Docstoc

FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN

Document Sample
FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN Powered By Docstoc
					                       FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa         : Winda Purnamasari

NIM                    : 108 109 046

Diagnosa               : Febris ( Thypoid )

   a. Pengertian
           Febris atau demam pada umumnya diartikan suhu tubuh di atas 37,2ºC.
      Hiperpireksia adalah suatu keadaan kenaikan suhu tubuh sampai setinggi 41,2
      ºC atau lebih.
           Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu
      tubuh secara abnormal.
           Demam typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
      saluran cerna dengan gejala demam lebih dari tujuh hari, gangguan pada
      saluran cerna dan gangguan kesadaran. (Mansjoer, 2000: 432).
           Demam typoid adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang di awali di
      selaput lendir usus, dan jika tidak di obati secara progresif akan menyerbu
      jaringan di seluruh tubuh”. (Tambayong, 2000: 143).
           Demam typoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai
      dengan bakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat
      difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi nodus peyer di distal ileum.
      Disebabkan salmonella thypi, ditandai adanya demam 7 hari atau lebih, gejala
      saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (Soegijanto, 2002: 1).


           Tipe demam yang mungkin dijumpai antara lain :
             1. Demam septic
                        Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada
                 malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi
              hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila
              demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal
              dinamakan juga demam hektik.
          2. Demam remiten
                   Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah
              mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin
              tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan
              suhu yang dicatat demam septik.
          3. Demam intermiten
                   Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam
              dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari
              sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam
              diantara dua serangan demam disebut kuartana.
          4. Demam kontinyu
                   Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu
              derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali
              disebut hiperpireksia.
          5. Demam siklik
                   Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang
              diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari
              yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.


b. Etiologi
       Menurut Arif Mansjoer, dkk (1999: 421) etiologi dari demam typoid
   adalah Salmonella typhi, sedangkan demam paratipoid disebabkan oleh
   organisme yang termasuk dalam spesies salmonella enteretidis bioseratife
   para typhi B, salmonella enteretidis bioseratife C. Kuman-kuman ini lebih
   dikenal dengan nama salmonella paratyphi A, salmonella schottmueller dan
   salmonella hirscfeldii.
       Menurut Ruth F, Craven dan Constance J, Hirni (2002: 1011) tentang
   penyebab dari demam typoid adalah bakteri Salmonella typhi.
       Menurut Lewis, Et al (2000: 192) Penyakit demam typoid disebabkan
   oleh infeksi kuman Salmonella typhi.


c. Manifestasi Klinis
       Menurut Ruth F Craven dan constance J, Hirnie (2002: 1011) tanda dan
   gejala demam typoid adalah sakit kepala, panas, sakit perut, diare dan muntah.
       Gejala-gejala yang timbul bervariasi. Dalam minggu pertama, keluhan
   dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam,
   nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare,
   perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik
   hanya didapatkan peningkatan suhu badan.
       Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam,
   bradikardi relatif, lidah typoid (kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta
   tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan kesadaran
   berupa samnolen koma, sedangkan reseolae jarang ditemukan pada orang
   Indonesia. (Mansjoer, 1999: 422).
       Menurut Ngastiyah (2005: 237), demam typoid pada anak biasanya lebih
   ringan daripada orang dewasa. Masa tunas 10-20 hari, yang tersingkat 4 hari
   jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang
   terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal,
   perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri, nyeri kepala, pusing dan tidak
   bersemangat, kemudian menyusul gejala klinis yang biasanya ditemukan,
   yaitu:
   1. Demam
            Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu bersifat febris
      remitten dan suhu tidak tinggi sekali. Minggu pertama, suhu tubuh
      berangsur-angsur naik setiap hari, menurun pada pagi hari dan meningkat
       lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu ketiga suhu berangsur turun
       dan normal kembali.
   2. Gangguan Pada Saluran Pencernaan
           Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-
       pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung
       dan tepinya kemerahan. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut
       kembung. Hati dan limpa membesar disertai nyeri dan peradangan.
   3. Gangguan Kesadaran
           Umumnya kesadaran pasien menurun, yaitu apatis sampai samnolen.
       Jarang terjadi supor, koma atau gelisah (kecuali penyakit berat dan
       terlambat mendapatkan pengobatan). Gejala lain yang juga dapat
       ditemukan, pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan reseol,
       yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit,
       yang ditemukan pada minggu pertama demam, kadang-kadang ditemukan
       pula trakikardi dan epistaksis.
   4. Relaps
           Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit demam typoid,
       akan tetapi berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada minggu
       kedua setelah suhu badan normal kembali, terjadinya sukar diterangkan.
       Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ
       yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti.


