Post Freudian Theory The Father of Psychosocial Development

Document Sample
Post Freudian Theory The Father of Psychosocial Development Powered By Docstoc
					  Post Freudian Theory
The Father of Psychosocial
      Development
Erik Homburger Erikson
           Who is Erik Erikson?
 Lahir di Jerman selatan, 15 Juni 1902
 Dibesarkan olh ibu kandung & ayah tiri sepanjang
  hidup berusaha mencari jati diri ayah kandungnya
 Selama masa remaja mengembara jauh dr rumah +
  7th (berpetualang, menylidiki) pulang kerumah
  dlm kebingungan, kelelahan, depresi & tdk sanggup
  membuat sketsa/pun lukisan.
 Diliputi kebingungan identitas selama hidupnya.
 Masa sekolah masuk lingkungan yahudi ciri
  skandinavian, masuk sekolah umum dikatakan
  Yahudi.
 Sepanjang hidup kesulitan menerima diri apakah
  Yahudi /non Yahudi
         Siapa Erikson…….?
 Ibu meninggal saat erikson 58th msh ingin cari
  tahu ttg ayah kandungnya sampai 30th berikutnya
  saat sdh renta.
 Bentuk kebingungan identitas Erikson lainnya:
  Banyak menggunakan bhs Jerman yg dipakai saat
  muda & jarang berbahasa Inggris (bhs utamanya
  selama lbh dr 60th )
  Sepanjang hayat mempertahankan kedekatan dgn
  Denmark + orang2 dr negeri itu & menunjukkan
  rasa bangga memasang bendera Denmark dlm
  rumahnya negeri yg tdk pernah ditinggalinya
  sekalipun.
• Sempat bekerja dengan Anna Freud
  psikoanalisnya.
• Menikah dengan Joan Serson penari,
  seniman, orang Kanadaeditor & penulis
  pendamping buku2 Erikson
• Memiliki 4 anak Neil, syndrom down
  dirawat di institusi kejiwaan diceritakan
  meninggal.
• Punya pengalaman dibohongi
  orangtuamembohongi anak sendiri
  tertekan
              Pandangan Erikson
• Ego merupakan kekuatan positif yang menciptakan
  identitas diri pengertian ttg aku.
• Ego = pusat kepribadian membantu individu
  beradaptasi dgn beragam konflik & krisis kehidupan.
• Selama masa kanak2 ego lemah, fleksibel & rapuh
  masa remaja hrs mulai mengambil bentuk
  tertentu & memperoleh kekuatannya.
• Erikson “ego adl kemampuan pribadi untuk
  menyatukan pengalaman dan tindakan dengan cara
  yg adaptif”.
            Ada 3 aspek ego :
 Ego Tubuh (body ego) mengacu pd
  pengalaman 2 dgn tubuh kita, cara melihat dari
  fisik kita sbg hal yg berbeda dr milik orang lain.
  Puas /tidak dgn cara tubuh terlihat & berfungsi.
 Ideal Ego (ego ideal)  merepresentasikan imaji-
  imaji yg kita miliki tentang diri kita sendiri .
  Bertanggung jwb bagi rasa puas/tdk, bukan
  hanya berkaitan dgn fisik tp juga identitas
  personal kita.
 Identitas Ego (ego identity)  imaji yg kita miliki
  ttg diri kita di beragam peran sosial yg kita
  mainkan.
          Prinsip Epigenetik
 Ego berkembang di beragam tahap kehidupan
  menurut prinsip epigenetik.
 Satu tahap muncul dari dan dibangun diatas
  tahap sebelumnya namun tdk menghilangkan
  / menggantikan tahap sebelumnya.
 Ex: perkemb anak duduk, merangkak,
  berdiri, berjalan, berlari, melompat.
 Epigenesis berarti bahwa sebuah karakteristik
  berkembang di atas karakteristik lain dalam
  alur ruang dan waktu.
Erikson’s Psychosocial Development
  Age         Stage          Psychosocial           Psychosocial   Environmental
(Years)                         Crisis                Strength       Influence

  1           Infancy        Trust vs. Mistrust         Hope            Maternal

  2-3     Early childhood      Autonomy vs.           Willpower     Both parents or
                             Shame and Doubt                        adult substitutes

  4-5        Preschool       Initiative vs. Guilt     Purpose      Parents, family and
                                                                        friends

 6-11     Middle Childhood      Industry vs.         Competence          School
                                 Inferiority

 12-18      Adolescence      Identity vs. Role         Fidelity          Peers
                                confusion

 18-35    Young adulthood       Intimacy vs.            Love         Spouse, lover,
                                  Isolation                             friends

 35-65      Middle age        Generativity vs.          Care         Family, society
                               Stagnation

