Makalah Peran Bidan pada Bayi Sehat

Document Sample
Makalah Peran Bidan pada Bayi Sehat Powered By Docstoc
					                       MAKALAH
      PERAN BIDAN PADA BAYI SEHAT
  Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Asuhan Neonatus




                       Disusun oleh:

      1. Kholifah                      (B0900416)
      2. Dewi ayu p.                   (B0900419)
      3. Eka wahyu w.                  (B0900425)
      4. Ernawati                      (B0900427)
      5. Erna widiyanti                (B0900428)
      6. Ferida eka w.                 (B0900430)
      7. Mayriana tamara D.            (B0900426)
      8. Puji wulandari                (B0900
      9. Ratini                        (B0900448)
      10. Reni Wulandari               (B0900449)
      11. Sri rahayu                   (B0900456)
      12. Tanti Mareta A.              (B0900459)
      13. Yuliati                      (B0900463)



                    PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
                       GOMBONG
                            2010
                            KATA PENGANTAR


       Alhamdulillahirobil’alamin, puji syukur senantiasa penulis panjatkan atas
kehadirat Allah SWT yang melimpahkan Rahmat, Taufik, dan Hidayahn-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik tanpa ada
halangan suatu apapun.
     Dalam penyusunan makalah ini penulis telah mendapat bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Muhammad Basirun Al-Ummah, M.Kes. selaku ketua STIKES
   Muhammadiyah Gombong.
2. Ibu Hastin Ika I, S.SiT selaku Ketua Program Studi D3 Kebidanan STIKES
   Muhammadiyah Gombong.
3. Ibu Siti Nurjanah, S.SiT. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Asuhan
   Kebidanan I
4. Rekan-rekan seangkatan dan seperjuangan khususnya Prodi D3 Kebidanan
   STIKES Muhammadiyah Gombong.
     Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, baik dari segi bahasa, pengolahan maupun penyusunannya. Untuk
itu, penulils sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan karya ilmiah ini. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi kita semua, Amien.




                                                 Gombong,     November 2010




                                                           Penyusun
                                     BAB I
                               PENDAHULUAN



      Berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia terdapat kematian ibu
sebesar 500.000 jiwa pertahun dan kematian bayi pada khususnya neonatus
sebesar 10 juta jiwa pertahun. Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi
terutama di negara berkembang sebesar 99% (Manuaba, 1998).
      Seperti yang terjadi di hampir semua negara di dunia, kesehatan bayi
cenderung kurang mendapat perhatian di bandingkan umur-umur lainnya. Padahal
data WHO (2002) menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan, yang dikenal
dengan “fenomena 2/3”, yaitu 2/3 kematian bayi (umur 0-1 tahun) terjadi pada
masa neonatal (bayi baru lahir umur 0-28 hari), 2/3 kematian pada masa neonatal
dini terjadi pada hari pertama. Maka 1 minggu pertama dari kelahiran adalah masa
paling kritis bagi seorang bayi (Komalasari, 2007).
      Menurut Agus Hamonangan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia
masih tertinggi di bandingkan Negara-negara tetangga. Di Malaysia 10 per 1000
kelahiran hidup, Thailand 20 per 1000 kelahiran hidup, Vietnam 18 per 1000
kelahiran hidup, Brunai Darusalam 8 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan
Indonesia sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup (Azrul, 2005).
      Di indonesia, program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program
kesehatan ibu. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer, target
untuk kesehatan bayi baru lahir adalah menurunkan angka kematian neonatal dari
25 per 1000 kelahiran hidup (tahun 1997) menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup
(Depkes R.I, 2006).
      Berdasarkan Visi dan Misi Indonesia Sehat 2010 yang telah dicanangkan
oleh Pemerintah RI (1999) dan Keluarga Sejahtera 2013 oleh Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), maka bidan yang bergabung dalam
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di seluruh Indonesia merasa terpanggil dan prihatin
atas kesehatan kondisi ibu dan anak belum baik, yaitu Angka Kematian Ibu (AKI)
sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB)
sebesar 50 per 100.000 kelahiran hidup. Penurunan yang dirasakan sangat lambat,
oleh karena itu AKI dan AKB di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat (IBI, 2003).
                                     BAB II
                               TINJAUAN TEORI



