Docstoc

zab1

Document Sample
zab1 Powered By Docstoc
					                                           BAB I
                                  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Agama Islam1, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum
     Muslim di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan
     hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi
     utama yang esensial; berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaiknya.2

            Allah berfirman:




     Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang
              lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin
              yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang
              besar.” (QS. Al-Isra: 9)3

            Dalam konteks sosial, Islam memberi dasar kepada manusia. Manusia
     dengan kekuatan imannya akan mengembangkan sikap saling menghargai
     hak-hak pribadi satu sama lain terhadap peraturan-peraturan dan suatu
     pembatasan yang berlaku bagi dirinya. Setiap individu memandang dirinya
     bertanggung jawab dan memiliki kewajiban kepada masyarakatnya. Ia di atas

      1
         Secara etimologi dan menurut Al-Qur’an, Islam berarti penyerahan diri dan kepatuhan
(QS. 3: 83). Kemudian di dalam Al-Qur’an, kata “al-Islam” digunakan sebagai nama agama dan
tatanan kehidupan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. dari Allah SWT. Allah menjelaskan
bahwa barangsiapa berbuat atau mengikuti selain agama-Nya, meskipun itu agama Samawi yang
terdahulu, maka Allah SWT. tidak akan menerimanya (QS. 3: 19; 85, 5: 3). Islam merupakan
tatanan Illahi selain sebagai penutup segala syari’at juga sebagai sebuah tatanan kehidupan yang
paripurna dan meliputi seluruh aspeknya. Allah telah meridloi Islam untuk menata hubungan
antara manusia dengan Al-Khaliq, alam, makhluk, dunia, akhirat, masyarakat, keluarga,
pemerintah dan rakyat. Selain itu juga untuk menata seluruh hubungan yang dibutuhkan oleh
manusia. Penataan ini didasarkan atas ketaatan dan keikhlasan beribadah kepada Allah SWT.
semata , serta pelaksanaan segala yang dibawa oleh Rasulullah saw. Baca, Abdurrahman an-
Nahlawi, Ushul at-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Asalibuha, diterjemahkan oleh Hery Noer Ali
(Bandung: CV. Diponegoro, 1996), halaman 36-37.
      2
       Dikutip dari M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu
dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1997), halaman 33.
      3
       Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya
(Medinah: Mujamma’ al-Malik Fadh li Thiba’at al-Mush-haf as-Syarif, 1992), halaman 425-426.


                                               1
                                                                                             2




    suatu landasan nilai spiritual, mengembangkan sikap saling mempercayai satu
    sama lain.

            Kepribadian manusia Islami ini tercermin pada kedamaian jiwa dan
    keyakinannya yang sehat terhadap masa depan. Suatu pandangan yang positif
    terhadap kehidupan dan suatu kebahagiaan yang dimanifestasikan dalam
    sikap murah hati dan suka menolong orang lain yang mengalami kesulitan. Ia,
    karena menyakini ketentuan dan hukum Allah dan keberlakuannya,
    senantiasa berpikir positif dan memiliki rasa lapang untuk senantiasa
    membentuk kekuatan dalam dirinya, mengubah suatu kesulitan menjadi
    kecenderungan positif sebagai cara untuk tetap hidup bahagia.4

            Qurban (udhiyyah dan aqiqah) merupakan salah satu manifestasi ibadah
    dalam ajaran Islam. Hal ini tidak terlepas dari semangat pemupukan jiwa
    solidaritas dan kesediaan berkorban untuk kepentingan sosial di dalam
    masyarakat.

            Binatang sembelihan (qurban) merupakan simbol bagi usaha manusia
    untuk mendekatkan diri (taqarrub) sesuai dengan kandungan makna yang
    terdapat dalam istilah qurban itu sendiri. Bahkan lebih dari itu, ibadah qurban
    yang dilaksanakan di tempat-tempat yang jauh dari Tanah Suci, seperti di
    Indonesia, berfungsi tidak hanya untuk taqarrub ila Allah, tetapi juga
    taqarrub ila an-nas, dekat dan akrab dengan sesama manusia. Dalam riuh
    rendah “reformasi” taqarrub ila an-nas inilah yang agaknya semakin sirna
    dari diri kita; kita semakin jauh, saling menista dan berpecah belah.5

