PERDARAHAN SAAT HAMIL TUA by z41n

VIEWS: 578 PAGES: 37

									PERDARAHAN SAAT HAMIL TUA

Ditulis oleh bibilung di/pada Senin, 1 Desember 2008

JIKA Anda suka bepergian, maka berhati-hatilah, terutama bagi Anda yang sedang hamil
tua. Di musim hujan misalnya, kondisi jalan yang dilalui akan licin dan kemungkinan
terjadinya kecelakaan sangatlah besar. Trauma yang terjadi pada ibu hamil merupakan
salah satu faktor penyebab timbulnya perdarahan dalam kehamilan lanjut — dalam istilah
medis dikenal dengan ante partum bleeding (APB).

APB dapat diartikan sebagai perdarahan yang terjadi dari saluran reproduksi wanita pada
kehamilan di atas 22 minggu hingga melahirkan. Namun, WHO menyebut APB terjadi
setelah usia kehamilan 29 minggu atau lebih. Terlepas dari perbedaan itu, perdarahan
yang terjadi dalam kehamilan lanjut ini sangat penting diketahui secara dini dan
mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.

APB yang terjadi pada 2-5% kehamilan disebabkan banyak faktor, di antaranya (1)
keadaan mulut rahim misalnya ada perdarahan kontak akibat hubungan seksual,
keganasan, infeksi, dan waktu dimulainya persalinan, (2) faktor ari-ari dan (3) kelainan
faktor pembekuan darah. Perdarahan yang terjadi dapat dianggap berasal dari faktor ari-
ari terlebih dahulu sebelum dapat dibuktikan penyebab yang lainnya. Itu karena
perdarahan yang terjadi biasanya hebat dan berbahaya akibat terganggunya pertukaran
gas O2 (oksigen) dan CO2 (karbondioksida) serta berkurangnya pasokan nutrisi dari ibu
ke janin.

Dua Penyebab

Dua penyebab utama APB yang bersumber dari ari-ari (plasenta) adalah plasenta previa
(PP) dan solusio plasenta (SP). PP adalah kelainan tempat tertanamnya plasenta sehingga
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir pada usia kehamilan 28 minggu
atau lebih. Sedangkan SP adalah terlepasnya ari-ari dari tempat tertanamnya yang normal
sebelum bayi lahir, pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih atau dengan perkiraan
berat badan janin 1.000 gram. Kedua hal itu dapat berakibat serius pada kehamilan, mulai
dari kematian ibu dan bahkan dapat menyebabkan kematian janin.
Menurut Oxorn, PP terjadi pada kira-kira 1 dari 200 kelahiran dan SP diperkirakan 1
dalam 80 kelahiran. Kejadian pada wanita hamil usia lebih dari 35 tahun, 4 kali lebih
sering dibandingkan dengan yang berusia kurang dari 25 tahun.

Penyebab pasti PP belum diketahui dengan jelas, namun sering dijumpai pada wanita
multipara (yang melahirkan bayi hidup untuk kedua kalinya atau lebih), pada wanita
dengan riwayat PP pada kehamilan sebelumnya, kehamilan multipel, riwayat operasi
sesar, usia ibu yang tua saat hamil, dan merokok. Diperkirakan, jika terjadi kekurangan
lapisan rongga rahim pada bagian atas, maka plasenta akan tumbuh melebar dalam upaya
mendapatkan suplai darah yang lebih memadai. Pada banyak kasus, sumber
perdarahannya tidak diketahui, kemungkinan didahului oleh suatu trauma berupa
manipulasi dan vagina ataupun hubungan seksual.

Penyebab SP pun belum diketahui dengan jelas, namun kondisi tertentu yang dapat
menimbulkan terjadinya hal ini adalah trauma pada ibu (jatuh, kecelakaan mobil, dll.),
usia ibu yang tua, tali pusat yang terlalu pendek, tekanan darah tinggi pada saat hamil dan
sebelum hamil, riwayat SP pada kehamilan sebelumnya, peregangan rahim yang
berlebihan seperti pada kehamilan kembar dan cairan ketuban yang berlebihan, pecah
ketuban, merokok lebih dari 1 bungkus per hari, dan kekurangan gizi.

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala pada SP mencakup perdarahan dari vagina yang biasanya berwarna
kehitaman dan jika terjadi kehilangan darah yang banyak, dapat mengakibatkan syok.
Gejala lainnya, nyeri perut yang tajam dan berlangsung tiba-tiba, serta kontraksi rahim
yang terjadi dapat menyebabkan terjadinya persalinan prematur. Pada pemeriksaan luar,
bagian-bagian janin sulit diraba dan denyut jantung janin pun sulit didengarkan.

Dalam menentukan penyebab APB ini dilakukan mulai dengan wawancara mengenai
perjalanan penyakitnya mencakup faktor risiko yang ada. Lalu dilakukan pemeriksaan
fisik untuk mengetahui keadaan umum ibu, disertai dengan pemeriksaan laboratorium
menyangkut hemoglobin (derajat anemia) dan akdar fibrinogen (salah satu komponen
faktor pembekuan). Lalu pemeriksaan letak plasenta yang dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak. Yang sering dilakukan adalah cara tidak langsung dengan
bantuan ultrasonografi (USG). Dengan cara ini, ibu tidak merasakan nyeri, tidak
menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janin, dan tidak merangsang timbulnya
perdarahan.

Penanganan yang dilakukan disesuaikan juga dengan keadaan umum ibu dan keadaan
janin yang dilakukan dengan alat monitor elektronik dan bagaimana posisi plasenta. Pada
PP ada beberapa derajat penutupan pembukaan jalan lahir. Pun pada SP yang dibagi
kedalam 4 tingkatan dari 0-3. Derajat ini juga menjadi pertimbangan dalam penanganan
yang dilakukan oleh tenaga medis.

UPAYA PENCEGAHAN APB

* Usahakan wanita menikah dan hamil antara usia 25-35 tahun.

* Lakukan pemeriksaan secara teratur ke tenaga kesehatan minimal 4 kali selama
kehamilan dan lakukan pemeriksaan USG minimal 1 kali selama masa kehamilan.

* Segera hubungi tenaga kesehatan terdekat jika mengalami perdarahan dari vagina.

* Kurangi risiko trauma pada ibu hamil — jangan berjalan terlalu jauh tanpa ada yang
menemani dan hati-hati jika berjalan di atas permukaan yang licin.

* Konsumsi makanan yang bergizi, terutama yang banyak mengandung asam folat dalam
3 bulan pertama kehamilan.

* Ikutilah program Keluarga Berencana sehingga usia ibu pada saat hamil tidak terlalu
tua dan jumlah anak serta jarak kehamilan dapat diatur.

* Jika Anda telah mengetahui diri Anda menderita plasenta previa dan telah dilakukan
operasi sesar pada kehamilan sebelumnya, Anda dapat mempelajari prosedurnya dan
bersiap untuk proses persalinan.

