Penanganan ADD, Autisme dan Perilaku Agresivitas by dayzone

VIEWS: 11,375 PAGES: 18

More Info
									ANAK DENGAN GANGGUAN ADD/ADHD, AUTISME, dan PERILAKU AGRESIF
Pengertian, Karakteristik, dan Penanganan

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Diagnosis dan Assesment Kesulitan Belajar PAUD

Disusun oleh :

Yadi Indrawan

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI............................................................................................. PENDAHULUAN .................................................................................... PEMBAHASAN ( ISI )............................................................................. A. Anak dengan Gangguan ADD/ADHD ...................................... 1. Pengertian .............................................................................. 2. Karakteristik .......................................................................... 3. Penanganan............................................................................ B. Anak dengan Gangguan Autisme.............................................. 1. Pengertian .............................................................................. 2. Karakteristik .......................................................................... 3. Penanganan............................................................................ C. Anak dengan Masalah Perilaku Agresif .................................... 1. Pengertian .............................................................................. 2. Penyebab dan Karakteristik................................................... 3. Penanganan............................................................................ KESIMPULAN ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... i 1 3 3 3 3 4 5 5 6 9 12 12 12 13 14 16

i

PENDAHULUAN

Anak merupakan sumber kebahagiaan dan penerus dari suatu keluarga bahkan ikut menentukan masa depan suatu bangsa. Setiap orang tua pasti berkeinginan untuk mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dan orang tua, juga ingin melihat anaknya tumbuh dan berkembang secara normal, selayaknya anak-anak seusianya. Orang tua juga berharap agar anaknya dapat membalas dan menyatakan rasa cinta kasihnya kepada orang tua. Baik melalui ciuman ataupun pelukan. Betatapun, seorang anak merupakan tumpuan harapan kedua orangtuanya, yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dan kelak dapat menjadi anak yang membanggakan bagi mereka. Namun apa yang terjadi, bila ternyata anak kesayangannya tidak berkembang seperti yang diharapkan? Bagaimana jika anak mengalami gangguan, baik kesehatan fisik dan atau mental psikologisnya? Jika hal seperti ini tidak di tangani dengan baik, maka bukan saja perkembangan anak akan terganggu, tetapi juga akan mempengaruhi kehidupannya di masa-masa mendatang. Karena itu masalah / gangguan apa pun yang dialamai oleh anak harus segera ditangani dengan sebaik-baiknya. Penanganan yang baik tentunya memerlukan pemahaman yang cukup mengenai jenis gangguan / masalah apa yang dialami oleh anak. Setidaknya orang tua dan atau guru (orang-orang terdekat dengan anak) harus bisa mendeteksi secara dini gejala-gejala yang menjadi ciri atau karakteristik dari gangguan /

1

masalah yang biasa dialami oleh anak. Untuk tujuan itulah kami menyusun makalah ini. Dalam makalah ini kami mencoba menyajikan dua macam gangguan yang mungkin dialami oleh anak, yaitu masalah ADD/ADHD dan gangguan autisme. Di dalam makalah yang singkat ini kami uraikan pengertian, karakteristik dan gejala, serta bagaimana cara penanganan terhadap kedua masalah atau gangguan tersebut. Di bagian akhir kami sertakan juga suatu kesimpulan.

2

PEMBAHASAN (ISI)

A. Anak dengan Gangguan ADD/ADDHD
1. Pengertian ADD adalah singkatan dari Attention Deficit Disorder atau dalam bahasa Indonesia berarti Gangguan Pemusatan Perhatian. ADHD merupakan singkatan dari Attention Deficit and Hyperactive Disorder, yang kalau di Indonesiakan berarti Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Kedua istilah tersebut (ADD/ADHD) merujuk kepada masalah perilaku anak yang berkaitan dengan gangguan pemusatan perhatian dan perilaku yang berlebihan atau sering diistilahkan dengan hiperaktif. Secara umum masalah yang dialami oleh anak dengan gangguan ADD/ADHD adalah pengendalian perilaku, fungsi pelaksanaan perilaku, pengaturan jadwal dan kesadaran akan waktu, serta perilaku yang menetap dalam mencapai tujuan. Timbulnya gangguan ADD/ADHD kemungkinan besar disebabkan karena adanya ketidakseimbangan neurotransmitter atau penghantar sinyal-sinyal saraf pada lobus frontal (salah satu bagian otak besar), ganglia basal, dan cerebellum (otak kecil).

