Keperawatan BBLR _ Askep _ by zuperbayu

VIEWS: 97 PAGES: 19

									Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Pengertian


Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr atau
lebih rendah (WHO, 1961).


Dalam hal ini dibedakan menjadi :


    1.     Prematuritas murni
           Yaitu bayipada kehamilan <>berat badan sesuai.




    2.     Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)
           Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.



Etiologi


Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :


    1.     Faktor ibu
                o       Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diaatas 35 tahun
                o       Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
                o       Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok




    2.     Faktor kehamilan
                o       Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
                o       Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini




    3.     Faktor janin
                o       Cacat bawaan, infeksi dalam rahim




    4.     Faktor yang masih belum diketahui



Komplikasi


          Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
          Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
          Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
          Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah
          Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
            Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal



Penatalaksanaan


            Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
            Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
            Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
            Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat.



Diagnosa Keperawatan Yang Muncul


     1.      Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru




     2.      Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan




     3.      Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan
             keseimbangan cairan dan elektrolit




     4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium,
             metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat.




Intervensi


Diagnosa Keperawatan 1 :
Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru


Tujuan :
Pola nafas yang efektif


Kriteria Hasil :


            Kebutuhan oksigen menurun
            Nafas spontan, adekuat
            Tidak sesak.
            Tidak ada retraksi


Intervensi


            Berikan posisi kepala sedikit ekstensi
            Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
            Observasi irama, kedalaman dan frekuensi pernafasan




Diagnosa Keperawatan 2 :
Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan


Tujuan :
Pertukaran gas adekuat


Kriteria :


            Tidak sianosis.
            Analisa gas darah normal
            Saturasi oksigen normal.


Intervensi :


            Lakukan isap lendir kalau perlu
            Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
            Observasi warna kulit
            Ukur saturasi oksigen
            Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
            Lapor dokter apabila terdapat tanda-tanda perburukan pernafasan
            Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
            Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan




Diagnosa Keperawatan 3 :
Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit


Tujuan :
Hidrasi baik


Kriteria:


            Turgor kulit elastik
            Tidak ada edema
            Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam
            Elektrolit darah dalam batas normal


Intervensi :


            Observasi turgor kulit.
            Catat intake dan output
            Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit
            Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah.
Diagnosa Keperawatan 4 :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium, metabolisme
yang tinggi dan intake yang kurang adekuat


Tujuan :
Nutrisi adekuat


Kriteria :


            Berat badan naik 10-30 gram / hari
            Tidak ada edema
            Protein dan albumin darah dalam batas normal


Intervensi :


            Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat
            Observasi dan catat toleransi minum
            Timbang berat badan setiap hari
            Catat intake dan output
            Kolaborasi dalam pemberian total parenteral nutrition kalau perlu.


Sumber : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2010/01/asuhan-keperawatan-bayi-dengan-bblr.html



DOWNLOAD             ASKEP       BAYI     BBLR      GRATIS       :



            DI   SINI



             DAN



            DI   SINI




Nanda Nursing Diagnosis
             Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Berat Badan Lahir Rendah

    Pengertian BBLR

    Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.


    BBLR dibedakan menjadi :


    1. Prematuritas murni


    Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.


    2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)


    Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.




                                                                  Etiologi BBLR

    Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :


    1.   Faktor ibu


   Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun

   Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat

   Penyakit menahun ibu :hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok


    2.   Faktor kehamilan


   Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum

   Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini


    3.   Faktor janin


   Cacat bawaan, infeksi dalam rahim
    4.   Faktor yang masih belum diketahui



    Pengkajian Keperawatan

    Prematuritas murni


   BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm

   Masa gestasi < 37 minggu

   Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin

   Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang,
    ubun-ubun dan sutura lebar

   Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.

   Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna

   Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat

   Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik

   Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah

   Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik

   Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna



    Dismaturitas

   Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,

   Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis

   Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat

   Tali pusat berwarna kuning kehijauan



    Komplikasi BBLR

   Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin

   Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu

   Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak

   Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah

   Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)

   Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal


    Penatalaksanaan Medis BBLR
   Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen

   Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)

   Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup

   Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat



    Asuhan Keperawatan pada Klien dengan BBLR

    1. Diagnosa Keperawatan : Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi paru


    Tujuan : Pola nafas yang efektif


    Kriteria :


   Kebutuhan oksigen menurun

   Nafas spontan, adekuat

   Tidak sesak.