Oleh dr. Made Mahadinata Putra
                           Perdarahan Hamil Tua dan
                             Perdarahan Postpartum
                            Dr. John Slamet Khoman
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan


PENDAHULUAN
Salah satu masalah penting dalam bidang obstetri dan ginekologi adalah masalah
perdarahan. Walaupun angka kematian maternal telah menurun secara dramati dengan
adanya pemeriksaan-pemeriksaan dan perawatan kehamilan dan persalinan di rumah sakit
dan adanya fasilitas transfusi darah, namun kematian ibu akibat perdarahan masih tetap
merupakan faktor utama dalam kematian maternal.
Perdarahan dalam bidang obstetri hampir selalu berakibat fatal bagi ibu maupun janin,
terutama jika tindakan pertolongan terlambat dilakukan, atau jika komponennya tidak
dapat segera digunakan. Oleh karena itu, tersedianya sarana dan perawatan sarana yang
memungkinkan penggunaan darah dengan segera, merupakan kebutuhan mutlak untuk
pelayanan obstetri yang layak.
Perdarahan obstetri dapat terjadi setiap saat, baik selama kehamilan, persalinan, maupun
masa nifas. Oleh karena itu, setiap perdarahan yang terjadi dalam masa kehamilan,
persalinan dan nifas harus dianggap sebagai suatu keadaan akut dan serius, karena dapat
membahayakan ibu dan janin. Setiap wanita hamil, dan nifas yang mengalami
perdarahan, harus segera dirawat dan ditentukan penyebabnya, untuk selanjutnya dapat
diberi pertolongan dengan tepat.
                             PERDARAHAN HAMIL TUA

    A. PLASENTA PREVIA

Definisi
Plasentaprevia ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pads segmen bawah rahim
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri intemum.


Faktor Predisposisi
1. Multiparitas dan umur lanjut (> 35 tahun) 60 Cermin Dunia Kedokteran, Edisi
Khusus No. 80, 1992
2. Defek vaskularisasi desicua oleh peradangan dan atrofi
3. Cacat/jaringan parut pads endometrium oleh bekas-bekas pembedahan (SC, kuret, dan
lain-lain)
4. Khorion leve persistens
5. Korpus luteum bereaksi terlambat
6. Konsepsi dan nidasi terlambat
7. Plasenta besar pads hamil ganda dan eritropblastosis atau
hidrops fetalis.


Klasifikasi Klinis
1. Plasenta previa totalis : seluruh ostium uteri intemum tertutup oleh plasenta.
2. Plasenta previa lateralis/parsialis : sebagian ostium uteri intemum tertutup oleh
plasenta.
3. Plasenta previa marginalia : pinggir bawah plasenta berada tepat pada pinggir ostium
uteri intern urn.


Insidens
Satu di antara 125 persalinan terdaftaran (0,8%) di RSCM
Jakarta pada tahun 1971 - 1975, sedangkan di RS Dr. Pirngadi
Medan 2,64% atau 1 diantara 38 persalinan.
Gejala Klinis
1) Gejala utama plasenta previa adalah perdarahan tanpa sebab, tanpa rasa nyeri dan
biasanya berulang (painless, causeless, recurrent bleeding), darahnya berwarna merah
segar.
2) Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin.
3) Perdarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila
dilakukan periksa dalam sebelumnya, sehingga pasien sempat dikirim ke rumah sakit.
Tetapi perdarahan berikutnya (recurrent bleeding) biasanya lebih banyak.
4) Janin biasanya masih baik.
Diagnosis
1) Gejala klinis
2) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
3) Periksa dalam di atas meja operasi; infus atau transfusi darah telah dipasang (double
set up) :
a) Inspekulo (pemeriksaan dengaqn sepkillum)
b) Meraba forniks, mulai dari forniks posterior, apa ada teraba tahanan lunak (ban talan)
an tara bagian terdepan janin dengan jari kita.
c) Jan dimasukkan hati-hati kedalam ostium uteri internum (intraservikal) untuk meraba
adanya jaringan plasenta.


Pananganan
Semua pasien dengan perdarahan pervaginam pada kehamilan trimester ke tiga, dirawat
di rumah sakit tanpa periksa dalam (toucher vagina). Bila pasien dalam keadaan syok
karena perdarahan yang banyak, hams segera diperbaikan keadaan umumnya dengan
pemberian infus atau transfusi darah. Selanjutnya penanganan plasenta previa tergantung
kepada :
- keadaan umum pasien, kadar Hb
- jumlah perdarahan yang terjadi
- umur kehamilan/taksiran BB janin
- jenis plasenta previa
- paritas dan kemajuan persalinan.
1. Penanganan Ekspektatif
Kriteria :
- Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
- Perdarahan sedikit
- Belum ada tanda-tanda persalinan
- Keadaan umum pasien baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih
Rencana penanganan :
- Istirahat baring mutlak
- Infus Dextrose 5% dan elektrolit
- Spasmolitik, tokolitik, plasentotropik, roboransia
- Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah
Pemeriksaan USG
Awasi perdarahan terus menerus, tekanan darah (tensi), nadi dan denyut jantung janin
- Apabila ada tanda-tanda plasenta previa, tergantung keadaan, pasien dirawat sampai
kehamilan 37 minggu, selanjutnya penanganan secara aktif.


2. Penanganan Aktif :
Kriteria :
- Umur kehamilan (masa gestasi) >37 minggu, BB janin > 2500 gram
Perdarahan banyak, 500 ml atau lebih
Ada tanda-tanda persalinan
- Keadaan umum pasien tidak baik, ibu anemik, Hb < 8%.
Untuk menentukan tindakan selanjutnya, SC atau partus pervaginam, dilakukan
pemeriksaan dalam (VT) di kamarbedah, infus/tranfusi darah sudah dipasang. Umumnya
dilakukan SC.
Partus pervaginam dilakukan pads plasenta previa marginalis dan enak sudah meninggal.
Tetapi bila perdarahan banyak, segera SC.
Tindakan versi Braxton Hicks dengan pemberat atau pemasangan cunam Willet-Gausz
dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan
kepala janin terbadap plasenta) hanya dilakukan pads keadaan darurat, anak masih kecil
atau sudah mati, dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi.
Komplikasi
1. Perdarahan dan syok
2. Infeksi
3. Laserasi serviks
4. Plasenta akreta


Prognosis
Ibu :
Dengan adanya fasilitas diagnose dini (USG), transfusi darah, tehnik anestesi dan operasi
yang baik dengan indikasi SC yang lebih liberal, prognosis ibu cukup baik. Prognosis
kurang balk jika tian janipenolong melakukan VT di luar rumah sakit dan mengirim
pasien sangat terlambat dan tanpa infus.
Anak
Kaman umumnya disebabkan prematuritas.


