; MAKALAH KEBANGSAAN
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

MAKALAH KEBANGSAAN

VIEWS: 34 PAGES: 96

  • pg 1
									   AKSELERASI PEMBANGUNAN NASIONAL GUNA
MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS DALAM RANGKA
       MEMAJUKAN STABILITAS NASIONAL
                Makalah Pendidikan Kewarganegaraan




                              Disusun oleh:

                            Kelompok Genap



                            Dosen Pengampu:

                       Prof. Dr. Ir Eddy Suprayitno

                             NIP.131471518




             JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
                   FAKULTAS TEKNIK
         UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS KEDIRI
                         2011


November 2011
                               KATA PENGANTAR


      Puji syukur Kami ucapkan kehadirat Alloh SWT, atas rahmat-Nya Kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Akselerasi Pembangunan Ekonomi Nasional Guna
Menghadapi Perdagangan Bebas Dalam Rangka Menunjang Stabilitas Nasional”.

      Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk Ujian
Tengah Semester 1 Mata Kuliah Kewarganegaraan Universitas Brawijaya Kampus Kediri.

        Dalam penulisan makalah ini Kami merasa masih banyak kekurangan dalam hal
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang Kami miliki. Untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat Kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

   Dalam penulisan makalah ini Kamimengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :

   1. Bapak Prof.Dr.Ir. Eddy Suprayitno, MS selaku dosen mata kuliah
      Kewarganegaraan.
   2. Semua teman-teman Teknik Informatika yang telah membantu serta mendukung
      dalam pembuatan makalah ini.
   3. Keluarga Kami tercinta yang telah mengizinkan Kami untuk kelompok bersama
      sampai makalah ini selesai.



    Akhirnya Kami berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal kepada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.




                                                                Kediri, November 2011




                                                                              Penulis




                                         1
                                                               DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................... 1

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... 2




BAB I ................................................................................................................................................. 4

   PENDAHULUAN ............................................................................................................... 4

       A.      Latar Belakang ........................................................................................................ 4

       B.      Definisi Masalah ...................................................................................................... 5

       C.      Tujuan ..................................................................................................................... 5




BAB II ............................................................................................................................................... 7

   PEMBAHASAN ................................................................................................................. 7

       Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi ........................................................................... 7

       Akselerasi Pembangunan Ekonomi:.............................................................................. 12

       Kebijakan Investasi Bagi Pembangunan Ekonomi ............................................................ 15

       Mengenai Kebijakan Investasi ...................................................................................... 17

       Rendahnya penawaran modal di Indonesia dan cara mengatasinya ................................. 22

       Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia.................................................................. 24

       Penguatan Ekonomi Rakyat: Dasar Pembangunan Daerah ............................................... 26

       Nasionalisasi Ekonomi Sebagai Dasar Pembangunan Daerah ........................................... 29

       Membangun Paradigma Baru Ekonomi Nasional: Teknologi Informasi dan Komunikasi

       Sebagai Dasar................................................................................................................. 31



                                                                           2
       Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia di Masa yang Akan

       Datang .......................................................................................................................... 35

       Tantangan Pembangunan Indonesia ke Depan ............................................................... 77

       Peran Pancasila di Era Globalisasi ................................................................................... 78

       Dampak Positif Pembangunan Ekonomi ....................................................................... 82

       Dampak Negatif Pembangunan Ekonomi ..................................................................... 82

       Perdagangan Bebas, Pasar Bebas, Free Trade, Pasar Bebas antara ASEAN dan China 82

       Sejarah Pasar Bebas ..................................................................................................... 83

       Pro-kontra perdagangan bebas ..................................................................................... 83

       Menggugat Mitos-mitos Neoliberalisme tentang Pasar Bebas ....................................... 84

       Paham Neoloberalisme .................................................................................................. 85

       Mitos ............................................................................................................................. 86

       Antiglobalisasi............................................................................................................... 87

       Forum Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN Keluarkan Pernyataan Ketua ..... 88

       Pasar Bebas ASEAN-Cina Timbulkan Pengangguran? ................................................ 88

       Kalau Belum Siap Kenapa Memaksa Siap [ Perdagangan Bebas Asean - Cina ] ........... 90




BAB III ............................................................................................................................................ 92

   PENUTUP ........................................................................................................................ 92

       Kesimpulan ................................................................................................................... 92

      Saran..........................................................................................................................................94




                                                                          3
                                        BAB I

                                  PENDAHULUAN
   A. Latar Belakang

       Tujuan bernegara suatu bangsa adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakatnya. Pengaruh perdagangan bebas di dunia berdampak sangat besar di negara
ini. Banyaknya produk-produk luar negeri yang berkualitas dunia membuat para peminat
akan produk dalam negeri menurun. Mudahnya akses mendapatkan barang-barang tersebut
membuat para peminat mulai meninggalkan produk-produk buatan sendiri. Selain dengan
mudahnya akses produksi hal-hal yang berpengaruh dalam menarik minat pembeli adalah
desain dan teknologi yang digunakan. Semakin baik desain dan semakin modern serta
canggih teknologi yang digunakan maka semakin banyak pula peminat yang ingin
mendapatkan barang tersebut. Maraknya barang-barang impor yang masuk ke negara ini
membuat proses produksi di negara ini sedikit terhambat karena kurangnya minat pembeli
untuk memakai barang produk hasil sendiri. Disatu sisi keadaan ini menguntungkan negara
karena banyaknya investor asing yang menanamkan sahamnya di Indonesia. Namun di sisi
lain masalah ini akan berpengaruh sangat besar terhadap hasil-hasil produk dalam negeri.
Mempelajari bagaimana memuaskan para konsumen dengan barang-barang yang
diproduksi sehingga membuat produk dalam negeri mampu bersaing dan disejajarkan
dengan produk luar. Ditambah dengan memikirkan teknologi dan variasi-variasi,model-
model,kualitas,kuantitas,serta harga jual yang bersaing dengan produk luar. Sehingga
waktu kurang lebih sekitar 4 tahun dapat diaplikasikan dengan baik demi kemajuan
perekonomian di negeri ini. Banyak dampak positif adanya bursa perdagangan bebas ini
salah satunya mungkin konsumen diberi beragam pilihan untuk menentukan apa yang
menurut mereka cocok. Selain itu perkembangan jaman dari masa ke masa juga
mempengaruhi kebutuhan setiap masing-masing konsumen. Akan tetapi ada juga dampak
negatif yang dihasilkan dari perdagangan bebas ini. Yaitu berkurangnya minat konsumen
untuk menggunakan produk dalam negeri.Ini membuat para produsen-produsen dalam
negeri kalah bersaing sehingga membuat mereka mengalami kerugian yang cukup
besar,dikarenakan adanya ketimpangan dalam segi perekonomian negara. Dengan begitu
produk-produk dalam negeri mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri ditengah
situasi yang seperti ini. Dan alangkah baiknya apabila kita mampu untuk memperkenalkan
barang-barang produksi dalam negeri ke luar. Dengan begitu perekonomian di negara ini
dapat berkembang bahkan berbalik menguntungkan kita. Hal ini dikarenakan perdagangan

                                           4
bebas yang semakin marak di Indonesia. Produk yang berasal dari luar negeri yang bebas
masuk ke negara Indonesia dengan tidak ada batasannya sehingga semakin berkembang
pesat di Indonesia .Maraknya barang-barang impor yang masuk ke negara ini membuat
proses produksi di negara ini sedikit terhambat karena kurangnya minat pembeli untuk
memakai barang produk hasil sendiri. Cara mengatasi perdagangan bebas di indonesia
yang paling sederhananya adalah dengan mencintai produk indonesia sendiri.Selain
itu,pelaku ekonom juga harus mencoba membuat inovasi produk-produk terbaru yang
dapat menghasilkan produk serta mengekspornya ke negara lain untuk mengenalkan
produk dalam negeri serta dapat menambah visa negara Indonesia.

   B. Definisi Masalah
       1) Apa prinsip dasar pembangunan ekonomi dan bagaimana penjelasannya?
       2) Bagaimana penjelasan dari akselerasi pembangunan ekonomi?
       3) Bagaimana kebijakan investasi bagi pembangunan ekonomi?
       4) Apa yang menyebabkan rendahnya permintaan modal di Indonesia dan
          bagaimana cara mengatasinya?
       5) Apa saja tantangan pembangunan Indonesia ke depannya?
       6) Bagaimana peran Pancasila di era globalisasi?
       7) Apa dampak dari pembangunan ekonomi?
       8) Apa pengertian perdagangan bebas?
       9) Mengapa dalam perdagangan bebas ada pro-kontra?
       10) Mengapa pasar ASEAN-Cina menimbulkan pengangguran?
   C. Tujuan
          Tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul ” Akselerasi Pembangunan
       Ekonomi Nasional Guna Menghadapi Perdagangan Bebas dalam Rangka
       Mewujudkan Stabilitas Nasional” adalah sebagai berikut :
       1) Kita dapat mengetahui prinsip dasar pembangunan ekonomi
       2) Kita juga dapat menjelaskan definisi dari akselerasi pembangunan ekonomi
       3) Mengerti dan memahami berbagai kebijakan investasi bagi pembangunan
          ekonomi
       4) Mengetahui penyebab rendahnya permintaan modal di Indonesia, serta dapat
          mempelajari cara mengatasi masalah tersebut
       5) Dengan adanya tantangan pembangunan Indonesia di masa depan kita dapat
          mempelajari solusi tersebut sehingga dapat menghadapi tantangan tersebut

                                           5
6) Kita dapat mengetahui peran Pancasila di era globalisasi
7) Dapat mengetahui berbagai dampak dari pembangunan ekonomi
8) Dapat memahami dan belajar tentang arti perdagangan bebas
9) Agar kita mengetahui serta dapat mempelajari pro-kontra yang ada dalam
   perdagangan bebas
10) Mengetahui bahwa pasar ASEAN-Cina dapat menimbulkan pengangguran




                                    6
                                         BAB II

                                   PEMBAHASAN


Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi
       Tujuan bernegara suatu bangsa adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakatnya. Untuk mencapai kemakmuran itu salah satu cara adalah dengan
mewujudkan tingkat produktivitas yang tinggi yang terus meningkat di seluruh bidang
ekonomi. Suatu ekonomi yang produktif dapat membayar upah yang tinggi kepada
pekerjanya; sebaliknya suatu ekonomi yang tidak produktif hanya dapat memberikan upah
yang rendah. Ekonomi yang produktif menghasilkan keuntungan yang tinggi pada modal
yang diinvestasikan dalam aktivitas bisnisnya; sebaliknya ekonomi yang tidak produktif
hanya memberikan keuntungan yang rendah.
       Produktivitas menentukan kemakmuran dan daya saing. Pemikiran bahwa upah
yang rendah akan membuat suatu negara lebih kompetitif adalah tidak benar. Upah rendah
berarti bahwa suatu perusahaan tidak kompetitif dan tidak dapat mendukung standar hidup
yang tinggi.Demikian pula dengan nilai tukar. Negara tidak akan menjadi lebih kompetitif
jika mata uang negara turun nilainya. Mata uang negara yang turun nilainya, berarti
negara itu tidak kompetitif dan bahwa kualitas barang dan jasanya tidak dapat mendukung
nilai mata uangnya. Satu-satunya definisi daya saing, dan satu-satunya cara untuk
membangun kemakmuran dalam suatu ekonomi, adalah meningkatkan produktivitas.
Dalam ekonomi global yang modern, produktivitas lebih dari fungsi efisiensi dalam
memproduksi barang-barang yang sama. Ia juga bertalian dengan nilai produk yang
dihasilkan negara. Ketika suatu ekonomi menjadi lebih maju, ia harus menemukan jalan
untuk menaikkan nilai produknya, dengan nilai yang bersedia dibayar pembeli. Para
pembeli akan membayar lebih hanya jika suatu produk lebih berkualitas, mempunyai ciri
yang lebih baik, ditawarkan bersama dengan jasa penunjang yang lebih lengkap, membawa
merek yang dikenal handal.        Pertumbuhan produktivitas ditentukan oleh fungsi
peningkatan nilai dan efisiensi produksi yang terjadi.Itulah yang harus dikejar oleh setiap
negara untuk memajukan ekonominya.


       Mencapai nilai lebih tinggi tidak mengharuskan suatu negara untuk menghasilkan
semikonduktor atau komputer. Suatu negara dapat produktif dan makmur dalam hampir
semua bidang. Yang penting adalah bagaimana negara itu bersaing, bukan dalam industri

                                            7
apa ia bersaing. Suatu negara dapat menjadi makmur dalam pariwisata jika negara itu
dapat menaikkan rata-rata belanja per wisatawan manca negara dari misalnya $100 sehari
menjadi $300 sehari dengan menawarkan hal-hal yang lebih baik: fasilitas penginapan
lebih membetahkan, pelayanan transportasi lebih lancar, atraksi lebih menarik, atau
keramahan yang lebih mengesankan. Sepatu dan sandal terkesan seperti produk murahan,
sama sekali tidak tampak sebagai produk unggulan bagi suatu negara makmur. Tetapi
orang Italia menjadi kaya karena membuat sepatu. Mereka membuat sepatu dengan cara
yang sangat khusus- dengan bentuk yang bergaya, disain yang indah, merek yang terkenal,
dan distribusi yang luas. Maka perusahaan Italia dapat menjual sepatu seharga $150
sepasang dan memberikan upah bagi karyawannya dan laba yang tinggi bagi pemilik
modalnya. Sedangkan banyak negara lain, termasuk Indonesia, membuat sepatu dengan
meniru dan tanpa banyak kandungan keterampilan dan kecanggihan, sehingga hanya
mendapat upah rendah bagi pekerja dan pengusahanya.


Basis Kemakmuran
        Untuk membangun suatu ekonomi yang makmur, pemikiran bahwa             industri
tradisional adalah tertinggal dan bahwa negara harus pindah ke industri hi-tech harus
ditanggalkan. Sebaliknya, fokus harus pada basis kemakmuran yang sebenarnya, yang
menjadi daya produksi ekonomi. Jika suatu negara dapat mendorong produktivitas melalui
peningkatan keterampilan dan teknologi, maka kemakmuran akan meningkat. Pada sisi
lain, jika ada halangan dalam meningkatkan produktivitas, maka ekonomi negara itu akan
stagnan atau mundur. Pemerintah mempunyai peran penting dalam membangun ekonomi
yang produktif. Tetapi swasta mempunyai peran yang fundamental juga. Salah satu hal
yang harus terjadi di setiap ekonomi adalah penyeimbangan dan pemikiran kembali
tentang peran pemerintah dan swasta. Saat ini masyarakat cenderung dipandu oleh
pemerintah. Di masa datang, pemerintah dan swasta harus memimpin secara bersama-
sama.


        Suatu negara suatu saat dapat tergolong sebagai negara berkembang, yang perlu
mencapai kemakmuran yang lebih tinggi untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-
negara maju dan tidak dikejar oleh negara-negara berkembang lainnya. Negara-negara
berkembang akan terus meniru produk yang dihasilkan atau menggunakan upah yang lebih
rendah untuk menyaingi produk negara itu. Negara-negara sedang berkembang lain juga


                                          8
dapat terus memperbaiki infrastrukturnya, dan mendidik masyarakatnya agar mempunyai
keterampilan yang semakin baik. Negara-negara lebih maju dapat melakukan tidak hanya
meniru, tidak hanya memangkas biaya-biaya dan tidak hanya merestrukturisasi
perekonomiannya, mereka juga terus mengembangkan kapasitas inovatif secara besar-
besaran. Tantangan yang dihadapi negara itu oleh sebab itu sangatlah besar.


       Satu-satunya cara untuk menang dalam kompetisi sengit seperti ini adalah dengan
menghasilkan     produk    dan     jasa   yang    negara-negara     lain      tidak    dapat
menghasilkannya.    Pertumbuhan     kemakmuran      tergantung    pada     kapasitas   untuk
menginovasi, untuk menghasilkan nilai produk yang lebih tinggi dan semakin tinggi, yang
negara lain tidak dapat menghasilkan atau akan menghasilkan baru setelah beberapa tahun
kemudian. Untuk mendukung struktur upah yang meningkat terus maka negara harus
menetapkan target yang bergerak, menerapkan tingkat teknologi untuk mengembangkan
proses produksi dan produk uniknya secara lebih baik dan terus lebih baik. Ini adalah
fondasi dari ekonomi global modern. Tidak ada kekecualian. Jika suatu negara gagal
untuk mengembangkan kapasitas untuk lebih produktif, ia dengan cepat takluk kepada
tekanan kekuatan pasar.


       Bagaimana cara suatu negara membangun ekonomi yang produktif? Menurut
Porter ada dua lingkungan strategi: lingkungan makro dan lingkungan mikro 1 . Strategi
yang pertama adalah dengan mewujudkan suatu lingkungan ekonomi makro dan politik
stabil, serta hukum yang mantap dan adil. Indonesia masih harus melewati banyak ujian
dalam proses ini. Indonesia sedang memantapkan kebijakan ekonomi makronya agar lebih
handal, stabil dalam hal inflasi, tingkat bunga, keuangan negara, dsb. Lepas dari krisis
ekonomi yang masih melanda, Indonesia pernah menjadi salah satu cerita sukses ekonomi
makro dalam dekade 90an. Ini dapat diwujudkan kembali.Namun, mempunyai kebijakan
ekonomi makro yang baik saja tidaklah cukup. Kebijakan ekonomi makro tidak
menciptakan kekayaan. Ia membuat lebih mudah atau lebih mungkin bagi perusahaan
untuk mewujudkan kekayaan, tetapi kemakmuran tidak akan meningkat kecuali jika dasar
ekonomi mikronya mantap dan semakin mantap. Strategi utama yang kedua adalah
menciptakan fondasi ekonomi mikro.




                                            9
          Pertama-tama dan yang paling penting adalah, suatu ekonomi yang maju berakar
dalam kapasitas perusahaan lokalnya. Ekonomi suatu negara tidak dapat menjadi
produktif kecuali jika perusahaan besar maupun kecil yang beroperasi di negara itu adalah
produktif. Ini berlaku tidak hanya pada perusahaan pengekspor saja tetapi kepada setiap
perusahaan. Perusahaan yang tidak efisien akan mengganggu industri lain yang tergantung
padanya. Inti dari setiap kemakmuran ekonomi adalah efisiensi dan kecanggihan operasi
perusahaan yang ada. Fokus pada perusahaan saja tidaklah cukup, sebab kapasitas mereka
untuk bergerak ke strategi yang lebih produktif adalah juga fungsi dari lingkungan bisnis
ekonomi mikro di mana mereka bersaing. Lingkungan ekonomi makro seperti tingkat
bunga, tingkat inflasi, dll.adalah penting dalam menentukan secara keseluruhan kapasitas
bersaing perusahaan.
          Tetapi apa yang juga penting adalah lingkungan dekat yang mempengaruhi
perusahaan bersaing setiap hari: antara lain infrastruktur yang mereka gunakan dan
kualitas tenaga kerja yang mereka dapat rekrut. Perusahaan yang memiliki teknik
manajerial yang canggih untuk bersaing juga mengalami keterbatasan, kecuali jika mereka
mempunyai lingkungan lokal yang kondusif untuk melakukan itu. Maka suatu pertanyaan
penting adalah bagaimana meningkatkan lingkungan bisnis ekonomi mikro di setiap
daerah.
          Setiap negara harus menyelidiki dasar ekonomi mikro dari daya saing perusahaan
secara lebih rinci. Ada dua tantangan fundamental di mana perusahaan harus memusatkan
perhatian. Pertama, adalah efektivitas operasional. Ada banyak pengetahuan, teknologi
dan praktek terbaik yang tersedia tentang bagaimana cara bersaing. Pada dasarnya, urutan
pertama bagi perusahaan manapun adalah untuk mencapai efektivitas operasional, untuk
mencapai praktek terbaik. Melakukan hal itu memungkinkan suatu perusahaan untuk
menjadi pemenang. Strateginya adalah benchmarking. Langkah berikutnya ke arah
produktivitas lebih tinggi memerlukan upaya lebih dari sekedar mengasimilasi praktek
terbaik dari tempat lain. Perusahaan harus mampu untuk menciptakan praktek terbaik
mereka sendiri dan mengembangkan posisi strategisnya yang unik.
          Dalam hal lingkungan bisnis ekonomi mikro, ada empat dimensi yang
penting. Pertama adalah input yang diperlukan perusahaan, seperti sumber daya manusia,
infrastruktur fisik, infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi, modal, informasi
komersial, hukum dan peraturan administratif. Ini adalah input yang penting sekali yang


                                            10
setiap perusahaan harus menghadapi setiap hari untuk menciptakan nilai. Agar suatu
ekonomi menjadi lebih produktif, maka kualitas, kecanggihan, dan pada akhirnya,
spesialisasi dari input ini harus meningkat. Negara harus meningkatkan rata-rata kualitas
sumber daya manusianya, kualitas basis ilmiahnya, dan seterusnya.
       Aspek lingkungan bisnis ekonomi mikro yang kedua adalah iklim kompetisi yang
fair. Suatu ekonomi agar produktif membutuhkan suatu iklim dan insentif yang dapat
menstimulasi investasi yang agresif. Pada awalnya investasi itu akan berkaitan dengan
"asset keras"; namun untuk mencapai status ekonomi yang lebih maju, harus ada iklim di
mana perusahaan akan menanam modal dalam "asset lunak" seperti pelatihan, teknologi
R&D, penentuan merek, dan jaringan pemasaran internasional. Berhubungan erat dengan
ini, suatu ekonomi produktif adalah di mana ada kompetisi internal. Suatu perusahaan
tidak dapat mungkin mampu bersaing di luar negeri kecuali jika ia berhasil untuk bersaing
di dalam negeri. Karena kesuksesan tergantung pada inovasi, maka tekanan kompetisi
lokal adalah fundamental dalam      membuat kemajuan. Dalam mencapai keberhasilan,
kompetisi internal adalah yang paling penting, di mana berbagai perusahaan mempunyai
keinginan sangat kuat untuk menjadi yang terbaik.
       Ketiga,   suatu   ekonomi   yang berkembang       memerlukan     konsumen     yang
penuntut. Setiap ekonomi harus menciptakan suatu lingkungan di mana baik konsumen
rumah tangga maupun konsumen bisnis mengharapkan yang terbaik dari pembuat produk.
Kekritisan konsumen akan memberi pemahaman bagi perusahaan lokal mengenai
kebutuhan pasar yang terspesialisasi, yang akan menjadi basis dari keberhasilan di tingkat
nasional dan internasional. Untuk menjadi suatu negara maju diperlukan inovasi dalam
wujud produk unik, ciri unik, atau jasa unik.Adalah sangat sulit untuk menjadi unik jika
melakukan hal itu sangat tergantung pada pemahaman kebutuhan konsumen asing, di
mana pesaing asing jauh lebih menguasainya. Inovasi sering bersumber secara langsung
dari kondisi-kondisi lokal, di mana perusahaan daerah mempunyai kemampuan unik untuk
memahaminya.
       Unsur lingkungan bisnis yang terakhir, di mana semua unsur-unsur lain juga harus
ada bersama-sama, adalah klaster industri. Klaster membangun suatu kawasan ekonomi
inovatif dan produktif. Suatu klaster lebih dari sekedar industri tunggal yang membuat
sebuah produk unggulan. Klaster yang sukses melibatkan berbagai industri terkait,
pemasok dan institusi yang semua berlokasi di kawasan yang sama. Mengapa klaster
penting? Klaster memang kurang penting untuk negara berkembang yang menggunakan


                                           11
upah rendah untuk menjual produk tiruan atau yang merakit komponen-komponen barang
yang dibuat di negara lain. Namun jika bercita-cita menjadi negara maju, suatu negara
harus dengan unik berinovasi dan produktif. Klaster adalah penting sebab ia merupakan
cara yang paling produktif untuk mengorganisir kegiatan ekonomi untuk mencapai sasaran
itu. Klaster yang ada di daerah-daerah perlu dikenali. Misalnya jika di suatu daerah ada
sekolah kedokteran hewan, ada pabrik pupuk, ada ahli ilmu tanah, ada industri teralis, ada
industri pembuatan dokar, ada sarana pelatihan penunggang kuda, dll.maka itu semua
merupakan kapasitas untuk membuat aktivitas terspesialisasi berkaitan dengan kuda di
daerah itu. Spesialisasi memberi negara kemampuan untuk mengekspor, tidak dengan
harga yang lebih murah, tetapi dengan berinovasi.



