Docstoc

Aspal

Document Sample
Aspal Powered By Docstoc
					                   MAKALAH
SUMBER DAYA ALAM YANG TIDAK DAPAT DIPERBAHARUI
                   TENTANG ASPAL


         Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
                 Mata Pelajaran Geografi




                      Disusun Oleh :
                       Riki Yakub
                       Riefa Zaenal
                     Rina Nurhayati
                        Romanika
                        XI IPS 1




         SMA NEGERI 1 TALAGA
        TAHUN AJARAN 2012/2013
                           KATA PENGANTAR




       Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, yang
mana telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan panulisan makalah yang berjudul “Sumber Daya Alam yang Tidak
Dapat Diperbaharui Tentang Aspal”dengan baik.
       Sebelumnya, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah banyak membantu penulis dalam pembuatan makalah ini ,
sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan baik.
       Penulis menyadari berbagai kelemahan dan keterbatasan yang ada,
sehingga terbuka kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penulisan makalah ini.
Penulis sangat memerlukan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
untuk penyempurnaan makalah ini.
       Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, penulis berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.




                                                Talaga, 04 Februari 2013




                                                         Penulis




                                      i
                                                   DAFTAR ISI




Kata Pengantar             ....................................................................................   i
Daftar Isi ............................................................................................... ii
BAB I           PENDAHULUAN
          A. Latar Belakang                ...................................................................    1
          B. Rumusan Masalah                     .............................................................    1
          C. Tujuan .................................................................................             1
BAB II PEMBAHASAN
          A. Pengertian Aspal                  ...............................................................    2
          B. Sumber Aspal .......................................................................                 3
          C. Klasifikasi Aspal                ................................................................    6
          D. Sifat-sifat Kimia Aspal                      .....................................................   7
          E. Sifat-sifat Fisik Aspal .........................................................                    8
          F. Macam-macam Aspal                        ........................................................ 10
          G. Manfaat Aspal                 ................................................................... 11
BAB III PENUTUP
          A. Kesimpulan ......................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA




                                                              ii
                                      BAB I
                                PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
       Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat berwarna hitam
kecoklatan, tahan terhadap air. Aspal sering juga disebut bitumen. Aspal atau
bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan
sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal sebagai bahan pengikat
dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis. Aspal akan bersifat padat
pada suhu ruang dan bersifat cair bila dipanaskan. Aspal merupakan bahan yang
sangat kompleks dan secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan
utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan aromatic
yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Kegunaan aspal adalah
untuk melapisi permukaan jalan.
       Berdasarkan uraian di atas, maka penyusun tertarik untuk membahas lebih
jelas lagi tentang aspal dalam bab selanjutnya.


B. Rumusan Masalah
       Rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah pengertian aspal?
2. Apakah sumber dari aspal?
3. Apakah klasifikasi dari aspal?
4. Bagaimanakah sifat-sifat kimia aspal?
5. Bagaimanakah sifat-sifat fisik aspal?
6. Apakah maca-macam aspal?
7. Apakah manfaat dari aspal?


C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang pengertian, sumber, klasifikasi, sifat-sifat dan
   manfaat dari aspal.
2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang sumberdaya aspal.



