Docstoc

Cerpen - Laut seperti Pita Biru

Document Sample
Cerpen - Laut seperti Pita Biru Powered By Docstoc
					                                                                   Minggu, 21 April 2002

                        LAUT SEPERTI PITA BIRU
                                  Cerpen: Wildan Yatim

PADA kedua sisi jalan berderet teratur kelapa sawit. Kadang kelapa sawit itu diseling
dengan rumah penduduk yang berdinding papan dan beratap seng. Waktu lain mobil lewat
pundak bukit yang ditumbuhi semak belukar atau padang lalang. Sebelah kiri jalan, dekat-
dekat di atas rimbunan pohon hutan dan di balik unggukan embun, samar-samar tampak
membiru Gunung Pasaman.

Beberapa kali mobil berpapasan dengan truk besar yang baknya penuh buah sawit atau
truk tanki berisi minyak kasar. Sesekali lain kami melewati petani bersepeda. Din
membawa mobil menyimpang ke jalan tanah, lalu berhenti di depan sebuah dangau.
Sekeliling bertebar kelapa sawit yang batangnya baru beberapa puluh senti dari tanah.

”Sudah berbuahkah sawitmu ini?"

"Yang dekat sini belum. Tapi yang di dalam sana sudah panen pertama bulan lalu."

"Wah, sebentar lagi kau jadi kaya!"

"Sulit sekali bagi orang macam kita yang hanya punya satu-dua hektar. Buah masuk
pabrik dan pemasaran minyak ditentukan oleh toke-toke yang punya kebun ribuan hektar.
Banyak petani yang membawa buah sawitnya ke pabrik harus menunggu giliran berhari-
hari agar dapat diproses. Alasannya buah sawit mereka sendiri masih bertimbun. Tak
sedikit yang membawa truknya kembali lalu membuang isinya ke bawah jembatan."

"Kenapa tidak diusulkan kepada pemerintah agar dibangun pabrik baru untuk menampung
kebutuhan kalian petani plasma?"

"Permainan orang kapitalis itu semua, Bang. Yang menyedihkan kapitalisnya itu ada dari
negeri jiran. Ayo kita terus."

Din melekatkan kaca mata hitam. Tampak matahari menyorot miring dari balik daham
belinjo. Mobil bergerak pula. Kini kami lewat jalan yang di masa darurat beberapa kali aku
lewati jalan kaki bersama Ayah atau teman untuk sekolah di Talu. Jalan ini disebut "Lebuh
Lurus", karena lurus saja sepanjang lima km. Pada kedua sisi jalan berderet kapuk
dengan mangkuk isolasi kawat telepon. Di balik deretan kapuk terbentang kebun jeruk
yang luas, buahnya yang kekuningan bertebar di celah daunan. Di pinggir jalan antara
sebentar tampak dangau beratap lalang, dan pada meja yang terbikin dari bambu
teronggok buah jeruk. Sesewaktu ada mobil berhenti di salah satu dangau itu dan orang
berkerumun belanja.

"Kau coba dulu jeruk sini, dan rasakan manisnya." Din menepikan mobil di depan sebuah
dangau. Ia menawar, penjual menimbang dan memasukkannya ke kantung plastik. Lalu
kami duduk makan jeruk di bangku panjang yang terbuat dari bambu.

"Inilah yang disebut jeruk Pasaman. Jeruk sini dipasarkan sampai ke Padang, Bukit
Tinggi, Sidempuan, dan Medan."

Agak di kedalaman pohonan tampak rumah pemilik kebun yang dikapur putih, bingkai
pintu serta jendela dicat merah, dan atap sengnya memantulkan cahaya matahari. Din
mengajak berangkat pula sambil kami terus makan jeruk. Kaca mata hitamnya dilekatkan,
menunjuk.
"Di sana ada jalan ke dalam. Beberapa puluh meter dari situ tinggal Kak Salmah. Ingat
siapa dia? Boru Mak Suki 'kan?"

"Punya kebun jeruk juga dia?"

"Punya sedikit. Beberapa tahun setelah suami pertama meninggal ia kawin lagi dengan
orang sini. Kurang jelas kenapa bisa berkenalan dan tinggal di sini. Suaminya penjahit."

"Berapa anaknya sekarang?"