    B. SOLUSIO PLASENTA


Definisi
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal sebelum janin lahir.
Insidens
Berkisar diantara 1 per 78 sampai 206 persalinan. Di RSCM
Jakarta (1968 - 1971) : 2,1% dari seluruh persalinan.


Etilogi/Faktor Predisposisi
1. Hipertensi dalam kehamilan (penyakit hipertensi menahun, preeklamsia, eklamsia)
2. Multiparitas, umur ibu yang tua
3. Tali pusat pendek
4. Uterus yang tiba-tiba mengecil (hidramnion, gemelli anak ke-2)
5. Tekanan pads vena cava inferior
6. Defisiensi gizi, defisiensi asam folat
7. Trauma.
Klasifikasi Klinis
1.A.Solusio plasenta ringan
  B.Solusio plasenta sedang
  C.Solusio plasenta berat
2. A.Solusio plasenta totalis : plasenta terlepas seluruhnya
  B.Solusio plasenta partialis : plasenta terlepas sebagian.
3. A.Perdarahan tersembunyi/terselubung (concealed) : 20%
  B. Perdarahan keluar pervaginam (revealed) " 80%.


Gejala klinik (Klasik)
1. Perdarahan pervaginam disertai rasa nyeri di perut yang terus menerus, wama darah
merah kehitaman.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992 61
2. Uterus tegang seperti papan (uterus enbois, wooden uterus).
3. Palpasi janin sulit
4. Auskultasi djj sering negatif
5. KU pasien lebih buruk dari jumlah darah yang keluar
6. Sering terjadi renjatan (hipobvolemik dan neurogenik)
7. Pasien kelihatan pucar, sejak, gelisah dan kesakitan.


Catatan :
Pada gejala solusio plasenta ringan dengan gejala tidak menonjol, harur hatihati,
kerena anak bisa mati.


Diagnosis
1. Gejala klinis
2. Periksa dalam (VT) : ketuban menonjol walaupun tidak ada his
3. Pemeriksaan USG
4. Plasenta kelihatan cekung atau lebih tipis di tempat adanya
hematom (diagnopsa setelah plasenta lahir).
Penanganan
1. Pasien dirawat di rumah sakit, istirahat baring, mengukur keseimbangan cairan.
2. KU segera diperbaiki segera diberikan infus dan transfusi darah segar.
3. Pemeriksaan laboratorium : Hb, HCT, COT, golongan darah, kadar fibrinogen plasma,
urine lengkap, fungsi ginjal.
4. Jika anak hidup dan sudah viable, dilakukan SC.
5. Pasien gelisah dan mengerang kesakitan, diberikan suntikan analgetika (petidin,
morfin).
6. Persalinan dipercepat denganamniotomi danoksitosin drips.
7. Jika dalam 6 jam persalinan belum selesai, dilakukan SC.
8. a. Bila sudah terjadi gangguan pembekuan darah (COT)
> 30 menit), diberikan darah segar dalam jumlah besar, kalau perlu fibrinogen intravena,
monitor berkala dengan pemeriksaan
COT dan Hb.
b. Jika KU pasien kurang baik dengan kadar Hb yang rendah (< 8 g%) dengan fasilitas
transfusi darah yang sangat terbatas,
pertimbangkan untuk SC histerektomi atau operasi PORRO.
c. Couvelaire uterus dengan atonia dilakukan histerektomi.
Komplikasi
a) Yang terjadi segera (immediate) adalah perdarahan dan renjatan.
b) Yang terjadi kemudian (delayer) :


1) Uterus couvelaire = utero=placental-apoplexy
2) Gangguan pembekuan darah (hipo atau a-fibrinogenemi, DIC)
3) Gagal ginjal akut :
— rental cortical necrosis
— Lower nephron necrosis dengan gejala proteinuria, oliguria dan nauria.
4) Infeksi pelbvis.
5) sinfrom Sheehan (nekrose kelenjar hipofise).
Prognosis


ibu:
Baik, kalau persalinan sudah selesai dalam batas waktu 6 jam sejak saat mulai terjadinya
keadaan patologik solusio plasenta 62 Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80,
1992 dan pasien segera mendapat transfusi darah segar.


Anak
Pada solusio plasenta berat, 100% janin mengalami kematian; pads solusio plasenta
ringan dan sedang, kematian janin tergantung pada luasnya plasenta yang terlepas, umur
kehamilan dan cepatnya pertolongan.




                            PERDARAHAN POSTPARTUM


Definisi
Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 ml atau lebih, sesudah anak
lahir.




Klasifikasi Klinis
1) PerdarahanPascaPersalinan Dini (Early Postpartum Haemor rhage, atau Perdarahan
Postpartum Primer, atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera).
2) Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau
Perdarahan Pasca Persalinan Lambat, atau Late PPH).


Insidens
Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan (1965 - 1969) : 5,1%.
Etiologi
1. Atonia uteri (> 75%)
2. Robekan (laserasi, luka) jalan lahir
3. Retensio plasenta dan sisa plasenta
4. Gangguan pembekuan darah (koagulopati)


Catatan :
Kemungkinan penyebab perdarahan yang lain dalam persalinanseperti : inveriso
uteri, perlukan vulva (hematoma, robekan perineum/luka episiotomi), perlukan vagina
(kolpaporrhexis dan lain-lain), perlu mendapat perhatian.


Predisposisi atonia uteri :


1) Grandemultipara
2) Uterus yang terlalu regang (hidramnion, hamil ganda, anak sangat besar (BB > 4000
gram).
3) Kelainan uterus (uterus bicornis, mioma uteri, bekas operasi).
4) Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan anteparturn).
5) Partus lama (exhausted mother).
6) Partus precipitatus.
7) Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis).
8) Infeksi uterus.
9) Anemi berat.
10) Penggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus).
11) Riwayat PPH sebelumnya atau riwayat plasenta manual.
12) Pimpinan kala III yang salah, dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus
sebelum plasenta terlepas.
13) IUFD yang sudah lama, penyakit hati, emboli air ketuban (koagulopati).
14) Tindakan operatif dengan anestesi umum yang terlalu dalam.


Gejala Klinis
1) Perdarahan pervaginam yang terus menerus setelah bayi lahir.
2) Pucat, mungkin ada tanda-tanda syok, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan
kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual, dan lain-lain).
Diagnosis
1) Berdasarkan gejala klinis :
a) Perdarahan yang langsung terjadi setelah anak lahir tetapi plasenta belum
lahir.'Biasanya disebabkan oleh robekan jalan lahir. Warna darah merah segar.
b) Perdarahan setelah plasenta lahir, biasanya disebabkan oleh atonia uteri.
2) Palpasi uterus : fundus uteri tinggi di atas pusat, uterus lembek, kontraksi uterus tidak
baik merupakan tanda atonia uteri.
3) Memeriksa uri dan ketuban, apakah lengkap atau tidak kotiledon atau selaput
ketubannya.
4) Eksplorasi kavum uteri, apakah ada bekuan darah, sisa uri dan selaput ketuban,
robekan rahim atau plasenta suksenturiata (anak plasenta).
5) Inspekulo : robekan pada serviks, vagina dan varises yang pecah.
6) Laboratorium : Hb, HCT, COT, kadar fibrinogen, tes hemoragik, dan lain-lain.


