PTK Mtk Bu Titik VIIIB revisi by LB8ug2z

VIEWS: 1 PAGES: 62

									                                   BAB I

                             PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

          Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses

  pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri.

  Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya

  yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dapat dilihat dari segi pendidikan.

  Hal ini terkandung dalam tujuan pendidikan nasional, bahwa pendidikan

  nasional    bertujuan   untuk    mencerdaskan     kehidupan     bangsa    dan

  mengembangkan manusia seutuhnya, selain beriman, bertakwa pada Tuhan

  Yang Maha Esa serta sehat jasmani dan rohani, juga memiliki kemampuan dan

  keterampilan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan

  semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan

  mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Dengan demikian siswa

  perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih, dan mengelola informasi

  untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

  Kemampuan ini membutuhkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif

  seperti ini dapat dikembangkan melalui belajar matematika karena matematika

  memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya

  sehingga memungkinkan kita terampil berpikir rasional.

          Pada kenyataannya, oleh sebagian besar siswa matematika masih

   dirasakan sulit untuk dipelajari. Pelajaran matematika sampai saat ini masih



                                     1
                                                                          2



merupakan suatu pelajaran yang kurang diminati oleh sebagian siswa, baik

siswa sekolah dasar maupun siswa sekolah menengah. Begitu juga pada siswa

kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri, terlihat bahwa semangat dan antusias

dalam mengikuti pelajaran matematika sangat rendah, hal ini terlihat dari

sekelompok siswa dalam satu kelas hanya sebagian saja yang benar-benar

berminat terhadap pelajaran matematika. Rendahnya minat yang dimiliki oleh

siswa ini dapat dilihat dari hasil tes yang diberikan setelah proses belajar

mengajar berlangsung. Hasil yang diperoleh siswa dalam tes yang dilakukan

biasanya dari satu kelas atau bahkan satu sekolah nilai yang diperoleh

sebagian siswa adalah nilai di bawah dari rata-rata yaitu dibawah tujuh. Hal

tersebut sudah lama terjadi, dari tahun ke tahun. Melihat      hal tersebut

sepertinya sangat sulit untuk dapat menaikkan nilai rata-rata di atas tujuh.

Hasil tes yang telah dilakukan tidak bermakna jika belum dibandingkan

dengan acuan tertentu. Untuk kurikulum 2004 acuan yang digunakan adalah

acuan kriteria yang dalam hal ini standar keberhasilan untuk menentukan

tamatan adalah 75%. Sedangkan siswa yang mempunyai penguasaan dengan

skor 75% dari total materi dinyatakan lulus. Bagi siswa yang mempunyai

penguasaan di bawah 75% berarti memerlukan remidi (Depdiknas, 2005 : 36).

       Proses pembelajaran yang dilakukan pada kelas VIII B SMP Negeri 4

Wonogiri dalam penilaiannya khususnya pada pelajaran matematika, penilaian

yang dilakukan oleh guru dapat dijadikan sebagai analisis dan evaluasi

terhadap nilai yang dihasilkan oleh para siswa. Apabila tingkat keberhasilan

masih berada di bawah 75%, maka mata pelajaran yang telah diberikan guru
                                                                              3



belum diserap baik oleh kelas. Untuk itu perlu dikaji kembali apakah soalnya

terlalu sulit, atau soalnya sudah benar-benar sesuai dengan indikator, atau cara

pembelajarannya kurang baik sehingga siswa kurang memahami materi

pelajaran. Jika soalnya tidak terlalu sulit maka perlu memperbaiki kegiatan

pembelajarannya termasuk metodenya, media atau strategi pembelajarannya

(Depdiknas, 2005 : 36). Kenyataan nilai yang diperoleh oleh siswa kelas VIII

B di SMP Negeri 4 Wonogiri pada pokok bahasan Persamaan Linear Dua

Variabel tahun pelajaran 2008/2009 tidak begitu memuaskan karena nilai yang

diperoleh rata-rata adalah 5,7. Padahal harapan yang ingin dicapai oleh pihak

sekolah nilai rata-rata minimal yang diperoleh oleh siswa adalah 7,5. harapan

yang ingin dicapai pihak sekolah adalah dengan menggunakan metode

pembelajaran yang berbeda dapat meningkatkan nilai dan tingkat pemahana

siswa dalam pelajaran matematika. Sehingga nilai yang diperoleh dan prestasi

yang didapatkan dapat maningkat. Keadaan tersebut menjadi perhatian bagi

semua guru matematika di SMP N 4 Wonogiri untuk berusaha mencari jalan

keluar agar hasil belajar siwa dapat ditingkatkan, terutama bagi guru

matematika yang mengajar di kelas VIII B. Sebagai guru matematika yang

mengajar di kelas VIII B, maka peneliti berusaha mencari cara menemukan

model pembelajaran yang tepat agar hasil belajar siswa kelas VIII B SMP N 4

Wonogiri dalam Pokok Bahasan Persamaan Linear Dua Variabel dapat

ditingkatkan pemahamannya, agar siswa dapat lebih dini mempersiapkan

dirinya dalam menghadapi Ujian Nasional. Melihat kondisi seperti di atas

maka untuk dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran
                                                                            4



   matematika dalam pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel, maka di

   gunakanlah model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual (Contextual

   Teaching and Learning (CTL)).



B. Identifikasi Masalah

          Berdasarkan latar belakang yang yang telah diuraikan di atas, dapat

   teridentifikasi bahwa pengalaman penulis selama mengajar mata pelajaran

   matematika pada kelas VIII B adalah :

   1. Mengapa nilai yang diperoleh siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri

      pada mata pelajaran matematika dalam pokok bahasan Persamaan Linear

      Dua Variabel rendah?

   2. Mengapa nilai mata pelajaran matematika dalam pokok bahasan

      Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 4

      Wonogiri yang rendah harus ditingkatkan?

   3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan nilai matematika pada pokok

      bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B SMP

      Negeri 4 Wonogiri rendah?



C. Pembatasan Masalah

          Guna keperluan penelitian agar tidak melebar ke arah pembahasan

   yang lain, maka peneliti membatasi Penelitian Tindakan Kelas ini dengan

   beberapa kajian khusus. Penelitian tindakan kelas ini hanya difokuskan pada

   upaya peningkatan pemahaman siswa dalam pelajaran matematika pada pokok
                                                                        5



  bahasan Persamaan Linear Dua Variabel yang ditelitikan pada siswa kelas

  VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009.

  Secara lebih terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut ruang lingkup

  pembelajaran ini dibatasi pada siswa kelas VIII B pendekatan Kontekstual

  untuk memecahkan masalah matematika pada pokok bahasan Persamaan

  Linear Dua Variabel SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Palajaran

  2008/2009.



D. Rumusan Masalah

        Melihat latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka rumusan

  masalah yang dapat disampaikan adalah:

  1. Bagaimanakah strategi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada

     pembelajaran Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel

     pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun

     Pelajaran 2008/2009?

  2. Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran melalui pendekatan

     kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) terhadap

     peningkatan pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika pokok

     bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B SMP

     Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009.

  3. Mendiskripsikan faktor-faktor yang dapat menghambat pelaksanaan dalam

     upaya meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika

     pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B
                                                                        6



      SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009?



E. Tujuan Penelitian

         Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian

   tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Pemahaman Siswa Pada Pelajaran

   Matematika Dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

   Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Melalui Pendekatan Kontekstual

   (Contextual Teaching And Learning) Pada siswa Kelas VIII B SMP Negeri 4

   Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009” adalah:

   1. Mendiskripsikan strategi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada

      pembelajaran Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel

      pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun

      Pelajaran 2008/2009?

   2. Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran melalui pendekatan

      kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) terhadap

      peningkatan pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika pokok

      bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B SMP

      Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009.

   3. Mengetahui faktor-faktor yang dapat menghambat pelaksanaan dalam

      upaya meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika

      pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B

      SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009?
                                                                         7



F. Manfaat Penelitian

         Penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Pemahaman

   Siswa Pada Pelajaran Matematika Dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan

   Linear Dua Variabel Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Melalui

   Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning) pada siswa

   kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009”

   ini diharapkan memberi manfaat kepada banyak pihak, terutama siswa, guru

   dan sekolah.

   1. Manfaat yang diperoleh siswa:

      a. Aktivitas belajar siswa kelas VIII B SMP N 4 Wonogiri Semester I

         Tahun Pelajaran 2008/2009 dalam belajar matematika, khususnya

         pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel meningkat.

      b. Hasil belajar siswa kelas VIII B SMP N 4 Wonogiri Semester I Tahun

         Pelajaran 2008/2009 dalam pelajaran matematika khususnya pada

         pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel meningkat.

      c. Penerapan model pembelajaran dengan pendekatan Kontekstual

         (Contextual Teaching and Learning (CTL)) dapat dikembangkan atau

         diterapkan pada siswa di kelas-kelas yang lain.

   2. Manfaat yang diperoleh guru:

      a. Merupakan upaya guru dalam menunjang program pemerintah pusat

         dalam meningkatkan kemampuan belajar dan pemahaman serta hasil

         belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran matematika.

      b. Adanya inovasi model pembelajaran matematika dari dan oleh guru
                                                                         8



      yang menitik beratkan pada penerapan model pembelajaran dengan

      pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)).

3. Manfaat bagi sekolah (SMP N 4 Wonogiri):

   a. Diperoleh panduan inovatif model pembelajaran matematika dengan

      pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL))

      yang selanjutnya diharapkan dipakai di kelas-kelas lainnya, baik di

      SMP N 4 Wonogiri maupun di SMP yang lain.

   b. Diharapkan akan menghilangkan atau mengurangi kemungkinan

      adanya siswa SMP N 4 Wonogiri yang gagal dalam UAN, yang

      disebabkan oleh rendahnya nilai matematika.
                                                                             9



                                     BAB II

              KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS



A. Kajian Teori

   1. Pengertian Belajar

             Salah   satu   kebutuhan    vital   bagi   manusia   dalam   usaha

      mengembangkan diri serta mempertahankan eksistensinya adalah belajar

      sepanjang hayatnya. Tanpa belajar manusia akan mengalami kesulitan baik

      dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan maupun dalam memenuhi

      tuntutan hidup dan kehidupan yang selalu berubah. Keharusan belajar

      sepanjang hayat sudah disepakati para pakar. Jauh sebelum itu diakui pula

      bahwa Islam adalah agama pertama yang merekomendasikan keharusan

      belajar seumur hidup. Rasulullah Muhammad S.A.W. memotivasi

      umatnya dalam hadits: “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim

      dan muslimat. Tuntutlah ilmu sejak buaian sampai liang kubur. Tiada

      amalan yang lebih utama daripada belajar”. Islam mewajibkan

      pemeluknya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan nalarnya

      secara terus menerus bukan saja terhadap objek-objek di luar dirinya

      (dunia flora dan fauna, dunia anorganik, serta alam raya), tetapi juga

      terhadap kehidupannya sendiri baik sebagai perorangan maupun sebagai

      suatu komunitas (Sudjana, 2000 : 53).

