Docstoc

ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS PERUSAHAAN Suatu kasus pada perusahaan jasa Pelaksana Konstruksi PT MATRIX PRIMATAMA Bandung

Document Sample
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS PERUSAHAAN Suatu kasus pada perusahaan jasa Pelaksana Konstruksi  PT MATRIX PRIMATAMA Bandung Powered By Docstoc
					                                      BAB I

                                PENDAHULUAN




1.1. Latar Belakang Masalah

         Potensi usaha jasa konstruksi sangat berperan dalam kegiatan

perekonomian, khususnya        dalam kegiatan pembangunan. Baik pembangunan

sarana umum, pembangunan gedung maupun pembangunan lainnya. Dengan

adanya industri jasa konstruksi akan memberikan peluang yang besar bagi

penyerapan tenaga kerja yang memiliki keahlian dibidang industri jasa konstruksi

dan bangunan, dengan tersedianya lapangan pekerjaan maka akan menciptakan

pendapatan bagi tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran.

         Secara prospektif keberadaan industri jasa konstruksi baik skala kecil,

menengah, maupun skala besar mempunyai nilai strategik bagi Indonesia,

mengingat proporsi perannya cukup besar dan menyangkut banyaknya tenaga

kerja yang terlibat dalam kegiatan pelaksanaan suatu proyek dan pembangunanan.

         Dari pernyataan diatas jelas bahwa perusahaan jasa konstruksi memberi

dampak    positif   terhadap    perkembangan   perekonomian,    namun     dalam

kenyataannya pelaksanaan usaha perusahaan jasa konstruksi memiliki hambatan

dan masalah yang dihadapi yang menjadi fenomena umum yang menjadi

gambaran bahwa setiap sektor usaha tidak hanya memiliki kelebihan, tetapi

banyak kekurangan yang yang ada dalam menjalankan usahanya.

       Menurut Laporan pembinaan Konstruksi “BAPEKIN” dalam sosialisasi

Undang-Undang No. 18/1999 dan Peraturan Pelaksanaan jasa konstruksi di




                                        1
                                                                               2



Bandung terdapat beberapa fenomena yang terjadi pada Potensi usaha atau

Kondisi Jasa Konstruksi Di Indonesia secara umum adalah :

    Belum terwujudnya mutu konstruksi, ketepatan waktu pelaksanaan, dan
     efisiensi pemanfaatan sumber daya sebagaimana direncanakan.
   Rendahnya tingkat kepatuhan Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa
   Belum terwujudnya kesejajaran kedudukan antara Pengguna Jasa dan
     Penyedia Jasa dalam hak dan kewajiban secara adil dan serasi
   Belum terwujudnya secara optimal kemitraan yang sinergis Antar badan
     usaha jasa konstruksi, dan Antar badan usaha jasa konstruksi dengan
     masyarakat
Sumber : Buletin BAPEKIN Edisi ke 6 tahun 2004

       Dari fenomena diatas, terlihat adanya suatu masalah penting yang ada pada

industri jasa konstruksi yang mengganggu tingkat kesehatan usaha sehingga

secara otomatis akan mengganggu pada keberlangsungan usaha.           Salah satu

akibatnya perusahaan akan mengalami penurunan produktivitas usahanya.

Rendahnya produktivitas akan berpengaruh pada keberhasilan usaha sektor

industri jasa pada umumnya, sektor usaha akan berjalan lambat, dan jika dibiarkan

maka tidak menutup kemungkinan industri jasa konstruksi akan bangkrut.

       Jika hal tersebut dilihat secara nasional di Negara Indonesia, maka tidak

akan jauh berbeda keadaannya dengan kondisi industri jasa konsrtuksi yang ada di

Jawa Barat. Dimana jasa konsrtuksi memberikan kontribusi yang rendah pada laju

pertumbuhan ekonomi regional Jawa Barat, yaitu kurang dari 2% bahkan tidak

memberikan kontribusi / dampak positif terhadap industri lainnya hingga tahun

2003. Namun hanya pada tahun 2004 triwulan I mencapai 2.20% dan memberi

dampak positif terhadap perkembangan pertumbuhan industri barang kayu dan

hasil hutan lainnya. (Syahwier, C A. Pikiran Rakyat, 24 juni 2004 )
                                                                             3



         Dari data yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Jawa

Barat, terdapat 500 perusahaan konstruksi yang telah tercatat, baik perusahaan

yang berada pada skala kecil, menengah dan perusahan besar. Namun yang

tercatat sebagai perusahaan konstruksi yang aktif hanya 25 % saja. Hal tersebut

yang menjadi isu menarik mengapa perusahaan jasa cenderung mengalami

penurunan dalam menjalankan usaha. Oleh sebab itu, maka penulis melakukan

penelitian pada satu perusahaan jasa konstruksi yang ada dikota Bandung untuk

membuktikan secara nyata keadaan perusahaan jasa konstruksi seperti halnya

fenomena yang terjadi di Indonesia secara nasional.

         Pada tingkat perusahaan, pengukuran produktivitas terutama digunakan

sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi.

Suatu organisasi perusahaan perlu mengetahui pada tingkat produktivitas mana

perusahaan itu beroperasi, agar dapat membandingkannya dengan produktivitas

standar yang telah ditetapkan manajemen, mengukur tingkat perbaikan

produktivitas dari waktu ke waktu, dan membandingkan dengan produktivitas

industri sejenis yang menghasilkan produk/ jasa serupa. Hal ini menjadi penting

agar perusahaan ini dapat meningkatkan daya saing dari produk/ jasa yang

dihasilkannya di pasar global yang sangat kompetitif.


       Tumbuh kembangnya perusahaan jasa masih diliputi masalah yang cukup

potensial yang dapat mengganggu kesehatan usaha, sehingga mengganggu

keberhasilan usaha. Randahnya produktivitas akan sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan usaha perusahaan jasa, dan jika dibiarkan maka akan mengakibatkan
                                                                                  4



perusahaan jatuh bangkrut karena usaha suatu perusahaan tidak selalu dan hanya

bergantung pada laba yang diperoleh melainkan pada tingkat produktivitasnya.


       Berpijak dari hal diatas, betapa pentingnya pengukuran produktivitas

perusahaan. Maka penulis meneliti masalah produktivitas yang terjadi pada

perusahaan jasa konstruksi PT Matrix Primatama yang tercatat sebagai perusahaan

pelaksana jasa konstruksi tingkat menengah tiga (M3), yaitu usahanya bergerak

dalam bidang pelaksanaan jasa pelaksana konstuksi bangunan.


       PT Matrix Primatama menetapkan sistem pengukuran produktivitasnya

mempertimbangkan beberapa indikator produktivitas, yang pada dasarnya

mengacu pada konsep kualitas dari tenaga kerja yang melaksanakan proyek yaitu

dari ketepatan menggunakan waktu dan mencapai kuantitas yang menjadi target

dengan kualitas yang paling baik. Selain itu tingkat efektivitas dan efisiensi dalam

penggunaan sumber daya yang tersedia, baik modal kerja mapun penggunaan

sumber daya manusia dalam mengorganisir kegiatan pelaksanaan proyek.


       Berdasarkan data yang diperoleh selama penelitian dari laporan keuangan

perusahaan selama kurun waktu enam tahun yang dilihat dari laporan rugi laba

perusahaan, maka dapat dihitung besarnya produktivitas perusahaan yang dilihat

dari sisi input perusahaan atau seluruh biaya yang digunakan dengan besarnya

output perusahaan atau laba yang diperoleh perusahaan. Adapun hasil pengolahan

data dari perhitungan input dan output tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah

ini.
                                                                              5



                                    Tabel 1.1

    Perkembangan Produktivitas Perusahaan Jasa Pelaksana konstruksi

                 PT Matrix Primatama periode 2000 – 2005


      Tahun                 Produktivitas (O/I)              Perkembangan
                                                               per tahun
                      (Laba bersih total / Biaya total )          (%)
       2000                        0,365                            -
       2001                         0,405                        10,95
       2002                         0,367                        -9,38
       2003                         0,593                        61,08
       2004                         0,094                        -84,12
       2005                         0,105                        11,70

Sumber : Data PT Matrix Primatama, diolah

       Bila dilihat maka penurunan dan kenaikannya sangat drastis, hal tersebut

terjadi karena dalam pelaksanaan proyek kurang memperhatikan tingkat

produktivitas dan perkembangan usaha mereka, Perkembangan produktivitas

tersebut merupakan gambaran dari produktivitas dari perusahaan jasa pelaksana

konstruksi PT Matrix Primatama setiap tahun secara keseluruhan


       Perkembangan      produktivitas      diatas   merupakan   gambaran   dari

produktivitas dari perusahaan jasa konstruksi dan pengadaan barang PT Matrix

Primatama. Penurunan produktivitas ini membawa dampak pada penurunan hasil

dari perusahaan jasa konstruksi dan pengadaan barang PT Matrix Primatama,

lebih jauhnya akan mengurangi pendapatan dari perusahaan itu sendiri. Sehingga

kesejateraannya juga akan menurun.sebagaimana dikemukakan oleh Lipsey

(1995:277) mengemukakan bahwa “ Penurunan secara permanen yang terjadi
                                                                               6



pada pertumbuhan produktivitas akan berakibat gawat. Turunnya pertumbuhan

produktivitas mengandung makna bahwa biaya hidup bertambah lebih lambat atau

sesungguhnya berkurang”.


       Melihat fenomena diatas, tumbuh kembangnya perusahaan jasa masih

diliputi masalah yang cukup potensial yang dapat mengganggu kesehatan usaha,

sehingga mengganggu keberhasilan usaha. Randahnya produktivitas akan sangat

berpengaruh terhadap keberhasilan usaha perusahaan jasa, dan jika dibiarkan

maka akan mengakibatkan perusahaan jatuh bangkrut karena usaha suatu

perusahaan tidak selalu dan hanya bergantung pada laba yang diperoleh

melainkan pada tingkat produktivitasnya.


       Vincen Gasverz (2000:22) menyatakan hubungan antara profitabilitas dan

produktivitas. “ Jika perusahaan memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi

sedangkan tingkat produktivitasnya rendah, maka yang akan terjadi adalah tingkat

profitabilitas tidak akan berlanjut dalam jangka panjang, dalam jangka panjang

produktivitas yang rendah akan menggerogoti keuntungan perusahaan”. Masalah

yang terjadi dalam internal peusahaan jasa ini harus segera dapat diatasi, karena

dalam menghadapi era globalisasi setiap perusahaan khususnya perusahaan yang

bergerak dalam penyediaan jasa harus memilki kekuatan dalam mengahadapi para

pesaing baik domestik maupun asing yaitu dalam hal memberikan kualitas

pelayanan jasa yang diberikan pada klien (konsumen) pengguna jasa konstruksi.

Untuk mengatasi hal tersebut menurut vincen Gasverz “ tindakan yang harus

diambil adalah meningkatkan produktivitas perusahaan”.
                                                                         7



       Tujuan didirikannya perusahaan adalah untuk mencari laba. Namun laba

tidak menjamin keberlangsungan suatu usaha sehingga tujuan perusahaan yang

nyata adalah survival. Muchdarsyah Sinungan (2000:45-46) menyatakan bahwa

“untuk dapat survive maka perusahaan harus memiliki kompas. Untuk memiliki

kompas tersebut poerusahaan harus memiliki productivity objective yang

diperlukan untuk pengukuran produktivitas”

       Untuk lengkap dan jelasnya permasalahan ini tertuang dalam judul :

“ANALISIS      FAKTOR        –   FAKTOR      YANG      MEMPENGARUHI

PRODUKTIVITAS PERUSAHAAN (Suatu kasus pada perusahaan jasa

Pelaksana Konstruksi PT MATRIX PRIMATAMA Bandung).”
                                                                              8



1.2. Perumusan Masalah

       Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Muchdarsyah Sinungan (2000:18) bahwa terdapat tiga faktor

mendasar yang mempengaruhi produktivitas suatu perusahaan yaitu:

       1. Investasi sebagai komponen utama berupa modal
       2. Managemen yang terdiri dari managerial skill dan technical sakill
       3. Tenaga kerja

       Menurut Balai Pengembangan Produktivitas dalam Sedarmayanti

(2001:71) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas adalah Sikap

kerja, Tingkat keterampilan,Hubungan kerja dengan lingkaran pengawasan mutu

(Quality Control Circles), Manajemen produktivitas, efisiensi tenaga kerja,

kewiraswastaan

       Berdasarkan faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas diatas,

penulis membatasi pada tiga variabel yang dapat mempengaruhi produktivitas

perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung yaitu dapat

dirumuskan sebagai berikut :

       1. Faktor-Faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas perusahaan

          Jasa Pelaksana PT Matrix Primatama Bandung ?

       2. Seberapa besar faktor-faktor tersebut mempengaruhi produktivitas

          perusahaan Jasa Pelaksana Konstruksi PT Matrix Primatama Bandung?




1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
                                                                           9



   Tujuan Penelitian

    Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

    1. Mengetahui dan memperoleh gambaran yang jelas tentang pengaruh

       efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan

       manajerial terhadap produktivitas         perusahaan jasa pelaksana

       konstruksi dan PT Matrix Primatama

    2. Mengetahui seberapa besar efektivitas modal kerja, kualitas tenaga

       kerja dan kemampuan manajerial mempengaruhi produktivitas

       perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama

    3. Memprediksi kondisi perkembangan produktivitas perusahaan jasa

       pelaksana konstruksi dan PT Matrix Primatama berdasarkan efektivitas

       modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial tersebut.



   Manfaat Penelitian

    Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka hasil penelitian ini

    diharapkan dapat berguna untuk :

    1. Secara Ilmiah

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian

       penelitian selanjutnya, dan memberikan sumbangan pemikiran bagi

       perkembangan ilmu ekonomi khususnya ekonomi mikro.
                                                                                  10




       2. Secara Praktis.

              a. Hasil      penelitian    diharapkan     dapat   dijadikan      bahan

                  pertimbangan dan masukan serta sebagai bahan informasi dan

                  rekomendasi     untuk    selanjutnya    menjadi   referensi    bagi

                  perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama

                  dalam meningkatkan produktivitasnya

              b. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu

                  referensi bagi siapa saja yang ingin mengkaji permasalahan ini



1.4. Kerangka Pemikiran

       Produktivitas merupakan komponen yang turut menentukan serta menjadi

syarat utama dalam keberhasilan suatu perusahaan. Produktivitas menunjukkan

tingkat kualitas perusahaan dalm menghadapi era persaingan sehingga perusahaan

dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.

       Produktivitas dapat diartikan sebagai campuran (compound) dari produksi

dan aktivitas, daya produksi sebagai penyebabnya dan produktivitas mengukur

hasil dari daya produksi tersebut. Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya

dipandang dari sisi output saja, maka produktivitas dipandang dari dua sisi

sekaligus, yaitu : sisi input dan sisi output. Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam

memproduksi output (barang dan jasa).
                                                                               11



       Vincen Gasverz (1998:19) mengatakan bahwa “ Produktivitas merupakan

suatu kombinasi dari efektivitas dan efisiensi, keberhasilan yang dipandang dari

dua sisi sekaligus yaitu sisi input dan output.”

       Whitmore dalam Sedarmayanti (2001:58) menyatakan bahwa :

       “ Productivity is a measure of the use of the reseources of an organization
       and is usually expressed as a ratio of the output obtained by the uses
       reseources to the amount of reseources employed”.
       Whitmore memandang bahwa produktivitas sebagai suatu ukuran atas
       penggunan sumber daya dalm suatu organisasi yang biasanya dinyatakan
       sebagai rasio dari keluaran yang dicapai dengan sumber daya yang
       digunakan.”Dengan kata lain produktivitas dapat dikatakan bahwa
       pengertian produktivitas memiliki dua dimensi, yakni efektivitas dan
       efisiensi.


       Dimensi pertama berkaitan dengan pencapaian target yang berkaitan

dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi kedua berkaitan dengan

upaya membandingkan masukan dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana

pekerjaan tersebut dilaksanakan.

       Penjelasan tersebut mengutarakan produktivitas total atau secara

keseluruhan, artinya keluaran yang dihasilkan diperoleh dari keseluruhan masukan

yang ada dalam organisasi. Masukan (Input) tersebut lazim dinamakan faktor

produksi, masukan atau faktor produksi dapat berupa tenaga kerja, capital, bahan,

teknologi dan energi. Salah satu masukan seperti tenaga kerja, dapat

menghasilkan keluaran yang dikenal dengan produktivitas individu, yang dapat

juga disebut sebagai produktivitas parsial.

       Keluaran yang dihasikan dicapai dari masukan yang melakukan proses

kegiatan yang bentuknya dapat berupa produk nyata atau jasa yang hasilnya
                                                                             12



berupa pendapatan yang diterima setelah melakukan kegiatan produksi yaitu

berupa laba.

       Menurut Albert Wijaya (1993), bahwa:

       Laba perusahaan masih merupakan tujuan yang kritis bagi perusahaan dan
       sebagai ukuran keberhasilan perusahaan, tetapi bukan tujuan akhir dari
       perusahaan. Dikatakan sangat penting, apabila perusahaan tidak
       memperoleh laba, maka ia tidak dapat memberikan manfaat bagi
       stakeholder. Ini berarti tidak bias memberikan deviden kepada pemegang
       saham, tidak bias memperluas usaha, dan tidak bias membayar pajak.
       (Suryana, 2003 127-128)


       Sedangkan Menurut Miller dan Meiner (1993:250) “ Laba adalah

kelebihan pendapatan atas berbagai macam biaya.” Dan definisi laba menurut

Case dan Fair (2002:185) adalah : Laba = Penerimaan Total – Biaya Total.

       Vincen Gasverz (1998:100) mengungkapkan bahwa “Proses peningkatan

produktivitas memerlukan komitmen untuk perbaikan terus menerus yang

melibatkan secara seimbang antara aspek manusia (motivasi) dan aspek teknologi

(teknik)”. Selanjutnya Vincent Gasperz (1998:101) mengemukakan bahwa pada

dasarnya proses kerja terus menerus merupakan tindakan-tindakan yang diambil

dalam sistem bisnis global guna meningkatkan produktivitas total melalui

peningkatan efisiensi dan efektivitas dari proses dan aktivitas melalui struktur

organisasi manajemen yang ada.

       Dalam pencapaian produktivitas pada suatu organisasi atau perusahaan

harus dapat mempertimbangkan dan memperhatikan variabel utama yang harus

diperbaiki yaitu dalam penggunaan modal, khususnya modal kerja dengan efektif,

efisien dan tepat guna, penggunaan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja
                                                                            13



yang memiliki keahlian sesuai dengan bidang kerja dan kemampuan seorang

manajer dalam menjalankan fungsi manajemen perusahaan.