A. Pengertian Bayi Baru Lahir Normal
        Bayi baru lahir normal adalah bayi baru lahir dari kehamilan yang aterm
  (37-42 minggu) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram. Asuhan bayi baru
  lahir adalah asuhan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran.
  (Saifuddin, 2002)
        Ciri-ciri bayi normal antara lain sebagai berikut :
  a) Berat badan 2500-4000 gram
  b) Panjang badan 48-52 cm
  c) Lingkar badan 30-38 cm
  d) Lingkar kepala 33-35 cm
  e) Bunyi jantung dalam menit pertama kira-kira 180 x/menit kemudian
     menurun sampai 120-160 x/menit.
  f) Pernafasan pada menit pertama kira-kira 80 x/menit kemudian turun sampai
     40 x/menit.
  g) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan terbentuk dan
     diliputi verniks caeseosa.
  h) Rambut lanugo tidak terlihat, rambut tampak sempurna.
  i) Kuku agak panjang dan lemas.
  j) Testis sudah turun (pada anak laki-laki), genitalia labio mayora telah
     menutupi labia minora (pada anak perempuan).
  k) Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
  l) Refleks moro sudah baik, bayi dikagetkan akan memperlihatkan gerakan
     tangan seperti memeluk.
  m) Graff refleks sudah baik, bila diletakkan suatu benda ke telapak tangan
     maka akan menggenggam.
  n) Eliminasi, urin dan mekonium akan keluar dalam 24 jam, pertama
      mekonium berwarna kecoklatan. (Saifuddin, 2006)
B. Penanganan Bayi Baru Lahir
        Menurut Prawirohardjo (2008). Tujuan utama perawatan bayi segera
  sesudah lahir, yaitu :


  1. Pencegahan Infeksi
           Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh
     paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan
     berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum menangani bayi
     baru lahir penolong harus melakukan upaya pencegahan infeksi berikut :
     a. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi.
     b. Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
        dimandikan.
     c. Memastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem,
        gunting, penghisap lendirDeL ee dan benang tali pusat telah didesinfeksi
        tingkat tinggi atau steril. Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika
        ingin melakukan penghisapan lendir dengan alat tersebut.
     d. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk
        bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikian pula halnya timbangan, pita
        pengukur, thermometer, stetoskop dan benda lain yang akan bersentuhan
        dangan bayi juga bersih.


  2. Penilaian Awal
           Biasanya untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan
     menit kelima setelah kelahirannya menggunakan sistim APGAR. Nilai
     APGAR akan membantu dalam, menentukan tingkat keseriusan dari depresi
     bayi baru lahir yang terjadi serta langkah segera yang akan diambil. Hal
     yang perlu dinilai antara lain warna kulit bayi, frekuensi jantung reaksi
     terhadap rangsangan, aktivitas tonus otot, dan pernapasan bayi, masing-
     masing diberi tanda 0, 1 atau 2. sesuai dengan kondisi bayi.
           Klasifikasi klinik :
     a. Nilai 7-10 : bayi normal
      b. Nilai 4-6 : bayi dengan asfiksia ringan dan sedang
      c. Nilai 1-3 : bayi dengan asfiksia berat
        Tabel 2.1
        APGAR Score


Tanda-tanda            0                           1            2
A : Apperience         Pucat atau biru     Tubuh merah          Seluruh tubuh
(warna kulit)                                                   merah


P    : Puls            Tidak ada           Dibawah 100,         Diatas 100, detak
(frekuensi             detak jantung       lemah dan lamban     jantung kua
jantung)


G : Grimace            Tidak ada           Menyeringi atau      Menangis
(reaksi terhadap       respon              kecut
Rangsangan)


A : Acti vit y         Tidak ada           Ada sedikit          Seluruh
(tonus otot)           gerakan                                  ekstremitas
                                                                bergerak aktif


R    : Respir ati on Tidak ada             Pernapasan           Menangis kuat
(pernapasan)                               perlahan, bayi
                                           terdengar merintih




