Docstoc

Studi Komparasi Pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang Kedudukan dan Kehadiran Saksi dalam Perkawinan

Document Sample
Studi Komparasi Pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang Kedudukan dan Kehadiran Saksi dalam Perkawinan Powered By Docstoc
					                                          BAB I

                                    PROPOSAL


A. Latar Belakang

         Agama Islam adalah agama yang terakhir dan merupakan agama

   penyempurna bagi agama-agama lain yang diturunkan oleh Allah Swt, baik

   dari segi ajaran-ajarannya maupun hukumnya, tujuan diciptakan manusia

   adalah untuk beribadah dan hal ini sesuai dengan firman Allah Surat Adz-

   Dzariyat ayat 56 :


                           )65 : ‫وما خلقت الجن واإلنس االّ ليعبدون. (الذريات‬
                                                               ّ
   Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
             mereka menyembah-Ku”.1


         Adapun yang dimaksud menyembah di sini tidak hanya diartikan

   melaksanakan ibadah shalat saja, akan tetapi bisa mempunyai arti yang sangat

   luas, yakni melaksanakan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya serta

   menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Begitu juga di dalam ajaran Islam,

   adanya    suatu      anjuran   untuk     mengembangbiakkan   keturunan   yang

   pelaksanaannya harus sesuai dengan tatacara yang telah ditetapkan dalam

   syari’at Islam baik dalam Al-Qur’an maupun hadits ataupun sumber-sumber

   hukum yang lain. Tatacara yang dimaksud adalah melalui perkawinan yang

   sah, baik sah secara agama ataupun sah menurut pemerintah sehingga tidak

   akan terjadi ketimpangan di masa datang setelah terjadi perkawinan.

     1
      Al-Qur’an, Adz-Dzariyat Ayat 56, Yayasan Penyelenggara Penerjemah
Penafsiran Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, 1992. hlm. 628.

                                            1
                                                                            2


         Bahwa hakikat dari suatu perkawinan tidak lain adalah institusi yang

   ditetapkan oleh syara’ guna menyatukan tabiat manusia yang memiliki

   syahwat secara sah. Dengan hal ini adalah perbedaan antara seorang pria

   dengan seorang wanita sebelum adanya akad nikah yang berdasarkan syari’at

   Islam, merupakan suatu hal yang sangat diharamkan, sehingga akad nikah

   menjadikan halalnya persebadanan antara seorang pria dengan seorang wanita.

         Sebagaimana firman Allah Swt Surat Al-Baqarah ayat 187 :

                                             ّ                       ّ
                  .)781 : ‫... هن لباس لكم وانتم لباس لهن ... االية (البقراة‬
   Artinya : “Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi
            mereka” (Q.S. Al-Baqarah : 187).2


         Firman Allah Surat Ar-Rum ayat 21 :

 ّ
‫ومن ايته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة‬
                                   ّ                     ّ
                .)17 : ‫ورحمة إن فى ذلك ال يت لقوم يتفكرون (الروم‬

   Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan
            istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
            tentram padanya, dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih sayang.
            Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda bagi kaum
            yang berfikir”. (Ar-Rum : 21).3


         Dalam sejarah peradaban manusia adanya lembaga perkawinan

   merupakan faktor dominan dalam membentuk keteraturan umat manusia

   sebagai mahluk sosial, dari pasangan suami istri yang serasi dan taat akan


     2
        Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 187, Yayasan Penyelenggara
Penerjemah Penafsiran Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, 1992.
hlm. 44.
      3
        Al-Qur’an, Surat Ar-Rum ayat 21, Yayasan Penyelenggara Penerjemah
Penafsiran Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, 1992. hlm. 644.
                                                                           3


   mendatangkan kebahagian dan keturunan yang baik, sehingga akan

   terbentuklah keluarga yang baik dan dari keluarga yang baik tersebut

   diharapkan akan terbentuklah masyarakat yang baik pula.