Penanganan
1) Hentikan perdarahan.
2) Cegah/atasi syok.
3) Ganti darah yang hilang : diberi infus cairan (larutan garam fisiologis, plasma
ekspander, Dextran-L, dan sebagainya), transfusi darah, kalau perlu oksigen.
ATONIA UTERI
1) Masase uterus + pemberian utero tonika (infus oksitosin 10 IU s/d 1001U dalam 500
ml Dextrose 5%, 1 ampul Ergometrin i.v., yang dapat diulang 4 jam kemudian, suntikan
prostaglandin.
2) Kompresi bimanuil
3) Tampon utero-vaginal secara lege antis, tampon diangkat
24 jam kemudian.
4) Tindakan operatif :
a) ligasi arteri uterina
b) ligasi arteri hipogastrika
c) histerektomi
Catatan :
a) dan b) untuk yang masih menginginkan anak. Tindakan yang bersifat sementara
untukmengurangi perdarahan menunggutindakan operatifdapat dilakukan metode
Ilenke! (menjepit cabang arteri uterina melalui vagina, kiri dan kanan) atau kompresi
aorta abdominalis.


ROBEKAN/LASERASI JALAN LAHIR


Segera lakukan reparasi, robekan dilihat secara a vuedengan spekulum, dan dilihat
dengan cermat.


Catatan :
Kolpaporrhexis dan hematoma yang besar dan tinggi (hematoma supralevatorial,
parabaginal, ligamentum latom, ekstraperitonea!) kemungkinan memerlukan tindakan
bedah/laparotomi.


RETENSIO PLASENTA/SISA PLASENTA


1) Retensio plasenta tanpa perdarahan masih dapat menunggu.
Sementara itu kandung kemih dikosongkan, masase uterus dan suntikan oksitosin (i.v.
atau i.m. atau melalui infus) dan botch dicoba perasat Crede secara lege artis. Jika tidak
berhasil, dilakukan plasenta manuel.


2) Setelah plasenta manuel, diberi suntikan ergometrin 3 hari berturut-turut. Jika ada
keraguan jaringan plasenta yang tertinggal, maka pads hari ke-4 dilakukan
kerokan.kurentase dengan kuret tumpul ukuran besar didahuli suntikan/infus oksitosin.


3) Plasenta kaptiva atau inkarserata diberi suntikan oksitosin intraserviks untuk
menambah pembukaan serviks dan diberi anestesi umum untuk melahirkan plasenta
dengan memakai alat cunam ovum atau cara manuel.
4) Plasenta manuel segera dilakukan jika :
a) Perdarahan kala-III lebih dari 200 ml
b) Penderita dalam narkosa
c) Riwayat PPH habitualis


5) Plasenta akreta, inkreta dan perkreta ditolong dengan histerektomi.
6) Sisa plasenta dikeluarkan dengan kerokan.
7) Penderita diberikan uterotonika, analgetika,m roboransia, dan antibiotika.

Waspadai Hipertensi dalam Kehamilan

Oleh dr. Made Mahadinata Putra

BEGITU terdengar kata hipertensi, yang terbayang dalam benak orang adalah efeknya
yang menakutkan, stroke! Benar, orang berusia lanjut memiliki kecenderungan yang
lebih besar menderita hipertensi dibandingkan dengan orang muda. Namun, hipertensi
ternyata tidak hanya menyerang orang tua, juga wanita hamil.

Keadaan ini sangat mengkhawatirkan karena pada wanita hamil terdapat dua individu
sekaligus, ibu dan bayi yang dikandungnya. Dengan begitu, pengetahuan tentang
pengenalan secara dini gejala hipertensi ini sangat penting sehingga efek yang tidak
diinginkan di kemudian hari dapat dihindari.

Hipertensi dalam kehamilan (HDK) merupakan salah satu donatur kesakitan dan
kematian ibu disamping perdarahan pasca persalinan dan infeksi. Berdasarkan hasil Audit
Medik Maternal di Bali (per 100.000 kelahiran hidup), angka kematian ibu melahirkan
pada tahun 2006 sebesar 80,44 dimana HDK meraih posisi ketiga dengan persentase
4,35%. Angka kesakitan dan kematian bayi yang ditimbulkan oleh HDK ini juga tinggi.
Di Indonesia, HDK merupakan penyebab dari 30%-40% kematian bayi.

HDK digunakan untuk menggambarkan kondisi ibu hamil yang mengalami peningkatan
tekanan darah yang ringan atau berat dengan berbagai gangguan fungsi organ. Sampai
kini, HDK masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan tuntas.
Ada beberapa jenis HDK menurut "The Working Group Report and High Blood Pressure
Pregnancy" (2000) yaitu hipertensi gestasional, hipertensi kronis, superimposed
preeklampsia, preeklampsia ringan, preeklampsia berat dan eklampsia.

Gejala dan Tanda

HDK adalah kenaikan tekanan darah (ò 140/90 mmHg) pada dua kali pemeriksaan yang
berjarak 4 jam atau lebih dengan disertai proteinuria (protein dalam urin) melebihi 0,3
gr/L dalam 24 jam atau dengan pemeriksaan kualitatif sampai positif dua (++).

Yang dimaksud dengan hipertensi gestasional adalah kenaikan tekanan darah yang hanya
dijumpai dalam kehamilan sampai 12 minggu pasca-persalinan, tidak dijumpai keluhan
dan tanda-tanda hipertensi lainnya. Diagnosa akhir ditegakkan setelah persalinan.
Hipertensi kronis adalah hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, selama hamil sampai
setelah masa menyusui. Tidak ditemukan keluhan dan tanda-tanda hipertensi lainnya.

Superimposed preeklampsia adalah gejala dan tanda-tanda hipertensi dan proteinuria
yang muncul setelah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya menderita
hipertensi kronis. Dikatakan preeklampsia (PE) ringan jika tekanan darah ò140/90
mmHg, tapi <160/110 mmHg dan proteinuria sampai positif dua (++). Sedangkan PE
berat jika tekanan darah >160/110 mmHg, dengan proteinuria lebih dari positif dua (++),
disertai dengan keluhan subjektif seperti nyeri ulu hati, sakit kepala, gangguan
penglihatan dan volume kencing yang berkurang.

Hampir sama halnya dengan PE berat, eklampsia adalah kelainan yang bersifat mendadak
pada wanita hamil, saat hamil tua, dalam persalinan atau menyusui yang ditandai dengan
timbulnya kejang dan atau koma (kejang yang timbul bukan akibat kelainan saraf).
Sebelumnya, wanita ini menunjukkan gejala-gejala PE berat.

