Docstoc

PKL

Document Sample
PKL Powered By Docstoc
					     Dampak Program Bantuan PKL Terhadap Tingkat Motivasi
       Pedagang Kaki Lima (PKL) di Provinsi Sumatera Barat
  =========================================================
                         Oleh: Syamsir

                                    ABSTRACT

      The objectives of this study are 1) to describe the level of motivation
      Retailers/Peddlers in West Sumatera in running their bussiness as a
      Retailer/Peddler and 2) to identify the impact of Loan for Retailer
      program toward the retailers’ motivation in running their bussiness as
      a Retailer/Peddler. This study was conducted in three regions of cities in
      the area of West Sumatera province, namely Padangpanjang, Bukittinggi,
      and Payakumbuh. A qualitative method through field study was used in
      this study. Data were collected though structured and depth-interview,
      observation, questionnaire, and study of documentation. There are 434
      Retailers/Peddlers covered in this study. Quantitative data from
      questionnaire were analyzed with frequency and percentage while
      qualitative data from informants and observation were analyzed
      through the model of interactive analysis. The finding of this study
      indicated that the loan for retailer program did not have so significant
      impact for increasing motivation of the retailers/peddlers in running
      their bussiness.

      Kata Kunci: Program Bantuan PKL, Pedagang Kaki Lima (PKL),
                  Program Registrasi PKL, Motivasi

I. PENDAHULUAN
                                             makanan, atau minuman dalam skala
 Era globalisasi dan krisis multi
                                             kecil. Kelompok masyarakat inilah
 dimensi yang terjadi di Indonesia
                                             yang sekarang lebih sering dikenal
 dalam dua dasawarsa ini telah banyak
                                             dengan sebutan Pedagang Kaki Lima
 menimbulkan masalah dalam ber-
                                             (PKL).
 bagai sektor kehidupan masyarakat,
                                                   Profesi atau pekerjaan sebagai
 termasuk kehidupan sosial ekonomi
                                             pedagang kaki lima memang sangat
 masyarakat.     Sulitnya     mencari
                                             dilematis. Di satu sisi menjadi
 pekerjaan dan banyaknya karyawan
                                             pedagang kaki lima merupakan usaha
 yang diPHK merupakan kenyataan
                                             untuk menggantungkan kebutuhan
 yang    banyak     dirasakan    oleh
                                             hidup sehari-hari. Namun di sisi lain
 masyarakat Indonesia. Pemecahan
                                             sebagai     aktifitas   usaha    yang
 masalah paling sederhana yang
                                             menggunakan ruang publik, pedagang
 muncul dari pemikiran sekelompok
                                             kaki lima seringkali harus berhadapan
 masyarakat kecil untuk bertahan
                                             dengan peraturan daerah setempat
 hidup adalah dengan cara menjajakan
                                             yang pada umumnya melarang orang
 berbagai jenis barang dagangan,

 Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                            89
berjualan di tempat-tempat yang           komponen yang mengayomi dan
seharusnya        digunakan        oleh   melindungi.
masyarakat umum, seperti trotoar dan            Namun dalam kenyataannya
badan jalan. Sehingga penyitaan           Pedagang Kaki Lima (PKL) sering
dalam operasi penertiban yang             dipandang sebagai pembuat masalah
dilakukan oleh petugas merupakan          (trouble maker) dan bukan sebagai
sesuatu yang sangat ditakuti tapi tidak   bagian dari solusi untuk membantu
bisa dihindari oleh pedagang kaki         Pemerintah     dalam     menyediakan
lima.                                     lapangan pekerjaan mandiri ataupun
       Sementara itu, upaya pemerintah    sebagai safety belt bagi tenaga kerja
kota dalam menata keberadaan PKL          yang memasuki pasar kerja. Mereka
selama ini seringkali mengundang          masih sering dituding sebagai
reaksi dari para PKL yang akan            kambing hitam dan penyebab terja-
ditertibkan, bahkan jauh sebelum          dinya kesemrawutan lalu lintas atau
pelaksanaan penertiban dilakukan.         penyebab pencemaran (kekotoran)
Bagi para PKL, operasi penertiban,        lingkungan.
penggusuran,      dan      penggarukan          Sebenarnya kalau direnungkan
sesungguhnya bukan merupakan hal          secara lebih mendalam, peranan PKL
yang sama sekali baru sehingga            sungguh sangat penting dan amat
jangankan untuk menaati, malah            membantu      masyarakat    konsumen
mereka       cenderung       melakukan    karena mereka dapat berbelanja murah
resistensi atau mencoba menyiasati        dan mudah didapatkan disamping
situasi dan bahkan mereka tidak jarang    mengurangi angka pengangguran yang
“kucing-kucingan”       dengan     para   semakin hari semakin meningkat di
petugas keamanan dan ketertiban           Indonesia. Oleh karena itu program
(Trantib).                                pemberdayaan PKL merupakan salah
       Selama ini, setiap pemerintah      satu langkah yang sangat tepat untuk
Kabupaten/Kota telah mengembang-          dilakukan.
kan infrastruktur perekonomian.                 Berdasarkan pertimbangan dan
Namun        dalam      pengembangan      kondisi di atas Dinas Koperindag
infrastruktur perekonomian tersebut,      Provinsi Sumatera Barat telah
seringkali masalah PKL tidak              meluncurkan Program Registrasi PKL
terperhatikan. Padahal pengaturan         di provinsi Sumatera Barat yang
pedagang, termasuk PKL, sebaiknya         dimulai sejak tahun 2008, 2009, 2010,
diatur dalam lingkup pemerintah           dan akan dilanjutkan pada tahun 2011.
daerah. Seperti praktek di beberapa       Tujuan program Registrasi PKL
kota besar di negara maju, saat ini       tersebut antara lain1: 1) Member-
jumlah PKL cukup besar dan                dayakan PKL melalui Koperasi
memiliki      potensi    yang dapat       sehingga PKL yang dibina memiliki
menyediakan lapangan kerja dalam          kepastian berusaha; 2) Meningkatkan
masyarakat. Oleh karena itu kebi-         peran Koperasi dalam pengembangan
jakan pemerintah dalam mengatur           serta pengelolaan sarana usaha PKL;
dan menangani Pedagang Kaki Lima
(PKL) hendaklah diposisikan sebagai       1
                                              Dinas Koperasi dan PKM Sumatera Barat.
                                              2009. Forum Koperasi. Edisi. Juli, 2009 .