       Agus Sartono (2001:385) menyatakan bahwa “Tindakan yang diambil

dalam pencapaian produktivitas adalah dalam pemanfaatan modal kerja secara

efektif dan efisien, seluruh penggunaan modal kerja dipergunakan secara optimal

sehingga tidak terjadi kemubadziran. Manajemen modal kerja yang efektif

menjadi sangat penting untuk pertumbuhan keberlangsungan perusahaan dalam

jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas

penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar kemungkinan akan

kehilangan pendapatan dan keuntungan serta mempengaruhi produktivitas”

       Bambang Riyanto (1991:64) “Efektivitas modal kerja yaitu tingkat

keberhasilan suatu perusahaan dalam menggunakan modal kerja yang sesuai

dengan standar yang telah ditetapkan, sehingga tidak menimbulkan kelebihan atau

kekurangan dan dapat memberikan rasio yang memuaskan”.

       Perbaikan terus menerus yang melibatkan aspek kemampuan Sumber

Daya Manusia atau kualitas tenaga kerja dapat ditempuh melalui perbaikan

kualitas hasil pekerjaan yang dilaksanakan mengacu pada penggunaan waktu yang

tepat dengan kuantitas pencapaian target pekerjaan.

       D.H. Bush (1991) dalam Iman Soeharto ( 1998 :43) mengatakan bahwa “

Kualitas tenaga kerja dapat dilihat dari waktu yang digunakan dalam pelaksanaan

proyek secara tepat dengan tujuan awal dan rencana awal dalam pelaksanaan

proyek. Karena waktu atau jadwal merupakan salah satu sasaran utama proyek,

keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian, misalnya
                                                                                 14



penambahan biaya, denda dari nilai kontrak, kredibilitas perusahaan mejadi jelek,

kehilangan kesempatan produk memasuki pasaran, dan lain-lain. Pengelolaan

waktu mempunyai tujuan utama agar proyek diselesaikan sesuai atau lebih cepat

dari rencana dengan memperhatikan batasan biaya, mutu dan lingkup proyek”

       Gilmore (1974:6) dalam Sedarmayanti (2001:64) menyatakan bahwa

orang yang produktif adalah :

       “Who is making a tangible and significant contribution in his choosen
       field, who is imaginative, perceptive, and innovative in his approach to life
       problems and to accomplishment of his own goals (creativity), and who is
       at the same time both responsible and responsive ini his relationship with
       other”.
       Dalam uraian tersebut, Gilmore menekankan kontribusi yang fositif dari
       diri seseorang terhadap lingkungannya dimana dia berada. Dengan adanya
       tindakan yang konstruktif, imaginative, kreatif dari individu dalam suatu
       organisasi, maka diharapkan produktivitas organisasi akan meningkat.


       Menurut Liang Gie (1982) dalam Maman Ukas (1999:245), bahwa

kemampuan manajerial ( Managerial Competence) adalah: “Daya kesanggupan

dalam menggerakkan orang-orang dan menggerakkan            fasilitas-fasilitas dalam

suatu organisasi. Nilai dalam manajemen sangat menentukan oleh karena nilai

demikian berkenaan dengan aktivitas pokok yaitu memimpin suatu organisasi

yang bersangkutan. Nilai ini dikenakan terutama kepada manajer organisasi itu.

Kadangkala daya kemampuan ini disebut juga atau dikatagorikan dalam

kemahiran manajemen”

       Peter F Drucker yang dikutip dalam jurnal Muhamad Nursadik

(2004:3) mengungkapkan bahwa “tugas utama dari seorang manajer profesional

adalah bagaimana meningkatkan customer (meningkatkan pelanggan). Dalam
                                                                           15



konsep ini dikatakan bahwa seorang manajer profesional yang pertama-tama harus

diketahuinya adalah tujuan perusahaannya. Berangkat dari tujuan perusahaan

tersebut semua stafnya harus mengetahui dengan jelas dan memberikan

kontribusinya sesuai dengan bidang kerjanya untuk mencapai tujuan perusahaan

yang telah ditetapkan”

       Tanggung jawab dari seorang manajer yang profesional adalah

memberikan sugesti dan selalu mendengarkan dari staf kemungkinan penyelesaian

masalah dalam suatu persoalan yang spesifik. Dan yang tak kalah pentingnya

adalah memberikan kesempatan kepada staf untuk melakukan sesuatu yang

dianggap penting dibanding kalau staf itu tinggal mau menerima perintah baru

mengerjakan sesuatu.

       Maman Ukas (1999:26) mengemukakan, sesuai dengan kode etik dari

manajer yang salah satunya mencari dan merekomendasi untuk menaikan

produktivitas dan efisiensi harus didukung oleh kemampuan manajerial dari

seorang manajer. Selanjutnya, Maman Ukas (1999:97) menyatakan manajer yang

memilki kemampuan manajerial (manajer kompeten) adalah seorang yang

memiliki kompetensi manajerial, yaitu memiliki pengetahuan, dan sikap perilaku

yang turut berkontribusi terhadap penampilan manajerial yang efektif. Karena

seseorang akan mampu mengelola organisasi apabila ia memiliki kecakapan

manajerial (managerial competensy) yaitu suatu keterampilan atau karakteristik

personal yang membantu tercapainya kinerja yang tinggi dalam tugas manajemen.
                                                                              16



       Dari beberapa pengertian dan teori serta studi empiris dari jurnal ekonomi

yang telah dipaparkan diatas, maka dapat digambarkan dalam bagan alur kerangka

pemikiran dari faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perusahaan yaitu

sebagai berikut

                        Bagan Alur Kerangka Pemikiran


      EFEKTIVITAS MODAL
            KERJA




       KUALITAS TENAGA                                 PRODUKTIVITAS
            KERJA                                       PERUSAHAAN



          KEMAMPUAN
          MANAGERIAL


1.5. Hipotesis

       Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka dapat dirumuskan hipotesis

mayor dan hipotesis minor sebagai berikut:

1.5.1 Hipotesis Mayor

       “Efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial

berpengaruh positif terhadap produktivitas Perusahaan Jasa Pelaksana Konstruksi

PT Matrix Primatama Bandung”.
                                                                                 17



1.5.2 Hipotesis Minor

         Dalam penelitian ini dapat dibuat hipotesis minor sebagai berikut:

   1. Efektivitas modal kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas

        Perusahaan Jasa Pelaksana Konstruksi PT Matrix Primatama.

   2. Kualitas tenaga kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas

        Perusahaan Jasa Pelaksana Ponstruksi PT Matrix Primatama.

   3. Kemampuan managerial berpengaruh positif terhadap produktivitas

        Perusahaan Jasa Pelaksana Konstruksi PT Matrix Primatama



1.6 Sistematika Penulisan

        Penulisan skripsi ini disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut:

BAB I       PENDAHULUAN

            Dalam Bab ini dikemukakan tentang Latar Belakang masalah,

            Identifikasi dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian,

            Kerangka Pemikiran, Hipotesis dan Sistematika Penulisan.

BAB II      TINJAUAN PUSTAKA

            Bab ini mengungkapkan tentang teori efektivitas modal kerja, kualitas

            tenaga kerja, kemampuan manajerial dan teori produktivitas serta

            pengukuran produktivitas

BAB III      METODOLOGI PENELITIAN

            Bab ini menjelaskan tentang Objek Penelitian, Metode Penelitian,

            Populasi dan Sample, Definisi Operasionalisasi Variabel, Teknik

            Pengumpulan      Data,   Pengujian    Instrumen    Penelitian,    Teknik
                                                                                18



         Pengolahan Data, Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis, uji

         asumsi Klasik.

BAB IV   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

         Bab ini menguraikan tentang gambaran umum penelitian yang

         meliputi   kondisi    umum     perusahaan,     gambaran     produktivitas

         perusahaan di lihat dari variabel yang di teliti (efektivitas modal kerja,

         kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial), analisis data dan

         pengujian hipotesis, pembahasan serta implikasi pendidikan.

BAB V    KESIMPULAN DAN SARAN
                                                                              19



                                       BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Efektivitas Modal Kerja

       Sebagian besar sumber daya yang dimiliki perusahaan tertanam dalam

modal kerja (working capital) sehingga masalah modal kerja merupakan suatu hal

penting yang memerlukan perhatian besar dan tindakan hati-hati dalam

pengelolaannya. Modal kerja digunakan untuk membelanjai sebagian besar

operasional perusahaan terutama membiayai pengeluaran-pengeluaran operasional

rutin seperti pembayaran upah dan gaji pegawai,pembelian bahan baku, dan lain-

lain. Tersedianya modal kerja yang cukup juga dapat menjaga perusahaan

terhadap kemungkinan terjadinya krisis modal kerja akibat turunnya aktiva lancar

dan dari bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin akan timbul.

       Mengingat pentingnya modal kerja bagi kelancaran operasi perusahaan,

maka peran manajemen dalam menerapkan kebijakan-kebijakan sehubungan

dengan pengelolaan modal kerja yang tersedia sangat diperlukan, seperti

kebijakan penetapan besarnya modal kerja atau aktiva lancar yang harus

dipertahankan agar mencukupi operasi. Atau kebijakan mengenai kebutuhan yang

menyangkut hubungan antara berbagai jenis aktiva dan cara pembayarannya, hal

tersebut dilakukan melalui kebijakan manajemen yang terkendali dan hati-hati

terhadap modal kerja yang tersedia..

   Agus Sartono (2001 : 385), mengatakan bahwa “manajemen modal kerja

   berkepentingan terhadap manajemen keputusan investasi pada aktiva lancar
                                                                             20



   dan utang lancar terutama mengenai bagaimana penggunaan dan komposisi

   keduanya akan mempengaruhi resiko. Modal kerja diperlukan perusahaan

   untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan”.

       Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa

jauh target dapat tercapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada

keluaran sedangkan masalah masukan kurang menjadi perhatian.

       Efektivitas selalu berhubungan dengan tujuan perusahaan, kegiatan suatu

pusat pertanggung jawaban atau unit organisasi dapat dikatakan efektif sejalan

dengan kontribusi yang diberikan dalam mencapai tujuan perusahaan. Artinya

semakin besar kontribusi yang diberikan dalam mencapai tujuan perusahaan maka

semakin efektif kegiatan unit tersebut.

       Maman Ukas (1999:85) mengemukakan bahwa “efektivitas merupakan

suatu ukuran tentang pencapaian tujuan”. Kemudian Muchdarsyah Sinungan

(2000:15) mengemukakan bahwa efektivitas adalah dimana tujuan tercapai.

       Bambang Riyanto (1991:64) mengatakan bahwa “Efektivitas modal kerja

yaitu tingkat keberhasilan suatu perusahaan dalam menggunakan modal kerja

yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, sehingga tidak menimbulkan

kelebihan atau kekurangan dan dapat memberikan rasio yang memuaskan”.

       Agus Sartono (2001:385) menyatakan bahwa “Tindakan yang diambil

dalam pencapaian produktivitas adalah dalam pemanfaatan modal kerja secara

efektif dan efisien, seluruh penggunaan modal kerja dipergunakan secara optimal

sehingga tidak terjadi kemubadziran. Manajemen modal kerja yang efektif

menjadi sangat penting untuk pertumbuhan keberlangsungan perusahaan dalam
                                                                             21



jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas

penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar kemungkinan akan

kehilangan pendapatan dan keuntungan serta mempengaruhi produktivitas”

   Agus Sartono (2001 : 386) bahwa “Apabila perusahaan kekurangan modal

   kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka

   besar kemungkinannya akan kehilangan pendapatan dan keuntungan”.

   Perusahaan yang tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat

   membayar kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya dan akan

   menghadapi masalah likuiditas.




2.2. Kualitas Tenaga kerja

       Faktor manusia sebagai unsur tenaga kerja adalah faktor yang cukup

dominan dari unsur-unsur lainnya, karena betapapun lengkapnya sarana dan

terpenuhinya modal usaha tanpa adanya tenaga kerja semua tidak akan berjalan,

dalam hal ini tenaga kerja dapat dikatakan sebagai kunci keberhasilan organisasi

(perusahaan) dan merupakan kekayaan atau asset yang harus dikembangkan,

dihargai dan bukan sekedar dieksploitasi, sehingga keberadaannya harus tetap

dipelihara agar dapat memberi kontribusi yang besar terhadap keberhasilan

organisasi.

       PT Matrix Primatama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang

jasa pelaksana konstruksi tidaklah mungkin akan berhasil dalam mencapai tujuan

perusahaan tanpa adanya tenaga kerja yang menjalankan dan menyelesaikan usaha
                                                                              22



pelayanan jasa tersebut. Tentunya tenaga kerja yang memiliki skill dan keahlian

dibidang pelayanan jasa pelaksana konstruksi bangunan.

       A.Dale Timpe (1989) dalam Sedarmayanti (2001 :70) mengungkapkan

tentang ciri umum pegawai yang produktif adalah sebagai berikut :

   1. Cerdas dan dapat belajar dengan cepat.
   2. Kompeten secara professional/teknis selalu memperdalam pengetahuan
      dalam bidangnya.
   3. Kreatif dan inovatif, memperlihatkan kecerdikan dan keanekaragaman.
   4. Memahami pekerjaan.
   5. Belajar dengan “cerdik”, menggunakan logika, mengorganisasikan
      pekerjaan dengan efesien, tidak mudah macet dalam pekerjaan. Selalu
      mempertahankan kinerja rancangan, mutu, kehandalan, pemeliharaan
      keamanan, mudah dibuat, produktivitas, biaya dan jadwal.
   6. Selalu mencari perbaikan, tetapi tahu kapan harus berhenti
      menyempurnakan.
   7. Dianggap bernilai oleh pengawasnya
   8. Memilki catatan prestasi yang berhasil.
   9. Selalu meningkatkan diri.


       D.H. Bush (1991) dalam Iman Soeharto ( 1999 :43) “Kualitas tenaga

kerja dapat dilihat dari waktu yang digunakan dalam pelaksanaan proyek tepat

dengan tujuan awal dan rencana awal dalam pelaksanaan proyek. Karena waktu

atau jadwal merupakan salah satu sasaran utama proyek, keterlambatan akan

mengakibatkan berbagai bentuk kerugian, misalnya penambahan biaya, denda dari

nilai kontrak, kredibilitas perusahaan mejadi jelek, kehilangan kesempatan produk

memasuki pasaran, dan lain-lain. Pengelolaan waktu mempunyai tujuan utama

agar proyek diselesaikan sesuai atau lebih cepat dari rencana dengan

memperhatikan batasan biaya, mutu dan lingkup proyek”.
                                                                            23




       Adapun proses pengelolaan waktu proyek antara lain :

1. Identifikasi kegiatan

 Proses pengelolaan waktu diawali dengan mengidentifikasi kegiatan proyek agar

 komponen lingkup proyek yang telah ditentukan dapat terlaksana sesuai dengan

 jadwal. Output dari proses ini adalah daftar kegiatan dan time schedule

2. Penyusunan urutan kegiatan

 Setelah diuraikan menjadi komponen, lingkup proyek disusun kembali menjadi

 urutan kegiatan sesuai dengan logika ketergantungan. Output proses ini adalah

 jaringan kerja

3. Perkiran kurun waktu

 Setelah adanya jaringan kerja maka ditentukan perkiraan kurun waktu yang

 diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan yang bersangkutan

4. Penyusunan jadwal

 Jaringan kerja yang telah diberi kurun waktu kemudian secara keseluruhan

 dianalisis dan dihitung kurun waktu penyelesaian proyek dan milestone yang

 merupakan titik penting dari sudut jadwal proyek

5. pengendalian waktu dan jadwal

 Pengendalian waktu meliputi kegiatan yang berkaitan dengan pemantauan dan

 pengoreksian agar “progres” pekerjaan proyek sesuai dengan jadwal yang telah

 ditentukan. Output dari proses ini adalah revisi jadwal induk (time schedule),

 milestone dan jadwal pekerjaan dilapangan.
                                                                             24




2.3.Kemampuan Manajerial

       Dalam suatu perusahaan diperlukan seorang manajer yang membantu

dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan. Kemampuan manajer dalam memimpin

perusahaan sangat dipengaruhi kompetensi manajerialnya. Tidak jauh beda

dengan perusahaan lainnya, perusahaan jasa yang bergerak dalam pelaksanaan

konstruksipun membutuhkan seorang manajer yang kompeten dan dapat

mengorganisir setiap pelaksanaan suatu kegiatan usaha. Sehingga tujuan usaha

tercapai, baik dalam pencapaian profitabilitas maupun dalam keberhasilan

perkembangan usahanya.

       Menurut Liang Gie (1982) dalam Maman Ukas (1999:245), bahwa

kemampuan manajerial ( Managerial Competence) adalah: “Daya kesanggupan

dalam menggerakkan orang-orang dan menggerakkan        fasilitas-fasilitas dalam

suatu organisasi. Nilai dalam manajemen sangat menentukan oleh karena nilai

demikian berkenaan dengan aktivitas pokok yaitu memimpin suatu organisasi

yang bersangkutan. Nilai ini dikenakan terutama kepada manajer organisasi itu.

Kadangkala daya kemampuan ini disebut juga atau dikatagorikan dalam

kemahiran manajemen”

       Peter F Drucker dalam jurnal ekonomi yang ditulis oleh Muhamad Nur

Sadik (2004:2) dalam jurnal yang berjudul “Produktivitas diukur dari

meningkatkan Produktivitas melalui Pemberdayaan Manusia” mengembangkan

suatu konsep yang dinamakan decentralization policy (desentralisasi kebijakan)
                                                                          25



dan ini diadopsi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti General Electric

Company dan Ford Motor Company. Salah satu temuan Peter F Drucker yang

dikenal di mana-mana adalah management by objective (MBO).

       Dalam konsep ini dikatakan bahwa seorang manajer profesional yang

pertama-tama harus diketahuinya adalah tujuan perusahaannya. Berangkat dari

tujuan perusahaan tersebut semua stafnya harus mengetahui dengan jelas dan

memberikan kontribusinya sesuai dengan bidang kerjanya untuk mencapai tujuan

perusahaan yang telah ditetapkan.

       Menurut Peter F Drucker dalam jurnal ekonomi yang ditulis oleh

Muhamad Nur Sadik (2004:4), tugas utama dari seorang manajer profesional

adalah bagaimana meningkatkan customer (meningkatkan pelanggan). Berangkat

dari anggapan seperti itu maka semua staf dalam perusahaan tersebut harus

mengutamakan penampilan kinerja dalam keuntungan dan produktivitas dari

perusahaan tersebut. Dalam hal inilah seorang manajer menekankan perhatiannya

bahwa stafnya itu adalah sumber daya (resources) bukan beban biaya.

       Tanggung jawab dari seorang manajer yang profesional adalah

memberikan sugesti dan selalu mendengarkan dari staf kemungkinan penyelesaian

masalah dalam suatu persoalan yang spesifik. Dan yang tak kalah pentingnya

adalah memberikan kesempatan kepada staf untuk melakukan sesuatu yang

dianggap penting dibanding kalau staf itu tinggal mau menerima perintah baru

mengerjakan sesuatu.

       Untuk meningkatkan produktivitas, staf diberikan kebebasan untuk

melakukan sesuatu dalam pekerjaannya. Manajer itu adalah suatu kompetensi dan
                                                                                 26



integritas yang harus diperlihatkan dalam kinerja suatu pekerjaan. Sebab,

manajemen itu adalah suatu fungsi (function) bukan tingkatan (class).