Over 65       Old age           Integrity vs.          Wisdom         All humans
                                  Despair
                 Tahap Psikososial
            Perkembangan Kepribadian
• 8 tahap berkelanjutan sepanjang hidup
• Menekankan pengaruh faktor biologis, social,
  situational, personal influence.
• Krisis: individu harus melakukan coping terhadap
  tugas perkembangan secara adaptif vs mal adaptif
   – Respond adaptively: meraih kekuatan yang
     diperlukan untuk tahap perkembangan
     selanjutnya
   – Respond maladaptively: kurang dapat
     beradaptasi dengan masalah-masalah tahap
     selanjutnya
• Basic strengths: karakteristik dan kepercayaan yang
  memotivasi yang berasal dari keberhasilan
  menyelesaikan krisis di setiap tahap
   Stage 1: Basic Trust vs. Mistrust
            Infancy Stages
• Oral Sensory
• Birth to age 1
• Totally dependent on othersBergantung pada
  orang lain untuk pemenuhan kebutuhannya (survival,
  security, affection)
• Lives through and loves with his mouth
• Caregiver meets needs: child develops trust
• Caregiver does not meet needs: child develops
  mistrust
• Basic strength: Hope
   – Belief our desires will be satisfied
   – Feeling of confidence
• Jika kepercayaan dasar kuat, anak memelihara sikap
  yang penuh harapan
   Kebutuhan secara konsisten dicukupi, menerima
  rangsangan dan cinta  berkembang rasa
  kepercayaan, tidak hanya pada pihak lain tetapi juga
  dalam dirinya

   Kebutuhan tidak dicukupi secara teratur,
  menerima cinta, rangsangan dan perhatian yang
  sedikit  perasaan ketidak-percayaan. anak mungkin
  menjadi takut-takut dan menarik diri  ia telah
  melepaskan harapan
   Stage 2: Autonomy vs. Shame and Doubt
            Early Childhood Stages

• Ages 1-3
• Child able to exercise some degree of choice
• Child’s independence is thwarted (dihalangi):
  child develops feelings of self-doubt, shame in
  dealing with others
• Basic Strength: Will
   – Determination to exercise freedom of
     choice in face of society’s demands
• Keberhasilan mengontrol tubuh  otonomi
  bangga
• Kegagalan mengontrol tubuh  malu-ragu
• Malu terjadi karena anak sangat self-conscious
  (peka terhadap penilaian orang lain) terhadap
  ekspose negatif
• Self-Doubt dapat meningkat jika orang tua
  sering mempermalukan anak
      Stage 3: Initiative vs. Guilt
           PreSchool Stage
• Ages 3-5
• Child expresses desire to take initiative in
  activities
• Parents punish child for initiative: child
  develops feelings of guilt that will affect self-
  directed activity throughout life
• Basic strength: Purpose
   – Courage to envision (bermimpi) and pursue goals
• Perkembangan : identifikasi peran sosial dari orang tua
  (oedipus kompleks  imajinasi anak),
  mengembangkan gerakan tubuh, keterampilan bahasa,
  rasa ingin tahu, imajinasi, kemampuan menentukan
  tujuan
• Perkembangan Anak: Prakarsa muncul dalam
  hubungan dengan tugas/aktivitas motorik dan
  intelektual
• Anak sudah belajar apa yang dilarang, tetapi ambisinya
  tidak terbatas shg menjadi agresif dan manipulatif
  untuk mencapai tujuan → timbul rasa bersalah
 Persaingan antar saudara kandung sering terjadi
 Basic strength : purpose
  anak bermain dengan tujuan, terutama
  permainan kompetisi dan mengejar kemenangan.
  Mereka menetapkan apa yang akan dicapai dan
  berusaha mencapainya dengan purpose
    Stage 4: Industriousness vs. Inferiority
           Middle Childhood Stage
 Ages 6-11
 Child develops cognitive abilities to enable in
  task completion (school work, play)
 Parents/teachers do not support child’s
  efforts: child develops feelings of inferiority
  and inadequacy
 Basic strength: Competence
  ◦ Exertion (menggunakan) of skill and
    intelligence in pursuing and completing tasks
 Dunia anak sangat luas, ditunjukkan dari pengaruh
  dan tekanan baru dari luar rumah
 Pengaruh orang tua tiba-tiba berkurang
 Pengalaman yang diterima anak di rumah dapat
  memberi warna yang besar bagi pengalamannya di
  lingkungan yang baru
 Anak sibuk membangun, menciptakan, dan mencapai
  sesuatu.
•   Industry/ketekunan: anak bersedia sibuk dengan satu
    kegiatan sampai selesai.
•   Anak usia belajar di sekolah, bekerja, dan bermain yang
    diarahkan untuk memperoleh ketrampilan kerja dan untuk
    mempelajari aturan kerjasama.
•   Menerima instruksi sistematis seperti dasar-dasar teknologi
•   Socially decisive age (usia penentu scr sosial)
•   Competency yang diperoleh melalui latihan kecakapan
    gerak dan kecerdasan untuk menyelesaikan tugas.
•   Bahaya: perasaan inferior dan kekurangan jika anak putus
    asa terhadap ketrampilan dan statusnya diantara teman
    sebayanya
    Stage 5: Identity vs. Role Confusion
             Adolescence Stage
• Ages 12-18
• Form ego identity: self-image
• Strong sense of identity: face adulthood with
  certainty and confidence
• Identity crisis: confusion of ego identity
• Basic strength: Fidelity (kesetiaan)
   – Emerges from cohesive ego identity
   – Sincerity (ketulusan, kesungguhan hati),
     genuineness (keaslian), sense of duty in
     relationships with others
 Berjuang untuk mengembangkan identitas diri
  (sense of inner sameness and continuity)
 Sangat memperhatikan penampilan, pemujaan
  idola, ideologi
 Mengembangkan identitas kelompok (peers)
 Bahaya: role confusion, keraguan tentang identitas
  seksual dan pekerjaan
 Psychosocial moratorium: suatu tahap antara
  kesusilaan yang dipelajari oleh anak dan etika yang
  dikembangkan oleh orang dewasa (waktu
  tertundanya peran dewasa)
• Sering menolak standar orang yang lebih tua dan
  memilih nilai-nilai kelompok
• Identitas positif adalah keputusan mengenai apa yang
  mereka ingini dan apa yang mereka yakini.
• Identitas negatif adalah apa yang tidak diingini dan
  tidak dipercayai.
• Kekuatan dasar adalah fidelity (kesetiaan) yaitu setia
  dalam beberapa pandangan ideologi atau visi masa
  depan, yakin bahwa agama, politik, idiologi sosial
  memberi standar tingkah laku konsisten
     Stage 6: Intimacy vs. Isolation
        Young Adulthood Stage
• Ages 18-35 (approximately)
• Undertake productive work and establish
  intimate relationships
• Inability to establish intimacy leads to social
  isolation
• Basic strength: Love
  – Mutual devotion (kesetiaan) in a shared identity
  – Fusing of oneself with another person
               Young Adulthood (18-35 tahun):
                   Intimacy vs Isolation
 Independen dari ortu dan sekolah
 Kerja produktif, menjalin hubungan intim (persahabatan-
  percintaan)
 Tuntutan: mampu menyesuaikan diri dengan identitas
  orang lain tanpa takut kehilangan identitas diri kita 
  intimacy
 Tidak mampu bekerja sama dengan orang lain melalui
  berbagai intimasi yang sebenarnya : isolation/alone
  karena fear of intimacy
 Krisis psikososial menyebabkan cinta yaitu adanya
  intimacy sekaligus isolasi karena masing2 boleh memiliki
  identitas yang terpisah
    Stage 7: Generativity vs. Stagnation
             Middle Age Stage
• Ages 35-55 (approximately)
• Generativity: Active involvement in
  teaching/guiding the next generation
• Stagnation involves not seeking outlets for
  generativity
• Basic strength: Care
  – Broad concern for others
  – Need to teach others
       Middle Adulthood (35-55 tahun):