                                           1
                                      BAB II
                                PEMBAHASAN




A. Pengertian Aspal
        Menurut Bambang Irianto (1988) dan Silvia Sukirman (1999), aspal beton
adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran antara batuan (agregat kasar dan
agregat halus) dengan bahan ikat aspal yang mempunyai persyaratan tertentu,
dimana kedua material sebelum dicampur secara homogen, harus dipanaskan
terlebih dahulu. Karena dicampur dalam keadaan panas, maka sering disebut
sebagai hot mix. Semua pekerjaan pencampuran hot mix dilakukan di pabrik
pencampur yang disebut sebagai Asphalt Mixing Plant (AMP).
        Konstruksi jalan terdiri dari beberapa lapis, antara lain: Subgrade, Sub
Base Course, Base Course, dan Surface. Aspal beton yang dipergunakan untuk
lapis perkerasan jalan juga terdiri dari beberapa jenis, yaitu: lapis pondasi, lapis
aus satu, dan lapis aus dua. Untuk mendapatkan mutu aspal beton yang baik,
dalam proses perencanaan campuran harus memperhatikan karakteristik campuran
aspal beton, yang meliputi:
1. Stabilitas
        Stabilitas aspal beton dimaksudkan agar perkerasan mampu mendukung
beban lalu lintas tanpa mengalami perubahan bentuk. Stabilitas campuran
diperoleh dari bgaya gesekan antar partikel (internal friction), gaya penguncian
(interlocking), dan gaya adhesi yang baik antara batuan dan aspal. Gaya-gaya
tersebut dipengaruhi oleh kekerasan permukaan batuan, ukuran gradasi, bentuk
butiran, kadar aspal, dan tingkat kepadatan campuran.
2. Durabilitas
        Aspal beton dimaksudkan agar perkerasan mempunyai daya tahan
terhadap cuaca dan beban lalu lintas yang bekerja. Faktor-faktor yang mendukung
durabilitas meliputi kadar aspal yang tinggi, gradasi yang rapat, dan tingkat
kepadatan yang sempurna.
3. Fleksibilitas



                                         2
       Fleksibilitas   aspal   beton   dimaksudkan    agar   perkerasan   mampu
menanggulangi lendutan akibat beban lalu lintas yang berulang-ulang tanpa
mengalami perubahan bentuk. Fleksibilitas perkerasan dapat dicapai dengan
menggunakan gradasi yang relatif terbuka dan penambahan kadar aspal tertentu
sehingga dapat menambah ketahanan terhadap pembebanan


B. Sumber Aspal
a. Aspal merupakan suatu produk berbasis minyak yang merupakan turunan dari
   proses penyulingan minyak bumi, dan dikenal dengan nama aspal keras.
b. Aspal juga terdapat di alam secara alamiah, aspal ini aspal alam
c. Aspal ini dibuat dengan menambahkan bahan tambah kedalam aspal yang
   bertujuan untuk memperbaiki atau memodifikasi safat rheologinya sehingga
   menghasilkan jenis aspal baru yang disebut aspal modifikasi
1. Aspal Hasil Destilasi
       Minyak mentah disuling dengan cara Destilasi, yaitu proses dimana
berbagai fraksi dipisahkan dari minyak mentah tersebut. Proses destilasi ini
disertai oleh kenaikan temperatur pemanasan minyak mentah tersebut. Pada setiap
temperatur tertentu dari proses destilasi akan dihasilkan produk-produk berbasis
minyak.
a. Aspal Keras
      Pada proses Destilasi fraksi ringan yang terkandung dalam minyak bumi
dipisahkan dengan destilasi sederhana hingga menyisakan suatu residu yang
dikenal dengan nama aspal keras. Dalam proses destilasi ini, aspal keras baru
dihasilkan melalui proses destilasii hampa pada temperatur sekitar 480 ºC.
Temperatur ini bervariasi tergantung pada sumber minyak mentah yang disulaing
atau tingkat aspal keras yang akan dihasilkan.
      Untuk menghasilkan aspal keras dengan sifat-sifat yang diinginkan, proses
penyulingan harus ditangani sedemikian rupa sehingga dapat mengontrol sifat-
sifat aspal keras yang dihasilkan. Hal ini sering dilakukan dengan mencampur
berbagai variasi minyak mentah bersama-sama sebelum proses destilasi
dilakukan. Pencampuran ini nantinya agar dihasilkan aspal keras dengan sifat-sifat