         Sebelum para pihak melangsungkan perkawinan, maka ada syarat dan

   rukun yang harus dipenuhi oleh kedua pihak. Adapun yang menjadi rukun

   nikah menurut Imam Malik adalah sebagai berikut :

   1. Wali dari pengantin perempuan

   2. Calon pengantin laki-laki

   3. Calon pengantin perempuan.

   4. Sadaq (mas kawin).

   5. Sighat ijab qabul.4

         Sedangkan rukun nikah menurut Imam Syafi’i adalah :

   1. Calom suami.

   2. Calon istri.

   3. Wali nikah dari pengantin perempuan.

   4. Dua orang saksi.

   5. Sighat ijab qabul.5

         Dari sini dapat dimengerti bahwa menurut dua ulama’ besar tersebut,

   saksi dipandang beda baik kedudukan maupun fungsinya. Saksi adalah orang

   yang diminta pada suatu peristiwa untuk melihat dan menyaksikan atau



     4
        Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ‘Ala Mazahib Al-Arba’ah, Maktabah Al-
Jariyah, Juz 4, Kubro, Mesir, 1929, hlm. 23.
      5
        Ibid, hlm. 12.
                                                                               4


   mengetahui agar suatu ketika bila diperlukan ia dapat memberikan keterangan

   yang membenarkan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi.6

            Sehingga dalam hal ini seorang saksi harus memenuhi persyaratan yang

   telah ditentukan dalam syara’ dan apabila persyaratan itu tidak terpenuhi,

   maka kesaksiannya tidak sah. Adapun syarat-syarat saksi adalah :

   1. Dua orang saksi.

   2. Berakal.

   3. Adil.

   4. Dapat berbicara.

   5. Islam.

   6. Dapat mendengar.

   7. Tidak mempunyai hubungan kerabat antara kedua belah pihak.7

            Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang saksi, apakah saksi

   itu merupakan suatu syarat saja ataukah sebagai rukun dalam perkawinan.

   Berarti mengandung maksud bahwa nikah itu tidak dapat berakadkan tanpa

   adanya saksi walaupun pemberitahuan tentang adanya nikah itu dapat dicapai

   dengan cara yang lain akan tetapi Imam Syafi’i menyatakan bahwa saksi itu

   sebagai rukun sehingga setiap perkawinan harus disaksikan oleh kedua orang

   saksi.




     6
        Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru, Van Hoeve,
Jakarta, 1994, hlm. 202.
      7
        Abdurrahman Al-Jaziri, Op.cit, hlm. 21.
                                                                              5


          Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam kitab “Al-Umm” sebagaimana

   berikut :

   ‫أخبرنا مسلم بن خا لد وسعيد عن ابن جريج عن عبدهللا بن عثما ن بن‬
   ‫خيثم عن سعيد بن جبير ومجا هد عن ابن عباس قا ل : ال نكاح إال بشا‬
                                              8
                                                .‫هدى عدل وولى مرشد‬

   Artinya : “Dikabarkan oleh Muslim bin Khalid dan Sa’id dari Ibnu Juraij, dari
              Abdullah bin Ustman bin Khaitsam, dari Said bin Jubair dan
              Mujahid, dari Ibnu Abbas ia mengatakan : Tiada perkawinan, selain
              dengan dua orang saksi yang adil dan wali yang memimpin”.

          Dalam masalah ini Imam Malik berpendapat bahwa saksi nikah tidak

   menjadi rukun nikah akan tetapi saksi hanya sebagai syarat nikah.9

   Sebagaimana penjelasan sebagai berikut :

   ‫ولما لك فى الموطّأ عن الزبير المكى أن عمربن الخطّاب أتى بنكاح لم‬
                              ّ ّ ّ       ّ
   ‫يشهد عليه أالّ رجل وأمرأة فقال : هذا نكاح السر وال أجيزه ولو كنت‬
                       ّ ّ
                                                10
                                                                 ّ
                                                   .‫تقدمت فيه لرجمت‬
   Artinya : “Dan bagi Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dari Abi Zubair al-
             Makki, bahwa sesungguhnya pernah diajukan kepada Umar bin
             Khaththab suatu pernikahan yang tidak disaksikan melainkan oleh
             seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka jawab Umar: Ini
             nikah sirri, aku tidak memperkenankannya dan kalau engkau tetap
             melakukannya tentu kurajam”.