    3. Membersihkan Jalan Napas
               Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila
      tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan napas
      dengan cara sebagai berikut :
      a. Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
  b. Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi
     lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus lebih
     sedikit tengadah ke belakang.
  c. Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan
     yang dibungkus kasa steril.
  d. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi
     dengan kain kering. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera
     menangis. Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan
     kerusakan otak. Sangat penting membersihkan jalan napas, sehingga
     upaya bayi bernapas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (masuknya
     lendir ke paru-paru).
  e. Alat penghisap lendir mulut (DeLee) atau alat penghisap lainnya yang
     steril, tabung oksigen dengan selangnya harus telah siap di tempat.
  f. Segera lakukan usaha menghisap mulut atau hidung.
  g. Petugas harus memantau dan mencatat usaha napas yang pertama.
  h. Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut
     harus diperhatikan. Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin
     diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat.
  i. Dokter atau tenaga medis lain hendaknya melakukan resusitasi setelah
     satu menit bayi tak bernapas.


4. Memotong dan Merawat Tali Pusat
        Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu
  menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang
  bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong
  untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Tali pusat
  dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan dibuat ikatan baru. Luka tali
  pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau povidon iodine
  10% serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari atau
  setiap tali basah atau kotor.
   a. Sebelum memotong tali pusat, dipastikan bahwa tali pusat telah diklem
      dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan.
   b. Alat pengikat tali pusat atau klem harus selalu siap tersedia di ambulans,
      di kamar bersalin, ruang penerima bayi, dan ruang perawatan bayi.
   c. Gunting steril juga siap
   d. Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan dari tali pusat


5. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
         Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu
   badannya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap
   hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan
   tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya
   sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat.


6. Memberi Vitamin K
         Kejadian perdarahan Karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir
   dilaporkan cukup tinggi, berkisar antara 0.25-0.5%. Untuk mencegah
   terjadinya perdarahan tersebut, diberi vitamin K parenteral dengan dosis
   0.5-1 mg secara im


7. Memberi Obat Tetes atau Salep Mata
         Di daerah di mana prevalensi gonorhoe tinggi, setiap bayi baru lahir
   perlu diberi salep mata sesudah lima jam. bayi lahir. Pemberian obat mata
   cloramphenikol 0,5% dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena
   klamidia (penyakit menular seksual).


8. Identifikasi Bayi
         Apabila bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinannya
   mungkin lebih dari satu persalinan maka sebuah alat pengenal yang efektif
   harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus di tempatnya sampai
   waktu bayi dipulangkan.
  a. Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat
     penerimaan pasien, di kamar bersalin dan ruang perawatan bayi.
  b. Alat yang digunakan hendaknya kebal air dengan tepi yang halus tidak
     mudah melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas.
  c. Pada alas atau gelang identifikasi harus tercantum:
     1) Nama lengkap ibu
     2) Warna gelang sesuai jenis kelamin pada bayi
     3) Tanggal lahir
     4) Nomor medical record
     5) Jenis kelamin
     6) Unit/berat badan
 d. Disetiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama,
    tanggal lahir, nomor identifikasi. Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu
    harus di klip di catatan yang tidak mudah hilang. Sidik telapak kaki bayi
    harus dibuat oleh personil yang berpengalaman menerapkan cara ini, dan
    dibuat dalam catatan bayi. Bantalan sidik kaki harus disimpan dalam
    ruangan dengan suhu kamar. Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar
    kepala, lingkar dada dan catat dalam rekam medic