       Menurut Maman Ukas ( 1999 : 87), manajer yang memiliki kemampuan

manajerial (manajer kompeten) adalah seorang yang memiliki kompetensi

manajerial, yaitu memiliki pengetahuan dan              sikap perilaku yang turut

berkontribusi terhadap penampilan manajerial yang efektif

       Para manajer adalah mereka yang mempersatukan uang, tenaga kerja,

bahan baku, dan bahan-bahan lainnya dan mesin-mesin yang diperlukan untuk

menyelenggarakan suatu perusahaan. Untuk itu mereka harus :

1. Merencanakan untuk yang akan datang

2. Mengorganisir perusahaan

3. Mengarahkan kegiatan-kegiatan kaeyawan

4. Mengendalikan seluruh perusahaan

       Menurut Vincent Gaspersz (1998:3), tugas seorang manajer dalam

organisasi bisnis adalah membuat keputusan yang berkaitan dengan masalah-

masalah bisnis sedemikian rupa sehingga keputusan itu diharapkan akan

memungkinkan     organisasi   mencapai     tujuannya,     seperti   :   meningkatkan

produktivitas, memperluas pangsa pasar, meningkatkan keuntungan, mengurangi

biaya, dan lain-lain yang pada prinsipnya akan meningkatkan performansi bisnis

dalam situasi ekonomi yang sangat kompetitif.

       Perusahaan    memerlukan     cara   menilai   sistem     manajemen     secara

keseluruhan, dalam arti bagaimana sistem tersebut mempengaruhi setiap proses

dan setiap karyawan serta diperluas pada setiap produk dan pelayanan.
                                                                               27



Pengendalian proses pelayanan adalah sebuah pertanda untuk perbaikan kualitas

pelayanan, tetapi hal itu tergantung pada kesehatan dan vitalitas dari organisasi,

kepemimpinan dan komitmen.

       Adapun fungsi-fungsi manajemen yang harus dimilki oleh setiap manajer

yang kompeten baik pelaksanaan fungsi manajemen umum maupun fungsi

manajemen proyek dalam pelaksanaan suatu usaha adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan

       “Perencanaan secara sederhana merupakan persiapan segala sesuatu hari

ini untuk keperluan hari esok”, Plungkert Atter dalam Maman Ukas

(1999:155). Sedangkan GR.Terry yang dikutip oleh Maman Ukas (1999:155)

mengemukakan perencanaan merupakan tindakan memilih dan menghubungkan

fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi- asumsi mengenai masa yang

akan datang dalam hal memvisualisasikan dan merumuskan aktivitas-aktivitas

yang dianggap perlu untuk mencapai hal yang diinginkan”

       Perencanaan dalam pelaksanaan suatu proyek sebagai penetapan tujuan

dan langkah dasar yang diambil untuk melakukan suatu tindakan proyek. Menurut

Iman Soeharto (1999 :217) bahwa Perencanaan proyek terdiri dari :

a. Penentuan tujuan

b. Penentuan Sasaran

c. Pengkajian posisi awal terhadap tujuan

d. Pemilihan alternatif

e. Penyusuanan rangkaian langkah untuk mencapai tujuan
                                                                               28



       Adapun tujuan dari perencanaan adalah memberikan arahan, mengurangi

dampak negatif, mengurang pemborosan dan menentukan untuk mengendalikan

perencanaan membuat usaha menjadi terkoordinir. Disamping itu, perencanaan itu

membantu mengurangi overlapping dari aktivitas yang tidak berguna.

2. Pengorganisasian

       Fungsi    pengorganisasian   merupakan   bagian   dari   seluruh     proses

manajemen, pengorganisasian merupakan tindakan untuk mencapai upaya yang

dikoordinasikan. Hal ini menunjukkan hubungan antar tugas-tugas sehingga

merupakan suatu kesatuan dan menunjukkan sekaligus suatu proses kegiatan

       Pengorganisasian dalam pelaksanaan suatu proyek biasa disebut sebagai

perencanaan dan pengelolaan sumber daya manusia yang bertujuan untuk

mengupayakan penggunaan secara efektif sumber daya manusia proyek.

Pengelolaan ini meliputi dan dimulai dati inventarisasi kebutuhan. Merekrut atau

mengajukan      keperluan,   menyusun    organisasi   membentuk      tim,    serta

mempraktekan cara kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan kegiatan proyek.

(Iman Soeharto 1999 : 105)

       Dalam pembentukan organisasi meliputi identifikasi jenis dan lingkup

kegiatan operasi fasilitas hasil proyek, menyusun organisasi pengelola, membuat

deskripsi pekerjaan posisi kunci, merekrut dan melatih personil, menjalankan

operasi. ( Iman Soeharto 1999 : 105)

3. Staffing

       Pengertian staffing tidak jauh berbeda dengan pengorganisasian, yaitu

membentuk suatu rekan kerja dalam satu organisasi dimana terciptanya

spesialisasi dalam melaksanakan tugas. Disini semua orang diberi wewenang dan
                                                                           29



tanggung jawab yang bebeda sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh setiap

anggota organisasi.

       Pembentukan tim merupakan proses yang amat penting dari segi

pengelolaan sumber daya manusia proyek . proses ini bermaksud meningkatkan

kecakapan dan kinerja personil dan kerjasama personil dalam tim guna

melaksanakan suatu proyek. Langkah ini dianggap penting karena personil proyek

bukanlah dalm jumlah yang sedikit dan bukan dari orang yang memilki latar

belakang yang sama, dengan adanya proses ini semua personil setidaknya

diberikan tanggung jawab yang berbeda (spesialisai) sehingga tanggung jawab

sebagai anggota personil proyek dapat terlaksanakan.

       Biasanya dalam staffing selalu diberikan latihan dan bimbingan terlebih

dahulu, sehingga pemahaman sebagai personil proyek akan mudah dijalankan dan

terlaksanakannya tugas sesuai dengan keahlian yang diberikannya.

4. Penggerakkan

       Menurut Gr. Terry, dalam Maman Ukas (1999 :250) “ Pergerakkan

adalah tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota mau dan berusaha

sekuat tenaga untuk mencapai tujuan perusahaan dan tujuan para anggota yang

menyebabkan para anggota mau untuk mencapai tujuan tersebut.

       Fungsi pergerakan erat kaitannya dengan kepemimpinan seorang manajer,

karena fungsi ini berkaitan dengan penggunaan sumber daya manusia. Oleh

karena itu seorang manajer perlu memiliki kepandaian mengatur, menempatkan,

memberi motivasi serta menciptakan iklim yang kondusif dan favourable dalam
                                                                         30



mengefektifkan kerja sana sehingga dapat menjurus kepada produktivitas dan

kepuasan kerja.

       Pergerakkan dalam pelaksanaan suatu proyek adalah dengan adanya

seorang pimpinan proyek yang akan menjadi komando pelaksanaaan suatu

kegiatan proyek. Sehingga ada penanggung jawab atas terlaksananya suatu

kegiatan proyek yang telah dilaksanakan, biasanya adanya pimpinan tunggal

selaku pimpinan proyek (Pimpro) utama yang menjadi andil besar dalam

penentuan proses pelaksanan

5. Pengawasan / Pengendalian

       Iman Soeharto (1998 : 47) menyatakan bahwa Pengendalian adalah usaha

yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran

perencanaan, merancang sistem informasi membandingkan pelaksanaan dengan

standar, menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan antara pelaksanaan dan

standar, mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber daya yang

digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai sasaran”

       Adapun pengawasan (pengendalian dalam proyek) dapat dilaksanakan

dengan beberapa hal :

           Tindakan pembetulan seperti : Realokasi sumber daya, Jadwal
            alternatif, Rework
           Pengkajian dan menyimpulkan, seperti : Intepretasi masukan,
            Analisis varian
           Mengumpulkan data dan informasi, seperti : Mengukur hasil kerja,
            Mencatat pemakaian sumber daya, Memeriksa kualitas, Mencatat
            kinerja dan produktivitas.
                                                                                             31



               Ringkasan hubungan manajemen Klasik / Fungsional
                      dan manajemen pengelolaan proyek

                      MANAJEMEN KLASIK – FUNGSIONAL
                            (5 fungsi manajemen)




1. Merencanakan     2. Mengorganisir   3. Staffing   4. pergerakkan          5. Pengawasan




                              B. PERILAKU PROYEK
                   (perbedaan yang dominan terhadap opearsi rutin)




 Non Rutin        Banyak Peserta         Sementara       Bukan komando       Sekali lewat
 Sekali lewat     Banyak ragam pekerjaan Waktu Pendek    tunggal             Erat selaki
 Kompleks         Waktu Pendek           Jenjang Akhir   Tenaga ahli         Berubah cepat
 Erat kaitannya   Sementara                              kurang otoritas
                                                          Kurang sasaran
                                                          motivasi




                            C. MANAJEMEN PROYEK
                           (penerapan 5 fungsi manajemen
                              terhadap kegiatan proyek)



 Manajemen by Matriks            Sumber luar yang siap   Penaggunga         Deteksi sensitif
  Exception      Horisontal       Pelatihan minimal       jawab tunggal      Peramalan
 Jaringan kerja Koordinasi                               Expert dan         Erat dengan pe-
 (jalur Kritis) Integrasi                                reference power    rencanaan
 Setapak demi   Vertikal                                 gaya partisipasi
  Setapak

Gambar 2.1: Ringkasan hubungan manajemen fungsional dengan manajemen
proyek
Sumber : D.I. Cleland dan W.R. King (1993) dalam Iman Soeharto (1999:31)
“Manajemen Proyek” Jilid 1 edisi dua.
                                                                               32



       Kemampuan manajerial berkaitan dengan kemampuan menjalankan

fungsi-fungsi      manajemen,    yaitu   fungsi   perencanaan,   pengorganisasian,

pengarahan, dan pengawasan. Fungsi-fungsi manajemen ini merupakan proses

dari pelaksanaan manajemen suatu perusahaan dalam rangka mencapai tujuan

yang telah ditetapkan.

       Seseorang akan mampu mengelola organisasi apabila ia memiliki

kecakapan manajerial (Manajerial Competency) yaitu suatu keterampilan atau

karakteristik personal yang membantu tercapainya kinerja yang tinggi dalam tugas

manajemen.

        Adapun karakteristik personal yang harus ada pada diri seseorang manajer

adalah memiliki beberapa personal yang diperukan agar mencapai keberhasilan,

sebagai berikut:

1. Kepemimpinan (Leadership) : kemampuan untuk mempengaruhi orang lain

   agar mau melaksanakan tugas.

2. Objektivitas sendiri (My Objectivity); kemampuan untuk menilai diri sendiri

   secara realistis.

3. Berfikir analitis (Analytic Thingking): kemampuan untuk mengintrepetasikan

   dan menyampaikan segala macam bentuk informasi.

4. Fleksibilitas perilaku (Behavior Flexibility): kemampuan untuk menyesuaikan

   perilaku dalam mencapai suatu tujuan

5. Komunikasi          Lisan    (Oral    Communication):     kemampuan      untuk

   mengungkapkan pendapat secara jelas dalam berbicara.
                                                                             33



6. Komunikasi      tulis   (Written    Communication):      kemampuan     untuk

   mengungkapkan pendapat dengan baik secara tertulis

7. Dampak pribadi (Personal Impact): kemampuan untuk menumbuhkan kesan

   baik dan kepercayaan bagi orang

8. Daya tahan terhadap stres (Resistence to stress): kemampuan untuk tetap dapat

   bekerja dalam keadaan tertekan.

9. Toleransi terhadap ketidakmenentuan (Tolerance for uncertancy): kemampuan

   untuk bekerja dalam situasi yang tidak menentu.

   (J.R. Schermerhoen (1996) dalam Maman Ukas (1999:95))

       Manajer yang kompeten adalah seseorang yang mempunyai kompetensi

manajerial yaitu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang

turut berkontribusi terhadap penampilan manajerial yang efektif.

       Menurut pendapat para ahli, sukses dibidang manajemen banyak dibantu

oleh pengetahuan dan keterampilan dalam ketiga bidang sebagai berikut:

1. Kemampuan membuat konsep (Conceptual Skill) yaitu kemampuan mental

   untuk berfikir dalam memberikan pengertian, pandangan, persepsi dan

   pendapat dalam menagani kegiatan-kegiatan organisasi secara menyeluruh.

2. Kemampuan kemanusiaan (Human Skill) yaitu kemampuan untuk bekerja

   dalam kelompok atau dengan kelompok yang lain secara organisasi maupun

   secara individu dalam memperbaiki motivasi, komunikasi, memimpin, dan

   mengarahkan orang-orang untuk mengerjakan sesuatu dalam mencapai tujuan

   yang diinginkan.
                                                                                34



3. Kemampuan Teknis (Technical Skill) yaitu kecakapan menangani atau

   menghendel suatu masalah melalui penggunaan peralatan,prosedur, metode

   dan teknik dalam proses operasional terutama menyangkut manusia kerja yang

   berhubungan dengan alat-alat yang harus digunakan dalam menyelesaikan

   pekerjaan.

   (Maman Ukas,1999:98)



2.4. Produktivitas

2.4.1. Pengertian Produktivitas

       Produktivitas dapat diartikan sebagai campuran (compound) dari produksi

dan aktivitas, dimana daya produksi sebagai penyebabnya dan produktivitas

mengukur hasil dari daya produksi tersebut. Apabila ukuran keberhasilan produksi

hanya dipandang dari sisi output saja, maka produktivitas dipandang dari dua sisi

sekaligus, yaitu : sisi input dan sisi output. Vincen Gasverz (1998:19)

mengatakan bahwa “ Produktivitas merupakan suatu kombinasi dari efektivitas

dan efisiensi, keberhasilan yang dipandang dari dua sisi sekaligus yaitu sisi input

dan output Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan

dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan jasa).

       Menurut Ensyclopedia Britania yang dikutip oleh Sedarmayanti

(2001:56) disebutkan bahwa produktivitas dalam ekonomi berarti rasio dari hasil

yang dicapai dengan pengorbanan yang dikeluarkan untuk menghasilkan sesuatu.

Sedangkan menurut formulasi National Productivity Board (NPB) Singapore,
                                                                               35



dikatakan bahwa produktivitas adalah sikap mental (attitude of mind) yang

mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan.

       Sedangkan menurut Formulasi National Productivity Board (NPB)

Singapore dikutip oleh Sedarmayanti (2001:56) dikatakan bahwa “ Produktivitas

adalah sikap mental (attitude of mind) yang mempunyai semangat untuk

melakukan peningkatan perbaikan. Dengan adanya perbaikan itu diharapkan akan

dapat menghasilkan barang dan jasa yang bermutu tinggi dan standar kehidupan

usaha yang lebih tinggi”.

       Whitmore dalam Sedarmayanti (2001:58) menyatakan bahwa :

       “ Productivity is a measure of the use of the reseources of an organization
       and is usually expressed as a ratio of the output obtained by the uses
       reseources to the amount of reseources employed”.
       Whitmore memandang bahwa produktivitas sebagai suatu ukuran atas
       penggunan sumber daya dalm suatu organisasi yang biasanya dinyatakan
       sebagai rasio dari keluaran yang dicapai dengan sumber daya yang
       digunakan.”Dengan kata lain produktivitas dapat dikatakan bahwa
       pengertian produktivitas memiliki dua dimensi, yakni efektivitas dan
       efisiensi.

       Dimensi pertama berkaitan dengan pencapaian target yang berkaitan

dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi kedua berkaitan dengan

upaya membandingkan masukan dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana

pekerjaan tersebut dilaksanakan.

       Penjelasan tersebut mengutarakan produktivitas total atau secara

keseluruhan, artinya keluaran yang dihasilkan diperoleh dari keseluruhan masukan

yang ada dalam organisasi. Masukan (Input) tersebut lazim dinamakan faktor

produksi, masukan atau faktor produksi dapat berupa tenaga kerja, capital, bahan,

teknologi dan energi. Salah satu masukan seperti tenaga kerja, dapat
                                                                             36



menghasilkan keluaran yang dikenal dengan produktivitas individu, yang dapat

juga disebut sebagai produktivitas parsial.

       Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan penggunaan

masukan (input) yang direncanakan dengan penggunaan masukan sebenarnya

terlaksana. Apabila masukan yang sebenarnya digunakan semakin besar

penghematannya, maka tingkat efisiensi semakin tinggi, tetapi semakin kecil

masukan yang dapat dihemat sehingga semakin rendah tingkat efisiensi.

Pengertian efisiensi disini lebih berorientasi kepada masukan sedangkan masalah

keluaran (output) kurang menjadi perhatian utama

       Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa

jauh target dapat tercapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada

keluaran sedangkan masalah penggunaan masukan kurang diperhatikan. Apabila

efisiensi dikaitkan dengan efektivitas maka walaupun terjadi peningkatan

efektivitas belum tentu efisiensi terjadi.

       Kualitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh telah

dipenuhi berbagai persyaratan, spesifikasi dan harapan. Konsep ini hanya dapat

berorientasi kepada masukan, keluaran dan keduanya. Disamping itu kualitas juga

berkaitan dengan proses produksi yang akan berpengaruh pada kualitas hasil yang

dicapai secara keseluruhan.
                                                                                37



       Secara skematis keterkaitan antara efisiensi, efektivitas dan kualitas serta

produktivitas dapat digambarkan sebagai berikut :


                                                    Hasil utama

    Masukan            Proses Produksi
.                                                        Hasil
                                                       Sampingan
    Kualitas&              Kualiatas
    Efisiensi

                         Produktivitas


Gambar 2.2: Keterkaitan efisiensi, efektivitas, kualitas dan produktivitas
Sumber : Sedarmayanti (2001 :60)

       Efisiensi, efektivitas dan produktivitas merupakan konsep yang berlainan,

walaupun ketiganya memasukan unsur input dan output dalam mekanisme teknis

penganalisasiannya. Secara sederhana ketiganya dapat dibedakan, efisiensi

berorientasi pada input, dan efektivitas berorientasi pada output, sedang

produktivitas berorientasi pada keduanya. Dengan demikian dapat dikatakan

produktivitas memiliki makna yang lebih luas dibanding dua konsep yang lainnya.

Dalam mengukur produktivitas dapat dilakukan dengan dua cara, (a) pendekatan

produktivitas total atau faktor ganda, yakni output dihadapkan dengan

keseluruhan input yang dipakai, (b) pendekatan parsial atau faktor tunggal, yakni

output dihadapkan dengan satu input saja, misal, input SDMD dalam konteks

manajemen perguruan tinggi.


       Berdasarkan pengertian produktivitas diatas, secara umum produktivitas

mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan
                                                                           38



keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Produktivitas juga merupakan

ukuran prestasi produksi yang menggunakan usaha manusia sebagai tolak ukur,

dan produktivitas juga dapat dinyatakan efisiensi yang mengubah sumber daya

yang digunakan menjadi suatu komoditi atau jasa.