2. Karakteristik Gejala utama dari gangguan ADD/ADHD ialah inattention (gangguan pemusatan perhatian), impulsif, dan hiperaktif. Perilaku lainnya yang juga

3

merupakan gejala dari ADD/ADHD adalah seperti : disorganisasi (tidak teratur), interaksi sosial atau pertemanan yang buruk, perilaku agresif, perilaku yang berbahaya, melamun, koordinasi motorik yang buruk, masalah daya ingat, dan pola pikir yang obsesif. Ciri utama anak yang mengalami gangguan ADD/ADHD bisa dilihat dari perilakunya, dimana biasanya anak mudah merasa frustasi, sering mengamuk, keras kepala, depresi, dan adanya penolakan dari teman bermainnya. Pada anak usia pra-sekolah (3 – 5 tahun), anak dengan gangguan ADD/ ADHD biasanya mulai menampilkan perilaku yang selalu bergerak, suasana hati (mood) yang mudah berubah, sering mengamuk, pola tidur yang tidak teratur, mudah frustasi, dan rentang perhatian yang singkat. Kebanyakan balita yang seperti ini biasanya juga mengalami masalah dalam kemampuan bahasa dan berbicara, serta ceroboh.

3. Penanganan Hal pertama dalam penanganan masalah ADD/ADHD adalah pendeteksian dini kemungkinan adanya gejala-gejala pada anak yang mengarah kepada ADD/ADHD. Hal ini menuntut sensitivitas dan kemampuan dari orang-orang terdekat (orang tua dan guru) untuk bisa mengamati dan mengenali apakah seorang anak menunjukkan ciri-ciri perilaku yang mengarah pada gangguan ADD/ADHD atau tidak. Jika ternyata ditemukan adanya perilaku atau gejala yang mengarah pada kemungkinan masalah ADD/ADHD, maka guru atau orang tua dapat melakukan

4

pemeriksaan lebih lanjut kepada dokter atau psikolog untuk memastikan apakah anak tersebut mengalami gangguan ADD/ADHD atau tidak. Secara umum, penangan terhadap masalah ADD/ADHD ini terdiri atas dua cara, yaitu secara medis (menggunakan obat-obatan) dan atau secara psikologis (dengan terapi tingkah laku). Untuk mengetahui penanganan yang seperti apa yang terbaik untuk anak tentunya harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dokter dan atau psikiater anak.

B. Anak dengan Gangguan Autisme
1. Pengertian Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang muncul di awal kehidupan seorang anak yang ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain, adanya masalah dalam berkomunikasi, dan adanya suatu pola tingkah laku tertentu atau kebutuhan untuk melakukan suatu aktivitas yang sama dan berulang. Gejala-gejala autisme sebenarnya sudah dapat dikenali tanda-tandanya sejak dini sewaktu anak masih bayi. Umunya gejala autisme sudah terlihat pada 30 bulan pertama dari kehidupan anak. Perbedaan yang jelas ditunjukkan oleh anak dengan gangguan autisme ketika ia berusia 4 bulan, dimana mereka tidak mampu melakukan kontak mata dengan orang lain. Namun biasanya orang tua baru menyadari adanya “kelainan” ketika anak sudah berusia 2 tahun, saat anak mulai dapat berkomunikasi dengan orang lain, dan anak-anak dengan gangguan autisme mengalami keterlambatan dalm hal ini.

