Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

KOMUNIKASI ISLAM

VIEWS: 50 PAGES: 11

									                              PENDAHULUAN
       Komunikasi Islam dalam tataran ilmu masih
menyisakan pertanyaan:
1.Apakah ilmu komunikasi Islam sama dengan Ilmu
Dakwah?
2.Apakah    ilmu    komunikasi   Islam    hendak
mengislamisasikan ilmu komunikasi umum?
3.Apakah ilmu komunikasi Islam ingin dibangun
dengan kerangka keilmuannya sendiri?
Pertanyaan di atas memunculkan 3 approach dalam
  membangun “Ilmu Komunikasi Islam”:
1. Pandangan yang menyebutkan bahwa komunikasi
   Islam sama dengan Ilmu Dakwah.
2. Pandangan yang menginginkan bahwa karena
   komunikasi umum sudah mapan, maka ilmu
   komunikasi itu sajalah yang diupayakan mendapat
   proses Islamisasi.
3. Pandangan yang mengharapkan bahwa ilmu
   komunikasi Islam dapat berdiri sendiri, dan Dakwah
   sebagai bagian daripadanya.
Faktor-faktor penghambat
pengembangan ilmu komunikasi
Islam:
      Pertama, diskusi yang berkepanjangan
 tentang posisi ilmu komunikasi Islam itu sendiri,
 apakah sama dengan dakwah, atau proses
 Islamisasi, ataukah mencari jati dirinya sendiri.
 Bila posisinya saja tidak jelas, bagaimana mungkin
 beranjak kepada hal-hal lain seperti pencarian
 atau penemuan teori-teorinya? Sebab semuanya
 saling terkait, bila ilmu komunikasi Islam
 disamakan dengan dakwah, maka di kalangan
 ilmuan Barat ia tidak bisa diterima karena bersifat
 emosional dan cenderung subjektif.
    Kedua, belum adanya kesatuan antara
pemikiran yang berkembang dengan
pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan.
Misalnya, permasalahan utama kesenjangan
pengaliran informasi antara Barat dengan dunia
Islam khususnya adalah karena penguasaaan
mereka terhadap infrastruktur pendukung
seperti kantor berita dan segala macam
kebutuhan untuk itu. Semestinya pengusaha-
pengusaha Muslim yang memiliki modal besar
mau menginvestasikan modalnya untuk
kepentingan tersebut dengan membuka kantor
berita dan segala perangkatnya sebagai
penyeimbang kantor berita barat sentris.
     Ketiga, kendala lainnya yang menjadi penghambat
pengembangan kerangka keilmuan komunikasi Islam
adalah masih dominannya pemahaman tentang
dikhotomi tentang ilmu, ada ilmu dunia dan ada ilmu
agama. Bahkan dikhotomi ini meninggalkan tuduhan
bahwa ilmu yang bersumber dari Barat adalah ilmu
dunia, sedangkan ilmu agama yang diakui itu harus
bersumber Timur Tengah (khususnya dari Universitas
Al-Azhar-Mesir dan sebagiannya dari Arab Saudi dan
sekitarnya). Oleh karena itu, pemikir Muslim yang
merupakan alumni-alumni dari Barat diyakini sebagian
besar masyarakat Muslim sebagai penyebar liberalisme
dan merupakan perpanjangan tangan kaum pluralis
dan westernis, bahkan pemikiran mereka cenderung
sekuler.
     Keempat, persoalan lain yang dapat
menghambat pengembangan keilmuan
komunikasi Islam adalah persoalan dana yang
tidak mendukung. Penelitian sebagai upaya
menemukan jati diri suatu ilmu tentu harus
didukung oleh dana yang cukup. Akan tetapi
hingga kini dana yang memadai untuk proyek
pengembangan keilmuan komunikasi Islam
melalui serangkaian penelitian yang
berkesinambungan sangat tidak menggiurkan.
Tentu saja ini menjadi hambatan yang sangat
serius. Seharusnya ada funding yang konsern
memberikan support bagi peneliti-peneliti atau
mahasiswa-mahasiswa yang bergelut di bidang
komunikasi Islam.
Faktor-faktor Pendukung pengembangan ilmu
komunikasi Islam, yaitu:
   Pertama, sudah muncul kesadaran bahwa ilmu
komunikasi konvensional syarat dengan pragmatis,
materialistik, dan kapitalis. Di kalangan ilmuwan
Muslim muncul minat untuk mengkaji ilmu
komunikasi Islam dengan segala keunggulannya.
   Kedua, dalam hal komunikasi massa, dunia Islam
mulai sadar bahwa penguasaan komunikasi dan
informasi sangat penting, sehingga perlu media-
media yang menjadi counter attack media massa
Barat.
Ketiga, dilihat dari sejarah Ilmu Komunikasi.
Pembabakan ilmu komunikasi konvensional
tidak memasukkan sejarah Islam sebagai
bagian dari pembabakan ilmu komunikasi
Islam. Ada rentang waktu yang sengaja
dihilangkan dalam pembabakan sejarah itu.
Padahal secara keilmuan justru pada masa itu
adalah masa keemasan ilmu pengetahuan
dalam Islam. Masa “the Golden Age” itu
menginspirasi kemajuan ilmu modern. Jadi,
ini satu peluang bagi fundamental ilmu
komunikasi Islam.
Keempat, kegalauan Ilmu Sosial
Sudah sejak lama ilmu sosial diindikasikan mengalami
masalah, sebab menghilangkan eksistensi manusia itu
sendiri yang homo religius. Alternatifnya adalah ilmu
sosial profetik, dengan landasannya adalah humanis,
liberasi, dan transendensi.
Bahkan era-posmodern mengarahkan ilmu-ilmu sosial
ke arah kepercayaan terhadap keterlibatan Tuhan
(transenden) di alam jagad raya ini (ada kekuatan lain
di luar kekuatan yang fisik, yakni metafisik).
Dalam sejarah ilmu keislaman, semua ilmu selalu
tergantung kepada hal-hal yang transenden, tidak ada
yang lepas begitu saja dari pengakuan keterlibatan
Tuhan. Tuhan adalah yang Maha ‘Alim.
    Kelima, pengkajian ilmu komunikasi
Islam di PT sudah dan sedang berlangsung.
Secara nasional pengkajian ilmu
komunikasi Islam sudah sejak lama
dikembangkan, di mana di arahkan ke ilmu
Dakwah. IAIN dan UIN sudah melakukan
pengkajian ilmu komunikasi Islam, bahkan
di IAIN-SU sejak tahun 2004 membuka
Prodi Komunikasi Islam untuk tingkat S2,
dan 2010 untuk S3.
SEKIAN & TERIMA KASIH

       WASSALAM…………….

								
To top