2.4.2. Tujuan dan Manfaat Pengukuran produktivitas

       Untuk melihat besarnya tingkat produktivitas suatu perusahaan, termasuk

industri jasa konstruksi perlu dilakukan pengukuran secara kuantitatif. Model

pengukuran produktivitas yang paling sederhana adalah dikemukakan oleh

Vincent Gasverz “ dimana produktivitas dapat diukur melalui pendekatan

output/input”

       Tujuan dari pengukuran adalah akan menentukan jenis rasio mana yang

digunakan. Dan diantara banyak macam produktivitas nilai (Value Productivity)

produktivitas nilai tambah atau value added productivity lebih cocok digunakan

untuk menggambarkan peningkatan produktivitas dan pembagian hasilnya. Hal ini

dikarenakan nilai tambah umumnya merupakan sumber dari pembagian hasil

produksi ditingkat ekonomi secara nasional maupun tingkat perusahaan

       Vincent Gaspersz (1998:23) dalam bukunya “Manajemen Produktivitas

Total “ mengungkapakan bahwa terdapat beberapa manfaat pengukuran

produktivitas dalam suatu organisasi perusahaan antara lain :

   1. Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya
   2. Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien
      melalui pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka pendek
      maupun jangka panjang
                                                                            39



   3. Tujuan ekonomis dan non ekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan
      kembali dengan cara memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari
      sudut produktivitas
   4. Perencanaan target tingkat produktivitas dimasa datang dapat dimodifikasi
      kembali berdasarkan informasi pengukuran tingkat produktivitas sekarang
   5. Strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapar ditetapkan
      berdasarkan tingkat kesenjangan produktivitas yang ada ditingkat
      produktivitas yang direncanakan dan tingkat produktivitas yang diukur
   6. Pengukuran produktivitas perusahan akan menjadi informasi yang
      bermanfaat dalam membandingkan tingkat produktivitas diantara
      organisasi perusahaan dalam industri sejenis serta bermanfaat pula untuk
      informasi produktivitas industri pada skala nasional maupun global.
   7. Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan kompetitif berupa
      upaya-upaya peningkatan produktivitas terus menerus (Continuous
      Productivity Improvement), dan lain-lain..



       Menurut Muchdarsyah Sinungan (2000 : 23) secara garis besar terdapat

dua model pengukuran produktivitas, yaitu pengukuran produktivitas total dan

produktivitas parsial. Adapun rumus yang digunakan adalah :


                                Pt =     Ot

                                       L+C+R+Q
Pt = Produktivitas Total
L = Faktor masukan Tenaga kerja
C = Faktor masukan modal
R = Faktor masukan bahan mentah dan barang yang dibeli
Q = Faktor masukan barang dan jasa yang beraneka ragam
Ot = Hasil Total

       Ada tiga ukuran produktivitas yang harus dipertimbangkan dalam

mengelola organisasi, yaitu :

   1. Untuk tujuan strategi, apakah organisasi sudah benar sesuai dengan apa
      yang telah digariskan
   2. Efektivitas, sampai tingkat manakah tujuan itu sudah dicapai dalam arti
      kuantitas dan kualitas.
                                                                              40



   3. Efisiensi, bagaimana perbandingan output dibagi Input,            dimana
      pengukuran output termasuk didalamnya kuantitas dan kualitas.


2.4.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas

       Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Muchdarsyah Sinungan (2000:18) bahwa terdapat tiga faktor

mendasar yang mempengaruhi produktivitas suatu perusahaan yaitu:

       1. Investasi sebagai komponen utama berupa modal
       2. Managemen yang terdiri dari managerial skill dan technical sakill
       3. Tenaga kerja

       Menurut Balai Pengembangan Produktivitas dalam Sedarmayanti
(2001 :70), ada enam faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja.
Yaitu sebagai berikut :
   1. Sikap kerja
   2. Tingkat keterampilan, yang ditentukan oleh pendidikan dan latihan dalam
      manajemen dan supervisi serta keterampilan dalam teknik indusri
   3. Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin
      dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk
      meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu (Quality
      Control Circles) dan panitia mengenai kinerja unggul
   4. Manajemen produktivitas
   5. Efisiensi tenaga kerja
   6. Kewiraswastaan
                                                                             41



       Menurut Sutermeister dalam Sedarmayanti (2001: 83) faktor-faktor yang
mempengaruhi produktivitas dapoat digambarkan sebagai berikut :




                                 Gambar : 2.3

Sumber :Sutermeister dalam Sedarmayanti (2001:83)

2.5. Pengaruh    Efektivitas   modal    kerja,   Kualitas tenaga kerja      dan

   kemampuan manajerial terhadap produktivitas perusahaan

       Penggunaan modal kerja yang efektif dibutuhkan oleh setiap perusahaan,

dimana seluruh modal kerja yang ada dipergunakan sesuai dengan anggaran yang

telah direncanakan. Sehingga tidak terjadi surplus atau malah terjadinya defisit

dari modal kerja yang tersedia dan telah dianggarkan.

       Efektivitas modal kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas,

semaikn efektif modal kerja yang digunakan maka tidak akan terjadi defisit atau
                                                                            42



surplus anggaran sehingga produktivitas prusahaan akan meningkat. Sedangkan

jika modal kerja tidal digunakan secara efektif maka yang akan terjadi adalah

adanya surplus anggaran ataupun defisist anggaran yang akan menyebabkan

produktivitas perusahaan akana turun.

       Dengan demikian salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas

salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan dan mengefektifkan modal

kerja yang tersedia.

       Kualitas tenaga kerja diukur dengan tingkat pencapaian hasil pelaksanaan

suatu pekerjaan, yang dilihat dari ketepatan penggunaan waktu pelaksanaan

pekerjaan yang sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan dan kuantitas

pencapaian target pelaksanaan pekerjaan yang mengacu pada waktu yang tepat

dan kualitas yang terbaik.

       Begitupun kemampuan manajerial memiliki pengaruh yang positif

terhadap produktivitas. Kemampuan manajerial yang tinggi maka tingkat

produktivitas akan tinggi dan jika kemampuan manajerial rendah maka

produktivitaspun akan menurun.

       Dari penjelasan tersebut sangat mendukung bahwa salah satu cara untuk

meningkatkan     produktivitas   dalam   sebuah   perusahaan   adalah   dengan

meningkatkan efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan

manajerial yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga      mampu memanfaatkan

peluang dan mengelola sumber daya secara optimal dan produktif. Dengan

penggunaan modal kerja yang efektif, tenaga kerja yang berkualitas dan manajer

yang kompeten dapat meningkatkan produktivitas pada perusahan yang dijalankan
                                                                                        43



2.6.Hasil Penelitian sebelumnya

                                     Tabel 2.1.
                            Hasil Penelitian Sebelumnya

 Nama Peneliti      Judul Penelitian             Variabel                 Hasil Penelitian
 Dewi Kusuma      Faktor- faktor yang    X1=         Kemampuan   Secara simultan kemampuan
    2001          mempengaruhi           manjerial,              manajerial, Pendidikan dan
                  produktivitas           X2= Pendidikan dan     latihan,             pengalaman
                  perusahan Industri     latihan                 berpengaruh             terhadap
                  Kecil Kawat dan        X3= Pengalaman          produktivitas.
                  Besi di Kabupaten      Y= Produktivitas        Secara parsial kemampuan
                  Majalengka”                                    manajerial berpengaruh sebesar
                                                                 72,89%, pendidikan dan latihan
                                                                 tidak berpengaruh terhadap
                                                                 produktivitas, dan pengalaman
                                                                 berpengaruh sebesar 37,11%
                                                                 terhadap produktivitas.
    Anggun        Hubungan      antara   X     =    Kemamapuan   Kedua variabel X dan Y
 Srahtarjuning    Kemampuan              Manajerial              menunjukkan               adanya
    Rahayu        Manajerial dengan      Y = Produktivotas       hubungan yang positif dengan
     2003         Produktivitas Kerja                            koefisien korelasi 0,43 dengan
                  PT        Dirgantara                           kontribusi sebesar 18,49%.
                  Indonesia                                      Dengan demikian 81,51%
                                                                 ditentukan oleh faktor lain
                                                                 yang tidak diteliti penulis
     Rima         Pengaruh               X = Pemanfaatan Modal   Hasil penelitian menunjukkan
   Lismianti      pemanfaatan Modal      Kerja                   adanya korelasi yang tinggi
     2003         kerja       terhadap   Y = Produktivitas       antara pemanfaatan modal
                  produktivitas hasil                            kerja dengan produktivitas,
                  usaha para peternak                            yaitu sebesar 78%. Koefisien
                  sapi perah anggota                             determinasi sebesar 0,608 atau
                  koperasi peternakan                            pengaruhnya sebesar 64,84%
                  sapi Bandung Utara
                  (KPSBU) Lembang




 Nelis Khodijah   Faktor- faktor yang    X1 = Pendidikan dan     Hasil penelitian menunjukkan
 2005             mempengaruhi           Latihan                 bahwa       secara    simultan
                  Produktivitas          X2 = Biaya Teknologi    pendidikan dan latihan tidak
                  Perusahaan Industri    X3      =   Kemampuan   berpengaruh           terhadap
                  Kecil Unggulan (       Manajerial              produktivitas, biaya teknologi
                  studi kasus pada                               berrpengaruh sebesar 10,7%
                  industri       kecil                           dan kemampuan manajerial
                  unggulan          di                           92,8%.
                  Kabupaten Garut)
                                                                                       44



 Nama Peneliti     Judul Penelitian             Variabel                Hasil Penelitian
Wayan Koster     Faktor- faktor yang    Y= Produktivitas         Secara simultan semua variabel
2004             memepengaruhi          X1= Motivasi             bebas berpengaruh terhadap
                 produktivitas    PT    X2= Kesempatan           poroduktivitas. Secara parsial
                 Asuransi Aken Life     X3=         Kemampuan    pendidikan dan kesempatan
                                        manajerial               tidak berpengaruh terhadap
                                        X4= Pendidikan           produktivitas        sedangkan
                                                                 variabel           kemampuan
                                                                 manajerial berpengaruh tinggi
                                                                 terhadap produktivitas sebesar
                                                                 79,86 % dan variabel motivasi
                                                                 berpengaruh            terhadap
                                                                 produktivitas sebesar 12,73%.

Jurnal           Produktivitas diukur   Y= Produktivitas         Baik secara simultan maupun
Muhamad Nur      melalui                X=        Pemberdayaan   secara parsial pemberdayaan
Sadik            pemberdayaan           manusia                  manusia berpengaruh terhadap
2004             manusia                                         produktivitas dengan tingkat
                                                                 korelkasi yang tinggi sebesar
                                                                 98,80%.
                                                                               45



                                     BAB III

                           METODE PENELITIAN



3.1. Objek Penelitian

       Pada penelitian ini terdapat empat variabel yang digunakan. Variabel

pertama, variabel bebas (X1) adalah Efektivitas modal kerja. Batasan operasional

efektivitas modal kerja adalah jumlah modal kerja yang tersedia sesuai dengan

jumlah kebutuhan modal kerja yang digunakan, yang diukur dari persentase

perbandingan penggunaan modal kerja.

       Kedua, Variabel bebas (X2) yaitu kualitas tenaga kerja. Batasan

operasional kualitas tenaga kerja adalah dilihat dari waktu pelaksanaan proyek

yang digunakan tepat atau melebihi yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan

proyek, kuatitas hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan dalam proyek dikatakan

tercapai dengan ukuran ≥ dari standar kuantitas yang telah ditetapkan.

       Ketiga, variabel bebas (X3) kemampuan manajerial, batasan operasional

kemampuan manajerial adalah kemampuan seseorang atau seorang manajer

perusahaan     dalam    melaksanakan    tindakan   manajemen      yaitu   tindakan

perencanaan,     pengorganisasian,     penggerakkan,     pengawasan       sehingga

kemampuannya memberikan kontribusi terhadap kemampuan manajerial yang

efektif. Dapat diukur melalui tingkat penguasaan dalam melaksanakan fungsi

manajemen.

       Keempat, variabel terikat (Y) yaitu produktivitas perusahaan, batasan

operasional produktivitas perusahaan adalah perbandingan atau rasio antara output
                                                                               46



yaitu laba bersih    terhadap input atau seluruh biaya yang digunakan selama

pelaksanan proyek dalam periode tertentu



3.2. Metode Penelitian

          Untuk memperoleh hasil yang baik dan memuaskan maka penelitian yang

sifatnya ilmiah harus menggunakan seperangkat metode yang tepat. Metode

penelitian ini harus sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak dilakukan dan

harus sesuai dengan sifat masalah yanng diselidiki dalam penelitian itu karena hal

itu berpengaruh berhasil tidaknya sutau penelitian

          Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey

eksplanatori (explanatory methode) yaitu suatu metode penelitian yang bermaksud

menjelaskan hubungan antar variabel dengan menggunakan pengujian hipotesis.

Penelitian ini bersifat verifikatif. Yang pada dasarnya ingin menguji kebenaran

dari suatu hipotesis yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di

lapangan.(Singarimbun, 1995:3). Penelitian survey dapat digunakan untuk

maksud : (1) penjajagan (eksploratif), (2) deskriptif, (3) penjelasan (explanatory

atau confirmatory) yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian

hipotesis (4) evaluasi, (5) prediksi atau meramalkan kejadian tertentu dimasa

datang, (6) penelitian operasional, dan (7) pengembangan indikator-indikator

sosial.
                                                                            47



3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

       Populasi merupakan seluruh objek penelitian atau seluruh unit analisis

dalam suatu penelitian

       Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh proyek yang dilaksanakan PT

Matrix Primatama selama periode 2000 sampai 2005 sebanyak 25 proyek

3.3.2 Sampel

       Sampel merupakan suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang

dianggap dapat menggambarkan populasinya.

       Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah seluruh proyek

(populasi/ total sampel).
                                                                                                  48



          3.4.Operasionalisasi Variabel

                                               Tabel 3.1
                                        Operasionalisasi Variabel
Konsep Teoritis        Konsep Empiris                      Konsep Analitis                 Item    Skala

Efektivitas Modal   Perbandingan/      rasio .Perbandingan antara modal kerja yang
                    antara modal kerja yang ada dengan modal kerja yang digunakan           1
   Kerja (X1)       digunakan       dengan dalam persen (%) untuk setiap proyek
                    modal     kerja    yang                                                        Rasio
                    tersedia


Kualitas Tenaga      Jumlah skor skala likert
                    mengenai :                  -  Ketepatan dalam waktu pelaksanaan        2
   kerja (X2)       1. Waktu Pelaksanaan          proyek
                    2. Kuantitas Hasil          - Kuantitas hasil Pelaksanaan proyek        3      Ordinal

  Kemampuan         Jumlah skor skala likert
                    mengenai
Managerial (X3)     1. Perencanaan              - Kemampuan menentukan tujuan,              4      Ordinal
                                                  sasaran lingkup pelaksanaan proyek
                                                - Kemampuan menentukan anggaran             5
                                                  Biaya pelaksanan proyek
                                                - Kemampuan menentukan Jadwal               6
                                                  pelaksanan proyek
                                                - Kemampuan menentukan standar              7
                                                  mutu pelaksanan proyek
                                                - Kemampuan menentukan standar              8
                                                  kriteria produktivitas perusahaan dari
                                                  pelaksanaan proyek

                    2. Pengorganisasian         - Kemampuan       membuat       program     9
                                                  perusahaan
                                                - Membentuk tim dan menyusun               10
                                                  organisasi pelaksanaan proyek
                                                - Mengidentifikasi lingkup kerja proyek    11
                                                - Menginventarisasi keperluan personil     12
                                                  pelaksana proyek
                    3. Penggerakan
                                                - Menggerakan para tenaga kerja dalam      13
                                                  pelaksanaan proyek
                                                - Memotivasi para tenaga kerja             14
                                                - Memberi instruksi pada seluruh tenaga    15
                                                  kerja pelaksana proyek
                    4. Pengawasan
                                                - Melakukan     perbaikan   realokasi      16
                                                  sumber daya yang telah digunakan
                                                  selama pelaksanaan proyek
                                                - Kemampuan       membuat     jadwal       17
                                                                                              49



Konsep Teoritis        Konsep Empiris                   Konsep Analitis                Item    Skala

                                                alternatif                             18
                                              - Kemampuan melakuakn tindakan
                                                Rework pada saat pelaksanaan           19
                                                proyek
                                              - Kermampuan mencatat pemakaian
                                                sumber daya yang telah digunakan
                                                selama proyek terlaksana               20
                                              - Kemampuan mencatat kinerja dan
                                                produktivitas dari proyek yang telah   21
                                                dilaksanakan
                                              - Kemampuan membandingkan standar
                                                dan tindakan nyata serta mengambil     22
                                                tindakan perbaikan
                                              - Kemampuan         mengkaji       dan
                                                menyimpulkan analisis varian dari
                                                proyek yang telah dilaksanakan
Produktivitas (Y) Rasio antara laba bersih   Rasio antara laba bersih dengan biaya     23
                  dengan biaya proyek        proyek dalam persen         dari setiap
Perbandingan      dalam persen               pelaksanaan proyek (dalam persen)                 Rasio
Output dan Input
yang dinyatakan
dalam persentase


          3.5. Data dan Sumber data

                  Data yang digunakan diperoleh langsung dari responden dengan

          menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner dan data primer yang

          bersumber dari hasil penelitian kepada 25 pimpinan proyek PT Matrix Primatama,

          yaitu data nilai kontrak proyek, data modal kerja yang digunakan, data pendapatan

          setiap pelaksanaan proyek yang tercatat dalam SPK (Surat Perjanjian Kerja) dan

          SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja).
                                                                                50



3.6 Teknik Pengumpulan Data

          Teknik pengumpulan data mengacu pada cara apa data yang diperlukan

dalam penelitian bisa diperoleh. Kaitannya dengan hal tersebut, serta dapat

melihat konsep analitis dari penelitian ini, maka teknik pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Studi dokumentasi, yaitu studi mencari data mengenai hal-hal berupa catatan,

    laporan seta dokumen lain yang dimiliki lembaga terkait.

2. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan komunikasi langsung

    dengan para Pimpinan Proyek atau Manajer Proyek perusahaan kontruksi dan

    bagian administrasi perusahaan.

3. Angket, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan daftar

    pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan

    keterangan dari sumber data.

4. Studi literatur, yaitu dengan cara mencari dan mengumpulkan data serta

    informasi dari berbagai literatur yang ada kaitannya dengan masalah

    penelitian.

3.7 Pengujian Instrumen Penelitian

        Agar hasil penelitian tidak bias dan diragukan kebenarannya maka alat

ukur tersebut harus valid dan reliable. Oleh karena itu sebelum kuesioner

diberikan kepada responden harus dilakukan tes terlebih dahulu, yaitu tes validitas

dan tes reliabilitas.
                                                                                      51



1.      Tes Validitas

          Suatu tes dikatakan memilki validitas tinggi apabila tes tersebut

menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil dengan maksud digunakannya

tes tersebut. Dalam uji validitas ini digunakan teknik korelasi Pearson Product

Moment, yaitu mencari korelasi antara score item dengan score total dengan

rumus sebagai berikut:

                 N  XY  ( X )(  Y )
rXY                                                  (Suharsimi Arikunto, 2002:162)
          { X 2  ( X ) 2 }{ N  Y 2  ( Y ) 2 }

          Dengan menggunakan taraf signifikan α = 0,05 koefisien korelasi yang

diperoleh dari hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai dan tabel korelasi nilai

r dengan derajat kebebasan (n-2) dimana n menyatakan jumlah baris atau

banyaknya responden.