"Dengan yang pertama dua, dengan yang sekarang juga dua."

Teringat ketika masih duduk di kelas 5 di Ujung Gading aku dengar dari Mak Suki bahwa
Salmah sudah kawin dengan anak mamak sendiri yang bernama Burhan. Orangtua
suaminya berlepau dekat pasar.

"Mak Suki sendiri di mana sekarang?"

"Nanti kutunjukkan."

Salmah lebih tua dari aku lima tahun. Waktu aku duduk di kelas tiga dan mau
menyambung sekolah ke Ujung Gading ia sudah remaja. Aku sering datang ke rumahnya,
dan jika ia menyuruh mengambil sesuatu aku senang sekali. Sekali aku pulang kehujanan.
Ia berteriak, lalu cepat-cepat melap muka dan kepalaku dengan anduk. Jika ia menumbuk
padi dan menampi, tak puas-puasnya aku memperhatikan hidungnya yang bangir, rambut
perunggunya yang dijalin dua hingga di pinggang, dan mulutnya yang melengkung indah.

Jika ia merasa diperhatikan, ia akan bilang, "Kenapa kau perhatikan terus aku, Tam!"

Bagaimanakah tampangnya sekarang? Tentulah tetap cantik. Sayang orang secantik itu
jadi istri penjahit!

Di suatu simpangan mobil membelok ke jalan lebih kecil. Meski lebih kecil tapi jalan itu
diaspal tebal dan rapi. Itulah jalan menuju desaku. Jalan lebih lebar ke kanan menuju
Ujung Gading, lalu terus ke perbatasan Tapanuli. Beberapa puluh km dari sana terdapat
Kota Natal.Kini mobil berjalan lebih pelan menerobos celah hutan rimba. Dekat-dekat di
kanan jalan menjulang bukit barisan dan ketika mobil lewat di persawahan tampak
Gunung Tuleh membiru.

Din menepikan mobil di belakang sepasang suami-istri yang mau menyimpang menuju
sebuah pondok. Padi di persawahan sini tampaknya sedang berisi. Si suami bertopi
pandan, si istri menekukkan kain panjang di kepala sebagai ganti topi. Mereka membalik.
Si suami menurunkan pacul dari bahu dan membuka topi.

"Bo ro ho?" kata si istri dalam bahasa Mandailing.

"Ise don?" Mereka menatap aku yang mengikuti Din mendekat.

"Ini Bang Tamrin," kata Din

"Bo! Dot ko? La ilaha illallah!" tukas si suami.

“Orang Bandung masih ingat rupanya kampung kita!" Kami bersalam-salaman."Berapa
hari di sini?" tanya si istri.

"Besok kembali."

"Kenapa sebentar?" kata si istri sambil mengusapi tanganku.
Din mengajak ikut pulang ke desa, tapi mereka bilang mau sembahyang lohor dulu di
pondok. Kami pun kembali masuk mobil dan melambai. Teringat si suami yang kami
salami tadi di masa Jepang pernah agak miring akibat ditempeleng Kempei Jepang. Ia
berkeliaran dari desa ke desa sambil menyandang buntil jaring pakaian, persis seperti
buntil laskar Gyugun. Persis seperti buntil Gyugun, buntilnya juga berisi sepatu lars,
senter, buku notes, dan potlot pendek.

Ada anaknya yang sebaya dengan aku yang jadi selapik seketiduran kalau aku pulang
libur. Aku pun leluasa membongkar simpanan buku dan majalah bapaknya. Bapaknya
seniman. Ia pernah menulis buku roman dan sudah dikirim ke penerbit di Medan. Belum
sempat terbit tentara Jepang masuk.

Aku respek padanya, dan ketika senewennya kambuh dan anak-anak lain bersembunyi
jika ia datang, aku sendiri yang berani menyapanya dan mengajaknya bercakap-cakap.
Dia pintar pidato, kata orang ia bakal jadi saingan berat Ir Sukarno kelak jika negeri ini
merdeka seperti dijanjikan Jepang. Ketika jadi juga merdeka, sayang ia tidak kemana-
mana. Ia hanya jadi pegawai jawatan penerangan di Padang.