Akselerasi Pembangunan Ekonomi:


       Pertumbuhan ekonomi adalah bagian penting dari pembangunan sebuah negara,
bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu indikator penting untuk menjelaskan bahwa suatu
negara itu mampu secara finansial atau sejahtera karena salah satu tujuan pembentukan
pemerintahan negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Amanat tersebut
antara lain telah dijabarkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Tahun 1945 dan merupakan amanat konstitusi yang mendasari pembentukan peraturan
perundang-undangan     dibidang    perekonomian.     Konstitusi   mengamanatkan      agar
pembangunan ekonomi nasional harus didasarkan pada prinsip demokrasi yang mampu
menciptakan terwujudnya kedaulatan ekonomi Indonesia. Keterkaitan pembangunan
ekonomi dengan pelaku ekonomi kerakyatan dimantapkan lagi dengan Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI/ MPR/ 1998 tentang
Politik Ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi sebagai sumber hukum matriil.

    Dalam usaha mencapai tujuan tersebut maka negara memainkan peranan yang penting
dalam menyusun laju perekonomian nasional. Dalam beberapa dekade GBHN sejak tahun
1973, karakteristik perekonomian Indonesia dipersiapkan berdasarkan usaha bersama
dengan orientasi kekeluargaan dimana cabang produksi vital dikuasai oleh negara. GBHN
yang disusun sejak tahun 1973 sampai tahun 1998 memberikan landasan normatif yang
jelas mengenai peran serta pemerintah dalam praktek persaingan usaha yang sehat.




                                           12
    Secara umum, pelaksanaan pembangunan berbagai kebijakan dan program-program
pembangunan ekonomi telah berhasil mengembalikan stabilitas ekonomi makro yang
cukup kuat bagi landasan kebangkitan ekonomi ke depan. Namun demikian, berbagai
upaya pembangunan dalam rangka mewujudkan kebangkitan ekonomi masih tersendat
karena   beratnya    permasalahan   yang   dihadapi    akibat   krisis   ekonomi   yang
berkepanjangan.Sebagaimana disadari, krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter
tahun 1997 tersebut menampakkan kelemahan fundamental di dalam penyelenggaraan
perekonomian nasional.Kelemahan tersebut mengakibatkan banyak distorsi ekonomi yang
memperburuk ketahanan ekonomi nasional di saat menghadapi krisis, menimbulkan
berbagai bentuk kesenjangan sosial yang rentan terhadap gejolak, serta menghambat
penyebaran pemerataan pembangunan ke berbagai daerah.
    Sebagai akibatnya, upaya pembangunan ekonomi untuk bangkit dari kondisi krisis
menjadi jauh lebih sulit karena dimensi permasalahannya yang cukup kompleks. Selain itu,
dengan keterbatasan sumberdaya yang ada, upaya pembangunan ekonomi masih harus
berbagi dengan kepentingan program-program pembangunan bidang sosial yang secara
tidak langsung juga memiliki keterkaitan seperti program pengentasan kemiskinan dan
berbagai bentuk kesenjangan sosial, berbagai program pemeliharaan infrastruktur yang
jauh tertinggal sejak timbulnya krisis, penataan kelembagaan pemerintahan untuk
penerapan kepemerintahan yang baik (good governance), serta pelaksanaan berbagai
program di bidang pembangunan politik yang dewasa ini sangat dinamis.
    Langkah untuk menciptakan normalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar
kehidupan perekonomian rakyat dapat dipandang sebagai satu arah sekaligus komitmen
untuk menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi sebagaimana diuraikan di atas.
Dalam jangka menengah kali ini (2000 – 2004), langkah tersebut berkenaan dengan tujuan
yang titikberatnya adalah pada upaya: (1) menanggulangi kemiskinan dan berbagai bentuk
kesenjangan sosial serta memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, (2) mengembangkan
basis perekonomian bagi kelompok usaha skala kecil dan menengah, dan (3) menciptakan
serta mempertahankan stabilitas ekonomi dan keuangan. Ketiga hal di atas selanjutnya
menjadi spirit bagi penyelenggaraan berbagai upaya di dalam rangka membangun
sekaligus memperkuat landasan pembangunan ekonomi jangka panjang ke arah
peningkatan kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan, yang lebih berdaya tahan dan
lebih berkeadilan.




                                           13
    Dalam rangka melaksanakan agenda ketiga Propenas, diselenggarakan sejumlah
kebijakan dan program-program pembangunan yang pada prinsipnya menterjemahkan
kebutuhan penyelesaian permasalahan jangka pendek dan jangka menengah-panjang
sebagaimana diuraikan terdahulu.
    Kebijakan dan program-program pembangunan tersebut dikategorikan ke dalam 7
(tujuh) kelompok, yaitu sebagai berikut:
    1. Menanggulangi kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat
    2. Mengembangkan usaha skala mikro, kecil, menengah, dan koperasi
    3. Menciptakan stabilitas ekonomi dan keuangan
    4. Memacu peningkatan daya saing
    5. Meningkatkan investasi
    6. Menyediakan sarana dan prasarana penunjang pembangunan ekonomi
    7. Memanfaatkan kekayaan sumber daya alam secara berkelanjutan
    Keseluruhan jumlah programnya sendiri adalah 39 program. Masing-masing kelompok
program diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan jangka pendek (1-2 tahun), yang
prioritaskan pada program-program percepatan pemulihan ekonomi, mengatasi masalah-
masalah kemiskinan dan pengangguran yang meningkat pesat, serta permasalahan jangka
menengah-panjang yaitu membangun kerangka dasar pembangunan ekonomi yang
berkeadilan, berdaya tahan dan berdaya saing tinggi.
       Dalam menjalankan proses akselerasi secara tepat dibutuhkan momentum agar
terjadi daya dukung dalam pelaksanaan akselerasi tersebut dan di tahun 2010 sebenarnya
merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menjalankan akselerasi
pembangunan ekonomi.Ada 5 faktor yang mendasari pemikiran ini.
    1) Krisis ekonomi global diperkirakan mulai pulih pada 2010. Banyak analis dan
       lembaga     internasional   memproyeksikan      bahwa   ekonomi   dunia   kembali
       berekspansi tahun depan.
    2) Dari sisi kebijakan, pembangunan tahun 2010 adalah pemulihan ekonomi nasional
       dan pemeliharaan kesejahteraan rakyat. Ini berarti prioritas kebijakan ekonomi
       2010 diarahkan untuk pengembangan sektor riil melalui pengucuran stimulus
       ekonomi.
    3) Secara politis pelaksanaan Pemilu 2009 secara aman, damai, dan demokratis telah
       meningkatkan citra positif Indonesia di mata dunia, sehingga, hal ini merupakan
       faktor nonfinansial yang sering dijadikan pertimbangan pemilik modal untuk


                                           14
           berinvestasi. Ini berarti pada 2010 potensi Indonesia menjadi negara tujuan
           investasi terbuka lebar dan pada gilirannya hal ini memberi daya dukung terhadap
           pembangunan ekonomi.
    4) Meskipun tidak 100% orang baru, bisa dibilang energi yang ada dalam susunan
           kabinet yang baru dilantik merupakan energi yang 100% baru dan siap bekerja
           lebih keras lagi dalam periode 5 tahun mendatang. Sehingga dapat menciptakan
           daya akselerasi tinggi dalam penciptaan kebijakan dan memberikan semangat baru
           untuk menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.
    5) Adanya keberlangsungan prioritas pembangunan antara pemerintah sebelumnya
           dan pemerintah 5 tahun mendatang. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi
           pelaksanaan prioritas program pembangunan sekaligus mempercepat upaya
           pencapaian                        pembangunan                          ekonomi.
           Semakin cepat pembangunan ekonomi dilaksanakan tentu berdampak positif
           terhadap upaya pencapaian akselerasi pertumbuhan.



Kebijakan Investasi Bagi Pembangunan Ekonomi

       Salah satu objek kajian dari studi ekonomi pembangunan adalah modal atau kapital
yang merupakan bentuk-bentuk kekayaan yang digunakan langsung atau tidak langsung
dalam produksi untuk menambah output . Sering juga dikatakan, modal atau kapital adalah
barang-barang yang digunakan untuk produksi lebih lanjut.

       Kapital atau modal berperan sebagai alat pendorong pembangunan ekonomi yang
meliputi investasi dalam pengetahuan teknik perbaikan dalam mutu pendidikan, kesehatan,
dan keahlian. Dengan demikian modal atau kapital dalam rangka pembangunan, tidak
hanya berwujud pabrik-pabrik dan perlengkapannya, namun sebenarnya meliputi human
capital.

       Biasanya ahli-ahli ekonomi mengatakan, adanya kemiskinan dan pembangunan
ekonomi yang rendah di negara-negara sedang berkembang disebabkan oleh kekurangan
modal atau kapital sebab mereka memandang modal mempunyai kedudukan terpenting
dalam teori pembangunan ekonomi. Sebagian ahli ekonomi menganggap bahwa modal
tidak saja mempunyai kedudukan terpenting bagi proses pembangunan, melainkan



                                              15
strategis pula, dalam arti proses pembentukan modal adalah saling pengaruh-
mempengaruhi dan kumulatif.

       Masalah pembentukan modal dapat ditinjau dari sudut permintaan maupun dari
sudut penawaran akan modal. Dari sudut permintaan pembentukan modal bertalian dengan
ada tidaknya daya tarik bagi usahawan atau wiraswasta untuk mempergunakan barang-
barang modal dalam proses produksi. Dari sudut penawaran, pembentukan modal
berhubungan dengan kemampuan masyarakat untuk menabung, tabungan kemudian
dipakai untuk investasi dan pembentukan modal. Dalam hubungan dengan pembentukan
modal ini, negara-negara sedang berkembang seolah-olah berada dalam lingkaran yang tak
berujung pangkal, baik dilihat dari segi permintaan maupun penawaran akan modal
(Siagian, 1989).Pada saat ini, negara-negara sedang berkembang mengalami kemiskinan
yang disebabkan oleh rendahnya persediaan modal.

       Keberhasilan tidak akan terlihat tanpa adanya hasil riil berupa pertumbuhan dari
sesuatu yang dibangun oleh pemerintah di bidang ekonomi, begitu juga tanpa pertumbuhan
ekonomi maka pembangunan suatu negara tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Pada kondisi ini, pertumbuhan ditandai dengan masuknya dana kedalam sistem ekonomi
suatu negara. Begitu juga Indonesia yang pernah mengalami masa krisis ekonomi pada
tahun 1998 yang telah menyebabkan rusaknya sistem ekonomi yang ada dan sistem-sistem
lain, seperti politik, hukum dan pemerintahan. Kondisi ini menyebabkan Indonesia
memerlukan dukungan finansial yang besar untuk membangun kembali apa yang sudah
hancur. Dalam maksud lain, Indonesia memerlukan “dana baru” dalam bentuk investasi.
Karena secara perhitungan ekonomi saat itu Indonesia tidak mempunyai saving atau
tabungan untuk meredam gejolak ekonomi saat itu.

       Oleh sebab itu, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan bantuan lembaga
finansial internasional dan mengundang sejumlah investor untuk mulai menanamkan
modalnya di Indonesia.Begitu pentingnya peran dan dukungan dari investasi terhadap
kelanjutan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat disadari betul
oleh pemerintah. Sebab sejumlah proyek infrastruktur membutuhkan dukungan dana yang
besar, bukan hanya infrastruktur ekonomi tetapi juga infrastruktur bidang sosial dan
kehidupan masyarakat.




                                         16
       Peran serta dan dukungan non materiil pun dibutuhkan, di semua level
pemerintahan pusat dan daerah, serta di semua level masyarakat kota dan pedesaan.
Permasalahan yang muncul kemudian adalah perubahan dan perbaikan tidak hanya bisa
digantungkan pada besarnya dana yang masuk tetapi juga kesiapan/kualitas internal. Peran
pemerintah baik pusat maupun daerah sangat penting, ‘nilai jual’ daerah terhadap investor
sangat ditentukan oleh kondisi daerah dan nasional. Kondisi yang dimaksud adalah
kualitas SDM pemerintah, manajemen pelayanan, kualitas masyarakat, fasilitas dan
kemudahan yang diberikan, serta stabilitas politik dan penegakan hukum. Sinkronisasi
arah dan kehendak dari pemerintah pusat dan daerah pun mutlak diperlukan. Daerah
dengan wewenang dan keinginannya pun tidak bisa dikesampingkan begitu saja,
sebaliknya peran pemerintah pusat sebagai koordinasi sentral pun perlu ditegaskan
kembali.

       Berdasarkan hal-hal diatas perlu kiranya untuk menyimak kembali kondisi
kebijakan investasi yang dijalankan oleh pemerintah selama ini, berkaitan dengan tujuan
perbaikan dan perubahan perekonomian Indonesia beserta sejumlah permasalahan yang
mengikutinya.

Mengenai Kebijakan Investasi

       Salah satu ciri umum negara terbelakang adalah kelangkaan modal. Sebab utama
kelangkaan modal adalah kecilnya tabungan atau lebih tepat kurangnya investasi di dalam
sarana produksi yang mampu menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi. Maka bila
dibandingkan dengan Indonesia, keadaan tersebutlah yang terjadi saat ini, hal ini dapat
dilihat dari sejumlah fakta seperti tertundanya keinginan pemerintah untuk membangun
sejumlah infrastruktur akibat kurangnya dana yang dimiliki oleh pemerintah, tingkat
produktivitas dan kemampuan individual masyarakat juga rendah, ketergantungan
masyarakat terhadap bantuan pemerintah, serta kurangnya sarana produksi yang dimiliki
masyarakat dan sektor swasta. Akibatnya adalah derajat ekonomi, kesehatan, serta tingkat
pengganguran yang tinggi. Keadaan tersebut bisa dikurangi jika pemerintah bisa
membangun dan menciptakan sarana produksi tadi.

       Pembangunan dan penciptaan sarana produksi tersebut adalah dengan membangun
infrastruktur yang mendukung program tersebut. permasalahannya adalah dana untuk
merealisasikannya tidak mencukupi. Dalam hal ini sebenarnya sektor swasta dalam negeri

                                           17
mempunyai    peran   yang     strategis   yaitu   dengan   membantu   pemerintah   dalam
mengumpulkan dana tersebut. Namun kondisi sector swastapun tidak mampu untuk
memikul tanggung jawab itu. Sehingga kebutuhan akan penyediaan dana dari luar menjadi
pilihan utama kebijakan pembangunan ekonomi.kebijakan tersebut cukup realities
mengingat pemerintah tidak lagi mempunyai pilihan lain yang mendukung. oleh karena
itu, pemerintah dengan segala daya upaya mencoba untuk menegaskannya dalam sebuah
kebijakan, yang salah satunya dengan mengeluarkan Inpres Nomor 3 tahun 2006 tentang
paket kebijakan perbaikan iklim investasi. selain itu sejumlah pertemuan baik bilateral
maupun multilateral juga sudah dilaksanakan, salah satunya dengan menyelenggarakan
Infrastructure Summit for Indonesia, ditambah dengan serangkaian promosi ke berbagai
negara investor.Berikut ini disajikan Nilai Neto PMA ke Indonesia, sebagai
perbandingannya.

Nilai Neto Arus PMA ke Indonesia, 1990-2004 (juta dollar AS)


Tahun                Nilai
1990                 1.093
1991                 1.482
1992                 1.777
1993                 2.004
1994                 2.109
1995                 4.346
1996                 6.194
1997                 4.667
1998                 -356
1999                 -2.745
2000                 -4.550
2001                 -2.978
2002                 145
2003                 -597
2004                 423




                                             18
(Sumber Tabel: Kadin-Indonesia Jetro, 2006)Catatan: arus masuk PMA termasuk
privatisasi BUMN kepada pihak asing, dan restrukturisasi perbankan, terutama penjualan
asset-aset bank ke investor asing.

Buruknya daya saing Indonesia dalam menarik PMA lebih nyata lagi jika dibandingkan
dengan perkembangan PMA di negara-negara lain. Dalam hal ini, pemerintah sebaiknya
memaksimalkan peran dan posisinya sebagai penentu kemana arah pembangunan ekonomi
diarahkan dengan kewenangan regulatornya dan fasilitasinya. Iklim usaha dan investasi
yang kondusif merupakan faktor terpenting dalam menyelenggarakan kegiatan usaha.
Sebagaimana dikatakan Jhingan, bahwa adalah menjadi tanggung jawab negara untuk
melakukan investasi yang paling menguntungkan masyarakat.

       Pola optimum investasi sebagian besar tergantung pada iklim investasi yang
tersedia di negeri itu dan pada produktivitas marginal social dari berbagai jenis investasi.
sehingga jenis investasi apapun yang masuk harus mengacu kepada perencanaan dan
kebijakan yang sudah dibuat, dan sebisa mungkin diarahkan kepada penciptaan lapangan
pekerjaan dan peningkatan sarana produksi.

Beberapa bulan yang lalu sebelumnya juga pemerintah sudah menetapkan setidaknya ada
tiga pilar perbaikan Investasi adalah:

      Paket kebijakan iklim investasi;
      Penyelesaian beberapa high profile projects untuk memberi effect snow ball;
      Menekan cost of financing

   Ketiga pilar perbaikan tersebut hendaknya dilaksanakan bukan secara parsial namun
bersamaan dan menyeluruh. Oleh karena itu, setiap tindakan dan kebijakan operasional
yang dilakukan pemerintah cukup fokus kepada ketiga hal tersebut. Ada beberapa isu
penting yang menjadi fokus kerja pemerintah berkaitan dengan program investasi yang
direncanakan kedepan, antara lain : kelembagaan, regulasi, bea cukai, pajak, tenaga kerja,
dan UKMK.

    Paket Kebijakan dan Program yang dijalankan pemerintah dapat dilihat pada table di
bawah. Selain Program, pemerintah juga menurunkannya dalam bentuk poin-poin tindakan
yang akan direalisasikan. Dari sekian program tersebut maka ada kurang lebih 85 tindakan


                                             19
yang akan diambil untuk mendorong keberhasilan investasi. Beberapa program tersebut
antara lain revisi terhadap regulasi yang ada, membuat regulasi kembali, evaluasi terhadap
wewenang pemerintah daerah sebagai daerah otonom, koordinasi serta pengawasan dan
pengendalian

Di bawah ini terdapat sebagian paket kebijakan investasi.

Paket Kebijakan Investasi Indonesia


Kebijakan                                  Program
UMUM
   1. Memperkuat             kelembagaan            Mengubah                Undang-Undang
       pelayanan investasi                           Penanaman Modal yang memuat
                                                     prinsip-prinsip dasar, yaitu perluasan
                                                     definisi       modal,      transparansi,
                                                     perlakuan sama investor domestik
                                                     dan asing
                                                    Mengubah peraturan yang terkait
                                                     dengan penanaman modal
                                                    Revitalisasi       Tim        Nasional
                                                     Peningkatan Ekspor dan Peningkatan
                                                     Investasi
                                                    Percepatan perizinan kegiatan usaha
                                                     dan     penanaman        modal     serta
                                                     pembentukan perusahaan


   1. Sinkronisasi Peraturan Pusat dan Peninjauan perda-perda yang menghambat
       Peraturan Daerah (Perda)            investasi


KEPABEANAN DAN CUKAI
      Percepatan Arus Barang              Percepatan proses pemeriksaan kepabeanan


      Pengembangan Peranan Kawasan Perluasan              fungsi    Tempat     Penimbunan
       Berikat                             Berikat (TPB) dan perubahan beberapa



                                            20
                                            konsep tentang Kawasan Berikat agar
                                            menarik bagi investor untuk melakukan
                                            investasi.




PERPAJAKAN
      Insentif perpajakan untuk investasi Pemberian         fasilitas   pajak   penghasilan
                                            kepada bidang-bidang usaha tertentu.
      Perubahan         PPN           untuk 1. Menghapus penalti PPN
       mempromosikan ekspor                 2. Meningkatkan daya saing ekspor jasa

KETENAGAKERJAAN
   1. Menciptakan       iklim      hubungan Mengubah UU no.13 tahun 2003 tentang
       industrial    yang         mendukung ketenagakerjaan
       perluasan lapangan kerja.


   1. Penciptaan    pasar   tenaga     kerja Pengembangan bursa kerja dan informasi
       fleksibel dan produktif.             pasar kerja


USAHA KECIL MENENGAH DAN KOPERASI
Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah a)                  Penyempurnaan peraturan yang terkait
dan Koperasi/UKMK                           dengan perijinan bagi UKMK.
                                            b)         Peningkatan akses UKMK kepada
                                            sumber daya financial dan sumber daya
                                            produktif lainnya.


Sumber: Instruksi Presiden RI nomor 3 tahun 2006

       Keluarnya paket kebijakan investasi tersebut diharapkan mampu mendongkrak
kinerja investasi di Indonesia. Sebab, pemerintah menyadari bahwa investasi dapat
diharapkan memberikan nilai bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

   Dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2007, paket kebijakan investasi juga menjadi
salah satu substansi penting. Kebijakan tersebut dituangkan dalam PerPres 19 tahun 2006.


                                                 21
   Langkah-langkah yang akan direncanakan pemerintah dalam kaitannya dengan
kebijakan investasi adalah:

   1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan penanaman
       modal.
   2. Penyederhanaan prosedur dan peningkatan pelayanan modal baik di tingkat pusat
       maupun daerah.
   3. Peningkatan promosi investasi terintegrasi baik di dalam maupun di luar negeri.
   4. Peningkatan fasilitas terwujudnya kerjasama investasi PMA dan PMDN dengan
       UKM.
   5. Penanganan pelanggaran UU no.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
       dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
   6. Memprakarsai dan mengkoordinasikan pembangunan kawasan industri.

   Muculnya sebuah kebijakan memang pada dasarnya untuk menanggulangi dan
melancarkan setiap tindakan pemerintah kedepan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah
kebijakan tersebut hendaknya merupakan bagian dari perencanaan menyeluruh, artinya
sebelum kebijakan itu benar-benar dilaksanakan pemerintah sudah mempunyai ‘planning
map’yang memandu secara manajerial. Pembangunan ekonomi sudah pasti bersifat
menyeluruh walaupun pelaksanaannya dilaksanakan secara leluasa dan bertahap. leluasa
berarti pemerintah perlu memberikan sedikit kebebasan kepada daerah dalam merumuskan
hal-hal yang paling prioritas dalam membangun daerah dan dilaksanakan secara bertahap
dan berkesinambungan. Paket kebijakan tersebut merupakan bagian kecil dari sejumlah
peranan pemerintah dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

   Oleh karena itu, good will pemerintah dalam segala bidang sangat diperlukan sebab
pembangunan sifatnya menyeluruh meskipun dijalankan secara bertahap. beberapa hal
tersebut adalah perubahan terhadap kerangka kelembagaan, perubahan organisasi,
pembangunan overhead social dan ekonomi (infrastruktur social dan ekonomi),
pembangunan pertanian untuk menunjang kesediaan pangan dalam negeri, memacu
perkembangan industri, kebijaksanaan moneter dan fiscal, dan peningkatan perdagangan
luar negeri.

Rendahnya penawaran modal di Indonesia dan cara mengatasinya



                                           22
       Lambatnya proses pembangunan di Indonesia disebabkan oleh sedikitnya modal
yang tersedia. Kurangnya modal disebabkan oleh kemampuan menabung yang rendah,
kemampuan menabung yang rendah disebabkan oleh pendapatan yang rendah. Pendapatan
yang rendah merupakan akibat dari produktivitas yang rendah, sedangkan produktivitas
yang rendah merupakan akibat dari kekurangan modal dan hal ini disebabkan oleh
kemampuan menabung yang rendah dan demikian seterusnya, sehingga lingkaran setan
yang tidak berujung pangkal yang dialami menjadi lengkap (Siagian, 1989).