90
                                                  TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
3) Memberikan contoh/model bagi            Lima (PKL) Sumatera Barat dalam
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/         menjalani pekerjaan mereka sebagai
Kota dalam pengembangan sarana             PKL dan 2) mengidentifikasi dampak
usaha PKL melalui Koperasi; dan 4)         pemberian bantuan PKL terhadap
Mengevaluasi tingkat perkembangan          peningkatan motivasi para PKL dalam
usaha (kemajuan usaha dapat diukur).       menjalani pekerjaan mereka sebagai
       Seiring    dengan       program     PKL.
Registrasi PKL ini pihak Koperindag
Provinsi Sumatera Barat telah             II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN
memberikan bantuan dalam bentuk
pinjaman lunak kepada para PKL             Pedagang Kaki Lima (PKL) dan
yang telah diregistrasi sebanyak           Motivasi PKL
Rp. 300.000,- per PKL melalui              Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah
koperasi      masing-masing      daerah    orang yang melakukan usaha dagang
(Kota/Kabupaten) untuk program             dan atau jasa, di tempat umum, baik
registrasi tahun 2008. Program             menggunakan atau tidak meng-
registrasi dan pemberian bantuan           gunakan sesuatu, dalam melaksanakan
untuk tahun 2008 ini meliputi para         kegiatan usaha dagang. Tempat usaha
PKL di lima (5) kota/kabupaten,            PKL adalah tempat umum, yaitu tepi-
yaitu: Kota Payakumbuh, Kota               tepi jalan umum, trotoar, dan lapangan
Bukittinggi, Kota Padangpanjang,           serta tempat lain di atas tanah yang
Kota      Batusangkar,    dan     Kota     bukan miliknya atau di atas tanah
Sawahlunto. Bantuan (pinjaman) ini         milik negara yang ditetapkan oleh
diharapkan akan dapat memotivasi           pemerintah kota.
dan lebih memberdayakan para PKL                 Dengan kata lain PKL adalah
dalam meningkatkan atau mengem-            perorangan yang melakukan penjualan
bangkan usahanya di masa yang akan         barang-barang dengan menggunakan
datang. Namun, agar program                bagian jalan atau trotoar dan tempat-
pemberian bantuan PKL yang telah           tempat untuk kepentingan umum serta
dilakukan oleh Dinas Koperindag            tempat lain yang bukan miliknya.
Provinsi Sumatera Barat ini dapat          Sementara definisi lain menjelaskan
mencapai sasaran yang diinginkan           bahwa Pedagang Kaki Lima (PKL)
dan memotivasi para PKL maka perlu         adalah pedagang yang melakukan
dilakukan evaluasi terhadap efek-          usaha perdagangan informal dengan
tifitas dan kemanfaatan dari program       menggunakan lahan terbuka atau
yang telah diterapkan tersebut.            tertutup, sebagian fasilitas umum yang
       Untuk itu suatu penelitian telah    ditentukan oleh Pemerintah Daerah
dilakukan untuk mengkaji lebih lanjut      sebagai tempat kegiatan usahanya
tentang bagaimana dampak program           baik dengan menggunakan peralatan
pemberian bantuan PKL terhadap             bergerak atau peralatan bongkar
tingkat motivasi Pedagang Kaki Lima        pasang sesuai waktu yang telah
(PKL) di Provinsi Sumatera Barat.          ditentukan.
Penelitian ini antara lain bertujuan             PKL pada dasarnya dapat
untuk: 1) mengetahui gambaran              dikelompokkan menjadi tiga, yaitu 1)
tingkat motivasi para Pedagang Kaki        PKL yang mobile, yaitu PKL yang

Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                        91
berdagang secraa tidak menetap; 2)           jawaban terakhir yang berhadapan
PKL yang tidak mobile yaitu PKL              dengan proses urbanisasi yang
yang berdagang secraa menetap; dan           berangkai dengan migrasi desa ke kota
3) PKL static knock down, yaitu PKL          yang besar, pertumbuhan penduduk
yang menggelar barang dagangannya            yang pesat, pertumbuhan kesempatan
pada waktu dan tempat tertentu2.             kerja yang lambat di sektor industri
       Pengalaman negara-negara ber-         dan penyerapan teknologi yang padat
kembang di dunia menunjukkan                 moral, serta keberadaan tenaga kerja
bahwa pada umumnya Pedagang                  yang berlebihan.
Kaki Lima (PKL) terdiri dari para                   Pedagang kaki lima pada
migran3. Kecenderungan tersebut juga         umumnya        adalah    self-employed,
dapat dilihat pada PKL yang ada di           artinya mayoritas PKL terdiri dari satu
Indonesia. Oleh karena itu, implikasi        tenaga kerja. Modal yang dimiliki
dari kecenderungan tersebut adalah           relatif kecil, dan terbagi atas modal
terjadinya hubungan kuat antara              tetap, berupa peralatan, dan modal
pedagang kaki lima dan migrasi.              kerja. Dana tersebut jarang sekali
Dengan demikian, selagi terjadi              dipenuhi dari lembaga keuangan
kesenjangan sosial-ekonomi antara            resmi. Menurut Mulyanto5 PKL
desa dan kota, maka selama itu pula          termasuk       usaha     kecil     yang
akan terus terjadi arus migrasi desa-        berorientasi pada laba (profit)
kota (urbanisasi) yang merupakan             layaknya      sebuah     kewirausahaan
sumber muka-muka baru bagi PKL.              (entrepreneurship). PKL mempunyai
       Pedagang Kaki Lima (PKL)              cara tersendiri dalam mengelola
adalah salah satu profesi atau               usahanya        agar      mendapatkan
pekerjaan informal yang terdapat             keuntungan. PKL menjadi manajer
hampir di setiap kota dan di setiap          tunggal yang menangani usahanya
negara manapun. Menurut Bromley4,            mulai dari perencanaan usaha,
Pedagang Kaki Lima merupakan                 menggerakkan        usaha      sekaligus
kelompok tenaga kerja yang cukup             mengontrol      atau    mengendalikan
banyak jumlahnya di sektor informal.         usahanya.      Padahal    fungsi-fungsi
Jenis pekerjaan tersebut penting dan         manajemen tersebut jarang atau tidak
relatif luas dalam sektor informal           pernah mereka dapati dari pendidikan
Menurut pandangannya, pekerjaan              formal.       Manajemen        usahanya
Pedagang Kaki Lima merupakan                 berdasarkan pada pengalaman dan
                                             alur pikir mereka yang otomatis
2
   Amidi, 2003 dalam Mulyanto. 2007.         terbentuk sendiri berdasarkan arahan
  “Penga-ruh Motivasi dan Kemampuan          ilmu manajemen pengelolaan usaha.
  Manajerial terhadap Kinerja Usaha          Hal inilah yang disebut learning by
  Pedagang Kaki Lima Menetap (Suatu
  Survai pada Pusat Perdagangan dan Wisata   experience (belajar dari pengalaman).
  di Kota Surakarta)” dalam Jurnal                  Motivasi merupakan akibat dari
  BENEFIT, Vol. 11, No. 1, Juni 2007.        interaksi seseorang dengan situasi
3
  Manning dan Effendi, Tadjudin Noer.1992:   tertentu yang dihadapinya, sehingga
  Perilaku Mobilitas dan Struktur Sosial     terdapat perbedaan dalam kekuatan
  Ekonomi Rumah Tangga: Kasus Dua Desa
  di Jawa Barat, Yogyakarta: PPK UGM.
4                                            5
  Bromley dalam Mulyanto. 2007. Opcit.           Mulyanto. 2007.