5

2. Karateristik Dalam melakukan diagnosis atau pendeteksian gejala autisme, para ahli biasanya menggunakan kriteria autistic disorder yang tercantum dalam DSM-IV TR 2000 (Diagnostic and Statistical Manual) yang diterbitkan oleh The American Psychiatric Association (APA). Dalam DSM IV ini termuat 3 bidang impairment (kerusakan/kesulitan) utama yang ada pada anak autisme, yaitu kesulitan dalam interkasi sosial, kesulitan dalam berkomunikasi, serta munculnya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulang-ulang (stereotyped & repetitive) dalam hal perilaku, minat, dan kegiatan. Ketiga bidang impairment atau kesulitan tersebut dijabarkan ke dalam 12 kriteria. Seorang anak dengan gangguan autisme minimal mengalami 6 gejala/perilaku dari 12 perilaku yang menjadi ciri-ciri autisme. Karakteristik anak penyandang autisme yang mungkin terlihat dalam pengamatan perilaku anak sehari-hari di dalam maupun di luar kelas antara lain adalah : a. Adanya perkembangan yang terlambat dibandingkan anak-anak seusianya, baik secara motorik, bahasa, maupun dalam interkasi sosial; b. Anak dengan gangguan autisme lebih tertarik pada benda dibandingkan dengan manusia; c. Anak autisme tidak mau dipeluk atau diperlakukan dengan kehangatan oleh gurunya; d. Memiliki kelainan sensoris atau penginderaan, misalnya tidak peka terhadap rasa sakit, atau malah sangat terganggu dengan suara radio yang normal;

6

e. Menunjukkan adanya suatu pola tertentu yang dipertahankan dan diulangulang dalam hal perilaku, kegiatan, dan minat. Mereka dapat dalam waktu lama terokupasi pada suatu kegiatan tertentu, misalnya selalu menyalamatikan lampu; atau bergerak tidak wajar misalnya berputar-putar tanpa merasa pusing. Lebih lengkap lagi, anak dengan gangguan autisme biasanya memiliki beberapa atau seluruh gejala-gejala berikut : a. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non-verbal : • • • • • Terlambat berbicara; Mengoceh dengan bahasa yang tidak dimengerti; Banyak meniru perkataan yang pernah didengarnya (membeo/echolalia); Tidak mengerti bahasa simbolik, seperti lambaian tangan atau senyuman; Suara anak autistik sangat datar dan monoton, serta tidak mempunyai kontrol terhadap tinggi rendah volume dan nada suaranya. b. Gangguan dalam bidang interaksi sosial : • • • • Menolak atau menghindari tatap mata; Tidak menengok bila dipanggil; Lebih suka main sendiri; Bila didekati untuk diajak bermain bersama, malah menghindar.

c. Gangguan dalam bidang perilaku : • Perilaku ritualistik, mengikuti aturan-aturan ataupun urutan-urutan tertentu, apabila diminta untuk diubah, akan menimbulkan kemarahan (need for sameness);

7

• • •

Tidak bisa diam, mondar-mandir tanpa alasan yang jelas; Mengulang-ulang suatu gerakan tertentu; Melakukan permainan yang sama terus menerus atau monoton dan kurang variatif.

d. Gangguan dalam emosi : • • • Tidak dapat ikut merasakan perasaan orang lain; Tertawa atau menangis sendiri tanpa sebab yang jelas; Sering mengamuk tak terkendali terutama bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan. e. Gangguan dalam persepsi pancaindera : • • Mencium-cium atau menggigit mainan atau benda apa saja; Bila mendengar suara yang tidak disukai langsung menutup telinga, bahkan dapat menjadi jengkel dan meluapkan kemarahannya; • • Tidak menyukai rabaan atau pelukan; Merasa tidak senang apabila dipakaikan pakaian dari bahan yang kasar.

Secara fisik anak autisme memiliki penampilan yang normal sebagaimana anak biasa, kaena itu perlu dilakukan pengamatan yang cermat untuk menemukan bahwa mereka menunjukkan perilaku yang tidak sewajarnya. Kecerdasan yang dimiliki anak autisme bervariasi, mulai dari keterlambatan mental sampai kepada jenius atau gifted.

