; Proposal
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Proposal

VIEWS: 5 PAGES: 16

  • pg 1
									JUDUL : KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLEMENTASINYA
            DALAM MENCIPTAKAN MASYARAKAT MADANI


A. Pendahuluan
            Islam sebagai sebuah agama memberikan konsep ajaran yang
   komprehensif dan integral, tidak hanya pada persoalan ubudiyah (ibadah)
   khusus seperti shalat, puasa dan lainnya, tetapi juga menyangkut kode etik
   sosial yang digunakan manusia sebagai perangkat penataan sosial yang
   diarahkan pada kemaslahatan manusia itu sendiri. Al Qur’an dan Hadits
   adalah representasi dari ajaran Islam yang komprehensif tersebut, yang di
   dalamnya memuat ajaran yang lengkap dalam berbagai aspek, 1 tak terkecuali
   masalah      keilmuan/pendidikan,       bahkan     Rasulullah    Muhammad        SAW
   menerima wahyu pertama juga berkenaan dengan masalah pendidikan :




   Artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia
             telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
             Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia)
             dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa
             yang tidak ketahuinya.” (Al Alaq : 1 – 5) 2

            Sebagai sumber bagi ilmu – ilmu Islam, kredibilitas Al Qur’an dan
   Hadits menurut Azyumardi Azra, :
            Pertama, bisa dilihat dari Al Qur’an sebagai suatu yang komprehensif,
   sehingga prinsip – prinsip pendidikan juga terdapat didalamnya, di sisi lain Al
   Qur’an sebagai sebuah kitab suci juga tidak menutup adanya upaya
   penafsiran secara esoteris (ma’nawi), yang berarti dalam masalah pendidikan


     1
         Harun Nasution, Islam Rasional, Mizan, Bandung 1995, hlm. 25.
     2
         Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahannya, CV. Asy-Syifa’, Semarang, 1992, hlm. 1079.
    dimungkinkan adanya pengungkapan misteri – misteri yang terkandung di
    dalamnya, untuk membangun paradigma ilmu.
            Kedua, Al Qur’an dan Hadits menciptakan iklim yang kondusif bagi
    pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menuntut
    ilmu ; pencarian ilmu dalam segi apapun berujung pada penegasan keesaan
    Tuhan. Karenanya seluruh metafisika dan kosmologi yang terbit dari
    kandungan Al Qur’an dan Hadits merupakan dasar pembangunan dan
    pengembangan ilmu Islam, kedua sumber pokok ini singkatnya meciptakan
    atmosfer khas yang mendorong aktivitas keintelektualan dalam “baju” Islam.3
            Atmosfer keinteletualan dalam dunia pendidikan Islam kiranya
    dimulai sejak diturunkan wahyu oleh Allah SWT lewat Jibril kepada
    Rasulullah SAW yang pertama yaitu “iqra’” (bacalah !). Hal inilah dapat
    dimengerti ketika Islam sebagai sebuah ajaran yang berarti adalah agama,
    tanpa identitas yang memberikan ajaran tentang IPTEK (ilmu pengetahuan
    dan teknologi) kepada penganutnya akan menjadi “tong sampah” sejarah.
    Apalagi ketika Islam diturunkan di Jazirah Arab (Mekkah), penduduk
    Makkah pra Islam dikenal sebagai komunitas yang mengagungkan
    kesusasteraan yang berarti mempunyai tingkat kebudayaan yang cukup tinggi.
            Khazanah dunia Pendidikan Islam mulai menanjak naik ketika umat
    Islam mendominasi cakrawala keilmuan dalam berbagai disiplin ilmu,
    sebagai sampel kita mengenal Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Rusyd, Al Kindi dan
    lain sebagainya. Walaupun hal tersebut juga dibarengi oleh kemunduran
    peradaban Romawi, tetapi sejarah Islam mencatat bahwa Islam sebagai
    sebuah agama juga ternyata tidak “alergi” pada persoalan duniawi.
            Persoalan yang muncul kemudian, pasca kekalahan umat Islam dalam
    beberapa konfrontasi militer dengan Eropa sejak abad ke 15, Islam
    mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan, berarti umat Islam
    mengalami keterbelakangan dalam persoalan pendidikan. Tidak ragu lagi,
    keberhasilan kolonialisme dan imperialisme Eropa atas dâr al-Islâm