92
                                                     TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
motivasi yang ditunjukkan oleh                  bahwa motivasi seseorang untuk
seseorang dalam menghadapi situasi              menjadi PKL adalah karena kesulitan
tertentu dibandingkan dengan orang              mendapat lapangan kerja yang sesuai
lain yang menghadapi situasi yang               dengan       kemampuan/skill       yang
sama6. Para ahli manajemen sumber               dimiliki (77,9%) dan karena mem-
daya manusia dan perilaku organisasi            berikan pendapatan yang relatif cukup
memberikan definisi atau konsep                 bagi kehidupan keluarga (74,29%).
mengenai motivasi dengan ungkapan                     Disamping itu, hasil penelitian
berbeda-beda, namun makna yang                  tentang        faktor-faktor       yang
terkandung sama, yaitu bahwa                    mempengaruhi pendapatan Pedagang
motivasi adalah keinginan, harapan,             Kaki Lima di Manahan Surakarta
kebutuhan, tujuan, sasaran, dorongan,           mengungkapkan bahwa ada pengaruh
dan insentif.                                   antara modal usaha, jam kerja, lama
      Dalam kaitannya dengan PKL,               usaha dan sikap usaha atau kewi-
setidaknya ada tiga hal yang menjadi            rausahaan terhadap pendapatan PKL
faktor pendorong kenapa orang                   dan faktor modal usaha merupakan
termotivasi menjadi Pedagang Kaki               faktor yang dominan mempengaruhi
Lima (PKL). Pertama, mencari                    pendapatan. Sementara hasil pene-
terobosan dalam menghadapi jalan                litian tentang pengaruh modal usaha
buntu untuk mencari kesempatan                  dan perilaku kewirausahaan terhadap
kerja. Kedua, sektor pedagang kaki              laba usaha Pedagang Kaki Lima
lima memang memberikan daya tarik               makanan dan minuman di pasar
tersendiri,     Ketiga,    merupakan            Gemolong Kabupaten Sragen juga
gabungan dari keda pertimbangan di              mengungkapkan bahwa modal usaha
atas. Pengalaman di Afrika, misalnya,           dan perilaku kewirausahaan ber-
memberkan petunjuk akan hal ini. Di             pengaruh positif terhadap laba usaha
Afrika      pengusaha    sektor-sektor          pedagang      kecil    makanan      dan
informal banyak diminati oleh para              minuman di Pasar Gemolong Sragen.
pendatang baru di kota, karena sektor           Secara keseluruhan variabel modal
informal memberikan kesempatan                  usaha dan perilaku kewirausahaan
yang berarti kepada kaum migran                 memberikan       sumbangan       sebesar
untuk berwiraswasta7                            42,4% terhadap laba usaha . 9

      Kecenderungan tersebut juga                     Hasil penelitian Diah Ayu
tampak pada PKL di Indonesia. Hasil             Ardiyanti10     mengenai      kehidupan
penelitian Ali Djoefri Chozin
Soen’an8 di Yogyakarta mencatat                      Lima     dalam   Pemasaran”.     Laporan
                                                     Penelitian: UGM Yogyakarta.
                                                9
6
                                                     Wardoyo. 2008. “Faktor-faktor yang Mem-
    Siagian, P. Sondang. 1997. Teori Motivasi        pengaruhi Pendapatan Pedagang Kaki Lima
     dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.         di Manahan Surakarta” http://www.
7
     Sethuraman, S.V. 1981. The Urban                osun.org/usaha+kaki+lima-doc.html diakses
    Informal Sector in Developing Countries,         tanggal 12 November 2009).
    Poverty, and Environment. Chapter 14,       10
                                                      Diah Ayu Ardiyanti. 2006. ”Kehidupan
    Geneva: ILO.                                     Pedagang Kaki Lima dalam Meraih
8
     Ali Djoefri Chozin Soen’an. 1992.               Keberhasilan Mempertahankan Ekonomi
    ”Perilaku Sektor Informal Pedagang kaki          Keluarga (Studi Kasus Pedagang Kaki

Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                                     93
pedagang kaki lima dalam meraih             pengangguran. Karena saat ini PKL
keberhasilan mempertahankan ekono-          sebagai sektor usaha informal
mi keluarga (studi kasus pedagang           merupakan usaha kerakyatan yang
kaki lima di Sekitar GOR Manahan            terbukti mampu bertahan terhadap
Surakarta tahun 2005-2006) juga             krisis ekonomi sebagai katup-katup
mengungkapkan bahwa faktor yang             pengaman ekonomi.
mempengaruhi keberhasilan usaha
pedagang kaki lima di sekitar GOR           Eksistensi Pedagang Kaki Lima
Manahan Kota Surakarta tahun 2006           (PKL)     dalam    Pembangunan
antara lain terdiri dari faktor eksternal   Ekonomi Global
meliputi: (1) Modal usaha ini               Persaingan bisnis di era globalisasi
digunakan untuk mengembangkan               saat ini semakin terasa dan meng-
usaha; (2) Persaingan memberikan            khawatirkan, terutama di kalangan
motivasi untuk mencapai keber-              usaha mikro, kecil, dan menengah
hasilan; (3) Lokasi usaha yang              (UMKM). Artinya, pertarungan yang
strategis     mampu        meningkatkan     tak seimbang seringkali terjadi antara
jumlah pendapatan; (4) Peraturan            kalangan UMKM berhadapan dengan
Pemerintah memberikan kesempatan            pemodal besar. Salah satu indi-
kepada pedagang untuk menjalankan           katomya adalah hadirnya sejumlah
dan mengembangkan usaha.                    hypermarket atau supermarket di
      Selanjutnya, motivasi kerja           tengah-tengah pasar-pasar tradisional
yang tinggi serta kemampuan                 yang dihuni oleh para pemodal kecil
manajerial yang baik diharapkan             dan menengah. Kehadiran para
dapat meningkatkan kinerja usaha            pemodal      besar    dengan    super-
PKL, dimana dengan semakin                  marketnya seakan tidak dapat
meningkatnya kinerja usaha dan              dibendung. Sementara selera pasar
kesejahteraan PKL diharapkan akan           sebagian masyarakat Indonesia sudah
dapat memotivasi masyarakat lain            mulai terjebak dan cenderung
untuk mencontoh atau merencanakan           terpengaruh oleh gaya, pola, gengsi
usaha sesuai kemampuan yang                 belanja ala swalayan yang ditawarkan
mereka miliki, sehingga hal itu akan        oleh supermarket. Kondisi ini pada
dapat meningkatkan peluang kerja di         suatu saat jelas akan membuat produk
sektor informal yang pada gilirannya        usaha rakyat menjadi semakin
dapat      menanggulangi          tingkat   terpinggirkan      dan     kesempatan
pengangguran. Langkah pembinaan             berusaha para pedagang kecil dan
PKL sebagaimana diatur dalam                menengah, terutama PKL, akan
berbagai Peraturan Daerah maupun            semakin terbatas.
Keputusan Walikota diharapkan akan                Sebagai salah satu negara yang
dapat memotivasi PKL dalam                  berada dalam lingkup era globalisasi,
menjalankan profesinya dengan baik,         Indonesia sulit untuk mengelakkan
sehingga selanjutnya hal itu akan           diri dari pengaruh dan arus globalisasi
dapat        mengurangi           tingkat   itu. Oleh karena itu, hal yang perlu
                                            dilakukan       adalah      bagaimana
  Lima di Sekitar GOR Manahan Surakarta     menyikapi serangan globalisasi itu
  tahun 2005-2006)” Laporan Penelitian.     dengan arif dan bijak. Salah satu