             Belajar merupakan kegiatan orang sehari-hari. Kegiatan belajar

      tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar. Di



                                     9
                                                                         10



samping itu, kegiatan belajar juga dapat diamati oleh orang lain. Kegiatan

belajar yang berupa perilaku kompleks tersebut telah lama menjadi objek

penelitian ilmuan. Kompleksnya perilaku belajar tersebut menimbulkan

berbagai teori belajar. Belajar yang dihayati oleh seorang pebelajar (siswa)

ada hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh

pembelajar (guru). Pada satu sisi, belajar yang dialami oleh pebelajar

terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain,

kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga

didorong oleh tindak pendidikan atau pembelajaran. Dengan kata lain,

belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa pembelajaran. Dari segi

siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan

perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak

pengiring. Selanjutnya dampak pengiring tersebut akan menghasilkan

program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju

kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari

tindak mendidik atau kegiatan mengajar. Proses belajar siswa tersebut

menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil belajar sebagai

dampak pengajaran. Ditinjau dari acara pembelajaran, maka dampak

pengajaran tersebut sejalan dengan tujuan pembelajaran (Dimyati, 2006 :

38).

       Pengertian belajar yang seragam dan berlaku umum tidak mudah

untuk dikemukakan. Sepanjang sejarah perkembangannya, pengertian

belajar yang diketengahkan beberapa pakar pendidikan dan psikologi
                                                                       11



ternyata bermacam ragam. Keragaman ini disebabkan oleh perbedaan latar

belakang dan pandangan kepakaran masing-masing. Demikian pula

fenomena kegiatan belajar yang terjadi dalam lingkungan, melalui

observasi yang dilakukan para pakar, turut pula mempengaruhi keragaman

pengertian yang mereka ajukan. Gagne (1970), dalam bukunya The

Conditions of Learning, mengemukakan bahwa belajar itu adalah

“perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui

upaya orang itu, dan perubahan itu bukan diperoleh secara langsung dari

proses pertumbuhan dirinya secara alamiah.” Dengan pengertian ini

belajar merupakan upaya yang disengaja oleh seseorang yang bertujuan

untuk mencapai tujuan belajar. Upaya untuk mencapai tujuan belajar yaitu

perubahan tingkah laku, memberi petunjuk bahwa belajar itu sendiri

merupakan bagian dari tingkah laku manusia, yang mencerminkan adanya

sikap dan perbuatan untuk belajar pada diri seseorang. Dikatakan sebagai

upaya perubahan tingkah laku karena kegiatan belajar bertujuan

meningkatkan disposisi dan kemampuan. Disposisi yang dimaksud disini

ialah sikap, pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau aspirasi. Adapun yang

dimaksud dengan kemampuan ialah wujud penampilan seseorang dalam

lingkungan tertentu, misalnya lingkungan pekerjaan dan dunia kehidupan

pada umumnya. Perubahan ini tidak terjadi secara mendadak (incidential)

melainkan diperoleh dalam masa yang jelas tenggang waktunya. Oleh

sebab itu hasil kegiatan belajar harus dapat dibandingkan dalam perubahan

tingkah laku pada saat sebelum memasuki situasi kegiatan belajar dengan
                                                                             12



perubahan tingkah laku setelah melakukan kegiatan belajar. Pada sisi lain,

perubahan yang dicapai seseorang melalui kegiatan belajar itu harus

dibedakan dengan perubahan yang dapat diketahui dalam pertumbuhan

seseorang. Ke dalam pertumbuhan ini termasuk perubahan tinggi badan,

makin kekarnya otot karena melakukan olah raga secara teratur, dan lain

sebagainya. Singkatnya, perubahan tingkah laku yang dimaksud dalam

pendidikan adalah perubahan yang dicapai secara sengaja melalui kegiatan

belajar.

           Pengertian lain tentang belajar dikemukakan oleh John Travers

(1972)      dalam     bukunya   Learning   Analysis   and     Application.   Ia

mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu proses yang menghasilkan

tingkah      laku”.   Sebelum    merumuskan    definisi     tersebut,   Travers

membedakan belajar menjadi dua macam yaitu pertama, belajar sebagai

proses dan kedua, belajar sebagai hasil. Dalam hubungan ini, yang

disebut kedua, belajar sebagai hasil, merupakan akibat wajar dari yang

disebut pertama yaitu, belajar sebagai proses. Dengan perkataan lain

bahwa proses belajar menyebabkan hasil belajar. Upaya menyusun

pengertian belajar sebagai proses adalah lebih sulit bila dibandingkan

dengan penyusunan pengertian belajar sebagai hasil. Dengan lebih dahulu

membahas pengertian belajar sebagai hasil diharapkan akan lebih

mempermudah untuk menjelaskan tentang pengertian belajar sebagai

proses, sehingga hubungan antara keduanya akan lebih mudah untuk

dipahami.
                                                                     13



a. Belajar sebagai hasil

        Belajar sebagai hasil yang berupa aktivitas adalah kebiasaan

   belajar yang ditumbuhkan melalui kegiatan belajar. Belajar menjadi

   nilai budaya yang melekat pada dirinya sehingga tiada saat dalam

   kehidupannya tanpa aktivitas belajar. Dengan demikian, belajar

   sebagai hasil bermakna sebagai suatu kemampuan yang dicapai oleh

   seseorang setelah melalui kegiatan belajar sebagai proses, seseorang

   dapat berpikir, merasakan, dan bertindak di dalam dan terhadap dunia

   kehidupannya. Tegasnya belajar sebagai hasil adalah perubahan

   tingkah laku seseorang melalui proses belaajr, sedangkan perubahan

   tersebut harus dan dapat digunakan untuk meningkatkan ketrampilan

   diri dalam dunia kehidupannya.

b. Belajar sebagai proses

        Belajar sebagai proses, menunjukkan bahw abelajar itu sendiri

   adalah suatu proses. Belajar dimulai dengan adanya dorongan,

   semangat dan upaya yang timbul dalam diri seseorang sehingga orang

   itu melakukan kegiatan belajar. Ia melakukan kegiatan belajar dengan

   menyesuaikan tingkah lakunya dalam upaya meningkatkan dirinya.

   Dalam hubungan ini, belajar adalah perilaku mengembangkan diri

   melalui proses penyesuaian tingkah laku. Penyesuaian tingkah laku itu

   dapat terwujud melalui kegiatan belajar, bukan karena akibat langsung

   dari pertumbuhan seseorang yang melakukan kegiatan belajar itu.

   Dapat dikatakan bahwa belajar sebagai proses adalah kegiatan
                                                                      14



   seseorang yang dilakukan secara sengaja melalui penyesuaian tingkah

   alku dirinya dalam upaya untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.

   Kegiatan belajar sebagai proses memiliki unsur-unsur tersendiri.

   Unsur-unsur itu dapat membedakan antara kegiatan belajar dan

   kegiatan bukan belajar. Unsur-unsur tersebut mencakup tujuan belajar

   yang ingin dicapai, motivasi, hambatan, stimulus dari lingkungan,

   persepsi, dan respon peserta didik (Sudjana, 2000 : 103).

     Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan

pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat

ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti terjadi perubahan pengetahuan,

pemahaman, tingkah laku, ketrampilan, kebiasaan, serta perubahan aspek-

aspek yang ada pada diri individu yang sedang belajar. Mengkaji dari

paparan di atas dapat dideskripsikan bahwa belajar adalah proses mereaksi

terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah suatu

proses yang diarahkan kepada suatu tujuan, proses berbuat melalui

berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati,

mendengar, menyimak, merasakan, dan memahami sesuatu yang

dipelajari. Apabila kita mendiskusikan tentang cara belajar, maka kita

bicara tentang cara mengubah tingkah laku seseorang melalui berbagai

pengalaman yang ditempuhnya.

     Tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar dipengaruhi oleh

banyak faktor, baik faktor yang terdapat dari dalam diri individu (faktor

internal) maupun faktor yang berada di luar individu (faktor eksternal).
                                                                           15



   Faktor internal ialah apa-apa yang dimiliki seseorang, antara lain: minat

   dan perhatian, kebiasaan, memotivasi serta faktor-faktor lainnya.

   Sedangkan faktor eksternal dalam proses belajar dapat dibedakan menjadi

   tiga lingkungan, yakni lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan

   lingkungan masyarakat. Di antara ketiga lingkungan itu yang paling besar

   pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa dalam proses belajar

   mengajar adalah lingkungan sekolah, seperti guru, sarana belajar,

   kurikulum, teman sekelas, peraturan sekolah, dan lain-lain. Unsur

   lingkungan sekolah yang disebutkan di atas pada hakekatnya berfungsi

   sebagai lingkungan belajar siswa, yakni lingkungan tempat siswa

   berinteraksi, sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya. Hasil

   interaksi tersebut berupa perubahan tingkah laku seperti pengetahuan,

   sikap, kebiasaan, keterampilan, dan lain-lain. Dalam konteks inilah belajar

   bisa bermakna sesuai dengan hakekat belajar sebagai suatu proses

   (Depdiknas, 2005 : 6).

2. Definisi Matematika

          Matematika berasal dari bahasa Latin manthenein atau mathena

   yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa

   Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan

   dengan penalaran. Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu

   kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari

   kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan

   dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian, pembelajaran dan
                                                                        16



pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman

peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-induktif dapat digunakan

untuk mempelajari konsep matematika. Kegiatan dapat dimulai dengan

beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat yang

muncul (sebagai gejala), memperkirakan hasil baru yang diharapkan, yang

kemudian dibuktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar

induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting

dalam mempelajari matematika. Penerapan kerja matematika diharapkan

dapat membentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa.