8

3. Penanganan Anak dengan gangguan autisme tidak dapat sembuh total, karena adanya kelainan dalam otaknya. Namun, tetap dapat diusahakan agar sel-sel otak yang masih baik dapat mengambil alih dan berfungsi menggantikan sel yang rusak asalkan dilakukan secara cepat dan tepat, yang dimulai pada saat gejalanya masih sangat ringan. Sebagai orangtua atau guru, sebaiknya cepat merasa 'curiga' bila melihat kelainan pada anaknya dan segera membawanya pada tenaga ahli yang tepat. Hal terpenting yang mempengaruhi kemajuan anak autistik adalah deteksi yang dilakukan, semakin dini kelainan tersebut diketahui akan semakin baik. Tentu saja deteksi dini ini harus diikuti pula dengan penanganan yang tepat dan benar. Jika kedua hal ini dapat dipenuhi, maka anak dengan gangguan autisme akan memiliki harapan yang lebih baik untuk dapat hidup mandiri dan bersosialisasi ke dalam masyarakat normal. Hal lain yang juga mempengaruhi adalah tingkat kecerdasan anak, makin cerdas anak akan semakin baik kemajuannya. Intensitas terapi juga berpengaruh penting, minimal dilakukan 4-8 jam sehari. Berbagai jenis terapi yang telah dikembangkan demi mengembangkan kemampuan anak autistik agar dapat hidup mendekati normal adalah : a. Terapi Medikamentosa Yaitu terapi dengan menggunakan obat-obatan. Pemakaian obat-obat ini akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap lingkungan, sehingga anak lebih mudah menerima tatalaksana terapi yang lain. Obat yang

9

selama ini cukup sering digunakan dan memberikan respon yang baik adalah risperidone. Bila kemajuan yang dicapai sudah bagus, maka obat-obatan bisa mulai dikurangi bahkan dihentikan. b. Terapi Wicara Terapi wicara merupakan suatu keharusan bagi penyandang autisme, karena semua anak autistik mengalami gangguan bicara dan berbahasa. Hal ini harus dilakukan oleh seorang ahli terapi wicara yang memang dididik khusus untuk hal tersebut. c. Terapi Okupasional Jenis terapi ini perlu diberikan pada anak yang memiliki gangguan perkembangan motorik halus yang bertujuan untuk memperbaiki kekuatan, koordinasi dan keterampilan. Hal ini berkaitan dengan gerakan-gerakan halus dan terampil, seperti menulis. d. Terapi Perilaku Terapi ini penting untuk membantu anak autistik agar kelak dapat berbaur dalam masyarakat, dan menyesuaikan diri dalam lingkungannya. Mereka akan diajarkan perilaku-perilaku yang umum, dengan cara reward and punishment, dimana kita memberikan pujian bila mereka melakukan perintah dengan benar, dan kita berikan hukuman melalui perkataan yang bernada biasa jika mereka salah melaksanakan perintah. Perintah yang diberikan adalah perintahperintah yang ringan, dan mudah dimengerti.

10

e. Pendidikan khusus Hal ini dilakukan dengan cara satu guru satu murid, agar guru dapat terus memantau perkembangan muridnya. Cara ini dilakukan karena pada awalnya anak autistik akan sulit memusatkan perhatian dalam kelas yang besar dan ramai. Jika ada perbaikan, maka mereka dapat coba dimasukkan ke dalam sekolah normal. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam menghadapi anak autistik di dalam kelas adalah : a. Belajar menyelami emosi anak sehingga guru akan dapat merespon emosi yang ditunjukkan anak dengan tepat; b. Terus memberikan stimulasi pada anak, perhatikan agar anak tidak tenggelam dalam dunianya sendiri, kembangkan komunikasi dua arahnya; c. Melatih insting sosial dan mengajarkan interaksi sosial antara anak dengan guru dan teman-temannya; d. Mencari dan mengembangkan potensi anak, karena tidak semua anak autistik berintelegensi rendah, bahkan beberapa di antaranya mungkin memiliki bakat dan kemampuan khusus yang tidak dimiliki anak lain. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, harapan seorang anak penyandang autisme sangat bergantung pada berat/ringannya gejala, umur saat dimulainya terapi, kecerdasan, dan intensitas terapi yang diberikan. Telah banyak penyandang autisme yang berhasil dalam hidupnya, mempunyai karir yang baik dan menyandang gelar sarjana. Di Indonesia sendiri beberapa anak telah berhasil duduk di TK dan SD biasa, bahkan adapula yang duduk di SMA.