94
                                                 TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
kebijakan yang penting untuk                  keluarga pedagang bahkan juga para
diterapkan adalah membangkitkan               karyawannya. Artinya profesi PKL
kembali semangat kebersamaan yang             sebenarnya juga ikut menunjang
disertai dengan sikap mencintai               program pembangunan, terutama
produk lokal dan dilandasi dengan             dalam penanggulangan pengangguan,
semangat nasionalisme yang tinggi,            karena profesi ini memberikan
serta memberdayakan para pengusaha            kontribusi yang cukup berarti bagi
kecil dan menengah yang secara                "pengusaha" ekonomi lemah ini.
nyata         memiliki          potensi             Pengusaha jenis ini memang
                  11
entrepreneurship ..                           sering dihadapkan pada persoalan
      Dalam era globalisasi bisa saja         yang cukup sulit antara melanggar
perusahaan raksasa dunia akan                 ketertiban dan mencari nafkah
mendominasi semua kegiatan bisnis,            (makan). Dengan kata lain tidak
termasuk usaha kecil dan menengah.            makan sama sekali atau makan tetapi
Meskipun keberadaan mereka penting            melanggar peraturan, sehingga urusan
namun bila koperasi dan usaha kecil           melanggar atau setidaknya dapat
menengah tidak diberikan ruang                dianggap     melanggar      peraturan
gerak dan dibina secara serius maka           menjadi nomor dua.
upaya kita untuk meningkatkan                       Profesi PKL di Indonesia
kesejahteraan rakyat, mengurangi              memang sering menjadi masalah.
kemiskinan dan pengangguran akan              Halomoan Tamba dan Saudin Sijabat12
tetap sulit. Solusinya antara lain            mengungkapkan bahwa PKL yang
adalah bahwa ke depan koperasi dan            dikelompokkan dalam sektor informal
usaha kecil dan rnenengah mesti               sering dijadikan sebagai kambing
dikembangkan di seluruh tanah air             hitam dari penyebab kesemrawutan
agar lebih banyak masyarakat                  lalu lintas maupun tidak bersihnya
Indonesia yang bisa berusaha.                 lingkungan. Meskipun demikian PKL
      Pedagang Kaki Lima (PKL)                ini sangat membantu kepentingan
merupakan bagian dari tulang                  masyarakat     dalam     menyediakan
punggung pengembangan ekonomi di              lapangan pekerjaan dengan penye-
Indonesia. PKL sangat membantu                rapan tenaga kerja secara mandiri atau
menghidupkan perekonomian domes-              menjadi safety belt bagi tenaga kerja
tik di daerah. Namun seringkali               yang memasuki pasar kerja, selain
keberadaan PKL dianggap sebagai               untuk     menyediakan      kebutuhan
pembawa atau pembuat masalah                  masyarakat golongan menengah ke
seperti    mengganggu       ketertiban,       bawah. Pada umumnya sektor
keamanan, dan kebersihan (K3).                informal sering dianggap lebih
Namun walaupun pedagang kak lima              mampu bertahan hidup survive
sering dianggap mengganggu K3                 dibandingkan sektor usaha yang lain.
ataupun lalu-lintas, akan tetapi di sisi
lain usaha ini sebenarnya dapat
memberikan keuntungan ekonomis
                                              12
                                                   Halomoan Tamba dan Saudin Sijabat. 2006.
                                                   ”Pedagang Kaki Lima: Entrepreneur Yang
11
     Dinas Koperasi dan PKM Sumatera Barat.        Terabaikan” dalam Infokop Nomor 29
     2009. Op cit.                                 Tahun XXII, 2006

Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                                  95
      Hal tersebut dapat terjadi karena            Masalah yang muncul berkenaan
sektor     informal      relatif     lebih   dengan PKL ini lebih banyak
independent atau tidak tergantung            disebabkan oleh kurangnya ruang
pada      pihak     lain,     khususnya      untuk mewadahi kegiatan PKL di
menyangkut permodalan dan lebih              perkotaan. Konsep perencanaan tata
mampu         beradaptasi          dengan    ruang perkotaan yang tidak didasari
lingkungan usahanya. Bukti-bukti             oleh      pemahaman       informalitas
tersebut menggambarkan bahwa                 perkotaan sebagai bagian yang
pekerjaan sebagai PKL merupakan              menyatu dengan sistem perkotaan
salah satu pekerjaan yang relatif tidak      akan cenderung mengabaikan tuntutan
terpengaruh krisis ekonomi karena            ruang untuk sektor informal termasuk
dampak krisis ekonomi tidak secara           PKL. Kegiatan-kegiatan perkotaan
nyata dirasakan oleh pedagang kaki           didominasi oleh sektor-sektor formal
lima. Dalam hal ini PKL mampu                yang memiliki nilai ekonomis yang
bertahan hidup dalam berbagai                tinggi. Alokasi ruang untuk sektor-
kondisi, sekalipun kondisi krisis            sektor informal, termasuk PKL,
ekonomi.                                     adalah ruang marjinal. Sektor informal
      Eksistensi     sektor      informal    terpinggirkan dalam rencana tata
seperti PKL memiliki peran penting           ruang kota yang tidak didasari
sebagai penyangga distorsi sistem            pemahaman informalitas perkotaan.
ekonomi. Namun disaat yang sama,                   Selanjutnya, PKL sering dipan-
ekonomi informal juga merupakan              dang sebagai sektor informal yang
masalah, sehingga perlu direspon             berada di luar kerangka hukum dan
dengan      politik    ekonomi         dan   pengaturan. Infokop Nomor 29 Tahun
kebijakan yang tepat. Salah satu             XXII, 2006. Akibatnya penataan
pendekatan yang dilakukan oleh               berupa kepastian usaha dan tempat
Kementerian Koperasi dan UKM                 menjadi terabaikan. Apabila kita dapat
adalah melalui Program Penataan dan          menerima alur pikir dan fakta yang
Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima              disajikan di atas bahwa PKL
dengan fasilitasi Bantuan Perkuatan          merupakan bagian yang tidak
Sarana Usaha sebagai stimulator dan          terpisahkan dari sistem perekonomian
katalisator bagi Pemerintah Kabu-            nasional khususnya dalam penyerapan
paten/Kota. Program ini sudah                tenaga kerja maka PKL sangat berhak
berjalan dua tahun anggaran. Dalam           memperoleh kenyamanan berusaha
program      tersebut,     Kementerian       berupa penciptaan iklim berusaha
Negara Koperasi dan UKM bersinergi           yang kondusif dari pemerintah. Dalam
dengan Pemerintah Propinsi atau              konteks ini, Kementerian Koperasi
Kabupaten/Kota untuk memberdaya-             dan UKM menawarkan kerjasama
kan PKL melalui Koperasi. Dengan             dengan                     pemerintah
pola ini diharapkan PKL dapat                kota/kabupaten/propinsi       program
menjadi suatu solusi dalam meme-             penataan & pemberdayaan PKL yang
cahkan penumbuhan usaha baru                 dilakukan      melalui     pendekatan
sekaligus akan berdampak terhadap            kelembagaan Koperasi. Jadi kelom-
penyerapan tenaga kerja.                     pok PKL yang tadinya berhimpun
                                             dalam bentuk paguyupan, kelompok,