Matematika     berfungsi      mengembangkan     kemampuan     menghitung,

mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang

diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan

geometri,    aljabar,   dan   trigonometri.   Matematika   juga   berfungsi

mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan

bahasa melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan

persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.

a. Pengertian Pembelajaran Matematika

         Pembelajaran matematika tidaklah sama maknanya dengan

   mengajar matematika. Para ahli psikologi dan pendidikan memberikan

   batasan mengajar yang berbeda-beda rumusannya. Perbedaan tersebut

   disebabkan oleh titik pandang terhadap makna mengajar. Pandangan

   pertama melihatnya dari segi pelakunya, yaitu pengajarnya. Atas

   pandangan ini, mengajar diartikan menyampaikan ilmu pengetahuan
                                                                      17



(bahan ajar) kepada siswa atau peserta didik. Batasan ini telah lama

dianut kalangan pendidik dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan

jenjang pendidikan tinggi. Kritik yang paling banyak dilontarkan

terhadap rumusan mengajar di atas ialah siswa dianggap sebagai objek,

bukan sebagai subjek. Siswa hanya pasif menerima apa yang

disampaikan guru. Sebaliknya peranan guru sangat menentukan. Itulah

sebabnya pandangan ini sering disebut berpusat pada guru.

     Atas dasar kritikan ini muncul pemikiran yang melihat mengajar

bukan dari sudut pelakunya yang mengajar, tetapi dari sudut siswa

yang belajar. Bertolak dari hakikat belajar seperti yang telah dibahas di

muka, maka mengajar dirumuskan dalam beberapa batasan yang

intinya memberikan tekanan kepada kegiatan optimal yang dilakukan

siswa dalam belajar. Batasan mengajar yang bertolak dari batasan

pertama,   dapat   dipaparkan    sebagai   berikut:   mengajar    adalah

membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan

mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat

mendorong dan menumbuhkan minat siswa melakukan kegiatan

belajar. Paradigma baru memandang siswa bukan sebagai objek, tetapi

siswa menjadi subjek dalam pembelajaran. Konsep matematika tidak

dipandang sebagai barang jadi yang hanya menjadi bahan informasi

untuk siswa. Namun guru diharapkan merancang pembelajaran

matematika, sehingga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya

kepada siswa untuk berperan aktif dalam membangun konsep secara
                                                                      18



   mandiri atau bersama-sama. Siswa diharapkan dapat “menemukan

   kembali” (reinvention) akan konsep, aturan ataupun algoritma.

   Algoritama dalam matematika yang dahulu diberikan begitu saja oleh

   guru kepada siswa untuk menambah pengetahuan, sekarang selain

   untuk itu, siswa diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri

   algoritma tersebut, dan tidak menutup kemungkinan siswa menemukan

   cara lain yang belum diketahui oleh guru. Pembelajaran matematika

   yang demikian, akan dapat menimbulkan rasa bangga pada diri siswa,

   menumbuhkan       minat,   rasa    percaya    diri,   memupuk     dan

   mengembangkan imajinasi dan daya cipta (kreativitas) siswa.

b. Tujuan Pembelajaran Matematika

        Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,

   misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,

   menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi;

   mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi

   dan penermuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil,

   rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba ;

   Mengembangkan          kemampuan          memecahkan          masalah;

   Mengembangkan       kemampuan      menyampaikan       informasi   atau

   mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,

   catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
                                                                        19



3. Pembelajaran Kontekstual

          Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

   adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

   diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa

   membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

   penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan

   tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu:

   a. Konstruktivisme (Contructivisme)

             Construktivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir

      (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh

      manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks

      yang terbatas (sempit), dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan

      bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk

      diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu

      dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan dasar itu,

      pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi ‘bukan’

      menerima    pengetahuan.    Dalam    proses     pembelajaran,   siswa

      membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif

      dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, buka

      guru. Dalam pandangan konstruktivis strategi ‘memperoleh’ lebih

      diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan

      mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi

      proses tersebut dengan: Menjadikan pengetahuan bermakna dan
                                                                      20



   relevan bagi siswa.; Memberi kesempatan siswa menemukan dan

   menerapkan idenya sendiri, dan Menyadarkan siswa agar menerapkan

   strategi mereka sendiri dalam belajar.

b. Menemukan (Inquiry)

          Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran

   berbasis CTL. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa

   diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil

   dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang

   merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

   Langkah-langkah     kegiatan   menemukan     (Inquiry):   Merumuskan

   masalah, mengamati atau melakukan observasi, menganalisis dan

   menyajikan hasil dalam tulisan, gambar tulisan, gambar, laporan,

   bagan, tabel, dan karya lainnya, mengkomunikasikan atau menyajkan

   hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.

c. Bertanya (Questioning)

          Bertanya (questioning) merupakan strategi utama dalam

   pembelajaran berbasis CTL. Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru

   untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir

   siswa, kegiatan bertanya penting dalam melaksanakan pembelajaran

   berbasis inquiri yaitu menggali informasi. Mengkonfirmasikan apa

   yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang

   belum diketahuinya. Kegiatan bertanya dapat diterapkan antara siswa

   dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan siswa,
                                                                      21



   antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas tersebut.

   Kegiatan bertanya dilakukan ketika berdiskusi, bekerja dalam

   kelompok, ketika menemui        kesulitan, ketika mengamati       dan

   sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut mendorong untuk ‘bertanya’.

d. Masyarakat Belajar (Learning community)

          Konsep    Learning    Community    menyarankan     agar   hasil

   pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil

   belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar

   yang tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas CTL disarankan selalu

   melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar yang

   heterogen. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses

   komunikasi dua arah. Hal ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang

   merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang merasa paling tahu,

   semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa

   bahwa setiap orang memiliki pengetahuan, pengalaman, atau

   ketrampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.

e. Pemodelan (Modeling)

          Pembelajaran dengan pemodelan adalah belajar dengan meniru

   dari suatu aktivitas yang dapat ditiru. Dalam pembelajaran ini guru

   dapat memberikan contoh untuk membuktikan suatu identitas dari

   masalah dan perlu diingat bahwa guru bukanlah merupakan satu-

   satunya model.
                                                                      22



f. Refleksi (Reflection)

          Reflekfi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari

   atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di

   masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau

   pengetahuan yang baru diterima.

g. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assement)

          Penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai data yang

   bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran

   perkembangan siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan

   bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila

   data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa

   mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa

   mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan

   belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di

   sepanjang di akhir periode (cawu/semester/akhir tahun/UNAS), tetapi

   dilakukan bersama dengan secara terintegrasi (tidak terpisah) dari

   kegiatan pembelajaran.

          Sebuah kelas di katakan menggunakan pendekatan kontekstual

   jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.

   Dan untuk melaksanakan hal itu, secara garis besar, langkahnya adalah

   sebagai berikut: Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar

   lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan

   mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilannya.; Laksanakan
                                                                         23



      sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.; Kembangkan

      sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.; Ciptakan ”masyarakat belajar”

      (belajar dalam kelompok-kelompok).; Hadirkan “Model”sebagai

      contoh pembelajaran.; Lakukan refleksi diakhir pertemuan.; Lakukan

      penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.



4. Materi

   Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV)

   a. Kalimat Terbuka, Variabel dan Konstanta

      1) Kalimat yang benar dan kalimat yang salah

      a) Kalimat yang benar adalah kalimat yang mempunyai nilai benar.

      Contoh:

      (1) Jakarta adalah ibukota Indonesia

      (2) 10 – 3 = 7

      (3) 8 < 10

      b) Kalimat yang salah adalah kalimat yang mempunyai nilai salah

      contoh:
                                     0
      1. Air mendidih pada suhu 50

      2. 4 x 5 = 9

      2) Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat lambang “ *, Δ, ��, a,

      b, c, …, z” atau sejenisnya dan belum dapat diketahui benar salahnya.

      Contoh:

      a) * adalah faktor dari 10
                                                                      24



   b) �� : 3 = 4

   c) x + 5 = 11

   3) Variabel dan konstanta

      a) Variabel atau peubah adalah lambang atau simbol yang terdapat

            pada kalimat terbuka yang dapat diganti oleh sembarang

            bilangan sehingga menjadi kalimat yang benar atau kalimat

            yang salah.

      b) Konstanta adalah suatu bilangan yang tidak perlu pergantian,

            disebut juga nilai tetap.

            Contoh:

            1. x + 7 = 15 variabelnya : x

            konstantanya : 7 dan 15

            2. 12 - y = 6 variabelnya : y, konstantanya : 12 dan 6

b. Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV)

   Persamaan Linear Dua Variabel adalah persamaan dengan dua variabel

   dan berpangkat satu.

   Contoh:

   Di antara persamaan berikut manakah persamaan linear dua varabel

   dan manakah yang bukan?

   a. x+y = 4                   c. 3x-4 = 5          e. x2 -4x = 1

   b. a =2b-3                   d. xy = 8            f. 5x-y=y-4

   Jawab:

   yang merupakan PLDV adalah a, b, f
                                                                     25



   yang merupakan bukan PLDV adalah c, d, dan e

c. Penyelesaian Persamaan Linear Dua Variabel

        Penyelesaian persamaan adalah pengganti variabel sehingga

   persamaan tersebut menjadi kalimat benar.

   Sistem Persamaan Linear Dua Variabel adalah suatu Sistem yang

   terdiri dari dua Persamaan Linear Dua Variabel di mana antara

   variabel dari Persamaan Linear Dua Variabel terkait dengan persamaan

   dua variabel yang lain.

   Ada 3 cara untuk menyelesaikan SPLDV yaitu:

   1) Cara Substitusi

   “Substitusi” artinya pengganti.