   Tidak ada retraksi dada


    Rencana Tindakan :


   Berikan posisi kepala sedikit ekstensi

   Berikan oksigen dengan metode yang sesuai

   Observasi irama, kedalaman dan frekuensi pernafasan


    2. Diagnosa Keperawatan : Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan


    Tujuan : Pertukaran gas adekuat


    Kriteria :


   Tidak sianosis.

   Analisa gas darah normal

   Saturasi oksigen normal.


    Rencana Tindakan :


   Lakukan isap lendir kalau perlu

   Berikan oksigen dengan metode yang sesuai

   Observasi warna kulit

   Ukur saturasi oksigen
   Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan

   Lapor dokter apabila terdapat tanda-tanda perburukan pernafasan

   Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah

   Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan


    3. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan
    ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit


    Tujuan : Hidrasi baik


    Kriteria:


   Turgor kulit elastik

   Tidak ada edema

   Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam

   Elektrolit darah dalam batas normal


    Rencana Tindakan :


   Observasi turgor kulit.

   Catat intake dan output

   Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit

   Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah


    4. Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan
    zat besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat


    Tujuan : Nutrisi adekuat


    Kriteria :


   Berat badan naik 10-30 gram / hari

   Tidak ada edema

   Protein dan albumin darah dalam batas normal


    Rencana Tindakan :


   Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat

   Observasi dan catat toleransi minum

   Timbang berat badan setiap hari

   Catat intake dan output
   Kolaborasi dalam pemberian total parenteral nutrition kalau perlu


    5. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi hipotermi atau hipertermi b/d imaturitas fungsi termoregulasi atau perubahan suhu
    lingkungan


    Tujuan : Suhu bayi stabil


    Kriteria :


   Suhu 36,5 0C -37,2 0C

   Akral hangat


    Rencana Tindakan :


   Rawat bayi dengan suhu lingkungan sesuai

   Hindarkan bayi kontak langsung dengan benda sebagai sumber dingin/panas

   Ukur suhu bayi setiap 3 jam atau kalau perlu

   Ganti popok bila basah


    6. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler


    Tujuan : Perfusi jaringan baik


    Kriteria :


   Tekanan darah normal

   Pengisian kembali kapiler <2 detik

   Akral hangat dan tidak sianosis

   Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam

   Kesadaran composmentis


    Rencana Tindakan :


   Ukur tekanan darah kalau perlu

   Observasi warna dan suhu kulit

   Observasi pengisian kembali kapiler

   Observasi adanya edema perifer

   Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium

   Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan


    7. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia
    Tujuan : Tidak ada injuri


    Kriteria :


   Kesadaran composmentis

   Gerakan aktif dan terkoordinasi

   Tidak ada kejang ataupun twitching

   Tidak ada tangisan melengking

   Hasil USG kepala dalam batas normal


    Rencana Tindakan :


   Cegah terjadinya hipoksia

   Ukur saturasi oksigen

   Observasi kesadaran dan aktifitas bayi

   Observasi tangisan bayi

   Observasi adanya kejang

   Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi

   Ukur lingkar kepala kalau perlu

   Kolaborasi dalam pemeriksaan USG kepala


    8. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi infeksi b/d imaturitas fungsi imunologik


    Tujuan : Bayi tidak terinfeksi


    Kriteria :


   Suhu 36,5 0C -37,2 0C

   Darah rutin normal


    Rencana Tindakan :


   Hindari bayi dari orang-orang yang terinfeksi kalau perlu rawat dalam inkubator

   Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi

   Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik bila melakukan prosedur invasif

   Lakukan perawatan tali pusat

   Observasi tanda-tanda vital

   Kolaborasi pemeriksaan darah rutin

   Kolaborasi pemberian antibiotika
    9. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d imaturitas struktur kulit


    Tujuan : Integritas kulit baik


    Kriteria :


   Tidak ada rash

   Tidak ada iritasi

   Tidak plebitis


    Rencana Tindakan :


   Kaji kulit bayi dari tanda-tanda kemerahan, iritasi, rash, lesi dan lecet pada daerah yang tertekan

   Gunakan plester non alergi dan seminimal mungkin

   Ubah posisi bayi dan pemasangan elektrode atau sensor


    10. Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang
    kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif


    Tujuan : Persepsi dan sensori baik


    Kriteria :


   Bayi berespon terhadap stimulus


    Rencana Tindakan :


   Membelai bayi sebelum malakukan tindakan

   Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut

   Memberikan rangsang cahaya pada mata

   Kurangi suara monitor jika memungkinkan

   Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot


    11. Diagnosa Keperawatan : Koping keluarga tidak efektif b/d kondisi kritis pada bayinya, perawatan yang lama dan takut
    untuk merawat bayinya setelah pulang dari RS


    Tujuan : Koping keluarga efektif


    Kriteria :


   Ortu kooperatif dg perawatan bayinya.