            Allah SWT. berfirman:




     4
         MA. Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994), halaman 425-426.
     5
        Azyumardi Azra, Menuju Masyarakat Madani. Gagasan, Fakta dan Tantangan
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), halaman 20.
                                                                                          3




    Artinya: ”Daging-daging onta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
            mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang
            dapat mencapainya”. (QS. Al-Hajj: 37)6

             Jadi, bukan darah dan bukan daging dari qurban itu yang sampai kepada
    Allah SWT., tetapi adalah taqwa dalam arti yang sangat luas, yang akan
    diperhitungkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, kepedulian sosial yang
    berdimensi sangat luas itu amat tergantung kepada tingkat ketaqwaan dan
    keberagamaan kita.7

             Sedangkan aqiqah, merupakan ibadah qurban yang dilakukan oleh
    orang tua untuk anaknya. Hal ini dilakukan jika memang memungkinkan dan
    mampu menghidupkan Sunah Rasulullah saw. ini sehingga ia menerima
    keutamaan dan pahala dari sisi Allah swt., dapat menambah makna kasih
    sayang, kecintaan dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan
    keluarga, tetangga dan handai tolan, yaitu ketika mereka menghadiri walimah
    al-aqiqah itu. Sebagai rasa turut merasakan kegembiraan atas lahir dan
    hadirnya sang anak. Di samping ia dapat mewujudkan sumbangan jaminan
    sosial, yaitu sebagian kaum fakir miskin turut mengambil bagian di dalam
    aqiqah ini.

             Hal ini menunjukkan keagungan dan keluhuran ajaran Islam serta
    dasar-dasar syari’at di dalam menanamkan rasa kasih sayang dan kecintaan di
    dalam masyarakat, termasuk di dalam membina keadilan sosial dalam kelas-
    kelas masyarakat miskin.8

             Dengan demkian, penulis ingin mengkaji tentang “Aspek-aspek
    Pendidikan Sosial pada Ibadah Qurban, Telaah Al-Qur’an Surat Al-
    Kautsar”, karena dalam surat tersebut tersirat isi pendidikan sosial yang


      6
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Op. Cit., halaman 517.
      7
          M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1995), halaman 275-276.
      8
         Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam, diterjemahkan oleh Jamaludin
Miri (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), Juz I, halaman 91.
                                                                                           4




    terdapat dalam ibadah qurban. Adapun surat Al-Kautsar yang dibahas dalam
    penulisan ini yaitu:



    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad)
            nikmat yang banyak (1). Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu
            dan berkorbanlah (2). Sesungguhnya orang-orang yang membenci
            kamu dialah yang terputus (3)”. (QS. Al-Kautsar: 1-3)9

             Surat tersebut menjelaskan bahwa setelah memberikan anugerah10 yang
    banyak jenis dan kuantitasnya kepada Nabi Muhammad saw., Allah SWT.
    memerintahkan beliau untuk mensyukurinya.11 Perintah syukur inilah yang
    diwujudkan dalam bentuk ibadah sholat dengan ikhlas dan menyembelih
    binatang qurban untuk disedekahkan kepada fakir miskin.12

             Ibadah dalam bentuk menyembelih qurban ini mempunyai aspek
    pendidikan sosial yang luas. Seorang muslim hanya dapat dikatakan dekat
    kepada Allah SWT. jika dia senantiasa dekat dengan sesamanya yang
    kekurangan dalam hidup. Ibadah qurban mengajarkan kepada mereka yang
    berkecukupan agar menunjukkan solidaritas sosial yang tulus dengan jalan