   Contoh: selesaikan SPLDV y = 3x dan x + 2x = 7 dengan cara

   substitusi

   Jawab:

   y = 3x disubstitusikan ke x + 2x = 7 sehingga didapat:

   x + 2 (3x) = 7

    x + 6x = 7

           7x = 7

            x=1

   Kemudian x = 1 di substitusikan ke y = 3 x, didapat y = 3.1 = 3

   Jadi penyelesaiannya adalah x = 1 dan y = 3, dan himpunan

   penyelesaiannya adalah = { (1,3) }
                                                       26



2) Cara Eliminasi

“Eliminasi” artinya menghilangkan

Contoh:

Selesaikan 2x + 3y-4 = 0

             3x – 4y-23 = 0 dengan cara eliminasi

Jawab:

Persamaan-persamaan tersebut disusun menjadi:

p (2x + 3y – 4) + q (3x -4y -23) = 0

dipilih p = 4 dan q = 3 sehingga didapat:

4 (2x + 3y -4) + 3 (3x -4y -23) = 0

 8x +12y -16 + 9x -12y -69 = 0

            8x +9x + 12y -12y = 16 + 69

                           17 x = 85

                              x=5

selanjutnya dipilih p = 3 dan q = -2 didapat

3 (2x + 3y -4) + (-2) (3x -4y -23) = 0

        6x + 9y -12 + 6x + 8y - 46 = 0

                6x + 6x + 9y - 8y = 12-46

                              17 y = -34

                                 y = -2

Jadi penyelesaiannya adalah x = 5 dan y = -2 dan himpunan

penyelesaianya adalah: { (5 , -2) }
                                                                                 27



           c) Cara grafik

           menyelesaikan SPLDV cara grafik sama saja dengan menentukan titik

           potong grafik pada masing-masing persamaan yang membentuk

           SPLDV.

           Contoh selesaikan SPLDV x + y = 4 dan x + 3y = 6 dengan cara

           grafik

           x+y=4                                          x + 3y = 6
   x          0           4                       x           0           6
   y          4           0                       y           2           0
( x, y )   ( 0, 4 )    ( 4,0)                  ( x, y )    ( 0, 2 )    ( 6,0)


           Grafik persamaan x + y = 4 melalui titik (0,4) dan (4,0) dan grafik x +

           3y = 6 melalui titik (0,2) dan (6,0). Koordinat titik potong kedua grafik

           itu (3,1), jadi himpunan penyelesaiannya adalah = { (3, 1)}.



B. Penelitian Yang Relevan

           Penelitian lain yang dijadiakan perbandingan dilakukan pada tahun

   2007 oleh Kholisoh Program Studi S1 Pendidikan Matematika, UNNES, hasil

   yang diperoleh adalah bahwa model pembelajaran dengan pendekatan

   kontekstual (Contextual Teaching and Learnng (CTL)) dapat meningkatkan

   hasil belajar siswa dalam pokok bahasan persamaan linear satu variabel pada

   siswa kelas VII A SMP N 1 Balapulang Kabupaten Tegal tahun pelajaran

   2006/2007. Aktivitas dan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar

   meningkat serta kemampuan guru dalam kegiatan Pembelajaran juga

   meningkat. Oleh sebab itu dalam pembelajaran disarankan guru menggunakan
                                                                            28



   model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.


C. Kerangka Berfikir

          Berdasarkan kajian teori yang telah disampaikan di atas, maka

   kerangka berpikir penelitiannya adalah sebagai berikut. Dengan melihat hasil

   nilai atau prestasi oleh siswa dalam memahami pelajaran matematika pada

   pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel adalah kurang memuaskan

   dan kuarang baik, makad engan demikian, para guru pelajaran matematika

   SMP N 4 Wonogiri perlu berusaha secara kolaboratif untuk mencari cara

   pembelajaran, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam

   pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel. Cara yang dipilih adalah

   mengimplementasikan model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual

   (Contextual and Learning (CTL)).



D. Hipotesis Tindakan

          Berdasarkan kajian Teori dan kerangka berpikir yang telah

   disampaikan di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai

   berikut:

   1. Diduga bahwa terdapat peningkatan pemahaman siswa pada pembelajaran

      Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa

      kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran

      2008/2009;

   2. Diduga bahwa terdapat pengaruh dalam penerapan model pembelajaran

      melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning
                                                                    29



   (CTL)) terhadap peningkatan pemahaman siswa pada pembelajaran

   Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa

   kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran

   2008/2009.;

3. Diduga bahwa terdapat faktor-faktor yang dapat mengambat pelaksanaan

   dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran

   Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa

   kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran

   2008/2009.
                                                                             30



                                   BAB III

                        METODOLOGI PENELITIAN



A. Setting Penelitian

           Setting menurut Webster (1983) adalah lingkungan, tempat kejadian,

   atau bingkai. Dalam hal ini setting penelitian dapat diartikan sebagai tempat

   kejadian atau lingkungan di mana sesuatu kegiatan dapat diarahkan untuk

   mencapai tujuan penelitian Sukardi (2006: 17). Penelitian tindakan kelas

   dengan judul “Peningkatan Pemahaman Siswa Pada Pelajaran Matematika

   Dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Dengan

   Menggunakan     Model    Pembelajaran     Melalui   Pendekatan   Kontekstual

   (Contextual Teaching And Learning) Pada siswa Kelas VIII B SMP Negeri 4

   Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009” mempunyai setting di SMP

   Negeri 4 Wonogiri Kabupaten Wonogiri pada siswa kelas VIII B.



B. Subyek Penelitian

           Adapun subyek dari penelitian tindakan kelas dengan judul “

   Peningkatan Pemahaman Siswa Pada Pelajaran Matematika Dalam Pokok

   Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Dengan Menggunakan

   Model Pembelajaran Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching

   And Learning) pada siswa Kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I

   Tahun Pelajaran 2008/2009” ini adalah: siswa kelas VIII B SMP Negeri 4

   Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan



                                     30
                                                                          31



   metode pembelajaran melalui model Pendekatan Kontekstual (Contextual,

   Teaching and Learning) dalam suatu upaya untuk meningkatkan pemahaman

   siswa pada pelajaran Matematika dalam pokok bahasan Sistem Persamaan

   Linear Dua Variabel. Lebih jelasnya bahwa dalam penelitian ini subyek yang

   digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri

      Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 sejumlah 38 siswa;

  2. Penelitian juga melibatkan dua orang guru mata pelajaran matematika

      pada kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri. Satu guru sebagai peneliti,

      satu guru yang lain sebagai pengamat.



C. Sumber Data

          Data yang baik adalah data yang diambil dari sumber yang tepat dan

  akurat (Supardi, 2007:129). Menurut Arikunto (2006: 129) yang dimaksud

  dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat

  diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam

  pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang

  merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaa

  tertulis maupun lisan. Data yang baik adalah data yang diambil dari sumber

  yang tepat dan akurat (Supardi, 2007:129). Lofland dan Lofland dalam

  (Moleong, 2007: 157) Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah

  kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan

  lain-lain.
                                                                              32



          Nara sumber dalam penelitian ini adalah guru, dan siswa di kelas VIII

   B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009. Sedangkan

   dokumen     yang    dipakai    sebagai   data   adalah   Rencana   Pelaksanaan

   Pembelajaran, dan Silabus mata pelajaran matematika. Selain itu sumber data

   diperoleh dari:

   1. Hasil pengamatan oleh guru pengamat yang dicatat dalam lembar

      pengamatan.

   2. Hasil uji kompetensi di akhir siklus I dan II.

   3. Hasil tes formatif di akhir siklus III.



D. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

           Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan

   kelas (PTK) tidak hanya satu, tetapi menggunakan multi teknik atau multi

   instrument. Ada tiga kelompok teknik pengumpulan data, yang oleh Wolcott,

   (1992) dalam Sugiyono (2007:152) disebutnya sebagai strategi pekerjaan

   lapangan primer, yaitu pengalaman, pengungkapan dan pengujian.

   1. Pengalaman dilakukan dalam bentuk observasi. Peneliti pelaksana (guru,

       dosen, konselor, administrator, dll) melakukan observasi sambil

       melakukan tugasnya sehari-hari. Ada beberapa variasi bentuk observasi

       yang dilakukan oleh peneliti, yaitu: (a) observsi partisipasif, di mana

       peneliti melakukan observasi sambil ikut serta dalam kegiatan yang

       sedang berjalan. (b) observasi khusus, observasi dilakukan ketika peneliti

       melakukan tugas khusus umpamanya memberikan bimbingan. (c)
                                                                                33



   observasi pasif, peneliti hanya bertindak sebagai pengumpul dta, mencatat

   kegiatan yang sedang berjalan.

2. Pengungkapan dilakukan melalui wawancara. Peneliti mengadakan

   wawancara terhadap pihak-pihak terkait untuk mendapatka data yang

   diperlukan. Strategi pengungkapan juga memilkibeberapa bentuk, yaitu:

   wawancara      informal,     wawancara       formal   terstruktur,   pengedaran

   angket,menggunakan skala(model likert, thurstone) dan pengukuran

   dengan test standart.

3. Pembuktian,         pembuktian   dilakukan     dengan    mencari     bukti-bukti

   documenter, seperti: dokumen arsif, jurnal, peta, audio dan video tape,

   benda-benad bersejarah, catatan lapangan.

Dalam penelitian ini, lebih spesifiknya pengambilan data dilakukan dengan

cara:

1. Dibuat lembar observasi untuk mengamati proses pembelajaran, aktivitas

   guru dan siswa, serta cara yang efektif dalam menerapkan model

   pembelajaran dengan pendakatan kontekstual (Coktextual Teaching and

   Learning(CTL)).

2. Dibuat lembar kerja siswa yang berisi permasalahan yang berkaitan

   dengan Persamaan Linear Dua Variabel yang akan diselesaikan siswa

   melalui pembelajaran kontekstual.

