makna keberadaan alam

Document Sample
makna keberadaan alam Powered By Docstoc
					                                            BAB I
                                    PENDAHULUAN


       Surat Al – Baqarah yang 286 ayat itu turun di Madinah yang sebagian besar
diturunkan pada permulaan hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada haji wada’.
Seluruh ayat dari Al – Baqarah termasuk golongan Madaniyah, merupakan surat terpanjang
di antara surat – surat Alquran yang lainnya. surat ini dinamai Al – Baqarah karena di
dalamnya disebutkan kisah penyelembihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani
Israil (ayat 64 sampai dengan 67), dimana dijelaskan watak orang yahudi pada umumnya.
Dinamai Fushaatul – Quran (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak
disebutkan dalam surat yang lain. Dinamai juga surat Alif –Laam – Miim karena surat ini
dimulai dengan Alif –Laam – Miim.

       Sedangkan surat Al – A’raf yang berjumlah 206 ayat termasuk golongan surat
Makkiyah diturunkan sebelum turunnya surat Al – An’am dan termasuk golongan surat
Assab ‘uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Dinamakan Al – A’raf karena perkataan Al –
A’raf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan orang – orang yang
berada di atas Al – A’raf, yaitu tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.




                                                                                       2
                                                 BAB II

                                          PEMBAHASAN



        Surat Al-Baqarah ayat 29




        Artinya: Dia-lah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian, kemudian
ia berkehendak pula menciptakan langit, maka Dia menjadikannya tujuh lapis. ‎ an Dia
                                                                            D
Maha Mengetahui segala sesuatu.1
        Allah bukan hanya menghidupkan kamu didunia, tetapi juga menyiapkan sarana
kehidupan didunia, Dia-lah Allah swt. yang menciptakan untuk kamu apa yang ada di bumi
semua sehingga semua yang kamu butuhkan untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup
kamu terhampar, dan itulah bukti kemahakuasaan-Nya.2




        Artinya: Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di
bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.
        Dan di dalam ayat 13 Surah Al-Jaatsiyah, dikatakan, " Dan Dia telah menundukkan
untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya. "


____________________
        1
            Al-Jumanatul Ali, Al-Qur’an dan Terjemahannya
        2
            M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta : Lentera
Hati, 2002), hlm. 138




                                                                                                         3
        Jadi bukan hanya bumi, tetapi langit dan segala isinya, Allah ciptakan untuk
‎ epentingan manusia. Satu lagi diantara tanda-tanda tauhid atau keesaan ‎ llah ialah sistem
k                                                                        A
yang amat rumit namun sangat teliti, yang mengatur langit ‎ an segala isinya, dimana para
                                                          d
ilmuwan di zaman teknologi moderen dan ‎ erba canggih ini mengakui kelemahan mereka
                                       s
menghadapi kehebatan alam ‎ aya ini. Bola bumi yang merupakan sumber kehidupan dan
                          r
macam-macam ‎ ikmat bagi kita, tak lebih hanyalah sebuah benda langit yang sangat kecil
            n
‎ ibanding benda-benda langit yang lain.‎
d
        Al-Quran pun menyebutnya dengan satu kata bentuk tunggal, yaitu Al-Ardh.
‎ edangkan tentang langit, di dalam banyak ayat, Al-Quran menyebutnya ‎ Sab'a Samawat"
S                                                                     "
berarti bahwa Allah membentangkan langit yang berlapis ‎ujuh, berdasarkan pengelolaan dan
                                                       t
pengaturan yang sangat cermat, yang ‎ ia ciptakan untuk kepentingan manusia. Tujuh langit,
                                    D
yang berdasarkan ‎ yat-ayat lain, langit yang dapat disaksikan oleh mata manusia ini disebut
                 a
‎ ebagai Sama' udunya, artinya langit yang terendah. Sedangkan langit yang ‎ nam lapis
s                                                                          e
lainnya berada di luar jangkauan penglihatan dan pengetahuan ‎ anusia.
                                                             m

             َ‫س‬
        ِ‫اسْتَوَى إِلَى ال َّمَاء‬   , berkehendak atau bertujuan ke langit. Makna lafaz ini

mengandung kedua lafaz tersebut, yakni berkehendak dan bertujuan, karena ia di-muta’addi-
kan dengan memakai huruf ila. Fasawahunna lalu Dia menciptakan langit tujuh lapis. Lafaz
As-sama dalam ayat ini merupakan isim jinis, karena itu disebutkan sab’a samawat.3