      9
          Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Op. Cit., halaman 1110.
      10
          Dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar, anugerah yang banyak jenis dan kuantitasnya
terdapat dalam arti kata “Al-Kautsar” itu sendiri. Kata “Al-Kautsar” merupakan kata yang
berbentuk hiperbolis (mubalaghah) dari kata “katsir” yang berarti sesuatu yang sangat banyak
sekali. Muncul banyak perbedaan pendapat tentang makna “Al-Kautsar” ini. akan tetapi dengan
adanya kata ganti “al” sebelum kata tersebut (dalam surat Al-Kautsar) menunjukan bahwa yang
dimaksud dengan kata “Al-Kautsar” adalah sesuatu yang cukup diketahui oleh para pendengarnya
dan segera dapat dipahami. Walaupun –sampai saat itu- belum pernah menyaksikan Nabi
Muhammad saw. menyandang sifat tersebut, sementara musuh-musuh beliau justru
memandangnya “sedikit” (dalam harta, pengikut dan sebagainya). Adapun yang sebenarnya telah
diberikan kepada Nabi Muhammad saw. yang dimengerti oleh para pendengar dan pembaca Al-
Qur’an adalah kenabian (nuquwwah), agama yang haq, hidayah, serta segala sesuatu yang
mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Lihat, Muhammad Abduh, Tafsir Al-Qur’an
al-Karim (Juz Amma), diterjemahkan oleh Muhammad Bagir (Bandung: Mizan, 1999), halaman
338-339.
      11
         M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir atas Surat-surat Pendek
Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), halaman 570.
      12
        Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir Al- Munir (Bairut: Dar al-Fikr al-Muashir, 1992), Juz
XXVII halaman 429.
                                                                                       5




    menyisihkan sebagian kekayaan dan aset yang dimiliki untuk mereka yang
    membutuhkan.13

            Dari latar belakang tersebut di atas, maka penulis bermaksud untuk
    mengadakan suatu kajian yang mendalam mengenai konsep Al-Qur’an surat
    Al-Kautsar tentang aspek-aspek pendidikan sosial pada ibadah qurban. Dalam
    hal ini, penulis mengharapkan adanya usaha dan penanaman ajaran Islam
    sebagai sumber referensi nilai bagi bentuk-bentuk kehidupan sosial. Lebih
    dari itu, mengaktualisasikan sikap-sikap sosial dengan motivasi ajaran dan
    perintah agama, berarti melakukan ibadah dalam Islam dengan beramal, yakni
    menyembelih binatang qurban.

B. Penegasan Istilah

            Dalam penulisan penelitian ini, penulis mengetengahkan judul: “Aspek-
    aspek Pendidikan Sosial pada Ibadah Qurban, Telaah Al-qur’an Surat Al-
    Kautsar”. Untuk lebih memudahkan pemahaman akan makna yang
    terkandung dan juga untuk menghindari bias interpretasi, maka penulis
    merasa perlu untuk memberikan batasan-batasan istilah yang terdapat pada
    judul di atas.

    1.     Aspek-aspek Pendidikan Sosial

                Kata “aspek” mempunyai arti “tanda” atau “sudut pandangan”.14
           Dalam judul di atas, kata “aspek” berbentuk kata ulang yang
           menunjukkan makna lebih dari satu (jamak) dan mempunyai maksud
           tanda-tanda atau sudut pandang pendidikan sosial pada ibadah qurban
           yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar.

                Pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan sikap dan
           tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan

      13
         Haedar Nashir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1999), halaman 159.
      14
         Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1994),
halaman 62.
                                                                                              6




            manusia melalui upaya pengajaran dan latihan proses, perbuatan dan cara
            mendidik.15

                   Menurut Khurshid Ahmad, pendidikan ialah:

                 “A mental, physical, and moral training and its objective is to
            produce highly cultured men and women fit to discharge their duties as
            good human beings ang wothy citizens or state”. 16

                   Menurut Khurshid Ahmad pendidikan ialah:

                 “Latihan mental, fisik dan moral yang bertujuan untuk
            menghasilkan manusia yang berbudaya tinggi, cakap dalam
            melaksanakan tugas-tugas mereka sebagai makhluk hidup yang baik dan
            sebagai warga negara yang berguna”.

                   Sedangkan sosial juga diartikan “berkenaan dengan masyarakat”
            atau “suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong,
            menderma dan sebagainya)”.17 Sedangkan sosial secara ensiklopedis
            berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat atau secara
            abstraksis berarti masalah-masalah kemasyarakatan yang menyangkut
            pelbagai fenomena hidup dan kehidupan orang banyak, baik dilihat dari
            sisi mikro individual maupun makro kolektif.18