3. Siswa diberi uji kompetensi di akhir siklus I dan II dan tes formatif di

   akhir siklus III.
                                                                               34



E. Validitas Data

          Suatu data penelitian dikatakan akurat apabila data yang diperoleh

   telah di uji keabsahanya. Validitas menunjukkkan ketepatan pengumpulan

   data, atau data yang dikumpulkan memang benar-benar yang ingin diperoleh

   peneliti (Sukmadinata, 2007:153). Validitas pengumpulan data oleh peneliti

   meliputi dua hal yaitu:

   1. Keterpercayaan (trustworthiness) pengumpulan data dalam penelitian

      kualitatif, menurut Guba (1981) ditandai oleh karakteristik-karakteristik

      sebagai berikut. (a) kredibilitas, kemampuan peneliti memahami dan

      mengumpulkan data dari situasi yang kompleks dan mengungkap pola-

      pola yang sukar dijelaskan. (b) transferbilitas, penelitian kualitatif tidak

      menghasilkan generalisasi, tetapi sampai sejauh mana temuan-temuan

      dalam penelitian ini dapat digunakan atau diterapkan pada situasi lain.ini

      dapat dilakukan melalui pengumpulan data yang rinci, sehingga

      memungkinkan diperbandingkan antara satu konteks dengan konteks yang

      lainnya, dan melalui pembuatan diskripsi tentang konteks yang mendetail

      sehingga bisa silakukan penelitian kecocokannya pada konteks lain. (c)

      keabsahan, menunjukkan bahwa data yang diperoleh adalah benar, dicek

      kepada beberapa pihak hasilnya hampir sama. Keabsahan diperoleh

      dengan trianggulasi dan member check. (d) konfirmabilitas, menunjukkan

      bahwa data yag diperoleh adalah netral atau obyektif, menggambarkan

      keadaan yang sebenarnya bukan rekaan.
                                                                               35



   2. Keterpahaman    (understanding),    berkenaan    dengan   kejelasan    dan

      kemudahan data untuk dipahami. Maxwell (1992) dalam Sukmadinata

      (2007: 153) mengemukakan empat kriteria keterpahaman pengumpulan

      data kualitatif. (a) Validitas diskriptif, menunjukkan ketepatan data yang

      dikumpulkan (b)Validitas interpretatif, menunjukkan kepedulian peneliti

      terhadap    pandangan-pandangan     partisipan   (c)   validitas   teoritis,

      kemampuan peneliti menjelaskan fenomena-fenomena yang dipelajari dan

      dideskripsikan. (d) kebergunaan, menunjukkan bahwa data yang

      dihasilkan dapat digunakan dalam komunitas yang diteliti dan komunitas

      yang lebih luas (e) validitas evaluatif, menunjukkan kemampuan peneliti

      untuk menghasilkan data yang bukan perkiraan.



F. Teknik Analisis Data

          Dalam suatu penelitian terdapat dua macam data yaitu data kualitatif

   dan data kuantitatif. Data kualitatif menurut Ryan dan Bernard (2000) dalam

   Sukardi (2006:71) adalah semua informasi yang berupa test, surat kabar, sit

   com, email, ceritera rakyat, sejarah kehidupan yang berguna untuk

   membangun dan mengarahkan pada pengembangan pengertian yang

   mendalam atas dasar setting orang-orang yang teliti. Menurut Sukardi

   (2006:72) ada beberapa elamen penting dalam analisis data yang perlu terus

   di ingat oleh setiap peneliti dalam melakukan kegiatan analisis data adalah

   sebagai berikut:
                                                                          36



1. Reduksi Data

          Proses analisis data ini mestinya dimulai dengan menelaah seluruh

   data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji langkah berikutnya

   adalah membuat rangkuman untuk setiap kontak atau pertemuan dengan

   responden. Selain itu, reduksi data juga dimaksudkan untuk menajamkan,

   menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan

   mengorganisir data dengan cara yang sedemikian rupa sehingga

   kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

2. Menampilkan data

          Pada langkah ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan,

   sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulakna dan memiliki makna

   tertentu dengan cara menampilkan dan membuat hubungan antar variabel

   agar peneliti lain atau pembaca laporan penelitian mengerti apa yang telah

   terjadi dan apa yang perlu di tindak lanjuti untuk mencapai tujuan

   penelitian.

3. Verifikasi Data

          Verifikasi atau penarikan kesimpulan merupakan kegiatan penting,

    dimana sejak awal pengumpulan data, peneliti sebaikanya peneliti juga

    memulai memutuskan antara gejala yang mempunyai makna termasuk

    data-data yang memilki pattern, konfigurasi, aliran penyebab dan proporsi

    dengan data yang tidak diperlukan atau tidak bermakna.

      Teknis analisis data adalah analisis data tertata dalam situs (Miles,

Huberman, 1997: 137-155). Metode-metode dalam analisis ini guna menarik
                                                                                   37



   dan memverifikasi kesimpulan tentang situs tunggal, yaitu suatu fenomena

   dalam konteks terbatas yang membentuk satu “kajian kasus,” apakah itu kasus

   seorang individu dalam suatu latar, satuan kelompok, satuan yang lebih luas

   seperti departemen, organisasi, atau komunitas. Teknik analisis ini adalah

   membangun sajian dengan mengembangkan format untuk menyajikan data

   kualitatif, menganalisis dan mengambil kesimpulan. Bentuk-bentuk format-

   format dapat sama beragamnya seperti imajinasi si penganalisis, tetapi

   umumnya format-format itu keluar berupa tabel ringkasan (matriks, bagan,

   daftar cek) atau gambar.



G. Indikator Kinerja

          Menurut Kurikulum 2004 Pedoman Khusus Pengembangan sistem

   penilaian berbasis kompetensi Sekolah Menengah Pertama (SMP), standar

   keberhasilan atau sering disebut tuntas belajar individu atau siswa secara individu

   dinilai berhasil jika mencapai nilai minimal 75 dan kelas mencapai tuntas belajar

   klasikal yaitu minimal 75% dari semua siswa di kelas itu mencapai nilai minimal

   75.



H. Prosedur Penelitian

            Prosedur penelitian ini menggunakan model yang dikembangkan

   oleh Stephen Kemmis dan Robbin MC Taggart yang terdiri dari empat

   komponen yaitu : 1) Perencanaan (planning), 2) Aksi/tindakan (acting), 3)

   Observasi (observing), 4) Refleksi (refleting). Pada tahap perencanaan ini

   difokuskan pada bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas
                                                                        38



ini sekaligus kesiapan para guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran

matematika melalui pendekatan komunikatif untuk memecahkan masalah

matematika pada pokok bahasan aritmatika sosial dengan bimbingan

kelompok .

1. Perencanaan

             Perencanaan adalah aktivitas untuk menyiapkan segala sesuatu

   yang akan dilaksanakan dalam tindakan.

2. Implementasi Tindakan

           Rencana pelaksanaan penelitian yang telah disusun sebelumnya

   kemudian harus dilaksanakan sesuai dengan ketersediaan sarana dan

   prasarana yang ada. Dengan demikian maka perlu dilakukan pembahasan

   ulang mengenai strategi yang akan digunakan dalam penelitian tindakan

   kelas ini.

3. Observasi dan Implementasi

           Tahap observasi ini juga perlu dilakukan karena adanya data-data

   yang pendukung penelitian yang tidak ditemukan pada saat proses

   pengumpulan data. Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan

   apakah semua rencana yang telah dibuat dengan baik tidak ada

   penyimpangan-penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang

   maksimal dalam penelitian tindakan kelas ini.

4. Analisis dan Refleksi

           Kegiatan yang berhubungan dengan pendekatan komunikatif untuk

   memecahkan masalah matematika pokok bahasan aritmatika perlu
                                                                         39



dipahami oleh semua warga sekolah khususnya siswa kelas VIII B.

       Kemudian sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan,

khususnya setelah ada refleksi, selanjutnya diikuti dengan adanya

perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam siklus tersendiri. Demikian

seterusnya sampai beberapa kali siklus. Pelaksanaan tindakan yang di buat

skenario tindakan yang telah direncanakan, dilaksanakan dalam situasi

yang aktual. Pada saat yang bersamaan kegiatan ini juga disertai dengan

kegiatan observasi dan interpretasi yang diikuti dengan kegiatan refleksi.
                                                                            40



                                       BAB IV

                  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Deskripsi Kondisi Awal

Suatu sekolah pastilah dalam mewujudkan visi dan misi yang sudah ada, pastilah

membutuhkan suatu upaya dan

B. Deskripsi Pra Siklus

           Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang

   sangat dibenci dan tidak disenangi oleh siswa, mereka merasa takut untuk

   mengikuti pembelajaran matematika di kelas. Apalagi dengan metode yang

   dipakai guru dalam melakukan pembelajaran, biasanya mereka hanya

   melakukan pembelajaran dengan pendekatan yang diterapkan oleh guru

   umumnya masih menggunakan metode ceramah atau ekspositori. Sehingga

   siswa hanya terlihat diam dan pasif. Kepasifan siswa ini, terdapat beberapa

   kemungkinan, apakah siswa sudah paham dengan pembelajaran yang

   dilakukan guru atau siswa tidak memahami materi yang disampaikan oleh

   guru. Hal tersebut diperkuat pada saat diadakannya tes, maka banyak siswa

   yang memperoleh nilai kurang dan dalam pemecahan masalah matematika

   selalu tidak dapat memecahkannya dan hasil nilai yang diperoleh juga rendah.

   Melihat kondisi yang seperti ini, maka diperlukanlah suatu metode atau cara

   yang baru untuk meningkatkan pemahamn siswa dalam pemecahan masalah

   yang ada dalam pelajaran matematika dan menghilangkan rasa tidak senang

   dan takut siswa pada pelajaran matematika.


                                     40
                                                                              41



        Sebelum diterapkannya metode pendekatan kontekstual, maka guru

mulai mengadakan tes awal untuk mengetahui terlebih dahulu kemampuan

siswa dalam memecahkan masalah matematika yaitu mengenai Persamaan

Linear Dua Variabel yang dapat dilihat dari nilai tes yang telah dilakukan.

              Tabel 4.1. Daftar Nilai Matematika Kelas VIII B

  NO.      NIS                       NAMA                        NILAI
   1.      6726     ADITIA SURYA PRATAMA                           52
   2.      6728     AGUNG TRI H                                    57
   3.      6729     AHMADI PURNO N                                 62
   4.      6657     ASRI DANAWATI                                  54
   5.      6658     CIPTO BAGUS A                                  56
   6.      6771     DEDE ADITYA                                    64
   7.      6772     DEVI SRI RAHAYU                                58
   8.      6621     DHANIEL ROSALIA                                67
   9.      6625     DWI LASMINI                                    54
  10.      6745     ENI SULISTYORINI                               63
  11.      6746     ERNA STYWATI                                   59
  12.      6773     ERPINA MURTI                                   68
  13.      6628     FAJAR PRISMA PRATAMA                           69
  14.      6776     FITRIANI                                       75
  15.      6777     HARI SETYAWAN                                  74
  16.      6779     HARNO                                          68
  17.      6629     HENDRI WICAKSONO                               54
  18.      6780     II MARSELA                                     52
  19.      6671     IMANIA SAFITRIANA                              56
  20.      6753     JAUHAR INSIA                                   60
  21.      6709     LINDA SETYAWATI                                64
  22.      6754     MELINDA PS                                     62
  23.      6672     MEIGITA PUTRI Y                                57
  24.      6712     MUH. TAUFIK H                                  59
  25.      6676     MUH. RAKHA S                                   61
  26.      6681     NUGROHO FEBRI                                  63
  27.      6716     PUTRI ARUM                                     72
  28.      6789     RATIH EKA SRIYANTI                             54
  29.      6682     RISKA APRILIA                                  64
  30.      6645     ROMADHON ADI S                                 54
  31.      6719     SANTI MELIAWATI                                59
   32      6720     SINTA NOVIANA                                  54
   33      6767     SITI AISYAH                                    62
   34      6649     SRI YUHANI                                     57
                                                                                       42