96
                                                  TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
atau sentra diarahkan menjadi                 2009 lalu, Menteri Perdagangan Mari
lembaga yang berorientasi pening-             Elka Pangestu menegaskan bahwa
katan kesejahteraan ekonomi13                 PKL jangan dianggap sebagai
                                              pembuat masalah. Tetapi malah PKL
Program Registrasi PKL dan Pem-               justru harus dilegalkan, diberikan
berian Bantuan/Pinjaman terhadap              tempat berusaha yang jelas, aman dan
PKL                                           nyaman, serta dipermudah akses
Sejak tahun 2008 lalu Dinas                   permodalan mereka sehingga mereka
Koperindag Provinsi Sumatera Barat            mempunyai kepastian berusaha15.
telah melaksanakan Program Regis-                   Program Registrasi PKL dipan-
trasi Pedagang Kaki Lima (PKL)                dang sangat tepat dalam rangka
yang diiringi dengan pemberian                membangkitkan semangat dan moti-
bantuan bagi para PKL. Program                vasi para PKL dalam menjalankan
yang     dilancarkan    oleh   Dinas          usahanya. Dengan program ini mereka
Koperindag Provinsi Sumbar ini                diharapkan mampu berkembang dan
diawali dengan meregistrasi 1.000             berdaya. Apalagi di tengah krisis
PKL di lima kota di Sumatera Barat            ekonomi saat ini tidak sedikit pekerja
yaitu kota Payakumbuh, Bukittinggi,           korban PHK di sektor formal yang
Padang Panjang, Batusangkar dan               turun langsung untuk menjadi PKL
kota Sawahlunto14.                            demi menyambung hidup bagi
      Memasuki tahun kedua (2009),            keluarga mereka. Upaya yang dilaku-
Dinas Koperindag Sumatera Barat               kan oleh pemerintah provinsi Sumatra
kembali meregistrasi 4.000 PKL yang           Barat melalui Dinas Koperindag ini
tersebar di 16 kabupaten/kota di              sangat penting peranannya untuk
Sumatra Barat. Setiap PKL diberikan           mengatasi pengangguran dan kemis-
perkuatan modal usaha berupa                  kinan. Selain itu, melalui program
pinjaman lunak dengan bunga                   registrasi PKL ini Pemerintah Daerah
maksimal enam persen (6%) setahun.            akan memiliki database yang lengkap
Melalui program bantuan ini setiap            tentang para PKL sehingga memu-
PKL diberikan bantuan perkuatan               dahkan Pemerintah Daerah meng-
modal sebesar Rp. 300.000 per orang.          arahkan bantuan serta memantau
      Terobosan Dinas Koperindag              perkembangan mereka. Bahkan tidak
Sumbar ini. ternyata tak hanya                hanya Pemerintah Daerah, instansi
disambut antusias oleh para PKL,              dan perusahaan lain, misalnya
tetapi juga dikagumi oleh Menteri             perbankan yang ada di daerah,
Perdagangan Mari Elka Pangestu dan            hendaknya juga memiliki database
Menekop UKM Suryadharma Ali.                  tentang     PKL,    sehingga    pihak
Ketika melaunching registrasi 4.000           perbankan akan mudah untuk
PKL di halaman kantor gubernur                menyalurkan kredit usaha rakyat
Sumatera Barat pada tanggal 28 Mei            (KUR) atau pinjaman,.komersial
                                              lainnya kepada para PKL.
                                                    Bantuan kredit lunak yang
13
   Halomoan Tamba dan Saudin Sijabat. 2006.   diberikan     kepada     para    PKL
   Opcit.
14
   Dinas Koperasi dan PKM Sumatera Barat.
                                              15
   2009. Op cit.                                   Ibid

Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                           97
dimaksudkan sebagai stimulus atau            jangan sampai mematikan kreativitas
pendorong dengan harapan agar para           yang merupakan ciri mereka. 3) Perlu
PKL penerima bantuan dapat                   diperhatikan penyediaan tempat-
berkembang dengan sukses, cepat              tempat tertentu dan jam-jam tertentu
naik kelas dikemudian hari, terbebas         bagi para PKL dengan penyediaan
dari lilitan rentenir, sekaligus mampu       penerangan dan sarana kebersihan
membesarkan koperasi penyalur.               yang memadai.
Disamping itu, program registrasi dan
bantuan bagi para PKL menurut III. METODE PENELITIAN
rencananya juga akan diiringi dengan
                                             Penelitian ini menggunakan pende-
program pelatihan terhadap PKL.
                                             katan kualitatif dan menggunakan
        Hal ini dimaksudkan agar dana
                                             metode field research (penelitian
perkuatan modal yang diberikan akan
                                             lapangan). Karena penelitian ini ber-
lebih berdaya guna dan pada
                                             tujuan antara lain untuk meng-
gilirannya akan mampu mempercepat
                                             identifikasi dan memetakan gambaran
PKL untuk naik kelas. Oleh karena
                                             tingkat motivasi para PKL dan
itu, peranan Pemerintah Kabupaten/
                                             dampak pemberian bantuan PKL
Kota diharapkan mampu untuk
                                             terhadap tingkat motivasi para PKL,
melakukan pembinaan yang berke-
                                             maka penelitian ini cenderung
lanjutan, baik melalui pelatihan-
                                             bersifat deskriptif eksploratif. Selain
pelatihan      maupun        dalam      hal
                                             itu, karena tingkat motivasi yang
pembinaan lokasi tempat PKL
                                             dimiliki oleh para PKL sangat luas
menjalankan        usahanya       Program
                                             cakupannya maka dengan berbagai
pembinaan        berkelanjutan      dalam
                                             pertimbangan dan keterbatasan, scope
maksudnya adalah bahwa Pemerintah
                                             penelitian ini dibatasi pada pemetaan
Kabupaten/Kota hendaknya menyiap-
                                             tingkat motivasi para PKL dalam
kan program pembinaan dalam
                                             kaitannya dengan program pemberian
jangka waktu tertentu agar tidak
                                             bantuan PKL di tiga kota di Sumatera
terputus di tengah jalan, mengingat
                                             Barat, yaitu Kota Payakumbuh,
akan adanya pergantian Bupati/
                                             Bukittinggi, dan Padang Panjang.
Walikota       beberapa       tahun      ke
                                                   Sesuai dengan karakteristik
depannya.
                                             penelitian field research, maka teknik
        Program pengembangan sektor
                                             pengumpulan data yang digunakan
informal PKL menurut Ananta dan
                                             dalam penelitian ini adalah 1)
Supriyatno16 membutuhkan tiga hal
                                             wawancara mendalam (in depth
yang harus diperhatikan dalam
                                             interview) dan terstruktur dan 2) Studi
menertibkannya, yaitu: 1) Usaha di
                                             Dokumentasi.        Informan     dalam
sektor ini harus dilindungi dari
                                             penelitian ini meliputi: 1) Kepala
hambatan yang tidak perlu seperti
                                             Dinas Koperindag Provinsi Sumatera
pungutan liar, pemerasan, dan lain
                                             Barat; 2) Kepala Bagian dan para staf
sebagainya. 2) Pembinaan hendaknya
                                             pada Bagian Pembinaan Modal Usaha
                                             Kecil Menengah (PMUKM) pada
16
    Ananta dan Supriyanto. 1985. ”Penelitian Dinas Koperindag Provinsi Sumatera
   tentang Sektor Informal” Dalam Jurnal     Barat; 3) Para pengurus koperasi yang
 Ekonomi UGM. Yogyakarta.