d. Patofisiologi
       Kuman salmonella thypi masuk bersama makanan/ minuman setelah
   berada di dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus
   (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan
   keradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh darah limfe masuk
   ke darah (bakterimia primer) menuju organ retikuloendotelial system (RES)
   terutama hati dan limfa. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit
RES dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak. Pada akhir masa
inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar keseluruh tubuh
(bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama
limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut di keluarkan
kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi di
usus. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin yang
susunan kimia nya sama dengan somatik antigen (lipopolisakarida), yang
semula diduga bertanggung jawab terhadap terjadinya gejala-gejala dari
demam typoid. (Suriadi, 2001: 281).
    Demam typoid disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya
yang merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada
jaringan yang meradang. Selanjut zat pirogen yang beredar di darah
mempengaruhi pusat termoregulasi di hipotalamus yang mengakibatkan
timbulnya gejala demam.
e. Pathways

     Kuman       Salmonela                    Salmonella thypi dan
     Thypi                                       endotoksinnya


        Masuk bersama                         Merangsang sintesis
       makanan di dalam                       dan pelepasan zat
          usus halus                          pirogen oleh leukosit



        Invasi ke jaringan                     Mempengaruhi pusat
       limpoid usus halus                       termoregulasi di
                                                  hipotalamus

        Peradangan dan
       nekrosis setempat




                                         Febris




                              bibir    kering   dan      Demam, suhu
                              pecah-pecah                tinggi
   Lesu, mual muntah, diare   (ragaden).      Lidah
                              tertutup selaput putih     Mk.
   Mk. Devisit      Volume    kotor (coated tongue),     Hipertermi
   Cairan                     ujung dan tepinya
                              kemerahan,       nyeri
                              abdomen.

                              Mk.           Resiko
                              Perubahan     Nutrisi
                              kurang           dari
                              kebutuhan tubuh.
f. Komplikasi
       Menurut Ngastiyah (2005: 241), komplikasi pada demam typoid dapat
   terjadi pada usus halus, umumnya jarang terjadi bila terjadi sering fatal
   diantaranya adalah:
       1. Perdarahan Usus, bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan
           pemeriksaan tinja dengan benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi
           melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan
           tanda-tanda renjatan.
       2. Perforasi Usus, timbul biasanya pada minggu ke-3 atau setelah itu
           dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai
           peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara dirongga
           peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara
           hati dan diafragma. Pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam
           keadaan tegak.
       3. Peritonitis, biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa
           perforasi usus halus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri
           perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defense musculair) dan
           nyeri tekan.


       Komplikasi di usus halus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat
   sepsis (bakterimia) yaitu meningitis, kolesistitis, ensefalopati dan lain-lain,
   terjadi karena infeksi sekunder yaitu Bronkopneumonia. Dehidrasi dan
   asidosis dapat timbul akibat masukan makanan yang kurang dan respirasi
   akibat suhu tubuh yang tinggi.
g. Pemeriksaan Penunjang
       Menurut David Ovedoff (2002: 514), pemeriksaan khusus yang diperiksa
   adalah:
              1. Jumlah leukosit (biasanya terdapat leukopenia).
              2. Selama minggu pertama, biakan darah positif pada 90%
                 penderita.
              3. Biakan tinja menjadi positif pada minggu kedua dan ketiga.
              4. Biakan sum-sum tulang sering berguna bila biakan darah negative
              5. Titer agglutinin (tes widal terhadap antigen somatic (O) dan flagel
                 (A) meningkat selama minggu ketiga, positif semua dan kadang-
                 kadang negatif semua bisa mungkin terjadi pada tes widal).
       Menurut Arif Mansjoer, dkk (1999: 421), biakan darah positif
   memastikan demam typoid, tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan
   demam typoid. Peningkatan uji titer widal empat lipat selama 2-3 minggu
   memastikan diagnosis demam typoid.


