Duka 100 Tahun Indonesia

Document Sample
Duka 100 Tahun Indonesia Powered By Docstoc
					Duka 100 Tahun Indonesia

Oleh: Supriadi
100 tahun Kebangkitan Nasional mestinya menjadi momen untuk melakukan introspeksi
perjalanan. Satu abad perjalanan bukanlah waktu singkat untuk sebuah perubahan. Rentang
waktu sedemikian merupakan jalan panjang melelahkan jika ternyata tak dapat diartikulasi
dalam tingkat kesadaran berbangsa. Adalah kenaifan para pemimpin yang hanya menjadikan
Hari Kebangkitan Nasional sebagai bagian dari guyonan politik. Mencari popularitas di tengah
kemiskinan dan ketakadilan. Memanipulasi kesadaran rakyat dengan mengatasnamakan
menyelamatkan perekonomian bangsa. Sungguh sebuah ironi. Satu sisi berkoar demi
kesejahteraan, namun di sisi lain membiarkan masyarakat panik dan tak berdaya.
100 tahun Kebangkitan Nasional mestinya menyadarkan kita bahwa kebijakan publik benar-
benar memihak kepada publik. Kebijakan tak harus menjadi dongeng bagi rakyat. Kesadaran
hak rakyat mestinya telah tertanam kuat agar pemimpin bangsa tidak tampil sebagai penguasa
yang terus menghegemoni. mengkebiri hak berdemokrasi dengan dalih menjaga tatanan.
melakuakan tindakan represif terhadap massa demi keamanan. Hal yang sungguh tidak lucu
telah dipertontonkan para pengambil kebijakan.
100 tahun Kebangkitan Nasional mestinya menyadarkan kita bahwa kesadaran berbangsa
bukan hanya milik para politisi. kesadaran berbangsa milik kaum petani, buruh, nelayan,
ulama, akademisi, bahkan kriminal sekalipun. Momen ini harusnya tak menjadi hari peringatan
dalam wujud hanya sebatas seremoni. Para Pemimpin bangsa tak harus tampil sebagai sosok
yang paling tahu tentang bangsa ini. Kasihan kaum pinggiran yang tak pernah mendapat porsi
untuk itu.
100 tahun Kebangkitan Nasional mestinya menggugah ingatan kita tentang suka duka para
pendiri bangsa. Sosok-sosok yang dengan ikhlas berjuang demu bangsa. Sosok-sosok yang
berjuang melawan penjajahan, berjuang membangun kesadaran rakyat, berjuang melawan
tirani. Mestinya kita malu ketika ternyata tirani itu adalah diri kita sendiri. Tirani yang
terrepresentasi dari lakon politik Pemimpin-pemimpin kita. Moral berbangsa pun
dipertanyakan. Sungguh pilu.
100 tahun Kebangkitan Nasional ternyata menjadi duka yang panjang. Mestinya yang harus
‘dirayakan’ adalah tangisan 100 tahun. “Indonesia Takkan Bisa” jika ternyata tangisan bangsa
masih melolong di lorong-lorong gelap cakrawala nasib rakyat jelata. Indonesia tak pernah
terrepresentasi dari apa yang digambarkan oleh media-media massa dimana penguasa
menancapkan hegemoni kesadarannya. “Hentikan kebohongan publik”, demikian seruanku.
Tulisan ini hanya secercah dari seribu kegelisahan. Kecintaanku terhadap bangsa inilah yang
telah memberiku inspirasi untuk menulis kegelisahan ini.
Semoga ‘Duka 100 Tahun Indonesia’ tak terulang hingga 100 tahun berikutnya.[]



Kolaka, 27 Mei 2008

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:37
posted:1/28/2013
language:Unknown
pages:1