       3
         Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,
PT Logis Wacana Ilmu, Cet. ke – 1, Jakarta, 1999, hlm. 13.
menemukan daya dorong (impetus)-nya dalam ilmu dan teknologi.
Sebaliknya, kolonialisme memberikan impetus yang sangat signifikan bagi
pengembangan ilmu dan teknologi Eropa. Dalam hubungan yang simbolik
inilah      Eropa      berhasil   mempertahankan   supremasi,   hegemani,    dan
dominasinya atas kaum Muslim.4
           Dari uraian di atas bisa dilihat, bahwa pasca keruntuhan Islam setelah
perang salib, negara – negara Barat tersebut bahkan mendominasi dunia lewat
kolonialisme (penjajahan) kepada negara – negara Timur (termasuk
Indonesia) yang secara kebetulan mayoritas penduduk negaranya adalah
Islam, sehingga lengkap sudah keterpurukan umat Islam waktu. Karena harus
diakui kolonialisme Eropa dengan konsep yang begitu masyhur Gold, Gospel,
Glory menjadikan negara – negara jajahannya sebagai “sapi perahan”,
sehingga masuk akal jika negara – negara jajahan yang sebagian besar Islam
tersebut banyak mengalami keterpurukan yang sangat luar biasa dalam
berbagai bidang kehidupan (sosial, ekonomi, budaya dan politik) akibat
penjajahan tersebut. Celakanya keterpurukan umat Islam tentunya merembet
dalam dunia pendidikan Islam, ini bisa dilihat ketika wajah Islam waktu itu
identik keterbelakangan dan kebodohan, sebagai akibat langsung dari
penjajahan, karena memang biasanya negara jajahan tidak mempunyai porsi
yang memadai dalam menikmati pendidikan.
           Persoalan menjadi lain lagi, setelah era kolonialisme berakhir dan
sebagian negara Islam melakukan pembenahan dan penataan di segala sektor
kehidupan, tak ayal jika kemudian di dunia Islam kemudian dikenal dengan
revivalisme Islam (kebangkitkan kembali umat Islam) pasca kolonialisme.
Dalam tataran wacana, revivalisme memang cukup marak diperbincangkan
bahkan sampai sekarang, dan cenderung menjadi sebuah euphoria dari kaum
muslim setelah mengalami kemunduran yang cukup signifikan dalam
berbagai aspek kehidupan. Kerangka yang dimunculkan dalam revivalisme
Islam ini menurut Azyumardi Azra, tidak hanya terbatas pada penyelarasaan
kehidupan dengan kaidah normatif Islam (Al Qur’an) tetapi juga bagaimana

   4
       Ibid., hlm. 14 – 15.
    menyangkut aspek penguatan penguasaan tatanan sosial dalam semua sektor
    kehidupan.5
               Lagi – lagi yang terjadi kemudian revivalisme Islam yang merupakan
    “simbol” bagi umat Islam dalam rangka mengejar ketertinggalan terhadap
    kelompok lain dalam sektor kehidupan, terkadang dianggap sebagai sebuah
    ancaman, yang muncul kemudian ada istilah yang bernama Islam phobi. Hal
    ini bukan omong kosong belaka, bisa dilihat ketika umat Islam menunjukkan
    geliatnya baik dalam persoalan sosial maupun politik, biasa dengan cepat
    akan disebut sebagai sesuatu yang berbahaya. Beberapa kasus seperti di Mesir
    lewat kelompok Ikhwanul Muslimin yang didirikan Jamaludin Al Afghani,
    kasus sekulerisasi di Turki oleh Kemal Attaruk dan pemberangusan FIS di
    Aljazair atau pemberlakuan asas tunggal di Indonesia membuktikan bahwa
    gerakan Islam atau lebih pas dikatakan sebagai geliat dan gairah umat Islam
    dalam aktivitasnya berbangsa dan bernegara dianggap sebagai suatu yang
    berbahaya, maka selama itulah Islam selalu diidentikkan dengan terorisme,
    kelompok militan dan fundamentalisme.6
               Padahal identifikasi – identifikasi itu seakan menyiratkan wajah
    kekerasan dari umat Islam, Islam dianggap sebagai sebuah agama yang tidak
    beradab, bermoral, beretika sosial dan lain – lain, sehingga Islam layaknya
    adalah musuh bagi toleransi, pluralisme, demokratisasi dan penghambat
    globalisasi alias kemodernan. Apakah demikian wajah Islam sebenarnya ?
    itulah pertanyaan yang menggelitik kita selama ini. Sedemikiankah ajaran
    Islam yang terkadung dalam Al Qur’an dan Hadits hanya mengajarkan sikap
    keras kita kepada selain agama Islam, ataukah konsep Islam sebagai agama
    rahmatan lil alamin telah berubah arah atau memang opini negatif itu
    dibentuk sebagai penciptaan stigma oleh fihak – fihak yang tidak senang
    kepada Islam, inilah persoalan yang kita hadapi sekarang.