       Menurut Rachmat Juwono (1999: 436) bahwa pemeriksaan Laboratorium
   melalui:
   1. Pemeriksaan leukosit
             Pemeriksaan leukosit ini tidaklah sering dijumpai, karena itu
      pemeriksaan jumlah leukosit ini tidak berguna untuk diagnosis demam
      typoid.
   2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
             SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi kembali ke normal
      setelah sembuhnya demam typoid. Kenaikan SGOT dan SGPT ini tidak
      memerlukan pembatasan pengobatan.
   3. Biakan darah
             Biakan darah positif memastikan demam typoid, tetapi biakan darah
      negatif tidak menyingkirkan demam typoid.
4. Uji widal
          Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
    (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella typhi terdapat
    dalam serum pasien demam typoid, juga pada orang yang pernah ketularan
    salmonella typhi dan juga para orang yang pernah divaksinasi terhadap
    demam typoid.
          Dari pemeriksaan widal, titer antibodi terhadap antigen O yang
    bernilai > 1/200 atau peningkatan > 4 kali antara masa akut dan
    konvalensens mengarah kepada demam typoid, meskipun dapat terjadi
    positif maupun negatif palsu akibat adanya reaksi silang antara spesies
    salmonella. Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan kuman
    salmonella typhi pada biakan empedu yang diambil dari darah klien
    (Mansjoer, 2000: 433).


    Akibat infeksi oleh kuman salmonella typhi pasien membuat antibodi
(aglutinin), yaitu:
1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen (berasal dari tubuh
    kuman).
2. Aglutinin H, berasal dari rangsangan antigen H (berasal dari flagella
    kuman).
3. Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman).
    Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosis, makin tinggi titernya makin besar klien menderita
typoid.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi uji widal:
Faktor yang berhubungan dengan klien:
    1. Keadaan umum: gizi buruk dapat menghambat pembentukan
       antibodi.
       Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai
       dalam darah setelah klien sakit satu minggu dan mencapai puncaknya
       pada minggu ke-5 atau ke-6.
    2. Penyakit-penyakit tertentu: ada beberapa penyakit yang dapat
       menyertai demam typoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi
       seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
    3. Pengobatan dini dengan antibiotika: pengobatan dini dengan obat anti
       mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
    4. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid: obat-obat tersebut
       dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi
       sistem retikuloendotelial.
    5. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa: seseorang yang divaksinasi dengan
       kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O
       biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer
       aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh
       sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang
       mempunyai nilai diagnostik.
    6. Infeksi klien dengan klinis/ subklinis oleh salmonella sebelumnya:
       keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun
       dengan hasil titer yang rendah.
    7. Reaksi anamnesa: keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin
       terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam
       yang bukan typoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella
       dimasa lalu.
h. Masalah Keperawatan/Kolaboratif
   1. Defisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuat intake cairan.
   2. Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
      dengan kehilangan cairanberlebih (Demam, berkeringat banyak, nafas
      mulut / hiperventilasi dan muntah).
   3. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella typosa/typhi.
i. Penatalaksanaan
       Menurut Copstead, et al (2000: 170) “Pilihan pengobatan mengatasi
   kuman Salmonella typhi yaitu ceftriaxone, ciprofloxacin, dan ofloxacin.
   Sedangkan alternatif lain yaitu trimetroprin, sulfametoksazol, ampicilin dan
   cloramphenicol.
   Pengobatan demam typoid terdiri atas 3 bagian, yaitu:
       1. Perawatan
             Pasien demam typoid perlu dirawat di Rumah Sakit untuk isolasi,
          observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai
          minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
          Maksud tirah baring adalah untuk mencegah perdarahan usus.
          Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya
          kekuatan pasien.
       2. Diet
             Di masa lampau, pasien demam typoid diberi bubur saring,
          kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat
          kesembuhan pasien. Pemberian bubur saring tersebut dimaksudkan
          untuk menghindari komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus,
          karena ada pendapat bahwa usus perlu di istirahatkan. Beberapa
          penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini, yaitu
          nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan selai
          kasar) dapat diberikan dengan aman pada pasien demam typoid.
       3. Obat
  Obat-obatan antimikroba yang sering dipergunakan, ialah:
  a) Kloramfenikol, dosis hari pertama 4 kali 250 mg, hari kedua 4
      kali 500 mg, diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari
      bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 4 kali 250
      mg selama 5 hari kemudian.
  b) Tiamfenikol
      Dosis dan efektifitas tiamfenikol pada demam typoid sama
      dengan     kloramfenikol.    Komplikasi      hematologis    pada
      penggunaan tiamfenikol lebih jarang dari pada kloramfenikol.
      Dengan tiamfenikol demam pada demam typoid turun setelah
      rata-rata 5-6 hari.
  c) Ampicilin dan Amoxilin, efektifitas keduanya lebih kecil
      dibandingkan      dengan    kloramfenikol.    Indikasi     mutlak
      penggunaannya adalah klien demam typoid dengan leukopenia.
      Dosis 75-150 mg/kg berat badan, digunakan sampai 7 hari
      bebas demam.
  d) Kontrimoksazol (kombinasi trimetroprin dan sulfametaksazol),
      efektifitas nya kurang lebih sama dengan kloramfenikol. Dosis
      untuk orang dewasa 2 kali 2 tablet sehari digunakan sampai 7
      hari bebas demam turun setelah 5-6 hari.
  e) Sepalosporin generasi ketiga, beberapa uji klinis menunjukkan
      bahwa sepalosporin generasi ketiga antara lain sefoperazon,
      cefriaxone, cefotaxim efektif untuk demam typoid.
  f) Fluorokinolon
      Fluorokinolon efektif untuk demam typoid, tetapi dosis dan
      lama pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.