        Secara statistik angka korelasi yang diperoleh harus dibandingkan dengan

angka kritis tabel korelasi nilai r. Dengan demikian jika rhitung lebih besar rtabel

maka item pertanyaan adalah valid (rhitung > rtabel = valid). Sedangkan jika rhitung

lebih kecil dari rtabel maka item pertanyaan adalah tidak valid (rhitung < rtabel = tidak

valid).



2.      Tes Reliabilitas

          Tes reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah alat pengumpul data

menunjukan tingkat ketepatan, tingkat keakuratan, kesetabilan atau konsistensi

dalam mengungkapkan gejala tertentu dari sekelompok individu walaupun
                                                                                  52



dilaksanakan pada waktu yag berbeda. Untuk menguji relibilas dalam penelitian

ini digunakan teknik belah dua dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.    Menyajikan alat pengukur kepada sejumlah responden lalu dihitung

      validitas itemnya. Item-item yang valid dikumpulkan menjadi satu, yang

      tidak valid dibuang.

2.    Membagi item-item validitas tersebut menjadi dua belahan dimana

      pembagian itu bias dilakukan dengan cara acak (random) atau berdasarkan

      ganjil genap.

3.    Skor untuk masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan, sehingga

      diperoleh skor total untuk kedua belahan tersebut.

4.    Mengkorelasikan skor total belahan pertama dengan belahan kedua dengan

      menggunakan teknik korelasi product moment dengan rumus :

                             N  XY  ( X )(  Y )
        rXY 
                  { X 2  ( X ) 2 }{ N  Y 2  ( Y ) 2 }

       (Suharsimi Arikunto, 2002:173)

       Menggunakan harga-harga korelasi total reliabilitas keseluruhan item

dengan cara mengoreksi angka korelasi dengan rumus sebagai berikut:

                  2(r.tt )
        r.tot                      (Suharsimi Arikunto, 2002:176)
                  1  r.tt

Keterangan:

r.tot = Angka reliabilitas keseluruhan item
r.tt = Angka korelasi belahan pertama dan kedua

       Mengukur taraf signifikansi korelasi dengan cara mengkonsultasikan pada

harga tabel kritik r Product moment. Jika rhitung > rtabel maka instrument penelitian
                                                                                53



tersebut reliable. Begitu pula sebaliknya jika rhitung < rtabel maka instrument

penelitian tidak reliable.



3.8 Teknik Pengolahan Data

        Teknik pengolahan data ini merupakan salah satu tahap yang harus dilalui

dalam penelitian ini dimana data yang sudah terkumpul harus diolah terlebih dulu

sebelum digunakan dalam analisis data. Adapun teknik pengolahan data yang

dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.    Pemberian nomor pada setiap angket yang terkumpul

2.    Menyeleksi data, yaitu untuk melihat atau memeriksa kesempurnaan,

      kejelasan dan benar atau tidaknya cara pengisian angket oleh responden.

3.    Mengkode data, yaitu pemberian kode atau skor pada jawaban yang

      diperoleh dengan simbol berupa angka berdasarkan skala likert.

4.    Mentabulasi data, yaitu suatu proses untuk merubah data mentah menjadi

      data yang bermakna. Dalam hal ini mengubah data ordinal menjadi data

      interval dengan menggunakan Methods of Succesiv Interval (MSI).

5.    Menganalisis data berdasarkan metode statistik yang telah dirancang yaitu

      statistik Linier Berganda untuk mengetahui sejauhmana pengaruh Variabel-

      variabel independen terhadap Variabel dependen.

6.    Melakukan pengujian hipotesis yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.

7.    Menarik Kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
                                                                             54



3.9 Teknik Analisa Data dan Pengujian Hipotesis

       Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Regresi

Linier Berganda. Seperti yang diungkapkan oleh Suharsimi bahwa”...ada tiga

rukun dasar yang harus dicari dalam analisis regresi baik sederhana maupun

berganda, yaitu adanya garis regresi, standar error of estimate, dan koefisien

korelasi”. (Suharsimi Arikunto, 2002 : 286).

       Dalam penelitian ini data yang diperoleh berbentuk data ordinal karena

menggunakan analisis skala ordinal Likert Summated Rating. Oleh karena semua

variabel data yang diperlukan dalam penelitian ini diukur dalam skala interval,

maka variabel yang berbentuk skala ordinal diubah menjadi skala interval dengan

menggunakan Methods of Succesive Interval (MSI). Adapun langkah kerjanya

adalah sebagai berikut:

1.   Menghitung frekuensi untuk masing-masing kategori jawaban responden

     pada setiap item.

2.   Menentukan nilai proporsi (P) untuk masing-masing kategori jawaban

     responden berdasarkan frekensi yang diperoleh.

3.   Menentukan Proporsi Kumulatif (PK) dengan cara menjumlah antara

     proporsi yang ada dengan proporsi sebelumnya

4.   Dengan menggunakan tabel distribusi normal baku, tentukan nilai Z untuk

     setiap kategori

5.   Tentukan nilai dentitas untuk setiap nilai Z yang diperoleh dengan

     menggunakan tabel ordinat distribusi normal

6.   Hitung SV (Scale Value = Nilai Skala) dengan rumus sebagai berikut;
                                                                                55



              (Density of Lower Li mit) - (De nsity at Upper Limit )
      SV 
             (Area Bellow Upper L imit)-(Area Bellow L ower Limit )

                                               (Suharsimi Arikunto, 2002 : 299).

7.   Tentukan nilai transformasi dengan menggunakan rumus:

      Y  SV    SVmin 
               1

     Dimana nilai k  1  SVmin               (Suharsimi Arikunto, 2002 : 302).

       Setelah data ditransformasikan dari ordinal ke interval, pengujian hipotesis

dapat langsung diuji dengan dengan menggunakan teknik analisis regresi untuk

menguji pengaruh Variabel X terhadap Variabel Y. Teknik analisis data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda (multiple

linear regression method). Tujuannya untuk mengetahui variabel-variabel yang

dapat mempengaruhi laba pengusaha.

       Regresi Linier Berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh

langsung antara efektivitas modal kerja (X1), kualitas tenaga kerja (X2), dan

kemampuan managerial (X3) sebagai variabel bebas terhadap produktivitas (Y)

sebagai variabel terikat. Pengolahan data tersebut dibantu dengan menggunakan

computer melalui program SPPS for windows release 12.0.
                                                                                   56



       Adapun model persamaan yang digunakan adalah model ekonometrika,

menurut Damodar Gujarati (2001:91) sebagai berikut :

                               Y = β1 + β2X1 + β3X2 + β4X3 + e

Keterangan :
Y                    =     Produktivitas
Β1                   =     Konstanta
β2.3,4,5             =     Nilai Koefisien Regresi
X1                   =     Efektifitas Modal kerja
X2                   =     Kualitas Tenaga Kerja
X3                   =     Kemampuan Managerial
e                    =     Faktor pengganggu                     (Gujarati, 2001:91)


       Analisis regresi di atas merupakan analisis regresi ganda tiga prediktor.

Analisis regresi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel

indpenden terhadap variabel dependen, yaitu hubungan antara efektivitas modal

kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan managerial terhadap produktivitas.

       Persamaan regresi untuk tiga prediktor adalah :

                     Y = α0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e


       Untuk mencari koefisien regresi b1, b2, dan b3 dapat digunakan persamaan

Simultan, sebagai berikut :

            
     b  1 1     1



                               Adj  A
        
        1       1
                      A1 
                               detA

      a 
      b 
      b2 
                 
       1   1 1 1   
       
      b3 


                                                                 (Gujarati, 2001:135)
                                                                                 57



Pengujian Hipotesis

        Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan serta pengaruh antara variabel

bebas (independen) dan variabel terikat (dependen), maka selanjutnya dilakukan

pengujian melalui uji hipotesis yang dilakukan baik secara simultan (bersama-

sama) maupun secara parsial (sebagian).

        Selanjutnya pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan mencari terlebih

dahulu nilai statistik dan tabel melalui :

 1. Secara simultan dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi ganda dan

   dapat dihitung melalui rumus :

                 r 2YXi  r 2YX j  2rYXirYX j rX iY
    RYXiXj                                             (Sugiyono, 2004 : 154)
                              1 r2 Xi X j

   Uji signifikansinya dapat dihitung melalui rumus :
         ESS /(k  1)       R 2 /(k  1)
    F                                                 (Gujarati, 2001:120)
         RSS /( N  k ) (1  R 2 ) /( N  k )
   Keterangan:
   R2          = koefisien determinasi
   k           = parameter (variabel bebas ditambah konstanta)
   N           = jumlah observasi
       Setelah diperoleh F hitung atau F statistik, selanjutnya bandingkan dengan
   F tabel dengan α disesuaikan, adapun cara mencari F tabel dapat digunakan
   rumus :
                               K
                Ftabel 
                           n  K 1
   Keterangan:
   K           = variabel bebas
   n           = jumlah observasi
   F           = F tabel pada α yang disesuaikan
                                                                                58



 Kriteria :
 H0 diterima jika F stat≤F α, df[k;(n-k-1)]
 H0 ditolak jika F stat≥F α, df[k;(n-k-1)]
 Artinya : apabila F stat < F taabel, maka koefisien korelasi ganda yang diuji

 tidak signifikan, tetapi sebaliknya apabila F stat > F tabel maka koefisien

 korelasi ganda yang diuji adalah signifikan dan menunjukkan ada pengaruh

 secara simultan, dan ini dapat diberlakukan untuk seluruh sampel.

2. Selain pengujian hipotesis secara simultan atau secara keseluruhan pada

     penelitian ini juga akan dilakukan uji hipotesis secara parsial atau sebagian

     dengan menggunakan korelasi parsial.

 Uji signifikansinya dapat dihitung melalui rumus :
       ˆ
       1  1
 t
           
           ˆ
       Se 1
       bk
  t                                                       (Gujarati,2001:78)
       Sek


         Setelah diperoleh t hitung, selanjutnya bandingkan dengan t tabel

dengan α disesuaikan, adapun cara mencari t tabel dapat digunakan rumus :


              t tabel = n-2

 Keterangan:
 k               = variabel bebas
 n               = banyak sampel
 t                      = t tabel pada α disesuaikan
                                                                                   59



   Kriteria :
      Jika t hitung > t tabel atau –t hitung < t tabel maka signifikan

      Jika t hitung berada diantara kedua nilai tersebut berarti tidak signifikan,

       dengan kata lain

       H0 diterima jika -t α/2, df<t stat <t α/2, df
        H0 ditolak jika t stat< -t α/2, df atau t stat >t α/2, df
       Artinya, jika t statistik > t tabel atau –t statistik < -t tabel maka koefisien
       korelasi parsial tersebut signifikan(nyata) dan menunjukkan adanya
       pengaruh secara parsial antara variabel terikat dengan variabel bebas,
       atau sebaliknya
       jika t statistik < t tabel atau –t statistik> -t tabel maka korelasi parsial
       tersebut tidak signifikan dan menunjukkan tidak ada pengaruh secara
       parsial antara variabel terikat dengan variabel bebas(Ahmad F.Zali,
       2001:26, dan Cooper D.R & C.William Emory, 1998:60-63). Dalam
       pengujian hipotesis ini tingkat kesalahan yang digunakan adalah 5% atau
       0,05 pada taraf signifikansi 95%.


 3. Menguji Koefisien Determinasi

       Koefisien Determinasi (R2) merupakan cara untuk mengukur ketepatan

suatu garis regresi. Menurut Gujarati (2001:98) dalam bukunya Ekonometrika

dijelaskan bahwa koefisien determinasi(R2) yaitu angka yang menunjukkan

besarnya derajat kemampuan menerangkan variabel bebas terhadap terikat dari

fungsi tersebut.

       Pengaruh secara simultan variabel X terhadap Y dapa dihitung dengan

koefisien determinasi secara simultan melalui rumus :

   R2= Jumlah kuadrat yang dijelaskan/Regresi(ESS)
                   Jumlah kuadrat total(TSS)
                                                                                  60



   Keterangan:
           ESS
    R2 
           TSS
           b0  Y b1  x1Y1  b2  x 2Y1  b3  x3Y1  nY 2
    R2 
                             Y     2
                                         nY 2
                                                       (Sumber : Gujarati, 2001:139)
                2                                  2
       Nilai R berkisar antara 0 dan 1 (0<R <1), dengan ketentuan sebagai
   berikut :
           Jika R2 semakin mendekati angka 1, maka hubungan antara variabel
            bebas dengan variabel terikat semakin erat/dekat, atau dengan kata lain
            model tersebut dapat dinilai baik.
           Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel
            bebas dengan variabel terikat jauh/tidak erat, atau dengan kata lain
            model tersebut dapat dinilai kurang baik.



3.10 Uji Asumsi Klasik

           Uji Multikolinearitas

       Yang dimaksud dengan multikolinearitas ialah situasi adanya korelasi

variabel-variabel bebas diantara satu dengan lainnya. Dalam hal ini kita sebut

variabel-variabel bebas tersebut bersifat tidak ortogonal. Variabel-variabel yang

bersifat ortogonal adalah variabel yannng nilai korelasi diantara sesamanya sama

dengan nol. (Sritua Arief, 1993:23)

       Seandainya variabel-variabel bebas tersebut berkorelasi satu sama lain,

maka dikatakan terjadi kolinearitas berganda(multi collinerity). Hal ini sering

terjadi pada data berkala(time series data), khususnya di bidang ekonomi. Jika

terdapat korelasi yang sempurna diantara sesama variabel-variabel bebas sehingga

nilai koefisien korelasi diantara sesama variabel bebas ini sama dengan satu, maka

konsekuensinya adalah:
                                                                              61



   1. Koefisien-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir
   2. Nilai standard error setiap koefisien regresi menjadi tak terhingga

        Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model

regresi OLS, maka ,menurut Gujarati (2001:166)dapat dilakukan beberapa cara

berikut :

   o Dengan R2 , multikolinearitas sering diduga kalau nilai koefisien
     determinasinya cukup tinggi yaitu antara 0,7-1,00. tetapi jika dilakukan uji
     t, maka tidak satupun atau sedikit koefisien regresi parsial yang sifnifikan
     secara individu. Maka kemungkinan tidak ada gejala multikolinearitas.
   o Cadangan matrik melalui uji korelasi parsial, artinya jika hubungan antar
     variabel independen relatif rendah < 0,80 maka tidak terjadi
     multikolinearitas.
   o Dengan nilai toleransi (tolerance, TOL) dan faktor inflasi varians
     (Variance Inflation Factor, VIF). Kriterianya, jika toleransi sama dengan
     satu atau mendekati satu dan nilai VIF < 10 maka tidak ada gejala
     multikolinearitas. Sebaliknya jika nilai toleransi tidak sama dengan satu
     atau mendekati nol dan nilai VIF > 10, maka diduga ada gejala
     multikolinearitas.

           Uji Autokorelasi

        Satu dari asumsi penting dari model regresi linear klasik adalah bahwa

kesalahan atau gangguan μi yang masuk ke dalam fungsi regresif populasi adalah

random atau tak berkorelasi. Jika asumsi ini dilanggar, kita mempunyai probel

serial korelasi atau autokorelasi.

        Autokorelasi dapat timbul karena berbagai alasaa. Sebagai contoh adalah

inersia atau kelembaman dari sebagian besar deretan waktu ekonomis, bias

spesifikasi yang diakibatkan oleh tidak dimasukkannya beberapa variabel yang

relevan dari model atau karena menggunakan bentuk fungsi yang tidak benar,

fenomena Cobweb, tidak dimasukannya variabel yang ketinggalan(lagged), dan

manipulasi data.(Gujarati,2001:223).
                                                                                                     62



        Meskipun penaksir OLS tetap tak bias dan kosnsiten dengan adanya

autokorelasi, penaksir tadi tidak lagi efisien. Sebagai hasilnya, pengujian

arti(significance) t dan F tidak dapat diterapkan secara sah. Jadi tindakan

perbaikan diperlukan. Perbaikannya tergantung pada sifat ketergantungan di

antara gangguan μi. Salah satu cara untuk mendeteksi adanya gejala autokorelasi

adalah dengan menggunakan metode Durbin Watson.

            Adapun statistik d Durbin-Watson adalah sebagai berikut



 f(d)



            Menolak
            H0 Bukti                                                               Menolak
            autokorel                                                              H0* Bukti
            asi positif                                                            autokorel
                                                                                   asi positif

                                           Menerima H0 atau
                               Daer        H*0 atau kedua-           Daer
                                ah             duanya                 ah
                               kera                                  kera
                                gu-                                   gu-
                               ragu                                  ragu
                                an                                    an

                                                                                                     d
        0                 dL          du        2             4-du          4-dL                 4

GAMBAR 3.1 Statistik d Durbin-Watson
(Sumber: Gujarati, 2001: 216)
keterangan :

dL= Durbin Tabel Lower

du = Durbin Tabel Up

H0= Tidak ada autokorelasi positif

Ha*= Tidak ada autokorelasi negatif
                                                                                   63



       Adapun langkah-langkah mekanisme dari metode Durbun-Watson adalah
sebagai berikut :

a. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual ei
b. Hitung d dengan menggunakan rumus :
                tN                      2

                 e  e 
                        t         t 1
           d   t 2
                       tN
                                                                (Gujarati,2001:215)
                       e
                       t 1
                              2
                              t



c. Adapun kriteria penerimaannya adalah sebagai berikut :

Nilai DW Berdasarkan Estimasi Model                       Kesimpulan
              Regresi
        (4-DWL) < DW < 4                      Tolak nol hipotesis. Terdapat korelasi
                                             serial yang negatif diantara disturbance
                                                              terms
      (4-DWU) < DW < (4-DWL)                          Tidak ada kesimpulan
          2 < DW < (4-DWU)                             Terima nol hipotesis
            DWu < DW < 2                               Terima nol hipotesis
          DWL <DW < DWU                               Tidak ada kesimpulan
            0 < DW < DWL                      Tolak nol hipotesis. Terdapat korelasi
                                             serial yang positif diantara disturbance
                                                              terms
Sumber : Sritua Arief, 1993 :14

       .
                                                                               64



                                     BAB IV

                  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1    Gambaran Umum Objek Penelitian

         Objek dari penelitian ini adalah salah satu perusahaan jasa yang bergerak

dalam bidang pelaksanaan jasa konstruksi yaitu PT. MATRIX PRIMATAMA,

yang beralamatkan di Jl.Parakan Resik No.14 Bandung dengan status perusahaan

pusat.