         35       6762     TRI MAHAS TUTININGRUM                             56
         36       6687     WINARSIH                                          68
         37       6724     YANUAR WISNU                                      57
         38       6764     YUNITA BERLY VANESA                               62

              Berdasarkan hasil tes di atas maka diperoleh data sebagai berikut:


                              Tabel 4.2. Hasil tes pra siklus

   No         Kategori    Interval      X         f    f()           %        Ket

    1     Amat baik        90-100      95         0     0         0.00      1945/38

    2          Baik        70-89       80         3    240       12.94      = 51.18

    3         Cukup        60-69       65        13    1040      53.47

    4         Kurang        59        35        22    665       34.19

        Jumlah                                   38   1945       100        (Kurang)



C. Deskripsi Siklus I

              Pada Siklus I ini dilakukan beberapa tahapan dari mulai Tindakan

   perencanaan,        pelaksanaan   tindakan,    observasi,    dan    refleksi.   Dalam

   menentukan siklus I ini dilakukan beberapa usaha, baik berdiskusi dengan

   teman guru lain maupun dengan kepala sekolah. Karena dengan meminta

   masukan dari beberapa teman sejawat dan Kepala Sekolah akan mendapatkan

   informasi yang jelas mengenai tahap-tahapan yang harus dilakukan untuk

   memperbaiki pembelajaran Matematika di SMP Negeri 4 Wonogiri

   Kabupaten Wonogiri.

              Siklus I merupakan langkah awal yang sangat menentukan siklus

   berikutnya, karena dalam siklus ini terdapat usaha pembenahan dalam proses
                                                                          43



interaksi antara siswa dan guru dalam pembelajaran Matemática pada pokok

bahasan persamaan linear dua variable pada siswa kelas VIII B di SMP Negeri

4 Wonogiri Semestre 1 Tahun Pelajaran 2008/2009, adapun langkah-langkah

yang merupakan tahapan proses pembenahan, antara lain;

1. Perencanaan Tindakan

          Pada siklus I ini, langkah-langkah yang akan dilakukan adalah

   melakukan beberapa persiapan sebelum melaksanakan semua tindakan

   pembelajaran Matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Dua

   Variabel pada siswa kelas VIII B di dalam kelas. Sebelum melakukan

   proses pembelajaran di dalam kelas, terlebih dahulu mempersiapkan

   beberapa hal yang menunjang seperti membuat Rencana Pelaksanaan

   Pembelajaran (RPP), membuat Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan membuat

   beberapa soal uji kompetensi, menyiapkan pembentukan kelompok-kelompok

   siswa yang heterogen dan memilih salah satu siswa sebagai ketua kelompok,

   membuat lembar pengamatan aktivitas siswa dalam KBM dan lembar

   pengamatan tinjauan kelas, menetapkan satu guru (peneliti) untuk mengajar,

   dan satu guru yang lain sebagai pengamat. Kemudian menyiapkan lembar

   observasi agar dapat memantau perkembangan siswa dalam memahami

   pelajaran matematika.

2. Tindakan Pelaksanaan

          Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah

   direncanakan pada tindakan perencanaan di atas. Pertama kali yang

   dilakukan dalam tindakan pada siklus I ini adalah: setelah guru masuk ke

   dalam kelas, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, kemudian guru
                                                                            44



   menginformasikan model pembelajaran yang digunakan yaitu menggunakan

   pendekatan   kontekstual.   Setelah   itu   maka   guru   memotivasi   siswa

   (memfokuskan siswa) dengan cara tanya jawab masalah kehidupan sehari-hari

   yang berkaitan dengan Persamaan Linear Dua Variabel. Siswa diingatkan

   kembali tentang materi pelajaran operasi hitung pada bentuk aljabar,

   mengenai variabel, konstanta, koefisien dan suku-suku pada bentuk aljabar

   (permodelan dan questioning). Kemudian Guru membagi siswa dalam

   kelompok heterogen yang beranggotakan 4 orang siswa dan menetapkan satu

   siswa sebagai ketua kelompok dan membagikan lembar kerja siswa yang

   berisikan permasalahan yang berkaitan dengan persamaans linear dua variabel

   untuk didiskusikan secara berkelompok (menciptakan masyarakat belajar).

   Pada pelaksanaan tindakan ini guru senantiasa mengajukan pertanyaan yang

   membuat siswa berpikir tentang permasalahan tersebut (question). Dengan

   bimbingan guru, kelompok-kelompok tersebut menyimpulkan hasil diskusi

   mereka (inquiri dan constructivisme), setelah itu beberapa kelompok

   mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas (permodelan),

   dan kelompok lain menanggapi (question), selain para siswa memberikan

   tanggapan maka guru juga menanggapi dan menghargai presentasi dan

   pendapat siswa. Pada akhir kegiatan guru membimbing siswa menyimpulkan

   hasil diskusi mengenai Persamaan Linear Dua Variabel. Setelah itu dilakukan

   iji kompetensi guna mengetahui pemahaman siswa dalam pelajaran

   matematika pada pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel.

3. Observasi
                                                                                45



              Hasil observasi yang telah dilakukan nampak bahwa pada saat

     KBM berlangsung, pengamat mengamati aktivitas belajar siswa, yang

     ditandai dengan keberanian siswa bertanya, menjawab pertanyaan, keberanian

     siswa dalam menyampaikan hasil diskusi mereka. Dari hasil pengamatan

     tersebut diperoleh bahwa siswa yang mampu bertanya hanya sebagian kecil

     siswa dan yang mampu menjawab pertanyaan hanya sebesar menjawab

     pertanyaan 30 % dari jumlah siswa, dan yang paing banyak adalah siswa yang

     tidak melakukan aktivitas sama sekali yaitu sekitar 47.5 %. Dari hasil uji

     kompetensi pada siklus I diperoleh hasil belajar siswa kelas VIII B SMPN 4

     Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 pada pokok bahasan

     Persamaan Linear Dua Variabel sebagai berikut:

                           Tabel 4.3. Hasil tes siklus I

No      Kategori      Interval      X       f      f()        %         Ket

1     Amat baik       90-100        95      4      380      16.49     2305/38

2         Baik         70-89        80      5      400      17.35     = 60.66

3        Cukup         60-69        65     17     1105      47.94

4        Kurang         59         35     12      420      18.22

    Jumlah                                38     2305       100       (Cukup)



4. Refleksi

              Hasil yang didapatkan dalam tahap pengamatan dikumpulkan dan

     dianalisa. Dari hasil pengamatan tersebut guru dapat merefleksikan diri,

     ternyata pada siklus I ini, belum bisa meningkatkan hasil prestasi siswa dalam

     menyelesaikan soal yang berkaitan dengan Persamaan Linear Dua Variabel,
                                                                               46



       sehingga masih perlu adanya perbaikan dalam pengelolaan KBM dengan

       Metode Pendekatan Kontekstual ini. Hasil refleksi ini merupakan bahan acuan

       untuk memperbaiki pembelajaran ini pada siklus berikutnya.



D. Deskripsi Siklus II

          Melihat hasil siklus I yang kurang maksimal dalam pemelajaran

   matematika, maka guna memaksimalkan hasil yang diingin dicapai maka

   dilakukan siklus lanjutan. Siklus lanjutan ini juga terdiri dari tindakan

   perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

   1. Perencanaan Tindakan

                Perencanaan tindakan pada siklus II ini dilakukan tidak jauh beda

       dengan siklus I yaitu dengan membuat Rencana Pembelajaran (RP) Siklus II,

       membuat Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan membuat beberapa soal uji

       kompetensi siklus II, membuat Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa dalam

       KBM dan Lembar Pengamatan Tinjauan Kelas. Tidak lupa dalam akhir

       kegiatan selalu dilakukan suatu evaluasi guna mengetahui peningkatan d an

       perubahan yang dialami oleh siswa selama melakukan KBM.

   2. Tindakan Pelaksanaan

            Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus II ini, dilakukan

       dengan melihat hasil pada siklus I di atas, dengan melihat kekurangan

       yang ada, maka pada siklus II ini dilakukan langkah-langkah perbaikan.

       Tindakan yang dilakukan pada siklus II ini meliputi: Tindakan siklus II

       dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yaitu: pada pertemuan (1) Setelah guru

       memasuki ruang maka guru/peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran,
                                                                             47



   setelah itu guru mulai membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang

   heterogen yang terdiri atas 4 siswa. Setelah kelompok terbentuk maka guru

   menyajikan masalah kontekstual yang berhubungan dengan operasi bentuk

   aljabar kepada siswa, dan kemudian guru       memberikan soal pada setiap

   kelompok untuk dikerjakan siswa bersama kelompoknya. Guru membimbing

   siswa cara menentukan penyelesaian Persamaan Linear Dua Variabel.

   Beberapa kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusinya,

   kelompok lain menanggapi, kemudian guru memberikan penghargaan berupa

   pujian kepada kelompok yang tampil terbaik dan guru merangkum materi

   pelajaran yang telah mereka dapatkan. Pada pertemuan ke dua, pelaksanaan

   tindakan yang dilakukan adalah dengan mengadakan uji kompetensi kepada

   para siswa guna mengetahui peningkatan yang diperoleh siswa dalam

   memahami pelajaran matematika dalam pokok bahasan Persamaan Linear

   Dua Variabel.