       Tabungan yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan dan kesediaan
menahan nafsu konsumsi selama beberapa waktu, agar dikemudian hari terbuka
kemungkinan untuk konsumsi yang lebih baik. Tabungan di dalam pembangunan ekonomi
memiliki peranan penting dan strategis karena dapat menaikkan produktivitas dan proses
pembentukan kemampuan.

       Kenyataan di Indonesia, jumlah tabungan yang ada dan diinvestasikan sangat
rendah, seringkali jumlah tabungan hanya cukup untuk mengimbangi pertambahan
penduduk yang sedang berjalan. Demi mempercepat pembangunan penting sekali untuk
memperbesar tabungan, baik atas kerelaan masyarakat maupun melalui kebijakan fiskal.
Kebijakan fiskal agar dapat mencapai tujuannya, harus disertai dengan kebijakan dividen
dalam arti perlunya pengawasan negara atas pemakaian devisa yang dihasilkan dari
perdagangan luar negeri.

       Berhubung pembangunan ekonomi secara sadar, dimana investasi-investasi yang
dijalankan diarahkan untuk menambah produksi dan produktivitas dalam masyarakat, di
pihak lain devisa adalah bagian yang penting dari unsur-unsur produksi suatu negara. Oleh
karena itu, pengawasan penggunaan devisa merupakan salah satu kebijakan Negara yang
sangat penting. Pengawasan devisa ditujukan agar pemakaian devisa dilakukan dengan
baik, dengan demikian dapat dilaksanakanlah suatu alokasi unsur produksi yang lebih baik.

       Kebijakan fiskal dan pengawasan devisa harus disertai dengan kebijakan yang
mengatur unsur-unsur produksi yang ada dalam masyarakat digunakan secara efektif. Agar
tujuan dapat tercapai perlu disusun suatu rencana pembangunan yang rapi dan teratur.
Rencana tersebut harus memperlihatkan tujuan-tujuan pembangunan, lapangan-lapangan
investasi, kebijaksanaan negara di bidang keuangan dan besarnya jumlah investasi.
Kemudian diperlukan juga rencana pembangunan yang bertul-betul bersifat rasional-

                                           23
nasional, dalam arti memperhatikan kaitan antar masing-masing sektor, memperhatikan
kemampuan pembiayaan sehingga dapat ditentukan skala prioritas, dengan demikian
pemborosan dapat dihindari.

Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia

       Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara dengan luas
wilayah hampir 2 juta km2 dan berpenduduk lebih 206 juta jiwa pada tahun 2000,
memiliki potensi sumberdaya alam baik di laut (marine natural resources) dan di darat
(land natural resources) yang sangat besar. Di laut, Indonesia memiliki ± 18.110 pulau
dengan garis pantai sepanjang 108.000 km.Berdasarkan Konvensi Hukum Laut
(UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2
yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta
km2.

        Selain itu ,Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber
daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km2 pada perairan ZEE (sampai
dengan 200 mil dari garis pangkal). Di darat, memiliki lahan kehutanan 113 juta ha, lahan
sawah produktif 9,9 juta ha, lahan perkebunan produktif 15,5 juta, 60 cekungan prospektif
sumber mineral dan migas.

       Kenyataan bahwa sumberdaya yang berlimpah tersebut tidak merata beradadi
seluruh daerah. Hal yang sama terjadi dengan sebaran sumberdaya manusia yang
merupakan “aktor” pembangunan tersebar juga tidak merata. Implikasi dari ketidak-
merataan keberadaan kedua sumberdaya tersebut adalah belum baiknya tingkat pelayanan
infrastruktur wilayah melayani kebutuhan wilayah dan masyarakat, terutama daerah-
daerah terisolir dan tertinggal.

       Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya yang berlimpah tetapi tidak
merata tersebut bagi pengembangan wilayah nasional secara berkelanjutan dan menjamin
kesejahteraan umum secara luas (public interest), diperlukan intervensi kebijakan dan
penanganan khusus oleh Pemerintah untuk pengelolaan wilayah yang tertinggal. Hal ini
seiring dengan agenda Kabinet

       Gotong Royong untuk menormalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar
bagi kehidupan perekonomian rakyat melalui upaya pembangunan yang didasarkan atas

                                            24
sumber daya setempat (resource-based development), dimana baik sumberdaya lautan dan
daratan saat ini didorong pemanfaatannya, sebagai salah satu andalan bagi pemulihan
perekonomian nasional.

       Secara sederhana, pembangunan ekonomi dapat dipahami sebagai upaya
melakukan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya yang ditandai oleh 3membaiknya
faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut adalah kesempatan kerja, investasi,
dan teknologi yang dipergunakan dalam proses produksi. Lebih lanjut, wujud dari
membaiknya ekonomi suatu wilayah diperlihatkan dengan membaiknya tingkat konsumsi
masyarakat, investasi swasta, investasi publik, ekspor dan impor yang dihasilkan oleh
suatu negara. Secara mudah, perekonomian wilayah yang meningkat dapat diindikasikan
dengan meningkatnya pergerakan barang dan masyarakat antar wilayah.

       Dalam konteks tersebut, pembangunan ekonomi merupakan pembangunan yang a-
spasial, yang berarti bahwa pembangunan ekonomi memandang wilayah nasional tersebut
sebagai satu “entity”. Meningkatnya kinerja ekonomi nasional sering diterjemahkan
dengan meningkatnya kinerja ekonomi seluruh wilayah/daerah. Hal ini memberikan
pengertian yang “bias”, karena hanya beberapa wilayah/daerah yang dapat berkembang
seperti nasional dan banyak daerah yang tidak dapat berlaku seperti wilayah nasional.

        Wilayah Indonesia terdirid ari 33 propinsi dengan 400an kabupaten/kota yang
secara sosial ekonomi dan budaya sangat beragam. Keberagaman ini memberikan
perbedaan dalam karakteristik faktor-faktor produksi yang dimiliki. Seringkali kebijakan
nasional pembangunan ekonomi yang disepakati sulit mencapai tujuan dan sasaran yang
diharapkan pada semua daerah-daerah yang memiliki karakteristik sangat berbeda. Contoh,
kebijakan nasional untuk industrialisasi, di daerah yang berkarateristik wilayah kepulauan
dan laut diantisipasi dengan pembangunan industri perikanan, sedangkan daerah yang
berkarakteristik darat dikembangkan melalui pembangunan kawasan industri, serta daerah
yang tertinggal merencanakan pembangunan industri tetapi sulit merealisasikannya akibat
rendahnya SDM, SDA, dan infrastruktur yang dibutuhkan oleh pengembangan Industri.
Pendekatan ini dikenal dengan pembangunan ekonomi wilayah.

       Pembangunan ekonomi wilayah memberikan perhatian yang luas terhadap
keunikan karakteristik wilayah (ruang). Pemahaman terhadap sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur dan kondisi kegiatan usaha dari

                                            25
masing-masing daerah di Indonesia serta interaksi antar daerah (termasuk diantara faktor-
faktor produksi yang dimiliki) merupakan acuan dasar bagi perumusan upaya
pembangunan ekonomi nasional ke depan. 7. UU 24/1992 tentang Penataan Ruang
menyebutkan bahwa ruang dipahami sebagai suatu wadah yang meliputi ruang daratan,
ruang lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk
hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
Dalam     konteks    ini,   sumberdaya    alam,    sumberdaya     manusia,    sumberdaya
buatan/infrastruktur wilayah dan kegiatan usaha merupakan unsur pembentuk ruang
wilayah dan sekaligus unsur bagi pembangunan ekonomi nasional yang lebih merata dan
adil.

        Penataan ruang tidak terbatas pada proses perencanaan tata ruang saja, namun lebih
dari itu termasuk proses pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

• proses perencanaan tata ruang wilayah, yang menghasilkan rencana tata ruang wilayah.
Disamping sebagai “guidance of future actions” rencana tata ruang wilayah pada dasarnya
merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar interaksi manusia/makhluk hidup
dengan lingkungannya dapat berjalan serasi, selaras, seimbang untuk tercapainya
kesejahteraan manusia/makhluk hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan
pembangunan (development sustainability)

• proses pemanfaatan ruang, yang merupakan wujud operasionaliasirencana tata ruang
atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri, dan

• proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme pengawasan
dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tujuan penataan ruang wilayahnya.

        Selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan, penataan
ruang sekaligus juga merupakan instrumen yang memiliki landasan hukum untuk
mewujudkan tujuan pengembangan wilayah.

Penguatan Ekonomi Rakyat: Dasar Pembangunan Daerah

        Perekonomian nasional berdasar dan berorientasi kerakyatan merupakan turunan
dari paham kebangsaan dan kerakyatan itu sendiri. Bangsa Indonesia menghendaki sektor

                                            26
ekonomi rakyat menjadi soko guru ekonomi nasional. Secara jelas, pasal 33 UUD ’45
menerangkan secara prinsip tentang bangunan perekonomian nasional yang disusun oleh
kekuatan ekonomi rakyat, untuk menyusun usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.

       Ekonomi kerakyatan merupakan kegiatan ekonomi yang menghidupi kita. Setiap
hari yang kita hidangkan di meja makan adalah bahan-bahan hasil produksi rakyat. Dari
beras sampai garam, dari sayur-mayur sampai bumbu, merupakan produksi perekonomian
rakyat, bukan produksi ekonomi konglomerat. Jadi perekonomian rakyat menghidupi dan
menjadi pendukung kehidupan bangsa selama ini, dan pasti untuk masa mendatang.

       Dalam perjuangan fisik melawan penjajah penjajah, rakyat pulalah yang memberi
makan pejuang kita. Perekonomian rakyatlah yang menghidupi perjuangan kemerdekaan
semua itu. Perekonomian rakyatlah yang membuat bangsa kita itu mampu bertahan sampai
Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan. Rakyat kita mengenal budaya tolong-
menolong dan gotong-royong yang merupakan bagian inti dari sistem “social safety net”
Indonesia yang tulen. Tatkala buruh-buruh sektor besar dan modern terkena PHK, mereka
terlempar, mereka sebagian besar “diterima” dan “dihidupi” oleh ekonomi rakyat.
Ekonomi rakyat telah menjadi “penjaga gawang” dalam perekonomian nasional.

       Alangkah tepat jika ekonomi rakyat dijadikan dasar melepaskan diri dari
penumpukan aset ekonomi dipusat kekuasaan dan ketergantungan yang berlebih-lebihan
dari bangsa asing. Membangun ekonomi rakyat dalam bentuk kegiatan koperasi
merupakan benteng dalam memperkuat organisasi-organisasi ekonomi di tingkat akar
rumput. Karena itu tantangan ke depam adalah bagaimana agar ekonomi rakyat dan
koperasi bisa menjadi solusi. Caranya adalah memperkuat manajemen koperasi, mentalitas
pengurus dan anggota, penerapan teknologi, meningkatkan aksesibiltas permodalan dan
jaringan, serta memperkuat sumber daya manusia.

       Karena koperasi merupakan organisasi ekonomi ke depan, maka koperasi harus
mampu mengantisipasi gelombang dan dinamika perubahan. Dewasa ini bangsa Indonesia
sedang berhadapan dengan globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Dengan dimasukinya
era liberalisasi dan perdagangan bebas yang ditandai dengan diratifikasinya WTO, AFTA,
dan NAFTA, jelas akan mempersulit posisi Indonesia dan negara-negara berkembang yang
lain. Dan tentunya bisa jadi akan mempersulit produk koperasi dan ekonomi rakyat di

                                         27
tingkat global dalam bersaing. Misalnya dalam perdagangan komoditi-komoditi pertanian
yang dihasilkan oleh koperasi dan ekonomi rakyat.

       Dalam kaitan ini perlu dititikberatkan di sini betapa kepentingan ekonomi nasional
harus menjadi faktor pertimbangan utama. Seandainya terjadi bahwa harga-harga komoditi
pertanian dari luar negeri lebih murah dari komoditi pertanian yang sejenis di Indonesia,
haruslah tidak bermakna bahwa kita mengorbankan untuk tidak membeli komoditi
pertanian ini di dalam negeri dan sebagai gantinya mengimpornya dari luar negeri seperti
yang termaktub dalam persetujuan WTO yang sudah diratifikasi oleh DPR.

       Secara sosial hal tersebut sangat tidak tepat dan tidak dapat kita terima. Apa sebab?
Sebabnya ialah walaupun secara komersial hal ini dianggap efisien tetapi keputusan ini
akan mengorbankan rakyat banyak terutama jutaan petani yang memproduksi komoditi
pertanian ini secara kecil-kecilan.

       Oleh karena ini diproduksi secara kecil-kecilan, maka apa yang disebut skala
ekonomi dengan produktivitas yang menaik tidak tercapai dalam proses produksi sehingga
biaya per satuan relatif menjadi lebih mahal dari komoditi pertanian yang diimpor dan
telah diproduksi secara besar-besaran sehingga telah mencapai bahkan melampaui skala
ekonomi dengan produktivitas yang terus menaik. Apalagi ketentuan persetujuan WTO
menetapkan pengurangan subsidi untuk petani. Sedangkan kita ketahui, komoditi-komoditi
pertanian di negara-negara maju di Barat secara tidak langsung masih disubsidi melalui
kredit murah, bia ya asuransi yang murah dan biaya pengapalan yang murah sehingga
elemen-elemen ini relatif menambah murahnya harga komoditi-komoditi pertanian
sewaktu memasuki pasaran domestik dalam negara-negara sedang berkembang.

       Jepang adalah salah satu negara maju yang sudah meratifikasi persetujuan WTO.
Namun Jepang bukanlah bangsa yang tolol. Jepang mencari celah-celah sehingga bangsa
Jepang tidak dirugikan. Contohnya, beras yang dihasilkan oleh petani-petani Jepang tidak
dipasarkan di dalam negeri dengan bersaing dengan beras impor yang jauh lebih murah.

        Demikian juga terjadi untuk produk-produk teknologi tinggi buatan Jepang. Dalam
kasus jasa-jasa golongan profesional (dokter, pengacara, ahli-ahli teknik, dan lain-lain),
Jepang menerapkan kemahiran dalam bahasa Jepang (lisan dan tulisan) sebagai syarat
mutlak masuknya golongan profesional ini. Ini semua mengakibatkan timbulnya suatu


                                            28
pernyataan dari seorang ekonom Amerika Serikat yang mengemukakan; “Kita bukan
bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang tetapi menghadapi keseluruhan sistem
budaya Jepang”. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa nasionalisme ekonomi mutlak
diperlukan suatu bangsa. Seperti juga diperlukan nasionalisme ekonomi untuk mengisi
kemerdekaan politik dan harga diri suatu bangsa.

       Mengimpor komoditi pertanian dari luar negeri walaupun lebih murah
dibandingkan dengan membeli komoditi pertanian yang sejenis dan diproduksi oleh jutaan
petani kecil kita di dalam negeri walaupun lebih mahal menimbulkan dampak sosial yang
berbeda. Bedanya adalah mengimpor dari luar negeri menimbulkan efek berantai di luar
negeri yaitu apa yang disebut dalam konsep ekonomi “multiplier effect” (efek pengganda).
Sedangkan jika membeli dari bangsa sendiri walaupun lebih mahal, menimbulkan efek
berantai di dalam negeri. Di sinilah bedanya efisiensi komersial dengan efesiensi sosial.
Ukuran efisiensi dalam perkembangan ekonomi dan sosial haruslah menggunakan konteks
sosial ini agar konsisten dengan pengembangan ekonomi kerakyatan. Tentu saja dalam
jangka panjang efisiensi sosial ini diusahakan akan mendekati efisiensi komersial.

Nasionalisasi Ekonomi Sebagai Dasar Pembangunan Daerah

       Tindakan dan sikap-sikap kita berkaitan dengan efisiensi komersial pada akhirnya
menuai malapetaka. Adalah tidak dapat diterima adanya suatu kenyataan yang
menunjukkan hak cipta mengenai barang-barang konsumsi rakyat Indonesia yang sejak
dulu kala sudah dikonsumsi rakyat kita, sekarang berada di tangan pihak asing. Misalnya,
hak cipta tempe yang sekarang dipatenkan di Amerika Serikat, hak cipta kecap dan tahu
yang dipatenkan di Jepang, hak cipta ragam batik yang dipatenkan di Jerman dan Inggris,
hak cipta batik Jambi yang dipatenkan di Jepang, hak paten keranjang rotan yang sekarang
dipatenkan di Singapura. Biaya barang-barang konsumsi ini tentu akan memperbesar nilai
impor sehingga akan dililit oleh perkiraan berjalan dalam neraca pembayaran yang terus
menerus bertambah besar.

       Pelaksanaan ketentuan-ketentuan WTO akan menjerumuskan negara-negara
berkembang yang lemah (lemah dalam pengertian adanya beban utang luar negeri yang
sangat memberatkan, adanya defisit dalam neraca pembayaran yang bersifat kronis,
adanya masalah-masalah kepincangan struktual yang secara fundamental belum dikoreksi)
kedalam situasi ketergantungan yang lebih intensif kepada kekuatan ekonomi pihak asing.

                                            29
Ketergantungan ini dimanifestasikan dalam bentuk ketergantungan dibidang keuangan,
ketergantungan dibidang perdagangan, dan ketergantungan dibidang teknologi. Khusus
mengenai Indonesia, ketergantungan yang diantisipasikan oleh Dos Santos (1970) akan
diderita Indonesia dan rakyatnya secara lebih parah.

Ini dapat diperinci sebagai berikut:

a) Pihak asing akan menentukan formulasi kebijaksanaan ekonomi dan sosial Indonesia
termasuk struktur kekuasaan.

b) Penguasaan devisa akan kembali berada di tangan pihak asing dengan intensitas yang
lebih tinggi.

c) Pengusaan unit-unit ekonomi dan aset dalam Republik Indonesia oleh pihak asing akan
bertambah intensif.

Ini dapat ditunjukkan dalam diagram dialektik hubungan ekonomi Indonesia:




        Dalam diagram tadi dapat dilihat bagaimana unit-unit ekonomi rakyat (usaha-
koperasi dan ekonomi rakyat) yang sebagian besar rakyat Indonesia mencari nafkah
menjadi korban hisapan dari pihak-pihak yang mengeksploitasi mereka. Unit-unit ekonomi



                                            30
rakyat dihisap surplus ekonomi mereka dan mereka berada dalam kerangkeng pihak-pihak
yang mengeksploitasi mereka.

       Dalam diagram ini dilihat surplus ekonomi mengalir secara vertical ke oknum
birokrat, pemodal besar dan kelompok perantara, dan selanjutnya secara horisontal ke
pemasok utang luar negeri dan investor asing. Ekonomi nasional dan asset bangsa
khususnya sumber daya alam kemudian diambil alih oleh pihak asing.

       Dalam proses ini terjadi re-kolonisasi seperti yang kita saksikan kini dalam bidang
perbankan, telekomunikasi, pertambangan dan pasar bisnis eceran. Ideologi kebangsaan
dalam ekonomi digeser oleh paham liberal-kapitalistis.

Membangun Paradigma Baru Ekonomi Nasional: Teknologi Informasi dan
Komunikasi Sebagai Dasar

       Suatu paradigma baru nampaknya sedang dalam proses pematangan. Sektor jasa,
terutama telekomunikasi, transportasi, bank, asuransi dan perangkat lunak melandasi
perubahan. Mereka menjadi sektor unggulan pertumbuhan surplus ekonomi.

       Namun berbeda dengan peran sektor pertanian dalam paradigma lama yang disedot
untuk keuntungan sektor lain, sektor jasa dalam paradigma baru ini menjadi prasarana,
yang perkembangannya merupakan prasyarat bagi perkembangan yang lain.

       Paradigma baru itu, pada dasarnya menggaris-bawahi arti penting perdagangan
internasional sebagai penghela pembangunan. Perdagangan secara teoritis (Ricardo,
Hecksher-Ohlin, Paul Krugman) dipercaya akan memperluas produksi semua pihak.
Perdagangan adalah win-win solution dalam hubungan internasional. Dengan paradigma
ini orientasi kebijakan ekonomi berbalik menjadi “outward looking”. Sistem proteksi
dilepaskan, monopoli dihapuskan, sehingga rakyat bisa menikmati harga semurah bisa
ditawarkan pasar. Di lain pihak ekonomi rakyat bisa pula tergusur dalam persaingan tidak
imbang dengan modal besar.

       Paradigma baru pembangunan ekonomi nasional ini melahirkan tantangan yang
luar biasa terutama terhadap koperasi dan usaha ekonomi rakyat. Para petani misalnya
harus memiliki kemampuan menaksir melalui jaringan informasi perubahan permintaan
dan harus cukup terkoordinasi untuk bisa mengatur produksi. Tanpa kemampuan itu, para

                                           31
petani kita bisa menjadi korban sia-sia. Salah satu upaya penting adalah mendayagunakan
jaringan pasar on-line untuk mengembangkan pasar terbuka yang berskala dan bisa diakses
petani, produsen industri kecil dan pedagang secara kolektif

       Tujuan pasar lelang online (ipasar) adalah menciptakan pasar yang lebih efisien
dan lebih cair bagi komoditas Indonesia, berperan sebagai “agregator” yang
mengumpulkan bermacam-macam komoditas yang berasal dari banyak produsen
kemudian membuatnya tersedia dengan standarisasi mutu. Ipasar menghubung-hubungkan
stok yang tersebar di ribuan gudang dengan menggunakan sarana: “iPasar – Electronic
Trading System” atau sistim resi gudang (eResi) dan perdagangan (eLelang) secara
elektronik sehingga mudah ditemukan dan diperdagangkan di satu tempat oleh pelanggan
dalam maupun luar negeri.

        Hal ini menyederhanakan rantai intermediasi distribusi dan perdagangan di seluruh
Indonesia, dengan perdagangan yang teratur, wajar, efisien dan efektif akan terbentuk
harga yang transparan guna menjadi acuan referensi harga komoditas nasional. Dengan
demikian, pasar lelang online dapat mendorong dan menfasilitasi sekuritisasi komoditas,
sehingga mempermudah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memperoleh pembiayaan
pasca panen dari perbankan ataupun dari institusi keuangan lainnya guna meningkatkan
permodalannya.




                                            32
33
Keterangan:




(1) + (2) Penjual dan Pembeli, Anggota Lelang dan Penjaminan yang bertindak baik untuk
kepentingan sendiri maupun bertindak sebagai Perantara Perdagangan untuk kepentingan
pihak ketiga (nasabah)/ prinsipalnya di dalam dan luar negeri dengan memperoleh imbalan
jasa.

(3) Komoditi diperdagangkan dengan suatu standar dan peringkat mutu tertentu.

(4) Quality Surveyor adalah Independent Surveyor/ Lembaga Penilai Kesesuaian yang
memeriksa dan menilai kualitas, kuantitas dan kemasan komoditi.

(5) Gudang serah terima komoditas di kelola oleh Independent Warehouse Manager
(Pengelola Gudang)

(6)     Bukti Penyimpanan Barang diterbitkan oleh Pengelola Gudang sebagai bukti
penyimpanan suatu underlying asset (komoditas) di suatu gudang.

(6a) Notifikasi para pihak adalah konfirmasi penetapan hak dan kewajiban penyelesaian
transaksi terhadap Transaksi Lelang yang terjadi ditentukan oleh Lembaga Kliring dan
Penjaminan melalui proses Netting pada setiap Hari Lelang.

(6b) Transfer antar pihak adalah pemindah bukuan untuk penyelesaian transaksi antar
pihak yang melakukan penjualan dan pembelian suatu komoditi pada Rekening Komoditi
para pihak di Lembaga Kliring dan Penjaminan

(7) Lembaga Kliring dan Penjaminan adalah PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero),
mengkliringkan dan menjamin penyelesaian transaksi IPASAR.

(8) Pembiayaan oleh Bank, Institusi Keuangan lainnya atau Perantara Perdagangan s/d
maks. 70% x nilai komoditas dengan Bukti Penyimpanan Barang sebagai jaminan
(collateral)




                                          34
Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia di Masa yang Akan
Datang


    Sesuai dengan pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
disusun sebagai penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang
tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dalam bentuk visi, misi, dan
arah pembangunan nasional.

    Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005 – 2025 merupakan kelanjutan dan
pembaharuan dari tahap pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan
sebagaimana yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang diarahkan untuk mempercepat pencapaian tujuan
pembangunan tersebut.

    Dalam 20 tahun mendatang, bangsa Indonesia akan melakukan penataan kembali
kelembagaan dan sekaligus membangun Indonesia bagi kemajuan bangsa untuk mengejar
ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.

         Gambaran yang lebih jelas tentang arah yang dituju dalam pembangunan Indonesia
dapat dibaca dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.
Dalam RPJPN tersebut telah ditetapkan bahwa visi pembangunan adalah “Indonesia yang
mandiri, maju, adil dan makmur”. “Mandiri” artinya mampu mewujudkan kehidupan
sejajar dan sederajat dengan bangsa lain dengan mengandalkan pada kemampuan dan
kekuatan sendiri. “Maju” dapat diukur dari kualitas SDM, tingkat kemakmuran,
kemantapan sistem dan kelembagaan politik dan hukum. Sedangkan “Adil” dicerminkan
oleh tidak adanya diskrimasi dalam bentuk apapun, baik antar individu, gender, maupun
wilayah. Sementara “Makmur” dapat diukur dari tingkat pemenuhan seluruh kebutuhan
hidup.
Dalam RPJPN 2005 – 2025 juga telah ditetapkan misi pembangunan sebagai berikut
:

    1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan
         beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

                                             35
    2. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
    3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum.
    4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu.
    5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan.
    6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.
    7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan
       berbasiskan kepentingan nasional.
    8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.

Untuk mencapai misi tersebut, telah ditetapkan pula 4 tahapan pembangunannya, yaitu
:

    1. Dalam RPJMN 1 (2005 – 2009) dilakukan penataan kembali NKRI, membangun
       Indonesia yang aman dan damai, yang adil dan demokratis, dengan tingkat
       kesejahteraan yang lebih baik.
    2. RPJMN 2 (2010 – 2014) ditujukan untuk memantapkan penataan kembali NKRI,
       meningkatkan kualitas SDM, membangun kemampuan iptek, dan memperkuat
       daya saing perekonomian.
    3. Sedangkan target dalam RPJMN 3 (2015 – 2019) adalah memantapkan
       pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan
       kompetitif perekonomian yang berbasis SDA yang tersedia, SDM yang berkualitas,
       serta kemampuan iptek.
    4. Pada tahapan terakhir, RPJMN 4 (2020 – 2024) diharapkan terwujudnya
       masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan
       pembangunan di segala bidang dengan struktur perekonomian yang kokoh
       belandaskan keunggulan kompetitif.

Dalam RPJPN 2005 – 2025 juga telah ditetapkan arah pembangunan jangka
panjang:

       Indonesia yang maju dan mandiri menuntut kemampuan ekonomi untuk
tumbuh yang cukup tinggi, berkelanjutan, mampu meningkatkan pemerataan dan
kesejahteraan masyarakat secara luas, serta berdaya saing tinggi didukung oleh




                                            36
penguasaan   dan   penerapan    ilmu     pengetahuan   dan   teknologi   di   dalam
mengembangkan sumber-sumber daya pembangunan.

Pembangunan ekonomi dalam 20 tahun mendatang diarahkan pada pencapaian
sasaran-sasaran pokok sebagai berikut.

   o Terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh dimana pertanian (dalam
      arti luas) dan pertambangan menjadi basis aktivitas ekonomi yang
      menghasilkan produk-produk secara efisien dan modern, industri manufaktur
      yang berdaya saing global menjadi motor penggerak perekonomian, dan jasa
      menjadi perekat ketahanan ekonomi.
   o Pendapatan perkapita pada tahun 2025 mencapai sekitar US$ 6000 dengan
      tingkat pemerataan yang relatif baik dan jumlah penduduk miskin tidak lebih
      dari 5 persen.
   o Kemandirian pangan dapat dipertahankan pada tingkat aman dan dalam
      kualitas gizi yang memadai serta tersedianya instrumen jaminan pangan
      untuk tingkat rumah tangga.



1. Perekonomian dikembangkan berlandaskan prinsip demokrasi ekonomi dan
   persaingan sehat dengan memperhatikan nilai-nilai keadilan serta kepentingan
   nasional sehingga terjamin kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh
   masyarakat. Pengelolaan kebijakan perekonomian perlu memperhatikan secara
   cermat dinamika globalisasi, komitmen nasional di berbagai fora perjanjian
   ekonomi internasional, dan kepentingan strategis nasional di dalam menjaga
   kemandirian dan kedaulatan ekonomi bangsa.



2. Perekonomian dikembangkan berorientasi dan berdaya saing global melalui
   transformasi bertahap dari perekonomian berbasis keunggulan komparatif
   sumberdaya alam melimpah menjadi perekonomian yang berkeunggulan
   kompetitif dengan prinsip-prinsip dasar: mengelola secara berkelanjutan
   peningkatan produktivitas nasional melalui penguasaan, penyebaran, penerapan,

                                         37
   dan penciptaan (inovasi) ilmu pengetahuan dan teknologi; mengelola secara
   berkelanjutan kelembagaan ekonomi yang melaksanakan praktik terbaik dan
   kepemerintahan yang baik, dan mengelola secara berkelanjutan sumberdaya
   alam sesuai kompetensi dan keunggulan daerah.



3. Struktur perekonomian diperkuat dengan mendudukkan sektor industri sebagai
   motor penggerak yang didukung oleh kegiatan pertanian dalam arti luas dan
   pertambangan yang menghasilkan produk-produk secara efisien, modern, dan
   berkelanjutan serta jasa-jasa pelayanan yang efektif, yang menerapkan praktik
   terbaik dan ketatakelolaan yang baik, agar terwujud ketahanan ekonomi yang
   tangguh.



4. Peningkatan efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah kegiatan primer terutama
   sektor pertanian dalam arti luas dan pertambangan didorong agar mampu
   bersaing di pasar lokal dan internasional serta untuk memperkuat basis produksi
   secara nasional. Kepentingan ini merupakan faktor strategis karena berkenaan
   dengan pembangunan perdesaan, pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan,
   dan ketahanan pangan. Penyelenggaraannya yang terencana secara cermat akan
   menjamin terwujudnya transformasi seluruh elemen perekonomian nasional ke
   arah lebih maju dan lebih kokoh di era globalisasi.



5. Daya-saing global perekonomian ditingkatkan dengan mengembangkan pola
   jaringan rumpun industri (industrial cluster) sebagai fondasinya, berdasarkan 3
   (tiga) prinsip dasar:
   o Pengembangan rantai nilai tambah dan inovasi yang utamanya adalah pilihan
      terhadap arah pola pengembangan yang ditetapkan pada suatu periode
      tertentu;
   o Penguatan (perluasan dan pendalaman) struktur rumpun industri dengan
      membangun keterkaitan antarindustri dan antara industri dengan setiap


                                         38
     aktivitas ekonomi terkait (sektor primer dan tersier, UKM maupun
     perusahaan penanaman modal asing);
  o Pembangunan fondasi ekonomi mikro (lokal) agar terwujud lingkungan
     usaha yang kondusif melalui penyediaan berbagai infrastruktur peningkatan
     kapasitas kolektif (teknologi, mutu, peningkatan kemampuan tenaga kerja
     dan infrastruktur fisik) serta penguatan kelembagaan ekonomi yang dapat
     menjamin bahwa peningkatan interaksi, produktivitas, dan inovasi yang
     terjadi, melalui persaingan sehat, dapat secara nyata meningkatkan daya
     saing perekonomian secara berkelanjutan.



6. Dengan keunggulan komparatif sebagai negara berpenduduk besar dengan
  wawasan, kemampuan, dan daya kreasi yang tinggi, serta memiliki bentang
  alam yang luas dan kekayaan sumber daya alam, basis keunggulan kompetitif
  industri dalam 20 tahun mendatang dikembangkan berdasarkan 3 (tiga) prinsip
  utama, yaitu:
  o Pengembangan industri yang mengolah secara efisien dan rasional sumber
     daya alam, dengan memperhatikan daya dukungnya;
  o Pengembangan industri yang memperkuat kemampuan dan pembangunan
     jaringan interaksi, komunikasi, dan informasi baik untuk kepentingan
     domestik maupun dalam kaitannya dengan dinamika globalisasi; dan
  o Pengembangan industri yang memperkuat integrasi dan struktur keterkaitan
     antar-industri ke depan.
  Dengan prinsip tersebut, fokus pengembangan industri dalam 20 tahun
  mendatang diarahkan pada 4 (empat) pilar utama,

  o Industri yang berbasis pertanian dan kelautan;
  o Industri transportasi;
  o Industri teknologi informasi dan peralatan telekomunikasi (telematika), dan
  o Basis industri manufaktur yang potensial dan strategis untuk perkuatan daya
     saing industri ke depan.



                                      39
7. Peningkatan efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah sektor pertanian dalam arti
   luas dikelola dengan pengembangan agribisnis yang dinamis dan efisien, yang
   melibatkan partisipasi aktif petani dan nelayan. Tujuan ini perlu diselenggarakan
   melalui revitalisasi kelembagaan pada tingkat operasional, optimalisasi
   sumberdaya, dan pengembangan SDM pelaku usaha agar mampu meningkatkan
   produktivitas serta merespon permintaan pasar dan peluang usaha. Selain
   bermanfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan pada umumnya,
   upaya ini bermanfaat di dalam menciptakan diversifikasi perekonomian
   perdesaan yang pada gilirannya meningkatkan sumbangannya di dalam
   pertumbuhan perekonomian nasional. Perhatian perlu diberikan kepada
   peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan, pengembangan masyarakat,
   upaya pengentasan kemiskinan secara terarah serta perlindungan terhadap
   sistem perdagangan dan persaingan yang tidak adil.



8. Sistem ketahanan pangan dibangun sampai pada kemampuan untuk menjaga
   kemandirian pangan nasional dengan mengembangkan kelembagaan ketahanan
   pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat rumah
   tangga yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutu dan gizinya, aman, merata,
   dan terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam
   sesuai dengan keragaman lokal.



9. Perdagangan dan investasi dikembangkan agar mampu mendukung perkuatan
   daya saing global. Perdagangan diarahkan untuk memperkuat efisiensi sistem
   perdagangan dalam negeri; memperkuat posisi nasional dalam aktivitas
   perdagangan serta berbagai fora kerjasama perdagangan global, regional, dan
   plurilateral; pengembangan citra produk nasional yang berkualitas internasional;
   dan mampu mendorong integrasi kegiatan ekonomi nasional untuk memperkuat
   ketahanan ekonomi. Sementara itu, investasi diarahkan untuk mendukung
   terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi secara berkelanjutan dan
   berkualitas dengan peningkatan iklim investasi yang kondusif dan berdaya

                                        40
   saing, serta selaras dengan fokus peningkatan daya saing perekonomian
   nasional.



10. Jasa, termasuk jasa infrastruktur dan keuangan, dikembangkan sesuai dengan
   kebijakan pengembangan ekonomi nasional agar mampu mendukung secara
   efektif peningkatan daya saing global dengan menerapkan sistem dan standar
   pengelolaan sesuai dengan praktik terbaik internasional, yang mampu
   mendorong peningkatan ketahanan serta nilai tambah perekonomian nasional,
   dan yang mampu mendukung kepentingan strategis di dalam pengembangan
   SDM di dalam negeri dan keprofesian, penguasaan dan pemanfaatan teknologi
   nasional, dan pengembangan keprofesian tertentu, serta mendukung kepentingan
   nasional    dalam   pengentasan    kemiskinan   dan     pengembangan   kegiatan
   perekonomian perdesaan.



11. Kepariwisataan dikembangkan agar mampu mendorong peningkatan daya saing
   perekonomian nasional, peningkatan kualitas perekonomian, dan kesejahteraan
   masyarakat    lokal,   serta   perluasan   kesempatan    kerja.   Pengembangan
   kepariwisataan memanfaatkan secara arif dan berkelanjutan keragaman pesona
   keindahan alam dan potensi nasional nasional sebagai wilayah bahari terluas di
   dunia serta dapat mendorong kegiatan ekonomi yang terkait dengan
   pengembangan budaya bangsa.



12. Pengembangan UKM dan Koperasi diarahkan untuk menjadi pelaku ekonomi
   yang berdaya saing melalui perkuatan kewirausahaan dan peningkatan
   produktivitas yang didukung dengan upaya peningkatan adaptasi terhadap
   kebutuhan pasar, pemanfaatan hasil inovasi dan penerapan teknologi.
   Pengembangan UKM menjadi bagian integral di dalam perubahan struktur yang
   sejalan dengan modernisasi agribisnis dan agroindustri, khususnya yang
   mendukung ketahanan pangan, serta perkuatan basis produksi dan daya saing


                                         41
   industri melalui pengembangan rumpun industri, percepatan alih teknologi, dan
   peningkatan kualitas SDM. Sementara itu, pengembangan usaha mikro menjadi
   pilihan strategis untuk mengurangi kesenjangan pendapatan dan kemiskinan.
   Koperasi berkembang semakin luas menjadi wahana yang efektif dalam
   menciptakan efisiensi kolektif para anggota koperasi, baik produsen maupun
   konsumen, sehingga menjadi pelaku ekonomi yang mampu mendukung upaya
   peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi.



13. Budaya inovatif yang berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi terus
   dikembangkan agar bangsa Indonesia menguasai ilmu pengetahuan dan
   teknologi serta mampu berjaya di era persaingan global. Pengembangan budaya
   ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dilakukan dengan meningkatkan
   penghargaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi melalui
   pengembangan budaya membaca dan menulis, masyarakat pembelajar,
   masyarakat yang cerdas, kritis, dan kreatif dalam rangka pengembangan tradisi
   ilmu pengetahuan dan teknologi, bersamaan dengan mengarahkan budaya
   konsumtif menuju budaya produktif. Bentuk-bentuk pengungkapan kreativitas,
   antara lain melalui kesenian, tetap didorong untuk mewujudkan keseimbangan
   aspek material, spiritual dan emosional. Pengembangan ilmu pengetahuan dan
   teknologi serta kesenian diletakkan dalam kerangka peningkatan harkat,
   martabat dan peradaban manusia.



14. Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) diarahkan untuk
   penguasaan dan pemanfaatan Iptek bagi kesejahteraan masyarakat, kemandirian
   dan daya saing bangsa melalui peningkatan kemampuan dan kapasitas iptek
   yang senantiasa berpedoman pada nilai agama, nilai budaya, nilai etika, serta
   memperhatikan sumber daya dan kelestarian fungsi lingkungan hidup.
   Pembangunan iptek dalam 20 puluh tahun mendatang diarahkan untuk
   mendukung ketahanan pangan, ketersediaan energi, penciptaan dan pemanfaatan
   teknologi informasi dan komunikasi, penyediaan teknologi transportasi,

                                       42
   kebutuhan teknologi pertahanan, teknologi kesehatan, serta meningkatkan
   jumlah patent. Dukungan tersebut dilakukan melalui peningkatan kuantitas,
   kualitas, dan mobilitas SDM iptek, peningkatan anggaran riset, pengembangan
   sinergi kebijakan iptek lintas sektor, perumusan agenda riset nasional selaras
   dengan kebutuhan pasar, peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan
   prasarana iptek, penguatan sistem inovasi yang mendukung pembangunan
   ekonomi yang berbasis pengetahuan, peningkatan kerjasama penelitian domestik
   dan internasional antar lembaga litbang, perguruan tinggi dan dunia usaha,
   penumbuhan industri baru berbasis produk litbang, peningkatan kesadaran
   industri pada standar mutu produk berbasis sistem pengukuran, standardisasi,
   pengujian dan mutu (measurement, standardization, testing, and quality/MSTQ)



15. Peranan pemerintah yang efektif dan optimal diwujudkan sebagai fasilitator,
   regulator, sekaligus sebagai katalisator pembangunan di berbagai tingkat guna
   efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, terciptanya lingkungan usaha yang
   kondusif dan berdaya saing, dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar.



16. Kelembagaan ekonomi dikembangkan sesuai dinamika kemajuan ekonomi
   dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik di dalam
   menyusun kerangka regulasi dan perijinan yang efisien, efektif, dan non-
   diskriminatif; menjaga persaingan usaha secara sehat mengembangkan dan
   melaksanakan iklim persaingan usaha secara sehat dan perlindungan konsumen;
   mendorong pengembangan standardisasi produk dan jasa untuk meningkatkan
   daya saing; merumuskan strategi dan kebijakan pengembangan teknologi sesuai
   dengan pengembangan ekonomi nasional; dan meningkatkan daya saing Usaha
   Kecil dan Menengah (UKM) sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan
   kegiatan ekonomi.




                                       43
17. Kebijakan pasar kerja diarahkan untuk mendorong terciptanya sebanyak
   mungkin lapangan kerja formal serta meningkatkan kesejahteraan pekerja di
   pekerjaan informal. Pasar kerja yang fleksibel, hubungan industrial yang
   harmonis dengan perlindungan yang layak, keselamatan kerja yang memadai,
   serta terwujudnya proses penyelesaian industrial yang memuaskan semua pihak
   merupakan ciri-ciri pasar kerja yang diinginkan. Selain itu, pekerja diharapkan
   mempunyai     produktivitas   yang   tinggi   sehingga   dapat   bersaing   serta
   menghasilkan nilai tambah yang tinggi dengan pengelolaan pelatihan dan
   pemberian dukungan bagi program-program pelatihan yang strategis untuk
   efektivitas dan efisiensi peningkatan kualitas tenaga kerja sebagai bagian
   integral dari investasi sumber daya manusia. Sebagian besar pekerja akan
   dibekali dengan pengakuan kompetensi profesi sesuai dinamika kebutuhan
   industri dan dinamika persaingan global.



18. Sektor keuangan dikembangkan agar senantiasa memiliki kemampuan di dalam
   menjaga stabilitas ekonomi dan membiayai tujuan pertumbuhan ekonomi yang
   berkualitas serta mampu memiliki daya tahan terhadap kemungkinan gejolak
   krisis melalui: implementasi sistem Jaring Pengaman Sektor Keuangan
   Indonesia, peningkatan kontribusi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank dalam
   pendanaan pembangunan, serta peningkatan kualitas pertumbuhan perbankan
   nasional. Dengan demikian, setiap jenis investasi (baik jangka pendek maupun
   jangka panjang) akan memperoleh sumber pendanaan yang sesuai dengan
   karakteristik jasa keuangan. Selain itu, semakin beragamnya lembaga keuangan
   akan memberikan alternatif pendanaan lebih banyak bagi seluruh lapisan
   masyarakat.



19. Perbaikan pengelolaan keuangan negara bertumpu pada sistem anggaran yang
   transparan, bertanggung jawab, dan dapat menjamin efektivitas pemanfaatan.
   Dalam rangka meningkatkan kemandirian, peran pinjaman luar negeri dijaga
   pada tingkat yang aman, sementara sumber utama dalam negeri yang berasal

                                        44
   dari pajak terus ditingkatkan efektivitasnya. Kepentingan utama pembiayaan
   pemerintah adalah penciptaan pembiayaan pembangunan yang dapat menjamin
   kemampuan peningkatan pelayanan publik baik di dalam penyediaan pelayanan
   dasar, prasarana dan sarana fisik serta ekonomi, dan mendukung peningkatan
   daya saing ekonomi.
   Indonesia yang maju dan mandiri juga tercermin dari ketersediaan infrastruktur
yang memadai, mencakup transportasi, ketenagalistrikan dan energi, telematika,
serta ketersediaan sumber daya air. Dalam kaitan itu, pembangunan infrastruktur
diarahkan pada pencapaian sasaran pokok sebagai berikut.

   o Tersusunnya jaringan infrastruktur yang terintegrasi satu sama lain,
      khususnya pelabuhan, lapangan terbang, kereta api, dan jalan raya dalam
      sistem jaringan inter dan antar-moda, baik antarnegara tetangga maupun
      dalam dan antar-wilayah NKRI dengan tingkat keselamatan, jaminan
      kelaikan prasarana dan sarana sesuai dengan standar internasional.
   o Terpenuhinya pasokan tenaga listrik yang handal sesuai permintaan
      kebutuhan tenaga listrik termasuk hampir sepenuhnya elektrifikasi rumah
      tangga dan elektrifikasi perdesaan dapat terpenuh; tercapainya tingkat
      efisiensi yang memuaskan baik sisi pembangkitan, transmisi dan distribusi;
      terwujudnya sistem ketenagalistrikan yang berbasis pada energi terbarukan,
      panas bumi, nuklir, dan energi fosil non BBM; serta terciptanya industri
      penunjang ketenagalistrikan dalam negeri yang mampu memberikan
      kontribusi signifikan bagi pengembangan sistem kelistrikan nasional.
   o Meningkatnya penyelenggaraan pos dan telematika yang efisien guna
      meningkatkan kesiapan dan kemampuan masyarakat Indonesia dalam
      memanfaatkan informasi sehingga tercipta masyarakat informasi Indonesia
      yang berdaya saing dan mampu mengatasi dan memanfaatkan arus
      globalisasi.
   o Terwujudnya     konservasi   sumber    daya   air     yang   mampu    menjaga
      berkelanjutan fungsi sumber daya air; terwujudnya pendayagunaan sumber
      daya air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi


                                       45
      kualitas dan kuantitas; dan terwujudnya pengendalian daya rusak air yang
      mampu melindungi keselamatan jiwa dan harta benda penduduk.



20. Pembangunan transportasi diarahkan untuk mendorong transaksi perdagangan
   sebagai sumber pergerakan orang, barang, dan jasa yang menjadi pangsa pasar
   bisnis transportasi melalui political trading yang saling menguntungkan;
   menciptakan jaringan pelayanan secara inter dan antar moda angkutan melalui
   pembangunan prasarana dan sarana transportasi, serta diikuti dengan
   pemanfaatan e-commerce dalam konteks less paper document; menyelaraskan
   semua peraturan perundang undangan baik yang mecakup investasi maupun
   penyelenggaraan jasa transportasi untuk memberikan kepastian hukum bagi
   semua pihak yang berkenan; menciptakan sistem perbankan dan mekanisme
   pendanaan untuk menunjang investasi dan operasi prasarana dan sarana
   transportasi; mendorong seluruh stakeholders untuk berpartisipasi dalam
   penyediaan pelayanan mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, dan
   pengoperasiaannya; menghilangkan segala macam bentuk monopoli agar dapat
   memberikan    alternatif   pilihan   bagi   pengguna   jasa;   mempertahankan
   keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan kepada
   masyarakat; menyatukan persepsi dan langkah para pelaku penyedia jasa
   transportasi dalam konteks global services; mempercepat dan memperlancar
   pergerakan muatan barang dan penumpang melalui pembangunan jalan bebas
   hambatan trans Jawa dan Sumatera, promosi angkutan barang melalui kereta
   api, promosi angkutan barang antar pulau dengan sistem Ro-Ro, promosi
   angkutan komoditi khusus dengan pesawat terbang (freshgood and high value);
   membangun fasilitas angkutan masal untuk daerah metropolitan; menciptakan
   blue print Sistem Transportasi Nasional dan Sistem Transportasi Wilayah.



21. Pengembangan energi nasional jangka panjang diarahkan kepada peningkatan
   intensitas pencarian sumber-sumber energi sejalan dengan peningakatan
   populasi dan laju pertumbuhan ekonomi. Disamping itu, pengembangan energi

                                        46
   juga akan dicapai melalui penentuan harga energi yang telah memperhitungkan
   biaya produksi dan kemampuan ekonomi masyarakat. Pembangunan energi juga
   terus diarahkan kepada penganekaragaman (diversifikasi) energi, konservasi
   energi,   dan   dengan    memperhatikan        pengendalian   lingkungan       hidup.
   Pengembangan energi dilaksanakan juga dengan memperhatikan komposisi
   penggunaan energi yang optimum bagi tiap jenis energi.