  Selain dengan pemberian antibiotik, penderita demam typoid juga
diberikan obat-obat simtomatik antara lain:
               a) Antipiretika tidak perlu diberikan secara rutin setiap klien
                    demam typoid karena tidak berguna.
               b) Kortikosteroid
                    Klien yang toksit dapat diberikan kortikosteroid oral atau
                    parenteral dalam pengobatan selama 5 hari. Hasilnya
                    biasanya sangat memuaskan, kesadaran klien menjadi baik,
                    suhu badan cepat turun sampai normal, tetapi kortikosteroid
                    tidak boleh diberikan tanpa indikasi, karena dapat
                    menyebabkan perdarahan intestinal dan relaps (Sjaifoellah,
                    1996: 440).


j. Fokus Intervensi Keperawatan


      a. DP 1 :
            Difisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuat intake
         cairan (Carpenito Lynda Jual, 1995).
         NOC :
            Volume cairan dan elektrolit menjadi seimbang dan adekuat
         NIC    :
            1. Monitor intake dan output cairan.
            2. Anjurkan pasien banyak minum.
            3. Monitor KU pasien.
            4. Monitor tetesan infus.
      b. DP 2 :
             Resiko    Perubahan     nutrisi   kurang   dari   kebutuhan   tubuh
         berhubungan dengan kehilangan cairanberlebih (Demam, berkeringat
         banyak, nafas mulut / hiperventilasi dan muntah).
         NOC :
                Nutritional Status
  NIC    :
      1. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
     dan nutrisi yang dibutuhka pasien.
      2. Kaji alergi makanan
      3. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
c. DP 3 :
     Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella
  typosa/typhi. (Lynda Jual, 1998)
  NOC :
     1. Pasien akan mencapai suhu tubuh yang normal
     2. Pasien mengatakan badan tidak demam lagi.
     3. TTV dalam batas normal.
  NIC    :
     1. Kaji sejauh mana pengetahuan pasien tentang hipertermi.
     2. Jelaskan penyebab terjadinya hipertermi.
     3. Jelaskan upaya-upaya untuk mengatasi hipertermi dan bantu
         pasien untuk melaksanakan upaya tersebut :
             a)   Beri kompres dingin.
             b)   Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang tipis dan
                  menyerap keringat.
             c)   Ciptakan suasana yang tenang.
             d)   Ganti pakaian dan alat tenun jika basah.
                              DAFTAR PUSTAKA




http://www.scribd.com/doc/106371551/LAPORAN-PENDAHULUAN dilihat hari
Selasa tanggal 22 Januari 2013 jam 20.33 WIB.

http://araeybaz.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_06.html dilihat hari
Selasa tanggal 22 Januari 2013 jam 20.40 WIB.

http://dezlicious.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-pada-klien-
dengan_30.html dilihat hari Rabu Tanggal 23 Januari 2013 jam 18.56 WIB.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24744/4/Chapter%20II.pdf      dilihat
hari Rabu Tanggal 23 Januari 2013 jam 19.00 WIB.

http://askeps.blogspot.com/2011/12/asuhan-keperawatan-febris-typoid_18.html
dilihat hari Jumat Tanggal 25 Januari 2013 jam 7.20 WIB.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:83
posted:1/26/2013
language:Unknown
pages:15