3. Observasi

            Hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa

   Pada saat KBM berlangsung, pengamat mengamati aktivitas belajar siswa,

   yang ditandai dengan keberanian siswa bertanya, menjawab pertanyaan,

   keberanian siswa dalam menyampaikan hasil diskusi mereka. Dari hasil

   pengamatan tersebut diperoleh bahwa siswa yang mempunyai keberanian

   untuk bertanya mengalami peningkatan, dan siswa yang menjawab

   pertanyaan yang telah diberikan oleh guru juga meningkat dan siswa yang

   tidak melakukan aktivitas apapun mengalami penurunan dibandingkan pada

   siklus I, dengan melihat hal tersebut maka dapat dikatakan pada siklus II ini
                                                                                48



     tingkat pemahaman siswa dalam pembelajaran Matematika mengalami

     peningktan. Selain itu pada uji kompetensi yang telah dilakukan dapat terlihat

     perolehan nilai siswa juga mengalami penngkatan yaitu dapat dilihat dari

     tabel di bawah ini:




                             Tabel 4.4. Hasil tes siklus II

No      Kategori      Interval        X       f      f()       %        Ket

1     Amat baik       90-100         95      11     1045      36.93   2830/38

2         Baik         70-89         80      14     1120      39.58   = 74.47

3        Cukup         60-69         65       7      455      16.08

4        Kurang            59       35       6      210      7.42

    Jumlah                                  38      2830      100      (Baik)



4. Refleksi

               Dari pengamatan yang diperoleh dari hasil penelitian dan

     pengamatan yang telah dilakukan telah diuraikan dapat diambil suatu

     kesimpulan bahwa: Aktivitas siswa pada siklus II ini mengalami peningkatan

     meski belum sesuai dengan yang diharapkan, sebagai penyempurnaannya

     akan dilakukan siklus ke III, Pengelolaan kelas oleh gurupun mengalami

     peningkatan dan akan lebih diperbaiki pada siklus ke III, Hasil pemahaman
                                                                                49



       siswa nampak terdapat peningkatan pada siklus II ini, dan akan lebih

       ditingkatkan lagi pada siklus berikutnya


E. Deskripsi Siklus III

          Siklus III merupakan penggabungan antara hasil refleksi siklus I dan II

   baik mengenai kekurangan yang ada maupun kelebihan yang ada. Pada siklus

   III ini juga terdiri dari tindakan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi

   dan refleksi. Adapun langkah-langkah yang akan dilaksanakan adalah sebagai

   berikut:

   1. Perencanaan Tindakan

              Langkah-langkah yang dilakukan dalam perencanaan tindakan

       pada siklus III ini adalah peneliti membuat Rencana Pembelajaran Siklus III,

       kemudian membuat soal-soal yang berkaitan dengan Persamaan Linear Dua

       Variabel untuk tes formatif dan menyiapkan Tabel Pengamatan Aktivitas

       Siswa dalam KBM, dan Pengamatan Tinjauan Kelas.

   2. Tindakan Pelaksanaan

              Pada siklus III ini guru terlebih dahulu memberikan informasi

       kepada para siswa tentang hasil dari siklus I dan II. Dengan melihat

       kekurangan yang ada maka pada siklus ini langkah yang pertama kali

       dilakukan yaitu dengan melakukan langkah-langkah perbaikan. Setelah

       menyusun langkah perbaikan kemudian guru mengingatkan kembali

       pelajaran yang lalu dan memotivasi siswa untuk lebih memahami materi

       berikutnya dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang hebdak dicapai

       pada siklus ini. Setelah itu Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok
                                                                        50



   yang terdiri atas 4 – 5 siswa (menciptakan masyarakat belajar), kemudian

   guru membagikan LKS yang berisikan masalah sehari-hari yang berkaitan

   dengan Persamaan Linear Dua Variabel kepada setiap kelompok untuk

   dikerjakan. Beberaa kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka dan

   kelompok lain menanggapi (permodelan/modeling dan bertanya/questioning).

   Guru memberikan pujian/penghargaan untuk kelompok dengan hasil terbaik,

   setelah itu Siswa dengan bimbingan guru merangkum materi pelajaran

   (refleksi). Pada pertemuan kedua pelaksanaan tindakan dilakukan untuk

   melakukan tes formatif.

3. Observasi

          Hasil pengamatan yang telah dilakukan pada siklus III ini

   menunjukkan bahwa pada saat KBM berlangsung, pengamat mengamati

   aktivitas belajar siswa, yang ditandai dengan keberanian siswa bertanya,

   menjawab pertanyaan, keberanian siswa dalam menyampaikan hasil diskusi

   mereka. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh bahwa siswa yang

   mempunyai keberanian untuk bertanya mengalami peningkatan yang pesat,

   dan siswa yang menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh guru juga

   meningkat dan siswa yang tidak melakukan aktivitas apapun mengalami

   penurunan bahkan hampir tidak terdapat siswa yang kurang aktif, karena

   semua siswa yang ada sudah dapat aktif dalam mengikuti pembelajaran

   matematika dibandingkan pada siklus II. Peningkatan tersebut didukung

   dengan perolehan nilai yang diperoleh oleh siswa mengalami peningkatan.

   Berdasarkan data statistik yang diperoleh adalah sebagai berikut:

                         Tabel 4.5. Hasil tes siklus III
                                                                                      51



   No       Kategori     Interval      X       f      f()        %         Ket

    1     Amat baik       90-100       95      25    2375      70.47    3370/38

   2          Baik        70-89        80      10     800      23.74     = 88.68

   3         Cukup        60-69        65      3      195       5.79

   4         Kurang        59         35      0       0        0.00

        Jumlah                                38     3370      100        (Baik)



   4. Refleksi

                  Dari data yang telah diperoleh dari hasil penelitian dan pengamatan

         yang telah diuraikan dapat diambil suatu kesimpulan bahwa: Aktivitas siswa

         pada siklus III ini mengalami peningkatan sesuai dengan yang diharapkan.

         Pengelolaan kelas oleh guru pun sudah cukup meningkat. Hasil pemahaman

         siswa pada siklus III juga mengalami peningkatan sesuai dengan target yang

         diharapkan terbukti dengan peningkatan prestasi yang diperoleh para siswa.



F. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus

             Proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru sering tidak sesuai

   dengan mata pelajaran yang dibawakan. Akibat dari ketidaksesuaian metode

   pembelajaran yang digunakan dalam mengajar akan mempengaruhi motivasi

   siswa dalam belajar, bisa menjadikan siswa merasa bosan dan tidak

   bersemangat untuk melakukan pembelajaran, sehingga pemahaman terhadap

   suatu pelajaran atau materi yang telah disampaikan oleh guru juga kurang

   sehingga prestasi atau nilai yang diperoleh juga rendah dan mengakibatkan
                                                                            52



pembelajaran yang dilakukan tidak berjalan dengan baik. Seperti halnya di

SMP Negeri 4 Wonogri khususnya kelas VIII B Semester I Tahun Pelajaran

2008/2009, metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran

matematika guru biasanya menggunakan metode ceramah, dimana guru hanya

menerangkan materi yang akan disampaikan dan siswa hanya disuruh

memperhatikan, kemudian siswa diberi soal yang sesuai dengan buku diktat

yang diberikan tanpa adanya suatu pengembangan soal yang ada, sehingga

siswa merasa takut dan malas untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Melihat

kondisi tersebut maka dalam penelitian ini digunakan suatu pendekatan

kontekstual atau CTL untuk dapat memecahkan masalah matematika pada

pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel dengan adanya bimbingan dari

guru yang bersangkutan. Tahap pra siklus merupakan suatu tahap awal

sebelum proses penelitian dilakukan, dimana dalam tahap ini prestasi siswa

menunjukkan hasil yang sangat tidak baik atau nilai yang mereka peroleh

sangat kuran, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa dalam

mata pelajaran Matematika kurang. Untuk itu diterapkan siklus I, sebagai awal

dari pelaksanaan metode yang baru.

       Pada siklus I dari 38 siswa ternyata banyak siswa yang kurang aktif atau

acuh dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini dapat disebabkan karena

siswa kurang memiliki prasyarat dalam mengikuti pembelajaran pada pokok

bahasan Persamaan Linear Dua Variabel sehingga materi ini dianggap sukar oleh

sebagian siswa. Maka siswa harus diberi motivasi agar lebih bersemangat dalam

proses belajar mengajar yaitu antara lain dengan diberi pertanyaan-pertanyaan

yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Bila jawaban siswa benar,
                                                                              53



guru memberi penguatan atau pujian agar siswa merasa senang. Guru juga harus

memberi tahu bahwa manfaat menguasai materi Persamaan Linear Dua Variabel

itu sangat penting karena dapat digunakan menyelesaikan masalah-masalah dalam

kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan Persamaan Linear Dua Variabel.

Dengan melihat hasil pemahaman siswa, ternyata dari 38 siswa terdapat 12 siswa

(18.22%) yang dapat dikategorikan memiliki tingkat pemahaman yang kurang

yaitu mendapat nilai  59, sedang siswa yang memiliki kemampuan dalam

kategori cukup sejumlah 17 siswa (47,94%) yaitu mendapat nilai antara 60-69.

siswa yang memiliki kemampuan dalam kategori baik sejumlah 5 siswa (17,35%)

yaitu mendapat nilai antara 70-89 dan siswa yang memiliki kemampuan dalam

kategori amat baik sejumlah 4 siswa (16,49 %) yaitu mendapat nilai antara 90-

100, dan rata-rata kemampuan dalam memahami pelajaran matematika yang

diperoleh pada siklus I ini oleh para siswa kelas VIII B ini adalah 60.66. Dengan

melihat hasil yang diperoleh siswa dalam tingkat pemahaman pelajaran

matematika dalam pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel dapat

dijelaskan bahwa dalam sikus I penguasaan guru terhadap materi pembelajaran

sudah baik, tapi perhatian guru kurang merata pada seluruh siswa. Sehingga ada

beberapa siswa yang kurang aktif, acuh, dan sibuk bermain (ngobrol) sendiri.

Kesimpulannya pada siklus I kegiatan pembelajaran belum berhasil karena belum

memenuhi tolak ukur keberhasilan yaitu tuntas belajar klasikal minimal 75%. Hal

ini disebabkan karena masih banyak siswa yang acuh dan kurang aktif dalam

mengikuti KBM. Siswa yang kurang menguasai materi prasyarat yaitu suku-suku

pada bentuk aljabar. Dengan demikian peneliti perlu melakukan tindakan
                                                                              54



selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal

Persamaan Linear Dua Variabel.