          Sedangkan Imam Syafi’i menyatakan bahwa dua orang saksi harus

   hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah. Karena dalam suatu

   perkawinan peristiwa yang sangat penting adalah pada saat akad nikah


     8
        Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm, Juz 5,
Dar al-Fikr, Beirut, t.th, hlm. 23.
      9
        Ibnu Rusd, Bidayatul Mujtahid wa Nihaatul Muktasid, Juz 2, Dar al-Fikr,
Beirut, hlm. 15.
      10
         Imam Malik, Al-Muwatha’, Dar Al-Fikr, Beirut, 1989.
                                                                              6


   dilangsungkan, sehingga dua orang saksi harus hadir pada terjadinya akad

   nikah.11

          Namun Imam Malik berbeda pendapat bahwa saksi tidak harus hadir
   dalam akad nikah dilaksanakan, kalaupun hadir hanyalah sunnah saja. Saksi
   itu harus hadir pada saat mereka bersetubuh atau melakukan hubungan
   seksual.12 Menurut ulama Madinah boleh saksi seorang kemudian sesudah itu
   seorang saksi lagi apabila diumumkan sebelumnya (datangnya saksi tidak
   bersamaan).13

          Dari uraian di atas terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Maka dari
   itu penulis ingin membahasnya dalam bentuk skripsi dengan judul : “Studi
   Komparasi Pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang Kedudukan
   dan Kehadiran Saksi dalam Perkawinan”



B. Rumusan Masalah

          Bertolak dari latar belakang di atas, sehingga timbul pertanyaan atau
   problem ataupun permasalahan dalam kajian ini adalah :

   1. Mengapa Imam Syafi’i dan Imam Malik berbeda pendapat tentang
      kedudukan dan kehadiran saksi dalam pernikahan ?

   2. ِِApakah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang kedudukan
      dan kehadiran saksi dalam pernikahan itu masih relevan ?




     11
         Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris As-Syafi’i, Al-Umm (Terj.),
Juz 7, Cet. I, 1983, hlm. 117.
      12
         Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ‘Ala Mazahi bin Araba’ah, Juz 4, Dar
el-Makmun, Syibra, 1969, hlm. 23.
      13
         Terjemahahan Nailul Author Himpunan Hadits-Hadits Hukum (Diterj.
Mu’ammal Hamidy dan Umar Fanany, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1993, hlm.
2173.
                                                                               7


   3. Apa yang menjadi dasar hukum pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik

      berbeda pendapat tentang kedudukan dan kehadiran saksi dalam

      pernikahan ?



C. Tujuan Penelitian

           Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam skripsi ini adalah :

   1. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana argumentasi Imam Syafi’i dan

      Imam Malik dalam masalah kedudukan dan kehadiran saksi dalam

      pernikahan.

   2. Untuk mengetahui apakah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang

      kedudukan dan kehadiran saksi dalam pernikahan itu masih relevan.

   3. Untuk mengetahui dasar hukum yang digunakan Imam Syafi’i dan Imam

      Malik berbeda pendapat tentang kedudukan dan kehadiran saksi dalam

      pernikahan.



D. Penegasan Istilah

   Studi             : Studi, berarti kajian, telaah, penelitian dan penyelidikan

                       ilmiah terhadap sesuatu.14

   Komparasi         : Berkenaan atau berdasarkan perbandingan.15




     14
         Tim Punyusun Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka,
Jakarta, 1994, hlm. 965.
      15
         Ibid, hlm. 516.
                                                                               8


   Imam Syafi’i     : Seorang imam mazdhab fiqih yang diikuti oleh sebagian

                       besar umat muslim di Indonesia, disebut Syafi’i karena

                       dibangsakan dengan nama datuknya yang ke-tiga yaitu

                       Syafi’i bin Salib.16

   Imam Malik       : Ahli hadits, ahli fiqih, mujtahid besar dan pendiri mazdhab

                       Maliki yang terkenal dengan sebutan Imam Dar Al-Hijrah

                       (tokoh panutan penduduk Madinah).17

   Kedudukan        : Keadaan yang sebenarnya.18

   Saksi            : Orang yang melihat atau mengetahui sendiri peristiwa

                       yang diminta hadir pada peristiwa untuk mengetahuinya

                       agar suatu ketika apabila diperlukan dapat memberikan

                       keterangan yang membenarkan bahwa peristiwa itu

                       sungguh terjadi.19

   Perkawinan       : Pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon

                       gholidhan     untuk    mentaati   perintah   Allah    dan

                       melaksanakannya merupakan ibadah.20

           Jadi yang dimaksud dari judul skripsi “Studi Komparasi Pendapat Imam

   Syafi’i dan Imam Malik tentang Kedudukan dan Kehadiran Saksi dalam


     16
         Munawar Kholil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazdhab, Bulan
Bintang, 1983, hlm. 152.
      17
         Ibid, hlm. 184.
      18
         Ibid, hlm. 214.
      19
         Ibid, hlm. 770.
      20
         Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademi Pressindo,
Jakarta, 1992, hlm. 114.
                                                                               9