 Stagnation, bosan, lemah : jika tidak berhasil
  membina generasi berikutnya  regresi ke tahap
  pseudointimacy (memanjakan dirinya sendiri
  seperti anak kecil)
 Care/kepedulian adalah perluasan komitmen
  untuk merawat orang lain, produk dan ide yang
  membutuhkan perhatian.
 Care bukan suatu tugas tetapi keinginan yang
  muncul secara alami dari konflik antara
  generativity dan stagnation
       Stage 8: Ego Integrity vs. Despair
                 Old Age Stage
•   Ages 55+
•   Evaluation of entire life
•   Integrity: Look back with satisfaction
•   Despair: Review with anger, frustration
•   Basic strength: Wisdom
     – Detached concern with the whole of life
 Time of reflection: melihat seluruh kehidupan yang
  telah dijalani
 Sense of fulfillment & satisfaction, menerima
  kemenangan & kekalahan hidup  ego integrity
 Sense of frustration/dendam, marah akan hilangnya
  kesempatan, menyesali kesalahan yang tidak dapat
  diperbaiki lagi  despair (if only……)
 Orang dengan kebijaksanaan yang matang, tetap
  mempertahankan integritasnya ketika kemampuan
  fisik dan mental menurun
• Stages 1-4
   – Largely determined by others (parents, teachers)
• Stages 5-8
   – Individual has more control over environment
   – Individual responsibility for crisis resolution in
     each stage
             Field of Research
 He studied groups of Aboriginal children to learn about
  the influence of society and culture on child
  development. From this, he developed a number of
  theories, the most famous being his psychosocial
  development.
 He believed that humans have to resolve different
  conflicts as they progress through each stage of
  development in the life cycle.
 Erikson’s theory consists of eight stages of
  development. Each stage is characterized by a different
  conflict that must be resolved by the individual. If a
  person is unable to resolve a conflict at a particular
  stage, they will be confront and struggle with it later in
  life.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:7
posted:1/18/2013
language:English
pages:30