HDK yang sering terjadi adalah PE dan eklampsia yang berkisar antara 4-9% pada wanita
hamil, 3-7% terjadi pada wanita yang belum pernah hamil, dan 0,8-5% pada wanita-
wanita yang sudah melahirkan bayi kedua kali atau lebih. Angka kejadian PE di
Indonesia berkisar antara 3-10%.
BERAGAM JENIS GANGGUAN SAAT HAMIL
Darurat tidaknya gangguan kehamilan itu sesungguhnya tergantung pada situasi khusus
atau riwayat kesehatan ibu hamil. Karena itu ada baiknya bila Anda berkonsultasi secara
rutin sambil memantau perkembangan kehamilan Anda. Berikut gangguan kesehatan
pada kehamilan dari yang berkategori perlu perawatan sampai gawat darurat (penanganan
segera) :
      Nyeri Pinggang dan Demam.
       Selain dua gejala itu, ada juga gejala lain seperti urin keruh, sering mual-muntah
       dan nyeri pinggang. Inilah gejala awal munculnya gangguan ginjal.
      Berdebar-debar dan Sesak Napas.
       Jika dada berdebar, sesak napas, dan lekas lelah sering terasa terutama seusai
       melakukan aktivitas fisik Anda patut waspada. Bila tak melakukan apapun gejala
       tadi muncul maka bisa saja Anda mengalami gangguan jantung dalam kehamilan
       (vitium cordis).
      Kelopak Mata Sembab & Jari Gemetar.
       Kemungkinan inilah tanda munculnya gangguan kelenjar gondok atau getah
       bening (hyperthyroid). Gejala lain seperti sering berdebar-debar, badan terasa
       gerah, dan banyak berkeringat, mungkin juga akan muncul.
      Mual dan Muntah.
       Adalah normal bila Anda mengalami hal ini pada pagi hari di trimester pertama
       kehamilan. Tidak normal jika mual-muntah itu terjadi hingga 7 kali dalam sehari.
       Anda menjadi lemas, hilan selera makan, berat badan turun drastis, hingga terasa
       nyeri di ulu hati, bisa jadi ada gangguan. Boleh jadi Anda mengidap penyakit
       berat, dan memerlukan perawatan.
      Pucat-pasi, Mata Memerah, Telapak Tangan Pucat.
       Ada juga keluhan cepat lelah, dan lesu. Mungkin Anda mengalami anemia, sel
       darah merah kekurangan unsur hemoglobin. Pada ibu hamil, anemia terjadi karena
       kekurangan zat besi. Anemia dapat mengganggu janin bahkan jantung ibu hamil.
       Saat perslainan, ibu hamil anemia akan mengalami gangguan plasenta dan
       perdarahan pasca-persalinan.
   Kerap Haus, Lapar & Berkemih.
    Kemungkinan ini adalah tanda dari gangguan diabetes (kencing manis). Ibu hamil
    dengan kencing manis akan melahirkan anak yang lebih besar dari normal.
   Perut Mengempis/Tidak Berkembang.Kondisi ini perlu Anda waspadai bila
    selewat usia kehamilan 5 bulan tak tampak ada perubahan. Anda pun tak merasa
    ada gerakan janin di perut. Boleh jadi janin dalam kandungan telah meninggal.
    Segera periksakan ke dokter. Janin meninggal biasanya harus segera dikeluarkan.
   Berat Badan Naik Drastis.
    Bila terjadi kenaikan berat badan lebih dari 1 kg dalam sepekan Anda patut
    waspada. Apalagi bila disertai dengan bengkaknya tungkai dan mata kaki, urin
    keruh, pandangan berkunang-kunang disertai nyeri kepala. Inilah gejala
    terjadinya Pre-Eclampsia. Bila dibiarkan akan menjadi Eclampsia yang akhirnya
    dapat membahayakan nyawa ibu maupun janin.
   Demam Tinggi 3 Hari.
    Sangat mungkin ini gejala Anda mengalami infeksi. Seringkali muncul juga
    kejang-kejang, jika terjadi infeksi selaput otak.
   Liang Rahim Berlendir & Berdarah.
    Bila liang rahim Anda mengeluarkan darah dan lendir di usia kehamilan kurang
    dari 28 minggu (7 bulan), Anda mungkin mengalami keguguran. Bila terjadi pada
    kehamilan muda (6-10 pekan) dapat pula berarti terjadi ‘kehamilan terganggu’
    (kehamilan ektopik/di luar rahim).
   Nyeri & Keluar Lendir di Hamil Tua.
    Ini tanda janin Anda mengalami gangguan pada ari-ari. Anda juga mungkin akan
    mengalami nyeri dan mulas melilit (kerap tidak muncul), keluar cairan lengket
    atau merasakan keluarnya air ketuban serupa air seni (‘Ketuban Pecah Dini’).
    Gejala ini tergolong gawat darurat kehamilan. Janin perlu diselamatkan agar tidak
    sampai menderita infeksi di dalam kandungan ibunya.

    Bila Anda mengalami salah satu gejala di atas, dan Anda tak merasa yakin jangan
    mengambil kesimpulan sendiri. Segera kunjungi atau telepon dokter langganan
   Anda. Cara seperti ini memungkinkan Anda mendapatkan pertolongan dan
   peawatan segera.


           TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN

   Pengertian

Tanda bahaya kehamilan adalah tanda -tanda yang mengindikasikan adanya bahaya
yang dapat terjadi selama kehamilan/periode antenatal, yang apabila tidak dilaporkan
atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian ibu (Pusdiknakes,2003).


    Macam-macam tanda bahaya kehamilan

Enam tanda bahaya kehamilan selama periode antenatal menurut Pusdiknakes
(2003) :



a. Perdarahan pervaginam
b. Sakit kepala yang hebat
c. Masalah penglihatan
d. Bengkak pada muka atau tangan
e. Nyeri abdomen yang hebat
f. Bayi kurang bergerak seperti biasa




Berbagai macam tanda bahaya yang perlu segera dirujuk untuk
segera mendapatkan pertolongan :

A) PERDARAHAN PERVAGINAM

   Perdarahan vagina dalam kehamilan adalah jarang yang normal. Pada masa awal
sekali kehamilan, ibu mungkin akan mengalami perdarahan yang sedikit atau spotting
  disekitar waktu pertama haidnya. Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi, dan
  ini normal terjadi.

     Pada waktu yang lain dalam kehamilan, perdarahan ringan mungkin pertanda dari
  servik yang rapuh atau erosi. Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin
  suatu tanda adanya infeksi.

  Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah yang merah, perdarahan
  yang banyak, atau perdarahan dengan nyeri. Perdarahan ini dapat berarti abortus,
  kehamilan mola atau kehamilan ektopik. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang
  tidak normal adalah merah, banyak, dan kadang -kadang, tetapi tidak selalu, disertai
  dengan rasa nyeri. Perdarahan semacam ini bisa berarti plasenta previa atau abrupsio
  plasenta (Pusdiknakes, 2003).