9. Pemberian ASI
        Rangsangan hisapan bayi pada puting susu akan diteruskan oleh
  serabut syaraf ke hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin.
  Prolaktin inilah yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI. Semakin
  bayi menghisap puting susu akan semakin banyak prolaktin dan ASI
  dikeluarkan. Produksi ASI akan optimal setelah hari ke 10-14 usia bayi.
  Bayi sehat akan mengkonsumsi 700-800 ml ASI perhari untuk tumbuh
  kembang bayi. Produksi ASI mulai turun 500-600 ml setiap enam bulan
  pertama dan menjadi 300-500 ml pada tahun kedua usia anak.
        Pastikan bahwa pemberian ASI mulai dalam waktu 30 menit setelah
  bayi lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk dan mencoba untuk menyusui bayi
  setelah tali pusat diklem dan dipotong.
a. Pemberian ASI memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
  1) Memulai pemberian ASI secara dini akan merangsang produksi ASI.
  2) Memperkuat refleks menghisap (refleks menghisap awal pada bayi
     paling kuat pada beberapa jam pertama setelah lahir)
  3) Memulai pemberian ASI secara dini akan memberikan pengaruh yang
     positif bagi kesehatan bayi.
  4) Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan bayi.
  5) Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui colostrum.
  6) Merangsang kontraksi uterus.
b. Pedoman Umum untuk Ibu saat Menyusui
  1) Mulai menyusui segera setelah bayi lahir dalam 30 menit pertama.
  2) Jangan memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi
     (misalnya air, madu, larutan gula atau pengganti susu ibu kecuali pada
     indikasi yang jelas atas alasan-alasan mereka).
  3) Jarang sekali para ibu cukup memiliki ASI sehingga membutuhkan
     asupan susu buatan tambahan
  4) Berikan ASI saja selama enam bulan pertama kehidupannya.
  5) Berikan ASI kepada bayi sesuai dengan kebutuhannya, baik siang
     maupun malam (delapan kali atau lebih dalam 24 jam) selain bayi
     menginginkannya.
c. Refleks Laktasi
        Terdapat dua mekanisme refleks laktasi pada ibu yaitu refleks
  prolaktin don refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan
  involutio uteri. Pada bayi terdapat tiga jenis refleks, yaitu:
  1) Refleks Mencari Puting Susu (rooting refleks)
           Rrefleks akan menoleh ke arah dimana terjadi sentuhan pada
     pipinya. Bayi akan membuka membuka mulutnya apabila bibirnya
     disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan
     tersebut.
  2) Refleks Menghisap (sucking refleks)
                Rangsangan puting susu pada langit-langit bayi menimbulkan
         refleks menghisap. Hisapan ini akan menyebabkan areola dan punting
         susu ibu tertekan gusi, lidah dan langit-langit bayi sehigga sinus
         laktiferus dibawah, areola dan ASI terpancar keluar

      3) Refleks Menelan (Swalowwing refleks)
                Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot-otot didaerah
         mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong
         ASI kedalam lambung bayi. (Asuhan Persalinan Normal, Revisi
         2007).


10. Pemantauan Bayi Lahir
         Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas
   bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir
   yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak
   lanjut petugas kesehatan.
         Dua jam Pertama Setelah Lahir
   Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah lahir
   meliputi:
   a. Kemampuan menghisap kuat atau lemah
   b. Bayi tampak aktif atau lunglai
   c. Bayi kemerahan atau biru
         Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya,
   penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada
   atau tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut seperti :
   a. Bayi kecil untuk masa kehamilan bayi kurang bulan
   b. Gangguan pernapasan
   c. Hipotermia
   d. Infeksi
   e. Cacat bawaan dan trauma lahir
C. Pengukuran Rutin Bayi Baru Lahir
        Pengukuran rutin bayi baru lahir nenurut Maryunani dan Nurhayati
  (2008), yaitu :


  1. Berat badan
           Berat badan pada bayi cukup bulan normalnya 2500-4000 gram.
     Timbang berat badan bayi segera setelah lahir karena dapat terjadi
     penurunan berat badan secara cepat.


  2. Panjang badan
           Panjang badan diukur dari puncak kepala sampai tumit pada bayi
     cukup bulan normalnya 48-53 cm. terkadang agak sulit dilakukan pada bayi
     cukup karena adanya molase, ekstensi lutut tidak sempurna. Bila panjang
     badan kurang dari 45 cm atau lebih dari 55 cm perlu dicermati adanya
     penyimpangan kromosom.