   Perkawinan” adalah kajian ilmiah terhadap pendapat Imam Syafi’i dan Imam

   Malik tentang keadaan atau status saksi yang sebenarnya dan kehadiran saksi

   dalam perkawinan.



E. Metode Penelitian

           Metode mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai suatu

   tujuan, dengan memakai teknik serta alat-alat tertentu untuk mendapatkan

   kebenaran yang obyektif dan terarah dengan baik.

           Adapun metode yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini,

   adalah :

   1. Pendekatan Penelitian

               Kerja penelitian dalam skripsi ini menggunakan pendekatan

          rasionalistik. Menurut Noeng Muhajir, pendekatan rasionalistik adalah

          pendekatan   yang   menekankan      pemaknaan     empirik,   pemahaman

          intelektual dan kemampuan berargumentasi secara logik.21

               Dan penulis juga menggunakan metode pendekatan ushul fiqh

          dengan menggunakan teori tarjih, di sini teori tarjih diartikan apabila

          terdapat dua nash yang secara dhohir bertentangan maka harus diupayakan

          pembahasan atau ijtihad sebagai upaya mengkopromikan sesuai dengan

          metode    yang   berlaku.22   Dan    apabila    tidak   mungkin   untuk


     21
        Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin,
Yogyakarta, 1992, hlm. 83.
      22
         Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Dar Al-Qalam, Kuwait, 1978,
hlm. 229.
                                                                                   10


            mengkompromikan maka dengan jalan mentarjih salah satu dan apabila

            tidak mungkin maka dengan jalan mengetahui histori nash tersebut.23




   2. Jenis Penelitian

                 Jenis penelitian skripsi ini adalah library research yaitu penelitian

            yang berhubungan dengan dunia pustaka.24

   3. Teknik Pengumpulan Data

                 Berangkat dari jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian

        kepustakaan, maka data diambil dari dunia pustaka, seperti kamus,

        literatur, majalah, serta buku-buku yang terkait dengan pembahasan dalam

        penelitian skripsi ini. Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam

        skripsi ini, sumber pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai

        berikut :

        a.     Sumber data primer

                     Yaitu sumber langsung yang berkaitan obyek riset, sumber ini

               merupakan diskripsi atau penjelasan langsung tentang pernyataan




       23
            Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Dar Al-Fikr Al-Araby, t.th, hlm.
309.
       24
       Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid I, Andi Offset, Yogyakarta,
1987, hlm. 9.
                                                                                11


             yang dibuat oleh individu dengan menggunakan teori yang pertama

             kali.25

                       Sumber data primer dapat berkaitan langsung dengan nash-nash

             Al-Qur'an dan hadis-hadis Rosulullah dan pendapat Imam Syafi’i dan

             Imam Malik.

        b.   Sumber data sekunder

                       Yaitu bahan pustaka yang diperoleh dan dipublikasikan oleh

             penulis yang tidak secara langsung melakukan pengamatan atau

             berpartisipasi dalam kenyataan yang didiskripsikan atau bukan

             penemu teori.26

                       Adapun buku-buku sumber penelitian dan karangan ilmiah lain

             yang isinya sesuai dengan permasalahan dalam judul skripsi Studi

             Komparasi Pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang

             Kedudukan dan Kehadiran Saksi dalam Perkawinan, yang dapat

             dijadikan sebagai pelengkap dalam penyusunannya.