         Perusahaan jasa pelaksana ini merupakan jenis usaha bersama yang

dimiliki oleh tiga pemilik dan penanam saham yaitu :


1. Ir. Ismanto Sebagai Komisaris dengan penanaman saham sebesar 40% dari
seluruh nilai aset perusahaan

2. Ir. Cahyo Budiantoro Sebagai Direktur utama, dengan peneneman saham
sebesar 30% dari seluruh nilai aset perusahaan

3. Ir. Bondan Sudirman Sebagai Direktur, dengan penanaman saham sebesar
30%.dari seluruh nilai asset perusahaan



         PT Matrix Primatama bergerak dalam usaha pelaksana jasa konstruksi

dengan bidang – bidang jasa pelaksanaan seperti Jasa pelaksana pembuatan

konstruksi bangunan, Jasa Pelaksana Renovasi konstruksi bangunan, Jasa

Pelaksana Desain Interior dan Eksterior serta Jasa Pelaksana Jalan atau sara

umum.
                                                                              65



4.1.2   Karakteristik Responden

        Responden dalam penelitian ini adalah para Piminan Proyek yang

melaksanakan proyek PT Matrix Primatama, Responden yang dijadikan sampel

dalam penelitian ini berjumlah 25 orang pimpinan proyek. Mengenai karakteristik

responden dapat diketahui dari hasil wawancara. Adapun karakteristik responden

yang dapat dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, tingkat

pendidikan, keikutsertaan dalam pendidikan non, dan pengalaman usaha.

                                 Tabel 4.1
             Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

                    No          Jenis         Frekuensi         %
                               Kelamin
                     1            L              21             84
                     2            P               4             16
                  Jumlah                         25            100
               Sumber: Angket Penelitian

        Dari Tabel 4.1 diketahui bahwa mayoritas pimpinan proyek berjenis

kelamin laki-laki berjumlah 21 orang atau 84 persen, sedangkan pimpinan proyek

dengan jenis kelamin perempuan berjumlah 4 orang atau 16 persen.

        Dilihat dari usia, pada umumnya usia responden dapat dikategorikan

sebagai usia produktif. Hal ini dapat dilihat dari Tabel di bawah ini

                                  Tabel 4.2
                  Karakteristik Responden Dilihat Dari Usia

                         No     Golongan     Frekuensi     %
                                  Usia
                       1         20-30         7           28
                       2         30-40         9           36
                       3         40-50         6           24
                       4         50-60         3           12
                     Jumlah                   25          100
                    Sumber: Angket Penelitian
                                                                               66



       Dari Tabel 4.2 di atas tampak bahwa pada umumnya pimpinan proyek

berusia antara 20-30 tahun yaitu sebesar 28 persen, Usia 30-40 tahun yaitu sebesar

36%, usia 40-50 sebesar 24 persen dan usia 50-60 tahun sebesar 12 persen. Usia

antara 20-50 tahun merupakan usia produktif. Dengan banyaknya pengusaha

berusia produktif diharapkan dapat lebih mengembangkan usaha sehingga dapat

menyerap tenaga kerja lebih banyak.

       Dilihat dari tingkat pendidikan, umumnya responden berpendidikan paling

rendah berada pada tingkat SMU/ SMK sederajat. Dalam tabel 4.3 dibawah ini

akan disajikan karakteristik responden dilihat dari tingkat pendidikan

                                     Tabel 4.3
               Karakteristik Responden Dilihat dari Tingkat Pendidikan

                      No       Jenjang    Frekuensi         %
                             Pendidikan
                     1           SD           -              -
                     2          SMP           -              -
                     3      SMU/ SMK         12             48
                     4       DIPLOMA          4             16
                     5       SARJANA          9             36
                  JUMLAH                     25            100
                Sumber: Angket Penelitian

       Dari Tabel 4.3 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar tingkat

pendidikan formal dari pimpinan proyek adalah          minimal SMU/ SMK atau

sederajat yaitu sebanyak 12 orang atau 48 persen Diploma sebanyak 4 orang atau

16 persen dan Sarjana sebanyak 9 orang atau 36 persen.

       Dilihat dari jenis proyek yang telah dilaksanakan responden sebagai

pelaksana jasa kontruksi PT Matrix Primatama adalah dapat kita lihat pada tabel

dibawah ini:
                                                                             67



                                Tabel 4.4
   Karakteristik Responden Dilihat dari Jenis Proyek yang dilaksanakan

                   No     Jenis Proyek       Frekuensi    %
                   1        Renovasi            10        40
                   2      Buat/ bangun           7        28
                   3          Jalan              2         8
                   4       Pengecatan            4        16
                   5         Interior            2         8
                 Jumlah                         25       100
               Sumber: Angket Penelitian

       Dari Tabel 4.4 diatas dilihat bahwa jenis proyek yang dilaksanakan adalah

sebagian besar proyek jasa konstruksi renovasi sebanyak 10 atau 40 persen dari

keseluruhan jenis pelaksanaan proyek, jasa konstruksi buat/ bangun sebanyak 7

atau 28 persen, jalan sebanyak 2 atau 8 persen, pengecatan sebanyak 4 atau 16

persen dan jasa interior 2 atau 8 persen.

       Bila dilihat dari jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam pelaksanaan

proyek dilapangan adalah tergantung pada proyek yang dikerjakan. Bila proyek

besar maka jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan banyak. Berikut

karakteristik responden dilihat dari jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam

pelaksanaan proyek

                                   Tabel 4.5
                            Karakteristik responden
               dilihat dari jumlah tenaga kerja yang digunakan

                    No        Jumlah        Frekuensi    %
                            Tenaga kerja
                   1           12-45           20         80
                   2           46-79            3         12
                   3          80-113            2          8
                 Jumlah                        25        100
                Sumber: Angket Penelitian
                                                                            68



       Dari Tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kerja yang

digunakan untuk pelaksanaan proyek dengan jumlah 12-45 orang atau disebut

sebagai proyek dalam lingkup kecil menegah adalah dilaksanakan 20 responden

atau 80 persen, jumlah tenaga kerja yang digunakan sebanyak 46-79 orang atau

proyek skala menengah besar adalah dalam pelaksanaan 3 proyek atau 12 persen

dan untuk jumlah tenaga yang digunakan sebanyak 80-114 orang atau dikatakan

proyek besar dilaksanakan 2 responden atau 8 persen.



4.2. Efektivitas Modal Kerja

       Efektivitas modal kerja adalah dilihat dari perbandingan antara

penggunaan modal kerja yang tersedia dengan modal kerja yang digunakan.

Adapun kriteria dari efektivitas modal kerja adalah :

- Modal kerja yang digunakan sama dengan modal kerja yang tersedia, maka

   dikatakan efektif ( =100% digunakan)

- Modal kerja yang digunakan lebih besar atau lebih kecil dari modal kerja yang

   tersedia, maka dikatakan tidak efektif (>100% atau <100% digunakan)

                                 Tabel 4.6
             Efektivitas Modal Kerja dalam pelaksanaan proyek

                   No        Penggunaan       Frekuensi   %
                             Modal kerja

                  1          Efektif              10       40
                  2       Tidak Efektif           15       60
               Jumlah                             25      100
         Sumber: Angket Penelitian

       Dari Tabel 4.6 diatas dapat lihat bahwa Responden yang menggunakan

modal kerja dengan efektif sebanyak 10 responden atau 40 peresen dan

Responden yang menggunakan modal kerja tidak efektif sebanyak 15 Responden

atau 60 persen
                                                                                69



       Dari data diatas dapat terlihat dengan jelas, bahwa dalam penggunaan

modal kerja tidak seluruhnya digunakan secara efektif, dari 25 Responden hanya

10 Responden yang menggunakan secara efektif dari modal kerja yang tersedia.

Tinggi rendahnya produktivitas perusahaan akan tergantung dari bagaimana

modal kerja tersebut digunakan.



4.3. Kualitas tenaga kerja

       Dalam penelitian, kualitas tenaga kerja dilihat dari hasil akhir pelaksanaan

suatu proyek. Kualitas tenaga kerja diukur dari ketepatan penggunaan waktu

pelaksanaan proyek, tingkat kualitas hasil pelaksanaan proyek, kuantitas hasil

pelaksanaan proyek dan keikutsertaan tenaga kerja dalam mengikuti Diklat yang

sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilaksanakan dilapangan.

       Tingkat ketepatan waktu dapat diketahui dari kesesuaian antara perjanjian

lamanya proyek harus dilaksanakan yang tercatat pada Surat Perjanjian Kontrak

(SPK) dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dengan pelaksanaan proyek yang

sebenarnya dilapangan. Adapun kriterianya adalah :

- Jika melampaui atau kurang dari batas waktu perjanjian kerja maka itu

  dikatakan sebagai kriteria ketidaktepatan waktu pelaksanaan.

- Jika lamanya waktu pelaksanaan sama dengan batas waktu perjanjian

  pelaksanaan kerja maka itu dikatakan tepat waktu.
                                                                                  70



Adapun tabel hasil penelitian dapat dilihat sebagai berikut :

                                Tabel 4.7
         Tingkat Ketepatan Penggunaan Waktu Pelaksanaan Proyek

                 No         Kriteria            Frekuensi         %
                  1       Tepat Waktu              18             72
                  2    Tidak Tepat Waktu            7             28
               Jumlah                              25            100
               Sumber: Angket Penelitian

         Dari Tabel 4.7 diatas, jumlah responden atau pimpinan proyek yang

melaksanakan proyek tepat waktu sesuai dengan perjanjian pelaksanaan kerja

adalah sebanyak 18 responden atau 72 persen. Sedangkan pimpinan proyek yang

melaksanakan proyek melebihi batas waktu pelaksanaan proyek adalah sebanyak

7 responden atau 28 persen. Dengan adanya ketidaktepatan penggunaan waktu

dalam pelaksanaan proyek tersebut, maka PT Matrix Primatama harus

memberikan ganti rugi pada pihak pemberi proyek dan menimbulkan kerugian

materil dan akhirnya berdampak pada menurunnya                  tingkat produktivitas

perusahaan.

       Kualitas tenaga kerja        dilihat dari kuantitas hasil pekerjaan atas

pelaksanaan proyek. Untuk mengukur kuantitas hasil dari pelaksanaan proyek

dapat dilihat dari tingkat pencapaian target proyek yang harus dilaksanakan yang

sesuai dengan standar kualitas dan batas waktu pelaksanaan. Adapun kriteria

tercapai tidaknya kuantitas hasil pekerjaan adalah sebagai berikut :

- jika pekerjaan dapat selesai pada waktu yang telah ditetapkan dengan standar

kualitas yang baik maka target kuantitas dapat dikatakan tercapai

- Jika Pekerjaan dapat selesai pada tepat waktu namun standar kualitas tidak

terpenuhi maka target pencapaian kuantitas hasil tidak tercapai
                                                                            71



- Jika pekerjaan tidak selesai pada waktu yang telah ditetapkan maka kuantitas

hasil pun tidak tercapai.

       Dari hasil penelitian dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

                                  Tabel 4.8
                      Kuantitas Hasil Pelaksanaan Proyek

                     No     Alternatif   Frekuensi           %
                             pilihan
                   1        Tercapai        18               72
                   2      Tidak tercapai     7               28
                 Jumlah                     25              100
               Sumber: Angket Penelitian


       Dari Tabel 4.8 bahwa responden yang menyelesaikan pekerjaan sesuai

dengan target/ kuantitas hasil pekerjaan adalah sebanyak 18 responden atau 72

persen, sedangkan responden yang tidak mencapai target/ kuantitas hasil

pekerjaan adalah sebanyak 7 responden atau 28 persen.



4.4. Kemamapuan Manajerial

       Kemampuan manajerial dapat diartikan sebagai suatu kemampuan atau

keterampilan atau karakteristik personal yang membantu tercapainya kinerja yang

tinggi dalam tugas manajemen. Kemampuan manajerial dapat pula diartikan

sebagai kemampuan seseorang dalam melaksanakan fungsi manajemen.

       Pada tabel dibawah ini dapat dilihat tanggapan responden terhadap

kemampuan manajerial, yaitu sebagai berikut:
                                                                                                                   72



                                           Tabel 4.9
                               Tanggapan kemampuan manajerial
                         Manajer Pelaksana Proyek PT Matrix Primatama
No            Kemampuan Manajerial                          Gagal        Kurang          Cukup        Memenuhi      Melebihi
                                                                        Memenuhi       Memenuhi       ketentuan     ketentuan
                                                        F       %       F     %        F      %        F     %      F      %
1    Menentukan tujuan dan lingkup sasaran              0           0    0      0      16      64      8     32     1      4
     pelaksanaan proyek

2    Menentukan anggaran Biaya pelaksanan               0           0    0      0      18      72      7     28     0      0
     proyek

3    Menentukan jadwal pelaksanaan proyek               0           0    3     12      18      72      4     14     0      0

4    Menentukan    standar     mutu      pelaksanaan    0           0    1      4      14      56     10     40     0      0
     proyek

5    Menentukan standar kriteria produktivitas          7       28      11     44      7       28      0     0      0      0
     perusahaan dari pelaksanaan proyek
6    Kemampuan membuat program perusahaan               0           0    8     32      16      64      1     4      0      0

7    Membentuk tim dan menyusun organisasi              0           0    2      8      20      80      3     12     0      0
     pelaksanaan proyek

8    Mengidentifikasi lingkup kerja proyek              0           0    5     20      17      68      3     12     0      0

9    Menginventarisasi       keperluan      personil    0           0    6     14      14      56      5     20     0      0
     pelaksana proyek

10   Menggerakan para tenaga kerja dalam                0           0    2      8      13      52     10     40     0      0
     pelaksanaan proyek

11   Memotivasi para tenaga kerja                       0           0   11     44      8       32      6     24     0      0

12   Memberi instruksi pada seluruh tenaga kerja        0           0    5     20      16      64      4     14     0      0
     pelaksana proyek
13   Melakukan perbaikan realokasi sumber daya          0           0   17     68      7       28      1     4      0      0
     yang telah digunakan selama pelaksanaan
     proyek
14   Membuat jadwal alternative                         0           0    4     16      19      76      1     4      1      4

15   Melakukan tindakan Rework pada saat                0           0   15     60      6       24      4     14     0      0
     pelaksanaan proyek
16   Mencatat pemakaian sumber daya yang telah          0           0    4     16      19      76      2     8      0      0
     digunakan selama proyek terlaksana

17   Mencatat kinerja dan produktivitas dari            1           4    7     28      15      60      2     8      0      0
     proyek yang telah dilaksanakan

18   Membandingkan standar dan tindakan nyata           0           0    4     16      15      60      5     20     1      4
     serta mengambil tindakan perbaikan

19   Mengkaji dan menyimpulkan analisis varian          0           0    0      0      13      52     11     44     1      4
     dari proyek yang telah dilaksanakan
     Jumlah                                             8       32      105    410     271    1084     87    342    4      16
     Rata-rata                                         0,42    1,68     5,52   21,5   14,26   57,05   4,57   18    0,21   0,84
       Sumber: Angket Penelitian
                                                                           73



       Pada Tabel 4.9 diatas dapat diketahui bahwa tanggapan responden tentang

kemampuan manajerial, rata-rata responden melaksanakan fungsi manajemen

sebesar 0,84 % sangat memenuhi ketentuan, 18% memenuhi ketentuan, 57,05%

cukup memenuhi ketentuan, 21,5% kurang memenuhi ketentuan dan 1,68 gagal

dalam memenuhi ketentuan.

       Nilai yang diperoleh oleh responden dalam Kemampuan Manajerial dapat

dikategorikan kedalam 3 kategori yaitu tinggi sedang rendah dengan perhitungan

sebagai berikut:

Nilai Terendah 1 x 19 = 19
Nilai Tertinggi 5 x 19 = 95
Range                  = 76
Interval               = 25,33
        Dari hasil perhitungan tersebut, maka hasil jawaban Responden dapat

dikelompokan dalam tabel dibawah ini :

                                 Tabel 4.10
                     Kemampuan Manajerial Responden
                  Kriteria              Frekuensi    %
                   Tinggi                   4        16
                   Sedang                  21        84
                   Rendah                   0         0
                   Jumlah                  25       100
              Sumber: Angket Penelitian


       Dari Tabel di 4.10 atas dapat diketahui bahwa responden yang memiliki

kriteria kemampuan manajerial tinggi sebanyak 4 Responden atau 16 persen,

responden yang memiliki kriteria kemampuan manajerial sedang sebanyak 21

orang atau 84 persen.   Untuk dapat mencapai produktivitas yang diharapkan,

manajer proyek harus terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola

perusahaan.
                                                                               74



4.5. Produktivitas

       Produktivitas diukur dari perbandingan laba bersih dalam setiap

pelaksanaan proyek (Output) terhadap seluruh biaya yang dikeluarkan selama

pelaksanan proyek (Input). Berikut dapat kita lihat nilai produktivitas per proyek

yang telah dilaksanakan PT Matrix Primatama


                                  Tabel 4.11
               Produktivitas Per Proyek PT Matrix Primatama

     No Proyek     Nama proyek yang dilaksanakan              Produktivitas
         1      Renovasi gedung oktagon                           0,258
         2      Pembuatan ruang rapat CCAR rektorat ITB           0,349
         3      Renovasi lab mesin Kampus ITB                     0,490
         4      Renovasi rumah wakil rektor UNINUS                0,080
         5      Overlay Jalan kampus ITB                          0,429
         6      Pembuatan lab gelas                               0,220
         7      Pekerjaan interior senat akademik UNPAS           0,960
         8      Pengecatan gedung fisika Dasar ITB                0,340
         9      Renovasi gedung SBM rektorat ITB                  0,840
        10      Pembuatan kantin bengkok kampus ITB               0,538
        11      Pengecatan gedung Geologi                         0,010
        12      Pengecatan gedung TVST                            0,080
        13      Renovasi eks Gedung BRT ITB                       0,170
        14      Renovasi parkir aula barat dan timur              0,118
        15      Renovasi gedung PMDC Lembang                      1.420
        16      Pembuatan jalan tembus                            0,656
        17      Perbaikan sirap LFM                               0,602
        18      Pengecatan Gedung GKU Barat ITB                   0,183
        19      Renovasi Paviliun A,B,C Skanda                    0,047
        20      Pembuatan kantin Barat Laut                       0,042
        21      Pembuatan Sangkar Faraday                         0,105
        22      Pengecatan gedung CCAR ITB                        0,094
        23      Pembuatan ruang Asam ITB                          0,305
        24      Pembuatan parkir Skanda                           0,008
        25      Renovasi labolatorium Metalurgi                   0,015
      Sumber: Angket Penelitian
                                                                                75



       Jika diklasifikasikan kedalam tiga klasifikasi meliputi klasifikasi tinggi,

klasifikasi sedang dan klasifikasi rendah dapat kita lihat pada tabel berikut

                                   Tabel 4.12
                      Klasifikasi produktivitas per proyek
                       PT Matrix Primatama Bandung

                    No    Klasifikasi       Frekuensi       %
                    1       Rendah             19           76
                    2       Sedang              5           20
                    3       Tinggi              1            4
                  Jumlah                       25          100
          Sumber: Angket Penelitian

       Pada Tabel 4.11 diatas terlihat bahwa lebih dari 50 persen nilai

produktivitas dari proyek yang telah dilaksanakan PT Matrix berada pada

klasifikasi rendah yaitu sebanyak 19 proyek atau 76 persen, yang termasuk pada

klasifikasi produktivitas sedang terdapat 5 proyek atau 20 persen dan yang

termasuk kedalam klasifikasi tinggi hanya ada satu proyek atau 4 persen saja. Hal

tersebut menandakan bahwa PT Matrix dalam melaksanakan proyeknya belum

mencapai produktivitas yang tinggi atau maksimal.