   Pengetahuan ortu bertambah

   Orang tua dapat merawat bayi di rumah
    Rencana Tindakan :


   Memberikan kesempatan pada ortu berkonsultasi dengan dokter

   Rujuk ke ahli psikologi jika perlu

   Berikan pendidikan kesehatan cara perawatan bayi BBLR di rumah termasuk pijat bayi, metode kanguru, cara memandikan

   Lakukan home visit jika bayi pulang dari RS untuk menilai kemampuan orang tua merawat bayinya



    Artikel yang Berhubungan

    Askep Bronkiektasis


    Download Kumpulan Askep


    Askep Hisprung


    Askep Diare Anak
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BBLR
A. Konsep Dasar BBLR


1. Definisi

• BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram sampai dengan 2499 gram.

(Abdul Bari Saifudin, 2002 : 376)

• BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gr (Farrer, Hellen, 1999)

• BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat antara 1500 – 2500 gram (Sarwono Prawrohardjo, 2002)

2. Jenis BBLR

Menurut harapan hidupnya :

o Bayi berat lahir rendah (BBLR) berat lahir 1500 – 2500 gram o Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) berat lahir <

1500 gram o Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) berat lahir <1000 gram (Sarwono, 2002 : 376)

Menurut masa gestasinya :

o Prematuritas murni : masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk

masa gestasi berat atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB – SMK) o Dismaturitas :

bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat bayi mengalami retardasi

pertumbuhan intruterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK)

3. Etiologi

- Faktor ibu

• Gizi saat hamil yang kurang

• Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun

• Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat

• Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok) - Faktor kehamilan

• Hamil dengan hidramnion

• Hamil ganda

• Perdarahan antepartum

• Komplikasi hamil : pre-eklamsi atau eklamsi, ketuban pecah - Faktor janin

• Cacat bawaan

• Infeksi dalam rahim

- ¬Faktor yang masih belum diketahui

(IBG, Manuaba, 1998 : 326)

4. Diagnosa dan Gejala Klinis

• Sebelum bayi lahir

- Pada anamnese sering dijumpai adanya Riwayat abortus, partus prematurus dan lahir mati

- Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan

- Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak

lanjut

- Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya - Sering dijumpai kehamilan dengan

oligradramnion gravidarum atau perdarahan anterpartum
• Setelah bayi lahir

- Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin

- Bayi premature yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu

- Bayi small for date sama dengan bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterine - Bayi prematur kurang sempurna

pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya (Rustam Mochtar, 1998 : 449)

5. Penanganan

- Mempertahankan suhu dengan ketat

BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat

o Bayi berat badan dibawah 2 kg 350 C

o Bayi berat badan 2 kg – 2,5 kg 340 C

o Suhu incubator diturunkan 10 C setiap minggu sampai bayi dapat ditempatkan pada suhu sekitar 24-270 C

- Mencegah infeksi dengan ketat

BBLR sangat retan akan infeksi. Perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum

memegang bayi

- Pemberian O2

Pemberian O2 untuk bayi ini harus dikendalikan dengan seksama konsentrasi yang tinggi dalam masa yang panjang akan

menyebabkan timbulnya kerusakan jaringan pada retina bayi sehingga menimbulkan kebutaan. Bisa diberikan melalui

kateter hidung

- Pengawasan nutrisi / ASI

Reflek menelan BBLR belum sempurna. Oleh sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat

o Reflek hisap baik – ASI ½ jam setelah lahir

o Reflek hisap lemah ASI khusus dengan sonde

o Frekuensi

 BB < 1250 gr = 24 x minum / hari

 BB 1250 – 2000 = 12 x minum / hari.

