
       Lebih jauh Imam al-Ghazali menekankan pentingnya niat dalam melakukan
konsumsi sehingga tidak kosong dari makna dan steril. Konsumsi dilakukan dalam
rangka beribadah kepada Allah SWT. Di sini tampak pula pandangan integral beliau
tentang falsafah hidup seorang Muslim. Pandangan ini tentu sangat berbeda dari dimensi
yang melekat pada konsep konsumsi konvensional. Pandangan konvensional yang
materialis melihat bahwa konsumsi merupakan fungsi dari keinginan, nafsu, harga
barang, pendapatan dan lain-lain tanpa mempedulikan pada dimensi spiritual karena hal
itu dianggapnya berada di luar wilayah otoritas ilmu ekonomi. Tidak ada yang dapat
menghalangi perilaku homo economicus kecuali kemampuan dananya. Tidak ada
perasaan apakah konsumsi sekarang akan berpengaruh kepada masa depan dirinya sendiri
(misalnya mengkonsumsi alkohol dan merokok), masa depan umat manusia ( misalnya,
menguras minyak bumi, menebangi hutan, proses industri yang menimbulkan polusi
udara dan air) apalagi masa depan kelak di akhirat.
       Pembahasan tentang tingkatan-tingkatan pemenuhan kebutuhan manusia (hajaat)
telah menarik perhatian para ulama di sepanjang zaman. Di antara mereka ada yang lebih
menonjol dari yang lain dan secara khusus membahasanya dalam karya-karya ilmiahnya
seperti Imam al-Juwaini (w. 478 H) dalam kitabnya al-Burhan fi Usul al-Fiqh, Imam al-
Ghozali dalam al-Mustasfa dan Ihya, al-Izz bin Abdus Salam (w. 660 H) dalam Qowaid
al-Ahkam fi Masolih al-Anam, Imam as-Syatibi (w. 790 H) dalam al-Muwafaqot dan Ibnu
Khaldun (w. 808 H) dalam Muqoddimah. Penyusunan tingkatan konsumsi ini menjadi
menarik karena Islam memberikan norma-norma dan batasan-batasan (constraints) pada
individu dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Norma dan batasan ini pada
gilirannya akan membentuk gaya hidup ( life style)        dan pola perilaku konsumsi (
patterns of consumption behaviour) tertentu yang secara lahiriah akan membedakannya
dari gaya hidup yang tidak diilhami oleh ruh ajaran Islami.
       Dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumiddin Imam al-Ghazali membagi tiga
tingkatan konsumsi yaitu sadd ar-Ramq dan ini disebut juga had ad-dhorurah, had al-
hajah dan yang tertinggi adalah had at-tana’um.
       Yang dimaksud dengan had ar-ramq atau batasan darurat adalah tingkatan
konsumsi yang paling rendah dan bila manusia berada dalam kondisi ini, ia hanya
mampu bertahan hidup dengan penuh kelemahan dan kesusahan. Imam al-Ghazali sendiri
menolak gaya hidup seperti ini karena individu tidak akan mampu melaksanakan
kewajiban agama dengan baik dan akan meruntuhkan sendi-sendi keduniaan yang pada
gilirannya juga akan meruntuhkan agama karena dunia adalah ladang akhirat (ad-Dunya
Mazro’ah al-akhirah).
       Tingkatan tana’um digambarkan bahwa individu pada tahapan ini melakukan
konsumsi tidak hanya didorong oleh usaha memenuhi kebutuhannya an sich, tetapi juga
bertujuan untuk bersenang-senang dan bernikma-nikmat. Menurut Imam al-Ghazali gaya
hidup bersenang-senang ini tidak cocok bagi seorang mukmin yang tujuan hidupnya
untuk mencapai derajat tertinggi dalam ibadah dan ketaatan. Kendatipun begitu, gaya
hidup demikian tidak seluruhnya haram. Sebagian dihalalkan, yaitu ketika individu
menikmatinya dalam kerangka menghadapi nasib di akhirat, walaupun untuk itu, ia tetap
akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Barangkali keadaan ini dapat lebih
ditegaskan bahwa meninggalkan had tana’um tidak diwajibkan secara keseluruhan begitu
juga menikmatinya tidak dilarang semuanya.
        Antara had ad-dhorurah dengan tana’um terdapat area yang sangat luas disebut
had al-hajah di mana keseluruhannya halal dan mubah. Menurut al-Ghazali area ini
memiliki dua ujung batasan yang berbeda yaitu ujung yang berdekatan dengan perbatasan
dharurah dan ini dinilainya tidak mungkin dipertahankan karena akan menimbulkan
kelemahan dan kesengsaraan dan ujung yang lain berbatasan dengan tana’um di mana
individu yang berada di sini dianjurkan untuk ekstra waspada. Hal ini disebabkan karena
ujung perbatasan ini dapat menjerumuskannya ke dalam hal-hal yang membuatnya
terlena secara tidak sadar dan akhirnya melalaikan tugasnya dalam beribadah kepada
Allah. Beliau menasihati kita agar sedapat mungkin menetap di had al-hajah dengan
sedekat mungkin mendekati had ad-dharurah dalam rangka meneladani para Nabi dan
Wali.
        Kajian al-Ghazali tentang tingkatan konsumsi ini banyak bersentuhan dengan apa
yang telah dikemukakan oleh Imam al-Juwaini dan itu adalah wajar karena Imam al-
Haromain adalah salah satu gurunya dan al-Ghazali banyak belajar dan mengambil ilmu
dari padanya. Di samping itu kategorisasinya juga banyak persamaannya dengan para
ulama sesudahnya seperti     al-Izz bin Abdus Salam, as-Syatibi dan Ibnu Khaldun.
Umumnya mereka membagi tiga kategori pemenuhan kebutuhan, hanya ada sedikit
perbedaan dalam penggunaan bahasa. Para ekonom Muslim lebih menyukai istilah dan
kategorisasi yang dikembangkan oleh Imam as-Syatibi dalam al-Muwafaqot yaitu
dhoruriyah, hajiyah dan tahsiniyah (kamaliyyah). Sekalipun demikian, belakangan Imam
Suyuthi ( w.911 H ) dalam al-Asybah wan Nazhoir menulis lima tingkatan yaitu
dhorurah, hajah, manfa’ah, ziinah, dan fudhul.