22. Pembangunan ketenagalistrikan diarahkan pada:
   o Pengembangan kemampuan pemenuhan kebutuhan tenaga listrik nasional
      dan kehandalannya untuk memulihkan kemampuan pasokan sistem
      ketenagalistrikan   nasional    yang      memadai   melalui   rehabilitasi    dan
      repowering pembangkit yang ada serta pembangunan pembangkit baru
      terutama pembangkit listrik non BBM;
   o Penyempurnaan        struktur   industri    penyediaan   tenaga   listrik,    yang
      memberikan peluang lebih luas bagi investasi swasta secara lebih terbuka,
      kompetitif, profesional, dan terarah serta terpisah dari misi sosial, dan bagi
      badan usaha milik negara, pemerintah daerah; pemerintah pusat dan
      masyarakat untuk wilayah nonkomersil.
   o Penyempurnaan kebijakan tarif dan subsidi; penyempurnaan tarif diarahkan
      pada penerapan tarif regional yang strukturnya disesuaikan dengan Harga
      Pokok Produksi (HPP) bagi setiap kelompok pelanggan. Sedangkan subsidi
      diarahkan kepada optimalisasi dan pengembangan interkoneksi jaringan
      penyaluran yang lebih luas dan lebih optimal untuk meningkatkan efisensi,
      mengurangi hambatan penyaluran serta mengurangi berbagai bentuk losses;
   o Peningkatan manajemen pengelolaan usaha penyediaan tenaga listrik; good
      governace, kemampuan manajemen dan panataan sistem organisasi, serta
      memperkecil pengaruh intervensi politik dalam pengelolaan sistem
      ketenagalistrikan nasional;




                                         47
   o Diversifikasi energi untuk pembangkit listrik; terutama panas bumi, hidro,
      gas dan batu bara, juga mulai dapat diterapkannya pembangkit listrik tenaga
      surya dan nuklir dalam sekala besar;
   o Pengembangan        industri   penunjang   ketenagalistrikan    nasional    yang
      mengedepankan peningkatan kandungan lokal pengembangan daya guna
      iptek kelistrikan dalam negeri yang melibatkan dunia usaha, pendidikan,
      pemerintah, dan masyarakat secara terintegrasi dan bersifat strategis berbasis
      transfer knowledge termasuk pengembangan standarisasi produk dan
      sertifikasi kelistrikan nasional.



23. Pembangunan telematika diarahkan pada penetapan platform kompetisi jangka
   panjang dalam penyelenggaraan telekomunikasi; antisipasi implikasi dari
   konvergensinya telekomunikasi, TI dan penyiaran baik mengenai kelembagaan
   maupun peraturannya termasuk yang terkait dengan isu keamanan, kerahasiaan,
   privasi dan integritas informasi; Hak atas Kekayaan Intelektual; serta legalitas
   yang nantinya dapat mengakibatkan konvergensi pasar dan industri; optimalsi
   pembangunan dan pemanfaatan prasarana pos dan telematika dan prasarana
   non-telekomunikasi dalam penyelenggaraan telematika; pemanfaatan konsep
   teknologi netral yang responsif terhadap kebutuhan pasar dan industri namun
   tetap menjaga keutuhan sistem yang telah ada; peningkatan pengetahuan dan
   awareness    masyarakat     terhadap   potensi   pemanfaatan     telematika   serta
   pemanfaatan aplikasi berbasis teknologi informasi; serta pengembangan industri
   konten dan aplikasi sebagai upaya penciptaan nilai tambah dari informasi.



24. Pembangunan sumberdaya air diarahkan untuk menjaga keberlanjutan daya
   dukung sumber daya air dengan menjaga kelestarian fungsi daerah tangkapan air
   (catchment area) dan keberadaan air tanah; mewujudkan keseimbangan antara
   pasokan dan kebutuhan melalui pendekatan demand management yang
   ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan dan
   konsumsi air dan pendekatan supply management yang ditujukan untuk

                                          48
   meningkatan kapasitas dan realibilitas pasokan air; memperkokoh kelembagaan
   sumber daya air untuk meningkatkan keterpaduan dan kualitas pelayanan
   terhadap masyarakat.




         Indonesia yang maju dan mandiri juga tercermin dari pembangunan yang
semakin merata ke seluruh wilayah. Sasaran yang hendak dicapai dalam 20 tahun
mendatang adalah terwujudnya peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan
masyarakat di seluruh wilayah, termasuk berkurangnya kesenjangan antar wilayah
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.




25. Percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis dan cepat
   tumbuh didorong sehingga dapat mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal di
   sekitarnya dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang sinergis,
   tanpa mempertimbangkan batas wilayah administrasi, tetapi lebih ditekankan
   pada pertimbangan keterkaitan mata-rantai proses industri dan distribusi. Upaya
   ini dapat dilakukan melalui pengembangan produk unggulan daerah, serta
   mendorong terwujudnya koordinasi, sinkronisasi, keterpaduan dan kerjasama
   antar sektor, antar pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung
   peluang berusaha dan investasi di daerah.



26. Pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dikendalikan dalam suatu sistem
   wilayah pembangunan metropolitan yang kompak, nyaman, efisien dalam
   pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan,
   melalui:
   o Penerapan manajemen perkotaan (urban-sprawl management) yang meliputi
      optimasi dan pengendalian pemanfaatan ruang serta pengamanan zona
      penyangga (buffer zone) di sekitar kota inti dengan penegakan hukum yang
      tegas dan adil, serta peningkatan peran dan fungsi kota-kota menengah dan


                                        49
      kecil di sekitar kota inti agar kota-kota tersebut tidak hanya berfungsi
      sebagai dormitory town tetapi dapat menjadi kota mandiri;
   o Pengembangan kegiatan ekonomi kota (urban economic development) yang
      ramah lingkungan seperti industri jasa keuangan, perbankan, asuransi,
      industri telematika dan lain-lain; serta peningkatan kemampuan keuangan
      daerah perkotaan; peningkatan kemampuan keuangan daerah perkotaan;
   o Revitalisasi kawasan kota (urban revitalization) meliputi pengembalian
      fungsi kawasan melalui membangun kembali kawasan; peningkatan kualitas
      lingkungan fisik, sosial, budaya; serta penataan kembali pelayanan fasilitas
      publik, terutama pengembangan sistem transportasi masal yang terintegrasi
      antar moda.



27. Keberpihakan pemerintah ditingkatkan untuk mengembangkan wilayah-wilayah
   tertinggal dan terpencil sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dan
   berkembang    secara   lebih   cepat        dan   dapat    mengejar   ketertinggalan
   pembangunannya dengan daerah lain. Pendekatan pembangunan yang perlu
   dilakukan selain dengan pemberdayaan masyarakat secara langsung melalui
   skema pemberian dana alokasi khusus, termasuk jaminan pelayanan publik dan
   keperintisan, perlu pula dilakukan penguatan keterkaitan kegiatan ekonomi
   dengan wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis dalam satu ‘sistem wilayah
   pengembangan ekonomi’.



28. Wilayah-wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan
   pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi
   outward looking, sehingga kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu
   gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.
   Pendekatan pembangunan yang dilakukan selain menggunakan pendekatan yang
   bersifat   keamanan    (security   approach),       juga    diperlukan   pendekatan
   kesejahteraan (prosperity approach). Perhatian khusus diarahkan bagi



                                          50
   pengembangan pulau-pulau kecil di perbatasan yang selama ini luput dari
   perhatian.



29. Pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan
   kecil diseimbangkan secara hirarkis dalam suatu ‘sistem pembangunan
   perkotaan nasional.’ Upaya ini diperlukan untuk mencegah terjadinya ‘urban
   sprawl’ dan konurbasi, seperti yang terjadi di wilayah pantura Pulau Jawa, serta
   untuk mengurangi arus migrasi masuk langsung dari desa ke kota-kota besar
   dan metropolitan, melalui penciptaan kesempatan kerja, termasuk peluang
   usaha, pada kota-kota menengah dan kecil, terutama di luar Pulau Jawa. Oleh
   karena itu perlu dilakukan peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi (forward
   and backward linkages) sejak tahap awal mata rantai industri, tahap proses
   produksi antara, tahap akhir produksi (final process), sampai tahap konsumsi
   (final demand) di masing-masing kota sesuai dengan hirarkinya, serta perlu
   didukung, antara lain, peningkatan aksesibilitas dan mobilitas orang, barang dan
   jasa antar kota-kota tersebut.



30. Percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah ditingkatkan, terutama
   di luar Pulau Jawa, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai
   ‘motor penggerak’ pembangunan wilayah-wilayah di sekitarnya, maupun dalam
   melayani kebutuhan warga kotanya. Pendekatan pembangunan yang perlu
   dilakukan, antara lain, memenuhi kebutuhan pelayanan dasar perkotaan seseuai
   dengan tipologi kota masing-masing.



31. Peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan
   kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan didorong secara sinergis (hasil produksi
   wilayah perdesaan merupakan backward linkages dari kegiatan ekonomi di
   wilayah perkotaan) dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’.
   Peningkatan    keterkaitan       tersebut    memerlukan   adanya   perluasan   dan


                                               51
   diversifikasi aktivitas ekonomi dan perdagangan (non-pertanian) di pedesaan
   yang terkait dengan pasar di perkotaan.



32. Pembangunan perdesaan didorong melalui: pengembangan agropolitan terutama
   bagi kawasan yang berbasiskan pertanian; peningkatan kapasitas sumber daya
   manusia di perdesaan khususnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber
   daya; pengembangan jaringan infrastruktur penunjang kegiatan produksi di
   kawasan perdesaan dan kota-kota kecil terdekat dalam upaya menciptakan
   keterkaitan fisik, sosial dan ekonomi yang saling komplementer dan saling
   menguntungkan; peningkatan akses informasi dan pemasaran, lembaga
   keuangan, kesempatan kerja dan teknologi; pengembangan social capital dan
   human capital yang belum tergali potensinya, sehingga kawasan perdesaan tidak
   semata-mata mengandalkan sumber daya alamnya saja; intervensi harga dan
   kebijakan perdagangan yang berpihak ke produk pertanian, terutama terhadap
   harga dan upah.



33. Pembangunan yang dilakukan di suatu wilayah saat ini masih sering dilakukan
   tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya. Keinginan untuk memperoleh
   keuntungan ekonomi jangka pendek seringkali menimbulkan keinginan untuk
   mengeksploitasi sumber daya alam secara berkelebihan sehingga menurunkan
   kualitas (degradasi) dan kuantitas (deplesi) sumber daya alam dan lingkungan
   hidup. Selain itu, sering pula terjadi konflik pemanfaatan ruang antar sektor.
   Salah satu penyebab terjadinya permasalahan tersebut karena pembangunan
   yang dilakukan dalam wilayah tersebut belum menggunakan Rencana Tata
   Ruang sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan
   antar wilayah. Oleh karena itu, sangat penting untuk memanfaatkan rencana tata
   ruang sebagai landasan atau acuan kebijakan spasial bagi pembangunan lintas
   sektor maupun wilayah agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi, dan
   berkelanjutan. Rencana Tata Ruang Wilayah disusun secara hirarkis dari tingkat
   Nasional, Pulau, Provinsi, Kabupaten, dan Kota.

                                        52
34. Menerapkan sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta melaksanakan
   penegakan hukum terhadap hak atas tanah dengan menerapkan prinsip-prinsip
   keadilan,   transparansi,   dan demokrasi.     Selain itu, perlu     dilakukan
   penyempurnaan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah
   melalui perumusan berbagai aturan pelaksanaan land reform, serta penciptaan
   insentif/disinsentif perpajakan yang sesuai dengan luas, lokasi, dan penggunaan
   tanah agar masyarakat golongan ekonomi lemah dapat lebih mudah
   mendapatkan hak atas tanah. Selain itu, menyempurnakan sistem hukum dan
   produk hukum pertanahan melalui inventarisasi dan penyempurnaan peraturan
   perundang-undangan pertanahan dengan mempertimbangkan aturan masyarakat
   adat, serta peningkatan upaya penyelesaian sengketa pertanahan baik melalui
   kewenangan administrasi, peradilan, maupun alternative dispute resolution;
   selain itu akan dilakukan penyempurnaan kelembagaan pertanahan sesuai
   dengan semangat otonomi daerah dan dalam kerangka Negara Kesatuan
   Republik Indonesia, utamanya dalam kaitannya dengan peningkatan kapasitas
   sumberdaya manusia bidang pertanahan di daerah.



35. Pengembangan kapasitas pemerintah daerah terus ditingkatkan melalui
   peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah peningkatan kapasitas
   kelembagaan pemerintah daerah; peningkatan kapasitas keuangan pemerintah
   daerah termasuk upaya peningkatan kemitraan dengan masyarakat dan swasta
   dalam pembiayaan pembangunan daerah ditingkatkan; penguatan lembaga
   legislatif. Selain itu, pemberdayaan masyarakat akan terus menerus ditingkatkan
   melalui: peningkatan pengetahuan dan keterampilan; peningkatan akses pada
   modal usaha dan sumber daya alam; pemberian kesempatan luas untuk
   menyampaikan aspirasi terhadap kebijakan dan peraturan yang menyangkut
   kehidupan mereka; peningkatan kesempatan dan kemampuan untuk mengelola
   usaha ekonomi produktif yang mendatangkan kemakmuran dan mengatasi
   kemiskinan.

                                       53
   Indonesia yang maju dan mandiri menuntut pelaksanaan politik luar negeri yang
bebas dan aktif mengacu pada kepentingan nasional.



36. Peranan hubungan luar negeri ditingkatkan dengan penekanan pada proses
   pemberdayaan posisi Indonesia sebagai negara bangsa, termasuk peningkatan
   kapasitas dan integritas nasional melalui keterlibatan di organisasi-organisasi
   internasional,yang dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan diplomasi dan
   hubungan luar negeri dengan memaknai secara positif berbagai peluang
   menguntungkan bagi kepentingan nasional yang muncul dari perspektif baru
   dalam hubungan internasional yang dinamis; penguatan kapasitas dan
   kredibilitas politik luar negeri dalam rangka ikut serta menciptakan perdamaian
   dunia, keadilan dalam tata hubungan internasional, dan ikut berupaya mencegah
   disparitas yang terlalu besar di antara negara adidaya yang berbeda ideologi,
   sekaligus mencegah munculnya kekuatan hegemonik-unilateralistik di dunia;
   peningkatan kualitas diplomasi di fora internasional dalam upaya pemeliharaan
   keamanan nasional, integritas wilayah dan pengamanan kekayaan sumber daya
   alam nasional serta antisipasi terhadap berbagai isu-isu baru dalam hubungan
   internasional yang akan ditangani dengan parameter utamanya kepentingan
   nasional.; peningkatan efektivitas dan perluasan fungsi jaringan-jaringan
   kerjasama yang ada demi membangun kembali solidaritas ASEAN di bidang
   politik, kebudayaan, dan keamanan menuju terbentuknya komunitas ASEAN
   yang lebih solid; pemeliharaan perdamaian dunia melalui upaya peningkatan
   saling pengertian politik dan budaya, baik antar negara maupun antar
   masyarakat di dunia; peningkatan kerjasama internasional dalam membangun
   tatanan hubungan dan kerjasama ekonomi internasional yang lebih seimbang;
   penguatan jaringan hubungan dan kerjasama yang produktif antar aktor-aktor
   negara dan aktor-aktor non-negara yang menyelenggarakan hubungan luar
   negeri.


                                       54
   Indonesia yang maju dan mandiri tercermin dari kemampuan pengelolaan
sumber daya alam dan lingkungan hidup yang memadai. Dalam kaitan itu sasaran
yang hendak dicapai dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
dalam 20 tahun mendatang adalah sebagai berikut.

   o Terwujudnya pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya alam dan
      perlindungan fungsi lingkungan hidup secara berkelanjutan, berkeadilan, dan
      berkeseimbangan dengan perolehan nilai tambah yang optimal bagi
      kepentingan negara dan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat Indonesia.
   o Tercapainya peningkatan kesadaran, sikap mental, dan perilaku masyarakat
      dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan
      hidup.



37. Pendayagunaan sumber daya alam yang terbarukan, seperti hutan, pertanian,
   perikanan, dan perairan dilakukan secara rasional, optimal, dan efisien, dengan
   mendayagunakan     seluruh     fungsi    dan     manfaat    secara    seimbang    dan
   memperhatikan daya dukung dan kemampuan pulih alaminya. Pengelolaan
   sumber daya alam terbarukan, yang saat ini sudah berada dalam kondisi kritis,
   diarahkan pada upaya untuk merehabilitasi dan memulihkan daya dukungnya,
   dan selanjutnya diarahkan pada pemanfaatan aspek-aspek tak berwujud seperti
   jasa lingkungan sehingga tidak semakin merusak dan menghilangkan
   kemampuannya      sebagai    modal      bagi    pengelolaan    pembangunan       yang
   berkelanjutan. Hasil atau pendapatan yang berasal dari pemanfaatan sumber
   daya   alam   terbarukan     diarahkan       untuk   diinvestasikan   kembali    guna
   menumbuhkembangkan upaya pemulihan, rehabilitasi, dan pencadangan untuk
   kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang.



38. Sumber daya alam yang tidak terbarukan, seperti bahan tambang, mineral dan
   sumber daya energi dikelola secara berkelanjutan dengan tidak mengkonsumsi
   langsung, melainkan memperlakukannya sebagai input untuk proses produksi


                                           55
   berikutnya yang dapat menghasilkan nilai tambah yang optimal. Outputnya
   diarahkan untuk dijadikan sebagai kapital kumulatif. Alternatif lainnya dengan
   pemanfaatan yang diimbangi dengan upaya reklamasi dan pencarian sumber
   alternatif atau bahan substitusi yang terbarukan dan yang lebih ramah
   lingkungan. Hasil atau pendapatan yang diperoleh dari kelompok sumber daya
   alam   ini    diarahkan   untuk   percepatan   pertumbuhan   ekonomi   dengan
   diinvestasikan pada sektor-sektor lain yang produktif khususnya dalam upaya
   untuk menghasilkan inovasi dan kreativitas pengelolaan sumber daya alam bagi
   keberlanjutan ekonomi nasional, dan untuk upaya rehabilitasi, penyelamatan dan
   konservasi kawasan tertentu, serta untuk memperkuat pendanaan dalam rangka
   pencarian sumber-sumber energi alternatif.



39. Efektivitas pemanfaatan sumber daya alam diarahkan pada peningkatan nilai
   tambah produk-produk sumber daya alam. Selain itu, diversifikasi produk dan
   pengolahan hasil sumber daya alam yang inovatif terus dikembangkan agar
   mampu menghasilkan barang dan jasa yang menghasilkan nilai tambah yang
   tinggi, termasuk untuk pengembangan mutu dan harga yang bersaing. Ini harus
   menjadi acuan bagi pengembangan industri yang berbasis sumber daya alam, di
   samping tetap menekankan pada pemeliharaan sumber daya alam yang ada dan
   sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Selain itu juga diarahkan
   untuk membangun keberlanjutan bagi seluruh bidang pembangunan secara adil
   dan merata, sehingga tidak lagi hanya berlandaskan pada peningkatan
   pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga keberpihakan kepada aspek sosial dan
   lingkungan demi keberlanjutan pembangunan. Perhatian khusus ditujukan bagi
   kesejahteraan masyarakat lokal agar masyarakat dapat memperoleh akses yang
   memadai dan menikmati hasil dari pemanfaatan sumber daya alam yang ada di
   wilayahnya.



40. Perhatian khusus diberikan pada pemanfaatan sumber daya alam yang masih
   mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, seperti sumber daya laut,

                                         56
  sehingga terjadi keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada
  antara daratan dan lautan. Mengingat cakupan dan prospek sumber daya
  kelautan yang sangat luas, maka arah pemanfaatannya dilakukan melalui
  pendekatan multisektor agar dapat meminimalisasi terjadinya konflik dan
  keberlanjutan sumber daya tersebut tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu,
  mengingat kompleksnya permasalahan dalam pengelolaan sumber daya laut,
  pesisir, dan pulau-pulau kecil maka pendekatan keterpaduan dalam kebijakan
  dan perencanaan menjadi prasyarat utama dalam menjamin keberlanjutan proses
  ekonomi, sosial, dan lingkungan yang terjadi.



41. Sumber daya alam dikembangkan dan dimanfaatkan dengan memperhatikan
  keragaman jenis sumber daya alam yang ada di setiap wilayah dalam rangka
  meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, mengembangkan wilayah
  strategis dan cepat tumbuh, serta memperkuat kapasitas dan komitmen daerah
  untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Peningkatan partisipasi
  masyarakat akan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan
  hidup dilakukan melalui pemberdayaan terhadap berbagai institusi sosial dan
  ekonomi di tingkat lokal, serta pengakuan terhadap hak-hak adat dan ulayat atas
  sumber daya alam termasuk bagi pemerintah daerah. Pengelolaan sumber daya
  alam di luar pulau Jawa, terutama di kawasan tertinggal diberikan perhatian
  khusus agar dapat dikembangkan potensinya untuk percepatan pembangunan
  wilayah, namun tetap mengedepankan aspek keberlanjutan bagi generasi
  mendatang. Untuk itu diperlukan tata ruang wilayah yang mantap yang disertai
  penegakan hukumnya untuk menjadi pedoman pemanfaatan sumber daya alam
  yang optimal dan lestari.



42. Selain menghasilkan sumber daya, alam juga dapat menimbulkan bencana.
  Pembangunan berwawasan lingkungan dapat dilakukan dengan memberikan
  diseminasi dan sosialisasi informasi peringatan dini terhadap ancaman
  kerawanan bencana alam kepada masyarakat, mengingat kondisi geologi

                                       57
   Indonesia yang secara geografis berada di kawasan pertemuan tiga lempeng
   tektonik. Untuk itu tantangan pembangunan ke depan, adalah perlunya
   ditingkatkan kegiatan pemetaan daerah bencana untuk mengurangi resiko
   terhadap investasi yang telah ditanamkan. Hal ini dapat memberikan manfaat
   sebesar-besarnya bagi masyarakat dan memberi perlindungan terhadap manusia
   dan harta benda dengan perencanaan wilayah yang peduli terhadap bencana
   geologi.



43. Pembangunan ekonomi diarahkan pada kegiatan yang ramah lingkungan
   sehingga pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan dapat dikendalikan,
   serta diarahkan pula pada pengembangan ekonomi yang lebih memanfaatkan
   jasa lingkungan. Pemulihan dan rehabilitasi kondisi lingkungan hidup
   diprioritaskan pada upaya untuk meningkatkan daya dukung lingkungan dalam
   menunjang pembangunan berkelanjutan.



44. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan
   ditingkatkan kualitasnya dengan dukungan peningkatan kelembagaan pengelola
   sumber daya alam dan lingkungan hidup; penegakan hukum lingkungan yang
   adil dan tegas; sistem politik yang kredibel dalam mengendalikan konflik;
   sumber daya manusia yang berkualitas; perluasan penerapan etika lingkungan;
   serta asimilasi sosial budaya yang semakin mantap. Selanjutnya cara pandang
   terhadap lingkungan hidup yang berwawasan etika lingkungan perlu didorong
   melalui internalisasi ke dalam kegiatan produksi dan konsumsi, dan
   menanamkan nilai dan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari termasuk
   proses pembelajaran sosial, serta pendidikan formal pada semua tingkatan.



45. Pendidikan dan kampanye penyadaran serta kecintaan terhadap sumber daya
   alam dan lingkungan hidup ditingkatkan, terutama bagi generasi muda, sehingga
   tercipta sumber daya manusia yang berkualitas yang peduli terhadap isu sumber


                                       58
   daya alam dan lingkungan hidup. Dengan demikian ke depan mereka mampu
   berperan sebagai penggerak bagi penerapan konsep pembangunan berkelanjutan
   dalam perilaku kehidupan sehari-hari.