 BB >2000 gr = 8 x minum / hari

o Jumlah cairan

 Hari I : 60 cc/ kg / BB / hari

 Hari II : 90 cc/ kg / BB / hari

 Hari III : 120 cc/ kg / BB / hari

 Hari IV : 150 cc/ kg / BB / hari

o Pemberian intravena bila :

 Gangguan pernafasan

 Oral tidak mencukupi

- Penimbangan dengan ketat

o Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi / nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. Oleh

sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.

o Beberapa bayi sangat kecil yang lambat menambah menambah berat badan, mungkin menderita asidosis metabolic,
tetapi ia akan tumbuh cepat setelah keadaan ini dikoreksi dengan natrium bikarbonal o Bayi tidak boleh kehilangan lebih

dari 10 % berat badan Lahirnya dan ia akan memperoleh kembali berat badannya dalam 10-14 hari

B. Konsep Asuhan Pada Bayi “S” dengan BBLR

I. Pengkajian data

Tanggal : 30 – 01 – 2011

Jam : 11.00 WIB

Di : Ruang neonatus RSUD Sidoarjo

Reg : xxxxx

a. Data Subyektif

1. Biodata

Nama bayi : By. “S”

Tanggal lahir :

Jenis kelamin :

Anak ke :

Nama ibu : Ny. Nama Ayah :

Umur : ……tahun Umur :

Agama : Agama :

Pendidikan : Pendidikan :

Pekerjaan : Petani Pekerjaan

Alamat : Alamat :

2. Keluhan Utama

Ibu mengatakan bayinya lahir dengan berat badan rendah yaitu …………gram

3. Riwayat Prenatal, Natal, Post Natal

• Riwayat prenatal

Jika ibu selama hamil menderita hyper emesis, trauma fisik, trauma psikologis. Perdarahan antepatum, kehamilan kembar,

kehamilan terlalu dekat

• Riwayat natal

UK : < 37 minggu

Air ketuban : Jernih / keruh

Cara persalinan : spontan B

PB : < 35 cm

BB : < 2500 gr

• Riwayat post natal

AS : cenderung rendah 4 – 6

PB : 35 – 48 cm

BB : < 2500 gr

4. Kebutuhan Dasar

a. Pola Nutrisi
Bayi minum PASI dan D5 % 10 cc setiap 2 jam sekali dan bayi tidak muntah b. Pola eliminasi

2kali / sehariBAB :

BAK : 7x / hari (normalnya)

c. Pola istirahat

Setiap waktu bayi tidur, bangun saat BAB dan BAK atau saat lapar (normalnya 16-20 jam)

d. Pola aktivitas

Bayi menangis lemah saat lapar, BAB dan BAK

5. Riwayat kesehatan keluarga

Bila pada waktu ibu hamil menderita anemi, kurang gizi dan perdarahan ante partum, trauma fisik, trauma psikologis,

kehamilan kembar, kehamilan terlalu dekat maka bayi akan lahir berat badan rendah

6. Riwayat psikologis

Ibu sangat cemas dengan keadaan bayinya.

b. Data Obyektif

1. Pemeriksaan umum

KU : lemah

Kemampuan menghisap : lemah ……..

Warna kulit : merah muda

2. Observasi TTV

Suhu : 35 – 360 C

BB : < 2500 gr

HR : 120 – 160 x/ menit

RR : 30 – 90 x / menit

3. Pemeriksaan fisik

Inspeksi

Kepala : caput cuccedaneum (-), cepal hematoma (-), cacat bawaan (-), kulit kepala tipis, transparan, UUB cekung

Mata : simetris, iktrus (-), konjungtiva (-), tidak ada kelainan, tidak terbuka maksimal

Muka : warna kulit merah muda, bentuk simetris, lanugo banyak, kriput tampak seperti orang tua.

Hidung : simetris, lubang kanan/kiri, pernafasan cuping hidung (-) Mulut : monoalisis (-), lidah bersih, cyanosis (-)

Leher : leher bentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid Telinga : telinga tidak mengeluarkan cairan, bentuk

simetris, imatur Dada : dada simetris, tidak ada kelainan, retraksi dinding dada (-) Abdomen : tidak ada masa, bentuk

simetris, tali pusat belum lepas, bersih Genetalia : labia mayora belum menutupi labia minora, anus (+) wanita, lelaki

testis terdapat dalam abdomen, konalis langunilis atau skrotum.