  Merah, banyak, dan kadang-kadang, tetapi tidak selalu, disertai dengan rasa nyeri
  (Buku Panduan Maternal Neonatal, 2002).

         Perdarahan pervaginam dapat terjadi setiap saat pada masa hamil. Hal ini
  dapat disebabkan oleh kondisi yang ringan, seperti implantasi, servisitis atau polip
  serviks atau koitus atau oleh kondisi-kondisi serius yang bahkan mengancam
  kehidupan, seperti Plasenta Previa dan Solusio Plasenta.

     Perdarahan pada masa kehamilan dapat dibagi menjadi 2 :

a. Perdarahan pada masa kehamilan muda

     Yaitu perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu. Pada
 masa kehamilan muda, perdarahan pervaginam yang berhubungan dengan kehamilan
 dapat berupa:

     Abortus
     Kehamilan mola
     Kehamilan ektopik
b. Perdarahan pada masa kehamilan lanjut

   Yaitu perdarahan yang terjadi pada usia kehamilan setelah 22 minggu sampai
   sebelum bayi lahir.

   Perdarahan setelah usia kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih
   berbahaya. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada
   kehamilan lanjut, dua kondisi yang mengancam jiwa adalah

  Plasenta Previa

  Pengertian

  Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen
  bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium
  uteri internum).

  Ciri-ciri plasenta previa :
  1. Perdarahan tanpa nyeri
  2. Perdarahan berulang
  3. Warna perdarahan merah segar
  4. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
  5. Timbulnya perlahan-lahan
  6. Waktu terjadinya saat hamil
  7. His biasanya tidak ada
  8. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
  9. Denyut jantung janin ada
  10. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
  11. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
  12. Presentasi mungkin abnormal.


  Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui
  pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu :
   1. Plasenta previa totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh lasenta.
   2. Plasenta previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh
       plasenta.
   3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
       pembukaan jalan lahir.
   4. Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir
       pembukaan jalan lahir.

Etiologi plasenta previa belum jelas.

Diagnosis plasenta previa :
1. Anamnesis : adanya perdarahan per vaginam pada kehamilan lebih 20 minggu dan
   berlangsung tanpa sebab.
2. Pemeriksaan luar : sering ditemukan kelainan letak. Bila letak kepala maka
   kepala belum masuk pintu atas panggul.
3. Inspekulo : adanya darah dari ostium uteri eksternum.
4. USG untuk menentukan letak plasenta.
5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan perabaan langsung melalui kanalis
   servikalis tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat           menyebabkan
   perdarahan yang banyak. Oleh karena itu cara ini hanya dilakukan            diatas meja
   operasi.
Penatalaksanaan plasenta previa
1. Konservatif bila :
   a. Kehamilan kurang 37 minggu.
   b. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).
   c. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh
   perjalanan selama 15 menit).
   2. Penanganan aktif bila :
   a. Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan.
   b. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
   c. Anak mati
Perawatan konservatif berupa :
- Istirahat.
- Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia.
- Memberikan antibiotik bila ada indikasii.
- Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.


Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif
maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada
perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh
melakukan senggama.


Penanganan aktif berupa :
-   Persalinan per vaginam.
-   Persalinan per abdominal.


Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up)
yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan :
1. Plasenta previa marginalis
2. Plasenta previa letak rendah
3. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang,
    kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya
    sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin
    pada partus per vaginam bila gagal drips (sesuai dengan protap terminasi
    kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar.
Indikasi melakukan seksio sesar :
- Plasenta previa totalis
- Perdarahan banyak tanpa henti.
- Presentase abnormal.
- Panggul sempit.
- Keadaan serviks tidak menguntungkan (beelum matang).
- Gawat janin


Pada keadaan dimana tidak memungkinkan dilakukan seksio sesar maka lakukan
pemasangan cunam Willet atau versi Braxton Hicks.
  Solusio Plasenta
Ciri-ciri solusio plasenta:
   1. Perdarahan dengan nyeri
   2. Perdarahan tidak berulang
   3. Warna perdarahan merah coklat
   4. Adanya anemia dan renjatan yang tidak sesuai dengan keluarnya darah
   5. Timbulnya tiba-tiba
   6. Waktu terjadinya saat hamil inpartu
   7. His ada
   8. Rasa tegang saat palpasi
   9. Denyut jantung janin biasanya tidak ada
   10. Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina
   11. Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul
   12. Tidak berhubungan dengan presentasi
Pengertian
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi
normal sebelum janin lahir.


   Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan
   plasenta yaitu :
1. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda
   renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar
   fibrinogen plasma lebih 120 mg%.
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan,
   gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan,
   kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin
   mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.


Etiologi solusio plasenta belum jelas
Penatalaksanaan solusio plasenta :
Tergantung dari berat ringannya kasus. Pada solusio plasenta ringan dilakukan
istirahat, pemberian sedatif lalu tentukan apakah gejala semakin progresif atau akan
berhenti. Bila proses berhenti secara berangsur, penderita dimobilisasi. Selama
perawatan dilakukan pemeriksaan Hb, fibrinogen, hematokrit dan trombosit.


Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi
renjatan, memperbaiki anemia, menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus
secepat mungkin. Penatalaksanaannya meliputi :
1. Pemberian transfusi darah
2. Pemecahan ketuban (amniotomi)
3. Pemberian infus oksitosin
4. Kalau perlu dilakukan seksio sesar.


Bila diagnosa solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan, berarti
perdarahan yang terjadi minimal 1000 cc sehingga transfusi darah harus diberikan
minimal 1000 cc. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi
regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus oksitosin
5 UI dalam 500 cc dekstrose 5 %.


Seksio sesar dilakukan bila :


   1. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam.
   2. Perdarahan banyak.
   3. Pembukaan tidak ada atau kurang 4 cm.
   4. Panggul sempit.
   5. Letak lintang.
       6. Pre eklampsia berat.
       7. Pelvik score kurang 5.
   Kelainan lain ialah perdarahan yang bersumber dari kelainan serviks dan vagina.
   Kelainan-kelainan yang mungkin tampak ialah erosi porsionis uteri, polip serviks
   uteri, varises vulva dan trauma.


B) SAKIT KEPALA YANG HEBAT
Nyeri kepala pada masa hamil dapat merupakan gejala pre-eklampsia, suatu penyakit
yang terjadi hanya pada wanita hamil, dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang
maternal, stroke, koagulopati dan kematian.
Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah :
      Sakit kepala hebat
      Sakit kepala yang menetap dan
      Tidak hilang dengan istirahat
Kadang-kadang, dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan
bahwa penglihatan menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan
karena terjadinya oedema pada otak dan meningkatkan resistensi otk yang mempengaruhi
sistem saraf pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang), dan
gangguan penglihatan.