                   Menurut Drs. St. Vembriarto, pendidikan sosial diartikan sebagai
            usaha mempengaruhi dan mengembangkan sikap sosial.19 Sedangkan
            menurut Prof. Dr. Santoso S. Hamidjojo, seperti yang dikutip Prof. Drs.
            Soelaiman Yoesoef, pendidikan sosial ialah suatu proses yang
            diusahakan dengan sengaja dan di dalam masyarakat untuk mendidik,
            membina, membimbing dan membangun individu dalam lingkungan

      15
           Ibid., halaman 205.
      16
           Khurshid Ahmad, Principles of Islamic Education (Lahore: Islamic Publication Limited,
t.th.), halaman 2.
      17
         Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit., halaman 958.
      18
           Sahal Mahfudz, Op. Cit., halaman 257.
      19
         St. Vembriarto, Pendidikan Sosial (Yogyakarta: Yayasan Pendidikan Paramita, 1975),
halaman 11.
                                                                                         7




            sosial dan alamnya supaya secara bebas dan bertanggung jawab menjadi
            pendorong ke arah perubahan dan kemajuan.20

                  Dalam pengertian tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa yang
            dimaksud pendidikan sosial dalam penelitian ini ialah proses pendidikan
            yang diarahkan kepada individu agar ia secara bebas dan bertanggung
            jawab dapat mengamalkan sikap sosial yang baik di lingkungannya
            sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat.

                  Dalam penelitian ini, penulis memaparkan pendidikan sosial yang
            didasarkan pada ajaran Islam yang dalam istilah yang dikemukakan K.H.
            MA. Sahal Mahfudz disebut sebagai pendidikan sosial keagamaan, yakni
            pendidikan sosial yang mempunyai implikasi dengan ajaran Islam atau
            sekurang-kurangnya mempunyai nilai Islamiah.21

    2.      Ibadah Qurban

                  Ibadah mempunyai pengertian perbuatan untuk menyatakan bakti
            kepada Allah SWT. yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya
            dan menjauhi larangan-Nya.22

                  Menurut Abdurrahman an-Nahlawi, ibadah mempunyai rahasia
            yang terletak pada asas bahwa keseluruhan rahasia itu diikat dengan satu
            makna yang menyatukan segala dorongan manusia dan individu
            masyarakat muslim. Rahasia itu adalah penghambaan kepada Allah
            SWT. semata, serta menerima ajaran dan perintah Allah SWT. baik
            dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.23

      20
         Soelaiman Yoesoef, Konsep Pendidikan Luar Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 1992),
halaman 100.
      21
         Menurut MA. Sahal Mahfudz, pendidikan sosial keagamaan sebenarnya implisit masuk
dalam pendidikan Islam. Karena dalam Pendidikan Islam seutuhnya menyangkut iman (aspek
aqidah), Islam (aspek syari’ah), dan ihsan (aspek akhlak, etika, dan tasawuf) akan berarti
melibatkan semua aspek rohani dan jasmani bagi kehidupan manusia sebagai makhluk individual
maupun sebagai makhluk sosial. Lihat Sahal Mahfudz, Op. Cit., halaman 257.
      22
         Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit., halaman 12.
      23
           Abdurrahman An-Nahlawi, Op. Cit., halaman 90.
                                                                                                8




                  Qurban, menurut bahasa berarti “pendekatan”, maksudnya adalah
           mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan cara menyembelih hewan
           yang dagingnya dibagikan secara cuma-cuma pada khalayak ramai.24
           Qurban yang dimaksud di sini adalah penyembelihan hewan yang
           dilakukan pada Hari Raya Idul Adha (udhiyyah) dan penyembelihan
           hewan yang dilakukan pada hari ketujuh kelahiran anak (aqiqah) sebagai
           ungkapan rasa syukur orang tua kepada Allah SWT. atas kelahiran anak
           mereka.