  3. Lingkar kepala
           Lingkar kepala diukur dangan meteran, mulai dari bagian depan
     kepala (diatas alis atau area frontal) dan. area occipital dusebut
     oksipitofrontalis yang merupakan diameter terbesar. Lingkar kepala
     normalnya 31-35,5 cm pada bayi cukup bulan.


  4. Lingkar dada
           Lingkar dada pada bayi cukup bulan normalnya 30,5-33 cm. sekitar 2
     cm lebih kecil dari lingkar kepala. Pengukuran dilakukan tepat pada garis
     bawah dada. Bila panjang badan kurang dari 30 cm perlu dicurigai adanya
     premature.


D. Pemeriksaan Pada Bayi
        Menurut Saifuddin (2006), lakukan pemeriksaan fisik yang lengkap
  ketika memeriksa bayi baru lahir dan ingat butir-butir penting berikut
1. Gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan
  bertindak lembut pada saat menangani bayi
3. Lihat, dengarkan dan rasakan tiap-tiap daerah, dimulai dari kepala dan
  berlanjut secara sistematis menuju jari kaki
4. Jika ditemukan faktor resiko atau masalah, carilah bantuan lebih lanjut yang
  memang diperlukan
5. Rekam hasil pengamatan dan tiap tindakan jika diperlukan bantuan lebih
  lanjut
6. Pemeriksaan fisik pada Bayi
           Sebelum melakukan pemeriksaan fisik BBL, ada beberapa hal yang
  perlu diperhatikan, antara lain :

  a. Bayi sebaiknya dalam keadaaan telanjang di bawah lampu terang
     sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas atau lepaskan pakaian pada
     daerah yang diperiksa
  b. Lakukan prosedur secara berurutan dari kepala dan kaki atau lakukan
     prosedur yang memerlukan observasi ketat lebih dahulu, seperti paru,
     jantung dan abdomen.
  c. Lakukan prosedur yang mengganggu bayi seperti pemeriksaan refleks
     pada tahap akhir
  d. Bicara lembut, pegang tangan bayi di atas dadanya atau lainnya

           Hal-hal yang Akan Diperiksa
  a. Penampilan secara umum
             Yang dinilai penampilan secara umum adalah seperti tangisan bayi,
     ukuran tubuh bayi apakah kecil, besar atau kurus
  b. Tanda-tanda fisik
     1) Tingkat pernapasan
                Bayi yang baru lahir umumnya bernapas antara 30-60 x/menit,
           dihitung selama satu menit penuh dengan mengamati naik turun
           perutnya, bayi dalam keadaan tenang.
2) Detak jantung
           Jantung BBL normalnya berdetak antara 120-160 x/menit
  dengan menggunakan stetoskop dapat didengar dengan jelas di
  telinga.
3) Suhu tubuh
           Suhu tubuh BBL normalnya 36,5-37,5°C diukur di daerah ketiak
  bayi selama 15 menit dengan menggunakan thermometer.
4) Kepala
           Lakukan inspeksi daerah kepala, lihat apakah ada molase, Caput
  succadenum dan chepal hematoma, perdarahan atau kelainan lainnya.
5) Telinga
           Untuk memeriksa telinga bayi tataplah mukanya. Bayangkan
  sebuah garis melintas kedua matanya, normalnya beberapa bagian
  telinga harus berada di garis ini.
6) Mata
           Lihat kedua mata bayi apakah kedua mata tampak normal dan
  apakah bergerak bersama, lakukan pemeriksaan dengan melakukan
  penyinaran pada pupil bayi. Jika disinari, kedua mata mengecil berarti
  dalam keadaan normal. Selanjutnya lihat sclera dan konjungtivanya
7) Hidung dan mulut
           Pertama yang kita lihat apakah bayi dapat bernapas dengan
  lancar tanpa hambatan, kemudian lakukan pemeriksaan pada bibir dan
  langit-langit dengan cara menekan sedikit pipi bayi untuk membuka
  mulut bayi kemudian masukkan jari tangan anda untuk merasakan
  hisapan bayi.
8) Leher

           Periksa leher apakah ada pembengkakan dan benjolan. Pastikan
  untuk melihat apakah kelenjar thyroid bengkak, hal ini merupakan
  suatu masalah pada BBL.