   Indonesia yang maju dan mandiri juga tercermin dari kualitas sumber daya
manusia yang makin meningkat, termasuk peran perempuan dalam pembangunan.
Pembangunan Sumber Daya Manusia diarahkan pada pencapaian sasaran secara
umum berupa peningkatan kualitas SDM Indonesia yang ditandai dengan
meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tercapainya penduduk
tumbuh seimbang yang ditandai dengan angka reproduksi neto (NRR) sama dengan
1 atau ekuivalen dengan angka fertilitas total (TFR) sama dengan 2,1 per wanita
usia reproduksi.



46. Dalam rangka memenuhi hak dasar warga negara untuk memperoleh pelayanan
   kesehatan sesuai dengan UUD 1945, pembangunan kesehatan harus dipandang
   sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan
   mendukung pembangunan secara menyeluruh dengan mengacu pada paradigma
   sehat. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan
   masyarakat melalui peningkatan upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan,
   sumberdaya manusia, obat dan perbekalan kesehatan, pemberdayaan masyarakat
   dan manajemen kesehatan dengan memperhatikan dinamika kependudukan,
   epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan ilmu
   pengetahuan dan teknologi, dan globalisasi dengan semangat kemitraan, dan
   kerjasama lintas sektor. Perhatian khusus diberikan pada peningkatan perilaku
   dan kemandirian masyarakat, pada upaya promotif dan preventif, dan pada
   pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin, daerah tertinggal dan daerah
   bencana.




                                       59
47. Pembangunan pendidikan diarahkan untuk meningkatkan harkat, martabat dan
   kualitas SDM Indonesia sehingga dapat bersaing dalam era global dengan tetap
   berlandaskan pada norma kehidupan yang berlaku dalam masyarakat Indonesia
   secara luas dan tanpa diskriminasi. Oleh karena itu perlu disediakan layanan
   pendidikan yang bermutu dan terjangkau untuk semua jenis, jalur dan jenjang
   pendidikan serta pembebasan biaya pendidikan bagi peserta didik jenjang
   pendidikan dasar yang berasal dari keluarga miskin. Penyediaan pelayanan
   pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan sosial ekonomi
   Indonesia di masa depan termasuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
   yang berkelanjutan melalui pendalaman penguasaan teknologi dan pemberian
   perhatian yang lebih besar pada masyarakat miskin, dan yang tinggal di wilayah
   terpencil, tertinggal, dan kepulauan. Pembangunan pendidikan diarahkan pula
   untuk menumbuhkan kebanggaan kebangsaan, akhlak mulia serta kemampuan
   peserta didik untuk hidup bersama dalam masyarakat yang multikultur yang
   dilandasi oleh penghormatan pada hak asasi manusia. Pendidikan sepanjang
   hayat didorong sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
   meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas penduduk Indonesia terutama
   penduduk usia dewasa. Disamping itu pengelolaan pendidikan dimantapkan
   agar efisien dan efektif dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance,
   serta untuk menghadapi persaingan dengan institusi pendidikan luar negeri yang
   akan semakin banyak di masa depan.



48. Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan, serta kesejahteraan dan
   perlindungan anak di berbagai bidang pembangunan; penurunan tindak
   kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta penguatan kelembagaan dan
   jaringan pengarusutamaan gender di tingkat nasional dan daerah.



49. Pembangunan pemuda diarahkan pada peningkatan kualitas dan partisipasi
   pemuda di berbagai bidang pembangunan, sedangkan pembangunan olah raga
   diarahkan pada peningkatan budaya dan prestasi olah raga.

                                        60
50. Pembangunan kesejahteraan sosial diarahkan pada peningkatan kualitas
   pelayanan, rehabilitasi dan pemberdayaan sosial masyarakat penyandang
   masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dengan didukung oleh sistem hukum dan
   perlindungan sosial, termasuk penyediaan sarana pelayanan sosial yang
   memadai.



51. Sistem jaminan sosial dikembangkan bagi seluruh rakyat sebagai wahana yang
   luas untuk pengembangan mekanisme pemberdayaan masyarakat yang lemah
   dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan diupayakan tidak
   merusak budaya tolong menolong yang telah berakar di masyarakat.



52. Dalam rangka menciptakan Indonesia yang maju, pembangunan agama
   diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral
   dan etika dalam pembangunan, membina akhlak mulia, memupuk etos kerja,
   menghargai prestasi, dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan
   dalam pembangunan.



53. Pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk melalui peningkatan
   pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kesehatan reproduksi remaja dan
   keluarga berencana (KB) yang bermutu, efektif, merata, dan terjangkau, serta
   pemberdayaan keluarga menuju terbentuknya keluarga kecil yang berkualitas.



54. Penataan persebaran dan mobilitas penduduk secara lebih seimbang sesuai
   dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, melalui pemerataan
   pembangunan ekonomi dan wilayah, dan pembukaan kawasan-kawasan
   industrial terpadu yang lebih banyak lagi menampung tenaga kerja. Penataan
   administrasi kependudukan untuk mendukung perencanaan dan pelaksanaan


                                      61
   pembangunan yang berkelanjutan, dan mendorong terakomodasinya hak-hak
   penduduk dan perlindungan sosial.


55. Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi pembangunan sumberdaya manusia,
   yang didukung oleh partisipasi aktif masyarakat, kerangka peraturan untuk
   mendorong pengelolaan pembangunan sumberdaya manusia yang menerapkan
   prinsip-prinsip good governance dengan mengedepankan akuntabilitas dan
   transparansi, melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan dan
   pengawasannya, serta dengan menerapkan sistem pembiayaan yang berprinsip
   pada pemerataan dan keadilan.



56. Peningkatan pengelolaan data dan informasi, penerapan dan pengembangan
   iptek, pengaturan hukum, serta administrasi pembangunan sumberdaya manusia
   secara terpadu dan saling mendukung, guna mencapai kualitas sumberdaya
   manusia yang setinggi-tingginya.



57. Pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya
   ditingkatkan sehingga dalam 20 tahun mendatang terpenuhi kebutuhan hunian
   yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukungnya bagi seluruh
   masyarakat yang didukung oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang
   yang market friendly, efisien, dan akuntabel serta terwujud kota tanpa
   permukiman kumuh (cities without slum) sesuai dengan Millennium
   Development Goals (MDGs). Sejalan dengan pemenuhan hunian yang layak,
   pembangunan prasarana dan sarana diarahkan pada peningkatan cakupan
   pelayanan air minum perpipaan secara nasional hingga mencapai 100 persen;
   peningkatan proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar
   yang layak hingga mencapai 100 persen; dan pengembangan sistem sanitasi
   terpusat.




                                       62
58. Pemenuhan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya diarahkan
   pada
   o Penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan, memadai,
      layak dan terjangkau oleh daya beli masyarakat serta didukung oleh
      prasarana dan sarana permukiman yang mencukupi dan berkualitas yang
      dikelola secara profesional, credible, mandiri dan efisien.
   o Penyelenggaraan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana
      pendukungnya yang mandiri, mampu membangkitkan potensi pembiayaan
      yang berasal dari masyarakat dan pasar modal, menciptakan lapangan kerja,
      serta meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan.
   o Pembangunan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana
      pendukungnya yang memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan
      hidup.



   Indonesia yang adil dan demokratis diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran
pokok sebagai berikut.

   o Terciptanya supremasi hukum dan penegakan hak asasi manusia yang
      bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta tertatanya
      sistem hukum nasional yang mencerminkan kebenaran, keadilan, akomodatif
      dan aspiratif.
   o Meningkatnya profesionalisme aparatur negara untuk mewujudkan tata
      pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, dan bertanggungjawab, yang
      mampu mendukung pembangunan nasional.
   o Terwujudnya demokrasi, melalui konsolidasi demokrasi yang bertahap pada
      berbagai aspek kehidupan politik sehingga demokrasi konstitusional dapat
      diterima sebagai konsensus dan pedoman politik dalam kehidupan
      bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.




                                         63
59. Pembangunan hukum diarahkan pada makin terwujudnya sistem hukum
  nasional yang bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang
  mencakup pembangunan materi hukum, struktur hukum termasuk aparat hukum
  dan sarana serta prasarana hukum serta perwujudan masyarakat yang
  mempunyai kesadaran dan budaya hukum yang tinggi dalam rangka
  mewujudkan negara hukum, menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan
  demokratis. Pembangunan hukum dilaksanakan        melalui pembaruan hukum
  dengan tetap memperhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku dan
  pengaruh globalisasi sebagai upaya untuk meningkatkan kepastian dan
  perlindungan hukum, penegakan hukum dan hak asasi manusia, kesadaran
  hukum, serta pelayanan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran,
  ketertiban dan kesejahteraan dalam rangka penyelenggaraan negara yang makin
  tertib dan teratur, serta penyelenggaraan pembangunan nasional yang makin
  lancar.



60. Pembangunan materi hukum diarahkan untuk melanjutkan pembaruan produk
  hukum untuk menggantikan peraturan perundang-undangan warisan kolonial
  yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan kepentingan masyarakat Indonesia
  serta mampu mendorong tumbuhnya kreativitas dan pelibatan masyarakat yang
  sangat     dibutuhkan   untuk   mendukung     pelaksanaan     penyelenggaraan
  pemerintahan dan pembangunan nasional yang bersumber pada Pancasila dan
  Undang-Undang       Dasar   1945,    yang   mencakup    perencanaan       hukum,
  pembentukan hukum, penelitian dan pengembangan hukum.



61. Perencanaan hukum sebagai bagian dari proses pembangunan materi hukum
  harus     diselenggarakan   dengan   memperhatikan     berbagai   aspek     yang
  mempengaruhi baik di dalam masyarakat sendiri maupun dalam rangka
  pergaulan masyarakat internasional yang dilakukan secara terpadu dan meliputi
  semua bidang pembangunan sehingga produk hukum yang dihasilkan dapat
  memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

                                       64
62. Pembentukan hukum diselenggarakan melalui proses secara terpadu dan
   demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta
   menghasilkan produk hukum beserta peraturan pelaksanaan yang dapat
   diaplikasikan pelaksanaannya secara efektif, dengan didukung oleh penelitian
   dan pengembangan hukum yang didasarkan pada aspirasi dan kebutuhan
   masyarakat.



63. Penelitian dan pengembangan hukum diarahkan pada semua aspek kehidupan
   sehingga hukum nasional selalu dapat mengikuti perkembangan dan dinamika
   pembangunan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat baik sesuai dengan
   kebutuhan saat ini dan masa depan. Untuk meningkatkan kualitas penlitian dan
   pengembangan hukum kerjasa dengan berbagai komponen lembaga terkait baik
   di dalam maupun di luar negeri.



64. Pembangunan    struktur   hukum   diarahkan    untuk   memantapkan     dan
   mengefektifkan berbagai organisasi dan lembaga hukum, profesi hukum dan
   badan peradilan sehingga aparatur hukum mampu melaksanakan tugas dan
   kewajibannya secara profesional. Kualitas dan kemampuan aparatur hukum
   dikembangkan melalui peningkatan kualitas dan profesionalisme melalui sistem
   pendidikan dan pelatihan dengan kurikulum yang akomodatif terhadap setiap
   perkembangan pembangunan; dan pengembangan sikap aparatur hukum yang
   menunjung tinggi kejujuran, kebenaran, keterbukaan dan keadilan, bebas dari
   korupsi, kolusi dan nepotisme, serta bertanggung jawab dalam bentuk perilaku
   yang teladan.



65. Perbaikan kesejahteraan aparatur hukum serta sarana serta prasarana hukum
   yang memadai harus didukung secara penuh agar pelaksanaan tugas dan
   kewajiban aparatur hukum dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari

                                      65
   pengaruh dan intervensi pihak-pihak dalam bentuk korupsi, kolusi dan
   nepotisme.



66. Peningkatan perwujudan masyarakat yang mempunyai kesadaran hukum yang
   tinggi terus ditingkatkan dengan lebih memberikan akses yang terhadap segala
   informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat, memberikan akses kepada
   masyarakat terhadap pelibatan dalam berbagai proses pengambilan keputusan
   pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga setiap anggota masyarakat
   menyadari dan menghayati hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta
   terbentuk perilaku warga negara Indonesia yang mempunyai rasa memiliki dan
   taat hukum. Peningkatan perwujudan masyarakat yang mempunyai kesadaran
   hukum yang tinggi harus didukung oleh pelayanan dan bantuan hukum kepada
   masyarakat dengan biaya yang terjangkau, proses yang tidak berbelit dan
   penetapan putusan yang mencerminkan rasa keadilan masyarakat.



67. Penerapan dan penegakan hukum dan hak asasi manusia dilaksanakan secara
   tegas, lugas dan profesional dengan tetap berdasarkan pada penghormatan
   terhadap hak asasi manusia, keadilan dan kebenaran, terutama dalam proses
   penyelidikan, penyidikan, dan persidangan yang transparan, dan terbuka dalam
   rangka mewujudkan tertib sosial dan disiplin sosial, sehingga mendukung
   pembangunan serta memantapkan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis.



68. Pemantapan lembaga peradilan sebagai implikasi satu atap pada Lembaga
   Mahkamah Agung perlu secara terus menerus dilakukan agar pengembangan
   lembaga peradilan; peningkatan kualitas dan profesionalisme hakim pada semua
   lingkungan peradilan; dukungan sarana dan prasarana pada semua lingkungan
   peradilan sehingga akan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap citra
   lembaga peradilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan.




                                       66
69. Penyelenggaraan negara dilakukan melalui penuntasan penanggulangan
   penyalahgunaan      kewenangan,     termasuk      KKN,      peningkatan      kualitas
   penyelenggaraan     administrasi    negara,     dan    peningkatkan     keberdayaan
   masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan.



70. Penuntasan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dicapai dengan
   penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik pada semua tingkat dan
   lini pemerintahan dan pada semua kegiatan; pemberian sanksi yang seberat-
   beratnya kepada pelaku penyalahguna kewenangan sesuai dengan ketentuan
   yang berlaku; peningkatan instensitas dan efektivitas pengawasan aparatur
   negara melalui pengawasan internal, pengawasan fungsional dan pengawasan
   masyarakat; peningkatan etika birokrasi dan budaya kerja serta pengetahuan dan
   pemahaman      para       penyelenggara       negara    terhadap      prinsip-prinsip
   ketatapemerintahan yang baik.



71. Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi negara dicapai dengan
   penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan agar lebih memadai,
   ramping,    luwes   dan    responsif;   peningkatan     efektivitas   dan   efisiensi
   ketatalaksanaan dan prosedur administrasi negara pada semua tingkat dan antar
   tingkat pemeritahan; penataan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia
   aparatur agar sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas dan
   fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat;
   peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakuan sistem karier berdasarkan
   prestasi.



72. Peningkatan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan
   dicapai dengan peningkatan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar
   untuk memenuhi kebutuhan masyarakat; serta peningkatan kapasitas masyarakat




                                           67
   untuk dapat mandiri, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan mengawasi
   jalannya pemerintahan.



73. Struktur politik disempurnakan dengan titik berat pada proses pelembagaan
   demokrasi    dengan    mempromosikan        dan    mensosialisasikan   pentingnya
   keberadaan sebuah Konstitusi yang lebih kuat dan memiliki kredibilitas tinggi
   sebagai pedoman dasar bagi sebuah proses demokratisasi berkelanjutan; menata
   hubungan antara kelembagaan politik dengan kelembagaan pertahanan
   keamanan dalam kehidupan bernegara; meningkatkan kinerja lembaga-lembaga
   penyelenggara negara dalam menjalankan kewenangan dan fungsi-fungsi yang
   diberikan   oleh   Konstitusi   dan    peraturan    perundangan;   memantapkan
   pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah, serta mencegah disintegrasi
   wilayah dan perpecahan bangsa; mewujudkan rekonsiliasi nasional secara
   berkelanjutan; serta menciptakan pelembagaan lebih lanjut untuk mendukung
   berlangsungnya konsolidasi demokrasi secara berkelanjutan.



74. Peran negara dan masyarakat ditata dengan titik berat pada pembentukan
   kemandirian dan kedewasaan masyarakat, dan pembentukan kelas menengah
   yang kuat dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Disamping itu, penataan
   peran negara dan masyarakat diarahkan pada penataan fungsi-fungsi tradisional
   yang positif dari pranata-pranata kemasyarakatan, lembaga hukum dan lembaga
   politik untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola berbagai
   potensi konflik sosial yang merusak.



75. Budaya politik dikembangkan dengan titik berat pada proses penanaman nilai-
   nilai demokratis diupayakan melalui penciptaan kesadaran budaya dan
   penanaman nilai-nilai politik demokratis terutama penghormatan nilai-nilai hak
   asasi manusia, nilai-nilai persamaan, anti kekerasan, serta nilai-nilai toleransi
   politik, melalui berbagai wacana dan media; serta perwujudan berbagai wacana


                                          68
   dialog bagi peningkatan kesadaran mengenai pentingnya memelihara persatuan
   bangsa.



76. Proses politik ditata dengan titik berat pada proses pengalokasian/representasi
   kekuasaan melalui peningkatan secara terus menerus proses dan mekanisme
   seleksi publik yang lebih terbuka bagi para pejabat politik dan publik, serta
   calon pemimpin nasional; perwujudan komitmen politik yang tegas terhadap
   pentingnya kebebasan media massa, keleluasaan berserikat, berkumpul, dan
   menyatakan pendapat setiap warganegara berdasarkan aspirasi politiknya
   masing-masing.



77. Peranan komunikasi dan informasi ditingkatkan dengan penekanan pada proses
   pencerdasan masyarakat dalam kehidupan politik dan dilakukan dengan
   mewujudkan kebebasan pers yang lebih mapan dan terlembaga serta menjamin
   hak   masyarakat    luas   untuk    berpendapat     dan    mengontrol      jalannya
   penyelenggaraan negara secara cerdas dan demokratis; mewujudkan pemerataan
   informasi yang lebih besar dengan mendorong dan melindungi munculnya
   media-media massa daerah yang bebas; mewujudkan deregulasi yang lebih
   besar dalam bidang penyiaran sehingga dapat lebih menjamin pemerataan
   informasi secara nasional dan mencegah monopoli informasi; menciptakan
   jaringan informasi yang lebih bersifat interaktif antara masyarakat dan kalangan
   pengambil keputusan politik untuk menciptakan kebijakan yang lebih mudah
   dipahami masyarakat luas; menciptakan jaringan teknologi informasi dan
   komunikasi yang mampu menghubungkan seluruh link informasi yang ada di
   pelosok nusantara sebagai suatu kesatuan yang mampu mengikat dan
   memperluas integritas bangsa; memanfaatkan jaringan teknologi informasi dan
   komunikasi secara efektif agar mampu memberikan informasi yang                lebih
   komprehensif     kepada    masyarakat     internasional   supaya   tidak    terjadi
   kesalahpahaman yang dapat meletakkan Indonesia pada posisi politik yang
   menyulitkan.

                                        69
78. Pembangunan agama diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama
   sebagai landasan moral dalam pembangunan nasional serta basis etika sosial
   dalam penyelenggaraan negara guna mewujudkan pemerintahan yang bersih.



   Indonesia yang aman dan bersatu tercermin dari meningkatnya rasa aman dan
damai bagi seluruh rakyat serta terjaganya keutuhan wilayah NKRI dan kedaulatan
negara dari ancaman baik dari dalam negeri maupun luar negeri dengan pencapaian
sasaran-sasaran pokok sebagai berikut.

   o Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, dan bermoral tinggi
      yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia
      yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur,
      toleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, dan berorientasi iptek.
   o Makin mantapnya budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya
      peradaban, harkat dan martabat manusia Indonesia, dan memperkuat jati diri
      dan kepribadian bangsa.
   o Terwujudnya      kemampuan pertahanan dan keamanan               yang     mampu
      menegakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan
      bangsa dengan daya tangkal yang tangguh terhadap segala ancaman serta
      mampu menciptakan kondisi masyarakat yang aman, damai, tertib dan
      tenteram tercermin dari kehandalan segenap komponen kekuatan pertahanan
      keamanan, yaitu: TNI yang profesional, komponen cadangan dan pendukung
      pertahanan yang kuat terutama bela negara masyarakat dengan dukungan
      industri pertahanan yang handal; Polri yang profesional, partisipasi kuat
      masyarakat    dalam bidang keamanan, intelijen dan kontra intelijen yang
      efektif, serta mantapnya koordinasi antara institusi pertahanan dan
      keamanan.




                                         70
79. Pembangunan agama diarahkan untuk meningkatkan kerukunan hidup umat
   beragama dengan meningkatkan rasa saling percaya dan harmonisasi
   antarkelompok masyarakat. Dimensi kerukunan ini sangat penting dalam rangka
   membangun      masyarakat     yang   memiliki     kesadaran   mengenai   realitas
   multikulturalisme dan memahami makna kemajemukan sosial sehingga tercipta
   suasana kehidupan masyarakat yang penuh toleransi, tenggang rasa, dan
   harmonis.



80. Pembangunan dan pemantapan jatidiri bangsa ditujukan untuk mewujudkan
   karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar, unik, modern dan unggul.
   Jatidiri tersebut merupakan kombinasi antara nilai luhur bangsa - seperti
   religius, kebersamaan dan persatuan - dan nilai modern yang universal - seperti
   etos kerja dan prinsip tata kepenerintahan yang baik. Pembangunan jatidiri
   bangsa tersebut dilakukan melalui transformasi, revitalisasi, dan reaktualisasi
   tata nilai budaya bangsa yang mempunyai potensi unggul dan menerapkan nilai
   modern yang membangun.



81. Pemantapan integrasi bangsa berbasis multikultur diarahkan agar keragaman
   menjadi sumber kekuatan ikatan kebangsaan. Penggunaan bahasa Indonesia
   akan diperluas dalam memperkuat ikatan kebangsaan. Pemantapan integrasi
   bangsa berbasis multikultur dilakukan dengan mengembangkan berbagai wujud
   ikatan kebangsaan baik yang bersifat emosional maupun rasional. Dalam kaitan
   itu pembangunan pendidikan didorong untuk menumbuhkan kebanggaan
   kebangsaan, akhlak mulia, serta kemampuan peserta didik untuk hidup bersama
   (how to live together) dalam masyarakat yang multi-kultur.



82. Pembangunan     pertahanan    diarahkan   pada     upaya-upaya   terus-menerus
   pengembangan sistem dan strategi pertahanan, refokusing postur dan struktur
   pertahanan,    peningkatan profesionalisme TNI, pembangunan secara efektif


                                        71
   alutista, pemantapan komponen cadangan pendukun pertahanan, agar mampu
   menegakkan kedaulatan negara, menjaga keselamatan bangsa, serta keutuhan
   wilayah NKRI yang meliputi wilayah darat yang tersebar dan beragam, wilayah
   yurisdiksi laut hingga meliputi ZEE Indonesia dan landasan kontinen, serta
   ruang udara nasional.



83. Sistem dan strategi pertahanan nasional secara terus menerus disempurnakan
   yang melibatkan seluruh potensi nasional melingkupi komponen utama
   pertahanan, komponen cadanganpendukung pertahanan dan diselenggarakan
   secara menyeluruh, terpadu, terarah, dan berkelanjutan dalam tahapan. Sistem
   dan strategi pertahanan dibangun sebagai pengembangan dari sistem pertahanan
   semesta atas dasar pengembangan sistem berdasarkan ancaman menuju
   pengembangan berdasarkan kapabilitas pertahanan.



84. Refokusing postur dan struktur pertahanan diarahkan untuk dapat menjawab
   segera kemungkinan tantangan, permasalahan aktual, dan pembangunan
   kapabilitas jangka panjang yang sesuai dengan kondisi geografis dan dinamika
   masyarakat. Postur dan struktur pertahanan matra darat diarahkan untuk mampu
   mengatasi kondisi medan dan topografis yang beragam, melakukan pergerakan
   cepat antar wilayah dan pulau, dan mengatasi ancaman dengan efisien. Postur
   dan struktur matra laut diarahkan untuk membangun kemampuan untuk
   mengatasi luasnya wilayah laut nusantara di permukaan dan kedalaman dan
   memberikan dukungan dan kompatibilitas terhadap pergerakan matra darat dan
   udara. Postur dan struktur matra udara diarahkan untuk dapat mengawasi
   terutama ruang udara nasional dan sebagian ruang udara regional, mampu
   melampui kebutuhan minimal penjagaan ruang udara nasional, memulai
   pemanfaatan ruang angkasa, dan memberika dukungan operasi bersama antar
   matra.