Preferensi Konsumsi
       Preferensi konsumsi dan pemenuhannya dapat di dipetakan/ mapping sebagai
berikut:
1. Utamakan Akhirat dari pada dunia
   Pada tataran dasar konsumsi dilakukan bersifat duniawi (CW) dan bersifat Ibadah (Ci)

   Keduanya bukan subtitusi yang sempurna karena perbedaan ekstrim. Ibadah lebih

   bernilai tinggi karena orientasinya pada meraih falah yaitu pahala dari Allah swt.

               Dalam Al-Qur’an & hadits konsumsi duniawi adalah untuk masa sekarang
               (present consumption) sedangkan untuk konsumsi ibadah untuk masa depan
               (future consumption), semakin besar konsumsi akhirat / ibadah semakin besar
               menuju falah begitu juga sebaliknya .


           F                           terdapat hubungan positif antara pencapaian tujuan
                                        Falah dengankebutuhan konsumsi ibadah.
                                        Semakin tinggi ujuan falah semakin di tuntut tinggi
                                         Konsumsi kebutuhan ibadah




                                                CI




       F
                                          Terdapat hubungan negatif antara pencapaian
                                          Tujuan falah dg kebutuhan konsumsi duniawi.
                                           Semakin tinggi tujuan falah yg akan dicapai,
                                           Semakin dituntut untuk kurangi konsumsi ke
                                            Butuhan dunia

                                        CW
Seorang muslim yang rasional yaitu yang beriman          semestinya anggaran konsumsi
ibadahnya harus lebih banyak dibandingkan anggaran konsumsi duniawinya. . Karena
dengan maksimumkan falah adalah tujuannya.
     Sebaliknya dengan semakin tidak rasional, maka semakin kufur sehingga semakin
besar anggaran konsumsinya untuk duniawi, yang pada akhirnya menjauhkan dari
menuju target falah.
Hubungan keimanan dengan pola Budget Line


Ci
                 (a). Semakin rasional (beriman) seorang muslim maka budget line-nya
                     akan semakin condong vertical (inelastis)




                                     Cw

Ci


                           (a). Semakin tidak rasional ( kufur) seorang muslim, maka
                               budget line-nya akan semakin condong horizontal (elastis)




                                                   Cw

2. Konsisten dalam prioritas pemenuhannya
     Ulama telah membagi prioritas pemenuhan kebutuhan dalam tiga bagian:

         a. Daruriyyah, yaitu kebutuhan tingkat dasar atau kebutuhan primer
         b.   Hajjiyah , yaitu kebutuhan pelengkap/ penunjang atau sekunder
       c. Tahsiniyyah, yaitu kebutuhan akan kemewahan atau kebutuhan tersier


3. Memperhatikan etika dan norma
  Islam memiliki seperangkat etika dan norma dalam berkonsumsi. Diantaranya:

  kesederhanaan, keadilan, kebersihan, halalan toyyiban, keseimbangan dan lain-lain.



KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan maka beberapa hal yang dapat disimpulkan
1. Ada lima prinsip konsumsi dalam Islam menurut Manan yaitu : prinsip
   keadilan,kebersihan, kesederhanaan , kemurahan hati dan moralitas
2. Maslahah mempunyai makna yang lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan
   dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara’
   yang paling utama.
3. Kebutuhan dan keinginan merupakan sesuatu yang berbeda, menurut Imam al-
   Ghazali kebutuhan (hajat) adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu
   yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
   menjalankan fungsinya.


                                 DAFTAR PUSTAKA


Anto, Hendrie. M.B(2003),       Pengantar Ekonomika Mikro Islami, EKONISIA,
       Yogyakarta
Karim, Adiwarman (2002), Ekonomi Mikro Islami, IIITI
Khan, Fahim (1995), Essay in Islamic Economy, The Islamic Foundation
Marton, Saad, Said, (2004), Ekonomi Islam Ditengah Krisis Ekonomi Global, Zikrul
       Hakim, Jakarta

Metwally (1995) , Teori dan model ekonomi islam. PT bangkit daya insana .

Muhammad (2004) , Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam, Yogyakarta: BPFE-
       Yogyakarta
Nasution, Mustafa Edwin, Nurul Huda, dkk (2006). Pengenalan Ekslusif Ilmu ekonomi
      Islam. Jakarta: Kencana Prenada Group.
Siddiqi, Muhammad , Nejatullah (1986), Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: LIPPM,

								
To top