Benarkah Bulan Safar ada sial by mtsnnegara

VIEWS: 0 PAGES: 5

									Benarkah Bulan Safar ada sial?

Sekarang ini kita telah berada dalam bulan Safar, bulan kedua dari penanggalan Hijriyah.
Oleh sebagian ulama, bulan Shafar ini diberi julukan Shofarul Khoir, artinya Shofar yang
penuh kebaikan. Kenapa dinamakan demikian? Karena umumnya orang awam menyangka
bahwa bulan Shofar adalah bulan sial atau penuh dengan bala (bencana). Sehingga untuk
membuat rasa optimis umat Islam maka dinamakanlah Shofarul Khoir. Sehingga bulan
Shafar tidak terkesan menakutkan apalagi dipercaya sebagai bulan kesialan. Padahal setiap
bulan-bulan Islam itu memiliki kekhususan dan keistimewaan sendiri-sendiri, demikian pula
bulan Safar.

Pada dasarnya hari dan bulan dalam satu tahun adalah sama. Tidak ada hari atau bulan
tertentu yang membahayakan atau membawa kesialan. Keselamatan dan kesialan pada
hakikatnya hanya kembali pada ketentuan takdir Ilahi.

Pada masa jahiliyah, orang Arab beranggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang
tidak baik. Bulan yang banyak bencana dan musibah, sehingga orang Arab pada masa itu
menunda segala aktiviti pada bulan Shafar karena takut tertimpa bencana. Begitu juga dalam
amalan tradisi, banyak hitungan-hitungan yang digunakan untuk menentukan hari baik dan
hari tidak baik, hari keberuntungan dan hari kesialan. Lalu bagaimana menurut syariah Islam?

Dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW meluruskan dan menjelaskan
tentang hal-hal yang merupakan penyimpangan akidah itu. Rasulullah bersabda:

“Tidak ada penularan penyakit, tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak
boleh berprasangka buruk, dan tidak ada keburukan dalam bulan Shafar.”

Kemudian seorang A’roby (penduduk pedesaan arab), bertanya kepada Rasulullah:

“Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan onta yang semula sehat kemudian berkumpul
dengan onta yang kudisan kulitnya, sehingga onta tersebut menjadi kudisan pula?”

Kemudian Rasulullah menjawab dengan sebuah pertanyaan:

“Lalu siapa yang menularkan (kudis) pada onta yang pertama?”

Ungkapan hadits laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud meluruskan
keyakinan golongan jahiliyah. Pada saat itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat
menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir ilahiyah.

Oleh sebab itu, untuk meluruskan keyakinan mereka, Rasulullah menjawab pertanyaan
mereka dengan pertanyaan pula. Jika penyakit kudis onta yang sehat berasal dari onta yang
sudah kudisan, onta yang kudisan dari yang lain, kemudian siapa yang menularkan penyakit
kudis pada onta yang pertama kali terkena penyakit kudis?

Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah SWT.
Penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Namun walaupun kesemuanya
kembali kepada Allah, bukan semata-mata sebab penularan, manusia tetap diwajibkan untuk
ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah. Dalam kesempatan yang lain
Rasulullah bersabda:
“Janganlah onta yang sakit didatangkan pada onta yang sehat”.

Dalam hadits yang lain disebutkan:

“Larilah dari orang yang sakit lepra, seperti kamu lari dari singa.”

Maksud hadits laa thiyaarota atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk
adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, bukan terhadap makhluk
atau ramalan. Karena hanyalah Allah yang menentukan baik dan buruk, selamat atau sial,
kaya atau miskin.

Pada masa peradaban Jahiliyyah, mereka menggantungkan nasib baik dan nasib buruk pada
kepakan sayap seekor burung. Jika mereka akan bepergian atau aktivitas yang lain, mereka
melapaskan seekor burung. Apabila burung terbang ke arah kanan atau belok ke arah kanan,
maka pertanda nasib baik dan mereka akan meneruskan perjalanannya. Begitu sebaliknya,
jika burung yang dilepaskan terbang ke arah kiri atau belok kiri, maka pertanda nasib buruk
dan mereka akan mengurungkan perjalanannya, karena mereka meyakini bahwa hal itu
pertanda buruk.

Dalam hadits riwayat Imam Thobroni, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan mendapat derajat tinggi orang pergi ke dukun, orang bersumpah untuk
kepentingan pribadi, atau orang yang kembali atau tidak jadi bepergian karena ramalan.”