                                      72
85. Peningkatan profesionalisme TNI dilaksanakan dengan tetap menjaga netralitas
   politik dan memusatkan diri pada tugas-tugas pertahanan dalam bentuk operasi
   militer untuk perang maupun operasi militer selain perang melalui fokus
   pengembangan SDM dan pembangunan Alutista. Sebagai komponen utama
   pertahanan, sumber daya manusia TNI disiapkan dengan kecukupan jumlah
   personil setiap matra, kesiapan yang diwujudkan dalam kondisi selalu terlatih,
   memiliki penguasaan lapangan yang tinggi, penguasaan operasional dan
   perawatan peralatan perang modern, memiliki doktrin dan organisasi militer
   yang solid, memiliki manajemen pribadi yang baik, mampu mengemban
   pelaksanaan tugas kemanusiaan, tanggap terhadap kemajuan teknologi dan
   perkembangan sosial masyarakat, serta memiliki kompetensi dalam masa purna
   tugas. Peningkatan profesionalisme dari SDM TNI tersebut dimbangi dengan
   meningkatkan kesejahteraan melalui kecukupan gaji, penyediaan dan fasilitasi
   rumah tinggal,   jaminan kesehatan, peningkatan pendidikan, dan penyiapan
   skema asuransi masa tugas.



86. Peningkatan kondisi dan jumlah alat utama sistem senjata masing-masing matra
   dilaksanakan menurut validasi postur dan struktur pertahanan untuk dapat
   melampui kebutuhan minimum essential force. Pemenuhan kebutuhan alutista
   dipenuhi secara bertahap sejalan dengan kemampuan keuangan negara atas
   dasar   perkembangan         teknologi,    prinsip   kemandirian,   kemudahan
   interoperabilitas dan perawatan, serta aliansi strategis. Pengembangan alutista
   diarahkan dengan strategi akuisisi alat teknologi tinggi dengan efek deterrence
   dan pemenuhan kebutuhan dasar operasional secara efektif dan efisien dengan
   mendayagunakan dan mengembangkan potensi dalam negeri dalam prinsip
   keberlanjutan.



87. Pemantapan komponen cadangan dan pendukung pertahanan negara dalam
   kerangka basis strategi teknologi, dan pembiayaan terus ditingkatkan dalam
   proses yang bersifat kontinu maupun terobosan. Peningkatan kemampuan

                                         73
   komponen dukungan pertahanan tersebut meliputi penguasaan kemampuan
   pemanfaatan kondisi sumber daya alam dan buatan, sinkroniasi pembangunan
   sarana dan prasarana nasional terhadap kepentingan pertahanan, partisipasi civil
   society dalam penyusunan kebijakan pertahanan, komponen bela negara
   masyarakat, dukungan mutualisme industri strategis secara langsung maupun
   kemampuan konversi industri, serta keberlanjutan pembiyaan melalui rekayasa
   keuangan (financial engineering).



88. Perlindungan wilayah yurisdiksi laut Indonesia ditingkatkan dalam upaya
   melindungi sumber daya laut bagi kemakmuran sebesar-besarnya rakyat.
   Perlindungan terhadap wilayah yurisdiksi laut Indonesia dilakukan dengan
   meningkatkan kekuatan dan kemampuan pertahanan untuk melakukan
   pengawasan dan penegakan hukum internasional (UNCLOS) serta dengan
   meningkatkan kemampuan deteksi dan penangkalan di laut. Perlindungan
   wilayah yurisdiksi udara Indonesia ditingkatkan sebagai upaya untuk menjaga
   kedaulatan nasional secara menyeluruh dengan membangun sistem pemantauan
   dan deteksi nasional di wilayah udara serta meningkatkan kemampuan
   menangkal penerbangan illegal.



89. Kebijakan   pembangunan      keamanan     diarahkan    untuk    meningkatkan
   profesionalisme Polri beserta institusi terkait dengan masalah keamanan dan
   meningkatkan peran serta masyarakat dalam rangka mewujudkan terjaminnya
   keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta
   terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.



90. Peningkatan profesionalisme Polri dicapai melalui pembangunan kompetensi
   pelayanan inti, memperbaiki rasio polisi terhadap penduduk, pembinaan SDM,
   pemenuhan kebutuhan alat utama, serta membangun pengawasan dan
   mekanisme kontrol lembaga kepolisian. Arah pengembangan organisasi dan

                                        74
   fungsi kepolisian disesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan strategis
   faktor   pengendali   utamanya    adalah   antisipasi   perkembangan   karakter
   kewilayahan dan faktor-faktor demografis. Profesionalisme SDM kepolisian
   ditingkatkan melalui penyempurnaan seleksi, perbaikan pendidikan dan
   pelatihan, dan pembangunan spirit of the corps. Peningkatan profesionalisme
   tersebut diikuti dengan peningkatan bertahap kesejahteraan aparat kepolisian
   melalui kenaikan penghasilan, penyediaan dan fasilitasi rumah tinggal, jaminan
   kesehatan, dan tunjangan purna tugas.



91. Peran serta masyarakat dalam penciptaan keamanan masyarakat akan dibangun
   melalui mekanisme pemolisian masyarakat. Pemolisian masyarakat berarti
   masyarakat turut bertanggung jawab dan berperan aktif dalam penciptaan
   keamanan dan ketertiban dalam bentuk kerjasama dan kemitraan dengan polisi
   dalam menjaga keamanan dan ketertiban.



92. Profesionalisme intelijen dan kontra intelijen ditingkatkan dalam mendeteksi,
   melindungi, dan melakukan tindakan pencegahan berbagai ancaman, tantangan,
   hambatan dan gangguan yang berpengaruh terhadap kepentingan keamanan
   nasional.



93. Koordinasi antara institusi pertahanan dan keamanan terus ditingkatkan meliputi
   intelijen dan kontra intelijen, Polri, dan TNI dalam upaya menanggulangi
   masalah aktual keamanan nasional khususnya: masalah separatisme, terorisme,
   konflik horizontal, dan kejahatan transnasional untuk kemudian dapat
   memantapkan kondisi keamanan nasional secara keseluruhan.




                                        75
Selain itu ada pula rencana dan strategi pembangunan ekonomi Indonesia
melalui pidato Presiden Yudhoyono, Jakarta 14/8/09:
         Sudah saatnya kita memilih dan kemudian menjalankan paradigma dan grand
strategy            pembangunan         ekonomi       kita     yang      lebih      tepat.
Menurut Presiden, kita harus memetik pelajaran dari krisis perekonomian besar yang
terjadi sekarang ini, dan menelurkan pikiran-pikiran besar tentang arah dan strategi
pembangunan                                       ekonomi                            kita.
Pertama-tama, pembangunan ekonomi Indonesia ke depan nanti mesti lebih memadukan
pendekatan sumber daya (resources), pengetahuan (knowledge), dan budaya (culture) yang
kita miliki.
         Ekonomi Indonesia, katanya, ekonomi 230 juta manusia yang akan terus
bertambah, ekonomi tanah air seluas 8 juta km persegi, juga harus memiliki
kesinambungan. “Pertumbuhan ekonomi yang kita pilih dan anut adalah pertumbuhan
disertai pemerataan, growth with equity, agar benar-benar membawa rasa adil,” kata
Presiden                                                                            SBY.
Ke depan, lanjut SBY, kita harus memperkuat ekonomi dalam negeri, pasar dalam negeri,
dan tidak boleh hanya menggantungkan kekuatan ekspor sebagai sumber pertumbuhan
kita. “Oleh karena itu strategi yang hanya bersifat export oriented tentu bukanlah pilihan
kita,”                                                                           katanya.


         Di sisi lain, kata SBY, ekonomi nasional mestilah berdimensi kewilayahan, dengan
pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh tanah air. “Daerah-daerah harus menjadi
kekuatan ekonomi lokal. Sumber-sumber investasi dan pendanaan dalam negeri juga mesti
kita perkuat. Kemandirian dan ketahanan pada bidang-bidang atau sektor ekonomi tertentu
harus       terus     kita   perkuat,     terutama    pangan   dan    energi,”   katanya.
Menurut SBY, ekonomi nasional mesti dikembangkan berdasarkan keunggulan komparatif
(comparative advantage) dan sekaligus keunggulan kompetitif (competitive advantage).
Dan, terakhir, diperlukan ekonomi nasional yang dilandasi oleh mekanisme pasar untuk
efisiensi, tetapi juga memberikan ruang bagi peran pemerintah yang tepat untuk menjamin
keadilan.




                                               76
Tantangan Pembangunan Indonesia ke Depan

        Tantangan pembangunan Indonesia ke depan sangat berat dan berbeda dengan
yang sebelumnya. Paling tidak ada 4 (empat) tantangan yang dihadapi Indonesia, yaitu:

(i)           Otonomi daerah,

(ii)         Pergeseran orientasi pembangunansebagai negara maritim,

(iii)        Ancaman dan sekaligus peluang globalisasi, serta

(iv)         Kondisi objektif akibat krisis ekonomi.

        Pertama, Undang-undang No. 22 tahun 1999 secara tegas meletakkan otonomi
daerah di daerah kabupaten/kota. Hal ini berarti telah terjadi penguatan yang nyata dan
legal terhadap kabupaten/kota dalam menetapkan arah dan target pembangunannya sendiri.
Di satu sisi, penguatan ini sangat penting karena secara langsung permasalahaan yang
dirasakan masyarakat di kabupaten/kota langsung diupayakan diselesaikan melalui
mekanisme yang ada di kabupaten/kota tersebut. Tetapi, di sisi lain, otonomi ini justru
menciptakan ego daerah yang lebih besar dan bahkan telah menciptakan konflik antar
daerah yang bertetangga dan ancaman terhadap kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

        Kedua, reorientasi pembangunan Indonesia ke depan adalah keunggulan
sebagai negara maritim. Wilayah kelautan dan pesisir beserta sumberdaya alamnya
memiliki makna strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia, karena dapat diandalkan
sebagai salah satu pilar ekonomi nasional.

        Ketiga, ancaman dan peluang dari globalisasi ekonomi terhadap Indonesia yang
terutama diindikasikan dengan hilangnya batas-batas negara dalam suatu proses ekonomi
global. Proses ekonomi global cenderung melibatkan banyak negara sesuai dengan
keunggulan kompetitifnya seperti sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur,
penguasaan teknologi, inovasi proses produksi dan produk, kebijakan pemerintah,




                                             77
keamanan, ketersediaan modal, jaringan bisnis global, kemampuan dalam pemasaran dan
distribusi global.




Ada empat manfaat yang dirasakan dari globalisasi ekonomi, yaitu

(i)          Spesialisasi produk yang didasarkan pada keunggulan absolut atau

              komparatif,

(ii)         Potensi pasar yang besar bagi produk masal,

(iii)       Kerjasama pemasaran bagi hasil bumi dan tambang untuk memperkuat

              posisi tawar,

(iv)        Adanya pasar bersama 6untuk produk-produk ekspor yang sama ke pasar

              Asia

        Pasifik yang memiliki 70% pasar dunia. Di           sisi lain, globalisasi juga
memberikan ancaman terhadap ekonomi nasional dan daerah berupa membanjirnya
produk-produk asing yang menyerbu pasar-pasar domestik akibat tidak kompetitifnya
harga produk lokal.

        Terakhir, kondisi objektif akibat krisis ekonomi (jatuhnya kinerja makro ekonomi
menjadi –13% dan kurs rupiah yang terkontraksi sebesar 5-6 kali lipat) dan multi dimensi
yang dialami Indonesia telah menyebabkan tingginya angka penduduk miskin menjadi
49,5 juta atau 24,2% dari total penduduk Indonesia pada tahun 1997/1998 dan mulai
membaik pada tahun 1999 menjadi 23,4% atau 47,97 juta jiwa. Di sisi lain, krisis
ekonomi ini menjadi pemacu krisis multidimensi, seperti krisis sosial, dan krisis
kepercayaan terhadap pemerintah

Peran Pancasila di Era Globalisasi

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan politik ketika negara
Indonesia didirikan,dan hingga sekarang di era globalisasi,Negara Indonesia tetap

                                            78
berpegang teguh kepada pancasila sebagai dasar negara.Sebagai dasar negara tentulah
pancasila harus menjadi acuan Negara dalam menghadapi tantangan global dunia yang
terus                                                                        berkembang.
Di era globalisasi ini peran pancasila tentulah sangat penting untuk tetap menjaga
eksistensi kepribadian bangsa indonesia,karena dengan adanya globalisasi batasan batasan
diantara negara seakan tak terlihat,sehingga berbagai kebudayaan asing dapat masuk
dengan mudah ke masyarakat.

1.Fenomena Globalisasi
        Globalisasi adalah fenomena dimana batasan-batasan antar negara seakan memudar
karena terjadinya berbagai perkembangan di segala aspek kehidupan,khususnya di bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi.Dengan terjadinya perkembangan berbagai aspek
kehidupan khususnya di bidang iptek maka manusia dapat pergi dan berpindah ke berbagai
negara dengan lebih mudah serta mendapatkan berbagai informasi yang ada dan yang
terjadi di dunia.
        Namun fenomena globalisasi ini tidak selalu memberi dampak positif,berbagai
perubahan yang terjadi akibat dari globalisasi sudah sangat terasa,baik itu di bidang
politik,ekonomi,sosial,budaya,dan teknologi informasi.Berbagai dampak negatif terjadi
dikarenakan manusia kurang bisa memfilter dampak dari globalisasi sehingga lebih banyak
mengambil hal-hal negatif dari pada hal-hal positif yang sebenarnya bisa lebih banyak kita
dapatkan dari fenomena globalisasi ini.


2.Pancasila Sebagai Pedoman Dalam Menghadapi Globalisasi
        Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang sudah ditentukan oleh para pendiri
negara ini haruslah menjadi sebuah acuan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan
bernegara,berbagai tantangan dalam menjalankan ideologi pancasila juga tidak mampu
untuk menggantikankan pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia,pancasila terus
dipertahankan oleh segenap bangsa Indonesia sebagai dasar negara,itu membuktikan
bahwa pancasila merupakan ideologi yang sejati untuk bangsa Indonesia.
        Oleh karena itu tantangan di era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi
kepribadian bangsa,dan kini mau tak mau,suka tak suka ,bangsa Indonesia berada di
pusaran arus globalisasi dunia.Tetapi harus diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia tak
mesti kehilangan jatidiri,kendati hidup ditengah-tengah pergaulan dunia.Rakyat yang
tumbuh di atas kepribadian bangsa asing mungkin saja mendatangkan kemajuan,tetapi

                                           79
kemajuan tersebut akan membuat rakyat tersebut menjadi asing dengan dirinya
sendiri.Mereka kehilangan jatidiri yang sebenarnya sudah jelas tergambar dari nilai-nilai
luhur pancasila.
        Dalam arus globalisasi saat ini dimana tidak ada lagi batasan-batasan yang jelas
antar setiap bangsa Indonesia,rakyat dan bangsa Indonesia harus membuka diri.
Dahulu,sesuai      dengan   tangan   terbuka    menerima     masuknya    pengaruh    budaya
hindu,islam,serta      masuknya      kaum           barat   yang   akhirnya      melahirkan
kolonialisme.pengalaman pahit berupa kolonialisme tentu sangat tidak menyenangkan
untuk kembali terulang. Patut diingat bahwa pada zaman modern sekarang ini wajah
kolonialisme dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk fisik, tetapi dalam wujud lain
seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski tidak berwujud fisik, tetapi penguasaan
politik dan ekonomi nasional oleh pihak asing akan berdampak sama seperti penjajahan
pada masa lalu, bahkan akan terasa lebih menyakitkan.
        Dalam pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang menutup diri rapat-rapat dari
dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan kemajuan bangsa-
bangsa lain. Bahkan, negara sosialis seperti Uni Soviet—yang terkenal anti dunia luar—
tidak bisa bertahan dan terpaksa membuka diri. Maka, kini, konsep pembangunan modern
harus membuat bangsa dan rakyat Indonesia membuka diri.
        Dalam upaya untuk meletakan dasar-dasar masyarakat modern, bangsa Indonesia
bukan hanya menyerap masuknya modal, teknologi, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan,
tetapi juga terbawa masuk nilai-nilai sosial politik yang berasal dari kebudayaan bangsa
lain. Yang terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia mampu menyaring
agar hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa saja
yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai apalagi merusak tata nilai
budaya nasional mesti ditolak dengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan tersebut terletak
pada Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Bila rakyat dan bangsa
Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka nilai-nilai atau budaya dari
luar yang tidak baik akan tertolak dengan sendirinya. Cuma, persoalannya, dalam kondisi
yang serba terbuka seperti saat ini justeru jati diri bangsa Indonesia tengah berada pada
titik                                                                                  nadir.
Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya sendiri sehingga
budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun tidak sesuai terserap bulat-bulat.




                                               80
       Nilai-nilai yang datang dari luar serta-merta dinilai bagus, sedangkan nilai-nilai
luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam hati sanubari rakyat dinilai usang.
Lihat saja sistem demokrasi yang kini tengah berkembang di Tanah Air yang mengarah
kepada faham liberalisme. Padahal, negara Indonesia—seperti ditegaskan dalam pidato
Bung Karno di depan Sidang Umum PBB—menganut faham demokrasi Pancasila yang
berasaskan gotong royong, kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat.
       Sistem politik yang berkembang saat ini sangat gandrung dengan faham liberalisme
dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila yang seharusnya dibangun
dan diwujudkan rakyat dan bangsa Indonesia. Terlihat jelas betapa demokrasi diartikan
sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan
dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak
orang lain. Budaya dari luar, khususnya faham liberalisme, telah merubah sudut pandang
dan jati diri bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal
memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Akibatnya, seperti
terlihat saat ini, konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite politik tampak hanya
memikirkan kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.
       Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan
dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja
yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu,
nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa
Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar
mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai.
Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap
persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut .
       Dalam pandangan hidup terkandung konsep mengenai dasar kehidupan yang dicita-
citakan suatu bangsa. Juga terkandung pikiran-pikiran terdalam dan gagasan suatu bangsa
mengenai wujud kehidupan yang dicita-citakan. Pada akhirnya pandangan hidup bisa
diterjemahkan sebagai sebuah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa yang
diyakini kebenarannya serta menimbulkan tekad bagi bangsa yang bersangkutan untuk
mewujudkannya. Karena itu, dalam pergaulan kehidupan berbangsa dan bernegara, bangsa
Indonesia tidak bisa begitu saja mencontoh atau meniru model yang dilakukan bangsa lain,
tanpa menyesuaikan dengan pandangan hidup dan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri.




                                               81
Dampak Positif Pembangunan Ekonomi

      Melalui pembangunan ekonomi, pelaksanaan kegiatan perekonomian akan berjalan
       lebih lancar dan mampu mempercepat proses pertumbuhan ekonomi.
      Adanya pembangunan ekonomi dimungkinkan terciptanya lapangan pekerjaan
       yang   dibutuhkan   oleh   masyarakat,    dengan   demikian   akan   mengurangi
       pengangguran.
      Terciptanya lapangan pekerjaan akibat adanya pembangunan ekonomi secara
       langsung bisa memperbaiki tingkat pendapatan nasional.
      Melalui pembangunan ekonomi dimungkinkan adanya perubahan struktur
       perekonomian dari struktur ekonomi agraris menjadi struktur ekonomi industri,
       sehingga kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh negara akan semakin beragam
       dan dinamis.
      Pembangunan ekonomi menuntut peningkatan kualitas SDM sehingga dalam hal
       ini, dimungkinkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang dengan pesat.
       Dengan demikian, akan makin meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dampak Negatif Pembangunan Ekonomi

      Adanya pembangunan ekonomi yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan
       adanya kerusakan lingkungan hidup.
      Industrialisasi mengakibatkan berkurangnya lahan pertanian.

Perdagangan Bebas, Pasar Bebas, Free Trade, Pasar Bebas antara ASEAN dan China


       Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada
Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari
World Customs Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. penjualan produk antar
negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya.
       Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan
buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-
individual dan perusahaanperusahaan yang berada di negara yang berbeda.
Perdagangan internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan
yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor.
Secara teori, semuha hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas.


                                            82
Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh
penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada
terciptanya pasar bebas.
Perjanjian-perjanjian      tersebut   sering   dikritik   karena   melindungi   kepentingan
perusahaanperusahaan besar.



Sejarah Pasar Bebas


       Sejarah dari perdagangan bebas internasional adalah sejarah perdagangan
internasional memfokuskan dalam pengembangan dari pasar terbuka. Diketahui bahwa
bermacam kebudayaan yang makmur sepanjang sejarah yang bertransaksi dalam
perdagangan.
       Berdasarkan hal ini,secara teoritis rasionalisasi sebagai kebijakan dari perdagangan
bebas akan menjadi menguntungkan ke negara berkembang sepanjang waktu. Teori ini
berkembang dalam rasa moderennya dari kebudayaan komersil di Inggris, dan lebih luas
lagi Eropa, sepanjang lima abad yang lalu. Sebelum kemunculan perdagangan bebas, dan
keberlanjutan hal tersebut hari ini, kebijakan dari merkantilisme telah berkembang di
Eropa di tahun 1500.
        Ekonom awal yang menolak merkantilisme adalah David Ricardo dan Adam
Smith. Ekonom yang menganjurkan perdagangan bebas percaya kalau itu merupakan
alasan kenapa beberapa kebudayaan secara ekonomis makmur. Adam Smith, contohnya,
menunjukkan kepada peningkatan perdagangan sebagai alasan berkembangnya kultur
tidak hanya di Mediterania seperti Mesir, Yunani, dan Roma, tapi juga Bengal dan
Tiongkok. Kemakmuran besar dari Belanda setelah menjatuhkan kekaisaran Spanyol, dan
mendeklarasikan perdagangan bebas dan kebebasan berpikir, membuat pertentangan
merkantilis/perdagangan bebas menjadi pertanyaan paling penting dalam ekonomi untuk
beberapa abad. Kebijakan perdagangan bebas telah berjibaku dengan merkantilisme,
proteksionisme, isolasionisme, komunisme dan kebijakan lainnya sepanjang abad.



Pro-kontra perdagangan bebas




                                               83
       Banyak ekonom yang berpendapat bahwa perdagangan bebas meningkatkan
standar hidup melalui teori keuntungan komparatif dan ekonomi skala besar. Sebagian lain
berpendapat    bahwa     perdagangan   bebas   memungkinkan      negara   maju    untuk
mengeksploitasi negara berkembang dan merusak industri lokal, dan juga membatasi
standar kerja dan standar sosial.
        Sebaliknya pula, perdagangan bebas juga dianggap merugikan negara maju karena
ia menyebabkan pekerjaan dari negara maju berpindah ke negara lain dan juga
menimbulkan perlombaan serendah mungkin yang menyebabkan standar hidup dan
keamanan yang lebih rendah.
       Perdagangan bebas dianggap mendorong negara-negara untuk bergantung satu
sama lain, yang berarti memperkecil kemungkinan perang.



Menggugat Mitos-mitos Neoliberalisme tentang Pasar Bebas


       Neoliberalisme sebagai perwujudan baru paham liberalisme saat ini dapat
dikatakan telah menguasai sistem perekonomian dunia. Paham liberalisme dipelopori oleh
ekonom asal Inggris Adam Smith dalam karyanya The Wealth of Nations (1776). Sistem
ini sempat menjadi dasar bagi ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat dari
periode 1800-an hingga masa kejatuhannya pada periode krisis besar (Great Depression) di
tahun 1930.
        Sistem ekonomi yang menekankan pada penghapusan intervensi pemerintah ini
mengalami kegagalan untuk mengatasi krisis ekonomi besar-besaran yang terjadi saat itu.
Selanjutnya sistem liberal digantikan oleh gagasan-gagasan dari John Maynard Keynes
yang digunakan oleh Presiden Roosevelt dalam kebijakan New Deal.
        Kebijakan itu ternyata terbukti sukses karena mampu membawa negara selamat
dari bencana krisis ekonomi. Inti dari gagasannya menyebutkan tentang penggunaan full
employment yang dijabarkan sebagai besarnya peranan buruh dalam pengembangan
kapitalisme dan pentingnya peran serta pemerintah dan bank sentral dalam menciptakan
lapangan kerja. Kebijakan ini mampu menggeser paham liberalisme untuk beberapa saat
sampai munculnya kembali krisis kapitalisme
yang berakibat semakin berkurangnya tingkat profit dan menguatnya perusahaan-
perusahaan transnasional atau Trans Nasional Corporation/Multi Nasional Corporation
(TNC/MNC).