       5
           Ibid.
       6
          Fahmi Huwaydi, Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat madani, (terj), Muhammad Abdul
Ghoffar, Mizan, Cet. ke – 1, Bandung, 1996, hlm. 8.
            Bisa jadi jika memang wajah keras yang dipunyai umat Islam, berarti
    bisa dikatakan bahwa Islam mengalami degradasi peradaban yang cukup
    akut, padahal kita tahu Muhammad SAW sebagai rasul diperintah ke muka
    bumi justru untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Tentunya jika kita
    kaitkan dengan peradaban, akan berkait dengan dunia Pendidikan Islam itu
    sendiri. Karena dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan bagian
    terpenting bagi penciptaan individu yang bermoral, dan beradab tersebut.
    Dalam bahasanya Ahmad Daeng Marimba pendidikan khususnya Islam
    bertujuan membentuk kepribadian utama menurut ukuran – ukuran Islam.7
    Dari sinilah mungkin muncul pertanyaan apakah terjadi kegagalan dalam
    dunia Pendidikan Islam sehingga wajah Islam sekarang identik dengan
    kekerasan walaupun dalam tataran yang objektif opini tersebut masih
    dianggap partikularistik, karena sebagian besar umat Islam tentunya tidak
    demikian.
            Jika dikaitkan dengan civil society (masyarakat madani) yang
    dimaknai sebagai sebuah masyarakat yang mengembangkan menetapkan pola
    hidup sosial-politik-budaya dengan pranata kepemimpinan yang didasarkan
    pada nilai – nilai demokrasi dengan tujuan meningkatkan harkat martabat
    masyarakat,8     tentunya sangat jauh antara nilai – nilai yang seharusnya
    diajarkan dalam Pendidikan Islam dengan masyarakat madani (civil society)
    yang sekarang juga marak menggelayuti memori umat Islam.
            Persoalan terakhir adalah bagaimana mendorong nilai – nilai dalam
    Pendidikan Islam yang begitu komprehensif sehingga masyarakat madani
    (civil society) alias masyarakat beradab yang dicita – citakan dapat terwujud,
    sehingga jika benar opini Islam sebagai agama yang menyukai pedang dan
    perang dalam misi keagamaan dan kehidupan akan luntur dengan sendirinya.



        7
         Ahmad Daeng Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al Ma’rif, Cet. ke – 8,
Bandung, 1989, hlm. 23.
        8
         Taufik Abdullah, “Disekitar Hasrat ke Arah Masyarakat madani” dalam, Membangun
Masyarakat madani Menuju Indonesia Baru Milenium ke-3, Program Pasca Sarjana UMM, Aditya
Media, Cet. ke – 1, Yogyakarta, 1999, hlm. 85.
B. Rumusan Masalah
         Ada beberapa masalah pokok yang akan penulis kaji dalam skripsi ini :
   1.   Bagaimana konsep Pendidikan Islam ?
   2.   Bagaimana konsep Masyarakat madani ?
   3.   Bagaimana konsep nilai – nilai Pendidikan Islam dan implementasinya
        dalam menciptakan Masyarakat madani ?