  4.    Teknik Pengolahan Data

                Setelah diperoleh data-data yang diperlukan dalam skripsi ini,

        maka pengolahan data yang digunakan adalah sebagai berikut :




        a. Metode Deduktif

       25
        Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam
Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 83.
     26
        Ibid., hlm. 84.
                                                                             12


              Deduktif adalah metode yang pembahasannya dimulai dari

        kaidah-kaidah yang bersifat umum agar diperoleh kesimpulan yang

        bersifat khusus.27

              Metode    deduktif   ini   penulis   anggap   lebih   tepat   dan

        mempermudah pengambilan kesimpulan yang lebih spesifik dari suatu

        pembahasan yang bersifat umum yaitu membahas tentang landasan

        teori yang berisi tentang dalil-dalil syar’i yang disepakati dan

        diperselisihkan para ulama, khususnya Imam Syafi’i dan Imam Malik.

 b. Metode Induktif

              Induktif adalah suatu metode yang berangkat dari faktor yang

        bersifat khusus atau peristiwa kongkrit, kemudian dari faktor-faktor itu

        ditarik kesimpulan yang bersifat umum.28

              Dalam penyajian data, penulis berangkat dari faktor-faktor yang

        bersifat umum, yaitu membahas tentang biografi, istimbath hukum,

        dan kedudukan saksi menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik.




 c. Metode Komparatif

              Metode komparatif adalah metode yang digunakan untuk

        memperoleh kesimpulan dengan menilai faktor-faktor tertentu yang




27
     Sutrisno Hadi, Op.cit, hlm. 36.
28
     Ibid, hlm. 42.
                                                                                13


             berhubungan dengan situasi yang diselidiki dan membandingkan

             dengan faktor-faktor lain.29

                   Komparatif merupakan metode terpenting dalam penulisan

             skripsi ini, karena penulis merasa perlu untuk mengkomparasikan

             aspek dalil yang digunakan Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang

             kedudukan dan kehadiran saksi dalam perkawinan.



F. Sistematika Penulisan

            Untuk mempermudah adanya alur pembahasan ini, maka penulis

   membuat sistematika penulisan skripsi sebagai berikut :

   1. Bagian Muka, terdiri dari :

               Halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan,

          halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar dan

          halaman daftar isi.

   2. Bagian Isi, terdiri dari beberapa bab :

      Bab I        : Bab pendahuluan yang meliputi; latar belakang masalah,

                     rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, penegasan istilah,

                     metode penelitian, sistematika penulisan skripsi.

      Bab II       : Membahas tentang landasan teori. Dalam bab ini penulis

                     menguraikan tentang dalil-dalil syar’i yang meliputi; definisi


     29
       Winarno Surakhmad, Dasar dan Teknik Research, Tarsito, Bandung,
1972, hlm. 135.
                                                                              14


                dalil-dalil syar’i, dalil-dalil syar’i yang disepakati oleh kedua

                ulama dan dalil-dalil syar’i yang diperselisihkan kedua ulama

                tersebut.

   Bab III     : Pada bab ini berisi tentang kedudukan saksi dalam perkawinan

                menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik, yang meliputi;

                biografi Imam Syafi’i dan Imam Malik, istimbat hukum Imam

                Syafi’i dan Imam Malik, kedudukan saksi dan masa hadirnya

                dalam perkawinan menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik.

   Bab IV      : Analisis data. Pada bab ini penulis membahas tentang

                komparasi pemikiran Imam Syafi’i dan Imam Malik tentang

                kedudukan saksi dan masa hadirnya dalam perkawinan, yang

                meliputi; aspek dalil yang digunakan oleh Imam Syafi’i dan

                Imam Malik kaitannya dengan kedudukan saksi dalam

                perkawinan, aspek maslahat yang hendak dicapai di Indonesia.

   Bab V       : Penutup. Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan atas

                analisis data, kemudian dilanjutkan dengan memberikan saran-

                saran dan kata penutup.

3. Bagian Akhir, terdiri dari :

         Daftar pustaka, daftar riwayat hidup dan lampiran-lampiran.




             judul : “Studi Komparasi Pendapat Imam Syafi’i dan Imam
Malik tentang Kedudukan dan Kehadiran Saksi dalam Perkawinan”
                                                      15




DAPATKAN SKRIPSI LENGKAP DENGAN SMS KE
08970465065
KIRIM JUDUL DAN ALAMAT EMAIL SERTA
KESIAPAN ANDA UNTUK MEMBANTU
OPRASIONAL KAMI
GANTI OPRASIONAL KAMI 50rb SETELAH FILE
TERKIRIM
SITUS: http://www.lib4online.com/p/bentuk-file.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:20
posted:1/27/2013
language:
pages:15