        ‫م‬              ِ‫َ كل‬
        ٌ ‫ , وهُوَ بِ ُ َّ شَيْءٍ عَلِي‬Dia mengetahui segala sesuatu, yakni pengetahuannya meliputi
semua makhluk yang telah Dia ciptakan.
        Dapatlah kita mengerti bahwa penyusunan Allah atas alam, baik penciptaan bintang-
bintang termasuk bumi ini, ataupun kejadian langit adalah memakai jaman dan waktu yang
teratur, terletak di luar dari pada hitungan masa dan tahun kita di dunia. Sebab hitungan tahun
di dunia ini adalah sangat terbatas, hanya pada peredaran bumi mengelilingi matahari dan
bulan mengelilingi bumi. Tuhanlah yang Maha Tahu semuanya itu.




____________________
        3
          Al-Imam Ibnu kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir Juz 1 Al-Fatihah s.d Al-Baqarah, ( Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2000), hlm. 348-349




                                                                                                     4
         Dapatlah kita mengerti bahwa penyusunan Allah atas alam, baik penciptaan bintang-
bintang termasuk bumi ini, ataupun kejadian langit adalah memakai jaman dan waktu yang
teratur, terletak di luar dari pada hitungan masa dan tahun kita di dunia. Sebab hitungan tahun
di dunia ini adalah sangat terbatas, hanya pada peredaran bumi mengelilingi matahari dan
bulan mengelilingi bumi. Tuhanlah yang Maha Tahu semuanya itu.




         Artinya: Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan
atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?( Q.S Al-Mulk: 14) 4
         Makna ayat ini diterangkan dalam surat ha mim sajdah, dengan dalil yang terkandung
bahwa Allah swt. memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan bumi, kemudian menciptakan
tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian
bawah, setelah itu baru bagian atasnya.
         Menurut suatu pendapat, Ad-dahaa (penghamparan) bumi dilakukan sesudah
penciptaan langit dan bumi. Demikian menurut riwayat Ali Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu
Abbas.
         As-saddi telah mengatakan dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh,
dari Ibnu Abbas juga dari Murah, dari Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah para sahabat yang
sehubungan dengan makna firman-Nya (Al-Baqarah: 29).
         Disebutkan bahwa ‘Arasy Allah swt. berada di atas air, ketika itu Allah belum
menciptakan sesuatu pun selain dari air tersebut. Ketika Allah swt. berkehendak menciptakan
makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (gas) tersebut
membumbung di atas air hingga letaknya berada diatas air, dinamakanlah sama (langit).
Kemudian air dikeringkan dan Dia menjadikannya bumi yang menyatu.5
         Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan di jadikan-Nya tujuh lapis dalam dua hari, yaitu
Ahad dan Senin. Allah swt. menciptakan bumi diatas ikan besar, dan ikan besar inilah yang
disebutkan Allah swt dalam firman-Nya dalam surat Al-Qalam yang berarti “Nun, demi
Qalam”.


____________________
         4
             Al-Jumanatul, Op.cit
         5
             Ibnu kasir, Op.cit, hlm. 351




                                                                                             5
       Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa dibumi, lalu Allah swt
mletakkan gunung-gunung diatasnya sehingga bumi menjadi tenang; gunung – gunung itu
berdiri dengan kokohnya di atas bumi.6
       Hal inilah yang dinyatakan dalam firman Allah swt.:




       Artinya: Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi
itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan
yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.( Q.S Al-Anbiyaa: 31)
       Allah swt. menciptakan gunung dibumi dan makanan untuk penghuninya,
menciptakan pepohonannya dan semua yang diperlukan dibumi pada hari Selasa dan Rabu.7
       Hal inilah yang dijelaskan dalam firman-Nya:




       Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan
bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itu
adalah Rabb semesta alam". Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di
atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang
bertanya. (Q.S Fussilat: 9-10 )




____________________
       6
           Ibid, hlm: 352
       7
           Ibid


                                                                                        6
       Dalam ayat selanjutnya disebutkan pula:




       Artinya: Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih
merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya
menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang
dengan suka hati". (Q.S Fussilat: 11 )