                  Dalam penelitian ini, penulis akan membahas ibadah qurban yang
           terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar dimana pengertian ibadah
           qurban yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2 ini
           menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A. cenderung memahami kata
           tersebut dalam arti menyembelih            binatang, baik dalam konteks Idul
           Adha maupun aqiqah.25

    3.     Al-Qur’an Surat Al-Kautsar

                  Al-Qur’an merupakan Kitab Suci agama Islam yang berisi firman-
           firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan
           perantaraan Malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan diamalkan
           sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia. 26

                  Menurut Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, Al-Qur’an ialah kalam
           (diktum) Allah swt. yang diturunkan oleh-Nya dengan perantaraan
           Malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah, Muhammad bin Abdullah,
           dengan lafadz-lafadz (kata-kata) bahasa Arab dan dengan makna yang
           benar agar menjadi        hujjah Rasul saw. dalam pengakuannya sebagai
           Rasulullah juga sebagai undang-undang yang dijadikan pedoman umat
           manusia dan sebagai amal ibadah bila dibacanya. Al-Qur’an di-tadwin-

     24
          Hasbullah Bakry, Pedoman Islam di Indonesia (Jakarta: UI-Press, 1990), halaman 261.
     25
          M. Quraish Shihab, Op. Cit., halaman 566.
     26
         Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit., halaman 24.
                                                                                           9




            kan di anatar dua lembar mushaf yang dimulai dengan surat Al-Fatihah
            dan ditutup dengan surat An-Nas yang telah sampai kepada kita secara
            teratur, baik dengan bentuk tulisan atau lisan, dari generasi jke generasi
            lain, dengan tetap terpelihara dari perubahan dan penggantian.27

                   Surat, menurut bahasa, berasal dari bahasan Ibrani “shirah” yang
            berarti “suatu deretan” bekas-bekas batu bata di dinding dan bekas
            pepohonan anggur.28

                   Sedangkan Al-Kautsar merupakan surat keseratus delapan dalam
            Al-Qur’an dan mempunyai arti “sungai (telaga) di dalam surga.29 Surat
            Al-Kautsar dari segi urutannya dalam mushaf, merupakan surat yang
            keseratus delapan sesudah surat Al-Maun. Dari segi turunnya, surat Al-
            Kautsar merupakan wahyu yang keempat belas dan turun setelah
            turunnya surat Al-‘Adiyat.30

C. Perumusan Pokok Masalah

              Dalam melakukan penelitian ini ada 2 (dua) pokok permasalahan yang
     akan difokuskan pembahasannya, yakni:
    1.      Bagaimanakah konsep Al-Qur’an tentang ibadah qurban?
    2.      Bagaimanakah konsep pendidikan sosial?
    3.      Apa sajakah aspek-aspek pendidikan sosial yang terkandung pada ibadah
            qurban di dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar?

D. Tujuan Penulisan
              Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
     1.     Untuk mengetahui konsep Al-Qur’an tentang ibadah qurban

      27
         Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh, diterjemahkan oleh Noer Iskandar al-
Barsany & M. Tolchah Mansoer (Jakarta: Rajawali Press, 1996) halaman 22.
      28
          Richad Bell, Bell’s Introduction to Al-Qur’an, diterjemahkan oleh Taufik Adnan Amal
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), halaman 90.
      29
         Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit., halaman 872.
      30
           M. Quraish Shihab, Op. Cit., hal. 563.
                                                                                 10




   2.     Untuk mengetahui konsep pendidikan sosial.
   3.     Untuk mengetahui aspek-aspek pendidikan sosial pada ibadah qurban
          yang terkandung di dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar.

E. Alasan Pemilihan Judul

           Ada 3 (tiga) alasan yang mendorong penulis untuk memilih judul
   penelitian di atas, yaitu:

   1. Ibadah qurban adalah jihad bagi kaum muslimin untuk kembali ke pusat
          eksistensialnya, Allah SWT.; kembali kepada kesuciannya, sekaligus
          menemukan kembali makna kemanusiaannya yang universal. Manusia
          adalah bersaudara. Penuh kasih sayang dan kerelaan berkurban, sejajar di
          depan Tuhan, apapun perbedaan yang ada di antara mereka

   2. Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw. serta Nabi-nabi yang lain
          merupakan tokoh idola dan prototip yang diinginkan umat manusia,
          khsususnya dalam mengantisipasi perubahan sosial yang sangat deras
          sekarang ini, baik dalam kaitannya dengan kepedualian sosial dan
          perikehidupan      yang     bermuatan     moralitas   keagamaan   terhadap
          merekayang tidak membedakan wilayah “dunia” dan “akhirat”. Mereka
          dapat memadukan antara tuntunan ibadah yang bersifat trasendental
          normatif dan tuntunan ibadah yang bersifat sosial.31 Dengan ibadah
          qurban, dimensi kepedulian sosial dari kaum muslimin semakin kongret.