                                        3
yang bervariasi, sesuai dengan sifat-sifat yang diinginkan. Cara lainnya yang
sering dilakukan untuk mendapatkan aspal keras adalah dengan viskositas
menengah, yaitu dengan mencampur berbagai jenis aspal keras dengan proporsi
tertentu dimana aspal keras yang sangat encer dicampur dengan aspal lainnya
yang kurang encer sehingga menghasilkan aspal dengna viskositas menengah.
Selain melalui proses destilasi hampa dimana aspal dihasilkan dari minyak
mentah dengan pemanasan dan penghampaan, aspal keras juga dapat dihasilkan
melalui proses ekstraksi zat pelarut. Dalam proses ini fraksi minyak ( bensin,
solar, dan minyak tanah) yang terkandung dalam minyak mentah, dikeluarkan
sehingga meninggalkan aspal sebagai residu.
b. Aspal Cair
       Aspal cair dihasilkan dengan melarutkan aspal keras dengan bahan pelarut
berbasis minyak. Aspal ini dapet juga dihasilkan secara langsung dari proses
destilasi, dimana dalam proses ini raksi minyak ringan terkandung dalam minyak
mentah tidak seluruhnya dikeluarkan. Kecepatana menguap dari minyak yang
digunakan sebagai pelarut atau minyak yang sengaja ditinggalkan dalam residu
pada proses destilasi akan menentukan jenis aspal cair yang dihasilkan. Aspal cair
dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
   Aspal Cair Cepat Mantap (RC = Rapid Curing), yaitu aspal cair yang
    bahan pelarutnya cepat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini
    biasanya adalah bensin
 Aspal Cair Mantap Sedang (MC = Medium Curing), yaituaspal cair yang
    bahan pelarutnya tidak begitu cepat menguap. Pelarut yang digunakan pada
    aspal jenis ini biasanya adalah minyak tanah
 Aspal Cair Lambar Mantap (SC = Slow Curing), yaitu aspal cair yang
    bahan pelarutnya lambat menguap. Pelarut yang digunakan pada aspal jenis ini
    adalah solar.
       Tingkat kekentalan aspal cair sangat ditentukan oleh proporsi atau rasio
bahan pelarut yang digunakan terhadap aspal keras atau yang terkandung pada
aspal cair tersebut. Aspal cair jenis MC-800 memiliki nilai kekentalan yang lebih
tinggi dari MC-200.



                                         4
c. Aspal Emulsi
      Aspal emulsi dihasilkan melalui proses pengemulsian aspal keras. Pada
proses ini partikel-partikel aspal keras dipisahkan dan didispersikan dalam
airyang mengandung emulsifer (emulgator). Partikel aspal yang terdispersi ini
berukuran sangat kecil bahkan sebagian besar berukuran sangat kecil
bahkansebagian besar berukuran koloid. Jenis emulsifer yang digunakan sangat
mempengaruhi jenis dan kecepatan pengikatan aspal emulsi yang dihasilkan.
Berdasarkan muatan listrik zat pengemulsi yang digunakan, Aspal emulsi yang
dihasilkan dapat dibedakan menjadi :
 Aspal emulsi Anionik, yaitu aspal emulsi yang berion negatif.
 Aspal emulsi Kationik, yaitu aspal emulsi yang berion positif
 Aspal emulsi non-Ionik, yaitu aspal emulsi yang tidsk berion (netral)
2. Aspal Alam
       Aspal Alam adalah aspal yang secara alamiah terjadi di alam. Berdasarkan
depositnya aspal alam ini dikelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu:
   Aspal Danau ( Lake Asphalt)
       Aspal ini secara alamiah terdapat di danau Trinidad, Venezuella dan
lewele. Aspal ini terdiri dari bitumen, mineral, dan bahan organik lainnya. Angka
penetrasi dari aspal ini sangat rendah dan titik lembek sangat tinggi. Karena aspal
ini dicampur dengan aspal keras yang mempunyai angka penetrasi yang tinggi
dengan perbandingan tertentu sehingga dihasilkan aspal dengan angka penetrasi
yang diinginkan.
   Aspal Batu ( Rock Asphalt)
       Aspal batu Kentucky dan buton adalah aspal yang secara alamiah
terdeposit di daerah Kentucky, USA dan di pulau buton, Indonesia. Aspal dari
deposit ini terbentuk dalam celah-calah batuan kapur dan batuan pasir. Aspal yang
terkandung dalam batuan ini berkisar antara 12
– 35 % dari masa batu tersebut dan memiliki persentasi antara 0 – 40.
       Untuk pemakaiannya, deposit ini harus ditimbang terlebih dahulu, lalu
aspalnya diekstrasi dan dicampur dengan minyak pelunak atau aspal keras
dengan angka penetrasi sesuai dengan yang diinginkan. Pada saat ini aspal batu



