PSK by cherylrenatagesanti

VIEWS: 28 PAGES: 7

									Fakta dibalik sebuah profesi : Genit dan Senyum seorang PSK

“Ada yang benci dirinya, ada yg butuh dirinya, ada yg berlutut mencintanya, ada pula yg
kejam menyiksa dirinya" sepengal lirik lagu "si kupu-kupu malam" yang di nyanyikan oleh
titiek puspa setidaknya memberi gambaran memilukan tentang PSK.




Berderat panjang wanita yang berdiri di kompleks lokalisasi Sunan Kuning bagaikan
etalase barang pajangan di sebuah mall atau pertokoan yang dapat diperjualbelikan,
tetapi ada satu yang berbeda, barang pajangan di lokalisasi itu bukanlah benda mati
karena itu merupakan suatu benda hidup yang bernafas sekaligus menyimpan sejuta
cerita.

Sebut saja namanya Tiwi, memang bukan nama sebenarnya, tetapi itulah nama yang
terucap dari bibirnya ketika penulis menanyai soal siapa namanya. Di depan sebuah
televisi yang sedang menayangkan siaran ulang pelantikan presiden AS terpilih
Barack Obama, penghuni lokalisasi terbesar di Jawa Tengah ini menceritakan kisah
hidupnya dengan penuh suka cita seraya matanya menerawang ke atas langit-langit
sebuah kamar yang berukuran kurang lebih 4X4 M, bagaimana mungkin ia bisa
terjurumus dalam lubang hitam ini.

Profesi yang dinilai sebagian besar masyarakat bukanlah sebagai sebuah profesi yang
terpuji dan layak dijalani oleh gadis berumur 20 tahunan, ia jalani dengan setulus
hati tanpa ada tendensi konsekuensi yang akan dia terima kelak. Bagaimana tidak,
berdasarkan atas keterangannya ia menjalani kehidupan ini karena memang tidak ada
pilihan lain yang harus dipilih.

Menikah muda dengan labilitas emosi yang gampang goncang, umur 20 tahun ia
memutuskan untuk menjalin cinta sehidup semati Till Death do as A Part dengan
seorang tentara Angkatan Darat yang hanya ketemu dua minggu sekali. Pilihan
hidupnya ini menjadikannya sebagai seorang yang menciptakan neraka bagi dirinya
sendiri.

Aku benci karena mencintainya mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan
perbuatan suaminya yang ringan tangan terhadapnya dan kepalan tangan yang
selalu mendarat di wajahnya. Kehadiran seorang buah hati tidak meredamkan
kekisruhan yang terjadi dalam rumah tangga yang dia bina kurang lebih 5 tahun.
“saya bekerja dia pun bekerja tetapi dia tidak pernah menyetorkan sebagian uang
penghasillannya kepada saya tapi kenapa saya selalu menjadi tempat pelampiasan
kekesalannya dan saya nggak tahu uangnya di kemanakan, mungkin untuk main
dengan wanita lain.”

Ia menemukan pertarungan hidup yang dia hadapi sendiri, tidak ada yang menangis
untuknya dan tidak ada tempat yang dapat dipanggil sebagai sebuah rumah I fight
this battle all alone, no one to cry to, no place to call home. Dihadapkan pada pilihan
yang sulit, ia pun mengambil keputusan untuk lari dari rumah. Saat ditanyakan
mengenai anaknya, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang berat karena harus
menginggalkan anaknya untuk waktu yang cukup lama, ia berkata, “ anak saya
diasuh oleh kakak saya, mas. Saya juga pasti akan menyempatkan diri untuk
menengoknya.”

Rencana tinggal di atas kertas karena tidak sesuai dengan harapan, usahanya untuk
keluar dari rumah membuatnya terdampar di ibukota Jakarta dengan menjadi
seorang pembantu rumah tangga dan langkah nekad yang diambilnya ini tercium
oleh sang suami “kamu jauh-jauh pergi dari rumah hanya untuk menjadi PRT”,
begitulah sang suami berkata ketika ia menemukannya di sebuah rumah di bilangan
perumahan di Jakarta.
Diam seribu bahasa ia pun kembali ke kampung halamannya di Solo dengan masih
menyimpan rencana selanjutnya yang masih tetap sama. Sampai kapankah derita
yang kaya akan darah dan air mata terus terjadi, begitulah kesan penulis ketika
mendengar ceritanya untuk lari dari rumah lagi. Lantas bagaimana dia sampai berada
di tempat ini “saya sampai ketempat ini baru enam bulan mas, saya benar-benar tidak
tahan dengan kelakuan suami saya dan saya ada disini itu pun karena ada seorang
supir truk yang membawa saya waktu saya sampai ke terminal Terboyo” ujar dia.