       Asap itu merupakan uap dari air tadi, kemudian asap dijadikan langit tujuh lapis
dalam dua hari, yaitu kamis dan jum’at. Sesungguhnya hari jum’at dinamakan demikian
karena pafa hari itu diciptakan langit dan bumi bersamaan.8

       Allah swt. berfirman:




       Artinya: Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan
pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang
yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Q.S Fussilat: 12 )9




____________________
       8
           Ibid, hlm.353
       9
           Al-Jumanatul, Loc. Cit




                                                                                      7
        Surat Al-A’raf ayat 54




        Artinya: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada
siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.


        Allah Swt. berfirman bahwa Dialah yang menciptakan seluruh alam semesta ini,
termasuk langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Hal seperti
ini disebutkan di dalam Al-Qur'an bukan hanya satu ayat.
             Yang dimaksud dengan enam hari ialah Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan
Jumat. Pada hari Jumat semua makhluk kelak dihimpunkan, dan pada hari Jumat pula Allah
menciptakan Adam a.s.
             Para ulama berselisih pendapat mengenai pengertian makna hari-hari tersebut.
Dengan kata lain, apakah yang dimaksud dengan hari-hari tersebut sama dengan hari-hari kita
sekarang, seperti yang kita pahami dengan mudah. Ataukah yang dimaksud dengan setiap
hari adalah yang lamanya sama dengan seribu tahun, seperti apa yang telah dinaskan oleh
Mujahid dan Imam Ahmad ibnu Hambal, yang hal ini diriwayatkan melalui Ad-Dahhak dari
Ibnu Abbas.
             Adapun mengenai hari Sabtu, tidak terjadi padanya suatu penciptaan pun, mengingat
hari Sabtu adalah hari yang ketujuh. Karena itulah hari ini dinamakan hari Sabtu, yang
artinya putus.10




____________________
        10
              Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasiqy, Tafsir Ibnu Kasir Juz 8 Al-An’am 111 s.d Al-
A’raf 87, ( Bandung: Sinar Baru Algensindo), hlm. 352


                                                                                                          8
       Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya menyebutkan,
telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah
menceritakan kepadaku Ismail ibnu Umayyah, dari Ayyub ibnu Khalid, dari Abdullah ibnu
Rafi' maula Ummu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw.
memegang tangannya, lalu bersabda:




        Artinya: Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung-gunung
yang ada di bumi pada hari Ahad, menciptakan pepohonan yang ada di bumi pada hari
Senin, menciptakan hal-hal yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan nur pada hari
Rabu, menebarkan hewan-hewan di bumi pada hari Kamis, dan menciptakan Adam sesudah
asar pada hari Jumat sebagai akhir makhluk yang diciptakan di saat yang terakhir dari saat-
saat hari Jumat, tepatnya di antara waktu asar dan malam hari.
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim ibnu Hajjaj di dalam kitab sahihnya dan juga oleh Imam
Nasai melalui berbagai jalur dari Hajjaj (yaitu Ibnu Muhammad Al-A'war), dari Ibnu Juraij
dengan sanad yang sama. Di dalamnya disebutkan semua hari yang tujuh secara penuh.
Padahal Allah Swt. telah menyebutkan dalam FirmanNya enam hari. Karena itulah maka
Imam Bukhari dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan para huffaz
mempermasalahkan hadis ini. Mereka menjadikannya sebagai riwayat dari Abu Hurairah,
dari Ka'b AI-ahbar, yakni bukan hadis marfu’.
        Mengenai firman Allah Swt. yang mengatakan:



        Artinya: Lalu Dia bersemayam (berkuasa) di atas Arasy. (Q.S Al-A'raf: 54)


        Sehubungan dengan makna ayat ini para ulama mempunyai berbagai pendapat yang
cukup banyak, rinciannya bukan pada kitab ini. Tetapi sehubungan dengan ini kami hanya
meniti cara yang dipakai oleh mazhab ulama Salaf yang saleh, seperti Malik, Auza'i, As-