                                        5
    telah dikembangkan lebih lanjut, sehingga menghasilkan aspal batu dalam bentuk
    butiran partikel yang berukuran lebih kecil dari 1 mm dan dalam bentuk mastik.
    3. Aspal Modifikasi
         Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan suatu bahan
    tambah. Polymer hádala jenis bahan tambah yang sering di gunakan saat ini,
    sehinga aspal modifikasi sering disebut juga aspal polymer.
    Antara lain berdasarkan sifatnya, ada dua jenis bahan polymer yang biasanya
    digunakan untuk tujuan ini, yaitu:
    Aspal Polymer Elastomer dan karet adalah jenis – jenis polyer elastomer yang
    SBS (Styrene Butadine Sterene), SBR (Styrene Butadine Rubber), SIS (Styrene
    Isoprene Styrene), dan karet hádala jenis polymer elastoner yang biasanya
    digunakan sebagai bahan pencampur aspal keras. Penambahanpolymer jenis ini
    dimaksudkan untuk memperbaiki sifat rheologi aspal, antara lain penetrasi,
    kekentalan, titik lembek dan elastisitas aspal keras. Campuran beraspal yang
    dibuat dengan aspal polymer elastomer akan memiliki tingkat elastisitas yang
    lebih tinggi dari campuran beraspal yang dibuat dengan aspal keras. Presentase
    penambahan bahan tambah ( additive) pada pembuatan aspal polymer harus
    ditentukan berdasarkan pengujian labolatorium, karena penambahan bahan
    tambah sampai dengan batas tertentu
    memang dapat memperbaiki sifat-sifat rheologi aspal dan campuran tetapi
    penambahan yang berlebiha justru akan memberikan pengaruh yang negatif.
    Aspal Polymer Plastomer
    Seperti halnya dengan aspal polymer elastomer, penambahan bahan polymer
    plastomer pada aspal keras juga dimaksudkan untuk meningkatkan sifat rheologi
    baik pada aspal keras dan sifat sifik campuran beraspal. Jenis polymer plastomer
    yang telah banyak digunakan antara lain adalah EVA ( Ethylene Vinyle Acetate),
    Polypropilene, dan Polyethilene. Presentase penambahan polymer ini kedalam
    aspal keras juga harus ditentukan berdasarkan pengujian labolatorium, karena
    penambahan bahan tambah sampai dengan batas tertentu penambahan ini dapat
    memperbaiki sifat-sifat rheologi aspal dan campuran tetapi penambahan yang
    berlebiha justru akan memberikan pengaruh yang negatif.