Mungkin betul akibat tempelengan Kempei dulu ada satu sektor sirkuit sarat dalam
otaknya yang korsluit, sehingga ia kurang bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan.Tiba di
desa mobil langsung dibawa Din menuju rumah kami di lembah. Ibu rupanya baru
mengambil kayu api ke kebun para. Ia mengusapi keringat yang mengucur di kepala dan
leher. Kata Ibu, Ayah sedang bekerja di sawah. Din bilang kami akan balik besok pagi,
dan habis makan kami akan terus menjenguk Mak Panto di Solo Godang.

Mak Panto adalah adik Ibu. Ketika baru diajak makan, tampaknya seperti dapat firasat,
Ayah pulang dari sawah. Tampak segar dia habis mandi dan sembahyang lohor. Aku
memeluknya rapat-rapat. Terasa kini ia lebih rendah dari aku. Masa kecil dan tinggal di
desa atau di huma dengan dia, menurut perasaanku ia orang berbadan tinggi dan tegap.
Sekarang tampak ia jadi kecil dan kurus.

Kami makan berempat di meja dapur. Bulu hitam yang lebat masih memenuhi punggung
tangannya. Kumis dan berewoknya sudah berhari-hari tak dicukur, dan uban memutih di
sana-sini. Ia sudah pensiun sebagai guru SD, tapi masih mengajar satu mata pelajaran di
Ibtidaiyah. Teringat masa kecil sekitar rumah kami banyak rumah pondok yang dihuni
murid Ayah. Di masa Belanda kudengar ia sudah mengajarkan lagu Indonesia Raya
dalam bahasa Arab. Ketika suatu malam Ayah akan membuka rapat organisasi Kepala
Negeri datang menyuruh batalkan. Pemerintah takut Ayah dapat mengganggu
ketenteraman. Ayah punya banyak buku dan majalah, sebagian besar sudah aku baca.
Yang sisa hanya buku dan majalah dalam bahasa Arab dan Belanda. Aku lihat isi lemari-
lemarinya kini tinggal yang berbahasa Arab dan sudah pada lapuk. Tentulah semua buku
dan majalah yang berbahasa Melayu sudah habis dipinjami dan tidak dikembalikan.

Sebelum berangkat aku pergi ke belakang rumah. Cepat-cepat aku coba raup kembali
masa kecil ketika tinggal bersama ayah-ibu dan adik-adik di kampung-halaman. Dari
bawah pohon kepundung tampak terbentang sawah. Pada berbagai tempat di tengah
persawahan itu ada tumpukan pohon dan dangau menyembul dari situ. Gunung Tuleh
menjulang dekat-dekat, dan batang pohon menyembul memutih di celah kehijauan.

Terdengar suara dendang kawanan siamang, dilatari oleh desah sungai yang kadang
keras kadang pelan dibawa angin. Suara itulah dulu tiap hari menemani aku jika sedang
berada di sini. Di kebun samping rumah tidak begitu banyak yang berubah. Pohon sirsak,
nangka, dan salak, masih yang dulu, dan tidak begitu banyak lebih tinggi dari masa aku
kecil.Aku kembali ke depan. Rupanya Ayah ikut ke mudik. Aku persilakan dia duduk di
sebelah Din.

Tampak kasar jemari ayah. Kukunya tebal dan ujungnya kehitaman karena sering
kemasukan lumpur. Kain sarung disampirkan di bahu. Ingat ketika Ayah dan Ibu datang ke
Bandung dua tahun lalu Ibu ada menyiratkan alangkah bagus jika bisa naik haji sebelum
terlalu tua. Siratan itu tentu untuk mengharapkan bantuanku sebagai anak sulung, sebagai
anak yang paling banyak dan paling lama dikirimi uang sekolah ke rantau, dan sebagai
anak yang kini sudah jadi pegawai tinggi pula. Mereka tak mengerti kenapa pegawai tinggi
di negeri ini selalu bergaji rendah.

Tiba di jalan besar ada beberapa orang tua duduk mencangkung mengobrol di bangku
panjang depan rumah, dan ketika melihat Din mereka melambai. Sesewaktu mobil
ditepikan, kami turun, dan menyalami orang-orang.

"Sedang di sini rupanya beliau, Labai," kata mereka, sambil melihat aku yang berdiri di
samping Ayah.Beberapa lama mobil lewat kebun para, pada beberapa tempat merimbun
pohon kejai.