       Pada siklus kedua ini, terlihat bahwa siswa yang kurang aktif sudah

berkurang jika dibandingkan dengan siklus pertama. Dari hasil pemahaman siswa

juga terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal, terbukti

dari 38 siswa terdapat 6 siswa (7,42 %) yang dapat dikategorikan memiliki

tingkat pemahaman yang kurang yaitu mendapat nilai  59, sedang siswa yang

memiliki kemampuan dalam kategori cukup sejumlah 7 siswa (16,08 %) yaitu

mendapat nilai antara 60-69. siswa yang memiliki kemampuan dalam kategori

baik sejumlah 14 siswa (39.58 %) yaitu mendapat nilai antara 70-89 dan siswa

yang memiliki kemampuan dalam kategori amat baik sejumlah 11 siswa (36.93%)

yaitu mendapat nilai antara 90-100, dan rata-rata kemampuan dalam memahami

pelajaran matematika yang diperoleh pada siklus II ini oleh para siswa kelas VIII

B adalah 74,47. Berarti ada peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan

soal Persamaan Linear Dua Variabel. Pada siklus II ini kegiatan guru dalam

melakukan pembelajran matematika sudah ada peningkatan dibandingkan siklus I

yaitu perhatian guru sudah merata dan siswa yang pasif diberi pertanyaan

sehingga siswa menjadi aktif. Kesimpulannya pada siklus ke-2 terjadi

peningkatan kemampuan pemahaman siswa dalam pemelajaran matematika pada

pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel, hal ini disebabkan karena siswa

semakin aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

       Pada siklus ketiga ini, siswa sudah semakin aktif dibandingkan dengan

siklus kedua, dari hasil prestasi siswa juga terjadi peningkatan kemampuan

pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal, terbukti siswa yang masuk dlam
                                                                                    55



   kategori mempunyai pemahaman yang kurang sudah tidak terdapat lagi. Dan

   tidak tuntas belajar tinggal 9 siswa (22,5%) sedang siswa yang memiliki

   kemampuan dalam kategori cukup sejumlah 3 siswa (5,79 %) yaitu mendapat

   nilai antara 60-69. Siswa yang memiliki kemampuan dalam kategori baik

   sejumlah 10 siswa (23,74 %) yaitu mendapat nilai antara 70-89 dan siswa yang

   memiliki kemampuan dalam kategori amat baik sejumlah 25 siswa (70,47 %)

   yaitu mendapat nilai antara 90-100 atau hampir 50% dari jumlah siswa yang ada

   dan rata-rata kemampuan dalam memahami pelajaran matematika yang diperoleh

   pada siklus II ini oleh para siswa kelas VIII B adalah 88.68. melihat hasil tersebut

   berarti terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal

   Persamaan Linear Dua Variabel. Sedang dalam kegiatan belajar mengajar oleh

   guru, kegiatan guru sudah cukup baik dalam mengelola kegiatan belajar mengajar

   dengan pendekatan kontekstual (CTL). Kesimpulan pada siklus ketiga terjadi

   peningkatan prestasi belajar Persamaan Linear Dua Variabel, hal ini disebabkan

   karena siswa semakin aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.


G. Kesimpulan Dari Hasil Pengamatan

          Berdasarkan penjabaran dan pemaparan yang telah dilakukan di atas,

   bahwa suatu pembelajaran akan dapat berjalan dengan baik apabila dalam proses

   pembelajaran menggunakan metode pembelajaran yang cocok. Dari hasil yang

   diperoleh di atas, dapat di simpulkan bahwa dengan melihat hasil penelitian di

   kelas VIII B SMP N 4 Wonogiri Kabupaten Wonogiri pada semester I tahun

   pelajaran 2008/2009 tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa faktor-faktor yang

   paling banyak menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi

   pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel adalah:
                                                                                56



1. Siswa tidak mampu menyelesaikan Persamaan Linear Dua Variabel karena

   tidak memahami materi prasyarat yaitu operasi hitung pada bentuk aljabar

   pada bab sebelumnya.

2. Siswa tidak dapat menyelesaikan Persamaan Linear Dua Variabel disebabkan

   karena siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar dengan

   pendekatan kontekstual (CTL).

3. Siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan

   kontekstual karena siswa kurang memiliki keberanian untuk tampil di muka

   kelas (malu dan kurang percaya diri).

4. Siswa tidak mampu menyelesaikan soal-soal cerita ke dalam kalimat

   matematikanya otomatis siswa akan mengalami kesalahan pada tahap

   perhitungan dalam menarik kesimpulan.

Tindakan yang harus dilakukan pada siswa yang mengalami kesulitan adalah:

1. Siswa yang tidak mampu menyelesaikan Persamaan Linear Dua Variabel

   karena tidak memahami operasi hitung pada bentuk aljabar diberikan PR yang

   berkaitan dengan operasi hitung pada bentuk aljabar utuk latihan di rumah.

2. Siswa yang tidak mampu menyelesaikan Persamaan Linear Dua Variabel

   karena kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran diberi perhatian dengan

   pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Persamaan Linear Dua

   Variabel agar siswa tersebut menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.

3. Siswa yang kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar karena kurang

   memiliki keberanian untuk tampil di muka kelas, diberikan kepercayaan,

   dorongan dan motivasi agar siswa tersebut lebih percaya diri untuk tidak
                                                                       57



   malu-malu tampil di muka kelas dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan

   belajar mengajar.

4. Siswa yang tidak mampu menyelesaikan soal-soal cerita dalam kalimat

   matematika dibimbing agar mampu mengungkapkan soal-soal cerita ke dalam

   kalimat matematika.
                                                                        58



                                  BAB V

                                PENUTUP



A. Simpulan

           Dari hasil penelitian tindakan kelas sebagai upaya meningkatkan

  pemahaman siswa kelas VIII B SMP N 4 Wonogiri Kabupaten Wonogiri dalam

  pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel melalui model pembelajaran

  dengan pendekatan kontekstual (CTL) maka dapat diambil suatu kesimpulan

  yaitu:

  1. Strategi yang digunakan dalam meningkatkan pemahaman siswa pada

      pembelajaran Matematika pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel

      pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun

      Pelajaran 2008/2009 adalah dengan menggunakan pendekatan kontektual

      (Contextual Teaching and Learning (CTL)), metode ini digunakan karena

      sebelum menggunakan metode ini dalam proses pembelajran guru sering

      menggunakan metode ceramah atau ekspositori sehingga siswa kurang

      dituntut untuk dapat lebih aktif dan kreatif sehingga pemahaman siswa

      dalam pembelajaran Matematika juga rendah.

  2. Pengaruh penerapan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual

      (Contextual Teaching and Learning (CTL)) terhadap peningkatan

      pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika pokok bahasan

      Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 4

      Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 adalah melalui metode

      pembelajaran dengan menggunakan model pendekatan kontektual ini,
                                                                              59



      tingkat pemahaman siswa dalam pelajaran matematika pada pokok

      bahasan Persamaan Linear Dua Variabel dapat meningkat.

   3. Faktor-faktor   yang dapat menghambat pelaksanaan dalam upaya

      meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika pokok

      bahasan Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa kelas VIII B SMP

      Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009 adalah siswa

      tidak mampu menyelesaikan Persamaan Linear Dua Variabel karena tidak

      memahami materi prasyarat yaitu operasi hitung pada bentuk aljabar pada bab

      sebelumnya, siswa tidak dapat menyelesaikan Persamaan Linear Dua

      Variabel disebabkan karena siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar

      mengajar dengan pendekatan kontekstual (CTL), karena siswa kurang

      memiliki keberanian untuk tampil di muka kelas (malu dan kurang percaya

      diri), siswa tidak mampu menyelesaikan soal-soal cerita ke dalam kalimat

      matematikanya otomatis siswa akan mengalami kesalahan pada tahap

      perhitungan dalam menarik kesimpulan.


B. Implikasi/Rekomendasi

          Penerapan   pendekatan     CTL      menggunakan    model    kontektual

   diterapkan di SMP Negeri 4 Wonogiri telah berjalan dengan baik dan mampu

   meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika. Karena

   dengan metode ini siswa lebih dicondongkan untuk kreatif dan aktif dalam

   melakukan pembelajaran serta pengerjaan soal yang diberikan, karena dengan

   pemecahan soal baik secara kelompok maupun individu siswa lebih mudah

   untuk memecahkannya. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran guru yang
                                                                               60



  telah berhasil membangkitkan keaktifan siswa untuk lebih aktif dalam

  memahami pelajaran matematika. Dengan meningkatnya keaktifan siswa

  maka minat siswa terhadap mata pelajaran matematika yang dianggap sebagai

  mata pelajaran yang menakutkan akan menjadi pelajaran yang menyenangkan

  dan akan berujung pada peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang

  diberikan dan prestasi yang diperoleh mata pelajaran matematika di SMP

  Negeri 4 Wonogiri Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009.


C. Saran

           Berdasrkan hasil penelitian di atas saran yang dapat diberikan peneliti

  adalah sebagai berikut:

  1. Dalam pembelajaran pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel guru

     disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran dengan pendekatan

     kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)).

  2. Guru harus dengan sabar membimbing siswa, khususnya siswa di kelas

     rendah agar pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel bukan merupakan

     pokok bahasan yang dirasakan sulit.

  3. Guru harus bisa menciptakan suasana yang ceria sehingga pelajaran

     matematika khususnya pokok bahasan Persamaan Linear Dua Variabel

     menjadi pelajaran yang menyenangkan.

  4. Guru harus memiliki sifat dasar yaitu ikhlas dan ulet dalam melakukan

     pembelajaran kepada siswa, sehingga siswapun akan dengan senang hati dan

     ikhlas menerima pelajaran matematika terutama pada pokok bahasan

     Persamaan Linear Dua Variabel.
                                                                                61




                             DAFTAR PUSTAKA


Arikunto.S., 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta-
        Jakarta

Depdiknas. 2005. Kurikulum 2004. Pedoman Khusus Pengembangan System
          Penilaian Berbasis Kompetensi SMP Mata Pelajaran Matematika. Dirjen
          Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Jakarta.

Depdiknas. 2005. Modul SMP Terbuka, Matematika Kelas I Semester I, Kegiatan
          Siswa. Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Depdiknas. 2005. Pendekatan Pembelajaran Matematika. Bahan Pelatihan
          Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP di PPPG Matematika
          Yogyakarta. Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Depdiknas. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis
          Kompetensi Guru SMP di PPPG Matematika Yogyakarta. Dirjen
          Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Dimyati, dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.

Miles M.B dan Huberman A.M. 1997. Analisis Data Kualitatif. Universitas
         Indonesia Press.

Moleong L.J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja

         Rosdakarya.

Sudjana S. 2000. Strategi Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah. Bandung. Penerbit
           Falah Production.

Sugiyono, Prof. Dr., 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2006. Penelitian Kualitatif-Naturalistik Dalam Pendidikan. Yokyakarta.
           Usaha Keluarga.
                                                                 62




Sukmadinata N.S. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. Remaja
       Rosdakarya.




                                   56

								
To top