                                            6
C. Klasifikasi Aspal
       Aspal keras dapat di klasifikasikan kedalam tingkatan ( grade ) atau kelas
berdasarkan tiga sisten yang berbeda, yaitu:
1. Viskositas, viskositas setelah penuaan dan penetrasi. Masing-masing sistem
mengelompokan aspal dalam tingkatan atau kelas yang berbeda pula. Dalam
pengklasifikasian aspal yang ada, yang paling banyak digunakan adalah sistem
pengklasifikasin berdasarkan viskositas dan penetrasi. Dalam sistem viskositas,
satuan poise adalah estándar pengukuran viskositas absolut. Makin tinggi nilai
poise statu aspal makin kental aspal tersebut.
AC-25 ( aspal keras dengan viskositasn250 pose pada temperature 60°C) adalah
jenis aspal keras yang bersifat lunak, AC-40 (aspal keras dengan 400 poise pada
temperature 60ºC) adalah jenis aspal keras yang bersifat keras. Beberapa Negara
mengelompokan aspal berdasarkan viskositas estela penuaan. Ide ini untuk
mengidentifikasikan viskositas aspal estela penghamparan di lapangan. Untuk
mensimulasikan penuaan aspal selama pencampuran, aspal segar yang akan
digunakan dituangkan terlebihdahul dalam oven melalui pengujian Thin Film
Oven Test (TFOT) dan Rolling Film Oven Test (RTFOT). Sisa aspal yang
tertinggal (residu) kemudian ditentukan          tingkatannya (grade) berdasarkan
fiskositasnya dalam satuan poise.
2. Uji Penetrasi, Pada uji ini, sebuah jarum standar dengna beban 10 gram (
termasuk berat jarum) ditusukan keatas permukaan aspal, panjang jarum yang
masuk kedalam contoh aspal dalam waktu lima detik diukur dalam satuan
persepuluh mili meter (0,1 mm) dan dinyatakan sebagai nilai penetrasi aspal.
Semakin kecil nilai penetrasi aspal, semakin keras aspal tersebut.


D. Sifat-Sifat Kimia Aspal
       Aspal keras dihasilkan melalui proses destilasi minyak bumi. Minyak
bumi yang digunakan terbentuk secara alami dari senyawa-senyawa organik yang
telah berumur ribuan tahun dibawah tekanan dan variasi temperatur yang
tinggi.Susunan struktur internal aspal sangat ditentukan oleh susunan kimia
molekul-molekul yang terdapat dalam aspal tersebut. Susunan molekul aspal



                                         7
sangat kompleks dan dominasi ( 90 -95% dari berat aspal)oleh unsur karbon dan
hidrogen. Oleh sebab itu, senyawa aspal seringkali disebut sebagai senyawa
hidrokarbon. Sebagian kecil, sisanya (5- 10%), dari dua jenis atom, yaitu:
heteroatom dan logam. Unsur-unsur heteroatom seperti Nitrogen, Oksigen dan
Sulfur. Dapat menggantikan kedudukan atom karbon yang terdapat di dalam
stuktur molekul aspal. Hal inilah yang menyebabkan aspal memiliki rantai kimia
yang unik dan interaksi antar atom tom ini dapat menyebabkan perubahan pada
sifat fisik aspal. Jenis dan jumlah heteroatom yang terkandung didalam aspal
sangat ditentukan oleh sumber minyak tanah mentah yang digunakan dan tingkat
penuaannya. Heteroatom, terutama sulfur lebih reaktif daripada karbon dan
hidrogen untuk mengikat oksigen. Oleh sebab itu, aspal degna kandungan sulfur
yang tinggi akan mengalami penuaan yang lebih cepat dari pada aspal yang
mengandung sedikit sulfur. Atom logam seperti vanadium, nikel, besi, magnasium
dan kalsium hanya terkandung di dalam aspal dalam jumlah yang sangat kecil,
umumnya aspal hanya mengandung satu persen atom logam dalam bentuk garam
organik dan hidroksidanya. Karena susunan kimia aspal yang sangat kompleks,
maka analisa kimia aspal sangat sulit dilakukan dan memerlukan peralatan
labolatorium yang canggih, dan data yang dihasilkan pun belum tentu memiliki
hubungan dengan sifat rheologi aspal.Analisa kimia yang dihasilkan biasanya
hanya dapat memisahkan molekul aspal dalam dua grup, yaitu aspalten dan
malten. Selanjutnya malten dapat dibagi menjadi saturated, aromatik dan resin.
Walaupun begitu pembagian ini tidak dapat didefinisikan secara jelas karena
adanya sifat saling tumpang tindih antara kelompokkelompok tersebut.