Kejai adalah sejenis beringin. Sebelum para, kejai ini dikebunkan penduduk sebagai
sumber karet. Sebelum kejai sebetulnya ada sumber karet lain, yaitu perca. Bibit ketiga
jenis pohon berlateks ini konon dibawa orang Belanda dari Amerika Selatan. Kebun para
itu tampak sudah pada tua, karena bendar-bendar sadapan getahnya sudah dekat ke
tanah. Rupanya penduduk sedang bimbang untuk meremajakan atau menggantinya
dengan kelapa sawit. Kasihan kebun para itu. Mungkin karena sejak kecil aku sudah biasa
bergaul dengan mereka, sayang rasanya jika itu digantikan kelapa sawit. Di hilir tadi,
sekitar 30 km dari desa sawit itu sudah diperkebunkan sejak masa Belanda, dan
pekerjanya didatangkan dari Jawa. Aku juga pernah melihatnya sepanjang pinggir jalan
antara Medan dan Prapat. Aku belum pernah dengar ada penduduk Sumatra yang bisa
kaya oleh kebun sawit.

Beda sekali dengan kebun para, yang di masa Belanda hampir semua membuat rakyat
makmur. Apalagi di musim kupon karet dibuka, kebanyakan petani karet dapat uang
banyak. Waktu pasar kupon itu banyak mobil mewah datang ke desa, dan para petani
saling menraktir membelikan kacang goreng atau kue bagi anak-anak yang berkerumun.
Tapi kelapa sawit, aku belum pernah dengar ada petani yang jadi hidup senang, apalagi
jadi kaya. Dalam hati aku berharap agar kebun para itu tidak akan digantikan kebun sawit,
dan pohon kejainya tetaplah menjulang meneduhi alam desa.

Sekitar seperempat jam meninggalkan desa Din menunjuk ke kiri. "Nanti pulangnya kita
mampir beli durian," katanya.

Sepuluh menit kemudian sampailah kami di kampung Mak Panto. Rumahnya bertiang
tinggi, lantai dan dinding dari papan, dan atapnya seng. Buru-buru tikar dibentangkan, dan
Mamak diberi baju bersih, lalu dibawa duduk di ujung tikar.

"Ini Tam datang, Mak! Ayah kami juga ikut," kata Din.

Kami pun menyalami dia, istri, dan tiga orang anaknya yang sudah pada beristri. Uci, istri
mamak, bilang anaknya yang sulung tinggal di kampung lain. Aku mendengar Mak Panto
kini jadi rabun ketika aku baru tiba di Padang untuk menghadiri kongres. Sambil pulang
menengok orangtua kuajak Din menengok mamak sebentar. Jalan adik yang jadi dokter di
kota itu pun meminjamkan mobilnya. Aku ingat Mamak berjasa besar bagiku pribadi,
karena malaikat pernah masuk kedalam tubuhnya untuk menolong aku yang sedang
dilanda lapar.

Waktu itu kedua orangtua dan saudara-saudara sedang mengungsi ke gunung dengan
berhuma. Aku sendiri saja yang tinggal di desa sepanjang bulan, karena sedang sekolah.
Meski umurnya enam tahun lebih tua, tapi aku suka dibawanya bepergian ke mana-mana.
Jaga durian waktu malam, main domino di lepau, dan mencari buah manggis, duku, atau
ringkanang ke hutan. Badannya besar dan tinggi, berkulit kuning seperti Ibu. Waktu
Jepang pernah dipanggil masuk tentara Heiho. Entah kenapa baru sekitar dua bulan pergi
ia sudah kembali lagi. Kata Jepang matanya kurang bagus untuk dilatih pergi berperang.
Kini kuperhatikan matanya yang menatap kosong. Selaput beningnya ditutupi lapisan
berlemak, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut pterygium. Jika dioperasi di Medan kata
mereka matanya bisa melihat lagi. Tapi mereka tidak punya biaya, dan aku yang pernah
diselamatkan jiwanya olehnya tidak bisa membantu. Kurangkul dia, matanya berkaca-
kaca, lalu kuselitkan selembar sepuluh ribuan ke tangannya. Ketika uci bilang supaya
masak nasi dulu, kubilang tak usah. Lalu kami pamit.Di tempat yang ditunjuk Din tadi
mobil pun ditepikan.