   3.     Konflik sosial yang menggejala pada umat manusia, khususnya di
          Indonesia sehingga hubungan ukhuwah di abaikan. Ukhuwah Islamiyyah,
          -seperti lazimnya hubungan persaudaraan antar anggota keluarga
          tertentu-, dimaksud sebagai suatu komunitas yang mengandung nila-nilai
          pengikat tertentu, baik yang disepakati bersama, yang tumbuh dari
          keyakinan dogmatis maupun yang tumbuh secara naluriyah atau fitriyah.



    31
         M. Amin Abdullah, Op. Cit., hal 267-277.
                                                                                          11




           Salah satu unsur “tali” pengikat dalam upaya menumbuhkan ukhuwah
           Islamiyyah ini adalah qurban, yakni udhiyyah dan aqiqah.

F. Metode Penulisan

            Di dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode-metode
     penulisan sebagai berikut:

     1.    Metode pengumpulan data

                 Untuk memperoleh data-data dalam melakukan penelitian ini,
           penulis menggunakan metode library research, yaitu mendayaupayakan
           sumber informasi yang terdapat di perpustakaan.32

                 Metode ini penulis gunakan untuk mencari data-data dengan cara
           membaca, menelaah dan mengkaji buku-buku Tafsir Al-Qur’an dan
           Hadits serta buku-buku lain yang berkaitan dengan tema pembahasan.
           Kemudian hasil dari data-data itu dianalisis untuk mendapatkan
           kandungan makna Al-Qur’an surat Al-Kautsar tentang aspek-aspek
           pendidikan sosial pada ibadah qurban.

     2.    Metode Pembahasan

           a.   Metode Tafsir Maudhu’i

                     Metode tafsir maudhu’i, yaitu metode tafsir Al-Qur’an yang di
                dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dilakukan dengan cara
                mengumpulkan ayat-ayat yang berbicara tentang satu topik
                permasalahan tertentu.33

                     Menurut Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir, seperti yang dikutip
                dari Prof. Dr.Quraish Shihab, M.A. yang mengutipnya lagi dari Dr.
                Abdul Hay Al-Farmawi, tafsir maudhu’i atau tematik sebagai


      32
        Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode penelitian Survei (Jakarta: LP3S, 1989),
halaman 70.
      33
        Ahmad Syadazali & Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997),
halaman 67.
                                                                                                 12




                 metoda mempelajari Al-Qur’an menggunakan langkah-langkah garis
                 besar sebagai berikut: merumuskan tema masalah yang akan dibahas,
                 menghimpun-menyusun-menelaah                ayat-ayat      Al-Qur’an        dan
                 melengkapinya dengan hadits yang relevan, dan menyusun
                 kesimpulan sebagai jawaban Al-Qur’an atas masalah yang dibahas.34

                        Metode ini digunakan untuk membahas ayat-ayat Al-Qur’an
                 yang berkaitan dengan tema pembahasan dan memperkuatnya
                 dengan hadits-hadits Nabi yang relevan.


            b.   Metode Analisis Filosofis

                        Menurut Harry Schofield seperti yang dikutip Prof. Dr. Imam
                 Barnadib dan dikutip lagi oleh Prof. H.M. Arifin, M.Ed., metode
                 analisis filosofis pada hakikatnya terdiri atas analisa linguistik
                 (bahasa) dan analisa konsep. Analisa bahasa digunakan untuk
                 mengetahui arti yang sesungguhnya dari sesuatu, sedangkan analisa
                 konsep adalah analisa kata yang dianggap kunci pokok yang
                 mewakili suatu gagasan atau konsep.35

                        Metode ini digunakan untuk mengetahui maksud yang
                 sesungguhnya dari ibadah qurban dan pendidikan sosial yang
                 didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi sehingga dapat
                 menghasilkan analisis tentang aspek-aspek pendidikan sosial yang
                 terdapat dalam ibadah qurban yang bisa dimengerti dan dipahami.