                                          84
          Menguatnya kekuatan modal dan politik perusahaan-perusahaan transnasional
(TNC/MNC) yang banyak muncul di negara-negara maju makin meningkatkan tekanan
untuk mengurangi berbagai bentuk intervensi pemerintah dalam perekonomian karena hal
itu akan berpengaruh pada berkurangnya keuntungan yang mereka terima. Melalui
kebijakan politik negara-negara maju dan institusi moneter seperti IMF, Bank Dunia dan
WTO, mereka mampu memaksakan penggunaan kembali paham liberalisme gaya baru
atau yang lebih dikenal dengan sebutan paham
neo-liberalisme.



Paham Neoloberalisme


        Secara garis besar Mansour Fakih (2003) menjelaskan pendirian paham
neoliberalisme:
1. biarkan pasar bekerja tanpa distorsi (unregulated market is the best way to increase
economic
growth), keyakinan ini berakibat bahwa perusahaan swasta harus bebas dari intervensi
pemerintah, apapun akibat sosial yang dihasilkan.
2. kurangi pemborosan dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak perlu
seperti subsidi untuk pelayanan sosial seperti anggaran pendidikan, kesehatan dan jaminan
sosial lainnya.
3. perlu diterapkan deregulasi ekonomi, mereka percaya bahwa regulasi selalu mengurangi
keuntungan, termasuk regulasi mengenai AMDAL, keselamatan kerja dan sebagainya.
4.   privatisasikan   semua   badan   usaha        negara.   Privatisasi   ini   termasuk   juga
perusahaan‐perusahaan strategis yang melayaani kepentignan rakyat banyak seperti PLN,
Sekolah dan Rumah Sakit. Hal ini akan mengakibatkan konsentrasi kapital di tangan
sedikit orang dan memaksa rakyat kecil membayar lebih mahal atas kebutuhan dasar
mereka.
5. masukkan gagasan seperti “barang‐barang publik”, “gotong‐royong” serta berbagai
keyakinan solidaritas sosial yang hidup di masyarakat ke dalam peti es dan selanjutnya
digantikan dengan gagasan “tanggung jawab individual”. Masing‐masing orang akan
bertanggung jawab terhadap kebutuhan mereka sendiri‐sendiri. Golongan paling miskin di
masyarakat akan menjadi korban gagasan ini karena merekalah yang paling kesulitan
untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

                                              85
Mitos


Dalam rangka memantapkan kebijakan neo-liberalisme, para pendukungnya secara gencar
mengampanyekan mitos-mitos berkaitan dengan neo-liberalisme dan lebih lanjut tentang
pasarbebas. Lebih lanjut dijelaskan oleh Mansour Fakih (2003) bahwa mitos-mitos itu
diantaranyaadalah :
1. perdagangan bebas akan menjamin pangan murah dan kelaparan tidak akan terjadi.
Kenyataan yang terjadi bahwa perdagangan bebas justru meningkatkan harga pangan.
2. WTO dan TNC akan memproduksi pangan yang aman. Kenyataannya dengan
penggunaan pestisida secara berlebih dan pangan hasil rekayasa genetik justru
membahayakan kesehatan manusia dan juga keseimbangan ekologis.
3. kaum permpuan akan diuntungkan dengan pasar bebas pangan. Kenyataannya,
perempuan petani semakin tersingkir baik sebagai produsen maupun konsumen.
4. bahwa paten dan hak kekayaan intelektual akan melindungi inovasi dan pengetahuan.
Kenyataannya, paten justru memperlambat alih teknologi dan membuat teknologi menjadi
mahal.
5. perdagangan bebas di bidang pangan akan menguntungkan konsumen karena harga
murah dan banyak pilihan. Kenyataannya justru hal itu mengancam ketahanan pangan di
negara‐negara dunia ketiga.Akibat dari gagasan-gagasan yang selanjutnya diterapkan
menjadi kebijakan ini dapat kita perhatikan pada kehidupan di negeri ini. Bagaimana
rakyat menjerit akibat kenaikan harga-hargaseiring dengan ketetapan pemerintah mencabut
subsidi BBM. PHK massal mewabah karena efisiensi perusahaan akibat meningkatnya
beban biaya produksi. Mahalnya harga obat karena paten dan hak cipta yang membuat
rakyat makin sulit mendapatkannya. Mahalnya biaya perawatan rumah sakit karena
swastanisasi.
         Makin tercekiknya kesejahteraan petani akibat kebijakan impor beras dan
diperburuk dengan mahalnya harga pupuk dan obat-obatan pembasmi hama. Masih banyak
contoh yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.
Akibat dalam skala lebih luas menurut Yanuar Nugroho (2005) ternyata perekonomian
dunia saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup 800 juta dari 6.5 miliar manusia.
Itupun ia sudah mengonsumsi 80 persen dari semua sumber daya bumi yang tersedia. Jika
cara ini diteruskan, sumber daya bumi ini akan segera terkuras habis.

                                            86
       Globalisasi dan pasar bebas memang membawa kesejahteraan dan pertumbuhan,
namun hanya bagi segelintir orang karena sebagian besar dunia ini tetap menderita. Ketika
budaya lokal makin hilang akibat gaya hidup global, tiga perempat penghuni bumi ini
harus hidup dengan kurang dari dua dollar sehari. Satu miliar orang harus tidur sembari
kelaparan setiap malam. Satu setengah miliar penduduk bola dunia ini tidak bisa
mendapatkan segelas air bersih setiap hari.Satu ibu mati saat melahirkan setiap menit.



Antiglobalisasi


       Perlawanan di seluruh dunia sudah mulai berlangsung. Ketiga institusi keuangan
dunia yang dianggap sebagai alat kaum neo-liberal terus menerus ditekan. Ketiganya yaitu
WTO, IMF dan Bank Dunia selalu mendapat demonstrasai besar-besaran di setiap
pertemuan yang dilakukan. Perlawanan dalam skala besar pertama berlangsung pada
pertemua WTO di Seattle, AS. Berbagai gerakan sosial dari penjuru dunia berbondong-
bondong memadati kota Seattle. Mereka melakukan demo
besar-besaran untuk menghentikan pertemuan tersebut. Mereka berasal dari
berbagai kalangan seperti kelompok lingkungan, kelompok perempuan, aktivis buruh,
petani dan berbagai kelompok sosialis.
        Maraknya aksi yang mereka lakukan membuat pertemuan itu gagal menyelesaikan
agenda yang seharusnya dibahas.
Perlawanan selanjutnya terus menerus berlangsung mengiringi setiap pertemuan WTO.
Demo juga kerap kali berlangsung di depan kantor Bank Dunia dan IMF. Bahkan yang
paling fenomenal     adalah tewasnya      seorang petani asal       Korea   Selatan      yang
menghunjamkan tubuhnya pada barikade pasukan anti huru-hara pada pertemuan WTO di
Cancun, Meksiko(Jhamtani,2005). Pertemuan WTO di Hongkong baru-baru ini juga
mengundang aksi demonstrasi yang tak kalah besarnya.
Pada akhirnya karena situasi ekonomi global yang dikuasai paham neo-liberalisme saat ini
ternyata penuh dengan mitos-mitos palsu, kita harus lebih bisa bersikap kritis terhadapnya.
Dengan penguasaan teknologi informasi dan jaringan media global oleh perusahaan
perusahaan raksasa internasional, akan mudah sekali bagi mereka untuk menyusupkan
kembali mitos-mitos tersebut di benak kita. Untuk itu diperlukan kewaspadaan lebih dan
sikap kritis yang didukungdengan informasi yang kaya.



                                            87
Forum Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN Keluarkan Pernyataan Ketua


       Forum Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN pagi hari tanggal 01 Agustus
2010 ditutup di Kota Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang, Guangsi, bagian
barat daya Tiongkok.Pernyataan ketua yang dikeluarkan forum menyatakan akan
meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi antara kedua pihak,
bersama-sama menciptakan kemakmuran ekonomi regional.
       Pernyataan menunjukkan, Tiongkok dan ASEAN perlu terus dengan ketat
melaksanakan kewajiban yang ditetapkan dalam berbagai persetujuan, mendorong
perusahaan untuk memanfaatkan berbagai kebijakan preferensial yang disediakan zona
perdagangan bebas, berbagai negara perlu saling mengembangkan pasar investasi,
menciptakan lingkungan investasi yang fasilitas, transparan dan adil, dengan aktif
mendorong pembangunan zona kerja sama ekonomi dan kompleks industri transnasional,
membangun kawasan pertumbuhan investasi bebas rintangan.
       Pernyataan menunjukkan pula, berbagai negara perlu berkoordinasi untuk
mendorong kesatuan standar infrastruktur transportasi, mempercepat pembangunan
infrastruktur pelabuhan, jalan kereta api dan bandar udara. Selain itu, berbagai negara
perlu terus meningkatkan kerja sama sub-regional di zona pertumbuhan bagian timur
ASEAN, Sungai Mekong Raya dan Pan Teluk Beibu, agar kawasan tersebut menjadi titik
cerah dalam kerja sama antara Tiongkok dan ASEAN



Pasar Bebas ASEAN-Cina Timbulkan Pengangguran?


       Kalangan ekonom memperkirakan perdagangan bebas ASEAN Cina per 1 Januari
2010 akan membuat banyak industri nasional gulung tikar karena kalah bersaing.
Akibatnya, angka pengangguran diperkirakan melonjak.
       Menurut Kepala Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih,
berdasarkan penelitian yang ia lakukan, pengusaha Indonesia yang tak mampu bersaing
dengan Cina akan gulung tikar atau mengurangi kapasitas produksinya.
       Meski perdagangan bebas itu bisa juga berdampak signifikan pada industri
nasional, karena neraca perdagangan Indonesia-Cina pernah mencatat surplus sekitar US$
300 juta, tahun lalu Indonesia sudah mencatat defisit US$ 4 miliar. "Terbesar di sektor
nonmigas," kata Sri di Jakarta, Senin lalu.Karena itu, menurut dia, lebih baik pemerintah

                                           88
negosiasi ulang kesepakatan perdagangan bebas itu, terutama untuk sektor-sektor yang
belum siap.Di sisi lain, pemerintah harus menyiapkan industri domestik agar bisa lebih
kompetitif dengan produk Cina serta memberikan kemudahan dalam bentuk pendanaan
atau lainnya. Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, juga berpendapat
sama. Menurut dia,dalam jangka pendek perdagangan bebas ASEAN-Cina ini lebih
banyak      mengindikasikan     kerugian     dibanding   keuntungan."Pemerintah      kurang
mempersiapkan industri dalam negeri bersaing imbang dengan industri di ASEAN,
khususnya Cina," kata Lana, yang juga analis ekonomi PT Samuel Sekuritas Indonesia.
         Neraca perdagangan Indonesia-Cina menunjukkan defisit yang terus membesar
sejak tahun lalu. Indonesia dengan kekuatan pasar domestik sebesar 230 juta penduduk
merupakan target pasar yang sangat besar, yang pasti akan segera disambar industri negara
tetangga.    "Perdagangan     bebas   akan   mempercepat    proses   deindustrialisasi   dan
mempersempit kesempatan kerja," ujar Lana. Ia menjelaskan, kesepakatan perdagangan
bebas yang telah dilakukan sejak delapan tahun lalu itu malah akan memperburuk sektor
manufaktur. Menjelang diimplementasikan bulan depan, kesepakatan itu mulai menuai
masalah yang mengkhawatirkan. Celakanya, baru sepekan terakhir tujuh instansi baru
mulai menghitung kemungkinan daya tahun industri manufaktur Indonesia.
         Dari faktor kerugian, dalam jangka pendek perdagangan bebas itu antara lain akan
membuat perusahaan yang tidak efisien bangkrut. Akibat barang impor menjadi lebih
murah, volume impor barang konsumsi naik sehingga menghabiskan devisa dan membuat
nilai tukar rupiah menjadi sulit menguat.
         Perusahaan juga cenderung akan menahan biaya produksi melalui penghematan
penggunaan tenaga kerja tetap, sehingga job security tenaga kerja menjadi rapuh dan
angka pengangguran diperkirakan meningkat. Lana memperkirakan, dalam jangka pendek
perdagangan bebas itu bisa membuat angka
pengangguran membengkak lagi ke level di atas 9,5 persen jika sekitar 700 jenis produk
terpaksa "hilang" karena kalah bersaing oleh produk Cina. Padahal sektor industri
merupakan sektor kedua terbesar setelah pertanian dalam penyerapantenaga kerja. Situasi
ketenagakerjaan ini tampaknya akan menjadi penyakit kronis yang bisa
merapuhkan fundamental ekonomi Indonesia. Perdagangan bebas akan menjadi masalah
baru dalam ketenagakerjaan di Indonesia. "Dalam jangka pendek, tampaknya Indonesia
akan mengalami neto negatif yang tidak hanya merugikan sektor industri dan
ketenagakerjaan, tapi juga penerimaan negara dari pajak," kata


                                              89
Lana. Pemerintah pada Senin lalu melakukan rapat koordinasi, khusus masalah
perdagangan bebas ini. Menurut Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, pemerintah akan
memperbaiki berbagai kebijakan ekonomi untuk menghadapi perdagangan bebas.
Pemerintah, kata Hidayat, akan kembali mengaktifkan rambu-rambu nontarif, seperti
safeguard (jaring pengaman) dan dumping, yang selama ini dinilai tak punya gigi oleh
para pengusaha.
       Selain itu, masalah penyelundupan harus diselesaikan agar daya saing produk
Indonesia bisa tercapai. Pasalnya, di luar penurunan tarif nol, sekarang disinyalir banyak
produk ilegal yang masuk. "Kalau tarifnya zero, berarti sudah tidak bisa ketahuan bedanya
lagi, mana yang ilegal dan legal dengan tarif zero," ujarnya.
Hidayat menambahkan, perdagangan bebas akan tetap berjalan pada 1 Januari 2010, tapi
akan dibuat modifikasi. Namun, ia tidak menyebutkan modifikasi apa yang akan dilakukan
pemerintah.



Kalau Belum Siap Kenapa Memaksa Siap [ Perdagangan Bebas Asean - Cina ]


       Di tengah gempuran hebat produk China ke Tanah Air, Indonesia menegaskan
tetap ikut memenuhi komitmen terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan
China mulai 1 Januari 2010. Itu berarti pasar kita bakal kian dikepung oleh produk China,
baik tekstil, buah-buahan, bumbu masak, maupun mainan anak-anak.
Lalu, apa salahnya dengan produk China? Di sinilah persoalannya. Sudah bukan rahasia
lagi, selama ini mutu produk China yang membanjiri pasar kita tidak jauh berbeda dengan
produk dalam negeri, bahkan lebih buruk. Produk China juga masih diragukan
keamanannya bagi kesehatan.
        Selain itu, barang dari ‘Negeri Tirai Bambu’ itu kelewat murah sehingga produk
dalam negeri kalah bersaing dan akhirnya mati. Saat ini hampir semua jenis produk China
melenggang bebas masuk ke negeri ini. Padahal, pada era 1970-an produk China yang
diimpor hanya produk yang tidak bisa dibuat di Indonesia. Di negara maju seperti
Australia saja, produk Cina masih dikenakan pembatasan Dengan demikian, perjanjian
perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada
negara-negara ASEAN, dan sangat
jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik
menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 5,91%, sedangkan impornya

                                             90
mencapai 8,55%. Kelak, ketika perdagangan bebas sudah dijalankan, diprediksi ekspor
kita hanya naik 2,29% menjadi 8,20%. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik
2,81% menjadi 11,37%.
       Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam
negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita
rendah. Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang
tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk
Indonesia tidak bisa berbicara banyak. Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar
China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk
China. Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk
implementasi perdagangan bebas ASEAN-China. Belum terlambat bagi pemerintah untuk
menegosiasikan kesepakatan itu. Dengan melihat masih compang-campingnya industri
manufaktur kita, ada baiknya bila Indonesia menunda implementasi perdagangan bebas
dengan China itu. Modal nekat yang hanya mengandalkan semangat menghormati
perdagangan bebas sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga
babak belur. (Editorial Media Indonesia)
       Kita tidak bisa bayangkan dengan kondisi iklim bisnis yang kurang didukung
penuh oleh pemerintah karena biaya ekonomi tinggi yang disebabkan banyaknya pungli
dan panjangnya perijinan maka bisa diprediksi akan banyak sektor bisnis riil yang bakal
gulung tikar dengan serbuan produk Cina, dan berapa banyak pengangguran akan tampak
didepan mata yang berdampak pada masalah sosial




                                           91
                                       BAB III

                                     PENUTUP
Kesimpulan


        Pembangunan ekonomi adalah bagian penting dari pembangunan sebuah
negara.Pembangunan ekonomi memiliki prinsip dasar yaitu meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat dengan basis kemakmuran. Basis kemakmuran merupakan suatu
cara negara untuk membangun ekonomi yang produktif sehingga mencapai kemakmuran
dan kesejahteraan masyarakat. Prinsip dasar tersebut menjadi tujuan dari pembangunan
ekonomi.

   Akselerasi pembangunan ekonomi adalah             suatu upaya untuk mempercepat
pembangunan ekonomi dalam suatu negara. Dalam akselerasi pembangunan ekonomi
terdapat kebijakan dan program-program pembangunan, yaitu sebagai berikut:
    1. Menanggulangi kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat
    2. Mengembangkan usaha skala mikro, kecil, menengah, dan koperasi
    3. Menciptakan stabilitas ekonomi dan keuangan
    4. Memacu peningkatan daya saing
    5. Meningkatkan investasi
    6. Menyediakan sarana dan prasarana penunjang pembangunan ekonomi
    7. Memanfaatkan kekayaan sumber daya alam secara berkelanjutan
        Salah satu objek kajian dari studi ekonomi pembangunan adalah modal atau
kapital yang merupakan bentuk-bentuk kekayaan yang digunakan langsung atau tidak
langsung dalam produksi untuk menambah output. Kapital atau modal berperan sebagai
alat pendorong pembangunan ekonomi yang meliputi investasi dalam pengetahuan teknik
perbaikan dalam mutu pendidikan, kesehatan, dan keahlian.

              Kurangnya modal disebabkan oleh kemampuan menabung yang rendah,
kemampuan menabung yang rendah disebabkan oleh pendapatan yang rendah. Pendapatan
yang rendah merupakan akibat dari produktivitas yang rendah, sedangkan produktivitas
yang rendah merupakan akibat dari kekurangan modal dan hal ini disebabkan oleh
kemampuan menabung yang rendah dan demikian seterusnya. Cara mengatasi penyebab
rendahnya modal di Indonesia adalah dengan disertai kebijakan dividen dalam arti


                                          92
perlunya pengawasan negara atas pemakaian devisa yang dihasilkan dari perdagangan luar
negeri.

                  Tantangan pembangunan Indonesia ke depan sangat berat dan berbeda
dengan yang sebelumnya. Paling tidak ada 4 (empat) tantangan yang dihadapi Indonesia,
yaitu:

(i)             Otonomi daerah,

(ii)           Pergeseran orientasi pembangunansebagai negara maritim,

(iii)          Ancaman dan sekaligus peluang globalisasi, serta

(iv)           Kondisi objektif akibat krisis ekonomi.

           Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia. Sebagai dasar negara
tentulah pancasila harus menjadi acuan Negara dalam menghadapi tantangan global dunia
yang terus berkembang. Di era globalisasi peran pancasila sangat penting untuk tetap
menjaga eksistensi kepribadian bangsa indonesia,karena dengan adanya globalisasi batasan
batasan diantara negara seakan tak terlihat,sehingga berbagai kebudayaan asing dapat
masuk dengan mudah ke masyarakat.

Dampak Positif Pembangunan Ekonomi

          Pelaksanaan kegiatan perekonomian akan berjalan lebih lancar
          Terciptanya lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
          Terciptanya lapangan pekerjaan untuk memperbaiki tingkat pendapatan nasional.
          Perubahan struktur perekonomian dari struktur ekonomi agraris menjadi struktur
           ekonomi industri, sehingga kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh negara akan
           semakin beragam dan dinamis.
          Dapat meningkatkan kualitas SDM

           Dampak Negatif Pembangunan Ekonomi

          Mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup.
          Industrialisasi mengakibatkan berkurangnya lahan pertanian.



                                               93
               Perdagangan bebasdidefinisikan bahwa tidak adanya hambatan buatan
        (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-
        individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.


        Dalam perdagangan bebas ada pro-kontra karena banyak ekonom berpendapat
bahwa perdagangan bebas meningkatkan standar hidup melalui teori keuntungan
komparatif dan ekonomi skala besar dan mendorong negara-negara untuk bergantung satu
sama lain, yang berarti memperkecil kemungkinan perang. Sebagian lain berpendapat
bahwa perdagangan bebas memungkinkan negara maju mengeksploitasi negara
berkembang dan merusak industri lokal, dan membatasi standar kerja dan standar sosial
dan dianggap merugikan negara maju karena menyebabkan pekerjaan dari negara maju
berpindah ke negara lain dan menimbulkan perlombaan serendah mungkin yang
menyebabkan standar hidup dan keamanan lebih rendah.
        pasar ASEAN-Cina menimbulkan pengangguran karena membuat banyak industri
nasional gulung tikar sebab kalah bersaing. Sehingga angka pengangguran melonjak.



Saran


        Sebaiknya indonesia meningkatkan kualitas sumber daya manuasia untuk bisa
mengoptimal kekayan alam yang ada sehingga bisa bersaing dalam pasar luar
negeri.Selain itu banyaknya pelatihan yang diharapkan dapat memicu adanya inovasi dan
kreativitas sehingga bisa meningkatkan harga jual.Pemerintah juga harus memproteksi
pajak untuk barang dalam negeri supaya bila dijual diluar negeri barang bisa dijual lebih
murah dengan harapan barang tersebut akan laris di pasaran internasional.

        Usaha mikro yang masih mengandalkan modal sendiri hendaknya bisa membentuk
suatu paguyuban yang di naungi oleh pemerintah yang bersama-sama meningkatkan
produk dalam negeri       yang berkulitas dan dapat membuka lapangan pekerjaan
baru.Banyaknya lapangan pekerjaan dengan SDM yang berkualitas menghasilkan barang
yang berkulitas tinggi sehingga bisa di terima pasar luar negeri sehingga dapat bisa
menambah pundi-pundi devisa negara.

        Semua kalangan masyarakat sebaiknya mengubah pemikiran mereka yang selama
ini hanya mennganggap hidup ini akan sukses bila dia menjadi pegawai,anggapan itu bila

                                           94
bisa mereka ubah selain menjadi pegawai mereka bisa menjadi wiraswasta ,sehingga
mereka secara tidak langsung juga      bisa membantu pemerintah dalam mengurangi
pengangguran di negeri ini.

       Selain dengan memproduksi barang indonesia juga bisa bersaing dalam jasa yaitu
dengan meningkatkan soft skill para tenaga kerja yang bekerja diluar negeri sehingga
mereka tidak hanya bekerja menjadi pembantu rumah tangga.Bila mereka bisa
meningkatkan soft skillnya dan dapat bekerja pada suatu perusahaan diharapkan mereka
bisa merekrut penyedia    jasa dari negeri yang sama.Semakin kecil pengangguran di
Indonesia maka pemerintah semakin mudah untuk mengembangkan pembangunan serta
infrastruktur daerah yang diharapkan banyaknya investor tang datang ke dalam negeri.




       .




                                           95

								
To top