C. Tujuan Penulisan Skripsi
         Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah
   untuk mengetahui konsep yang terkandung dalam Pendidikan Islam, di mana
   Pendidikan Islam seperti telah disebutkan di atas adalah pendidikan yang
   didasarkan pada Al Qur’an dan Hadits. Konsep yang ingin dikemukakan
   penulis adalah nilai – nilai yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits yang
   dikaitkan atau dapat dicerminkan lewat masyarakat madani (civil society)
   yang mempunyai identitas sebagai masyarakat yang beradab, dengan
   menjujung tinggi nilai toleransi, pluralisme, demokratisme dan lain – lain.


D. Penjelasan Istilah Kunci
         Dalam penulisan skripsi ini, penulis memaparkan judul : “Konsep
   Pendidikan Islam dan Implementasinya Dalam Menciptkan Masyarakat
   Madani.”
         Untuk memudahkan pemahaman dan pemaknaan sekaligus untuk
   menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul di atas, penulis akan
   memberikan penjelasan dalam permasalahan tersebut. Adapun penjelasan
   tersebut sebagai   berikut :
   1.   Pendidikan Islam
              Pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan
        serta teori – teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan
              didasarkan pada nilai – nilai yang terkandung dalam Al Qur’an dan
              Hadits.9
                   Jadi, dasar utama dari Pendidikan Islam adalah Al Qur’an dan
              Hadits, sebagai sumber ajaran agama Islam sendiri. Dalam konteks
              pendidikan, dapat dikatakan sebagai Pendidikan Islam, jika pendidikan
              yang diajarkan didasarkan pada kedua sumber hukum Islam tersebut,
              sehingga mendorong terciptanya kepribadian yang baik dalam parameter
              agama Islam.
                   Kaitannya dengan tema sentral, penulis melihat bahwa nilai – nilai
              dalam Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber Pendidikan Islam
              mempunyai keterkaitan secara intrinsik dengan masyarakat madani yang
              selama ini diidentikkan dengan masyarakat yang beradab, mempunyai
              tingkat toleransi yang tinggi, menjunjung tinggi nilai demokrasi dan
              menghargai kemajemukan (pluralisme). Karena penulis yakin bahwa
              dalam Al Qur’an dan Hadits sebagai cerminan Pendidikan Islam terdapat
              nilai – nilai dimaksud. Atau dalam kata lain adalah bagaimana
              menjadikan nilai – nilai dalam Pendidikan Islam mengilhami terciptanya
              masyarakat madani yang identik dengan hal – hal seperti tersebut di atas.
    2.        Masyarakat Madani
                   Yang dimaksud dengan masyarakat adalah sejumlah manusia
              dalam arti seluas – luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang
              mereka anggap sama dalam satu komunitas.10
                   Masyarakat dalam pengertian umum dapat dianalogikan sebagai
              komunitas yang hidup dalam suatu negara, daerah atau lingkungan
              tertentu yang mempunyai common dalam mengakui adanya kebhinekaan
              dalam ideologi kultur, ras, agama dan lainnya.



         9
          Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Cet. ke – 1,
Yogyakarta, hlm. 99.
         10
           Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Edisi Kedua, Jakarta, 1994, hlm. 204.
                 Sedangkan Madani Berarti beradab (civeleze), demokratis, baik,
            bermoral. Yang dimaksud adalah masyarakat yang beradab yang
            diwujudkan dengan berbudi pekerti yang luhur, mempunyai nilai yang
            luhur dan mempunyai nilai – nilai moral yang tinggi.11
                 Tidak dapat dielakkan bahwa masyarakat yang berperadaban (civil
            society) akan tercapai lewat proses pendidikan, yang berarti pendidikan
            menjadi kunci bagi terciptanya individu yang berbudi pekerti luhur,
            beretika sosial   yang baik kesemuannya mendorong terciptanya
            masyarakat berperadaban (madani). Di sinilah kuncinya bagaimana
            Pendidikan Islam dengan “roh” nya Al Qur’an dan Hadits dapat
            menciptakan dinamika sosial lewat pembentukan individu – individu
            yang “baik” sehingga nantinya dapat menciptakan masyarakat beradab.
             Dengan demikian yang penulis maksud dengan judul di atas adalah
    bagaimana nilai – nilai pendidikan Islam secara langsung bisa menciptakan
    sebuah masyarakat madani (civil society), karena ada keterkaitan secara
    hakekat antara pendidikan Islam dengan masyarakat madani (civil society).
    Pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar, tujuannya
    berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, yang ajaran – ajarannya mengandung
    prinsip moralitas, etika dan nilai – nilai universalisme yang juga merupakan
    hakekat masyarakat madani (civil society) itu sendiri. Pembahasan yang akan
    dilakukan penulis pertama adalah menjelaskan Pendidikan Islam dilihat dari
    nilai – nilainya, sebagai dasar bagi penjelasan identitas yang ada pada
    masyarakat madani (civil society), kemudian menjelaskan masyarakat madani
    (civil society), di mana batasan yang penulis lakukan pada konteks Indonesia,
    walaupun sebelumnya mencoba melakukan pembedahan dalam aspek
    historis. Akhirnya melakukan penyelerasan bagaimana konsep implementasi
    nilai – nilai Pendidikan Islam dalam menciptakan masyarakat madani (civil
    society).     Implementasi     yang   dimaksud    penulis   menekankan    pada
    implementasi nilai bukan implementasi praktis.