98
                                                  TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
mengelola program registrasi dan        data yang didapat dari informan
pemberian bantuan PKL di 3 kota         (emik)     dan       responden,     serta
yang menjadi sasaran program; dan       interpretasi peneliti (etic) terhadap
beberapa orang perwakilan PKL di 3      data lapangan tersebut. Sedangkan
kota yang menjadi sasaran program.      data yang bersifat kuantitatif atau
Sementara yang menjadi responden        angka-angka diolah dengan meng-
dalam penelitian ini adalah para PKL    gunakan rumus statistik sederhana
yang menjadi peserta program            dalam bentuk frekuensi dan per-
registrasi dan bantuan PKL di tiga      sentase.
kota dari tiga kota yang menjadi
sasaran program pemberian bantuan IV. HASIL PENELITIAN DAN PEM-
PKL.                                    BAHASAN
      Penelitian ini menetapkan tiga    Deskripsi PKL Sumbar Teregistrasi
dari lima daerah kabupaten/ kota        Tahun 2008
sasaran program registrasi PKL 2008
sebagai lokasi (objek) dalam penelitian Sebagaimana telah dikemukakan
ini. Populasi penelitian ini adalah     dalam bab tiga tentang Metode
seluruh PKL yang mengikuti program      Penelitian pada bagian Lokasi,
registrasi dan pemberian bantuan PKL    Populasi dan Sampel Penelitian
tahun 2008 di ketiga kota tersebut di   bahwa penelitian ini dilakukan pada
atas. Pemilihan informan dilakukan      tiga (3) daerah kota yang menjadi
secara purpossive dan penetapan         sasaran program registrasi PKL 2008.
sampel responden dilakukan secara       Populasi penelitian ini adalah seluruh
sensus. Artinya seluruh anggota         PKL yang mengikuti program
populasi dijadikan sebagai sampel atau  registrasi PKL 2008. Pemilihan
responden penelitian. Analisis pene-    sampel responden dilakukan secara
litian ini dilaksanakan melalui tiga    sensus. Sedangkan pemilihan infor-
tahap dengan menggunakan analisis       man dilakukan secara purpossive.
model      interaktif   seperti  yang   Namun karena berbagai keterbatasan
dikemukakan Miles dan Huberman,         maka sampel responden yang berhasil
yaitu: reduksi data, penyajian data,    didata dan dijadikan responden dalam
dan penarikan kesimpulan Analisis       penelitian hanya sejumlah 434 orang.
data dilakukan berdasarkan pan-         Responden atau PKL yang dinyatakan
dangan-pandangan informan (emik)        aktif (terdata) dan dianalisis dalam
yang sudah divalidasi dengan            penelitian ini hanya sejumlah 434
menggunakan metode triangulasi,         orang. Gambaran keaktifan PKL yang
terutama terhadap data yang bersifat    telah teregistrasi tersebut dapat dilihat
kualitatif. Kesimpulan dari analisis    pada tabel 2 berikut:
yang dilakukan terkait pada gabungan




Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                        99
         Tabel 1. PKL Teregistrasi Sumbar tahun 2008 yang Terdata


        No.         Kota          Teregistrasi        Terdata      Tidak Terdata

                                                     f      %        f      %
           1 Bukittinggi              202           182    90,10     20    9,90
           2 Payakumbuh               191           169    88,48     22   11,52
           3 Padang Panjang           200            83    41,50    117   58,50
             Jumlah                   593           434    73,19    159   26,81

Berdasarkan tabel 1 di atas terlihat             Barat telah memberikan bantuan
bahwa para PKL atau responden yang               dalam bentuk pinjaman lunak kepada
berhasil diidentifikasi (aktif) pada             para PKL yang telah diregistrasi
daerah sasaran program adalah: Kota              sebanyak Rp. 300.000,- per PKL
Bukittinggi 90,10%, Kota Paya-                   melalui koperasi masing-masing
kumbuh 88,48%, dan Kota Padang                   daerah (Kota/Kabupaten) untuk pro-
Panjang 41,50%. Sehingga secara                  gram registrasi tahun 2008. Program
keseluruhan total responden atau                 registrasi dan pemberian bantuan
PKL yang berhasil diidentifikasi                 untuk tahun 2008 ini meliputi para
adalah sebanyak 73,19 % atau 434                 PKL di lima (5) kota/kabupaten,
orang. Sedangkan responden yang                  yaitu: Kota Payakumbuh, Kota
tidak bisa diidentifikasi (tidak terdata)        Bukittinggi, Kota Padangpanjang,
ada sebanyak 26,81 % atau 159 orang,             Kota Batusangkar, dan Kota Sawah-
dengan rincian masing-masing: Kota               lunto. Bantuan (pinjaman) ini diha-
Bukittinggi 9,90%, Kota Payakumbuh               rapkan akan dapat memotivasi dan
11,52%, dan Kota Padang Panjang                  lebih memberdayakan para PKL
58,50%.                                          dalam meningkatkan atau mengem-
                                                 bangkan usahanya di masa yang akan
Bantuan Modal bagi Pedagang                      datang. Namun, agar program pem-
Kaki Lima (PKL) Tahun 2008                       berian bantuan PKL yang telah
                                                 dilakukan oleh Dinas Koperindag
Berdasarkan kebijakan Dinas Kope-
                                                 Provinsi Sumatera Barat ini dapat
rasi Perindustrian dan Perdagangan
                                                 mencapai sasaran yang diinginkan
(Koperindag) Provinsi Sumatera
                                                 dan memotivasi para PKL maka telah
Barat maka setiap Pedagang Kaki
                                                 dilakukan evaluasi terhadap efektifitas
Lima (PKL) diberikan bantuan modal
                                                 dan kemanfaatan dari program yang
sebesar Rp. 300.000 per orang.
                                                 telah diterapkan tersebut. Salah satu
Program bantuan modal bagi PKL ini
                                                 bentuk tolok ukur yang digunakan
dimaksudkan sebagai cara atau alat
                                                 dalam     melihat    efektifitas   dan
untuk memotivasi para PKL agar
                                                 kemanfaatan bantuan tersebut adalah
lebih termotivasi dalam menjalankan
                                                 dengan cara melihat pergerakan
profesinya sebagai PKL.
                                                 (perkembangan) modal PKL yang
      Melalui program Registrasi dan
                                                 menerima bantuan tersebut setelah
Bantuan Modal PKL tahun 2008 ini
                                                 mereka menerima bantuan.
pihak Koperindag Provinsi Sumatera

100
                                                      TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
       Untuk    melihat pergerakan                      lankannya selama setahun (2008 –
  (perkembangan) modal PKL setelah                      2009) dapat dilihat pada tabel 2
  menerima bantuan dan menja-                           berikut ini.