Maksud hadits walaa hammata adalah tidak baik dalam berprasangka buruk akan datangnya
bencana atau musibah. Ketika itu orang Arab mempercayai, “Jika di malam hari ada burung
hantu terbang di atas rumahnya, maka itu menandakan akan ada yang meninggal dunia.”

Mereka juga mempercayai, jika ada pembunuhan yang belum terbalaskan, kemudian malam
harinya ada burung hantu yang terbang di atas rumahnya, itu menandakan ruh dari orang
yang dibunuh belum bisa tenang, masih melayang-layang menuntut pembalasan. Pemahaman
dan kepercayaan semacam ini amat sangat keliru, sehingga Rasulullah meluruskan dengan
hadits diatas.

Walaa Shafara atau tidak ada keburukan dalam bulan Shafar. Hadits tersebut untuk
mematahkan keyakinan yang keliru di kalangan jahiliyah. Mereka menganggap bahwa bulan
Shafar merupakan bulan yang kurang baik, yang banyak musibah dan bencana, sehingga
mereka menilai dan berprasangka buruk terhadap bulan Shafar.

Menurut Islam, semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarah,
keistimewaandan peristiwa sendiri-sendiri. Jika bulan tertentu mempunyai sisi nilai
keutamaan yang lebih, bukan berarti bualn yang lain merupakan bulan yang buruk. Misalnya,
dalam bulan Romadlon ada peristiwa Nuzul al Qur’an dan Lailat al Qodar, dalam bulan
Rojab ada Isro’ dan Mi’roj dan dalam bulan Robi’ul Awwal ada peristiwa Maulid atau
kelahiran Rasulullah SAW dan lain-lain.

Jikalau ada kejadian tragis atau peristiwa yang memilukan dalam sebuah bulan, itu bukan
berarti bulan tersebut merupakan bulan musibah atau bulan yang penuh kesialan. Namun kita
harus pandai-pandai mencari hikmah di balik peristiwa itu, dan amaliah apa yang harus
dilakukan sehingga terhindar dan selamat dari berbagai musibah.

Imam Ibn Hajar ash Shafii tentang hari Nahas

Al Imam Ibn Hajar al Haitami pernah ditanya tentang bagaimana status adanya hari nahas
yang oleh sebagian orang dipercaya, sehingga mereka berpaling dari hari itu atau
menghindarkan suatu pekerjaannya karena dianggap hari itu penuh kesialan.

Beliau menjawab bahwa jika ada orang mempercayai adanya hari nahas (sial) dengan tujuan
mengharuskan untuk berpaling darinya atau menghindarkan suatu pekerjaan pada hari
tersebut dan menganggapnya terdapat kesialan, maka sesungguhnya yang demikian ini
termasuk tradisi kaum Yahudi dan bukan sunnah kaum muslimin yang selalu tawakkal
kepada Allah dan tidak berprasangka buruk terhadap Allah.

Sedangkan jika ada riwayat yang menyebutkan tentang hari yang harus dihindari karena
mengandung kesialan, maka riwayat tersebut adalah bathil, tidak benar, mengandung
kebohongan dan tidak mempunyai sandaran dalil yang jelans, untuk itu jauhilah riwayat
seperti ini. (Fatawa Al Haditsiyah)

Kita semua yakin bahwa terjadinya musibah atau gejala alam yang menimpa manusia, bukan
karena adanya hari nahas atau karena adanya binatang tertentu atau karena adanya kematian
seseorang. Yang kita yakini adalah semua yang terjadi di alam ini adalah dengan takdir dan
kehendak Allah.

Hari-hari, bulan, matahari, bintang dan makhluk lainnya tidak bisa memberikan manfaat atau
madlarat (bahaya), tetapi yang memberi manfaat dan madlarat adalah Allah semata. Maka
meyakini ada hari nahas atau hari sial yang menyebabkan seorang muslim menjadi pesimis,
tentunya itu bukan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Semua hari adalah baik, dan masing-masing ada keutamaan tersendiri. Hari dimana kita
menjaganya dan mengisinya dengan kebaikan dan ketaatan, itulah hari yang sangat
menggembirakan dan hari raya buat kita. Seperti dikatakan oleh ulama Salaf, hari rayaku
adalah setiap hari dimana aku tidak bermaksiat kepada Allah pada hari itu, dan tidak tertentu
pada suatu hari saja.

Misteri Rabu Wekasan (Rabu akhir Bulan Shafar)

Lalu bagaimana dengan Rabu wekasan yang sering kita dengar bahwa pada hari itu adalah
hari yang penuh bala dan musibah, bahkan bala selama setahun penuh diturunkan pada hari
Rabu tersebut?