       11
          Dawam Rahardjo, Masyarakat madani : Kelas Menengah dan Perubahan Sosial,
LP3ES, Cet. ke – 1, Jakarta, 1999, hlm. 146.
E. Tinjauan Pustaka
          Pembahasan tentang masyarakat madani (civil society) dalam
   khazanah keilmuan di Indonesia cukup banyak, hal ini cukup logis karena
   bagaimanapun juga masyarakat madani (civil society) yang berarti juga
   merupakan penguatan masyarakat sipil dalam konteks kehidupan berbangsa
   dan bernegara dalam berbagai aspek memang menjadi tuntutan normatif bagi
   setiap orang yang memang mempunyai hak – hak individu, kelompok dan
   bermasyarakat (negara). Oleh karena pasca tahun 1990-an penulis melihat
   khususnya dalam wacana gerakan Islam modern (juga di Indonesia),
   intelektual muslim mencoba merumuskan sekaligus menggali tentang teori
   penguatan masyarakat sipil atau sekarang banyak dikenal dengan masyarakat
   madani (civil society).
          Adalah Naquib Al Attas yang mencoba mengadopsi masalah civil
   society yang kemudian diganti dengan masyarakat madani, bahkan Anwar
   Ibrahim (mantan deputi PM Malaysia) dalam sebuah simposium dalam
   festival Istiqlal, pertama kali yang mengenalkan pengertian masyarakat
   madani. Dari sinilah kemudian berkembang beberapa kelanjutan pemikiran
   tentang masyarakat madani (civil society), tak kurang intelektual – intelektual
   muslim Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Muhammad
   AS. Hikam, Azyumardi Azra serta lainnya terlibat secara aktif untuk ikut
   menyemarakan cakrawala pemikiran tentang masyarakat madani.
          Azyumardi Azra merefleksikan tentang masyarakat madani lewat
   tulisannya “Menuju Masyarakat madani, Gagasan, Fakta, dan Tantangan”
   (1999), yang secara detail lebih banyak mengorek potensi dan koreksi
   terhadap bentuk kehidupan beragama di tanah air, dari proses dialog antar
   umat beragama hingga persoalan konflik beragama yang terjadi. Sedangkan
   M. Dawam Rahardjo bahkan lebih komprehensif melakukan kajian tentang
   masyarakat madani ini lewat berbagai tulisannya seperti, “Masyarakat
   Madani Sebuah Penjajakan Awal”         dan “Sejarah Agama dan Masyarakat
   madani”, di mana kajian yang dilakuan Dawam Rahardjo juga menyangkut
   perspektif kesejarahan tentang masyarakat madani tersebut. Selain itu banyak
terdapat kajian – kajian lain seperti dilakukan Nurcholish Madjid, Mansour
Fakih, atau bahkan secara aplikatif Gus Dur melakukan sebuah bentuk
rumusan yang dikenal dengan civic education.
       Dari sekian banyak kajian tentang masyarakat madani (civil society)
masih banyak terdapat perbedaan persepsi dan visi antara para ilmuan sosial
Islam tersebut tentang masyarakat madani (civil society), seperti AS Hikam
yang lebih sepakat bahwa antara civil society dengan masyarakat madani
sangat berbeda karena content antara keduanya secara historis berbeda. Tetapi
Dawam Rahardjo lebih sepakakat jika civil society “diislamkan” sehingga
sama dengan masyarakat madani. Pendapat lebih arif dikemukakan
Nurcholish Madjid bahwa untuk melakukan pemaknaan terhadap civil society
dan masyarakat madani sebaiknya dikaitkan dengan persoalan kultur
keagamaan yang ada di Indonesia yang kebetulan secara mayoritas adalah
pemeluk agama Islam, dengan meminjam istilahnya Naquib Al Attas tanpa
harus mereduksi makna civil society karena secara hakekat keduanya adalah
sama maka masyarakat madani berarti juga civil society. Terlepas dari masih
adanya kontroversi di atas, penulis memposisikan diri untuk melihat kajian
masyarakat madani dan civil society dalam ordinat yang sama terutama dari
segi hakekat pemaknaannya, kecuali dalam perspektif historis yang berbeda.
       Di Fakultas Tarbiyah ada sebuah skripsi yang ditulis oleh saudara
Khasan Wahyudi (angkatan 1996) yang meneropong “Pendidikan Agama
Islam dan Masyarakat Madani dalam Persepektif Psikologi Islami”, secara
persis penulis tidak begitu tahu tentang isi skripsi tersebut, tetapi diperkirakan
lebih banyak menembak persoalan psikologi Islami kaitannya dengan
Pendidikan Agama Islam dalam perumusan masyarakat madani. Sedangkan
kajian yang dilakukan penulis lebih banyak menyorot tentang nilai – nilai
yang ada dalam Pendidikan Islam berkaitan dengan pembentukan masyarakat
madani (civil society) yang mempunyai nilai – nilai dimaksud.
       Untuk itulah penulis dalam skripsi ini setelah merekam berbagai
bentuk kajian yang telah dilakukan sebelumnya, mencoba berpijak secara
proporsional, karena secara ideal kajian tentang masyarakat madani memang
     harus didahului dengan kajian tentang civil society terutama dalam perspektif
     historis, dan setelah itu penulis merasa bahwa ide dan konsep yang
     dikembangkan antara keduanya hampir sama. Dan dalam skripsi ini, tanpa
     mengesampingkan nilai – nilai penulis akan lebih banyak menawarkan self
     apologia yang tentunya terbatas pada kemampuan intelektual penulis sendiri
     yang memang masih sangat dangkal.