Kami melangkah pada jalan setapak yang kedua sisinya berpagar. Di balik pagar
menjulang rumpun jagung yang sedang berbuah muda. Rambut buahnya berjuraian
seperti rambut perempuan Belanda. Di balik kebun ada sebatang pohon durian, dan
buahnya bergelantungan. Waktu kecil aku ingat pohon itu masih rendah. Kini sudah tinggi
sekali dan batangnya besar. Kami disongsong seorang bapak yang umurnya lebih muda
beberapa tahun dari Ayah. Ia tidak berbaju, hanya memakai celana sontok yang lusuh.

Setelah menyalam Din dan Ayah, ia tertegun menatapku. "Bo ro ho?"

Baru ingat bahwa dia tak lain tak bukan adalah Mak Suki, panggilan sehari-hari Mamak
Marzuki. Aku terkejut, ia juga terkejut dan agak tersipu. Aku menyalami, badannya kutarik
lalu kupeluk. Ia menepuki punggungku. Istrinya datang dan menyalami pula. Segera
teringat Salmah yang jadi istri penjahit di kebun jeruk. Mak Suki bergegas naik pondok lalu
keluar dengan baju bersih dan bersarung. Gigi mamak dan uci sudah banyak yang
tanggal. Aku berharap gigi Salmah belum begitu.

"Berapa lama di kampung? Besok kembali ke Padang? Lalu terus pulang ke Jawa? Uh,
janganlah ikut-ikutan terburu dengan Din. Ia sendiri hampir tiap bulan datang ke sini. Tapi
Mamak antara beberapa tahun baru bisa pulang. Sudah ada lima tahun kan? Tinggallah
beberapa hari di sini!"

Mak Suki membuka dua durian sekaligus. Kami duduk di bangku panjang di depan
pondok. Rupanya di pondok itulah Mak Suki tinggal. Semua anaknya tinggal di hilir, dan
hanya berdua dengan uci tinggal di sini. Kami pun makan durian. Inilah jenis durian yang
berdaging tebal, kuning, dan lezat. Tiap membuka satu ruang tampak deretan bijinya
seperti anak tikus tidur.

Di tempat duduk mendadak aku terpana ketika memandang ke barat. Di sana tampak laut
seperti pita biru di atas kehijauan hutan. Sesekali angin menderu di pucuk pohon para,
dan mendesah lebar di lembah. Ada tekukur berteguran jauh di tengah hutan sana. Aku
merenungi laut itu sambil mulutku mengecap-ngecap. Dari sini sampai ke tepi laut berjejer
bukit yang makin jauh makan rendah, seolah semua itu bisa ditempuh dengan melangkah
panjang-panjang dan beberapa puluh menit akan tibalah di sana. Kini aku pun sadar
bahwa itulah pelukisan lanskap ilahi, bahwa perjalanan hidup seseorang kebanyakan tak
sesuai dengan harapan. Laut itu sendiri adalah ujung rantau yang mengendapkan onggok
hasrat tak sampai.Selesai makan duren kami pun pamit dan kuulurkan uang Rp 5.000.
Mak Suki menolak dengan menggeleng-geleng berat. Uang itu aku letakkan di bangku
panjang.

"Itulah ganjaran orang yang suka judi dan banyak utang," kata Din, lalu melekatkan kaca
mata hitam.

Ayah diam saja.

"Rumah besar di hilir dijual, dari saudagar kain kaya jadi petani jagung miskin."

Teringat jika datang berpekan ke Ujung Gading dan menyampaikan uang belanja
mingguan dari Ayah, ia selalu menambahnya beberapa rupiah. Sebagai layaknya kaya
aku lihat ia selalu muncul dengan sepatu mengkilat, sisiran klemis, dan bicara riang.Dari
jendela mobil aku masih sempat melihat sekali lagi laut yang seperti pita biru di barat. Di
atas pita biru itu awan kini seperti corat-coretan potlot merah jingga.***

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:26
posted:1/18/2013
language:Unknown
pages:5
Description: Cerita pendek dengan judul : Laut seperti Pita Biru