Ketahuilah bahwa tidak ada satupun riwayat dari Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa
Rabu akhir Shafar adalah hari nahas atau penuh bala. Pendapat di atas sama sekali tidak ada
dasaran dari hadits Nabi Muhammad yang mulia. Hanya saja disebutkan dalam kitab Kanzun
Najah wa as Suruur halaman 24, sebagian ulama Sholihin Ahl Kasyf (ulama yang memiliki
kemampuan melihat sesuatu yang samar) berkata:

“Setiap tahun turun ke dunia 320.000 bala (bencana) dan semua itu diturunkan oleh Allah
pada hari Rabu akhir bulan Shafar, maka hari itu adalah hari yang paling sulit.”
Dalam kitab tersebut, pada halaman 26 dinyatakan, sebagian ulama Sholihin berkata:

“sesungguhnya Rabu akhir bulan Shafar adalah hari nahas yang terus menerus.”

Pendapat ulama Sholihin di atas, sama sekali tidak memiliki dasar hadits yang dapat
dipertanggungjawabkan keabsahannya. Oleh karena itu, jangan pesimis dan merasa ketakutan
jika menghadapi Rabu wekasan. Sekali lagi harus diingat bahwa yang menurunkan bala’ dan
membuat kemanfaatan atau bahaya adalah Allah SWT dan atas kehendakNya, bukan karena
hari tertentu atau perputaran matahari.

Perlu diingat pula, perilaku pesimis yang diakibatkan adanya sesuatu, sehingga meninggalkan
pekerjaan atau bepergian karena hari tertentu misalnya atau karena adanya burung tertentu
lewat ke arah tertentu, itu dinamakan thiyarah dan thiyarah ini jelas-jelas diharamkan karena
itu adalah kebiasaan orang jahiliyah.

Bahkan kalau kita mau bersikap obyektif, ternyata hari Rabu adalah hari yang penuh
keberkahan. Seperti diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dalam Syu’ab al Iman bahwa doa
dikabulkan pada hari Rabu setelah Zawaal (tergelincirnya matahari),

Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Ibn Abdillah, bahwa Nabi
Muhammad SAW mendatangi masjid al Ahzab pada hari Senin, Selasa dan Rabu antara
Dzuhur dan Ashar, kemudian beliau meletakkan serbannya dan berdiri lalu berdoa. Jabir
berkata:

“Kami melihat kegembiraan memancar dari wajah beliau.”

Demikian disebutkan dalam kitab-kitab sejarah (Kanzun Najah wa al Surur 36)

Kalau kita menganggap bahwa hari Rabu wekasan adalah hari penuh bala, lalu bagaimana
dengan hari lainnya? Padahal Allah jjika hendak menurunkan azab atau bala tidak akan
menunggu hari-hari tertentu yang dipilih dan ditentukan oleh manusia. Tapi Allah dengan
kekuasaannya dapat bertindak dan berbuat sekehendak-Nya.

Maka seharusnya kita waspada dengan kemurkaan Allah setiap hari dan setiap saat, sebab
kita tidak tahu kapan bala itu akan turun. Maka perbanyaklah istighfar, bertaubat dan
mengharap rahmat Allah, sebagaimana Rasulullah beristighfar seratus kali setiap hari. Inilah
teladan kita, tidak menunggu Rabu wekasanv saja untuk _istighfar dan bertaubat.

Hal serupa sering kita dengar, bahwa sebagian orang tidak mau melakukan pernikahan pada
bulan Syawal, takut terjadi ini dan itu yang semuanya tidak ada dasar hukum yang jelas.
Budaya ini berawal pada zaman Jahiliyah, disebabkan pada suatu tahun, tepatnya bulan
Syawal, Allah menurunkan wabah penyakit, sehingga banyak orang mati menjadi korban
termasuk beberapa pasangan pengantin, maka sejak itu mereka kaum jahilin tidak mau
melangsungkan pernikahan pda bulan Syawal.

Jadi, jika zaman sekarang ada seseorang tidak mau menikah pada bulan Syawal karena takut
terkena penyakit atau musibah atau tidak punya anak, ketahuilah bahwa dia telah mengikuti
langkah kaum jahiliyyah. Hal itu bukanlah perilaku umat Nabi Muhammad SAW. Sayyidah
Aisyah RA bahkan menentang budaya seperti ini dan berkata:
“Rasulullah SAW menikahi saya pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga)
dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung
daripada saya?”

Nabi Muhammad juga menikahi Sayyidah Ummu Salamah juga pada bulan Syawal.

Wallahu a’lam.

								
To top