F. Metodologi Penulisan Skripsi
                Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode – metode
     sebagai berikut :
     1.        Metode Pengumpulan Data
                      Metode yang digunakan untuk memperoleh data penulisan skripsi
               ini adalah Library Research, yaitu untuk mengumpulkan data teoritis
               sebagai penyajian ilmiah yang dilakukan dengan memilih literatur yang
               berkaitan dengan penelitian. 11 Metode ini digunakan untuk menentukan
               literatur yang mempunyai hubungan dengan masalah Pendidikan Islam
               dan masyarakat madani (civil society), sehingga dalam skripsi ini ada
               kesesuaian antara tema dengan pembahasan di dalamnya.
     2.        Metode Analisis Data
                      Setelah data terkumpul, maka data tersebut dianalisis dengan
               analisis non statistik karena data-data diskriptif, diolah dengan analisis isi
               atau content analisys. Noeng Muhadjir juga menyebutkan analisis data
               merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil
               observasi, wawancara dan lainya untuk meningkatkan pemahaman
               peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan
               bagi orang lain.12 Metode ini digunakan untuk menyusun data secara

          11
         Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I, Andi Offset, Cet. ke – 29, Yogyakarta,
1997, hlm. 9.


          12
          Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin, Edisi III, Cet. ke – 7,
Yogyakarta 1996, hlm. 104.
              sistematis mengenai masalah Pendidikan Islam dan implementasinya
              dalam masyarakat madani (civil society). Tentunya dari sekian banyak
              data tentang Pendidikan Islam dan masyarakat madani, akan diambil
              sesuai dengan sasaran yang ingin ditembak penulis yaitu masalah nilai –
              nilai Pendidikan Islam yang berkaitan dengan pembentukan masyarakat
              madani (civil society).
    3.        Metode Pembahasan
              a. Metode kontekstual
                 Metode ini berarti adalah adanya hubungan antara bagian yang sentral
                 dengan perifier. Dalam hal ini penulis mendudukan kajian Pendidikan
                 Islam yang didasarkan pada Al Qur’an dan Hadits dan masyarakat
                 madani sebagai sentral pembahasan, sedangkan kajian tentang
                 kesejarahan masa lampau, prediksi ke depan dan analisis sebagai
                 perifiernya.13
              b. Metode interpretasi
                 Rekonstruksi Pendidikan Islam dan masyarakat madani (civil society)
                 dilakukan secara terpisah kemudian penulis melakukan interpretasi
                 dari kedua pembahasan di atas, untuk menemukan keterkaitan yang
                 secara khusus antara nilai – nilai Pendidikan Islam dengan masyarakat
                 madani (civil society) yang menjadi target penulis, kesemuanya
                 dipahami untuk menemukan arti dan maksud secara khas.14
              c. Metode Reflektif Thinking
                 Metode ini berarti menggunakan metode campuran antara deduktif
                 dan induktif,15 penulis menggunkan metode ini karena antara