                                                                                         9
Sauri, Al-Lais ibnu Sa'd, Asy-Syafii, Ahmad, dan Ishaq ibnu Rahawaih serta lain-lainnya dari
kalangan para imam kaum muslim, baik yang terdahulu maupun yang kemudian. Yaitu
menginterpretasikannya          seperti     apa   adanya,   tetapi   tanpa   memberikan   gambaran,
penyerupaan, juga tanpa mengaburkan pengertiannya. Pada garis besarnya apa yang mudah
ditangkap dari teks ayat oleh orang yang suka menyerupakan merupakan hal yang tidak ada
bagi Allah, mengingat Allah Swt. itu tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyerupai-
Nya.
            Allah Swt. telah berfirman:




            Artinya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S Asy-Syura: 11)11


       Bahkan pengertiannya adalah seperti apa yang dikatakan oleh para imam, antara lain
Na'im ibnu Hammad AI-Khuza'I (guru Imam Bukhari). Ia mengatakan bahwa barang siapa
yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, kafirlah dia. Barang siapa yang ingkar
kepada apa yang disifatkan oleh Allah terhadap Zat-Nya sendiri, sesungguhnya dia telah
kafir. Semua apa yang digambarkan oleh Allah Swt. mengenai diri-Nya, juga apa yang
digambarkan oleh Rasul-Nya bukanlah termasuk ke dalam pengertian penyerupaan. Jelasnya,
barang siapa yang meyakini Allah sesuai dengan apa yang disebutkan oleh ayat-ayat yang
jelas dan hadis-hadis yang sahih, kemudian diartikan sesuai dengan keagungan Allah dan
meniadakan dari Zat Allah sifat-sifat yang kurang, berarti ia telah menempuh jalan hidayah.12


            Firman Allah Swt.:




            Artinya: Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.
(Q.S Al-A'raf: 54)
___________________
       11
            Al-Jumanatul, Op. cit
       12
            Ibnu Kasir, Op. cit. hlm. 354




                                                                                                 10
        Yakni menghilangkan kegelapan malam hari dengan cahaya siang hari, dan
menghilangkan cahaya siang hari dengan gelapnya malam hari. Masing-masing dari
keduanya mengikuti yang lainnya dengan cepat dan tidak terlambat. Bahkan apabila yang ini
datang, maka yang itu pergi; begitu pula sebaliknya.
        Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:




        Artinya: Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam;
Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam
kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-
manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai
bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun
tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Q.S
yaasiin: 37-40)

        Firman Allah Swt. yang mengatakan “Dan malam pun tidak dapat mendahului
siang”. Artinya, tidak akan terlambat darinya serta tidak akan ketelatan darinya, bahkan yang
satunya datang sesudah yang lainnya secara langsung tanpa ada jarak waktu pemisah di
antara keduanya.13
        Di antara ulama ada yang membaca nasab, ada pula yang membaca rafa’ tetapi
masing-masing dari kedua bacaan mempunyai makna yang berdekatan. Dengan kata lain,
semuanya tunduk di bawah pengaturanNya dan tunduk di bawah kehendakNya. Dialah yang
berhak menguasai dan mengatur semuanya.
        Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan           kepadaku AI-Musanna, telah
menceritakan kepada kami Ishaq, Telah menceritakan kepada kami Hisyam Abu Abdur
Rahman, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepada


                                                                                          11
kami Abdul Gaffar ibnu Abdul Aziz Al-Ansari, dari Abdul Aziz Asy-Syami, dari ayahnya
yang berpredikat sahabat, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:




            Artinya: Barang siapa yang tidak memuji Allah atas amal yang dikerjakannya, yaitu
amal yang saleh; dan bahkan dia memuji dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia telah ingkar
dan amalnya dihapuskan. Dan barang siapa yang menduga bahwa Allah telah menjadikan
bagi hamba-hambaNya sesuatu dari urusan itu, berarti ia telah ingkar terhadap apa yang
diturunkan oleh Allah kepada nabi-nabi-Nya.