4.6. Analisis Data

Analisis Data Dengan Metode Enter

       Dalam penelitian ini terdapat empat variabel bebas (X), yaitu efektivitas

modal kerja (X1), Kualitas tenaga kerja (X2), dan kemampuan manajerial (X3).

Selain itu, yang menjadi variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah

produktivitas perusahaan. Untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh dari setiap

variabel bebas terhadap variabel terikat, dilakukan pengujian regresi parsial dan
                                                                                 76



pengujian secara simultan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS

12.0. Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

       Koefisien korelasi (R) variabel X terhadap Y diperoleh sebesar 0,897

artinya efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial

memiliki hubungan (berkorelasi) sebesar 0,884 terhadap produktivitas perusahaan

jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung . Sedangkan koefisien

determinasi (R2) sebesar 0,782 menunjukkan bahwa produktivitas perusahaan jasa

pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung dipengaruhi sebesar 78,20%

oleh efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial,

sedangkan sisanya sebesar 21,80% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

       Berdasarkan hasil pengujian data, dapat dirumuskan pula bentuk

persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

       Ŷ= -0,384 - 0,007x1 + 0,066x2 + 0,025x3

       Persamaan tersebut dapat diterjemahkan bahwa jika tidak ada pengaruh

dari efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial,

produktivitas perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama

Bandung berada pada posisi negatif atau minus yaitu -0,384. hal tersebut terjadi

karena PT Matrix Primatama dalam menjalankan pelayanan tidak memperhatikan

tingkat produktivitas usahanya, diperkirakan atau diprediksi hanya mengacu pada

laba dan juga tidak memperhatikan faktor yang dianggap dominan mempengaruhi

produktivitas usaha seperti dalam pengelolaan modal kerja, kualitas tenaga kerja

dan kemampuan manajerialnya.
                                                                                           77



         Efektivitas modal kerja memiliki koefisien regresi sebesar – 0,007, artinya

setiap penambahan 1% modal kerja akan menurunkan produktivitas                          0,007.

Kualitas tenaga kerja memiliki koefisien regresi sebesar 0,066 artinya setiap

penambahan 1 satuan frekuensi kualitas tenaga kerja akan meningkatkan

produktivitas perusahaan sebesar 0,066. Untuk variabel kemampuan manajerial

memiliki koefisien regresi sebesar 0,025 artinya setiap penambahan 1 satuan

kemampuan manajerial akan meningkatkan produktivitas perusahaan sebesar

0,025.

4.6.1. Uji F statistik ( Uji Hipotesis Simultan) dan Prediksi Perkembangan

Produktivitas PT Matrix Primatama

                                 Tabel 4.13
                    Anova Perusahaan PT Matrix Primatama
                                              ANOVAb

                           Sum of
  Model                    Squares            df        Mean Square            F           Sig.
  1         Regression        2,277                 3          ,759           25,046         ,000 a
            Residual           ,636                21          ,030
            Total             2,914                24
     a. Predictors: (Constant), Kemampuan Manajerial, Kualitas Tenaga Kerja, Ef ektivitas
        Modal Kerja
     b. Dependent Variable: Produktivitas


          Untuk menguji hipotesis, langkah awal yang dilakukan adalah melihat

besarnya Fhitung. Besarnya F   hitung   dalam penelitian ini adalah 25,046. Sedangkan

FTabel pada tingkat signifikansi 95 % dengan dk penyebut= n-k-1=21 serta dk

pembilang = 3 diperoleh FTabel sebesar 3,07. Karena F          hitung   > F   Tabel   maka H0

ditolak dan Ha diterima. Artinya hipotesis yang menyatakan bahwa efektivitas
                                                                                  78



modal kerja (X1), kualitas tenaga kerja (X2) dan kemampuan manajerial (X3)

secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas diterima.

            Dari hasil regresi dan uji hipotesis simultan diatas maka dengan

penelitian ini dapat dijadikan bahan prediksi dalam mengukur perkembangan

produktivitas perusahaan jasa pelaksana kontruksi PT Matrix Primatama Bandung

berdasarkan variabel yang mempengaruhi produktivitas. Dari hasil penelitian

diperoleh diambil satu responden dari variabel X1 = 100 X2 = 5,37 dan X3 = 48,25

untuk memprediksi produktivitas yang akan dicapai, maka nilai produktivitas

yang akan diperoleh adalah :

        Ŷ= -0,384 - 0,007 x1 + 0,066 x2 + 0,025x3

        Ŷ= -0,384 - 0,007 (100) + 0,066 (5,37) + 0,025 (48,25)

        Ŷ= 0,47

4.6.2. Uji t statistik ( Uji Hipotesis Parsial)

                                     Tabel 4.14
                               Nilai Signifikansi uji t

        Variabel            Nilai t hitung   signifikansi   Nilai t tabel      ket
       Konstanta               -0,804           0,430          2,069        Signifikan
Efektivitas Modal Kerja        -2,103           0,048          2,069          Tidak
                                                                            Signifikan
 Kualitas tenaga kerja          2,211             0,038        2,069        Signifikan
Kemampuan Manajerial            4,996             0,015        2,069        Signifikan


        Selanjutnya untuk menguji hipotesis secara parsial dapat dilakukan

melalui uji t. Untuk   0,05 dan df = n-k-1 = 21 diperoleh tTabel sebesar 2,069.

Dengan membandingkan besarnya thitung dan ttabel diperoleh keputusan sebagai

berikut :
                                                                                   79



1. Besarnya t    hitung   untuk efektivitas modal kerja sebesar -2,103 . Tanda negatif

   (-) disini menunjukkan hubungan (korelasi) antara variabel X1 dengan varabel

   Y adalah hubungan berbanding terbalik atau negatif. Sehingga thitung < ttabel,

   maka H0 diterima dan Ha ditolak. Dengan ditolaknya Ho berarti tingkat

   efektivitas modal kerja tida0k berpengaruh signifikan dengan korelasi negatif

   terhadap produktivitas perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix

   Primatama Bandung, sekaligus menolak hipotesis yang menyatakan bahwa

   efektivitas modal kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas perusahaan

   jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung.

2. Besarnya t    hitung   untuk kualitas tenaga kerja sebesar 2,211 lebih besar dari t

   Tabel   yaitu 2,069. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan

   terimanaya Ho berarti kualitas tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap

   produktivitas perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama

   Bandung, sekaligus menerima hipotesis yang menyatakan bahwa kualitas

   tenaga kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas perusahaan jasa

   pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung.

3. Besarnya t   hitung    untuk kamampuan manajerial sebesar 4,996 lebih besar dari t

   Tabel   yang besarnya 2,069. Dengan demikian Ho ditolak. Dengan ditolaknya

   Ho berarti kemampuan manajerial berpengaruh terhadap produktivitas

   perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung.,

   sekaligus menerima             hipotesis yang menyatakan bahwa kemampuan

   manajerial berpengaruh positif terhadap produktivitas perusahaan jasa

   pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung.
                                                                                       80



                                      Tabel 4.15

                 Ringkasan Hasil Analisis dan Pengujian Hipotesis

    Variabel          R        R2       Uji F    Keterangan        Uji t     Keterangan

 X terhadap Y       .0,884    0,782    28,840      Ho ditolak        -            -

 X1 terhadap Y        -         -         -            -           -2,103     Ho ditolak

 X2 terhadap Y        -         -         -            -           2,211      Ho ditolak

 X3 terhadap Y        -         -         -            -           4,996      Ho ditolak




       Dari hasil uji hipotesis di atas dapat dilihat bahwa baik secara simultan

maupun secara parsial variabel X1, X2 dan X3 berpengaruh signifikan terhadap Y.

Yang berarti bahwa variabel efektivitas modal kerja, Kualitas tenaga kerja dan

Kemampuan        Manajerial   berpengaruh       signifikan      terhadap    Produktivitas

perusahaan jasa pelaksana PT Matrix Primatama Bandung.



4.6.3. Uji Asumsi Klasik

Uji Multikolinier

       Untuk mengetahui terjadi atau tidaknya multikolinier maka dapat dilihat

dari hasil pengujian regresi dengan bantuan program SPSS for Windows 12.0.

yaitu dengan nilai toleransi (tolerance, TOL) dan faktor inflasi varians (Variance

Inflation Factor, VIF). Kriterianya, jika toleransi sama dengan satu atau

mendekati satu dan nilai VIF < 10 maka tidak ada gejala multikolinearitas.

Sebaliknya jika nilai toleransi tidak sama dengan satu atau mendekati nol dan nilai

VIF > 10, maka diduga ada gejala multikolinearitas
                                                                              81



       Dari hasil pengujian diperoleh :

                                  Tabel 4.16
                                Multikolinieritas

                              Colliniarity Statistic
                        Model                Tolerance      VIF
                      (Constant)                    -         -

               Efektivitas Modal Kerja          0,766      1,306

                Kualitas Tenaga Kerja           0,850      1,177

               Kemampuan Manajerial             0,694      1,442


       Dari Tabel diatas pada nitai toleransi mendekati angka satu, dan nilai VIF

ketiga variabel bebas <10, menandakan bahwa tidak ada gejala multikolinieritas.



Uji Autokorelasi

       Untuk melihat terjadi atau tidaknya autokorelasi yaitu jika dari hasil

pengujian regresi diperoleh hasil nilai Durbin Watson lebih berada pada kriteria

jika H0 adalah dua ujung dengan membandingkan nilai tabel D - W tingkat

signifikansi 1 % , yaitu tidak ada serial korelasi baik positif maupun negatif

dengan ketentuan : du < d < 4-du yang berarti menerima H0 atau H*0 atau kedua

– duanya.

       Nilai yang diperoleh pada penelitian ini adalah du = 1,41 nilai dL = 0,90

dan nilai d atau DW sebesar 1,856
                                                                                                               82



Maka dapat kita lihat kurva nilai DW yang diperoleh pada gambar dibawah ini:
 f(d)


            Menolak                                                                     Menolak
            H0 Bukti                                                                    H0* Bukti
            autokorel                                                                   autokorel
            asi positif                                                                 asi positif
                                Daer          Menerima H0 atau           Daer
                                 ah           H*0 atau kedua-             ah
                                kera              duanya                 kera
                                 gu-                                      gu-
                                ragu                                     ragu
                                 an                                       an



                                               1,856

                                                                                                                d
        0                 dL           du              2         4-du           4-dL                  4
                      0,90         1,41                           2,59           3,10




Gambar 4.1. Hasil Pengujian Autokorelasi

        Dari Gambar diatas, Dapat terlihat bahwa hasil penelitian tidak terjadi

Auotokorelasi karena nilai Durbin Watson yang diperoleh berada dalam kriteria

menerima H0 atau kedua duanya.

4.7. Pembahasan

4.7.1. Pengaruh Efektivitas modal kerja, Kualitas tenaga kerja dan

Kemampuan Manajerial terhadap Produktivitas.

        Dari Analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan diperoleh

hasil bahwa secara simultan faktor efektivitas modal kerja , kualitas tenaga kerja

dan kemampuan manajerial berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas

perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung.

        Efektivitas            modal        kerja      tidak   berpengaruh          signifikan            terhadap

produktivitas. Secara teoritis efektivitas modal kerja berpengaruh positif terhadap
                                                                                83



produktivitas, namun dalam penelitian yang dilakukan penulis diperoleh hasil

bahwa efektivitas modal kerja berpengaruh negatif terhadap produkrtivitas

perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung. Dengan

demikian maka menolak hipotesis awal atau menolak hipotesis yang menyebutkan

bahwa efektivitas berpengaruh positif terhadap produktivitas perusahaan.

       Kualitas tenaga kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas. Hal

tersebut dilihat dari ketepatan waktu dalam pelaksanaan, kualitas hasil,

tercapianya kuantitas dari pekerjaan dan dari keikutsertaan dalam diklat yang

sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan. Semakin tinggi tingkat kualitas

tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaan , maka produktivitaspun akan tinggi.

       Kemampuan Manajerial berpengaruh positif terhadap produktivitas. Hal

tersebut dilihat dari kemampuan seorang manajer dalam mengelola seluruh

sumber daya yang dimiliki perusahaan sehingga dapat mencapai hasil yang

maksimal. Semakin tinggi tingkat kemampuan manajerial maka akan semakin

tinggi tingkat produktivitas yang diperoleh perusahaan.



4.7.2. Pengaruh efektivitas modal kerja terhadap produktivitas perusahaan

       Dalam penelitian ini, efektivitas modal kerja tidak berpengaruh signifikan

terhadap produktivitas. Secara teoritis efektivitas modal kerja berpengaruh positif

terhadap produktivitas, namun dalam penelitian yang dilakukan penulis diperoleh

hasil bahwa efektivitas modal kerja berpengaruh negatif terhadap produkrtivitas

perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung. Dengan
                                                                             84



demikian maka menolak hipotesis awal atau menolak hipotesis yang menyebutkan

bahwa efektivitas berpengaruh positif terhadap produktivitas perusahaan.

       Sebagaimana kita lihat bahwa secara teori “Efektivitas modal kerja yaitu

tingkat keberhasilan suatu perusahaan dalam menggunakan modal kerja yang

sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, sehingga tidak menimbulkan

kelebihan atau kekurangan dan dapat memberikan rasio yang memuaskan”.

(Bambang Riyanto, 2001:64)

       Dari teori diatas, bahwa efektivitas modal kerja dapat dicapai pada rasio

yang memuaskan yaitu pada posisi 1 atau 100 persen, dimana perbandingan antara

modal kerja yang digunakan sama dengan modal kerja yang tersedia, tidak

melebihi atau kurang dari rasio yang maksimal.

       Namun dalam penelitian efektivitas modal kerja berpengaruh negatif

terhadap produktivitas, yang berarti bahwa semakin tinggi efektivitas maka

produktivitas akan turun dan jika semakin rendah efektivitas maka produktivitas

akan naik.

       Disini dapat dijelaskan bahwa efektivitas modal kerja dapat dicapai pada

posisi 1 atau 100 persen. Jika melebihi rasio 1 atau 100 persen dengan kata lain

efektivitas terus menerus ditingkatkan melebihi batas yang ditentukan maka mula-

mula akan mencapai produktivitas yang tinggi, namun lama-kelamaan

produktivitas akan menurun atau terjadi inefektivitas, karena efektivitas tidak

dapat dinaikan atau diturunkan yang berarti sudah mentok pada posisi 100 persen.

sebagaimana teori hukum hasil yang semakin berkurang yang dikemukakan

David Ricardo “The Law of Deminishing Returns” yang menyatakan bahwa “
                                                                                 85



Penambahan suatu input, sementara input-input lainnya tetap maka akan

meningkatkan total output. Akan tetapi penambahan output itu cenderung

berkurang dari waktu kewaktu”. (David Ricardo dalam Paul A Samuelson

1999:32).

       Output disini adalah laba yang diperoleh perusahaan, karena produktivitas

tergantung pada rasio laba terhadap biaya yang dikeluarkan, maka semakin tinggi

laba maka produktivitaspun akan tinggi begitupun sebaliknya. Jika modal kerja

yang digunakan melebihi standar yang telah ditentukan atau efektivitas terus

ditingkatkan melebihi batas maksimal (inefektivitas) maka terjadi defisit anggaran

sehingga mempengaruhi laba yang diperoleh akan berkurang dan dengan

berkurangnya laba maka produktivitas akan menurun. Begitupun sebaliknya.

       Menurut Albert Wijaya (1993), bahwa: “Laba perusahaan masih

merupakan tujuan yang kritis bagi perusahaan dan      sebagai ukuran keberhasilan

perusahaan, tetapi bukan tujuan akhir dari perusahaan. Dikatakan sangat penting,

apabila perusahaan tidak memperoleh laba, maka ia tidak dapat memberikan

manfaat bagi stakeholder. Ini berarti tidak bias memberikan deviden kepada

pemegang saham, tidak bias memperluas usaha, dan tidak bias membayar pajak.

(Suryana, 2003 127-128).

       Jika dilihat dari data penelitian, laba yang diperoleh perusahaan dari setiap

pelaksanaan proyek terus mengalami penurunan hingga pada akhir tahun 2005

hanya mendapat 1,5% dari proyek yang dilaksanalan. Hal tersebut berdampak

pada menurunnya tingkat produktivitas perusahaan.
                                                                                 86



4.7.3. Pengaruh kualitas tenaga kerja terhadap produktivitas perusahaan

       Dalam penelitian ini, kualitas tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap

produktivitas perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama

Bandung. Kualitas tenaga kerja disini diukur dari hasil pelaksanaan suatu proyek

yang dilihat dari ketepatan waktu pelaksanan proyek dan kuantitas hasil

pelaksanaan.

          Hubungan kualitas tenaga kerja adalah positif artinya semakin tinggi nilai

kulitas tenaga kerja maka nilai produktivitas akan naik, dan semakin rendah nilai

kualitas tenaga kerja maka nilai produktivitas akan rendah.

       D.H. Bush (1991) dalam Iman Soeharto ( 1999 :43) menyebutkan bahwa

“ Kualitas tenaga kerja dapat dilihat dari         waktu yang digunakan dalam

pelaksanaan proyek tepat dengan tujuan awal dan rencana awal dalam

pelaksanaan proyek. Karena waktu atau jadwal merupakan salah satu sasarn

utama proyek, keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian,

misalnya penambahan biaya, denda dari nilai kontrak, kredibilitas perusahaan

mejadi jelek, kehilangan kesempatan produk memasuki pasaran, dan lain-lain.

Pengelolaan waktu mempunyai tujuan utama agar proyek diselesaikan sesuai atau

lebih cepat dari rencana dengan memperhatikan batasan biaya, mutu dan lingkup

proyek”

       Dari beberapa pendapat diatas, bahwa tenaga kerja yang berkualitas adalah

tenaga yang dapat melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan yang telah

ditentukan, baik dalam ketentuan waktu, kualitas mapun dalam pencapaian target

yang ditetapkan. Dalam menunjang tercapainya kualitas pekerjaan harus ditunjang
                                                                             87



dengan kemampuan dan keahlian yang dapat diperoleh dengan mengikuti

pendidikan dan latihan sesuai dengan bidang pekerjaan.



4.7.4. Pengaruh Kemampuan Manajerial terhadap Produktivitas Perusahaan

         Dalam penelitian, kemampuan manajerial berpengaruh positif terhadap

produktivitas dan mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap produktivitas

perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama. Kemampuan

manajerial diukur dari tingkat kecakapan seorang manajer proyek dalam

menjalankan dan melaksanakan proyek PT Matrix Primatama. Bagaimana seorang

manajer dapat melaksanakan, memimpin, merencanakan, mengorganisasikan,

mengontrol dan mengawasi jalannya pelaksanaan suatu proyek.