    3.      Analisis Data

                   Dalam mengolah          data, maka data tersebut dianalisis dengan
            content analysis (analisis isi), karena data-data yang dikumpulkan adalah
            data-data deskriptif       nonstatistik, dan untuk mempertajam “pisau”


      34
         Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996),
halaman 179.
      35
           Muzayin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), halaman 26.
                                                                                              13




           analisis ini, penulis menggunakan metode berfikir deduksi36 dan metode
           berpikir induksi37 sebagai manhajul fikr atau kerangka berpikirnya.

G. Sistematika Penulisan

            Untuk mempermudah penjelasan, pemahaman dan penelaahan pokok-
     pokok masalah yang dikaji, maka penulis dalam menyusun skripsi ini
     menggunakan sistematika sebagai berikut:

     1.    Bagian Muka

                   Bagian ini memuat: halaman judul, halaman pengesahan, nota
           pembimbing, motto, halaman persembahan, kata pengantar dan daftar
           isi.

     2.    Bagian Isi

                   Pada bagian ini memuat 5 (lima) bab, yaitu:

           Bab I        Pendahuluan yang berisi: Latar Belakang, Penegasan Istilah,
                        Perumusan Pokok Masalah, Tujuan Penulisan, Alasan
                        Pemilihan    Judul,    Metode       Penulisan     dan    Sistematika
                        Penulisan.

           Bab II       Bab ini menguraikan Tinjauan Umum Ibadah Qurban dalam
                        Al-Qur’an Surat Al-Kautsar yang meliputi: Pengertian dan
                        Tujuan Ibadah Qurban, Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Ibadah
                        Qurban, dan Ibadah Qurban dalam Surat Al-Kautsar yang
                        mencakup Munasabah Surat Al-Kautsar dengan Surat Al-

      36
           Berfikir deduksi ialah “berangkat dari suatu pengetahuan yang sifatnya umum dan
bertitik tolak dari pengetahuan yang umum itu kita hendak menilai sesuatu kejadian yang khusus.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: UGM Press, 1977), halaman 49. Metode ini
digunakan untuk mencari data-data tentang ibadah qurban, kemudian dari data-data umum tersebut
ditarik kesimpulan yang khusus mengenai aspek-aspek pendidikan sosial yang terdapat dalam
ibadah qurban.
      37
         Berfikir induksi ialah “berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa kongret yang
khusus kemudian ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum. Ibid., halaman 50. Metode
ini digunakan untuk mengumpulkan data-data khusus untuk ditarik kesimpulan yang bersifat
umum mengenai aspek-aspek pendidikan sosial pada ibadah qurban dalam Al-Qur’an surat Al-
Kautsar.
                                                                         14




                 Ma’un, Asbab An-Nuzul Surat Al-Kautsar, Pandangan Para
                 Mufassir tentang Ibadah Qurban dalam Surat Al-Kautsar, dan
                 Bentuk-bentuk Ibadah Qurban dalam Surat Al-Kautsar.

       Bab III   Pada bab ini diuraikan mengenai Konsep Pendidikan Sosial
                 yang meliputi: Pengertian Pendidikan Sosial, Dasar dan
                 Tujuan Pendidikan Sosial, Lingkungan Pendidikan Sosial dan
                 Metode Pendidikan Sosial.

       Bab IV    Dalam bab ini menguraikan tentang Aspek-aspek Pendidikan
                 Sosial pada Ibadah Qurban dalam Al-Qur’an Surat Al-
                 Kautsar, yang meliputi: Penanaman Sikap-sikap Sosial yang
                 Mulia dan Menanamkan Rasa Ketentramanan Jiwa dalam
                 Kehidupan Sosial.

       Bab V     Penutup, yang meliputi: Kesimpulan dari pembahasan dalam
                 skripsi, Saran-saran dan Kata Penutup.

  3.   Bagian Akhir

            Pada bagian ini memuat bagian akhir yang meliputi: Daftar
       Pustaka, Lampiran-lampiran dan Biodata Penulis.




DAPATKAN SKRIPSI LENGKAP DENGAN SMS KE
08970465065
KIRIM JUDUL DAN ALAMAT EMAIL SERTA
KESIAPAN ANDA UNTUK MEMBANTU OPRASIONAL
KAMI
GANTI OPRASIONAL KAMI 50rb SETELAH FILE
TERKIRIM
                                                      15




SITUS: http://www.lib4online.com/p/bentuk-file.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:10
posted:1/27/2013
language:
pages:15