       Nilai Tarbawi
       Nilai tarbawi dari surat Al-Baqarah ayat 29 dan surat Al-A’raf ayat 54 yang dapat
dipetik dan dijadikan pembelajaran adalah :
       1.     Bersyukur atas apa yang Allah swt. berikan kepada kita di muka bumi ini.
       2.     Manusia lebih mulia dibanding seluruh yang ada di bumi dan langit, bahkan ‎a
                                                                                        i
              merupakan tujuan penciptaan semua itu.
       3.     Allah swt. menciptakan alam ini untuk kita. Oleh sebab itu hendaklah kita
              ‎ enempatkan diri kita hanya untuk Allah semata.
              m
       4.     Tak ada satu pun ciptaan Allah swt. di alam ini yang sia-sia, karena ia diciptakan
              ‎ ntuk suatu kepentingan bagi manusia, meskipun manusia itu sendiri masih
              u
              ‎ elum mengetahui letak kepentingan tersebut.14
              b
       5.     Dunia diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya, manusia diciptakan ‎ ntuk
                                                                                   u
              dunia. Dunia adalah sarana, bukan tujuan.
       6.     Manusia lebih mulia dibanding seluruh yang ada di bumi dan langit, bahkan ‎a
                                                                                        i
              merupakan tujuan penciptaan semua itu.




____________________
       13
            Ibid, hlm. 355


                                                                                             12
       7.      Manusia lebih mulia dibanding seluruh yang ada di bumi dan langit, bahkan ‎a
                                                                                         i
               merupakan tujuan penciptaan semua itu.
       8.      Allah swt. menciptakan alam ini untuk kita. Oleh sebab itu hendaklah kita
               ‎ enempatkan diri kita hanya untuk Allah semata.
               m
       9.      Tak ada satu pun ciptaan Allah swt. di alam ini yang sia-sia, karena ia diciptakan
               ‎ ntuk suatu kepentingan bagi manusia, meskipun manusia itu sendiri masih
               u
               ‎ elum mengetahui letak kepentingan tersebut.14
               b
       10. Dunia diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya, manusia diciptakan ‎ ntuk
                                                                                u
               dunia. Dunia adalah sarana, bukan tujuan.
       11. Segala macam pemanfaatan nikmat-nikmat alam adalah halal bagi ‎ anusia,
                                                                         m
               kecuali    jika    terdapat    bukti    khusus     dari   akal    maupun      syariat    yang
               ‎ engharamkannya.
               m
       12. Kesabaran
       13. Mengingkari perbuatan kufur kepada Allah Ta’ala.15




____________________
       14
              http://asyapradana646702.blogspot.com/2011/01/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-29-30.html, (Diakses
18/04/2012)
       15
              http://ilmuislam2011.wordpress.com/2012/02/06/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-28-29/, (Diakses
18/04/2012)


                                                                                                            13
                                             BAB III
                                        KESIMPULAN


       Kedua ayat tersebut menceritakan penciptaan bumi ini oleh Allah swt. yang segala
sesuatunya melalui tahap-tahap. Ayat ini juga mengajarkan dan mengingatkan agar kita tidak
berbuat kufur kepada Allah Ta’ala yang telah menjadikan bumi beserta isinya untuk
memenuhi kehidupan manusia yang merupakan sarana untuk manusia terus beribadah kepada
Allah swt. dan menegakkan hujjah atau dalil atas adanya Allah, qudrat serta segala rahmat-
Nya.
       Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia. Di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat
Allah yang memuliakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya. Dan dengan adanya ciri-
ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk
yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat
meneruskan, melestarikan, dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini
dengan sebaik-baiknya.
       Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Semua ibadah yang kita
lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita juga pada akhirnya.




                                                                                             14
                                 DAFTAR PUSTAKA


       Ad-Dimasyqi, Al-Imam Ibnu kasir. 2000. Tafsir Ibnu Kasir Juz 1 Al-Fatihah s.d Al-
               Baqarah.   (Bandung: Sinar Baru Algensindo).
       Ad-Dimasiqy, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir. Tafsir Ibnu Kasir Juz 8 Al-
               An’am 111 s.d Al-A’raf 87. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, tt)
       Ali, Al-Jumanatul. Al-Qur’an dan Terjemahannya
       Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-
               Qur’an (Jakarta: Lentera Hati)


Referensi dari internet

       http://asyapradana646702.blogspot.com/2011/01/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-29-
               30.html (Diakses 18/04/2012)
       http://ilmuislam2011.wordpress.com/2012/02/06/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-28-29/
               (Diakses 18/04/2012)




                                                                                           15

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:35
posted:2/1/2013
language:
pages:14