E. Sifat – Sifat Fisik Aspal
       Sifat-sifat aspal yang sangat mempengaruhi perencanaan, produksi dan
kinerja campuran beraspal antara lain adalah:
1. Durabilitas
       Kinerja aspal sangat dipengaruhi oleh sifat aspal tersebut setelah diguakan
sebagai bahan pengikat dalam campuran beraspal dan dihampar dilapangan. Hal
ini di sebabakan karena sifat-saifat aspat akan berubah secara signifikan akibat



                                        8
oksidasi dan pengelupasan yang terjadi pada saat pencampuran, pengankutan dan
penghamparan campuran beraspal di lapangan. Perubahan sifat ini akan
menyebabkan aspal menjadi berdakhtilitas rendah atau dengna kata lain aspal
telah mngalami penuan. Kemampuan aspal untuk menghambat laju penuaan ini
disebut durabilitas aspal. Pengujian bertujuan untuk mengetahui seberapa baik
aspal untuk mempertahankan sifat –sifat awalnya akibat proses penuaan.
       Walaupun banyak faktor lain yang menentukan, aspal dengna durabilitas
yang baik akan menghasilkan campuran dengna kinerja baik pula. Pengujian
kuantitatif yang biasanya dilakukan untuk mengetahui durabilitas aspal adalah
pengujian penetrasi, titik lembek, kehilangan berat dan daktilitas. Pengujian ini
dlakukan pada benda uji yang telah mengalami Presure Aging Vassel ( PAV),
Thin Film Oven Test ( TFOT) dan Rolling Thin Film Oven Test ( RTFOT). Dua
proses penuaan terakhir merupakan proses penuaan yang paling banyak di
gunakan untuk mengetahui durabilitas aspal. Sifat aspal terutama Viskositas dan
penetrasi akan berubah bila aspal tesebut mengalami pemanasan atau penuaan.
Aspal dengan durabilitas yang baik hanya mengalami perubahan.
2. Adesi dan Kohesi
       Adesi adalah kemampuan partikel aspal untuk melekat satu sama lainnya,
dan kohesi adalah kemampuan aspal untuk melekat dan mengikat agregat. Sifat
adesi dan kohesi aspal sangat penting diketahui dalam pembuatan campuran
beraspal Karena sifat ini mempengaruhi kinerja dan durabilitas campuran. Uji
daktilitas aspal adalah suatu ujian kualitatif yang secara tidak langsung dapat
dilakukan untuk mengetahui tingkat adesifnes atau daktalitas aspal keras. Aspal
keras dengna nilai daktilitas yang rendah adalah aspal yang memiliki daya adesi
yang kurang baik dibandingkan dengan aspal yang memiliki nilai daktalitas yang
tinggi. Uji penyelimutan aspal terhadap batuan merupakan uji kuantitatif lainnya
yang digunakan untuk mengetahui daya lekat ( kohesi) aspal terhadap batuan.
Pada pengujian ini, agregat yang telah diselimuti oleh film aspal direndam dalam
air dan dibiarkan selama 24 jam dengan atau tanpa pengadukan. Akibat air atau
kombinasi air dengan gaya mekanik yang diberikan, aspal yang menyilimuti
pemukaan agregat akan terkelupas kembali. Aspal dengan gaya kohesi yang kuat