Suasana ruangan menjadi hening sejenak dan keheningan itu pun berubah menjadi
berisik karena terusik oleh alunan lagu dangdut rancak yang terdengar dari ruangan
sebelah. Bersembunyi di tempat di mana suaminya tidak akan mengira bahwa
istrinya berada di tempat yang suami juga mungkin pernah ke tempat seperti ini
adalah suatu langkah yang tepat sekaligus ironis.

Tepat karena dia merasa tidak akan ditemukan oleh suaminya, Saat ditanya apakah
sang suami pernah mencarinya, ia menjawab” saya dengar kabar, suami saya masih
mencari saya”, ironis karena ia sendiri butuh perkerjaan untuk membiayai
kehidupaannya dan harga yang harus dibayar adalah harga dirinya. Berada di tempat
seperti ini ibarat tambang yang dapat mendulang emas dengan segera. “penghasilan
saya tidak menentu disini, ada tamu yang memberikan saya tip lebih ada juga yang
nggak memberikan tip, saya juga ikut arisan Rp.200.000/bulan, lumayan kan, mas”.
“Tapi ya mas, penghasilan saya ini pasti akan sisihkan untuk ditabung buat masa
depan.” kata dia

Sudah hal yang umum mungkin, terkadang hidup dalam tempat itu seperti hidup
dalam lingkaran setan yang susah untuk keluar. Sebut saja mereka sebagai pangeran
kesiangan, entah itu pejabat yang mempunyai kedudukan atau pun orang biasa yang
memang ingin berpoligami terkadang datang untuk menyelamatkannya, dia berkata
” pernah mas saya ditawari akan diberikan rumah, atau vila tetapi dengan satu syarat
kamu harus mau menjadi istri saya, saya nggak tahu mau dijadikan istrinya yang
keberapa”.
Namun Tiwi menyangkal akan menerima tawaran apabila ada orang akan
memperistrinya. “walaupun saya bekerja seperti ini bukan berarti saya mau jadi
peliharaan atau selingkuhan orang lain dan janji sekedar janji dan saya nggak
percaya, kalau atas nama saya baru saya terima percaya, mas”, ujarnya kemudian.
Ketika ditanya mengenai apakah ia akan menikah lagi, ia menjawab” untuk sekarang
ini saya tidak mempunyai pikiran untuk menikah lagi, dan saya pikirkan hanyalah
bagaimana saya bisa menabung dan segera keluar dari tempat ini, bekerja di tempat
yang lebih baik lagi”. Waktu sudah 1/2 jam berlalu, penulis pun menyudahi
perbincangan ini dan bergegas untuk keluar.

Kasus di atas merupakan salah satu contoh kasus yang terjadi, namun apabila kita
menyimak apa yang terjadi membuat kita berpikir apakah ini merupakan suatu
kontradiksi yang berjalan. Istri seorang tentara yang juga mungkin bermain gila
dengan wanita, menjadi seorang PSK akibat perbuatan buruk yang dialaminya.
Kekerasaan yang dialaminya dibiarkan terjadi sambil lalu, bahkan tangan komisi
perlindungan KDRT tidak dapat meraih terhadap apa yang terjadi oleh Tiwi dan
jelas hal ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang mengakibatkan
kegoncangan emosional yang akhirnya menjerumuskan dia ke dalam lingkungan
hitam dunia prostitisi.

Pernahkah anda melihat seorang aparat, entah itu aparat berwenang dengan seragam
coklat lengkap dengan pangkatnya, atau pun seorang berambut cepak hilir mudik di
sebuah lokalisasi pada siang hari ataupun malam hari . Pernahkan anda melihat
dalam acara berita di tv yang khusus menayangkan acara kriminal, seoarang aparat
tertangkap basah sedang asik bermain gila di suatu lokalisasi, atau pernahkah juga
anda mendengar salah satu lagu kritik social yang dinyanyikan oleh seorang
penyanyi asal kota paris van java yang bernama Doel Sumbang yang berjudul Kopral
Gareng. Apabila keduanya pernah anda lihat dan dengarkan, maka pertanyaan apa
yang ada di benak anda, sebegitu rusakkah moralitas dan martabat dari aparat
berwenang sehingga sampai menlakukan hal yang sedemikian rupa atau mereka
hanya manusia biasa yang lengkap dengan sisi biologisnya yang di rumahnya
mungkin mereka kurang mendapatkan rasa kasih sayang dari sang istri lantas
mencoba untuk menghibur diri dengan kehangatan wanita lain di samping kamar
tidurnya.