9) Dada
             Yang diperiksa adalah bentuk dari dada, puting, bunyi napas dan
    bunyi jantung.
10) Bahu, lengan dan tangan
             Yang dilakukan adalah melihat gerakan bayi apakah aktif atau
    tidak kemudian menghitung jumlah jari.
11) Perut
             Pada perut yang diperhatikan adalah bentuk dari perut bayi,
    lingkar perut, penonjolan sekitar tali pusat ketika bayi menangis,
    perdarahan pada tali pusat, dinding perut lembek pada saat bayi tidak
    menangis dan benjolan yang terlihat pada perut bayi.
12) Alat kelamin
             Pada bayi laki-laki yang harus diperiksa adalah normalnya dua
    testis dalam skrotum kemudian apakah pada ujung penis terdapat
    lubang. Pada bayi perempuan yang harus diperiksa adalah normalnya
    labia mayora dan minora, pada vagina terdapat lubang, pada uretra
    terdapat lubang dan terdapat klitoris
13) Pinggul
             Untuk pemeriksaan pinggul peganglah tungkai kaki bayi. Tekan
    pangkal paha dengan lembut ke sisi luar, dengarkan dan rasakan
    adakah bunyi "klik" ketika menggerakkan kaki bayi. Bila terdengar
    bunyi "klik", laporkan dokter.
14) Kulit
             Pada kulit yang perlu diperhatikan adalah verniks, warna,
    pembengkakan atau bercak-bercak hitam dan kemerahan seperti tanda
    lahir.
15) Punggung dan anus
             Lihat punggung apakah terdapat kelainan atau benjolan, apakah
    anus berlubang atau tidak.
16) Tungkai dan kaki
             Yang perlu diperiksa adalah gerakan kaki, bentuk simetris kaki,
    panjang kedua kaki dan jumlah jari pada kaki
                                   BAB III
                                  PENUTUP



A. Kesimpulan
       Peran bidan pada bayi sehat sangatlah penting terutama melakukan
  asuhan pada bayi baru lahir.
  1. Asuhan pada bayi baru lahir selama jam pertama setelah kelahiran.
     a. Penanganan bayi baru lahir meliputi :
       1) Pencegahan infeksi
       2) Penilaian awal,
       3) Membersihkan jalan napas,
       4) Memotong dan merawat tali pusat,
       5) Mempertahankan suhu tubuh bayi,
       6) Memberi vitamin K,
       7) Memberi obat tetes atau salep mata,
       8) Identifikasi bayi,
       9) Pemberian ASI,
      10) Pemantauan bayi lahir
     b. Pengukuran Rutin Bayi Baru Lahir
       1) Berat badan
       2) Panjang badan
       3) Lingkar kepala
       4) Lingkar dada
     c. Pemeriksaan Fisik Pada Bayi
       1) Tingkat pernapasan
       2) Detak jantung
       3) Suhu tubuh
       4) Kepala
       5) Telinga
       6) Mata
       7) Hidung dan mulut
8) Leher
9) Dada
10) Bahu, lengan dan tangan
11) Perut
12) Alat kelamin
13) Pinggul
14) Kulit
15) Punggung dan anus
16) Tungkai dan kaki
B. Saran
  1. Diharapkan bidan dapat melakukan perannya dengan baik serta teliti
     terutama dalam melakukan asuhan pada bayi baru lahir
  2. Hendaknya ada peran aktif dari pemerintah untuk memberikan pendidikan
     kepada bidan untuk mengembangkan ilmunya
  3. Bidan juga dapat mengikutsertakan peran keluarga terutama ibu dalam
     melakukan pemantauan bayinya
  4. Dalam melakukan perannya bidan dapat memberikan pendidikkan dan
     pengetahuan kepada ibu terutama dalam pemberian ASI
  5. Diharapkan dalam mewujudkan peranannya bidan mempunyai kemampuan
     yang kompeten terutama dalam asuhannya kepada bayi baru lahir

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:32
posted:1/19/2013
language:
pages:19