  Tabel 2. Deskripsi Pergerakan Modal PKL di Kota Payakumbuh, Bukittinggi,
            dan Padangpanjang Tahun dari Tahun 2008 – 2009 (dalam rupiah)

          Kota             Payakumbuh                    Bukittinggi               Padangpanjang
Jumlah                     2008         2009           2008             2009       2008         2009
Modal (rupiah)         f      %     f      %       f      %         f      %   f      %     f     %
< 100 ribu              4  2,37     0       0       0      0     0    0         1  1,21   0   0
101 ribu – 500 ribu    10  5,92     0       0       2     1,10   0    0        21 25,30 65 78,31
501 ribu – 1 juta      14  8,28     2      1,18     5     2,75   0    0         6  7,23 12 14,46
> 1 juta – 3 juta      30 17,75    12      7,10    13     7,69   0    0        39 46,99 6    7,23
> 3 juta – 5 juta      20 11,83    36     21,30    21    11,54 9     4,94      10 12,05 0     0
> 5 juta – 10 juta     32 18,94    49     28,99    41    22,53 37 20,33         2  2,41   0   0
> 10 juta              59 34,91    70     41,42   100    54,95 36 74,73         4  4,82   0   0
Jumlah                169 100.00   169   100.00   182    100.00 182 100.00     83 100.00 83 100.00

      Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer

  Berdasarkan tabel 2 di atas dapat                     atau berkurang setelah mendapat
  dipahami bahwa ternyata pergerakan                    bantuan modal.
  modal para pedagang kaki lima di dua                        Selanjutnya bila dilihat persen-
  kota, yaitu Kota Payakumbuh dan                       tase pergerakan modal para pedagang
  Kota Bukittinggi cenderung menaik                     kaki lima di masing-masing daerah
  atau bertambah setelah mendapatkan                    sasaran penelitian ini maka didapat-
  bantuan modal. Sementara pergerakan                   kan gambaran rekapitulasi seperti
  modal pedagang kaki lima di Kota                      tertera pada tabel 3 berikut ini
  Padang Panjang cenderung menurun

       Tabel 3. Keadaan Persentase Pergerakan Modal PKL Sumbar 2008

                         Kota/Kabupaten                                            Jumlah
                                               PYK         BKT           PP
         No    Pergerakan                                                      f        %
               Modal dalam %
           1   Di atas 21%                         86          77         12   175     40,32
           2   0 sampai 20 %                        6          10          0    16      3,69
           3   0%                                  47          59          3   109     25,12
           4   sama dan kurang dari -1 %           30          36         68   134     30,87
           6   Jumlah                             169         182         83   434    100,00
      Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer
  Secara umum dapat dikatakan bahwa                     Provinsi Sumatera Barat cukup baik,
  pergerakan    modal   PKL    yang                     meskipun tidak bisa dikatakan sangat
  teregistrasi pada tahun 2008 di                       baik. Sebagaimana terlihat pada tabel


  Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                                          101
3 di atas, pergerakan modal PKL yang      malah mengalami pergerakan modal
berkisar di atas 20% cukup besar, atau    menurun sampai di -1%.
setidak-tidaknya lebih besar dari pada
frekuensi pergerakan modal lainnya,       Gambaran Tingkat Motivasi PKL
yaitu sekitar 40,32% atau 175 orang.      Penerima Bantuan Modal PKL
Sementara itu pergerakan modal            tahun 2008
menurun yang kurang dari atau sama        Sebagaimana telah dijelaskan pada
dengan -1%, ataupun yang tidak            bagian sebelumnya bahwa program
mengalami pergerakan modal juga           bantuan modal bagi PKL ini
masih sangat besar. Hal itu terlihat      dimaksudkan sebagai cara atau alat
dari tabel 17 yang mengungkapkan          untuk memotivasi para PKL agar
bahwa 25,12% PKL atau 109 orang           lebih termotivasi dalam menjalankan
PKL di 3 Kota Sumatera Barat yang         profesinya sebagai PKL. Namun,
menjadi sasaran program registrasi        sejauhmana bantuan modal tersebut
PKL tidak mengalami pergerakan            telah     berhasil    membangkitkan
modal sama sekali. Sementara              motivasi mereka dalam menjalankan
30,87% atau 134 orang di antaranya        profesi mereka dapat dilihat pada
                                          tabel 4 berikut ini:

Tabel 4. Deskripsi Tingkat Motivasi PKL Penerima Bantuan Modal PKL
          tahun 2008 di Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, dan Kota
          Padangpanjang

           Kota Payakumbuh       Bukittinggi   Padangpanjang
                                                               Keterangan
Tk. Motivasi         f     %       f             f      %
Sangat Tinggi (5)      0     0       0     0        0      0   Dianalisis dari data
Tinggi (4)             0     0      52 28,57       12 14,46         mentah
Sedang (3)            29 17,16     118 64,84       38 45,78
Rendah (2)            82 48,52      12  6,59       25 30,12
Sangat Rendah (1)     58 34,32       0     0        8   9,64
Jumlah              169 100.00    182 100.00     83   100,00

Tabel 4 di atas menggambarkan                  Hal ini terlihat dari data tabel 4
bahwa tingkat motivasi PKL yang           yang mengindikasikan bahwa seba-
teregistrasi dan mendapatkan bantuan      gian besar PKL mengungkapkan
modal pada tahun 2008 di tiga kota        bahwa tingkat motivasi mereka untuk
yang menjadi sasaran penelitian ini       berdagang sebagai PKL setelah
lebih banyak berada pada kategori         menerima bantuan adalah “rendah”
“sangat rendah”, “rendah”, dan            (48,52%) dan “sangat rendah”
“sedang”. Tidak seorang pun dari          (34,32%)     untuk      PKL       Kota
mereka yang mengungkapkan bahwa           Payakumbuh. Sementara untuk PKL
motivasi mereka berada pada kategori      Kota Bukittinggi, 64,84% dari mereka
“sangat tinggi”.                          mengungkapkan bahwa motivasi
                                          mereka untuk berdagang setelah

102
                                                TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
mendapatkan bantuan modal berada         berkisar pada angka atau jumlah yang
pada kategori “sedang” dan hanya         beragam, mulai dari 500 ribu rupiah
28,57%        dari     mereka      yang  sampai 10 juta rupiah, sesuai dengan
mengatakan bahwa motivasi mereka         kebutuhan dan jenis usaha yang
“tinggi” setelah mendapat bantuan.       mereka jalani. Bila diambil patokan
Sedangkan untuk PKL di Kota              secara umum tentang harapan bantuan
Padangpanjang, 45,78% dari mereka        yang mereka inginkan, terdapat
mengungkapkan bahwa motivasi             kalkulasi bahwa rata-rata harapan
mereka      berada     pada     kategori bantuan yang mereka inginkan adalah
“sedang” dan 30,12% dari mereka          sekitar 2 juta rupiah.
mengatakan bahwa motivasi mereka               Berdasarkan hasil penelitian ini
“rendah” untuk berdagang setelah         tergambar bahwa sebagian besar
mendapat bantuan modal.                  (sekitar 29%) dari          PKL meng-
      Deskripsi data diatas antara lain  inginkan agar mereka dibantu minimal
juga berarti bahwa kontribusi            1 juta rupiah. (atau bila dilihat dari
pemberian bantuan modal PKL              rata-rata bantuan yang mereka
kepada para pedagang kaki lima di        inginkan adalah sekitar 1.994.333
daerah sasaran penelitian ini kurang     rupiah). Ada pula mereka yang
begitu berarti dalam memotivasi          menginginkan           agar       mereka
mereka        untuk      lebih      giat dipinjamkan minimal 2 atau 3 juta
mengembangkan usaha atau profesi         rupiah. Bahkan ada ada pula yang
mereka. Pernyataan ini juga diperkuat    menginginkan pinjaman yang lebih
oleh beberapa informasi yang             besar lagi, yaitu sekitar 10 juta rupiah.
diperoleh dari beberapa responden              Sebagian besar PKL merasakan
(PKL) dan informan lainnya bahwa         bahwa bantuan atau pinjaman sebesar
mereka atau PKL merasa kurang            300 ribu rupiah cukup kecil, bahkan
termotivasi dengan jumlah atau           sangat      kecil,    kontribusi     atau
besaran      bantuan     modal     yang  manfaatnya bagi menunjang atau
diberikan. Jumlah bantuan yang           mengembangkan          usaha     mereka.
mereka terima sebagai pinjaman dari      Bahkan tidak sedikit di antara mereka
Koperindag Provinsi Sumatera Barat       yang masih terperangkap oleh rentenir
tersebut menurut mereka tidak begitu     karena     masih      tidak     cukupnya
berarti (tidak begitu signifikan) dalam  pinjaman       modal       dari     pihak
meningkatkan motivasi mereka untuk       Koperindag. Hal ini antara lain
lebih mengembangkan usaha atau           terungkap dari wawancara yang
profesi mereka sebagai PKL. Mereka       dilakukan dengan beberapa PKL,
beranggapan bahwa jumlah bantuan         terutama PKL di Kota Padang
tersebut terlalu kecil. Mereka           Panjang.
mengharapkan bahwa bantuan modal
tersebut kalau bisa ditambah atau V. PENUTUP
lebih besar dari yang sudah diberikan.   Kesimpulan
      Berdasarkan pendataan atau
penjajakan harapan para PKL melalui      Berdasarkan hasil pembahasan seperti
penelitian ini terdapat indikasi bahwa   yang telah dikemukakan sebelumnya
bantuan yang mereka harapkan             antara lain dapat disimpulkan bahwa:


Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                         103
1. Tingkat motivasi para Pedagang         negatif; bahkan ada pula yang
   Kaki Lima (PKL) Sumatera Barat         mengarah pada penyusutan modal.
   dalam     menjalani     pekerjaan
   mereka sebagai PKL cenderung        Saran
   rendah setelah mereka menerima
   bantuan modal PKL 2008 dari         Berdasarkan kesimpulan di atas maka
   Dinas Koperindang. Hal ini dapat    dapat direkomendasikan/disarankan
   dilihat dari hasil analisis data    bahwa:
   yang     menunjukkan       bahwa    1. Untuk meningkatkan motivasi
   motivasi sebagian besar mereka         para PKL dalam mengembangkan
   setelah menerima bantuan modal         usahanya       maka       diperlukan
   tersebut sebagian besar hanya          peningkatan jumlah pinjaman
   berkisar pada kategori ”sangat         lunak sesuai dengan harapan dan
   rendah”, ”rendah”, dan ”sedang”.       jenis usaha yang mereka jalani.
2. Dampak pemberian bantuan PKL           Artinya, secara khusus dapat pula
   terhadap peningkatan motivasi          disesuaikan dengan skala usaha
   para PKL dalam menjalani               mereka, yaitu bergerak antara 500
   pekerjaan mereka sebagai PKL           ribu rupiah sampai dengan 10 juta
   boleh dikatakan sangat minim           rupiah. Disamping itu juga
   karena berdasarkan persentase          diperlukan pembinaan secara
   jawaban yang diberikan oleh            berkelanjutan, baik mengenai
   responden terindikasi bahwa            manajemen       usaha,     semangat
   tingkat motivasi mereka setelah        usahawan, maupun mengenai
   menerima bantuan modal tersebut        training dalam bentuk klinik
   sebagian besar berada pada             usaha.
   kategori     ”sangat     rendah”,   2. Selain itu perlu pula adanya
   ”rendah”, dan ”sedang”. Hal ini        strategi dan kebijakan pengem-
   diduga ada kaitannya dengan            bangan PKL meliputi perlin-
   kecilnya jumlah bantuan yang           dungan hukum dan ruang usaha
   mereka terima sehingga mereka          (space), pengembangan kemam-
   tidak merasa begitu terbantu atau      puan serta pengembangan potensi
   termotivasi oleh adanya bantuan        para PKL. Ketiga jenis pengem-
   tersebut                               bangan      tersebut      hendaknya
3. Pergerakan modal PKL dari              dilakukan secara sinergik, saling
   sebelumnya, setelah mendapatkan        kait-mengait         dan       saling
   pinjaman lunak      (Rp. 300.000)      mendukung agar kemampuan PKL
   dari Koperindag Provinsi Sumbar        layak ditingkatkan.
   melalui koperasi mereka pada        3. Mengingat hasil analisis dalam
   masing-masing      kota    sangat      penelitian ini dilakukan terhadap
   beragam; ada pergerakan modal          data yang sangat terbatas, maka
   yang telah meningkat mencapai di       yang dapat dilakukan adalah
   atas 20%; ada pula yang                memberikan informasi mengenai
   meningkat hanya sampai di              deskriptif analitik, sehingga belum
   bawah 20%; dan ada pula                dapat dijadikan sebagai bahan
   pergerakan modal yang statis dan       pengambilan keputusan yang

104
                                            TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011
   bersifat final. Oleh karena itu,           dilakukan untuk      mempertajam
   studi yang lebih mendalam dan              hasil analisis.
   komprehensif masih         perlu

                         DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ali Djoefri Chozin Soen’an. 1992. ”Perilaku Sektor Informal Pedagang kaki Lima
         dalam Pemasaran”. Laporan Penelitian: UGM Yogyakarta.
Ananta dan Supriyanto. 1985. ”Penelitian tentang Sektor Informal” Dalam Jurnal
        Ekonomi UGM. Yogyakarta.
Diah Ayu Ardiyanti. 2006. ”Kehidupan Pedagang Kaki Lima dalam Meraih
       Keberhasilan Mempertahankan Ekonomi Keluarga (Studi Kasus
       Pedagang Kaki Lima di Sekitar GOR Manahan Surakarta tahun 2005-
       2006)” Laporan Penelitian.
Dinas Koperasi dan PKM Sumatera Barat. 2009. Forum Koperasi. Edisi. Juli,
        2009 .
Effendi, Tadjudin Noer.1992: Perilaku Mobilitas dan Struktur Sosial Ekonomi
         Rumah Tangga: Kasus Dua Desa di Jawa Barat, Yogyakarta: PPK
         UGM
Halomoan Tamba dan Saudin Sijabat. 2006. ”Pedagang Kaki Lima: Entrepreneur
       Yang Terabaikan” dalam Infokop Nomor 29 Tahun XXII, 2006
Mulyanto. 2007. “Pengaruh Motivasi dan Kemampuan Manajerial terhadap Kinerja
        Usaha Pedagang Kaki Lima Menetap (Suatu Survai pada Pusat
        Perdagangan dan Wisata di Kota Surakarta)” dalam Jurnal BENEFIT, Vol.
        11, No. 1, Juni 2007.
Sethuraman, S.V. 1981. The Urban Informal Sector in Developing Countries,
        Poverty, and Environment. Chapter 14, Geneva: ILO.
Siagian, P. Sondang. 1997. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Wardoyo. 2008. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Kaki
       Lima di Manahan Surakarta” http://www.osun.org/usaha+kaki+lima-
       doc.html diakses tanggal 12 November 2009).




Dampak Program Pemberian Bantuan PKL….                                        105
106
      TINGKAP Vol. VII No. 1 Th. 2011

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:9
posted:1/19/2013
language:
pages:18