Terlepas dari itu bagaimana dengan pandangan seorang pekerja seks komersial
terhadap aparat, berdasarkan atas wawancara singkat penulis maka didapatkan
sedikit informasi, sebut saja namanya Lila ia merupakan seorang pekerja seks
komersial di sebuah lokalisasi sunan kuning, tempat prostitisi terbesar se-Jawa
Tengah seperti yang penulis utarakan di atas, ia berujar dengan lantang ketika
ditanyakan apakah ada aparat berseragam singgah untuk memperoleh kenikmatan
sesaat dengannya “ada, dan tentara ataupun aparat sama saja maunya tidak
membayar, bukan berarti dia aparat bisa melakukan apa saja termasuk tidak
membayar saya, mana ada yang bekerja tanpa mau dibayar.” kata dia. “Saya tidak
takut terhadap aparat, toh disini saya juga bekerja untuk uang”, ada juga yang
membayar setengah saya berusaha menolaknya, memang bekerja seperti mau ada
yang dibayar setengah”. sambung Lila.

Berikut fakta dibalik "genit" dan "senyum" PSK:
1. Tidak menikmati hubungan seksual
Banyak yang mengira bahwa selama ini PSK "menikmati" hubungan intim dengan
para pelanggan, nyatanya dalam kuesioner terbuka mereka tidak menikmatinya.
Malah deg-degan sebab pasangan selalu berganti dan bervariasi cara komunikasinya.
Mereka cemas mengenai siapa pasangan mereka. Mereka benar-benar tidak
menikmati pekerjaan tersebut,


2. Ingin cepat selesai
Mereka berkeinginan layanan seksual yang diberikan bisa berakhir secepat mungkin,
malah jika memungkinkan tak perlu ada hubungan seks, sebab pada dasarnya
merekapun menyadari dan malu ketika harus menjajakan diri.


3. Banyak menggunakan nama samaran
seorang PSK selalu menggunakan nama palsu dari identitas diri aslinya hal ini bisa
dimaklumi karena beberapa faktor yang menyangkut latar belakang dan keamanan
seorang PSK, kerap kali seorang PSK dapat berganti nama sebanyak 3-4 kali dalam
semalam. Kemudian dengan mudah memberikan nomor HP, ini beralasan karena hal
Yang paling ditakutkan adalah ketika tiba-tiba bertemu dengan salah seorang
keluarga dari PSK tersebut.


4. Ingin mendapatkan suami baik-baik
seorang "PSK" ternyata mempunyai cita-citanya yang sama dengan perempuan pada
umumnya mendapatkan suami baik-baik, ingin menjadi istri yang baik, menjadi ibu
yang baik dan berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya tidak mengikuti jejak
langkahnya


5. Mau Bertobat
PSK setiap saat ingin bertobat dan kadang jika tiba di halaman rumahnya/kostannya
berjanji takkan kembali ke lokalisasi, namun pikiran kalut kadang membuatnya harus
kembali ke pelacuran. faktor ekonomi dan stigma dari lingkungan sekitar sangat
berpengaruh. seklias saya simpulkan hasil perbincangan teman kuliah dulu dari
jurusan bimbingan dan konseling dengan seorang PSK, dikatakan bahwa latar
belakang menjadi seorang PSK adalah tuntutan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya dan anaknya yang masih kecil, ketegaran terlihat ketika mengetahui si
anak adalah hasil dari tindakan asusila ayah tiri si "PSK", narasumber mengaku
terpaksa dan sebetulnya ingin bekerja normal seperti yang lainya.


6. Yang paling sering di ingat adalah ibunya selanjutnya adiknya dan ayahnya
Keluarga adalah faktor penting dari sebuah pondasi kehidupan, dari sini lah semua
awal cerita kehidupan terjadi, naluri seorang anak tidak akan bisa ditutupi dan
diganti dengan kebohongan untuk tidak mencintai seorang Ibu, Wajah dan suara ibu
yang paling sering di ingat, kata maaf terlontar dari lubuk hatinya yang terdalam
dan ia berkata: "maafkan anakmu ma. Saya yang salah. Semoga mama sehat-sehat
saja". banyak yang tak kuasa menitikan air mata, jika mengingat kebaikan dan kasih
sayang seorang ibu. apalagi jika kebanggan yang seharusnya diberikan ke pada
beliau diberikan dengan bentuk kekecawaan.


7. Tak ingin berlama-lama di lokalisasi
PSK umumnya tak ingin berlama-lama di lokalisasi, mereka berharap akan keluar
suatu saat sebelum menjadi tua sebab ia merasa bersalah terus-menerus. Ia berharap
ada orang yang baik hati untuk menolongnya keluar dari dunia hitam.


"kita doakan semoga kita semua diberikan hidayah dan jalan yang terbaik dari Allah
Tuhan yang Maha Mengetahui"


Sumber: Forum vivanews judul asli "7 Fakta Memilukan Tentang PSK"
isi telah diberi Editan.

								
To top