Kekerasan FPI by adicupe

VIEWS: 13 PAGES: 2

									Kekerasan FPI: Wajah Buram Islam?

Oleh: Supriadi

Saya kembali teringat dengan buku karangan Kuntowijoyo “Islam Tanpa Mesjid”. Pemahaman
tentang Islam yang lebih menekankan tentang pentingnya pemahaman nilai-nilai Islam dalam
sendi kehidupan. Dikatakan bahwa Islam tak harus lagi terwakilkan dengan jubah putih,
sorban, dan janggut. Islam bukan hanya sebatas symbol. Islam adalah nilai. Islam ada di
tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya di mesjid, mushollah, ataupun surau.

Pemahaman bahwa Islam sebagai sebuah nilai akan senantiasa mengantarkan umatnya
bersikap inklusif. Bukannya ekslusif bahkan sektarian. Karena, nilai dalam hal ini lebih
merujuk ke Islam sebagai rahmatan lil ‘lamin. Rahmat seluruh alam. Dengan kata lain Islam
mampu dan sangat menghargai tentang nilai-nilai ke”universal”an. Tentunya adalah
penekanan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan merujuk hal tersebut mestinya umat Islam mampu membuktikan dirinya sebagai
penganut yang menjunjung tinggi rasionalitas. Dengan rasionalitas tersebut, umat Islam
mampu memahami dialektika zaman. Peka terhadap tiap perubahan. Tidak menutup mata
terhadap segala wacana yang berkembang. Termasuk memahami bahwa berkeyakinan adalah
hal mutlak dan paling privasi yang dimiliki oleh tiap manusia. Keyakinan dalam bentuk
apapun. Dengan rasionalitas beragama, umat Islam kan senantiasa mampu memahami nilai-
nilai kamanusiaan tersebut.

Mestinya para Ulama dan Mubaligh mampu menanggalkan “jubah putihnya” agar kemudian
masyarakat secara luas dapat memahami bahwa Islam benar-benar dapat diejawantahkan
dalam rana social. Pembumian nilai-nilai keislaman. Menurut hemat saya, hal inilah yang harus
ditekankan terlebih dahulu ketika kita meyakini Islam sebagai agama ideal. Agama yang
mampu menjawab tiap permasalahan masyarakat. Bukannya sebagai alasan untuk saling
menyerang dan dengan sendirinya mengingkari nilai agung keislaman.

BerIslam itu cerdas. Bukannya hadir sebagai kelompok yang represif tanpa pernah
mempertimbangkan cost social dari tiap tindakan yang mengatasnamakan “perang terhadap
penyelewengan agama”. Misalnya, FPI, salah satu kelompok Islam yang lahir sejak 17 Agustus
1998 (24 Rabiuts Tsani 1419 H), kerap mempraktekkan kekerasan di balik wajah Islam. FPI pun
menjadi terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998. Rangkaian aksi
penutupan klab malam dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, penangkapan
(sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain
adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massa.

Dengan wajah seperti itu, secara perlahan FPI telah membangun citra buruk wajah Islam
terhadap komunitas agama lain. Tentu saja bagi selain Islam, Islam adalah agama yang tidak
manusiawi, agama yang tidak menghargai kemerdekaan, agama yang mengabsahkan
pembunuhan, dan agama yang tidak menghargai nilai kemanusiaan. Ironis memang. Padahal
FPI didirikan oleh tokoh-tokoh agama Islam, Habaib, Ulama dan Mubaligh. Tokoh-tokoh yang
diyakini oleh pengikutnya sebagai orang-orang yang khatam akan nilai-nilai keislaman. Nilai-
nilai yang menjunjung tinggi keadilan, menghargai kemerdekaan, menghargai bentuk
keyakinan orang lain, dan nilai yang membawa pencerahan dan pembebasan.

Apalagi ketika merujuk tujuan dari organisasi ini, sebagai wadah kerja sama antara ulama dan
umat dalam menegakkan Amar Makruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan, tak
selayaknya terjadi lagi insiden kekerasan 1 Juni 2008. dimana FPI melakukan aksi kekerasan
terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB). Insiden
tersebut menunjukkan betapa FPI telah gagal memahami arti pluralisme beragama.[]

5 Juni 2008

								
To top