                                        9
akan melekat erat pada permukaan agregat, oleh sebab itu pengelupasan yang
tejadi sebagai akibat dari pengaruh air atau kombinasi air dengan gaya mekanik
sangat kecil atau bahkan tidak terjadi sama sekali
3. Kepekaan aspal terhadap temperatur
       Seluruh aspal bersifat termoplastik yaitu menjadi lebih keras bila
temperatur menurun dan melunak bila temperature meningkat. Kepekaan aspal
untuk berubah sifat akibat perubahan tempertur ini di kenal sebagai kepekaan
aspal terhadap temperatur.
4. Pengerasan dan penuaan aspal
       Penuaan aspal adalah suatu parameter yang baik untuk mengetahui
durabilitas campuran beraspal. Penuaan ini disebabkan oleh dua factor utama,
yaitu: penguapan fraksi minyak yang terkandung dalam aspal dan oksidasi
penuaan jangka pendek dan oksidasi yang progresif atau penuaan jangka panjang.
Oksidasi merupakan factor yang paling penting yang menentukan kecepatan
penuaan.


F. Macam – macam Aspal
a. Aspal Makadam (macadam penetrasi)
       Aspal yang digunakan untuk menambal tebal kontruksi pondasi dan untuk
memperbaharui permukaan. Terdiri dari lapisan batuan dengan butir yang lebih
besar diletakan diatas permukaan jalan, dengan tebal kurang lebih 1,5 x ukuran
batuan terbesar, kemudian dipadatkan sehingga menjadi kompak dan stabil,
selanjutnya dipenetrasi agar saling mengikat. Kesalahan aspal macadam :
- penggunaan batuan yang tidak benar
- penyebaran aspal yang tidak benar
b. Beton Aspal
       Batuan kering yang dipanaskan dicampur dengan aspal panas dengan aspal
panas dalam pabrik pencampur dan diangkut ketempat pekerjaan.
- kepadatan tinggi dengan ruang kosong yang rendah (3-8 %)
- kadar aspal rendah (4-6%)
- permukaan lapisan lebih tahan lama



                                        10
- mampu menahan gesekan
- permukaannya rata
- pencampurannya saggat merata
- kekuatan dan stabilitasnya yang tinggi
kesalahan pada aspal beton :
- gradasi batuan tidak benar
- terlalu banyak aspal
- pencampuran aspal terlalu sedikit
- batuan tidak cukup kering
- kesalahan pelaksanaan penghamparan
- kesalahan membuat sambungan
c. Butas (Buton aspal)
        Aspal yang tergolong aspal batu / rock aspal, banyak di temui di pulau
buton, sulawesi tenggara. Bentuknya seperti batu cadas berwarna hitam
Kesalahan pada butas :
- waktu pengeraman terlalu singkat / lama
- pengadukan tidak homogen
- terjadi segregasi
- komposisi campuran tidak benar.


G. Manfaat Aspal
        Aspal dalam kehidupan memiliki banyak kegunaan diantaranya digunakan
sebagai pelapis dalam pembuatan jalan, coating atap, dan sebagai waterproofing
pada peralatan industri.




                                           11
                                     BAB III
                                   PENUTUP




A. Kesimpulan
       Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna
hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut
bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan
sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam
(aspal buton} atau aspal minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi).
Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan
aspal cair. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh,
alifatik dan aromatic yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul.
       Fungsi aspal antara lain Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari
permukaan jalan akibat lalu lintas (water proofing, protect terhadap erosi), Lapis
resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair yang diletakan di atas
lapis pondasi sebelum lapis berikutnya, Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis
aspal cair yang diletakan di atas jalan yang telah beraspal sebelum lapis
berikutnya dihampar, berfungsi pengikat di antara keduanya dan Sebagai pengisi
ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat halus, dan filler.




                                        12
                             DAFTAR PUSTAKA




http://anasaff.blogspot.com/2012/08/aspal-dan-kharakteristiknya.html
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-
gurmilanga-31835
http://listiyonobudi.blogspot.com/2011/04/definisi-dan-jenis-jenis-aspal.html




                                        13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:12
posted:2/4/2013
language:Malay
pages:16