         Hubungan antara kemampuan manajerial terhadap produktivitas

perusahaan adalah positif, artinya semakin tinggi tingkat keamampuan manjerial

dalam melaksanakan suatu proyek maka seluruh sumber daya baik sumber daya

alam dalam pemanfaatan lahan dan bahan, sumber daya manusia dalam mengelola

seluruh tenaga kerja, maupun sumber daya finansial dalam mengefektifkan dana

atau modal kerja yang ada sehingga keseluruhan dapat terorganisir dengan baik,

dan hasilnyapun akan berpengaruh pada meningkatnya nilai produktivitas yang

diperoleh. Dan sebaliknya jika tidak melaksanakan sistem manajemen dengan

baik maka hasinyapun akan berpengaruh pada menurunnya nilai produktivitas.

       Menurut Peter F Drucker (2004:4), tugas utama dari seorang manajer

profesional adalah bagaimana meningkatkan customer (meningkatkan pelanggan).

Berangkat dari anggapan seperti itu maka semua staf dalam perusahaan tersebut
                                                                          88



harus mengutamakan penampilan kinerja dalam keuntungan dan produktivitas

dari perusahaan tersebut. Dalam hal inilah seorang manajer menekankan

perhatiannya bahwa stafnya itu adalah sumber daya (resources) bukan beban

biaya.

         Tanggung jawab dari seorang manajer yang profesional adalah

memberikan sugesti dan selalu mendengarkan dari staf kemungkinan penyelesaian

masalah dalam suatu persoalan yang spesifik. Dan yang tak kalah pentingnya

adalah memberikan kesempatan kepada staf untuk melakukan sesuatu yang

dianggap penting dibanding kalau staf itu tinggal mau menerima perintah baru

mengerjakan sesuatu.

         Untuk meningkatkan produktivitas, staf diberikan kebebasan untuk

melakukan sesuatu dalam pekerjaannya. Manajer itu adalah suatu kompetensi dan

integritas yang harus diperlihatkan dalam kinerja suatu pekerjaan. Sebab,

manajemen itu adalah suatu fungsi (function) bukan tingkatan (class).

         Menurut Maman Ukas ( 1999 : 87), manajer yang memiliki kemampuan

manajerial (manajer kompeten) adalah seorang yang memiliki kompetensi

manajerial, yaitu memiliki pengetahuan dan          sikap perilaku yang turut

berkontribusi terhadap penampilan manajerial yang efektif




4.8. Implikasi Pendidikan
                                                                            89



       Perekonomian suatu negara selalu berkembang mengikuti keadaan dan

tuntutan zaman. Kini perindustrian di Indonesia mengalami perkembangan, hal

tersebut dapat dilihat dari semakin banyak berdiri sektor – sektor usaha barang

maupun jasa baik yang tergolong usaha kecil, menengah maupun besar. Bidang

usaha tersebut sangatlah penting dalam menumbuhkan perekonomian negara,

Untuk menopang dan menumbuh kembangkan perekonomian tersebut haruslah

didukung oleh perkembangan kemajuan usaha seluruh perusahaan.

       Perusahaan akan tumbuh dan terus mengalami kemajuan jika perusahaan

tersebut dapat dijalankan dengan sebaik- baiknya dengan menggunakan seluruh

sumber daya yang tersedia secara optimal. Tentunya yang paling utama adalah

sumber daya manusia atau tenaga kerja yang memiliki potensi untuk maju dan

ingin berkembang. Karena dengan adanya tenaga kerja yang kompeten maka

perusahan akan maju dan tujuan yang telah ditetapkan akan tercapai yang

akhirnya akan berdampak pada perekonomian negara yang terus meningkat.

       Dalam penelitian ini, bidang usaha yang dijalankan adalah bidang usaha

jasa yang bergerak dalam pelaksanan pembangunan/ konstruksi. Tentunya dalam

pelaksanaan dan pelayanan jasa ini dibutuhkan banyak sumber daya manusia yang

memiliki kemampuan dan keahlian dibidang jasa konstruksi, sehingga dalam

melaksanakan pekerjaan tidak mengalami hambatan atau kegagalan bagi

perusahaan. Sumber daya disini bukan hanya seorang pimpinan perusahaan atau

manajer saja melainkan seluruh pekerja atau tenaga kerja yang terlibat dalam

pelaksanan suatu pelayanan jasa tersebut.

       Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian,

keterampilan dan kompeten haruslah ditunjang oleh pendidikan, karena tidaklah
                                                                             90



mungkin seseorang akan bertambah keilmuan, keahlian dan kompetensinya tanpa

didukung oleh pendidikan. Tenaga kerja yang berkualitas dapat dilihat pada

tingkat pendidikan yang telah ditempuh dan pelatihan yang pernah diikuti baik

secara formal seperti SD, SMP, SMA/ SMK dan Perguruan Tinggi maupun non

formal seperti kasus dan keikutsertaan dalam Diklat. Hal tersebut diperlukan

dalam peningkatan mutu dan kualitas serta tingkat prestise setiap individu dalam

melakukan suatu usaha sebagai acuan untuk meraih tujuan yang akan dicapai.

       Dengan terciptanya tenaga kerja yang berkualitas yang ditunjang dengan

pendidikan maka perusahaan akan dengan mudah mendapatkan hasil yang

optimal. Tentunya dalam hal ini pada perusahaan jasa konstruksi dengan adanya

tenaga kerja yang berkualitas, dalam artian seorang pemimpin yang mempunyai

dasar dan keahlian dibidang konstruksi, manajer yang dapat memanage seluruh

potensi perusahan baik Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, maupun

Sumber Daya Finansial yang ada dalam perusahaan dan juga tenaga kerja yang

memiliki potensi, skill dan bakat dibidang pelayanan jasa konstruksi ini akan

mampu mendapatkan keuntungan yang besar dan kemajuan yang terus menerus

mengalami peningkatan dan yang paling penting produktivitas perusahaan terus

berjalan dan tidak mengalami penurunan.

       Begitu pentingnya pendidikan dalam memajukan roda perekonomian

tentuanya dalam hal ini roda perusahaan maka diperlukan tindakan nyata yang

harus dilaksanakan bagi seluruh tenaga kerja baik berada dalam jenjang top,

middle maupun lower dengan melaksanakan dan mengikuti program pendidikan

formal dan mengikuti atau ikut serta dalam meningkatkan bakat dan keahlian serta
                                                                                 91



keterampilan dengan mengikuti program pendidikan non formal seperti kursus

atau diklat yang sesuai dengan bakat yang dimiliki.

         Banyak hal yang dapat diambil dalam mengikuti pendidikan dan latihan,

karena pendidikan dan latihan merupakan upaya untuk pengembangan sumber

daya manusia, terutama untuk pengembangan aspek kemampuan intelektual dan

kepribadian manusia.. Pada hakikatnya pendidikan dan pelatihan memilki tujuan

adanya perubahan perilaku (kemampuan) berdasarkan pengetahuan yang

diperolehnya     sehingga   akhirnya    dapat    mengarah      kepada    peningkatan

produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan.

         Sesuai dengan hasil penelitian pada salah satu perusahan jasa pelaksana

konstruksi di Bandung, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas

perusahaan adalah faktor tenaga kerja yang berkualitas, dimana tenaga kerja yang

berkualitas dapat dilihat dari bagaimana tenaga kerja dapat melaksanakan tugas

dilapangan atau proyek yang dilaksanakan. Proyek dapat dikatakan berhasil jika

dapat dilaksanakan dengan tepat waktu dan tercapi tujuan atau kuantitas yang

ingin dicapai dengan standar kualitas yang paling baik. Untuk menggapai hal

tersebut, tenaga kerja haruslah benar- benar memiliki kemampuan dan keahlian

dibidangnya.

         Dari uraian diatas jelas terlihat bahwa pendidikan baik formal maupun non

formal    sangatlah   penting   bagi   seluruh   sumber       daya   manusia   dalam

mengembangkan pengetahuan, bakat dan keahlian. Dengan pendidikan pula roda

perekonomian baik negara maupun perusahaan akan terus meningkat, yang dapat

dilihat dari kinerja dan produktivitas yang semakin tinggi.
                                                                          92



                                  BAB V

                         KESIMPULAN DAN SARAN



Kesimpulan

       Berdasarkan hasil analisis dan pembahsan yang dikemukakan, maka

dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Efektivitas modal kerja, kualitas tenaga kerja dan kemampuan manajerial

   berpengaruh sifnifikan terhadap produktivitas perusahaan jasa pelaksana

   konstruksi PT Matrix Primatama Bandung

2. Efektivitas   modal    kerja   tidak   berpengaruh   signifikan   terhadap

   produktivitas perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama

   Bandung, karena menolak hipotesis awal yang menyebutkan bahwa

   efektivitas modal kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas

   perusahaan. Hal tersebut terjadi karena terjadi inefektivitas, yaitu batas

   maksimum efektivitas berada pada rasio 1 atau 100 persen dan jika

   semakin tinggi dan terus ditingkatkan sedangkan input lainnya tetap maka

   akan mempengaruhi output atau laba yang akan semakin menurun yang

   berakibat pada menurunnya produktivitas perusahaan. Sedangkan semakin

   rendah efektivitas modal kerja dimana rasio sama dengan satu atau

   dibawah satu maka produktivitas akan tinggi.

3. Kualitas tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas

   perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung.

   Artinya semakin tinggi kualitas tenaga kerja yang dilihat dari ketepatan
                                                                            93



      waktu dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, pencapaian target atau kuantitas

      yang ingin dicapai dengan kualitas yang terbaik maka produktivitas akan

      tinggi.

   4. Kemampuan manajerial berpengaruh signifikan terhadap produktivitas

      perusahaan jasa pelaksana konstruksi PT Matrix Primatama Bandung

      dengan hubungan positif. artinya semakin tinggi kemampuan manajerial

      maka akan semakin tinggi produktivitas.



Saran-Saran

   Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis memberikan

   saran-saran sebagai berikut:

 1. Modal kerja yang tersedia dapat digunakan secara maksimal sesuai dengan

    modal kerja yang telah dianggarkan jika dikelola dengan baik sehingga tidak

    terjadi defisit anggaran atau surplus anggaran. Dalam pengendalian modal

    kerja tersebut harus dirancang, direncanakan dan harus dapat memprediksi

    dengan matang bagaimana keadaan perekonomian selama pelaksanaan

    proyek oleh sumberdaya manusia yang kompeten dan berkualitas. Karena

    dalam kegiatan pelaksanaan suatu proyek harga bahan baku ataupun biaya

    lain tidak dapat ditentukan dengan jelas dan tepat apakah akan naik atau

    turun, sehingga dengan perencanaan yang baik dan pengelola yang

    kompeten sangat diperlukan dalam penggunaan modal kerja dengan tepat

    dan efektif.
                                                                          94



2. Bagi perusahaan jasa tenaga kerja yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam

   menjalankan dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan permintaan dan

   keinginan konsumen. Untuk mencapai dan menghasilkan tenaga kerja yang

   berkualitas yang dapat menjalankan suatu pekerjaan dengan hasil yang

   maksimal, bagi para tenaga kerja harus mempunyai pengetahuan dan

   keahlian sesuai dengan bidang pekerjaan sehingga hasil yang diperoleh baik

   dari kualitas pekerjaan, kuantitas pencapaian target maupun waktu

   pelaksanaan yang ditargetkan dapat tercapai. Dengan tercapinya hasil yang

   terbaik atas pekerjaannya akan memberikan kepuasan baik bagi konsumen

   mapun bagi dirinya sendiri dan yang lebih lagi bagi perusahaan.

   Untuk itu, maka tenaga kerja seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup

   dan memiliki potensi yang benar-benar memberikan hasil yang terbaik bagi

   perusahaan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para tenaga

   kerja seharusnya sebelum melaksanakan suatu pekerjaan diberikan

   pendidikan atau latihan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya, dengan

   tujuan supaya dalam melaksanakan pekerjaan dapat dengan terampil dan

   mencapai hasil yang maksimum.

3. Suatu pekerjaan dapat berjalan dengan baik dan terorganisir jika dimanage

   dan dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kompetensi yang tinggi.

   Untuk itu, maka diperlukan seorang manajer yang kompeten dan berbakat.

   Bagi manajer proyek dan pimpinan pelaksana proyek harus mempunyai

   pengetahuan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dihadapinya.

   Tentunya dalam perusahaan ini adalah diperlukan seorang manajer yang
                                                                        95



memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dibidang pelayanan jasa

konstruksi, secara spesifik dilihat dari tingkatan pendidikan terakhir dari

seorang manajer proyek minimalnya adalah pada tingkatan pendidikan S1

atau Insinyur. Dengan melihat tingkatan pendidikan tersebut, setidaknya

seorang manajer memiliki kecakapan dan wawasan yang luas terhadap

bidang yang dijalanya.

Selain dilihat dari tingkat pendidikannya, seorang manajer proyek harus

profesional   dalam      melaksanakan   fungsi   perusahaan   yaitu   dalam

merencanakan, mengorganisir, menggerakkan dan mengendalikan serta

mengeloala seluruh sumber daya yang ada baik Sumber Daya Alam, Sumber

Daya Manusia, Sumber Daya Financial dengan baik sehingga seluruh

sumber daya yang ada dapat dikelola dengan efektif dan efisien. Seorang

manjer proyek yang profesional harus dapat mengembangkan usaha dan

wawasannya dari berbagai pengalaman yang ia dapatkan selama

melaksanakan pekerjaanya. Dari pengalaman tersebut seorang manajer harus

dapat meningkatkan kredibilitas perusahaan untuk lebih maju dan lebih

berkembang.
                                                                            96




                        INSTRUMEN PENELITIAN




       Dalam rangka menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS
PERUSAHAAN (Suatu kasus pada perusahaan jasa Pelaksana kontruksi PT
MATRIX PRIMATAMA Bandung)”. Saya bermaksud mengadakan penelitian
atas proyek yang telah dilaksanakan oleh PT Matrix Primatama.
       Dengan segala kerendahan hati saya mohon Bapak/ Ibu/ Saudara dapat
meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan yang saya ajukan
sesuai dengan kondisi yang sebenarnya
       Atas segala bantuan dan kerjasanma Bapak/ Ibu/ Saudara saya ucapkan
terima kasih yang sebesar- besarnya
       Semoga amal baik Bapak/ Ibu/ saudara diterima Allah Swt Amin




                                                                Wassalam,




                                                                Rika
                                                         Rahmawati
                                                                        97



IDENTITAS RESPONDEN
Isilah titik- titik dibawah ini atau lingkari salah saru jawaban yang telah
disediakan
   1. No. responden         : …………( tidak perlu diisi)
   2. Nama Responden        :…………………………….
   3. Jenis Kelamin         : ………….(L/P)
   4. Umur                  :……………………...Tahun
   5. Pendidikan terakhir   :
                            a. Tamat SD
                            b. Tamat SMP / sederajat
                            c. Tamat SMA / SMK/ Sederajat
                            d. Diploma
                            e. Sarjana
Nama/ Jenis Proyek yang dilaksanakan      : ……………………………….
Jumlah Tenaga kerja yang digunakan        :
                        Jenjang Jabatan       Jumlah
                        Tenaga Kerja
                        Top
                        Midle
                        Lower
                        Jumlah




EFEKTIVITAS MODAL KERJA
1. Bapak/ Ibu/ Saudara hanya mengisi pada tempat yang disediakan.
    Berapakah Modal kerja yang tersedia untuk pelaksanaan proyek ?
       Rp. …………………
    Berapakah Modal kerja yang digunakan selama pelaksanaan proyek ?
       Rp. ……………………
    Berapa jumlah perbandingan antara modal yang tersedia dengan modal
       kerja yang digunakan dalam pelaksanaan proyek ?
                                                                                   98



           …………………………..( dalam persen )




     KUALITAS TENAGA KERJA


     2. - Berapa lama waktu Pengerjaan dari proyek yang anda laksanakan ?.......
          - Apakah tepat dengan waktu yang telah ditetapkan ?
              a. Tepat                     b. Tidak Tepat
     3. Apakah proyek yang anda kerjakan selama batas waktu pelaksanaan dapat
     mencapai target yang telah ditetapkan ?
              a. Tercapai          b. Tidak Tercapai.
     .


     KEMAMPUAN MANAJERIAL
     Petunjuk pengisian
     Berikut terdapat sejumlah pernyataan, berilah tanda (√ ) pada salah satu pilihan
     yang dianggap sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
     Kode Peringkat                               Jawaban
              1             Gagal atau tidak pernah memenuhi ketentuan/ tuntutan/
     standar.
              2             Kurang memenuhi ketentuan/ tuntutan/ standar
              3             Cukup memenuhi ketentuan/ tuntutan/ standar.
              4             Memenuhi ketentuan/ tuntutan/ standar.
              5             Melebihi ketentuan/ tuntutan/ standar.
No        Konsep Analitis                Pernyataan                        Jawaban
                                                                     1    2   3    4    5
4        Perencanaan          Menentukan tujuan dan lingkup
                              sasaran pelaksanaan proyek

5                             Menentukan     anggaran       Biaya
                              pelaksanan proyek

6                             Menentukan jadwal pelaksanaan
                              proyek
                                                               99




7                       Menentukan       standar       mutu
                        pelaksanaan proyek

8                       Menentukan      standar kriteria
                        produktivitas perusahaan dari
                        pelaksanaan proyek
9    Pengorganisasian   Kemampuan membuat program
                        perusahaan

10                      Membentuk tim dan menyusun
                        organisasi pelaksanaan proyek

11                      Mengidentifikasi   lingkup     kerja
                        proyek

12                      Menginventarisasi        keperluan
                        personil pelaksana proyek

13   Penggerakan        Menggerakan para tenaga kerja
                        dalam pelaksanaan proyek

14                      Memotivasi para tenaga kerja

15                      Memberi instruksi pada seluruh
                        tenaga kerja pelaksana proyek
16   Pengawasan         Melakukan perbaikan realokasi
                        sumber daya yang telah digunakan
                        selama pelaksanaan proyek
17                      Membuat jadwal alternative

18                      Melakukan tindakan Rework pada
                        saat pelaksanaan proyek
19                      Mencatat pemakaian sumber daya
                        yang telah digunakan selama
                        proyek terlaksana

20                      Mencatat kinerja dan produktivitas
                        dari     proyek    yang      telah
                        dilaksanakan

21                      Membandingkan      standar dan
                        tindakan nyata serta mengambil
                        tindakan perbaikan
                                                                                 100



22                          Mengkaji      dan   menyimpulkan
                            analisis varian dari proyek yang
                            telah dilaksanakan




     PRODUKTIVITAS

     23. Dari proyek yang telah Bapak/ Ibu/ Sdr laksanakan, berapakah nilai
     produktivitas yang diperoleh dengan perhitungan rasio jumlah total Output dengan
     jumlah total Input ?

      Berapa jumlah pendapatan bersih yang diperoleh dari proyek yang telah
        Bapak/ Ibu/ Sdr laksanakan?
      Berapa jumlah biaya yang dikelurkan untuk pelaksanaan proyek:
          - Berapa biaya adminstrasi
          - Berapa jumlah biaya operasinal
          - Berapa jumlah biaya pajak
          - Berapa jumlah biaya bahan bangunan / bahan dasar
          - Berapa biaya upah tenaga kerja
      Berapa nilai produktivitas dari perbandingan input dan output ?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:45
posted:1/12/2013
language:Indonesian
pages:100