11

C. Anak Dengan Masalah Perilaku Agresif
1. Pengertian Perilaku agresif adalah perilaku yang ditujukan untuk menyerang, menyakiti atau melawan orang lain, baik secara fisik atau verbal. Perilaku agresif dianggap sebagai gangguan perilaku pada anak hanya jika : a. Bentuk perilakunya benar-benar mengganggu; b. Bersifat kronis, menetap pada anak tersebut; c. Perilaku tidak dapat diterima oleh norma sosial atau budaya. Jadi harus dibedakan antara perilaku agresif yang sifatnya situasional dengan perilaku agresif anak yang merupakan respons dari keadaan frustasi, takut atau marah dengan cara mencoba menyakiti orang lain. Dampak utama dari perilaku agresif adalah anak tidak tidak mampu berteman atau bermain dengan anak lain atau teman-temannya.

2. Penyebab dan Karakteristik Penyebab gangguan perilaku agresif pada anak diindikasikan oleh 4 faktor utama, yaitu : gangguan biologis dan penyakit; lingkungan keluarga; lingkungan sekolah; dan pengaruh budaya negatif. Ciri-ciri anak dengan perilaku agresif antara lain adalah : selalu berperilaku kasar, suka mengganggu secara berlebihan, selalu membuat onar, selalu menyerang atau menyakiti orang lain, dan suka mengolok-olok teman lain.

12

3. Penanganan Beberapa cara penanganan yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan perilaku agresif pada anak di antaranya adalah sebagai berikut : a. Mengajarkan bagaimana cara menanggapi perasaan orang lain dan perasaan dirinya sendiri serta bagaimana perilaku yang tepat untuk bertingkah laku dalam suatu lingkungan sosial; b. Memberikan contoh atau teladan yang baik; c. Memberikan bimbingan atau latihan yang intensif untuk menampilkan perilaku nonagresif; d. Memberikan hukuman yang bersifat mendidik; e. Memberikan dukungan moriil.

13

KESIMPULAN

4. Istilah ADD/ADHD merujuk kepada masalah perilaku anak yang berkaitan dengan gangguan pemusatan perhatian dan perilaku yang berlebihan atau sering diistilahkan dengan hiperaktif. 5. Gejala utama dari ADD/ADHD ialah gangguan pemusatan perhatian, impulsif, dan hiperaktif. Perilaku lainnya yang juga merupakan gejala adalah disorganisasi (tidak teratur), interaksi sosial atau pertemanan yang buruk, perilaku agresif, perilaku yang berbahaya, melamun, koordinasi motorik yang buruk, masalah daya ingat, dan pola pikir yang obsesif. 6. Secara umum penangan terhadap masalah ADD/ADHD terdiri atas dua cara, yaitu secara medis (menggunakan obat-obatan) dan atau secara psikologis (dengan terapi tingkah laku). 7. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang muncul di awal kehidupan seorang anak yang ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain, adanya masalah dalam berkomunikasi, dan adanya suatu pola tingkah laku tertentu atau kebutuhan untuk melakukan suatu aktivitas yang sama dan berulang. 8. Secara umum, gejala-gejala atau karakteristik anak penyandang autisme adalah : gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non-verbal; gangguan dalam bidang interaksi sosial; gangguan dalam bidang perilaku; gangguan dalam emosi; dan gangguan dalam persepsi pancaindera.

14

9. Berbagai jenis terapi yang telah dikembangkan demi mengembangkan kemampuan anak autistik agar dapat hidup mendekati normal adalah : Terapi Medikamentosa, Terapi Wicara, Terapi Okupasional, Terapi Perilaku, dan Pendidikan khusus. 10. Masalah perilaku agresif pada anak adalah perilaku yang ditujukan untuk menyerang, menyakiti atau melawan orang lain, baik secara fisik atau verbal. 11. Beberapa cara penangan terhadap anak dengan masalah perilaku agresif di anataranya adalah dengan memberikan contoh atau teladan yang baik dan memberikan hukuman yang bersifat mendidik.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. dr. Yanwar Hadiyanto. Autisme. http://www.detik.com. 2. Rangkuman Materi Kuliah : Perkembangan Anak yang Bersifat Normatif dan Non-Normatif.

16


								
To top