Ekstremitas : bentuk simetris, kelaian (-), pergerakan lemah auskultasi dada HR : 120-160 x/menit. Abdomen bising usus

Palpasi

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada bendungan vena jugularis

Abdomen : tidak ada oedema, tidak ada nyeri tekan

Ekstremitas : tidak oedema, tidak ada nyeri tekan

4. Pemeriksaan Neorologis
a. Reflek moro

Saat bayi diberi sentuhan mendadak dengan jari dan tangan, bayi bergerak terkejut (+) lemah

b. Reflek menggenggam

Saat bangun bayi disentuh jari bayi berusaha menggenggam (+) lemah c. Reflek rooting / mencari

Saat pipi bayi disentuh dengan jari bayi menoleh (+) lemah

d. Reflek menghisap

Saat bayi menangis kemudian diberi dot, bayi berusaha menghisap (+) lemah e. Reflek globela

Saat disentuh pangkat hidung dengan jari tangan bayi mengedipkan mata (+) lemah f. Gland reflek

Saat bayi disentuh pada lipatan paha kanan dan kiri dengan jari tangan maka ia kana berusaha mengagkat pahanya (+)

lemah

g. Konjungtiva mandibula reflek

Saat bayi diberi rangsangan mulai dari pangkal mata ke atas (+) lemah

5. Pemeriksaan antopometri

a. Berat badan : < 2500 gram

b. Panjang badan : 35 – 48 cm

c. Lingkar kepala : 32-35 cm

d. Lingkar logam : 8 – 10 cm

6. Pemeriksaan tingkat perkembangan

a. Adaptasi sosial

Bayi dapat beradaptasi sosial dengan ibunya yaitu pada saat diberi ASI dia akan diam

b. Bahasa

Saat bayi BAK dan BAB kesakitan dan merasa lapar bayi mengungkapkan perasaan melalui tangisan

c. Motorik halus

Bayi menggerakkan anggota badannya dengan lemah

d. Motorik kasar

Bayi melakukan aktivitas dengan menggerakkan anggota tubuhnya dengan lemah

II. ¬Identifikasi Diagnosa dan Masalah

Dx : Bayi “……usia……hari dengan BBLR

Ds : Ibu mengatakan bayi lahir dengan BBLR berat

Do : KU : lemah

Warna kulit : merah muda

TTV : BB : < 2500 gr

: PB : 35-48 cm

: Suhu : 35-360 C

: RR : 30-90 x / menit

: UK : < 37 minggu

III. Antisipasi Masalah Potensial

-
IV. Identifikasi Kebutuhan Segera

-

V. Intervensi

Dx : Bayi “…..” usia …….hari dengan BBLR

Tujuan : Bayi dalam keadaan sehat tidak terjadi komplikasi

Kriteria hasil :

TTV : dalam batas normal

KU : baik

Suhu : dalam batas normal

HR : 120 – 160 x / menit

RR : 30 – 60 x / menit

BB bayi naik setiap minggunya

Intervensi

1. Lakukan pendekatan pada ibu dan keluarga

R/ Agar ibu dan keluarga kooperatif terhadap tindakan

2. Lakukan observasi TTV setiap jam

R/ Deteksi dini adanya komplikasi

3. Lakukan observasi input dan output merupakan deteksi keseimbangan elektrolit dalam tubuh

R/ Dengan observasi input dan output merupakan deteksi keseimbangan elektrolit dalam tubuh

4. Penuhi kebutuhan nutrisi bayi

R/ Bayi dapat berkembang dan bertahan hidup

5. Letakkan bayi dalam incubator

R/ Agar suhu tubuh bayi stabil

6. Lakukan penimbangan BB setiap hari

R/ Pengukuran BB secara rutin dapat membantu proses pelaksanaan terapi dan peningkatan BB

7. Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi

R/ melakukan fungsi dependent

VI. Implementasi

Mengacu pada intervensi

Tanggal : ………….

Jam : ………….

VII. Evaluasi

Tanggal :

Jam :

Keadaan umum : baik s/d lemah

BB : < 2500 gr

PB : 35 cm

HR : 120 – 160 x / menit
RR : 30 – 90 x / menit

Bayi diinkubator

Bayi terpasang infuse

Catatan Perkembangan

Tanggal :

Jam :

S : Ibu mengatakan BB bayinya rendah

O : KU : baik s/d koma

Kesadaran : composmentis

BB : 7 kg

HR : 120 – 160 x / menit

PB : 35 cm

RR : 30 – 90 x / menit

Suhu : 36-370 C

Muka : seperti orang tua

Mata : tidak membuka maksimal

Kulit : banyak lanugo, keriput

Genetalia : labia mayora belum menutupi labia minora

Telinga : masih belum matur

UUB : cekung

A : Bayi “……” usia “…..” dengan BBLR

P : Observasi TTV

Lakukan perawatan bayi sehari-hari

Timbang BB setiap hari sehabis mandi

Pasang infuse

Lanjutkan advis dokter : pasang infuse, bayi diinkubator

								
To top