C) PENGLIHATAN KABUR
       Perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda pre-eklampsia.
Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah
perubahan visual yang mendadak, misalnya penglihatan kabur atau berbayang, melihat
bintik-bintik (spot), berkunang-kunang.
       Selain itu adanya skotama, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang
menujukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini
disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pysat penglihatan di korteks cerebri
atau didalam retina (oedema retina dan spasme pembuluh darah). Perubahan penglihatan
ini mungkin juga disertai dengan sakit kepala yang hebat.
D) BENGKAK PADA WAJAH, TANGAN DAN KAKI
        Oedema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan
tubuh, dan biasnya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki,
jari tangan dan muka. Oedema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan
biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklampsia. Hampir
separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya
hilang setelah beristirahat atau meninggikan kaki. Oedema yang mengkhwatirkan ialah
oedema yang muncul mendadak dan cenderung meluas.
Oedema bias menjadi menunjukkan adanya masalah serius dengan tanda-tanda antara
lain:
       Jika muncul pada muka dan tangan
       Bengkak tidak hilang setelah beristirahat
       Bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya, seperti: sakit kepala yang hebat,
        pndangan mata kabur dll. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung
        atau pre-eklampsia.


E) GERAK JANIN TIDAK TERASA
        Gerakan janin pertama inutero yang dapat dirasakan ibu disebut quickening, ini
terjadi pada usia kehamilan 18-20 minggu pada wanita yang baru pertama kali hamil dan
antara minggu ke 16-18 pada wanita yang mengandung bayi berikutnya.
        Salah satu pedoman yang dapat diterima untuk menghitung gerakan janin ialah 10
gerkan dalam periode 12 jam, artinya jika bayi bergerak kurang dari 10 kali dalam 12 jam
ini menunjukkan adanya sesuatu hal yang patologis pada bayi tersebut, dan wanitahamil
harus segera memberitahu tenaga kesehatan untuk diperiksa lebih lanjut.
        Kadang-kadang bayi bergerak sangat sedikit sehingga ibu menganggap gerakan
bayi hilang. Meskipun kegagalan untuk merasakan gerakan bayi pada waktu tertentu
disebabkan ketidakawasan ibu, laporan penurunan atau tidak adanya gerakan harus
mendapat perhatian serius dan suatu tes khusus harus diprogramkan. Karena beberapa
wanita masih berfikir bahwa gerakan bayi didalam rahim yang melambat sebelum
persalinan adalah normal, pastikan untuk memberi ibu penjelasan bahwa hal tersebut
tidak benar.
F) NYERI PERUT YANG HEBAT
       Seorang wanita hamil keluhan nyeri perut dapat merupakan gejala penyakit atau
komplikasi yang fatal. Keadaan ini dapat terjadi pada kehamilan muda yaitu pada usia
kehamilan kurang 22 minggu atau pada kehamilan lanjut yait u pada usia kehamilan lebih
22 minggu.
Selama masa hamil nyeri perut hebat dapat menunjukkan:
      Kehamilan ektopik
      Pre-eklampsia
      Persalinan premature
      Solusio Plasenta
      Abortus
      Rupture uteri imminens


G) KELUARNYA CAIRAN PERVAGINAM

       Keluar air ketuban sebelum waktunya
Yang dinamakan ketuban pecah dini adalah apabila terjadi sebelum persalinan
berlangsung yang disebabkan karena berkurangnya kekuatan membran ataumeningkatnya
tekanan intra uteri atau oleh kedua faktor tersebut, juga karena adanya infeksi yang dapat
berasal dari vagina dan servik dan penilaiannya ditentukan dengan adanya cairan ketuban
di vagina. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazin test)
merah menjadi biru (Saifuddin, 2002).


    A. Kejang


        Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya keadaan dan
terjadinya gejala -gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati sehingga muntah. Bila semakin
berat, penglihatan semakin kabur, kesadaran menurun kemudian kejang. Kejang dalam
kehamilan dapat merupakan gejala dari eklampsia (Saifuddin,2002).
   B.Gerakan janin tidak ada atau kurang (minimal 3 kali dalam 1 jam)
        Ibu mulai merasakan gerakan bayi selama bulan ke-5 atau ke-6. Beberapa ibu
dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur gerakannya akan melemah.
Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam 1 jam jika ibu berbaring atau beristirahat
dan jika ibu makan dan minum dengan baik (Pusdiknakes, 2003).


   C.Demam Tinggi
      Ibu menderita demam dengan suhu tubuh >38ºC dalam kehamilan merupakan
suatu masalah. Demam tinggi dapat merupakan gejala adanya infeksi dalam kehamilan.
Penanganan demam antara lain dengan istirahat baring, mi num banyak dan mengompres
untuk menurunkan suhu (Saifuddin,2002). Demam dapat disebabkan oleh infeksi dalam
kehamilan yaitu masuknya mikroorganisme pathogen ke dalam tubuh wanita hamil
yang kemudian menyebabkan timbulnya tanda atau gejala –gejala penyakit. Pada infeksi
berat dapat terjadi demam dan gangguan fungsi organ vital. Infeksi dapat terjadi selama
kehamilan, persalinan dan masa nifas (Pusdiknakes, 2003).


D.Nyeri perut yang hebat
      Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah tidak
normal. Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang mengancam
keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap, dan tidak hilang setelah istirahat. Hal ini
bisa berarti appendiksitis, kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan
pre term, gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi placenta, infeksi
saluran kemih atau infeksi lainnya (Pusdiknakes, 2003).


E. Sakit kepala yang hebat
      Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali merupakan
ketidaknyamanan yang no rmal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu
masalah yang serius adalah sakit kepala hebat yang menetap dan tidak hilang dengan
beristirahat. Kadang-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin
menemukan bahwa penglihatannya men jadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang
hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre-eklampsia (Pusdiknakes, 2003).
F. Muntah terus dan tidak bisa makan pada kehamilan muda
        Mual dan muntah adalah gejala yang sering ditemukan pada kehamilan trimester I.
Mual biasa terjadi pada pagi hari, gejala ini biasa terjadi 6 minggu setelah HPHT dan
berlangsung selama 10 minggu. Perasaan mual ini karena meningkatnya kadar hormon
estrogen dan HCG dalam serum. Mual dan muntah yang sampai mengganggu aktifitas
sehari -hari dan keadaan umum menjadi lebih buruk, dinamakan Hiperemesis
Gravidarum (Wiknjosastro,2002).


G. Selaput kelopak mata pucat
        Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan keadaan hemoglobin di bawah
11gr% pada trimester I dan III, <10,5gr% pada trimester II. Nilai tersebut dan
perbedaannya dengan wanita tidak hamil terjadi hemodilusi, terutama pada trimester II.
Anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tak
jarang keduanya saling berinteraksi (Saifuddin,2002).