                 pembahasan Pendidikan Islam dan masyarakat madani (civil society)
                 kiranya terlalu sulit untuk menjadikan kesimpulan awal dan
                 kesimpulan akhir saja dalam topik pembahasan masalah ini.

         13
              Noeng Muhajir, Op.Cit.,, hlm. 47.
         14
            Anton Bakar dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Kanisius,
Cet. ke – 4, Yogyakarta, 1994, hlm. 74.
         15
              Noeng Muhajir, Op.Cit., hlm. 6.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
         Untuk mempermudah penjelasan, pembahasan dan penelaahan pokok –
   pokok masalah yang dikaji, maka penulis menyusun sistematika sebagai
   berikut :
   1.   Bagian muka, pada bagian ini termuat halaman judul, motto,
        persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
   2.   Bagian isi, pada bagian ini termuat :
        BAB I     : Pendahuluan yang berisi :
                     a.   Pendahuluan
                     b.   Rumusan masalah
                     c.   Tujuan penulisan skripsi
                     d.   Penjelasan istilah kunci
                     e.   Kajian pustaka
                     f.   Metode penulisan skripsi
                     g.   Sistematika penulisan skripsi.
        BAB II :     Bab ini diuraikan tentang Pendidikan Islam yang meliputi:
                     Pengertian, dasar, tujuan dan nilai – nilai yang ada dalam
                     Pendidikan Islam
        BAB III : Pada bab ini diuraikan tentang masyarakat madani yang
                     meliputi    :   Pengertian,     sejarah   perkembangan,   dan
                     identifikasi konsep masyarakat madani (civil society).
        BAB IV : Dalam bab ini diuraikan              analisis konsep   Pendidikan
                     Islam dalam menciptakan masyarakat madani (civil society)
        BAB V :      Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari pembahasan
                     skripsi ini, saran – saran, dan kata penutup
   3.   Bagian Akhir
               Pada bagian ini termuat : kepustakaan, daftar ralat, lampiran –
        lampiran dan daftar riwayat penulis.
                                   Semarang, 23 Januari 2002
                                   Penulis



                                   Sukron Adin
                                   NIM. 4196143


     Mengetahui,
     Pembimbing I                  Pembimbing II



     Drs. Darmu’in, M.Ag.          Ahmad Muthohar, M.Ag
     NIP. 150 263 168              NIP. 150276929

DAPATKAN SKRIPSI LENGKAP DENGAN SMS KE
08970465065
KIRIM JUDUL DAN ALAMAT EMAIL SERTA
KESIAPAN ANDA UNTUK MEMBANTU
OPRASIONAL KAMI
GANTI OPRASIONAL KAMI 50rb SETELAH FILE
TERKIRIM
SITUS: http://www.lib4online.com/p/bentuk-file.html
                      PROPOSAL SKRIPSI


KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLEMENTASINYA DALAM
            MENCIPTAKAN MASYARAKAT MADANI




  Diajukan untuk memenuhi persyaratan pengajuan tugas akhir (Skripsi)
               Program strata satu (S.1) Fakultas Tarbiyah
                      IAIN Walisongo Semarang




                                Oleh:

                           SUKRON ADIN
                            NIM: 4196143




          FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
              SEMARANG
                  2002

								
To top