Gejala      tertentu      saat      hamil    kadang     butuh     pertolongan      dokter
segera. Jika ibu menemui gejala -gejala berikut ini, itu artinya alarm
tanda     bahaya       telah     berbunyi,   dan   segeralah    telepon   dokter   untuk
meminta saran tindakan apa yang seharusnya dilakukan:


a. Sakit perut yang hebat atau bertahan lama.
b. Perdarahan atau terjadi bercak pada vagina.
c. Bocornya cairan atau perubahan dalam cairan yang keluar dari vagina. Yakni jika
menjadi berair, lengket, atau berdarah.
d. Adanya tekanan pada panggul, sakit dipunggung bagian bawah atau kram sebelum usia
37 minggu kehamilan.
e. Pipis yang sakit atau terasa seperti tebakar.
f. Sedikit pipis atau tidak pipis sama sekali.
g. Muntah berat atau berulangkali.
h. Menggigil atau demam di atas 101 º F(38,3 º C).
i. Rasa gatal yang menetap diseluruh tubuh, khususn ya jika dibarengi kulit tubuh
menguning, urine berwarna gelap, dan feses berwarna pucat.
j. Gangguan penglihatan, seperti pandangan ganda, pandangan kabur, buram, atau ada
titik mata yang terasa silau jika memandang sesuatu.
k. Sakit kepala berat yang bertahan l ebih dari 2-3 jam.
l. Pembengkakan atau terasa berat akibat cairan (edema) pada tangan, muka dan sekitar
mata, atau penambahan berat badan yang tiba-tiba, sekitar 1 kilo atau lebih, yang tidak
berkaitan dengan pola makan.
m. Kram parah yang menetap pada kaki ata u betis, yang tidak mereda ketika ibu hamil
menekuk lutut dan menyentuhkan lutut itu ke hidung.
n. Penurunan gerakan janin. Sebagai panduan umum, jika terjadi kurang dari 10 gerakan
dalam 12 jam pada kehamilan minggu ke - 26 atau lebih, artinya kondisi janin ti dak
normal.
o. Trauma atau cedera pada daerah perut.
p. Pingsan atau pusing-pusing , dengan atau tanpa palpitasi (pupil mata menyempit).
q. Masalah kesehatan lain yang biasanya membuat ibu telepon ke dokter, meski jika tidak
sedang hamil (Herl, 2003).
Konsep Tanda-Tanda Bahaya


A. Pengertian
Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukkan bahwa ibu dan bayi
dalam keadaan bahaya.


B. Macam-macam Tanda Bahaya Kehamilan
1. Sakit kepala yang hebat
2. Masalah penglihatan
3. Bengkak pada muka dan tangan
4. Nyeri abdomen yanga hebat
5. Gerakan janin berkurang
6. Perdarahan pervaginam
C. Pengertian dari 6 tanda bahaya
1. Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan istirahat.
2. Masalah penglihatan
Perubahan visual yang mengidentifikasi keadaan yang mengancam jiwa adalah
perubahan visual mendadak.




3. Bengkak pada muka dan tangan
Masalah serius jika pada muncul pada wajah dan tangan, tidak hilang setelah istirahat,
dan disertai dengan keluhan fisik yang lain.
4. Nyeri abdomen yang hebat
Masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat,menetap dan tidak hilang
setelah istirahat.
5. Gerakan janin berkurang
Gerakan janin sudah dirasakan oleh ibu pada kehamilan 10 minggu.Bayi harus bergerak
paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam.gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu
berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik.
6. Perdarahan pervaginam
Perdarahan dari vagina dalam kehamilan adalah jarang yang normal. Pada masa awal
sekali kehamilan, ibu mungkin akan mengalami perdarahan yang sedikit atau spooting
disekitar waktu pertama terlambat haid. Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi, dan
ini nirmal terjadi. Pada waktu yang lain kehamilan, perdarahan ringan mungkin pertanda
dari serviks yang rapuh (erosi). Perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak, dan
kadang-kadang, tetapi tidak selalu disertai nyeri.


D. 6 tanda bahaya




1. Sakit kepala yang hebat
Ibu akan menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang.
2. Masalah penglihatan
Perubahan visual misalnya pandangan kabur atau berbayang dan ibu akan sakit kepala




yang hebat dan mungkin merupakan suatu tanda pre eklamsia.
3. Bengkak pada muka dan tangan
Merupakan pertanda anemia, gagal jantung, atau pre eklamsia.
4. Bengkak pada muka dan tangan
Anemia, gagal jantung, atau pre eklamsia.
5. Gerakan janin berkurang
Ibu merasa tidak ada gerakan janin dan detak jantung janin tidak ada.
6. Perdarahan pervaginam
                   TUGAS
            ASUHAN KEBIDANAN 1
                 TENTANG
TANDA-TANDA DINI BAHAYA/KOMPLIKASI IBU DAN
       JANIN MASA KEHAMILAN LANJUT

                 DOSEN PEMBIMBING :

               IBU INAYATUL AINI, S.S.T




                 NAMA KELOMPOK II

   1. ANIS NADIROH            11. MARDIANI
   2. ARIBATUL FARADILA       12. NUR IZZA
   3. ASMIK                   13. NURYANTI
   4. EKA FRENTY              14. PURWINIGSIH
   5. EVRY RISKA              15. SITI I’LTIQOUN
   6. EVI NOER ZAKIYYATUL     16. TRIWAHYUNI
   7. FARIDA                  17. VITA NURDIANA
   8. HENI                    18. WIWIK
   9. IKA LUCYANA             19. YULIA
   10. LILIK MAULIDAH




             PRODI D-III KEBIDANAN
       STIKES BAHRUL ULUM TAMBAKBERAS
                   JOMBANG
                      2009
                            DAFTAR PUSTAKA




http://masdanang.co.cc
http://bibilung.wordpress.com/categori/kehamilan/page/2/
http://www.parentsguide.co.id
http://www.balipost.co.id
http://leekhaflanella.multiply.com
http://i-comers.com/showthren.php?t=5622
http://uswahaaja.blogspot.com/2009/03/tanda-tandabahayakehamilan.html
                                   PENDAHULUAN




         Puji syukur kepada Allah SWT berkat Rahmat-Nya sehingga kami dari kelompok
2 dapat menyelesaikan tugas tentang ”Tanda-Tanda Dini Bahaya / Komplikasi pada
Ibu dan Janin Masa Usia Lanjut”
         Kami juga berterima kasih kepada dosen pembimbing Ibu Inayatul Aini, S.S.T
yang telah memberikan tugas ini dan membimbing kami dalam penyelesaiakn tugas ini,
dan kami juga berterima kasih kepada teman-teman yang telah membantu dalam
menyelesaikan tugas ini.
         Tugas yang kami kerjakan ini masih jauh dari kata sempurna maka dari itu, kami
selaku    kelompok    2    mengharap   kritik    dan   saran   yang   membangun   demi
tersempurnakannya tugas makalah ini. Semoga karya kami ini bisa bermanfaat bagi
pembaca.
Terima kasih




                                                Tambakberas, 03 Mei 2009


                                                       Kelompok 2

								
To top